Airbus Rugi Rp7,7 Triliun di Kuartal I 2020, CEO: Ini Masih Permulaan

Pada Rabu lalu, Airbus melaporkan hanya membukukan pendapatan sebesar 10,6 miliar euro pada kuartal I 2020. Bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu, pendapatan raksasa produsen pesawat dunia tersebut terkoreksi sebesar 15 persen atau telah merugi sebesar US$515 juta (Rp7,7 triliun – kurs 15,239).

Baca juga: Airbus ‘Berdarah-darah,’ Karyawan Diminta Bersiap Kemungkinan Terburuk

Hal itu pun memaksa perusahaan setidaknya telah mem-PHK sebanyak 3.000 karyawan di Perancis, 3.200 karyawan lainnya di UK dipaksa cuti tanpa dibayar, dan ribuan karyawan lainnya di Jerman menanti giliran untuk di-PHK atau dipaksa cuti tanpa dibayar, serta mencari pinjaman miliaran euro. Celakanya, menurut CEO Airbus, Guillaume Faury, bencana yang belum pernah dialami sebelumnya ini bukanlah akhir, melainkan baru permulaan.

Selain itu, saat virus corona pada akhirnya sirna dari muka bumi, pria 52 tahun yang mulai menjabat sebagai CEO Airbus sejak April 2019 tersebut menegaskan, butuh waktu yang lama untuk membujuk kembali pelanggan agar mau bepergian menggunakan pesawat. Menariknya, berapa lamanya itu ia tidak dapat memprediksi.

“Kami berada dalam krisis paling parah yang pernah dialami industri dirgantara. Sekarang kita perlu bekerja sebagai industri untuk mengembalikan kepercayaan penumpang dalam perjalanan udara saat kita belajar untuk hidup berdampingan dengan wabah ini,” ujarnya, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari talkingpointsmemo.com.

CEO berkebangsaan Perancis itu juga menyebut bahwa saham Airbus sejauh ini sudah turun sebesar 60 persen. Faktor terbesar yang melatarbelakangi anjloknya saham adalah kegagalan perusahaan mendapatkan dana talangan dari pemerintah hingga membuat likuiditas melorot. Pada akhirnya, lemahnya likuiditas keuangan dan defisit uang tunai membuat Airbus harus merelakan 60 rencana pengembangan bisnis di kuartal I. Hal itulah yang kemudian mengurangi kepercayaan investor terhadap bisnis Airbus saat ini.

Melihat situasi yang berkembang saat ini, Faury juga menduga, kuartal II 2020 tampaknya tak akan jauh berbeda. Sama- sama suram. Itu berarti, akan ada beberapa langkah efisiensi berkelanjutan yang sudah mulai dilakoni, seperti pengurangan gaji, pengurangan karyawan, memangkas produksi hingga sepertiga, membatalkan rencana menambah jalur perakitan untuk A321 di Toulouse, dan memperlambat proses pengembangan jet terbaru A220. Tak lupa, tentu saja Airbus juga harus mencari pinjaman lain dalam jumlah besar untuk keberlangsungan bisnis.

Baca juga: Awas, Hindari Keramaian! Studi Terbaru Mendukung Gagasan Virus Corona Menular Lewat Airborne

Sebelumnya, CEO Airbus, Guillaume Faury juga telah memperingatkan karyawannya bahwa keuangan perusahaan tengah ‘berdarah-darah’. Hal itu disebabkan oleh anjloknya industri penerbangan, dimana, mayoritas keuangan maskapai di seluruh dunia tengah defisit dan hanya memikirkan cara untuk bertahan hidup, tidak untuk membeli pesawat baru. Oleh karenanya, produsen pesawat asal Eropa tersebut harus melakukan upaya efisiensi sambil melakukan sejumlah evaluasi prospek bisnis jangka panjang.

“Kami menggelontorkan uang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang dapat mengancam keberadaan perusahaan kami. Kami sekarang harus bertindak segera untuk mengurangi arus pengeluaran kas, mengembalikan keseimbangan keuangan, dan pada akhirnya, untuk mendapatkan kembali kendali atas nasib kita,” kata Faury dalam sebuah rilis

JetBlue Jadi Maskapai Besar AS Pertama yang Wajibkan Penumpang Pakai Masker

Mulai 4 Mei mendatang, maskapai JetBlue mewajibkan seluruh penumpang mengenakan masker selama dalam penerbangan. Tak hanya itu, semua penumpang JetBlue juga diharuskan memakai masker selama dalam rangkaian perjalanan, termasuk saat check-in, masuk ke pesawat, selama penerbangan, dan turun dari pesawat. Kebijakan tersebut pun menjadikannya sebagai maskapai besar Amerika Serikat (AS) pertama yang mewajibkan penumpang mengenakan masker.

Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara

“Mengenakan penutup wajah (masker) bukan soal melindungi diri sendiri, tapi soal melindungi orang-orang di sekitar Anda,” kata Joanna Geraghty, presiden dan chief operating officer JetBlue (JBLU), seperti dikutip KabarPenumpang.com dari CNN Internasional.

“Ini adalah etiket (kebiasaan) terbang yang baru. Di dalam, udara kabin disirkulasikan dengan baik dan dibersihkan melalui filter setiap beberapa menit tetapi ini adalah ruang bersama di mana kita harus mempertimbangkan orang lain. Kami juga meminta pelanggan kami untuk mengikuti pedoman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) ini (mengenakan masker) di bandara juga,” lanjutnya.

Selain penumpang, maskapai berbiaya hemat (LCC) tersebut terlebih dahulu sudah mulai mewajibkan penggunaan masker untuk para awak, baik awak kabin ataupun awak kokpit serta karyawan di divisi lainnya, termasuk staf darat pada 17 April lalu.

Selama pandemi corona mulai mewabah di AS, JetBlue tercatat pernah ‘kecolongan’ dengan memuat satu orang positif Covid-19 di dalam penerbangan. Peristiwa bermula saat pesawat yang mengangkut 114, termasuk kru kabin dan kru kokpit, berangkat dari Bandara J.F.K, New York ke Bandara West Palm Beach, Florida pada Rabu malam (11/3) waktu setempat. Pihak maskapai melaporkan, penumpang yang tak diungkap identitasnya tersebut sebelumnya sudah melalui beberapa pengecekan. Hasilnya, penumpang tersebut tidak ada tanda-tanda terjangkit Covid-19.

“JetBlue tidak memiliki indikasi sebelumnya bahwa pelanggan ini memiliki atau mungkin terdapat tanda-tanda (terjangkit) virus corona,” kata maskapai , dalam sebuah pernyataan.

Menjelang tiba di Florida, penumpang yang bersangkutan kemudian melapor ke petugas bahwa dirinya dinyatakan positif mengidap virus corona. Hal itu diketahui setelah penumpang tersebut mendapat pesan singkat dari seseorang mengenani hasil tes virus corona yang dilakukan beberapa hari sebelum dirinya terbang bersama JetBlue. Celakanya, penumpang tersebut tidak memberitahukan perihal pengecekan tersebut kepada pihak maskapai sebelum pesawat lepas landas atau saat boarding check.

Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Tes Corona ke Seluruh Penumpang

Keputusan JetBlue mewajibkan penumpang mengenakan masker selama di bandara, penerbangan, hingga turun di bandara tujuan tentu bukan yang pertama di dunia. Sebelumnya, beberapa maskapai dunia terlebih dahulu juga mulai mewajibkan penumpang mengenakan masker, seperti Air Canada, Malaysia Airlines, Citilink, dan Emirates juga terlebih dahulu menerapkan kebijakan tersebut.

Khusus Emirates, bahkan maskapai asal Dubai, Uni Emirat Arab tersebut bukan hanya mewajibkan penumpang mengenakan masker, melainkan juga mewajibkan seluruh calon penumpang mengikuti rapid test corona, 10 menit sebelum penerbangan dimulai. Kebijakan tersebut pun menjadikannya sebagai maskapai pertama di dunia yang menerapkan kebijakan itu.

Serikat Pekerja Awak Kabin di AS Minta Semua Orang Gunakan Masker di Bandara dan Kabin Pesawat

Maskapai penerbangan di Amerika Serikat masih menerbangkan pesawat mereka ke berbagai tujuan di tengah pandemi Covid-19. Bahkan beberapa operator besar saat ini memungkinkan penumpang untuk melakukan beberapa pergantian kursi untuk membantu menjaga jarak sosial. Namun meski begitu maskapai tidak mengharuskan penumpang mereka menggunakan masker atau duduk sejauh enam kaki antar satu penumpang dengan yang lainnya.

Baca juga: Virus Corona Merebak, Awak Kabin Cari Perlindungan

Hal ini kemudian membuat beberapa hari terakhir pemandangan kabin pesawat yang penuh dengan penumpang tanpa menggunakan masker menjadi berita hangat di Amerika Serikat. Karena situasi berisiko tersebut, kemudian memicu reaksi keras dari persatuan awak kabin.

Dilansir KabarPenumpang.com dari forbes.com (26/4/2020), Sara Nelson, presiden Association of Flight Attendants-CWA (AFA), kemudian menulis surat terbuka kepada Sekretaris Transportasi Elaine Chao dan Sekretaris Kesehatan Alex Azar yang menyerukan kepada Departemen Perhubungan agar berkoordinasi dengan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan untuk mengakhiri semua perjalanan santai sampai virus benar-benar hilang. Sara menunjukkan bahwa awak kabin saat ini sudah cukup terpukul dengan pandemi virus yang terjadi.

