Intel Akuisisi Moovit, Indonesia Pakai Moovit Sejak 2016

Intel, perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat, mengkonfirmasi bahwa mereka mengakuisisi perusahaan solusi mobilitas-sebagai-layanan (MaaS) Israel Moovit dengan harga sekitar US$900 juta. Kesepakatan itu pertama kali dilaporkan pada hari Minggu (3/5/2020) oleh harian bisnis Israel TheMarker yang melaporkan nilai akuisisi sebesar $1 miliar.

Baca juga: Mudahkan Transportasi Warga, Aplikasi Moovit Resmi Hadir di Semarang

Intel sebelumnya memiliki investasi US$50 juta di Moovit pada tahun 2018 dan mengumumkan kemitraan dengan Mobileye, pengembang sistem bantuan pengemudi yang berbasis di Yerusalem yang diakuisisi oleh Intel Corporation sebesar US$15,3 miliar pada tahun 2017 dalam apa yang merupakan kesepakatan terbesar dalam sejarah teknologi tinggi Israel.

Pada hari Senin (4/5/2020), Intel mengatakan bahwa akuisisi Moovit akan membawa Mobileye “lebih dekat untuk mencapai rencananya untuk menjadi penyedia mobilitas lengkap, termasuk layanan robotaxi, yang diperkirakan merupakan peluang $ 160 miliar pada tahun 2030.”

“Dengan akuisisi ini, Mobileye akan dapat menggunakan set data transportasi milik Moovit yang besar untuk mengoptimalkan teknologi prediksi berdasarkan permintaan pelanggan dan pola lalu lintas, serta memanfaatkan repositori data transit Moovit dari lebih dari 7.500 agen dan operator transit utama, dan meningkatkan pengalaman konsumen untuk lebih dari 800 juta pengguna di seluruh dunia,” kata Intel.

Dilansir KabarPenumpang.com dari nocamels.com (4/5/2020), berkantor pusat di Ness Ziona, Moovit didirikan pada 2012 oleh Nir Erez, Yaron Evron, dan Roy Bick dan mengembangkan aplikasi crowdsourced gratis pertama yang menyediakan jadwal bus, kereta api, kereta bawah tanah, dan kereta api waktu nyata serta menawarkan opsi rute untuk membantu pengguna menemukan cara tercepat, paling efisien ke tujuan mereka. Selain fitur data transportasi publiknya, opsi mobilitas Moovit cukup luas dan mencakup perusahaan yang menunggang kuda, perusahaan berbagi mobil, sistem berbagi sepeda berbasis stasiun, sepeda tanpa dok, skuter, dan Moped.

Saat ini, Moovit memiliki lebih dari 800 juta pengguna di aplikasi seluler dan web gratisnya, menyediakan opsi mobilitas di 3100 kota, 100 negara, dan dalam 45 bahasa. Perusahaan juga menjual analitik data transit ke kota dan operator angkutan umum melalui Smart Transit Suite, sebuah platform yang menyediakan informasi real-time tentang pergerakan orang, rute optimal, waktu tunggu, lokasi bus dan kereta api dan data lainnya untuk pengelolaan jaringan. Moovit mengumpulkan lebih dari enam miliar titik data setiap hari tentang arus lalu lintas dan permintaan pengguna.

Dalam pos terpisah, Erez mengatakan Moovit akan tetap menjadi perusahaan mandiri dan akan bermitra dengan Mobileye untuk visi bersama mereka. Dia menekankan bahwa Moovit akan terus “melayani pengguna, pelanggan, dan mitra kami dengan tingkat layanan, profesionalisme, dan dedikasi luar biasa yang mereka harapkan dari kami,” dan akan berinvestasi lebih banyak dalam menumbuhkan dan mendukung Komunitas Mooviter.

Aplikasi Moovit diluncurkan pada tahun 2012 dan di Indonesia sendiri, Moovit diperkenalkan oleh Teguh Trianung di bulan November 2016. Sebelum membawa Moovit ke Indonesia, enam tahun yang lalu, Teguh juga membawa aplikasi Waze yang kini sudah banyak digunakan masyarakat Indonesia.

Sebelum launching di November 2016, Teguh bersama tim Moovit telah melakukan plot pemetaan trayek transportasi umum selama dua tahun di dua belas kota di Pulau Jawa, yaitu Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Solo, Kediri, Yogyakarta, Malang, dan Surabaya. Moovit memetakan trayek transportasi umum mulai dari bus TransJakarta, kereta api, bahkan transportasi umum seperti angkot KWK dan sejenisnya.

Untuk beberapa akses jalan yang tidak bisa ditempuh transportasi umum, Moovit pun turut memberikan instruksi pada penggunanya untuk berjalan kaki, naik ojek, ataupun taksi. Aplikasi Moovit mengusung sistem crowdsourcing yang melibatkan masyarakat sebagai stakeholder guna memberi feedback atas perjalanan mereka dengan transportasi umum.

Baca juga: Takut Kena Tilang Elektronik? Yuk Pantau Keberadaan Kamera ETLE via Waze

Kemudian Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bekerja sama dengan Moovit Indonesia mengintegrasikan angkutan di Ibu Kota dan sekitarnya. Aplikasi tersebut bisa diunduh secara gratis oleh pengguna ponsel berbasis iOS maupun Android. Moovit juga diharapkan bisa memberikan kontribusi untuk membangun proyek-proyek transportasi baru dan mengevaluasi proyek-proyek transportasi yang telah ada

Sofitel Sydney Darling Harbour Gunakan Robot untuk Bantu Pekerjaan Hotel

Setelah lama tak berfungsi dengan seharusnya, akhirnya Sofitel Sydney Darling Harbour mengaktifkan robot untuk membantu pekerjaan di hotel mereka. Jerry Schwartz mengatakan, robot yang dimiliki tersebut tidak digunakan sejak hotel dibuka beberapa tahun yang lalu.

