Meski Telat Mengadopsi Tangki Limbah, Kereta Greater Anglia di Inggris Kini Dilengkapi Toilet Canggih

Meski dunia perkeretaapian Inggris jauh lebih unggul dari Indonesia, namun, ada sesuatu yang unik dalam hal sanitasi di gerbong kereta. Bila di Indonesia semua rangkaian gerbong, termasuk kelas bisnis telah menggunakan model tangki pembuangan limbah, tapi uniknya, di Inggris masih ada kereta penumpang yang menggunakan toilet model bolong, alias limbah kotoran dibuang langsung ke tanah/rel. Baca juga: Kereta Api Inggris Masih Buang Limbah Toilet ke Rel KabarPenumpang.com melansir dari laman guardian-series.co.uk (9/1/2021), baru-baru ini semua kereta baru Greater Anglia telah mengumpulkan limbah toilet dalam satu tangki besar Dimana nantinya limbah ini akan dibuang dengan aman di depo daripada dibuang di atas rel kereta. Kereta baru ini akan ada sebanyak 191 dan dengan total toilet keseluruhan ada 442 di dalam gerbong atau sekitar dua sampai tiga toilet setiap rangkaian kereta baru ini. Untuk saat ini layanan Toilet Emisi Terkendali atau CET digunakan di depo Ilford, Orient Way, Norwich Crown Point, Southend, Colchester dan Cambridge. Stephanie Evans, manajer lingkungan dan energi Greater Anglia mengatakan, toilet yang mengumpulkan limbah daripada membuangnya ke rel adalah salah satu dari banyak manfaat lingkungan dari kereta baru mereka. “Ini adalah cara lain untuk mengurangi dampak lingkungan kami dan juga akan membantu meningkatkan lingkungan lokal bagi penumpang di stasiun, penduduk yang tinggal di dekat jalur kereta api, dan pekerja jalur Rel Jaringan. Kami ingin mengingatkan penumpang di kereta tua tanpa toilet emisi terkontrol untuk tidak menyiram toilet di stasiun,” kata Stephanie. Kereta baru dilengkapi dengan tangki besar, yang dapat menampung cukup limbah selama lebih dari tiga hari penggunaan rata-rata dari penumpang kereta api. Sehingga, setelah tangki penuh, atau bak toilet kehabisan air, maka toilet otomatis berhenti menerima limbah, karena diagnostik komputer menunjukkan ketinggian tangki toilet. Baca juga: Bertarung Melawan Bau Busuk, Inilah Peran Petugas Pembersih Limbah Toilet Kereta Untuk diketahui, hingga tahun 2019 lalu, kereta api Inggris masih membuang limbah toilet di rel kereta. Padahal sejak tahun 2017, Mantan kepala eksekutif Network Rail, Mark Carne mengatakan pihaknya telah mendapat persetujuan pemerintah untuk menghentikan pembuangan limbah toilet ke jalur kereta api tahun 2019.

Video Diklaim Punya Pramugari Sriwijaya SJ-182, Ternyata Milik Pramugari Cebu Pacific yang Pamit dalam Penerbangan Terakhir

Banyak sekali hal yang dikatikan dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Ai SJ-182 pada 9 Januari 2021. Seperti ungkapan terakhir awak kabin yang direkam sebelum pesawat berangkat dan mengalami kecelakaan, atau hal lainnya yang dikaitkan sebelum kecelakaan terjadi. Baca juga: Video Pramugari Bekerja dari Rumah Viral dan Banyak Dikomentari Baru-baru ini viral sebuah video di mana seorang awak kabin sebuah maskapai menyampaikan pesan terakhirnya. Video ini telah dilihat puluhan ribu kali di Facebook, YouTube maupun TikTok ini diklaim menunjukkan seorang pramugari menangis di dalam pesawat Indonesia Sriwijaya Air. Namun nyatanya setelah diselidiki lebih jelas itu bukanlah milik salah satu pramugari yang menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air Flight SJ-182 melainkan milik pramugari Filipina. Pramugari tersebut merekam dirinya dan mengatakan, ini adalah perjalanan terakhirnya untuk maskapai penerbangan bertarif rendah Filipina yakni Cebu Pacific pada 2020 kemarin. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman afp.com (25/1/2021), video berdurasi sebelas detik tersebut diposting di Facebook pada 11 Januari 2021. Judul postingan yang diartikan ke bahasa Indonesia itu menjadi “Air mata korban seperti hujan yang terus turun. Kata-kata terakhir pramugari di SJ-182. Sebelum tragedi itu terjadi, dia sudah punya firasat. Beristirahatlah dalam damai di surga sekarang, adik perempuan.” Rekaman tersebut telah ditonton lebih dari 77 ribu kali setelah diposting bersama dengan klaim serupa di YouTube serta di TikTok. Ternyata pencarian online menemukan video tersebut sebelumnya diunggah di sini pada 24 Oktober 2020 di akun TikTok @cckimberlyangcay. Judul video itu berbunyi: “PENERBANGAN TERAKHIR SAYA SEBAGAI CABIN CREW vlog 🥺💛 yt link in my bio 🥰”. Dalam video tersebut, wanita itu terdengar berbicara dalam bahasa Tagalog, berkata: “Teman-teman, penerbangan ini (secara emosional) berat bagiku.” Logo Cebu Pacific, maskapai bertarif rendah dari Filipina, dapat dilihat di latar belakang klip. Angelica Kimberly M. Angcay, pemilik akun TikTok, mengatakan kepada AFP bahwa dia merekam video pada penerbangan terakhirnya sebagai awak kabin Cebu Pacific pada Juli 2020. Baca juga: Pramugari ini Bikin Video TikTok Tentang ‘Kotornya’ Air Panas di Dalam Kabin “Saya tidak bisa menahan diri selama penerbangan karena kami menerima email tentang penghematan tersebut saat kami memberi pengarahan sebelum penerbangan. Saya sangat ingin membuat vlog saya. penerbangan terakhir dan nikmati saja. Aku mencoba menahan emosiku saat itu, tapi aku merasa sedih selama penerbangan,” kata mantan pramugari Cebu tersebut.

