Boeing Tak Yakin Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen, Sindir Airbus?

Boeing akhirnya buka suara terkait antusiasme perusahaan teknologi dan produsen pesawat di dunia terhadap konsep pesawat bertenaga hidrogen belakangan ini. Pihaknya mengaku tak yakin bahwa hidrogen akan menjadi bahan bakar pesawat di masa depan. Agar tetap berkontribusi terhadap program keberlanjutan atau sustainability goals, sebagai gantinya, Boeing akan mencari cara lain. Baca juga: Inilah Tiga Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen Airbus, Beroperasi Penuh Mulai 2035 Sejak pertengahan tahun lalu, raksasa dirgantara asal Eropa, Airbus, dikabarkan tengah menimbang-nimbang penggunaan hidrogen di masa mendatang. Maklum, perusahaan gabungan beberapa negara Eropa itu sudah sejak beberapa tahun lalu menyatakan komitmennya untuk membuat pesawat lebih hijau atau tanpa emisi pada 2035 mendatang. Setelah lama menunggu, publik akhirnya disajikan tiga konsep pesawat hidrogen Airbus pada akhir September 2020. Ketiga konsep – semua diberi kode nama ZEROe – tersebut antara lain, pertama, desain turboprop (kapasitas hingga 100 penumpang) menggunakan mesin turboprop sebagai pengganti turbofan. Konsep kedua pesawat hidrogen Airbus ialah turbofan (kapasitas 120-200 penumpang) dengan jangkauan 3.704 km lebih dan konsep pesawat Airbus bertenaga hidrogen yang terakhir yakni desain sayap-lebur atau blended-wing body (kapasitas hingga 100 penumpang). Semuanya ditargetkan bakal beroperasi mulai 2035. Sadar reputasinya tercancam karena tak turut mengembangkan pesawat bertenaga hidrogen, CEO Boeing, David David Calhoun, mengungkapkan bahwa para pelaku bisnis dirgantara merasa bahwa industri masih jauh dari kata siap untuk mengembangkan teknologi ini. “Saya memiliki cukup banyak pengalaman dengan hidrogen, perusahaan kami memiliki pengalaman yang luar biasa dengan hidrogen. Setidaknya dalam ukuran badan pesawat yang kita semua bicarakan. Kami bereksperimen pada harga rendah, tapi itu tidak akan menjadi pasar yang berarti di sini,” katanya kepada Simple Flying. “Dan dengan munculnya sustainable fuels (bahan bakar berkelanjutan), kita sudah mampu hidup dengan bahan bakar berkelanjutan itu. Saya percaya itu akan menjadi jawaban 15 tahun untuk pedoman dan pendekatan 2050 karena kita semua telah bekerja dengannya, bereksperimen dengannya, kita tahu itu berhasil, dan sekarang kita mengembangkan jalur pasokan untuk itu. Tapi saya yakin itu satu-satunya jawaban antara sekarang dan 2050,” tambahnya. Baca juga: Di Farnborough AirShow Virtual, Boeing Ungkap Keterlibatan Etihad Boeing 787-10 Sebagai ecoDemonstrator Boeing sendiri terbukti memang sudah sejak lama ikut mengembangkan pesawat berbahan bakar ramah lingkungan. Awal tahun 2020, tepatnya pada 11 hingga 18 Januari, Boeing 787 Greenliner, pesawat ramah lingkungan besutan Boeing dan Etihad, melakukan penerbangan eco flight dalam helatan Abu Dhabi Sustainable Week. Pekan lalu, perusahaan kembali menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk membuat pesawat komersial 100 persen menggunakan berbahan bakar ramah lingkungan pada 2030 mendatang. Hanya saja, tak disebutkan dengan jelas, apa bahan bakar ramah lingkuangan yang dimaksud. Apakah itu listrik atau bahan bakar ramah lingkungan lainnya, Boeing tak menjelaskan secara detail.

Hari ini, 166 Tahun Lalu, Lokomotif Pertama Melintasi ‘Belahan’ Atlantik dan Pasifik di Panama