Baca juga: Enam Jenis Robot Beroperasi di Stasiun Gateway Takanawa

Kemudian ketika ada pandemi, Schwartz akhirnya menemukan peran yang cocok untuk para robot tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari traveller.com.au (15/4/2020), Schwartz mengatakan robot-robot itu awalnya untuk ditempatkan di bar hotel.

Kini dua robot yang dimiliki Sofitel Sydney Darling Harbour digunakan untuk memberikan pembersih tangan yang penting bagi tamu hotel. Selain robot-robot tersebut, Schwartz juga mengikuti sistem akses tanpa kunci baru dan check out sementara Sofitel tanpa tamu.

Teknologi ini sendiri dikembangkan di Selandia Baru oleh perusahaan teknologi perjalanan GuesTracrtion dan memungkinkan para robot tersebut membantu tamu dari kedatangan hingga mereka akan meninggalkan hotel. Bisa dikatakan sepenuhnya pelayanan resepsionis dilakukan oleh robot untuk memutuskan jarak sosial antara staf di resepsionis dengan tamu.

“Maskapai penerbangan dapat memperkenalkan pemesanan tanpa batas dan check in melalui ponsel pintar. Saya ingin meniru itu untuk para tamu yang menginap di hotel. Itu adalah sesuatu yang telah saya dorong untuk waktu yang cukup lama, jauh sebelum Covid-19. Tetapi dampak dari virus dan langkah menuju pelonggaran sosial telah menjadikan transisi ini lebih penting lagi,” kata Schwartz.

Schwartz mengatakan bahwa check in dan check out hotel adalah salah satu aspek yang paling membuat frustrasi bagi para pelancong, terutama untuk tamu reguler yang sangat berharga. Registrasi dan sistem pemesanan online yang baru memungkinkan tamu untuk melakukan reservasi dari jarak jauh menggunakan kartu kredit. Hotel kemudian memberi tamu kode yang berfungsi sebagai kunci digital.

“Masalahnya adalah bahwa tinggal di hotel memerlukan banyak fungsi berbeda untuk akses tanpa kunci. Misalnya, kunci digital harus terhubung dengan lift untuk membawa Anda ke kamar Anda, perlu membuka kunci pintu Anda, menyediakan akses ke kolam renang, pusat kebugaran, dan ruang tamu, dan kemudian juga menutupi pembayaran di spa, toko suvenir, restoran dan bar,” jelas Schwartz.

Setelah teknologi baru berhasil diterapkan, Schwartz percaya Sofitel Sydney Darling Harbour akan menjadi hotel besar pertama di Australia yang menawarkannya. Tetapi baik sistem tanpa kunci dan robot hanyalah awal untuk hotel di era Covid-19.

Baca juga: Tidak Puas, LG Kembali Luncurkan Tiga Robot Anyar di Las Vegas Pekan Depan

Diketahui, penggunaan robot di hotel bukanlah hal baru, dengan Jepang dan Cina, setelah menguasai seni beberapa waktu lalu, mereka bukan lagi tipu muslihat. Hotel-hotel Cina sudah menggunakan robot untuk membersihkan kamar-kamar hotel dengan satu properti yang menawarkan operasi televisi yang diaktifkan dengan suara, melegakan bagi mereka yang menyadari fakta bahwa unit remote control TV bisa menjadi objek hotel yang paling banyak ditunggangi kuman.

Maskapai Eropa Kurangi Pekerja, Amerika Serikat Bersiap Menyusul

Wuhan di Cina dan beberapa negara lainnya sudah mulai pulih dari pandemi virus corona atau Covid-19. Negara-negara yang melakukan penguncian pun sudah mulai membuka kembali untuk membangkitkan kota yang sempat sepi. Namun saat seperti ini perjalanan untuk mengunjungi suatu daerah ataupun negara sepertinya belum banyak dilakukan bila bukan hal bisnis.

Baca juga: Demi Raih Modal Lawan Corona, Bos Virgin Atlantic dan Virgin Australia Gadaikan Pulau Pribadi

Hal tersebut kemudian membuat banyak maskapai penerbangan di dunia yang sudah mulai mengurangi para pekerja mereka. Seperti maskapai penerbangan di Eropa yang memulai proses menyakitkan untuk mengurangi bisnis karena prospek pemulihan yang tidaklah cepat. Minggu ini, maskapai-maskapai top di Eropa harus mengurangi ribuan pekerja demi memangkas biaya karena prospek penerbangan jangka menengah yang memburuk dengan cepat.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari cnn.com (1/5/2020), Ryanair, Lufthansa, British Airways dan Air France bahkan bisa mengurangi 32 ribu pekerjaan di antara mereka karena mengecilkan bisnis untuk memperhitungkan industri yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih dari pandemi. Tak hanya itu mungkin lebih banyak lagi maskapai yang akan mengikuti jejak para maskapai top tersebut.

“Kami saat ini menghadapi tantangan terbesar dalam sejarah kami baru-baru ini. Kami berjuang untuk masa depan perusahaan ini dan masa depan sekitar 130.000 karyawan Grup Lufthansa,” kata CEO Lufthansa, Carsten Spohr.

