Asyik Syuting “Around the World By Train” di Peru, Tony Robinson Terjebak Dalam Toilet Kereta

Tony Robinson bersama dengan krunya sudah memfilmkan “Around the World By Train” sejak Agustus 2019 lalu dan sudah tayang di siaran televisi. Dia melakukan hal ini karena kereta api semakin memukau dan mengejutkan dirinya. Saat ini mereka tengah bepergian ke Amerika Selatan untuk season atau musim kedua serial tersebut.

Baca juga: Ini Dia Pemandangan Lima Situs Warisan Dunia UNESCO yang Bisa Dinikmati dari Dalam Kereta

Namun pada saat perjalanannya di Peru dirinya hampir tersesat dan sendirian. KabarPenumpang.com melansir laman standard.co.uk (27/3/2020), saat itu dirinya terkunci dalam sebuah bilik toilet di kereta. Robinson mengatakan, dia terperangkap setelah menyadari kunci baru telah ditambahkan dan membuat yang lama tak bisa terbuka.

“Saya harus berada di sana selama seperempat jam, dan tidak ada kru dan produser dan direktur menyadari bahwa saya hilang dan mencoba menemukan saya. Suara kereta yang melewati rel begitu keras sehingga tidak ada yang bisa mendengarku,” ujarnya.

Dia mengaku hel tersebut membuatnya prihatin mengingat seberapa cepat mereka harus naik dan turun kereta apalagi dengan peralatan yang banyak. Dirinya pun berpikir bahwa ada kemungkinan semua orang berkonsentrasi memasang peralatan dan setelahnya baru menyadari Robinson tak ada di sana.

“Saat itu mungkin sudah terlambat dan aku akan meluncur lagi 200 mil ke arah stasiun kereta api berikutnya. Untungnya hal tersebut tidak terjadi,” ujarnya.

Dia mengatakan bahwa dirinya saat terkunci di toilet kereta menggedor-gedor pintu dan untungnya seorang petugas tiket mendengarnya dan berhasil berkomunikasi untuk membantunya keluar dari sana dengan beberapa pria yang membuka pintu dengan obeng. Diketahui, Robinson melintasi dunia dan mejelajahi lokasi-lokasi eksotis hampir dengan hanya kereta api yang dirinya gambarkan sebagai cara sempurna untuk bepergian.

“Subjek beberapa minggu terakhir tidak dapat dihindari dalam percakapan kami. Saya bertanya bagaimana perasaannya tentang acara yang tiba tepat saat semua orang dipaksa masuk ke dalam ruangan saat dikunci. Robinson mengatakan dia berharap seri ini memberi orang bentuk pelarian, sebuah perjalanan mengelilingi berbagai keajaiban dunia melalui kereta yang dapat diambil pemirsa dari sofa mereka,” kaya dia.

“Saya pikir itu sangat bagus bahwa Channel 5 telah memadamkannya sekarang. Ini semacam penanda dari apa yang kita semua inginkan untuk masa depan. Saya sangat menikmati perjalanan-perjalanan itu seperti yang Anda lihat, dan bertemu orang-orang yang menarik dan pergi ke tempat-tempat yang indah, dan mereka semua masih di luar sana, dan waktunya akan tiba mudah-mudahan di masa depan yang tidak terlalu jauh ketika kita semua akan menjadi bisa menjadi larky seperti saya di acara itu lagi dan saya ingin orang-orang dapat berbagi mata dan telinga dan hati saya saat saya melakukannya,” tambahnya.

Selain hambatan, perjalanan Robinson membawanya melalui beberapa pengalaman yang benar-benar luar biasa, dari membuat anggur di Porto hingga mendaki Machu Picchu bahkan bertemu serigala di Lingkaran Arktik. Tapi salah satu kesenangan terbesar dari seri ini adalah beragam karakter yang dia temui di sepanjang jalan, banyak dari mereka yang dia temui hanya dengan mendekati mereka dan memulai percakapan.

https://www.youtube.com/watch?v=u92P90aWqBQ

Robinson mengatakan itu adalah bakat yang ia kembangkan dari “selalu menjadi yang terkecil di kelas saya di sekolah. Perjalanan di Around the World By Train sangat menarik dalam keanekaragamannya, di enam episode, Robinson mengeksplorasi keajaiban alam dan antropologis, yang menawarkan potret bernuansa setiap tempat dan orang-orang yang tinggal di sana.

Baca juga: Sejak Dahulu, Jaringan Kereta di Arab Mudahkan Mobilisasi Jemaah Haji

“Sebagai pribadi, saya seorang generalis. Aku suka barang. Aku tidak peduli benda apa itu. Bisa geografis, historis, matematis, medis, saya suka benda-benda. Saya suka terlibat dengan hal-hal dan terlibat dengan orang-orang, dan saya telah mencoba untuk menjelaskannya dalam seri,” jelasnya.

Demi Hindari Covid-19, Wanita Skotlandia Cuci Semua Makanan Berbahan Plastik

Seorang wanita Skotlandia belum lama ini mengakui dirinya mencuci semua bahan makanan yang dibungkus plastik saat pandemi Covid-19 ini. Hal itu terjadi setelah seorang dokter di Amerika memperingatkan semua keluarga untuk meninggalkan produk mereka di luar selama tiga hari.

