Jepang Punya Bartender Robot, Ada di Stasiun Ikebukuro

Sejak 23 Januari hingga 19 Maret 2020 mendatang, Stasiun Ikebukuro di Tokyo membuka sebuah pub kecil. Pub dibuka oleh jaringan restoran Tokyo dan menggunakan robot sebagai bartender yang akan menyajikan minuman untuk para penumpang ketika dalam perjalanan pulang. Baca juga: JR East Bangun Stasiun Robotika, Mudahkan Penyandang Disabilitas dan Pelancong Asing Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (5/2/2020), pub kecil ini disebut Zeroken Robo Travern yang dimiliki oleh Yoronotaki sebuah perusahaan yang mengoperasikan rantai restoran bergaya izakaya di seluruh negeri. Pub tersebut sebenarnya hadir sebagai, bagian dari program percontohan yang dijalankan untuk melihat bagaimana pelanggan merespon ketika dilayani oleh mesin dan bukan manusia. Untuk menikmati bir, koktail atau minuman campuran yang disajikan robot, pengunjung stasiun harus membayar di kios pembayaran otomatis. Kemudian ketika mendapatkan QR Code, pengunjung memberikannya kepada robot agar kode tersebut dipindai dan menyiapkan minuman yang dipesan. Robot-robot itu memerlukan waktu sekitar 40 detik untuk menuangkan segelas bir dan untuk koktail serta minuman campuran waktunya di bawah satu menit. Robot bartender ini memiliki seperangkat kamera yang dipasang pada layar untuk memantau keadaan emosional pelanggan seperti melacak apakah mereka bahagia atau semakin tidak sabar. Robot bartender tersebut dirancang oleh QBIT Robotics yang mengembangkan server lengan robot serupa untuk restoran pasta takout kecil. “Untuk robot, pasta, izakaya, dan kopi adalah sama. Kamu bisa melakukan berbagai hal dengan mengganti peralatan memasak,” kata Hiroya Nakano dari QBIT. Di industri kesehatan, pengamat memperkirakan kekurangan pekerja akan mencapai 380 ribu orang pada 2025. Diketahui, Yoronotaki memutuskan untuk mengejar proyek bartender robot sebagian karena dapat menghadirkan solusi untuk tantangan perusahaan saat ini dalam mempertahankan staf penuh. “Kekurangan tenaga kerja baru-baru ini di industri layanan makanan adalah masalah yang sangat serius, dan perusahaan kami tidak terkecuali,” kata Yukio Tsuchiya dari Yoronotaki. Biaya bartender robot sekitar $82 ribu atau sekitar Rp1,1 miliar, setara dengan sekitar tiga tahun gaji untuk rata-rata bartender di Jepang. Kehadiran robot bartender ini kemudian ternyata memiliki respon positif dari pengunjung. Baca juga: Minimalisir Tenaga Manusia, Jepang Mulai Kembangkan Puluhan Robot di Stasiun “Aku suka itu karena berurusan dengan orang bisa merepotkan. Dengan ini Anda bisa datang dan mabuk. Jika mereka bisa membuatnya sedikit lebih cepat akan lebih baik,” ujar seorang pengunjung bernama Satoshi Harada.

Dari Selandia Baru, Boeing Siap Wujudkan Taksi Udara Listrik Otonom Pertama di Dunia

