Menurut Cirium, setidaknya ada 18 ribu pesawat di-grounded di seluruh dunia. Data tersebut pun diperkuat oleh FlightRadar24.com yang mencatat bahwa lalu lintas udara total pada bulan April turun 62 persen dan lalu lintas penerbangan komersial turun 73,7 persen dibanding periode yang sama di 2019 . Pada April 2020, hari tersibuk di langit terjadi pada tanggal 28, dengan 80.714 penerbangan. Namun tetap saja jauh tertinggal bila dibandingkan dengan 17 April 2019 dengan 203.239 penerbangan.
Baca juga: Nasib Pilot Gegara Corona, Tetap Harus ‘Terbang’ Tanpa Dibayar
Dalam kondisi sulit, maskapai berusaha untuk tetap hidup dengan memaksimalkan penerbangan kargo. Bahkan, dengan sepinya penerbangan komersial dan guna memaksimalkan penerbangan dalam sekali jalan, era baru industri penerbangan global yang tak pernah terjadi sebelumnya pun dimulai; kabin penumpang disulap menjadi penuh kargo.
Tingginya penerbangan kargo, dengan mayoritas memuat kebutuhan pangan dan medis, belum lama ini sempat menjadikan Bandara Internasional Ted Stevens Anchorage (ANC), di Negara Bagian Alaska, Amerika Serikat (AS) menjadi bandara tersibuk di dunia pada 25 April lalu. Padahal, dalam kondisi normal, penerbangan penumpang ANC hanya melayani 5 juta penumpang per tahun, jauh dibanding Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta, AS, yang notabene sebagai bandara tersibuk di dunia, dengan melayani 107 juta penumpang tahun 2018 lalu.
Bagi bandara, maskapai, operator air navigation, petugas ground handling, dan teknisi, ramainya penerbangan kabin penumpang dipenuhi kargo mungkin biasa saja, yang terpenting tetap ada penerbangan. Namun bagi pilot, kabin penumpang dipenuhi kargo mungkin hanya akan ‘menambah kerjaan’ yang sebetulnya mereka sudah cukup disibukkan dengan urusan di kokpit.
Dikutip dari thepointsguy.com, setidaknya ada dua hal yang membuat pilot sedikit direpotkan dengan penerbangan kabin penumpang dipenuhi kargo. Pertama, teknis pengecekan. Dengan penerbangan sepenuhnya kargo tanpa satupun penumpang, pramugari disebut tak banyak disertakan dalam setiap penerbangan. Itu artinya, mau tak mau, pilot harus bersiap untuk segala risiko, salah satunya kebakaran.
Selain itu, tugas pengecekan pun, yang biasa dilakukan pramugari, juga mau tak mau dihandle oleh pilot, mulai dari memeriksa komponen barang, seperti baterai lithium-ion yang tak boleh diletakkan dekat generator oksigen, atau bahan mudah terbakar lainnya yang diletakkan secara khusus dengan suhu yang wajib terjaga dengan baik. Kemudian, tata letak kargo juga tak boleh sembarang dan harus dipastikan tak banyak bergerak mengingat akan mempengaruhi keseimbangan pesawat, baik saat mulai lepas landas atau pun dalam kondisi lainnya yang memaksa pilot melakukan manuver hingga menyebabkan guncangan.
Tak cukup sampai di situ, pilot juga wajib mengetahui jenis barang apa saja yang dibawa, memastikan berbagai peralatan di pesawat non-aktif, seperti ovens, microwaves, brewers, IFE, dan berbagai sakelar lainnya yang dapat mengancam keselamatan dan keamanan penerbangan.
Baca juga: Kargo di Kabin Penumpang Bikin Pramugari Beralih Fungsi Jadi ‘Petugas’ Pemadam Kebakaran
Kedua, dalam penerbangan jarak jauh tanpa adanya pramugari, otomatis, pilot harus melayani dirinya sendiri, seperti membuat kopi atau mendapatkan sedikit cemilan saat di udara. Hal itu tentu cukup merepotkan mengingat pilot yang sudah dibebani dengan prosedur normal penerbangan dan prosedur baru untuk penerbangan kabin penumpang dipenuhi kargo dengan sederet tugas dan tanggungjawab baru.
Akan tetapi, pada artikel sebelumnya, redaksi sebetulnya sudah sempat menyinggung terkait pro kontra keberadaan pramugari dalam penerbangan kabin penumpang dipenuhi kargo. Atas alasan keselamatan, seperti ancaman kebakaran, sebetulnya, pramugari diimbau untuk tetap ikut menyertai penerbangan tersebut. Jika demikian adanya, tentu pilot tidak jadi mendapat tugas baru atau double job. Namun, bila pada prakteknya maskapai lebih memilih tidak menyertai pramugari, pilot mau tak mau melakukan tugas dan tanggung jawab baru sebagaimana diungkat di atas.
