Profil Bandara Johannesburg, Gerbang Keluar-Masuk Afrika Selatan yang Dikenal Gegara Varian Omicron

Virus Corona varian Omicron (B.1.1.529) membuat Bandara Internasional Johannesburg OR Tambo, Afrika Selatan dikenal seluruh dunia. Sebab, seluruh penerbangan dari bandara ini ditolak masuk negara-negara di dunia.

Baca juga: Belanda Temukan 13 Kasus Virus Corona Varian Omicron dalam Penerbangan dari Afrika Selatan

Selain itu, turis maupun warga juga memadati bandara ini semata untuk menghindari strain baru virus Corona sekaligus agar tak terjebak di negara tersebut khususnya dan negara lain di Afrika umumnya tanpa bisa keluar, mengingat bandara ini menjadi hub terbesar di Afrika.

Dikutip dari ortambo-airport.com, Bandara Internasional Johannesburg OR Tambo merupakan bandara tersibuk di benua Afrika. Setiap tahun, bandara yang didirikan pada tahun 1952 ini melayani sekitar 28 juta penumpang.

Bandara yang terletak di distrik Kempton Park, Johannesburg, 46 km selatan pusat kota Pretoria, ini sebelumnya bernama Bandara Jan Smuts. Namun, namanya diubah menjadi Johannesburg International Airport pada tahun 1994.

Pada November 2006, nama bandara itu kembali diubah untuk mengenang mantan presiden Afrika Selatan, Oliver Reginald Tambo, atau yang biasa dikenal sebagai OR Tambo menjadi seperti yang dikenal saat ini.

Meski terletak di benua yang tidak lebih maju dibanding benua lainnya, Bandara Internasional Johannesburg OR Tambo bukanlah sembarang bandara. Ia adalah salah satu dari sedikit bandara di dunia dengan penerbangan langsung penumpang terjadwal antara enam benua yang berpenghuni dan juga berfungsi sebagai pintu gerbang utama benua ke banyak negara sub-Sahara.

Sejak dahulu, Bandara Internasional Johannesburg OR Tambo memang sudah lekat dengan peristiwa-peristiwa besar. Di awal masa pasca diresmikan, bandara ini juga menjadi penanda peralihan masuknya masa jet, di mana penerbangan komersial pertama sebuah de Havilland Comet lepas landas dari Bandar Udara London Heathrow menuju Johannesburg.

Bandara ini menjadi bandara uji coba bagi Concorde pada tahun 1970-an, untuk meneliti kemampuan pesawat saat lepas landas dan mendarat di bandara yang berada di ketinggian.

Bandara Internasional Johannesburg OR Tambo sering disebut sebagai bandara “panas dan tinggi”. Berada di ketinggian hampir 1.700 meter (5.500 kaki) di atas pemukaan laut, yang memiliki udara sangat tipis. Ketinggian seperti ini sangat berpengaruh terhadap performa pesawat terbang.

Sebagai contoh, sebuah penerbangan dari Johannesburg menuju Washington, D.C., yang saat ini dioperasikan oleh sebuah Airbus A340-600, harus berhenti di Bandara Internasional Dakar untuk mengisi bahan bakar, karena pesawat tidak dapat terbang dengan sekali pengisian bahan bakar.

Hal ini terjadi karena penurunan performa saat pesawat lepas landas, di mana pesawat tidak dapat lepas landas dengan muatan penuh bahan bakar, kargo dan penumpang, dan harus menggunakan landasan pacu yang lebih panjang untuk mencapai kecepatan lepas landas.

Pada tahun 1980-an, banyak negara menghentikan perdagangan dengan Afrika Selatan karena sanksi ekonomi dari PBB yang dilakukan karena politik apartheid di Afrika Selatan, dan banyak maskapai penerbangan menghentikan penerbangan menuju bandara ini.

Baca juga: Covid Omicron Bikin Ditjen Imigrasi Ambil Sikap Tegas, Larang Pelancong dari 8 Negara di Afrika

Sanksi ini juga membuat South African Airways dilarang terbang di sebagian besar negara Afrika, dan sebagai tambahan, risiko terbang di dalam negara Afrika tersebut ditambah dengan insiden ditembak jatuhnya dua pesawat penumpang di atas wilayah Rhodesia, memaksa mereka untuk terbang di luar daratan Afrika.

Hal ini membuat mereka membutuhkan pesawat modifikasi khusus seperti Boeing 747-SP. Setelah akhir dari apartheid, nama bandara, bersama dengan nama bandara internasional lainnya di Afrika Selatan, diganti menjadi nama yang netral dan larangan tersebut dihentikan.

Nekat, Dua Gadis asal Inggris Handstand di Atas Rel Kereta

Bermain di rel kereta bukanlah hal yang menyenangkan tetapi justru membahayakan. Hal ini karena bisa saja saat bermain ada kereta melintas dan Anda terlambat sadar sehingga menyebabkan masalah paling fatal yakni tertabrak kereta. Meski begitu sampai sekarang pun masih banyak yang tidak menghiraukan hal tersebut.