Sebelum lokomotif pertama melintasi Tanah Genting Panama dari Colón (Atlantik) ke Balboa (Pasifik, dekat Panama City) ternyata ada sekitar lima ribu hingga sepuluh ribu pekerja meninggal dalam pembangunan jalur antar benua ini. Jalur ini sendiri dibangun pada abad ke-19 yang juga dikenal dengan nama Pasific Railroad yang kemudian dikenal denga Overland Route. Baca juga: Jalur Metro Panama 3 Sepanjang 34 km dan Menjadi Proyek Terbesar Sejak Perluasan Terusan Panama Menghabiskan dana sebanyak US$8 juta, jalur ini mulai dibangun pada 1849 dan mulai melintaskan lokomotif pertamanya pada 28 Januari 1855 silam. Setelah jalur ini mulai beroperasi, kereta api melewati Terusan Panama selama setengah abad sampai kanal kapal dibangun sejajar dengan rel kereta api.
Panama Canal Railway
Jalur ini dibangun oleh Amerika Serikat dan insentif utamanya adalah peningkatan besar dalam lalu lintas penumpang dan barang dari Negeri Paman Sam bagian timur ke California setelah Demam Emas California 1849. Jalur ini kemudian digambarkan oleh beberapa orang sebagai mewakili rel kereta api lintas benua meski melintasi hanya tanah genting sempit yang menghubungkan antar benua. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, jalur kereta ini membentang sejauh 76 km dengan mengangkut volume kargo terberat per satuan panjang rel kereta api mana pun di dunia. Bahkan keberadaan rel jalur kereta api ini menjadi salah satu kunci terpilihnya Panama sebagai situs kanal. Karena rute 1855 mengikuti lembah Chagres (yang akan menjadi Danau Gatun), rute itu harus diubah. Rel kereta api baru, yang dimulai pada tahun 1904, harus ditingkatkan secara signifikan dengan rel ganda tugas berat di sebagian besar jalur untuk mengakomodasi semua lokomotif baru dari sekitar 115 lokomotif yang kuat, 2.300 gerbong yang merusak tanah, dan 102 yang dipasang di rel kereta api sekop uapdibawa dari Amerika Serikat dan tempat lain. Rel kereta api permanen yang baru sejajar dengan kanal di mana ia bisa dan dipindahkan dan dibangun kembali di tempat yang mengganggu pekerjaan kanal. Selain memindahkan dan memperluas jalur kereta api jika diperlukan, penambahan jalur yang cukup besar dan bengkel mesin yang ekstensif serta fasilitas pemeliharaan telah ditambahkan, dan peningkatan lainnya dilakukan pada sistem kereta api. Kehadiran kereta api sangat membantu pembangunan Terusan Panama. Selain mengangkut jutaan ton orang, peralatan, dan persediaan, rel kereta api melakukan lebih banyak lagi. Untuk diketahui teknologi baru yang tidak tersedia pada tahun 1850-an memungkinkan pemotongan dan pengisian tanah yang sangat besar untuk digunakan pada rel kereta api baru yang jauh lebih besar daripada yang dilakukan pada konstruksi asli tahun 1851–55. Kereta Api Panama yang dibangun kembali, jauh lebih baik dan sering diubah rute dilanjutkan di sepanjang kanal baru dan melintasi Danau Gatun. Rel kereta api diselesaikan dalam konfigurasi terakhirnya pada tahun 1912, dua tahun sebelum kanal, dengan biaya $9 juta atau $1 juta lebih banyak dari aslinya. Baca juga: Seperti di Film James Bond “Golden Eye,” Rusia Kembali ‘Hidupkan’ Kereta Lapis Baja dengan Peluncur Rudal Balistik Setelah Perang Dunia II, beberapa perbaikan tambahan dilakukan pada Kereta Api Panama. Kondisinya menurun setelah 1979, ketika pemerintah AS menyerahkan kendali kepada pemerintah Panama.

Hari ini, 35 Tahun Lalu, Pesawat Ulang Alik Challenger Meledak Setelah 73 Detik Meluncur