Perasaan jenuh dan sedih karena tak bisa liburan hampir ada dibenak perasaan setiap orang saat ini. Namun, percayalah cepat atau lambat badai Covid-19 pasti akan berlalu. Dan saat musibah global ini berlalu, Anda bisa mempersiapkan kembali liburan dan perjalanan untuk menyegarkan jiwa raga. Dan salah satu yang bisa menjadi pilihan adalah menyapa kerinduan pada kereta api, khususnya kereta api jarak jauh antar kota.
Baca juga: 10 Tips Menikmati Perjalanan dengan Kereta di Eropa
Nah, bagi Anda yang lebih menyukai kereta api sebagai moda transportasi perjalanan, ada beberapa tips yang bisa jadi patokan dalam mempersiapkan perjalanan. Berikut ini beberapa tips yang KabarPenumpang.com rangkum dari iol.co.za (3/3/2020).
#1 Cari diskon dan penawaran
Setelah tahu tujuan liburan, Anda harus bisa mengecek apakah perusahaan kereta api menawarkan diskon atau harga yang lebih murah dari biasanya. Sebab terkadang ada penawaran dan diskon untuk penumpang terutama anak-anak, pelajar maupun lansia. Sehingga ketika bepergian dengan anak-anak atau orang tua Anda, tiket yang dibeli bisa lebih murah.
#2 Kebijakan bagasi kereta
Perusahaan kereta api memiliki kebijakan bagasi yang murah hati dan lainnya justru memiliki aturan yang ketat. Sebelum mengemas barang bawaan cek berapa banyak tas yang boleh dibawa dan apa saja yang dilarang. Beberapa kereta, tidak mengenakan biaya tambahan untuk dua tas dan barang pribadi. Tetapi ada pula yang harus membayar kelebihan tersebut.
#3 Bawa bantal dan selimut sendiri
Beberapa kursi kereta cukup nyaman tapi mungkin Anda tidak akan bisa tidur dengan nyeyak. Sebab tak banyak kereta yang menawarkan paket tidur pada penumpang. Sehingga bantal kecil dan selimut dengan ukuran tidak terlalu besar bisa membuat Anda hangat dan nyaman selama perjalanan malam yang dingin.
#4 Pakaian nyaman
Ketika menikmati liburan dengan kereta api, gunakan pakaian yang nyaman seperti kaos dan celana panjang bahan. Siapkan syal dan sepasang kaus kaki yang bisa digunakan untuk tidur. Bawa jaket yang ringan untuk membantu tetap nyaman dan menghalau dinginnya udara dari AC kereta.
#5 Bawa camilan sendiri
Menikmati perjalanan dengan kereta api, rasanya ada yang kurang jika tidak makan cemilan untuk menikmati pemandangan yang disuguhkan alam. Kereta api menjual makanan ringan tapi, harga yang ditawarkan lebih mahal ketimbang membawa dari rumah. Apalagi yang bepergian dengan anggaran terbatas, sehingga baiknya bawa makanan ringan dari rumah selain lebih hemat, bisa membawa lebih banyak.
Baca juga: Daripada Jajan di Kereta, Lebih Baik Bawa Daftar Bekal ini Sebelum Berangkat#6 Matikan ponsel
Sebagian besar kereta modern sudah menghadirkan WiFi dan penumpang bisa berselancar di media sosial dengan mengunggah atau mengupdate apa yang dilihat dan dirasakan. Namun, baiknya tidak terlalu sering menggunakan ponsel. Sebab Anda bisa saja kehilangan momen menikmati pemandangan yang diberikan alam ketika kereta melintas di jalan berkelok, hutan atau pemandangan lainnya seperti laut dan gunung.
Belakangan, industri penerbangan global sedikit dihebohkan dengan klaim dari China Eastern. Maskapai yang masuk tiga besar maskapai terbesar di Cina bersama Air China dan China Southern Airlines itu mengklaim telah menjadi maskapai terbesar di dunia saat ini bila dilihat dari segi kapasitas kursi yang tersedia saat ini.
Baca juga: Bisakah Airbus A380 Terbang dengan Satu Mesin? Ini Jawabannya
Pertengahan April lalu, maskapai lainnya dari tiga besar itu, China Southern Airlines juga sempat menjadi perbincangan, lantaran maskapai yang berbasis di Guangzhou, Cina itu didaulat menjadi maskapai satu-satunya di dunia yang masih mengoperasikan pesawat komersial terbesar sejagat, Airbus A380.
