Akibat Covid-19, Pilot Sampai Banting Setir Jadi Masinis

Maskapai penerbangan yang terkena dampak paling besar di pandemi virus corona atau Covid-19 ini membuat awak kabin, pilot dan para staf lainnya harus mengambil cuti tak berbayar. Bahkan beberapa maskapai dunia melakukan PHK besar-besaran demi mengurangi pengeluaran. Baca juga: Panik Karena Corona, Pilot AirAsia Keluar Kokpit Lewat Emergency Sliding Window Nah bagaimana nasib para pilot, awak kabin dan staf lainnya? KabarPenumpang.com melansir dari laman stuff.co.nz (14/5/2020), ratusan pilot di Selandia Baru yang telah diberhentikan sejak pandemi menyebar di dunia, kini mencari pekerjaan baru di jalur kereta api. Bahkan sejauh ini ternyata sudah ada 34 pilot yang melamar untuk menjadi masinis di jaringan kereta api kota. Transdev yang mengoperasikan kereta komuter Auckland, Selandia Baru saat ini sudah mempekerjakan 200 masinis kereta di kota tersebut. Direktur pelaksana kereta komuter Auckland, Peter Lensink mengatakan dirinya senang bisa menawarkan pekerjaan kepada pilot yang keterampilannya ideal untuk mengendarai kereta. “Saya benar-benar merasakan pilot yang ada di posisi ini dan saya sangat senang kami memiliki alternatif dan berharap mereka akan beradaptasi dengan mengendarai kereta di atas sepotong logam daripada terbang bebas di udara. Kami hanya mempekerjakan orang-orang yang sangat terampil dan pilot maskapai penerbangan memiliki kesamaan dengan keterampilan dan kompetensi yang diperlukan sebagai pengemudi kereta,” kata Lensink. Lensink mengatakan sektor maskapai dan kereta api memiliki budaya keselamatan yang kuat dan keterampilan khusus yang diperlukan termasuk konsentrasi. Meski begitu pendapatannya tidak sebesar menjadi pilot pesawat karena seorang masinis kereta api yang berkualitas hanya menghasilkan lebih dari $40 per jam. “Walaupun mungkin lebih menarik bagi sebagian orang untuk melihat Auckland dari udara, saya pikir lebih menarik untuk melihat Auckland dari dekat dan terbuka di depan Anda,” kata Lensink. Meskipun ada satu pilot helikopter di antara pengemudi kereta Auckland, Lensink mengatakan ini adalah pertama kali pilot direkrut. “Kami mendapat peluang besar karena kami tumbuh dan bersiap di sini di Auckland untuk City Rail Link. Itu akan menggandakan jumlah layanan di sini dalam waktu empat hingga lima tahun. Karena itu kami dapat merekrut sejumlah besar melatih pengemudi untuk masa depan,” ujarnya. Dia mengatakan telah ada banyak kontak antara para pemimpin di sektor maskapai dan kereta api, termasuk Air New Zealand. “Begitu kata itu keluar dan orang-orang melihat hubungan antara peran dan peluang yang dimiliki kereta api, saya berharap melihat lebih banyak pilot masuk ke dalam proses perekrutan,” tambahnya. Baca juga: Nasib Pilot Gegara Corona, Tetap Harus ‘Terbang’ Tanpa Dibayar Lensink mengatakan pilot akan menjalani pemeriksaan perekrutan “intens” termasuk menjalani tes penglihatan sebelum pelatihan pada Juni. Pelatihan akan diadakan di depo Wiri yang jaraknya sepelemparan batu dari Bandara Auckland.

