X-59 QueSST, Pesawat Supersonik Rancangan NASA, Siap Unjuk Gigi Pada 2021

Ketika era penerbangan supersonik berakhir pada awal tahun 2000-an yang ditandai dengan berakhirnya operasi dari pesawat Concorde, pemberitaan terbaru datang dari badan antariksa Amerika Serikat, NASA yang berencana untuk menghidupkan kembali era penerbangan super ngebut tersebut. Adalah X-59 QueSST yang kabarnya telah menuntaskan uji penerbangan terakhirnya dan kabarnya akan mulai diproduksi pada tahun depan. Baca Juga: Lockheed Martin Bocorkan Rencana Garap Pesawat Supersonik yang Senyap! Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman nzherald.co.nz (20/12), NASA mengklaim bahwa X-59 QueSST ini merupakan pesawat supersonik yang tidak terlalu bising, hasil kolaborasinya dengan perusahaan kedirgantaraan Amerika Serikat, Lockheed Martin. Ya, NASA memang terkesan diam-diam dalam mengembangkan proyek ambisiusnya ini, dan tiba-tiba hadir ke publik dengan membawa berita bahwa mereka sudah menyelesaikan uji penerbangan untuk pesawat supersoniknya ini. “Kami telah menunjukkan bahwa proyek ini berjalan sesuai jadwal dan rencana,” ujar salah satu eksekutif dari NASA, Bob Pearce. “Kami memiliki segalanya untuk bisa melanjutkan misi penelitian bersejarah ini, dimana hasilnya akan tampak pada gaya penerbangan di masa yang akan datang,” tambahnya. Dijadwalkan, pesawat yang kabarnya memiliki kecepatan dua kali lipat dari Boeing 787 Dreamliner ini akan melakukan pemeriksaan akhir pada akhir tahun 2020, dan diharapkan bisa lepas landas perdana pada tahun 2021 kelak. Pesawat X-59 QueSST ini memang sengaja dirancang untuk bisa mereduksi efek dari ‘sonic boom’ dan meminimalisir suara yang dihasilkan oleh mesin pesawat. Terobosan yang coba dibawa oleh X-59 QueSST ini merupakan kebalikan dari penerbangan supersonik era Concorde, dimana salah satu variabel yang menurunkan tahta Concorde dari jagad aviasi global adalah ‘sonic boom’ yang dihasilkan oleh pesawat. Baca Juga: Suksesor Concorde ini Tetap Dihantui Bayangan Kelam Pendahulunya Sonic boom atau dentuman sonic ini merupakan istilah bagi gelombang kejut di udara yang dapat ditangkap telinga manusia. Istilah ini umumnya digunakan untuk merujuk kepada dentuman yang disebabkan pesawat-pesawat supersonik seperti Concorde. Bukan menjadi sesuatu yang aneh lagi jika dentuman sonic ini  kerap membuat alarm kendaraan berbunyi hingga memecahkan kaca, lho! Pada akhirnya, akankah masa depan jagad aviasi global dihiasi kembali oleh pesawat supersonik seperti X-59 QueSST?

Ternyata Dua Faktor Ini Menjadi Alasan Wisatawan Jepang Terkesan Angkuh Ketika Mengudara

