Sering Lihat Pesawat Mengeluarkan Asap Putih? Ini Dia Penjelasannya

Beberapa dari Anda pasti pernah melihat garis putih panjang di angkasa yang secara kasat mata bentuknya hampir menyerupai awan. Tidak sedikit juga orang jaman dulu menyangkut pautkan fenomena ini dengan nilai keagamaan. Dewasa ini, sebagian dari kita mungkin acuh dengan garis putih tersebut, namun tahukah Anda apa itu sebenarnya?

Baca Juga: 11 Kasus Misterius Dalam Dunia Penerbangan

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, secara garis besar ada dua teori yang mendefinisikan fenomena yang ditimbulkan oleh pesawat tersebut. Pertama adalah condensation trail (contrail), yaitu efek alami dari kondensasi udara dingin yang secara tiba-tiba menjadi hangat akibat pembakaran mesin lalu mengandung uap air dan terbentuklah gumpalan awan. Jika disederhanakan, suhu panas di mesin pesawat bertabrakan langsung dengan udara di luar pesawat yang super dingin, dan terbentuklah contrail.

Jejak uap air terkondensasi ini dapat terlihat dalam waktu beberapa detik atau menit, atau bahkan berjam-jam, tergantung pada kondisi atmosfer. Patut digaris bawah, contrail ini sendiri merupakan efek alami dari kondensasi udara yang tidak berbahaya dan hanya mengandung uap air. Fenomena contrail sendiri terjadi saat pesawat berada di ketinggian 16.500 kaki atau kurang lebih setara dengan 5.000 meter.

Lalu fenomena contrail ini bertolak belakang dengan chemical trail (chemtrail). Sesuai dengan namanya, chemtrail merupakan bahan kimia atau biologis yang sengaja disebar pada ketinggian tertentu oleh beberapa oknum dengan tujuan tertentu. Chemtrail ini erat kaitannya dengan teori konspirasi yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk membatasi laju pertumbuhan penduduk. Tidak sedikit juga yang beranggapan bahwa penyebaran chemtrail ini merupakan proyek rahasia pemerintah.

Pada awalnya, Teori konspirasi chemtrail mulai beredar setelah United States Air Force (USAF) menerbitkan sebuah laporan pada tahun 1996 tentang modifikasi cuaca. Setelah laporan tersebut terbit, di akhir 1990an, USAF dituduh “telah menyemprotkan populasi AS dengan zat misterius” dari pesawat terbang yang menghasilkan pola contrail yang tidak biasa. Sejak saat itulah teori konspirasi chemtrail mulai marak diperbincangkan.

Salah satu kasus yang belum lama terjadi adalah militer Amerika menyemprotkan chemtrail pada bulan April 2016 silam. Namun pihak NASA mengakui bahwa zat kimia yang disemprotkan di lapisan ionosfer bumi itu merupakan zat lithium yang dapat membantu mengobati orang-orang yang mengidap kelainan bipolar.

Baca Juga: Kenapa Mayoritas Badan Pesawat Berwarna Putih? Ini Dia Alasan Ilmiahnya!

Namun pernyataan NASA tersebut tidak sejalan dengan pemerintah yang tidak pernah mengakui adanya proyek terselubung tersebut. Jim Marss, penulis buku Above Top Secret yang juga mengupas tentang teori chemtrail ini pun mengamini statemen di atas, dimana pemerintah tidak pernah mengakui tentang keberadaan proyek chemtrail. “Tak ada satu pun pejabat yang punya otoritas mau mengakui keberadaan proyek ini, juga apa tujuannya,” tulis Jim, dikutip dari laman seekers.com.

Tidak dilandasi hipotesa semata, Jim membeberkan bukti bahwa Amerika pernah disemprotkan chemtrail. Pada 2007, reporter stasiun televisi di Lousiana menguji kandungan yang ada pada chemtrail yang ditinggalkan oleh sebuah pesawat. “Hasilnya, ada 6,8 part per million (ppm) barium,” tukas Jim. Ia mengklaim, kadar barium di udara ini tiga kali lebih tinggi dari standar yang diperkenankan oleh Environmental Protection Agency (EPA).

Mau Makan di Restoran dengan Sensasi Bandara dan Pesawat? Yuk ke Jogja Airport Resto

Ketika berada di sebuah restoran, Anda biasanya akan langsung bertemu dengan pelayan yang akan mengantarkan ke tempat duduk sesuai jumlah pelanggan. Kemudian Anda dengan rombongan akan diberi buku menu dan memesan makanan serta minuman yang ada.