Baca juga: Tragedi di Bangkok, Ketika Selfie di Rel Kereta Kembali Merenggut Nyawa

Seperti dua gadis yang tertangkap kamera tengah melakukan handstand di rel kereta api Broxtowe, Nottinghamshire di Inggris. Menurut Network Rail, perilaku dua remaja ini menempatkan diri mereka dan orang lain dalam bahaya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thesun.co.uk (29/11/2021), selain itu juga beberapa orang tertangkap kamera berdiri di rel untuk mengambil foto dan lainnya berbaring untuk berpose.

Mereka melakukan hal itu di jalur yang digunakan oleh kereta api yang melaju dengan kecepatan hingga 80 mph atau sekitar 128 kpj. Bahkan ada sebuah studi baru-baru ini tentang penyeberangan, yang terletak di Cagar Alam Attenborough, mencatat 22 contoh penyalahgunaan hanya dalam sembilan hari.

Direktur rute Network Rail Gary Walsh mengatakan, perilaku di perlintasan sebidang Cagar Alam ini benar-benar mengejutkan. Dia mengatakan, rel kereta api bukanlah tempat untuk mendapatkan kesempatan berfoto dan ini tidak pernah aman.

“Dua gadis yang melakukan handstand sama sekali tidak menyadari bahaya yang mereka hadapi. Insiden ini bisa berakhir dengan konsekuensi yang tragis bagi mereka, serta teman dan keluarga mereka,” kata Gary.

Inspektur Mark Clements dari Polisi Transportasi Inggris mengatakan, orang-orang dalam rekaman ini jelas menunjukkan pengabaian yang mengejutkan dan terang-terangan terhadap keselamatan mereka sendiri dan orang lain. Trespass adalah pelanggaran pidana, dapat mengakibatkan konsekuensi yang tragis atau cedera yang mengubah hidup.

“Kami secara teratur berpatroli di daerah ini dan mengingatkan semua orang tentang pentingnya berhati-hati di sekitar rel kereta api dan untuk tidak masuk tanpa izin,” ungkap Mark.

Untuk diketahui, insiden yang melibatkan handstand difilmkan pada bulan Juli. Ini terjadi 12 bulan setelah pasangan tertangkap kamera CCTV berpose untuk foto pernikahan sambil berdiri di lintasan di persimpangan dekat Whitby, North Yorkshire.

“Kami sedang melakukan yang bisa kami lakukan untk meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang. Tetapi ini membutuhkan masyarakat untuk bekerja sama dengan kami,” jelas Network Rail.

Baca juga: Duh! Orang-orang ini Tewas Karena Selfie di Rel Kereta

Semua insiden ini kemudian telah meluncurkan program baru bernama Switch On untuk mengajari anak-anak tentang bahaya kereta api dan mengembangkan kesadaran mereka akan bahaya.






















Terlanjur Sayang, Penumpang Wanita Delta Airlines Susui Kucing di Pesawat

1001 cara dilakukan sang pemilik untuk melindungi hewan peliharaannya. Mungkin itu kalimat yang pantas menggambarkan penumpang wanita maskapai Delta Airlines yang satu ini. Betapa tidak, ia dilaporkan menyusui kucingnya meski berulang kali dilarang pramugari.

Baca juga: Intip Gaya Anjing Ini Nikmati Kursi Kelas Bisnis Singapore Airlines dari Sydney-Italia

Dilansir NZHerald.co.nz, kabar mengenai penumpang wanita Delta Airlines flight DL1360 menyusui bayi kucingnya saat dalam penerbangan viral setelah dibagikan sang pilot di Twitter. Dalam sebuah sistem messaging pilot, dijelaskan bahwa ada seorang penumpang wanita sebagaimana dijelaskan di atas.

Saat dihampiri oleh pramugari dan diminta untuk menghentikan aktivitas tersebut, ia menolaknya dan terus menyusui kucing yang dibawanya.

“Pax (penumpang) di (kursi) 13A sedang menyusui kucing dan tidak akan memasukkan kucing kembali ke kandangnya ketika FA (pramugari) meminta,” bunyi memo ACARS.

Disebutkan, berhubung permintaan pramugari tak juga digubris, penumpang tersebut terus menyusui kucingnya sampai tuntas sebelum diletakkan kembali ke dalam kandang.

Meski sudah berakhir damai tanpa adanya adu mulut bahkan kontak fisik, namun, pilot tetap meminta staf darat Delta Redcoat menemuinya dan memberikan teguran keras.

Delta Airlines memang mengizinkan hewan peliharaan masuk ke dalam kabin. Tetapi, seiring banyaknya insiden, maskapai tersebut terus memperketat peraturan hewan peliharaan yang bisa masuk ke dalam kabin. Namun, kucing, termasuk anjing, tetap diperbolehkan. Syaratnya, mereka harus tetap di dalam kandang selama dalam penerbangan. Ini juga berlaku di maskapai lain.

