Nasehat Baik Saat Bawa Anak Jalan-Jalan dengan Pesawat

Sebagai orang tua yang akan membawa anak-anak bepergian menggunakan pesawat, biasanya mempersiapkan barang bawaan dan makanan sudah dilakukan dari jauh-jauh, apalagi bila anak yang dibawa masih bayi dan dibawah usia sepuluh tahun dan dalam perjalanan yang cukup jauh. Baca juga: Ingin Bawa Anak Naik Pesawat? Perhatikan Beberapa Poin Penting Ini Ini pastinya akan sangat merepotkan dan melelahkan orang tua. KabarPenumpang.com melansir dari laman irishtimes.com (9/9/2017), beberapa saran perlu digunakan Anda sebagai orang tua dan penumpang yang membawa anak ialah dengan memilih kursi pesawat secara tepat. Pemilihan kursi bisa dilakukan bila memang maskapai membuka layanan tersebut. Tak hanya itu, beberapa maskapai juga ingin dihubungi jika saat bepergian Anda membawa anaak-anak bersama dalam penerbangan. Bila saat bepergian Anda membawa bayi, biasanya akan mencari kursi sekat untuk keranjang bayi. Tetapi umumnya dalam penerbangan, anak dibawah dua tahun di pangku oleh orangtuanya. Sebab, pesawat tidak memiliki kursi kosong sehingga layanan untuk mendapatkan pelayanan bayi serta anak dibawah sepuluh tahun akan bervariasi dari setiap maskapai. Maka sebaiknya di tanyakan terlebih dahulu kepada pihak maskapai agar tahu apa yang harus Anda lakukan. Untuk memudahkan Anda, baiknya lihat tata letak semua pesawat di seatguru.com. Selain itu, bila ingin melihat peringkat maskapai Anda bisa melihatnya di airlinequality.com/ratings/a-z-airline-rating/ Melihat tren yang berkembang, kesempatan terbang bersama anak-anak kian meningkat, alasannya karena hiburan dalam penerbangan sudah lebih baik dan membawa anak-anak menjadi lebih nyaman. Layanan kabin pun untuk anak-anak seperti permainan dan makanan spesial terkadang sudah disiapkan oleh pihak maskapai. Di Indonesia sendiri, setiap penerbangan sekelas Garuda Indonesia, orangtua yang membawa anak biasanya diberikan mainan seperti boneka atau mainan lainnya yang memang sudah dipersiapkan oleh awak kabin. Baca juga: Melahirkan di Dalam Pesawat, Antara Jaminan Terbang Gratis dan Isu Kewarganegaraan Jika Anda bepergian dengan maskapai biaya rendah atau LCC baiknya bawa makanan ringan dan minuman sedikit lebih banyak dibanding saat menggunakan penerbangan layanan penuh (full service). Jangan lupa saat Anda membawa anak ikut serta dalam penerbangan, isi ransel anak dengan mainan, buku mewarnai, boneka hingga makanan ringan. Biarkan anak Anda merasakan penerbangan bila ingin duduk dekat jendela untuk melihat pemandangan dari udara. Sedangkan bila Anda membawa bayi, sertakan pakaian ekstra, isi tas dengan popok, lap dan baju menjadi satu agar tidak membongkar-bongkar lagi. Bawa juga handuk kecil atau kain yang berguna untuk segala macam hal. Bawa permen yang bisa dikunyah anak-anak Anda saat lepas landas atau mendarat. Permen ini berguna untuk mengurangi tekanan pada telinga anak-anak. Salah satu maskapai yang memberikan layanan untuk anak yakni Etihad Airlines memiliki nanny atau pengasuh yang terlatih untuk membantu anak-anak.

Duh, Pilot ANA Lupa Bawa Lisensi Terbang Ketika Bertugas!