Baca juga: Lima Restoran ini Gunakan Body Pesawat Sebagai Lapak Jualannya

Namun bagaimana kalau mau makan direstoran tapi Anda harus melewati pemeriksaan keamanan hingga ke menunggu di ruang tunggu? Kalau dipikir, ini mau makan di restoran atau mau masuk ke bandara dan naik pesawat untuk berlibur ya.

lorong kaca menuju restoran pesawat (wisatakaka.com)

Tapi, ini akan Anda rasakan ketika mengunjungi sebuah restoran di Kadirojo I kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta atau tepatnya sepuluh kilometer dari Tugu Yogyakarta. Ya, Jogja Airport Resto, ini adalah restoran pesawat yang memiliki kelengkapan layaknya sebuah sebuah bandara dan buka pukul 10.00-22.00 WIB.

Restoran ini memiliki dua pesawat yang diparkir dibelakang ruang tunggu di mana pelanggan akan menunggu setelah melewati proses keamanan dan check in. Di ruang tunggu ini pun Anda juga bisa makan bila memang tidak ingin makan dalam kabin pesawat.

Kemudian saat tiba boarding atau ke pesawat untuk makan, Anda akan dilayani pramugari dengan menu dan pengantaran makanannya. Para pramugari ini mengantar makanan dengan troli seperti ketika pramugari menawarkan makanan dan minuman di pesawat.

Tiket masuk ke lokasi ini gratis, tetapi jika ingin menikmati semua fasilitasnya, Anda wajib merogoh kocek hingga Rp160 ribu yang sudah termasuk dengan makanan khas Indonesia untuk empat orang. Ya, ini cukup terbilang murah bila di hitung per orang hanya membayar sekitar Rp40 ribu.

Berbagai layanan di Jogja Airport Resto

Nah, Anda juga bisa memesan makanan atau minuman tambahan berkisar Rp7 ribu hingga Rp75 ribu. Tak hanya itu, para pramugari ini juga akan memperagakan prosedur keselamatan di pesawat setiap jam 11.00 dan 13.30 WIB. Benar-benar seperti di pesawat, resto ini juga membagi kelas ekonomi dan bisnis yang mana perbedaannya di jumlah dan fasilitas kursi serta harga paket makanannya.

Di awal, KabarPenumpang.com sudah menjelaskan, restoran ini memiliki dua buah pesawat. Keduanya disatukan oleh lorong kaca dan membuatnya seperti pesawat yang tengah parkir di bandara. Tapi bila tak puas hanya makan dan berfoto seadanya, Anda bisa membeli tiket di konter check in dengan harga Rp20 ribu per orang.

Baca juga: Restoran dengan Model Replika Airbus A320 Dibangun di Bengaluru

Anda bisa berfoto di kokpit dan menyewa baju pilot yang disediakan agar mirip dengan pilot aslinya. Selain itu juga bisa foto di berbagai tempat yang ada di sudut restoran lainnya seperti kabin atau lorong kaca.

Lion Air Resmi Tunda “Exemption Flight”

Lion Air resmi resmi menunda operasional exemption flight hingga pemberitahuan selanjutnya (until further notice/ UFN). Penundaan terjadi karena dibutuhkan persiapan-persiapan yang lebih komprehensif, agar maksud dan tujuan pelaksanaan penerbangan tetap berjalan sesuai ketentuan berlaku serta memenuhi unsur-unsur keamanan dan keselamatan penerbangan, termasuk tidak menyebabkan penyebaran corona virus disease (Covid-19).

Baca juga: Lion Air Layani “Exemption Flight” untuk Pebisnis

Exemption flight sedianya akan dimulai pada Minggu (3/5/2020) pada rute domestik. Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic Lion Air Group dalam pesan tertulis menyebut, Lion Air Group selalu berkoordinasi bersama regulator serta berbagai pihak terkait, dengan harapan apabila penerbangan akan dilaksanakan dapat beroperasi lancar, sehingga bisa memenuhi kebutuhan transportasi udara sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Rebulik Indonesia Nomor PM 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi selama masa angkutan udara Idul Fitri periode 1441 Hijriah dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19.

Lion Air Group menegaskan, tujuan utama operasional perizinan khusus (exemption flight) adalah bagian wujud kesungguhan dalam membantu kemudahan mobilisasi guna melayani pebisnis bukan untuk “mudik”, serta tujuan penerbangan yang mencakup:

1. Pimpinan lembaga tinggi Negara Republik Indonesia dan tamu kenegaraan;
2. Operasional kedutaan besar, konsulat jenderal, dan konsulat asing serta perwakilan organisasi internasional di Indonesia;
3. Operasional penerbangan khusus repatriasi (repatriasi) yang melakukan pemulangan warga negara Indonesia (WNI) maupun warga negara asing (WNA);
4. Operasional penegakan hukum, ketertiban, dan pelayanan darurat;
5. Operasional angkutan kargo; dan
6. Operasional lainnya berdasarkan izin Direktur Jenderal Perhubungan Udara.

