Pesawat Pun Kini Ada Varian Mesin Diesel Berbahan Bakar Bensin, Loh!

Selama ini mungkin kalangan awam umumnya mengetahui kalau pesawat berbahan bakar avtur, baik dengan mesin jet atau mesin propeller. Padahal, pesawat pun ada juga yang berbahan bakar bensin, layaknya mobil.

Baca juga: “Bird of Prey” – Desain Mahakarya Airbus yang Terinspirasi dari Burung Elang

Masih ingat Haerul, pria 34 tahun asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), yang berhasil membuat pesawat? Kala itu, pesawat buatannya tersebut berhasil terbang salah satunya berkat dukungan mesin motor berbahan bakar bensin bekas pakai. Pada umumnya pesawat berbahan bakar bensin hanya ditemukan di pesawat kecil. Namun demikian, baik pada pesawat besar ataupun kecil, belum ditemukan satupun dengan mesin diesel berbahan bakar bensin.

Dilansir dari cordis.europa.eu, terdapat beberapa alasan mengapa pesawat belum menggunakan mesin diesel berbahan bensin, salah satunya berhubungan dengan desain. Namun, bila masalah tersebut berhasil dipecahkan, mungkin pesawat bisa mencapai tingkat efisiensi lebih dari yang sudah dicapai saat ini. Mesin ini (diesel) dinilai lebih efisien berkat proses pengapian melalui kompresi campuran bahan bakar dan udara.

Rasio kompresi diesel yang lebih tinggi memungkinkan penggunaan energi yang terkandung dalam bahan bakar secara lebih efisien, yang berarti efisiensi pembakaran yang lebih baik dan konsumsi bahan bakar yang lebih rendah.

Kesederhanaan mesin piston dan konsumsi bahan bakar yang rendah memungkinkan bobot yang lebih ringan dan efisiensi yang lebih baik untuk pesawat. Hal ini pun menghasilkan peningkatan kredensial lingkungan dan biaya operasional. Dengan jaminan efisiensi, penggunaan mesin diesel di pesawat dipercaya akan sangat diminat. Namun, sebelum itu, berbagai kekurangan harus terlebih dahulu dipecahkan untuk mendukung mesin diesel dengan bahan bakar jet (bensin) pada pesawat. Hal inilah yang jadi perhatian utama dalam proyek ARGOS yang didanai oleh Uni Eropa.

Masalah pertama dengan mesin diesel berbahan bakar jet adalah bahwa mesin tersebut dirasa sangat kasar dibandingkan dengan mesin lama. Distribusi torsi yang tidak merata dinilai menyebabkan getaran yang pada akhirnya membuat baling-baling haus. Ini mengurangi masa pakainya dan meningkatkan risiko kegagalan. Masalah kedua adalah bahwa desain baling-baling harus disesuaikan dengan jenis mesin. Menggunakan desain rancangan lama untuk mesin diesel berbahan bakar bensin hanya menambah masalah kelelahan, selain tidak efisien.

Berangkat dari dua masalah tersebut, para ahli pun mulai bereksperimen dengan menetralkan getaran melalui media sebuah perangkat peredam. Di dalam mobil, gearbox mungkin bisa saja memenuhi fungsi ini (menetralkan getaran). Namun, tim menolak opsi itu karena dinilai banyak kelemahan. Selanjutnya, para peneliti yang terdiri dari berbagai ahli pun coba menguji banyak kombinasi bentuk, bahan, dan mesin baling-baling. Setelah lama berproses, hasil pun kemudian didapat dengan membuat prototipe desain baling-baling baru.

“Hasil paling penting dari proyek ini adalah data yang diperoleh dari eksperimen ini. Mudah untuk mengatakan bahwa mesin diesel bekerja dengan kasar, tetapi seberapa banyak, dan mengapa?” kata Vilém Pompe, koordinator proyek ARGOS.

“Solusi dari kami meliputi pemasangan bantalan retensi dalam bilah baling-baling yang mampu menyerap energi getaran. Kami juga menemukan bahan yang cocok untuk baling-baling dan hub baling-baling yang juga mampu menyerap energi,” tambahnya.

Baling-baling baru lebih berat dan lebih kuat dari baling-baling yang dirancang untuk mesin bensin. Selain itu, desain yang dihasilkan juga lebih sederhana daripada desain laternatif untuk mesin berbahan bakar bensin. Padahal ongkos produksinya sebanding.

Baca juga: Ini Dia Mesin Jet Terbesar di Dunia, Harganya Bikin Merem Melek!

Setelah pengujian desain awal, diikuti oleh pembuatan dan validasi prototipe, pengujian berlanjut pada periode pasca-proyek. Tim pun ditantang untuk mematenkan desain berdasarkan prototipe yang ada dan membawa hasilnya ke pasar. Berdasarkan pengujian yang sedang berlangsung, para peneliti kemudian mengembangkan prototipe yang sedikit dimodifikasi dari yang sudah ada.

Mesin diesel berbahan bakar bensin inilah yang kemudian akan digunakan untuk proses sertifikasi. Rencananya, dalam waktu, tim akan mulai mengujicoba mesin tersebut. Bila berhasil, baling-baling proyek ARGOS akan memungkinkan penggunaan mesin diesel yang efisien dalam penerbangan. Tentu saja akan berimbas pada operasional pesawat kecil yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.

Bandara Hong Kong Terapkan Teknologi Disinfeksi Canggih yang Mampu Sterilkan 99 Persen Bakteri

Otoritas Bandara Hong Kong (AA) dilaporkan telah mengujicoba teknologi disinfeksi terbaru di Bandara Internasional Hong Kong (HKIA) untuk menekan risiko penularan Covid-19 yang menyebar di antara penumpang dan staf bandara. Teknologi disinfeksi canggih tersebut diklaim mampu mensterilkan hingga 99,99 persen bakteri.

Baca juga: Penerbangan Masih Lesu, Bandara Hong Kong Kehilangan 91 Persen Pengunjung

Walaupun mampu mensterilkan bakteri nyaris 100 persen, robot pembersih otonom yang diberi nama CLeanTech tersebut penggunaannya cukup mudah dan cepat. Mula-mula calon pengguna diharuskan men-scan wajah guna mengukur suhu tubuh. Setelah itu pengguna cukup masuk ke dalam dan menjalani proses disinfeksi hanya dalam tempo 40 detik.