Akan tetapi, peraturan tersebut -kucing dan anjing tetap dalam kandang di penerbangan- sangat situasional. Seperti yang terjadi belum lama ini, dimana seekor anjing, alih-alih di dalam kandang di sebuah penerbangan, justru asik menikmati kursi kelas bisnis.

Lewis, begitulah sapaan akrab anjing beruntung yang diizinkan duduk di kursi kelas bisnis ini. Eks anjing balap ini diketahui baru selesai mengenyam ‘pendidikan’ di Greyt Grays Rescue yang berbasis di Melbourne, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk menyelamatkan, mengadopsi, dan membina anjing greyhound bekas balap dengan kehidupan baru yang jauh lebih baik.

Setelah mendapat pendidikan khusus untuk mengubur masa kelamnya sebagai anjing balap, Lewis akhirnya dibawa ke Italia oleh sang empunya. Sayangnya, tak disebutkan siapa sang pemilik anjing tersebut.

Baca juga: Kucing Ngamuk dan Serang Pilot, Pesawat Ini Mendarat Darurat

Yang pasti, laporan Executive Traveller, Lewis tampak sangat menikmati penerbangannya di kursi kelas bisnis Singapore Airlines dalam perjalanan ke Italia.

Dengan ditemani beberapa boneka yang turut menjadi bagian darinya dalam menata ulang kehidupan, Lewis, Lewis melakukan berbagai aktivitas selama dalam penerbangan, seperti tidur, menikmati pemandangan luar jendela, sampai menikmati sajian khusus untuknya yang berbeda dengan penumpang kelas bisnis Singapore Airlines pada umumnya.

Covid Omicron Bikin Ditjen Imigrasi Ambil Sikap Tegas, Larang Pelancong dari 8 Negara di Afrika

Varian baru Covid-19 B.1.1.529 atau varian Omicron belum lama ini ditemukan di Afrika Selatan. Untuk menyikapi dinamika varian baru tersebut, Direktorat Jenderal Imigrasi langsung menerbitkan aturan pembatasan pelaku perjalanan internasional yang akan masuk Indonesia.

Baca juga: Belanda Temukan 13 Kasus Virus Corona Varian Omicron dalam Penerbangan dari Afrika Selatan

Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Imigrasi Arya Pradhana Anggakara mengatakan, aturan baru ini melarang masuknya orang asing ke Indonesia bagi yang mempunyai riwayat perjalanan mengunjungi negara-negara di Benua Hitam, seperti Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambique, Eswatini dan Nigeria dalam waktu 14 hari sebelum masuk Indonesia. Dia mengatakan, jika orang asing tersebut pernah berkunjung ke delapan negara itu dalam waktu 14 hari maka akan langsung ditolak masuk Indonesia ketika mereka di pemeriksaan imigrasi.

Selain itu, Ditjen Imigrasi juga menangguhkan sementara pemberian visa kunjungan dan tinggal terbatas bagi warga negara Afrika Selatan yang disebutkan. Angga menjelaskan, aturan ini akan berlaku Senin, 29 November 2021. Bagi pelancong asing selain negara itu, aturan pembatasan yang berlaku masih sesuai Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No.34/2021 tentang Pemberian Visa dan Izin Tinggal Keimigrasian Dalam Masa Penanganan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan varian baru Covid-19, Omicron sebagai variant of concern (VOC). Pimpinan Teknis Covid-19 WHO, Maria Van Kerkhove, mengatakan varian Omicron ditetapkan sebagai VOC karena memiliki beberapa sifat yang mengkhawatirkan. Varian Omicron dikatakan WHO menimbulkan peningkatan risiko infeksi ulang dibandingkan varian lain yang sangat menular.

Karena hal ini, otoritas global bereaksi waspada terhadap muculnya varian baru tersebut. Setelah ditemukan di Afrika Selatan, varian Omicron ini juga terdeteksi di Belgia, Israel, Botswana dan Hong Kong. Untuk diketahui, ilmuwan Afrika Selatan telah mendeteksi sejumlah kecil varian, yang disebut B.1.1529, pada Selasa (23/11/2021), dalam sampel penelitian dari tanggal 14 hingga 16 November 2021.

Mereka kemudian memberitahu pemerintah satu hari setelah mendeteksi hasil sampel akan kekhawatiran varian baru tersebut. Ilmuwan juga meminta WHO mengadakan kelompok kerja teknis terkait evolusi varian tersebut. Afrika Selatan bahkan sudah mengidentivikasi sekitar seratus kasus dan sebagian besar dari provinsi padat yakni Gauteng.

Ilmuwan Afrika Selatan mengatakan tanda-tanda awal dari laboratorium diagnostik menunjukkan virus itu telah menyebar dengan cepat di Gauteng dan mungkin sudah ada di delapan provinsi lainnya di negara itu. Untuk diketahui, penularan virsu varian baru ini 400 persen lebih cepat dari varian Delta.