Bagaimana rasanya jika rencana liburan akhir tahun yang sudah tertata rapi terpaksa harus berantakan di bandara karena penerbangan Anda terpaksa dibatalkan? Terlebih jika Anda mengetahui bahwa pembatalan penerbangan tersebut dikarenakan sang pilot lupa membawa lisensinya? Wah, akankah Anda meluapkan amarah kepada sang pilot? Baca Juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (25/12), adalah seorang pilot berusia 60 tahunan yang mengabdi kepada maskapai asal Jepang, All Nippon Airlines (ANA) tengah mengemudikan pesawat dari Tokyo Haneda menuju Fukuoka (ANA Flight 259). Namun di tengah perjalanan, ia baru sadar bahwa dirinya lupa membawa lisensi penerbangannya. Padahal, dokumen tersebut amatlah penting bagi seorang pilot – layaknya SIM bagi para pengemudi kendaraan bermotor. Nasi sudah menjadi bubur, pilot ini langsung menghubungi atasannya dan mengatakan bahwa ia tidak membawa lisensi penerbangannya. Akan memakan waktu yang cukup lama jika sang pilot harus kembali ke destinasi awal (Tokyo) hanya untuk mengambil lisensi penerbangannya, dan kala itu atasan sang pilot memerintahkan untuk melanjutkan penerbangan menuju Fukuoka. ANA Flight 259 masih aman dari ‘amukan’ penumpang. Menurut regulasi yang berlaku, seorang pilot tidak diijinkan untuk menerbangkan pesawat jika tidka membawa lisensi penerbangannya, dan inilah yang menjadi akar dari masalah selanjutnya. Sang pilot yang identitasnya tidak diungkap ini tidka bisa melanjutkan penerbangan – ANA flight 428 dari Fukuoka menuju Itami di Osaka. Walhasil, tanpa hadirnya seorang pilot, pihak maskapai harus membatalkan penerbangan tersebut dan sebanyak 129 penumpang ‘dipaksa’ untuk mencari alternatif perjalanan lain. Baca Juga: Kopilot Oman Air Lupa Bawa Lisensi Terbang, Pesawat Tertahan Lebih dari 2 Jam di New Delhi! Tidak berhenti sampai di situ, penerbangan selanjutnya dari pilot ini (ANA flight 739 dari Itami menuju Sendai) juga terdampak. Pihak maskapai harus mencari pilot pengganti yang bisa dan sudah kompeten melayani penerbangan di rute tersebut. Menanggapi kasus pilot kelupaan membawa lisensi ini, pihak ANA masih enggan untuk berkomentar lebih jauh. Besar kemungkinan, pihak maskapai masih melakukan investigasi mendalam terkait kejadian ini.

Penumpang British Airways Melihat Drone di Ketinggian 30 Ribu Kaki, Fakta atau Halusinasi?

Seorang penumpang British Airways membeberkan sebuah fakta yang mencengangkan dimana ia bersaksi melihat sebuah drone di ketinggian 30.000 kaki (9.114 meter). Tentu saja pernyataan penumpang ini menggemparkan jagad aviasi Inggris, mengingat ada aturan khusus terkait penggunaan drone oleh warga sipil. Menurut penuturan si penumpang, ia melihat pesawat nirawak ini ketika pesawat yang ia tumpangi hendak mendarat di Bandara Heathrow. Baca Juga: Ternyata Drone Dilarang di Negara-Negara Ini Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (20/12), adalah Sarah Baker, seorang penumpang yang tengah mengudara dari Tokyo menuju London Heathrow yang membuat kesaksian tersebut. Menurut pengakuan Sarah, ia melihat sebuah drone berada di ketinggian sekitar 30.000 kaki, kurang lebih 30 menit sebelum pesawat yang ditumpanginya mendarat pada tanggal 29 November 2019 kemarin. Sarah dengan yakin mengatakan bahwa yang dilihatnya tersebut adalah sebuah drone berwarna biru dan memiliki empat kaki. Padahal, jika merujuk pada regulasi yang berlaku di Tanah Britania, sebuah drone tidak boleh mengudara lebih dari ketinggian maksimum 1.640 kaki (500 meter). Hal ini ditujukan agar di pemilik drone tetap bisa memantau dan tidak mengganggu jalur penerbangan pesawat komersial. “Saya yakin dengan apa yang saya lihat,” ujar Sarah. “Itu sangat mengkhawatirkan,” sambungnya. Ya, ia khawatir drone yang ia lihat tersebut berada terlalu dekat dengan mesin pesawat dan pada akhirnya terhisap mesin jet – sebuah skema yang sangat mengerikan jika hal ini benar-benar terjadi. Setibanya di London, Sarah langsung menghubungi Otoritas Penerbangan Sipil dan melaporkan apa yang baru saja ia lihat. Namun alih-alih menanggapi keluhannya, Otoritas Penerbangan Sipil malah meminta Sarah untuk menghubungi pihak kepolisian. Baca Juga: Drone Misterius Ganggu Penerbangan di Bandara Changi Singapura Ketika dimintai keterangan terkait kasus Sarah ini, pihak Kepolisian Metropolitan mengatakan memang menerima laporan dari Sarah Baker tentang temuan drone di ketinggian 30.000 kaki di dekat Bandara Heathrow, namun mereka tidak menyelidikinya lebih lanjut dengan alasan satu dan lain hal. Mungkin, pernyataan Sarah yang agak sedikit tidak masuk akal yang pada akhirnya membuat pihak Kepolisian Metropolitan tidak menindaklanjuti laporan tersebut. Dalam jagad dunia drone, ada jenis drone yang mampu terbang di ketinggian sekitar 10 meter, yaitu drone di segmen HALE (High Altitude Long Endurance), umumnya jenis drone ini digunakan oleh kalangan militer dalam misi intai strategis. Namun, yang unik dari pernyataan Sarah adalah sosok drone yang dilihat mempunyai kaki empat yang mengindisikasn drone copter, sementara saat ini tidak ada drone copter yang mampu terbang di ketinggian tersebut.