Hal itu (membunuh bakteri nyaris 100 persen dan dalam tempo yang singkat) dimungkinkan dengan tertanamnya beberapa teknologi di dalam CLeanTech. Mulai dari antimicrobial coating (‘nano needles’ technology), ultraviolet light steriliser, dan air steriliser. Ketiga teknologi tersebut mempunyai peran masing-masing selama proses disinfeksi.

Antimicrobial coating disebut mampu menghilangkan seluruh bakteri di lapisan pakaian pengguna. Teknologi tersebut kemudian dilengkapi dengan adanya ultraviolet light steriliser untuk memastikan bahwa tidak ada bakteri yang tersisa di pakaian pengguna. Adapun air steriliser memastikan bahwa udara yang masuk dari luar (saat pintu dibuka) tidak mengkontaminasi udara di dalam CLeanTech.

Perlu dicatat, robot disinfeksi canggih Bandara Hong Kong tersebut tidak seperti bilik disifeksi yang pernah marak diterapkan di Indonesia. Robot tersebut sama sekali tidak mengeluarkan air atau sejenisnya selama proses disinfeksi. Jadi, tidak membahayakan permukaan kulit atau bagian-bagian sensitif, seperti mata dan bibir.

Saat ini, robot disinfeksi canggih CLeanTech masih akan diujicoba hingga akhir Mei mendatang. Setelah proses ujicoba selesai, rencananya robot otonom CLeanTech akan dioperasikan dalam masa yang cukup panjang, dengan melihat situasi dan kondisi perkembangan virus corona di dunia. Sejauh ini, penggunaannya hanya dikhususkan untuk seluruh staf yang berhadapan langsung dengan para penumpang.

Namun demikian, bukan berarti penumpang tidak mendapatkan cipratan teknologi disinfeksi apapun. Untuk penumpang, AA telah mengujicoba antimicrobial coating yang tersebar di seluruh area penumpang, mulai dari lounge, lobby, counter check-in, boarding gate, dan tempat lainnya.

“Keselamatan dan keamanan staf serta penumpang bandara selalu menjadi prioritas utama kami. Meskipun lalu lintas udara telah dipengaruhi oleh pandemi, AA berusaha keras untuk memastikan bahwa bandara adalah lingkungan yang aman bagi semua pengguna. Kami akan terus mencari langkah-langkah baru untuk meningkatkan proses pembersihan dan disinfeksi,” kata Wakil Direktur Service Delivery Otoritas Bandara Hong Kong, Steven Yiu, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari airport-technology.com.

Baca juga: Hong Kong ‘Lockdown’ Warganya dengan Gelang Canggih

Penerapan teknologi CLeanTech tentu saja bukan upaya pertama HKIA dalam menekan penyebaran virus Cina di negara mereka. Sebelumnya, salah satu hub internasional utama di Asia Timur tersebut juga telah melakukan rapid tes corona ke seluruh penumpang yang baru tiba mulai 9 April lalu. Hal itu pun menjadikan Bandara Hong Kong menjadi yang pertama di dunia dalam pemeriksaan virus Corona bagi penumpang.

Selain itu, Otoritas Hong Kong bekerjsama dengan Otoritas Bandara Hong Kong juga telah menerapkan teknologi gelang elektronik canggih mulai akhir Maret lalu. Gelang tersebut akan diberikan kepada turis maupun masyarakat yang baru pulang bepergian dari luar negeri untuk memantau mereka selama fase karantina mandiri. Guna mendukung kesuksesan kebijakan tersebut, pemerintah Hong Kong mengklaim pihaknya telah memiliki lebih dari 60.000 gelang siap guna.

Gunakan Aplikasi Cheetah, Pemilik Restoran Independen di AS Kembali Bergeliat

Selama masa pandemi Covid-19 ini sudah melumpuhkan banyak industri restoran. Tak hanya merumahkan para pekerja mereka karena pendapatan yang kurang, tapi juga menutup gerai-gerai yang ada. Ini tidak hanya terjadi pada restoran besar, tetapi restoran independen atau yang berdiri sendiri pun juga sama.

Baca juga: 130 Kasus Virus Corona di Perancis, Museum Louvre Ditutup

Namun meski begitu, para pemilik restoran independen ini kemudian mencari cara untuk bisa mempertahankan dan menggaji para karyawan serta keberlangsungan hidup mereka. Tak hanya itu, para pemilik layanan antar persediaan restoran pun dihadapkan dengan gudang penuh makanan dan barang yang mudah rusak serta pesanan besar yang tiba-tiba dibatalkan.

Kisah demi kisah ini mengungkapkan dampak buruk Covid-19 pada industri restoran. Hal tersebut kemudian membuat mereka semua bekerja sama dengan Kostas Lazanas dari Opa! Travena Yunani di Dallas untuk memfilmkan dan mengedit seri dokumenter video yang akan memprofilkan pemilik restoran industri di seluruh negeri.

KabarPenumpang.com merangkum laman modernrestaurantmanagement.com (17/4/2020), nantinya setiap episode yang dipromosikan di jejaring sosial gabungan tersebut akan menggunakan tagar #TooSmallToFail dan #Cheetah4You, dan menyoroti pemilik restoran yang berbeda yang berbagi perjuangan pribadi mereka selama krisis ini. Serial perdana dimulai dari Julian Rodarte dari Beto & Son di Dallas yang merupakan restoran milik keluarga Meksiko yang buka setiap hari.

Setelah lumpuh, Julian dan sang ayah tidak dapat mempertahankan karyawan mereka dari yang dulunya 80 orang. Kini restoran tersebut hanya dikelola keduanya dan beberapa orang lain. Masa depan tak terhindarkan dan mereka harus menutup pintu karena pandemi ini.

Namun, begitu video Cheetah4You di atas ditayangkan perdana pada tanggal 21 Maret, segalanya mulai berubah untuk Julian. Masyarakat sekarang sadar bagaimana mereka dapat membantu dengan memesan makanan dan membeli kartu hadiah. Pesanan mulai masuk dan tak lama kemudian Beto & Son dapat merekrut kembali 20 anggota staf mereka dan harapan terungkap bagi Julian dan ayahnya.