Varian tersebut relatif mudah dibedakan dalam tes PCR dari varian Delta, varian Covid-19 yang dominan dan paling menular sejauh ini, karena tidak seperti varian Delta, varian Omicron memiliki mutasi yang dikenal sebagai S-gen drop-out.

Dicky Budiman Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi, Griffith University mengatakan, untuk gejala klinis dari varian ini secara spesifikasi masih harus ditunggu. Namun catatan penting dari varian ini adalah potensi penularannya lima kali lebih cepat dibandingkan varian asli dari Wuhan.

“Potensinya baru analisa awal, berpotensi 500 persen lebih cepat dibandingkan Wuhan virus liar. Artinya 400 persen dibandingkan Delta. Ini baru pola awal saat ini ya. Mudah mudahan tidak seperti itu,” jelas Dicky yang dikutip KabarPenumpang.com dari tribunnews.com.

Baca juga: Kembali Berlayar, Seorang Penumpang Kapal Pesiar Asuka II Positif Covid-19 Varian Baru

Dicky menyebutkan potensi ini dihitung sesuai dasar dari varian Wuhan. Karena penularannya jauh lebih cepat, dunia terhitung sangat rawan menghadapi varian ini. Ini akan membuat tahun 2022 menjadi kompleks dalam artian prediksi sehingga saya pribadi beberapa waktu terakhir berubah predikasinya 2022 karena banyak faktor yang membuat kompleks.






















Sembunyi di Roda Pendaratan Pesawat, Penumpang Gelap Asal Guatemala Ditangkap di AS

Seorang pria asal Guatemala, belum lama ini ditangkap oleh petugas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan di bandara Miami, Florida, Amerika Serikat (AS), lantaran menjadi penumpang gelap dengan cara bersembunyi di roda pendaratan pesawat (landing gear).

Baca juga: [Foto-foto] Kekacauan di Bandara Kabul Sampai Ada yang Tewas Terlindas Pesawat

Usai ditangkap, pria 26 tahun itu dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut, mengingat ia baru saja melewati dua jam 50 menit perjalanan dalam kondisi suhu ekstrem mencapai -57 derajat celcius atau di ketinggian rata-rata 37.000 kaki, dari Guatemala City ke Miami.

Sesaat sesudah ditangkap dan sebelum dilarikan ke rumah sakit, ada hal menarik yang terungkap. Dalam sebuah video viral, penumpang gelap tersebut ditawari minum terlebih dahulu oleh petugas. Warganet menilai, aksi tersebut patut diapresiasi karena sudah berbuat humanis terhadap terduga tindak pidana kejahatan.

Dilansir Miamiherald.com, kronologi kejadian ta diungkap dengan jelas, mulai dari bagaimana ia menerobos masuk ke bandara dan bersembunyi di landing gear pesawat American Airlines dengan nomor penerbangan 1182 tanpa diketahui petugas. Besar kemungkinan, ia menyelinap masuk pada malam hari dan bertahan di kompartemen landing gear sampai penerbangan dihelat.

American Airlines sendiri merespon insiden ini secara dingin. Maskapai mengungkapkan, “American Airlines flight 1182 dari Guatemala (GUA) ke Miami (MIA), tiba pada pukul 10:06 waktu setempat bertemu dengan penegak hukum karena masalah keamanan. Kami bekerja sama dengan penegak hukum dalam penyelidikan mereka.”

Kejadian penumpang gelap bersembunyi di roda pendaratan pesawat tentu bukan kali pertama terjadi. Pada April lalu, mayat dari seorang penumpang gelap di penerbangan KLM dari Lagos, Negeria, menuju Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda, ditemukan terbujur kaku di lengkungan roda pendaratan pesawat (landing gear). Penumpang gelap ini diduga tewas karena kedinginan (hipotermia).

Maskapai nasional Belanda, yang juga menjadi maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi tersebut, secara reguler melakoni lima penerbangan rute Lagos-Amsterdam dalam sepekan. Salah satunya adalah Airbus A330-200 KLM dengan nomor penerbangan PH-AOD yang ditumpangi penumpang gelap beberapa waktu lalu.

Pesawat setidaknya terbang di ketinggian rata-rata 37.000 kaki, dimana suhu diperkirakan mencapai -57 derajat celcius, menempuh perjalanan selama tujuh jam antara dua kota tersebut.

Baca juga: Tak Seperti di Indonesia, Penumpang Gelap Asal Afrika Tewas di Roda Pesawat Karena Kedinginan

Jangankan tujuh jam, udara sedingin dan setipis itu, secara teori, harusnya mampu membuat penumpang gelap di roda pendaratan pesawat itu pingsan dalam waktu beberapa menit, dan tewas setelahnya.