Meskipun hanya menerbangkan A380 sekali dalam seminggu, keberhasilan China Southern untuk tetap terus mengoperasikan pesawat tersebut tentu cukup mengejutkan banyak pihak. Selama ini, jawara A380 masyhur dipegang oleh maskapai besar dunia dengan reputasi tinggi, seperti ANA, British Airways, Qatar Airways, Lufthansa, Qantas, dan Etihad Airways.
Akan tetapi, terlepas dari keberhasilan China Southern Airlines mempertahankan penerbangan A380 saat industri penerbangan global tengah anjlok, secara keseluruhan, sebetulnya A380 bisa dikatakan nyaris tidak begitu diminati oleh maskapai Cina. Saat ini, dari sekitar 20 maskapai di Negeri Tirai Bambu, hanya China Southern Airlines yang memiliki armada A380, itupun cuma lima unit. Jauh dibanding British Airways, Qatar Airways, Lufthansa, Qantas, dan Etihad Airways.
Harapan Airbus untuk melihat lebih banyak A380 menghiasi langit atau bandara-bandara di Cina sebetulnya sempat muncul di tahun 2017 lalu. Dikutip KabarPenumpang.com dari Simple Flying, saat itu, Eric Chen, President of Airbus Commercial Aircraft China (saat ini menjabat chairman), memperkirakan bahwa maskapai penerbangan Cina akan membutuhkan 60 hingga 100 pesawat A380 dalam lima tahun ke depan atau hingga 2022 mendatang. Saat itu, ia meyakini, pertumbuhan pesat industri penerbangan di Cina akan membutuhkan lebih bayak A380 untuk mengurai kepadatan lalu lintas ruang udara Cina dengan mengangkut lebih banyak penumpang dalam sekali jalan.
Namun, apa nyana, perkiraan tersebut tak sepenuhnya benar sekalipun pertumbuhan industri penerbangan di sana memang terus mengalami pertumbuhan pesat. Lagi pula, pemerintah Cina juga telah membangun banyak bandara baru untuk mengurai kepadatan lalu lintas udara. Jadi, tanpa harus mengangkut banyak penumpang dengan A380 dalam setiap perjalanan pun perjalanan udara sudah cukup terurai dengan pertumbuhan bandara baru.
Selain itu, kecenderungan maskapai pada rute point-to-point daripada model jaringan hub-and-spoke (layaknya Dubai, Singapura, Hong Kong, Inggris, dan Jepang), juga membuat Airbus A380 nyaris tak dilirik maskapai Cina.
Baca juga: China Southern Jadi Maskapai Satu-satunya di Dunia yang Masih Terbangkan Airbus A380
Terlebih, dengan luas daratan mencapai 9,597 juta km² atau menyandang sebagai negara terbesar ke-3 di dunia, mobilitas tinggi antar dearah, pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat, banyaknya spot pariwisata dalam negeri, serta dengan populasi penduduk hampir menyentuh 1,4 miliar jiwa, membuat jaringan domestik atau point-to-point penerbangan Cina tak bisa dianggap remeh. Dengan kondisi itu, tak ayal bila maskapai Cina lebih memilih A350 yang dinilai lebih tangguh dan lebih cocok untuk memaksimalkan ceruk pasar point-to-point ketimbang A380.
Alasan terakhir, menurut Chen, keberlanjutan juga mejadi isu penting sebelum maskapai Cina memutuskan untuk menggunakan A380. “Kurangnya kepercayaan untuk mengoperasikan A380, itu adalah sesuatu (yang meragukan) untuk dikerjakan secara terus menerus dengan maskapai di Cina,” katanya.
Trem menjadi salah satu moda transportasi andalan oleh masyarakat perkotaan di Rusia. Dan belum lama ini, Negara Beruang Merah tersebut sedang mengembangkan trem terbaru yang menggunakan aluminium pada semua bagiannya.
Baca juga: Serba-Serbi Trem San Francisco yang Melegenda bin Ikonik
Pengerjaan pengembangan tersebut dilakukan oleh Sistem Transportasi PC dan mengatakan akan menjadi trem berbahan aluminium pertama buatan rusia yang mengambil contoh terbaik dari produksi trem aluminium di Eropa. Trem dengan tipe 71-931M1 memiliki tiga gerbong dalam satu rangkaian dan memiliki lantai rendah (low deck) bertingkat.
Pengerjaan trem (railwaygazette.com)
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railwaygazette.com (28/4/2020), kerangka bodi trem tersebut tengah dirakit dan dicat di Tver Mechanical Electric Transport Plant yang sudah mengalami modernisasi komperhensif untuk memfasilitasi produksi kendaraan aluminium. Kemudian perakitan terakhir akan dilakukan di Nevsky Electric Transport Plant di St Petersburg.