Pemerintah Selandia Baru belum lama ini telah menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan mobilitas udara perkotaan, Wisk, untuk mendukung uji coba taksi udara listrik otonom berpenumpang pertama di dunia. Rencananya, taksi udara yang diberi nama Cora tersebut akan diujicoba di Region Canterbury (setingkat provinsi atau negara bagian yang membawahi beberapa kota). Baca juga: Berusaha Tetap di Arus Persaingan, Porsche pun Turut Luncurkan Taksi Udara Otonom! Uji coba tersebut sebetulnya adalah lanjutan dari uji coba sebelumnya (pada 2017 silam). Bedanya, bila saat itu hanya mengujicoba unit taksi otonom listriknya saja, dalam waktu dekat ini, taksi udara otonom listrik pertama di dunia tersebut akan diujicoba kembali bersama penumpang. Belum jelas berapa penumpang yang akan jadi bagian dari uji coba tersebut, namun diperkirakan, Cora akan lebih tangguh dibandingkan taksi udara otonom dengan konsep drone milik perusahaan Cina, Ehang 184, yang hanya mampu mengangkut satu penumpang plus barang bawaan yang sangat terbatas. Dengan adanya uji coba lanjutan tersebut, Wisk berharap, teknologinya tersebut akan lebih siap untuk dibawa ke pasar, dalam menyambut era baru taksi udara otonom di masa depan. Selain itu, perusahaan patungan antara The Boeing Company dan Kitty Hawk Corporation tersebut juga berharap, pihaknya dapat menjadi bagian dari masa depan dalam membentuk sebuah ekosistem perjalanan harian lintas kota atau dalam sekala yang lebih kecil dari itu, dimulai dari Selandia Baru. Langkah konkret perusahaan patungan Boeing dan Kitty Hawk tersebut pun sekaligus menandai persaingan ketat antara Airbus dan Boeing, bukan hanya pada urusan pesawat terbang saja, melainkan juga pada urusan taksi terbang otonom listrik berpenumpang. Bedanya, jika saat ini Airbus dianggap lebih unggul karena nasib buruk kompetitornya tersebut dalam industri pesawat terbang, Boeing kini lebih unggul dalam implementasi taksi terbang otonom listrik karena sudah memiliki mitra (Selandia Baru) untuk mengaplikasikan teknologinya di tengah perkotaan. Adapun Airbus masih dalam proses uji coba dan belum mendapatkan mitra strategis untuk mengimplementasikan produk inovatifnya itu. Menteri Riset, Ilmu Pengetahuan, dan Inovasi Canterbury, Megan Woods, pun menyambut baik sinergi antara pihaknya dengan Wisk. Menurutnya, uji coba tersebut sejalan dengan pembentukan Program Percobaan Integrasi Ruang Angkasa atau Airspace Integration Trials Programme (AITP) dan Wisk adalah mitra industri pertama yang bergabung. Program AITP sendiri adalah bagian dari strategi pemerintah dalam melihat peluang potensi di sektor transportasi di masa depan. “Pemerintah melihat potensi besar dalam pengembangan sektor pesawat tak berawak yang inovatif di Selandia Baru dan kami berada dalam posisi utama untuk bekerja dengan perusahaan-perusahaan terkemuka global di sini untuk menguji dan masuk ke pasar dengan aman,” katanya, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman futuretravelexperience.com, Jumat, (7/2). “Selain manfaat ekonomi dan sosial yang ditawarkan pertumbuhan industri ini, kami juga berbagi visi dengan Wisk tentang cara yang lebih ramah lingkungan dan bebas emisi masyarakat dan pengunjung di Selandia Baru untuk berkeliling. Mengaktifkan kemunculan layanan taksi udara yang sepenuhnya listrik adalah hal yang wajar dengan tujuan nol karbon Selandia Baru pada tahun 2050,” tambahnya. Sekilas tentang Canterbury , wilayah tersebut adalah rumah bagi sekelompok perusahaan penerbangan yang inovatif dan sektor manufaktur serta teknologinya adalah yang terbesar kedua di Selandia Baru. Ekosistem kebutuhan tersier dan penelitian serta inovasi perkotaan yang kuat di samping konektivitas ke seluruh dunia, dengan pelabuhan dan bandara internasional, membuat Christchurch, kota di Canterbury, cocok untuk menjadi tempat uji coba teknologi baru tersebut. Baca juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang Dalam waktu, uji coba ditargetkan dapat segera dilakukan. Saat ini, prosesnya tengah dalam pembicaraan bersama pihak-pihak terkait, seperti regulator penerbangan di Selandia Baru, dewan kota, dewan regional, perusahaan, bahkan pemerintah pusat. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, pada Oktober 2019 lalu, Pemerintah Selandia Baru mengumumkan pembentukan Program Percobaan Integrasi Ruang Angkasa atau Airspace Integration Trials Programme (AITP), yakni sebuah program inovatif yang berfokus pada industri untuk mendukung pengujian yang aman dan pengembangan pesawat tanpa awak canggih serta mempercepat integrasi mereka ke dalam sistem penerbangan. Hal itu diharapkan dapat segera memajukan masa depan perjalanan di Selandia Baru dan dunia.

Diklaim Bisa Bikin Pramugari Jadi Lebih Nyaman, Inilah Konsep Zero G-Attendant Seat