Pesawat Listrik NASA X-57 Maxwell Segera Terbang Perdana

Belum tuntas pengembangan pesawat supersonik X-59 QueSST hasil kolaborasi dengan perusahaan kedirgantaraan Amerika Serikat, Lockheed Martin, NASA dikabarkan juga tengah mengembangkan pesawat varian ‘X’ lainnya, yakni X-57 Maxwell. Pesawat itu digadang-gadang bukan hanya akan menjadi pioneer pesawat listrik di masa mendatang, melainkan juga menjadi pijakan kuat NASA dalam bisnis pesawat listrik komersial.

Baca juga: X-59 QueSST, Pesawat Supersonik Rancangan NASA, Siap Unjuk Gigi Pada 2021

Varian ‘X’ sendiri, sejak 1951, dalam dunia kedirgantaraan di Amerika Serikat (AS) sering sebetulnya dianggap sebagai lambang kecepatan dan kemampuan pesawat dalam bermanuver. X-1 dan X-15, misalnya, digunakan untuk mempelajari penerbangan pada ketinggian dan kecepatan ekstrem.

Pada kasus pesawat listrik X-57 Maxwell, lambang kecepatan dan kemampuan bermanuver di udara mungkin jauh dari kenyataan. Justru sebaliknya, pesawat hanya diproyeksikan dalam jarak dekat, dengan kecepatan tak lebih baik dari pesawat dengan mesin turbofan modern, dan eksotisme desain yang tak terlalu nyentrik.

Meski demikian, karena tetap menyandang kode ‘X’ pesawat listrik X-57 Maxwell wajib memiliki sesuatu yang menonjol. Dikutip dari hackaday.com,dari segi desain, pesawat listrik yang mulai diperkenalkan NASA pada 2015 lalu tersebut, secara keseluruhan, desainnya diadaptasi dari pesawat baling-baling bermesin ganda Tecnam P2006T buatan Italia. Jadi, desain mungkin bukan hal yang dibanggakan dalam pesawat tersebut.

Namun, dengan sejumlah modifikasi dan pengembangan pada sistem teknologi listrik pada pesawat itu sendiri, mencakup baling-baling, baterai ion lithium, 14 motor listrik, dan sistem propulsi, pesawat listrik X-57 Maxwell dinilai masih layak menyandang status ‘X’.

Dari sekian banyak lini yang dimodifikasi dan dikembangkan, tantangan paling berat terletak pada teknologi baterai. Prinsipnya, bagaimana caranya para peneliti bisa mengembangkan baterai dengan ukuran yang sama, seperti baterai yang ada pada saat ini, tetapi memiliki kapasitas yang jauh lebih besar.

Selain itu, teknologi charge-nya pun juga harus jauh lebih cepat dari yang sudah ada. Bila teknologi tersebut, fast charging, belum juga ditemukan dalam waktu yang sudah ditentukan, opsi lainnya, tim ditantang untuk membuat baterai mudah dibongkar pasang. Tujuannya, ketika pesawat mendarat, petugas ground handling bisa langsung mengganti baterai dalam waktu sekejap dengan baterai yang baru dan beberapa saat kemudian pesawat bisa kembali melanjutkan perjalanan.

Mesin juga tak luput dari amatan NASA. Mesin asli Tecnam P2006T dan sayap sudah diganti dengan teknologi sistem “Distributed Electric Propulsion”. Sistem tersebut memungkinkan terdistribusinya daya dengan berimbang dan proporsional, sesuai kebutuhan motor listrik saat di udara. Sebab, tidak semua motor listrik beroperasi penuh. Ketika lepas landas dan mendarat, seluruh motor listrik memang beroperasi.

Namun ketika di udara, sejauh ini diproyeksikan hanya dua yang beroperasi. Adapun 12 lainnya dalam posisi standby. Dua motor listrik yang beroperasi itu tentu tidak sendirian, mereka akan didukung oleh desain sayap mutakhir yang mampu membawa pesawat pada posisi mengambang. Hal itu terjadi berkat memaksimalkan putaran udara atau vortex di sayap yang pada akhirnya menambah daya angkat pesaway. Dengan begitu, target efisiensi lima kali lipat dapat tercapai.

Baca juga: Gandeng Boeing, NASA Siap Luncurkan Penerbangan Orbital Nirawak Perdana

Saat ini, pesawat listrik NASA X-57 Maxwell dikabarkan sudah memasuki tahap kedua dari setidaknya empat tahap yang harus dilalui. Tahap kedua itu mencakup uji motor listrik dan struktur sayap secara terpisah. Setelah keduanya berhasil, tahap ketiga akan mulai menyatukan seluruh komponen dalam satu kesatuan pesawat. Barulah pada tahap terakhir seluruh komponen diuji kinerjanya, apakah sesuai dengan target efisiensi, kebisingan, dan lain sebagainya.

Pada 2015 lalu, NASA berujar akan mulai mengujicoba X-57 Maxwell. Namun, karena kendala di sana sini, proyek pun harus molor. Target berikutnya, pesawat dijadwalkan mulai melakukan penerbangan perdana sebelum akhir tahun 2020 mendatang. Menarik di tunggu, akankah sesuai rencana atau kembali molor karena berbagai kendala?

