Boeing dan Porsche Bersatu Garap “Luxury,” eVTOL Khusus Orang Tajir Melintir!

Jargon ‘Orang kaya mah bebas’ agaknya tepat untuk menggambarkan garis besar dari artikel yang satu ini. Pasalnya, manufaktur otomotif terkemuka asal Negeri Bavaria, Porsche kabarnya tengah terlibat kerja sama mutualisme dengan manufaktur kedirgantaraan asal Amerika Serikat yang kini tengah terpuruk, Boeing dalam upayanya untuk menghadirkan moda electric Vertical Take-Off and Landing (VTOL) berlabel Luxury. Dari sini saja, Anda pasti sudah bisa menebak peruntukkan moda ini – ya, khusus untuk orang-orang kaya! Baca Juga: Peneliti University of Michigan: Kendaraan VTOL Listrik Lebih Ramah Lingkungan Ketimbang Mobil Listrik Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman theverge.com (11/10), antara Boeing dan Porsche sendiri sebenarnya telah menandatangani nota kesepahaman yang eksklusif – dimana keduanya sudah menyepakati untuk bekerja sama dalam mengembangkan VTOL premium khusus orang kaya ini, namun nota kesepahaman ini tidak terikat perjanjian yang mengikat.

“Kami akan menciptakan tim internasional untuk mengatasi berbagai aspek mobilitas udara perkotaan, termasuk analisis potensi pasar untuk kendaraan premium dan kemungkinan penggunaannya di masa yang akan datang,” ujar salah seorang dari Boeing.

Kata ‘premium’ yang bertengger di balik kerja sama ini sejatinya menggambarkan bahwa di depannya moda ini tidak akan dipergunakan secara massal, melainkan hanya untuk orang-orang tertentu saja – begitu halnya dengan rekanan Boeing dalam kerja sama ini, Porsche yang sudah terkenal sebagai produsen mobil kelas wahid.

Di sini, tidak hanya Boeing dan Porsche yang akan berkecimpung, melainkan juga anak perusahaan dari Boeing, Aurora Flight Science juga akan turut terjun mengembangkan moda super eksklusif ini. Tidak main-main, Aurora yang cukup serius dalam mengerjakan proyek bersama induk perusahaannya ini langsung ‘menggertak’ dengan melakukan uji coba penerbangan singkat di Manassas, Virginia pada awal tahun 2019 kemarin.

Baca Juga: [VIDEO] Uji Penerbangan Alpha One Vahana yang Berikan Gambaran Moda Transportasi Futuristik

Jika moda ini sudah diuji dan siap untuk mengudara, maka giliran Porsche yang kini bermain dengan konsep eksklusif khas mereka. Nantinya desain interior untuk moda ini akan disesuaikan dengan kebutuhan dan selera orang-orang berduit. Sehingga semua pihak yang terlibat dalam pengembangannya sama-sama memiliki porsi kerjanya masing-masing.

Namun agaknya Anda semua harus sedikit bersabar karena baik pihak Boeing maupun Porsche belum secara rinci menyebutkan kapan bisa merilis moda ini ke masyarakat luas.