Penggunaan aluminium diharapkan memungkinkan pabrik untuk menawarkan masa garansi yang lebih lama dibandingkan dengan baja yang setara, yang mana biaya perawatannya lebih rendah dan lebih sedikit kebutuhan untuk mengganti komponen selama masa operasi kendaraan. Trem ini juga akan dilengkapi dengan jendela besar, pintu lebar, banyak pegangan tangan, sistem manajemen iklim modern, akselerasi yang halus dan cepat dan isolasi kebisingan.
Elemen bodi yang menyerap energi dan elemen tabrakan hidrodinamik di bagian depan dan belakang trem dimaksudkan untuk mengurangi risiko melukai penumpang dan pengguna jalan lain jika terjadi tabrakan dan untuk melindungi bagian utama dari struktur mobil. Selain itu juga ada ketentuan untuk memasang sistem penyimpanan energi onboard.
“Trem aluminium adalah tahap baru dalam pengembangan teknik transportasi Rusia, investasi di masa depan, dalam teknologi baru yang tidak akan kehilangan nilai bahkan setelah bertahun-tahun. Pada saat yang sama, prioritas absolut bagi kami tetap nyaman dan memenuhi kebutuhan penumpang,” kata Feliks Vinokur, Presiden PC Transport Systems.
Baca juga: Kurangi Polusi dan Kemacetan, Trem Jadi Solusi di Inggris
Diketahui tipe trem 71-931 Vityaz diluncurkan pada 2014 lalu. Sistem Transportasi PC berencana untuk menampilkan trem Vityaz-M 71-931M1 di pameran perdagangan InnoTrans di Berlin, sekarang berlangsung pada bulan April 2021.
Ada berita baik bagi para pekerja kesehatan di garis depan yang selama ini berjuang dengan gigih dalam menghadapi wabah Covid-19, pasalnya Qatar Airways akan memberikan 100.000 tiket gratis untuk para pekerja kesehatan sebagai ucapan terima kasih atas pekerjaan heroik mereka menjaga orang–orang saat pandemi. Yang dimaksud para pekerja kesehatan disini adalah dokter, praktisi kedokteran, perawat, paramedis, apoteker, teknisi laboratorium dan peneliti klinik.
Baca juga: Boeing 777 Milik Qatar Hubungkan Jarak 38Km Dalam Waktu Sembilan Menit Saja!
Hadiah tiket gratis tersebut akan dibuka pukul 00.01 dini hari pada tanggal 12 Mei dan ditutup pada tanggal 18 Mei (waktu Doha) yang bertepatan dengan Hari Perawat Internasional. Para pekerja kesehatan dapat mendaftarkan dirinya untuk penawaran ekslusif ini di qatarairways.com/ThankYouHeroes untuk mendapakan kode promo unik yang ditawarkan berdasarkan siapa yang mendaftar pertama kali (first come, first served basis).
Para 100.000 pekerja kesehatan yang menerima kode promosi tersebut dapat memesan hingga 2 tiket gratis pulang pergi dengan penerbangan Qatar Airways untuk dirinya sendiri dan partnernya kemanapun di jaringan destinasi Qatar Airways. Tiket harus dipesan sebelum tanggal 26 November dengan penerbangan hingga 10 Desember 2020. Tiket sepenuhnya fleksible dan dengan jumlah destinasi tanpa batas atau perubahan tanggal tanpa biaya. Harga serta biaya surcharges akan di gratiskan kecuali pajak bandara.
Para pekerja medis dari berbagai negara di dunia berhak akan tiket tersebut. Untuk memastikan proses aplikasi dilakukan secara adil dan transparan, setiap negara akan mendapatkan kuota tiket tergantung dari jumlah populasi negara tersebut. Sebagai tambahan, Qatar Airways memencar aplikasi sesuai dengan alokasi kuota negara tersebut dalam waktu tujuh hari. Penawaran ini hanya berlaku untuk rute pesawat QR yang beroperasi. Para pekerja kesehatan yang berhak adalah yang memiliki Kartu tanda karyawan dan harus ditunjukkan kepada pihak bandara pada saat check in.
Baca juga: Geser Singapore Airlines, Qatar Airways Kini Jadi Maskapai Terbaik Dunia
“Bersatu dalam dedikasi, kami berbagi rasa terima kasih. Kini, saatnya kami memberikan kembali sesuatu untuk mereka para pekerja kesehatan lini depan. Tidak ada kata atau gestur yang cukup untuk membalas para laki – laki dan perempuan pemberani tersebut, namun kami harap tawaran kecil kami berupa tiket penerbangan gratis pulang pergi dengan Qatar Airways dapat membuat mereka menikmati liburan yang pantas mereka dapatkan, mengunjungi keluarga dan kerabat atau menjelajahi destinasi yang selama ini mereka impikan setelah pembatasan berpergian mulai lenggang,” ujar Group Chief Executive Qatar Airways, Akbar Al Baker dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (12/6/2020).