Crystal Cabin Awards secara luas memang diakui sebagai salah satu wadah teratas untuk memamerkan produk-produk inovatif di industri penerbangan. Dari daftar nominasi yang dirilis panitia penyelenggara, setidaknya terdapat beberapa inovasi yang menarik perhatian, seperti kursi yang dapat diubah menjadi tempat tidur untuk keluarga, kemewahan ruang kargo dari EarthBay dan, tentu saja, tempat tidur rata untuk penumpang kelas ekonomi bak di kamar pribadi. Baca juga: Bersiaplah, Ajang Crystal Cabin Awards Akan Hadirkan Desain Kabin Pesawat Masa Depan Tak hanya mendesain bagi pelanggan, para peserta juga menciptakan inovasi baru untuk awak kabin. Hal tersebut tentu sangat wajar, mengingat, tak ada yang lebih lama dalam urusan menghabiskan waktu di dalam pesawat selain awak kabin. Salah satu inovasinya adalah konsep Zero-G Flight Attendant, yang menjanjikan awak kabin memiliki tempat yang nyaman untuk beristirahat, khususnya pada saat di udara dimana awak kabin pada umumnya memiliki waktu istirahat yang relatif terbatas.
Kursi yang multi fungsi atau reclining seat menjadikannya mudah diatur sesuai kebutuhan. Foto: Collins via Simple Flying
Dikembangkan oleh Collins Aerospace, Zero G-Attendant Seat sejak awal memang dirancang untuk memberikan kenyamanan terbaik bagi pramugari. Pengembang menyebut kursi itu sebagai “kursi kabin dengan kenyamanan tinggi”. Terobosan dari salah satu perusahaan pemasok produk dirgantara dan pertahanan terbesar di dunia Ini diklaim sebagai yang pertama dan bisa membuat hidup bagi pramugari jauh lebih nyaman, khususnya saat di udara. Saat hendak digunakan, kursi menawarkan berbagai posisi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan (Reclining Seat), baik saat lepas landas, selama di udara, maupun menjelang turun landas. Selama lepas landas dan mendarat, pramugari dapat menggunakannya dengan cara yang sama seperti kursi lipat pada umumnya, yakni kursi pada posisi tegak. Tak hanya itu, kursi tersebut juga dilengkapi dengan meja portabel untuk meletakkan sesuatu di atasnya. Ketika di udara, pramugari dapat dengan mudah mengubah bentuk kursi untuk mengaktifkan posisi berbaring. Saat badan dan kepala bersandar, kaki pun juga tak luput dari perhatian dengan hadirnya sandaran juga pada kaki, sangat membantu pramugari untuk melepas pegal akibat banyak berdiri plus menggunakan sepatu hak tinggi. Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com, Rabu, (5/2), selain nyaman digunakan, kursi tersebut juga sangat mudah dibereskan saat tak dibutuhkan. Cukup dengan melipat rapi ke dinding, kursi tersebut dijamin tidak akan mengganggu jalan keluar darurat dalam keadaan sangat mendesak sekalipun. Hal ini dinilai sangat penting, mengingat, segala apapun yang mengganggu proses evakuasi, inovasi tersebut tetap akan dianggap tak bermutu, terlebih pada pesawat.
Posisi kursi reclining seat saat tak digunakan didesain agar tak mengganggu proses evakuasi. Foto: Collins via Simple Flying
Dalam keterangannya, Collins Aerospace atau biasa dikenal juga dengan sebutan UTC Aerospace Systems mengatakan dengan memungkinkan awak kabin menikmati istirahat cukup serta dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, hal tersebut sangat mungkin untuk mengembalikan stamina mereka ke kondisi normal. Ujungnya, pelayanan kepada para pelanggan diharapkan jadi lebih maksimal dan konsisten. Baca juga: Reclining Seat, Ternyata Justru Membuat Susah Penumpang Akan tetapi, kabar baik untuk para pramugari ini belum bisa diaplikasikan ke dalam pesawat. Semua tergantung pada keinginan maskapai untuk menghadirkan fasilitas tersebut bagi para awak kabinnya atau tidak. Pada umumnya, maskapai banyak menghabiskan waktu untuk terus berinovasi dengan segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan pelanggan, bukan awak kabin. Di samping itu, inovasi dari Collins Aerospace tersebut dinilai hanya cocok untuk penerbangan jarak jauh. Itupun lagi-lagi, tergantung pada maskapai. Pada penerbangan jarak pendek, plus menggunakan pesawat kecil, sekalipun pada saat-saat tak banyak pekerjaan, awak kabin memang jarang mendapat akses kenyamanan seperti itu. Namun, faktanya, sebelum inovasi tersebut diaplikasikan, hingga kini, para pramugari tampak cukup menikmati di setiap penerbangan dengan fasilitas yang ada.

British Airways Hadirkan Selimut dan Bantal Baru untuk Kelas Ekonomi

British Airways serius untuk meningkatkan pengalaman terbaik bagi para pelanggan kelas ekonominya. Belum lama ini, salah satu maskapai penerbangan terbesar di Britania Raya dan di dunia dengan penerbangan trans-Atlantik dari Eropa tersebut meluncurkan selimut dan bantal baru untuk penumpang World Traveler (kelas ekonomi) pada rute jarak jauh. Baca juga: Penumpang British Airways Melihat Drone di Ketinggian 30 Ribu Kaki, Fakta atau Halusinasi? Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thepointsguy.com, Kamis, (6/2), tak hanya menawarkan varian selimut dan bantal baru, British Airways juga menawarkan inovasi lainnya, yakni berupa sandaran kepala baru. Desain dari inovasi-inovasi tersebut juga telah dibuat semenarik mungkin, dengan tetap segar dipandang mata dan nyaman saat digunakan. Pilihan pun jatuh pada warna biru, lengkap dengan pola herringbone (sebuah motif yang tersusun dari sekumpulan persegi panjang atau segitiga) serta headrest putih cerah. Peluncuran layanan baru tersebut, khususnya selimut, tentu sangat sejalan dengan fenomena perilaku pelanggan saat di udara. Dalam laporan blog travel asal Los Angeles, AS, Live and Lets Fly, perilaku pelanggan, khususnya pada kategori first flight, cenderung lebih mencari selimut hangat dan halus untuk menemani penerbangan mereka. Adapun yang lainnya, seperti in-flight entertainment hanya sebagai pelengkap saja, bukan menjadi kebutuhan pokok apalagi barang mewah. Bahkan, saking nyamannya dengan selimut yang membersamai mereka selama di udara, maskapai-maskapai besar, seperti United Airlines, American Airlines, hingga British Airways beberapa kali kerap kehilangan selimutnya dalam penerbangan jarak jauh. Sayangnya, layanan selimut, bantal, dan headrest baru ini baru tersedia di semua penerbangan British Airways jarak jauh ke dan dari London Heathrow (LHR) serta London Gatwick (LGW) mulai 1 Maret 2020 mendatang. Selebihnya, pelanggan masih harus berkutat dengan barang lama, yakni bantal putih dan selimut cokelat.
Wujud selimut dan bantal lama. Foto: British Airways
Menariknya, kantor berita businesstraveller.com melaporkan, nantinya, selimut dan bantal yang sudah purna tugas per 1 Maret mendatang, akan disumbangkan ke badan amal guna mendukung berbagai proyek sosial di Inggris dan di luar Inggris. Bukan didaur ulang apalagi hanya akan menjadi ‘pemanis’ gudang saja, seperti yang dilakukan banyak maskapai. Selain inovasi pada selimut, bantal, dan headrest baru, British Airways juga melakukan inovasi pada beberapa hal lainnya, seperti berbagai perlengkapan yang terbuat dari botol plastik daur ulang hingga menguji coba layanan mesin pembuat koktail otomatis yang akan mengeluarkan salah satu dari 30 pilihan koktail dalam waktu kurang dari 45 detik di lounge San Francisco dan Newark, AS. Baca juga: British Airways Sajikan ‘Makanan Kelinci’ Kepada Penumpang! Terkait berbagai inovasi baru tersebut, Direktur Pengalaman Pelanggan British Airways, Carolina Martinoli mengatakan, Peningkatan layanan pada kelas ekonomi ini adalah bagian dari investasi langkah terbaru dari sajian pengalaman kepada penumpang. Sebagai bagian dari inisiatif itu, British Airways juga telah berinvestasi dengan pesawat baru, seperti A350, yang pembagian tiga kabinnya, yakni Club Suite, World Traveler Plus dan World Traveller. Di samping itu, pihaknya juga ingin membuat awal perjalanan yang baik untuk para pelanggannya. “Kami ingin pelanggan kami dapat duduk dan benar-benar bersantai, memanfaatkan perabotan lembut baru yang nyaman, film dan program dalam penerbangan, dan menu World Traveler empat macam. Tujuan kami adalah mengantarkan mereka ke tempat tujuan dengan perasaan segar dan merasa perjalanan mereka dimulai dengan awal yang baik,” ujarnya.

