Nokia Bangun Jaringan BTS 4G dan 5G di Rusia

Dunia saat ini mulai memasuki jaringan telekomunikasi 5G dan ini berkembang bukan hanya untuk ponsel tetapi pada jaringan transportasi. Sehingga kehadiran jaringan 5G bisa meningkatkan berbagai sektor suatu negara seperti pariwisata dan transportasinya.

Baca juga: Jaringan 5G Dipercaya Mampu Mengubah Wajah Pariwisata

Meski begitu, jaringan 4G juga masih terus digunakan sebelum jaringan 5G sepenuhnya melengkapi telekomunikasi dunia. Untuk itu Nokia (NOKIA.HE) dan YADRO memiliki rencana untuk membentuk usaha patungan dalam pembangunan BTS (Base Transceiver Station) 4G dan 5G.

Keduanya kemudian memilih Rusia karena YADRO sendiri merupakan perusahaan asal negara tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari gadgetsnow.com (24/11/2021), bahkan ada tenggat waktu untuk membangun stasiun telekomunikasi itu yakni hanya menggunakan peralatan Rusia saja.

Rusia mengatakan akan memperpanjang lisensi operator telekomunikasi di luar 2023 untuk jaringan LTE (Long Term Evolution) dengan syarat mereka mulai membangun jaringan hanya menggunakan peralatan Rusia, bagian dari dorongan yang lebih luas oleh Moskow untuk mempromosikan teknologi domestik dan layanan TI.

“Kami senang dapat bermitra dengan YADRO, pengembang dan produsen terkemuka Rusia dari server dan sistem penyimpanan berkinerja tinggi untuk mengatasi kerangka peraturan lokalisasi yang baru,” kata Nokia yang berbasis di Finlandia.

Pihak Nokia mengatakan, kedua perusahaan menandatangani MoU pada 23 November yang menyebutkan niat mereka untuk masuk ke dalam negosiasi dengan tujuan menciptakan Joint Venture di Rusia. Kedua perusahaan tidak mengungkapkan persyaratan atau investasi yang direncanakan. Harian Kommersant sebelumnya melaporkan, mengutip sebuah sumber, bahwa YADRO akan memegang 51 persen saham di JV, dengan Nokia mengambil 49 persen sisanya.

Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia Denis Manturov mengatakan kesepakatan antara perusahaan akan melihat pengembangan peralatan telekomunikasi di Rusia, dengan konstruksi dijadwalkan akan dimulai pada bulan Desember. Pabrikan Rusia saat ini menyumbang 21 persen dari 168 miliar rubel ($2,26 miliar) kontrak pengadaan peralatan telekomunikasi negara, kata Manturov.

Baca juga: FAA Akui Jaringan 5G Ancam Keselamatan Penerbangan

“Seluruh pasar diperkirakan lebih dari 400 miliar rubel, jadi kami melihat potensi yang cukup serius untuk pengembangan proyek bersama Rusia dan lokal,” tambahnya.

Menurut Kommersant, vendor asing lainnya, termasuk Huawei, Ericsson dan ZTE juga menunjukkan minat untuk melokalisasi peralatan.






















Sambut VTL 29 November, Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Perkuat Kerjasama

Menyambut 29 November 2021, dimana Singapura mulai mengizinkan WNI masuk negara tersebut tanpa harus karantina, rupanya telah direspon oleh Garuda Indonesia dan Singapore Airlines. Persisnya, kedua maskapai nasional ini menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) yang memungkinkan keduanya untuk mengeksplorasi kemitraan komersial yang luas dan menawarkan penumpang berbagai value added.

Baca juga: Mulai 29 November, WNI ke Singapura Bebas Karantina Lewat Kebijakan VTL! Simak Syaratnya

Penandatanganan tersebut dilaksanakan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, dan Chief Executive Officer Singapore Airlines, Goh Choon Phong, pada hari ini, Jumat (26/11), sekaligus bertepatan dengan momentum implementasi kebijakan peraturan bebas karantina Vaccinated Travel Lane (VTL/ Jalur Perjalanan Vaksinasi) antara Indonesia dan Singapura yang akan diberlakukan mulai 29 November 2021 mendatang.

Melalui kerja sama ini, Garuda Indonesia dan Singapore Airlines sepakat untuk mengoptimalkan potensi penyelarasan program frequent flyer, kegiatan pemasaran bersama, dan inisiatif untuk mempromosikan pariwisata di Indonesia. Kedua maskapai juga berkomitmen untuk mengoptimalkan peluang pertumbuhan baru di segmen angkutan udara, serta kerjasama dalam kegiatan pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul armada.