Sudah begitu, selama penerbangan, utamanya ketika lepas landas dan mendarat, penumpang gelap tewas tersebut sangat mungkin jatuh ke daratan, membuat mayatnya lebih sulit ditemukan dan tentu saja kasus penumpang gelap ini jadi tak diketahui petugas ground handling dan tidak terungkap. Beruntung, mayatnya yang terbujur kaku meringkuk di landing gear sedikit tersangkut dan tidak jatuh.

Belanda Temukan 13 Kasus Virus Corona Varian Omicron dalam Penerbangan dari Afrika Selatan

Ketika perjalanan dengan moda udara kembali dibuka dan banyak pelancong ataupun pebisnis yang memulai penjelajahan mereka. Meski protokol kesehatan ketat sudah dilaksanakan tetapi nyatanya dalam beberapa penerbangan masih banyak penumpang yang terinfeksi virus corona.

Baca juga: Varian Baru Virus Corona Ditemukan, Mulai 28 Desember Jepang Larang Kedatangan Turisv

Bahkan baru-baru ini terdeteksi virus corona varian baru Omicron pada 13 penumpang yang tiba di Amsterdam, Belanda dalam dua penerbangan di Afrika Selatan. Mereka ini termasuk di antara 61 penumpang yang dinyatakan positif Covid-19. Penemuan ini terjadi ketika Negeri Kincir Angin itu memberlakukan pembatasan ketat di tengah rekor kasus Covid-19 dan kekhawatiran atas varian baru.

Dilansir KabarPenumpang.com dari bbc.com (28/11/2021), dalam pembatasan itu, Belanda sudah memberlakukan aturan menutup lebih awal untuk tempat-tempat keramahtamahan dan budaya, dan pembatasan pertemuan di rumah. Sebelumnya virus varian baru Omicron pertama kali dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Rabu kemarin oleh Afrika Selatan.

Di mana bukti awal menunjukkan bahwa varian baru memiliki fisiko infeksi ulang lebih tinggi dan WHO mengkategorikannya sebagai varian perhatian. Adanya varian baru dari Afrika Selatan, membuat banyak negara di seluruh dunia membatasi perjalanan dari negara tesebut.

Sebaliknya, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyerukan agar larangan itu segera dicabut. Ia mengatakan, langkah itu tidak dapat dibenarkan karena tak berdasar pada sains. Untuk diketahui, meski varian baru ditemukan oleh pelancong yang tiba di Belanda setelah perjalanan dari Afrika Selatan, Institut Nasional Belanda untuk Kesehatan Masyarakat, 13 kasus Omicron masih dalam penyelidikan dan mencatat itu belum selesai karena varian baru masih dapat ditemukan di lebih banyak sample uji.

Menteri Kesehatan Belanda Hugo de Jonge membuat “permintaan mendesak” bagi orang-orang yang telah kembali dari Afrika selatan untuk dites Covid “sesegera mungkin”. Bukan hanya di Belanda, kasus varian baru ini dilaporkan di sejumlah negara dunia yang beberapa di antaranya ada di Eropa seperti Inggris, Jerman dan Italia. Pada Jumat (26/11/2021) pagi, penerbangan maskapai KLM dari Johannesburg menahan 600 penumpangnya selama beberapa jam setelah tiba untuk dites Covid-19.

Para penumpang mengakui, mereka ditahan selama empat jam sebelum akhirnya turun. Bagi mereka yang dinyatakan positif Covid-19, akan dikarantina di hotel dekat Bandara Schipol. Sedangkan yang memiliki hasil negatif tetap melakukan karantina selama lima hari di rumah dan melakukan tes lanjutan.

Para pejabat mengatakan mereka yang transit akan diizinkan untuk melanjutkan perjalanan mereka, meskipun ada laporan pada hari Sabtu bahwa beberapa penumpang belum menerima bukti tertulis dari tes negatif dan karena itu tidak dapat naik ke penerbangan selanjutnya. Otoritas kesehatan Belanda juga berusaha menghubungi dan menguji ribuan penumpang lain yang telah melakukan perjalanan dari tujuh negara Afrika selatan seperti Botswana, Eswatini, Lesotho, Mozambik, Namibia atau Zimbabwe sejak Senin lalu.

Baca juga: Kembali Berlayar, Seorang Penumpang Kapal Pesiar Asuka II Positif Covid-19 Varian Baru

Belanda adalah salah satu dari banyak negara di dunia yang kini memberlakukan pembatasan perjalanan ke negara-negara di Afrika selatan sebagai tanggapan atas varian baru tersebut.

Berney Arms, Kini Tak Lagi Menjadi Stasiun Kereta Tersepi di Inggris

Sebuah stasiun di Norfolk terkenal sebagai yang paling tenang dan sepi di Inggris. Stasiun bernama Berney Arms itu adalah stasiun terkecil di Broads di jalur Norwich ke Great Yarmouth. Di mana Berny Arms hanya memiliki 42 penumpang pada tahun lalu dengan rentang waktu dari April 2019 hingga Maret 2020.