Baca juga: Beli Makanan Cepat Saji Lewat Drive-Thru Selama Pandemi? Ini Kata Para Ahli

selain itu juga membuang atau mendesinfeksi kemasan apa pun karena risiko infeksi yang kecil. Sebuah studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Madecine menunjukkan bahwa virus ini bisa bertahan di karsud selama 24 jam dan stainles steel serta plastik selama tiga hari.

Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.com (27/3/2020), wanita Skotlandia tersebut bernama Lisa Mackenzie. Dia membagikan foto di Twitter tentang cokelat batangan yang belum dibuka dan direndam dalam sebuah wadah yang berisi air sabun.

“Ini awal tahun 2020 dan kamu mencuci semua barang yang dibungkus palstik,” tulis Lisa pada foto yang diunggahnya tersebut.

Postingan itu bahkan sudah disukai lebih dari 100 kali dan ternyata banyak pengguna Twitter yang mengaku memcuci barang-barang yang dibeli dari supermarket. Salah seorang warganet mengatakan mereka melakukan hal itu sudah selama sebulan dan yang lainnya mengatakan mendapat kiriman Morrison dan semua tidak bisa dibersihkan atau dicuci dan menjemurnya diluar selama tiga hari untuk plastik dan kardus selama seharian sebelum semuanya masuk ke dalam lemari pendingin.

Seorang dokter Michigan telah mendesak orang untuk meninggalkan barang belanjaan mereka di luar selama tiga hari atau benar-benar mendisinfeksi setiap produk makanan.
Dalam video YouTube yang diposting pada hari Selasa (24/3/2020). Jeffrey VanWingen, seorang dokter di Family Medicine Specialists di Grand Rapids, memperingatkan pelanggan untuk lebih berhati-hati dengan kemasan makanan mereka.

Dia menyarankan cara terbaik untuk menghindari mengambil kuman dari bahan makanan Anda adalah membiarkannya di luar selama tiga hari sebelum menyentuhnya. Tetapi ketika ini tidak mungkin, dia menunjukkan bagaimana dia percaya orang harus membersihkan barang-barang mereka dengan mendisinfeksi setiap barang dengan tisu atau semprotan dan membersihkannya dari kemasan luarnya.

“Ini semua sepertinya memakan waktu, tetapi, sebenarnya, saat ini orang memiliki sedikit lebih banyak waktu di tangan mereka. Mari kita menjadi metodis dan aman, dan tidak mengambil risiko,” kata Vanwingen.

“Bayangkan desinfektan dan sabun itu, mereka memiliki kekuatan untuk melarutkan kilau itu,” tambahnya.

Namun, seorang profesor penyakit menular mengatakan risiko penularan melalui kemasan makanan rendah dan orang harus menggunakan akal sehat. Stephen Baker, dari Departemen Kedokteran di Universitas Cambridge, mengatakan virus tidak seperti bakteri karena tidak bertahan dengan baik di luar tubuh.

Halaman virus corona di situs web NHS juga mengatakan, sangat tidak mungkin menyebar melalui hal-hal seperti paket atau makanan. Baker menjelaskan risikonya ‘tidak nol’ ketika datang ke supermarket dan pengiriman makanan rumah, tetapi ‘relatif kecil’. Baker mengatakan roti yang diambil dari rak supermarket harus langsung dimasukkan ke dalam tas, dan disarankan untuk mencuci buah dan sayuran segar seperti biasa.

“Hal-hal yang ada dalam paket, saya akan mempertahankan tingkat akal sehat dengan pandangan bahwa mereka tidak mungkin membuat orang sakit,” katanya.

Baca juga: Peneliti: Virus Corona Bisa Bertahan Selama 7 Hari di Masker Bedah

Dia menambahkan bahwa tisu basah atau tisu alkohol dapat digunakan jika ada kekhawatiran. Baker mengatakan virus itu akan bertahan untuk jangka waktu tertentu pada pengemasan, tetapi tidak selamanya.

“Saya pikir kita tidak bisa sampai pada titik di mana kita mendisinfeksi setiap barang yang kita hubungi. Saya akan mengatakan tidak ada keharusan nyata untuk membuang kemasan lebih cepat daripada yang biasanya Anda lakukan, ‘katanya.

Gegara Corona, 21 Wilayah di Rusia Meminta Izin Akses Travell Pass Digital ala Moskow

Sebanyak 21 wilayah di Rusia meminta izin untuk travell pass digital sepekan setelah Moskow yang warganya terinfeksi virus corona memberlakukan sistem itu untuk tindakan penguncian dan memperlambat wabah mematikan tersebut. Pengenalan mereka datang di luar Moskow setelah pejabat kesehatan memperingatkan bahwa daerah-daerah yang tertinggal dari Moskow memasuki tingkat infeksi baru rata-rata dua hingga tiga minggu.

Baca juga: Otoritas Rusia Rilis Video Kecelakaan Sukhoi SSJ100 yang Tewaskan 41 Penumpang

Kota yang berpenduduk 12,5 juta ini sebanyak 55.799 orang telah terinfeksi virus corona dengan jumlah kematian sebanyak 547. Karena hal iitu, kota-kota lainnya di Rusia membutuhkan travel pass digital agar warganya bisa melintasi Moskow.

Dilansir KabarPenumpang.com dari themoscowtimes.com (23/4/2020), Walikota Moskow, Sergei Sobyanin yang juga menjadi pemimpin satuan tugas virus corona mengatakan hal tersebut. Dia menyebutkan bahwa sistem dapat diperluas untuk mengontrol pergerakan transportasi antar kota dan daerah.