Bekerja dari rumah alias work from home menjadi satu kegiatan yang terjadi pada masa pandemi virus corona (Covid-19) ini. Bahkan pertemuan seperti meeting atau yang lainnya pun sekarang sudah melalui platform online. Menteri Industri dan Perdagangan (Menperindag) Singapura Chan Chun Sing mengatakan, bekerja dari rumah akan terus menjadi norma mayoritas bahkan setelah pemutusan pembatasan berakhir pada 1 Juni mendatang.
Baca juga: Video Pramugari Bekerja dari Rumah Viral dan Banyak Dikomentari
Dia mengatakan, aktivitas kerja di lokasi atau kantor telah dikurangi menjadi 30 persen sebelum adanya pemutusan pembatasan yang dimulai pada 7 April. Chan mengatakan sekitar 17 persen tenaga kerja Singapura saat ini pergi bekerja karena mereka berada di layanan penting.
“Bagi mereka yang dapat bekerja dari rumah, kami mengharapkan mereka untuk terus bekerja dari rumah di masa mendatang. Karena saat ini sudah banyak yang terbiasa menggunakan platform online untuk pertemuan dan kegiatan kerja lainnya,” kata Chan.
Dia menyebutkan, mereka tidak dapat membuka beberapa tempat hiburan, tetapi tetap fokus pada kapasitas dan kemampuan produksi terlebih dahulu. Chan mengatakan, sektor-sektor yang memungkinkan Singapura untuk berdagang dengan dunia dan mengakses pasokan kritias akan secara progresif dimulai terlebih dahulu.
Saat ini pemerintah Singapura sedang mencari skema bantuan untuk sektor-sektor yang akan dibuka kembali nantinya. Meski begitu tidak ada batas waktu sampai kapan ekonomi akan kembali ke kapasitas penuh.
“Jika kita dapat terus mempertahankan jumlah yang sangat rendah dalam penyebaran masyarakat, itu akan memberi kita kepercayaan yang lebih besar untuk secara progresif membuka lebih banyak sektor untuk pulih sedekat kapasitas penuh saat kita mungkin bisa,” kata Chan yang dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (3/5/2020).
“Kami akan memastikan bahwa kami menjaga konektivitas untuk semua hubungan udara, darat dan laut kami, tidak hanya untuk Singapura, tetapi juga untuk kawasan dan rantai pasokan global,” tambahnya.
Chan mengatakan bahwa fokusnya bukan pada jumlah tetapi kondisi kerja yang aman. Perusahaan akan dibuka secara progresif mulai 12 Mei setelah mereka menerapkan praktik manajemen yang aman. Dia menambahkan, saat ini diskusi juga sedang berlangsung dengan beberapa negara termasuk Jepang dan Korea Selatan tentang dimulainya kembali perjalanan bisnis penting.
“Ini akan mengharuskan kita untuk memiliki koordinasi pada standar pemeriksaan kesehatan untuk jaminan timbal balik (dan) mengharuskan kita untuk memiliki sistem untuk melacak dan melacak, jika ada orang yang terinfeksi. Saya pikir ini akan menjadi modus operandi tentang bagaimana hal-hal akan berkembang dalam beberapa bulan ke depan, jika tidak satu atau dua tahun, karena kita akan mengambil waktu untuk menyesuaikan diri dengan normal baru ini. Dan kita semua harus memikirkan kembali jalannya. kita hidup dan bekerja untuk melakukan ini,” ujarnya.
Baca juga: Jaga Jarak Sosial, Persempit Penyebaran Covid-19
Diketahui Chan mengatakan hal ini, sehari setelah Pemerintah menyusun rencana untuk meringankan beberapa pembatasan ketat yang diberlakukan selama pemutus sirkuit Singapura. Pada hari Sabtu, pemerintah mengumumkan perpanjangan langkah-langkah pemutus pembatasan yang diperketat diberlakukan pada 21 April yang akan berakhir pada 4 Mei untuk satu minggu lagi, dengan beberapa bisnis kemudian secara progresif dibuka mulai 12 Mei.
Beberapa hari terakhir didapatkan sekitar enam orang penumpang kereta rel listrik atau KRL positif terinfeksi virus corona atau Covid-19. Hal itu kemudian membuat penumpang KRL dari Bogor, Depok dan Bekasi diwajibkan untuk membawa surat tugas dan menunjukkannya kepada petuagas stasiun ketika akan naik KRL.
