[Video] Ngeri, Pesawat Ryanair Berlumuran Darah Gegara Bird Strike

Insiden bird strike kembali terjadi. Kali ini menimpa maskapai LCC asal Britania Raya, Ryanair. Pesawat Boeing 737 maskapai dilaporkan menabrak sekawanan burung bangau saat approach landing di Bandara Bologna, Italia, beberapa waktu lalu. Akibatnya, mesin pesawat mengeluarkan api dan kaca kokpit retak serta berlumuran darah hingga membatasi visual kru.

Baca juga: Cegah Bird Strike, Bandara Schiphol Belanda Kerahkan Puluhan Babi

Dikutip dari media lokal Italiavola, pesawat diketahui berangkat dari Bandara London Stansted pada pagi hari. Pukul 11.30 waktu setempat, saat mendekati Bandara Guglielmo Marconi Bologna, Italia, airways pesawat tiba-tiba dilintasi kawanan burung bangau. Insiden bird strike pun tak terhindarkan.

Hewan berkaki panjang itu banyak di antaranya tersedot ke dalam mesin sebelah kanan pesawat dan menyebabkan percikan api. Lainnya tertabrak oleh kaca pesawat dan menyebabkan kaca berlumuran darah dan retak serta menyulitkan pilot dan kopilot melakukan pendaratan. Ada juga burung bangau yang tersangkut di flap and slat pesawat dan membuat proses pendaratan tidak maksimal.

Beruntung, pesawat masih bisa melanjutkan penerbangan dan kru berhasil mendaratkan pesawat dengan mulus serta selamat.

Insiden bird strike ini adalah yang kedua kali sejak Oktober lalu. Ketika itu, penerbangan Ryanair dari Bandara Manchester ke Lanzarote di Kepulauan Canary terpaksa melakukan pendaratan darurat di Liverpool setelah mengalami bird strike dimana seekor burung menabrak mesin.

“Pesawat mendarat dengan selamat dan penumpang dipindahkan ke pesawat pengganti yang berangkat ke Lanzarote setelah delay sekitar satu jam,” kata juru bicara maskapai saat itu.

Burung besi (pesawat terbang) meskipun berukuran jauh lebih besar dan jauh lebih berat, kurang lebih berbobot 40.000 kg, kerap dibuat repot dengan kawanan burung berbobot hanya 2 kg. Salah satu pelopor penerbangan, Cal Rodgers, adalah orang pertama yang mati karena bird strike.

Pada tahun 1912, pesawatnya bertabrakan dengan burung camar di Long Beach, California yang menyebabkan masalah besar pada pesawatnya. Pesawat Rodgers jatuh dan ia pun tenggelam. Dalam catatan International Bird Strike Committee, sekitar US$1,2 miliar setiap tahun digelontorkan maskapai untuk memperbaiki pesawat akibat bird strike.

Tabrakan dengan kawanan burung atau bird strike pada umumnya memang kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas.

Begitu juga menjelang landing. Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter. Di Amerika, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Baca juga: Bird Strike! Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Dunia Penerbangan

Selain itu, Administrasi Penerbangan Federal AS atau FAA juga memperkirakan bahwa penerbangan di AS mengalami kerusakan sekitar US$400 juta atau Rp5,4 triliun setiap tahun akibat serangan burung dan lebih dari 200 korban tewas sejak 1988.

Meskipun kuantitas tabrakan burung dengan pesawat masih sangat debatable (ada yang mengkategorikan masih tergolong tak terlalu sering terjadi dan sebaliknya), namun faktanya, antara 1990 hingga 2015 ada 160.894 insiden tabrakan dengan burung di AS. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 0,25 persen yang mengakibatkan kecelakaan.

Kembangkan Pendapatan Non Farebox, MRT Jakarta Berkolaborasi dengan Startup

MRT Jakarta di masa pandemi saat ini, bukan hanya mementingkan perjalanan penumpang. Tetapi juga menjalankan bisnis diluar tranportasi untuk mendapatkan keuntungan lainnya. Hal ini terlihat dari MRT Jakarta yang mulai masuk ke bisnis digital, di mana mereka memanfaatkan situasi pandemi untuk melakukan transformasi.