Serial berikutnya kemudian menawarkan makanan dan suplai grosir bagi yang membutuhkan. Seminggu sebelum penutupan, Shelter in place di California memutar bisnis untuk membantu produk lokal dan usaha kecil di Bay Area mendapatkan makanan serta pasokan penting mereka. Menawarkan Makanan dan Suplai Grosir bagi Yang Membutuhkan

Mereka kemudian menawarkan pemesanan makanan dan pasokan massal melalui aplikasi seluler Cheetah, yang telah dimodifikasi untuk melayani konsumen maupun bisnis. Ketika pemesanan dilakukan, pelanggan dapat memilih lokasi pengambilan terdekat untuk dipenuhi pada hari berikutnya. Persediaan diperbarui secara waktu nyata sehingga pelanggan tahu bahwa apa yang mereka pesan akan tersedia untuk pengambilan.

Dua lokasi pertama adalah markas Cheetah di San Francisco dan gudang Shelter in place di Pleasanton, CA. Hugo Sanchez seorang pemilik kedai es krim di daerah Teluk yang disebut La Michoacana. Dia memiliki dua kembar prematur di rumah dan toko es krimnya ditutup tetapi dia menggunakan Cheetah untuk mendapatkan makanan dan persediaan untuk keluarganya, karena dia “takut pergi ke luar”.

Menggunakan layanan pengiriman restoran daripada bepergian ke toko grosir telah membantunya dan keluarganya. Ini adalah pengingat penting untuk melindungi kesehatan dan keselamatan keluarga dan teman-teman terutama mereka yang berisiko tinggi.

“Dua minggu ke depan adalah sangat penting … Ini adalah saat untuk tidak pergi ke toko kelontong, tidak pergi ke apotek, tetapi melakukan segala yang Anda bisa untuk menjaga keluarga dan teman-temanmu aman. Kami berharap dapat meredakan ketegangan yang dirasakan orang-orang terhadap COVID-19, itulah sebabnya kami beralih untuk menawarkan pasokan kami ke masyarakat umum juga,” ujar Dr. Deborah Birx.

Fred Parker pemilik Costa De Sol mengatakan, semua bisa menjadi kreatif dan margin yang sudah kecil sehingga satu-satunya cara bisnis ini dapat bertahan adalah dari penjualan makanan. Dia saat ini memiliki dua lokasi, satu di San Jose, CA yang dibuka sepuluh tahun yang lalu, dan lainnya di Santa Clara, CA dibuka hanya dua tahun yang lalu.

Fred memutuskan untuk menutup lokasi Santa Clara selama beberapa minggu pada awal pandemi karena itu terutama tempat makan siang untuk orang-orang yang bekerja di dekatnya. Apa yang tidak dia antisipasi adalah betapa sulitnya untuk kembali setelah tiga minggu ditutup.

“Sebelum krisis, kami berada di peringkat lima besar di DoorDash dan Uber Eats. Ketika kami menutup lokasi Santa Clara, itu menunjukkan kami ditutup dalam aplikasi sehingga kami melewatkan banyak pesanan. Sekarang kami dibuka kembali, kami harus mencoba dan mendapatkan peringkat kembali, jika tidak, tidak ada yang mau. tahu bahwa kami terbuka. Layanan pengiriman telah berlipat dua sejak wabah, tetapi kami melewatkan kesempatan itu selama tiga minggu, jadi sekarang kami bermain mengejar ketinggalan,” kata Fred.

Sementara itu keputusan Cheetah untuk langsung menjadi konsumen lepas landas. Sekelompok tetangga, komunitas, rumah pensiun, gereja, dan sinagoge, semuanya memesan makanan dan pasokan melalui Cheetah untuk pikap hari berikutnya. Dia mengatakan, mereka hanya memiliki dua lokasi di wilayah Teluk.

Cheetah mengajukan tawaran kepada Fred dengan mengubah tempat parkir Anda menjadi tempat pik-up Santa Clara untuk pelanggan Cheetah. Dengan tidak ada ruginya, Fred ada di kapal. Hanya beberapa hari, tetapi lokasinya di Santa Clara dibuka kembali dengan dua hingga tiga karyawan dipekerjakan kembali dan Fred dapat membantu komunitasnya, serta mempromosikan lokasinya yang kurang dikenal.

Baca juga: Dapati 72 Kasus Virus Corona, Kuwait Resmi Tutup Bandara Internasional Utama

Beberapa pelanggan Cheetah mendapatkan Salvador Pupusas dari Costa de Sol saat pengambilan, sementara yang lain memesan takeout dari Fred melalui Door Dash dan UberEats. Karena penjualan meningkat dan kehadirannya tumbuh, Fred berharap dapat mempekerjakan kembali lebih banyak karyawan segera untuk kedua lokasi.
Jangkauan kami telah mencapai restoran di seluruh negeri dan kami berharap dapat membantu lebih banyak selama krisis ini.

Ini Cara Unik Orang Indonesia Demi Pulang ke Kampung Setelah Pemerintah Larang Mudik

Pemerintah Indonesia mulai memberlakukan larangan mudik pada 24 April sampai 3 Mei 2020 dari daerah zona merah. Adanya pelarangan tersebut guna mencegah meluasnya virus corona atau Covid-19 ke berbagai daerah di Indonesia. Pelarangan mudik ini pun didukung oleh moda transportasi baik kereta, pesawat maupun kapal laut dan kapal ferry untuk penyeberangan.

Baca juga: Tanggapi Larangan Mudik, PT ASDP Akan Fokus Pada Pelayanan Angkutan Logistik

Moda transportasi ini pun kini hanya mengangkut barang logistik untuk kebutuhan dan angkutan penumpang disetop sementara. Namun meski larangan sudah ada tetap saja banyak yang melakukan kebohongan demi tiba di kampung halaman.

Warga +62 (sebutan untuk orang Indonesia saat ini) memiliki ide yang bisa dibilang tidak masuk akal agar bisa mudik dan berlebaran di kampung halaman ditengan pandemi yang meluas ini. Demi mudik ke kampung halaman, mereka bahkan ada yang rela naik truk barang atau mungkin masuk dalam bagasi bus antar kota antar provinsi (AKAP).

Mereka melakukan hal tersebut demi menghilangkan jejak dari pihak kepolisian yang menjaga di jalan perbatasan yang menuju ke arah Jawa Tengah maupun Banten. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, dengan adanya larangan mudik ini, masih banyak bus AKAP yang beroperasi membawa pemudik.

Bahkan banyak pengemudi bus yang mengaku tidak tahu adanya larangan mudik tersebut. Selain itu karena kurangnya pengawasan di daerah dan perbatasan wilayah. Bahkan ada beberapa gambar beredar di mana para pemudik ini duduk di dalam bagasi bus AKAP untuk bersembunyi.

