Penuhi Persyaratan, Transport for London Siap Harmonisasikan ‘Nada’ di Bus Listrik

Terhitung sejak tahun 2020 mendatang, beberapa bus listrik di London akan menghasilkan suara buatan saat beroperasi di kecepatan rendah. Suara ini diciptakan cukup spesifik, dimana dipercaya akan memberikan suguhan luar biasa kepada setiap pendengarnya di jalan. Adapun suara-suara yang dinilai menakjubkan ini diciptakan oleh Zelig Sound, perusahaan asal London yang dikabarkan sudah menjalin kerja sama dengan Transport for London sejak tahun 2018 silam.

Baca Juga: “Terlalu Senyap,” Transport for London Aplikasikan Suara Khusus Pada Bus Listrik

Adapun suara ini diperkenalkan sebagai tanggapan terhadap undang-undang terbaru dari Uni Eropa yang menetapkan bahwa semua kendaraan listrik (Electronic Vehicle/EV) harus menghasilkan suara buatan di saat mesin-mesin dari kendaraan jenis baru ini tergolong sangat sunyi – terutama ketika tengah bergerak di kecepatan minim. Ya, tentu saja hal seperti ada baik, dan ada buruknya. Baiknya adalah ketika kendaraan sudah tidak lagi menghasilkan polusi suara – sedangkan sisi buruknya adalah kendaraan minim suara semacam ini bisa saja menghasilkan satu ancaman bagi para pengguna jalan. Jika kurang waspada, bukan tidak mungkin jika para penyebrang jalan yang kurang waspada akan tertabrak karena tidak mendengar ada bus listrik di dekat mereka.

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman theverge.com (20/12), nantinya nada dasar yang akan dikeluarkan oleh kendaraan listrik ini adalah F# maj7, dimana nada ini dinilai lembut. Ketika bus mulai bergerak dari posisi berhenti, maka nada yang dihasilkan akan berubah ke C sebanyak tiga ketukan.

Di Uni Eropa, peraturan menyebutkan bahwa sebuah kendaraan harus mengeluarkan bebunyian yang setara dengan 56 dB ketika bergerak di kecepatan 20 km per jam. Hal ini ditujukan agar pengguna jalan yang ada di sekeliling kendaraan bisa mendengar – setidaknya lebih keras dari deru angin dan suara bising dari kendaraan lain.

Baca Juga: Dari London, Telah Meluncur Bus Tingkat Bertenaga Listrik Pertama di Dunia

Rencananya, otoritas transportasi bus di London akan memperkenalkan layanan ini secara bertahap di tahun 2020. Sebanyak 100 rute pertama di dalam London akan memasuki masa uji coba pada Januari hingga Juni, dimana selanjutnya rute akan diperluas pada masa selanjutnya.

Kota Gudeg Punya Resto Berkonsep Bandara yang Super Unik!

Selain enak, salah satu magnet kuat yang dapat menyedot pengunjung untuk bertandang ke sebuah restoran adalah konsep yang unik. Ya, lalu bagaimana jadinya jika sebuah restoran sudah memiliki konsep yang unik dan berbarengan dengan varian menu yang menggugah selera? Wah, bukan tidak mungkin jika resto ini akan dipadati oleh pengujung setiap harinya, ya!

Baca Juga: Lima Restoran ini Gunakan Body Pesawat Sebagai Lapak Jualannya

Jika Anda hendak mencari resto komplit semacam ini, datanglah ke Dusun Kadirojo I, Purwomartani, Kalasan, Sleman, dimana Anda akan menemukan Jogja Airport Resto (JAR). Jika dilihat dari namanya saja, sudah barang tentu konsep yang ditonjolkan dari restoran ini adalah seputar dunia penerbangan.

Tidak tanggung-tanggung, si empunya restoran menghadirkan sebuah pesawat narrow-body ber-livery-kan sejumlah karakter kartun lucu, seperti Minions dan Mike Wazowski dari film Monster Inc. Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman brilio.net, ‘perjalanan’ wisata kuliner Anda kaan dimulai dari area lobi, dimana Anda akan dilayani selayaknya seorang penumpang pesawat. Jika Anda hendak memesan makanan, Anda bisa melakukannya di Counter Check In – seperti yang Anda selalu lakukan sesaat sebelum mengudara.

sumber: brilio.com

Selesai memesan makanan, tiba saatnya untuk boarding alias masuk ke dalam restoran dengan menggunakan garbarata berlapis kaca pada bagian sisinya.