Baca juga: Coworking Space di Stasiun MRT Bundaran HI Resmi Dibuka dan Gratis Hingga 31 Desember

Direktur utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, pihaknya mendorong transformasi digital dengan berkolaborasi antara MRT Jakarta dengan startup untuk ciptakan inovasi berbasis digital. Selain itu ada beberapa inisiatif lainnya seperti pengembangan bisnis level yang menjadi inovasi untuk memastikan pendapatan non farebox.

“Beberapa inisiatif menjadi inovasi untuk pendapatan non farebox bisa tetap baik karena situasi farebox (tiket) penumpang tahun ini cukup tergerus. Sehingga harus diimbangi dengan pendapatan non fare box,” jelas William dalam forum jurnalis, Selasa (30/11/2021).

Dia menambahkan, untuk pengembangan bisnis non farebox ini juga, MRT Jakarta melakukan pengembangan dan pemanfaatan area di stasiun MRT. William menyebutkan ada beberapa pendapatan non farebox yang masih dikembangkan yakni park and ride yang akan kolaborasi dengan Soul Parking dan Cari Parkir.

Kemudian, dikatakan William, pihaknya juga mengembangkan area MRT melalui MRT Ruko. Ini adalah tempat yang akan digunakan berkumpulnya startup yang bekerja sama dengan MRT Jakarta.

“Secepatnya bulan depan kita akan mulai bangun simpang temu Lebak Bulus yang letaknya dekat Poins Square. Ada lahan dua ribu meter persegi di mana akan dibangun jalur pedestrian layang, transit plaza, park and ride dan pemberhentian TJ serta transport daring,” jelas William.

Dia menambahkan, pihaknya juga akan melakukan groundbreaking pada 7 Desember mendatang dan simpang temu tersebut ditargetkan selesai pada Juni 2022. William menjelaskan ini semua adalah konsep pengembangan TOD yang sedang berjalan di sepanjang kawasan jalur MRT fase 1.

Untuk diketahui, rata-rata jumlah penumpang MRT Jakarta hingga November 2021 mengalami kenaikan hingga 31,8 persen dari bulan Oktober. Di mana jumlah penumpang per hari adalah sekitar 30101 dan jika dibandingkan dari bulan Juli kenaikan penumpang MRT Jakarta sebesar 596 persen.

Baca juga: MRT Jakarta Uji Coba Bike Trolley Non Lipat di Stasiun Bundaran HI

“Kenaikan jumlah penumpang ini sesuatu yang menggembirakan untuk operasi kegiatan transport publik di Jakarta dan sekitarnya. Meski begitu MRT Jakarta di PPKM level 1 tetap konsisten dengan safety security dan disiplin prokes,” tambah William.






















Leopard EV Otonom Hadir dengan Konsep Fisik Sebagai Pengantar Barang

Kendaraan otonom atau tanpa pengemudi dewasa ini semakin banyak digunakan. Bahkan pengembangan drone otonom untuk pengiriman melalui udara di daerah perkotaan sudah mulai dilakukan, tetapi belum jelas apakah akan langsung digunakan atau tidak.

Baca juga: Tidak Antar Penumpang, Moda Otonom Ini Ditugaskan Untuk Kirim Barang!

Namun, kemungkinan besar yang akan digunakan lebih dulu adalah kendaraan otonom darat. Untuk diketahui, kendaraan darat otonom yang digunakan untuk pengiriman barang beberapa di antaranya sudah mulai digunakan sejak tahun 2018 lalu.

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (16/11/2021), belum lama ini Leopard electric vehicle atau kendaraan listrik dari REE Automotive diluncurkan sebagai kendaraan konsep fisik. Penggerak roda belakang Leopard didasarkan pada platform modular REE yang ada.

Di mana bodi khusus tujuan yang berbeda dapat ditukar dan dimatikan dari sasis tipe skateboard datar. Sasis tersebut berisi baterai bersama dengan uni REEcorne yang ada satu di setiap roda dan menggabungkan semua komponen kemudi, suspensi, motor, gearbox serta pengereman.

Karena tidak ada hubungan mekanis langsung antara bodi dan unit-unit tersebut, mereka malah dikontrol secara elektronik dari bodi melalui teknologi drive-by-wire. Ini dirancang untuk pengiriman jarak jauh, di mana barang diangkut dari hub pusat seperti gudang ke rumah pelanggan.

