Pendapatan Turun, Pengemudi Taksi Singapura Tetap Bekerja dan Semprotkan Desinfektan serta Gunakan Masker

Ketika virus corona menyebar ke berbagai negara, banyak yang sudah melakukan tindakan pencegahan dari penutupan rute penerbangan hingga penggunaan masker saat bepergian keluar rumah. Bahkan taksi di Negeri Singa pun para pengemudinya juga mulai melakukan pencegahan dengan berbagai macam cara. Baca juga: Terjebak Karantina Virus Corona di Kapal Pesiar, Pasangan ini Pesan Anggur via Drone Seorang pengemudi taksi bernama Alan Tay mengatakan, dirinya memastikan mendesinfeksi taksi sebelum dan sesudah akhir shiftnya. Dia juga menurunkan jendela mobil setelah menurunkan setiap penumpang dan mencuci tangan usai memegang uang. Meski begitu pria 55 tahun tersebut tidak mengenakan masker sesuai yang direkomendasikan pemerintah. Namun setelah pengumuman dari departemen kesehatan pada Sabtu (8/2/2020), ditemukan tujuh kasus baru terinfeksi pada pengemudi taksi atau mobil sewaan membuat Alan mempertimbangkan apakah akan berhenti mengemudi taksi selamanya. “Apa saran otoritas terkait sehubungan dengan apakah pekerja angkutan umum harus memakai topeng? Apa pengemudi juga akan diberi masker yang memadai?” ujar Alan mempertanyakan hal tersebut. Berita tujuh kasus baru terinfeksi itu membuat para pengemudi taksi dan swasta takut. Mereka juga mengeluhkan penurunan pendapatan dengan sedikitnya permintaan untuk layanan mereka. Bahkan, beberapa pengemudi ini mengambil tindakan pencegahan selain medesinfeksi mobil dan melindungi diri juga menghindari mengangkut penumpang dari rumah sakit. Kementerian kesehatan sebelumnya mengatakan bahwa pengemudi harus dilindungi karena mereka berada di lingkungan dengan paparan terus menerus dengan penumpang. Tak hanya Alan, pengemudi taksi lain yakni Lian Yau Chun mengatakan, dirinya menghindari berbicara panjang lebar pada penumpang dan menggunakan masker saat menjemput penumpang di Bandara Changi. “Saya belum terlalu khawatir, tetapi saya masih akan berusaha untuk tidak begitu dekat dengan para penumpang,” kata Lian yang dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (9/2/2020). Dia memperkirakan bahwa bisnis telah turun sebanyak 30 persen, dengan lebih sedikit orang di jalanan. Tetapi penumpang yang menuju atau kembali dari rumah sakit mengatakan mereka merasa sulit untuk mendapatkan tumpangan dari daerah tersebut. Gan J.M, 25, mengatakan dia memiliki dua sopir pribadi yang membatalkannya secara berurutan, setelah mereka menyadari bahwa dia menuju ke Singapore General Hospital di mana dia bekerja. Salah satu pengemudi mengirim pesan kepadanya untuk menanyakan apakah dia berasal dari Cina. Bahkan setelah dia menjawab bahwa tidak dari Cina, sopir mengatakan kepadanya bahwa dia membatalkan perjalanan. “Saya tidak terlalu memikirkannya dan menepisnya, tetapi saya terlambat untuk janji pertemuan saya,” kata Gan. Pengemudi persewaan swasta Tan Chew Ming mengatakan bahwa penumpang yang dijemputnya dari Rumah Sakit Tan Tock Seng mengatakan kepadanya bahwa sulit untuk mendapatkan tumpangan dari rumah sakit. Tan, 30, membersihkan mobilnya dengan semprotan desinfektan setiap dua jam, dan mengenakan masker saat mengemudi. Baca juga: Lupakan Masker dan Sarung Tangan Karet! Ini Cara Hindari Virus Corona Versi Penasehat Medis Penerbangan Dunia Tan mengatakan, semakin sulit untuk mengikuti langkah-langkah ini, karena persediaan semprotan disinfektan dan masker semakin menipis. Meskipun orang-orang telah menyarankannya untuk berhenti mengemudi, dia mengatakan ini tidak mungkin. “Aku tidak punya pilihan, aku harus meletakkan makanan di atas meja,” kata Tan.