Lufthansa Kirim Airbus A380 Terakhir ke ‘Kuburan’ Pesawat di Spanyol

Belum lama ini, Lufthansa dilaporkan mengirimkan tujuh Airbus A380 ke ‘kuburan’ pesawat maskapai Eropa di Teruel, Spanyol. Dengan dikirimnya tujuh armada tersebut, praktis Lufthansa hanya menyisakan satu dari 14 armada A380 yang dioperasikan. Satu itu masih coba dimaksimalkan Lufthansa untuk angkutan kargo. Adapun enam A380 lainnya sudah lebih dulu dikirim ke Airbus untuk dijual kembali, lebih cepat dari rencana semula yakni pada tahun 2022 mendatang. Baca juga: Grounded Besar-Besaran Bikin Bandara Penuh, Haruskah Pesawat Parkir di Gurun? Pesawat A380-800 terakhir yang meninggalkan armada Lufthansa adalah ‘München/Mike-Bravo’ berusia sepuluh tahun. Pesawat dengan nomor registrasi D-AIMB dinamai kota-kota besar sesuai tradisi maskapai, mirip pemberian nama pada Boeing 747 “Queen of The Skies” milik maskapai tertua di dunia, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij atau yang akrab disingkat KLM. Dikutip dari aerotime.aero, pesawat double-decker itu (A380-800 terakhir) berangkat dari basis Lufthansa di Bandara Frankfurt (FRA) pada pukul 6.30 waktu setempat dan tiba di Teruel pada pukul 8:30 untuk digrounded sampai batas yang tak ditentukan seiring perkembangan wabah corona di Jerman dan dunia. Walau hanya tujuh pesawat terakhir, namun proses pemindahannya memakan waktu total 16 hari, terhitung sejak pesawat pertama dengan kode registrasi D-AIMG dikirim ke Teruel pada 28 April lalu. Pesawat-pesawat tersebut masing-masing dikirim dari dua hub utama Lufthansa, Bandara Frankfurt (FRA) dan Bandara Munich (MUC). Sebagai informasi, Bandara Teruel sendiri sebetulnya adalah rumah bagi Tarmac Aerosave, sebuah perusahaan spesialis perawatan pesawat dan merupakan salah satu dari sedikit perusahaan yang disertifikasi untuk menangani Airbus A380. Bandara yang berada di sebelah Timur Kota Madrid tersebut sebelum adanya pandemi corona memnag kerap dijadikan alternatif penyimpanan akhir maskapai-maskapai di dunia, khususnya Eropa. Sebab, bak gayung bersambut, keberadaan bandara yang mumpuni untuk dijadikan fasilitas penyimpanan sementara dalam waktu yang panjang memang dibutuhkan maskapai dan letaknya pun seperti sudah terklaster dengan baik. Bagi maskapai-maskapai Asia, pada umumnya, fasilitas penyimpanan sementara favorit adalah Alice Springs (ASP), Kota Gurun Pasir, di Australia. Adapun maskapai-maskapai di Benua Amerika, pada umumnya akrab dengan beberapa bandara di Amerika Serikat (AS), seperti The Mojave Air dan Space Port di Gurun Mojave, Southern California, AS, Victorville, California, AS, dan Pangkalan Udara Davis-Monthana Air Force Boneyard, Tucson, Arizona, AS. Baca juga: Singapore Airlines Kirim A380 Ke ‘Kuburan’ Pesawat di Gurun Australia Namun, bila ditelisik lebih lanjut, pangsa pasar atau fungsi Teruel sebagai ‘kuburan’ pesawat-pesawat maskapai Eropa cenderung memiliki kesamaan dengan ASP. Kedua bandara tersebut pada umumnya menampung pesawat-pesawat yang masih gagah. Hanya saja, karena satu dan lain hal, pesawat tersebut harus di-grounded dalam jangka waktu yang tak menentu, tak terkecuali seperti wabah virus Cina saat ini. Sedangkan ‘kuburan’ pesawat di AS, pada umunya hanya pesawat yang hampir pasti sudah purna tugas yang digrounded, bukan hanya pesawat-pesawat komersial, melainkan pesawat-pesawat ‘pensiunan’ militer atau bekas perang.

Apes! Keluar Hanya Beli Masker, Pilot AS Kena Penjara 4 Minggu Gegara Langgar Perintah Lockdown di Singapura

Seorang pilot komersial asal Amerika Serikat (AS) dijatuhi hukuman penjara empat minggu dan denda S$10 ribu atau setara Rp104 juta pada hari Rabu, 13 Mei oleh otoritas Singapura. Brian Dugan Yeargan, terbukti telah melanggar peraturan Infectious Diseases (Covid-19 – Stay Orders) Regulations atau kebijakan untuk tetap di rumah saja (karantina mandiri). Baca juga: Menperindag Singapura: Bekerja dari Rumah Akan Terus Dominan Pasca Covid-19 Dikutip dari straitstimes.com, pilot berusia 44 tahun itu diketahui tiba di Singapura pada 3 April dari Australia setelah otoritas setempat memberikan visa kunjungan jangka pendek selama 30 hari. Otoritas Imigrasi dan Pos Pemeriksaan (ICA) mengatakan, visa kunjungan Yeargan diterima dengan syarat untuk tetap di tempat tinggal (hotel) sejak pertama kali tiba di Singapura atau hingga 17 April. Entah apa yang merasukinya, pada 5 April sekitar pukul 11.15 waktu setempat, ia terdeteksi telah melanggar peraturan lockdown atau karantina mandiri dengan meninggalkan hotel Crowne Plaza Changi Airport tempatnya menginap. Menindaklanjuti dugaan tersebut, seorang petugas ICA pun mengecek ke hotel tersebut sekitar 15 menit setelah Yeargan pergi dan menemukan ia tidak berada di tempat. Wakil Jaksa Penuntut Umum V Jesudevan membeberkan kepada Hakim Senior Distrik Ong Hian Sun bahwa Yeargan berjalan sekitar 15 menit ke stasiun MRT Bandara Changi sebelum naik kereta ke stasiun City Hall. “Ketika turun di stasiun City Hall, ia memperkirakan ada sekitar 1.000 orang di stasiun. Setelah turun, tertuduh berjalan sekitar 30 menit untuk mencapai Chinatown Point,” katanya. Setelah itu, ia membeli termometer dan beberapa box masker di empat toko berbeda di pusat perbelanjaan. Usai berbelanja, ia kemudian menuju ke stasiun MRT terdekat untuk kembali ke hotel sekitar pukul 1.40 sore. Saat perjalanan pulang itulah, ia ditelepon oleh bos tempatnya bekerja, yakni di perusahaan jasa pengiriman FedEx. Dalam panggilan telepon itu, ia dberitahu telah melanggar kebijakan lockdown atau karatina mandiri dan harus secepatnya kembali ke hotel. Mendengar hal itu, Yeargan diketahui mengubah haluan dan kembali ke hotel dengan menumpangi sebuah taksi dan tiba di sana sekitar pukul 14.15. Namun, tetap saja, secepat apapun ia kembali ke hotel tidak lantas menghilangkan kesalahannya. Atas pelanggaran tersebut, Wakil Jaksa Penuntut Umum, Jesudevan menuntut pengadilan untuk menghukumnya enam hingga delapan minggu penjara. Dakwaan tersebut didasarkan dengan alasan Yeargan keluar hotel untuk membeli masker dan termometer dinilai tak masuk akal. Baca juga: Singapura Ubah Changi Exhibition Centre Jadi RS Darurat Corona dengan Segudang Fasilitas Top “Barang-barang yang dibelinya akan sangat dibutuhkan dan berfungsi sebagaimana mestinya ketika ia menyelesaikan perintah karantina mandiri atau bahkan setelah ia keluar dari Singapura, tidak pada saat ia menjalani karantina mandiri. Lagi pula, bilapun tetap harus membeli saat itu, ia bisa membelinya di sekitar hotel, meminta bantuan petugas hotel, atau perwakilan tempatnya bekerja (FedEx),” ujar Wakil Jaksa Penuntut Umum, Jesudevan. Setelah mendengar tuntutan dari jaksa dan pembelaan dari pengacara, pengadilan akhrinya memutuskan untuk menghukum dua pekan lebih sedikit dari tuntutan jaksa serta memberikan denda sebesar S10 ribu atau Rp149 juta (kurs 10,458).

