Seekor anjing hilang setelah perjalanan dengan kapal ferry Spirit of Tasmania dan pencarian tengah dilakukan. Kejadian hilangnya seekor anjing Doberman rottweiler cross bernama Ester hilang saat sang pemilik Holly Alexander melakukan perjalanannya untuk pindah ke Queensland, Australia.
Baca juga: Pesawat El Al Delay Dua Hari Gegara Kucing Hilang di Pesawat
Holly membawa Ester dalam perjalanannya menggunakan kapal ferry pada Senin (25/1/2021). Saat itu waktu menunjukkan tengah malam dan Holly diberi tahu oleh petugas bahwa Doberman rottweiler cross miliknya telah hilang.
“Saya terbangun tengah malam karena salah satu petugas keamanan yang memberi tahu saya bahwa Ester telah hilang melarikan diri dan mereka telah berusaha untuk menemukannya tetapi tidak berhasil,” kata Holly.
Dia mengaku telah memasukkan anjingnya ke dalam kadang dan memeriksanya dua kali untuk memastikan pintu tertutup. Holly juga mengatakan, ketika diberi tahu Ester menghilang, dia hanya diizinkan mencari selama satu jam dan setelahnya menunggu di bar sembari para petugas kembali melakukan pencarian.
Holly mengatakan, kru tidak dapat menemukannya dan tidak membunyikan alarm ketika mereka mencoba untuk membuat orang turun atau memeriksa mobil mereka karena bisa jadi anjingnya telah melompat ke dalam mobil lain atau trailer. Pada hari Rabu (27/1/2021), Holly berjalan di sekitar mobil yang diparkir di palka kapal sambil memanggil nama anjing itu sampai pagi dan juga tak berhasil.
Ketika dia melakukan pencarian itu, alarm kendaraan berbunyi dan dia ragu Ester bisa mendengarnya. Meski begitu petugas mengatakan, alarm tersebut mungkin bisa berguna ketika semua orang menyalakan mobil mereka dan itu akan membuat Doberman rottweiler cross
“Ester mungkin sudah ketakutan dan menyalakan alarm itu hanya akan memperburuk keadaan,” ujar Holly yang dikutip KabarPenumpang.com dari abc.net.au (27/1/2021).
Dia mengatakan seorang pengawas setuju untuk meninjau rekaman CCTV dari ruang kapal, tetapi pengawasan terhadap area tempat hewan disimpan itu “terbatas”.
“Saya di sana sampai tengah hari menolak untuk pergi, karena mereka mengatakan dia menghilang begitu saja. Mereka memeriksa kamera terbatas mereka yang mereka miliki tetapi mereka tidak memiliki kamera yang menghadap ke kandang,” ujar Holly.
Holly mengatakan dia berharap seseorang telah menemukan Ester dan dia berada di suatu tempat. Dia mengatakan kontak terakhirnya dengan TT-Line, operator ferry, adalah pada hari Selasa pukul 16.00 waktu setempat.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu, TT-Line mengatakan “terus bekerja dengan pemilik anjing itu”. Sebuah posting di halaman Facebook Spirit of Tasmania pada Rabu sore mengatakan Ester tidak ditemukan setelah pencarian kapal secara menyeluruh, menunjukkan bahwa anjing tersebut mungkin telah meninggalkan kapal di dalam kendaraan atau trailer penumpang lain.
Baca juga: Lufthansa Kehilangan Kucing Milik Penumpang di Bagasi Kargo
“Aku hanya ingin dia kembali. Dia adalah sahabatku,” katanya.
Garuda Indonesia punya seragam baru untuk para awak kabinnya di hari jadi ke ke-72 pada 26 Januari 2021 kemarin. Seragam awak kabin ini merupakan edisi spesial yang dirancang oleh salah satu desainer ternama Indonesia yakni Didiet Maulana bersama dengan tim Ikat Indonesia.
Baca juga: “Garuda Indonesia Vintage Flight Experience” Resmi Diluncurkan, Inilah Paras Ayu Pramugari dengan Seragam Klasik
Desain seragam awak kabin bertajuk Puspa Nusantara yang hadir untuk awak kabin wanita maupun pria. Didiet mengatakan, seragam ini dipakai pada HUT ke-72 Garuda Indonesia dan semoga kedepannya ada kejutan merarik lainnya.
Dikutip KabarPenumpang.com dari beberapa laman sumber, Didiet menjelaskan ada empat fakta pada desain khusus pada seragam awak kabin Garuda Indonesia.
1. Warna ungu
Tidak ada alasan khusus dari Didiet ketika memilih warna ungu untuk dasar seragam awak kabin wanita dan detail pada awak kabin pria. Menurutnya warna ini sangat pas karena kesannya lebih elegan dan cocok dengan warna tenun yang dipadukan.
“Ungu memberikan satu kesan yg elegan dan anggun, tetapi juga lembut dan memberikan keteduhan,” katanya.