Spohr mengatakan, Lufthansa Group telah menempatkan lebih dari 80 ribu stafnya pada pengurangan jam kerja dan jadwal penerbangannya “kembali ke masa” ke level yang tidak terlihat sejak 1955, dengan tiga ribu penerbangan hariannya dibatalkan dan 92 persen armadanya di darat.

“Itu sangat pahit, dahsyat dan menyakitkan,” tambahnya.

Brian Strutton, sekretaris jenderal Asosiasi Maskapai Penerbangan Inggris mengatakan, dengan praktis tidak ada perjalanan internasional, dan tidak ada kejelasan tentang kapan permintaan akan kembali, hampir tidak mungkin untuk melebih-lebihkan krisis keuangan yang dihadapi maskapai penerbangan. Pekerja penerbangan menghadapi “tsunami (gelombang) kehilangan pekerjaan.

“Tanpa bantuan dari pemerintah, industri “akan hancur,” tambahnya.

Peringatannya menyusul satu-dua pukulan dari British Airways, yang mengatakan Selasa mungkin harus memangkas lebih dari seperempat tenaga kerjanya, dan Ryanair, yang mengumumkan tiga ribu pekerjanya di PHK sebelumnya pada hari Jumat.

“Apa yang kami hadapi sebagai maskapai penerbangan … adalah bahwa tidak ada yang ‘normal’ lagi. Skala tantangan ini membutuhkan perubahan besar sehingga kami berada dalam posisi kompetitif dan tangguh … untuk menahan penurunan permintaan pelanggan dalam jangka panjang,” kata CEO British Airways Alex Cruz.

Pendapatan penumpang maskapai global diperkirakan turun sebanyak 55 persen tahun ini, atau sekitar $314 miliar, menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional. Beberapa maskapai besar di Eropa dan Amerika Serikat sudah mencari dana talangan pemerintah.

Lufthansa, yang memiliki operator di Jerman, Swiss, Austria dan Belgia, sedang dalam “pembicaraan intensif” dengan pemerintah Jerman tentang dukungan keuangan, kata Spohr. Perusahaan telah menerima bantuan dari pemerintah Swiss dan sedang dalam negosiasi dengan pemerintah di Austria dan Belgia.

“Masa depan Lufthansa saat ini sedang diputuskan. Pertanyaannya adalah apakah kita dapat menghindari kebangkrutan dengan dukungan pemerintah dari empat negara asal kita,” kata Spohr.

Ryanair pada hari Jumat mengatakan pihaknya memperkirakan bahwa permintaan dan harga penumpang tidak akan pulih sampai setidaknya musim panas 2022. Spohr mengatakan itu bisa memakan waktu lebih lama, sampai 2023, untuk permintaan global untuk menemukan “keseimbangan baru.” Ternyata peringatan dari maskapai Eropa tidak menjadi pertanda baik bagi saingan mereka di Amerika Serikat, yang sudah melaporkan kerugian miliaran dolar untuk kuartal pertama.

Meskipun maskapai AS tidak diizinkan menerapkan PHK apa pun sebagai syarat paket bailout $25 miliar mereka, larangan ini hanya berlaku hingga 30 September. Sehingga sektor penerbangan diatur untuk secara signifikan lebih kecil selama beberapa tahun, PHK besar-besaran di antara operator AS tampaknya tak terhindarkan.

Sudah, sekitar 100 ribu karyawan di empat maskapai besar saja American Airlines, United Airlines, Delta dan Southwest telah sepakat untuk melakukan pemotongan gaji atau cuti yang tidak dibayar, selama sembilan bulan.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

“Kami memang akan, terlepas dari di mana permintaan, memasuki musim gugur dengan lebih banyak anggota tim daripada yang kami miliki untuk bekerja,” kata CEO American Airlines Doug Parker.

“Jika permintaan tetap berkurang secara signifikan pada tanggal 1 Oktober, kami tidak akan mampu menanggung krisis ini tanpa menerapkan beberapa tindakan yang lebih sulit dan menyakitkan,” tambah CEO United Airlines Scott Kirby dengan merujuk pada “cuti tak disengaja.”

Reservasi Tiket Dibuka, Garuda Indonesia Kembali Layani Penerbangan Mulai 7 Mei

Garuda Indonesia mulai Kamis, 7 Mei 2020 Pukul 00.01, kembali melayani operasional penerbangan sebagai tindak lanjut kebijakan pengendalian transportasi selama Ramadan dan Idul Fitri 1441 H yang mengacu pada ketentuan Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid -19 Nomor 4 Tahun 2020.

Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”

Layanan penerbangan tersebut akan dioperasikan mengacu pada ketentuan kriteria masyarakat yang dapat mengakses layanan transportasi pada masa pandemi Covid-19 seperti penumpang yang akan melaksanakan tugas kedinasan, kepentingan umum, kesehatan dan medis, masyarakat yang akan pulang ke daerah asal, kebutuhan repatriasi, layanan fungsi ekonomi penting serta mobilisasi pekerja migran Indonesia.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam pesan tertulis mengungkapkan, “Reservasi layanan penerbangan tersebut dapat diakses mulai sore hari ini melalui seluruh kanal penjualan owned channel tiket Garuda Indonesia”.