Melakukan perbincangan dengan orang asing atau penumpang yang duduk di sebelah Anda ketika mengudara agaknya menjadi salah satu opsi yang tidak akan ditempuh untuk menghabiskan waktu perjalanan. Alih-alih melakukan hal tersebut, mungkin Anda akan memilih untuk mendengarkan musik, menonton film yang sudah Anda unduh, atau bahkan tidur. Tapi tahukah Anda, bahwa perilaku untuk tetap diam dan tidak membuka topik obrolan selama perjalanan ini amat diterapkan oleh orang Jepang. Mengapa bisa begitu? Baca Juga: Di Jepang, Bisa Makan Mie Gratis Asalkan Datang ke Stasiun Lebih Awal! Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman soranews24.com (4/7/2019), sebuah perusahaan penyedia jasa traveling asal Jepang, Expedia melakukan survei mengenai perilaku penumpang ketika berada di dalam pesawat. Mereka mengumpulkan sekitar 18.237 wisatawan dari 23 negara berbeda yang pernah naik pesawat atau tinggal di sebuah hotel dalam kurun waktu setahun terakhir. Alih-alih mengetahui destinasi yang mereka tuju atau apa tujuan mereka melakukan perjalanan tersebut, Expedia lebih tertarik dengan perilaku mereka ketika di dalam pesawat – apakah mereka akan membuka topik obrolan dengan penumpang yang ada di sampingnya, atau tidak. Dan tahukah Anda, bahwa orang-orang Jepang amat tidak tertarik untuk membuka topik obrolan dengan penumpang yang ada di sampingnya. Dalam survei tersebut, penumpang asal India menjadi ‘pemimpin klasemen’, dimana sebanyak 60 persen dari mereka mengatakan senang untuk membuka topik obrolan dengan penumpang di sebelahnya. Angka tersebut diikuti oleh pelancong asal Mexico yang berada di angka 59 persen. Negara ketiga yang gemar untuk melakukan hal serupa adalah Brazil yang memegang angka 51 persen, yang diikuti oleh Spanyol dengan angka 46 persen. Tidak hanya itu, angka mengejutkan lainnya juga muncul dari klasemen bawah, dimana dihuni oleh: Korea: 28 persen, Australia: 27 persen, Jerman: 26 persen, Hong Kong: 24 persen, dan Jepang: 15 persen. Tidak hanya soal membuka topik perbincangan selama berada di dalam pesawat, tapi orang-orang Jepang – setidaknya dalam survei yang dilakukan oleh Expedia ini juga terkenal tidak terlalu ‘ramah’ selama berada di bandara atau bahkan di dalam penerbangan sekalipun. Ini terbukti dari munculnya nama Jepang yang berada di posisi bontot dari sejumlah pertanyaan di dalam survei tersebut, mulai dari “Membantu penumpanglain untuk memasukkan barang ke dalam bagasi kabin”, “memberikan rekomendasi perjalanan kepada penumpang lain di dalam pesawat”, hingga “mengalah kepada penumpang lain yang terlambat ketika berada di security checkpoint”. Terkesan Tidak Ramah Karena Budaya dan Keterbatasan Namun patut digarisbawahi di sini, bahwa ini tidak menandakan bahwa pelancong asal Negeri Sakura tidaklah ramah atau tidak baik, melainkan elemen budaya hingga letak geografis yang mungkin menyebabkan mereka bertindak seperti itu. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, kebudayaan di Jepang sana selalu menekankan untuk tidak mengganggu orang lain, dan membuka topik perbincangan dengan orang lain ditafsirkan bisa menjadi satu celah untuk mengganggu orang lain. Baca Juga: Beragam Alasan Mengapa Orang Jepang Fanatik Pada Sosok Kereta Selain itu, faktor linguistik juga memegang peranan penting di sini, dimana tidak semua orang Jepang bisa berbahasa Inggris dan baha Inggris juga tidak dijadikan bahasa internasional di sana. Jadi, wajar saja nampaknya apabila mereka lebih memilih untuk diam. Sementara untuk perkara mengalah kepada penumpang lain yang sudah terlambat agaknya menjadi percampuran dari dua variabel di atas – budaya dan linguistik. Alih-alih si lawan bicara tidak mengerti apa yang mereka sampaikan dan berujung pada salah paham (mengganggu orang lain), maka mereka mungkin akan berpikiran untuk tidak mencampuri urusan penumpang yang terlambat ini. Sangat unik, ya!    