2. Kain tenun endek Bali dan lurik Klaten
Didiet menggunakan kain tenun endek Bali yang dikombinasikan dengan kain lurik Klaten untuk seragam awak kabin Garuda Indonesia. Pilihan kain tersebut diambil untuk membuat tampilan seragam sarat akan makna keberagaman atau bisa dikatakan secara tidak langsung menjadi cara untuk melambangkan keberagaman Indonesia. Untuk membuat koleksi ini, Didiet turut melibatkan para pengrajin di daerah yang jumlahnya mencapai 50 pengrajin.
3. Desain dan konsep khusus
Proses desain seragam awak kabin ini tentu berbeda dengan proses desain busana lainnya. Seragam ini telah melalui sejumlah riset dan trial-error di lapangan agar hasilnya bisa mendukung aktivitas kerja para awak kabin. Dia menyebutkan, konsep desain bukan hanya mengutamakan keamanan dan keselamatan, tetapi juga dari sisi estetika yang terinspirasi dari kekayaan Indonesia. Pada awak kabin wanita, atasan seragam didominasi warna ungu dengan kepak garuda menginspirasi model lengannya, berpadu dengan kerah kartini dan kebaya pendek peranakan. Bagian rok awak kabin perempuan dibuat panjang, dengan adanya lipatan pada bagian depan yang membuatnya tampak seperti rok ikat.
“Merancang untuk cabin crew kan keamanan memang nomor satu, jangan sampai konsep desain membuat apabila ada sesuatu yang emergency jadi menghalangi,” jelas Didiet.
Baca juga: Hadirkan Seragam Mini, Qantas dan Emirates Harapkan Anak-Anak Cintai Profesi Awak Kabin4. Terdapat detail desain Eropa
Bila dalam seragam awak kabin wanita lebih terlihat kebaya nusantara, untuk desain seragam awak kabin pria, Didiet merancangnya dengan didominasi warna biru gelap. Ini memberikan nuansa tegas yang tetap terasa hangat. Meski desain ini terinspirasi dari Beskap Langenharjan yang dilihatnya di Mangkunegaran, namun ternyata desain ini juga memiliki sedikit sentuhan bernuansa Eropa. Kantong saputangan dari seragam ini terdiri dari kombinasi lurik beberapa daerah, menjadi aksen yang sederhana namun begitu tegas. Sementara saputangan leher terinpspirasi dari cravat atau dasi yang sering dikenakan oleh para pria di Eropa sehingga ada style internasional dalam seragam awak kabin pria.
Bola berwarna hitam besar dengan diameter lingkaran sekitar tiga meter ditemukan di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri). Bola hitam besar yang bertuliskan Yokohama 50kPa ini pun membuat geger warga karena dikhawatirkan berbahaya dan sengaja dikirim negara asing untuk memata-matai Indonesia.
Baca juga: Mengenal AIS, Sistem yang Bikin Kapal Tanker Iran dan Panama Ditangkap Bakamla
Usut punya usut, bola hitam besar yang dilapisi dengan rantai besi putih disertai ban hitam mini ini rupanya tak lebih dari fender atau floating fender, sebuah bumper untuk mencegah kapal membentur dermaga atau membentur kapal lain saat sedang ditambatkan di pelabuhan ataupun di laut. Selain itu, fender juga berfungsi untuk menyerap energi kinetik dari kapal saat berlabuh ke dermaga.
Disarikan dari shipfever.com, untuk mampu melakukan peredaman, fender biasanya memiliki daya serap energi yang tinggi dan gaya reaksi yang rendah. Fender umumnya terbuat dari karet, busa elastomer, atau plastik.
Berdasarkan jenisnya, fender yang digunakan tergantung pada banyak variabel, antara lain ukuran dan berat kapal, stand-off maksimum yang diizinkan, struktur kapal, variasi pasang-surut, dan kondisi tempat tertentu lainnya. Ukuran fender didasarkan pada energi kapal saat berlabuh yang berhubungan dengan ketepatan kecepatan berlabuh.
Tetapi, apapun jenis dan tipenya, hanya ada dua warna pada fender, hitam atau oranye. Oranye biasanya digunakan pada kapal militer dan patroli penjaga pantai dan keamanan laut.
Yacht dan kapal pendukung biasanya memiliki fender yang dapat dipindahkan yang ditempatkan di antara kapal dan dermaga saat kapal merapat. Sebaliknya, dermaga dan bangunan di atas air lainnya, seperti pintu masuk kanal dan dasar jembatan, memiliki fender permanen yang ditempatkan untuk mencegah kerusakan akibat benturan kapal. Ban-ban bekas sering digunakan sebagai fender di beberapa tempat.
Fender tak semuanya dibuat dari bahan elastis seperti karet, busa elastomer, atau plastik. Ada juga fender yang terbuat dari kayu dan semuanya disesuaikan dengan jenis penggunaannya.
Hanya saja, saat ini fender kayu sudah tidak banyak digunakan, mengingat harga kayu tidak lagi murah dan masalah lingkungan yang muncul dengan penebangan pohon; kecuali untuk pelabuhan kecil di daerah Sumatera, Kalimantan, dan Papua dimana masih tersedia cukup banyak kayu.