Industri Penerbangan Global Bingung, Maju Kena Mundur Babak Belur

Perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, sektor penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan.

Baca juga: Bagaimana Load Factor Pengaruhi Profit Maskapai? Berikut Penjelasannya

Namun sekarang sebagian besar jaringan penerbangan global telah ditutup sebagai bagian dari upaya mencegah penyebaran virus corona yang lebih luas. Jumlah penerbangan harian tercatat telah turun 80 persen sejak awal tahun ini, dan di beberapa wilayah hampir semua lalu lintas penerbangan telah ditangguhkan.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) juga telah mengingatkan, bahwa maskapai penerbangan pada umumnya hanya bisa bertahan dengan cadangan kas perusahaan hingga akhir kuartal II atau Juni. Hal itu menyebabkan sekitar 25 juta pekerja terancam PHK. Bila tak ada langkah konkret, maskapai akan bangkrut.

Belum juga sampai di bulan Juni, ancaman PHK nyata adanya. Airbus dikabarkan telah mem-PHK sebanyak 3.000 karyawan. Sedangkan Boeing, belakangan santer dikabarkan akan mem-PHK sebanyak 7.000 karyawan. British Airways, lebih gila lagi, lebih dari 12 ribu posisi dipangkas. Easyjet merumahkan sekitar 4 ribu awak kabin selama dua bulan, Qantas 20 ribu karyawan dipaksa cuti tanpa dibayar, dan American Airlines telah menegosiasikan pensiun dini untuk 700 pilot. Masih banyak lagi gelombang PHK di industri penerbangan global yang tak mungkin disebutkan seluruhnya.

Saat ini, menurut Cirium, diperkirakan ada sekitar 17.000 pesawat yang di-grounded di bandara di seluruh dunia. Angka tersebut mewakili sekitar dua pertiga dari armada global. Sisanya, bukan masih terus eksis melayani penumpang, melainkan dikonversi menjadi angkutan kargo untuk mengangkut peralatan medis dari dan ke seluruh dunia tanpa satupun penumpang.

Dikutip dari BBC Internasional, Direktur Jendral IATA, Alexandre de Juniac, mengatakan bahwa tantangan industri penerbangan global saat ini adalah bagaimana membuat kepastian kapan negara-negara di dunia mengakhiri kebijakan pembatasan perjalanan. Jika itu bisa terjawab, mungkin ke depannya keadaan tidak akan memburuk. Namun, ia percaya, bahwa kebijakan lockdown atau pembatasan perjalanan sebagian negara akan berakhir pada pertengahan tahun dan sebagian lainnya akan terus berlaku sampai akhir tahun 2020.

Ketika situasi itu terjadi, lanjutnya, mungkin perlahan tapi pasti penerbangan domestik akan mulai bergairah lebih dulu, diikuti penerbangan internasional jarak pendek, dan jarak jauh atau antar benua menyusul kemudian.

Namun, ketika penerbangan mulai bergairah, tantangan belum berarti usai. Selama wabah corona berlangsung, perjalanan udara memang terus menurun. Penyebabnya sebagian besar diakibatkan oleh kebijakan lockdown atau pembatasan perjalanan di hampir seluruh negara, ekonomi anjlok, dan ketakutan penumpang terhadap corona itu sendiri. Ketakutan penumpang inilah yang diprediksi akan terus dikelola oleh maskapai.

Salah satu caranya tentu saja memperpanjang kebijakan physical distancing di dalam kabin selama penerbangan sampai keadaan benar-benar kembali normal dan psikologi penumpang dapat ter-manage dengan baik. Hal ini mungkin akan berdampak dengan pengalaman end-to-end penumpang.

Menurut sebagian ahli, menerapkan kebijakan physical distancing di setiap penerbangan, dalam jangka pendek dan sebagai bagian dari memulihkan psikologi penumpang akan ketakutan berlebih terhadap corona, mungkin itu tak menjadi masalah. Namun, untuk jangka panjang, mungkin akan menjadi masalah baru bagi maskapai.

Baca juga: Walau Nganggur, Pesawat Tetap ‘Merepotkan’ Petugas, Loh

Celakanya, maskapai tak punya pilihan lain. Menggrounded pesawat tanpa ada penerbangan akan membuat mereka tercekik habis. Pasalnya, pesawat tetap harus mendapat perawatan, selain ongkos parkir yang cukup besar. Menurut Mark Martin, pendiri Martin Consulting LLC yang berbasis di Dubai, biaya parkir bisa mencapai $1.000 per hari untuk pesawat besar.

Bayangkan jika maskapai harus menggrounded berbulan-bulan dan tanpa dibarengi pemasukan. Artinya, cadangan uang maskapai akan terus tergerus. Tetapi, bila pun terbang dengan menerapkan kebijakan physical distancing atau 65 persen dalam posisi penuh, mungkin cukup menjadi beban buat maskapai, terlebih untuk maskapai LCC atau berbiaya hemat yang biasanya mengangkut 90persen dari kapasitas. Inilah yang pada akhirnya membuat industri penerbangan dalam posisi dilema. Tak terbang merana, terbang pun belum tentu terhindar dari celaka.