Baca juga: Anies: KRL Berpotensi Jadi Tempat Kontaminasi Virus Corona, Ini Kata KCI
Surat tugas ini juga diberlakukan sebagai upaya membatasi pengguna KRL. Namun bagaimana tanggapan penumpang dengan adanya surat tugas ini? KabarPenumpang.com kemudian bertanya pada penumpang KRL dari Bekasi yang bekerja di daerah Jakarta. Seorang penumpang bernama Damiana mengaku dirinya diberikan surat tugas dari kantornya dan mengatakan itu digunakan untuk pengecekan di stasiun.
“Iya pakai bawa surat tugas, katanya nanti di cek kenapa masih berkeliaran. Kalau pegawai swasta harus bawa surat tugas,” ungkapnya.
Dia mengaku hingga saat ini setiap berangkat kerja dan menggunakan KRL dari Bekasi belum ada pengecekan dan kereta dari Cikarang pun masih penuh untuk tujuan Jakarta. Damiana mengaku bila memang harus menggunakan surat tugas, ada dilema tetapi ini bila diwajibkan akan lebih bagus.
“Kalau diwajibkan bagus jadi patuh PSBB ketat,” tambahnya.
Meski begitu beberapa penumpang lain mengatakan, bila kebijakan ini berlaku juga harus memikirkan penumpang lain yang tidak bekerja di kantor, seperti ada urusan keluarga mendadak atau para pedagang yang bekerja di Jakarta. Sebab jika tidak dipikirkan maka masyarakat selain pekerja kantoran akan sulit nantinya menggunakan KRL.
Adanya hal ini, kemudian pihak KabarPenumpang.com mengkonfirmasi PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). VP Corcomm PT KCI, Anne Purba ketika ditanya dengan aturan ini mengatakan, lebih baik untuk mengecek ke Pemerintah Daerah (Pemda).
Baca juga: Ada Pergantian Wesel, PT KCI dan PT TransJakarta Berkolaborasi Angkut Penumpang yang Terkena Imbas Rekayasa Jadwal KRL
“Biar tidak salah mungkin cari referensi dulu ya, apakah ini kebijakan, usulan, atau apa biar pemberitaan tidak salah,” ujar Anne yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (12/5/2020).
Dia menambahkan sampai saat ini, pihak KCI belum mengeluarkan surat pernyataan apapun terkait adanya peraturan para pekerja harus membawa surat tugas ketika naik KRL.
Bandara Internasional Leonardo da Vinci–Fiumicino, Roma, Italia jadi bandara pertama yang menggunakan helm canggih buatan Cina. Dengan teknologi augmented reality (AR) dan thermal scanner, petugas berwenang dapat dengan mudah mendeteksi suhu tubuh calon penumpang dalam jarak tiga hingga lima meter sehingga meminimalisir penerbangan dari orang sakit, dalam hal ini pengidap Covid-19.
Baca juga: Mengenal Bandara Terbesar dan Tersibuk di Italia, Leonardo da Vinci–Fiumicino
Helm canggih N901 yang dibuat di Shenzhen, Cina ini dinilai lebih baik ketimbang teknologi serupa dari Jerman dan Amerika Serikat (AS), yakni kacamata M400 AR Vuzix dan Onsight Cube Librestream yang diluncurkan nyaris bersamaan dengan “smart helmet” keluaran Kuang-Chi Technology tersebut pada awal Maret lalu.
Dikutip dari venturebeat.com, helm yang disebut mirip helm ‘Robocop’ ini sangat fungsional dalam mendeteksi orang dengan suhu di atas normal. Cara kerjanya, kamera inframerah yang memindai suhu tubuh langsung dipindai dalam sebuah display (seperti kaca pelindung helm sepeda motor) dengan tampilan color waveguide atau tampilan berdasarkan suhu tubuh melalui warna, seperti merah, kuning, dan hijau.
Selain itu, dalam display tersebut juga tertera suhu berbentuk angka. Jadi, begitu “smart helmet” buatan Cina itu mendeteksi suhu di atas batas normal, secara otomatis sensor akan mengaktifkan alarm visual dan sonik (bunyi) untuk mengingatkan adanya potensi bahaya. Dengan begitu, petugas tidak memerlukan titik fokus tingkat tinggi, cukup membagi pandangan ke segala penjuru dan helm tersebut akan mengingatkannya bila terdapat potensi bahaya.
Menariknya, “smart helmet” ini juga tersedia dalam mode “kerumunan besar” yang dapat memudahkan proses pemindaian suhu saat crowded. Selain dikelola langsung dalam bentuk data real di display atau kaca depan helm, data juga diolah atau terhubung dengan ke database pengenal wajah untuk melacak identitas orang dinilai berpotensi membahayakan dengan suhu tertentu. Proses pengiriman data dapat dilakukan dengan secepat mungkin dengan teknologi 5G, Wi-Fi, dan bluetooth yang disematkan dalam “smart helmet”.