Setelah melewati pos pemeriksaan nantinya para penumpang yang di bagasi akan naik ke dalam dan duduk di kursi setelah menjauh dari pos pemeriksaan. Selain itu, ada pula yang beredar gambar sebuah mobil di angkut dalam truk dan ditutupi dengan terpal diatasnya. Mobil ini layaknya barang yang diangkut dalam truk biasanya.

Di dalam truk itu juga ada pemilik mobil yang diangkut tersebut. Namun gambar itu belum jelas diketahui apakah baru-baru ini diambil atau sudah lama. Sebab gambar beredar setelah adanya larangan mudik.

Orang Indonesia memang tak habis akal, nah bagaimana dengan orang di luar negeri? Belum lama ini ada video singkat viral yang mengisahkan orang-orang Afrika yang akan bepergian keluar dengan sebuah mobil sedan yang hanya bisa di tumpangi paling banyak lima orang.

Tapi ternyata ketika ada pemeriksaan polisi dari jok belakang keluar lebih dari lima orang. Kemudian ketika polisi membuka bagasi mobil, banyak pria yang tiduran berhimpitan dan bertindihan didalamnya ketika di hitung sekitar tujuh sampai delapan orang.

Baca juga: Larangan Mudik Berlaku, PT KAI Hentikan Operasional KA Jarak Jauh dan Lokal

Sayangnya mereka semua harus ditindak untuk melaporkan data diri mereka. Nah, Indonesia berminat seperti ini? Atau mungkin ada cara lain yang mau di coba seperti naik dalam gerbong kereta barang secara sembunyi-sembunyi? Tapi mungkin lebih baik ikut aturan dari pada merasa sehat dan ternyata bawa virus ke kampung.

Filipina Bangun Kapal Penumpang dengan Teknologi Trimaran untuk Kurangi Emisi Karbon

Kapal-kapal yang berusia puluhan tahun di Filipina menjadi moda transportasi penting untuk memindahkan barang atau penumpang. Namun ternyata kapal-kapal tersebut sudah lama dianggap sebagai pencemar utama di wilayah keanekaragaman hayati ini dan menjadi kontributor emisi gas rumah kaca.

Baca juga: Pelabuhan Oslo Targetkan Kurangi Emisi Karbon Hingga 85 Persen di 2030

Karena hal ini maka di Filipina saat ini industri kelautan tengah berjuang mengurangi kadar sulfur bahan bakar minyak untuk memenuhi batas baru yang diberlakukan oleh Organisasi Maritim Internasional. Hingga akhrinya ada gagasan teknologi baru yang berupaya mengatasi masalah tersebut yakni trimaran yang merupakan kapal berlayar cepat dan menghasilkan sebagian kekuatannya dari ombak.

Dilansir KabarPenumpang.com dari mongabay.com (7/4/2020), transportasi laut dan udara di Filipina pada 2007 lalu menumbang 18 persen emisi gas rumah kaca di negara tersebut. Bisa dikatakan dua moda transportasi ini menjadi kontributor kedua terbesar setelah sektor energi. Jonathan Salvador, insinyur kelautan di belakang Metallica Shipyard mengatakan, di antara semua moda transportasi, pengiriman adalah yang paling ramah lingkungan.

“Dalam situasi negara saat ini, ada kebutuhan mendesak untuk perbaikan di industri maritim,” kata Salvador.

Setelah bekerja untuk perusahaan pelayaran asing dan melihat secara langsung bagaimana negara-negara Eropa memanfaatkan energi gelombang, Salvador terinspirasi untuk membuat kapal Filipina yang dapat meningkatkan standar pengiriman di negara tersebut. Dia mendapatkan dana dari Departemen Sains dan Teknologi (DOST) Filipina untuk proyeknya dan mulai membangun kapal di provinsi asalnya, Aklan.

Keputusan untuk mendanai trimaran 87 juta peso ($1,7 juta) adalah untuk meningkatkan pemberdayaan sains dan ekonomi di wilayah Visayas, kata Enrico Paringit, direktur Dewan Filipina untuk Industri, Energi, dan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Industri dan Energi (PCIEERD).

“Kapal cepat hibrida ini mengatasi kekhawatiran yang meningkat tentang peningkatan emisi CO2 melalui penggunaan pompa hidrolik yang memanen energi dari gelombang laut,” kata Paringit.

Kapal jenis trimaran akan mengubah gelombang menjadi energi melalui pompa hidrolik aksi ganda yang terintegrasi dalam outrigger-nya. Ketika pompa bergerak melalui gelombang, mereka menghasilkan listrik yang memberikan daya tambahan ke kapal, yang digerakkan terutama oleh motor bensin biasa. Parigit mengatakan, semakin kuat ombak yang ditemui kapal, semakin banyak kekuatan yang akan dihasilkan.

“Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi energi kapal sehingga tidak hanya hemat biaya tetapi juga ramah lingkungan. Teknologi multi-engine independen kapal dengan minimum kelas laut poros penggerak 3000 hp dikombinasikan dengan perangkat energi gelombang yang mampu menghasilkan energi hingga 300 kw per jam,” jelas Salvador.

Salvador mengatakan tujuannya adalah untuk membuat kerajinan itu cepat dan sangat efisien, itulah sebabnya mereka memilih desain multi-lambung. Dengan cara ini, ia akan memiliki konsumsi bahan bakar yang lebih baik dan emisi yang lebih rendah, kata Salvador, sementara mampu mengangkut penumpang dalam setengah waktu yang dibutuhkan ferry normal.

Setelah beroperasi, trimaran hibrida diharapkan mampu menampung lebih dari 100 penumpang, empat van dan 15 sepeda motor. Perjalanan yang lebih pendek juga berarti lebih sedikit sampah yang terakumulasi oleh penumpang; Filipina adalah salah satu sumber utama sampah plastik di lautan.

“Produksi sampah kami sangat buruk. Semuanya mengalir ke laut, ”kata Salvador.

Desain trimaran Salvador mengakui masalah pada bingkainya menggabungkan wadah minuman ringan daur ulang untuk membantu daya apung. Tetapi lebih dari menjadi pelopor dalam industri maritim lokal, tujuan proyek ini adalah untuk melatih para ahli lokal tentang desain dan konstruksi kapal, kata Paringit dari DOST, yang dapat memimpin jalan menuju lebih banyak inisiatif berbasis sains di masa depan.