Oh iya, JAR ini menyediakan dua jenis kelas yang dapat dipilih – Ekonomi dan Bisnis. Perbedaan antar kelas ini tampak dari jumlah seat, fasilitas seat, dan juga harga paket makanan. Menurut laman sumber, untuk masuk kabin pesawat, Anda juga harus pesan paket makanan yang sudah ada di menu lho.

sumber: brilio.com

Ada tiga varian menu paket yang bisa Anda pesan, yaitu Paket Ndeso, Paket Kampung, dan Paket Melayu. Masing-masing dari paket tersebut terdiri dari berbagai makanan, mulai dari traditional food hingga western food. Harga menu paketnya Rp 160 ribu untuk empat orang, alias Rp40.000 per orang. Cukup ramah di kantong, bukan?

Sebagai informasi tambahan, boarding akan dilakukan setiap jam 11.00 WIB dan 13.30 WIB, kecuali jika ada rombongan yang pesan banyak seat, boarding bisa dilakukan saat itu juga.

Baca Juga: Pensiun dari Dunia Aviasi, Boeing 747 Disulap Jadi Restoran Mewah

“Sebetulnya dulu itu kita nggak punya pikiran ke konsep resto. Dulu kita beli pesawat itu untuk kargo. Cuma karena pemikiran kita lebih jauh lagi, saingan kargo kan banyak, makanya kami memutuskan tidak bergelut di bidang kargo. Akhirnya kita bergelut di bidang kuliner dan edukasi,” tutur manajer JAR, Ahmad menceritakan sedikit cikal bakal dari hadirnya resto unik ini.

“Kita juga bikin berbeda dengan resto-resto yang lain, konsepnya dibuat betul-betul seperti di bandara,” sambungnya.

Bagi Anda yang ingin ekslpor menu di luar paket, maka Anda wajib mencoba menu satuan yang dijual dengan harga berkisar Rp4.000 hingga Rp75.000.

Bagaimana, Anda tertarik mencobanya?

Langka! Ibu dan Anak Bekerja Sebagai Pramugari di Penerbangan yang Sama

Terbang bersama keluarga sudah biasa dilakukan ketika bepergian ke suatu tempat yang mengharuskan naik pesawat. Namun apa jadinya bila ibu dan anak perempuannya bekerja di maskapai penerbangan yang sama dan bekerja di jadwal penerbangan yang sama? Tenyata ada pasangan ibu dan anak asal Manila, Filipina ini bekerja di Cathay Pacific sebagai pramugari.

Baca juga: Delta Airlines Punya Pilot Sepasang Ibu dan Anak

Sang ibu Jessica Liwang yang sudah memiliki pengalaman terbang selama 25 tahun dan putrinya Christine Angel Calicdan mengikuti jejak sang ibu. Bahkan bisa dikatakan itu adalah keputusan terbaik yang pernah dibuat Angel. KabarPenumpang.com merangkum lama inquirer.net (31/12/2019), Angel mengatakan dirinya memandang sang ibu sebagai inspirasi terbesar menjadi seorang pramugari.

(inquirer.net)

“Memulai perjalanan baru ini tidak mudah, tetapi dengan bimbingan ibuku, semuanya berjalan lancar. Masih terasa tidak masuk akal bahwa saya bisa melihat dunia bersamanya dan kita memiliki kantor yang sama sekarang, 25 ribu kaki di atas tanah!” ungkap Angel.

Pramugari 27 tahun ini baru bekerja di Cathay Pacific tahun 2019 kemarin. Padahal Angel sendiri memiliki gelar sarjana dengan lulusan jurusan periklanan dari Universitas Santo Tomas.

“Saya terkejut tetapi pada saat yang sama gembira ketika putri saya Angel memutuskan untuk mengikuti jejak saya. Saya sangat senang dia akhirnya mengalami dunia perjalanan yang indah, terutama bertemu orang-orang dari berbagai belahan dunia dan belajar dari budaya mereka serta memiliki kepuasan diri sendiri dalam membuat perbedaan dan menciptakan pengalaman perjalanan yang baik untuk banyak hal,” kata Jessica sang ibu.

Ternyata sepasang orang tua dan anak ini sudah sering bertugas dalam penerbangan yang sama seperti ke India dan Italia. Angel mengaku dirinya merasa beruntung saat mulai bekerja di tim yang sama dengan sang ibu.