Baca juga: Dramatis! Kapal Ferry di Yunani Selamatkan Gadis Kecil dengan Pelampung Unicorn yang Terbawa Arus Hingga ke Tengah Laut
Fender karet yang merupakan produk pabrik semakin banyak digunakan karena kualitasnya lebih baik dan banyak tersedia di pasaran dengan berbagai tipe.
Selain fender karet dan fender kayu, ada juga fender gravitasi. Fender gravitasi pada umumnya digantung di sepanjang dermaga. Fender tipe ini dibuat dari tabung baja yang diisi dengan beton. Sisi depan fender gravitasi diberi pelindung kayu dengan berat 15 ton. Fungsinya, apabila terbentur kapal, fender akan bergerak ke belakang dan ke atas, sehingga kecepatan kapal dapat dikurangi, karena untuk menggerakan ke belakang dibutuhkan tenaga yang cukup besar.
Sebelum wabah virus Corona menyebar dan menggulung industri penerbangan global, kehidupan pilot identik dengan kemewahan. Tetapi, pasca Covid-19 menyebar, industri penerbangan jatuh ke titik terdalam, dan pilot dimana-mana di-PHK, kehidupan mereka pun berubah 180 derajat. Seperti yang dialami oleh Patrick Pawelczak.
Baca juga: Penuhi Kebutuhan Hidup, Dua Pilot Indonesia Alih Profesi Jadi Pedagang Mie Ayam dan Kopi Keliling
Dilansir expatmedia.net, pilot asal Sant Andreu de Llavaneres, Barcelona, Spanyol, tersebut tercatat sudah sejak 2018 lalu bekerja di salah satu maskapai charter Slovakia, Go2Sky. Sebelum dipecat, tanda-tanda akan hal itu sudah ada, dimana, ia hanya terbang tak lebih dari 700 jam. Sangat kecil bila dibandingkan ribuan jam terbang dalam kondisi normal.
Sudah begitu, keuangan maskapai juga terlihat mulai tak sehat dengan adanya berbagai pengurangan, baik pengurangan karyawan maupun pengurangan budget operasional. Benar saja, ia pun akhirnya harus merelakan profesi pilot yang sudah dijalaninya selama dua tahun usai surat pemecatan atas dirinya sampai.
Kendati pun mengaku terpukul, ia hanya menyadari bahwa hidup harus terus berjalan. Ia harus tetap memenuhi kebutuhan hidupnya, tak peduli bagaimanapun caranya. Pada akhirnya, ia pun menemukan jalan hidupnya usai di-PHK sebagai pilot dan banting setir menjadi tukang kuli bangunan sekaligus tukang antar paket.
Tak disebutkan dengan jelas bagaimana ia mengatur dua profesi itu sekaligus. Dalam postingannya di LinkedIn, ia hanya menulis “Beginilah seragam saya, berubah selama setahun terakhir,” sambil mengunggah sebuah foto grid saat masih menjadi pilot, ketika tukang bangunan, dan tukang antar paket. Besar kemungkinan, ia menggarap manapun yang lebih dahulu datang antara dua job itu,
Akan tetapi, siapa sangka, postingannya itu pun viral. Sampai saat ini, postingannya sudah tayang 15 juta kali, mendapat 500 ribu like, dan 13 ribu komentar. Rata-rata dari mereka berkomentar positif dan menganggap apa yang dilakukan mantan pilot -yang terakhir kali ada di posisi first officer atau co-pilot Boeing 737- itu sebagai sebuah inspirasi bagi ribuan pilot yang saat ini sedang menganggur dan bingung melanjutkan hidup.
Baca juga: Covid-19 Bikin Pilot Banyak Nganggur! Masihkah Jadi Profesi Idaman?
“Ya, hidup itu sulit -terutama saat ini- tetapi itu bukan alasan untuk menyerah. Kami harus berjuang – untuk diri Anda sendiri dan untuk keluarga kami,” katanya, menaggapi komentar netizen.
Kendati sudah nyaman banting setir dari pilot menjadi tukang bangunan dan tukang antar paket Amazon, Patrick Pawelczak masih membuka diri terhadap seluruh tawaran pekerjaan, baik sebagai pilot, co-pilot, dan flight instruktur.
Wabah Covid-19 sangat mematikan industri penerbangan global. Pada tahun 2018, IATA memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037. Sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta.
Baca juga: Studi Terbaru: Banyak Pilot Remehkan Dampak Stres Terhadap Keselamatan Penerbangan
Jumlah penumpang diperkirakan akan tumbuh menjadi 2,8 miliar pada 2021, jauh dari angka dua tahun lalu mencapai 4,5 miliar. Paling cepat, jumlah penumpang akan kembali ke titik itu pada 2024 mendatang, dimana penerbangan domestik diperkirakan akan lebih dahulu kembali normal dibanding penerbangan internasional.
Akibat dari penurunan tersebut, sekitar 25 juta pekerja terancam PHK pada kuartal II tahun lalu. Memang tak ada penelitian pasti bagaimana validasi data itu pada awal tahun ini. Tetapi, bila 25 juta pekerja itu termasuk PHK pilot, belum lama ini terdapat penelitian terkait hal itu.