SITA Prediksikan Masa Depan Bandara di Dunia, Seperti Apa Jadinya?

Perusahaan IT multinasional terkemuka, SITA telah membuat prediksi terkait bagaimana teknologi membentuk tata cara penumpang yang hendak melakukan mobilisasi via bandara. Ya, dalam 10 tahun terakhir, beragam teknologi mutakhir seperti keamanan biometrik, mobile check-in, pelacakan bagasi, hingga face recognition telah sukses mengundang decak kagum para pelancong yang sudah mendambakan kehadirannya sejak lama. Baca Juga: Penanganan Bagasi di Bandara Kini Libatkan Teknologi RFID Direktur Pengembangan Bisnis SITA, Benoit Verbaere mengatakan bahwa jumlah penumpang yang akan mengalami peningkatan hingga dua kali lipat dalam kurun waktu 20 tahun mendatang akan menjadi tantangan tersendiri bagi para pihak pengelola bandara dan pemangku kepentingan terkait. Prediksi ini semakin diperparah dengan minimnya perluasan dari bandara-bandara tersebut. Maka dari itu, pemutakhiran teknologi menjadi salah satu jalan keluar dari masalah peningkatan ‘populasi’ penumpang ini. Jadi, kira-kira apa prediksi dari SITA mengenai masa depan perjalanan penumpang via jalur udara di masa yang akan datang? Berikut KabarPenumpang.com sarikan jawabannya, dikutip dari laman japantoday.com (16/12). Keamanan yang Terintegrasi Di masa yang akan datang, SITA memprediksi fase pemeriksaan keamanan penumpang akan sepenuhnya terintegrasi. Dengan kata lain, Anda tidak perlu lagi melepas ikat pinggang hingga jaket ketika melintasi X-Ray. Penumpang serta bawaannya akan dikenali secara otomatis ketika melintasi pos keamanan integrated tersebut. Selain itu, titik pemeriksaan identitas juga akan digantikan dengan sensor yang siap melancarkan perjalanan Anda di bandara. Penumpang Akan Mengandalkan Identitas Digital Mereka Ya, di masa depan Anda tidak akan lagi menggunakan identitas ‘tradisional’ mereka ketika hendak bepergian (baik dalam maupun ke luar negeri), melainkan hanya dengan menggunakan data digital saja. Pengenalan data digital ini juga akan disandingkan dengan kecerdasan buatan. Akan Terus ‘Diawasi’ Tenang, di sini Anda tidak akan diperlakukan layaknya seorang penjahat yang sedang diintai oleh petugas keamanan, melainkan ini akan membantu Anda dalam hal membawa barang bawaan. Baca Juga: Tuntas 2021, Bandara London City Rencanakan Pengembangan Senilai Rp7,1 Triliun Bandara Akan Terintegrasi Hampir sama seperti poin pertama, kelak bandara-bandara di dunia akan semakin terintegrasi, dimana perpaduan antara penggunaan teknologi baru dengan jaringan komunikasi tingkat tinggi (5G) akan memaksimalkan pengalaman penumpang. Selain semakin terintegrasi, bandara di masa depan juga akan semakin otomatis dan dapat menyesuaikan kebutuhan penumpang. Ini hanya sebagian dari beberapa prediksi yang dibuat oleh SITA. Akankah semua prediksi tersebut terlaksana di masa yang akan datang?