Gegara iPhone Mati, Wanita ini Harus Bayar Denda Rp8,6 Juta di Bus Kota

Ponsel mati karena kehabisan baterai jamak terjadi pada setiap orang. Namun bagaimana bila saat ponsel mati justru kena denda 476 poundsterling (setara Rp8,6 jutaan)? Baca juga: Bandara Schiphol Sandang Predikat WeChat Pay Smart Airport Nah, kejadian di atas telah menimpa seorang wanita yang saat itu naik bus dan membayar ongkos melalui Apple Pay senilai 1,50 pounsterling atau Rp27.000. Jemima Kelly, yang saat itu baru lima menit naik bus itu dan inspektur tiket datang untuk memeriksa tiket. Sayangnya Kelly tak bisa membuktikan telah membayar tiket bus karena ponselnya mati kehabisan baterai. Dia kemudian tidak mendapat kabar apapun dari Transport for London (TfL) hingga 28 Desember lalu. Kemudian Kelly dikirimi surat yang menjelaskan dirinya akan dituntut dan memiliki 21 hari untuk memutuskan mengaku bersalah atau tidak. Dia mencoba menyelesaikan masalah tersebut dan menelepon nomor yang disediakan untuk menjelaskan situasi. Mereka mengatakan dirinya perlu memberikan laporan bank untuk menunjukkan bukti pembayaran yang sudah dikurangi dari akun Apple Pay miliknya. Setelah mengirim laporan tersebut, pihak TfL mengatakan kepadanya hal itu tidaklah cukup. Dia mengatakan, beberapa hari kemudian menerima surat yang memberitahu bahwa kasusnya tersebut telah disidangkan di pengadilan dan dirinya dinyatakan bersalah serta berhutang 476,50 pounsterling. “Sekarang aku merasa sangat kesal. Aku mencoba nomor yang awalnya kutelepon, tetapi mereka tidak bisa membantu, dan aku diberi nomor lain untuk dihubungi. Itu menunjuk saya ke alamat email yang harus saya tuju, menarik terhadap keputusan itu,” kata dia yang dikutip KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk (14/10/2019). Kesialan Kelly bertambah, saat ia diberitahu bahwa dirinya tidak dapat melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dan bahwa dia perlu mendapatkan sertifikat catatan polisi sebelum kedutaan akan mempertimbangkan mengeluarkannya dengan visa. Kelly menghabiskan lebih dari 1000 poundsterling untuk penerbangan yang tidak bisa dia dapatkan kembali, dia juga harus menghabiskan 90 poundsterling untuk sertifikat kepolisian. Pada persidangan dia diberitahu bahwa putusannya dibatalkan dan hakim bahkan bercanda bahwa dia akan ‘dihidupkan kembali’. Bahwa denda senilai 476,50 poundsterling akan dikembalikan dan sekarang mengklaim merasa ‘dieksploitasi’ oleh teknologi revolusioner, yang digunakan banyak orang setiap hari. “Rasanya teknologi informasi telah mengeksploitasi saya, dan mengubah saya menjadi penjahat. Saya masih menggunakan Apple Pay untuk memanfaatkan bus dan kereta. Saya tidak akan membalas revolusi digital hanya karena itu menyengat saya. Yang jelas saat ini kemanapun Kelly pergi, ia selalu membawa power bank. Baca juga: Alipay Siap Ganti Sistem Pembayaran MTR Hong Kong dengan Scan QR Code “Semua pelanggan perlu memastikan mereka dapat menghasilkan bukti pembayaran ketika menggunakan layanan kami, tetapi kami mohon maaf saat itu Ms Kelly mengalami kesulitan seperti itu,” uajr juru bicara TfL.

Terkendala Segudang Masalah, Emirates ‘Ancam’ Batalkan Pembelian Boeing 777-9

Produsen kedirgantaraan terkemuka asal Negeri Paman Sam, Boeing kembali harus menelan pil pahit untuk kesekian kalinya. Bisa dibilang, sektor produksi pesawat komersialnya berbanding terbalik dengan sektor kemiliterannya – dimana titik jatuhnya Boeing pertama kali terjadi manakala varian 737 MAX di-grounded-kan secara massal pasca jatuhnya Lion Air dan Ethiopian Airlines. Setelah melalui serangkaian panjang buntut dari dua kecelakaan yang hanya berselang lima bulan ini, Boeing harus kembali didamprat masalah setelah ditemukannya keretakan pada bagian pickle fork di varian 737 NG. Baca Juga: Meski Khusus Internal Perusahaan, Boeing Tepati Janji Perlihatkan 777-9 Belum kelar masalah 737 MAX dan 737 NG, kini santer diberitakan CEO Boeing, Dennis Muilenburg mundur dari jabatannya. Terakhir, kabar tidak mengenakkan datang dari Emirates yang kabarnya akan mempertimbangkan kembali untuk menggunakan varian wide body, 777-9. Nampaknya peribahasa “sudah jatuh, tertimpa tangga pula” tidak cukup untuk menggambarkan kondisi Boeing saat ini – namun satu yang pasti, Boeing kini tengah dihadapkan pada satu situasi yang amat serius. Seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, maskapai asal Timur Tengah, Emirates kabarnya akan mempertimbangkan kembali untuk menindaklanjuti pembelian varian 777-9 sebanyak 115 unit yang harusnya mulai dikirim per awal tahun 2020 mendatang. Ini lantaran pihak Boeing sendiri diketahui masih menangguhkan pengujian beban pesawat. Belum lagi kabar yang menyebutkan bahwa pintu kargo pesawat gagal menahan beban dalam uji tegangan saat mendarat dan masalah daya pada mesin GE9X milik General Electric. Lantaran hal-hal ini, Emirates jadi ragu untuk melanjutkan pembelian varian ini. “Pada akhir tahun depan kita akan memiliki delapan dari mereka (Boeing 777-9). Sekarang kelihatannya kita tidak akan memiliki satu pun,” ujar CEO Emirates, Tim Clark, dikutip dari laman Reuters (15/10). Baca Juga: Wow! Mesin Boeing 777X Lebih Besar dari Body 737 Terlepas dari keputusan pihak Emirates yang akan meninjau ulang pemesanan 777-9, American Airlines juga kabarnya akan mempertimbangkan kembali penggunaan dari seri 737 MAX yang sempat grounded. Pihak maskapai sudah membatalkan semua penerbangan dengan 737 MAX hingga 15 Januari 2020. Per harinya, setidaknya ada 140 penerbangan dengan 737 MAX hingga 3 Desember nanti.