Militer Jepang Siapkan Kapal Ferry untuk Karantina Masyarakat Terinfeksi Virus Corona

Virus corona yang membuat satu kapal pesiar harus di karantina baru-baru ini membuat militer Jepang menyiapkan kapal ferry sewaan pada Rabu (5/2/2020) kemarin. Kapal ferry ini rencananya akan digunakan sebagai kapal karantina yang dapat menampung ratusan kasus diduga virus corona. Baca juga: Jepang Karantina Kapal Pesiar Diamond Princess Gara-gara Satu Penumpang Terinveksi Virus Corona Kehadiran kapal ferry tersebut juga karena jumlah orang terinfeksi virus di Jepang meningkat. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman reuters.com (5/2/2020), kapal Hakuou seberat 17 ribu ton itu berlabuh di pangkalan angkatan laut Yokosuka di dekat Tokyo. Pangkalan angkatan laut ini juga merupakan pelabuhan asal kapal induk Ronald Reagan dari Amerika Serikat. Kapal ini awalnya hanya mampu mengangkut 94 orang dan jika diservis akan mampu menampung lebih banyak lagi. “Sekitar 300 orang bisa hidup dengan nyaman di kapal dan kapal ini juga mampu menampung 500 orang meski itu berarti antrian untuk pemandian dan fasilitas lainnya,” kata seorang pejabat pasukan bela diri Jepang. Kapal Hakuou dipersiapkan ketika lebih dari 3.500 orang di karantina selama dua minggu di kapal pesiar yang berlabuh di Jepang. Dalam kapal pesiar tersebut sepuluh diantaranya sudah dinyatakan terinfeksi virus corona dan mungkin lebih banyak lagi penumpang bisa terinfeksi. Karena adanya pengkarantinaan ini, Pemerintah Jepang mengkritik bahwa terlalu lambat untuk menanggapi krisis kesehatan. Bahkan tidak seperti negara lain, Jepang belum secara terpaksa mengkarantina orang yang mungkin membawa virus corona masuk ke Jepang setelah kembali dengan penerbangan evakuasi dari Wuhan di Cina tempat epidemi dimulai. Jepang sendiri diketahui sudah memiliki 33 kasus virus corona yang termasuk 17 orang berada di Wuhan dan sepuluh lainnya terkarantina di kapal pesiar Princess Diamond. Sejak Sabtu (1/2/2020), Jepang sudah menolak masuk orang asing yang datang dari Wuhan, provinsi Hubei dan larangan tersebut bisa diperluas ke negara bagian lainnya di Cina. Nantinya orang-orang yang akan dikarantina di kapal Hakuou kurang lebih selama sepuluh hari akan mendapatkan fasilitas yang bisa membantu mengabiskan waktu. Baca juga: Terjebak Karantina Virus Corona di Kapal Pesiar, Pasangan ini Pesan Anggur via Drone “Kapal akan dilengkapi dengan komputer tablet dan WiFi yang bisa membantu mereka yang dikarantina menghabiskan waktu. Mereka masing-masing juga diberi perlengkapan mandi dan kebutuhan lainnya selama tinggal di kapal. Makanan pun di antar ke kamar mereka masing-masing,” kata pejabat pertahanan Jepang.

Penumpang Panik Gegara Seorang Pria Gunakan Masker Gas di Dalam Kabin

Apa jadinya ketika Anda yang akan terbang menggunakan pesawat dan tiba-tiba seorang penumpang naik dengan masker gas yang menutupi wajahnya? Pastinya Anda dan semua penumpang pesawat lainnya akan panik dan berharap bisa turun karena hal tersebut. Baca juga: Saat Masker Oksigen Turun, Ini yang Penumpang Wajib Tahu! Inilah yang terjadi pada penumpang maskapai American Airlines yang akan berangkat dari Bandara Internasional Dallas-Fort Worth menuju ke Houston. Saat itu penerbangan tersebut harus tertunda hampir satu jam karena seorang penumpang yang naik menggunakan masker gas ke dalam kabin. Seorang penumpang bernama Joseph Say menuliskan di Twitter-nya terkait adanya penumpang yang menggunakan masker gas tersebut. “Hanya penerbangan FYI 2212 ke Houston ditunda satu jam karena Anda membiarkan orang ini di pesawat mengenakan masker gas. Ini kemudian membuat orang-orang panik di pesawat dan kami harus menunggunya dikawal,” tulis Joseph di akun Twitter miliknya. Dia mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa insiden aneh sebelum berangkat itu membuat semua penumpang khawatir setelah seorang pria naik mengenakan masker gas dan beani hitam pada 30 Januari 2020 kemarin. Joseph mengatakan dirinya berada di kursi belakang dan berbicara pada wanita disebelahnya karena mendengar keributan. “Aku mendongak dan melihat seorang pria datang ke pesawat menggunakan masker gas tertutup yang agak aneh. Dia tidak memiliki filter yang kupikir lebih aneh,” ujarnya yang dikutip KabarPenumpang.com dari abc13.com (9/2/2020). Joseph menjelaskan, saat itu orang-orang mulai berbicara dan khawatir, bahkan kebanyakan dari mereka ingin turun dari pesawat. Tak hanya ingin turun, penumpang juga bertanya-tanya kenapa pria itu menggunakan masker gas. Namun ketika pramugari meminta pria itu melepaskan maskernya, Joseph mengatakan, sang pria menolak. Pria tersebut akhirnya turun dari pesawat setelah awak kabin memanggil pihak kemanan untuk mengamankan pria tersebut. “Apa yang kami dengar dari wanita yang duduk di sebelahnya adalah dia berkata dia ingin membuat pernyataan. Saya tidak tahu apa pernyataan itu. Saya tidak yakin apa tujuannya. Bagi saya, itu tampak tidak konsisten. Kamu tidak bisa melihat wajahnya. Kamu tidak bisa mengidentifikasi fitur padanya. Orang-orang khawatir dia telah menyelinap sesuatu di papan dan bahwa dia memiliki topeng untuk keselamatannya sendiri,” ujarnya. Hingga pria itu turun dari pesawat tidak diketahui apakah dia didakwa atau tidak. Penerbangan 2212 yang dijadwalkan meninggalkan Bandara Internasional DFW sebelum jam 19.00 pada Kamis (30/1/2020) itu terlambat 50 menit dan tiba di Bandara Bush Intercontinental pukul 21.07 waktu setempat. Adanya insiden ini membuat American Airlines angkat bicara dan mengatakan, penumpang itu naik ke penerbangan berikutnya menuju Houston dan terbang tanpa masker gas yang digunakan sebelumnya. Baca juga: Bikin Panik Penumpang! Masker Oksigen Mendadak Keluar di Boeing 777 British Airways “Terima kasih atas kicauan Anda. Tim kami menyadari hal ini dan bekerja dengan pejabat setempat. Beri tahu kami jika Anda membutuhkan bantuan untuk perjalanan Anda,” tulis @AmericanAir di Twitternya untuk membalas @ThePlatypusesTX, akun milik Joseph.