Angel mengatakan, tanggung jawabnya bisa begitu tersebar sehingga kru bekerja dalam tim yang lebih kecil untuk memastikan semuanya diurus. Tetapi, ketika dia sedang dalam penerbangan bersama ibunya, dia bercanda bahwa rekan-rekan pelayannya sedikit lebih baik padanya, mengetahui bahwa ibunya sedang memperhatikannya serta kru mereka yang lain.

Angel sendiri sudah melakukan penerbangan bersama Cathay Pacific ke Afrika Selatan, Milan dan India. Bahkan belum lama ini dirinya baru terbang dari rute Manila-Hong Kong-Boston pertamanya di Desember kemarin. Dia menikmati perannya dalam memastikan keselamatan penumpang sambil memberikan layanan prima sepanjang penerbangan 17 jam.

Setelah mendarat, ia menikmati sedikit budaya dengan mengunjungi Boston bersama keluarga besarnya, Bolandrin of Douglas, yang senang menyambutnya di Boston. Boston adalah kota yang menakjubkan, dan Angel mengalami serta belajar banyak selama persinggahan.

Dari pertama kali melihat salju dan belajar lebih banyak tentang Pesta Teh Boston yang bersejarah dan Jalur Kebebasan, hingga melihat landmark Fenway Park dan mengunjungi Universitas Harvard terdekat dengan makan siang di Harvard Faculty Club. Angel berharap untuk segera kembali ke Boston, tetapi dia tahu ada banyak halte dan kota lain untuk dinanti dan jelajahi.

Baca juga: Madeleine Schneider, Pilot Cantik yang Punya 1,1 Juta Followers Instagram

“Saya merasakan serangkaian emosi seperti bahagia, tertantang, di luar diberkati, termotivasi dan banyak lagi, tetapi yang terpenting, bersyukur. Bersyukur atas kesempatan untuk melihat dunia dan menyentuh kehidupan orang-orang dan bersyukur bisa mengikuti jejak seseorang yang sangat saya hormati,” katanya.

Tak Hasilkan Laba Banyak, Rasa Menu “Santan” AirAsia Berlebih dan Membuat Pengunjung Angkat Bicara

Restoran cepat saji yang bernama Santan milik AirAsia di Mid Valley Megamall di Kuala Lumpur belum bisa menghasilkan banyak. Padahal Santan yang dijual oleh maskapai berbiaya hemat (LCC) yang paling sukses di Malaysia ini cukup laku dalam penerbangan.

Baca juga: AirAsia Buka Restoran Darat di Mall Kuala Lumpur dengan Menu di Penerbangan

Karena laba yang dihasilkan oleh restoran Santan tersebut menurun, perusahaan ingin melakukan diversifikasi dan mengurangi bisnis penerbangan dari 80 persen menjadi 40 persen tahun 2025 mendatang. Kemudian akan menghadirkan makanan pesawat terbang menjadi inti visi yang dijual di darat. Bahkan AirAsia beberapa tahun ke depan berencana membuka lebih dari 100 restoran Santan baru.

“Setahun yang lalu, ketika saya pertama kali menyulap gagasan untuk mengubah pilihan makanan dalam penerbangan kami menjadi restoran cepat saji, semua orang berpikir saya gila. Ini juga seperti yang mereka pikirkan 18 tahun lalu ketika saya memulai maskapai,” ujar CEO AirAsia Tony Fernandes yang dikutip KabarPenumpang.com dari gulfnews.com (2/1/2020).

Ia mengatakan gagasan waralaba makanan cepat saji Asean pertama ini pada dasarnya tidak gila. Sebab kelas menengah Asia Tenggara yang berkembang semakin tertarik pada pilihan makanan yang beragam. Seperti gerai makanan cepat saji yakni McDonald dan KFC yang sudah menjamur dimana-mana.

Di Malaysia sendiri KFC dan Pizza Hut bahkan sudah membuka lebih dari seribu outlet dan menjadikan mereka sukses di kawasan ini. Masalahnya bagi AirAsia sendiri adalah pelanggan menang dalam industri restoran Asia Tenggara akan jauh lebih sulit untuk memenangkan penumpang dengan pesawat murah.

Bisa dikatakan dalam satu hal, Tony bisa saja salah membaca kompetisi. Gerai makanan cepat saji Amerika menjadi bagian kecil dari 167 ribu bisnis makanan dan minuman di Malaysia yang sebagian besar melayani makanan lokal.