Baca juga: Bandara Hong Kong Terapkan Teknologi Disinfeksi Canggih yang Mampu Sterilkan 99 Persen Bakteri
Saat ini, bandara Internasional Leonardo da Vinci–Fiumicino disebut baru memiliki tiga buah helm canggih buatan Kuang-Chi Technology, Cina tersebut. Namun, otoritas bandara berencana akan menambah kuantitas penggunaan saat lalu lintas udara perlahan pulih. Di samping itu, di tingkat nasional, opsi untuk menerapkan teknologi serupa di bandara lain juga terbuka, dengan bandara tersibuk di Italia itu (Leonardo da Vinci–Fiumicino) sebagai role modelnya.
Sebelumnya, Cina dilaporkan telah menerapkan teknologi modern untuk mendeteksi warga yang terkena virus corona. Tidak lagi dengan thermal scanner gun atau thermal gun, namun dengan helm pintar. Dengan perangkat pintar ini, diharapkan mampu mengurangi penyebaran virus corona di tempat umum. Helm pintar dilengkapi dengan kamera inframerah yang mampu mendeteksi suhu seseorang. Di Cina sendiri, helm telah digunakan aparat kepolisian di Chengdu, Provinsi Sichuan, Cina, serta di beberapa titik vital publik di berbagai wilayah lainnya.
Pemerintah Indonesia telah telah kembali membuka penerbangan komersial. Namun dengan berbagai peraturan penerbangan ketat selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB), seperti harus melalui gate tertentu, menunjukkan berkas kelengkapan perjalanan seperti misalnya tiket penerbangan, identitas diri, surat keterangan bebas Covid-19, surat keterangan perjalanan, dan berkas lain, mengisi kartu kewaspadaan kesehatan (Health Alert Card/HAC) dan formulir penyelidikan epidemiologi yang diberikan personel KKP, serta sederet prosedur lainnya.
Baca juga: Covid-19 Ubah Enam Hal di Industri Penerbangan, Nomor 4 Bikin Geleng-geleng!
Indonesia tentu bukan satu-satunya negara yang menerapkan peraturan ketat di dunia penerbangan. Hampir seluruh negara menerapkan hal tersebut, dengan rujukan prosedur standar keselamatan dan keamanan penerbangan, selama pandemi corona berlangsung, dari International Air Transport Association (IATA), the Airport Council International (ACI), International Civil Aviation Organisation (ICAO), the World Tourism Organisation (UNWTO), dan sejumlah lembaga atau organisasi internasional lainnya.
Akan tetapi, belakangan, prosedur ketat yang diberlakukan maskapai dan bandara, dari mulai sebelum terbang hingga tiba di bandara tujuan menjadi perbincangan hangat karena dinilai memakan waktu terlalu lama. Menurut para ahli, seluruh proses penerbangan saat ini, mulai dari proses check-in sampai tiba di bandara tujuan bisa memakan waktu empat jam.
Akibatnya, sembilan dari 10 ahli memperkirakan, perputaran bisnis di dunia penerbangan akan melambat. Saat penerbangan belum menggeliat seperti sekarang ini, merelakan waktu empat jam sebelum terbang mungkin tak jadi masalah. Namun, ketika segalanya sudah berada di titik normal, menghabiskan waktu empat jam sebelum terbang mungkin akan menjadi tantangan baru industri penerbangan mendatang.
Istilah “the new normal” pun menggaung untuk menggambarkan kondisi penerbangan saat ini dan di masa mendatang akibat pemberlakuan prosedur ketat di atas. Menurut World Travel and Tourism Council (WTTC), “the new normal” tercatat sudah banyak diberlakukan oleh beberapa bandara dan maskapai di seluruh dunia, seperti London Heathrow, JFK, dan Singapura Changi serta Air France-KLM, British Airways, Emirates Airlines, Qatar Airways, dan Qantas.
“The new normal” tersebut termasuk kebijakan no cabin bags, no lounges, no automatic upgrades, wajib pakai masker, sarung tangan, petugas dengan APD, self-check-in, physical distancing, self bag drop-off, UV atau electrostatic sanitation, sertifikat kesehatan, rapid test corona, dan disinfeksi di lorong kabin. Tak hanya itu, tren untuk mengurangi kontak langsung juga mendorong penggunaan teknologi biometrik atau pemindai wajah secara otomatis yang lebih luas, mencakup saat boarding gate, immigration gate, dan sebelum masuk pesawat. Jadi, tidak ada petugas yang mengecek kesesuaian tiket yang tertera dengan kartu identitas.