Qatar Airways Raih Bintang 5 Keselamatan Maskapai untuk Covid-19 dari Skytrax

Skytrax baru saja mengumumkan Qatar Airways menjadi maskapai global pertama yang meraih Penilaian Bintang 5 Keselamatan Maskapai untuk Covid-19. Pengumuman ini setelah Skytrax melakukan audit pada Desember tahun lalu yang menilai efektivitas dan konsistensi penerapan standar serta prosedur kebersihan dan keselamatan Covid-19 yang ketat dari check in hingga di dalam pesawat. Baca juga: Tandai 2 Tahun Menuju Piala Dunia 2022, Pesawat Qatar Airways Gunakan Livery Spesial Dikatakan Qatar Airways, audit yang dilakukan oleh Skytrax mencakup tinjauan lengkap pemeriksaan efisiensi prosedural, pengamatan langsung terhadap tingkat kebersihan dan keselamatan di sepanjang perjalanan penumpang. Selain itu pengambilan dan pengujian sampel Adenosina Trifosfat (ATP) dalam pesawat guna mengukur tingkat potensi kontaminasi permukaan yang sering disentuh. KabarPenumpang.com mengutip dari siaran pers, Chief Executive Qatar Airways Group Akbar Al Baker mengatakan, sebagai pemimpin industri dan maskapai terbaik dunia sebagaimana yang dinobatkan oleh Skytrax, pihaknya terbiasa menetapkan standar untuk diikuti maskapai lainnya. Dia mengungkapkan kegembiraannya dan komitmen mereka dalam menyelenggarakan program keselamatan Covid-19 paling ketat dan lengkap yang ada dalam komunitas penerbangan global. “Pencapaian ini menyoroti langkah-langkah serta prosedur cermat yang diterapkan Qatar Airways guna menjaga kesehatan dan kesejahteraan penumpang kami selama pandemi global hingga saat ini, dan mengikuti prestasi HIA baru-baru ini sebagai bandara pertama di Timur Tengah dan Asia yang mendapatkan penghargaan Penilaian Bintang 5 Keselamatan Bandara untuk Covid-19 oleh Skytrax. Selain itu, pencapaian ini juga memberikan jaminan kepada penumpang di seluruh dunia bahwa standar kesehatan dan keselamatan maskapai tunduk pada standar tertinggi pengawasan dan penilaian yang profesional serta independen,” ujar Al Baker. Dia mengatakan, seiring upaya Qatar Airways dalam menghadapi dampak dan tantangan krisis Covid-19 yang masih terjadi, pihaknya ingin menekankan bahwa penumpang tak perlu khawatir dengan perjalanan udara. Al Baker menambahkan, pihaknya akan terus menyediakan pengalaman paling aman bagi pelancong di seluruh dunia serta memperluas peran mereka dalam membantu memulihkan industri penerbangan komersial selama beberapa bulan ke depan. “Kami mengucapkan selamat kepada Qatar Airways karena telah mendapatkan Penilaian Bintang 5 Keselamatan untuk Covid-19 yang tertinggi dan menjadi maskapai besar pertama di dunia yang mendapatkan sertifikasi pada tingkat ini. Qatar Airways tetap melakukan penerbangan selama pandemi Covid-19, mengantar pulang lebih dari 3,1 juta orang sejak awal pandemi, dan pengalaman inilah yang memungkinkan mereka memberikan standar langkah-langkah keselamatan kesehatan dan kebersihan yang sangat baik guna menjaga keamanan pelanggan dan karyawan,” kata Chief Executive Officer Skytrax, Edward Plaisted. Selama penerbangan, Qatar Airways menerapkan beberapa langkah keselamatan, seperti penyediaan Alat Pelindung Diri (PPE) bagi awak kabin dan kit berisi kelengkapan pelindung diri bagi penumpang. Penumpang Kelas Bisnis di armada yang dilengkapi Qsuite dapat merasakan pengalaman terbang lebih privat dengan fitur-fitur yang diusung kursi bisnis peraih penghargaan ini, seperti partisi privasi geser dan opsi untuk menggunakan indikator ‘Jangan Ganggu/Do Not Disturb (DND)’. Baca juga: Buat Para Mahasiswa, Qatar Airways Tawarkan Program Eksklusif untuk Menjelajahi Dunia Qsuite tersedia di penerbangan ke lebih dari 45 destinasi, seperti Frankfurt, Kuala Lumpur, London dan New York. Selain itu, maskapai ini juga menggunakan sistem penyaringan udara HEPA paling canggih di semua armada, dan baru-baru ini menjadi maskapai global pertama yang memperkenalkan Sistem Kabin Ultraviolet canggih milik Honeywell, yang dioperasikan oleh Qatar Aviation Services, sebagai langkah lanjut dalam membersihkan armadanya.

