Antisipasi Covid-19, Bandara Narita Hadirkan Tempat Tidur Karton di Ruang Tunggu

Dengan menyebarnya virus corona (Covid-19) di Jepang, Pemerintah setempat telah menetapkan Bandara Internasional Narita menjadi salah satu gerbang internaional untuk menerima penerbangan dari Cina dan Korea Selatan, selain ada Bandara Kansai di Osaka.

Baca juga: Melancong ke Tokyo, Pilih Turun Dimana? Bandara Haneda atau Narita?

Dengan mandat tersebut, lantas membuat pihak Bandara Narita menghadirkan tempat tidur karton di ruang tunggu bagi penumpang internasional yang datang dan tidak dijemput oleh keluarga dan teman dengan mobil pribadi. KabarPenumpang.com melansir forbes.com (10/4/2020), kehadiran tempat tidur karton untuk membatasi kemungkinan penyebaran Covid-19 dan pemerintah Jepang melarang penumpang pesawat menggunakan angkutan umum.

Bahkan Jepang juga tidak menghubungkan penerbangan domestik mereka. Bila menggunakan taksi, penumpang harus membayar dengan biaya yang cukup mahal sekitar US$300 mengingat jarak yang jauh dari Narita ke Tokyo.

Meski terbuat dari karton, tetapi kasur yang digunakan cukup bagus, ini diketahui dari ulasan di Instagram seorang penumpang dengan nama @kazuki01282000 yang tiba di Narita dengan penerbangan All Nippon Airways dari Vietnam yang harus menunggu satu hari di lokasi darurat tersebut. Dia mengatakan sulit tidur karena lampu tetap menyala, ranjang yang terbuka memiliki partisi di sudut-sudut, disediakan makanan ringan termasuk onogiri atau nasi gulung.

Tempat tidur ini lebih kecil dari yang direncanakan untuk desa atlet Olimpiade 2021. Diketahui, pemerintah Jepang meningkatkan penyaringan dan pengujian kedatangan di mana penumpang yang dinyatakan negatif masih tetap diminta tidak menggunakan angkutan umum. Mereka bisa ke hotel terdekat, menyewa mobil atau meminta seseorang untuk menjemput.

Jepang sendiri hanya meminta warganya untuk isolasi mandiri selama 14 hari setelah bepergian dari luar negeri terkhusus dari hotspot pandemi. Konstitusi Jepang tidak mengizinkan karantina yang dipaksakan. Bandara Narita melaporkan penurunan 85 persen trafik dari penerbangan internasional.

Ini akan menutup salah satu landasan pacu pada hari Minggu dan hal tersebut pertama kali Narita telah menutup landasan sejak bandara dibuka pada tahun 1978. Sedangkan bandara pusat kota Tokyo, Haneda, akan meningkatkan penerbangan internasional, terutama ke Amerika Serikat.

Baca juga: Di Tengah Wabah Virus Corona, Mitsubishi SpaceJet Sukses Terbang Perdana

Banyak dari penerbangan itu ditunda karena Jepang baru saja melihat lonjakan dalam kasus Covid-9 dan mengurangi permintaan dari Amerika Utara dan Eropa. Tempat tidur karton menjadi cara bagi Jepang untuk mengatasi keadaan darurat, biasanya bencana alam seperti gempa bumi dan topan. Pemerintah pusat tahun lalu memutuskan untuk menimbun lebih dari seribu tempat tidur karton.

Tanpa Sadar, Tingginya Frekuensi Penerbangan Giring Pesawat Sipil Lakukan “Elephant Walk”

Sebelum badai Covid-19 menerpa industri penerbangan, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pada tahun lalu menyebutkan, ada sekitar 4,5 miliar perjalanan penumpang di seluruh dunia. Menurut data dari Airport Council Internasional, lebih dahsyat lagi, lalu lintas penumpang pada 2019 meningkat menjadi 8,8 miliar dibanding tahun sebelumnya dengan persentase peningkatan sebesar 6,4 persen.

Baca juga: Mengapa Ada Batasan Ketinggian Terbang untuk Pesawat? Ini Jawabannya

Terlepas dari kedua perbedaan data tersebut, tingginya lalu lintas penerbangan komersial membuat di beberapa bandara tampak luar biasa sibuk. Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta (Georgia, AS), misalnya, tercatat melayani sekitar 107,4 juta penumpang sepanjang tahun 2019.

Dalam satu hari, bandara tersebut disinyalir mampu menampung 275.000 orang dengan rata-rata 2.700 kedatangan dan keberangkatan pesawat. Artinya, bila dalam satu hari terdapat 24 jam atau 1.440 menit, maka, hampir setiap satu-lima menit Bandara Atalanta memberangkatkan pesawat. Tak ayal, dalam kondisi itu, beberapa pesawat tampak antre di taxiway, menunggu giliran terbang, mirip seperti deretan pesawat militer saat tengah melakukan elephant walk sebelum show.