Terjebak Karantina Virus Corona di Kapal Pesiar, Pasangan ini Pesan Anggur via Drone

Meski berada di atas kapal pesiar nan mewah, namun bila dalam status dikarantina tentu ini bukan sesuatu yang menyenangkan. Saat ini ribuan penumpang dan awak kapal pesiar Diamond Princess tengah dikarantina di lepas pantai Yokohama, lantaran ada penumpang asal Wuhan, Cina yang diduga terinfeksi virus corona. Rupanya di tengah masa karantina 14 hari di lautan, ada kejadian unik yang patut diwartakan. Baca juga: Jepang Karantina Kapal Pesiar Diamond Princess Gara-gara Satu Penumpang Terinveksi Virus Corona Seprti dikutip dari dronedj.com (9/2/2020), disebutkan pasangan turis asal Australia dikabarkan sukses mengorder anggur lewat wahana drone copter. Pasangan tajir ini diketahui merasa terjebak di atas kapal pesiar, sementara kesulitan untuk memesan makanan dan minuman ke daratan. Pasangan yang tak disebutkan namanya itu kemudian menghubungi The Naked Wine Club. Dan selanjutnya The Naked Wine Club pada 7 Februari menyetujui untuk mengirimkan paket botol anggur ke kapal pesiar lewat drone, hebatnya sang penjual anggur memberika free ongkir untuk jasanya. Uniknya, aksi pengiriman anggur lewat drone ini ternyata tidak diketahui oleh otoritas Penjaga Pantai Jepang. Sebagai bagian dari kegiatan karantina, seharusnya aksi order minuman lewat drone itu tidak diperbolehkan. Baca juga: Viral! Akibat Virus Corona, Sebuah Drone ‘Tegur’ Nenek dan Kakek Tua Terkait virus corona, di Cina, drone digunakan untuk meronda kawasan pemukiman, dimana drone akan mengawasi penduduk, sekiranya ada yang lupa menggunakan masker, maka petugas lewat drone akan memberikan peringatan langsung dari udara.