Wartawan Klaim MH370 Jatuh Ditembak Senjata Laser! AS Terlibat

Misteri hilangnya pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 terus menjadi buah bibir seantero dunia. Terbaru, pesawat yang hilang pada 8 Maret 2014 ini dikalim jatuh akibat terkena senjata laser, jet tempur, atau rudal. Pesawat terpaksa ditembak lantaran membawa muatan atau kargo terlarang. Tetapi, tak disebutkan dengan jelas muatan apa yang dimaksud. Baca juga: Terbaru, MH370 Diklaim Jatuh di Samudera Hindia pada Koordinat Ini! Peneliti Berani Taruhan Klaim terbaru seputar misteri hilangnya MH370 ini datang dari seorang wartawan atau jurnalis investigas asal Perancis, Florence de Changy. Dalam bukunya, The Disappearing Act: The Impossible Case Of MH370, seperti dikutip dari Republic World, jurnalis surat kabar Le Monde Diplomatique itu menyebut “Pesawat jatuh akibat ditembak jet tempur, rudal atau sistem senjata laser baru yang sedang diuji di wilayah tersebut pada saat itu.” Sejauh ini, berbagai teori menyebut bahwa MH370 dibajak dan kemudian mendarat dengan aman di sebuah tempat di gurun yang jauh dari pengamatan. Teori lain menyebut bahwa misteri hilangnya MH370 akibat upaya bunuh diri massal oleh pilot dan terkait dengan tindak terorisme. Florence de Changy sendiri punya teori lain soal hilangnya MH370. Setelah penyelidikan panjang, ia mengklaim bahwa pesawat tetap berada di jalur yang benar selama 80 menit pasca lepas landas atau hanya sampai pukul 02.40 (waktu KL) sebelum jatuh akibat rudal, senjata laser, ataupun ditembak jet tempur di Teluk Thailand, dekat Vietnam. Ia mengungkapkan pesawat tersebut membawa kargo terlarang. Tak disebutkan dengan jelas kargo apa yang dimaksud. Yang pasti, kargo tersebut merupakan hal yang amat berbahaya bagi Amerika Serikat (AS) dan pilihannya hanya dua, barang terlarang itu jatuh ke tangan yang salah atau pesawat ditembak jatuh.
Florence de Changy, jurnalis surat kabar Le Monde Diplomatique, dalam bukunya, The Disappearing Act: The Impossible Case Of MH370, menyebut bahwa pesawat MH370 jatuh di sekitar Laut Cina Selatan setelah dirudal, ditembak senjata laser, atau rudal. AS terlebih dalam penembakan ini. Foto: Linkedin Florence de Changy
Keterlibatan AS terindikasi dari adanya kontak dengan MH370. Teori de Changy mengungkapkan bahwa pada pukul 02.45 pagi di utara Vietnam, menurut sumber intelijen yang mebeberkan data-data kepadanya, bahwa dua pesawat radar AS mengkontak MH370 antara pukul 1:21 pagi dan 2:25 pagi. Selain itu, ada juga pesawat ketiga yang melakukan kontak pada pukul 2:30, disusul pesawat yang dipiloti oleh Kapten Zaharie Ahmad Shah itu berkomunikasi dengan ATC Kota Ho Chi Minh, Vietnam, pukul 2.37 untuk meminta clearance mendarat. Oleh karenanya, Florence de Changy, sebagaimana ditulis South China Morning Post, pernah menegaskan bahwa para pejabat Malaysia telah menyesatkan publik terkait lokasi diduga jatuhnya pesawat. Berbicara dihadapan pengunjung Hong Kong Book Fair, ia mengklaim seharusnya lokasi pencarian bukan di Samudera Hindia, melainkan di Laut Cina Selatan. Tentu saja spekulasi ini sah-sah saja mengingat tidak ada satupun bukti konkret yang menunjukkan titik jatuhnya pesawat. Namun kembali lagi, inilah yang menjadi bumbu dari hilangnya Boeing 777-200ER milik Malaysia Airlines tersebut. Baca juga: Hipotesa Misteri MH370 Berlanjut, Peneliti Percaya Pesawat Telah Dibajak dan ‘Enggan’ Ditemukan Memang, hingga saat ini belum ada spekulasi yang mampu menunjukkan dimana MH370 berada, atau bagaimana pesawat sebesar Boeing 777-200ER yang digunakan Malaysia Airlines untuk penerbangan berjadwal dari Kuala Lumpur menuju Beijing ini hilang bak ditelan bumi. Akankah MH370 tetap menjadi misteri? Atau apakah spekulasi dari insinyur aeronautika tersebut merupakan benar adanya?