Dikutip dari laman Indomiliter.com, Elephant Walk adalah sebuah istilah yang dipopolerkan Angkatan Udara AS (USAF) untuk menyebutkan iringan pesawat yang berbaris panjang secara rapat menuju landasan pacu sesaat sebelum lepas landas. Aktivitas ini seringkali dilaksanakan sebelum minimum interval take-off (MITO). Jadi sama sekali tak berlaku dalam kasus deretan pesawat serupa elephant walk pada pesawat sipil.

MITO atau lepas landas interval minimum, adalah teknik yang dipakai USAF untuk scrambling seluruh armada pembom dan tanker yang ada di suatu pangkalan udara. Interval yang digunakan adalah 12 detik untuk bomber dan 15 detik untuk tanker. Sebelum lepas landas, pesawat melakukan Elephant Walk menuju landasan pacu. Dilihat sudut definitif, hakikatnya, kepadatan atau antrean pesawat komersial di Bandara Atalanta memang tak jauh berbeda dengan Elephant Walk pada militer. Mungkin, perbedaan mencolok ada pada interval. Bila militer dalam hitungan detik, maka di pesawat komersial masih berkisar pada hitungan menit.

Istilah ini muncul pertama kali semasa Perang Dunia II ketika armada besar pembom Sekutu akan melakukan serangan besar-besaran terhadap instalasi milik Nazi Jerman. Kala itu melibatkan 1.000 pesawat yang diberangkatkan dari beberapa pangkalan milik Sekutu.

Baca juga: Hard Landing Vs Soft Landing, Mana Lebih Baik?

Teknik ini dikembangkan semasa Perang Dingin antara AS dengan Uni Soviet. Dirancang untuk memaksimalkan jumlah pesawat yang diluncurkan dalam waktu sesingkatnya (persiapan kurang dari 15 menit) sebelum pangkalan itu musnah akibat serangan nuklir lawan.

Bukan sebagai gaya-gayaan, Elephant Walk juga memperlihatkan kemampuan kerja sama unit dan tim. Kegiatan ini sering dilakukan untuk mempersiapkan skadron yang sedang terlibat operasi perang serta mempersiapkan pilot untuk meluncur dengan pesawat bersenjata lengkap dalam satu misi yang melibatkan banyak pesawat.

Boeing 777X Kedua Sukses Terbang Perdana

Boeing dilaporkan sukses melakukan penerbangan perdana pada pesawat kedua 777X. Kepastian itu didapat setelah pesawat dengan kode registrasi WH002 tersebut berhasil mengudara selama 2 jam 58 menit di atas langit Negara Bagian Washington sebelum mendarat di Seattle’s Boeing Field.

Baca juga: Pengamat: Boeing 777X Janjikan Pengalaman Baru Bagi Penumpang

Dikutip dari aero-mag.com, pesawat kedua, dari empat yang akan menjalani uji terbang khusus tersebut, diproyeksikan untuk mengetes kinerja dan fungsi handling characteristics serta aspek lainnya. Berbagai komponen, sensor, dan monitoring devices di seluruh kabin dipantau dengan ketat oleh tim yang ikut dalam penerbangan untuk mencatat dan mengevaluasi senstivitas atau respon pesawat terhadap test conditions secara real time.

Penerbangan perdana ini merupakan bagian dari paket tes 777X dengan serangkaian pengujian di segala kondisi, baik di darat maupun di udara untuk menunjukkan keamanan dan keandalan desain. Hingga saat ini, tim telah menerbangkan pesawat pertama hampir 100 jam di berbagai flap settings, kecepatan, ketinggian, dan system settings sebagai bagian dari evaluasi uji terbang awal.

Dengan kesuksesan pernerbangan perdana ini, uji terbang berikutnya sangat memungkinkan untuk menambah lebih banyak personel yang terlibat langsung di dalam kabin, tidak hanya mengandalkan stasiun pengukuran jarak jauh atau telemeteri di darat, agar memungkinkan Boeing 777X mendapat tes yang jauh lebih berat dengan jarak yang lebih jauh.

Sebelumnya, pada akhir Januari lalu, Boeing 777X pertama terlebih dahulu sukses melakukan uji coba penerbangan perdana. Kala itu, pesawat berhasil mengudara selama empat jam dari Boeing Everett Factory dan mendarat di Paine Field, Seatlle. Model teranyar dari keluarga 777 tersebut diklaim Boeing sebagai pesawat komersial pertama dengan ujung sayap lipat atau folding wingtip.

Namun, tak lama setelah penerbangan perdana, dimana pabrikan tampak membanggakan diri dengan fitur teranyar itu, Boeing mengatakan bahwa fitur tersebut bisa saja menjadi penyebab kecelakaan. Awalnya, Boeing berani memastikan bahwa fitur tersebut aman. 777X pun juga lolos tes Federal Aviation Administration (FAA) atau regulator penerbangan sipil di Amerika dengan berbagai catatan.

Selain memberikan beberapa syarat untuk Boeing terkait wingtip, FAA juga memberikan beberapa mekanisme. Pada intinya, mekanisme tersebut memastikan bahwa folding wingtip berada pada posisi yang benar, baik saat lepas landas maupun saat mendarat.