Tujuh orang awak yang terdiri dari lima astronot NASA dan dua spesialis tewas setelah pesawat ulang alik yang mereka tumpangi meledak. Adapun tujuh awak tersebut yakni Francis R Scobe yang merupakan kapten pesawat ulang alik tersebut, Michael J Smith, Ronald McNair, Ellison Onizuka, Judith Resnik, Gregory Jarvis dan Christa MaAuliffe. Baca juga: Pratiwi Pujilestari Sudarmono – Calon Astronot Pertama Indonesia yang Terpaksa Mengubur Asanya Ke Luar Angkasa The Space Shuttle Challenger merupakan pesawat ulang alik yang tengah dalam misi membawa penunjukkan STS-51-L dan merupakan penerbangan kesepuluh untuk pengorbit Challenger. Dalam misinya ini, pesawat ulang alik Challenger harus mengalami nasib yang tragis di mana, meledak setelah 73 detik peluncuran.
Tujuh astronot menjadi korban tewas setalah Pesawat Ulang Alik Challenger meledak
Insiden ini terjadi pada 28 Januari 1986 yang tidak hanya disaksikan keluarga astronot tetapi juga disiarkan langsung televisi Amerika Serikat dan seluruh warga Negeri Paman Sam menjadi saksi matanya. Pesawat ini meledak dan hancur di atas Samudera Atlantik tepat di lepas pantai Cape Canaveral, Florida pukul 11.39 waktu setempat. Sayangnya evakuasi tak bisa dilakukan langsung tetapi satu jam setelah ledakan terjadi. Hal tersebut karena serpihan pesawat ulang alik Challenger menghalangi upaya evakuasi. Awalnya pesawat ulang alik Challenger ini dijadwalkan diluncurkan pada 22 Januari 1986. Namun peluncuran ditunda karena cuaca buruk dan pada 27 Januari 1986 dan NASA menyatakan tidak punya tekanan untuk meluncurkan pesawat ulang alik ini. Bahkan mereka juga memastikan bahwa keselamatan adalah prioritas utama. Untuk diketahui, pesawat ulang alk Challenger meledak karena adanya disintegrasi kendaraan yang mana sambungan di solid rocker booster (SRB) kanan gagal saat lepas landas. Kegagalan ini disebabkan oleh masalah segel O-ring yang digunakan pada sambungan yang tidak dirancang untuk menangani kondisi dingin yang tidak biasa yang ada pada peluncuran ini. Kegagalan segel menyebabkan kerusakan pada sambungan SRB, memungkinkan gas pembakaran bertekanan dari dalam motor roket padat untuk mencapai bagian luar dan menimpa perangkat keras pemasangan sambungan bidang buritan SRB yang berdekatan dan tangki bahan bakar eksternal. Hal ini menyebabkan pemisahan sambungan sambungan bidang buritan SRB sebelah kanan dan kegagalan struktural tangki eksternal. Untuk diketahui, kompartemen awak dan banyak pecahan dari pesawat ulang alik ini ditemukan di dasar laut setelah operasi pencarian dan pemulihan yang lama. Pesawat ulang-alik tidak memiliki sistem pelarian, dan dampak dari kompartemen awak pada kecepatan terminal dengan permukaan laut terlalu keras untuk bisa bertahan. Baca juga: NASA Luncurkan Toilet Khusus Astronot Wanita, Bekas Urine Bisa Buat Minum dan Masak Adanya insiden ini pun mengakibatkan 32 bulan absen dalam program Pesawat Ulang Alik dan pembentukan Komisi Rogers, sebuah komisi khusus yang ditunjuk oleh Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan untuk menyelidiki kecelakaan tersebut. Komisi Rogers menemukan bahwa budaya organisasi NASA dan proses pengambilan keputusan telah menjadi faktor utama penyebab kecelakaan tersebut, dengan badan tersebut melanggar aturan keselamatannya sendiri.

Mengenal AIS, Sistem yang Bikin Kapal Tanker Iran dan Panama Ditangkap Bakamla

Pemerintah Iran mempertanyakan alasan Indonesia menangkap kapal tanker berbendera negaranya. Melalui Badan Keamanan Laut (Bakamla) Indonesia dengan tegas menyebut bahwa kapal tanker Iran dan Panama melakukan empat pelanggaran sehingga mereka harus ditangkap dan ditahan untuk kemudian diadili di Batam. Dari empat pelanggaran yang dilakukan, satu di antaranya ialah karena mematikan AIS. Baca juga: Unik! Di Polandia Ada Kapal Laut ‘Berjalan’ Di Atas Daratan AIS sendiri, sebagaimana dikutip dari laman Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Pinang, adalah transceiver atau sistem pemancaran radio Very High Frequency (VHF) yang menyampaikan data-data melalui VHF Data Link (VDL) untuk mengirim dan menerima informasi secara otomatis ke kapal lain, stasiun VTS, dan SROP. Sesuai regulasi Internasional Maritime Organization (IMO), pemancar radionya harus berada di frekuensi maritim 161,975 MHz dan 162,025 MHz. Transceiver secara otomatis mengirimkan AIS Message ke semua arah, message yang dikirimkan antara lain berisi Mobile Maritime System Identification (MMSI) atau ID kapal, kecepatan kapal, posisi kapal, arah kemudi kapal, dan seterusnya sehingga kapal lain di sekitar yang sudah dilengkapi dengan perangkat AIS Transceiver dapat mengetahui secara terus menerus situasi lalu lintas disekelilingnya yang ditampilkan pada layar display monitor Electronic Chart Display Information System (ECDIS) atau System Electronic Navigation Chart (SENC) atau Electronic Navigation Chart (ENC). Dilansir dephub.go.id, Pemerintah Indonesia lewat Peraturan Menteri Perhubungan No.7/2019 tentang Pemasangan dan Pengaktifan Sistem Identifikasi Otomatis bagi Kapal yang berlayar di Wilayah Perairan Indonesia mengharuskan pemasangan dan pengaktifan AIS ini bagi setiap kapal berbendera Indonesia dan kapal asing. Oleh karena pentingnya AIS, pemasangan dan pengaktifannya langsung berada di bawah Menteri Perhubungan.
AIS wajib diaktifkan untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan pelayaran, mempermudah pengawasan, kegiatan SAR, investigasi, monitoring pergerakan kapal, dan dukungan implementasi penetapan Traffic separation scheme (TSS) di Selat Sunda dan Lombok. Teheran sendiri menyangkal bahwa AIS bukannya tidak dihidupkan atau tidak mau mengikuti aturan di Indonesia dengan sengaja melainkan ada kendala teknis yang menyebabkan AIS tidak berfungsi. Tetapi, tentu saja itu bukan alasan. Sebab, bila hal ini terjadi, Kemenhub sudah mengaturnya. Disebutkan, jika AIS tidak berfungsi, nakhoda wajib menyampaikan informasi kepada Stasiun Radio Pantai (SROP) atau Stasiun Vessel Traffic Services (VTS) serta mencatat kejadian tersebut pada buku catatan harian (log book) kapal yang dilaporkan kepada Syahbandar. Hal inilah yang tak dilakukan kapal berbendera Iran MT Horse dan kapal berbendera Panama MT Frea. Baca juga: Lusitania Expresso, Balada Kapal Ferry RoRo Legendaris ‘Penantang’ Kapal Perang TNI AL AIS sendiri jenisnya ada dua macam, yaitu AIS Klas A dan AIS Klas B. AIS Klas A wajib dipasang dan diaktifkan pada Kapal Berbendera Indonesia yang memenuhi persyaratan Konvensi Safety of Life at Sea (SOLAS) yang berlayar di wilayah Perairan Indonesia. Sementara AIS Klas B wajib dipasang dan diaktifkan pada kapal berbendera Indonesia yang meliputi kapal penumpang dan kapal barang non konvensi dengan ukuran paling rendah GT 35, kapal yang berlayar antar lintas negara atau yang melakukan barter-trade atau kegiatan lain di bidang kepabeanan serta kapal penangkap ikan berukuran dengan ukuran paling rendah GT 60.