“Saya percaya [sistem] dapat diperluas … untuk mengontrol pergerakan udara, kereta api dan antar kota dan transportasi bus antar-daerah,” kata Sobyanin.

Nantinya sebanyak tujuh kota yang ada disekeliling Moskow akan menjadi yang pertama terhubung ke travel pass digital tersebut. Sedangkan 14 daerah lainnya yang lebih jauh, dikatakan Kementerian Komunikasi seperti Kaukasus Utara, Siberia dan Timur Jauh akan memperkenalkan travel pass digital tersebut sekitar minggu depan.

Teknologi tersebut didasarkan pada aplikasi ponsel pintar yang digunakan di wilayah Moskow. Program percontohan kawasan ini telah mengeluarkan hampir satu juta pass penggunaan ganda dan membagikan sekitar 400 ribu pass penggunaan tunggal setiap hari.

Sobyanin memperingatkan bahwa rumah sakit daerah berisiko kehabisan tempat tidur dalam waktu tiga hingga empat minggu dengan tingkat infeksi saat ini.

Baca juga: Karyawan Airbus Banting Setir Jadi Relawan Medis Selama Pandemi Corona

Sistem pass di Moskow  mendapat dikritik pekan lalu, ketika rekaman menunjukkan kerumunan besar orang antri di luar pintu masuk stasiun metro ketika mereka menunggu untuk memeriksa pass. Rusia mengkonfirmasi 5.236 infeksi virus corona baru pada hari Rabu, sehingga jumlah kasus resmi negara menjadi 57.999.

Pemasangan Balok Jalur Kereta Cina-Laos Mulai Memasuki Tahap Akhir

Perusahaan patungan yang berbasis di ibu kota Laos, Vientieane yakni Laos-China Railway Co., Ltd. (LCRC) telah memasang semua balok jembatan super utama lintas Luang Prabang Sungai Mekong untuk kereta api Cina-Laos. LCRC mengatakan pada Kamis (23/4/2020) lalu, bahwa dengan T-beam pratekan 32 meter terakhir tetap stabil di dermaga.

Baca juga: Pekerja dan Bahan Didatangkan dari Cina, Proyek Jembatan Kereta di Bangladesh Terhambat

Pekerjaan memasang balok jembatan ini dilakukan oleh Grup Teknik No.8 Railway China (CREC-8) telah berhasil. KabarPenumpang.com melansir xinhuanet.com (23/4/2020), nantinya kereta api Cina-Laos akan melintasi Sungai Mekong dua kali ke utara ibu kota Laos kuno, yakni Luang Prabang yang jaraknya sekitar 230 km di utara Vientiane.

Balok-balok tersebut sudah mulai dipasang dari jembatan Luang Prabang dan selesai pada Juli 2019 kemarin atau lebih cepat tujuh bulan dari waktu perkiraannya. Sedangkan pemasangan balok T atau T-beam dimulai 9 April lalu.

Jembatan super besar Ban Ladhan-Mekong River yang juga dibangun oleh CREC-8 menutup balok kontinu pada 1 April. Jembatan Luang Prabang lintas-Sungai Mekong, sekitar 230 km utara Vientiane, memiliki panjang total 1458,9 meter dan terdiri dari 28 bentang balok-T dan enam bentang balok kontinu.

Ini adalah jembatan yang paling sulit dan paling rumit secara teknis di seluruh rel. Untuk memastikan keberhasilan penyelesaian akhir jembatan, departemen pembuatan dan pemasangan balok CREC-8 melakukan persiapan dengan hati-hati, merumuskan rencana konstruksi khusus dan memantau konstruksi secara cermat.

Menurut manajer proyek Zhang Jiahong, di tengah wabah Covid-19, departemen proyek di Luang Prabang telah melakukan pekerjaan pemasangan balok sambil memperhatikan pencegahan dan pengendalian epidemi. Mengambil keuntungan dari pengalaman pencegahan dan pengendalian epidemi di Cina, tim teknik dari Cina mengambil beberapa langkah, termasuk menerapkan secara ketat sistem manajemen produksi keselamatan, untuk berhasil menyelesaikan tugas pembuatan balok, pengangkutan dan angkutan sebelum musim hujan tiba.

Kereta Api Cina-Laos adalah proyek docking strategis antara Belt dan Road Initiative yang diusulkan Cina dan strategi Laos untuk mengkonversi dari negara yang terkurung daratan menjadi hub yang terhubung dengan daratan. Kereta ini akan berjalan disepanjang 414 km jalur, dengan terowongan 198 km dan jembatan 62 km.

Baca juga: Buktikan Kemandirian Rusia, Putin Resmikan Jembatan Kereta yang Hubungkan Rusia-Crimea

Kereta akan berjalan dari gerbang perbatasan Boten di Laos utara, berbatasan dengan Cina, ke Vientiane dengan kecepatan operasi 160 km per jam. Penyelesaian jembatan ini sendiri terlihat dari foto yang diambil dari udara dengan menunjukkan lokasi jembatan super utama lintas Luang Prabang-Sungai Mekong dari rel Cina-Laos.