Setelah prototipe selesai, Salvador mengatakan akan mengunjungi berbagai pulau di Filipina untuk mempromosikan teknologi hibrida, yang ia lihat sebagai kunci untuk mengakomodasi meningkatnya kebutuhan transportasi negara kepulauan sambil menyeimbangkan kebutuhan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Tujuannya adalah menyelesaikan konstruksi tahun ini. Begitu itu terjadi, Filipina akan menjadi “orang pertama yang menggunakan energi gelombang untuk trimaran,” kata Salvador.

Baca juga: Melancong Tanpa Emisi Karbon? Ini Bisa Dicoba!

Kemudian, ia bertujuan untuk menstandarisasi model, tetapi pertama-tama, ia berencana untuk mengujinya di Boracay, pulau wisata paling populer di Filipina, yang juga di provinsi Aklan.

“Ini membawa perubahan signifikan pada industri perkapalan Ro-ro [roll-on, roll-off], mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menawarkan alternatif ramah lingkungan di sektor maritim,” kata Paringit.

Singapore Airlines Kirim A380 Ke ‘Kuburan’ Pesawat di Gurun Australia

Singapore Airilines (SIA) dikabarkan telah merampungkan proses pengiriman empat pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380 Alice Springs (ASP), sebuah Gurun Pasir, di antara Darwin dan Adelaide, Australia. Pesawat masing-masing diberangkatkan berjarak satu jam satu dengan yang lainnya dan menempuh sekitar lima jam lebih perjalanan ke ASP dari Bandara Changi.

Baca juga: Walau Nganggur, Pesawat Tetap ‘Merepotkan’ Petugas, Loh

Dengan begitu, SIA Group total sudah mengirim sembilan pesawat, dimana lima lainnya terdiri dari tiga Boeing 777-200ER milik Singapore Airlines serta dua Airbus A320 milik Scoot. Tahun lalu, maskapai SIA Group lainnya, SilkAir, juga pernah menitipkan enam unit pesawat Boeing 737 Max 8 di sana selama kurang lebih enam bulan.

Lokasi yang berada di antara utara dan selatan benua Australia tersebut selama ini memang lekat dengan label sebagai ‘kuburan’ pesawat. Meskipun tak se-ekstrem The Mojave Air dan Space Port di Gurun Mojave, Southern California, AS, Victorville, California, AS, dan Pangkalan Udara Davis-Monthana Air Force Boneyard, Tucson, Arizona, AS, namun, ASP masih menjadi primadona maskapai untuk menjadi tempat peristirahatan sementara pesawat.

Hal itu dikarenakan antara ASP dengan ‘kuburan-kuburan’ pesawat di AS memiliki ceruk pasar yang berbeda. Di AS, hanya pesawat yang hampir pasti sudah purna tugas yang digrounded. Sebaliknya, Alice Spring umumnya menampung pesawat-pesawat yang masih gagah. Hanya saja, karena satu dan lain hal, pesawat tersebut harus di-grounded dalam jangka waktu yang tak menentu, seperti yang terjadi pada SIA belum lama ini.

Dikutip dari Simple Flying, empat pesawat super jumbo dengan nomor penerbangan SQ8865 – 9V-SKT, SQ8866 – 9V-SKW, SQ8867 – 9V-SKY dan SQ8868 – 9V-SKZ yang berangkat dari Singapore Changi (SIN) menuju Bandara Alice Springs (ASP) tercatat masih dalam usia produktif, berkisar tiga hingga delapan tahun. Tentu saja pesawat tersebut masih sanggup memperpanjang jam terbang.

Belum jelas berapa lama armada A380 Singapore Airlines di-grounded di sana. Yang pasti, untuk jangka pendek ataupun panjang, ASP dinilai cocok untuk menggrounded pesawat. Terdapat banyak faktor mengapa hal itu terjadi, mulai dari jarak, iklim, hingga ketahanan permukaan terhadap beban pesawat.

Terkait jarak, Alice Springs terletak persis di tengah benua Australia atau beberapa ratus kilometer jauhnya dari ibu kota Sydney atau wilayah terkenal lainnya di Australia, seperti Melbourne, Adelaide, Brisbane, atau bahkan Perth. Namun dari Changi, ASP tergolong tak terlalu jauh bila dibanding tempat ideal lainnya. Wilayah Alice Springs dikelilingi oleh pedalaman gurun yang luas.

Praktis wilayah ini selalu kering dan sedikit hujan, tidak ada badai, angin Timur dengan kecepatan 13 km per jam, tingkat kelembaban relatif rendah, sekitar 25 persen. Kelembaban udara dinilai menjadi poin krusial mengapa ASP menjadi tempat ideal untuk menggrounded pesawat dibanding wilayah lainnya mengingat pesawat bisa saja menjadi korosi atau berkarat dibuatnya.

Suhu di Alice Springs juga tergolong stabil di angka 30 °C. Di musim panas atau gugur, panas ekstrem memang kerap terjadi, namun dalam jangka pendek hal itu tak terlalu berdampak negatif terhadap sistem elektronik pesawat. Ketika memasuki musim dingin suhu tidak terlalu ekstrem dibandingkan daratan Eropa bagian utara sehingga lebih bersahabat untuk pesawat. Aspek ideal lain dari daerah seperti ini adalah permukaannya cukup kokoh untuk menopang bobot pesawat besar.

Akan tetapi, meskipun tak beroperasi, pesawat tetap harus selalu berada dalam pengawasan petugas. Hal itu dilakukan agar pesawat tetap dalam kondisi prima dan siap digunakan kapanpun, seperti pengecekan pada sistem hidrolik, sistem avionik pesawat, sistem pendingin udara, mesin, ban, komponen elektronik yang jumlahnya begitu banyak dalam sebuah pesawat, dan bagian-bagian lainnya dalam waktu seminggu sekali.

Baca juga: Grounded Besar-Besaran Bikin Bandara Penuh, Haruskah Pesawat Parkir di Gurun?

Tak cukup sampai di situ, untuk mencegah menumpuknya debu serta burung yang bersarang, mesin serta bagian lain pesawat yang terdapat lubang, termasuk ban pesawat pun juga ditutup dengan kain, plastik, atau media lainnya. Interior pesawat juga tak luput dari perhatian. Selama pesawat digrounded, seluruh kaca pesawat ditutup dengan tirai. Fungsinya, akan sinar matahari tak masuk ke dalam dan membuat bagian dalam menjadi lembab. Lantai, in flight entertainmet, sistem penerangan, hingga sarung kursi pun juga tetap rutin dicek.