Inilah Alasan Airbus Bikin Pesawat Varian NEO “New Engine Option”

Di pasar narrowbody, Boeing boleh saja bangga dengan dominasi Boeing 737 series sejak tahun 60an. Namun, roda terus berputar dan Airbus perlahan mulai menggeser kedigdayaan Boeing di pasar ini (termasuk di pasar widebody), melalui varian pesawat-pesawat berlabel NEO atau New Engine Option. Baca juga: Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona Langkah Airbus untuk memulai varian NEO pada pesawat-pesawatnya dimulai pada tahun 2006. Saat persaingan di sektor pesawat komersial semakian ketat, alih-alih mengembangkan model pesawat baru, produsen pesawat terbesar dari Eropa ini justru fokus pada pengembangan keluarga A320. Melalui program A320 Enhanced atau A320E, Airbus berhasil mencapai peningkatan efisiensi pada pesawat dengan modifikasi struktur, winglet, dan bobot. Keberhasilan tersebut kemudian mendorong Airbus melakukan perubahan secara utuh hingga muncullah A320neo, sebagai pembeda dengan A320 versi lama atau yang dikenal sebagai A320ceo (current engine option). New York Times, dalam sebuah laporan yang dikutip Simple Flying, menyebutkan, “Para analis mengatakan keputusan Airbus (mengembangkan varian NEO) kemungkinan besar karena kekhawatiran terhadap para pesaing yang lebih kecil (dari Boeing) seperti produsen pesawat di Brasil, Kanada, Cina, dan Jepang.” “Mereka semua mengembangkan jet mereka sendiri dengan mesin yang sama dengan A320neo yang memiliki kapasitas hingga 150 kursi, sehingga kapasitas dan bahan bakar (A320neo) nyaris menyerupai dengan pesawat dari negara-negara itu,” lanjut media itu dalam sebuah tulisan. Di antara berbagai pesawat yang dimaksud, Bombardier C Series (yang kemudian diakuisisi menjadi Airbus A220) dan COMAC C919, pesawat Made in China, adalah dua di antaranya. Dengan adanya pengembangan pesawat narrowbody dari negara-negara di atas, yang notabene menjadi sumber uang terbesar Airbus, pastinya tak ada cara lain kecuali menawarkan pesawat dengan mesin baru dan efisiensi lebih. Laporan Flight Global, A320neo diketahui menggunakan mesin CFM International LEAP-1A atau Pratt & Whitney PW1000G, yang lebih hemat pembakaran bahan bakar hingga 60 persen serta hemat biaya perawatan hingga 20 persen dibanding A320ceo. Secara umum, pengembangan A320 meliputi sharklet yang menawarkan efisiensi bahan bakar hingga 3,5 persen, kabin lebih luas, perubahan pada dapur, toilet, tata letak kursi baru, additional cabin space, serta jangkauan pesawat mencapai 6.850 kilometer dari sebelumnya 5.700 kilometer. Nyaris seluruhnya baru, kecuali kokpit yang 95 persen sama. Bila di total, A320neo diklaim lebih hemat bahan bakar sampai 15 persen dibanding A320ceo. Harga yang ditawarkan Airbus untuk semua benefit di atas juga terjangkau, mencapai US$120 juta, naik US$10 juta dari harga sebelumnya. Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul? Meski demikian, bukan berarti maskapai langsung tergila-gila dengan A320neo. Sebab, keuntungan-keuntungan yang ditawarkan A320neo bisa saja disematkan di A320ceo. Bila dikalkulasi, total costnya bahkan lebih murah melakukan pergantian mesin dan komponen lain (serupa A320neo) pada pesawat A320ceo. Lagi pula, A320neo bukan tanpa masalah. Sejak 2018, ada serangkaian lapopran negatif dari berbagai maskapai, seperti Lufthansa dan Qatar Airways, terhadap mesin Pratt & Whitney 1100G. Kendati demikian, permasalahan tersebut tidaklah fatal dan tetap membuat A320neo menjadi pesaing terberat Boeing 737 MAX di pasar narrowbody.