Studi Terbaru: Banyak Pilot Remehkan Dampak Stres Terhadap Keselamatan Penerbangan

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Aviation Psychology and Applied Human Factors berjudul Flying Solo: A Vignette-Based Examination of General Aviation Pilot Risk Perception and Decision-Making, menunjukkan bahwa pilot pesawat komersial di Inggris pada umumnya menyepelekan stres sebagai risiko. Mereka berdalih bahwa justru dengan tetap terbang dalam keadaan stres bisa membawa berkah karena dengan sendirinya akan hilang ketika melihat pemandangan dari langit. Baca juga: Mengenal Non-Terrestrial Hostile, Satu Faktor yang Sumbang Tingkat Flying Stress Pada Pilot! Para peneliti dari Universitas Aberdeen, Skotlandia, mendapat kesimpulan itu setelah mempelajari jawaban-jawaban dari 101 pilot yang juga sebagai responden. Metode penelitiannya simpel, mereka diminta untuk menjawab 12 skenario keputusan untuk lanjut atau tidak ketika diilustrasikan mendapat halangan dan rintangan sebelum terbang. Ke-12 skenario tersebut tentu bukan asal dibuat melainkan didasarkan pada laporan kecelakaan dan insiden, serta rekomendasi keselamatan dari berbagai organisasi penerbangan. Di antara 12 skenario tersebut, salah satunya ialah terkait dengan cuaca buruk. Mayoritas dari pilot yang memiliki penyakit dan tidak didukung dengan kondisi pesawat, maka cuaca buruk cenderung menjadi alasan mereka untuk tidak jadi menerbangkan pesawat. Pun sebaliknya, bagi pilot yang merasa fit, tidak mempunyai penyakit, serta didukung kondisi prima pesawat, mereka cenderung memutuskan lanjut terbang. Sebagian dari responden juga mengungkapkan bahwa mereka akan mengecek radar dan ramalan cuaca agar bisa merencanakan rute aman sebelum lepas landas. “Pilot penerbangan umum mempertimbangkan risiko yang terkait dengan keputusan lepas landas dengan hati-hati, dan sering melaporkan strategi mitigasi risiko (seperti mengubah rute yang direncanakan untuk menghindari cuaca buruk) yang memungkinkan mereka mengelola risiko untuk terbang,” kata salah satu peneliti, Amy L. Irwin, seperti dikutip dari PsyPost. Sayangnya, di antara berbagai risiko untuk menerbangkan pesawat dengan aman, banyak responden menyepelekan risiko stres sebagai item dalam membuat rencana penerbangan. Umumnya, mereka berpendapat bahwa stres bisa dikelola dengan cara tetap menerbangkan pesawat sampai hilang dengan sendirinya setelah melihat pemandangan maha indah di langit. “Saya menemukan stres terbang sangat berbeda dengan stres di tempat kerja, (terbang) hampir menghilangkan jenis stres yang berbeda,” kata seorang pilot kepada para peneliti. Padahal, stres sudah sangat jelas adalah bagian dari risiko penerbangan. Sebab, ketika pilot menerbangkan dalam kondisi stres, kesalahan amat melekat padanya. Sekalipun tak melulu kesalahan fatal. Belum lagi, beberapa kondisi di penerbangan dapat menyebabkan pilot mengalami apa yang disebut flying stress, yang merupakan stress khusus atau ketegangan dalam penerbangan (jika diartikan dari sudut pandang ilmu psikiatrik penerbangan). Baca juga: Kenali Flying Stress, Situasi yang Bisa Buyarkan Konsentrasi Penerbang Tahan atau tidaknya seseorang dalam menghadapi stress memang tergantung pada ketahanan si pribadi itu sendiri dan sejumlah variabel yang mempengaruhinya – terutama integritas kepribadian dan motivasi. Mengutip dari buku karangan Djarot S. Hindrayanto dan Wahjadi D. yang berjudul “Otopsi Psikologi Pada Kecelakaan Pesawat Udara yang diterbitkan pada tahun 2008 silam, gangguan stress ini dapat menimbulkan anxietas (kegelisahan) yang berlebih dan ini dapat menurunkan daya tahan terhadap stress itu sendiri, baik dalam derajat maupun durasinya.