Tak hanya itu, FAA juga mengingatkan, ketika folding wingtip tak berjalan dengan baik, hal tersebut harus terhubung ke instrumen-instrumen di dalam kokpit dalam bentuk beragam, bisa dengan suara, ataupun tombol peringatan yang menyala.

Menariknya, ketika hal itu terjadi (folding wingtip mengalami ganguan dan tidak berada posisi yang benar saat di udara) Boeing mengakui bahwa sesuatu hal bisa saja terjadi. Bahkan, mereka cukup sadar untuk mengakui di hadapan FAA, bahwa fitur tersebut masih sangat mungkin menjadi penyebab terjadinya kecelakaan.

Baca juga: Heboh Fitur Folding Wingtip di Boeing 777X, Apa Sih Bedanya Winglet dan Wingtip?

Sekalipun Boeing belum mengeluarkan dampak pastinya saat sistem folding wingtip error di udara, sebagian kalangan menilai bahwa hal tersebut mungkin tidak berdampak terlalu fatal. Pasalnya, bila melihat dimensi bentang sayap yang ada, harusnya penerbangan akan baik-baik saja. Folding wingtip dalam keadaan normal berada pada kisaran 71 meter dan jika melipat berada pada posisi berkisar 64 meter.

Artinya, lebar bentang sayap tersebut masih lebih besar dibanding B747-100 yang memiliki bentang sayap 59,6 meter. Padahal, baik 777X maupun 747-100, dari segi kapasitas, tak jauh berbeda. Jadi, dari segi keamanan, beberapa kalangan berpendapat tetap akan aman. Kecuali dari segi tingkat efisiensi bahan bakar, erornya folding wingtip mungkin akan membuat penerbangan tidak se-efisien yang diharapkan sebelumnya.

20 Unit Bus SMRT Singapura Dikonversi Jadi Ambulans

Sebanyak 20 bus SMRT dimodifikasi untuk mengangkut pasien terinfeksi virus corona atau Covid-19. Bus dikonversi dengan adanya kerja sama antara SMRT dan Hope Technik untuk menwujudkannya. Modifikasi bus ini pun hanya membagi dua yakni bagian kompartemen atau untuk pengemudi bus dan pasien di bagian lainnya.

Baca juga: Kapal Penumpang di Swedia Dikonversi jadi Rumah Sakit

Sehingga bisa dikatakan, pengemudi dan penumpang akan benar-benar terisolasi satu sama lainnya. Sebab, pengemudi akan berada di ruang atau kompartemen dengan sistem pendingin udara terpisah. Selain itu juga ada dua kursi tambahanan di kompartemen pengemudi untuk para medis, petugas pendamping atau tergantung permintaan.

Untuk para medis yang akan masuk ke kompartemen penumpang dan akan mengecek kondisi mereka ada pintu darurat. Pada kompartemen penumpang, pendingin juga dipisah hal ini untuk membuat pengemudi aman mengangkut pasien dari asrama ke rumah sakit atau fasilitas perawatan masyarakat hingga membawa pasien yang pulih dari rumah sakit ke perawatan pemulihan masyarakat.

“Kompartemen pengemudi, yang memiliki kursi tambahan untuk setiap staf pendukung, memiliki pintu darurat seandainya paramedis perlu mencapai penumpang dengan cepat. Bus akan siap pada akhir minggu depan,” kata direktur eksekutif Temasek Ho Ching yang dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (27/4/2020).

Bus-bus ini akan diluncurkan untuk melayani pasien yang menjalani pengobatan, pada akhir minggu depan. Versi 2 akan mencakup sistem tekanan negatif untuk kompartemen pasien. Ini merupakan perlindungan tambahan di mana udara dari kompartemen pasien akan dibersihkan sebelum dibuang.

Tak hanya 20 bus, tetapi ada 30 bus lain yang dalam pesanan. Ada pula lowongan untuk pengemudi bus ini dengan syarat bagi mereka yang memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) 4. Dengan adanya bus ini, bisa dikatakan mengganti ambulans yang hanya mengangkut satu orang pasien.

Diketahui sebelumnya, lebih dari 250 pengemudi Grab dan sekitar 70 pengemudi dari Stride, anak perusahaan SMRT, dikerahkan untuk membantu untuk mengangkut para pasien terinfeksi virus corona ini ke rumah sakit rujukan atau fasilitas perawatan masyarakat yang terdampak virus corona.

Baca juga: Selain Punya “Lifeline Express,” Indian Railways Sulap Gerbong Kereta Jadi Ruang Isolasi Pasien Covid-19

“Sementara itu, saya ingin memberikan teriakan kepada semua pengemudi bus saat ini, pengemudi Grab dan sopir taksi yang secara sukarela membantu pasien, calon pasien, pasien yang diduga, pasien yang sembuh atau orang-orang yang telah dibebaskan dari tahanan, apakah akan pergi ke rumah sakit untuk tes, atau untuk mengantar mereka dari rumah sakit ke berbagai fasilitas perawatan, atau untuk mengantarnya ke fasilitas perumahan baru,” ujar Ho Ching di akun Facebooknya.