“Di maskapai yang mempekerjakan awak kabin anggota AFA, setidaknya 250 dari mereka sudah dites dan hasilnya positif Covid-19. Ada pula awak kabin yang meninggal akibat virus ini.” tulis Sara.

Surat terbuka yang ditulis Sara tersebut juga mengatakan bahwa awak kabin mempertanyakan apakah mereka juga membantu menyebarkan virus. Selain menyerukan diakhirinya perjalanan udara santai, surat itu juga membuat permintaan lain salah satu diantaranya adalah mengharuskan penggunaan masker di bandara dan kabin pesawat untuk penumpang, awak kabin serta karyawan.

Serikat pekerja, yang mewakili pekerja di hampir dua lusin maskapai penerbangan, mengatakan pihaknya membayangkan “semua anggota masyarakat yang memasuki gedung bandara” diberi masker. Ia juga meminta agen untuk mempertimbangkan persyaratan bahwa kru maskapai disediakan masker bedah atau respirator N95, begitu produsen dapat memenuhi kebutuhan pekerja perawatan kesehatan. Tak hanya itu, Sara juga menunjukkan bahwa Amerika Serikat harus mengikuti jejak Kanada yang mengambil tindakan pencegahan yang jauh lebih kuat daripada negara ini.

“Kanada menganjurkan penggunaan masker pada semua moda transportasi umum dan mengharuskan semua penumpang udara untuk memakai masker yang ‘menutupi mulut dan hidung mereka … di pos pemeriksaan penyaringan, … ketika mereka tidak dapat secara fisik menjauhi orang lain, atau seperti yang diarahkan oleh karyawan maskapai, ‘tulis Sara.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Diketahui, jumlah penumpang di pesawat telah anjlok ke posisi terendah bersejarah, maskapai penerbangan mengoperasikan jadwal sederhana karena persyaratan terkait dengan bailout pembayaran $25 miliar, serta untuk memindahkan kargo dan wisatawan penting. Jumlah rata-rata penumpang yang membayar pada setiap pesawat meningkat sangat sedikit dari beberapa minggu terakhir, menurut industri – meskipun tidak cukup untuk membuat operasi menguntungkan. Administrasi Keamanan Transportasi menyaring sekitar 95 persen lebih sedikit penumpang daripada saat ini tahun lalu.

William: Jumlah Penumpang Menurun Drastis, MRT Jakarta Tak PHK Karyawan

Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta mengalami penurunan penumpang secara drastis selama periode 1 – 28 April 2020. Direktur Utama PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta William Sabandar mengatakan, pada 6 Maret 2020, penumpang masih berkisar di angka 100 ribu per harinya. Namun ketika adanya sosial distancing penurunan belum signifikan di 13 Maret 2020.

Baca juga: Perilaku Penumpang MRT Jakarta: Umumnya Sudah Order Ojol Sebelum Tiba di Stasiun Tujuan

“Tapi pada 16 Maret 2020, penurunan drastis terlihat setelah kami memberlakukan sosial distancing pada penumpang sehingga menjadi 27.269 per harinya. Pada 27 Maret, hanya 8.685 penumpang. Penurunan paling jelas terjadi ketika pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dari 1 – 28 april yang dirata-rata sekitar 4.134 penumpang per harinya,” jelas William melalui Zoom meeting di forum jurnalis, Rabu (29/4/2020).

Adanya penurunan penumpang juga dikarenakan tujuh stasiun MRT tidak beroperasi dan hanya enam sisanya yang beroperasi, yakni Stasiun Lebak Bulus Grab, Fatmawati, Cipete Raya, Blokm M BCA, Dukuh Atas BNI dan Bundaran HI. Hal ini kemudian membuat pendapatan fare box dan non fare box menurun.

William mengatakan untuk para tenant yang saat ini ada di Stasiun dan terkena imbas penutupan diambil dua cara. Untuk tenant middle sepeti UMKM pihaknya tidak akan mengambil biaya sewa selama tiga bulan, sedangkan untuk yang ritel besar seperti Starbucks, A&W, Indomaret dan Alfamart pihaknya masih terus berkomunikasi dan belum ada kebijakan.

“Kita terus berkomunikasi dengan ritel-ritel besar yang terkena imbas penutupan di stasiun-stasiun yang dihentikan operasionalnya,” kata William.

Meski pihaknya menutup tujuh dari 13 stasiun yang ada, William menegaskan tidak akan menghentikan operasi, karena pengguna MRT Jakarta masih ada. Ada pun penurunan penumpang dan kerugian yang didapat, William menegaskan, pihaknya tidak akan melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

“Kita tidak ada PHK karyawan, kita efisiensi biaya training dan perjalanan dinas. Kita juga menunda untuk pengadaan simulator dan menggunakan alternatif lainnya dengan kereta yang tidak digunakan setelah jam operasional,” jelas William.

Dia menyebutkan, bahwa saat ini mereka hanya akan training internal dan tidak akan ada training di luar negeri. Pembelian simulator pun ditunda karena harga untuk satu unit simulator Rp100 Miliar.