Bantu Kurangi Polusi Udara, Bajaj Listrik Piaggio Ape Mulai Merambah India

Tuk-tuk (Bajaj) dan becak masih menjadi peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di kota-kota India. Sebab angkutan umum ini tak hanya sebagai layanan pengantaran tetapi berfungsi sebagai bisnis mikro seluler yang menjual makanan dan barang-barang lainnya. Baca juga: Bersama Yulu, Bajaj Auto di India Terjun ke Bisnis Sewa Skuter Listrik Piaggio Ape yang merupakan kendaraan roda tiga serbaguna pertama kali diperkenalkan 70 tahun lalu belum lama ini menerima makeover listrik di jalan-jalan sibuk India. Kendaraan roda tiga Ape E-City ini merupakan versi listrik dari transporter Piaggio yang mengadirkan baterai sebagai bahan bakar agar bisa menjalankannya.
(Piaggio)
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (18/12/2019), kehadiran bajaj listrik Ape ini membantu menurunkan polusi udara di India agar lebih baik. Sebab India juga merupakan salah satu negara dengan polusi udara terburuk. Selain itu, Program Adopsi dan Pabrikan Kendaraan Hibrida dan Listrik (FAME) yang lebih cepat mendorong mobilitas listrik melalui pengurangan pajak barang dan jasa pada kendaraan ini, di antara insentif lainnya. Piaggio Ape yang baru masuk dan di perkenalkan di New Delhi menjadi pintu masuknya pasar kendaraan komersial listrik di India. Diketahui, Piaggio Ape akan dihadirkan dengan tenaga baterai dari perusahaan energi India Sun Mobility yang memungkinkan baterai ketika habis bisa diisi dengan waktu kurang dari dua menit. Swap ini akan berlangsung di jaringan stasiun pengisian Sun Mobility, yang diperkirakan akan mencakup 50 lokasi di sepuluh kota di India pada Maret 2020. Stasiun-stasiun ini akan mampu menangani hingga 150 pengisian baterai per hari, dengan pelanggan mendapatkan akses melalui Model “pay-as-you-go”.vMenurut Sun Mobility, pendekatan “baterai sebagai layanan” ini adalah kunci dalam menurunkan biaya pembelian di muka untuk Ape E-City, membuatnya setara dengan versi pembakaran internal. Baca juga: Jajal Tuk Tuk, “Bajaj” dengan Argometer di Bangalore, India “Di Piaggio, kami percaya dalam memberikan solusi pemecahan jalur di segmen transportasi mil terakhir dengan penawaran teknologi terbaik di kelasnya kepada pelanggan kami. Kemitraan kami dengan Sun Mobility akan memungkinkan pelanggan untuk mengalami eco-system baterai pintar inovatif, cerdas, dan unik swappable di India,” kata Diego Graffi, CEO Piaggio Vehicles.

Jangan Ragu! Barang-Barang di Kamar Hotel Ini Memang Gratis Dibawa Pulang

Musim libur telah tiba. Banyak warga yang mulai berhamburan meninggalkan kota domisili untuk menghabiskan waktu liburan bersama orang-orang tercinta. Tak ayal, banyak hotel di beberapa kota yang terkenal selalu ramai menjadi destinasi wisata telah penuh dipesan. Alih-alih merepotkan sanak saudara yang tinggal di kota tersebut, beberapa orang akan lebih memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya di hotel. Baca Juga: Ini Dia! Hal Yang Kurang Menyenangkan Saat Bertandang Ke Cina Selain contoh masalah di atas, hotel juga menawarkan berbagai macam layanan yang bisa dinikmati oleh para pelanggannya, mulai dari fasilitas yang ada di kamar hingga fasilitas tambahan seperti massage dan restorasi. Segala keperluan mandi pun biasanya sudah tertata rapi di wastafel. Nah, kadang Anda pernah dibuat bingung bukan dengan perlengkapan hotel mana saja yang boleh dibawa pulang? Berikut, KabarPenumpang.com beberkan beberapa barang di hotel yang boleh dibawa pulang, dihimpun dari laman bravotv.com. Sebagai catatan, kewenangan setiap hotel berbeda. Untuk lebih memastikan, Anda bisa menanyakan langsung perkara ini langsung ke bagian resepsionis. Perlengkapan Mandi
Sumber: brilio.net
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Laterooms.com menemukan bahwa perlengkapan mandi merupakan barang yang paling sering hilang setelah tamu check out dari kamar tersebut, dengan bola lampu berada di posisi kedua barang yang sering hilang di kamar hotel. Sedangkan survei lain menunjukkan bahwa sebanyak 73 persen tamu hotel berkebangsaan Amerika ‘menggondol’ perlengkapan mandi yang tersedia. Walaupun Anda tidak akan dikenakan biaya tambahan ketika membawa pulang perlengkapan mandi ini, ada baiknya Anda membawa sendiri perlengkapan mandi Anda. Sandal Hotel
Sumber: berdesa.com
Memang tidak semua hotel memiliki fasilitas ini, namun tidak sedikit juga hotel yang kehilangan signature slippers mereka. Bak sebuah kebanggaan pernah menginap di hotel tersebut, banyak tamu yang kemudian mengemas sandal tersebut ke dalam koper mereka. Hampir sama seperti kasus di atas, memang tidak ada salahnya membawa pulang sandal tersebut. Handuk
Sumber: whotelsthestore.com
Hampir serupa dengan kasus sandal hotel, beberapa hotel tidakmempermasalahkan ketika handuk mereka dibawa pulang oleh tamunya, namun sebagian lainnya akan mengenakan Anda biaya. Pastikan Anda membaca manual guide yang biasanya tersedia di kamar tentang charge yang dikenakan jika Anda merusak atau membawa pulang salah perlengkapan kamar hotel. Jika Anda masih bingung, silakan hubungi resepsionis dan tanya apakah membawa pulang handuk merupakan tindakan ilegal atau tidak. Baca Juga: Lebih Mewah dan Super Mahal, Singapore Airlines Sulap Suite Kelas Satu di Airbus A380 Diingatkan kembali, setiap hotel memiliki peraturannya masing-masing, sehingga alangkah lebih bijak jika Anda menghubungi pihak resepsionis hotel terlebih dahulu sebelum mengemas perlengkapan kamar tersebut.