Baca juga: Stasiun Buckenham, Hanya Dilalui 79 Penumpang Setiap Tahunnya

KabarPenumpang.com melansir edp24.co.uk (25/11/2021), tetapi antara tahun 2020 dan 2021, stasiun itu mengalami peningkatan ratusan kali lipat yakni sebesar 729 persen dengan jumlah penumpang yang naik dari Berney Arms sebanyak 348 orang. Ini adalah persentase peningkatan terbesar dari seluruh stasiun di Inggris.

Bahkan ini menjadikannya salah satu dari dua stasiun jarak jauh di Norfolk yang mengalami peningkatan penumpang dengan jumlah luar biasa. Selain itu stasiun-stasiun di Salhouse juga mengalami peningkatan sebanyak 17 persen, dari 9.856 penumpang. Stasiun itu ada di Abererch, Gwynedd; Beasdale, Dataran Tinggi; Llanbedr, Gwynedd; Sampford Courtenay, Devon; Stanlow dan Thornton, Cheshire; serta Sugar Loaf, Powys.

Bisa dikatakan tahun lalu stasiun di Norfolk mengalami penurunan penumpang hingga 75 persen dan ini sejalan dengan rata-rata nasional 78 persen. Sedangkan stasiun tersibuk di Inggris adalah Stratford. Office of Rail and Road (ORR) mengatakan sekitar 14 juta penumpang menggunakan stasiun pada tahun ini hingga akhir Maret.

Ini karena Stratford adalah persimpangan utama, memungkinkan orang untuk terhubung dengan rute transportasi lain. Ini dilayani oleh layanan jalur utama c2c, Greater Anglia, London Overground dan TfL Rail. Kemudian ada Birmingham New Street yangadalah stasiun tersibuk di luar London dengan 7,4 juta penumpang.

Angka-angka ini terutama didasarkan pada penjualan tiket. Andy Bagnall, direktur jenderal di badan industri Rail Delivery Group mengatakan, sngka penggunaan stasiun menunjukkan bagaimana industri kereta api membuat orang terus bergerak selama tahun pertama pandemi.

Baca juga: Satu-Satunya, Jalur Kereta Api Melintasi Stadion Sepak Bola Hanya Ada di Slowakia

“Beberapa entri dalam daftar mencerminkan dari mana orang-orang seperti pekerja kunci bepergian dan juga percepatan perubahan cara orang bepergian setelah pandemi. Perusahaan kereta api bekerja sama untuk menyambut orang kembali dan peningkatan penumpang baru-baru ini terus mencerminkan dan mendukung pemulihan bangsa,” jelas Andy.

Untuk diketahui, di seluruh Inggris jumlah penumpang kereta api jumlahnya turun hingga 78 persen selama 12 bulan dikarenakan pandemi virus corona.

Apa Itu “Mil Laut” dan Bagaimana Sejarah Navigasi Penerbangan Gunakan Satuan Nautical Mile?

Statistik penerbangan sering kali rumit. Ini diakibatkan penggunaan sistem mil laut atau sistem nautical mile (NM). Beberapa insiden penerbangan bahkan pernah dipicu oleh miskomunikasi antara petugas dan kru kokpit lantaran perbedaan menghitung satuan jarak dimana satu menggunakan sistem metrik dan lainnya menggunakan NM. Terlepas dari itu, bagaiman sejarah penggunaan NM di penerbangan?

Baca juga: Mengapa Kokpit Disebut Kokpit? Inilah Jawaban dari 3 Teori Termasyhur

Umumnya, masyarakat menggunakan sistem imperial atau metrik, seperti kilometer, meter, dan lain-lain, saat menghitung jarak tertentu. Namun, tidak demikian dengan navigasi penerbangan dan laut. Dua itu diketahui sudah sejak lama mengadopsi NM. Hal ini tidak terlepas dari sejarah panjang adopsi transportasi udara oleh transportasi laut.

Sudah jadi rahasia umum, sebelum transportasi udara dan darat hadir memudahkan masyarakat lintas peradaban, transportasi laut sudah lebih dahulu ada. Ketika transportasi udara hadir, ini pada akhirnya menyerap banyak istilah dan sejenisnya dari transportasi laut, seperti istilah ‘kokpit’ dan penggunaan satuan panjang NM.

Nautical mile atau dalam bahasa Indonesia berarti mil laut adalah satuan panjang yang digunakan di seluruh dunia untuk keperluan kelautan seperti menghitung jarak dalam pelayaran dan penerbangan.

Satuan ini biasa digunakan pada hukum dan perjanjian internasional, terutama menyangkut batas wilayah perairan. Satu mil laut sama dengan 1,852 km; 1,1508 mil normal; atau 6,076 feet. Lambang untuk nautical mile adalah M, NM atau nmi.