Tak hanya itu, jika Santan ingin bersaing dengan makanan cepat saji lokal di Asia Tenggara banyak yang harus diperbaiki. Pasalnya sebuah keluarga dengan yang pada Sabtu kemarin memesan tiga hidangan Santan.

Baca juga: Dengan Santan, AirAsia Tawarkan ‘Restoran’ Cepat Saji dalam Penerbangan

Pengunjung tersebut ketika makan Laksa Nyonya Kari mengatakan, hidangan itu memiliki rasa yang diluar cabai, Nasi ayam Paman Chin terlalu asin dan berminyak. Sedangkan sate ayam saus kacang terasa kurang matang. Bahkan harga makanannya pun bisa dikatakan terlalu mahal yakni sekitar 16 Ringgit Malaysia atau US$3,26 dengan minuman atau lebih mahal 25 persen dari kombo ayam dan nasi di KFC.

Lebih ke Seputar Armada, Inilah “Fleet Cost” di Sektor Penerbangan Komersial

Ketika Anda mengudara dengan menggunakan maskapai apa pun, dengan tujuan ke mana pun, pernahkah terlintas di benak Anda, “Apakah pesawat yang saya tumpangi ini merupakan pesawat sewaan atau pesawat yang sudah dibeli lunas oleh maskapai?” Ya, sama halnya seperti kendaraan lain, pesawat juga bisa disewakan kepada pihak maskapai guna menjalankan sebuah rute penerbangan. Tentu saja, hal ini akan masuk ke dalam catatan pengeluaran perusahaan yang wajib diperhitungkan secara rinci dan tepat.

Baca Juga: Menilik Lebih Jauh “Direct Cost,” Komponen Pembentuk Biaya Operasi dalam Penerbangan

Jika pada pemberitaan sebelumnya telah disinggung tentang empat komponen yang membentuk biaya operasi dari sebuah penerbangan, dan menitik-beratkan pada komponen Direct Cost. Kali ini kami akan membahas tentang komponen lain yang juga berperan dalam membentuk biaya tersebut, yaitu Fleet Cost. Kira-kira, apakah Anda bisa menebak peruntukkan dari biaya ini?

Ya, dari namanya saja sudah bisa ditebak – biaya ini dikhususkan untuk urusan armada pesawat. Jadi semisal pihak maskapai masih menggunakan pesawat sewaan, maka ada biaya yang harus dikeluarkan – begitu pula halnya dengan pesawat yang sudah sah dibeli. Dari apa yang sudah dibahas pada artikel terdahulu, Fleet Cost menyandang predikat sebagai biaya kedua tertinggi dengan presentase 28,81 persen.

Jika total cost yang harus dikeluarkan oleh pihak maskapai dalam jangka waktu satu tahun adalah US$3,1 miliar, maka besaran Fleet Cost yang harus dikeluarkan adalah US$882,5 juta.

Sama seperti Direct Cost, Fleet Cost juga memiliki komponen pembentuknya sendiri, hanya saja komponennya tidak sebanyak Direct Cost.

Berdasarkan data dari sumber terpercaya yang dihimpun KabarPenumpang.com dari salah satu maskapai dalam negeri, berikut adalah rincian presentase yang harus dikeluarkan pihak maskapai untuk Fleet Cost:

Lease: 26,64 persen
Depreciation: 1,88 persen
Insurance: 0,29 persen

Depreciation atau depresiasi ini berkaitan dengan penyusutan nilai dari suatu barang – dalam kasus ini adalah pesawat. Depresiasi sendiri memiliki dua sifat, yaitu non-cash cost (karena sebenarnya yang menyusut adalah nilai dari pesawat, bukan berarti perusahaan harus mengeluarkan dana) dan tax deductible (pajak yang bisa ‘disusutkan’).

Baca Juga: Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya!

Sedangkan Lease merupakan biaya yang harus dikeluarkan untuk penyewaan pesawat. Jika sebuah maskapai tidak memiliki pesawat sewaan, maka tidak akan ada presentase lease, dan presentasenya akan beralih ke depreciation, tentu saja dengan angka yang fluktuatif.