Alitalia Evaluasi Keanggotaan SkyTeam Pasca Dapat Bos Baru

Flag carrier Italia, Alitalia, dikabarkan tengah mengkaji ulang keanggotaan SkyTeam. Keputusan tersebut merupakan bagian dari perombakan besar-besaran perusahaan pasca mendapatkan bos (investor) baru. Saat ini, maskapai yang sudah tidak ‘sehat’ sebelum wabah Covid-19 merebak itu tengah memasuki periode transisi dan untuk sementara waktu dipegang langsung oleh pemerintah. Diharapkan, proses transisi akan segera selesai dan wajah baru Alitalia dapat mengudara pada awal Juni mendatang.

Baca juga: Tiga Aliansi Maskapai Global Desak Pemerintah di Seluruh Dunia Cari Cara Agar Maskapai Tak Bangkrut

Dikutip dari Simple Flying, Alitalia diketahui mulai bergabung dengan SkyTeam, aliansi maskapai termuda dibanding dua aliansi lainnya, OneWorld dan Star Alliance, sejak tahun 2001 silam, tak lama setelah maskapai asal Republik Ceko, CSA Czech Airlines bergabung. Sejak saat itu, Alitalia mulai membangun jaringan Eropa-nya bersama CSA, Air France, dan KLM di bawah panji bendera SkyTeam.

Namun, rupanya, asam garam yang sudah banyak dilalui bersama SkyTeam tak jadi halangan pemilik baru untuk mengevaluasi keanggotannya. Bahkan, menurut media di Italia, kabar tersebut sudah hampir pasti akan terjadi, selain kabar lainnya terkait jumlah pesawat baru yang akan dioperasikan pada Juni mendatang, yakni hanya sebanyak 90 pesawat, dibanding kepemilikan saat ini 113 pesawat.

“Antitrust transatlantik berakhir pada 21 Mei, yaitu periode di mana tidak ada lagi codesharing dengan Delta dan maskapai SkyTeam (jika tak diperpanjang),” kata Menteri Pembangunan Ekonomi Italia, Stefano Patuanelli kepada wartawan saat ditanya terkait rencana evaluasi keanggotaan SkyTeam.

“Dalam situasi seperti sekarang ini, dengan melihat kondisi pasar, keluar dari keanggotaan (SkyTeam) tidak lagi menjadi masalah yang begitu menentukan (untuk masa depan bisnis) dan hal ini akan menjadi catatan para petinggi maskapai,” tambahnya.

Bila Alitalia benar memberanikan diri untuk mengakhiri keanggotaan SkyTeam, maka maskapai akan dihadapkan dengan beberapa konsekuensi. Salah satunya terkait codesharing. Delta Airlines, salah satu anggota SkyTeam, tidak akan lagi menjual tiket Alitalia di pasar Amerika. Begitupun juga sebaliknya, Alitalia akan menyetop menjual tiket Delta di pasar Italia.

Konsekuensi lainnya yang mungkin dihadapi Alitalia (baru) bisa jadi berkenaan langsung dengan penumpang. Selama ini, para penumpang bisa mendapatkan beberapa manfaat dari keanggotaan Alitalia di SkyTeam, semisal akses lounge yang lebih variatif, flight credit, dan status recognition dari maskapai lainnya sesama anggota.

Namun, tetap bergabung dengan aliansi bukan tanpa cacat. Selain terus-menerus mendapat tagihan sejumlah uang yang tak sedikit (selama menjadi anggota aliansi) dan lebih besar nominalnya dibanding manfaat yang didapat, Alitalia juga harus menampung award tickets dari maskapai lain sesama anggota. Awards tickets tersebut didapat penumpang dengan menukarkan miles dan poin mereka untuk bisa terbang dengan maskapai yang tidak pernah mereka beli tiketnya. Aneh, bukan?

Meski pun demikian, mengingat pentingnya beraliansi atau membangun jaringan, Alitalia pun berinisiatif untuk mencari dukungan dari aliansi lain. Sejauh ini, maskapai kenamaan Jerman, Lufthansa, santer dihubungkan kembali dengan Alitalia. Pasalnya, mereka memang pernah berencana untuk berinvenstasi di maskapai tersebut sebelum akhirnya kandas dan memutuskan untuk melanjutkan proyek strategis mereka.

Baca juga: Alitalia, Meski Sempat Terseok-seok, Inilah Maskapai Kebanggaan Negeri Pizza

Sekalipun Alitalia (baru) akan membukan diri untuk Lufthansa, begitupun juga sebaliknya, nampaknya skenario tersebut akan berjalan mulus. Sejauh ini, sinyal dukungan dari partai politik M5S bisa menjadi acuan pemilik baru untuk melanjutkan komunikasi dengan Luftahnsa.

Keluarnya Alitalia dari keanggotaan SkyTeam (jika benar terwujud) tentu akan menambah catatan maskapai yang keluar dari SkyTeam maupun aliansi lainnya dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, China Southern dan Air Europa telah lebih dahulu memutuskan cabut dari SkyTeam. Begitu juga dengan LATAM yang memutuskan hengkang dari OneWorld.

Wabah Corona Dorong Airbus Kirim Pesawat e-Delivery

Hampir seluruh negara memberlakukan pembatasan perjalanan atau penerbangan. Dalam kondisi tersebut, hanya penerbangan penting saja, seperti kargo, logistik, penerbangan repatriasi, petinggi negara, dan kebutuhan medis saja yang diizinkan terbang.