Baca juga: Nuro, Mobil Otonom Pengantar Pizza Hadir Akhir Tahun di Houston

Kendaraan menemukan jalan di sekitar jalan-jalan kota melalui GPS dan sensor onboard termasuk modul LiDAR. Tidak ada kabar tentang kisaran baterainya. Jika Anda tertarik untuk melihat sendiri REE Leopard, ia akan dipamerkan di CES 2022 pada bulan Januari.






















Pria Sakit Jiwa Dorong Penumpang Wanita dari Peron Hingga Jatuh ke Rel

Seorang pria yang tampak secara acak mendorong seorang penumpang wanita dari peron stasiun kereta light rail Tai Huang di Tuen Mun diamankan polisi Hong Kong. Wanita itu jatuh mundur dari peron ke rel yang jaraknya sekitar satu meter di bawah.

Baca juga: PKD di Stasiun India Berhasil Selamatkan Nyawa Penumpang Tua yang Jatuh ke Celah Peron

Insiden ini membuat wanita berusia 47 tahun tersebut menderita luka dibahunya dan memar di bagian tangan yang kemudian langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Insiden itu terekam dalam CCTV, di mana terlihat wanita itu sedang berjalan melintas peron stasiun.

Kemudian ketika dirinya melewati pria berpakaian hitam, pria itu mendorongnya dari peron dan membuat wanita tersebut terjatuh ke rel dan berhasil bangkit sendiri. Sayangnya ketika polisi tiba di sana, pria tersebut sudah melarikan diri dari tempat kejadian.

KabarPenumpang.com melansir thestandard.com.hk (28/11/2021), insiden ini membuat pihak kepolisian melakukan pengejaran pada pelaku yang berusia 33 tahun itu. Seorang sumber dari kepolisian mengatakan, pria itu dianggap berbahaya.

Tak hanya itu, operator kereta api MTR Corporation juga diminta bantuan mencari pelaku melalui CCTV di peron stasiun dan di dalam kereta. Pukul 19.00 waktu setempat, staf Stasiun Ping Shan menemukan pria itu menaiki kereta No.615 menuju Dermaga Ferry Tuen Mun.

Kemudian polisi menangkapnya di Stasiun Ching Chun dan melakukan penyelidikan pada pria pelaku yang mendorong wanita dari peron ke rel tersebut. Sumber polisi tersebut mengatakan pria itu diduga mengalami gangguan jiwa dan tidak mengenal korban. Motif di balik serangan itu belum ditetapkan.

Kepala Inspektur Lee Ying-chi dari distrik Tuen Mun mengatakan bahwa para penyelidik akan menyelidiki kasus ini dari berbagai perspektif. Ini termasuk kesehatan mental dan kondisi fisik tersangka, rutinitas sehari-harinya, dan apakah dia memiliki argumen sebelumnya dengan korban atau suaminya, yang termasuk di antara penelepon polisi yang melaporkan kejadian tersebut.

Baca juga: Demi Ambil Barang Jatuh, Wanita Ini Nekat Turun ke Rel Lewat Celah Antara Kereta dan Peron

Tim investigasi distrik Tuen Mun sedang menyelidiki insiden tersebut. Pria itu ditahan untuk diinterogasi pada Minggu malam. Seorang juru bicara MTR Corp menyatakan keprihatinan atas insiden tersebut.






















Vietnam Airlines Jadi Maskapai Kedua di Asia Tenggara yang Layani Penerbangan Langsung ke AS

Tak bisa dipungkiri, bahwa melayani penerbangan ke Amerika Serikat menjadi kebanggaan tersendiri bagi suatu maskapai. Lantaran punya syarat yang ketat, kemampuan melayani penerbangan ke Negeri Paman Sam tak pelak menjadi gengsi tersendiri, apalagi penerbangan ke AS dilakukan pada momen yang menantang, yaitu kala pandemi belum berakhir.

Baca juga: Akibat Langgar Karantina, Awak Kabin Vietnam Airlines Dipenjara Dua tahun

Bila Garuda Indonesia terakhir melayani penerbangan ke AS (Los Angeles dan Honolulu) saat krisis moneter tahun 1997, maka ada kabar bahwa flag carrier Vietnam, yaitu Vietnam Airlines untuk pertama kalinya pada 28 November 2021 sukses melakoni penerbangan non-stop dari Ho Chi Minh ke San Francisco.