Selain itu, Garuda Indonesia dan Singapore Airlines juga bersepakat untuk menjalin kerja sama pengembangan konektivitas penerbangan, di mana dimulai sejak 1 Oktober 2021 lalu, Garuda Indonesia dapat menghubungkan pengguna jasa Singapore Airlines dari Singapura menuju Bali, Jakarta dan Surabaya.

Sebaliknya penumpang Garuda Indonesia juga dapat menikmati penerbangan ke London yang dilayani oleh Singapore Airlines. Selanjutnya Singapore Airlines juga akan memperluas jaringan penerbangan bagi penumpang Garuda Indonesia ke Mumbai yang diharapkan akan mulai dapat dioperasikan pada 1 Januari 2022, setelah mendapatkan persetujuan dari otoritas setempat.

Garuda Indonesia dan Singapore Airlines juga menyepakati penjajakan pengembangan jaringan lainnya ke destinasi yang berada pada jaringan kedua maskapai untuk mendukung peningkatan konektivitas udara ke Indonesia dan Singapura, serta kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya.

Baca juga: 9 Negara Jalin Travel Corridor Tanpa Karantina, Indonesia Justru Larang Wisatawan Singapura

Irfan Setiaputra, Direktur Utama Garuda Indonesia, mengatakan, “Kami berharap kerja sama komersial antara kedua maskapai akan menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman dan aman bagi penumpang di tengah meningkatnya lalu lintas udara antar negara. Kedua maskapai membawa misi yang sama dalam kerja sama ini, yaitu mendukung penguatan kerja sama bilateral antara Indonesia dan Singapura. Kami berkomitmen untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi dan pariwisata dengan ikut serta memastikan kesiapan infrastruktur transportasi udara, khususnya untuk mengantisipasi program Jalur Perjalanan Vaksinasi (VTL) antara Indonesia dan Singapura.”






















Berapa Detik Pesawat Melesat di Runway untuk Bisa Terbang? Ini Jawabannya

Bagian terpenting dalam sebuah rangkaian penerbangan salah satunya adalah lepas landas atau take off. Proses ini juga menjadi yang paling menyedot banyak bahan bakar. Namun, yang jadi pertanyaan, berapa lama waktu yang dibutuhkan pesawat untuk lepas landas?

Baca juga: Pernah Ngeluh Kabin Panas Sebelum Pesawat Lepas Landas? Ini Penjelasannya

Penumpang pesawat biasanya merasakan sensasi dari daya dorong mesin saat meluncur di runway untuk lepas landas. Namun, kondisinya tak selalu demikian. Semua tergantung pada hitung-hitungan di atas kertas oleh sang pilot.

Kita tahu, sebelum mulai memulai penerbangan, pilot dan kopilot biasanya akan bertemu untuk membahas berbagai hal, seperti rute yang dilalui, bahan bakar minimum (bergantung pada jumlah awak, penumpang, kargo, cuaca, dan kemungkinan rintangan selama penerbangan), informasi cuaca, dan informasi bandara tujuan serta bandara yang dilalui sepanjang perjalanan.

Semua ini menjadi kewajiban pilot sebelum memulai penerbangan dan memegang peran vital terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan.

Baca juga: Mengenal “Rejected Takeoff,” Pesawat Batal Lepas Landas Saat Ngebut di Runway Gegara Hal Ini

Pilot juga perlu menghitung jarak pendaratan atau landing distance. Proses menentukan ini berdasarkan faktor eksternal tidaklah mudah.

Pada pesawat-pesawat tua, pilot harus menghitung secara manual. Namun, pada pesawat terbaru, seperti Boeing 737 Dreamliner dan Airbus A350, pilot cukup memasukkan angka-angka ke komputer (onboard performance tool) dan rekomendasi pun keluar. Dengan begitu, potensi kesalahan cenderung berkurang dibanding dengan menghitung secara manual.

Dari informasi pra penerbangan, termasuk berat total pesawat ditambah bahan bakar, penumpang dan kargo, serta panjang runway, pilot sudah dibekali dengan kemampuan menghitung berapa kecepatan yang dibutuhkan pesawat untuk bisa lepas landas. Dari sini kemudian diketahui, apakah pesawat perlu melesat dengan kecepatan penuh di runway atau tidak.