Apa Saja yang Bisa Bikin Mesin Pesawat Mati? Simak Jawabannya di Sini!

Anda masih ingat dengan kejadian yang terjadi di Cina dimana ada seorang penumpang yang melemparkan koin ke dalam mesin jet pesawat ketika dirinya tengah melakukan proses boarding? Akibatnya, penerbangan tersebut terpaksa mengalami keterlambatan karena petugas harus memastikan koin yang dilempar sudah ditemukan dan tidak akan mengganggu pengoperasian pesawat. Kalau koin tidak ditemukan, namun pihak maskapai tetap ngotot untuk tetap mengudara, bukan tidak mungkin apabila mesin pesawat mengalami masalah dan menjadi mati.

Baca Juga: (Lagi) Penumpang Lempar Koin ke Dalam Mesin Pesawat, Lucky Air Tunda Keberangkatan CZ380

Ngomong-ngomong soal mesin pesawat yang mati, kira-kira tahukah Anda apa saja faktor yang dapat membuat mesin pesawat jadi mati ya? KabarPenumpang.com mengutip dari majalah Angkasa – edisi Februari 2017, salah satu faktor yang bisa menyebabkan mesin pesawat mati adalah semprotan air – kendati prosentasenya sangatlah kecil. Maka dari itu, setiap produsen mesin pesawat akan menyemprotkan air dalam jumlah yang banyak untuk membuktikan mesin tidak langsung mati (flame-out).

Beberapa ahli di sektor aviasi bahkan mengatakan bahwa water ingestion menjadi salah satu penyebab paling potensial yang menyebabkan mesin pesawat mati. Kondisi ini bisa terjadi ketika mesin terlalu banyak menyerap air sehingga beberapa bagiannya mengalami gagal fungsi dan berimplikasi pada matinya mesin.

Sebagai contoh, insiden Garuda Indonesia GA421 yang menggunakan pesawat berjenis Boeing 737 yang melakukan pendaratan darurat di Sungai Bengawan Solo pada 16 Januari 2002 silam. Dalam kasus ini, sejumlah pihak termasuk pengamat dan pembuat mesin mengaku terkesima ketika melihat kedua mesin dari pesawat tersebut mendadak mati, tak lama berselang setelah pesawat menembus gumpalan awan Cumulonimbus.

Selain karena terlalu banyak terkandung air, mesin pesawat juga bisa mendadak mati ketika terjadi stall. Hal ini bisa terjadi bisa terjadi ketika pesawat terhempas oleh aliran udara sangat kuat, yang menyebabkan posisi mesin tidak lagi optimal dalam mendapatkan aliran udara linear. Kondisi seperti ini akan membuat aliran udara yang masuk ke ruang mesin mengalami turbulensi.

Baca Juga: Lempar Koin ke Mesin, China Southern Airlines Alami Delay 5 Jam

Tidak tercapainya perbandingan yang tepat dalam proses pencampuran bahan bakar dengan udara selanjutnya akan menimbulkan letupan-letupan – proses inilah yang disebut sebagai engine stall. Ya, tidak bisa dipungkiri proses ini dapat mengakibatkan mesin pesawat menjadi mati.

Penumpang Justru Senang Pesawat Delay 2 Jam Gegara Apollo 11 Kembali Ke Bumi

Di berbagai belahan dunia, pada umumnya penumpang protes ke maskapai atas keterlambatan jadwal penerbangan mereka. Namun, lain cerita dengan penerbangan Qantas QF596 dari Brisbane ke San Francisco. Pada penerbangan tersebut, penumpang justru mengaku senang saat pesawat terlambat dua jam akibat peristiwa kembalinya Apollo 11 dari misi pendaratan di bulan untuk pertama kali.

Baca juga: Wow, Kaca Film Sekarang Bisa untuk Jendela Pesawat

Dikutip dari Simple Flying, Apollo 11 pada 16 Juli 1969 diketahui telah meluncur dari bumi untuk melakukan misi pendaratan di bulan dengan memuat tiga astronot, Neil Armstrong, Buzz Aldrin, dan Michael Collins. Mereka diproyeksikan bakal menghabiskan waktu selama sembilan hari di sana sebelum akhirnya kembali ke bumi. Bila segalanya sesuai rencana, artinya, Apollo 11 akan melintas secara vertikal pada 24 Juli 1969 dan berpotensi menggangu kelancaran penerbangan.

Dengan adanya potensi bahaya tersebut, Kapten Frank Brown, selaku kapten pilot pada penerbangan Qantas QF596 dari Brisbane ke San Francisco senantiasa rutin mengecek jalur penerbangannya. Pasalnya, Apollo 11 besar kemungkinan kembali ke bumi dan jatuh di Samudera Pasifik. Tentu saja Boeing 707 yang akan diterbangkannya akan melintas di langit Samudera Pasifik.