Aib! Penumpang Qatar Airways Bawa Heroin Lolos dari Bandara Hamad, Tertangkap di India

Bandara Internasional Indira Gandhi atau biasa dikenal Bandara Delhi, belum lama ini berhasil mencatatkan rekor penangkapan narkoba terbesar dalam sejarah kebandarudaraan negara. Petugas setidaknya telah menyita narkoba jenis heroin senilai US$9,28 juta atau Rp130 miliar (kurs 14.148) dari tangan dua orang penumpang Qatar Airways asal Uganda. Baca juga: Keren, Teknologi di Bandara Qatar Mungkinkan Penumpang Lewati X-Ray Tanpa Keluarkan Barang Elektronik Uniknya pelaku, yang berusia sekitar 35 tahun ini, berhasil lolos dari pemeriksaan Bandara Entebbe di Uganda dan Bandara Internasional Hamad di Qatar dengan membawa 51 kantong besar berisi total 9,8kg heroin di dalam dua bagasi. Lolos dari bandara Entebbe mungkin publik masih cukup maklum mengingat bandara ini hanya mendapat bintang dua versi Skytrax. Lain halnya dengan Bandara Internasional Hamad yang notabene mendapat bintang lima atau perfect versi Skytrax. Tentu ini menjadi aib besar bandara terbaik yang berlokasi di Doha itu. Dilansir Simple Flying, sejatinya setiap bandara di dunia memiliki teknik deteksi narkoba yang sangat ketat mengingat potensinya begitu besar. Mulai dari pemeriksaan acak di bea cukai, pengerahan anjing pelacak saat check-in dan boarding, body check, body scanner, hingga pemeriksaan X-Ray. Seharusnya, dengan pemeriksaan super ketat seperti disebutkan di atas, apalagi dibantu dengan alat bertekonologi tinggi yang biasanya tersedia di bandara-bandara besar, barang-barang haram ataupun ilegal mustahil lolos. Faktanya, dua warga Uganda itu berhasil melenggang bebas dari pemeriksaan dua bandara sebelum akhirnya tertangkap di Delhi, India. Lolosnya dua orang membawa narkoba dalam jumlah besar patut dicurigai adanya oknum petugas nakal yang bermain. Seperti kasus baru-baru ini dimana 80kg kokain ditemukan di pesawat kargo Boeing 747 KLM. Masuknya barang haram itu ke dalam kargo pada akhirnya berujung penangkapan beberapa orang dalam oleh pihak kepolisian. Baca juga: Bandara di AS Kian Ketat, TSA Wajibkan Pemeriksaan Terpisah Pada Perangkat Elektronik Selain penyelundupan narkoba, bandara juga sering menjadi tempat favorit penyelundupan barang ilegal, seperti emas, berlian, mutiara, barang elektronik, dan lain sebagainya. Tujuannya sudah pasti untuk menghindari bea cukai. Triknya pun sangat beragam. Mulai dari meletakkan di pakaian dalam, di botol minuman yang air dan botolnya berwarna gelap, serta berbagai trik lainnya. Di era wabah virus Corona seperti sekarang ini, dimana terdapat sederet peraturan, seperti surat bebas Covid-19, beban petugas sudah pasti bertambah. Namun, di sisi lain, persyaratan itu menjadi celah para oknum untuk bermain guna mengeruk keuntungan pribadi.