Dengan Kocek Kurang dari Rp500 Juta, Nenek 78 Tahun Sulap Boeing 727 Jadi ‘Little Trump’

Menikmati hari tua di tempat yang asri, dekat dengan alam, dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan mungkin menjadi impian semua orang; tak terkecuali dengan Jo Ann Ussery, nenek 78 tahun asal Benoit, Mississippi, Amerika Serikat (AS). Baca juga: Bombardier Q Series Disulap Jadi Rumah Minimalis Seharga Rp500 Jutaan Sejak tahun 1994 silam, hair stylist profesional ini telah mengubah pesawat tua Boeing 727 bekas Continental Airlines yang sudah pensiun usai mengudara mulai Mei 1968 hingga September 1993 dan menempatkannya di sebelah danau di Mississippi. Dikutip dari mirror.co.uk, ide untuk mengubah Boeing 727 menjadi sebuah huniah idaman sebetulnya diawali dengan musibah yang menimpa Jo Ann. Saat itu, rumahnya hancur diterjang badai es. Menyikapi hal itu, sang kakak ipar, Bob Farrow, yang bekerja sebagai air traffic control di bandara sekitar, menyarankan agar Jo Ann membeli pesawat tersebut seharga US$2.000 atau Rp29 juta (kurs Rp15.012) untuk diubah menjadi hunian idaman. Setelah pesawat berpindah tangan, bermodal sekitar US$30.000 atau Rp446 juta (kurs 15.012), ia pun mulai menyulapnya menjadi hunian idaman hari tua dengan berbagai fasilitas layaknya rumah pada umumnya, seperti penghangat ruangan, listrik, tiga kamar tidur, lounge, dapur, tempat cuci baju, tempat cucian piring, pendingin ruangan, oven, mesin cuci, hot-tub, dan sejumlah fasilitas lainnya.
Jo Ann Ussery saat tengah menikmati suasana di sekitar tempat ‘Little Trump’ miliknya berada. Foto: Getty Images via Mirror
Dengan segudang fasilitas dan penempatan unik dengan separuh bagian melayang di atas danau serta dikelilingi hutan kota, tak heran bila rekan dan keluarga Jo Ann banyak yang tak tahan untuk terus mengunjungi rumah berjuluk ‘Little Trump’ ini. “Cucu-cucu saya suka berlari-lari dan teman-teman saya suka pesta di sini. Tetapi tidak ada pramugari yang melayani minuman mereka,” kata Jo Ann. Meskipun disulap sedemikian rupa, namun, bukan berarti pesawat sepanjang 42 meter itu seluruhnya dikerjakan oleh kontraktor. Disebutkan, untuk urusan instalasi listrik, pemanas, dan pendingin ruangan Little Trump diakui Ann memang dikerjakan oleh kontraktor. Tetapi, untuk urusan penataan dan furniture yang digunakan, Ann mengaturnya sendiri. Selain itu, untuk menciptakan nuansa pesawat, beberapa bagian seperti kamar mandi, jendela, livery pesawat, pintu pesawat, dan kompartemen kabin masih dipertahankan Jo Ann. Baca juga: Spruce Creek, Hunian yang Bikin Pesawat Mondar-mandir di Jalan Raya Bak Mobil Meskipun sudah memiliki rumah idaman yang tak banyak dimiliki oleh orang lain, Jo Ann mengaku masih memiliki cita-cita lain, yakni mengubah Boeing 747 menjadi rumah idaman lainnya di masa mendatang. Hal itu dikarenakan pesawat tersebut memiliki dua lantai, sehingga memungkinkan desain lantai kedua khusus untuk kamar tidur atau ruang pribadi dan bagian lainnya di lantai pertama disulap menjadi berbagai fasilitas mewah, lengkap, dan nyaman. Di samping itu, ia juga memiliki cita-cita untuk membuka huniannya untuk publik. Namun, nampaknya itu hanyalah sebuah cita-cita yang tak akan pernah bisa dicapai. Sebab, beberapa tahun setelah rumah impiannya itu tercapai, rumah pesawat tersebut dilaporkan jatuh dan mengalami sejumlah kerusakan pada Mei 1999 saat hendak ingin dipindahkan ke bagian lain di Amerika.