Survei IHG: 77 Persen Pelancong Tidak Mengenal ‘Warna Sejati’ Destinasi Tujuan Wisata!

Bagi Anda semua yang hobi berjalan-jalan ke luar negeri, mengunjungi beragam destinasi wisata favorit seyogyanya sudah menjadi satu agenda wajib yang sayang jika dilewatkan. Sebut saja Bangkok dengan Wat Arun-nya, Paris dengan Menara Eiffel-nya, hingga Roma dengan Colosseum-nya. Namun tahukah Anda bahwa sebuah survei yang dilakukan oleh InterContinental Hotels Group (IHG) menyebutkan ada lebih dari tiga perempat (77 persen) pelancong yang merasa wajib untuk mengunjungi destinasi wisata populer – dimana 75 persen diantaranya menginginkan pengalaman lebih dari sekedar mengunjungi destinasi tersebut. Baca Juga: Inilah Tips Beli Tiket Liburan Nataru 2019 versi Ditjen Hubud Ya, liburan ke suatu destinasi memang tidak melulu untuk mengunjungi objek wisata terpopulernya saja. Ada banyak kearifan lokal dari setiap destinasi yang juga akan menambah pengalaman Anda mengunjungi suatu daerah. Masih bersumber dari survei yang sama, dari tujuh kota besar yang menjadi responden, sebanyak 59 persen penduduk lokal merasa bahwa pelancong tidak mengetahui tentang ‘warna sejati’ dari destinasi yang mereka kunjungi. Sebagai informasi tambahan, tujuh kota yang menjadi responden dalam survei ini adalah: London, New York, Paris, Shanghai, Dubai, Sydney, dan Meksiko. Maksud dari ‘warna sejati’ di atas adalah kearifan lokal yang ada di kota terkait. Sebagai contoh, warna sejati Jakarta adalah kerak telor, macet, dan gedung-gedung tinggi. Dari cabang survei lainnya, didapatkan pula data bahwa sebesar 75 persen luxury travelers ingin merasakan pengalaman dimana penduduk lokal di kota terkait memiliki informasi lengkap seputar destinasi tersebut, seperti tempat-tempat ataupun aktifitas lokal unik yang bisa dilakukan oleh para pelancong. Tentu saja data yang terpapar di atas patut dijadikan renungan – yang kemudian ditindak lanjuti oleh masing-masing eksekutif terkait, guna meningkatkan devisa negara via jalur pariwisata. Melihat celah ini, IHG meluncurkan campaign bertajuk InterContinental Icons, dimana tujuannya adalah untuk menginspirasi dan mengajak para wisatawan untuk menemukan kembali hal-hal yang membuat setiap kota benar-benar menarik. Baca Juga: Liburan di Bangkok? Ini Tips dari Tourism Authority of Thailand Biar Tak Salah Arah! Selain itu, InterContinental juga mengajak publik untuk memilih pemandangan, suara, rasa, aroma, dan suasana yang menjadi sebuah ikon dari masing-masing kota melalui pemungutan suara online. Dari pilihan-pilihan yang diberikan di masing-masing kota, diharapkan wisatawan bisa menemukan keaslian dari kota tersebut ketika mereka berkunjung. Selain melakukan voting online, InterContinental juga mengajak publik untuk berdiskusi di sosial media dengan menggunakan tagar #intercontinentalicons. Jadi, sudah siap untuk menghabiskan libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 dengan kearifan lokal yang ada di setiap kota?

Ini Dia Empat “Stopover” Menarik yang Siap Sempurnakan Libur Nataru Anda!