Tak Perlu Karantina, 17 Negara ini Masuk “Daftar Hijau” di Abu Dhabi

Semua negara menetapkan karantina bagi para pelancong asing maupun penduduk mereka yang baru datang dari luar negeri. Biasanya karantina ini dilakukan untuk mencegah penularan virus corona yang mungkin dibawa ketika tiba. Baca juga: Indonesia dan Singapura Siapkan “Reciprocal Green Lane” untuk Mudahkan Perjalanan Bisnis dan Resmi Tapi meski begitu tak semua negara melakukan karantina dan memberikan kemudahan bagi beberapa negara dengan membebaskan pelancong mereka dari karantina. Salah satu yang membebaskan karantina bagi pelancong adalah Uni Emirat Arab atau UEA. Di mana Abu Dhabi yang merupakan ibukota negara UEA baru saja memperbarui daftar hijau negara dan tujuan para pelancong yang dapat memasuki negara tersebut tanpa perlu karantina pada saat kedatangan. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thenationalnews.com (26/1/2021), awal penerbitan daftar hijau negara pelancong yang tidak perlu karantina dibuat pada Desember tahun lalu dan ini diperbarui setidaknya setiap dua minggu dengan perubahan terbaru pada Senin (25/1/2021), kemarin. Negara baru yang ditambahkan dalam daftar hijau bebas karantina Abu Dhabi yakni Maladewa, Australia, Singapura, Greenland dan Kepulauan Falkland (Inggris). Adanya penambahan Maladewa membuka jalur untk liburan dari Abu Dhabi, bahkan tercatat belum lama ini sebagai tujuan liburan terpopuler bagi para pelancong Emirat. Lima negara baru ini menambah daftar hijau pelancong bebas karantina menjadi 17. Berikut ini negara yang sebelumnya sudah masuk dalam daftar hijau bebas karantina di Abu Dhabi yakni, Bahrain, Brunei, Cina, Greenland, Hong Kong, Mauritius, Mongolia, Selandia Baru, Oman, Qatar, Arab Saudi, St Kitts dan Nevis serta Thailand. Meski ada daftar hijau, Abu Dhabi tetap melakukan perkembangan baru terkait protokol dan pedoman Covid-19 suatu negara. Selain itu, adanya daftar hijau juga tetap mengharuskan semua pelancong internasional ke Abu Dhabi menunjukkan hasil tes PCR negatif dan melakukan tes PCR kedua setelah memasuki ibukota UEA tersebut. Sehingga, bagi pelancong yang masuk dalam daftar hijau tidak perlu melakukan isolasi ketika mereka mendapatkan tes hasil negatif. Untuk diketahui, bagi pelancong yang bukan dari negara dalam daftar hijau wajib mengisolasi diri selama sepuluh hari. Baca juga: Uni Emirat Arab Canangkan Proyek Kereta Peluru Bawah Laut Menuju India Tak hanya itu, seringnya pembaruan daftar hijau, ternyata ada enam negara yang dulunya terdaftar kini dihapus yakni Kuwait. Selain itu ada Pulau Man, Makau, Kaledonia Baru, Sao Tome dan Principe sertya Taipei.

Blak-blakan, Ternyata Ini Rahasia Emirates Jadi Operator A380 Terbesar di Dunia

Sudah bukan rahasia bahwa Emirates adalah maskapai pemilik Airbus A380 terbanyak di dunia. Maskapai ini memiliki 114 unit A380 plus tambahan delapan A380 yang masih dalam backlog Airbus. Namun, belakangan Emirates dikabarkan telah melakukan pembicaraan untuk membatalkan lima pesanan A380. Adapun tiga sisanya tetap akan dikirim meskipun telat, dari semula Maret 2020 menjadi tahun 2021 dengan bulan yang masih belum dapat dipastikan. Baca juga: Empat Bulan Nganggur, Emirates ‘PHK’ Airbus A380 Pertama Status maskapai yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, tersebut sebagai operator A380 terbesar di dunia tentu agak aneh. Sebab, saat ini, era A380 diprediksi oleh banyak pengamat sudah habis. Penumpang lebih memilih penerbangan point to point ketimbang penerbangan transit. Jika demikian, seharusnya, pesawat-pesawat widebody twinjet lebih menarik ketimbang pesawat widebody quadjet superjumbo seperti A380. Akan tetapi, kenyataannya tidak selalu demikian. Senior vice president for operations Emirates, Hubert Frach, mengatakan, justru koneksi atau basis hub itulah yang pada akhirnya menjadikan Emirates sebagai maskapai A380 terbanyak di dunia. “Ini berfungsi dengan baik untuk struktur jaringan kami dari koneksi long haul to long haul. Ini memungkinkan kami untuk menawarkan koneksi yang efisien antara ekonomi berkembang dengan ekonomi mapan,” katanya, seperti dikutip dari Simpleflying.com. CEO Emirates, Tim Clark, juga ikut buka suara mengapa pihaknya menjadi operator A380 terbesar. Pun sebaliknya, ia juga menyinggung mengapa maskapai lain tergolong gagal memanfaatkan space besar A380. Di antaranya, Air France. Menurutnya, Air France bisa dibilang setengah-setengah dalam mengoperasikan A380. Maklum, Air France hanya memiliki 10 A380. Hal itu justru menyebabkan maskapai kehilangan banyak uang akibat operasional dan perawatan yang membengkak. Sudah begitu, maskapai tersebut juga memilih penerbangan point to point ketimbang membawa banyak penumpang ke banyak negara dengan skema hub and spoke. Bandingkan dengan Emirates, yang menyediakan penerbangan transit dari London Heathrow menggunakan A380 kemanapun di Asia, Afrika, dan Australia. Dalam keadaan normal, bahkan, Emirates bisa mengangkut penuh penumpang menggunakan A380 pada rute ini hingga tujuh kali sehari. Selain itu, Dubai yang sudah secara mapan menjadi hub Eropa dengan Asia, Afrika, dan Australia juga menjadikan Emirates amat tepat dalam mengoperasikan A380. Tak peduli dari manapun penumpang di seluruh Eropa, selama mereka transit di Dubai, Emirates akan mengantarkan mereka kemanapun negara-negara di tiga benua itu. Begitulah rahasia Emirates dalam memanfaatkan slot besar A380. Baca juga: Polemik Status “Shower Suite Attendant,” Inggris Larang Emirates Operasikan Shower Suite di A380 Kendati demikian, Tim Clark memang pernah menyebut bahwa A380 sudah tamat. Secara bertahap, maskapai itu akan benar-benar meninggalkan A380 hingga tak menyisakan satupun pesawat pada tahun 2035 mendatang. Sebagai gantinya, maskapai akan mendatangkan berbagai macam pesawat, seperti Airbus A350 XWB, A330neo, dan Boeing 787 Dreamliner di masa mendatang, selain tetap mengandalkan 155 Boeing 777 dan 126 Boeing 777X yang masih menunggu pengiriman. Namun, dalam waktu dekat, paling tidak sampai akhir dekade, A380 akan tetap diandalkan Emirates untuk menjalankan skema hub and spoke, mengantarkan penumpang dari Eropa dan Amerika ke negara manapun di Asia, Afrika, dan Australia dalam jumlah banyak di setiap penerbangan.