Maskapai Dunia Hilangkan Makanan Ringan dan Majalah dalam Penerbangan

Maskapai dunia bukan hanya membatasi jumlah penumpang yang akan naik pesawat tapi juga akan mulai mengurangi layanan dalam penerbangan selama pandemi virus corona atau Covid-19 ini. Seperti Southwest Airlines yang menjadi salah satu maskapai dan menghentikan semua layanan makanan dan pilihan makanan ringan dalam penerbangan mereka saat ini. Baca juga: Kosongkan Kursi Tengah di Pesawat, Apakah Ini Efektif Selama Pandemi? Mereka mengatakan tidak akan melayani makanan ringan atau minuman dalam penerbangan untuk membatasi kontrak pribadi penumpang dengan awak kabin. Dilansir KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk (4/5/2020), maskapai berbiaya hemat untuk mengatasi pandemi ini telah memperkenalkan langkah-langkah ketat bersama dengan menghapus majalah dalam penerbangan dan menegakkan aturan penggunaan masker untuk penumpang di dalam kabin. Makapai AirAsia Thailand dan Lion Air serta IndiGo India juga ternyata menangguhkan layanan makanan dalam penerbangan. Sedangkan maskapai Inggris belum ada yang melakukan hal tersebut meski hal ini menjadi sesuatu yang disarankan oleh operator besar untuk mengurangi penyebaran virus. Namun maskapai Inggris saat ini justru berfokus dalam mempertimbangkan aturan jarak sosial seperti kursi tengah dibiarkan kosong. Bahkan Bandara London Stansted dan Manchestes mewajibkan semua orang baik penumpang maupun staf menggunakan masker. Ini sama seperti yang dilakukan oleh maskapai Amerika yakni American Airlines, United dan Delta. Wizz Air, maskapai yang terbang dari Inggris juga mewajibkan semua menggunakan masker dan telah menghapus semua majalah dan kertas dari kantong kursi. Namun para ahli telah memperingatkan bahwa pedoman baru dapat menghasilkan antrian yang lebih lama di bandara serta penerbangan yang lebih mahal. “Akan ada lebih sedikit penerbangan, kursi lebih sedikit tersedia, harga akan naik dan akan ada kondisi yang sangat tidak nyaman karena permintaan untuk memakai alat pelindung diri dan menjaga jarak sosial. Bahkan jika hujan mulai turun malam ini, kita masih melihat dua tahun setidaknya untuk kembali ke tingkat yang terlihat sebelum wabah. Dan itu mungkin akan lebih seperti lima tahun,” kata Andrew Charlton, direktur pelaksana Aviation Advocacy. Antrian empat jam di keamanan juga diharapkan, serta mengurangi jadwal terbang. Namun, bos Heathrow John Holland-Kaye memperingatkan bahwa jarak sosial akan “mustahil” di bandara karena setiap pesawat akan memiliki antrian naik satu kilometer. “Lupakan jarak sosial, itu tidak akan bekerja dalam penerbangan atau bentuk transportasi umum lainnya. Dan masalahnya bukan pada pesawat, itu adalah kurangnya ruang di bandara,” kata Holland-Kaye. Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan Sebuah video yang mengerikan telah mengungkapkan dengan tepat bagaimana batuk di pesawat dapat mendorong virus melalui seluruh kabin yang berarti semua orang terinfeksi. Dalam video itu, tetesan air liur kecil dari satu kuman mendorong batuk di seluruh pesawat. Satu firma desain telah menawarkan sarannya sendiri untuk tetap aman di pesawat dengan layar kaca di setiap kursi.

