Idealisme setiap orang beda-beda, tak terkecuali dengan Bruce Campbell. Eks insinyur listrik ini memilih untuk hidup bertahun-tahun di rumah mungil dan sangat sederhana untuk menghidari kebiasaan berhutang sejak usia muda, tak terkecuali untuk mendapatkan sebuah properti.
Baca juga: Dengan Kocek Kurang dari Rp500 Juta, Nenek 78 Tahun Sulap Boeing 727 Jadi ‘Little Trump’
Setelah cukup uang, ia pun berniat untuk membeli properti secara tunai. Namun, kecintaannya pada dunia aeronautika pun terpanggil ketika ia mendengar banyak pesawat dihancurkan setelah purna tugas. Disebutkan, bahkan, saat itu, ia mendengar setiap hari ada sekitar tiga pesawat dihancurkan setelah pensiun.
Tak mau tinggal diam, pada ahun 1999, ia pun mengambil langkah besar dengan membeli pesawat Boeing 727 seharga 23.000 dolar AS atau sekitar Rp300 juta lebih untuk membangun rumah idaman. Kala itu, ia masih berumur 20-an tahun. Selanjutnya, ia perlu mengeluarkan dana tambahan hingga sebesar 220.000 dolar AS atau sekitar Rp2,9 miliar lebih. Bila ditotal, hunian idaman Bruce bernilai lebih dari Rp3,2 Miliar. Oleh karenanya, ia pun dapat melaksanakan dua hal sekaligus, membeli rumah dan menyelamatkan pesawat.
Bruce memilih tak banyak melakukan perubahan pada interior. Menurutnya, sebuah tindakan yang sangat tidak sopan bila ia mengubah seluruh interior pesawat. Jadi, dengan menaruh rasa hormat tinggi kepada pesawat dan pabrikan (Boeing) ia pun memilih untuk tak banyak melakukan perubahan, kecuali fitur-fitur tambahan penunjang keamanan dan kenyamanan, seperti plumbing dan sistem anti gempa. Foto: The Oregonian / YouTube
Dengan mahar sebesar itu, Boeing 727 karya Bruce pun disematkan beberapa fitur, seperti anti-shock system hingga earthquake protection atau fitur tahan gempa. Kemudian, ia juga menambahkan gundukan beton sebagai alas pesawat serta sistem instalasi plumbing untuk menyediakan air bersih, baik dalam hal kualitas, kuantitas, dan kontinuitas yang memenuhi syarat dan pembuang air bekas atau air kotor.
Mahar miliaran rupiah juga membuat hunian Boeing 727 Bruce dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti seperti penghangat ruangan, listrik, ruang tamu, shower, kamar tidur, lounge, dapur, tempat cuci baju, tempat cucian piring, pendingin ruangan, oven, mesin cuci, perlengkapan dan peralatan konser di sayap kanan pesawat, lantai akrilik transparan, dan sejumlah fasilitas lainnya.
Dikutip dari loveproperty.com, meskipun banyak perubahan, namun, beberapa bagian pesawat masih dipertahankan, seperti pintu masuk buka tutup otomatis atau retractable entrance dari lambung pesawat, jendela, kokpit, livery, dan toilet masih dipertahankan Bruce untuk mempertahankan nuansa keaslian pesawat.
Lagi-lagi, idealisme Bruce berperan besar dalam keputusan tersebut. Menurutnya, sebuah tindakan yang sangat tidak sopan bila ia mengubah seluruh interior pesawat. Jadi, dengan menaruh rasa hormat tinggi kepada pesawat dan pabrikan (Boeing) ia pun memilih untuk tak banyak melakukan perubahan, kecuali fitur-fitur tambahan penunjang keamanan dan kenyamanan, seperti plumbing dan sistem anti gempa.
Bahkan, saking ingin menghargai pesawat, ia pun tak segan untuk membuat aturan lepas alas kaki bagi seluruh tamu yang masuk ke dalam pesawat. Hal itu untuk menjaga pesawat agar benar-benar dalam kondisi bersih dan terawat. Ia pun mengaku bangga dengan apa yang telah ia perbuat dan menyebut karyanya tersebut sebagai ‘Tesla’.
Baca juga: Boeing 727 ini Berubah Jadi Penginapan Mewah di Tepi Pantai
“Jika warisan rumah keluarga konvensional diibaratkan sebagai Chevy atau Ford, rumah pesawat dapat diibaratkan sebagai warisan seperti Tesla atau Porsche Carrera keluaran terbaru,” kata Bruce.
Bila tertarik melihat ‘Tesla’ Boeing 727 Bruce Campbell, Anda bisa menjumpainya di sebuah hutan di Oregon. Bruce mengaku terbuka dengan para penggemar aeronautika dan bersedia untuk berbagi kisah suksesnya membuat hunian idaman dari Boeing 727.