Tragedi Kapal Ferry Nankai Maru, Tenggelam Tanpa Sebab Pasti dan Tewaskan 167 Orang

Nankai Maru, kapal ferry Jepang pada 26 Januari 1958 silam mengalami kecelakaan laut yang menewaskan 167 orang dengan rincian 139 penumpang dan 28 awak kapal. Kapal ferry tersebut berangkat dari Komatsushima menuju ke Wakayama. Baca juga: Tampomas II, Ingatkan Tragedi di Perairan Masalembo Kapal tersebut meninggalkan Pelabuhan Komatsushima sekitar pukul 17.30 waktu setempat. Namun pada pukul 18.23 di hari yang sama, kapal Nankai Maru melakukan kontak sebelum akhirnya menghilang dari sambung telepon radio. Sebelum kecelakaan terjadi Observatorium Meteorologi Lokal Tokushima telah mengeluarkan peringatan adanya angin kencang. Diperkirakan kecepatan angin rata-rata saat itu 17 hingga 20 km per jam dengan tinggi gelombang rata-rata empat sampai lima meter. Karena tak ada kabar, para penjaga pantai dan kapal patroli melakukan pencarian. Keesokan harinya pun sekitar pukul 16.00 waktu setempat, sebuah lambung kapal ditemukan tenggelam di kedalaman sekitar 40 meter dengan jarak 2,4 mil laut barat daya Nushima. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, setelah penemuan tersebut lambung kapal ferry Nankai Maru kemudian diangkat. Namun kecelakaanitu menewaskan seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 167 orang. Karena tidak ada yang selamat dalam kecelakaan ini, maka penyelidikan oleh dewan direksi sangat luas dan semua yg terkait baik penanggung jawab perencanaan, inspektur dan yang berhubungan dengan cuaca ikut diselidiki. Bahkan, Nankai Maru lainnya yang belum berlayar ditarik untuk diselidiki dan diuji kembali terkait kestabilan serta siklus goyang pada saat pembangunan kapal. Dalam penyelidikan kapal ferry Nankai Maru yang tenggelam pada 66 tahun lalu tersebut, Marine Accident Inquiry memutuskan bahwa lambung dan mesin tidak memiliki cacat yang dapat menyebabkan kapal tenggelam. Sehingga hal ini kemudian membuat penyebab kecelakaan Nankai Maru tidak jelas. Bahkan rincian kecelakaannya pun tidak bisa diklarifikasi karena tidak ada yang selamat baik penumpang maupun awak kapal. Tetapi dikatakan, ada kemungkinan kapal tenggelam karena badai yang disebabkan oleh sistem tekanan rendah yang berkembang seperti topan. Baca juga: Lusitania Expresso, Balada Kapal Ferry RoRo Legendaris ‘Penantang’ Kapal Perang TNI AL Nankai Maru ini berbeda dari yang memiliki rute di Utaka. Di mana kapal ini merupakan kapal ferry baru yang selesai pembangunannya Maret 1956. Kapal Nankai Maru ini memiliki berat 494 ton dengan kapasitas 444 penumpang.