“Kembali dioperasikannya layanan penerbangan domestik ini kami lakukan berdasarkan komunikasi intensif bersama Pemerintah dan otoritas terkait dalam memastikan kesiapan kebutuhan layanan penerbangan selaras dengan misi berkesinambungan upaya pencegahan penyebaran COVID-19 melalui implementasi protokol kesehatan yang jelas dan terukur, khususnya sebagaimana kebijakan yang diberlakukan otoritas terkait”, papar Irfan.

Garuda Indonesia menerapkan prosedur penerimaan dan screening penumpang yang sangat ketat untuk layanan penerbangan yang dioperasikan, antara lain melalui pemberlakuan ketentuan penyertaan surat keterangan sehat dan negatif covid-19 dari Rumah Sakit.

Baca juga: Tegas! Ini Tanggapan Dirut Garuda Indonesia Terkait Pengaruh Diskon Tiket Pada Demand Penumpang

Bagi penumpang dengan tujuan perjalanan dinas harus dibuktikan dengan menunjukkan Kartu Identitas Kantor dan surat tugas dari kantor, penyertaan surat pernyataan tidak mudik/surat keterangan tertulis alasan melakukan perjalanan. Selain itu, penumpang wajib memenuhi kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan sesuai ketentuan protokol kesehatan yang berlaku.

Air Canada Sebut Proses Recovery Akibat Corona Butuh Tiga Tahun

Maskapai Air Canada mengaku mengalami kerugian sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp15 triliun (kurs Rp15.342) di kuartal I 2020. Secara keseluruhan, pendapatan operasional di kuartal I turun menjadi $3,72 miliar atau Rp56 triliun dibanding US$4,43 miliar di tahun lalu. Dengan kondisi tersebut, maskapai yang berbasis di Montreal, Quebec, Kanada ini memperkirakan butuh setidaknya tiga tahun untuk mencapai posisi seperti sebelum wabah virus corona merebak.

Baca juga: Bukan Hanya PHK Karyawan, Ini Sejumlah Opsi Maskapai Agar Bisa Tetap ‘Hidup’

“Kami sekarang hidup dalam periode paling kelam dalam sejarah penerbangan komersial, jauh lebih buruk daripada 9/11, SARS, dan krisis keuangan 2008. Tidak ada keraguan bahwa kami saat ini belum keluar dari titik kesulitan terdalam,” kata CEO Calin Rovinescu, seperti dikutip dari cp24.com.

Sejak pertengahan Maret, maskapai terbesar di Kanada itu tercatat telah memangkas jadwal penerbangan lebih dari 90 persen, menggrounded lebih dari 200 pesawat, dan menutup layanan internasional untuk sementara menjadi hanya lima bandara dari semula lebih dari 150.

Tak hanya itu, revenue dari penumpang juga turun US$604 juta atau 16 persen pada kuartal pertama dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Parahnya lagi, Air Canada mengaku menghabiskan stok uang tunai sekitar US$22 juta atau Rp331 miliar per hari selama bulan Maret. Di saat yang bersamaan, pendapatan juga terus-menerus turun dan kondisi ini diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa lama ke depan. Tentu ini menjadi pukulan telak.

Kurtal II nampaknya belum banyak berubah. Sampai akhir April lalu, frekuensi penerbangan terkoreksi turun sebanyak 90 persen. Otomatis, Air Canada tak punya pilihan kecuali memaksimalkan angkutan kargo. Terlebih, pemerintah Kanada memang tengah gencar-gencarnya mencari suplai stok perlengkapan dan peralatan medis dari berbagai dunia untuk memerangi pandemi corona.

Diperkirakan, frekuensi penerbangan di kuartal III masih lesu, meskipun terdapat peningkatan, menjadi berkurang 75 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Namun, perkiraan tersebut bisa sangat tentatif, tergantung pada kebijakan lockdown negara-negara di seluruh dunia, permintaan penumpang, dan wabah virus Cina itu sendiri. Bila segalanya positif, maka, bukan tak mungkin penurunan penerbangan menjadi jauh lebih kecil dari 75 persen. Demikian juga sebaliknya.

Akan tetapi, andai corona sudah musnah dari bumi ini, Rovinescu mengaku lebih berharap banyak pada perjalanan liburan dari para pelancong dunia, bukan mengandalkan pada perjalanan bisnis. Ia berpendapat, bahwa ke depan mungkin perjalanan bisnis akan tak begitu bergairah mengingat pelaku bisnis saat ini hingga beberapa waktu ke depan lebih nyaman dengan the new era, meeting melalui Zoom atau Skype for Business (Microsoft).

Baca juga: Virus Corona Justru Bikin Bandara Terpencil Ini Jadi yang Tersibuk di Dunia

Saat ini, Air Canada mengaku telah melakukan sejumlah langkah efisiensi dengan menunda sejumlah rencana pengembangan bisnis, menggrounded pesawat, mempercepat pensiunnya 79 pesawat yang lebih tua, termasuk Boeing 767 yang kurang efisien, Airbus 319, dan Embraer 190. Selain itu, perusahaan juga telah meminta 20 ribu karyawan cuti tanpa dibayar.

Dari ke semua itu, Air Canada menyebut berhasil menghemat sekitar US$1,05 miliar atau sekitar Rp15 triliun lebih. Kemudian, untuk memperkuat likuiditas, flag carrier Kanada itu juga telah mendapatkan suntikan modal sebesar US$1,62 miliar atau sekitar Rp24 triliun lebih.