Baca juga: Ternyata, Pesawat Tak Selalu Ngebut di Runway untuk Bisa Terbang, Ini Alasannya

Namun demikian, seperti yang dijelaskan Jhon Cox dalam laman USA Today, pada pesawat narrowbody, setidaknya dibutuhkan waktu ground run sekitar 30-35 detik untuk lepas landas atau saat roda pesawat mulai meninggalkan runway. Tetapi, balik lagi, semuanya sangat tergantung dengan faktor lain, sebagaimana yang telah disebut di atas.

Meski begitu, lebih atau kurang dari 30-35 detik waktu yang dibutuhkan pesawat untuk lepas landas, yang pasti pilot baru berani menarik throttle-up saat pesawat sudah mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk mengudara atau decision speed (V1). Biasanya, V1 pada pesawat narrowbody berkisar antara 120 sampai 140 knot.

Sedangkan untuk pesawat-pesawat widebody, pesawat membutuhkan ground run selama 50 detik untuk mencapai kecepatan yang dibutuhkan, juga antara 120 dan 140 knot, dan kemudian lepas landas.

Baca juga: Ini Alasan Lampu Kabin Pesawat Dimatikan Saat Lepas Landas dan Mendarat

Selain itu, kapten pilot US Airways yang juga konsultan keamanan penerbangan di beberapa perusahaan, tersebut juga menjelaskan tentang mengapa timing pilot mengeluarkan landing gear berbeda-beda.

Disebutkan, itu karena kecepatan pesawat saat melakukan landing approach berbeda-beda. Kadang kala, landing gear lebih cepat dikeluarkan oleh pilot untuk tujuan menurunkan kecepatan. Namun, saat ini terjadi, ada konsekuensi yang harus diterima dimana bahan bakar menjadi lebih boros akibat hambatan ekstra dari landing gear tersebut.

Dompet Digital Terus Berkembang, KAIPay Mudahkan Penumpang Bertransaksi Tiket Kereta

Ketika dompet digital kini booming, hampir semua pembayaran bisa dilakukan tanpa uang tunai atau menggesek kartu ATM. Sebab kehadiran dompet digital memudahkan pengguna untuk melakukan pembayaran apalagi di masa pandemi yang membuat meminimalisir pembayaran melalui uang tunai.

Baca juga: Mudahkan Penumpang, DAMRI Kolaborasi dengan Dompet Digital ShopeePay dan DANA

Di dunia transportasi maupun market place, dompet digital bahkan menjadi hal yang lumrah. Karena hal itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) akhirnya ikut mengambil bagian dengan meluncurkan dompet digital KAIPay sebagai alternatif metode pembayaran pada aplikasi KAI Access.

KAIPay sendiri akan memudahkan pengguna KAI Access dan memberikan keamanan serta kecepatan dalam pembayaran tiket atau transaksi lainnya.

“KAIPay merupakan bagian dari transformasi digital yang saat ini tengah KAI gencarkan untuk mengakselerasi kemajuan perusahaan,” ujar Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo saat meluncurkan KAIPay di Stasiun Gambir, Kamis (18/11/2021) yang dikutip dari kai.id.

KAIPay dihadirkan melihat semakin meningkatnya kebutuhan ekosistem transportasi kereta api atas berbagai layanan secara digital yang dapat mendukung para pelanggan dalam beraktivitas. Bahkan dengan kehadiran KAIPay, pengguna tak perlu membayar melalui metode pembayaran lainnya.

Kehadiran KAIPay juga dapat digunakan untuk membayar layanan first mile dan last mile, dan berbagai produk dan jasa yang tersedia di aplikasi KAI Access. Pembayaran yang dilakukan menggunakan KAIPay dipastikan aman, karena setiap transaksi memerlukan PIN KAIPay sebagai verifikasi pembayaran pelanggan.

Setiap pembayaran menggunakan KAIPay juga bebas biaya tambahan lainnya, sehingga pelanggan hanya perlu membayar sesuai tarif yang tertera saja. Untuk dapat menggunakan KAIPay, pelanggan harus mengupdate aplikasi KAI Access-nya minimal ke versi aplikasi 4.7.4 pengembangan versi 104.