Selain penurunan jumlah penumpang, perjalanan kereta MRT Jakarta pun hanya ada 49 dari jam 06.00-18.00 WIB dan dilayani oleh tiga kereta. William menambahkan, pihaknya juga melakukan sosialisasi melalui layana iklan masyarakat.

Selain membahas penurunan penumpang, MRT Jakarta juga tengah mempersiapkan proses operasi pasca pandemi Covid-19 yang mengangkat tema ‘MRT Bersiap’ yakni bersih, sehat, aman dan prima.

“Kita mulai pendekatan baru untuk pastikan memberi layanan terbaik ketika mobility virtual. Dalam tema Bersiap, MRT akan melakukan pembersihan seluruh fasilitas dan personal hygin untuk penumpang. Terus budayakan penggunaan masker dan pengecekan temperatur penumpang untuk kesehatan mereka,” jelas William.

“Yang jelas kami masih tetap menjaga on time performance (OTP) 100 persen. Dalam masa pandemi ini, MRT Jakarta membuat empat skenario menghadapi krisis untuk 2020 agar bisa survive. Karena krisis ini maka pendapatan turun baik fare box maupun non fare box, mungkin juga ada pengurangan subsidi,” jelas William.

Dia menyebutkan empat skenario itu ada skenario moderat dimana krisis hanya terjadi tiga bulan, empat bulan lainnya masa rebound dan tiga bulan lainnya mulai stasbil. Skenario berat yakni krisis selama lima bulan, empat bulan rebound dan satu bulan rebound, skenario sangat berat krisis terjadi selama tujuh bulan dan masa reboun tiga bulan serta tiga bulan di tahun berikutnya masa stabil.

“Untuk skenario buruk krisis selama sembilan bulan dengan rebound satu bulan di Desember dan tahun 2021 baru stabil. Namun kita berharap hanya di skenario moderat saja, sehingga Juni sudah rebound agar masalah ekonomi teratasi,” kata William.

Baca juga: PT MITJ Benahi Empat Stasiun Integrasi, MRT Jakarta Mulai Fase 2

Dalam masa krisis ini pun MRT Jakarta juga menunda pengerjaan Fase 2A yang harusnya mulai pada Maret ,menjadi bulan Juni. Hal ini dikarenakan bila tetap dilanjutkan maka akan memakan biaya yang lebih besar lagi.

Khawatir Covid-19, Pria Ini dengan ‘PD-nya’ Gunakan Kostum Dinosaurus di Bandara Miami

Pada awal Maret 2020 Naomi Campbell ketika bepergian dengan pesawat membuat viral di media sosial karena menggunakan kostum hazmat lengkap dengan masker, kacamata dan sepasang sarung tangan karet ketika pandemi Covid-19 mulai meluas. Namun nyatanya pada akhir bulan Maret 2020, seorang pria menggunakan kostum dinosaurus pengganti kostum hazmat sebagai perlindungan diri.

Baca juga: Pakai Kostum Hazmat di Bandara, Naomi Campbell Lagi-lagi Viral di Instagram

Dia terlihat lucu dan jenaka karena kostum dinosaurus tersebut dan memutuskan tidak menggunakan masker arau sarung tangan karet, melainkan menggunakan sarung tangan dari kostumnya yang seperti cakar dinosaurus. Karena hal inilah kemudian foto dan video singkat dirinya menggunakan kostum dinosaurus viral di beberapa Instagram.

Di akun Cruise Fly Girl, seorang pramugari terkesan karena menemukan seekor dinosaurus berjalan di depannya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman republicworld.com (26/3/2020), pria pengguna kostum dinosaurus tersebut terlihat di Bandara Internasional Miami.

Dia berjalan tanpa rasa bersalah dan menikmatinya dengan ekor yang melambai-lambai menyapu lantai bandara menuju gerbang keberangkatan. Tak hanya itu, dia pun tetap menggunakan kostum dinosaurusnya hingga duduk di pesawat.

Pada akun Passenger Shaming video singkat saat dinosaurus tersebut berjalan diunggah dengan caption, “Kostum hazmat travel paling baik? Dino-Mite!”. Video ini bahkan sudah dilihat lebih dari 330 ribu orang. Video singkat tersebut membuat warganet cukup terkesan dengan ide pria itu.

Banyak dari komentar mereka yang memberikan emotikon tersenyum ataupun tertawa. Kostum dinosaurus bukan hanya digunakan oleh penumpang pesawat, tetapi beberapa postingan di media sosial sudah beredar di berbagai tempat.

Bahkan di Indonesia, kostum dinosaurus pun sempat viral beberapa waktu lalu. Di mana seseorang yang menggunakan kostum ini bepergian dengan sebuah motor dan pergi ke mini market untuk berbelanja.