Tingkatkan Kenyamanan, Bandara Istanbul Larang Penjemput Bawa Kertas Penanda Jemputan

Salah satu pemandangan ‘wajib’ yang akan Anda lihat ketika keluar dari area khusus penumpang di bandara adalah ramainya para penjemput. Bahkan, tidak sedikit dari para penjemput ini yang juga membawa kertas bertuliskan nama si penumpang guna memudahkan proses pencarian. Memang, praktik penjemputan semacam ini lazim adanya, tapi tidak bagi Turki yang kabarnya siap menerbitkan regulasi terkait pelarangan dari para penjemput ini. Nah lho!

Baca Juga: Bandara Baru Istanbul Diharapkan Menjadi Aerotropolis

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman hurriyetdailynews.com (1/1), rencananya regulasi ini akan diberlakukan di Bandara Istanbul, dimana sejatinya pihak pengelola bandara perlu menghadirkan semacam satu titik temu yang modern dan berorientasi kepada para tamu. Hal tersebut diucapkan oleh pimpinan regional Bandara Istanbul, İsmail Şanlı.

“Bagian lounge section akan memudahkan penumpang untuk mencari penjemputnya, dan akan meminimalisir penumpang yang kebingungan ketika keluar dari terminal,” ujar İsmail.

Ya, terkadang kompleksnya situasi di dalam bandara dan papan penunjuk lokasi yang kurang jelas kerap membuat penumpang kebingungan – terlebih ketika itu adalah destinasi baru bagi si pengunjung. Bayangkan Anda ada di posisi si penumpang yang tersesat tersebut, wah tentu ini akan menguras tenaga dan bikin emosi, ya!

“Tertanggal 31 Desember, kami telah melarang penjemput penumpang yang masih menggunakan kertas bertuliskan nama penumpang,” sambungnya.

“Namun hingga tanggal 31 Maret, para pelanggar masih belum dikenakan denda,”

Nah, ternyata selain memikirkan soal kenyamanan dan pengalaman penumpang di Bandara Istanbul, penyediaan lounge ini juga akan meminimalisir praktik ‘backstreet agency’.

Jika dilihat dari istilahnya, backstreet agency ini merupakan agen perjalanan wisata bodong yang mungkin saja menawarkan paket wisata di Turki dengan harga selangit.

Baca Juga: Dalam Jumlah Pergerakan Penumpang, Bandara Soekarno-Hatta Unggul Tipis dari Changi

“Kami akan menilai pertemuan penumpang dengan penjemput yang masih menggunakan kertas tersebut sebagai backstreet agency,” tutup İsmail.

Jika memang langkah ini baik bagi para pelancong pendatang, bukan tidak mungkin jika langkah serupa akan diterapkan oleh otoritas bandara di Indonesia – terutama bandara internasional kenamaan seperti Soekarno Hatta di Jakarta dan I Gusti Ngurah Rai di Bali.

JAL Obral 50 Ribu Tiket Gratis untuk Sambangi Berbagai Kota di Jepang yang Jarang Disinggahi Pelancong

Tokyo, Jepang pada Musim Panas 2020 ini akan menjadi tuan rumah Olimpiade. Hal ini kemudian membuat maskapai milik Negeri Sakura tersebut Japan Airlines (JAL) membagi-bagikan 50 ribu tiket pesawat pergi-pulang domestik pada pelancong di awal musim panas mendatang.

Baca juga: Sokong Mobilitas di Olimpiade Musim Panas 2020, Jepang Uji Coba Taksi Otonom Pertama di Dunia

Tiket-tiket gratis ini dihadirkan oleh JAL dengan tujuan mendorong para pelancong untuk melihat sisi lain dari berbagai kota di Jepang yang jarang dikunjungi. JAL membuat pembagian tiket gratis tersebut juga memungkinkan pelancong untuk menghilangkan ketegangan Olimpiade Tokyo yang berlangsung 1 Juli hingga 30 September 2020.

KabarPenumpang.com melansir laman ccn.com (2/1/2020), JAL memberikan tiket gratis bukanlah tanpa syarat, tetapi pelancong harus terdaftar dari luar Jepang. Kemudian mengikuti program frequent flier Mileage Bank milik maskapai JAL.

Ketika pelancong sudah mendaftar, mereka tidak akan langsung tahu tujuan gratis yang didapat dan akan tahu hasilnya setelah beberapa hari. Ada empat lokasi wisata yang disiapkan JAL yakni keberangkatan dan kedatangan dari Bandara Haneda, Tokyo dan Bandara Utami serta Kansai Osaka.