Memang, era penerbangan dewasa ini sudah bergeser ke long haul direct flight atau penerbangan langsung jarak jauh. Popularitas dari penerbangan tidak langsung sudah mulai menurun seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin trengginas. Namun, bukan berarti penerbangan tidak langsung tidak memiliki daya tariknya tersendiri – salah satunya adalah stopover. Baca Juga: Changi Stopovers, Siap Manjakan Penumpang Transit Jelajahi Singapura Sebelum membahasnya lebih lanjut, pertama-tama Anda harus mengetahui terlebih dahulu perbedaan dari transit dan stopover – dua istilah di penerbangan tidak langsung yang kerap digaungkan oleh banyak orang. Dilihat dari durasinya, transit merupakan momen dimana Anda singgah di suatu negara di tengah perjalanan udara dalam rentang waktu yang relatif singkat (mulai dari 30 menit hingga 20 jam). Sedangkan stopover sendiri merupakan momen dimana waktu singgah tersebut lebih lama ketimbang transit, dimana Anda mungkin saja berhenti lebih dari 24 jam di suatu negara singgah. Nah, ngomong-ngomong soal stopover, ada beberapa maskapai yang menyuguhkan pengalaman stopover yang fantastis dan siap membekas di benak Anda semua. Kira-kira, maskapai mana saja itu? Berikut adalah empat maskapai yang memberikan pengalaman stopover menakjubkan, dirangkum KabarPenumpang.com dari laman godsavethepoints.com. Qatar Airways
Doha. Sumber: traveller.com.au
Berterima kasihlah kepada maskapai Qatar dan program stopovernya yang memungkinkan Anda semua untuk bisa menikmati pengalaman menginap dan berkelana singkat di Doha secara cuma-cuma. Selain itu, warga negara asing dari 80 negara juga bisa menikmati transit bebas visa di Negara Teluk ini. Bagaimana, tertarik untuk menjajal program stopover dari rival maskapai Emirates ini? Emirates
Dubai. Sumber: topdeck.travel
Ogah kalah dengan rival satu negaranya, Emirates juga memiliki program stopover yang memungkinkan para penumpangnya untuk menikmati kemewahan dari kota Dubai yang terkenal dengan wisata belanja, suasana kota yang ramai, hingga pantainya yang eksotis. Etihad
Abu Dhabi. Sumber: escape.com.au
Masih dari Timur Tengah, maskapai Etihad memberikan program stopover yang cukup menggoyahkan iman para pelancong. Jika Anda duduk di economy seat, maka Anda akan bisa mendapatkan potongan harga menginap di malam pertama, sedangkan jika Anda memilih untuk stay selama dua hari, maka di hari kedua, Anda akan tinggal di rumah! Jika beruntung, bagi Anda yang duduk di business class, Anda akan mendapatkan voucher gratis menginap di hotel bintang lima selama satu malam, dan bagi penumpang di first class, akan mendapatkan voucher gratis menginap selama dua malam. Lumayan, bukan? Singapore Airlines
Singapura. Sumber: singaporeair.com
Baca Juga: Jewel Changi, Bakal Jadi Destinasi Wisata Gaya Baru via Bandara Changi Jika Anda mengudara dan mengambil program stopover dari flag carrier Singapura ini, maka Anda berkesempatan untuk menginap di hotel mewah, naik SIA hop-on bus secara gratis, hingga mengakses banyak atraksi indah yang ditawarkan oleh Singapura, termasuk penona Jewel Changi yang mampu memikat pelancong.

Disney Bicara dengan Brightline Seputar Rencana Kereta Berkecepatan Tinggi di Properti