Belum lama ini, Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta (Soetta) mendadak viral akibat dipenuhi calon penumpang tanpa adanya protokol kesehatan. Dari beberapa foto yang beredar di media sosial, beberapa protokol kesehatan memang terang-terangan dilanggar calon penumpang, seperti tak memakai masker, physical distancing, atau tak mencuci tangan dengan segera setelah melakukan kontak dengan petugas check-in counter.
Baca juga: Pasca Covid-19, Proses Perjalanan Udara Butuh Empat Jam Sebelum Terbang!
Akan tetapi, foto atau video yang beredar di media sosial mungkin belum sepenuhnya menggambarkan perjuangan calon penumpang untuk bisa pergi ke tempat tujuan menggunakan pesawat. Sebab, dengan sederet peraturan, bepergian dengan menggunakan angkutan udara butuh perjuangan ekstra.
Dilihat KabarPenumpang.com dari sebuah Whatsapp grup (WAG), seorang penumpang yang tak ingin disebutkan namanya mencoba membeberkan pengalaman terbangnya ke Surabaya belum lama ini. Tidak dijelaskan lebih rinci alasan ia terbang, namun, disebutkan ia akan kembali ke Jakarta pada tanggal 17 Mei mendatang, sebelum hasil rapid test miliknya expired.
Menurutnya, kalau bukan karena alasan sangat mendesak, seperti urusan bisnis atau mungkin pulang kampung, mustahil seseorang rela berjuang mati-matian untuk bisa pergi ke tempat tujuan menggunakan pesawat.
Dalam catatannya, sebelum mulai terbang, calon penumpang terlebih dahulu wajib mengikuti rapid test corona, yang setidaknya bisa merogoh kocek sebesar Rp300-400 ribu. Biaya yang sama mungkin akan kembali dikeluarkan calon penumpang jika ia kembali ke kota asal keberangkatan melewati batas hasil rapid test yang hanya berlaku selama sepekan. Belum lagi harga tiket yang dinilainya melambung nyaris dua kali lipat. CGK-SUB dalam kondisi normal berkisar Rp400 ribuan dan saat ini harganya mencapai Rp900 ribu.
Perjuangan calon penumpang untuk bepergian dengan pesawat saat ini tak berhenti sampai di situ. Selain perjuangan finansial, calon penumpang juga berjuang dengan tenaga. Pasalnya, di samping harus mengurus surat dinas (dari sebuah instansi atau sejenisnya) untuk bisa terbang, calon penumpang juga wajib hadir setidaknya empat jam sebelum jadwal terbang. Itupun masih ada kemungkinan terlambat.
Sebab, selama empat jam tersebut, tiga jam di antaranya kemungkinan besar akan dihabiskan calon penumpang untuk mengikuti screening. Proses inilah yang dinilai sebagai biang keladi keterlambatan penumpang plus menguras stamina di tengah kondisi puasa Ramadhan karena harus berdiri berjam-jam. Proses ini juga dinilai sebagai salah satu fase yang dapat membahayakan kesehatan penumpang, karena tak sesuai protokol kesehatan (menjaga jarak sosial). Dengan fakta tersebut, tak jarang, calon penumpang harus menyerobot antrean mengingat jadwal terbang tak bisa ditolelir maskapai.
Pengalamannya kemarin, bahkan ia harus menyerobot sekitar 15 antrean karena jadwal terbang sudah tinggal 30 menit. Padahal, 30 menit sebelum terbang seharusnya ia sudah melewati boarding gate dan menunggu keberangkatan. Namun kala itu ia masih belum mendapat surat clearance. Setelah dapat, terpaksa ia harus berlarian semata untuk mengejar penerbangan. Beruntung ia tak sampai telat.
Baca juga: Apes! Keluar Hanya Beli Masker, Pilot AS Kena Penjara 4 Minggu Gegara Langgar Perintah Lockdown di Singapura
Ketika sampai di bandara tujuan pun, bila melanjutkan perjalanan menggunakan bus, sepertinya bukan pilihan tepat. Sebab, bus dipenuhi penumpang dan tak ada physical distancing atau mengosongkan satu bangku untuk menjaga jarak sosial satu sama lain. Jadi, dengan berbagai kesulitan tersebut, calon penumpang memang bukan hanya harus menyiapkan kocek berlebih untuk mengurus berbagai persyaratan, namun juga kudu siap mati-matian untuk bisa terbang.
Sebagaimana yang sudah umum diketahui, Pemerintah Indonesia memang telah membuka kembali penerbangan komersial sejak 7 Mei lalu. Namun dengan berbagai peraturan penerbangan ketat selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), seperti harus melalui gate tertentu, menunjukkan berkas kelengkapan perjalanan seperti misalnya tiket penerbangan, identitas diri, surat keterangan bebas Covid-19, surat keterangan perjalanan, dan berkas lain, mengisi kartu kewaspadaan kesehatan (Health Alert Card/HAC) dan formulir penyelidikan epidemiologi yang diberikan personel KKP, serta sederet prosedur lainnya.