Kabin Jetstar JQ284 Kena “Teror” Popok dan Kotoran Balita

Apa yang akan Anda lakukan jika melihat seorang penumpang mengganti popok anaknya di bangku pesawat – bukan di toilet. Tentu sangat menjijikkan, bukan? Namun kejadian semacam ini baru saja terjadi di dalam penerbangan Jetstar dari Dunedin di Selandia Baru menuju ke Auckland pada awal Oktober kemarin. Tentu saja, saking joroknya, kejadian ini dengan cepat menjadi bahan perbincangan publik. Baca Juga: Kisruh Pemesanan Kursi, Swiss Airlines Hadapi Gugatan dari Penumpang Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman heart.co.uk (14/10), adalah penumpang dari Jetstar JQ284 yang pada awal Oktober kemarin tampak bepergian bersama seorang anak laki-lakinya yang berusia empat tahun. Di dalam penerbangan tersebut, tampak penumpang ini menggantikan popok anaknya tepat di bangku penumpang, bukan di toilet. Kejadian jorok tidak hanya berhenti sampai di situ, penumpang yang tidak disebutkan namanya ini juga membiarkan anak laki-lakinya buang air kecil di dalam botol dan membuang tisu kotor di kantung belakang bangku – mungkin dengan asumsi awak kabin akan membersihkannya. Bahkan, menurut penuturan beberapa penumpang, anak ini juga buang air besar di bangku. Jorok sekali, bukan? “Jadi bocah ini buang air besar di bangku dan orang tuanya malah mengganti popok anaknya tidak di kamar mandi – bagaimana bisa orang tuanya tega ‘menelanjangi’ anaknya dan mengganti popok di depan orang lain,” tutur salah satu penumpang yang ingin tetap anonim. “Kendati sudah diperingatkan oleh awak kabin, namun penumpang ini seolah tidak mengindahkannya dan melanjutkan mengganti popok anaknya,” sambung si penumpang. Tentu saja, setelah kejadian ini, satu kabin di dalam penerbangan tersebut merasakan aroma “bau jamban” di sepanjang perjalanan dan pastinya mengganggu kenyamanan penumpang lainnya. Kendati kenyamanan penumpang terganggu, namun pihak maskapai tidak bisa mengeluarkan kompensasi yang merujuk pada kejadian tersebut. “Meskipun ada penumpang lain yang mengeluh, maskapai mengatakan mereka tidak dapat memberikan kompensasi kepada penumpang terkait kejadian ini,” ujar pihak maskapai. Baca Juga: Nasehat Baik Saat Bawa Anak Jalan-Jalan dengan Pesawat Ya, ketika para penumpang yang merasa perjalanannya ini terganggu, mereka berupaya untuk mengajukan kompensasi, namun pihak maskapai menolak pengajuan mereka karena masalah yang ditimbulkan penumpang – mungkin ceritanya akan berbeda jika penyebab kabin menjadi bau toilet dikarenakan adanya kesalahan yang dilakukan pihak maskapai. “Kami menyesali apa yang telah terjadi di dalam penerbangan Jetstar JQ284, dan kami menghimbau dengan hormat kepada penumpang yang bepergian bersama anak kecil utnuk memanfaatkan meja yang ada di toilet untuk mengganti popok dan membuang sampah pada tempat sampah yang sudah disediakan,” konfirmasi pihak maskapai.