Variable Pitch Platform Screen Door Terbuka dengan Menyesuaikan Berhentinya Kereta

Variable Pitch Platform Screen Door (VP-PSD) pertama di dunia baru saja diluncurkan ST Engineering di AusRAIL Plus 2019 yang berlangsung di Sydney, Australia pada 3-5 Desember 2019 kemarin. VP-PSD ini nantinya akan memungkinkan operator kereta untuk memberikan keselamatan dan kenyamanan bagi penumpang. Baca juga: Merusak Screen Door di Stasiun Orchard, Pria Muda Didakwa Pengadilan Singapura Sebab VP-PSD bisa secara otomatis bergeser untuk menyesuaikan dengan pintu kereta tergantung berhentinya kereta tersebut. Apalagi ketika jalur tersebut digunakan oleh beragam kereta dengan perhentian yang berbeda-beda ketika di peron. Sehingga dengan kehadiran VP-PSD ini bisa secara mulus mendeteksi posisi pemberhentian pintu kereta yang benar sebelum kereta itu tiba di stasiun. KabarPenumpang.com merangkum dari stengg.com (3/12/2019), screen door ini direkayasa untuk  melayani beberapa jenis kereta api dan tidak dapat memasang pintu screen door lama atau tradisional. Seperti halnya Sydney, Wakil Presiden ST Engineering, Mobility, Bernard Chow menyarankan target lain bisa termasuk seperti di Eropa dan Amerika Serikat yakni New York Subway dan London Underground. “Pengembangan Pintu Layar Pitch Platform Variabel fleksibel dan inovatif kami menandai kemajuan besar dalam kemampuan untuk industri kereta api. Membangun berdasarkan keahlian teknik dan teknologi inovatif kami, pelanggan kami sekarang dapat secara dinamis mengelola sistem kereta warisan sambil memastikan keselamatan komuter. Solusi kami menggarisbawahi komitmen perusahaan kami dalam memberikan layanan kereta api yang aman, andal, dan efisien untuk penumpang global,” kata Yong Thiam Chong, Presiden, Mobilitas Elektronik ST Engineering. Solusi VP-PSD ST Engineering nantinya akan berfungsi sebagai penghalang keamanan antara platform dan jalur kereta api. Sehingga mencegah penumpang jatuh ke jalur kereta api terutama selama periode puncak dengan lalu lintas penumpang yang tinggi. Selain indikator keselamatan yang mengingatkan penumpang pada pembukaan dan penutupan pintu, VP-PSD juga dilengkapi sensor celah jari untuk mencegah jari terjebak di antara pintu. Memiliki sturktur yang berbeda, VP-PSD bisa dimasukkan dalam platform yang sudah ada maupun yang baru. Hal ini bisa menghasilkan peningkatan ruang platform berdiri untuk penumpang tanpa takut jatuh secara tidak sengaja ke rel ketika menunggu kereta tiba. Baca juga: ST Engineering Kembangkan Automatic Fare Collection, Masuk Stasiun Tanpa Tapping Kartu Selain menjadi salah satu pemasok PSD global terkemuka dengan sertifikasi Safety Integrity Level 3, solusi elektronik kereta ST Engineering juga telah membantu perencana kota dan operator kereta api mengelola jaringan metro yang kompleks, memperluas serta meningkatkan harapan untuk perjalanan yang mulus dan cerdas.