Namun, Kapten Frank Brown, kala itu sengaja mengecek bukan untuk menghindari pesawat dari jalur jatuhnya Apollo 11, justru sebaliknya, membawa pesawat agar berada sedekat mungkin dengan Apollo 11 agar para penumpang bisa menyaksikan langsung momen langka sekali seumur hidup tersebut. Tak ayal jika ia memutuskan untuk menunda keberangkatan pesawat selama dua jam demi momen tersebut. Hasilnya, jalur sejauh 280 mil dari Brisbane ke ke San Francisco yang dilalui berhasil berada pada posisi sejajar dan mengudara pada posisi serta waktu yang tepat.

Sambil menikmati sajian unik dengan tema Apollo 11, seperti ‘Chilled Lunar Lobster’, ‘Loin of Lamb Aldrin with Splashdown Sauce’, dan ‘Duckling a l’Armstrong’, para penumpang kala itu mengaku tak sabar menanti detik-detik Apollo 11 melintas. Pada akhirnya, momen yang ditunggu pun tiba. Apollo 11 melintas tepat di depan Qantas QF596. Selama kurang lebih tiga menit, penumpang disuguhi peristiwa yang mungkin hanya sekali dalam seumur hidup mereka.

Baca juga: Pan Am, Maskapai Pelopor Kelas Ekonomi Modern di Penerbangan Jarak Jauh

Trevor Hiscock, salah satu penumpang dalam penerbangan tersebut mengaku tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Mata saya terasa sebesar jendela pesawat. Tiba-tiba bola hijau dan bola merah lainnya (mirip seperti suar) lama kelamaan semakin membesar dan pada akhirnya mereka bergerak menjauh dari jalur penerbangan kami,” katanya.

Sama halnya dengan Trevor, Kapten Frank Brown juga melihat dengan jelas peristiwa langka tersebut. Ia pun kemudian menjadi buah bibir di Australia dan dunia hingga mendapat kehormatan sebagai narasumber ABC Radio Australia untuk menceritakan kronologi dan detik-detik ia melihat Apollo 11 kembali ke atmosfer bumi. Selain mendapat kehormatan sebagai narasumber, pengakuannya ketika melihat Apollo 11 kembali pun juga dijadikan dasar atau konfirmasi visual pertama.

Tiga Bandara di Inggris Wajibkan Pelancong Gunakan Masker dan Sarung Tangan

Bandara menjadi salah satu pintu masuk pelancong baik lokal maupun internasional. Apalagi saat ini virus corona sudah menjadi pandemi di seluruh dunia dan membuat bandara-bandara dunia mengambil tindakan tegas bagi para pelancong. Seperti tiga bandara di Inggris yang sedang mengimplementasikan rencana untuk mewajibkan penumpang menggunakan sarung tangan serta masker ketika bepergian melalui bandara.

Baca juga: Serikat Pekerja Awak Kabin di AS Minta Semua Orang Gunakan Masker di Bandara dan Kabin Pesawat

Tiga bandara di Inggris itu yakni Bandara Manchester, East Midlands dan Stansted yang akan menerapkan peraturan tersebut pada minggu ini. Hal tersebut dilakukan karena pemerintah Inggris dituduh lamban untuk bertindak dalam perjalanan udara pascar virus corona. KabarPenumpang.com melansir laman simpleflying.com (3/5/2020), tiga bandara ini mengharuskan pelancong menggunakan masker dan sarung tangan mereka sendiri. Meski begitu bandara juga menyiapkannya untuk berjaga-jaga bila ada pelancong yang tidak membawa atau menggunakannya.

Ketiga bandara tersebut juga berencana menguji pemeriksaan suhu kepada semua penumpang yang masuk ke terminal. mereka juga akan membuat persyaratan bagi penumpang untuk membuat deklarasi kesehatan. Bisa dikatakan ini merupakan aksi pertama bandara Inggris dan dilakukan setelah CEO Bandara London Heathtrow, John Holland-Kaye mengatakan bahwa jarak sosial di bandara secara fisik tidak mungkin. John menegaskan bahwa solusi yang lebih baik adalah pemakaian masker dan pemeriksaan kesehatan.

“MAG dapat mengkonfirmasi bahwa mereka akan melakukan uji coba berbagai langkah-langkah keamanan baru di bandara akhir pekan ini. Mereka dirancang untuk membantu sejumlah kecil penumpang yang saat ini melakukan perjalanan penting melalui bandara kami merasa lebih aman dan lebih percaya diri tentang penerbangan saat ini. Kami akan memberikan konfirmasi panduan yang tepat untuk penumpang, agar mereka dapat sepenuhnya mempersiapkan perjalanan mereka, sebelum langkah-langkah diberlakukan,” kata manajer Kantor Group Press, Louis Blake.