Layaknya Pohon Natal, Ini Alasan Bus AKAP Dihiasi Lampu Warna Warni

Menikmati perjalanan darat untuk bepergian ke suatu destinasi nyatanya tak hanya harus dengan kereta api atau kendaraan pribadi. Sebab bus antar kota antar provinsi atau AKAP pun bisa menjadi pilihan. Mungkin akan merasakan kemacetan bila menggunakan bus, tetapi ternyata banyak hal unik yang bisa didapat saat naik bus AKAP. Baca juga: Inilah Rumah Makan Favorit Khas Bus AKAP di Sepanjang Pantura Selain bisa tiba di tempat tujuan langsung, bus AKAP juga memiliki tampilan menarik dan ini biasanya merupakan kreativitas dari industri karoseri nasional. Selain bodi dengan warna cerah dan gambar logo Perusahaan Otobus atau PO, beberapa bus AKAP juga dihiasi dengan variasi lampu di bagian depan, samping dan belakang dengan alasan tersendiri. Ini membuat bus mirip dengan pohon Natal yang dihiasi lampu kelap kelip sehingga menarik. KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, bagian depan bus akan dipasangi lampu strobo dengan berbagai warna dan terpasang di kaca depan bus. Selain itu juga ada yang menggunakan lampu LED yang membuat tampilan bus semakin unik bahkan ada tambahan alis LED di sekeliling lampu depan bus. Pada bagian belakang, biasanya ditempeli LED bar yang mengikuti isyarat rem dan lampu sein. LED bar tersebut juga terpasang pada bagian kisi-kisi penutup mesin belakang. Namun jangan heran jika melihat ada LED yang juga terpasang di bagian bawah atau underglow. Pemasangan LED ini dikatakan Dimas Raditya yang merupakan anggota dari Forum Bismania Indonesia bahwa pemasangan variasi lampu pada bus AKAP dilakukan agar tampilannya menjadi lebih menarik “Biasanya lampu variasi tersebut digunakan agar penumpang berminat untuk menaiki busnya. Selain itu juga menjadi ciri khas dari masing-masing bus agar dikenal dan diingat,” kata Dimas yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com, Minggu (10/5/2020). Nah, bagaimana dengan biaya modifikasi dengan lampu sebanyak itu? Apakah dari PO bus nya atau dari kantong pribadi masing-masing kru? Ternyata modifikasi ini bukan dari uang PO bus melainkan dari kantong para kru bus sendiri. Meski begitu PO bus juga memberikan modan dan biasanya lebih untuk ke bus pariwisata. Baca juga: PO Sumber Alam, Bus AKAP Kebanggaan Warga Purworejo Sedangkan untuk bus AKAP modal dari kru bus tersebut. Walaupun menggunakan lampu variasi pada bagian depan, biasanya kru bus hanya menggunakannya saat berhenti atau memasuki terminal. Jika kembali ke jalan, biasanya kru tidak menyalakan lampu variasinya, kecuali yang ada di bagian belakang.

Taksi Drone EHang Masuki Tahun Layanan Pertama dengan Konsep Passenger Drone Hotel

Setelah melakukan uji coba pertama di Wina, Austria, pada April tahun lalu, taksi terbang drone pertama di dunia, EHang, dilaporkan telah bermitra dengan LN Holdings, platform pariwisata dan grup pengembangan hotel, untuk merealisasikan konsep passenger drone hotel atau hotel drone penumpang pertama di dunia. Dengan konsep tersebut, nantinya para tamu hotel dapat memiliki kesempatan untuk bepergian dengan drone penumpang ikonik EHang sebagai transportasi dan wisata udara di dunia perhotelan. Baca juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang Dikutip dari dronelife.com, hotel drone penumpang dinilai sebagai cara yang brilian untuk memamerkan teknologi wahana terbang otomatis (AAV) dan urban air mobility (UAM). Wisatawan yang mengunjungi Guangzhou akan dapat berkeliling di sekitar landmark kota seperti Menara Canton, Beijing Road, dan Sungai Pearl dari udara. Kemitraan ini berencana untuk menawarkan bukan hanya peluang baru menikmati Kota Guangzhou yang indah, tetapi juga untuk menyisipkan peluang pendidikan dan hiburan seperti pertunjukan lampu drone. “Program ini akan mempromosikan integrasi inovatif mulai dari tamasya udara (UAM), transportasi wisatawan, logistik udara, pertunjukan cahaya dengan drone, pameran cerdas, hingga pendidikan. Ini juga akan mempromosikan pengalaman baru wisata udara dan mengeksplorasi kasus penggunaan komersial lainnya untuk EHang AAV,” tulis EHang dalam sebuah rilis.
“Seiring perkembangan teknologi canggih lainnya seperti jaringan 5G, teknologi AAV secara bertahap akan mewujudkan potensi pasar dalam triliunan dolar. Menurut Morgan Stanley, pasar UAM global harus mencapai US$1,5 triliun pada tahun 2040. Pasar Cina menunjukkan potensi kuat sebesar US$431 miliar, menyumbang hampir 30 persen dari pasar UAM global,” tambah EHang dalam rilisnya. Hotel drone penumpang pertama yang beroperasi adalah LN Garden Hotel di Nansha, sebuah distrik pantai di Guangzhou. Hotel ini mengikuti kesepakatan antara EHang dan pemerintah Cina dalam menetapkan Guangzhou sebagai “kota pintar UAM pertama di dunia dan Cina”. Hu Huazhi, pendiri, ketua, sekaligus CEO EHang, mengatakan bahwa pihaknya sangat menikmati momen kemitraan strategis bersama LN Holdings. Di samping itu, mereka juga berkontribusi atas program pemerintah dan perkembangan Kota Guangzhou dalam menata pariwisata. “Kami sangat senang untuk membangun kemitraan strategis yang komprehensif dan jangka panjang dengan LN Holdings. Membantu membangun Guangzhou menjadi kota percontohan mobilitas udara global adalah tonggak sejarah bagi kami, dan selanjutnya mempromosikan komersialisasi ekosistem UAM,” katanya. “Para tamu LN Garden Hotel akan mendapat layanan AAV cerdas, termasuk tamasya udara yang unik, pengiriman udara yang nyaman dan otonom serta pertunjukan lampu udara berteknologi tinggi,” tambahnya. Senada dengan Hu Huazhi, Liang Lingfeng, Manajer Umum Grup LN dan Pimpinan LN Holdings, menyebut bahwa jaringan yang dimiliki perusahaan diklaim dapat membantu ekspansi EHang dalam mengoperasikan taksi drone pertama di dunia. Selain itu, ia juga mengapresiasi kolaborasi teknologi dengan pengalaman parwisata. Baca juga: [Video] Taksi Drone 282 Karya Anak Bangsa Berhasil Terbang Sebelum Dipamerkan di Jerman “Kami memiliki rantai sumber daya yang luas di industri pariwisata, yang mencakup perjalanan, hotel bermerek, konvensi, pameran, dan tempat wisata yang indah. Dengan memanfaatkan kemampuan LN Grup pemegang saham pengendali kami untuk mengintegrasikan sumber dayanya di sektor konsumen, bekerja sama dengan EHang dapat menghasilkan produk dan layanan tambahan,” jelasnya. “Kami dapat memenuhi permintaan perjalanan pelanggan di udara dan di darat dengan menggabungkan teknologi cerdas dengan pengalaman wisata. Akhirnya, kami akan menyediakan produk dan layanan baru di berbagai sektor, kategori bisnis, dan wilayah yang berbeda di negara ini,” tambahnya.