Etihad dan Emirates: Sampai Vaksin Corona Efektif, Penerbangan Tidak Akan Normal

Ketika semua maskapai mendaratkan pesawat mereka saat virus corona atau Covid-19 menjadi pandemi di seluruh dunia, bagaimana kehidupan penerbangan dunia kedepannya? Hal ini kemudian menjadi pertanyaan dan mungkin menjadi pikiran para pengusaha maskapai.

Baca juga: Etihad Mundurkan Semua Penerbangan ke 16 Juni 2020

Dua maskapai besar asal Uni Emirat Arab, yakni Emirates dan Etihad mengatakan bahwa permintaan penumpang tidak akan kembali ke tingkat krisis pra virus corona hingga 2023 mendatang. Bahkan sekitar 85 persen maskapai penerbangan dunia bisa menghadapi kesulitan keuangan pada akhir tahun 2020 jika tanpa bantuan pemerintah.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman arabnews.com (4/5/2020), Presiden Emirates Tim Clark dan CEO Etihad Tony Douglas mengatakan hal tersebut pada konfernsi video pada pekan lalu yang diselenggarakan oleh Dewan Bisnis Amerika Serikat- Uni Emirat Arab. Dalam konferensi tersebut Clark dan Douglas menegaskan kembali dengan keyakinan mereka bahwa sampai vaksin efektif untuk penyakit yang menyerang sistem pernapasan ini tersedia secara luas, penumpang yang terbang akan berbeda dari biasanya.

Mereka mengatakan, pembatasan abadi seperti karantina selama 14 hari, pengujian atau tes pada masyarakat dan jarak sosial atau social distancing akan berdampak pada permintaan penumpang dan operasional pesawat. Diketahui, kedua maskapai besar Uni Emirat Arab ini mengoperasikan lebih dari 370 pesawat.

Armada mereka sendiri mayoritas berbadan lebar dan mendaratkan operasi pada bulan Maret 2020 serta melayani penerbangan keluar batas untuk membawa orang asing repatriasi dari Uni Emirat Arab. Dubai sendiri diperkirakan akan kembali menerima pelancong dari seluruh dunia pada Juli 2020 mendatang. Seorang pejabat Dubai mengatakan, mereka sudah lebih dari empat bulan menghentikan sektor vital untuk mencegah penularan pandemi virus corona.

“Pengembalian akan dilakukan secara bertahap dan dapat ditunda hingga September,” kata Helal Al-Marri, Direktur Jenderal Departemen Pariwisata dan Pemasaran Perdagangan Dubai.

Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Tes Corona ke Seluruh Penumpang

Untuk diketahui, Etihad yang semula berencana melanjutkan penerbangan mereka pada 16 Mei 2020 menangguhkan semua penjualan online mereka. Sehingga maskapai tersebut hanya menerima pemesanan baru untuk penerbangan yang dijadwalkan pada 16 Juni mendatang. Mereka juga mengatakan, hal ini bisa berubah jika suspensi penerbangan diperpanjang.

Bukan Hanya PHK Karyawan, Ini Sejumlah Opsi Maskapai Agar Bisa Tetap ‘Hidup’

Menurut Cirium, setidaknya ada 18 ribu pesawat di-grounded di seluruh dunia. Data tersebut pun diperkuat oleh FlightRadar24.com yang mencatat bahwa lalu lintas udara total pada bulan April turun 62 persen dan lalu lintas penerbangan komersial turun 73,7 persen dibanding periode yang sama di 2019 . Pada April 2020, hari tersibuk di langit terjadi pada tanggal 28, dengan 80.714 penerbangan. Namun tetap saja jauh tertinggal bila dibandingkan dengan 17 April 2019 dengan 203.239 penerbangan.

Baca juga: Kata Pengamat Penerbangan: Secara Substansial Bisa Saja Garuda Dikatakan Bangkrut

Akibatnya, PHK pun tak terhindarkan. Di dunia, tercatat ada lebih kurang 290.000 pilot telah di-PHK. Itu belum pun belum seberapa. Sejak April lalu Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sudah memperingatkan bahwa 25 juta pekerja di sektor aviasi bisa saja terancam bila tidak ada langkah konkret untuk menyelamatkan.

Di Indonesia, Indonesia National Air Carrier Association (INACA) menyebut, untuk mengurangi kerugian yang diderita, beberapa waktu belakangan ini, sejumlah maskapai penerbangan telah mulai merumahkan karyawan atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), baik bagi pilot, awak kabin, teknisi, dan karyawan pendukung lainnya. Selain itu, pemotongan gaji dan penundaan pembayaran insentif atau tunjangan juga tak terhindarkan.

Padahal, bila dilihat dari kerangka ekosistem bisnis maskapai secara utuh, sebetulnya, PHK karyawan bukan satu-satunya objek efisiensi. Banyak hal yang bisa dilakukan maskapai. Pengamat penerbangan, Ridha Aditya Nugraha menyebut, dalam situasi seperti sekarang ini, pilihan kembali ke tangan maskapai.

“Bila melihat dari cost share, tinggal dipilih saja mana yang mau dikorbankan terlebih dahulu,” katanya dalam webinar via Zoom bertemakan Industri Penerbangan: Ambruk Diterjang Pagebluk?, Selasa (5/5).

Dalam pemaparannya, ia menyebut bahwa maskapai setidaknya punya tiga cost share, mulai dari fixed cost, semi-fixed cost, variable cost. Depreciation dan cicilan ke leasing menjadi biaya yang tak bisa dihindari maskapai dengan persentase sekitar 12 persen.