Disney World untuk pertama kalinya mengaku kepada publik bahwa telah berbicara dengan Brightline tentang pengembangan stasiun kereta api berkecepatan tinggi di propertinya. Brightline yang juga dikenal sebagai Virgin Trains memiliki keinginan untuk membangun pemberhentian di Disney sejak 2018 lalu. Baca juga: Redam Kebisingan, Jepang Lakukan Riset Aerodinamika Kereta Cepat dengan Terowongan Angin Bahkan sejak tahun 2018, Brightline sudah mengajukan dokumen-dokumen ke Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat serta menyertakan peta yang memiliki stasiun Disney ditampilkan di sepanjang rute. Adapun rute kereta berkecepatan tinggi ini adalah untuk mengubungkan Florida Tengah ke Florida Selatan. Tak hanya itu, di dalam rute tersebut akan mencakup stasiun hub di Bandara Internasional Orlando yang akan dibuka tahun 2022 mendatang. Namun, belum jelas apakah Disney tertarik untuk kehadiran stasiun di properti miliknya. “Sebagai tujuan liburan utama dan perusahaan tempat kerja tunggal terbesar di Amerika Serikat, Walt Disney World Resort adalah pilihan yang jelas untuk stasiun kereta api antara Bandara Internasional Orlando dan Tampa. Kami telah melakukan percakapan dengan Virgin Train USA, dan belum membuat komitmen pasti, kami telah sepakat untuk lebih mengeksplorasi secara resmi pengembangan stasiun kereta di properti kami,” ujar juru bicara Disney yang dikutip KabarPenumpang.com dari wesh.com (17/12/2019). Pihak Disney menambahkan, bahwa Brightline sedang mengincar Stasiun Disney dan awal tahun ini sebuah prospektus kepada investor perusahaan menyatakan telah terlibat dalam diskusi dengan pihak berwenang untuk membangun sistem kereta penumpang antara Orlando dan Tampa. Hal ini dengan pembangunan sebuah stasiun di pusat kota Tampa dan berpotensi perluasan ke Disney World. Diketahui, konstruksi telah dimulai pada jalur kereta api yang menghubungkan Orlando dan West Palm Beach serta sebuah Depo telah dibangun untuk layanan d Bandara Internasional Orlando dekat dengan kompleks Terminal Selatan. Pejabat Brightline mengatakan pemberhentian Disney akan memberi pengunjung dan Floridia opsi bebas mobil untuk mencapai objek wisata yang paling banyak dikunjungi di negara bagian itu. “Sebuah stasiun yang diusulkan akan menyediakan koneksi kereta langsung ke Bandara Internasional Orlando dan berfungsi sebagai segmen awal untuk perpanjangan Virgin Train di masa depan ke Tampa,” kata Wakil Presiden Senior Brightline Ben Porritt. Baca juga: Disneyland Resort Line Hong Kong, Kereta Khusus dengan Nuansa Mickey Mouse Brightline mengumumkan tahun lalu bahwa mereka telah bermitra dengan miliarder Inggris Richard Branson dan akan mengubah namanya menjadi Virgin Trains USA, tetapi perubahan nama itu belum diumumkan secara resmi.

Anak Ingin Terbang Sendiri? Ini yang Harus Orang Tua Persiapkan

Anak-anak terbang sendiri apakah memungkinkan? Ternyata sebagian besar maskapai penerbangan Amerika Serikat mengizinkan penumpang yang berumur lima tahun untuk terbang tanpa orang tua atau wali dengan pembelian layanan minor tanpa pendamping. Tetapi sebelum melakukan ini ternyata setiap orang tua harus menilai tempramen dan tingkat kedewasaan anak-anak mereka. Baca juga: Tak Mau Duduk Dekat Penumpang Bawa Anak, Japan Airlines Hadirkan Peta dengan Ikon Seorang dokter anak dan Associate Profesor di University of Washington, Mollie Grow mengatakan, setiap orang tua harus mulai dengan mengonfirmasi bahwa anak mereka bersemangat atau tidak takut dengan ide perjalanan solo? Sebab antusiasme murni ternyata tidaklah cukup. Dirangkum KabarPenumpang.com dari fodors.com, Grow mengatakan, kebanyakan anak-anak usia tujuh tahun dan dibawahnya belum siap untuk penerbangan sendiri. “Saya pikir itu adalah zaman di mana terbang sendirian lebih merupakan pilihan terakhir. Saya sangat berhati-hati dan selektif tentang keadaan,” kata Grow. Dia bahkan menyarankan untuk melihat dulu apa yang akan terjadi selama perjalanan. Grow mengatakan, jika anak Anda sudah pernah terbang sebelumnya, ini bisa membangun pengalaman itu. Tetapi jika bepergian dengan saudara mereka yang lebih tua maka sistem buddy akan membantu. “Siswa kelas tiga sudah beberapa tahun bersekolah sendiri. Mereka memiliki pengalaman berinteraksi dengan orang dewasa atau orang asing dan meminta bantuan,” kata Grow. Meskipun para remaja terlihat mandiri, tetapi sebagian besar masih membutuhkan bimbingan dari orang tua yang mempersiapkan perjalanan solo sang anak. Untuk itu para orang tua harus mempersiapkan dan memastikan anak-anak mereka membawa salinan elektronik dan cetak dari dokumen perjalanan mereka dan harus tahu cara mengatur peringatan penerbangan teks maupun email. “Anak-anak yang lebih tua yang mengelola kondisi medis seperti ADD, asma, atau diabetes mungkin memerlukan pengingat untuk mengemas obat-obatan penting dalam barang bawaan,” tambahnya. Biasanya bila tiket yang dibeli tanpa layanan, maskapai sering mendudukkan anak-anak tanpa pendamping di bagian depan atau belakang pesawat agar lebih mudah bagi pramugari untuk mengawasi. Tetapi ini juga tidak selalu bisa dilakukan memerhatikan anak tersebut karena mereka juga membantu penumpang lainnya. Sedangkan bila orang tua membeli layanan minor untuk anak mereka, maka Anda bisa menemani anak hingga ke gerbang dan ketika tiba di bandara tujuan penjemput juga bisa menunggu di gerbang ketika anak itu turun. Sebelumnya ketika memesan layanan minor ini, baiknya berikan nama lengkap, alamat dan nomor telepon orang dewasa baik yang mengantar atau menjemput anak di setiap akhir perjalanan. Tak lupa ketika mengantar anak ke gerbang, perkenalkan diri Anda kepada pramugari sebelum boarding dimulai dan bagikan informasi penting apapun tentang anak Anda. Kelly Rubingh, pemilik Family Travel Agency di San Carlos, California memberikan tips untuk orang tua yang membiarkan anak mereka beperian. Berikut tipsanya. 1. Baiknya pesan penerbangan non-stop, sebab dengan begitu bagi orang tua yang memesan tanpa layanan pendamping akan lebih dimudahkan. 2. Jika pergantian pesawat tidak dapat dihindari, rencanakan anak untuk bisa beristirahat di hotel bandara atau jika transit dan ada kerabat maka bisa membantu sampai penerbangan selanjutnya. 3. Bila bepergian sendirian jangan lupa anak dilengkapi dengan ponsel, pengisi daya, baterai cadangan dan daftar kontak darurat. 4. Lengkapi anak-anak dengan kartu kredit, debit atau apapun itu untuk memudahkan mereka dalam pembayaran dan ajarkan dalam penggunaannya untuk pembelian dalam pesawat seperti WiFi atau dalam keadaan darurat perjalanan. 5. Kemas makanan ringan dan manfaatkan pilihan makanan prabayar maskapai jika tersedia. Baca juga: Era 40 dan 50-an, Jadi Masa Keemasan Sajian Makanan di Kabin Pesawat “Ketika Anda mengirim anak-anak Anda ke mana saja, begitu mereka berada di luar penglihatan Anda, mereka berada di luar perlindungan langsung Anda. Kami menyadari ada jauh lebih banyak ketakutan orangtua daripada ketakutan anak. Kami melakukan segala yang kami bisa untuk membuat anak kami sukses, termasuk menanamkan rasa petualangan,” kata Kevin Merritt, seorang pemandu luar Carolina Utara. Menyelesaikan penerbangan solo dapat berfungsi sebagai dorongan kepercayaan diri untuk anak-anak, dan ritual untuk orang tua.