Avianca, Maskapai Terbesar Ketiga di Amerika Latin Bangkrut Gegara Corona, 21 Ribu Karyawan di 14 Negara Gigit Jari!

Avianca Airlines, maskapai terbesar ketiga di Amerika Latin, setelah LATAM Airlines (LTM) Chili dan GOL Linhas Aéreas (GOL) Brasil, dilaporkan mengajukan bangkrut ke pengadilan New York pada Minggu, 10 Mei 2020. Maskapai yang berbasis di Bogota, Kolombia itu mengajukan bankrut usai gagal memenuhi tenggat pembayaran utang yang mencapai lebih dari USD7,3 miliar atau Rp108 triliun (kurs 15 ,012). Baca juga: Air Canada Sebut Proses Recovery Akibat Corona Butuh Tiga Tahun Sambil menjalani proses bangkrut, maskapai tetap beroperasi seperti biasa. Selain itu, dalam upaya bertahan, perusahaan juga masih mencari pinjaman, kelonggaran utang, hingga bantuan keuangan dari pemerintah. Tak hanya itu, maskapai tertua kedua di dunia ini (hanya berjarak sekitar dua bulan dengan KLM-Air France sebagai maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi) juga berencana menutup operasional di Peru yang selama ini menyumbang sekitar lima persen pendapatan perusahaan. Avianca juga bakal memberhentikan ratusan karyawan dalam sepuluh hari ke depan. Saat ini, lebih dari 140 pesawat Avianca telah mendarat sejak Presiden Kolombia Ivan Duque menutup wilayah udara negara itu pada Maret. Tercatat sebanyak 20.000 karyawannya di seluruh Amerika Latin telah diberhentikan dengan status cuti yang tidak dibayar. Maskapai berumur 1 abad ini diketahui telah menutup operasinya sejak Maret 2020 dan tengah mengalami penurunan pendapatan hingga 80 persen. “Avianca menghadapi krisis yang menantang dalam 100 tahun terakhir,” kata CEO Avianca Anko van der Werff, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari CNN Internasional. Meski demikian, analis Center for Aviation (CAPA) menyebut, terlepas dari wabah virus Cina, Avianca telah mengalami masalah keuangan sejak lama. Tak heran, bila keadaan luar biasa membuat perlambatan ekonomi di seluruh dunia, termasuk menerjang industri penerbangan, kondisi keuangan Avianca Airlines semakin memburuk. Hal itu setidaknya dapat dilihat dari kaburnya sanga CEO secara tiba-tiba yang diduga telah melihat akhir dari sepak terjang maskapai. “Itu bukan hal mengejutkan,” kata Juan David Ballen, kepala ekonomi lembaa analis keuangan Casa de Bolsa di Bogota. “Perusahaan itu memiliki hutang yang banyak, mereka berusaha merestrukturasi hutangnya pada tahun lalu,” katanya. Pimpinan Komersial Avianca, Silvia Mosquera mengatakan jika kondisi perusahaan sudah membaik, mereka akan mempekerjakan kembali karyawan yang di-PHK. Optimisme ini berangkat dari sejumlah negara yang sudah melonggarkan lockdown dan mengizinkan maskapai penerbangan beroperasi kembali. Namun jika perusahaan gagal pulih, maka Avianca akan menjadi maskapai penerbangan besar pertama dan maskapai kedua yang bangkrut akibat wabah corona setelah FlyBe. Pada 2003, Avianca pernah mengajukan kebangkrutan karena masalah internal. Namun perlahan maskapai itu mampu bangkit kembali dan beroperasi seperti biasa. Sebelumnya, pada awal Maret lalu, maskapai asal Inggris, FlyBe, dinyatakan bangkrut akibat tak mendapatkan suntikan dana segar dari pemerintah Inggris sebesar 100 juta poundsterling Rp1,8 triliun dan konsorsium pemilik perusahaan sebesar US#130 juta atau Rp1,8 triliun guna menstabilkan bisnisnya. Selain itu maskapai juga tercatat memiliki utang Rp320 miliar. Baca juga: Gegara Virus Corona dan Tak Dapat Utang Baru, Maskapai Terbesar Inggris “FlyBe” Bangkrut Maskapai lainnya yang juga berada di jurang kebangkrutan adalah Virgin Atlantic dan Virgin Australia milik konglomerat asal Inggris, Richard Branson. Belum lama ini, ia mengaku akan menawarkan pulau pribadi miliknya di Necker Island, Karibia kepada Pemerintah Inggris dan Australia sebagai jaminan. Hal itu dilakukan semata agar dua maskapai miliknya bisa segera mendapatkan suntikan modal demi kelangsungan hidup perusahaan di tengah ketidakpastian bisnis penerbangan akibat pandemi virus Cina. “Kelangsungan hidup Virgin Atlantic dan Virgin Australia penting untuk memberikan kompetisi yang sangat dibutuhkan kepada British Airways, anak perusahaan IAG (ICAGY), dan Qantas (QABSY). Jika Virgin Australia menghilang (bangkrut), Qantas akan secara efektif memonopoli langit Australia,” katanya, sebagaimana dikutip dari CNN Internasional.