Bila pelancong bepergian dengan keluarga, teman atau kerabat juga bisa mendaftarkan sebagai grup hingga empat orang. Nanti setelah memasukkan pendaftaran jawaban akan diterima sekitar tiga hari setelah apply data-data penumpang.

Pertandingan untuk mendapatkan tiket gratis tersebut akan dimulai 24 Juli hingga 9 Agustus 2020. Sedangkan Paralimpiade selesai pada 6 September. Kehadiran Olimpiade Musim Panas 2020 diharapkan efeknya akan membawa sepuluh juta pelancong tambahan ke negara itu di tahun ini.

Kedatangan pengunjung asing tahunan ke Jepang meningkat tiga kali lipat pada tahun 2013-2019 menjadi lebih dari 31 juta, dengan sekitar sepuluh juta berhenti di Tokyo. Rincian lebih lanjut tentang pemberian JAL akan dirilis pada awal Januari, dan aplikasi dibuka pada akhir Februari. Sebenarnya pelancong yang mendaftar pertama akan dilayani pertama.

Baca juga: Tingkatkan Keamanan Pra Olimpiade, Otoritas Jepang Akan ‘Geledah’ Hand-Luggage Penumpang

Persiapan final sedang berlangsung untuk Olimpiade, dengan Stadion Nasional baru di Tokyo yang merupakan tempat utama untuk Olimpiade. Ini akan secara resmi diresmikan pada 21 Desember dalam upacara bertabur bintang termasuk Pelari cepat asal Jamaika dan peraih medali emas Olimpiade delapan kali, Usain Bolt.

(Lagi) Powerbank Meledak di Penerbangan AirAsia Rute Kuala Lumpur-Hong Kong

Lagi-lagi insiden meledaknya sebuah powerbank di sektor aviasi global kembali terjadi. Kali ini menimpa salah satu penumpang dari maskapai berbiaya rendah asal Malaysia, AirAsia dengan nomor penerbangan AK130 yang mengoperasikan rute penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Hong Kong. Mengingat insiden ini terjadi di tengah penerbangan, maka sang kapten memutuskan untuk mengalihkan penerbangan dan melakukan pendaratan darurat di Ho Chi Mih, Vietnam. Kendati situasi sempat bikin jantung deg-degan, namun beruntung insiden ini tidak memakan korban jiwa.

Baca Juga: Tentang Kasus Power Bank Meledak di Kabin, Inilah Regulasi dari IATA Yang Wajib Dipatuhi!

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman soyacincau.com (31/12), kejadian ini berawal ketika semua penumpang masuk ke dalam pesawat dan siap untuk lepas landas menuju Hong Kong pada Rabu minggu lalu. Proses take-off berjalan lancar hingga pada akhirnya di tengah perjalanan, powerbank salah satu penumpang meledak dan membuat panik seisi kabin.

Kejadian ini sendiri diperkirakan terjadi pada pukul 17.25 waktu setempat. Menimbang sisi keselamatan, akhirnya awak pesawat menghubungi Bandara Internasional Tan Son Nhat yang ada di Ho Chi Minh guna meminta ijin untuk melakukan pendaratan darurat. Pendaratan pun berjalan mulus dan proses evakuasi langsung diterapkan.

Korban yang terdampak insiden ini langsung dilarikan ke Rumah sakit Cho Ray guna mendapatkan perawatan medis lebih lanjut – setelah sebelumnya mendapatkan penanganan medis ‘seadanya’ di bandara. Menurut laporan yang tersiar, korban mengalami luka bakar yang cukup signifikan sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Baca Juga: Kabin Airbus A320 Royal Brunei Dipenuhi Asap Tipis, Pihak Maskapai Sebut “Insiden Power Bank”

Terkait insiden meledaknya powerbank di maskapai AirAsia ini, pihak maskapai dan bandara langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pesawat, sedangkan penumpangnya terpaksa bermalam di Vietnam. Meninjau keselamatan, akhirnya penerbangan dilanjutkan dengan menggunakan pesawat baru.

Hanya jika AirAsia mempertimbangkan dan mengimplementasikan rencananya untuk melarang penumpang menggunakan powerbank selama penerbangan, maka bisa saja kejadian semacam ini tidak akan terjadi.