Baraya Travel, Dipilih Karena Tak Buat Dompet Merintih

Semakin menjamurnya bisnis perjalanan menggunakan shuttle dari Jakarta – Bandung maupun sebaliknya membuat para senior dalam bisnis ini harus memutar otak agar tidak kehilangan konsumennya yang bisa saja beralih pada penyedia jasa lain yang memiliki kelebihan di sebagian bidang. Mulai dari harga tiket yang relatif lebih murah dari kompetitornya hingga penggunaan sarana transportasi yang amat mewah menjadi beberapa cara penyedia jasa tersebut untuk menarik hati para konsumen. Baca Juga: Menjajal Jakarta-Bandung Menggunakan Shuttle Premium Cititrans Dari sekian banyak nama penyedia jasa yang sudah lama memakan asam garam dari bisnis ini, keluarlah satu nama yang kemudian menjadi terkenal akibat harganya yang murah dibandingkan dengan para kompetitornya dulu, Baraya Travel. Tidak hanya melayani jasa travel saja, Baraya juga melayani pengantaran kargo, pengantaran paket, serta tour and travel. Dibandingkan kompetitornya dulu seperti Cipaganti, X-Trans, dan Cititrans, Baraya Travel menjadi favorit para penumpang karena harga yang relatif lebih murah daripada ketiga travel tersebut. Pilihan rute Baraya Travel juga terbilang mumpuni, dengan mencakup hampir semua wilayah-wilayah sentral yang ada di Jakarta. Namun, tidak bisa dipungkiri, kebanyakan dari para penumpang yang  hendak bertolak menuju atau dari Jakarta lebih melihat dari segi biaya. Lalu, bukan menjadi suatu pemandangan yang aneh ketika melihat Baraya Travel selalu ramai, terutama jika weekend atau musim libur. Baca Juga: Mercedes Benz Sprinter 315CD: Mewahnya Layanan Shuttle Jakarta – Bandung Dari segi armadanya, Baraya Travel menggunakan Elf Pariwisata yang mampu menampung 16 penumpang dalam sekali perjalanan. Layaknya travel pada umumnya, armada yang digunakan Baraya hampir tidak ada bedanya dengan travel-travel lain yang juga menyediakan jasa serupa, hanya saja setelan bangku yang agak sedikit keras dan jarak antar bangku yang terlalu pendek membuat kaki Anda akan terasa cepat pegal. Namun, ada pemandangan berbeda ketika KabarPenumpang.com mencoba untuk menjajal travel dengan predikat terkenal karena murahnya ini. Alih-alih naik mobil elf tadi, kami beserta rombongan lain disuruh untuk menaiki bus dengan ukuran sedang yang akan membawa penumpangnya menuju Bandung. Sebuah bus yang mampu menampun 31 penumpang tersebut digunakan oleh pihak Baraya agar dapat membawa penumpang yang lebih banyak dalam sekali jalan. Dengan harga tiket yang sama dengan mobil shuttle, tentu saja kehadiran bus ini seolah menjadi sebuah pengharapan bagi siapa saja yang tidak kebagian tiket untuk pergi ke Bandung. Baca Juga: Kenali Shuttle Bus Jakarta – Bandung, Beda Perusahan Beda pula Fasilitasnya Ketika bus sudah mulai menapaki jalanan Ibu Kota sore itu menuju Bandung, suspensi dari bus tanggung tersebut masih terasa empuk, setidaknya jauh lebih baik daripada mobil elf. Untuk jarak antar bangku penumpang pun terbilang sedikit lebih lega daripada mobil elf, dengan bangku yang jauh lebih empuk. Kehadiran reclining seat pada setiap bangku penumpang dapat digunakan jika Anda sudah mulai lelah, namun jangan lupa perhatikan orang yang berada di belakang Anda, jangan sampai Ia merasa terganggu karena Anda memundurkan sandaran bangkunya. Sebagai catatan, tidak semua waktu pemberangkatan dan lokasi pemberangkatan menyediakan layanan bus seperti ini. Ada baiknya Anda menanyakan langsung kepada operator atau costumer service ketika sedang memesan tiket perjalanan. Pastikan pula untuk datang lebih awal dari jadwal keberangkatan, karena tidak menutup kemungkinan akan ada pergeseran jadwal. Atur posisi duduk Anda senyaman mungkin agar selama di perjalanan Anda tidak akan cepat merasa lelah.

Keliling Bandung Naik Bus Bandros Yuk!