Ketika jarak sosial atau social distancing tengah dilakukan beberapa negara yang tidak melakukan penguncian atau lockdown. Jarak sosial ini digunakan juga untuk mencegah penularan virus corona atau Covid-19 dari orang ke orang lain. Bahkan beberapa moda transportasi umum seperti bus dan kereta sudah memberi tanda untuk jarak sosial agar penumpang satu dan lainnya tidak berdekatan.
Baca juga: Belajar Selama Empat Tahun, Pengemudi Taksi Jepang Fasih Berbahasa Inggris
Nah, bagaimana kalau untuk pencegahan penularan virus corona ini diingatkan oleh tokoh kartun yang ikonik? Sepertinya akan lebih menarik jika menggunakan tokoh kartun ikonik sebagai pengingat penumpang untuk menggunakan masker atau jarak sosial antar penumpang.
Seperti di Jepang, baru-baru ini Stasiun JR Kokura membantu para penumpang yang naik kereta dengan gambar karakter kucing ikonik Hello Kitty. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mainichi.jp (5/5/2020), gambar Hello Kitty dan beberapa temannya ditampilkan pada decal lantai bundar bersama dengan maskot kota yakni Teitan dan Black Teitan.
Dalam gambar di lantai tersebut masing-masing karakter dibuat berjarak dua meter untuk menunjukkan jarak sosial yang harus dilakukan penumpang. Pemilihan Hello Kitty dari Sanrio ini sendiri karena sering digunakan dalam inisiatif promosi pariwisata Kitakyushu, sementara orang-orang Teit menolak untuk perlindungan lingkungan.
Selain itu, kota ini juga memasang panel Hello Kitty di kantor pusat dan kantor lingkungan setempat yang menunjukkan dengan tepat jarak dua meter. Seorang pejabat yang bertanggung jawab mengatakan pihaknya berharap orang-orang akan melihat ilustrasi untuk mengonfirmasi seberapa jauh jarak antara mereka dengan dirinya ketika mereka benar-benar harus keluar dari rumah.
Baca juga: Shinkansen Hello Kitty Resmi Mengular, Penggemar dan Penumpang Riuh Ramai Berselfie Ria
Untuk diketahui, Hello Kitty sendiri sebelumnya digunakan oleh perusahaan kereta Jepang untuk mempromosikan Negeri Sakura ini. Hello Kitty tersebut gambarnya tertempel di kereta shinkansen, bahkan interiornya pun bertemakan kucing milik Sanrio tersebut.
Segala sesuatu yang menyangkut Covid-19 tentu menimbulkan kengerian tersendiri, bahkan bila ada orang yang sakit hingga meninggal di tempat umum, bisa mengakibatkan kepanikan tersendiri di tengah warga. Seperti seorang pria paruh baya berusia sekitar 65 tahun dinyatakan meninggal di Pusat Kesehatan Stony Hill. Pria tersebut sebelum dibawa ke pusat kesehatan, awalnya menderita kejang-kejang di dalam sebuah bus umum dan membuat penumpang panik.
Baca juga: Pengemudi Bus di Jamaika Maafkan Penumpang yang Tularkan Covid-19
Karena insiden ini kemudian membuat stigma dan diskriminasi yang tersebar luas di Jamaika ketika penyebaran penyakit virus corona atau Covid-19 tampak jelas di masyarakat. Bahkan saat kejang-kejang, penumpang pria tersebut dilaporkan hanya mendapat bantuan seadanya karena kepanikan para penumpang lain di dalam bus.
KabarPenumpang.com melansir dari laman stabroeknews.com (24/4/2020), insiden ini tak hanya membuat panik, bahkan seorang penumpang pria lain sampai melompat akibat ketakutan. Diketahui insiden ini terjadi dalam sebuah bus St Andrew pada hari Rabu (23/4/2020), dan membuat semua penumpang ketakutan berlari ke pintu keluar.
Bahkan beberapa diantaranya melompat melalui jendela mencoba melepaskan diri dari yang mereka anggap pria tua tersebut terinfeksi Covid-19. Inspektur Linval Harrison dari kepolisian Stony Hill mengkonfirmasi kematian penumpang. “Sopir membawanya ke klinik Stony Hill, tempat dia meninggal tak lama setelah itu. Sepertinya dia sakit karena beberapa masalah mendasar, ”kata Harrison.