Kemudian, yang tak kalah pentingnya, bahan bakar pesawat juga harus dalam keadaan terisi penuh. Hal itu untuk mencegah terjadinya karat di bagian dalam tanki bahan bakar. Meski demikian, ketika pesawat hendak kembali dioperasikan, bahan bakar tersebut tetap harus dibuang dan diganti dengan yang baru. Sebab, layaknya bahan makanan, bahan bakar juga bisa ‘basi’ bila terlalu lama disimpan di tangki.

Di Singapura, Private Hire Car Bila Beroperasi Dianggap Ilegal dan Kena Denda $10 Ribu

Sebagai bentuk untuk mencegah penularan Covid-19, pengemudi mobil pribadi atau private hire car (PHC) di Singapura kini tak lagi bisa membuat pengaturan pribadi untuk menawarkan perjalanan di luar aplikasi ride hailing setelah daftar layanan penting berkurang pada 21 April 2020. Nantinya hanya GoJek dan Grab lah yang diizinkan untuk mengangkut penumpang dengan menggunakan aplikasi.

Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi

Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (23/4/2020), adanya hal tersebut membuat para pakar kesehatan menyambutnya dengan baik karena menjadi salah satu cara meredakan kekhawatiran tentang pelacakan kontak dan jarak yang aman selama perjalanan. Sebab tidak seperti pengaturan pribadi, wahana yang dipesan melalui aplikasi akan memiliki detail kontak pelanggan sehingga mereka dapat diidentifikasi melalui pelacakan kontak jika terjadi infeksi.

Namun, sebenarnya kekhawatir datang sebelum 21 April 2020, di mana pengemudi PHC masih diizinkan untuk menawarkan layanan carpooling secara pribadi di grup obrolan. Ini berarti beberapa penumpang dari rumah tangga berbeda berbagi mobil dengan pengemudi tanpa jarak yang aman.

Saat ini saja, Grab sudah menghentikan dua layanan carpoolingnya yakni GrabShare pada Februari lalu dan Grabhitch di awal April. Diketahui, platform carpooling terbesar ada sebanyak 56 ribu anggota yang merupakan grup obrolan Telegram SGHitch yang melihat ratusan penawaran dan permintaan untuk perjalanan setiap hari.

Saat carpooling dibuat ilegal, pelaku akan didenda hingga $10 ribu atau penjara hingga enam bulan dan grup obrolan ditutup. Tetapi segera dibuka kembali dengan peringatan bahwa carpooling ilegal dan anggotanya harus memutuskan sendiri apa yang harus dilakukan dengan informasi dalam grup obrolan.

Meskipun ada peraturan terbaru, grup obrolan, telah berganti nama menjadi Covid-19 Lockdown SG Hitch, masih aktif kemarin, dengan permintaan terus datang dari pengemudi dan pengendara. Dr Hsu Li Yang dari Universitas Nasional Singapura, Saw Swee Hock School of Public Health mengatakan bahwa sementara risiko infeksi tetap kecil ketika pengemudi menjemput penumpang tapi masih ada risiko.

Jika terjadi infeksi, wahana yang diatur secara pribadi mungkin akan meningkatkan jumlah kasus yang tidak terhubung karena pelacakan kontak akan lebih sulit karena pengemudi tidak mungkin memiliki rincian kontak dan sebaliknya. Dokter penyakit menular Asok Kurup mengatakan mengambil penumpang dari berbagai lokasi akan meningkatkan risiko infeksi di masyarakat karena mereka dapat membawa virus kembali ke rumah mereka.

“Ini akan bertentangan dengan langkah-langkah pemutus sirkuit yang telah dilakukan untuk mengurangi penyebaran virus jika orang-orang dari rumah tangga yang berbeda dapat dengan mudah berada di dalam mobil bersama melalui wahana ini. Adalah baik bahwa mereka (wahana yang diatur secara pribadi) tidak lagi diklasifikasikan sebagai layanan penting karena orang harus tetap berpegang pada platform ride hailing, sehingga lebih mudah untuk melacak kontak,” kata Asok.

Spesialis penyakit menular Leong Hoe Nam yang juga setuju dengan Asok, mendorong pengemudi untuk mematuhi aturan baru karena jumlah kasus yang tidak terkait tidak turun cukup cepat meskipun pemutus sirkuit sudah ada selama lebih dari dua minggu.

“Saya pikir untuk benar-benar memutus siklus infeksi, perlu kita mempererat interaksi kita dengan orang-orang, termasuk memiliki tumpangan karena penumpang tidak akan berada dalam jarak yang aman dari satu sama lain,” kata Leong.

Pengacara Chooi Jing Yen, mitra di firma hukum Eugene Thuraisingam LLP, mengatakan kepada TNP bahwa dalam keadaan normal, tidak akan ilegal bagi pengemudi PHC untuk menjemput penumpang di luar platform ride hailing mereka, baik itu perjalanan langsung atau halangan. Mereka akan diizinkan untuk melakukannya jika mereka ditunjuk sebagai layanan penting, tetapi tidak jelas apakah mereka akan melanggar undang-undang jarak jauh yang aman.

“Dengan langkah-langkah baru, selama perjalanan tidak dipesan melalui platform ride hailing seperti GoJek atau Grab, pengemudi ini akan mengoperasikan layanan yang tidak penting, dan itu akan melanggar hukum,” kata Mr Chooi.

Seorang juru bicara Grab mengatakan, pihaknya menyambut langkah-langkah baru yang diperketat untuk menghentikan semua pengaturan carpooling pribadi dalam suatu langkah untuk lebih melindungi kesehatan dan keselamatan semua orang, dan mendesak mitra pengemudi kami untuk mematuhi pedoman baru. Sebelum langkah-langkah baru diumumkan, GoJek telah mendesak pengemudi untuk menyediakan layanan naik kendaraan hanya melalui platformnya tidak hanya demi pelacakan kontak, tetapi juga untuk dukungan layanan ketika terjadi insiden.

Baca juga: Belajar Selama Empat Tahun, Pengemudi Taksi Jepang Fasih Berbahasa Inggris

Ketika diberi tahu bahwa pengemudi GoJek mungkin masih aktif dalam grup obrolan carpooling, juru bicaranya mengatakan, “Kami akan menyelidiki masalah ini dan mengambil tindakan jika diperlukan, yang dapat mencakup penangguhan dari platform kami.”