Tak Lagi Gratis, Ini Harga Makanan dan Minuman di Maskapai Eropa

Saat ini maskapai internasional dengan rute penerbangan jarak pendek tak lagi memberikan secara cuma-cuma alias gratis makanan dan minuman. Sehingga penumpang harus membayar ekstra untuk sandwich (roti lapis) ataupun segelas anggur (wine). Baca juga: Singapore Airlines Pertimbangkan Sajian Makanan ‘On Demand’ di Kelas Bisnis Karena harus membayar, banyak penumpang yang menganggap ini berarti mengeluarkan biaya tambahan berlebih. Namun, bila harus membeli makanan atau wine maskapai mana yang memiliki harga paling terjangkau? KabarPenumpang.com melansir dari laman thesun.ie (6/2/2020), menurut penelitian yang dilakukan Jetcost, bila mencari minuman murah baiknya pilih terbang bersama Eurowings atau Wizz Air. Dua maskapai ini dipilih karena situs perbandingan penerbangan melihat empat harga item berbeda yang ditawarkan 12 maskapai penerbangan yang mengoperasikan rute jarak pendek di Eropa. Empat item berbeda itu yakni makanan utama seperti sandwich atau toastie, minuman panas dengan kue atau cemilan, bir atau awine. Ditelisik setelah dibagi per item yang pertama harga bir dalam penerbangan Eropa ternyata Flybe menjadi yang paling mahal menjual sekaleng ukuran 330 ml dengan harga £5,50 atau setara dengan £9,74 untuk satu liternya. Harga bir termahal selanjutnya ada pada maskapai Norwegia, Jet2, TUI, esayJet dan British Airways yakni £4,50. Sedangkan untuk sekaleng bir termurah dengan harga £2,97 dijual oleh maskapai Eurowings dan £5,11 untuk ukuran satu liter. Vueling dan Wizz Air juga menawarkan bir yang relatif murah masing-masing seharga £3,05 dan £3,81. Sedangkan untuk wine Wizz Air menjualnya untuk botol 187 ml dengan harga £3,81 dan menjadi satu-satunya maskapai yang menjual dengan harga di bawah £4. Aurigny mengenakan biaya £4, Eurowings £4,24 dan easyJet serta Jet2 dengan harga £4,50 per botol. Penjualan wine termahal dengan ukuran botol yang sama adalah maskapai TUI yakni £6 dan Norwegia serta Flybe sama-sama mengenakan biaya £5,50. Selain minuman, Jetcost juga menelisik harga dari makanan dan minuman panas yang disertai kudapan atau cemilan. Ternyata Aurigny tidak memiliki pilihan makanan utama, dan British Airways tidak mencantumkan pilihan kue jadi keduanya dikeluarkan. Dari maskapai yang termasuk, Norwegia adalah yang paling mahal di £8,50 untuk makanan utama dan kedua yang paling mahal untuk camilan di £4,24. Wizz Air menawarkan harga terbaiknya, dengan penawaran makanan utama termurah di £5,09 dan satu-satunya di bawah £6 dan harga camilan juga cukup baik pada £3,81. Baca juga: Lagi Enak Makan Cemilan, Tiba-Tiba Seekor Anjing ‘Nimbrung’ di Celah Kursi Pesawat Sementara Eurowings menawarkan beberapa minuman keras termurah, itu sebenarnya cukup mahal untuk kesepakatan camilan kombinasi minuman panas dan camilan keluar menjadi £ 4,66 dan merupakan yang paling mahal dari semua maskapai. Untuk camilan termurah, cobalah Aurigny (£3,50) atau Jet2 (£3,55).

Makan Seledri Sambil Berjoget, Video Penumpang Wanita Viral di Instagram

Kelakuan penumpang pesawat sangatlah beragam ketika mereka sudah berada di dalam kabin. Bahkan tak jarang karena menempuh jarak yang jauh dan waktu tempuh yang lama, membuat penumpang bosan dan bingung akan melakukan apa. Baca juga: Unik! Penumpang ini Lakukan Yoga Erotis Saat Mengudara dengan United Airlines Mereka yang tenang biasanya hanya menonton dari monitor yang di sediakan di depan kursi. Membaca majalah, mendengarkan lagu atau mungkin tidur untuk menghilangkan kebosanan. Namun sebaliknya yakni penumpang yang melakukan hal aneh pun juga banyak.
KabarPenumpang.com bahkan beberapa kali mengulasnya seperti menjemur dalaman di pendingin atas kepala, menggunting kuku hingga melakukan gerakan yoga. Nah, dilansir dari laman express.co.uk (19/1/2020), seorang penumpang wanita terekam sebuah kamera penumpang lainnya. Video yang diposting di Tik Tok dan akun Instagram @passangershaming kemudian viral. Rekaman Tik Tok itu hanya berfokus pada penumpang wanita yang duduk di kursi tengah dan diapit dua pria yang tak jelas pergi bersama atau tidak. Dalam video terlihat sebuah tas biru besar berada di pangkuan wanita itu. Hal mencengangkan adalah ketika dia mengeluarkan beberapa batang seledri ukuran besar dari dalam tas biru itu. Wanita tersebut kemudian mematahkan tangkai seledri dan memegang satu di setiap tangan. Ketika dia memasukkan seledri tersebut ke mulutnya, wanita itu juga sambil menggoyangkan tubuhnya bak seorang penari. Sambil mengunyah dia sempat memasukkan satu bagian seledri lainnya ke dalam tas dan melanjutkan mengunyah. Setelah menjadi viral, banyak warganet pengguna Instagram yang sangat terhibur dan juga terkejut dengan camilan pesawat yang tidak biasa. Beberapa bahkan mengomentari kalau itu adalah hal yang baik untuk tujuan kesehatan dan yang lainnya mengatakan dia harus menjadi vegan. “Tujuan resolusi Tahun Baru-nya kuat,” diposting salah satu pengguna Instagram. “Beginilah cara vegan dengan camilan santai,” tambah yang lain. “Saya pikir dia akan membuat Bloody Mary,” kata yang ketiga. Selain itu, warganet lainnya juga mengatakan makan seledri bisa membuat berisik tetangga sebelahnya. “Saya marah mendengarkan orang mengunyah jadi saya akan mendidih di dalam jika saya duduk di sebelahnya” komentar seorang warganet. Yang lain menambahkan: “Saya tidak pernah bisa makan seperti itu dalam jarak sedekat itu dengan orang asing. Baca juga: Foto Penumpang Pakai Sarung Tangan Streril Untuk Tutupi Kaki Viral di Instagram “Seledri berbau, dan mengeluarkan suara yang cukup keras untuk mengganggu orang lain! Tuhanku! Mengunyah tongkat itu dengan suar.” Setelah menjadi kontroversi antar warganet, kemudian beberapa diantaranya mengatakan “Apa yang salah dengan seledri?” Tanya mereka. “Orang-orang membawa barang-barang berbau busuk di pesawat sepanjang waktu seperti burger, pizza, dll.”