Hanya Butuh Landasan 800 Meter, ATR 42-600S Siap Beraksi di Tahun 2022

Anda semua tentu sudah tidak asing lagi dengan nama ATR, bukan? Ya, pesawat produksi perusahaan joint venture Perancis dan Italia yang digadang-gadang sebagai pesawat regional propeller nomor satu di dunia ini kabarnya baru saja merilis model baru yang hanya membutuhkan landas pacu sepanjang 800 meter saja. Tentu saja ini menjadi sebuah gebrakan baru di sektor aviasi global, mengingat kebanyakan pesawat – termasuk pesawat kecil membutuhkan landas pacu sepanjang lebih dari 1.000 meter untuk bisa mengudara. Baca Juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, adalah ATR 42-600S yang merupakan produk baru dari Aerei da Trasporto Regionale (ATR). Pembubuhan alfabet ‘S’ di belakang nama moda ini mewakili kata ‘Short’ dari Short Take-Off and Landing (STOL). Pesawat ini merupakan pelengkap dari varian-varian yang sudah terlebih dahulu mengudara sebelumnya, seperti ATR 42-600 dan ATR 72-600 – serta varian pesawat kargo ATR 72-600F yang akan dirilis di masa yang akan datang. Diharapkan, sertifikasi dari pesawat yang mampu mengangkut hingga 40 penumpang ini bisa rampung pada paruh kedua tahun 2022 mendatang. “Adapun varian ATR 42-600S akan dapat membantu pihak maskapai untuk memperluas jaringan penerbangan mereka, karena sejatinya pesawat ini bisa mendarat di lebih dari 500 bandara yang ada di seluruh dunia,” ujar CEO dari ATR, Stefano Bortoli. “Ini merupakan ilustrasi yang sangat jelas tentang dedikasi dalam membantu lebih banyak orang dan komunitas yang tinggal di daerah terpencil agar mereka bisa mendapatkan manfaat dan terhubung ke dunia luar secara berkelanjutan,” imbuhnya. Menurut pihak perusahaan, varian ATR 42-600S ini akan tetap menggunakan mesin yang sama seperti ATR 42 dan ATR 72. Sejatinya, nantinya pilot akan dihadapkan dengan dua opsi lepas landas: memaksimalkan daya untuk mengoperasikan STOL (dengan asumsi lebih boros bahan bakar), atau pengoperasian efisien bahan bakar dengan menggunakan landas pacu yang lebih panjang. Baca Juga: Pertegas Positioning, Garuda Indonesia Alihkan Pesawat ATR ke Citilink Mengutip dari laman infopenerbangan.com, ATR 42-600S juga turut dipasang spoiler simetris untuk meningkatkan efisiensi pengereman saat mendarat. Di samping itu, sistem autobrake juga akan memastikan daya pengereman penuh terjadi beberapa saat setelah pesawat touchdown. “Ini akan menjadikan ATR 42-600S sebagai pesawat berkinerja terbaik di segmen ini (penerbangan regional),” tulis pihak ATR dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis pada Sabtu (12/10) kemarin.

Tragis! Mau Bantu Suami, Tangan Wanita ini Justru Terpotong Baling-Baling Pesawat