Hawker Siddeley 748 Air North Pensiun Setelah 51 Tahun Mengudara! Masih Ragukan Pesawat Tua?

Kecelakaan fatal Boieng 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 disinyalir akibat usia pesawat yang terlalu tua. Maklum, pesawat tersebut sudah mau menginjak 27 tahun sebelum berakhir nahas di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Baca juga: McDonnell Douglas Dakota DC-3 – Si Tua-Tua Keladi Setelah 81 Mengudara Akan tetapi, tudingan bahwa kecelakaan tersebut disebabkan faktor usia pesawat menjadi penyebab kecelakaan Sriwijaya Air PK-CLC rasanya bias. Pengamat penerbangan Gerry Soejatman, dalam sebuah wawancara di program berita CNN Indonesia, pernah menyebut bahwa pesawat sejatinya adalah benda mati. Begitu komponen yang ada sudah tak lagi berfungsi secara optimal, ia tinggal diganti saja dengan yang baru dan pesawat pun sehat kembali. Beda dengan manusia sebagai benda hidup yang meski digonta-ganti komponen atau organ tubuhnya, tetap saja, akan ada masalah. Sebab, faktor usia amat menentukan. Lagi pula, pesawat yang sudah melewati batas maksimum operasional dan masih eksis terus sampai setidaknya belakangan ini juga cukup banyak. Tengok saja pesawat Hawker Siddeley HS 748 C-FCSE. Menukil Simple Flying, pesawat berusia 51 tahun itu sempat menjadi andalan maskapai regional Kanada, Air North, untuk melahap rute-rute pendek point to point. Sekalipun 21 Januari 2021 lalu pesawat dengan jangkauan terbang mencapai 1.700 kilometer dalam kondisi muatan penuh ini sudah melakukan penerbangan terakhir alias pensiun bersama Air North, namun bukan berarti pesawat mangkrak.
Pesawat berkapasitas antara 12 sampai 40 penumpang, dengan konfigurasi 2-2 ini, dilaporkan tetap terus beroperasi sampai jangka waktu yang tak bisa ditentukan bersama Wasaya Airways, maskapai penerbangan domestik milik First Nations yang berpusat di Thunder Bay, Ontario, Kanada. Sebelum jatuh ke tangan Air North, pesawat ini disebut sempat dioperasikan maskapai legendaris Indonesia, Bouraq Indonesia Airlines. Saat bersama Bouraq, Hawker Siddeley 748 diregistrasi sebagai PK-HIS pada tahun 1979, berubah dari setahun sebelumnya sebagai PK-IHB. Tak banyak informasi bagaimana sepak terjang pesawat ini saat bersama Bouraq. Namun, pesawat nyaris tak pernah mengalami kecelakaan fatal atau kendala teknis apapun dan terus menemani Bouraq berkiprah di jagat dirgantara Indonesia sampai menjelang pensiun. Sekilas tentang Bouraq, maskapai yang menggunakan nama dari kendaraan Nabi Muhammad SAW ini berdiri di tahun 1970. Tidaklah mudah bagi Jerry A. Sumendap, pendiri Bouraq Indonesia Airlines, dalam menjalankan bisnis di sektor aviasi Indonesia. Butuh waktu sekitar 10 tahun bagi Bouraq untuk mencapai kejayaannya. Baca juga: Hari Ini, 17 Tahun Lalu, Bouraq dan Mandala Airlines Jadi ‘Korban’ Arogansi Militer AS dalam Insiden Bawean Namun sayang, pada tahun 1995, Jerry A. Sumendap harus menghadap Sang Ilahi dan kursi kepemimpinan diambil alih oleh Danny Sumendap. Di bawah tangan Danny, Bouraq mengalami restrukturisasi besar-besaran guna mempertahankan diri di tengah ketatnya persaingan antar maskapai. Tapi takdir berkata lain, di tahun 2005, Bouraq Indonesia Airlines dinyatakan pailit dan mengakhiri semua pengoperasian armadanya.