Baca juga: Pakai StadiumPod di Kabin Pesawat, Pebisnis Ini Coba Cegah Tertular Virus Corona

Namun, nyatanya tak hanya kostum dinosaurus, masyarakat dunia yang tak kehilangan akal dengan menggunakan kostum lainnya seperti superhero dari avenger, batman dan kostum berbahan lateks. Sebelum kostum ini viral, Seorang penumpang pesawat juga sudah menggunakan StadiumPod yang dirancang untuk menonton pertandingan dan sebagai alat berteduh ketika hujan.

Antisipasi Covid-19, Awak Kabin AirAsia Punya Seragam Baru Mirip Kostum Hazmat

AirAsia meluncurkan seragam barunya untuk para awak kabin yang meliputi pakaian dengan model kostum hazmat, kaca pelindung muka dan masker. Nantinya para penumpang akan dilayani oleh para awak kabin yang berpakaian dengan perelengkapan perlindungan diri.

Baca juga: Antisipasi Covid-19, Semua Awak Kabin di Taiwan Dilengkapi APD

Maskapai berbiaya hemat ini, mengatakan dengan kehadiran seragam baru tersebut akan membantu penumpang dan staf tetap aman di udara selama pandemi virus corona atau Covid-19 berlangsung. Untuk seragam baru ini, AirAsia meminta bantuan desainer Puey Quinones yang berbasis di Los Angeles.

Awak kabin AirAsia gunakan seragam baru

Puey kemudian memposting seragam baru tersebut di akun Instagramnya dengan caption, “AirAsia meluncurkan Alat Pellindung Diri (APD) untuk melindungi awak kabinnya. Dirancang oleh saya. Terima kasih.”

Dilansir KabarPenumpang.com  dari laman metro.co.uk (27/4/2020), nantinya seragam ini akan digunakan oleh awak kabin diseluruh penerbangan baik rute domestik maupun internasional. Sheila Romero dari AirAsia mengatakan memilih untuk memiliki bahan APD yang disetujui oleh Departemen Kesehatan Filipina untuk melindungi Allstars mereka.

“Pada saat yang sama seragam baru dirancang untuk mengumumkan kami bangga dengan AirAsia dan kami akan bangkit dari pandemi ini. Aku ingin meningkatkan moral staf kami ketika mereka menggunakan seragam baru ini,” ujar Sheila.

Dia mengatakan APD tersebut nyaman karena desainya chic dan sporty serta tidak begitu tebal dan berat.

“Saya suka itu keren dan sporty mirip dengan apa yang dipakai pembalap mobil Formula Satu. Perpaduan mode dan keamanan ini akan menentukan standar baru terbang hari ini,” kata Sheila.

Bukan hanya kru yang akan memiliki tampilan baru ketika terbang dengan AirAsia Filipina dalam waktu dekat. Penumpang akan diminta untuk membawa masker mereka sendiri. Mereka harus memakainya saat check in, saat dalam penerbangan, dan saat mengambil bagasi.

Ini jauh dari rezim yang lebih santai tentang masker wajah di sebagian besar maskapai penerbangan lainnya. Dengan tidak adanya bukti bahwa masker wajah mencegah penyebaran virus, sebagian besar maskapai penerbangan tidak memerlukan penumpang untuk memakainya.

Selanjutnya, semua penumpang dan awak harus menjalani pemeriksaan suhu sebelum naik. Tas tangan juga akan dibatasi hingga lima kilogram sehingga memudahkan menjaga jarak sosial. Apa pun yang Anda pikirkan tentang tampilan baru, awak kabin dengan setelan APD mungkin menjadi semakin umum.

Baca juga: 30 Awak Kabin Singapore Airlines Jadi Duta Perawat di Rumah Sakit

Ini mungkin terjadi di beberapa bagian dunia, seperti Asia Tenggara, yang padat penduduk dan sering menjadi rumah bagi wabah virus. Itu sesuatu yang biasa mereka lakukan. Bagi semua orang, itu adalah sesuatu yang mungkin harus dibiasakan.

Heboh Pentagon Rilis Video UFO, Penumpang Pesawat Ini Bahkan Pernah Lihat UFO di Siang Bolong

Belum lama ini, Pentagon (kantor utama angkatan bersenjata Amerika Serikat) merilis tiga video rahasia Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang diduga banyak pihak merupakan penampakan pesawat alien (UFO/unidentified flying object). Video yang direkam melalui kamera infrared tersebut terlihat menampilkan UFO yang terbang secara cepat. Angkatan Laut sebelumnya mengakui kebenaran video itu pada September 2019.

Baca juga: Tunggu Investor, Kendaraan Berbentuk UFO Siap Mengudara

Namun, tahun 2019 bukan hanya Pentagon yang berhasil menggemparkan publik dengan pernyataan berkenaan dengan UFO. Dikutip KabarPenumpang.com dari DailyMail, pada pertengahan April di tahun tersebut, seorang penumpang pesawat Jeju Air bernama Lucas Kim, juga berhasil menggemparkan publik karena mengklaim dirinya melihat UFO dari jendela pesawat.