Bandung, kota yang menjadi sasaran warga Ibu Kota untuk menghabiskan libur akhir pekan. Banyaknya pilihan wisata yang ditawarkan oleh kota kembang ini menjadi daya tarik sendiri bagi para pendatang. Ratusan hingga ribuan plat nomor selain D menghiasi setiap sudut Ibu Kota Jawa Barat ini. Para pengunjung beramai-ramai mendatangi objek wisata, factory outlet, pusat oleh-oleh, hingga warung makan untuk sekedar berwisata kuliner. Baca juga: Odong-Odong Keren (Oren), Double Decker Khas Depok Di penghujung tahun 2013 silam, Bandung meluncurkan satu alat transportasi yang ditujukan untuk kepentingan wisata. Ya, itu adalah Bandros. Nama ini terdengar sama dengan nama penganan yang berbahan dasar kelapa. Namun, Bandros di sini merupakan singkatan dari Bandung Tour on the Bus yang berarti berkeliling kota Bandung dengan bus. Ide kreatif ini awalnya diprakarsai oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Pengadaan Bandros ini bukan tanpa alasan, Kang Emil (sapaan Ridwan Kamil) mengaku ingin mendongkrak sektor pariwisata yang ada di kota Bandung. Diadaptasi dari bentuk double decker yang menjadi ikon kota London, bentuk Bandros senada dengan double decker jaman dulu ini. Dengan pilihan cat warna merah menyala, menjadikan Bandros ini semakin menarik perhatian setiap orang yang melihatnya. Ditambah lagi dengan bus Bandros yang sering dipakai untuk momen-momen tertentu. Ambil contoh ketika tim bola kebanggaan tanah Priangan, Persib Bandung menjuarai turnamen piala Presiden pada 2015 silam. Para pemain dan official tim berjuluk maung Bandung itu diarak mengelilingi kota Bandung dengan menggunakan Bandros. Tentu saja momen seperti ini membuat antusias warga lokal maupun pendatang semakin menjadi-jadi untuk naik bus ini. Selain merah, ada pula warna lain yang turut menghiasi body dari bus tingkat ini. Perbedaan warna ini menandakan perusahaan yang menyediakan bus tersebut. Sebut saja salah satu perusahaan provider kelas wahid di Indonesia, Telkomsel menjadi sponsor dalam pengadaan bus Bandros ini. selain Telkomsel, Bank Mandiri pun belakangan ini turut menjadi salah satu penyumbang bis wisata kebanggan kota Bandung.
Bandros Kuning. Sumber: bandung.co
Bandros Kuning. Sumber: bandung.co
Mengutip dari detik.com, Direktur Technology and Operations Bank Mandiri Kresno Sediarsi mengatakan bantuan ini merupakan bentuk apresiasi Bank Mandiri terhadap Bandung. “Bantuan sosial ini menjadi salah satu rangkaian acara kami untuk menyambut HUT Bandung dan HUT Bank Mandiri. Semoga dapat dinikmati oleh warga Bandung,” ujarnya di sela acara Mandiri Karnaval Nusantara di GOR Saparua, Bandung, pada Minggu, 12 November 2014 lalu. Kini, sudah banyak bus Bandros yang “seliweran” di Bandung. Dengan menggunakan mesin Hino Dutro Bus 130 MDBL, Bandros dapat mencapai kecepatan maksimum hingga 124 km/jam. Bus sasis 6 roda ini memiliki panjang sekitar 7,5 meter, lebar sekitar 2 meter, dan tinggi sekitar 3 meter. Bis yang menggunakan bahan bakar solar dengan kapasitas tangki sebesar 100 liter ini mampu mengangkut penumpang hingga  40 orang yang terbagi di area atas dan area bawah. Menggunakan sistem Turbo Charge Intercooler sebagai direct injection, membuat Bandros dapat menghasilkan tenaga yang lebih besar daripada mesin turbo biasa.
sumber: griyagawe.files.wordpress.com
sumber: griyagawe.files.wordpress.com
Bus ini juga dilengkapi dengan perangkat sound system untuk pemandu wisata yang terdiri atas 1 head unit, 1 amplifier, 4 speaker, dan 2 wireless mic. Walau sepintas bus ini terlihat seperti double decker merah ikon kota London, Routemaster, namun bagian depan bus ini sengaja di bentuk mirip dengan term yang ada di San Francisco, lengkap dengan kaca patri dan ukiran yang menempel di pinggiran bus ini. Dengan desain seperti ini tentu saja semakin memperkental nuansa art-deco dari bus Bandros. Apa Anda tertarik untuk menaiki Bus Bandros ini?