KA Jenggala, Kereta Komuter Plus “Wisata” Rute Mojokerto-Sidoarjo

Tak kenal maka tak sayang, rasanya ungkapan ini cukup untuk menggambarkan salah satu kereta yang ada di Daerah Operasional (Daop) 8 Surabaya. Kereta api Jenggala, ya kereta ini merupakan layanan kereta komuter yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Baca juga: KRD Cepu Ekspres – Pernah Jadi Idola Transportasi Warga Blora Kereta ini memiliki relasi dari Mojokerto ke Sidoarjo dan sebaliknya. Terbilang masih muda, kereta Jenggala sendiri usianya baru mau tujuh tahun di mana tepatnya dioperasikan pada 12 November 2014 lalu. Sampai saat ini, kereta Jenggala beroperasi dengan menggunakan Kereta Rel Diesel Indonesia atau KRDI. Ini merupakan kereta api pertama yang beroperasi melalui jalur Tarik menuju Sidoarjo setelah jalur tersebut aktif kembali. KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, kereta Jenggala ini memiliki tarif cukup murah yakni Rp4 ribu untuk sekali perjalanan. Untuk perjalanannya sendiri akan memakan waktu hingga satu jam dari Mojokerto menuju ke Sidoarjo atau sebaliknya. Untuk membeli tiket di stasiun, akan ada loket khusus dan tiket yang didapat penumpang adalah berupa kertas thermal. Nah, untuk tiketnya sendiri bisa dipesan H-7 sebelum keberangkatan di aplikasi KAI Access atau bisa dibeli langsung pada hari itu atau beberapa jam sebelum keberangkatan kereta. Kereta Jenggala sendiri akan berhenti di Stasiun Mojokerto, Tarik, Tulangan dan Sidoarjo. Ada empat gerbong dalam satu rangkaian kereta dan memiliki 270 kursi yang bisa diduduki penumpang. Keberangkatan awal dari Mojokerto pukul 06.01, dengan keberangkatan akhir pukul 15.40. Sedangkan keberangkatan dari Sidoarjo ke Mojokerto pada pukul 07.05 Wib, dengan keberangkatan akhir pukul 17.00 Wib. Seperti kereta Prambanan Ekspres atau Prameks di Yogyakarta, penumpang kereta Jenggala di antaranya para pekerja, pelancong atau untuk wisata edukasi untuk tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Baca juga: Mengintip Jenis Commuter Line di Luar Jakarta Di mana anak-anak ini akan belajar mengantre, naik dan turun kereta api, meletakkan barang bawaan pada tempatnya, menyediakan tiket kereta untuk diperiksa petugas dan mempelajari jalur tujuan kereta Jenggala. Karena kepala KRDI ini ada dua yakni di bagian depan dan belakang kereta, maka ketika kereta akan kembali baik dari Mojokerto atau Sidoarjo, masinis hanya berpindah tempat tidak perlu memindahkan kepala kereta layaknya lokomotif kereta api jarak jauh.

Samsung Digital Cockpit 2021, Fokus Pada Penyederhanaan Komunikasi dan Pengalaman Saat Bepergian