Dilansir Simple Flying, sebuah survei yang terjalin berkat kerjasama antara Goose Recruitment dan FlightGlobal menunjukkan sebanyak 57 persen pilot, baik pilot senior maupun muda, di seluruh dunia kehilangan pekerjaan.
Survei bertajuk “Pilot Survey 2021” itu setidaknya melilbatkan 2.598 dari seluruh dunia selama empat pekan selama bulan Oktober 2020. Hasilnya, 43 persen dari mereka mengaku masih bekerja dan aktif terbang.
Sedangkan sisanya, 57 persen, terdiri dari 30 persen menganggur, 17 persen cuti tanpa kejelasan kapan akan mulai kembali bekerja dan sudah pasti cuti tanpa dibayar, enam persen banting setir menjadi beragam profesi di sektor aviasi, dan empat persen lainnya banting setir di sektor lain, mulai dari jadi penjual gorengan, dan banyak lagi.
66 persen dari mereka yang menganggur mengaku giat mencari pekerjaan di bidang sejenis maupun di bidang lain. Tiga persen di antaranya bahkan sedang dalam proses wawancara.
Salah satu pilot yang giat mencari pekerjaan bercerita bahwa sebetulnya ia sudah ada di posisi nyaman sebagai pilot di salah satu maskapai di negaranya. Tak disebutkan dengan jelas negara asal pilot ini. Namun, pada Desember 2019, ia memutuskan resign untuk kemudian bergabung dengan salah satu maskapai besar di Timur Tengah pada Maret 2020. Sayangnya, wabah virus Corona menyebar dengan cepat dan kesempatan bergabung dengan maskapai baru pun pupus. Alhasil, ia menganggur sampai sekarang.
Akan tetapi, bila pun ia tetap bekerja, besar kemungkinan gajinya akan dipotong habis-habisan, sebagaimana pilot lain yang saat ini masih aktif terbang. Cathay Pacific memotong gaji pilot hampir 58 persen, Ryanair 20 persen, Lufthansa 45 persen, dan banyak maskapai lainnya yang hampir pasti melakukan pemotongan gaji.
Bila diklasifikasi berdasarkan wilayah, Amerika Utara berhasil menghalau dampak penurunan penumpang pesawat akibat virus Corona terhadap PHK pilot. Dua negara di Amerika Utara, yaitu Amerika Serikat dan Kanada, PHK setidaknya menyasar ke 20 persen pilot dan masih menganggur sampai saat proses penellitian dilakukan. Bahkan, United Airlines, salah satu maskapai besar di Amerika Serikat, belum lama ini mengumungkan akan mempekerjakan kembali 400 pilot.
Baca juga: Covid-19 Bikin Pilot Banyak Nganggur! Masihkah Jadi Profesi Idaman?
Penyebab di-PHKnya pilot, 84 persen (dari total 57 persen pilot menganggur) mengaku akibat wabah virus Corona, adapun sisanya mengaku di-PHK karena berbagai persoalan, seperti kinjerja kurang memuaskan hingga carut marut manajemen keuangan maskapai.
40 persen dari mereka yang disurvei mengaku bermasalah mental atas gejolak di tempatnya bekerja. Rata-rata dari mereka berusia muda. Semakin muda usianya, masalah pada mentalnya semakin besar. Pun sebaliknya, semakin tua, semakin rendah dampak wabah virus Corona terhadap kesehatan mentalnya.
Nantinya pelancong Indonesia tak perlu jauh-jauh mengunjungi Singapura untuk ke Pulau Sentosa. Hal ini karena PT ASDP Indonesia Ferry siap untuk berkolaborasi dan mendukung megaproyek Bakauheni Harbour City. Yang mana proyek ini ditargetkan menjadi destinasi pariwisata unggulan di Sumatera.
Baca juga: Menara Siger, Ikon Khas Lampung dan Bakauheni yang Jadi Penanda Titik Nol Kilometer Sumatera
Bahkan mega proyek ini pun sudah mendapat dukungan dari Pemprov Lampung, Kementerian BUMN, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian PUPR. Megaproyek Bakauheni Harbour City ini dikatakan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi bahwa pihaknya bersama dengan seluruh stakeholder terkait akan menjadikan Bakauheni sebagai pilihan utama masyarakan Jakarta serta Sumatera untuk melakukan kunjungan wisata di Lampung.
Vision Masterplan Kawasan Bakauheni Harbour City (PT ASDP Indonesia Ferry)
Ira Puspadewi, Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry mengatakan, saat ini pihaknya bersama dengan Hutama Karya, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) serta Pemprov Lampung, akan menyelesaikan visioning masterplan pengembangan kawasan pariwisata Bakauheni yang diharapkan menjadi salah satu penggerak utama perekonomian di sektor pariwisata masa depan.
“Masterplan ditargetkan selesai dalam waktu dekat, tentu keterlibatan seluruh pihak sangat penting dalam terwujudnya megaproyek ini dalam mengolah potensi Bakauheni yang sangat besar menjadi salah satu destinasi pariwisata unggulan di Sumatera,” kata Ira yang dikutp dari siaran pers.