Singapura Ubah Changi Exhibition Centre Jadi RS Darurat Corona dengan Segudang Fasilitas Top

Singapura belum lama ini berhasil menyulap Changi Exhibition Centre menjadi RS darurat corona dalam tempo kurang dari tiga pekan. Area seluas 33.000 meter persegi yang biasa dijadikan venue Singapore AirShow tersebut terpaksa disulap menyusul lonjakan kasus positif Covid-19, khususnya klaster komunitas pekerja migran berpendapatan minim.

Baca juga: Sepi Penumpang, Singapura Bekukan Terminal 2 Bandara Changi Selama 18 Bulan

Sekalipun hanya berstatus RS darurat corona, namun fasilitas yang disediakan tergolong lengkap. RS darurat yang dikelola oleh hotel Mandarin Oriental Singapore ini setidaknya dilengkapi 52 jet blower untuk memastikan sirkulasi udara berjalan baik sekaligus menjaga suhu dikisaran 28 hingga 29 derajat celcius.

Tak ketinggalan, fasilitas yang diklaim lima kali lipat lebih luas dari RA darurat corona lainnya di D’Resort NTUC, di Pasir Ris tersebut juga dilengkapi dengan kipas angin, akses Wi-Fi berkecepatan tinggi, tempat tidur, lemari pakaian, dan akses gratis ke seluruh saluran TV. Kemudian, pasien juga disuguhkan dengan welcoming packs berisi hand sanitizer, deterjen, sikat dan pasta gigi, perlengkapan mandi, masker, tisu, botol minum, seprai, dan selimut. Ada juga fasilitas laundry, shower, toilet, serta perlengkapan dan peralatan medis yang dikelola oleh Raffles Medical Group.

Selain itu, setiap pagi dan malam sebelum jam istirahat, seluruh pasien akan dimotivasi untuk sembuh dengan kata-kata mutiara melalui corong-corong pengeras suara di seluruh sudut RS darurat corona Singapura. Hal itu diyakini dapat membantu meningkatkan sistem imun pasien dengan merangsang pikiran agar selalu berpikir positif. Direktur eksekutif Singapore Discovery Centre yang juga anggota Komite Infrastruktur dan Fasilitas, Joseph Tan, mengatakan, “Kami ingin memastikan bahwa penghuni yang tinggal di sini akan merasa senyaman mungkin,” katanya.

Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com, guna menjamin keselatan pekerja medis, sekaligus menekan penyebaran Covid-19 di RS darurat corona Singapura tersebut, pengelola menerapkan pengamanan berlapis meliputi tiga zona, hijau, kuning, dan merah.

Zona hijau berarti aman, dimana petugas paramedis dapat melenggang bebas tanpa APD. Zona kuning, titik checkpoint petugas hilir-mudik antara zona merah dan hijau, dimana petugas paramedis dilakukan pengecekan Personal Protective Equipment (PPE) atau Alat Pelindung Diri (APD) dan dilakukan penyemprotan seluruh barang-barang petugas, sebelum meninggalkan zona tersebut. Adapun zona merah, tempat dimana pasien berada, hanya bisa diakses oleh petugas dengan APD lengkap.

Pasien pertama yang menempati fasilitas tersebut dilaporkan telah dipindahkan pada Sabtu lalu. Kini sudah ada 50 pasien dengan gejala ringan di RS darurat corona tersebut. Ruangan di Changi Exhibition Centre yang sangat luas dipartisi menjadi kamar-kamar yang dapat menampung antara delapan hingga sepuluh orang. Fasilitas ini dilengkapi dengan monitor tekanan darah dan peralatan medis lainnya.

Pasien akan diminta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara mandiri sebanyak tiga kali sehari. Sebuah robot mirip anjing yang dikendalikan dari jarak jauh akan menyediakan makanan dan layanan telekonferensi agar pasien bisa berkonsulitasi setiap waktu dengan para dokter dan dibantu oleh satu orang perawat yang standby dilokasi untuk mengurangi kontak langsung.

Baca juga: Imbas Lockdown, Singapura Sediakan Kamar Hotel untuk Pengemudi dan Teknisi Bus Asal Malaysia

Pihak berwenang juga menguji coba seekor anjing robot berkaki empat yang dibuat oleh Boston Dynamics di fasilitas tersebut. Robot tersebut dapat digunakan untuk mengirimkan obat-obatan kepada pasien atau mengukur suhu tubuh mereka.

Sementara ini, RS darurat corona Singapura diklaim dapat menampung 2.700 pasien. Bila masih belum cukup, area seluas 75.000 meter persegi di bagian luar bangunan utama akan dikondisikan menjadi ruang tambahan pasien dengan kapasitas sebanyak 1.700 tempat tidur.

Airbus ‘Berdarah-darah,’ Karyawan Diminta Bersiap Kemungkinan Terburuk

CEO Airbus, Guillaume Faury belum lama ini memperingatkan karyawannya bahwa keuangan perusahaan tengah ‘berdarah-darah’. Hal itu disebabkan oleh anjloknya industri penerbangan, dimana, mayoritas keuangan maskapai di seluruh dunia tengah defisit dan hanya memikirkan cara untuk bertahan hidup, tidak untuk membeli pesawat baru. Oleh karenanya, produsen pesawat asal Eropa tersebut harus melakukan upaya efisiensi sambil melakukan sejumlah evaluasi prospek bisnis jangka panjang.

Baca juga: Wabah Corona Dorong Airbus Kirim Pesawat e-Delivery

Efisiensi yang dimaksud yakni berupa banyak hal, mulai dari pengurangan gaji, pengurangan karyawan, memangkas produksi hingga sepertiga, membatalkan rencana menambah jalur perakitan untuk A321 di Toulouse, sampai memperlambat proses pengembangan jet terbaru A220. Bahkan, Faury menekankan bahwa langkah-langkah efisiensi tersebut sama sekali belum mencapai puncak dan masih ada kemungkinan terburuk lainnya.

“Kami menggelontorkan uang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang dapat mengancam keberadaan perusahaan kami. Kami sekarang harus bertindak segera untuk mengurangi arus pengeluaran kas, mengembalikan keseimbangan keuangan, dan pada akhirnya, untuk mendapatkan kembali kendali atas nasib kita,” kata Faury dalam sebuah rilis, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari bloombergquint.com.