Pada halaman beranda, klik ikon KAIPay untuk melakukan aktivasi dengan melengkapi identitas dan melakukan verifikasi OTP yang dikirim via Whatsapp, apabila nomor HP belum terdaftar Whatsapp, OTP akan dikirimkan melalui SMS. Terakhir, pelanggan diarahkan membuat PIN KAIPay untuk keamanan transaksi. KAIPay akan muncul menjadi salah satu opsi pada menu metode pembayaran yang dapat pelanggan gunakan untuk menyelesaikan transaksi.

Pengisian saldo KAIPay dapat dilakukan melalui transfer Virtual Account di beberapa Bank dan melalui minimarket, dengan biaya administrasi Rp0 selama masa promo berlangsung. KAIPay sendiri adalah kerjasama cobranding antara KAI dengan KasPro yang telah disetujui oleh Bank Indonesia.

Sementara itu, PT Pulau Pulau Media adalah mitra bisnis KAI sekaligus pihak yang berperan melakukan pengembangan aplikasi KAI Access termasuk KAIPay, penyediaan produk asuransi, Payment Point Online Banking, dan lainnya yang dapat mempermudah pengguna dalam melakukan transaksi digital pada KAI Access. Didiek mengatakan, peluncuran KAIPay merupakan wujud inovasi KAI untuk meningkatkan layanan yang telah tersedia dalam aplikasi KAI Access. KAIPay akan terus dikembangkan kedepannya seperti dapat melakukan transfer antar sesama KAIPay hingga pembayaran di merchant yang mendukung QRIS.

Baca juga: Canangkan Pembayaran Non Tunai, AirAsia Luncurkan Dompet Elektronik “BigPay”

“Hadirnya KAIPay diharapkan akan semakin meningkatkan animo masyarakat terutama milenial dalam menggunakan layanan kereta api dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” tutup Didiek.






















Damri Uji Coba Bus Listrik di Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Indonesia beberapa kali sudah mulai uji coba bus listrik yang digunakan untuk mengangkut penumpang. Salah satu yang sudah mulai uji coba operasional adalah milik PT Transportasi Jakarta atau TransJakarta.

Baca juga: Satu Armada Bus LIstrik Kembali Diuji Coba TransJakarta di Rute Blok M–Balaikota

Mengikuti jejak TransJakarta, Damri pada perayaan ulang tahunnya ke 75 tahun melakukan uji coba operasional bus listrik (shuttle bus) di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Peluncuran bus listrik untuk uji coba itu dilakukan, pada Kamis (5/11/2021).

Direktur utama Damri Milatia Moemin mengatakan, pengoperasian bus listrik adalah mewujudkan komitmen untuk turut serta berkontribusi mencapai target kendaraan listrik berbasis baterai yang mencapai 20 persen populasi kendaraan di Indonesia tahun 2025 mendatang. Selain itu Milatia mengatakan, dengan kendaraan berbasis listrik juga menurunkan emisi gas buang hingga 29 persen tahun 2030.

Milatia menyebutkan, uji coba operasional bus listrik ini sudah melalui pengkajian dan penggunaan pada trayek reguler dari dan ke bandara guna memastikan kendaraan tersebut aman dan dapat beroperasi.

“Bus listrik yang Damri operasikan merupakan hasil kerja sama dengan PT Energi Makmur Buana dengan merek Edison Motors dan kerja sama dengan PT Sokonindo Automobile dengan merek mikro bus DFSK. Keduanya telah memenuhi standar kualitas bodi dan komponen motor listrik serta baterai yang telah teruji,“ ujar Milatia.

Dia menambahkan, nantinya jika seluruh kebijakan terkait kendaraan listrik sudah ditetapkan, maka Damri siap untuk mengimplementasikannya sejalan dengan keharusan perusahaan untuk bersikap adaptif atas tantangan masa depan. Milatia mengatakan, Damri terus berinovasi dengan penggunaan alat produksi yang lebih ramah lingkungan, resiliensi, berkelanjutan, modern dan berbasis teknologi mutakhir untuk mendukung konektivitas transportasi darat.

Baca juga: PT INKA Punya Bus Listrik dan Kini Diuji Coba di Jakarta oleh PT TransJakarta

Selain dua perusahaan tersebut, Milatia menyebutkan bahwa Damri sangat terbuka untuk seluruh operator transportasi yang ingin melakukan kerja sama untuk penggunaan kendaraan listrik jenis micro bus atau lainnya.






