Inilah Stasiun Jeongdongjin, Stasiun Kereta Paling Dekat dengan Laut di Dunia

Berbicara jalur kereta pinggir laut, mungkin sebagian pecinta kereta api sudah pasti akan teringat langsung dengan jalur kereta Dawllish, Inggris. Pun demikian dengan stasiun kereta pinggir laut, ingatannya besar kemungkinan terhubung dengan Stasiun Dawlish. Baca juga: [Video] Di Jalur Kereta ini, Anda Bisa Rasakan Sensasi Terhempas Ombak Karena lokasinya yang benar-benar berada di bibir laut, baik stasiun berkode DWL maupun jalur keretanya kerap kali mengalami kerusakan akibat badai maupun terpaan ombak. Ya, sifat korosif yang dihasilkan oleh air laut memang dapat merusak komponen rel yang notabene terbuat dari besi. Stasiun dan jalur kereta Dawlish juga disebut-sebut sebagai yang terekstrem di dunia karena keganasan ombak Selat Inggrisnya. Akan tetapi, baik jalur kereta yang merupakan bagian dari Exeter – Plymouth Line, atau yang biasa disebut South Devon Main Line serta Stasiun Dawlish, keduanya tak mendapat gelar apapun secara legal dari Guinness Book of World Records. Justru, stasiun yang tak terlalu populerlah yang tercatat di buku rekor seantero dunia tersebut, yaitu Stasiun Jeongdongjin. Dikutip dari traintokitezh.com, Stasiun Jeongdongjin didirkan pada tahun 1962 dan masuk ke dalam wilayah Gangdong, Kota Gangneung, Provinsi Gangwon atau tepatnya di wilayah pantai timur Korea Selatan. Jeongdongjin berasal dari kata jeongdong yang memiliki arti timurnya Korea. Awalnya stasiun ini digunakan untuk melayani angkutan penumpang dan barang. Namun seiring dengan perkembangan industri batu bara di wilayah tersebut, stasiun ini juga melayani pengangkutan hasil tambang.
Layanan penumpang sempat ditutup pada tahun 1996 dan dibuka kembali setahun berikutnya karena banyak masyarakat yang mengunjunginya setelah menjadi lokasi syuting drama The Hourglass (SBS, 1995). Stasiun ini melayani Korail Jalur Yeongdong menuju Cheongnyangni, Daegu, Busan, dan beberapa wilayah di pantai timur Korea Selatan. Jadi, sangat mudah untuk mencapai lokasi ini. Dari Bandara Seoul, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Stasiun Cheongnyangni (Seoul) dan langsung menuju Stasiun Jeongdongjin (Gangneung). Mudah, bukan? Selain dikenal stasiun paling dekat dengan laut di dunia versi Guinness Book of Record, Stasiun Jeongdongjin juga memiliki pesona lain berupa pemandangan matahari terbit setiap pagi. Tak hanya itu, Stasiun Jeongdongjin, termasuk juga wilayah Gangneung, juga menjadi tempat pertama yang bisa melihat matahari awal tahun bersamaan dengan berlalunya musim dingin. Gambaran apik untuk ini mungkin bisa dinikmati di berbagai drama Korea, seperti The Hourglass, Beethoven Virus (MBC, 2018), dan 12 Nights (Channel A, 2018). Berkat drakor atau drama korea itulah, antusiasme warga Korea dan sekitarnya, seperti Jepang, Taiwan, dan Cina, membludak dan mendesak untuk dibuatkan paket wisata dengan pengalaman yang lebih seru, hingga akhirnya KAI-nya Korea mengoperasikan apa yang disebut sebagai “kereta matahari terbit” dari Seoul ke kota pesisir. “Kereta matahari terbit” adalah kereta malam pertama di Korea yang beroperasi dengan tujuan membawa pengunjung melihat matahari terbit di Jeongdongjin. Kursi di gerbong kereta langsung menghadap ke jendela sehingga penumpang bisa menikmati pemandangan laut dengan sempurna. Baca juga: [Video] Stasiun Plabuan – Stasiun Aktif di Indonesia yang Berdiri Kokoh di Tepi Laut Jawa Mirip-mirip dengan Stasiun Dawlish dan Stasiun Jeongdongjin, Stasiun Plabuan juga terletak di tepi pantai, tepatnya di tepi Pantai Celong, Banyuputih, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Indonesia. Bahkan, jaraknya dengan laut juha sangat dekat. Sayangnya, sebagaimana Stasiun Dawlish, Stasiun Plabuan juga tak masuk ke dalam Guinness Book of World Records. Tentu saja, karena satu dan lain hal, termasuk karena masalah pembangunan, Stasiun Plabuan dan wilayah sekitarnya, tentu tak sebagus Stasiun Dawlish apalagi Stasiun Jeongdongjin.