Peristiwa penumpang pesawat Jeju Air melihat UFO bermula saat pesawat yang ditumpanginya sedang dalam perjalanan dari Seoul ke Thailand. Mendadak saja, Kim lalu melihat benda berwarna putih terbang di samping pesawatnya. Mengira jika itu adalah pesawat yang lain, Kim pun mengambil inisiatif untuk merekam.

Namun, setelah dilihat lagi, Kim justru mendapati benda tersebut tampak seperti cahaya misterius yang berwarna kuning kehijauan. Cahaya tersebut lalu terlihat terpecah menjadi enam bagian dan terbang melayang-layang.

“Jarang melihat pesawat lain terbang di sebelah pesawatmu, jadi aku mengeluarkan ponselku dan merekamnya. Ketika saya melihat dari dekat (men-zoom video), itu bukan pesawat, itu adalah enam individual vehicles. Itu seperti cahaya kehijauan-kekuningan berdenyut,” katanya.

Meskipun ada ada kemungkinan objek tak dikenal tersebut merupakan sinar matahari yang terpantul dari jendela, tapi Kim meyakini itu adalah sesuatu yang luar biasa. Kim akhirnya harus berpisah dengan objek diduga UFO itu setelah (UFO tersebut) terpendar menjadi enam dengan formasi 2-2-2 dan bermanuver tak seperti bukan sebuah pesawat biasa. Beberapa saat kemudian, mereka berpisah dan menghilang dari pandangan.

Pada tahun 2015, DailyMail juga pernah mewartakan peristiwa penumpang pesawat melihat UFO yang juga sempat menggemparkan publik. Saat itu, seorang penumpang maskapai American Airlines dari San Jose, California menuju Houston, Texas, dilaporkan tak sengaja memotret sebuah foto.

Kala itu, ia mengaku sedang memotret pemandangan saat sedang bosan. Namun ia tak sadar bahwa ternyata pesawat yang ditumpanginya tersebut berada di sebuah wilayah perbatasan dekat pangkalan militer rahasia, Area 51.

Baca juga: Ada Penampakan UFO di Dekat Kereta, Laporan Wanita ini Disangsikan

Penumpang pria yang tak disebutkan namanya ini tidak menyadari bahwa wilayah yang dilewatinya merupakan wilayah gurun yang lokasinya berada di Luning and Gabbs, Nevada. Ketika ia sedang memotret, barulah ia sadar ada sebuah cahaya aneh, seakan-akan membentuk pola piringan besar berada di langit.

Setelah ia melihat lebih dekat foto yang diambil, ia menyadari terdapat kejanggalan dari foto jepretannya tersebut. Ia langsung melaporkan penampakan yang ia ambil ke organisasi Mutual UFO Network.

Hong Kong Persiapkan Lanskap Baru Pasca Pandemi

Berbagai sektor industri dunia saat ini tengah terguncang bahkan ada juga yang tutup karena pandemi Covid-19 yang merebak di seluruh negara. Selain industri penerbangan, nyatanya industri pariwisata pun ikut tumbang karena banyak tempat wisata yang harus tutup demi meminimalisir penyebaran pandemi ini.

Baca juga: Dianggap Inti dari Ekosistem Pariwisata, Matta Desak Pemerintah Malaysia Selamatkan Industri Penerbangan

Namun meski begitu, Dewan Pariwisata Hong Kong belum lama ini memprediksi lanskap baru pariwisata pasca pandemi. Dr. YK Pang, Ketua Dewan Pariwisata Hong Kong mengatakan, pademi Covid-19 telah menimbulkan tantangan pariwisata yang belum pernah dialami Hong Kong dan juga global.

“Secara global setelah masa pandemi ini selesai, industri pariwisata akan menemukan formula barunya. Kita akan melihat akan ada perubahan prefensi dan kebiasaan dari para pelancong ketika mereka ingin berlibur,” kata Pang dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com, Senin (27/4/2020).

Pang mengatakan, sebagai prioritas utama, pelancong akan menempatkan kondisi kesehatan publik di negara tujuan. Tak hanya itu, pelancong juga akan memiliki standar tersendiri untuk tingkat kebersihan di toilet, area fasilitas umum untuk turis serta transportasi yang digunakan di negara tujuan.

Pang menambahkan, nantinya pelancong akan lebih memilih untuk melakukan perjalanan rencana pendek dan wisata bertema wellness akan menjadi sebuah tren baru.

“Ini akan menjadi waktu yang tepat bagi kami untuk melihat dan merancang kembali strategi untuk menempatkan Hong Kong di pasar pariwisata global dan juga meningkatkan standar layanan,” jelas Pang.