Untuk melayani penerbangan jarak jauh ke AS, sudah barang tentu Vietnam Airlines menggunakan armada terbarunya. Dikutip dari simpleflying.com, disebutkan Vietnam Airlines menggunakan Boeing 787-9 dengan nomer VN-A861 yang terbang selama lebih dari 13 jam. Dalam promosinya, Vietnam Airlines menekankan bila perjalanan jarak jauh dari Asia Tenggara ke AS umumnya memerkukan koneksi dan transit di beberapa negara, dan kini Vietnam Airlines menawarkan solusi berbeda, yaitu penerbangan non-stop.

“Penerbangan antara Vietnam dan AS biasanya cukup lama, jadi ketika membeli tiket pesawat ke AS, Anda sering harus transit di negara ke-3 sebelum Anda resmi menginjakkan kaki di AS. Hal ini antara lain membuat penumpang merasa lelah, cemas, dan kewalahan di tengah bandara yang padat, menghadapi kendala bahasa, atau bahkan ketinggalan penerbangan,” ujar juru bicara Vietnam Airlines.

Dengan penerbangan non-stop ke AS, maka Vietnam Airlines menjadi maskapai kedua di Asia Tenggara yang ‘sanggup’ melayani penerbangan prestisius ini. Sebelumnya, Singapore Airlines telah melayani penerbangan langsung ke Los Angeles dalam frekuensi 10 kali dalam seminggu. Selama ini pennumpang dari Vietnam harus transit melalui kota di Cina, Taiwan, Korea Selatan, atau Jepang, untuk tiba akhirnya di AS.

Baca juga: Qantas-Vietnam Airlines ‘Cerai’, Saham Jetstar Pacific Jadi Milik Pemerintah Vietnam

Melayani penerbangan non-stop ke AS, Boeing 787-9 hadir dalam konfigurasi 28 kursi kelas bisnis, 35 kursi ekonomi premium, dan 211 kursi ekonomi standar. Vietnam Airlines melayani penerbangan berjadwal ke AS dengan frekuensi dua kali dalam seminggu.






















Delapan Kisah Penumpang Gelap Sembunyi di Roda Pesawat, Empat Di Antaranya WNI

Seorang pria asal Guatemala, belum lama ini ditangkap oleh petugas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan di bandara Miami, Florida, Amerika Serikat (AS), lantaran menjadi penumpang gelap dengan cara sembunyi di roda pendaratan pesawat (landing gear).

Baca juga: Sembunyi di Roda Pendaratan Pesawat, Penumpang Gelap Asal Guatemala Ditangkap di AS

Peristiwa penumpang gelap bersembunyi di roda pendaratan pesawat sering terjadi. Sepanjang dekade 80-an, sudah ada puluhan kasus serupa. Kail ini, kami akan merangkumnya menjadi daftar delapan kisah penumpang gelap sembunyi di roda pesawat, dimana empat di antaranya melibatkan orang Indonesia.

1. Mario Steven Ambarita

Pada 7 April 2015, seorang pria bernama Mario Steven Ambarita diamankan petugas Bandara Soekarno-Hatta tak lama setelah pesawat Garuda Indonesia GA 177 mendarat dari Pekanbaru.

Saat itu, pria 21 tahun itu jalan terhuyung-huyung, sehingga langsung menarik perhatian petugas ground handling. Jari-jarinya juga membiru dan telinga kiri berdarah. Ternyata, Mario menyusup ke roda pesawat dan bertahan di sana selama penerbangan.

Mario disebut nekat bersembunyi di roda pesawat karena ingin menemui Presiden Jokowi lantaran kecewa tidak diangkat menjadi Menko Kesra. Mario membantah dirinya gila. Dia juga santai saat aksinya itu dianggap berbahaya.

2. WNI nekat sembunyi di roda pesawat ditangkap di Bandara Penang

Seorang WNI ditangkap di Bandara Penang, Malaysia, pada tahun 2019 silam lantaran menyusup ke roda pesawat karena tidak sanggup membeli tiket pesawat.

Sayangnya, identitas WNI berjenis kelamin laki-laki yang menyelinap ke roda pesawat di Penang ini tidak disebutkan. Hanya disebutkan bahwa pria WNI yang berusia 39 tahun itu merupakan seorang buruh pabrik pengolahan unggas.