Belum lama ini, Bandara Internasional Ted Stevens Anchorage (ANC) di Anchorage, Negara Bagian Alaska, Amerika Serikat (AS) didaulat menjadi bandara tersibuk di dunia. Kepastian itu didapat setelah pada hari Sabtu, 25 April, ANC mencatat 948 kedatangan dan keberangkatan pesawat. Bandingkan dengan salah satu bandara tersibuk di dunia lainnya (di tengah pandemi), Bandara Heathrow, London, yang hanya mencatat 682 kedatangan dan keberangkatan pesawat.
Baca juga: Virus Corona Justru Bikin Bandara Terpencil Ini Jadi yang Tersibuk di Dunia
Menurut Ian Petchenik, Direktur Komunikasi FlightRadar24.com, ANC beroperasi jauh melampaui kapasitas normalnya dengan muatan penerbangan kargo yang lebih besar dari biasanya. Padahal bandara ini bisa dibilang sedikit terpencil karena hanya bisa dengan mudah diakses lewat udara.
Akan tetapi, prestasi tersebut rupanya belum membuat ANC puas. Sebab, belakangan santer dikabarkan bahwa mereka telah meminta Singapore Airlines (SIA) untuk terbang non-stop dan membuka hub selama pandemi corona ke Anchorage, Alaska.
Sebagaimana dikutip dari mothership.sg, laporan kontributor Forbes (tanpa memberitahu sumbernya) menyebut, juru bicara ANC tertarik dengan Singapura karena dua hal, PDP per kapita tinggi dan iklim panas serta lembab ekstrem sepanjang tahun di sana. Jauh berlawanan dengan iklim dingin sepanjang tahun di Alaska.
Pihak ANC sendiri sudah menargetkan akan membajak salah satu rute potensial SIA, dari semula Singapura-Manchester-Houston menjadi Singapura-Anchorage-Houston. ANC mengklaim, bila itu dilakukan, penerbangan akan menghemat sekitar 2.408 km.
Guna merealisasikan hal tersebut, ANC juga telah menyiapkan skema kerjasama dengan United Airlines untuk melanjutkan penerbangan dari Anchorage-Houston. Jadi, SIA hanya menerbangakan dari Singapura-Anchorage dan Anchorage-Houston akan dilanjutkan oleh United Airlines dengan penerbangan sekitar tujuh jam.
Akan tetapi, skema tersebut bukan tanpa kendala. Menurut beberapa pihak, SIA dan United Airlines adalah dua maskapai dengan reputasi berbeda. SIA terkenal dengan penerbangan premium adapaun United Airlines berada di bawahnya.
Baca juga: Singapore Airlines Kirim A380 Ke ‘Kuburan’ Pesawat di Gurun Australia
Di samping itu, pesawat yang digunakan pun juga berbeda. SIA menggunakan widebody, adapun United Airlines menggunakan narrowbody. Tentu akan menjadi masalah terkait kenyamanan penumpang dan muatan kargo karena berbeda ukuran. Masalah lainnya, SIA terbang ke Houston nyaris sepanjang tahun. Sedangkan United Airlines terbang ke Anchourage secara musiman.
Oleh karena itu, beberapa pihak memprediksi bahwa kerjasama tersebut mungkin hanya bertahan selama pandemi Covid-19 berlangsung. Meski demikian, itu akan tetap menjadi tawaran menarik bagi warga Singapura yang notabene banyak dari mereka mempunyai cukup uang untuk bepergian keliling dunia namun bingung ingin berkunjung ke wilayah mana terkait ancaman keamanan wabah virus Cina. Sejauh ini, Alaska tercatat sebagai wilayah di AS dengan kasus terendah Covid-19. Pada 14 Mei 2020, Alaska memiliki total kasus 383 Covid-19, dengan 338 pasien di antaranya pulih.
Garuda Indonesia akhirnya akan mendapat dana talangan modal kerja BUMN (bridging loan) sebesar Rp8,5 triliun dari pemerintah. Sekalipun mekanisme dan penggunaanya belum dijelaskan secara rinci, namun beberapa kalangan menilai, dana tersebut akan digunakan sebagai modal operasional dan membayar utang.
Baca juga: Kata Pengamat Penerbangan: Secara Substansial Bisa Saja Garuda Dikatakan Bangkrut
Terkait penggunaan dana talangan untuk membayar utang, kepastiannya masih akan diperoleh setelah hasil final permintaan restrukturisasi dengan para para pemegang sukuk keluar, mengingat saat ini prosesnya masih berjalan dan pada 3 Juni 2020 adalah tenggat terakhir Garuda membayar kewajiban berupa sukuk global senilai US$500 juta atau setara Rp7,5 triliun (kurs Rp15.000/US$).
Bila negosiasi gagal dan Garuda Indonesia mau tak mau harus membayar kewajiban utang, praktis, perusahaan dengan kode GIAA di bursa saham itu hanya memiliki dana sisa sebesar Rp1 triliun untuk menghadapi ketidakpastian masa depan penerbangan global terkait virus Cina.