Sebab, praktik pasar dari sewa pesawat adalah sewa bersih dengan klausul “hell or high water” yang mengharuskan penyewa membayar sewa dan melakukan semua kewajiban lainnya berdasarkan sewa tersebut secara absolut dan tanpa syarat. Jadi, kesulitan-kesulitan yang dialami maskapai, mungkin tak menjadi sebuah excuse bagi lessor. Namun, tentu saja segalanya bisa berubah setelah dinegosiasikan.

Semi-fixed cost sendiri sekurang-kurangnya ada lima komponen beban, yakni station expenses, MRO (Maintenance Repair and Overhaul), tiketing, dan administrasi. Mereka setidaknya berkontribusi terhadap keuangan perusahaan dengan persentase sebesar 28 persen. Demikian juga dengan crew yang menyumbang sekitar 9 persen dari total cost share.

Baca juga: Nasib Pilot Gegara Corona, Tetap Harus ‘Terbang’ Tanpa Dibayar

Dari kesemuanya itu (fixed cost dan semi-fixed cost, termasuk di dalamnya crew) menyumbang sekitar 49 persen dari total cost share. Adapun 51 persen sisanya masuk ke dalam variable cost, seperti fuel, other flight operations, jasa bandara, air navigation charge, passenger service, dan other opex atau operating expenses seperti pajak dan lain sebagainya.

Bila melihat dari komponen beban tersebut, maka, PHK tentu bukan satu-satunya jalan untuk menekan laju pengeluaran keuangan maskapai. Sebagaimana yang sudah diungkap sebelumnya, pilihan kembali ke tangan maskapai, komponen beban mana, selain fixed cost, yang terlebih dahulu ingin dikorbankan.

Virus Corona Justru Bikin Bandara Terpencil Ini Jadi yang Tersibuk di Dunia

Wabah virus corona membuat lalu lintas penerbangan dunia anjlok. Menurut FlightRadar24.com, lalu lintas udara total pada bulan April turun 62 persen dan lalu lintas penerbangan komersial turun 73,7 persen dibanding periode yang sama di 2019 . Pada April 2020, hari tersibuk di langit terjadi pada tanggal 28, dengan 80.714 penerbangan. Namun tetap saja jauh tertinggal bila dibandingkan dengan 17 April 2019 dengan 203.239 penerbangan.

Baca juga: ‘Berkat’ Wabah Corona, Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui Pecahkan Rekor Penerbangan Terjauh

Penurunan traffic juga terjadi di Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta. Pekan ini, pemegang gelar bandara tersibuk di dunia dua tahun berturut-turut pada 2018 dan 2019 (107 juta penumpang) tersebut tercatat turun 77 persen. Begitu juga dengan bandara tersibuk lainnya di Dubai, London, Beijing, Los Angeles, Tokyo, dan Hong Kong. Semuanya terkoreksi turun.

Anehnya, di tengah penurunan tajam di banyak bandara di dunia, bandara di Anchorage, Negara Bagian Alaska, Amerika Serikat (AS) justru mengalami lonjakan. Bahkan jauh melampaui kapasitas normalnya. Namun, tetap saja, bukan penerbangan penumpang, melainkan penerbangan kargo.

“Pada hari Sabtu (25 April), Bandara Internasional Ted Stevens Anchorage (ANC) adalah bandara tersibuk di dunia untuk operasi pesawat. Ini menunjukkan betapa signifikannya sistem penerbangan global telah berubah dan menyoroti pentingnya peran kita dalam ekonomi global dan memerangi pandemi Covid-19,” tulis ANC dalam sebuah cuitan di Twitter, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari Forbes.

“ANC mampu mencapai status nomor satu (jadi bandara tersibuk di dunia) karena penerbangan kargo, bukan penerbangan penumpang. Sementara maskapai lain memangkas penerbangan di bandara lain, ANC mampu mempertahankan dan agak meningkatkan penerbangan berkat kebutuhan kargo di seluruh dunia,” ujar salah seorang eksekutif bandara.

Dalam keadaan normal, selain menjadi pusat lalu lintas pesawat amfibi dunia atau seaplane, ANC biasanya merupakan bandara kargo tersibuk kelima di dunia dan bandara kargo tersibuk kedua di AS. . Ini karena hak pemindahan kargo khusus dan lokasi strategis berada persis di tengah antara Asia dan Amerika Utara. Belakangan, penerbangan kargo memang meningkat dan tak terpengaruh dengan wabah virus Cina. Bandingkan dengan penerbangan penerbangan penumpang yang berada di posisi puluhan dalam daftar bandara tersibuk di dunia dengan hanya melayani 5 juta penumpang setiap tahun.

Baca juga: Kargo di Kabin Penumpang Bikin Pramugari Beralih Fungsi Jadi ‘Petugas’ Pemadam Kebakaran

Menurut Ian Petchenik, Direktur Komunikasi FlightRadar24.com, ANC beroperasi jauh melampaui kapasitas normalnya dengan muatan penerbangan kargo yang lebih besar dari biasanya. Padahal bandara ini bisa dibilang sedikit terpencil karena hanya bisa dengan mudah diakses lewat udara. Pada hari Sabtu, 25 April, ANC memiliki 948 kedatangan dan keberangkatan pesawat. Bandingkan dengan salah satu bandara tersibuk di dunia lainnya (di tengah pandemi), Bandara Heathrow, London, yang hanya mencatat 682 kedatangan dan keberangkatan pesawat.