Enam Hal Sebelum Pilih Koper atau Tas Jinjing untuk Berlibur

Pelancong masa kini tidak suka dengan hal yang ribet dan memusingkan ketika akan bepergian ke suatu tempat. Salah satunya seperti pemilihan koper atau tas jinjing yang akan digunakan membawa barang pelancong milenial. Baca juga: Agar Penerbangan Nyaman, Inilah Tips Bawa Koper ke Dalam Bagasi Kabin Apalagi ketika pelancong hanya ingin liburan dalam waktu singkat biasanya akan memilih tas jinjing atau koper yang bisa masuk dalam kabin. KabarPenumpang.com melansir laman t3.com, ada enam hal yang perlu dipikirkan pelancong untuk memilih koper, ransel atau tas jinjing untuk di bawa dalam kabin. #1 Ukuran sesuai Biasanya maskapai berbiaya penuh memberikan kapasitas berat barang bawaan hingga 40 kg per penumpang. Namun pelancong masa kini lebih memilih dengan menggunakan maskapai berbiaya hemat (LCC) yang jarang memberikan bagasi kargo secara cuma-cuma dan hanya memberikan bagasi kabin yang berukuran 56x45x25 cm dengan berat tujuh kilogram dan ada juga yang memberikan hingga 23 kg. #2 Gadget Sebagai pelancong, gadget seperti tablet atau laptop seringkali dibutuhkan baik untuk menulis tentang perjalanan ataupun hal lainnya. Pilih koper yang memiliki kantong luar untuk meletakkan laptop dan tablet. Selain itu beberapa koper juga memiliki tempat kacamata hitam yang bisa berguna diakses dengan cepat ketika turun dari pesawat dan matahari terik. Kantong atau ruang di bagian luar koper juga bisa digunakan untuk meletakkan makanan dan minuman ketika berada di bandara. #3 Dua atau empat roda Lebih baik pilih yang empat roda dibandingkan dengan yang dua. Sebab biasanya roda empat lebih memberikan mobilitas yang baik. Bila menggunakan koper atau tas dengan dua roda pun sebenarnya tidak masalah. Tetapi jika bandara atau stasiun kereta api sangat padat dan sibuk apalagi dalam antrian, koper dua roda mengambil ruang untuk dua atau tiga orang. Sedangkan koper dengan empat roda bisa berada di samping dan lebih aman serta mudah mendorongnya. #4 Cek keadaan koper Sebelum membeli koper dan tas, cek pegangan dan roda karena bisa memengaruhi stabilitas koper ketika bepergian. #5 Pilih bahan tas atau koper Koper dengan bahan polikarbonat atau cangkang keras lebih awet ketika dibawa bepergian. Sedangkan bila bahannya lebih lunak bisa menggembungkan bagian lainnya agar barang bawaan bisa masuk lebih banyak. Baca juga: PaQ, Amankan Barang Berharga dalam Koper dari Benturan di Bagasi #6 Perhatikan bagian dalam Koper lengkap dengan roda dan pegangan bisa terlihat dengan pasti dari luar. Sedangkan terkadang pembeli sering lupa melihat bagian dalamnya. Cari bagian dalam yang tahan air, lihat apakah ada kantong baik di tutup koper atau sekitar kompartemen utama. Jangan lupa cari tali kompresi yang bisa mengemas pakaian masuk leih banyak ke koper.