Meskipun angka tersebut (Rp1 triliun atau Rp8,5 triliun) masih lebih besar dibandingkan dana talangan modal kerja beberapa BUMN lainnya, seperti Perumnas sebesar Rp650 miliar, KAI sebanyak Rp3,5 triliun, PTPN senilai Rp4 triliun, dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) sebanyak Rp3 triliun, namun, bila dibandingkan dengan dana talangan modal kerja di negara lain untuk maskapai nasional mereka, Rp8,5 triliun masih tergolong kecil. Apalagi kalau dana tersebut harus dipotong untuk membayar utang.
Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Air Canada, misalnya, untuk memperkuat likuiditas, flag carrier Kanada itu mendapatkan suntikan modal sebesar US$1,62 miliar atau sekitar Rp24 triliun lebih. Angka tersebut pun dikabarkan belum final dan masih akan ada suntikan modal lainnya seiring perkembangan industri penerbangan global.
American Airlines Group akhir Maret lalu dikabarkan telah memenuhi persyaratan untuk mendapatkan kucuran dana sebesar US$12 miliar atau Rp196 triliun sebagai bagian dari paket pinjaman dan hibah dari pemerintah AS sebesar $58 miliar atau Rp949 triliun untuk maskapai penerbangan. Adapun Qantas, disebut hanya akan mendapatkan dana sebesar $636,1 juta atau sebesar Rp10 triliun (kurs Rp16.009).
Begitu juga dengan Singapore Airlines, yang mendapat suntikan modal dari Temasek International, pemilik saham mayoritas (55 persen) Singapore Airlines (SIA), dan beberapa perusahaan lainnya sebesar S$19 miliar atau Rp218 triliun (kurs Rp11.292) ke maskapai flag carrier Singapura tersebut. Suntikan tersebut pun digadang-gadang akan menjadi langkah penyelamatan terbesar terhadap sebuah maskapai di tengah wabah virus corona. Terbukti, hingga saat ini, belum ada suntikan modal ke maskapai manapun yang berhasil melebihinya.
Alasan negara atau investor menyuntikkan modal ke maskapai nasional mereka tentu bukan tanpa alasan. Pada akhir Februari lalu, IATA telah berasumsi, jika corona sama dengan wabah SARS beberapa tahun lalu, maka, proses recovery sampai akhirnya benar-benar pulih kembali bisa mencapai 9 bulan. Faktanya, dengan banyak sumber menyebut bahwa wabah corona jauh lebih buruk dibanding SARS atau resesi global tahun 2008 lalu. Itu berarti, proses recovery bisa lebih dari 9 bulan.
Baca juga: Avianca, Maskapai Terbesar Ketiga di Amerika Latin Bangkrut Gegara Corona, 21 Ribu Karyawan di 14 Negara Gigit Jari!
Airport Council International (ACI) World memprediksi bahwa dibutuhkan setidaknya 18 bulan untuk kembali ke kondisi normal layaknya sebelum pandemi Covid-19 menyerang. Senada dengan ACI, Changi Airport Group (CAG) sendiri selaku operator Bandara Changi juga telah bersiap dengan kemungkinan proses recovery hingga 18 bulan. Air Canada lebih ekstrem lagi. CEO flag carrier Kanada itu, Calin Rovinescu memperkirakan butuh setidaknya tiga tahun untuk mencapai posisi seperti sebelum wabah virus corona merebak.
Dengan berbagai fakta di atas, menarik ditunggu, mampukah Garuda Indonesia bertahan dengan kemampuan finansial seadanya plus kondisi industri penerbangan global dan domestik yang tak kunjung stabil akibat pandemi corona?
Kepulauan Canary di Spanyol dilaporkan akan mengujicoba penerbangan pertama di dunia yang mewajibkan penumpang membawa paspor kesehatan digital. Paspor jenis baru tersebut digunakan sebagai legitimasi bahwa seorang penumpang tidak sedang terpapar corona. Rencananya paspor kesehatan corona itu akan mulai diujicoba untuk pertama kalinya di dunia, di Kepulauan Canary pada bulan Juli mendatang.
Baca juga: Pasca Covid-19, Proses Perjalanan Udara Butuh Empat Jam Sebelum Terbang!
Kebijakan tersebut adalah inisiatif dari Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO). UNWTO sejauh ini telah memilih pulau-pulau mana saja yang akan melakukan uji coba kebijakan itu. Jika paspor bebas virus corona tersebut berhasil menekan angka penyebaran Covid-19, tidak menutup kemungkinan UNWTO akan mendorong destinasi lainnya di seluruh dunia untuk menerapkan kebijakan paspor digital bebas virus corona.