Sebuah peristiwa mengerikan belum lama ini terjadi di Key West, Fort Myers, Negara Bagian Florida di Amerika Serikat. Rebecca Lynn Gray yang berusia 45 tahun telah kehilangan tangan dan jari kaki. Insiden tersebut terjadi saat ia tengah membantu menyiapkan pesawat yang akan lepas landas. Baca juga: Baling-Baling Mati Sebelah, Penerbangan QantasLink Dash 8 Terpaksa “Return to Base” Insiden ini bermula ketika Rebecca tengah membantu menyiapkan pesawat pribadi untuk lepas landas di Bandara Internasional Key West. Saat itu sang suami Walter Gray mencoba lepas landas, tetapi pesawat tidak mau bergerak meski mesin menyala dan baling-baling berputar. Dia kemudian keluar pesawat untuk memeriksa apakah penahan ban pesawat masih ada di landasan sementara mesin masih menyala dan baling-baling berputar. Ketika keluar dia mengatakan kepada istrinya untuk tetap di dalam pesawat dan tidak pergi kebagian depan pesawat. Namun Rebecca ikut keluar dan pergi untuk melepaskan ganjalan dari ban pesawat serta melakukan kontak dengan baling-baling. Dia tertabrak dan baling-baling yang memutar itu memotong salah satu lengan bagian kanan. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman news-press.com (14/10/2019), menurut Florida Highway Patrol yang menangani kasus ini, Rebecca langsung dibawa ke pusat medis Lower Keys dan kemudian diterbangkan ke rumah sakit daerah Miami Ryder Trauma dalam kondisi stabil. Insiden itu sendiri terjadi sekitar jam 20.45 waktu setempat. Juru bicara kantor daerah Sheriff Monroe mengatakan, kaki korban juga terputus pada dua jari kakinya. Ayah mertuanya, W.V. Gray Sr mengatakan, menantunya Rebecca akan pulih. “Jelas itu bisa jadi jauh lebih buruk. Saat ini kecelakaan tersebut dalam penyelidikan oleh Administrasi Penerbangan Federal,” ujar Gray. Baca juga: Cessna 172 Skyhawk, Pesawat Latih Terpopuler Sejagad, Pencetak Berjuta Pilot Diketahui, Rebecca merupakan penumpang dalam pesawat model 172S Cessna 1966 yang dipiloti oleh suaminya Walter. Menurut FPH, pesawat itu disewa oleh pasangan tersebut yang merupakan penduduk Fort Myers.

Duh! Pesan Berbau Pelecehan Seksual Diterima Penumpang Lewat In-Flight Entertainment

Kasus pelecehan seksual kembali terjadi di dunia penerbangan, dimana seorang penumpang Virgin Atlantic menerima pesan yang menyinggung soal seksual. Adalah Jessica Van Meir, wanita berusia 24 tahun ini dikabarkan menerima pesan berbau seksual pada sistem di dalam penerbangan ketika dirinya melakoni perjalanan dari London menuju Wahington DC pada Sabtu (5/10) kemarin. Sontak, hal ini membuat ia kaget dam sempat ketakutan. Baca Juga: Usai Demo Keselamatan Penerbangan, Pramugari EasyJet Mendapat Pelecehan Seksual dari Penumpang Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (9/10), Jessica menerima pesan ini tak lama berselang setelah pesawat tinggal landas. Ia mengatakan bahwa sebelum pesan-pesan berbau seksual ini muncul, Jessica sempat menggunakan toilet terlebih dahulu – entah apa korelasi antara dua kejadian ini. Kuat dugaan, pesan-pesan ini datang dari sekelompok penumpang yang duduk di bangku belakang dan mengetahui keberadaan dari Jessica di penerbangan tersebut. Ya, bagi Anda yang belum mengetahui, sistem In-Flight Entertainment (IFE) yang ada di dalam penerbangan Virgin Atlantic memungkikan penumpang untuk menonton film, bermain game, hingga mengirin pesan kepada penumpang lain yang ada di penerbangan yang sama.
Pesan teks yang diterima Jessica. Sumber: cnn.com
“55C, kamu sangat menarik, sayang,” ujar salah seorang penumpang di dalam penerbangan tersebut yang menggunakan nama akun ‘smacks baccy’. 55C diduga sebagai nomor bangku yang diduduki oleh Jessica. “Selamat datang di neraka,” ujar penumpang lain dengan nama akun ‘dirty mike’.
Pesan teks lanjutan. Sumber: cnn.com
Jessica yang mulai gerah dengan pesan-pesan ini lalu membalasnya, “Saya bekerja untuk sebuah firma hukum yang berspesialisasi dalam pelecehan seksual online. Selamat menikmati laporan yang akan saya adukan ke pihak maskapai,” Alih-alih menghentikan aksi nakalnya tersebut, ‘dirty mike’ lalu kembali membalas Jessica. “Sekarang kamu berada di zona berbahaya,” Adapun pesan-pesan ini dinilai berbau pelecehan seksual karena nama-nama yang digunakan oleh para penumpang ini secara eksplisit mengarah ke arah sana – seperti ‘dirty mike’ dan ‘big d*ck swinger’. Baca Juga: Mengaku Tak Sadar, Pria ini Lakukan Pelecehan Seksual dalam Penerbangan Setelah merasa posisinya semakin terancam, Jessica pun lalu melaporkan kejadian ini kepada awak kabin Virgin Atlantic dan pesan-pesan flirting itu pun berangsur berhenti. Beberapa saat berselang, Jessica kembali menggunakan toilet dan di situ ia mengetahui siapa-siapa saja yang tadi mengiriminya pesan. Salah satunya adalah seorang pelatih tim rugby yang berjalan menghampirinya dan meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Wah, ada-ada saja ya tingkah laku penumpang!