Secara historis, seperti dikutip dari Simple Flying, satu mil laut berarti busur satu menit dari garis lintang di sepanjang garis bujur. Satu busur lintang, pada gilirannya, dibagi menjadi 60 menit, dengan demikian, satu NM sama dengan 1/60 derajat lintang.

Namun, pada Konferensi Hidrografi Luar Biasa Internasional Pertama di Monako, pada tahun 1929 silam, mil laut internasional ditetapkan sebagai 1.852 meter atau 1.151 mil. Jadi, bisa dibilang, alasan penggunaan nautical mile di navigasi penerbangan lebih dikarenakan terkait erat dengan koordinat peta.

Dalam peta, terdapat garis bujur dan lintang yang sama-sama memiliki satuan derajat. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin terbiasa menyebut “Berapa meter jarak rumahmu ke rumahnya Sully?”.

Tetapi, jika seseorang tersebut mengucapkannya dengan bahasa peta, maka yang ada menjadi “Berapa derajat selisih jarak rumahmu ke rumah Sully?”. Jadi setiap derajat perbedaan garis bujur atau lintang di bumi, menandakan bahwa dalam perbedaan derajat tersebut terdapat juga perbedaan jarak.

Baca juga: Mengapa Navigasi Penerbangan Pakai Satuan Nautical Mile? Ini Jawabannya

Sebetulnya, pada tahun 1947, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) sempat mengadopsi resolusi untuk membakukan sistem unit di seluruh penerbangan untuk memperkenalkan Sistem Satuan Internasional, yang dikenal sebagai SI dari ‘Système International d’Unités’, dan akan didasarkan pada sistem metrik.

Hanya saja, ICAO sadar bahwa mengubah sistem nautical mile menjadi sistem metrik secepat itu akan membuat penerbangan kacau. Alhasil, nautical mile tetap digunakan sampai saat ini.

Tips Cara Terbaik Penumpang Tidur di Pesawat dari Pramugari, Tapi Berisiko Dibenci Penumpang Lain

Pramugari atau awak kabin tak diragukan lagi sangat hafal tentang seluk beluk penerbangan, termasuk cara-cara yang dapat membuat penumpang nyaman. Belum lama ini, seorang pramugari membocorkan cara terbaik agar penumpang bisa tidur di pesawat. Namun, cara ini dinilai berisiko terjadinya gesekan dengan penumpang lain.

Baca juga: Viral di TikTok, Pramugari Kasih Tips Aman Tidur di Hotel

Dilansir The Sun, mantan pramugari Emirates, Bella Sapsworth, mengungkapkan cara penumpang untuk bisa tidur di pesawat sangat mudah. Caranya, cukup turunkan kursi sampai menemukan titik nyaman dan dijamin tak lama kemudian penumpang akan tidur.

“Sandarkan kursi Anda. Anda membayar untuk kursi bersandar – jadi gunakan itu!” jelasnya.

Berhubung kursi disandarkan, sudah pasti penumpang lain di belakangnya akan merasa tidak nyaman. Sebetulnya itu tak jadi masalah andai penumpang di belakangnya juga merebahkan kursi. Begitupun juga penumpang di belakangnya lagi. Terus begitu sampai penumpang paling belakang.

Sayangnya, tak semua penumpang ingin merebahkan kursi ke belakang sekalipun kursi tegap lurus dan membuatnya tidak nyaman. Dalam kondisi ini, sudah pasti penumpang di belakangnya akan terganggu. Bila komunikasi tak berjalan baik, bukan tak mungkin adu jotos atau adu mulut akan terjadi.

Meski terkesan salah, penumpang yang merebahkan kursi dan mengganggu penumpang di belakangnya, mendapat dukungan atau dibela oleh behaviour expert, Judi James.

Menurutnya, itu bukan kesalahan penumpang. Penumpang tak bisa disalahkan atas attitude buruknya merebahkan kursi dan mengganggu penumpang di belakang. Pun demikian, itu bukan kesalahan maskapai, karena maskapai menerima pesawat apa adanya.

Lebih lanjut, James menyebut, ini adalah kesalahan desainer karena telah membuat kursi yang bisa direbahkan.

Hanya saja, itu bisa dibilang keliru. Sebab, maskapai sangat bisa mengatur manufaktur pesawat agat kursinya di-setting jadi tak bisa direbahkan ke belakang, kebalikan dari kursi pesawat yang ada saat ini, walaupun ada harga yang harus dibayar oleh mereka.

Baca juga: Pramugari Emirates Bagi Tips Pilih Kursi Terbaik di Penerbangan

Oleh karena kursi bisa direbahkan sampai kemiringan puluhan derajat, penumpang pastinya berpikir bahwa itu dilegalkan. Makanya, jangan salahkan penumpang bila mereka melakukan itu.

“Ini tampaknya memberikan izin kepada maskapai untuk Anda berbaring, jadi kami segera melangkah keluar dari etiket dan menganggap itu hak kami untuk melakukannya – karena itulah yang dilakukan kursi ini. Ini memberi kami kebebasan penuh untuk bersikap kasar,” jelasnya.