Meski begitu, UNWTO belum menyebut dari manakah penerbangan tersebut akan dilakukan. Sebagaimana umum diketahui, Kepulauan Canary memiliki tujuh pulau yang kesemuanya menjadi destinasi favorit wisatawan mancanegara. Namun, Pulau Tenerife di Kepulauan Canary disebut-sebut sebagai titik keberangkatan uji coba penerbangan tersebut.
Hal itu tak lepas dari infrastruktur dan tawaran pariwisata yang menjadikannya sebagai destinasi favorit di banding enam pulau lainnya di Kepulauan Canary. Pulau ini memiliki Gunung Teide, yakni puncak tertinggi di Spanyol, dan resor pantai populer Los Gigantes sebagai daya tarik. Setiap tahunnya, wisatawan ramai mendatangi berbagai spot menarik di sana, seperti Taman Loro untuk melihat burung tropis, Taman Primata Kebun Binatang Tenerife, dan rangkaian gunung berapi Parque Nacional Las Canadas del Teide.
Direktur Jenderal WTO, Zurab Pololikashvili, mengatakan bahwa langkah tersebut dilakukan agar penumpang dapat bepergian dengan mudah dan nyaman. Selain itu, ia mengatakan bahwa maskapai penerbangan perlu melakukan antisipasi keselamatan penumpang selama penerbangan.
Pololikashvili juga mengatakan bahwa paspor kesehatan digital yang dibuat oleh perusahaan Kanada Hi + Card ini akan memberikan rasa nyaman kepada penumpang pesawat. Sehingga, mereka tidak perlu khawatir tertular virus corona selama penerbangan.
Co-Founder Hi + Card, Antonio Lopez de Avila, menjelaskan, nantinya setiap penumpang pesawat yang sedang dalam penerbangan akan membawa profil kesehatan digital yang tersimpan di aplikasi smartphone mereka. Profil kesehatan tersebut berisikan data entitas kesehatan yang diakreditasi oleh Kementerian Kesehatan.
Baca juga: Usai Diterjang Badai Pasir Berkecepatan 120 Km Per Jam, Bandara di Kepulauan Canary Kembali Dibuka
“Hal ini dapat mencegah adanya manipulasi atau profil palsu catatan medis seseorang,” jelas Avila, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk.
Yaiza Castilla, Menteri Pariwisata Kepulauan Canary menuturkan bahwa langkah tersebut akan menjadi dorongan dalam industri pariwisata Canary yang turun drastis akibat pandemi virus corona. Selain Kepulauan Canary, Yunani dan Thailand juga berencana untuk menggunakan paspor kesehatan digital bebas corona bagi semua wisatawan internasional.
Sejumlah negara menerapkan lockdown atau penguncian dan menutup diri agar tidak ada yang bisa masuk atau keluar saat pandemi tengah berlangsung. Ini kemudian membuat dunia transportasi udara dan pariwisata pun anjlok bahkan tak sedikit maskapai yang sudah merumahkan, bahkan sampai mem-PHK para karyawannya.
Baca juga: Akibat Covid-19, Pilot Sampai Banting Setir Jadi Masinis
Dilansir KabarPenumpang.com dari citynews.ca (30/4/2020), kemudian banyak pertanyaan muncul bagaimana nasib mereka yang terkena PHK? Di Selandia Baru, banyak pilot yang di PHK dan mulai mencoba pekerjaan baru dengan melamar menjadi masinis kereta komuter.
Lalu bagaimana di negara lainnya? Ternyata seorang pilot jet di Thailand harus mengambil jalan lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pilot ini tak lagi memakai seragam kebesarannya ketika menerbangkan pesawat melainkan menanggalkanya dan menggunakan jaket serta mengemudikan sepeda motor.
Pilot tersebut bernama Kritee Youngfuengmont yang sudah sejak sekitar satu bulan lalu tak lagi menerbangkan pesawat komersial dan beralih mengendarai motor untuk mengantar makanan, dokumen dan lainnya.
Kritee mengaku, dirinya saat ini tengah dalam kesulitan dan membuatnya harus memilih berjuang agar keluar dari masalah atau menyerah pada keadaan. Untungnya pria berusia 36 tahun ini memilih berjuang keluar dari masalah meski bekerja sebagai pengemudi ojek online atau ojol.
Dia mengaku memang tidak glamor seperti jadi pilot, apalagi saat ini tempatnya bekerja memotong penghasilannya sebesar 50 persen padahal dirinya masih memiliki cicilan yang tak kenal virus corona.
“Hidup ini tidak bisa diprediksi. Yang tak terduga bisa terjadi kapan saja. Anda bisa menikmati saat-saat yang menyenangkan dan tiba-tiba, Anda berantakan. Ketika itu terjadi, kamu harus mencari tahu apakah kamu akan menyerah, atau bertarung dan menemukan sesuatu untuk dijadikan pegangan saat kamu mencari jalan keluar,” ungkapnya.