Dia menyebutkan, perjalanan domestik akan menjadi pilihan utama tidak lama setelah pandemi berakhir dan perjalanan internasional akan mengikuti setelahnya. Bahkan persaingan akan semakin ketat karena semua yang bergerak di industri pariwisata akan melakukan promosi intensif untuk menarik wisatawan.

“Kami akan meluncurkan program bertajuk ‘Jelajah Hong Kong’ yang ditujukan untuk pelancong muslim (di Indonesia) bersama dengan program lainnya dalam rencana pemulihan pariwisata Hong Kong,” tambah Pang.

Sebelumnya, Dewan Pariwisata Hong Kong telah mengumumkan bahwa mereka akan mengalokasikan HK$400 juta untuk mendukung inisiatif dan promosi wisata. Direktur Eksekutif Dewan Pariwisata Hong Kong Dane Cheng menjelaskan bahwa saat ini telah disusun rencana tiga fase untuk menghidupkan kembali pariwisata Hong Kong. Eksekusi rencana ini akan tergantung pada perkembangan pandemi di Hong Kong dan secara global.

Untuk diketahui, Hong Kong tengah membuat tiga fase pemulihan pariwisata mereka. Fase pertama yang saat ini adalah Resilience yakni Dewan Pariwisata Hong Kong mempersiapkan pemulihan pariwisata. Fase kedua Recovery, di mana ketika pandemi mulai menunjukkan tanda-tanda mereka, Dewan Pariwisata hong Kong akan fokus pada pasar lokal untuk mempromosikan suasana positif di Hong Kong dengan mendorong penduduk setempat untuk menata kembali lingkungan dan budaya di masyarakat agar mereka dapat mengirim pesan positif kepada semua pelancong akan keunggulan Hong Kong sebagai destinasi wisata.

Baca juga: Hong Kong ‘Lockdown’ Warganya dengan Gelang Canggih

Di waktu yang bersamaan, Dewan Pariwisata Hong Kong juga akan meluncurkan promosi dengan perdagangan di pasar pasar-pasar tertentu berdasarkan perkembangan di masing-masing pasar agar wisatawan mancanegara tertarik untuk mengunjungi Hong Kong. Fase ketiga yakni Relaunch adalah Dewan Pariwisata Hong Kong akan meluncurkan acara besar dan program kampanye pariwisata baru untuk membangun kembali citra pariwisata Hong Kong.

Awas, Hindari Keramaian! Studi Terbaru Mendukung Gagasan Virus Corona Menular Lewat Airborne

Virus Cina (menukil perkataan Presiden AS Donald Trump) disebut dapat bertahan 4 jam di bahan tembaga, 24 jam di bahan kardus, 2-4 hari di permukaan plastik dan stainless, 9 hari di permukaan logam dan kaca, serta 3 jam di udara.

Baca juga: Para Ahli Sebut Penumpang Lansia Buat Penularan Virus Corona Jadi Lebih Cepat

Terkait adanya virus corona di udara, belum lama ini sebuah penelitian menemukan bahwa virus corona dapat bertahan di ruangan penuh sesak atau ruangan yang kurang ventilasi. Para peneliti pun belakangan mulai mendukung gagasan penyebaran Covid-19 dapat menular lewat partikel-partikel udara kecil di udara atau yang biasa dikenal sebagai aerosol.

Dikutip dari Bloomberg, studi yang dilakukan di dua rumah sakit di Wuhan, Cina, berhasil menemukan potongan-potongan materi genetik virus bertebaran di udara toilet rumah sakit, ruangan yang memungkinkan adanya kerumunan besar, dan kamar-kamar dimana petugas medis melepas Alat Pelindung Diri (APD). Meski demikian, studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Research, Senin lalu tersebut tidak dimaksudkan untuk menunjukkan apakah virus corona dapat tersebar lewat airborne.

Para peneliti, yang dipimpin oleh Ke Lan dari Universitas Wuhan, membuat sejenis perangkap aerosol di dan sekitar dua rumah sakit di kota yang diduga menjadi asal mula munculnya virus corona jenis baru. Dari perangkap atau jebakan aerosol itu, hasilnya mereka menemukan beberapa aerosol di ruang perawatan, supermarket, dan bangunan tempat tinggal. Tak hanya itu, virus corona juga terdeteksi di toilet dan dua tempat (di dalam dan sekitar rumah sakit) yang banyak orang lewati, termasuk ruang tertutup di dekat salah satu rumah sakit.

Namun, perhatian utama para peniliti adalah ruangan di mana staf medis melepas peralatan pelindung. Diduga, APD petugas medis yang sudah terkontaminasi Covid-19 mungkin tersebar kembali ke udara ketika mereka melepas masker, alat pelindung wajah, sarung tangan, dan hazmat. Temuan itu pun menyoroti pentingnya ventilasi, membatasi keramaian, dan upaya sanitasi yang cermat.