Dia juga mengatakan bahwa mereka kemungkinan akan menerima tidak hanya masker, tetapi juga penutup wajah, seperti syal. Diketahui, lebih dari 60 juta orang bergabung melewati bandara Manchester, East Midlands, dan Stansted setiap tahun. Rencana ketiga fasilitas ini sedang dilaksanakan karena pemerintah dituduh tidak bekerja dengan bandara tentang “bagaimana perjalanan udara akan berfungsi ketika penguncian virus corona dibuka.”

Recovery and Restart Group adalah gugus tugas yang dibentuk oleh Departemen Transportasi beberapa minggu lalu untuk mempertimbangkan rencana keselamatan bandara ketika perjalanan udara Inggris dilanjutkan. Namun, bandara belum berkonsultasi dengan gugus tugas tentang perlindungan yang akan diperlukan untuk melindungi pelancong.

Kepala Eksekutif Grup Bandara Manchester, Charlie Cornish, telah mengatakan bahwa sangat penting pemerintah dan industri penerbangan bekerja bersama untuk membuat serangkaian proposal yang jelas dan dapat diterapkan sehingga mereka dapat memimpin pembicaraan dengan negara lain.

“Jelas bahwa jarak sosial tidak bekerja pada segala bentuk transportasi umum. Kami sekarang membutuhkan pemerintah untuk bekerja secara mendesak dengan bandara dan maskapai penerbangan untuk menyetujui bagaimana kami beroperasi di masa depan,” kata Charlie.

Perlunya tindakan mendesak datang di tengah meningkatnya harapan bahwa mungkin ada terburu-buru untuk perjalanan udara karena pembatasan kuncian dicabut di Inggris dan di seluruh Eropa. Keluarga yang telah menyerah harapan liburan musim panas di luar negeri mungkin belum menuju pantai Eropa saat mereka menemukan kembali kebebasan baru mereka.

Baca juga: JetBlue Jadi Maskapai Besar AS Pertama yang Wajibkan Penumpang Pakai Masker

Namun, jika semua penumpang pesawat diwajibkan mengenakan masker, ada kekhawatiran bahwa lonjakan permintaan dapat menyebabkan meluasnya panik membeli APD serta eksploitasi publik oleh penjual yang tidak bermoral. Ini juga bisa berarti kekurangan pasokan untuk pekerja garis depan. Mungkin pemerintah Inggris dapat mengikuti jejak Spanyol, di mana aturan telah ditetapkan bahwa publik hanya dapat membeli satu masker masing-masing dengan harga maksimum €0,98 per masker. Vendor yang tidak mengikuti peraturan akan menghadapi hukuman berat.

Rindu Santapan ala Kabin, Maskapai ini Tawarkan Sensasi In-Flight Meals untuk Korban Lockdown

Ural Airlines, maskapai asal Rusia ini meluncurkan layanan baru berupa jasa pengiriman in-flight meals ke rumah. Hal tersebut dilakukan Ural Airlines bagi mereka yang sudah bosan dan lelah dengan semua makanan yang dimasak di rumah karena harus tinggal di rumah, setelah Rusia mengambil tindakan lockdown atau penguncian.

Baca juga: Mesin Dihantam Bird Strike, Airbus A321 Ural Airlines Hard Landing di Ladang Jagung

Dilansir KabarPenumpang.com dari themoscowtimes.com (30/4/2020), warga kota Moskow, St. Petersburg dan kota asal Ural Airlines di Yekaterinburg akan dapat menikmati cita rasa dari santapan penerbangan maskapai ini yang langsung diantar ke rumah pelanggan masing-masing.

“Semuanya makanan yang diantar sama seperti di pesawat. Hanya tidak ada tampilan jendela pesawat,” kata Ural Airlines.

Layanan antar makanan secara online ini menawarkan makanan pesawat yang otentik dengan pilihan menu daging sapi, ayam, dan ikan, baik untuk kelas bisnis maupun ekonomi. Bahkan pilihan jus juga tersedia sesuai dengan pesanan pelanggan.

Harga makanan yang dijual oleh Ural Airlines sekitar 550 rubbel atau Rp111 ribu hingga 1700 rubbel atau Rp343 ribu. Situs web Ural Airlines menuliskan bahwa makanan yang disiapkan menggunakan bahan-bahan segar sesuai dengan prosedur katering di pesawat segera sebelum pengiriman.

“Lima persen dari setiap pembelian akan dikreditkan ke kartu loyalitas maskapai pembeli,” ujar maskapai tersebut.

Ural Airlines, yang baru-baru ini dimasukkan dalam daftar perusahaan “tulang punggung” pemerintah selama krisis virus corona, telah terpukul keras oleh pandemi ini. Maskapai tersebut melaporkan penurunan 25 persen lalu lintas penumpang bila dibandingkan antara Maret 2019 lalu dengan Maret 2020 saat ini.

Penutupan perbatasan global dan pembatasan perjalanan yang ditujukan untuk memperlambat penyebaran virus corona telah memaksa maskapai penerbangan Rusia mendaratkan armada internasional mereka. Selain itu hanya sejumlah kecil penerbangan yang memungkinkan Rusia di negara lain untuk pulang.