Bandara Terapung, Dari Sebuah Konsep Hingga Terwujud di Jepang dan Hong Kong

Belum lama ini PT Angkasa Pura I telah mencanangkan pembangunan floating airport di Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Bagi kebanyakan orang istilah floating airport masih terasa asing. Floating airport atau bandara terapung merupakan bandara yang dibangun di laut dengan perangkat seperti teknologi platform pneumatik stabil. Biasanya pembangunan bandara terapung ini dikarenakan masalah penggunaan lahan, polusi dan kebisingan pesawat terbang.

Baca juga: PT Angkasa Pura I Lakukan Topping Off Terminal Apung Bandara Ahmad Yani

Awalnya adanya pembahasan bandara terapung ini untuk penerbangan trans-Atlantik pada tahun 1930. Saat itu untuk melakukan penerbangan yang aman dengan teknologi akan dibuat delapan bandara.

Namun, untuk membangun delapan bandara ini bukanlah hal yang murah dan menghabiskan sebanyak US$12 juta atau sekitar Rp164 juta. Sayangnya gagasan bandara terapung ini terlupakan hingga tahun 1935.

Sebenarnya secara teori, masalah bandara di darat dapat diminimalisir dengan membangun bandara beberapa mil di lepas pantai. Dimana lepas landas dan pendaratan akan berakhir di atas air bukan di atas daerah dengan penduduk sehingga bisa mengurangi polusi suara dan mengurangi resiko kecelakaan pesawat terbang ke tempat tinggal penduduk di daratan.

Tetapi apakah bandara terapung menjadi kenyataan? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber di Jepang yang memiliki banyak keunikan ini ternyata punya lebih dari dua bandara di laut. Berikut ini ada beberapa bandaranya yang dibagun dengan teknologi yang berhasil diterapkan dan mengambil keuntungan dari sumber daya laut yang mengelilingi semua sisi jepang dan membangun pulau buatan.

1. Bandara Osaka-Kansai
Bandara Internasional Osaka-Kansai melayani area di kota yang penuh turis seperti Kyoto dan Nara. Bisa dikatakan, bandara ini merupakan bandara terapung yang paling terkenal. Bandara ini diperkirakan dibangun sejak tahun 1980an tak lama setelah bencana melanda bandara Narita. Bandara Kansai ini merupakan bandara tersibuk kelima di Jepang dan menjadi bandara terpanjang di dunia. Teknik yang digunakan pada bandara ini terbukti bisa melawan bencana alam, seperti gempa dahsyat yang mengguncang Kobe tahun 1995.

2. Bandara Nagoya-Centrair
Secara teknis, bandara ini merupakan bandara terapung ketiga di Jepang. Dibuka tahun 2005, menjadi bandara yang memiliki penumpang tertinggi setelah Osaka-Kansai. Tahun 2016 lalu, bandara Nagoya Centrair atau Central Japan menjadi bandara satu-satunya yang memiliki jadwal penerbangan dari ke Amerika Utara.

3. Bandara Kobe
Dibuka 12 tahun setelah Osaka-Kansai, Kobe adalah bandara yang lebih kecil dari Osaka. Bandara ini hanya melayani beberapa tujuan domestik. Ini dikarenakan Kobe merupakan bagian kecil dari Kansai yang besar. Penumpang internasional yang akan berangkat dari Osaka-Kansai bisa menggunakan kereta api dari bandara Kobe diseberang teluk.

4. Bandara terapung Khyusu
Pulau Kyushu adalah rumah bagi dua bandara terapung di Jepang yakni Nagasaki dan Kitakyushu. Bandara Nagasaki ini dibangun setengahnya diatas pulau sedangkan Kitakyushu duah dibuka tahun 2006 sama dengan bandara Kobe. Kedua bandara ini memiliki lalu lintas yang relatif rendah. Jadwalnya pun dari Kitakyushu hanya ke Tokyo dan Nagoya. Tetapi dari Nagasaki ada penerbangan menuju Seoul dan Shanghai serta seluruh kota di Jepang.

Jepang yang dikelilingi lautan ini tidak heran banyak proposal yang masuk untuk membangun bandara Tokyo menjadi bandara terapung. Terutama Megafloat yang akhirnya kandas tahun 20008 dan telah diajukan. Tidak jadinya pembangunan Megafloat tersebut dikarenakan Teluk Tokyo mudah terkena tsunami.