Baca juga: Boeing Atau Airbus? Simak Penjelasan Ini Dulu Sebelum Berikan Penilaian

Dalam kondisi tersebut, pengiriman pesawat sempat terkendala, tak terkecuali dengan Airbus, sebelum akhirnya produsen pesawat asal Eropa tersebut menerpakan skema pengiriman e-Delivery. Skema tersebut dasar pijakannya adalah protokol kesehatan, seperti kebijakan karantina wilayah dan physical distancing. Dengan begitu, proses pengiriman pesawat tetap berjalan lancar tanpa melanggar kedua protap tersebut.

“Serta memberikan cara kesinambungan bisnis yang aman selama krisis Covid-19 seperti sekarang ini, proses e-Delivery, terutama aspek digital kolaboratif barunya, yang memberikan peningkatan efisiensi alur kerja, fleksibilitas, transparansi, lebih aman dalam melakukan transaksi (di tengah wabah corona), dan secara keseluruhan sangat memudahkan pelanggan, menjadi blue print Airbus untuk menerapkan skema serupa di masa mendatang,” kata Airbus dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.

Sejauh ini, Airbus sudah menerapkan skema e-Delivery kepada satu pelanggan (Pegasus Airlines). Maskapai asal Istanbul, Turki tersebut belum lama ini disebut telah menerima tiga A320neo lewat skema e-Delivery. Diharapkan, pengiriman selanjutnya dapat segera dicapai lewat skema yang sama.

Dalam pelaksaannya, setidaknya ada tiga tahap untuk memuluskan skema tersebut. Tahap pertama adalah Technical Acceptance Completion (TAC). Biasanya, tahapan ini memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk memastikan kondisi pesawat dalam keadaan sempurna tanpa sedikitpun cacat sebelum benar-benar dikirim. Bila biasanya pihak maskapai melihat langsung, saat ini prosesnya bisa diwakilkan oleh perwakilan maskapai (biasanya orang lokal atau diwakilkan oleh Airbus sendiri).

Tahap selanjutnya adalah Transfer of Title (ToT). Pada bagian ini, Airbus telah mengembangkan platform terbaru yang juga dikenal “e-SalesContracts.” Software ini akan mengakomodir Airbus, pelanggannya, dan pihak-pihak penting lainnya dalam satu ‘meja’ yang sama untuk melakukan semua transaksi kontraktual. Dengan begitu tidak diperlukan adanya kontak langsung di kantor Airbus untuk menyelesaikan proses penjualan. Soal security, software tersebut tak perlu diragukan lagi kemampuannya.

Baca juga: Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona

Adapun tahap terakhir, setelah dua tahapan awal terpenuhi, maka proses selanjutnya adalah mengirim pesawat ke pelanggan. Dalam proses ini, maskapai memiliki dua pilihan, mengirimkan kru untuk menjemput pesawat atau menunjuk pihak lain menjemput pesawat, dengan menyesuaikan protokol kesehatan, dan mengirimkannya ke lokasi yang telah disepakati oleh maskapai.

Sebagai informasi, Kepala eksekutif Airbus, Guillaume Faury, pada akhir maret lalu pernah mengatakan bahwa pesawat yang masih belum diserahkan (backlog) cukup banyak. Bahkan, untuk backlog pesawat jet A320 dan turunannya, seperti A320neo, A321, 319, dan A318 jumlahnya mencapai 6.200 jet. Meskipun Airbus tidak telalu buka-bukaan terkait konsep pengelolaan overbooking, yang jelas, hal itu saat ini membuat perusahaan sedikit terbantu. Jadi, pengiriman Airbus A320neo baru-baru ini ke Pegasus Airlines tak terlalu mengherankan mengingat backlog pesawat tersebut cukup banyak dan harus terus dikebut.

Belajar Selama Empat Tahun, Pengemudi Taksi Jepang Fasih Berbahasa Inggris

Olimpiade Tokyo yang harusnya terlaksana tahun 2020 ini akhirnya harus tertunda karena pandemi virus corona yang menyebar di seluruh dunia. Hal ini membuat seorang pengemudi taksi di Jepang yang sudah belajar bahasa Inggris selama empat tahun menyesal karena memiliki sedikit kesempatan berbicara bahasa Inggris di tempatnya kerja.

Baca juga: Operator Taksi Jepang Buka Lowongan Jadi Pengemudi Asing, Tertarik?

Tetsunari Nayakama, pengemudi taksi di Tokyo ini belajar sendiri agar fasih berbahasa Inggris selama empat tahun. Dia belajar untuk memudahkan berkomunikasi dengan para pelancong yang akan menghadiri Olimpiade yang harusnya terlaksana pada 2020 ini.

“Saya menyesal karena hanya memiliki sedikit kesempatan untuk berbicara bahasa Inggris di tempat kerja sekarang. Saya berharap pandemi ini akan segera terkendali,” ujar Nayakama yang dikutip KabarPenumpang.com dari asahi.com (21/4/2020).

Nayakama mengatakan, dirinya belajar bahasa Inggris tepat setelah perusahaan taksi tempatnya bekerja yakni Yayoi Kotsu Company mendesak para pengemudi untuk meningkatkan keterampilan bahasa Inggris mereka. Karena hal ini kemudian dirinya lantas segera belajar bahasa Inggris agar siap ketika Olimpiade tengah berlangsung.