Hari Ini, 42 Tahun Lalu, Ratusan Jamaah Haji Tewas Terpanggang di Pesawat PIA Flight PK740

Pada hari ini, 42 tahun lalu, bertepatan dengan 26 November 1979, ratusan jamaah haji tewas terpanggang setelah pesawat yang mereka tumpangi, Boeing 707 Pakistan International Airlines (PIA), terbakar di udara dan jatuh menabrak perbukitan berbatu di Taif, Arab Saudi. Ini jadi kecelakaan pesawat terburuk ketiga di Arab Saudi dan kecelakaan Boeing 707 paling mematikan ketiga.

Baca juga: Hari Ini, 58 Tahun Lalu, Presiden Kennedy Ditembak Mati-Jadi Hari Terburuk Air Force One

Dilansir aviationsafety.net, pesawat dengan nomor penerbangan PK740 itu berangkat dari Bandara Internasional Jeddah, Arab Saudi, pada pukul 1:29 siang waktu setempat menuju Bandara Internasional Karachi, Pakistan.

Ada 156 orang dalam pesawat nahas tersebut, terdiri dari 145 penumpang atau jamaah haji dan sisanya adalah kru. Setelah lepas landas, pesawat terus climbing ke ketinggian 37 ribu kaki atau sekitar 11 ribu meter.

Pukul 1:47, first warning terjadi setelah pramugari melaporkan adanya kebakaran di pintu belakang pesawat. Seketika, situasi di dalam kabin ricuh dan sangat dilanda kepanikan sampai-sampai kru sulit untuk melakukan langkah-langkah keselamatan sesuai prosedur yang berlaku.

Pilot lantas mengkomunikasikan kejadian ini ke petugas ATC dan diizinkan turun perlahan ke ketinggian 30 ribu kaki, terus turun sampai ketinggian 4 ribu kaki. Pilot juga meminta izin untuk return to base ke Jeddah lantaran asap kebakaran menyelimuti kabin dan kokpit.

Pukul 2.03, pilot mulai beteriak “Mayday! Mayday!” dan tak lama kemudian situasi menjadi sunyi. Petugas ATC sudah mencoba memanggil kru dan tidak ada jawaban. Satu menit kemudian, pesawat dengan nomor registrasi AP-AWZ itu dilaporkan jatuh menabrak bukit berbatu dan meledak, 48 km di Utara Taif, Arab Saudi. Semua, baik kru maupun penumpang, tewas.

Kecelakaan ini disebut sebagai kecelakaan terburuk ketiga di tanah Arab Saudi dan kecelakaan terburuk ketiga yang melibatkan Boeing 707.

Hasil investigasi dari pihak berwenang, terdapat beberapa kemungkinan penyebab terjadinya kebakaran di dalam pesawat nahas jamaah haji itu.

Dugaan pertama, asal mula kebakaran datang dari kebocoran kompor minyak yang dibawa oleh jamaah haji. Ini memang bisa saja terjadi mengingat di masa itu, teknologi dan prosedur skrining barang belum terlalu canggih atau ketat sehingga barang-barang yang tak semestinya ada di kabin lolos.

Baca juga: Hari Ini, 29 Tahun Lalu, Kecelakaan Terburuk di Nepal PIA Flight 268 Terjadi Gegara Pilot Lalai Ikuti Prosedur

Minyak tanah yang dibawa oleh penumpang tersebut kemudian, akibat adanya perbedaan tekanan, memicu api dan terjadilah kebakaran.

Dugaan kedua, konsleting listrik. Namun, ini sulit dicari kebenarannya lantaran sirkuit listrik Boeing 707 sudah dirancang untuk mencegah terjadinya kebakaran saat konsleting listrik terjadi. Dugaan ketiga yang juga sulit diterima adalah sabotase dari orang-orang yang tak bertanggung jawab.

Punya Bagasi Sepeda, Inilah KA Sibinuang dari Tanah Minang

Kereta api Sibinuang merupakan kereta api penumpang lokal kelas ekonomi AC. Kereta yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) ini masuk dala Divisi Regional (Divre) II Sumatera Utara yang melayani kota Padang menuju Naras.

Baca juga: Beroperasi Q1 2018, Kereta Bandara Minangkabau Adopsi Kereta Rel Diesel Listrik

Kereta yang mulai beroperasi sejak 1 Desember 2008 lalu, belum lama ini, kereta Sibinuang juga memberikan layanan tambahan bagi pesepeda yakni bagasi untuk kereta non lipat. Kehadiran bagasi sepeda tersebut ditandai dengan Grand Launching di kawasan Stasiun Simpang Haru Padang, Sabtu (20/11/2021) pagi. Layanan bagasi sepeda bagi penumpang pesepeda tersebut akan diberikan pada penumpang KA Sibinuang dari Stasiun Padang-Pariaman-Naras (PP).