Melihat Pemetaan Street View Google Maps dari Kursi Penumpang

Siapa yang tak kenal dengan fitur Street View Google Maps? Bila tak mengenal ini, artinya Anda tidak pernah menggunakan Google Maps alias gaptek (gagap teknologi). Sedangkan pada pengguna Google Maps sudah pasti paham fitur yang satu ini. Baca juga: Google Maps Hadirkan Fitur Info ‘Kepadatan Penumpang’ di Moda Transportasi Umum Ternyata Street View Google Maps sudah ada sejak 12 tahun lalu dan pada 2019 kemarin fitur tersebut telah memotret lebih dari sepuluh juta mil di seluruh dunia.  KabarPenumpang.com merangkum cheddar.com (1/2/2020), ada beberapa hal Google bisa mencapai jumlah yang sudah di potret mereka di seluruh dunia, dan bila dilihat dari kursi penumpang akan seperti berikut. Pertama adalah mobil yang digunakan untuk mendapatkan Street View Google Maps bervariasi di setiap wilayah kota hingga negara. Mobil tersebut dilengkapi dengan tujuh kamera yang bisa bergerak, dua sensor LIDAR (Light Detection and Ranging), dua kamera menghadap samping hingga kamera definisi tinggi. Tujuh kamera pertama menangkap gambar yang akan digabung dengan yang lain. Sensor LIDAR memungkinkan pencitraan 3D dalam 360 derajat. Sistem ini juga ditemukan dalam kendaraan otonom. Dua kamera menghadap samping, memungkinkan Google menangkap dengan detail rambu jalan dan toko yang akhirnya menghasilkan daftar baru di Google Maps secara otomatis. Sedangkan di bagian dalam mobil, sebuah komputer diletakkan di lantai kursi belakang dan akan menyimpan data yang sudah diambil kamera serta sensor di luar mobil. Nanti data ini akan dijahit semuanya di kantor Google. Di kursi bagian depan hanya ada tampilan yang menunjukkan pengemudi tentang informasi yang sudah dikumpulkan. Google menyebut ini dan pada akhirnya berbentuk garis biru yang mewakili rute serta digerakkan. Direktur teknik di Google Maps, Andrew Lookingbill menjelaskan, mereka ingin menjaga interior sesederhana mungkin untuk meminimalkan gangguan berkendara. Kedua adalah perjalanan yang mana berkeliling menjadi bagian termudah. Mobil Street View nyatanya hanya beroperasi dalam kondisi cuaca cerah atau berawan. Sedangkan ketika hujan, hujan es ataupun salju tidak berjalan karena akan menghalangi kamera dalam mengambil gambar. Jika ada sesuatu yang menghalangi lensa, layar menunjukkan pesan kepada pengemudi. Terkadang ketukan sederhana akan menghapus peringatan, tetapi, jika tidak, pengemudi akan keluar untuk memeriksa peralatan. Ketiga yakni upaya mendapatkan Street View bukan hanya menggunakan operasi roda empat. Google merekrut individu terlatih dan mengirim karyawan untuk mengumpulkan gambar dari lokasi yang lebih menantang seperti gunung berapi, gunung, dan Great Barrier Reef. Mereka mengikat perangkat portabel yang mirip dengan beanstalk di mobil Street Vehicle di punggung mereka. Itu memiliki tujuh kamera HD, dua sensor LIDAR, dan beratnya sekitar 40 pound atau sekitar 18 kg. Google juga membuat variasi trekker di atas mobil salju dan moped. Diketahui. Google Maps digunakan lebih dari satu miliar orang setiap bulan. Aplikasi ini telah berkembang untuk memasukkan lebih banyak fitur yang menghasilkan lebih banyak uang bagi Google: Butuh hotel? Cari di Google Maps dan pesan langsung. Temukan restoran yang kamu suka? Itu bisnis lokal yang telah membeli iklan Google. Karena alasan ini, Google Maps harus selalu mutakhir dan teknologi di Street View memungkinkan hal itu terjadi. Kamera dan perangkat lunak dapat mengenali perubahan dan membaca tanda-tanda, yang memungkinkan mereka melakukan hal-hal seperti membuat-otomatis daftar bisnis baru. “Bisnis masuk dan keluar dari bisnis, mengubah jalan, penghentian sementara – kita harus tetap di atas itu. Begitulah cara kami mencapai keseimbangan antara informasi yang berasal dari pengguna, panduan lokal kami, komunitas besar pengguna Maps yang melaporkan masalah saat mereka melihatnya, dan algoritme kami mencari petunjuk dari citra dan sumber lain,” kata Lookingbill. Dengan citra satelit resolusi tinggi sebagai basis tata letak jalan pertama, Lookingbill mengatakan perusahaan sering menyebut seluruh proses pembuatan Google Maps dengan Street sebagai “kue lapis”. Mengingat perusahaan induk Google, Alphabet, masih membuat sebagian besar pendapatannya melalui iklan, daftar dan peta lokal adalah bagian penting untuk membuat Google lebih berguna. “Iklan di Maps dirancang untuk berintegrasi dengan mulus ke dalam pengalaman Maps alami dan kami memantau dengan cermat bagaimana pengguna merespons untuk memberikan pengalaman terbaik yang mungkin,” kata Google. Perusahaan juga telah mendorong bisnis untuk membangun konten Street View mereka sendiri, dengan alasan fitur pemetaan membantu mendorong kunjungan langsung. Seperti semua kisah teknologi terkini, keajaiban operasi seperti Google Maps tidak terletak pada perangkat keras tetapi perangkat lunaknya. Baca juga: Google Maps Mudahkan Pengguna Kereta dan Bus di India Dapatkan Informasi Dalam hal ini, perjalanan di mobil Street View tidak dengan sendirinya menarik, tetapi bagian pengumpulan data dari pekerjaan yang membuatnya istimewa. Pemrosesan yang menjahit gambar bersama dan membuat peta agar terlihat mulus semua terjadi dalam perangkat lunak pemetaan.