Ternyata Ada Makna ‘Terselubung’ di Balik Pertanyaan Awak Kabin Saat Anda Boarding

Senyum ramah, sapaan hangat, dibarengi dengan posisi kedua telapak tangan saling menempel yang mengisyaratkan penyambutan dari awak kabin menjadi pemandangan lumrah yang akan Anda dapati sesaat sebelum Anda masuk ke dalam sebuah kabin pesawat. Bagi sebagian orang, pemandangan seperti ini bisa menandakan awal perjalanan udara mereka – namun tidak sedikit juga dari penumpang yang kerap mengacuhkannya. Baca Juga: Bingung Saat di Dalam Pesawat? Inilah Pertanyaan Favorit untuk Awak Kabin Jika Anda ‘beruntung’, Anda akan mendapatkan pertanyaan “duduk di seat nomor berapa, Pak/Bu?”. Nah, tahukah Anda maksud dibalik pertanyaan tersebut? Mungkin Anda langsung mengasumsikan pertanyaan tersebut hanyalah sebuah basa-basi yang dilontarkan oleh awak kabin kepada penumpang. Atau mungkin Anda beranggapan bahwa mereka akan membantu Anda untuk mengetahui dimana Anda harus duduk. Namun ternyata dua jawaban tersebut salah! Lalu, untuk apa awak kabin melontarkan pertanyaan semacam itu? Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cosmopolitan.com, adapun tujuan dari dilontarkannya pertanyaan semacam itu adalah agar awak kabin bisa memastikan kesehatan dan kebugaran penumpang sebelum mengudara – memastikan penumpang berada dalam kondisi prima. Hal ini ‘dibocorkan’ oleh awak kabin dari maskapai penerbangan Condor, Myriam Mimi. Ia menyebutkan bahwa wajar adanya jika seorang pramugari meminta Anda untuk menunjukkan boarding pass dan melihat data di dalamnya. Dari sini, seorang awak kabin bisa menilai apakah penumpang terkait berada dalam kondisi prima atau tidak.

“Saya sebenarnya menganalisa penumpang – apakah mereka mabuk, sakit, emosi, atau takut,” tutur Myriam.

Menurut Myriam, tindakan semacam ini menjadi sangat penting bagi awak kabin – karena ditahap ini, awak kabin akan melakukan ‘screening’ guna menghindari sesuatu yang tidka diinginkan di dalam penerbangan. “Alih-alih mengatasinya ketika pesawat sudah berada di udara, alangkah jauh lebih baik jika dituntaskan di darat (mencegah),” terangnya. “Sebut saja ketika ada seorang penumpang yang pucat pasi ketika memasuki pesawat. Di situ kami dapat mengeluarkannya dari penerbangan mengingat tidak ada satupun dari penumpang atau awak kabin yang menginginkan penyakit dari si penumpang pucat tersebut,” sambung Myriam. Baca Juga: Punya Standar Tinggi, Inilah Rasanya Jadi Awak Kabin Emirates Tentu saja penumpang yang tengah tidak fit ini tidak dikeluarkan dari penerbangan begitu saja, melainkan mereka akan dirujuk ke klinik atau rumah sakit guna mendapatkan perawatan lebih lanjut. Jadi, jangan pernah ragu untuk menjawab pertanyaan dari para awak kabin di pintu pesawat, ya!