“Awalnya saya dapat info KA Sibinuang bisa membawa sepeda justru dari Walikota Pariaman, Genius Umar. Ini merupakan inovasi dari PT. KAI Divre II Sumbar yang mengakomodir permintaan Waliktoa Pariaman, Genius Umar agar KA Sibunuang bisa membawa sepeda, sehingga pecinta sepeda bisa bersepeda ke Kota Pariaman dengan biaya murah,” kata Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy yang dikutip dari berbagai laman sumber.

Audy berharap dengan aktifnya transportasi masyarakat yang murah tersebut juga mampu diaktifkan kembali sebagai upaya pengembangan potensi daerah antar kabupaten/kota di Sumbar yang telah memiliki jalur kereta api yang sudah lama tidak aktif. Walikota Pariaman, Genius Umar menyambut baik adanya inovasi dari PT. KAI dengan memberikan fasilitas bagasi sepeda. Menurut Genius, inovasi itu akan menumbuhkan minat masyarakat dan pengguna transportasi untuk memilih kereta api sebagai transportasi andalan dan memenuhi keinginan masyarakat.

“Ini bisa menjadi peningkatan ekonomi nantinya bagi pedagang dan masyarakat Kota Pariaman,” ujar Genius.

Genius juga sampaikan permintaannya ke pihak PT. KAI, untuk mengoptimalkan kembali angkutan kereta api sebagai pengangkut minyak sawit mentah. Menurut Genius, dahulunya minyak sawit mentah tersebut pernah dibawa menggunakan kereta api dari Stasiun Naras Pariaman menuju Pelabuhan Teluk Bayur Padang.

Baca juga: “Lembah Anai,” Jadi Railbus Ketiga yang Dioperasikan PT KAI

Diaa menilai, upaya ini mampu membuka kesempatan kerja baru dan lowongan kerja baru dalam pemenuhan dan pemerataan ekonomi dan mengurangi angka pengangguran, dan Kota Pariaman siap untuk pengaktifan kembali gudang penampungan minyak sawit mentah tersebut.






















Kapan Australia dan Selandia Baru Izinkan Warga dan Wisatawan Berdatangan? Ini Jawabannya

Australia dan Selandia Baru menjadi salah satu negara yang paling ketat dalam melakukan pencegahan penularan virus Corona. Sampai saat ini, wisatawan dan warga negara yang masih berada di luar negeri belum juga diizinkan kembali. Lantas, sampai kapan?

Baca juga: Bandara Sydney Dibuka Setelah 20 Bulan Lockdown, Disambut Tangis Penumpang

Dilansir Euronews, setelah sekian lama menutup diri dari dunia luar perlahan Selandia Baru mulai melonggarkan kebijakan. Menteri Urusan Covid-19 Selandia Baru, Chris Hipkins, pada 24 November lalu mengumumkan mulai 17 Januari 2022 mendatang, warga Selandia Baru yang berada di Australia dan sudah divaksin dua dosis diizinkan masuk.

Itu kemudian diikuti oleh seluruh warga negara Selandia Baru lainnya di seluruh dunia untuk kembali mulai tanggal 14 Februari 2022.

Kelompok terakhir yaitu wisatawan asing yang diizinkan masuk dimulai pada 30 April 2020. Semuanya, baik warga negara Selandia Baru yang berada di Australia, negara lain, sampai wisawatan asing, harus sudah divaksinasi dua dosis. Selandia Baru juga belum lama ini mengumumkan kebijakan wajib vaksin bagi seluruh warga negara, menjadikannya sebagai yang pertama di antara negara-negara maju.

Terkhusus untuk wisawatan asing, vaksinasi dua dosis saja tidak cukup. Mereka juga harus melakukan test PCR dan isolasi mandiri selama tujuh hari sebelum melenggang bebas ke penjuru negeri.

Sebelumnya, Selandia Baru berencana membuka perbatasan internasional sebelum perayaan Natal dan Tahun Baru. Tetapi, berhubung kasus Covid-19 meningkat tajam di Eropa, hal itu urung dilakukan.