Lima Teknologi NASA di Penerbangan Sipil, Nomor Empat Simpel Tapi Genting

Teknologi aircraft flight scheduling NASA akan diaplikasikan di seluruh bandara Amerika Serikat (AS) mulai tahun 2023 mendatang. Begitu juga dengan Terminal Flight Data Manager (TFDM), paduan antara teknologi surface metering dan teknologi airport surface management, serta software Airspace Technology Demonstration 2 (ATD-2).

Baca juga: NASA Uji Coba Sayap Pesawat Canggih untuk Kurangi Kebisingan

Badan Penerbangan dan Antariksa AS itu sudah sejak lama turut mendorong peningkatan teknologi di sektor penerbangan komersial. Setidaknya, ada lima teknologi yang sudah maupun yang akan diimplementasikan NASA di sektor sipil. Apa saja? Dihimpun dari pemberitaan KabarPenumpang.com, berikut lima teknologi NASA di sektor penerbangan sipil.

1. Sayap pesawat canggih kurangi kebisingan

NASA diketahui sukses memecahkan kebuntuan terhadap kebisingan yang datang dari sayap. Di bawah proyek Advanced Air Transport Technology (AATT), NASA mengklaim berhasil membuat sayap jauh lebih efisien dalam hal kinerja aerodinamis, struktural, dan akustiknya menggunakan paduan shape-memory.

Baca juga: Empat Kali Lebih Cepat dan 10 Persen Lebih Hemat, Inilah Mesin Turbofan Besutan NASA

Ini juga didukung oleh teknologi NASA lainnya untuk mengurangi suara yang dihasilkan oleh airframe (rangka) pesawat dan suara yang dihasilkan saat melakukan pendaratan melalui teknologi Landing Gear Noise Reduction. Rangkaian uji coba ini dilakukan melalui rangkaian penerbangan Acoustic Research Measurement (ARM) di Armstrong Flight Center, California, AS.

Teknologi Landing Gear Noise Reduction sendiri dikembangkan untuk mengurangi suara dari airframe yang disebabkan aliran udara bergerak melewati roda pesawat saat mendekati landasan. Teknologi ini menggunakan fairing yang memiliki pori-pori sehingga suara yang dihasilkan oleh aliran udara dapat berkurang.

2. Mesin turbofan generasi terbaru, empat kali lebih cepat dan 10 persen lebih hemat

Mesin ini masih dalam proses pengembangan. Namun, mesin disebut dapat mencapai tingkat ekstraksi daya hingga empat kali lipat dari tingkat ekstraksi daya mesin pesawat tercanggih saat ini. Tak hanya itu, pada saat yang sama, mesin itu juga membakar bahan bakar hingga 10 persen lebih sedikit atau 10 persen lebih hemat.

Baca juga: Inilah AeroMACS, Sistem Komunikasi Digital Bandara Karya NASA yang Bikin Pilot ‘Bisu’

3. Sistem komunikasi digital AeroMACS di bandara

AeroMACS memungkinkan menara kontrol (ATC) bandara melakukan komunikasi dengan pilot di kokpit secara digital, bukan komunikasi suara seperti yang ada kebanyakan saat ini. Itu berarti, pilot bukan tak mungkin akan dibuat ‘bisu’ alias tak banyak bercakap-cakap, dalam kaitannya dengan menara kontrol, efek dari kehadiran ini. AeroMACS diklaim mampu membuat traffic di runway lebih sedikit karena prosesnya lebih cepat.

4. Aplikasi untuk teliti kelelahan dalam penerbangan

Tahun lalu NASA merilils aplikasi psychomotor vigilance task (PVT). Aplikasi ini sejatinya untuk mewadahi ilmuan dalam mempelajari kelelahan (fatigue) pada tubuh manusia saat melahap penerbangan luar angkasa. Tetapi, oleh Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA), ini didorong penggunannya untuk mengukur tingkat kelelahan pilot atau mengukur fokus pilot sebelum terbang.

Baca juga: NASA Luncurkan Aplikasi untuk Teliti Kelelahan dalam Penerbangan, FAA: Cocok untuk Pilot

5. Airspace Technology Demonstration 2 (ATD-2)

Filosofi teknologi terbaru ATD2 NASA ini dalam mengurangi emisi karbon dan menghemat bahan bakar bisa dibilang cukup sederhana.

Baca juga: Teknologi Terbaru NASA Sanggup Kurangi Emisi Karbon-Menghemat Bahan Bakar Pesawat

Semakin lama pesawat tertahan jelang lepas landas dan mendarat, semakin banyak kebutuhan bahan bakar dan emisi karbon yang dihasilkan. Demikian juga sebaliknya. Itulah yang jadi fokus utama pada teknologi ATD2 NASA.

Teknologi terbaru ATD2 NASA secara teknis akan merampingkan beberapa sistem air traffic control (ATC) menjadi satu.