Lion Air Layani “Exemption Flight” untuk Pebisnis

Lion Air group akan melakukan exemption flight untuk para pebisnis yang akan bepergian dengan pesawat. Nah, apa sih exemption flight yang dimaksud oleh maskapai berlambang singa ini? Ternyata ini adalah operasional pesawat dengan perizinan khusus dari regulator.

Baca juga: Mulai 26 Maret, Lion Air Group untuk Sementara Hentikan Penerbangan ke Papua

Jadi bisa dikatakan, Kementerian Perhubungan Indonesia (Kemenhub) memberi izin pada maskapai untuk melayani penerbangan bisnis yang mana bukan dalam rangka mudik serta tujuan operasional angkutan kargo, melakukan perjalanan bagi pimpinan lembaga tinggi Indonesia atau tamu kenegaraan. Selain itu juga operasional untuk kedutaan besar, konsulat jenderal, konsulat asing, perwakilan organisasi internasional yang memeiliki kedudukan di Indonesia, operasional penegakkan hukum, ketertiban dana layanan darurat, layanan penerbangan khusus (repatriasi) untuk pemulangan Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing (WNA) dan lainnya atas izin Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub.

Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang mandala Prihantoro mengatakan, layanan penerbangan ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No.25/2020 tentang Pengendalian Transportasi selama masa angkutan Idul Fitri 2020 dalam rangka pencegahan Covid-19. Rencana operasional akan melayani rute-rute penerbangan dalam negeri termasuk kota atau destinasi berstatus Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan wilayah dengan transmisi lokal atau daerah terjangkit (Zona Merah).

Sehingga bagi “pebisnis dan calon tamu atau penumpang dengan tujuan pengecualian”, wajib memenuhi protokol penanganan Covid-19 melalui pengisian kelengkapan dokumen dan melampirkan sebelum keberangkatan berdasarkan persyaratan. Danang menyebutkan syaratnya adalah pebisnis harus melampirkan surat keterangan sehat dari rumah sakit setempat, yang menerangkan bebas atau negatif Covid-19 dengan ketentuan maksimum tujuh hari setelah hasil uji keluar, telah melakukan rangkaian pemeriksaan melalui metode tes diagnostik cepat (rapid diagnostic test), Swab Test atau PCR (Polymerase Chain Reaction).

Secara terperinci pebisnis mengisi surat pernyataan di rute PSBB atau Zona Merah yang disediakan oleh Lion Air Group. Melampirkan surat keterangan perjalanan dari instansi/ lembaga/ perusahaan yang menjelaskan bahwa calon tamu atau penumpang bepergian menggunakan pesawat udara bukan untuk “mudik”.

“Bagi pedagang atau pengusaha logistik yang tidak memiliki instansi dapat membuat surat pernyataan untuk berdagang/ transaksi secara benar. Mengikuti ketentuan lain yang ditetapkan Pemerintah,” jelas Danang yang dikuti[ dari siaran pers, Selasa (28/4/2020).

Lion Air Group memfasilitasi kepada seluruh calon penumpang yang akan membeli tiket (issued ticket) menurut ketentuan berlaku melalui Kantor Penjualan Tiket (Ticketing Town Office) Lion Air Group di seluruh kota di Indonesia, layanan kontak pelanggan (call center) (+6221) 6379 8000 dan website resmi www.lionair.co.id, www.batikair.com Lion Air Group tunduk dan melaksanakan seluruh aturan penerbangan internasional, regulator dan ketentuan perusahaan dalam menjalankan operasional sesuai dengan standar operasional prosedur yang memenuhi persyaratan aspek keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan (safety first).

Sebelum penerbangan, Lion Air Group bekerjasama dan koordinasi dengan petugas layanan darat (ground handling), petugas keamanan (aviation security) dan pihak lainnya guna memastikan bahwa awak pesawat dan seluruh tamu sudah mengikuti rekomendasi protokol kesehatan, yang meliputi pengecekan suhu badan, mencuci tangan, membersihkan tangan dengan cairan (hand sanitizer) dan penggunaan masker secara tepat. Sebagai langkah antisipasi utama mengenai dampak wabah Covid-19, Lion Air Group telah menjalani dan meningkatkan fase pengerjaan sterilisasi, penyemperotan (disinfektan) pesawat yang meliputi pembersihan badan pesawat, penggantian saringan udara kabin, kebersihan kabin, kokpit dan kompartemen kargo.