Sementara itu, Australia, sudah lebih dahulu mengizinkan warga negaranya di seluruh dunia yang sudah divaksin dua kali kembali.

Sejak 1 November 2021, persyaratan karantina mandiri dan berbagai prosedur rumit lainnya bagi kedatangan internasional sudah tidak berlaku bagi mereka yang sudah mendapat vaksinasi dua dosis.

Perdana Menteri Scott Morrison pada hari Senin lalu menjelaskan, mulai 1 Desember mendatang, pemilik visa yang divaksinasi lengkap, termasuk pelajar internasional, pekerja terampil, dan wisawatan diizinkan masuk Sydney dan Melbourne.

Baca juga: Ditelantarkan Setahun di Bandara Soekarno-Hatta, Pengungsi Suriah ini Telah Sukses di Selandia Baru

Diharapkan langkah tersebut akan memberikan dorongan kepada industri yang bergantung pada tenaga kerja musiman, setelah laporan petani Australia harus gigit jari lantaran buah dan sayuran membusuk di ladang karena kekurangan pekerja asing.

Meski begitu, berbagai jasa tour dan wisata ke Australia masih ditutup sampai waktu yang belum ditentukan. Ini dianggap mampu menahan laju sporadis jutaan wisatawan yang tak sabar menjelajah penjuru Benua Australia.

Beli Tiket Pesawat Offline di Bandara Lebih Murah, Benarkah?

Era digital mendorong penumpang pesawat membeli tiket secara online. Itu dianggap lebih mudah tanpa perlu repot-repot ke bandara atau loket untuk membelinya, baik di hari H ataupun sebelumnya. Namun, keduanya disebut memiliki konsekuensi yang berbeda, dimana membeli tiket secara offline lebih murah dibanding membeli tiket lewat online. Benarkah?

Baca juga: Siap-siap, Tiket Pesawat Bakal Naik Gegara Harga Avtur Melonjak 70 Persen

Menurut video viral di TikTok, membeli tiket pesawat secara offline lebih murah dibanding online sangat mungkin terjadi. Dengan catatan, hanya bagi maskapai ultra LCC semisal Allegiant Air, Frontier Airlines, dan Spirit Airlines atau maskapai lain yang mengenakan Electronic Carrier Usage Charge untuk pembelian tiket secara online.

Allegiant Air membebankan kepada penumpang Electronic Carrier Usage Charge untuk pemesanan tiket penerbangan secara online. Di laman resmi maskapai, disebutkan “tarif yang tertera sudah termasuk biaya penggunaan elektronik sebesar US$18 per penumpang, per segmen, berlaku untuk semua reservasi maskapai yang dipesan melalui situs web atau call center,” jelasnya.

Menariknya, menurut airfarewatchdog, Allegiant Air juga memberikan antitesa atau kebalikan dari charge tambahan untuk penumpang yang membeli tiket secara online.

Disebutkan, Allegiant sering menawarkan diskon penerbangan pulang-pergi untuk penumpang yang membeli tiket secara online di laman web resmi. Diskon serupa terkadang tak berlaku untuk pembelian tiket offline di loket-loket pembelian resmi.

@mcmillansonthego

#flighthacks #traveltiktok #traveltips #saveonflights #saveontravel #travelchronicles

♬ Paradise – Bazzi

Selain Allegiant, Frontier Airlines juga membebankan Carrier Interface Charge berkisar US$4 hingga US$21 per perjalanan kepada penumpang yang membeli tiket secara online.

Frontier menyebut, biaya ini (Carrier Interface Charge) sebagai harga tarif standar yang ditampilkan maskapai penerbangan secara online. Airfarewatchdog mengatakan, maskapai tersebut juga memiliki jam operasional konter terbatas sehingga menyulitkan penumpang membeli tiket secara offline.

“Aturan umum adalah bahwa loket tiket akan dibuka dua jam sebelum jadwal keberangkatan, dan saya berencana untuk sampai di sana tepat saat loket dibuka untuk menghindari antrean panjang. Jika tidak ada penerbangan lain, konter tiket biasanya tutup 45 menit sebelum keberangkatan,” tulisnya.

Serupa dengan dua di atas, penumpang Spirit Airlines juga harus membayar Carrier Interface Charge sebesar US$22,99 per perjalanan untuk setiap pembelian tiket secara online.