Dari Pada Bosan, Penumpang Pesawat Ini Menata Keju di Atas Papan Charcuterie

Tak semua penumpang bisa menikmati makanan yang disajikan oleh maskapai. Sebab beberapa kasus ternyata ada yang menemukan keganjilan dalam makanan yang mereka dapatkan. Namun beberapa orang sering melakukan hal dengan membawa makanan sehat pribadi dalam perjalanan mereka dan banyak yang heran ketika itu menjadi viral. Baca juga: Era 40 dan 50-an, Jadi Masa Keemasan Sajian Makanan di Kabin Pesawat KabarPenumpang.com melansir dari laman delish.com (5/2/2020), seorang wanita cantik menemukan cara untuk membuat sesuatu yang menyenangkan dalam penerbangan. Uniknya perempuan cantik bernama Marissa Mullen pemilik akun Instagram @thatcheeseplate menunjukkan dengan membawa papan charcuterie atau talenan kayu untuk menyajikan sesuatu. Saat dipesawat, dirinya kemudian memposting sebuah video di akun Instargramnya dan menjelaskan cara membuat keju dan bahan lainnya tersusun dengan cantik di talenan tersebut.
Dalam video tersebut, dia mulai mengeluarkan papan talelan dan menata keju, daging asap, blueberry ceri, kacang dan selai. Bahkan dari dalam tasnya pun dia mengeluarkan daun rosemary untuk mempercantik tatanan makanan yang sudah di susun dalam talenan itu. Hal ini menunjukkan bahwa Marissa seorang master karikuter sejati, karena ketika dalam penerbangan pun dia tetap menampilkan sebuah video penataan keju yang apik pada sebuah talenan. Setelah terunggah di Instagram, banyak followers (pengikut) akun milik Marissa yang mulai mengomentari hal itu. “Saya bahkan tidak yakin bisa membawa maskara di dalam pakaian saya kadang-kadang. Tetapi dia (Marissa) berhasil membawa papan charcuterienya sendiri yang dilengkapi dengan keju, dagin, ceri, blueberry, kacang dan tentu saja rosemary untuk hiasan,” komentar warganet. Warganet tersebut juga menuliskan bahwa Marissa mengumpulkannya semua di atas meja nampan dan menhiasnya hingga sangat bagus. Karena perlakuannya dalam pesawat, komentar yang diterima Marissa pun mengakui bahwa mereka terkesan dengan apa yang dibuatnya saat itu. “Jenius!!!” komentar warganet lainnya. Yang lain bahkan mengatakan, “Kamu telah mengilhami saya secara sah untuk melakukan ini pada penerbangan saya malam ini!” Dalam postingan itu, Marissa hanya membuat satu tagar yakni #inflightcheeseplatechallenge. “Saya TIDAK BISA percaya ini diciptakan di udara. Apa yang saya lakukan pada penerbangan terakhir saya? Minum dua botol mini anggur merah dan tonton A Star is Born dua kali, itulah yang!” ujar seorang warganet. Baca juga: 65 Persen Makanan untuk Emirates Dibuat di Dubai “Satu-satunya hal yang perlu dilakukan sekarang adalah menemukan papan yang disetujui TSA dan mulai mengerjakan desain penerbangan Anda sendiri. Bolehkah saya menyarankan Instagram untuk inspirasi Marissa yang sangat indah?” kata yang lainnya.