Selama menjalani profesi sebagai pengemudi ojol, setiap hari dia mendapatkan 1500 baht atau lebih kurang Rp700 ribu. Jumlah tersebut bisa membuatnya bertahan setidaknya sampai pandemi berakhir. Dia mengaku, uang penghasilan dari jasa kurir yang ia sediakan pun mampu menutupi pengeluarannya untuk sementara waktu.
Baca juga: Panik Karena Corona, Pilot AirAsia Keluar Kokpit Lewat Emergency Sliding Window
Maskapai penerbangan tempat Kritee bekerja Thai Airways International mulai memangkas gaji pada akhir Maret 2020 untuk mengatasi benturan finansial dampak samping pandemi corona.
Seorang pramugari maskapai penerbangan kerap kali dipandang sebelah mata oleh sebagian besar orang. Hal ini karena mereka dianggap melakukan pekerjaan pelayan di dalam kabin. Bahkan mereka juga sering dilihat sebagai pembangkit hawa nafsu kaum pria karena seragam ketat yang digunakannya.
Baca juga: [18+] Hampir Separuh Pramugari di Jerman Pernah Alami Pelecehan Seksual!
Meski begitu sebenarnya ada standar seberapa ketat pakaian pramugari yang bertugas dalam kabin. Baru-baru ini seorang pramugari mengecam label pakaian dalam karena kampanye iklan menampilkan model-model berpakaian seperti pramugari dan menjilati seorang wanita yang mengenakan pakaian dalam.
(dailymail.co.uk)KabarPenumpang.com melansir laman dailymail.co.uk (6/5/2020), pramugari tersebut bernama Amanda dan mengecam label pakaian dalam Honey Birdette. Amanda menulis postingan blog untuk situs feminis Collective Shout bahwa gambar-gambar itu membuat para pramugari menjadi sasaran. Dia mengklaim telah ada sejarah panjang pramugari yang melakukan seksualitas dengan kampanye iklan Honey Birdette.
“Maskapai penerbangan diketahui memiliki batasan tinggi badan, berat badan, dan usia untuk awak pesawat dan telah mewajibkan standar seragam yang ketat untuk pramugari wanita, termasuk persyaratan untuk mengenakan sepatu hak tinggi,” tulisnya.
Amanda mengatakan kampanye itu membuatnya merasa ‘objektif’, sebab tidak memberdayakan atau membangkitkan semangat, tetapi hanya memperkuat stereotip negatif dan sikap negatif terhadap perempuan di industri penerbangan.
“Itu membuat pekerjaan saya lebih sulit. Saya terkejut bahwa merek seperti Honey Birdette yang target pasarnya adalah wanita dan akan mempromosikan pakaian mereka sedemikian rupa sehingga merendahkan wanita,” ungkapnya.
“Jujur iklannya sepertinya mereka sudah merekam video Pornhub yang mahal. Ini mengecewakan,” tambahnya.
Collective Shout juga memposting ke Facebook mengatakan merek terus ‘mengobjektifikasi, merendahkan dan melemahkan perempuan’.
“Apakah Honey Birdette pada suatu saat mempertimbangkan bagaimana penggambaran seksis mereka terhadap awak kabin perempuan sebagai fantasi bertema porno dapat membahayakan para perempuan ini? Apakah mereka peduli? ” tulis Collective Shout.
Pendiri Honey Birdette Eloise Monaghan mengatakan kepada Courier Mail Collective Shout, “(Mereka) akan memutarbalikkan apa pun untuk memajukan agenda para wanita progresif Australia,” katanya.
Baca juga: Selain Pesona, Inilah Mengapa Awak Kabin Didominasi oleh Wanita
Monaghan mengatakan kelompok itu memiliki ‘pandangan prasejarah’ tentang kebebasan perempuan dan menuduh kelompok itu membenci perempuan karena mencintai tubuh mereka sendiri yang indah. “Mereka menyembunyikannya di bawah selubung kepedulian terhadap anak-anak. Ini sebenarnya sangat menjijikkan dan represif,” katanya.
Joyce Lin, pilot pesawat yang jatuh di Danau Sentani, Papua, rupanya bukan sembarang pilot. Mendiang pemilik nama lengkap Joyce Chaisin Lin itu rupanya juga seorang Sarjana Sains dan Magister Teknik lulusan kampus terbaik di dunia, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat (AS).
Baca juga: Apes! Keluar Hanya Beli Masker, Pilot AS Kena Penjara 4 Minggu Gegara Langgar Perintah Lockdown di Singapura
Dikutip dari christianitytoday.com, selain itu, ia juga disebut pantas digelari ahli IT. Di samping karena memang ia pernah mendapat gelar di bidang itu, wanita berkewarganegaraan AS ini juga pernah bekerja sebagai spesialis komputer (IT) selama lebih dari satu dekade hingga menjabat direktur teknis di perusahaan komersial.