Intip Cara Qantas Rawat Komponen Landing Gear System Tanpa Harus Terbang

Akibat anjloknya frekuensi penerbangan, Qantas mau tak mau banyak armadanya dalam jangka waktu yang tak sebentar. Meski demikian, pesawat tetap butuh mendapat perawatan rutin agar tetap dalam kondisi prima saat kembali ke layanan. Salah satunya perawatan landing gear system pesawat. Baca juga: Belakangan Pesawat Kerap Bermasalah pada Roda Pendarat, Ada Apa? Biasanya, untuk menguji landing gear system atau ban pesawat, secara berkala, pesawat didorong dengan wahana aircraft tug ke sekitaran apron untuk mencegah korosi hingga disfungsi ban. Tak hanya ban, landing gear swing pada pesawat juga harus dicek. Proses ini pada umumnya menuntut pesawat untuk melakukan penerbangan singkat di langit sekeliling bandara untuk menjaga kondisi landing gear swing sambil ‘memanaskan’ mesin. Namun, Qantas memiliki teknik pengujian lain terkait hal ini (landing gear swing). Dikutip dari Simple Flying, tak sesulit yang dibayangkan, rupanya, teknik pengujian atau pemeliharan landing gear swing pesawat tanpa harus terbang, prosesnya hampir mirip dengan proses pemerliharaan pada ban mobil. Mula-mula, pesawat diangkat sekitar satu meter dengan super storng jack pesawat (sejenis hidraulik atau dongkrak).
Setidaknya, butuh sekitar empat super storng jack yang tersebar di empat titik, belakang, kedua sayap (dekat mesin), dan di bagian depan (tak jauh dari landing gear box). Sebelum mulai diangkat, terlebih dahulu dipasang semacam pelindung agar bagian super storng jack tak langsung mengenai permukaan pesawat, untuk menghindari risiko lecet atau lebih dari itu. Setelah pesawat terangkat, petugas maintenance operations di fasilitas Roo Tales, di Melbourne, Australia, mulai menguji landing gear swing dan komponen landing gear system lainnya. Proses ini dilakukan berkali-kali, untuk memastikan komponen pendaratan itu berada dalam kondisi prima. Setelah dirasa cukup, pesawat kemudian diturunkan kembali dan petugas menguji pesawat lainnya dengan teknik serupa. Sebetulnya, teknik pengujian landing gear swing tanpa harus menerbangkan pesawat sudah banyak dilakukan oleh maskapai-maskapai di dunia, khususnya mereka yang mempunyai fasilitas perawatan sendiri, seperti Lufthansa, Virgin Atlantic, dan lainnya. Landing gear system dalam mendukung keselamatan dan keamanan penerbangan memang tak kalah vital dibanding dengan fitur lainnya. Bahkan, beberapa bulan lalu, secara bertahap, banyak kasus terjadi berkenaan dengan landing gear system. Jumat, 28 Februari lalu, maskapai Pakistan International Airlines (PIA) memutuskan untuk balik kanan atau return to base saat baru lepas landas dari Bandara Internasional Dubai dalam perjalanan menuju Lahore, Pakistan. Setelah mendarat, diketahui, pesawat memiliki masalah dengan bagian pintu landing gear yang tak mau menutup. Pada 16 Februari, pendaratan Virgin Australia Boeing 777 di Los Angeles tak berjalan mulus akibat adanya masalah dengan sistem hidraulik di salah satu roda pendaratan yang tidak dipasang dengan benar. Akibatnya, asap terlihat keluar dari pesawat yang disebabkan oleh gesekan pada rem roda ketika pesawat meluncur di landasan. Baca juga: Berkaca dari Insiden Garuda Indonesia di Biak, Mengapa Ban Pesawat Bisa Meledak? Pada 7 Februari, pesawat Icelandair Boeing 757-200 yang terbang dari Berlin Tegel (Jerman) ke Keflavik (Islandia) mengalami kerusakan roda pendaratan utama saat tiba di Bandara Internasional Keflavik. Beruntung, tidak sampai memakan korban jiwa ataupun luka. Kemudian, pada 3 Februari, pesawat Air Canada harus kembali ke Madrid karena memiliki masalah dengan roda pendaratan. Laporan awal menyatakan bahwa bagian dari roda pendaratan Boeing 767, rute Madrid-Toronto, lepas dan jatuh ke mesin. Hal tersebut kemudian, oleh maskapai, dikonfirmasi bahwa insiden tersebut diakibatkan pesawat mengalami pecah ban dan serpihannya masuk ke mesin.