Biaya ini dapat dihindari dengan memesan penerbangan di loket tiket Spirit Airlines di bandara. Namun, bukan berarti pembelian tiket secara offline di bandara tidak dikenakan biaya tambahan.

Baca juga: Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya!

Disebutkan, biaya-biaya lain seperti Regulatory Compliance Charge and Fuel Charge akan tetap ditagih oleh maskapai ketika penumpang membeli tiket mereka di bandara. Menariknya, dua biaya itu terkadang tidak dikenakan bagi pembelian tiket secara online.

Di luar tiga maskapai itu, seperti Delta Airlines, United Airlines, dan Southwest Airlines, yang notabene tidak mengenakan biaya pemesanan online, pembelian tiket secara offline maupun online hasilnya sama saja, tidak ada perbedaan harga dimana satu lebih murah dan lainnya lebih mahal.

Inilah CLEAR, Teknologi Baru di Bandara: Penumpang Tak Perlu Keluarkan KTP atau Paspor!

Jelang perayaan Thanksgiving pada hari ini, 25 November 2021, bandara-bandara di seluruh dunia bersiap menyambut peningkatan traffic penumpang; termasuk Bandara Internasional Palm Beach (PBI), Florida, Amerika Serikat (AS). Bandara ini menghadirkan teknologi CLEAR dimana penumpang tak perlu repot mengeluarkan KTP atau paspor saat pemeriksaan keamanan dan mengurangi antrean.

Baca juga: Teknologi Skrining Baru di Bandara: Tak Perlu Lepas Sepatu!

“Dalam hitungan menit, Anda akan melalui dan masuk ke pemeriksaan fisik dan mudah-mudahan menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersantai dan bersantai sebelum perjalanan Anda,” kata Kasra Moshkani, wakil presiden eksekutif CLEAR.

Dilansir palmbeachpost.com, sebelum datang ke bandara dan menikmati teknologi CLEAR, penumpang harus mendaftar secara online terlebih dahulu. Tak disebutkan dengan jelas apa saja yang disiapkan saat mendaftar selain uang.

Setelah terdaftar dan tiba di bandara, penumpang cukup mendatangi gerai CLEAR di berbagai concourse di Bandara Palm Beach, sebelum security checkpoint.

Cara menggunakannya juga simpel, penumpang hanya perlu berdiri di depan perangkat CLEAR dengan jarak sekitar satu meter dan teknologi biometrik pada CLEAR akan membaca data diri penumpang melalui mata dan sidik jari sehingga tak lagi perlu mengeluarkan KTP atau paspor saat skrining keamanan.

Hal ini dipercaya dapat mempercepat proses skrining keamanan bagi penumpang yang menggunakan layanan tersebut. Dengan begitu, kepadatan akan terurai sekalipun traffic sedang meningkat tajam di tengah perayaan thanksgiving.

“Tren lalu lintas penumpang kami cukup dekat dengan 2019, yang merupakan angka rekor untuk PBI,” kata juru bicara PBI, Lacy Larson.

Perlu dicatat, penumpang tidak diwajibkan menggunakan layanan teknologi CLEAR. Bagi mereka yang menggunakan jasa tersebut, dikenakan biaya sekitar US$179 sekitar Rp2,5 juta setahun atau US$15 sekitar Rp215 ribu sebulan (kurs 14.280).

Bagi penumpang yang sesekali bepergian, tentu layanan teknologi CLEAR tidak menarik. Tetapi, bagi penumpang frequent flyer yang bolak-balik bepergian dengan pesawat, itu sangat penting untuk mempercepat proses pemeriksaan dan memberikan lebih banyak waktu untuk istirahat, seperti David Silverman dan istrinya.

“Ini akan mempercepat antrean, Anda tahu. Jika itu akan membuat saya melewati pemeriksaan lebih cepat, itu bagus, dan saya suka teknologi baru,” ujarnya.

Baca juga: Teknologi LIDAR Kini Deteksi Pergerakan Penumpang di Bandara Frankfurt

Saat ini, teknologi CLEAR sudah tersedia di 39 bandara di seluruh negeri, termasuk di Fort Lauderdale-Hollywood International Airport, Miami International Airport, dan Orlando International Airport.

Sebelum digunakan, perangkat CLEAR sudah disertifikasi oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri dan dapat digunakan bersama dengan TSA PreCheck, layanan sejenis yang disediakan oleh departemen tersebut untuk mempercepat proses skrining keamanan fisik, dengan biaya US$85 selama lima tahun.