Jepang Uji Coba Rute Penerbangan Baru, Masyarakat Komplain Karena Bising

Kementerian Transportasi Jepang mulai menguji penerbangan pesawat penumpang besar pada rute baru di atas jantung Tokyo pada 2 Februari 2020 kemarin. Uji coba ini dilakukan untuk mengukur tingkat kebisingan dan memeriksa layanan kontrol lalu lintas udara. Baca juga: Melancong ke Tokyo, Pilih Turun Dimana? Bandara Haneda atau Narita? Rute-rute baru ini akan mulai dibuka pada 29 Maret 2020 mendatang untuk penerbangan komersial ke dan dari Bandara Haneda. Saat uji coba, penerbangan yang tiba di bandara hanya diperbolehkan untuk mendekati dari atas Teluk Tokyo. Dilansir KabarPenumpang.com dari asahi.com (3/2/2020), uji coba pada 2 Februari kemarin dilakukan selama satu jam dan 40 menit dari sekitar pukul 16.20. Dalam skema baru ini, pesawat akan mendarat di Bandara Handena setelah melintasi pusat Tokyo dari barat laut ke tenggara. Pesawat akan terbang di ketinggian seribu meter dekat Shinjuku, sekitar 700 meter di dekat Shibuya dan sekitar 300 meter dekat Oimachi. Ketika uji coba, tingkat kebisingan di sekitar Oimachi diperkirakan mencapai 76 hingga 80 desibel. Saat pesawat melintas, banyak pejalan kaki di daerah itu mendengar suara keras dan rendah ketika salah satu pesawat mendekat. Mereka juga berhenti berjalan dan menatap ke arah langit untuk melihat apa yang melintas tersebut. Seorang wanita berusia 60-an yang tinggal di sebuah apartemen dekat Stasiun Oimachi mengatakan dia mendengar deru saat dia berada di dalam ruangan dan dengan jendela tertutup. “Ketika saya pergi ke luar, saya memiliki perasaan tertekan. Bahkan di musim semi dan musim gugur ketika cuaca bagus, saya tidak akan bisa membuka jendela karena kebisingan. Saya khawatir gaya hidup saya akan berubah,” katanya. “Saya terkejut karena pesawat lebih besar dan suara yang mereka buat lebih keras dari yang saya bayangkan. Saya punya anak kecil, jadi saya juga khawatir benda itu jatuh,” ujar salah seorang penduduk setempat. Kementerian Transportasi mengatakan, akan melakukan uji terbang pada rute pendaratan baru hingga tiga jam antara pukul 15.00 dan 19.00. Ini adalah jadwal yang sama pada rencana operasi komersial secara aktualnya. Jumlah pendaratan per jam akan mencapai sekitar 44 di Landasan Pacu A dan C di bandara. Uji terbang lainnya menggunakan pesawat penumpang telah dilakukan pada rute yang berangkat dari Handea dan terbang ke utara di atas Tokyo di sepanjang sungai Arakawa ketika angin utara bertiup. Penerbangan uji coba ini dimulai pada 30 Januari dan juga akan dilakukan sekitar tujuh hari. Diketahui rute penerbangan Haneda baru dirancang sebagai bagian dari tujuan Pemerintah Jepang untuk meningkatkan jumlah pengunjung asing ke Jepang menjadi 40 juta tahun ini. Baca juga: Toilet Berteknologi Tinggi, Bikin Pelancong Bingung di Bandara Haneda Rute baru akan meningkatkan jumlah pendaratan dan lepas landas di Bandara Haneda dari 80 menjadi 90 kali per jam. Dengan peningkatan operasional lainnya, jumlah pendaratan tahunan dan lepas landas dari penerbangan internasional (tidak termasuk penerbangan pagi dan tengah malam) akan melonjak dari 60 ribu saat ini ke hingga 99 ribu.

Lupakan Masker dan Sarung Tangan Karet! Ini Cara Hindari Virus Corona Versi Penasehat Medis Penerbangan Dunia