3. Mayat ‘es balok’ jatuh di London

Penumpang gelap yang bersembunyi di roda pendaratan pesawat dilaporkan jatuh di halaman belakang rumah warga. Dugaan polisi, penumpang gelap itu berasal dari pesawat Kenya Airways rute Nairobi – London Heathrow. Saat ditemukan usai jatuh dari ketinggian ribuan atau puluhan ribu kaki, mayat tersebut dalam keadaan utuh lantaran kondisinya beku bak balok es.

4. Fidel Maruhi

Pada Agustus 2000 penumpang gelap asal Tahiti bernama Fidel Maruhi yang bersembunyi di roda pendaratan pesawat selamat dalam penerbangan selama 7,5 jam dari Papeete, Tahiti, menuju Kota Los Angeles, Amerika Serikat. Dia mampu bertahan di ruang roda pesawat maskapai Air France Jet saat mengudara di ketinggian 6.400 kilometer.

Maruhi mengaku dia nekat menyusup ke roda pesawat untuk bertemu dengan bintang sepak bola Zinedine Zidane. Dia kemudian dipulangkan ke Tahiti dan lupa atas kejadian yang sudah dialaminya.

5. Yahya Abdi, remaja 16 tahun nekat sembunyi di roda pendaratan pesawat

Seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun bernama Yahya Abdi dilaporkan bersembunyi di dalam roda pesawat dalam penerbangan dari California menuju Hawaii, Amerika Serikat. Dia berhasil bertahan hidup meski telah menempuh penerbangan melintasi setengah Pasifik dengan suhu minus 62 derajat Celcius di atas ketinggian 38.000 kaki (11,5 kilometer).

6. Manurung dan Siswandi Nurdin Simatupang asal Medan

23 September 1997, aksi penumpang gelap bersembunyi di roda pendaratan pesawat juga terjadi dalam penerbangan pesawat Garuda Indonesia Medan – Jakarta . Ketika itu, dua remaja Manurung dan Siswandi Nurdin Simatupang asal Medan menjadi penumpang gelap di roda pesawat Airbus A300-B4. Ini nekat menjadi penumpang gelap lantaran sering bolos sekolah dan takut dikeluarkan.

7. Tarsono, gelandangan dari Pasar Bulu

Rabu, 18 Februari 1981 itu, Buang Budiyono, seorang petugas Apron Movement Control, menemukan kaki menjulur dari bagian belakang ruang roda pesawat Mandala Airlines. Setelah dicek, itu adalah Tarsono, seorang geladangan asal Pasar Bulu, Semarang.

Baca juga: Tak Seperti di Indonesia, Penumpang Gelap Asal Afrika Tewas di Roda Pesawat Karena Kedinginan

Menariknya, setelah diinterogasi petugas, ia mengaku nekat menjadi penumpang gelap pesawat lantaran dikejar-kejar anjing. Ini dibuktikan dengan luka bekas gigitan di bagian betisnya.

8. Penumpang gelap asal Afrika

Mayat dari seorang penumpang gelap di penerbangan KLM dari Lagos, Negeria, menuju Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda, ditemukan terbujur kaku di lengkungan roda pendaratan pesawat (landing gear). Penumpang gelap ini diduga tewas karena kedinginan (hipotermia).

Hyundai Hadirkan Seven Concept, ‘Ruang Inovatif’ di Mobil Listrik Masa Depan

Hyundai telah menghadirkan SUV listrik Seven Concept yang dikatakan sebagai “ruang hidup yang inovatif di atas roda” untuk masa depan pasca mengemudi. Di mana ini yang dimaksud adalah tentang interior modular yang menurut Hyundai akan menjadi sesuatu bagi banyak orang.

Baca juga: Hyundai Mobis Rilis Tampilan HUD Clusterless Pertama di Dunia

Seven Concept belum lama diluncurkan di AutoMobility 2021 Los Angeles, dimana mobil listrik futuristik ini menawarkan dunia dalam mobil otonom yang aman sehingga tidak ada penumpang yang membutuhkan sabuk pengaman. KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (19/11/2021), sebagai ganti sabuk pengaman ini, mobil menjadi ruang lounge pribadi dengan kursi malas yang besar.