Baca juga: Inilah Kebijakan Garuda Indonesia, Lion Air dan AirAsia Seputar Tiket di Musim Wabah Corona

“Dalam tindakan pencegahan dimaksud, sebagai maskapai grup swasta terbesar di Indonesia telah merekomendasikan guna menyediakan dan melakukan penyemprotan cairan multiguna pembunuh kuman (disinfectant spray) sesuai prosedur yang berlaku, sarung tangan (hand gloves) dan cairan/ gel pembersih tangan (hand sanitizer) guna tindakan preventif dengan mengutamakan kesehatan awak pesawat dan petugas layanan darat. Seluruh Departemen Keselamatan, Keamanan dan Kualitas (Safety, Security and Quality) Lion Air Group telah mengimplementasikan yang dilakukan oleh seluruh unit terkait guna menjalankan rekomendasi yang disampaikan,” kata Danang.

Hadapi Dampak Covid-19, MRT Jakarta Siapkan Empat Skenario, Dari Moderat Hingga Buruk

Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta yang juga terkena imbas dari pandemi virus corona atau Covid-19 melakukan berbagai antisipasi dalam menangani ini. Pasalnya setelah Pemprov DKI Jakarta meminta kepada Menteri Kesehatan (Menkes) untuk melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), penumpang MRT Jakarta berkurang drastis, dari yang awalnya perhari sekitar 100 ribu penumpang menyusut hanya 3000-4000 penumpang per hari.

Baca juga: William: Jumlah Penumpang Menurun Drastis, MRT Jakarta Tak PHK Karyawan

Meski begitu, ada beberapa skenario yang telah dibuat manajemen MRT Jakarta dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang muncul di Indonesia. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan hal tersebut dibuat agar pihaknya mampu menghadapi pandemi di 2020 ini.

“Kita ada empat skenario di masa pandemi ini agar MRT Jakarta bisa survive. Sebab masa krisis ini, di MRT Jakarta terjadi penurunan pendapatan baik farebox maupun non farebox dan ada kemungkinan pengurangan subsidi dari pemerintah,” kata William di forum jurnalis melalui Zoom Meeting, Rabu (29/4/2020).

William menyebutkan ada empat skenario yang sudah di buat dari yang moderat hingga yang buruk. Dia menjelaskan, skenario moderat ini tidaklah terlalu berat dimana dua bulan sebelum pandemi semua berjalan normal dan dari Maret, April Hingga Mei terhitung sebagai periode pandemi berlangsung maka periode rebound atau masa pemulihan selama empat bulan setelah pandemi dan tiga bulan sisanya MRT Jakarta akan kembali stabil seperti sedia kala.

Skenario berat, di mana dua bulan normal dengan MRT Jakarta berjalan seperti biasa dan periode pandemi berlangsung lima bulan. Pada skenario ini periode rebound akan sama dengan masa moderat yakini empat bulan dan masa stabil satu bulan di Desember. Skenario sangat berat, periode pandemi berlangsung tujuh bulan dan tiga bulan sisa hingga akhir tahun masa rebound MRT Jakarta.

Sedangkan skenario buruk pandemi berlangsung selama sembilan bulan dan Desember menjadi periode rebound. Untuk skenario buruk ini, masa stabil MRT akan sama dengan di skenario sangat berat yakni di tiga bulan awal tahun 2021.

Baca juga: Perilaku Penumpang MRT Jakarta: Umumnya Sudah Order Ojol Sebelum Tiba di Stasiun Tujuan

“Bila masa pandemi terjadi hingga akhir tahun maka, MRT Jakarta baru bisa stabil Maret 2021. Tapi kami berharap hanya di skenario moderat sehingga Juni mulai rebound supaya secara ekeonomi bisa atasi ini,” ungakp William.

Detik-detik Pilot Paralayang Lepas dari Maut Setelah Mendarat Darurat di Jalan Raya

Seorang pilot paralayang dilaporkan selamat dari maut usai mendarat darurat di jalan raya. Ia hampir saja terlindas truk yang tengah melaju dengan kecepatan sedang. Padahal, telat sedikit saja, truk mungkin akan melindas kepalanya dan membuat ruh pilot tersebut terpisah dengan jasadnya.

Baca juga: Misteri Teror Hantu Pesawat Eastern Airlines dengan Nomor Penerbangan 401

Beruntung, melalui keterangan juru bicara kepolisian setempat, pilot paralayang tersebut disebut hanya mengalami cedera ringan di kaki dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Tseung Kwan O untuk mendapatkan perawatan medis.

Seperti dikutip dari South China Morning Post, peristiwa bermula saat Ho, pilot paralayang tersebut lepas landas dari Ngong Ping Viewing Point di Ma On Shan Country Park. Namun, karena kecepatan angin yang berubah serta kondisi yang kurang fit membuat pria 51 tahun tersebut gagal menguasai paralayang dengan baik hingga akhirnya mendarat di persimpangan Jalan Tai Mong Tsai dan Jalan Mei Yu di Sai Kung pada 3.12 siang. Tempat itu berjarak sekitar 700 meter dari lapangan sepak bola Sha Kok Mei, yang sebetulnya dapat digunakan para paraglider untuk pendaratan darurat.