Samsung mengembangkan Digital Cockpit 2021 terbaru bersama dengan Harman untuk mengubah kendaraan menjadi tempat yang ingin ditinggali penumpang. Di mana Digital Cockpit 2021 tersebut berfokus untuk menyederhanakan komunikasi dan memberikan pengalaman yang menyenangkan saat bepergian. Baca juga: Podcars, Ide Kendaraan Masa Depan Yang Diambil dari Imajinasi Masa Lalu Ini dibuat berbeda dari tahun lalu yang memiliki delapan layar dan versi 2021 membawanya ke level yang lain. Saat ini Digital Cockpit 2021 memiliki layar QLED 49 inci di bagian depan. Dalam mode default, layar terletak dengan rapi di belakang dasbor. Hanya setengah dari layar yang terbuka dalam mode ini dan cukup untuk menampilkan informasi penting seperti pengaturan mengemudi, kecepatan kendaraan, dan peta navigasi.
Digital Cockpit 2021 (slashgear.com)
Ketika beralih ke mode media akan menawarkan sesuatu yang berbeda. Di mana saat kendaraan diparkir, layar akan naik ke depan dan ke tengah dalam sekejap mata. Pada saat yang sama, seluruh panel dasbor bergeser ke bawah untuk menawarkan lebih banyak ruang. Anda dapat memainkan game dalam mode ini, menonton konser langsung, melakukan panggilan video, atau mengedit file multimedia dalam layar penuh. “Kami pernah melihat layar bermotor sebelumnya, tetapi versi Samsung adalah yang paling imersif dengan lanskap 49 inci, dengan ide untuk mengubah kendaraan Anda menjadi kantor atau ruang tamu yang bergerak tanpa kehilangan fungsionalitas dan perlengkapan teknologi modern,“ ujar Samsung. Digital Cockpit 2021 juga menggabungkan Automotive Samsung Health, sistem yang menganalisis status kesehatan penumpang sebelum memasuki kendaraan menggunakan kombinasi kamera dan perangkat seluler yang dapat dikenakan. Sistem dapat memantau tingkat stres Anda dan menyesuaikan musik, aroma, dan pencahayaan kendaraan untuk menenangkan Anda. KabarPenumpang.com melansir slashgear.com (11/1/2021), alat ini juga dapat menganalisis pola tidur dan gerakan kelopak mata untuk mencegah Anda tertidur saat mengemudi. Penumpang belakang dapat mengontrol Digital Cockpit menggunakan panel kontrol sentuh terintegrasi di sandaran tangan tengah belakang. “Saat tidak digunakan, kontrol secara ajaib memudar di latar belakang untuk tampilan yang lebih bersih. Samsung Digital Cockpit 2021 tetap menjadi konsep pada saat ini, tetapi kami tidak sabar untuk melihatnya beraksi pada kendaraan produksi,“ kata Samsung. Sementara itu, lingkar kemudi memiliki layar touchscreen 8,8 inci di mana pengemudi dapat mengaktifkan klakson atau sinyal belok. Samsung mengatakan, mereka lebih suka sakelar fisik untuk klakson dan sinyal belok, terima kasih, tetapi anakan berbentuk C yang terinspirasi dari kuk memberikan getaran olahraga jadul pada pengaturan berteknologi tinggi. Tak hanya itu, Digital Cockpit 2021 menggabungkan layar informasi 13,2 inci di konsol tengah. Ini juga menambahkan tampilan jendela mengambang di bagian tengah atas kaca depan, praktis seperti kaca spion digital yang memungkinkan pengemudi untuk memantau rambu-rambu jalan, informasi cuaca dan sinyal lalu lintas. Mirip dengan Digital Cockpit tahun lalu, sistem ini memiliki fitur audio-visual sehingga pengemudi dapat berkomunikasi dengan pejalan kaki dan kendaraan lain di jalan. Kapnya memiliki layar terintegrasi untuk menampilkan pesan singkat guna meningkatkan keselamatan pejalan kaki. Baca juga: Mengenal Glass Cockpit, Fitur yang Mudahkan Pilot Operasikan Pesawat Selain itu, ia juga mendapatkan pengeras suara terarah yang terdengar lebih lembut daripada klakson mobil konvensional, yang ternyata cukup keras untuk menarik perhatian pejalan kaki dan cukup ‘lembut’ agar tidak mengganggu tetangga Anda.

Buka Jendela Seberang Pengemudi dan Penumpang, Dianggap Lebih Baik untuk Cegah Covid-19 di Mobil

Belum lama ini sebuah studi menemukan cara terbaik untuk mengurangi risiko Covid-19. Di mana semula mobil yang tengah mengangkut penumpang, semua jendela dibuka menawarkan peluang terbaik untuk mencegah penyebaran virus Corona di dalam kendaraan. Baca juga: Apakah Aerosol Bisa Sebabkan Infeksi? Lalu Apakah Buka Jendela Ruangan Bisa Hindari Virus? Tetapi studi baru justru mengarahkan untuk menetapkan bahwa opsi terbaik kedua yakni membuka jendela di seberang pengemudi dan belakang dekat tempat duduk penumpang. Dilansir KabarPenumpang.com dari nypost.com (20/1/2021), Varghese Mathai, asisten profesor fisika di UMass Amherts mengatakan, orang mungkin membayangkan bahwa seorang secara naluriah membuka jendela tepat disamping mereka saat berkendara dengan penumpang selama pandemi. Dia mengatakan, hal ini mungkin tidak optimal, tetapi lebih baik daripada tidak membuka jendela sama sekali. “Kami merancang penelitian ini dengan mempertimbangkan berbagi tumpangan, dari taksi tradisional atau Uber dan Lyft hingga perjalanan non-komersial, dengan asumsi seorang pengemudi dan satu penumpang, duduk di belakang di sisi penumpang untuk memberikan jarak terbaik antara penumpang,” dia menambahkan. Dia mengatakan, dengan menutup jendela tidak selalu memungkinkan selama musim dingin atau hujan karena banyak angin yang bisa masuk ke dalam mobil. Tak hanya itu, penelitian tersebut menggembar-gemborkan manfaat yang mungkin ditawarkan membuka jendela paling jauh dari pengemudi dan penumpang di kursi belakang dalam mengurangi penyebaran virus di kendaraan selama pandemi. “Partikel kecil yang berpotensi patogen ini tetap berada di udara untuk jangka waktu lama tanpa mengendap, jadi jika tidak dikeluarkan dari kabin, partikel tersebut dapat menumpuk seiring waktu, meningkatkan risiko infeksi,” kata Mathai. Dia menambahkan, umumnya udara yang mengalir di sekitar kendaraan menciptakan tekanan yang lebih rendah di jendela depan dibandingkan dengan yang di belakang. “Kami memiliki gagasan bahwa jika Anda membuka jendela belakang dan depan pada sisi yang berlawanan, maka Anda dapat menciptakan aliran udara dari belakang ke depan kabin, dan melintasi tengah,” katanya. Dalam konfigurasi ini, jendela depan di sisi kanan dan jendela belakang di sisi kiri akan terbuka dengan penumpang duduk di kursi kanan di belakang. “Kami terkejut, simulasi menunjukkan aliran udara yang bertindak seperti pembatas antara pengemudi dan penumpang. Meskipun tindakan ini tidak dapat menggantikan penggunaan masker wajah saat berada di dalam mobil, tindakan ini dapat membantu mengurangi beban patogen di dalam ruang kabin mobil yang sangat terbatas,” tambahnya. Baca juga: Naik Taksi di Beijing Jangan Lupa Pindai QR Code Kesehatan Penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Science Advances dilakukan dengan rekan Asimanshu Das, Jeffrey Bailey dan Kenneth Breuer di Brown University, tempat Mathai bekerja sebelumnya dan memulai penelitian sebelum pindah ke UMass. Model komputer yang digunakan untuk penelitian ini secara kasar didasarkan pada eksterior Toyota Prius yang dikendarai dengan kecepatan sekitar 50 mph. Tes lapangan terhadap asap dan tongkat aliran direkam di kabin Kia Optima.