Dirancang Selama 18 Bulan, Inilah Tampilan Seragam Baru Awak Kabin Saudia

Belum lama ini, Saudi Arabian Airlines dengan bangga mengumumkan peluncuran seragam awak kabin terbaru. Nantinya, seragam baru tersebut akan dikenakan oleh para awak kabin untuk pertama kalinya pada penerbangan tujuan ke Paris Charles de Gaulle dan London Heathrow. Rencananya, pada pertengahan 2021 mendatang, seragam yang dirancang khusus selama 18 bulan tersebut akan dikenakan oleh seluruh kru maskapai, baik di darat maupun di udara. Baca juga: Saudia vs Etihad, Siapa Juara di Kelas Ekonomi? “Tampilan dan citra keseluruhan awak kabin yang baru ini hadir sebagai bagian dari peningkatan kabin dan penambahan keramahan; ini adalah cerminan dari ekspansi global maskapai ini dalam beberapa tahun terakhir, ” kata juru bicara Saudi Arabian Airlines, seperti diwartakan KabarPenumpang.com dari laman arabnews.com, Kamis, (6/2). Dalam perjalanan mendapatkan desain baru, selain dirancang khusus dalam waktu lebih dari setahun lebih, maskapai yang juga biasa disebut Saudia itu juga mendengarkan masukan dari anggota timnya, baik pramugari hingga staf konter, tentang perspektif mereka perihal kemudahan pemakaian, kenyamanan bahan, dan desain yang kekinian. Dukungan dan masukan dari para karyawan tersebut pada akhirnya diserap dan diramu oleh desainer hingga mendapatkan hasil akhir brillian, dalam arti memastikan bahwa desain dan kepraktisan berpadu secara harmonis. Seragam baru dengan bahan campuran dari poli-wol dan spandex yang menampilkan kombinasi warna ungu, krem, emas, dan biru kerajaan tersebut juga dinilai sangat spesial karena terdapat unsur budaya dan identitas negara dalam proses perancangannya. Selain itu, desain dan aksen Arab yang melekat di seluruh seragam, mulai dari pin hingga syal wanita, kain, blazer khusus, dan lainnya, juga makin menguatkan citra Saudia sebagai maskapai yang berkelas namun tetap mengangkat kearifan lokal. Tak heran jika desain akhir memakan waktu selama itu.
Tampilan seragam terbaru Saudia. Foto: Businesstraveller
Sebelumnya, Saudia tercatat sudah pernah beberapa kali berganti-ganti seragam. Misalnya, pada tahun 2012, maskapai pelat merah Arab Saudi tersebut juga tampil hangat untuk para awak kabin pria dengan sedikit modifikasi. Dua tahun kemudian, desain baru untuk awak kabin wanita pun menyusul. Kini, setelah lebih dari enam tahun, Saudia akhirnya benar-benar melakukan peluncuran penuh atau merombak total seragam dengan desain yang menyesuaikan misi perusahaan ke depan. Memberikan tampilan yang benar-benar disempurnakan, mulai dari lencana nama, kancing manset, ikat pinggang, jas, topi, pin, sepatu, hingga tas travel. Baca juga: Inilah Sejumlah Fakta Unik dari Flag Carrier Arab Saudi, Saudi Arabian Airlines! Peluncuran seragam baru Saudia tersebut pun mendapatkan komentar positif dari pelanggannya. Banyak dari mereka menilai bahwa seragam baru tersebut sangat elegan, menampilkan citra positif, dan menjadi salah satu seragam terbaik, khususnya pada model full dress. Bahkan, salah satu pelanggan setia Saudia selama 38 tahun menilai, perubahan yang menyeluruh tersebut bukanlah perkara mudah. Tetapi, Saudia berhasil melakukannya dengan baik. Sebagai informasi, seragam baru Saudia memang tampil dengan dua vairan berbeda. Dua untuk laki-laki dan dua lainnya perempuan. Khusus perempuan, satu di antaranya tampil dengan varian full dress atau tertutup. Adapun varian lainnya memakai bawahan rok ¾. Namun keduanya, (seragam perempuan) tetap anggun dengan tampilan hijab yang kekinian. Sedangkan untuk model seragam baru pria, sebetulnya sangat biasa, memakai jas, dasi, dan lencana atau pin khusus.