Dalam rekaman video viral, Ho secara mengejutkan muncul dari arah sebelah kanan dan menabrakkan diri ke sebuah truk yang tengah melaju sedang. Ho pun sempat terseret beberapa cm di dekat roda depan sebelah kanan sebelum pengemudi truk menghentikan laju.

Menurut otoritas kepolisian Hong Kong, hasil penyelidikan awal mengungkap secara kronologi sebetulnya pilot paralayang berada pada posisi bersalah. Namun, pada akhrinya, kepolisian memutuskan tidak ada penangkapan dari insiden tersebut.

Asosiasi Paralayang Hong Kong (HKPA), selaku wadah yang memayungi olahraga paralayang di Hong Kong, menyebut pihaknya sudah mendapat laporan terkait insiden tersebut dan juga masih melakukan penyelidikan internal. Selain itu, mereka juga berjanji akan membantu pihak berwenang untuk melakukan sejumlah langkah agar peristiwa serupa tak terulang.

“Kami dapat mengkonfirmasi bahwa pilot itu terbang di luar zona yang ditentukan untuk paralayang dan kami akan menyelidiki mengapa pilot itu mendarat di sana,” kata asosiasi didirikan yang pada 1991 tersebut, dalam sebuah pernyataan.

“Ini adalah prosedur kami untuk memberikan panduan kepada para pilot paralayang mengenai prosedur keselamatan hanya setelah kami melakukan penyelidikan menyeluruh.”

Salah satu instruktur dari HKPA, Chiu Ho-man, mengatakan bahwa dalam keadaan darurat, pilot paralayang harus menemukan ruang terbuka dan menghindari daerah padat penduduk serta lalu lintas untuk melakukan pendaratan.

Sejauh ini, Departemen Penerbangan Sipil telah menunjuk delapan area di sekitar Hong Kong untuk paralayang. Tempat-tempat tersebut mulai dari Long Ke Wan, Pak Tam Au, Pat Sin, Ma On Shan, Sai Wan, Shek O, South Lantau East, hingga South Lantau West.

Baca juga: Mungkinkah Seluruh Penerbangan Di Masa Mendatang Gunakan Pesawat Listrik?

“Pilot Paraglider disarankan untuk menjaga aktivitas paralayang mereka di dalam area ini untuk memastikan keamanan,” kata departemen itu di situs webnya.

Insiden kecelakaan paralayang bukan pertama kalinya terjadi di Hong Kong. Sebelumnya, pada 22 Juli tahun 2018, pilot paralayang, Patrick Chung Yuk-wa, dilaporkan hilang setelah meninggalkan Sunset Peak, di Lantau Country Park pada pukul 2 siang. Menurut hasil penyelidikan, ia berencana mendarat di Cheung Sha. Namun, tiba-tiba angin berhembus kencang dan membawanya keluar jalur. Setelah dilakukan pencarian selama enam hari, ia pun ditemukan tak bernyawa.

Etihad Mundurkan Semua Penerbangan ke 16 Juni 2020

Etihad Airways yang sebelumnya mengumumkan berencana melanjutkan penerbangan pada Mei 2020, kini harus kembali menundanya. Hal tersebut karena pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) belum memberikan keringanan pembatasan perjalanan pada maskapai tersebut.

Baca juga: Dampak Lanjutan Wabah Corona, Arab Saudi Larang Masuk Jamaah Umrah dari Indonesia

Sehingga Etihad mau tak mau menangguhkan semua penjualan online untuk penerbangan sebelum 16 Juni 2020. KabarPenumpang.com melansir dari laman thenational.ae (29/4/2020), maskapai penerbangan Abu Dhabi ini telah menutup pemesanan penerbangan yang berangkat pada bulan Mei dan dua minggu pertama di bulan Juni.

Sehingga saat ini mereka hanya menerima pemesanan baru untuk penerbangan yang dijadwalkan mulai 16 Juni mendatang. Namun, Etihad mengatakan, hal tersebut juga masih bisa berubah jika suspensi penerbangan saat ini diperpanjang.

Awalnya diketahui, Etihad sendiri mengumumkan mereka berencana untuk melanjutkan penerbangan mulai 16 Mei. Tetapi sekali lagi mereka mengaskan, bahwa hal ini bergantung pada suspensi penerbangan yang dicabut oleh otoritas UEA.

Hingga hari ini, para pelancong dapat memesan penerbangan di situs web Etihad untuk perjalanan dalam dua minggu terakhir bulan Mei ke beberapa tujuan. Ini termasuk India, Inggris, Sri Lanka, Pakistan dan Amerika Serikat. Tidak ada pembaruan resmi dari pemerintah UEA terkait pelonggaran pembatasan perjalanan, dan Etihad kini telah mengambil keputusan untuk menangguhkan penjualan penerbangan untuk perjalanan sebelum 16 Juni.