British Airways Siap Uji Coba Robot di Bandara Heathrow

Lagi-lagi eksistensi dari robot menggetarkan jagad aviasi global. Setelah sejumlah bandara di dunia mulai mengoperasikan robot berdampingan dengan tenaga manusia, kini giliran maskapai British Airways yang akan mempekerjakan perangkat pintar ini di sekitaran Bandara Heathrow. Sama seperti robot-robot lainnya, kelak robot multibahasa berwarna dasar hitam-putih ini akan membantu dan berinteraksi dengan setiap penumpang yang membutuhkan bantuannya. Baca Juga: RADA! Robot Berteknologi Artificial Intelligence di Bandara Indira Gandhi Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman metro.co.uk (19/12), adapun zona operasi dari robot ini berada di sekitaran Terminal 5, dimana mereka siap untuk mengantarkan penumpang menuju kafe, toilet, meeting room, hingga zona check-in. Namun tidak seperti bandara lain yang mengintegrasikan setiap teknologinya, Bandara Heathrow ini bisa dibilang masih cukup ‘tradisional’, sehingga kehadiran dari robot ini lebih ditujukan untuk mengurangi beban yang ditanggung oleh staf bandara – seperti menjawab pertanyaan penumpang dan lain-lain. Ya, ‘tekanan’ yang dialami oleh staf Bandara Heathrow tidaklah seringan yang Anda kira, karena sekitar 90.000 penumpang sibuk hilir mudik di bandara tersibuk di Inggris ini setiap harinya. Menurut bocoran, nama dari robot ini adalah Bill – terinspirasi dari nama kapten layanan penerbangan internasional harian penumpang pertama di dunia, Lieutenant EH ‘Bill’ Lawford. Menilik dari segi teknologi yang tersemat di dalamnya, Bill menggunakan teknologi geolocation dan puluhan sensor, yang membuatnya bebas bergerak kemana pun tanpa khawatir menabrak barang atau manusia. Rencananya, dua unit Bill ini akan diujicoba pada Februari 2020 mendatang. Jika berjalan sesuai rencana, maka bukan tidak mungkin apabila perjalanan penumpang di Bandara Heathrow akan menjadi lebih nyaman dan cepat. Baca Juga: Giliran Bandara Seattle Gunakan Jasa Robot Untuk Layani Calon Penumpang “Di masa depan, saya membayangkan armada robot yang bekerja berdampingan dengan orang-orang kami yang menawarkan pengalaman perjalanan yang benar-benar mulus.” Ujar Ricardo Vidal, kepala inovasi di British Airways. Sebagai informasi tambahan, robot Bill tersebut akan dipasok oleh perusahaan BotsAndUs yang berbasis di London barat dan merupakan bagian dari investasi British Airways senilai £6,5 miliar dalam upaya perusahaan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan.

Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 Tak Pergi Keluar Kota? Ayo Jajal Bus Listrik TransJakarta Gratis di Monas

Momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2020, banyak dimanfaatkan untuk berlibur bersama orang terkasih. Namun, guna menambah keseruan liburan natal dan tahun baru kali ini, moda transportasi kebanggan warga DKI Jakarta yaitu TransJakarta berinisiatif menghadirkan bus listrik sebagai pelengkap keseruan liburan warga. Baca juga: Bus Listrik di Singapura Meluncur Tahun Depan, Interiornya Mirip ‘Punya’ TransJakarta Pengadaan bus listrik ini sendiri disampaikan Kepala Divisi Sekretaris korporasi dan Humas PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) Nadia Diposanjoyo, selain bertamasya masyarakat juga bisa memanfaatkan momen liburan mereka untuk mengenal bus listrik.
Antrian penumpang yang akan naik bus listrik TransJakarta (Istimewa)
“Ini adalah inovasi yang harus kami kenalkan kepada masyarakat luas, khususnya di DKI Jakarta. Jadi moment Nataru kali ini bisa dijadikan kesempatan untuk memperkenalkan bus listrik secara lebih luas lagi,” kata Nadia di Jakarta. Nadia menambahkan, layanan bus listrik di Monas ini juga untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat yang belum sempat mengikuti ujicoba bus listrik yang dilakukan sejak bulan April 2019 lalu. Dengan ini, Nadia berharap masyarakat bisa merasakan sensasi menjajal bus listrik di momen liburan Natal dan Tahun baru 2020.
bus listrik gratis dari Transjakarta di Monass (Istimewa)
“Ujicoba lalu sangat disambut antusias masyarakat dengan dikuti oleh sebanyak 13 ribu pelanggan. Sebab itu, masyarakat yang belum berkesempatan atau yang ingin kembali menjajal layanan bus listrik bisa mencobanya,” imbuh Nadia. Baca juga: TransMilenio, Bakal Jadi Operator Bus Listrik Terbesar di Benua Amerika Layanan bus listrik akan ini lanjut Nadia, akan mulai di buka mulai hari Ini, Selasa (24/12/2019) hingga (02/12/2020) mendatang. Nantinya dua unit bus listrik siap melayani masyarakat mulai pukul 10.00 – 18.00 WIB. “Menariknya, masyarkat bisa menikmati layanan kami secara gratis,” imbuh Nadia.

X-59 QueSST, Pesawat Supersonik Rancangan NASA, Siap Unjuk Gigi Pada 2021

Ketika era penerbangan supersonik berakhir pada awal tahun 2000-an yang ditandai dengan berakhirnya operasi dari pesawat Concorde, pemberitaan terbaru datang dari badan antariksa Amerika Serikat, NASA yang berencana untuk menghidupkan kembali era penerbangan super ngebut tersebut. Adalah X-59 QueSST yang kabarnya telah menuntaskan uji penerbangan terakhirnya dan kabarnya akan mulai diproduksi pada tahun depan. Baca Juga: Lockheed Martin Bocorkan Rencana Garap Pesawat Supersonik yang Senyap! Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman nzherald.co.nz (20/12), NASA mengklaim bahwa X-59 QueSST ini merupakan pesawat supersonik yang tidak terlalu bising, hasil kolaborasinya dengan perusahaan kedirgantaraan Amerika Serikat, Lockheed Martin. Ya, NASA memang terkesan diam-diam dalam mengembangkan proyek ambisiusnya ini, dan tiba-tiba hadir ke publik dengan membawa berita bahwa mereka sudah menyelesaikan uji penerbangan untuk pesawat supersoniknya ini. “Kami telah menunjukkan bahwa proyek ini berjalan sesuai jadwal dan rencana,” ujar salah satu eksekutif dari NASA, Bob Pearce. “Kami memiliki segalanya untuk bisa melanjutkan misi penelitian bersejarah ini, dimana hasilnya akan tampak pada gaya penerbangan di masa yang akan datang,” tambahnya. Dijadwalkan, pesawat yang kabarnya memiliki kecepatan dua kali lipat dari Boeing 787 Dreamliner ini akan melakukan pemeriksaan akhir pada akhir tahun 2020, dan diharapkan bisa lepas landas perdana pada tahun 2021 kelak. Pesawat X-59 QueSST ini memang sengaja dirancang untuk bisa mereduksi efek dari ‘sonic boom’ dan meminimalisir suara yang dihasilkan oleh mesin pesawat. Terobosan yang coba dibawa oleh X-59 QueSST ini merupakan kebalikan dari penerbangan supersonik era Concorde, dimana salah satu variabel yang menurunkan tahta Concorde dari jagad aviasi global adalah ‘sonic boom’ yang dihasilkan oleh pesawat. Baca Juga: Suksesor Concorde ini Tetap Dihantui Bayangan Kelam Pendahulunya Sonic boom atau dentuman sonic ini merupakan istilah bagi gelombang kejut di udara yang dapat ditangkap telinga manusia. Istilah ini umumnya digunakan untuk merujuk kepada dentuman yang disebabkan pesawat-pesawat supersonik seperti Concorde. Bukan menjadi sesuatu yang aneh lagi jika dentuman sonic ini  kerap membuat alarm kendaraan berbunyi hingga memecahkan kaca, lho! Pada akhirnya, akankah masa depan jagad aviasi global dihiasi kembali oleh pesawat supersonik seperti X-59 QueSST?