Di luar Jepang bandara terapung terkenal adalah Bandara Internasional Hong Kong yang dibuka tahun 1998 lalu untuk menggantikan bandara di kota Hong Kong yang padat. Hong Kong mengalami tantangan teknik yang jauh lebih sedikit dibandingkan bandara Kansai karena saat pembangunannya mempelajari hal-hal yang sulit dilakukan bandara Kansai.

Baca juga: Bantai Bandara Internasional Hong Kong, Topan Hato Batalkan 400 Penerbangan

Laut sendiri sebenarnya adalah batasnya, bagaimanapun dengan mengacu pada bandara terapung saat ini, bandara-bandara tersebut bisa saja tenggelam saat pendesainan. Apalagi jika kenaikan air laut terus berlanjut dengan kecepatan saat ini. Sehingga harus mengembangkan pendekatan yang sama sekali baru ke bandara pulau.

Konsep Bandara Terapung, Mungkinkah Terlaksana?

Tingginya angka permintaan penerbangan yang mulai meningkat dalam rentang beberapa tahun ke belakang membuat otoritas terkait memutar otak guna memenuhi permintaan tersebut. Beragam solusi juga coba dihadirkan, mulai dari membangun bangunan terminal baru yang mampu menampung banyaknya jumlah calon penumpang hingga merenovasi bangunan lama menjadi yang baru adalah dua contoh konkret dari meningkatnya permintaan penerbangan. Sebenarnya masih ada satu lagi solusi ‘gila’ yang bukan tidak mungkin untuk diimplementasikan di masa yang akan datang, yaitu konsep bandara terapung.

Baca Juga: 10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim

Mungkin beberapa dari Anda akan langsung mengernyitkan dahi sembari berangan-angan, “Apakah mungkin sebuah bandara bisa beroperasi dalam keadaan terapung?”. Tapi sebelum melanjutkan pembahasan, maksud dari konsep terapung ini adalah di laut, bukan di udara – hal ini tercetus mengingat eksistensi dari laut yang mencapai perbandingan 2/3 ketimbang daratan di bumi. Jadi, jika memang pesawat tempur saja bisa mendarat dan mengudara dari kapal induk, mengapa konsep bandara terapung ini tidak coba diulik dan dimatangkan?

Konsep yang Tetap Hidup
Konsep ini sejatinya sudah ada sejak jaman perang dulu. Mungkin beberapa dari Anda mengetahui tentang Habakkuk Project, sebuah kapal induk anti-tenggelam rancangan Inggris yang didapuk untuk menyaingi U-boats milik Jerman pada masa Perang Dunia ke-II. Nah, Habakkuk Project ini sendiri digadang-gadang mampu menampung 150 pesawat pengebom dual engine. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya proyek ini tidak pernah terlaksana.

Kendati Habakkuk Project ini tidak pernah terlaksana, namun impian tentang menghadirkan bandara terapung tidak pernah surut. Ambil contoh dua konsep bandara terapung yang muncul di era milenial ini, yang satu datang dari San Diego, satunya lagi dari seorang insinyur Aeronautika asal Amerika, Terry Drinkard.

San Diego
Untuk kasus San Diego, kota ini memang memiliki ruang yang cukup sempit untuk mengembangkan bandara internasionalnya, sehingga eksplorasi bagian laut menjadi ide brilian untuk mengimplementasikan rencana pengembangan tersebut. OceanWorks Development dan Float Inc., adalah dua perusahaan yang menaruh konsentrasi tinggi pada pengembangan bandara terapung yang rencananya akan bertempat beberapa mil dari Point Loma (semenanjung terkenal yang ada di San Diego). Namun melihat anggaran yang menyentuh angka US$20 miliar dan adanya keraguan tentang konsep teknis, pada akhirnya rencana ini tidak pernah terlaksana.

Baca Juga: Yang Serba Unik dari Bandara Abdulrachman Saleh Malang

Konsep Terry Drinkard
Hampir sama seperti apa yang dicanangkan oleh San Diego, apa yang dipetakan oleh Terry Drinkard. Konsep Aerotropolis Lepas Pantai yang dikembangkan oleh Terry ini digadang-gadang mampu melayani pesawat sedang seperti Boeing 737 dan Airbus A320. Hanya saja, rancangan Terry Drinkard ini terlihat lebih visioner mengingat dirinya tidak menampik bahwa semisal terlaksana kelak, maka bandara terapung ini akan menjadi pusat penelitian ekonomi hingga uji coba energi terbarukan.