Krisis ini juga menghantam lalu lintas udara domestik, dengan banyak warga Rusia yang tinggal di rumah dan menunda rencana perjalanan karena pesanan tinggal di rumah secara nasional. Menurut Badan Transportasi Udara Federal, Rosaviatsiya, hampir setiap hub udara utama di seluruh Rusia telah mengalami penurunan lalu lintas penumpang yang signifikan selama sebulan terakhir.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

“Perusahaan penerbangan Rusia dapat kehilangan lebih dari 100 miliar rubel (US$1,3 miliar) pada akhir tahun jika situasinya tidak membaik,” kata Rosaviatsiya.

 

Aneh, Meski ‘Berdarah-darah’, Airbus Tak Butuh Bantuan Pemerintah Perancis

CEO Airbus, Guillaume Faury belum lama ini memperingatkan karyawannya bahwa keuangan perusahaan tengah ‘berdarah-darah’. Namun, belakangan tersiar kabar bahwa produsen pesawat asal Eropa tersebut justru tak membutuhkan bantuan pemerintah Perancis.

Baca juga: Airbus Rugi Rp7,7 Triliun di Kuartal I 2020, CEO: Ini Masih Permulaan

“Tidak perlu adanya intervensi negara saat ini. Jika ada kesulitan, kami akan berada di sana untuk membantu Airbus,” kata Menteri Anggaran Perancis, Gerald Darmanin kepada Radio J Sunday, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari Bloomberg.

Darmanin mengatakan bahwa saat ini Airbus disebut memiliki uang tunai yang cukup. Kepastian itu didapat setelah pemerintah Perancis dan Belanda menyuntikkan dana sebesar 7 miliar euro atau Rp 116 triliun (kurs 16,284) kepada Air France-KLM. Secara tak langsung, suntikan dana tersebut akan berdampak ke Airbus. Belum jelas bagaimana dampak secara tidak langsung tersebut dapat berjalan, namun, sebagian pihak menduga bahwa Air France-KLM mempunyai sejumlah tagihan atas backlog pesawat. Lalu, indikator dalam menilai Airbus masih memiliki uang yang cukup juga masih simpang siur. Entah di atas Rp 1.000 triliun atau kurang dari itu.

Sebelumnya Airbus melaporkan hanya membukukan pendapatan sebesar 10,6 miliar euro pada kuartal I 2020. Bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu, pendapatan raksasa produsen pesawat dunia tersebut terkoreksi sebesar 15 persen atau telah merugi sebesar US$515 juta (Rp7,7 triliun – kurs 15,239).

Hal itu pun memaksa perusahaan setidaknya telah mem-PHK sebanyak 3.000 karyawan di Perancis, 3.200 karyawan lainnya di UK dipaksa cuti tanpa dibayar, dan ribuan karyawan lainnya di Jerman menanti giliran untuk di-PHK atau dipaksa cuti tanpa dibayar, serta mencari pinjaman miliaran euro. Celakanya, menurut CEO Airbus, Guillaume Faury, bencana yang belum pernah dialami sebelumnya ini bukanlah akhir, melainkan baru permulaan.

Melihat situasi yang berkembang saat ini, Faury juga menduga, kuartal II 2020 tampaknya tak akan jauh berbeda. Sama- sama suram. Itu berarti, akan ada beberapa langkah efisiensi berkelanjutan yang sudah mulai dilakoni, seperti pengurangan gaji, pengurangan karyawan, memangkas produksi hingga sepertiga, membatalkan rencana menambah jalur perakitan untuk A321 di Toulouse, dan memperlambat proses pengembangan jet terbaru A220. Tak lupa, tentu saja Airbus juga harus mencari pinjaman lain dalam jumlah besar untuk keberlangsungan bisnis.

Bila Airbus benar tidak butuh bantuan dari pemerintah Perancis karena masih memiliki uang tunai yang cukup (bukan hanya sebuah propaganda semata agar perusahaan terlihat dalam keadaan baik-baik saja), maka, hampir dipastikan Airbus mempunyai uang tunai lebih dari Rp300 triliun. Asumsi tersebut setidaknya dapat ditarik dari keuangan kompetitor mereka, Boeing.

Pada akhir Maret lalu, Dave Calhoun, pernah mengatakan kepada CNBC Internasional, bahwa perusahaan yang dipimpinnya, saat itu memiliki uang tunai sekitar US$15 miliar dolar atau sekitar Rp244 triliun (kurs Rp 16.457). Tetapi, dengan stok uang tunai sebesar itu, Boeing mengaku tetap membutuhkan suntikan modal untuk membayar para pekerja dan mengamankan rantai pasokan agar tetap stabil.

Baca juga: Airbus ‘Berdarah-darah,’ Karyawan Diminta Bersiap Kemungkinan Terburuk

Selain itu, suntikan modal juga dibutuhkan Boeing untuk mengamankan pasar produsen pesawat global hingga persiapan untuk ‘berlari kencang’ ketika Covid-19 benar-benar telah berakhir. Dengan berbagai kebutuhan tersebut, CEO Boeing, Dave Calhoun, menyebut setidaknya perusahaan membutuhkan bantuan sebesar US$60 miliar atau Rp978 triliun.