Virus corona telah membuat permintaan masker melonjak tinggi. Bahkan, kondisi tersebut dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menahan pasokan masker hingga barang menjadi langka dan diikuti harga yang melonjak drastis. Namun, sebetulnya, masker dan sarung tangan karet bukanlah cara terbaik untuk menghindari virus corona. Baca juga: Ahli: Penggunaan Masker yang keliru Justru Dapat Sebarkan Virus Corona Dilansir KabarPenumpang.com dari bloomberg.com, Jumat, (7/2), menurut penasihat medis untuk penerbangan dunia atau International Air Transport Association (IATA), David Powell, cara terbaik dalam menghindari virus corona, termasuk virus-virus berat atau ringan lainnya, dengan sering-sering mencuci tangan. Pendapat ini tentu saja sangat bertentangan dengan pengetahuan dan stigma masyarakat luas tentang penggunaan masker dan sarung tangan karet, yang notabene justru dapat melindungi mereka. “Virus tidak dapat bertahan lama di kursi atau sandaran tangan, sehingga kontak fisik dengan orang lain memiliki risiko infeksi terbesar dalam penerbangan. Bahkan, masker dan sarung tangan melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam menyebarkan virus daripada menghentikannya,” ujarnya. Selain itu, ia juga menyoroti terkait kemungkinan terinfeksi virus corona ketika di pesawat. Hal ini tentu menjadi informasi penting bagi awak kabin juga pelanggan dalam menyikapi kekhawatiran terhadap virus corona. Menurutnya, risiko terkena infeksi virus corona di pesawat cenderung rendah. Pasokan udara ke pesawat modern sangat berbeda dari bioskop atau gedung perkantoran. Hal itu dikarekan udara di dalam kabin cenderung lebih sehat akibat dari sistem sirkulasi udara yang jauh lebih baik dibanding bioskop atau gedung perkantoran tadi. Terlebih, komposisi udara yang dihirup adalah 50 persen udara segar dan 50 persen lagi resirkulasi. Di samping itu, sistem filterisasi udara di dalam kabin pesawat berkat teknologi High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) Cabin Air Filter. Jadi, suplai udara dijamin 99,97 persen bebas dari virus corona dan partikel lain. Namun, sekalipun ada kasus pelanggan yang tertular virus corona saat di dalam pesawat, hal itu dikarenakan tertular oleh orang lain, bukan karena sistem sirkulasi udaranya. Pasalnya, menurut David, virus dan mikroba lain cenderung lebih suka hidup di permukaan kulit. Oleh karenanya, berjabat tangan dengan seseorang akan jauh lebih berisiko daripada permukaan kering yang tidak memiliki bahan biologis. Kelangsungan hidup virus di permukaan kulit sangat tidak baik untuk kesehatan. Dengan begitu, upaya pembersihan normal serta pembersihan ekstra, jika seseorang ditemukan tertular, adalah prosedur yang tepat. Singkatnya, kebersihan tangan adalah hal mutlak untuk menghindari virus corona. Sebab, cara penyebaran virus paling cepat ditularkan lewat tangan. Maka tidak bersentuhan atau kontak langsung adalah cara terbaik. Kemudian, jika sudah tidak bersentuhan (berjabat tangan) dengan siapapun, cuci tangan, dengan atau tanpa sabun atau keduanya, adalah langkah tepat. Di samping itu, lengkapi juga dengan langkah-langkah pencegahan virus corona lainnya, seperti menghindari menyentuh wajah hingga menutup wajah dengan lengan atau pakaian (bukan dengan tangan) saat batuk atau bersin. Maka dari itu, ia pun kembali menekankan terkait penggunaan masker bedah. Dalam catatannya, terdapat beberapa bukti yang menunjukkan kecilnya manfaat masker. Kalaupun ada, hal itu hanya saat situasi santai saja. Kemudian, masker juga bermanfaat bagi orang sakit untuk melindungi orang sehat agar tak terinfeksi. Tetapi, akan menjadi masalah ketika seseorang mengenakan masker sepanjang waktu. Hal itu tidak akan efektif. Baca juga: Awak Kabin Tidak Direkomendasi Gunakan Masker Terkait Virus Corona, Ini Penjelasannya! Kondisi tersebut justru akan memungkinkan virus untuk ditularkan di sekitarnya. Lebih buruk lagi, jika masker berubah menjadi lembab akibat terus menerus digunakan, hal itu justru akan mendorong pertumbuhan virus dan bakteri. Sarung tangan bahkan mungkin lebih buruk, karena orang memakai sarung tangan dan kemudian menyentuh semua yang akan mereka sentuh dengan tangan. Jadi, hal itu hanya menjadi cara lain untuk mentransfer mikroorganisme. Lagi pula, saat di dalam sarung tangan, tangan cenderung menjadi panas dan berkeringat, yang sangat memungkinkan untuk bakteri dan kuman berkembang biak. Dengan berbagai pertimbangan dan fakta-fakta sebagaimana yang diungkapkan di atas, David Powell pun ikut menyayangkan sikap maskapai-maskapai di dunia yang menghentikan berbagai jadwal terbangnya ke seluruh dunia. Hal itu dinilai tidak perlu dan sangat merugikan pribadi serta tentu saja industri penerbangan.

Tak Semudah Menontonnya, Begini Rahasia Dibalik Proses Pemilihan Film di Pesawat, Rumit!