Interior Seven Concept dilengkapi dengan pencahayaan sekitar, kulkas mini, sepasang kursi depan yang dapat diputar sepenuhnya dan kompartemen perawatan sepatu yang dapat menyengarkan alas kaki penumpang. Tak hanya itu, mobil ini dilengkaspi dengan sistem aliran udara higienis, termasuk kemampuan untuk mengarahkan aliran udara konstan dari atap ke lantai.

Ornaen interiornya dibuat seperti dari bambu, plester mineral, “bio-resin”, tembaga dan bahan kain yang dirawat secara higienis dengan fungsi antibakteri untuk memastikan semua permukaan di dalam Seven Concept tetap bersih setiap saat.

Anda dapat mengatur semua fitur di dalam mobil menggunakan semacam tongkat kendali. Saat Anda keluar, seluruh interior mensterilkan dirinya dengan sinar UVC. Hyundai berbaik hati memberikan video yang menunjukkan bagaimana alat angkut ini dapat digunakan oleh orang yang berbeda.

Baca juga: Gandeng Hyundai Robotics, Restoran KFC Gunakan Robot untuk Goreng Ayam

Seven Concept memiliki pintu samping yang mewah dan dapat dibuka lebar di satu sisi, sebuah anggukan pada fakta bahwa itu tidak akan pernah diproduksi. Ini memiliki lampu depan “Parametrik Pixel”, dan “sistem flap udara aktif” untuk mengurangi hambatan aerodinamis pada roda.






















Kendaraan Listrik Semakin Banyak, Energy Absolute Buka Pabrik Baterai

Energy Absolute Plc (EA) yang terdaftar di SET, pengembang dan operator energi terbarukan, akan secara resmi membuka fasilitas produksi baterai dan sistem penyimpanan energi (ESS) pada 12 Desember 2021 sebagai bagian dari rencananya untuk menjadi pemimpin dalam manufaktur kendaraan listrik (EV).

Baca juga: Baterai Bekas dari Bus Listrik Digunakan Untuk Simpan Energi dari Panel Surya Gedung

Pabrik produksi baterai lithium-ion EA di Chachoengsao, Thailand telah lulus uji coba, menyusul penundaan yang disebabkan oleh tindakan penguncian untuk menahan penyebaran Covid-19.

Dilansir KabarPenumpang.com dari bangkokpost.com (23/11/2021), fasilitas seharga enam miliar baht itu dirancang memiliki kapasitas produksi satu gigawatt jam per tahun dan ditujukan untuk melayani bisnis kendaraan listrik. Dikatakan Vasu Klomkliang wakil presiden senior EA, produksi ini diutamakan untuk perakitan bus listrik.

Dia mengatakan, perusahaan sebelumnya menerima pesanan untuk merakit 500 bus dan sudah mengirimkan 100 unit ke pembeli. Pengiriman bus yang tersisa dijadwalkan awal tahun depan. Vasu mengatakan pabrik baterai baru, yang dioperasikan oleh anak perusahaan perusahaan Amita Technology (Thailand) Com[any akan melayani pabrik perakitan kendaraan listrik baru dan diharapkan untuk memulai operasi komersial pada kuartal pertama tahun depan.

EA telah menyewa perusahaan untuk merakit 100 bus saat pabrik baru sedang dibangun. Dia mengatakan Thailand telah mendaftarkan sekitar 10 ribu bus setiap tahun. Namun, jumlahnya turun menjadi 7.000 tahun lalu. Perusahaan melihat peluang dalam bisnis bus listrik karena banyak bus yang menua dan pemerintah mempromosikan EV sebagai bagian dari upaya memerangi perubahan iklim.

EA sedang mengembangkan truk yang dijalankan dengan baterai dan berharap untuk meluncurkannya pada paruh pertama tahun depan. Perusahaan ini mengoperasikan layanan komersial kapal listrik, dengan armada 40 kapal yang melayani penumpang di sepanjang Sungai Chao Phraya di Bangkok. Dalam jangka panjang, EA berencana untuk memproduksi baterai stasioner untuk pembangkit listrik terbarukan, banyak di antaranya menghadapi intermiten sumber energi seperti matahari dan angin.

“ESS akan membantu dan menjadi game changer di industri pembangkit listrik,” kata Vasu.