Belakangan, narasi, statement, teori, atau gagasan tentang seberapa mudah virus corona menyebar di udara menjadi perdebatan di kalangan para ahli medis dunia, khususnya spesialisasi penyakit menular, menyusul adanya dua hal yang kontradiktif. Di satu sisi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa virus corona tidak menyebar lewat udara (airborne), merujuk pada analisis ke lebih dari 75 ribu kasus corona di Cina.

Baca juga: Peneliti: Virus Corona Bisa Bertahan Selama 7 Hari di Masker Bedah

Di sisi lain, ketika sebaran virus Cina semakin meluas, dimana ditemukan hampir 70 ribu kasus baru pada hari ini, menewaskan lebih dari 210 ribu jiwa, dan menginfeksi lebih dari 3 juta orang di seluruh dunia, para ilmuan pun dibuat penasaran dan tertantang untuk lebih memahami dengan tepat bagaimana infeksi bisa begitu masif dan cepat.

Umumnya, seseorang menghasilkan dua jenis percikan ketika mereka bernapas, batuk, bersin, atau berbicara. Percikan yang lebih besar disebut akan jatuh ke tanah sebelum memuai dan menyebabkan manusia terinfeksi melalui benda-benda di sekeliling mereka. Adapun yang lebih kecil atau aerosol, disebut bisa bertahan di udara selama berjam-jam.

Hentikan Sementara Penjualan Tiket Penumpang, ASDP Hanya Layani Logistik

PT ASDP Indonesia Ferry mematuhi kebijakan Pemerintah terkait larangan mudik demi mendukung pencegahan penyebaran Covid-19_dengan hanya menyediakan layanan penyeberangan untuk angkutan logistik dan menghentikan sementara layanan penumpang dan kendaraan golongan I – VI hingga 31 Mei 2020.

Baca juga: Tanggapi Larangan Mudik, PT ASDP Akan Fokus Pada Pelayanan Angkutan Logistik

Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi menyatakan bahwa di tengah situasi pandemik Covid-19 ini, yang menjadi fokus utama adalah kesehatan dan keselamatan seluruh masyarakat dan karyawan (people first), untuk itu ASDP terus menerapkan protokol preventif di seluruh pelabuhan dan kapal-kapal kami secara ketat.

Dan sebagai tindak lanjut dari larangan mudik Pemerintah, ASDP akan mentaati Peraturan Menteri Perhubungan No.25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 H dalam rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19 hingga tanggal 31 Mei 2020, ASDP menghentikan sementara seluruh layanan penyeberangan bagi penumpang dan kendaraan, kecuali layanan angkutan logistik, kendaraan pengangkut alat medis dan kendaraan jenazah.

“Pada Minggu (26/4) kami juga telah berkoordinasi dengan Kakorlantas Polri bersama jajaran Polda Banten dan telah diputuskan bahwa kapal-kapal angkutan penyeberangan Merak-Bakauheni dilarang mengangkut penumpang pejalan kaki, sepeda motor, kendaraan angkutan orang, baik pribadi maupun umum. Namun, untuk pengecualian bagi mobil angkutan barang/logistik,” ujar Ira yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers yang diterima Selasa (28/4/2020).

Pandemik Covid-19 yang mendorong terjadinya physical distancing memang berdampak pada penurunan produksi penumpang dan kendaraan sekitar 40 persen, namun hal ini tidak berlaku pada kendaraan logistik karena tetap dilayani. Fokus ASDP saat ini menjaga agar penyeberangan logistik tetap berjalan lancar sehingga mobilisasi pasokan logistik ke seluruh Indonesia tetap terjaga dengan baik sesuai arahan Presiden untuk tetap menjaga pasokan logistik di daerah.

Terkait penghentian sementara layanan penumpang dan kendaraan yang mengangkut penumpang, ASDP juga akan mengikuti arahan dari Badan Pengelola Transportasi Darat Wilayah VIII Provinsi Banten untuk menghentikan sementara pelayanan penjualan tiket online via Ferizy untuk penumpang pejalan kaki, kendaraan golongan I, II, III, IVA, VA dan VIA mulai 27 April hingga periode 31 Mei 2020.

“Kami berharap seluruh pengguna jasa dapat mengikuti aturan Pemerintah untuk tidak melakukan perjalanan mudik pada tahun ini, dan tetap berada di rumah demi menekan penyebaran Covid-19 lebih meluas lagi,” ujarnya.

Bqca juga: Ini Cara Unik Orang Indonesia Demi Pulang ke Kampung Setelah Pemerintah Larang Mudik

Bagi para pengguna jasa yang telah membeli tiket penyeberangan pada periode 27 April – 31 Mei 2020 maka dapat melakukan pengembalian biaya tiket (refund) 100 persen dengan proses pengembalian maksimal 30 hari. Proses refund dapat dilakukan lewat pengajuan melalui www.ferizy.com atau menghubungi contact center ASDP di 08111-021-191 dan cs@indonesiaferry.co.id.