Rajdhani Express Kembali Beroperasi, Indian Railways: Tidak Ada Selimut dan Makanan

Mirip dengan PT KAI yang mengoperasikan Kereta Luar Biasa (KLB), kereta api India yang dioperasikan oleh Indian Railways telah memutuskan untuk menjalanakan kereta layanan penumpang khusus. Kereta ini akan memiliki struktur tarif yang berbeda dari biasanya. Sebab banyak fasilitas yang menghilang dalam layanan kereta khusus ini seperti tidak akan ada selimut atau kain serta layanan makan seperti sebelumnya. Baca juga: Pertama Kalinya Jaringan Kereta India Berhenti Operasi Dalam 167 Tahun Struktur tarif atau ongkos yang akan berlaku ditentukan untuk waktu reguler dan diajukan oleh layanan kereta Rajdhani Express atau sesuai dengan kategori kereta waktu reguler yang diberitahukan oleh direktorat pembinaan. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman financialexpress.com (11/5/2020), kereta ini akan mulai beroperasi pada 12 Mei 2020 dari New Delhi Railways Stastion (NDLS) ke berbagai tempat Bilaspur Secunderabad, Madgaon, Ahmedabad, Jammu Tawi, Howrah, Chennai, Patna, Dibrugarh, Pusat Mumbai, Bengaluru, Thiruvananthapuram, Agartala, Ranchi dan Bhubaneswar. Meski kembali beroperasi dengan layanan khusus, ada berbagai aturan terkait katering, selimut dan fasilitas lainnya yang tercantum dalam aturan yang dibuat dan bisa di akses dari laman website, kata Dewan Kereta Api. Dalam layanan khusus ini, tidak akan ada biaya makanan yang termasuk dalam tarif. Selain itu juga ketentuan untuk pemesanan makanan pra bayar atau makanan secara langsung akan ditiadakan. Namun, pihak Layanan dan Pariwisata Kereta Api India atau IRCTC bisa membuat ketentuan untuk makanan yang dapat dimakan terbatas serta air minum dalam kemasan berdasarkan pembayaran. Untuk ketentuan ini, penumpang akan diberi semua informasi terkait selama pemesanan tiket. Menurut surat edaran Dewan Kereta Api, tidak ada selimut atau kain yang disediakan untuk penumpang. Informasi ini akan ada dan didapat penumpang ketka melakukan pemesanan tiket kereta api. Dewan Kereta Api telah menyatakan bahwa tiket untuk layanan kereta khusus ini hanya dapat dipesan secara online melalui situs web resmi IRCTC (irctc.co.in) atau melalui aplikasi seluler IRCTC serta operasi tiket kontra di stasiun kereta api di seluruh negara akan terus ditutup. Baca juga: Tejas Express, Kereta Api India Pertama yang Akan Dioperasikan Swasta Selain itu, penumpang sekarang dapat memesan tiket untuk layanan kereta khusus ini melalui agen resmi IRCTC atau Kereta Api India. Sesuai kebijakan pembatalan, pembatalan untuk kereta khusus ini akan diizinkan hingga 24 jam sebelum jadwal keberangkatan kereta. Biaya pembatalan akan menjadi 50 persen dari tarif tiket.