“Dengan hadirnya Bakauheni Harbour City ini, kami targetkan kawasan Bakauheni dapat menjadi destinasi pariwisata berskala internasional. Bakauheni bukan hanya sebagai pelabuhan penyeberangan, tetapi juga menjadi lokasi wisata baru dan menjadi favorit wisatawan nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman),” ujarnya.
Dukungan Pemerintah terhadap megaproyek ini juga cukup besar diantaranya dari Kementerian PUPR yang sangat berperan dalam infrastruktur jalan. Menteri PUPR Basuki Hadimulyono dalam kunjungan kerjanya di Lampung pada (25/1/2021) berkesempatan mengunjungi lahan Bakauheni Harbour City.
Basuki mengatakan, Bakauheni memiliki potensi yang sangat bagus dalam pengembangan pariwisata ini. Kawasan pariwisata terpadu Bakauheni yang dibangun diatas lahan dengan luas total 214 hektare ini akan menjadi kawasan pariwisata tepi laut terbesar dan berkelas dunia yang berada di Sumatera.
Di kawasan ini juga akan dibangun Taman Budaya Menara Siger, Intermoda Terminal, Marina Village, Bakauheni Harbour Park dan Mangrove Forest yang dilengkapi dengan fasilitas hotel berbintang, villa dan taman bermain. Pada tahap awal akan dimulai dengan pengembangan kompleks Taman Budaya Siger seluas 3,8 hektare sebagai area budaya yang terintegrasi dengan Masjid Bakauheni berkapasitas 2.600 jemaah.
Di lokasi ini akan dibangun masjid, museum kontemporer, restaurant, sky bridge, toko souvenir dan fasilitas parkir yang besar. Para wisatawan yang datang ke Menara Siger dapat menikmati panorama alam yang sangat indah, karena sebagai ikon Lampung Selatan, menara ini berada di lokasi strategis yang dikelilingi laut dan perbukitan.
Berdasarkan data statistik wisatawan nusantara, pada 2010-2019 pertumbuhan kunjungan wisatawan ke Lampung rata-rata mencapai 21,6 persen (wisnus) dan 21,5 persen (wisman) dengan proporsi wisnus sebesar 98 persen dari total seluruh wisatawan. Lampung sendiri menempati urutan ke 11 dengan tujuan wisnus 2,4 persen dari total perjalanan wisnus di Indonesia.
Adapun asal wisatawan yang berkunjung ke Lampung, berasal dari Palembang 46 persen, Jabodetabek 24 persen dan dari Bandung 16 persen. Hal ini menjadi indikasi Lampung memiliki daya tarik bagi wisatawan nusantara.
“Bahkan, jika melihat data penyeberangan ASDP, dari total 49 juta yang dilayani di seluruh Indonesia, lintasan Merak-Bakauheni sendiri berkontibusi sebesar 42,2 persen atau sekitar 20,7 juta penumpang yang menyeberangi Jawa-Sumatera setiap tahunnya. Sehingga, ada potensi yang sangat besar disini, utamanya dalam pengembangan sektor pariwisata,” tutur Ira.
Baca juga: Sanggup Layani Kapal Ferry Bertonase 10.000 Ton, Dermaga IV Merak-Bakauheni Resmi Dibuka
Tidak hanya itu, kehadiran Terminal Eksekutif Anjungan Agung, Bakauheni yang dilengkapi kawasan komersial seperti mal dengan desain interior yang megah dan modern juga turut menjadi fasilitas pendukung yang menyajikan hiburan sekaligus edukasi, kemudahan jalur transportasi, dan akomodasi bagi keberadaan kawasan pariwisata terpadu Bakauheni Harbour City.
Cuaca buruk atau hujan acap kali menyulitkan insan penerbangan bukan hanya di udara, melainkan juga di darat. Di udara, hujan disertai awan cumulonimbus bisa saja membuat pesawat mengalami kegagalan teknis dan berujung kecelakaan.
Baca juga: Tahukan Anda, Aspal Runway 10 Kali Lipat Lebih Kuat Dibanding Aspal Jalan Raya!
Begitupun juga dengan di darat, hujan juga bisa menyebabkan genangan air di runway atau landasan pacu bandara dan dapat memicu terjadinya hydroplaning, sebuah kondisi pengereman yang tidak sempurna akibat adanya pemantulan pesawat dari permukaan landasan, dan memungkinkan terjadinya insiden, seperti overrun atau tergelincir.
Khusus di Indonesia, ancaman hydroplaning dan menyebabkan terjadinya overrun cukup besar mengingat dari 300 bandara yang ada tak satupun dilengkapi dengan alat deteksi genangan air di runway. Terbukti, banyak insiden pesawat tergelincir dari landasan terjadi saat hujan deras menerjang.
Menurut ICAO, genangan air tertinggi adalah 4 milimeter dan tidak boleh lebih dari 25 persen di area runway yang tergenang. Lebih dari itu, keselamatan penerbangan akan sangat dipertaruhkan.