Namun sayangnya, meski sudah fasih berbahasa Inggris, Olimpiade harus tertunda hingga 2021. Tapi dirinya tak menyesal dan baru-baru ini bahkan menerbitkan materi pelajaran untuk membantu orang lain mengikuti jejaknya.

“Saya tidak pernah belajar ke luar negeri. Terakhir saya ke luar negeri adalah untuk perjalanan keluarga dan saat itu masih menjadi seorang siswa sekolah menengah pertama,” aku Nayakama.

Meski demikian ia tetap terus belajar sendiri dan mencoba berbicara dengan para penumpangnya dengan bahasa Inggris tanpa ragu-ragu. Bahkan salah seorang penumpang memuji dirinya karena lebih baik dari rekan bilingualnya. Dia mengaku saat belajar bahasa Inggris banyak kesulitan yang didapatnya dan akhirnya menemukan babarapa hal yang paling efektif untuk belajar.

Menurutnya salah satu yang bisa membantunya belajar bahasa Inggris adalah dengan membaca percakapan di artikel di majalah dan membaca sub title bahasa Inggri di film atau drama. Bahkan tak segan dia menuliskan ekspresi penting di buku catatan dan membuat rekaman tentang dirinya yang berbicara dalam bahasa Inggris yang kemudian didengarkan berulang kali.

“Mendengarkan adalah yang paling sulit karena penutur bahasa Inggris tidak peduli jika Anda mengerti apa yang mereka katakan. Ada dua alasan mengapa Anda tidak bisa memahami bahasa Inggris dengan lancar: Mungkin Anda tidak tahu arti kata-kata itu, atau Anda tidak memahami suara kata-kata yang terus-menerus,” tambahnya.

“Jika Anda belajar banyak ekspresi dan dapat berbicara bahasa Inggris, keterampilan mendengarkan Anda juga akan meningkat.”

Nakayama berpikir kemampuanya meningkat secara dramatis setelah menggunakan situs web gratis di mana dia mengajar bahasa Jepang kepada penutur asli bahasa Inggris dan, sebagai imbalannya, dia belajar bahasa Inggris dari mereka. Setiap kali dia menyelesaikan pelajaran online, dia merenungkan bagaimana menggunakan ekspresi yang lebih baik, dan kemudian meninjau pelajaran secara penuh.

“Setiap hari saya menikmati pelajaran dan, tentu saja, saya meningkatkan keterampilan saya dengan sangat,” ungkapnya.

Baca juga: Sokong Mobilitas di Olimpiade Musim Panas 2020, Jepang Uji Coba Taksi Otonom Pertama di Dunia

Pembelajar cepat memasukkan sarannya ke dalam tulisan, menerbitkan buku instruksi pada bulan September tentang pengalaman dan metode untuk belajar bahasa Inggris. Pada Oktober 2018, ia berkompetisi dalam “Kontes Omotenashi Inggris (keramahtamahan),” yang diadakan oleh kelompok industri, di mana para kontestan dinilai tentang seberapa ramah mereka dalam memberikan layanan taksi kepada orang asing. Nakayama memenangkan penghargaan tertinggi, mengalahkan penerjemah berlisensi dan orang-orang yang telah belajar di luar negeri.

“Banyak orang Jepang ragu untuk membuat kesalahan karena mereka malu karenanya. Tapi saya tidak peduli,” katanya.