Gegara Virus Corona, Puluhan Ribu Hewan Peliharaan Terancam Mati Kelaparan di Wuhan

Virus corona yang mulai menyebar di Wuhan, Cina membuat puluhan ribu hewan peliharaan terjebak karena ditinggal pemiliknya untuk menghentikan penyebaran lebih lanjut. Bahkan diperkirakan ada sekitar 50 ribu hewan dan semuanya berisiko kelaparan hingga kematian. Baca juga: Akibat Virus Corona, Airbus Tangguhkan Produksi Pesawat di Pabrik Tianjin, Cina Hewan-hewan peliharaan ini tidak dibawa pemilik karena saat itu mereka pikir akan segera kembali ke rumah. Namun ternyata tidak dan akhirnya beberapa putus asa dan mencari bantuan dari tim penyelamat hewan untuk memberi makan peliharaan yang ditinggalkan tersebut. KabarPenumpang.com melansir dari metro.co.uk (4/2/2020), Walikota Wuhan, Zhou Xianwang mengatakan, sebanyak lima juta orang telah meninggalkan kota menjelang Tahun Baru Imlek dan para aktivis hak-hak hewan kemudian menghitung jumlah hewan peliharaan yang ditinggalkan tersebut. Meski hewan-hewan peliharaan itu ditinggalkan, tetapi seorang pria di Wuhan ternyata sudah menyelamatkan sekitar seribu hewan bersama dengan tim penyelamat di Wuhan. Dia mengatakan, bahwa satu keluraga telah meminta bantuannya untuk masuk ke rumah dan memberi dua kucing piaraan mereka makan. Pria yang dipanggil Lao Mao tersebut mengatakan, dua ekor kucing itu terperangkap selama sepuluh hari tanpa makanan yang cukup ketika pemiliknya pergi berlibur. Mao menjelaskan, awalnya pemilik kucing itu hanya pergi selama tiga hari, tetapi setelah pembatasan perjalanan di seluruh negeri, mereka tidak diizinkan kembali ke Wuhan. Ketika Mao menghubungi keluarga tersebut, mereka lega ketika tahu dua ekor kucing itu selamat dan sudah diberi makan. Meski begitu banyak juga keluarga lain yang tak seberuntung itu dan hewan peliharaan mereka tidak jelas kabarnya. “Estimasi Perkiraan konservatif saya adalah bahwa sekitar lima ribu ekor masih terjebak, dan mereka mungkin mati kelaparan dalam beberapa hari mendatang. Relawan di tim kami, termasuk saya, telah menyelamatkan lebih dari seribu hewan peliharaan sejak 25 Januari,” ujar Mao. Namun, Humane International Society memperkirakan jumlahnya jauh lebih tinggi dan prihatin dengan berbagai laporan yang mereka terima mengenai pemerintah daerah yang memerintahkan pemusnahan anjing dan kucing. Juru bicara Wendy Higgins mengatakan badan amal itu telah bekerja sama dengan sekitar 35 kelompok hak-hak hewan melalui saluran media sosial Cina, Weibo di seluruh negeri. Dia mengatakan mereka menerima laporan tentang pemusnahan pesanan di Beijing, Tianjin, Shandong, Heilongjiang, Hebei, Wuhan, Shanxi, dan Shanghai. “Jika pihak berwenang setempat memutuskan bahwa anjing adalah ancaman, saya akan peduli untuk kesejahteraan anjing jalanan dan anjing rumahan,” katanya. Baca juga: Jepang Karantina Kapal Pesiar Princess Diamond Gara-gara Satu Penumpang Terinveksi Virus Corona Lebih dari dua ribu orang telah terinfeksi virus mematikan dan ini telah dinyatakan sebagai darurat kesehatan global. Satu orang di Filipina telah meninggal karena virus di luar Cina, yang telah diberlakukan pembatasan perjalanan yang ketat dari berbagai negara. Organisasi Kesehatan Dunia telah mengkonfirmasi tidak ada bukti bahwa anjing dan kucing dapat terinfeksi virus yang pecah di pasar daging segar di kota.