Menyikapi hal itu, tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Balitbang Transportasi Udara Kementerian Perhubungan pun melakukan suatu inovasi dan melahirkan Standing Water Detector (SWD) atau alat pendeteksi tingginya genangan air yang ada di landas pacu bandara.
Dilansir laman resmi ITS, Ketua Riset SWD ITS, Melania Suweni Muntini mengungkapkan SWD telah dikembangkan sejak tahun 2018. Saat itu, pengetesan dilaksanakan di Bandara Trunojoyo Sumenep, dilanjutkan di Bandara Yogyakarta atau New Yogyakarta International Airport (NYIA) pada tahun 2019, dan enam bandara, meliputi Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Kualanamu, Juanda, I Gusti Ngurah Rai, dan Sultan Hassanuddin, pada 2020.
“Untuk alatnya sendiri bisa di semua bandara, ada 300 bandara di Indonesia yang mempunyai potensi untuk diujicobakan, khususnya yang SWD,” katanya.
Selain di bandara, pengujian juga dilakukan di laboratorium terbuka Departemen Fisika ITS untuk memastikan bahwa alat bekerja dengan benar di kedua tempat. “Alasan lainnya juga karena jika di bandara, saat hujan kita tidak bisa melihat langsung alatnya karena berbahaya. Kalau di lab kita bisa mengalibrasi secara langsung setelah diakuisisi data,” tutur Melani.
Alat ini memiliki dua sistem deteksi yaitu hardware dan software. Untuk software, data-data seperti profil runway berupa kekasaran serta kemiringan runway. Hardware sendiri akan bisa mendeteksi temperatur dan kelembaban udara. “Untuk metode deteksi standing water ini kita mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. KP 39 Tahun 2015 dan Annex 14, Aerodrome,” terang dosen Departemen Fisika ITS ini.
Pada pengoperasiannya, purwarupa SWD akan diletakkan di samping landas pacu pada area touchdown. Saat hujan, aliran air dari landasan pacu akan menyentuh sensor pada purwarupa yang kemudian aliran ini akan dikonversikan menjadi data digital dan digabungkan dengan data sekunder seperti profil landasan pacu yang akan memberikan output berupa ketinggian standing water.
Pengingat atau indikator di sistem akan menyala berwarna merah saat 25 persen alat menunjukkan bahwa ketinggian telah sama atau lebih dari 3 milimeter. Sementara bila belum mencapai ketinggian itu, indikator akan menunjukkan warna-warna lain.
Baca juga: Landing atau Divert? Inilah Delapan Cara Pilot Terbang dengan Aman
Data ketinggian ini nantinya akan digunakan ATC untuk memberikan rekomendasi terbaik ke pilot terkait keputusan mendarat atau tidaknya pesawat. Demikian juga dengan pilot, adanya informasi ketinggian genangan air melalui alat SWD ITS-Balitbang TU Kemenhub itu akan mengurangi holding di udara hanya untuk memutuskan tetap mendarat di suatu bandara atau tidak. Manfaat lainnya, petugas juga tak perlu turun langsung untuk mengeceknya.
Saat ini, SWD masih dalam proses sertifikasi. Bila berhasil, bukan tak mungkin angka kecelakaan pesawat di bandara, seperti overrun atau tergelincir ke luar runway akibat cuaca buruk bisa ditekan.
Gilang Widya Pramana seorang Crazy Rich asal Malang, Jawa Timur ternyata punya pesawat jet pribadi dan bus mewah yang dikenal dengan Juragan 99. Pesawat pribadinya merupakan Cessna Citation Latitude yang harganya bisa dibilang tak murah yakni Rp280 miliar.
Baca juga: Intip Kemewahan Konsep Kabin VIP Airbus A220, Crazy Rich Wajib Coba!KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, Crazy Rich Malang ini juga memiliki bus dari berbagai ukuran yakni sedang hingga besar. Bahkan busnya pun dari berbagai merek yakni Scania dan Mercy serta ada pula Mitsubishi dan Isuzu. Nah, yang pertama akan dibahas adalah pesawat Cessna Citation Latitude dengan harga fantastis tersebut.
Bus mewah Juragan 99
Cessna yang dimiliki Gilang merupakan jet bisnis dengan model 680A yang diumumkan pada konvensi NBAA 2011. Prototipe pesawat ini terbang pertama kali pada 18 Februari 2014, memperoleh sertifikasi FAA pada 5 Juni 2015 dan pengiriman pertama dimulai pada 27 Agustus.
Badan pesawat bundar stand-up sheet bersihnya memiliki lantai datar dan disimpan di Cessna Citation Longitude. Pesawat ini memperoleh sertifikasi dari Federal Aviation Administration pada tanggal 5 Juni 2015. Diluncurkan sebagai pesawat yang lebih besar dari Cessna Citation XLS+ dan lebih murah daripada Cessna Citation Sovereign.
Pengiriman pertama dijadwalkan awal 2016.
Pesawat ini memiliki sembilan kursi dan dilengkapi dengan mesin turbofan kembar Pratt & Whitney Canada PW306D1. Citation Latitude menampilkan avionik GARMIN G5000 layar sentuh berkemampuan NextGen, ekor salib, badan pesawat berbahan logam dan kokpit terbesar dari Citation line.