1001 Fungsi Landasan Pacu Pantai Depok, Mulai dari Spot Prewed Hingga Wadah Komunitas Aeromodeling

Landasan pacu atau runway lazimnya digunakan untuk kegiatan-kegiatan kedirgantaraan. Namun, lain halnya dengan landasan pacu Pantai Depok, Yogyakarta. Landasan pacu yang saat ini disebut dikelola oleh komunitas aeromodeling di Kota Pelajar tersebut, Federasi Aero Sport Indonesia (FASI), sudah sejak beberapa tahun belakangan kerap dijadikan spot pre-wedding, loh. View pantai selatan, deburan ombak, semilir angin, panorama, serta landskap jalan landasan yang mengecil di ujung menjadi background sempurna untuk momen se-indah prewed. Baca juga : Juancho E. Yrausquin Airport, Bandara Terkecil dengan Runway Terpendek di Dunia Selain itu, dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, landasan pacu yang berada di sisi timur Pantai Depok, Bantul ini juga kerap digunakan untuk event tahunan FASI DIY dan Lanud Adisucipto, salah satu yang ternama adalah Jogja Air Show yang pada tahun ini semestinya bakal dilaksanakan pada 20-22 Maret. Namun sayang, harus tertunda akibat Covid-19. Kegiatan-kegiatan lainnya juga tak mau ketinggalan untuk memanfaatkan landasan atau kawasan sekitar landasan ini seperti pecinta motor drag, komunitas fotografi, komunitas sejarah, kepemudaan, dan kegiatan lainnya yang tak tersorot media. Pesona, akses, dan tiket masuk terjangkau, berkisar Rp5 ribu dan parkir kendaraan roda dua sebesar Rp 2 ribu, serta Rp 5 ribu untuk roda empat, membuat banyak kalangan tak sungkan menjatuhkan pilihan ke tempat ini sebagai lokasi kegiatan mereka. Saat ini, landasan pacu yang juga pernah dijadikan venue festival lampion Lanterne Festival De Paris (LF de Paris) pada akhir Agustus tahun lalu tersebut hanya memiliki panjang landasan sekitar 800 meter. Oleh karenanya, atas kerjasama sejumlah pihak dan tentu saja Pemerintah Daerah (Pemda) DIY, landasan akan dikembangkan menjadi sekitar 1.500 meter. Tujuannya, agar semua pesawat latih dari berbagai komunitas aeromodeling dan instansi terkait bisa lepas landas maupun turun landas di fasilitas ini. Hal lainnya, bila landasan pacu Pantai Depok dikembangkan menjadi 1.500 meter, maka bukan tidak mungkin pelaksanaan Jogja Aii Show akan dilakukan lebih dari sekali dalam setahun. Event-event serupa juga sangat mungkin dilakukan, seperti komunitas drone, dan lain sebagainya. Namun demikian, landasan pacu Pantai Depok, Bantul sebetulnya sempat terusik dengan kehadiran Bandara Internasional Kulonprogo. Kala itu, rekomendasi dari Kantor Otoritas Bandara Wilayah III memutuskan landasan tersebut untuk dipindah. Beruntung, Lanud Adisutjipto Jogja tegas mempertahankan keberadaan Landas Pacu Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) DIY yang terletak di kawasan Pantai Depok, Bantul. Sebab berdasarkan kajian KKOP, landasan tersebut tidak akan mengganggu Bandara Kulonprogo. Danlanud Adisutjipto Marsma TNI Yadi I. Sutanandika menjelaskan untuk menentukan aman atau tidak harus ada hasil kajian Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP). Dalam hasil kajian yang sudah dilakukan, kata dia, bahwa ada beberapa kategori landasan mulai satu, dua dan tiga. Tetapi pada intinya untuk calon Bandara Internasional sekelas Kulonprogo nantinya, KKOP sudah berjarak 15 Km radius dari ujung-ujung landasan dengan ketinggian tertentu. Baca juga : Unik! Qamdo Bangda Airport Punya Runway Terpanjang di Dunia dengan Cuaca Ekstrem Hampir Sepanjang Tahun “Kalau sudutnya sekitar 2% dari jarak, jadi kalau jaraknya 5 Km ya 5% dari 5 Km itu merupakan sudutnya. Nah Depok yang digunakan untuk olahraga Fasi tidak seluas KKOP untuk Bandara Kulonprogo,” katanya kepada awak media.

Pelaku Pembajakan Bus Ditembak Mati Polisi Texas

Seorang pria dengan membawa senjata api membajak sebuah bus umum di Texas pada Minggu (19/4/2020) dan membuat pihak kepolisian selama satu jam mengejarnya ke beberapa kota. Dalam pengejaran tersebut tiga orang petugas terluka dan pelaku ditembak mati.

Baca juga: Bus Dibajak, Lima Orang Pejalan Kaki Tewas Tertabrak

KabarPenumpang.com melansir laman kimt.com (19/4/2020), pria tersebut bernama Ramon Thomas Villagomez. Dia saat itu naik bus Dallas Area Rapid Transit di Jalan Buckingham sekitar pukul 11 pagi waktu setempat. Di dalam bus ternyata sudah ada satu penumpang yang naik di Richardson, Texas.

Setelah dirinya naik, Villagomez melepaskan tembakan dan menghancurkan beberapa jendela dan menuntut agar pengemudi terus melajukan bus tersebut tanpa menyebutkan arah yang jelas. Saat Villagomez tak memerhatikan, pengemudi bus memberitahu polisi transit.

Dalam aksi pengejaran tersebut, bus melalui beberapa kota di Willayah Dallas-Fort Worth yakni Richardson, Garland, Rowlett dan Rockwall atau total jarak tempuh sekitar 30 mil atau 48,2 km. Juru bicara agen transit, Gordon Shattles mengatakan, pengejaran tersebut dilakukan oleh beberapa departemen kepolisian yang menanggapi hal tersebut dan kemudian baku tembak pun terjadi.

Dua orang petugas dari departemen Transit Cepat Area Dalls dan satu dari departemen kepolisian Garland tertembak. Untungnya luka ketiga polisi tersebut tidak mengancam jiwa mereka.

Pengejaran bus berakhir sekitar setengah hari saat bus melewati paku di jalan raya Rowlett, Texas. Villagomez keluar dari bus dan beradu tembakan dengan pihak kepolisian. Kemudian polisi Garland mengatakan Villagomez dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal karena luka tembakan.

“Pengemudi bus dan seorang penumpang lainnya tidak terluka,” kata Shattles.

Diketahui, awal pengejaran tersebut karena Villagomez merupakan tersangka dari kasus pembunuhan kekasihnya di San Antonio. Selain itu, juga melakukan serangan yang diperparah dengan tuduhan senjata mematikan di Kabupaten Brazoria setelah dituduh menyerang seorang kerabat.

Baca juga: Prank Positif Covid-19 di Dalam Bus, Mahasiswa Ph.D Hampir Dipidanakan

Saat insiden Dallas County saat ini berada di bawah perintah tetap di rumah karena pandemi virus corona, yang berarti penumpang pada rute ini jauh lebih rendah dari biasanya.

“Fakta bahwa ini terjadi pada saat ini, bisa jadi jauh, jauh lebih buruk,” kata Shattles.