Sejauh ini, sebetulnya Airbus telah meningkatkan likuiditas perusahaan sebesar 15 miliar euro atau Rp252 triliun (kurs Rp16,613). Begitu juga dengan kompetitor abadinya, Boeing, yang masih dalam proses negosiasi dengan pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk paket stimulus keuangan. Namun, tetap saja, minimnya pemasukan dari bisnis jet komersial, yang notabene menjadi sumber pendapatan terbesar perusahaan, membuat keduanya tengah dalam masalah besar dan bersiap untuk melakukan PHK.

Airbus sejauh ini dilaporkan telah mem-PHK sebanyak 3.000 karyawan. Sedangkan Boeing, belakangan santer dikabarkan akan mem-PHK sebanyak 7.000 karyawan. Hal itu merupakan rangkaian efisiensi yang dilakukan Boeing, dari mulai mengakhiri kesepakatan perjanjian pembelian saham Embraer, produsen pesawat asal Brasil, senilai US$ 4,2 miliar atau setara dengan Rp65 triliun (asumsi kurs Rp 15.500/US$), hingga memangkas produksi Boeing 787 Dreamliner menjadi hanya setengahnya. Khusus untuk PHK karyawan, keputusannya baru akan diumumkan Rabu mendatang, bersamaan dengan laporan pendapatan kuartal pertama.

Baca juga: Boeing Atau Airbus? Simak Penjelasan Ini Dulu Sebelum Berikan Penilaian

Dengan batalnya pengusaaan saham Embraer oleh Boeing, otomatis, Airbus masih berada di atas angin untuk terus mengungguli produsen pesawat asal AS tersebut di pangsa pasar jet komersial berbadan sempit atau narrowbody. Hal itu dikarenakan Airbus lebih dahulu mengakuisisi Bombardier, produsen pesawat narrowbody asal Kanada, dengan kepemilikan saham sebesar 83,64 persen.

Namun demikian, keunggulan Airbus atas Boeing, saat ini dinilai tak terlalu penting untuk kelangsungan bisnis. Analis Melius Research, Carter Copeland, menilai yang paling penting untuk dilakukan dalam kondisi seperti sekarang ini adalah bertahan hidup, bukan mengungguli satu dengan lainnya. Adapun kunci untuk dapat terus bertahan adalah dengan menghemat uang tunai. Airbus dan Boeing diperkirakan telah mencapai rekor terburuk pada pendapatan kuartal I, dimana keduanya masing-masing kehilangan 6,5 miliar euro (Airbus) dan $8 miliar (Boeing).

10 Tips Buat Kenangan Liburan Selama Musim Pandemi

Menikmati liburan memang penting, biasanya ini dilakukan untuk melepaskan stres dan penat di tempat kerja. Bahkan dengan liburan pikiran akan menjadi lebih fresh dan ketika kembali kerja bisa lebih semangat lagi.

Baca juga: Hujan dan Banjir Nekat Liburan? Cek Tipsnya

Di masa pandemi saat ini, rencana liburan mungkin banyak yang batal dan mau tak mau harus menunda bepergian karena adanya pembatasan sosial berskala besar hingga tidak adanya kendaraan yang mengangkut untuk menuju ke tempat berlibur. Meski begitu ada beberapa tips yang bisa dimasukkan dalam rutinitas perjalanan ketika pandemi berakhir. Berikut beberapa tips yang dirangkum KabarPenumpang.com dari thestar.co.my (23/4/2020).

#1 Buat rencana perjalanan tertulis
Rencana perjalanan dibuat sedetil mungkin dari waktu penerbangan atau keberangkatan kereta dan kode reservasi hotel. Bila ada perubahan seperti tambahan lokasi, langsung ubah di dalam rencana perjalanan. Ini bisa di simpan dalam ponsel, laptop atau Google Documents. Catat nama restoran atau lokasi piknik untuk makan.

#2 Beri waktu untuk buat kenangan
Ketika berlibur, sempatkan diri untuk membuat kenangan dengan momen-momen tertentu yang jarang didapatkan di lokasi tersebut. Seperti pelangi atau yang lainnya.

#3 Sertakan kelas atau pertemuan
Bila rencana perjalanan juga ada kelas memasak, pertemuan foto, pembelajaran bahasa atau yang berhubungan dengan orang banyak, Anda bisa mengumpulkan alamat email dan kontak media sosial orang-orang. Dengan ini, Anda bisa berbagi satu atau dua foto yang tidak dibagikan ditempat.

#4 Ambil tatakan gelas atau alat tulis hotel
Disetiap penginapan ada tatakan gelas atau alat tulis. Ini bisa difoto atau Anda ambil sebagai kenang-kenangan.

#5 Ambil foto orang yang ditemui
Bila diizinkan, ketika berjalan-jalan sempatkan memfoto orang-orang. Seperti memfoto pelayan restoran, pengemudi taksi atau angkutan yang ditumpangi.

#6 Buat jurnal atau posting foto di media sosial
Jangan terlalu rajin menshare foto di Instagram Anda karena bisa membuat warganet lainnya bosan. Jika bisa menggambar, buat sketsa beberapa hal. Kalau tidak ambil dengan kamera menggunakan tripod.

#7 Kumpulkan info teks sebanyak mungkin
Ketika mengambil foto, jangan lupa dapatkan lokasi foto tersebut sehingga Anda bisa merekonstruksi rute perjalanan.

#8 Atur foto yang akan diposting
Karena tidak baik untuk memposting foto secara langsung dan terus-terusan. Sebelumnya pilih foto dan jangan lupa menyertakan tempat dan tanggal Anda bepergian. Baiknya seminggu sekali untuk mempost foto. Atau bila ingin memposting banyak foto sekaligus, baiknya diedit melalui aplikasi agar dijadikan satu kemudian baru dipost dalam satu kali.

#9 Cetak foto perjalanan
Tak hanya dipamerkan di media sosial. Saat ini juga masih banyak yang mencetak foto mereka dan di pajang di ruang tamu atau kamar untuk membuat memori bepergian. Tak hanya itu, bisa juga foto dipajang menjadi walpaper ponsel atau laptop.

Baca juga: Liburan di Bangkok? Ini Tips dari Tourism Authority of Thailand Biar Tak Salah Arah!

#10 Ulangi untuk diri sendiri
Jangan membosankan teman-teman dengan kisah perjalanan yang sama. Karena itulah cara Anda menjaga mereka tetap hidup. Bahkan, melalui beberapa keajaiban psikologi manusia, kisah-kisah itu menjadi lebih baik setiap saat.