Citation Latitude dihargai $14,9 juta atau sekitar Rp200 miliar setelah produksi, dan harganya bisa lebih mahal jika sudah kena pajak. Pada Juni 2018, 129 telah dikirim, dengan 104 berada di Amerika Serikat, tiga di Meksiko, dua di China, Prancis dan Turki, dan satu di Chili, Paraguay, Filipina, Polandia, Skotlandia, dan Swiss.
Sedangkan Indonesia baru ada satu dan itu dimiliki oleh Juragan 99 Trans. Sebagian besar armada dimiliki oleh perusahaan menengah, sedangkan NetJets adalah operator armada terbesarnya. Sedangkan bus Juragan 99 memiliki Velg Alcoa yang harganya sama dengan sebuah mobil Avanza.
Bus Juragan 99 dari berbagai merek ini sudah super high desk sehingga untuk penumpang yang memiliki tinggi sekitar 177 cm tidak akan kepentok. Dilengkapi dengan bahan kulit elegan untuk jok kursinya. Uniknya bus ini dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi layaknya di sebuah rumah.
Baca juga: Inilah Journey, Bus Mewah dengan Interior ala Kondominium
Adapula ruang khusus merokok yang mana asapnya tidak akan mengganggu penumpang lainnya. Di setiap kursi penumpang ada televisi sehingga ketika bosan dalam perjalanan bisa menikmati hiburan dari televisi tersebut. Untuk memperlengkapi bus mewahnya, ada coffee maker dan lampu disko. Ini membuat bus mewah milik Crazy Rich asal Malang itu lebih premium dibandingkan bus pariwisata atau bus AKAP kelas super VIP.
Shelby Supercars (SSC) North America, Tuatara, kembali merebut rekor mobil tercepat di dunia dari tangan Koenigsegg Agera RS. Kepastian itu didapat setelah mobil supercepat ini melesat di kecepatan rata-rata 455,3 km per jam, di Kennedy Space Center, Amerika Serikat (AS), mematahkan rekor Agera RS sejak 2017 lalu, yang mencatat kecepatan rata-rata 446,97 km per jam di lintasan yang sama.
Baca juga: Inilah Sepuluh Kereta Cepat di Dunia
Sebelumnya, Tuatara pernah merebut rekor tersebut dari tangan Koenigsegg Agera pada Oktober tahun lalu. Hanya saja, keberhasilan Tuatara dicibir banyak pihak lantaran ketidaksinkronan data kecepatan di video dengan di GPS. Alhasil, rekor mobil tercepat di dunia yang sempat disandang Tuatara pun dicabut.
Pada 10 Oktober 2020 lalu di State Route 160, AS, dengan panjang jalur sekitar 11,2 kilometer, SSC Tuatara melakukan dua kali tes untuk memastikan keabsahan upayanya merebut rekor dunia dari tangan Agera RS.
Di pengujian pertama, SSC Tautara mampu mencapai kecepatan 508,73 km per jam. Di tes kedua, Tuatara malah makin ngebut dengan rekor 532,93 km per jam. Dari hasil di atas, SSC Tautara punya rata-rata kecepatan 508,73 km per jam. Ini jadi rekor baru sebagai mobil produksi tercepat di dunia. Agar presisi penghitungan kecepatan ini juga menggunakan GPS yang terintegrasi dengan 15 satelit.
Selain mematahkan rekor Koenigsegg Agera RS, SSC Tuatara ini sebetulnya juga mengalahkan catatan hypercar Bugatti Chiron Super Sport, yang mampu mencapai titik tertinggi 490,48 km per jam. Tapi catatan milik Bugatti tidak tepat bila disandingkan, sebab rekor Bugatti Chiron Super Sport itu didapat hanya sekali jalan, pun menggunakan tempat tes berbeda, di Ehra-Lessien, Jerman.
Setelah polemik ‘kecurangan’ Tuatara diungkap berbagai pihak, utamanya berkenaan dengan data kecepatan yang tidak sinkron antara data kecepatan di video dengan di satelit, SSC sempat melakukan pembelaan dengan melibatkan Dewetron, pembuat GPS speed tracking box. SSC menyebut bahwa rekornya itu telah divalidasi oleh Dewetron.
Sayangnya, Dewetron membantah hal itu dan mengatakan tak cukup mengandalkan GPS speed tracking box buatannya untuk memvalidasi rekor kecepatan SSC Tuatara. Dengan penuh amarah, Jerod Shelby, CEO SSC North America, bersumpah akan melakukan segala cara untuk merebut rekor tersebut sesegera mungkin dan melibatkan para ahli agar kejadian sebelumnya (polemik validasi rekor kecepatan) tidak terulang kembali.
Dilansir New Atlas, 17 Januari 2021, SSC Tuatara kembali beraksi. Upaya pemecahan rekor mobil tercepat di dunia itu dihadiri oleh desainer hypercar Jason Castriota, Racelogic Technical Director Jim Lau, analis independen Robert Mitchell.