Di Tengah Ancaman Virus Corona dan Pembatalan Peserta, Singapore AirShow 2020 Jalan Terus

Pameran Kedirgantaraan dua tahunan terbesar di Asia Tenggara, Singapore AirShow 2020 akan tetap berjalan sesuai rencana, meski ada 16 peserta menarik diri dari gelaran akbar tersebut. Dari 16 perusahaan tadi, 10 di antaranya dikonfimasi berasal dari Cina, seperti China National Aero-Technology Import & Export, Beijing Implant Science & Technology, Commercial Aircraft Corporation of China, Ltd (COMAC), hingga China Aviation Industrial Base. Baca juga: Singapore AirShow 2018: Resmi Tampilkan Konfigurasi, Boeing 737 Max 10 Siap Mengangkasa di 2020 10 perusahaan asal Cina tersebut tentu saja mundur akibat dari semakin memburuknya kondisi virus corona di negaranya. Selain itu, batalnya perusahaan tersebut juga disumbang akibat dari kebijakan larangan terhadap semua pengunjung Cina yang mulai diberlakukan pemerintah Singapura, menyusul laporan kasus terbaru suspect virus corona di negeri yang bersebarangan dengan Pulau Batam tersebut. Adapun enam peserta lainnya yang batal ikut berasal dari negara lain, termasuk perusahaan aerospace asal Kanada, Bombardier, serta produsen jet bisnis yang bermarkas di AS Gulfstream dan Textron Aviation. Tak hanya itu, pertunjukan udara di ajang Singapore AirShow 2020 kemungkinan besar juga tidak semeriah sebelumnya, menyusul pembatalan dari tim aerobatik Angkatan Udara (AU) Korea Selatan, Black Eagles dan tim aerobatik TNI AU, Jupiter Aerobatic Team (JAT) akibat kebijakan pemerintah masing-masing dalam menyikapi virus corona. Experia Events, penyelenggara airshow, mengatakan acara dua tahunan itu akan berjalan sesuai rencana dari 11 hingga 16 Februari dengan langkah-langkah pencegahan yang ketat. Hal itu tentu saja dilakukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan semua peserta di tengah wabah virus corona yang sangat mengancam. Pencegahan-pencegahan yang dimaksud, termasuk filterisasi suhu tambahan di titik-titik akses di Singapore Expo dan Changi Exhibition Centre, serta penyediaan sanitiser tangan atau pembersih tangan dan tim dokter serta petugas medis saat terdapat tanda-tanda adanya pengunjung yang terkena virus corona. “Kesehatan dan keamanan peserta kami adalah prioritas utama. Di samping langkah-langkah tambahan ini, kami juga akan terus mengambil referensi dari pedoman yang diberikan oleh otoritas seperti Kementerian Kesehatan Singapura,” ujar Direktur pelaksana Experia Events, Mr Leck Chet Lam, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari kantor berita straitstimes.com, Kamis, (6/2). Baca juga: Singapore AirShow 2018: Garuda Indonesia Gandeng Thales Hadirkan In Flight Entertainment Selain itu, Singapore Airshow Aviation Leadership Summit (SAALS) 2020, program Airshow yang melibatkan 300 pejabat pemerintah, otoritas penerbangan sipil, operator bandara dan eksekutif maskapai dari seluruh dunia juga dibatalkan. Analis penerbangan independen, Brendan Sobie, mencatat situasi masih dapat berubah, mengingat, terdapat beberapa perusahaan besar yang masih dimungkinan hadir, seperti Airbus dan Lockheed Martin sekalipun banyak peserta lainnya yang membatalkan diri.