Namun, karena ketertarikannya di dunia kemanusiaan, ia pun menanggalkan jabatan dan zona nyamannya untuk berpacu dengan maut sebagai pilot Mission Aviation Fellowship (MAF), sebuah lembaga penginjilan serta sosial kemanusiaan internasional yang bermarkas di AS, Inggris, dan Australia. Sekalipun ia bukanlah lulusan sekolah pilot, namun, tingginya minat di dunia penerbangan mendorong ia untuk memperoleh sertifikat pilot pribadi sekedar bersenang-senang selagi ia kuliah. Sertifikat itulah sebagai modalnya untuk bergelut di bidang tersebut.
Dibilang berpacu dengan maut mengingat Joyce telah memberanikan diri mengambil misi untuk membantu kehidupan orang-orang yang terisolasi dengan menyediakan penerbangan evakuasi medis di Papua.
Sebagaimana umum diketahui, dengan kondisi iklim yang kerap berubah dengan cepat, topografi wilayah berupa pegunungan, dan minimnya infrastruktur pendukung keselamatan dan keamanan terbang, Papua memang menjadi salah satu tempat paling menantang di Indonesia bagi para pilot dan Joyce memilih jalan itu demi kebahagiaan orang lain.
“Meskipun dia ada di sana hanya dua tahun–satu di Jawa Tengah untuk sekolah bahasa dan satu lagi di Sentani–dampaknya sangat signifikan. Berulang kali Joyce membagikan betapa dia dipenuhi sukacita dalam minggu-minggu sebelum dia pergi untuk bergabung dengan Tuhan,” kata pihak MAF.
“Dari saat penemuan pertama itu, Joyce telah memegang keyakinan kuat akan panggilan Tuhan agar dia bekerja untuk menjadi pilot misionaris. Dia memperoleh peringkat instrumen dan sertifikat komersial, dan bekerja sebagai instruktur penerbangan untuk memenuhi persyaratan pilot MAF,” lanjut MAF dalam sebuah tulisan.
Joyce dikenal sebagai sosok yang punya jiwa sosial tinggi. Sebagai pilot, Joyce ingin membantu mengubah kehidupan orang-orang yang terisolasi dengan menyediakan penerbangan evakuasi medis yang menyelamatkan jiwa. Dia juga memberikan pasokan untuk pengembangan masyarakat, mengangkut misionaris, guru, dan pekerja bantuan kemanusiaan ke lokasi yang tidak dapat diakses.
“Kalimat terakhir biografi Joyce MAF berbunyi, ‘Sementara Joyce akan selalu bersemangat untuk menerbangkan pesawat dan bekerja di komputer, ia paling bersemangat untuk berbagi kasih Yesus Kristus dengan membantu mengubah keputusasaan orang lain yang mendalam dan berkabung menjadi tarian dan kegembiraan’,” demikian MAF.
Jalan Joyce untuk menggeluti bidang itu bukanlah datang tanpa sebab. Awalnya, pilot 40 tahun itu sempat mendaftar di Seminari Teologi Gordon-Conwell sampai akhirnya lulus dengan gelar Master of Divinity. Saat di seminari, ia tahu penerbangan misi. Dari situ Joyce menemukan pekerjaan yang menggabungkan minat dalam komputer, penerbangan, dan pelayanan Kristen. Keinginannya untuk bekerja untuk orang lain pun menjadi semakin terasah hingga akhirnya memutuskan menjadi pilot MAF.
Sebelumnya, pesawat dengan kode penerbangan PK-MEC milik MAF jatuh sekitar pukul 06.27 WIT di Danau Sentani. Pesawat tersebut sedang dalam penerbangan menuju Mamit, Kabupaten Tolikara.
Bupati Tolikara Usman Wanimbo mengatakan kemungkinan besar pesawat MAF yang dikemudikan Joyce membawa buku-buku dan peralatan sekolah milik Yayasan Papua Harapan di Mamit. Hal senada disampaikan oleh Presiden GIDI.
Baca juga: Ada Pilot dan Helikopter Terbaik Dibalik Kecelakaan Kobe Bryant, Lantas Apa Sebabnya?
“Pesawat itu bawa alat-alat sekolah dan buku sekolah ke Mamit,” kata Presiden GIDI, Pendeta Dorman Wandikbo, dikutip dari Jubi.
Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal mengatakan pesawat tersebut telah berhasil dievakuasi. Tak ada penumpang dalam pesawat MAF. Ia menjelaskan pesawat itu hanya melakukan pengangkutan logistik berupa bahan sembako.