“Untuk meminimalkan potensi gangguan atau ketidaknyamanan kepada pelanggan, hanya tarif fleksibel dan dapat dikembalikan yang akan ditawarkan setelah 29 April 2020, untuk perjalanan antara 16 Juni dan 31 Agustus 2020. Jaringan ini sedang ditinjau terus-menerus, dan Etihad sedang memantau situasi dan mengikuti arahan UEA dan pemerintah internasional dan otoritas pengatur,” kata juru bicara Etihad.

Pelancong yang telah memesan penerbangan dengan Etihad untuk perjalanan di bulan Mei dapat memesan ulang penerbangan untuk tanggal lain atau meminta kredit Etihad atau pengembalian uang. Etihad terus mengoperasikan penerbangan repatriasi khusus dari Abu Dhabi ke beberapa tujuan. Beberapa dari penerbangan ini sekarang dijadwalkan untuk berjalan hingga akhir Mei.

Dublin dan New York adalah tempat terbaru yang ditambahkan ke jadwal penerbangan repatriasi. Sebuah penerbangan akan membawa warga negara Irlandia di negara itu ke Dublin pada hari Jumat, 1 Mei. Bagi warga AS yang berharap untuk kembali ke New York, Eithad akan mengoperasikan penerbangan pada hari Senin, 4 Mei.

Baca juga: Operasional Terganggu Akibat Virus Corona, Ini Strategi Maskapai Dunia Maksimalkan Pesawat Widebody

Etihad juga mengoperasikan penerbangan kargo dan memulangkan warga Emirat dari luar negeri. Warga negara UEA yang ingin pulang ke rumah harus menghubungi kedutaan atau konsulat setempat.

Robotaxi Ford Ditunda Peluncurannya Hingga 2022

Banyak industri otomotif dan robotik harus menunda peluncuran mereka saat ini karena pandemi virus corona atau Covid-19. Hal ini dilakukan para pengusaha otomotif dan robotik karena dampak ekonomi yang cukup besar saat ini dan berpengaruh terhadap produksi atau penjualan. Seperti Ford yang menunda peluncuran robotaxi mereka yang seharusnya pada tahun ini menjadi mundur hingga tahun 2022 mendatang.

Baca juga: Dua Bulan Uji Coba, Waymo Menjadi Pemimpin Perjalanan Kendaraan Otonom di California

“Mengingat tantangan lingkungan bisnis saat ini serta kebutuhan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang Covid-19 pada perilaku pelanggan. Ford mebuat keputusan untuk mengalihkan peluncuran self-drivingnya ke 2022,” ujar Ford melalui sebuah pernyataan yang dikutip KabarPenumpang.com dari theverge.com (28/4/2020)

Perusahaan mengatakan akan menggunakan waktu ekstra untuk meneliti perubahan perilaku pelanggan, yang akan memungkinkan perusahaan akan mengevaluasi dan berpotensi mengubah strategi masuk ke pasar kami untuk memenuhi permintaan konsumen baru.

“Kami juga ingin memastikan pengalaman pelanggan yang sedang kami bangun seperti menawarkan ketenangan pikiran bagi orang yang mengetahui bahwa paket mereka berada di lingkungan yang aman dan terlindungi di dalam kendaraan kami,” jelas Ford.

Ford mengatakan juga tetap akan melakukan peluncuran Mustang Mach-E yang direncanakan akhir tahun ini, dan versi baru dari Bronco juga. Diketahui, perusahaan telah menghabiskan beberapa tahun terakhir menguji prototipe mengemudi sendiri di Miami, Austin dan Washington DC ketika mereka bersiap untuk meluncurkan layanan, meskipun belum membuat pengumuman tentang di mana pasar yang direncanakan untuk beroperasi.

Pandemi sejauh ini memiliki dampak beragam pada industri kendaraan self-driving. Beberapa startup, seperti Zoox, telah memotong jumlah pegawai dalam upaya untuk menghemat uang, sementara yang lain, seperti Nuro dan EasyMile, bermitra dengan industri kesehatan untuk mengirimkan barang dan pasokan medis.

Ford mengumumkan penundaan itu karena mengungkapkan hasil keuangannya untuk kuartal pertama 2020, yang secara brutal terkena dampak pandemi. Pembuat mobil mencatat kerugian $2 miliar untuk kuartal tersebut, setelah menghasilkan lebih dari $1 miliar pada kuartal pertama 2019.

Baca juga: Ford Adopsi 5G Pada Teknologi ‘Komunikasi Antar Kendaraan dan Infrastruktur’ di Tahun 2022

Sebelumnya pada hari itu, Ford dan merek mewahnya Lincoln mengumumkan bhwa mereka membatalkan sebuah SUV listrik mendatang yang akan dibangun menggunakan teknologi dari startup EV Rivian dan keputusan lain yang menurut perusahaan dibuat karena pandemi.