Meskipun setiap saat pergerakan penumpang dan kargo bisa sangat dinamis dan kembali menggusur ANC dari daftar bandara tersibuk di dunia pada akhir tahun 2020 mendatang, pihak ANC mengaku akan menerima kenyataan tersebut. Bagaiamanapun keadannya nanti, mereka mengaku akan tetap menikmati status tersebut (sebagai bandara tersibuk di dunia pada 25 Arpil lalu).

Kata Pengamat Penerbangan: Secara Substansial Bisa Saja Garuda Dikatakan Bangkrut

Pengamat penerbangan, Ridha Aditya Nugraha menyebut bila perspektif maskapai meminta relaksasi utang jatuh tempo adalah indikator ketidakmampuan, secara substansial bisa saja Garuda Indonesia dikatakan bangkrut.

Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”

“Kalau dilihat dari perspektif restrukturasi, mungkin maskapai lainnya (bukan hanya Garuda) mereka mungkin bisa dikatakan bangkut. Tetapi, nyatanya mereka masih melayani penerbangan dan aset mereka tidak ada yang dikembalikan,” katanya, dalam webinar yang diselenggarakan Developing Countries Studies Center (DCSC) via Zoom bertemakan Industri Penerbangan: Ambruk Diterjang Pagebluk?, Selasa (5/5).

Pengamat penerbangan yang juga konsultan Aviation & Space Law tersebut menegaskan, dilihat dari kultur, bisa dibilang Garuda Indonesia tidak akan bangkrut. Pasalnya, kultur negara-negara di Asia masih melihat isu nasionalisme sebagai suatu hal mutlak, dalam hal ini menyangkut keberlangsungan hidup maskapai flag carrier. Berbeda dengan Eropa yang pada umumnya menyerahkan permasalahan maskapai ke market.

Sekalipun demikian, kultur tersebut pun saat ini juga tak selalu demikian. Alitalia, misalnya, flag carrier Italia tersebut menurutnya sudah berkali-kali nyaris bangkrut namun berkali-kali itu pula pemerintah turun tangan. Justru yang menjadi menarik, lanjut Ridha, adalah bagaimana pemerintah juga menyelamatkan maskapai swasta, khususnya low cost carrier (LCC).

Dalam kacamata Ridha, kehadiran LCC penting untuk mencegah duopoli (Garuda Indonesia Grup dan Lion Grup), yang berujung pada mahalnya harga tiket, kembali terulang. Kemudian, dilihat dari data, traveler millenials atau non perjalanan bisnis mayoritas membutuhkan maskapai LCC karena sesuai dengan kriteria mereka. Harga murah. Tak perlu banyak barang bawaan. Tak perlu makan atau sejenisnya di atas pesawat karena penerbangan hanya satu-dua jam.

Maka dari itu, penting bagi pemerintah untuk juga tetap mendukung keberlangsungan maskapai LCC swasta, selain flag carrier, untuk menjaga industri penerbangan agar tetap sehat. Bila tidak, ia khawatir duopoli akan kembali terjadi dan merugikan masyarakat serta ekosistem bisnis yang menyertainya, seperti hotel, travel agent, restoran, UMKM dan lain sebagainya. Sebab, dengan mahalnya tiket, masyarakat akan mencari moda transportasi lain atau menunda perjalanan liburan.

“Kalau Lion Air dan Garuda kembali mendominasi, bukan tidak mungkin tiket mahal sejak 2018 akan kembali terulang. Jangan sampai link, hub, atau suatu jaringan dikuasai mereka,” jelas pengamat penerbangan yang juga lulusan Leiden University tersebut.

Sebelumnya, dalam laporan keuangan Garuda Indonesia (GIAA) tahun 2019 tercatat memiliki utang obligasi dari penerbitan Trust Certificates yang tidak dijamin sebesar US$500 juta atau Rp7,75 triliun dengan asumsi kurs Rp15.500 per dollar AS.

Tercatat di Bursa Singapura, surat utang Garuda Indonesia ini dirilis 3 Juni dengan jangka waktu 5 tahun. Ini artinya pada 3 Juni nanti utang ini jatuh tempo. Sukuk ini memiliki tingkat suku bunga tetap tahunan sebesar 5,95 persen yang dibayar setiap 6 bulanan yang dimulai 3 Desember 2015 sampai dengan 3 Juni 2020

Menariknya, seorang konsultan penerbangan dari Centre for Aviation atau CAPA menyebut bahwa saat ini maskapai global, secara substansial, mungkin bisa dikatakan bangkrut karena kesulitan likuiditas atau telah melanggar perjanjian utang bila tidak ingin disebut bangkrut. Pasalnya, kemampuan perusahaan jauh di bawah tanggungan berupa utang, cicilan, dan gaji karyawan. Tak heran bila dalam kondisi tersebut, tak ada pilihan lain maskapai untuk menunda pembayaran dan pengembangan bisnis serta mencari pinjaman. Tak terkecuali dengan GIAA.

Baca juga: Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

Perhitungan konsultan CAPA tersebut tentu bukan tanpa alasan. Pada awal Maret lalu, maskapai asal Inggris, FlyBe, dinyatakan bangkrut akibat tak mendapatkan suntikan dana segar dari pemerintah Inggris sebesar 100 juta poundsterling Rp1,8 triliun dan konsorsium pemilik perusahaan sebesar US#130 juta atau Rp1,8 triliun guna menstabilkan bisnisnya. Selain itu maskapai juga tercatat memiliki utang Rp320 miliar.