Covid-19 Ubah Enam Hal di Industri Penerbangan, Nomor 4 Bikin Geleng-geleng!

Transporatasi udara menjadi salah satu sektor yang paling terpukul akibat wabah virus Cina. Menurut data dari Airport Council Internasional, lalu lintas penumpang pada 2019 meningkat menjadi 8,8 miliar dibanding tahun lalu dengan persentase peningkatan sebesar 6,4 persen. Sementara pengiriman kargo udara meningkat 3,4 persen.

Baca juga: Nasib Malang Airbus A380, Tak Dilirik Jadi Angkutan Kargo Gegara Empat Alasan Ini

Pada tahun 2020, sebelum Covid-19 mewabah, Airport Council International (ACI) World memperkirakan akan ada sekitar 9,5 miliar perjalanan udara di seluruh dunia. Namun, belakangan, lembaga yang berbasis di Montreal, Kanada itu memprediksi terjadinya penurunan sekitar 3,6 miliar perjalanan. Menariknya lagi, ACI juga memprediksi bahwa dibutuhkan setidaknya 18 bulan untuk kembali ke kondisi normal layaknya sebelum pandemi Covid-19 menyerang. Tentu menjadi sinyal negatif bagi maskapai di seluruh dunia bila prediksi tersebut benar adanya.

Akan tetapi, terlepas dari semua keadaan dan prediksi buruk di atas, sebetulnya, selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian. Selalu ada hal baik di balik hal buruk (musibah), tak terkecuali di industri penerbangan dalam menyikapi pandemi virus Cina. Dikutip dari futuretravelexperience.com (FTE), pandemi corona setidaknya telah mengubah enam hal, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Berikut ulasannya.

1. Physical Distancing
Selama wabah corona berlangsung, perjalanan udara terus menurun. Penyebabnya sebagian besar diakibatkan oleh kebijakan lockdown atau pembatasan perjalanan di hampir seluruh negara, ekonomi anjlok, dan ketakutan penumpang terhadap corona itu sendiri. Ketakutan penumpang inilah yang diprediksi akan terus dikelola oleh maskapai.

Salah satu caranya tentu saja memperpanjang kebijakan physical distancing di dalam kabin selama penerbangan sampai keadaan benar-benar kembali normal dan psikologi penumpang dapat ter-manage dengan baik. Hal ini mungkin akan berdampak dengan pengalaman end-to-end penumpang.

2. Otomasi Makin Gencar
Mayoritas maskapai dan bandara sudah merencanakan proyek transformasi digital sebelum pandemi Covid-19 melanda. Rencana-rencana tersebut sebagian dipercepat untuk mengurangi interaksi antar manusia melalui media robot, mesin otomatis, hingga teknologi biometrik yang salah satu fungsinya memungkinkan dihilangkannya proses kepabean atau imigrasi. Sebagian lainnya diprediksi akan makin digencarkan ketika pandemi berakhir.

3. Kebersihan Kabin Jadi Sorotan
Kebersihan menjadi salah satu syarat mutlak untuk membebaskan kabin dari paparan virus Cina. Oleh karenanya, maskapai dunia pun ramai-ramai ‘memamerkan’ prosedur kebersihan mereka untuk mencapai itu. Beberapa di antaranya bahkan tak sungkan menggunakan teknologi terkini, seperti robot GermFalcon (yang diklaim mampu membunuh 99 persen virus dengan teknologi sinar UV). Muara dari propaganda tersebut tentu saja semata agar penumpang percaya kepada maskapai untuk menjadikannya andalan ketika bepergian selama wabah berlangsung.

4. Tren Online
Pembatasan perjalanan telah mendorong masyarakat semakin memasifkan tren belanja berbasis daring atau online. Setidaknya, hal itu dapat terlihat dari kekayaan CEO Amazon yang terus meningkat di tengah melorotnya ekonomi. Selain itu, Amazon juga mengaku membutuhkan banyak karyawan untuk mendukung lonjakan bisnisnya.

Namun, apa hubungannya dengan maskapai penerbangan? Bagi sebagian orang, belanja mungkin tak kenal waktu dan tempat. Sebab, lewat digital semuanya sudah dalam genggaman. Karenanya, fenomena tersebut mungkin akan coba difasilitasi oleh maskapai sekalipun dalam perjalanan di atas udara. Dengan dukungan WiFi onboard, penumpang dimungkinkan untuk tetap berbelanja.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

5. Kolaborasi Jangka Panjang
Diakui atau tidak, persaingan bisnis dan kepentingan antar maskapai, aliansi maskapai, dan lembaga penerbangan internasional membuat arus pertukaran informasi demi kelangsungan bisnis penerbangan yang lebih baik macet. Dengan adanya pandemi virus corona, disadari atau tidak, semua sekat-sekat tersebut hilang, semata untuk menyatukan kekuatan melawan wabah Covid-19. Contoh nyata dapat dilihat dari Airbus dan Boeing yang memutuskan merger, demi kelangsungan bisnis jangka pendek dan panjang.

6. Perhatian Besar Garda Terdepan
Selama ini mungkin garda terdepan, seperti petugas counter check-in dan awak kabin satu dengan yang lainnya atau hubungan mereka dengan manajemen terdapat gap cukup jauh. Namun, adanya pandemi, membuat maskapai mau tak mau memusatkan perhatian ke mereka sebagai bagian dari menarik kepercayaan penumpang.