Sebelum pintu-pintu pesawat ditutup dan petugas memeriksa sabuk pengaman para pelanggan, dalam setiap penerbangan, khususnya penerbangan jarak jauh, sebagian besar dari kita sudah membuat daftar film yang ingin ditonton atau mungkin sekedar melihat film-film yang tersedia, sambil sesekali menonton sekilas, untuk membuat kita tetap terhibur. Tetapi pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana film-film tersebut dipilih? Baca juga: Duh! Pesan Berbau Pelecehan Seksual Diterima Penumpang Lewat In-Flight Entertainment Dalam urusan memilih list film yang dihadirkan dalam in-flight entertainment di setiap penerbangan tersebut, masing-masing maskapi mempunyai caranya tersendiri. Beberapa maskapai menyerahkan persoalan list film-film yang akan dihadirkan ke pihak kedua. Adapun yang lainnya menyerahkan ke staf atau awak kabin mereka untuk memilih film mana yang cocok untuk ditawarkan ke pelanggan. Dengan sistem tersebut, tak jarang, satu dengan yang lainnya saling berdebat sengit untuk mempertahankan argumentasi masing-masing. Semua dilakukan semata-mata untuk menghadirkan film terbaik bukan hanya versi maskapai, melainkan juga versi pelanggan, yang notabene memiliki kecenderungan yang berbeda-beda dalam memilih genre film. Singapore Airlines sendiri, dalam persoalan tersebut, memiliki lebih dari 70 penggemar film dari berbagai departemen dan negara untuk mewakili maskapai dalam memperbarui wawasan perfilman mereka. Selain itu, melalui Wakil Presiden Inovasi Produk Singapore Airlines, Mr Ng Yung Han, pihaknya bahkan harus mengadakan pertemuan langsung setiap bulanya dengan anggota Komite Tinjauan Film (semacam Komite Penyiaran Indonesia atau KPI) serta berkomunikasi tidak langsung (via email) dengan mitra luar negeri mereka terkait film-film terbaru dan hits di negara masing-masing. “Suara dan ulasan para anggota komite membantu memberikan wawasan utama tentang apa yang populer atau kontroversial di negara asal mereka dan membuat kami tetap terhubung dengan tren atau rilis lokal yang tengah trending,” kata Mr Ng Yung Han, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari kantor berita dailyexaminer.com, Jumat, (7/2). Popularitas, potensi pemenang penghargaan (seperti piala Oscar), dan relevansi budaya, lanjutnya, adalah faktor kunci serta membuat pihaknya harus bergerak cepat dalam menghadirkan film-film ngehits. Biasanya, untuk ukuran film ngehits di Hollywood, mereka baru bisa menghadirkan di setiap penerbangannya tiga bulan setelah film dirilis. Tak melulu masalah ngehits, film favorit penumpang sekalipun tidak ngehits juga tetap diperhitungkan ketika mencari film baru. Jika tidak, pelanggan mungkin tak terpikirkan untuk meminta maskapai menghadirkan film kesukaannya, namun, bila itu terjadi, pihaknya tetap harus menuruti sesuai permintaan pelanggan. Akan tetapi, ketika dalam satu penerbangan terlalu banyak orang yang meminta film favoritnya dihadirkan, maskapai mungkin baru bisa menurutinya di penerbangan selanjutnya. Lain Singapore Airlines, lain pula Emirates. Maskapai pertama yang memasang layar TV di setiap kursi di armadanya sejak tahun 1992 tersebut harus membuat tim kecil khusus, sekitar delapan orang, yang ditugaskan untuk menonton film sebanyak mungkin dalam sebulan. Setelah itu, mereka akan memberikan laporan, baik buruknya film, dalam sebuah sistem database mereka. Dengan sistem itu, Emirates pun dengan bangga menyajikan sekitar 700 film yang dinilai telah lulus uji, baik uji kepantasan maupun uji tingkat keterhiburan versi internal, di setiap penerbangan. Berbeda dengan Emirates, Cathay Pacific mempunyai penilaian tersendiri dalam memaksimalkan fungsi film sebagai salah satu wahana liburan di dalam penerbangan. Manajer Hiburan, Platform, dan Konektivitas mereka, Simon Cuthbert, mengatakan keseimbangan bahasa dan genre yang tepat adalah kuncinya. Mengingat box office Cina mayoritas menggunakan judul serta bahasa Cina, Hollywood, Jepang atau Bollywood sejauh ini masih menjadi pilihan teratas, sekalipun Cathay mempunyai korelasi tak langsung dengan Cina Daratan. Cuthbert mengatakan, Cathay Pacific membutuhkan beragam konten untuk membuat semua orang terhibur. Tim hiburan dalam penerbangan mereka bekerja dengan para ahli dan kritikus film lokal, sementara untuk film regional mereka juga berkonsultasi dengan para pelaku industri film untuk mengetahui seberapa besar tren film itu secara lokal, dengan setidaknya 20 orang terlibat dalam memilih konten, dua kali lipat lebih banyak dari tim kecil khusus Emirates tadi. Baca juga: Kamera In-Flight Entertainment, Berbahayakah atau Malah Menguntungkan? Cuthbert mengatakan mereka biasanya membeli antara 70 dan 200 film dalam satu bulan, dengan pertimbangan tadi, genre dan kemudahan bahasa. “Kami selalu terkejut melihat seberapa baik komedi rom dan komedi di papan, misalnya. Orang-orang akan selalu mencari film-film semacam ini ketika terbang – saya pikir kita semua menikmati tawa dan kisah cinta,” jelasnya.