Bila FlyBe yang tak mendapatkan suntikan total modal sebesar Rp3,6 triliun serta memiliki utang sebesar Rp320 miliar saja bangkrut, lantas bagaimana dengan Garuda Indonesia bila tak berhasil mendapatkan utang baru untuk menutup utang lamanya yang notabene jauh lebih besar dibanding FlyBe?

Nasib Pilot Gegara Corona, Tetap Harus ‘Terbang’ Tanpa Dibayar

Cirum mencatat ada sekitar 18 ribu pesawat di-grounded akibat anjloknya permintaan penumpang. Akibatnya, 25 juta lapangan pekerjaan di sektor dirgantara di seluruh dunia pun terancam. Mulai dari staf darat, karyawan kantor, karyawan pabrik pembuatan pesawat, petugas bandara, ATC, pramugari, hingga pilot.

Baca juga: Kenapa Mikrofon Pilot Tidak Terdengar Jelas Dibanding Awak Kabin? Ini Dia Jawabannya

Dari sekian profesi di atas, mungkin pilot bisa saja yang paling merana. Betapa tidak, selain harus di rumahkan atau bahkan di PHK, mereka juga tetap harus tetap ‘terbang’ melalui berbagai platform online atau simulator, tanpa dibayar, malahan bisa jadi justru harus mengeluarkan kocek pribadi. Hal itu dilakukan guna mempertahankan kemampuan dan “ratings” atau izin untuk menerbangkan pesawat tertentu.

Dikutip dari CNN Internasional, sebab begitu krusialnya posisi pilot sebagai salah satu penentu keselamatan dan keamanan penerbangan, pilot harus tetap terus ‘terbang’ sekalipun pada kenyataannya mereka berada di rumah atau mungkin sudah di PHK dan masih ingin melajutkan karir sebagai pilot. “Pilot harus sering latihan dan meng-upgrade skill untuk dapat terus terbang,” kata Brian Strutton, salah seorang anggota British Airline Pilots Association (BALPA) yang menaungi seluruh pilot di Inggris.

Celakanya, mengikuti kebijakan pembatasan atau karantina wilayah, banyak fasilitas simulator tutup. Di Inggris, misalnya, nyaris seluruh fasilitas simulator tutup, mengikuti kebijak lockdown pemerintah. Sekalipun ada yang buka, harganya pun tak murah mencapai US$300-US$400 atau sekitar Rp6 juta (kurs 15.051) per jam. Harga tersebut belum termasuk jasa pendampingan ahli yang tarif per jamnya bisa saja selangit atau lebih mahal dari tarif sewa simulator itu sendiri.

Belum lagi berbagai lisensi lainnya, seperti lisensi kecakapan berkomunikasi, kemampuan evakuasi saat terjadi kebakaran, kemampuan bekerja secara tim antara pilot dan co-pilot, dan berbagai kemampuan lainnya, termasuk kemampuan untuk terbang baik di siang hari dan malam hari, pilot pesawat komersial juga perlu melakukan tiga kali take-off dan pendaratan di malam hari dalam 90 hari terakhir yang juga harus terus di-upgrade.

Dengan sedikitnya 290.000 menganggur atau kehilangan pendapatan, termasuk juga pilot yang masih bertahan di maskapai, tentu, mengeluarkan uang untuk mempertahankan kemampuan atau ratings pilot sangat memberatkan. Namun, mau tak mau harus dijalani untuk keberlanjutan karir.

Karlene Petitt, seorang pilot Boeing 777 mengatakan bahwa di masa pandemi ini, pilot tak punya pilihan lain kecuali terus mengupgrade skill mereka. Bila tidak, pilot bisa saja lupa atau kehilangan ‘sentuhan’ mereka ketika mulai kembali mengudara. Ia pun berbagi opsi bahwa pilot bisa mempertahankan skill dengan platform online.

“Kamu mulai melupakan sesuatu jika kamu tidak menggunakannya. Dan sebagian besar dari apa yang kita, sebagai pilot, lakukan adalah berdasarkan kognitif. Jika kamu dapat mempertahankannya, maka kamu tidak akan kehilangan kemampuan,” katanya.

“Alangkah baiknya jika maskapai menyediakan platform pelatihan online yang kami miliki selama pelatihan awal atau selama peringkat tipe awal, sehingga kami bisa pergi dan mempertahankan kemahiran saat di rumah, sampai kami kembali menerbangkan pesawat,” tambahnya.

Baca juga: Tanpa Sadar, Tingginya Frekuensi Penerbangan Giring Pesawat Sipil Lakukan “Elephant Walk”

Dibanding simulator, manfaat pelatihan lewat platform online bisa sangat akurat dari segi mekanisme. Maksudnya, pilot yang diwajibkan untuk mengikuti pelatihan lewat platform online bisa segera diketahui siapa yang membangkang atau tidak. Dengan begitu, pihak maskapai bisa langsung memberikan peringatan terhadap pilot yang bersangkutan. Dari segi biaya, platform online bisa dibilang lebih murah. Petitt pun menjamin bahwa metode tersebut sangat membantu. Sebab ia pernah merasakan dampaknya secara langsung.

“Kami melakukannya (mempertahankan skill melalui platform online) bertahun-tahun yang lalu. Kamu hanya bergerak dan menyentuh tombol secara fisik karena gerakan menyentuh di mana kamu akan menyentuh di pesawat membantu menanamkannya ke dalam memori,” tutupnya.