Baca juga: Bus Listrik Terpanjang Akan beroperasi di Denmark

EA juga mengoperasikan empat pembangkit listrik tenaga surya, dengan kapasitas gabungan 278 megawatt, dan dua pembangkit listrik tenaga angin darat, dengan total kapasitas 386 MW. Perusahaan mengharapkan pendapatannya tumbuh sebesar 20 persen tahun ini dari 17,2 miliar baht pada tahun 2020. Dari Januari hingga September tahun ini, pendapatannya naik 16 persen dari tahun ke tahun menjadi 14,82 miliar baht.






















Zeva Zero, eVTOL Berbentuk “UFO” yang Muat Satu Awak

eVTOL dalam bentuk piring terbang atau UFO? Ini mungkin tak seperti yang biasanya di mana hanya muat untuk satu orang di dalam taksi terbang. Taksi terbang ini adalah Zeva Zero yang bentuknya seperti cakram dengan serat karbon besar berdiameter sekitar 2,4 meter dan berat 317 kg.

Baca juga: Leo Couple, eVTOL Tiga Kursi yang Bisa Diparkir di Garasi Mobil

Taksi terbang berbentuk UFO ini memiliki ruang seukuran orang dewasa dibagian tengahnya dan penumpang bisa melihat keluar. Di bagian depan ada dua nacelles propulsi dan dua lainnya di belakang yang mana masing-masing memiliki dua penyangga listrik yang dipasang secara koaksial.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari newatlas.com, taksi terbang UFO ini memiliki baterai sekitar 20 kWh pada prototipe pertama dan 25 kWh pada model produksi pertama yang direncanakan serta akan ditempatkan di sisi disk. Kemudian dipisahkan menjadi beberapa kemasan berbeda.

Paket-paket ini nantinya akan disatukan satu dengan lainnya dalam karbon berdinding ganda, di mana ada sekat yang akan mengisolasi area baterai dengan kompartemen penumpang. Penumpang akan masuk ke dalam kabin dan menyandarkan dada dan perut yang kemudian pintu belakang di tutup dan Anda siap untuk terbang.

Nantinya UFO ini akan lepas landas secara vertikal, kemudian bertransisi dalam waktu sekitar 20 detik ke mode jelajah horizontal di mana seluruh cakram bodi menjadi sayap pembangkit angkat. Penyangga atas pada setiap nacelle dioptimalkan untuk VTOL dan hover, dan yang lebih rendah memiliki bilah nada tinggi yang dioptimalkan untuk jelajah dengan kecepatan udara yang lebih cepat.

Pada kecepatan tertentu, penyangga atas akan dihentikan, dibuka kuncinya dan dibiarkan terlipat rata pada nacelle untuk meminimalkan hambatan. Anda kemudian akan terbang ke tujuan hingga 80 km jauhnya dengan kecepatan hingga 257 km per jam, di mana titik itu akan melambat, miringkan hidung kembali ke atas, mulai dari atas melayangkan alat peraga lagi dan masuk untuk pendaratan ekor-duduk yang menjatuhkan kembali ke kaki Anda.

CEO Stephen Tibbit menggambarkan versi awal sebagai “dipiloti secara opsional,” menggunakan seperangkat kontrol gaya drone yang cukup standar yang akan mengambil input Anda di tongkat dan menggabungkannya dengan informasi lain dari kamera serta sensor di sekitar pesawat sebelum memutuskan dengan tepat apa yang perlu terjadi di motor listrik.

Bisa dikatakan Zeva akan sangat sederhana secara mekanis kurang lebih hanya sebuah octacopter dengan dinamika penerbangan yang lebih cerdas dan sayap jelajah yang besar. Tibbits mengatakan akan mudah untuk memproduksi secara massal juga yang mana pada dasarnya mereka menggunakan bagian pesawat komposit dengan mesin cetak besar. Tibbits mengatakan Zeva Aircraft akan cukup mudah untuk dikemas dalam bentuk pra-sertifikasi dan dijual sebagai pesawat eksperimental untuk pemegang lisensi pilot swasta.

“Idenya ada di pikiran kami, tapi saya tidak tahu bagaimana hasilnya nanti. Kami tidak ingin mengalihkan perhatian kami pada aspek komersial dan responden pertama. Itu penting, dan penggunaan teknologi yang baik,” katanya.