Tuntas di 2020, PT ASDP Targetkan Digitalisasi di Semua Pelabuhan

Di tahun 2020 ini, PT ASDP Indonesia Ferry menargetkan untuk men-digitalisasi serta menerapkan cashless payment di semua lintasan pelabuhan yang dikelolanya. Hal ini dilakukan untuk mengubah industri penyeberangan menjadi lebih modern, transparan dan tertib manifes. Baca juga: Gapasdap Minta Tiga Fungsi Pelabuhan Penyeberangan Dibagi, Ini Tanggapan ASDP “Kita mau ikut jalur yang digunakan PT KAI dengan digitalisasi,” kata Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi, Kamis (6/2/2020). Dia mengatakan, digitalisasi pertama kali dimulai PT ASDP yakni pada 15 Agustus 2019 kemarin di mana ketika melakukan pembayaran di Pelabuhan Merak – Bakauheni dan Ketapang – Gilimanuk tidak lagi dengan uang tunai. Ira menjelaskan pada 1 maret 2020 mendatang bahkan menurut peraturan menteri, pelabuhan milik PT ASDP sudah harus semuanya digitalisasi. “Digitalisasi ini kan sistem yang panjang dan ini baru kita mulai pada Lebaran 2019 kemarin. Jadi belum setahun dan peningkatan sudah ada tapi masih jauh dari harapan untuk reservasi ini. 1 Maret wajib dari pemerintah jadi diharapkan ada peningkatan,” jelas Ira. Untuk saat ini, Ira mengatakan baru empat pelabuhan utama yakni Merak, Bakauheni, Ketapang dan Gilimanuk yang sudah digitalisasi. Sedangkan untuk pelabuhan lainnya masih dalam proses untuk digitalisasi. Ira menambahkan, pada 1 Maret 2020 juga tak ada lagi tiket go show sehingga penumpang harus reservasi melalui online baik dari website, maupun aplikasi milik ASDP. Dia mengatakan untuk reservasi tersebut nantinya penumpang bisa membeli maksimal empat jam sebelum keberangkatan kapal dari pelabuhan. Tak hanya itu, Ira menyebutkan untuk penumpang bus bila belum melakukan reservasi untuk manifestasi nama sebelum naik ke kapal akan ada buffer zone. “Jadi kalau penumpang bus belum mendaftar melalui aplikasi, kita akan ada pojok transisi atau buffer zone ini. Petugas akan tanya dan cek kalau belum ya bisa langsung masuk melalui aplikasi,” jelasnya. Nantinya penumpang untuk reservasi offline juga bisa melalui merchant seperti Alfamart. Ira menyebutkan, untuk yang ada di Nusa Tenggara Timur, bisa ke Kantor Pos, karena masih banyak didatangi oleh penduduk lokal. Selain men-digitalisasi pelabuhan, PT ASDP juga mulai memperbaiki beberapa pelabuhan yang berada di lima destinasi superprioritas yang sudah ditentukan pemerintah. Baca juga: Untuk Arus Balik, ASDP Ferry Terapkan Delapan Skema di Pelabuhan Merak dan Bakauheni “Kita akan bereskan semua seperti di Kupang, Danau Toba dan Mandalika. Pelabuhan di Kupang kita rejunivasi, ruang tunggu kita perbaiki lebih nyaman,” jelas Ira.

Akibat Virus Corona, Airbus Tangguhkan Produksi Pesawat di Pabrik Tianjin, Cina

Airbus telah memperpanjang rencana penutupan pabrik perakitan terakhirnya di Tianjin, Cina, sebagai akibat dari keadaan darurat virus corona. Saat ini, salah satu dari dua jalur perakitan akhir pesawat Airbus di luar Eropa, selain di Mobile, Alabama, AS, tersebut memang tak ada tanda-tanda dimulainya kembali aktivitas perakitan pesawat. Baca juga: Goyang Pasar Boeing, Airbus Bakal Bangun Dua Jalur Produksi di Amerika Utara “Fasilitas jalur perakitan akhir Tianjin saat ini ditutup,” kata Airbus dalam sebuah pernyataan kepada wartawan, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari laman reuters.com, Kamis, (6/2). Padahal, sebelum virus corona menjadi semakin mengkhawatirkan masyarakat global hingga mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menetapkan status darurat global, Airbus berencana akan membuka kembali pabrik di Tianjin pada akhir Januari, setelah tutup menjelang perayaan imlek. Saat ini, produsen pesawat asal Perancis itu masih pada tahapan evaluasi internal sambil memantau setiap perkembangan terbaru perihal virus corona. Bila kondisi semakin tak memungkinkan (untuk memulai kembali proses produksi) Airbus mungkin akan mencari alternatif lain agar proses pesanan pesawat dari para kliennya tetap berjalan normal, khususnya pada pesawat berbadan kecil, seperti A320 yang diproduksi di pabrik tersebut. Sebelumnya, Airbus memang pernah berujar bahwa mereka berencana untuk meningkatkan produksi pabrik perakitan di Tianjin dari semula hanya empat pesawat dalam sebulan menjadi enam pesawat. Peningkatan tersebut diharapkan mampu menutup target pengiriman, mengingat, sejak Boeing tengah terpuruk akibat 737 MAX, pesanan pesawat Airbus pada tahun 2020 memang tengah mengalami peningkatan. Baca juga: Akhirnya! “Si Manis Paus Terbang” Airbus Beluga XL Resmi Mengudara Di samping itu, pada tahun lalu, Airbus juga berhasil membukukan pengiriman sebanyak 863 pesawat, terbesar dalam sejarah berdirinya perusahaan. Tentu saja Airbus ingin mempertahankan rekor tersebut, salah satunya dengan meningkatkan produksi pesawat. Tak hanya itu, demi mengejar capain bagus di tahun 2019, mereka kini juga telah didukung oleh salah satu pesawat kargo teranyarnya, Airbus Beluga XL, yang sudah resmi mengudara pada pertengahan Januari lalu. Pesawat yang mirip dengan paus putih Beluga Arktik tersebut diplot untuk mendukung mobilitas distribusi komponen pesawat Airbus di 11 destinasi, antara lokasi produksi Eropa (Wales, Spanyol serta beberapa negara lainnya) dan jalur perakitan akhir di Toulouse, Prancis; Hamburg, Jerman; hingga Tianjin, Cina.