Tes dilakukan dua kali. Tes pertama dilakukan oleh Oliver Webb, pebalap Formula 3. Tes kedua dilakukan oleh Larry Caplin, dokter yang juga pemillik Tuatara pertama seantero dunia. Meski ia bukan pebalap, ia sudah dibekali berbagai informasi bagaimana mengemudikan mobil itu agar dapat mencapai kecepatan maksimum.
Kedua tes tersebut pun mendapati kecepatan rata-rata SSC Tuatara mencapai 455,3 km per jam di lintasan sejauh 3,7 km dan sudah divalidasi oleh para ahli, salah satunya Jim Lau, dengan cara mengkalibrasi beberapa sistem pelacakan kecepatan VBOX pada mobil. Sekalipun tak sebagus capaian tes Oktober lalu, setidaknya SSC Tuatara berhasil mengukuhkan diri sebagai mobil tercepat di dunia.
Tuatara dicangkok mesin V8 5,9 liter twin-turbo yang menghasilkan 1.750 tenaga kuda. Mobil mampu menghasilkan 1.750 hp saat menggunakan bahan bakar etanol E85 dan 1.350 hp pada bensin oktan 91. Mesin tersebut menghasilkan torsi maksimum 1.735 Nm dan dikawinkan dengan transmisi manual otomatis (AMT).
Baca juga: Spektakuler! Sedan Tesla Mampu Derek Dreamliner Qantas Sejauh 300 Meter
Bobot kering hanya 1.247 kg, yang berkat bodi serat karbon dan monocoque. Aerodinamika juga berperan, dan hypercar SSC Tuatara memiliki area depan seluas 18 kaki persegi dan koefisien drag 0,279.
Sebagai mobil tercepat di dunia, tentu harga per unitnya tidaklah murah. Terlebih, Tuatara hanya diproduksi sebanyak100 unit di dunia. SSC Tuatara dibanderol US$ 1,6 jutaan atau sekitar Rp 25 miliar per unit. Tertarik?
Kereta gantung yang ada bukan hanya gondola tetapi di pegunungan bersalju juga ada dan biasanya ini digunakan oleh para pemain ski atau seluncur salju. Kereta gantung ini biasa disebut dengan lift ski atau derek ski dan mengangkut para pemain ski dengan peralatan mereka ke atas bukti bersalju dengan lebih mudah.
Baca juga: Bakal Hubungkan Rusia dan Cina, Inilah Kereta Gantung Lintas Negara Pertama di Dunia
Lift ski ini pertama kali dibuka di Amerika Serikat pada 28 Januari 1934 silam. Lift ski pertama ini tidak seperti sekarang di mana penggunanya duduk, tetapi bediri dan berpegangan pada tali yang bergerak dan membawa para pemain ski ke atas bukit. Derek ski atau lift ski pertama yang beroperasi di Amerika Serikat berada di White Cupboard Inn di Woodstock, Vermont.
Lift ski ini dinyalakan dengan menggunakan roda belakang Ford Mode A. Pada awal kehadirannya di Vermont, lift ski disebut Ski-Way tetapi ketika Wallace “Bunny” Bertram mengambil alih White Cupboard Inn, dia menamainya menjadi Ski Tow. Yang akhirnya dia memindahkan derek ski ke tempat yang menjadi pinggiran timur dari area ski selatan utama Vermont.
Resor regional ini masih beroperasi sampai sekarang dan beroperasi dengan nama Suicide Six. KabarPenumpang.com menghimpun dari berbagai sumber, bahwa derek ski adalah ide sederhana, yang dibutuhkan hanyalah mesin mobil, beberapa tali, dan beberapa katrol.
Penemuan ini membantu memicu ledakan ski, dan akhirnya snowboarding, di Amerika Serikat. Dalam lima tahun, ada lebih dari 100 tali penarikyang beroperasi di Amerika Utara. Saat ini, lift ski lebih umum, tetapi derek ski masih ada, kebanyakan di area “kelinci” pemula di lapangan ski.
Untuk diketahui, yang pertama naik lift pada 28 Januari 1934, adalah tiga anak lelaki setempat Bobby Bourdon, Lloyd Brownell dan Buster Johnson. Karena saat itu harus berdiri dan menggunakan tali, mereka berpegangan dan bertahan hingga mencapai ke tujuan.
Hal terunik yang lakukan ketika naik lift ski ini, mereka segera mendekati tali dengan hati-hati, meraih dengan kedua tangan, “satu tangan di depan yang lain, menekuk lutut dan melemparkan kembali pusat gravitasi ke tumit mereka”. Jika merasa perjalanannya lambat, mereka akan berteriak “Injak gas!” dan operator di dalam truk akan melantai itu.
Baca juga: Biara Tatev, Sajikan Kereta Gantung Double Track Non-Stop Terpanjang di Dunia
Saat tali ditarik, tali itu terpelintir, meremas dan sering mencuri sarung tangan dari pemain ski saat mereka mencapai puncak. Jika pemain ski tidak berhati-hati, mereka bisa digantung dengan syal mereka sendiri.