Pesawat Kargo 737-800BCF Jadi Andalan Boeing Raup Untung di Era Pandemi

Boeing dikabarkan tengah sumringah lantaran varian kargonya, 737-800BCF (Boeing Converted Freighter) laris dipasaran. Terbaru, produsen pesawat terbesar di dunia itu mendapat 15 unit pesanan dari lessor BBAM dan 50 unit 737-800BCFs (lebih kecil dari versi standar) dari GECAS. Ini tentu menjadi berkah tersendiri bagi Boeing untuk tetap meraup untung sekalipun permintaan pesawat penumpang sedang lesu akibat pandemi Covid-19. Baca juga: Boeing 747 Combi, Solusi Maskapai Angkut Penumpang dan Kargo di Era Pandemi Covid-19 “Kami merasa terhormat bahwa BBAM telah memilih lebih banyak 737-800BCF, berdasarkan keberhasilan standard body freighters kami dalam portofolio. Permintaan yang terus meningkat untuk 737-800BCF menunjukkan peran penting yang dimainkan oleh pesawat yang dikonversi ini dalam angkutan ekspres dan e pasar –commerce,” kata Senior Vice President for Commercial Sales and Marketing, Ihssane Mounir, dikutip dari Simple Flying. Rendahnya frekuensi penerbangan sudah pasti akan mempengaruhi kebutuhan pesawat baru. Alhasil, Boeing pun kelimpungan. Namun, mereka tak tinggal diam dan mencari cara agar tetap meraup untung hingga akhirnya pesawat 737-800BCF menjadi jawaban. Tingginya permintaan pesawat itu bahkan memaksa Boeing untuk membuka dua jalur konversi baru di Asia, yaitu di Guangzhou dan Singapura, melengkapi jalur sebelumnya di Shanghai. Detailnya, fasilitas di Singapura akan fokus menangani konversi untuk 767s. Pesawat itu sebetulnya merupakan konversi dari pesawat Boeing 737-800 versi penumpang. Meski demikian, dengan dikonversi menjadi pesawat kargo umur pesawat menjadi bertambah hingga dua kali lipat. Tak lupa, Boeing 737-800BCF juga 20 persen lebih efisien ketimbang daripada kargo Boeing 737 klasik. Boeing 737-800BCF, yang proses pengerjaannya memakan waktu selama 90 hari, biasanya banyak dioperasikan operator di rute domestik atau jarak pendek di seluruh dunia, dengan kapasitas angkut hingga 24 ton kargo sejauh 3.750 km. Kapasitas dan jangkauan itulah yang pada akhirnya membuat 737-800BCF menjadi pilihan favorit untuk raksasa kargo seperti FedEx dan Amazon Prime Air. Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul? Dengan adanya proyeksi permintaan untuk 2.430 pesawat kargo selama 20 tahun ke depan, termasuk 930 pesawat kargo produksi baru dan 1.500 pesawat kargo yang dikonversi dari pesawat penumpang oleh World Air Cargo Forecast (WACF), Boeing 737-800BCF agaknya benar-benar amat bisa diandalkan untuk mencetak keuntungan besar selagi permintaan pesawat penumpang turun atau mungkin melandai. Masih menurut proyeksi WACF, lalu lintas kargo udara dunia akan tumbuh sebesar 4 persen per tahun selama 20 tahun ke depan. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh perdagangan dan pertumbuhan pengiriman ekspres untuk mendukung perluasan operasi e-commerce.