Baca juga: Kurangi Emisi Suara di Tengah Malam, Bandara Heathrow Patok Biaya Ekstra untuk Maskapai
“Akan ada protokol baru untuk check-in yang melibatkan teknologi digital; hand sanitizer stations di tempat-tempat yang sering dikunjungi termasuk tempat penyimpanan barang; pembayaran tanpa kontak, bukan uang tunai; menggunakan tangga lebih sering daripada lift di mana aturan dua meter lebih sulit dipertahankan,” tulis WTTC dalam sebuah laporan baru-baru ini, sebagaiman dikutip KabarPenumpang.com dari Forbes.
Selain itu, serupa dengan IATA, WTTC juga memperkirakan bahwa di beberapa bulan mendatang, industri penerbangan global mungkin sudah mulai menggeliat, dimulai dengan penerbangan domestik. Kemudian, kelompok usia yang lebih muda, antara 18-35, juga diprediksi akan memulai perjalanan atau liburan terlebih dahulu dibanding kelompok usia lainnya.
Perilaku penumpang pesawat memang tidak ada yang bisa menebaknya. Bahkan apa yang akan mereka lakukan pun mungkin tak disangka-sangka dan bisa juga itu tidak diharapkan penumpang yang lainnya. Namun meski begitu masih masih banyak saja perilaku yang bisa dikatakan diluar nalar.
Baca juga: Viral di Instagram, Wanita Ini Gunting Kuku Kaki di Kabin Pesawat
Salah satunya adalah menggunting kuku di kabin pesawat. Sepertinya cerita menggunting kuku di pesawat sudah banyak yang beredar dan hal tersebut kembali berulang di masa pandemi ini. Ya, sebuah video kembali tersebar tentang perilaku seorang pria dalam penerbangan yang memicu kontroversi antar penumpang karena keputusan yang diambil.
Dilansir KabarPenumpang.com dari express.co.uk (10/5/2020), video tersebut diunggah ke media sosial dan beberapa penumpang menggambarkan pria tersebut kurang dalam kesadaran diri. Video diambil oleh penumpang yang duduk disampingnya dan menunjukkan bagian kaki pria tersebut untungnya wajahnya tak terlihat.
Dalam video, pria tersebut terlihat menggunakan celana pendek berwarna krem dan telah melepas sepatu serta kaus kaki. Kemudian mengangkat satu kakinya bersilang diatas kaki lainnya. Tak hanya itu, saat kaki diangkat pria tersebut terdengar suara gunting dengan bersamaan gerakan tangan seperti tengah memotong kuku kaki.
Buruknya lagi, kuku yang dipotong itu dibiarkan jatuh ke lantai. Video itu diposting ke akun Instagram @PassengerShaming dan telah mengumpulkan banyak komentar atas perilaku pria yang menggunting kuku itu.
“Bagi mereka yang kurang memiliki kesadaran diri: TOLONG JANGAN KETENTUAN KETENTUAN ANDA PADA PESAWAT. 1. Anda bukan satu-satunya orang di pesawat. 2. Kliping kuku tersebut bisa berakhir pada makanan, minuman, atau bola mata tetangga Anda. 3. Kata PERSONAL dalam ‘perawatan pribadi’ ada karena suatu alasan,” caption video tersebut.
Salah satu pengguna Instagram khawatir tentang dampak perilaku ini terhadap penyebaran “kuman”. Mereka menulis, “Jahat, gunting kuku dan keripik pada kuku di lantai. Kuman. “Kaki jahat di lantai jahat.”
Pengguna kedua menimpali, menulis, “Tidak mungkin … ini sangat kotor. Tidak percaya seseorang akan melakukan itu di pesawat.”
“Buat diri Anda nyaman selama penerbangan ‘TIDAK berarti Anda bisa menampilkan berbagai metode kebersihan pribadi Anda,” tulis warganet lainnya.
Yang lain lebih peduli dengan bagaimana para pelancong berhasil mendapatkan gunting kuku yang tajam melalui keamanan di tas tangannya.
“Apa yang terjadi pada masa lalu yang indah ketika gunting kuku adalah barang terlarang dalam penerbangan …. * huh * Mari kita kembali ke situ, oke?” komentar satu pengguna.
Baca juga: Viral! Video Pria Gunting Kuku Kaki di Kabin Pesawat
Namun meski begitu sampai saat ini pasti banyak yang bertanya bagaimana sebuah gunting kuku bisa masuk di dalam kabin, sedangkan gunting kecil dan pisau lipat saja pasti diambil ketika pemeriksaan keamanan.