Bila Boeing saja, dengan stok uang tunai sebesar itu masih membutuhkan suntikan hampir Rp1.000 triliun, bisa dibayangkan, bagaimana kondisi keuangan Airbus saat ini tatkala perusahaan disebut tak butuh bantuan pemerintah Perancis.

Apa yang Dilakukan Pilot Ketika Salah Satu Mesin Pesawat Mati?

Pernahkah Anda membayangkan pesawat yang Anda tumpangi terpaksa melakukan pendaratan darurat dikarenakan ada masalah pada salah satu mesinnya? Wah, ketika mendengar pengumuman semacam ini di dalam pesawat, tentu jantung Anda akan otomatis berpacu kencang dan jalan pikiran akan menggiring pada suatu hal yang terburuk – kecelakaan. Namun jangan dulu berpikiran yang macam-macam, mengingat pesawat tidaklah diciptakan dengan fitur keselamatan yang ecek-ecek.

Baca juga: ETOPS – Sertifikasi Darurat Pesawat Twin Engine Agar Layak Mengudara dengan Satu Mesin

Beragam skema kecelakaan yang mungkin dihasilkan oleh kegagalan fungsi mesin sudah memiliki ‘penawarnya’ masing-masing. Namun yang jadi pertanyaan di sini adalah, “Bagaimana seorang pilot menangani kegagalan fungsi mesin di tengah penerbangan? Mengingat ia merupakan orang pertama yang akan menyadari kondisi darurat ini.”

Guna menjawab pertanyaan ini, KabarPenumpang.com mengutip dari laman thepointsguy.co.uk, biasanya, pesawat akan mengalami kendala pada bagian mesin ketika si burung besi ini belum melakukan ‘pemanasan’. Layaknya seorang atlet, mereka akan lebih rentan terkena cidera ketika belum melakukan pemanasan sebelum bertanding – sama halnya seperti pesawat. Maka dari itu, di jagad dirgantara dikenal dengan yang namanya five-minute ‘warm up’ period, dimana pesawat bisa melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum bertugas.

Salah satu gejala awal yang akan diterima oleh pilot ketika salah satu mesin mengalami kendala adalah alarm peringatan dari Master Caution System yang muncul pada layar Engine Indicating and Crew Alerting System (EICAS). Di layar ini, pilot bisa mengidentifikasi mesin mana yang mengalami masalah dan harus mulai mempertimbangkan langkah selanjutnya – apakah pesawat bisa melanjutkan penerbangan dengan hanya menggunakan satu mesin, atau mesti melakukan pendaratan darurat. Walaupun pada kebanyakan kasus, pilot akan lebih memilih untuk melakukan pendaratan darurat dengan menimbang keselamatan penumpang dan awak.

Tidak hanya pilot yang berperan dalam mengendalikan sebuah pesawat yang ‘tengah cidera’ ini, melainkan sistem di dalam pesawat juga akan menampilkan beberapa skenario kegagalan mesin – dimana sistem akan menampilkan di ketinggian berapakah pesawat akan dapat mempertahankan kecepatan udara yang dinilai aman. Penggambaran skenario ini akan bersanding dengan keterampilan pilot untuk mengendalikan pesawat yang hanya dioperasikan oleh satu mesin. Ya, mereka sudah terlatih untuk menghadapi kondisi semacam ini.

Tidak lupa, komunikasi dengan menara pengawas lalu lintas udara juga harus terus terjalin agar dapat memberikan opsi kepada pilot untuk melakukan pendaratan darurat semisal dibutuhkan.

Sumber: thepointguy.co.uk

Sejatinya, pesawat sudah memiliki jalurnya masing-masing dalam melakukan sebuah penerbangan, dan semuanya tertata rapi guna menghindari collision di udara. Jika kasus mati mesin seperti ini muncul, maka seorang pilot biasanya akan keluar dari jalur yang sudah direncanakan sebelumnya dan bergabung dengan jalur lain yang akan menggiringnya ke bandara terdekat. Hanya saja, pilot akan berada kurang lebih 5 nautical miles atau sekira 9,3 km dari jalur menuju bandara yang dituju agar terhindar dari tabrakan di udara.

Baca Juga: Mengenal Ditching, Pendaratan Darurat Pesawat di Atas Permukaan Air

Jika sudah pada tahap seperti ini, biasanya pilot akan berputar-putar dulu di udara sebelum melakukan pendaratan guna membuang bahan bakar yang ada pada sayap. Ya, sebuah pesawat tidak mungkin melakukan pendaratan dengan kondisi tangki bahan bakar masih terisi penuh.

Jadi, sudah terbayangkah oleh Anda tentang skema yang akan dilakukan seorang pilot jika salah satu mesinnya mengalami masalah dan terpaksa harus melakukan pendaratan darurat?