Baca juga: Honda Kembangkan eVTOL dan Robot Telepresence untuk Transportasi Masa Depan

Jika pesawat Zero tidak berhasil menaikkan alis Anda ke ketinggian aman maksimum, maka lihat konsep SkyDock Zeva, yang memungkinkan Anda memasang pesawat langsung dari jendela kantor lantai 35, memarkirnya seperti teritip, dan berjalan di sepanjang landasan pacu yang diperpanjang.






















Stasiun Hua Lamphong di Bangkok Bakal Ditutup, Antara Bakal Jadi Museum atau Kawasan Komersial

Ketika sebuah stasiun kereta api harus tutup dan digantikan yang lainnya, bagaimana kedepannya? Ternyata, hal ini tak perlu dikhawatirkan, karena akan beralih menjadi sebuah museum atau benda cagar budaya. Seperti di Indonesia, banyak stasiun yang tutup dan beralih fungsi. Namun, ternyata itu tidak hanya ada di Indonesia.

Baca juga: Beroperasi November 2021, Stasiun Bang Sue Lebih dari Sekedar Pusat Transportasi di Bangkok

Di negara dan benua lainnya pun hal itu kerap kali terjadi. Seperti di Thailand, salah satu stasiun besarnya akan mengakhiri semua layanan kereta api dan hal itu dikatakan oleh Menteri Transportasi Thailand Saksayam Chidchob.

Stasiun yang akan segera mengakhiri semua layanan kereta apinya adalah Stasiun Hua Lamphong di Bangkok. Saksayam mengatakan, layanan kereta ke stasiun awalnya akan dikurangi dari 118 per hari menjadi 22 sebelum dihentikan sepenuhnya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari thethaiger.com (23/11/2021), sayangnya penutupan stasiun ini tidak ada tanggal yang telah dikonfirmasi untuk penghentian semua layanan. Tetapi dalam proposal telah ditetapkan bahwa Stasiun Hua Lamphong akan berhenti beroperasi secara penuh pada 23 Desember 2021. Langkah ini membuat para komuter Bangkok siap-siap, frustrasi dengan peningkatan pengeluaran untuk perjalanan harian mereka.

Penutupan ini bahkan membuat banyak penumpang mengatakan mereka harus melakukan perjalanan dari Stasiun Bang Sue di ibukota dengan bus untuk tiba ke tempat kerja di pusat kota. Saksayam telah mengakui rasa frustrasi penumpang dan mengatakan dia akan mengadakan pembicaraan dengan Otoritas Transit Massal Bangkok tentang menjalankan layanan bus pengumpan untuk mengangkut orang-orang dari stasiun Bang Sue ke pusat kota.

Menteri juga berjanji untuk membahas diskon dengan BTS Skytrain dan Metropolitan Rapid Transit untuk mengurangi tarif bagi orang yang turun di Bang Sue. Sementara itu, Menteri Perkeretaapian Negara Thailand telah membentuk SRT Asset Company Limited, yang akan mengelola aset SRT untuk mengurangi utang operasionalnya, yaitu sekitar 600 miliar baht.

Stasiun Hua Lamphong adalah salah satu dari beberapa aset yang terletak di real estat utama, bersama dengan stasiun kereta Thonburi, stasiun kereta api Mae Nam, dan tanah Royal City Avenue. SRT diharapkan menghasilkan pendapatan lima miliar baht dari pengembangan asetnya pada tahun pertama.

Baca juga: Mulai Beroperasi 2021, Bang Sue Bakal Menjadi Stasiun Kereta Terbesar di Asia Tenggara

Ini diperkirakan akan meningkat menjadi sepuluh miliar baht pada tahun ke-5 dan menjadi 800 miliar baht dalam waktu sekitar 30 tahun. Menteri telah mengakui seruan untuk melestarikan terminal Hua Lamphong sebagai museum, daripada mengorbankannya untuk pengembangan komersial. Namun, dia mengatakan utang SRT yang signifikan berarti dia mungkin harus membuat keputusan yang tidak populer.

Stasiun ini dibuka pada tanggal 25 Juni 1916 setelah enam tahun pembangunan yang dimulai pada tahun 1910 pada masa pemerintahan Raja Chulalongkorn dan selesai pada masa pemerintahan Raja Vajiravudh. Stasiun ini dibangun dengan gaya Neo-Renaissance Italia, dengan atap kayu yang dihias dan jendela kaca patri, dengan Frankfurt (Utama) Hauptbahnhof di Jerman sebagai prototipe.