Operasikan 400.000 Unit, Populasi Bus Listrik Terbesar Masih di Cina

Kondisi polusi udara yang sudah semakin tidak bisa ditolerir belakangan ini membuat sejumlah eksekutif yang berkecimpung di sektor transportasi di luar sana memutar otak guna mencari jalan keluar dari polemik turunan ini. Beragam opsi yang ditawarkan oleh produsen transportasi, mulai dari moda darat, laut, hingga udara guna memerangi polusi ini ditawarkan agar mereka bisa tetap membiarkan ‘dapurnya ngebul’. Salah satu opsi yang paling relevan untuk kondisi sekarang ini adalah moda listrik.

Baca Juga: Cina Rajai Populasi Bus Listrik di Seluruh Dunia

Tidak bisa ditampik, beraga varian moda listrik kini mulai bermunculan ke permukaan – mulai dari electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) yang mewakili moda udara, kapal ferry bertenaga listrik yang mewakili moda laut, kereta listrik dan bus listrik yang mewakili moda darat. Semuanya menyajikan keuntungannya masing-masing, kendati beberapa dari mereka akan mengubah regulasi yang selama ini diberlakukan.

Nah, ngomong-ngomong soal bus listrik, ternyata Negeri Tirai Bambu Cina hingga saat ini masih didapuk sebagai negara penghasil bus listrik terbesar di dunia. Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman pri.org (8/10), Anda dapat dengan mudah menemukan eksistensi dari bus listrik di jalanan-jalanan di Cina sana – lengkap dengan stasiun pengisian dayanya yang dapat dilakukan sembari bus beroperasi.

Tidak percaya bahwa Cina merupakan pengguna bus listrik paling banyak di dunia? Sebuah fakta menyebutkan bahwa kota Shenzhen di Cina mengoperasikan sekitar 16.000 bus listrik dan ada lebih dari 400.000 bus listrik yang beroperasi di keseluruhan wilayah Cina. Sementara itu rival Cina dalam Perang Dagang, Amerika Serikat hanya mengoperasikan segerintil bus listrik saja.

Sebutlah Foothill Transit, sebuah agen angkutan umum yang didanai oleh 22 pemerintah kota yang ada di lembah San Gabriel dan Pomona hanya mengoperasikan 33 unit bus listrik saja, atau sepersepuluh dari total armada yang dimiliki Negeri Paman Sam.

Baca Juga: Bus Listrik asal Cina Bawa Perubahan Radikal pada Transportasi di Santiago

Dari angka yang tersaji di atas saja, Anda sudah bisa melihat perbedaan yang amat sangat jauh antara Negeri Adikuasa dengan Cina, bukan? Pertanyaan lain yang muncul adalah, “Mengapa Cina bisa sebanyak itu mengoperasikan bus listrik?”

Jawabannya amatlah sederhana, karena negara dengan populasi terbesar di dunia tersebut sudah paham betul akan kondisi polusi yang sudah semakin meradang, dan mulai memprioritaskan elektrifikasi angkutan umum dengan subsidi dan peraturan nasional. Jadi, wajar saja apabila Cina seolah sudah biasa saja dengan kehadiran bus listrik – tidak seperti negara lain yang masih memiliki euforia yang tinggi terhadap moda ini.

Boeing 737 NG Garuda dan Sriwijaya Air ‘Terjangkit’ Crack, Kemenhub Siap Gelar Inspeksi

Setelah pada beberapa waktu ke belakang nama Boeing kembali diguncang isu lagi terkait crack yang ditemukan di pickle fork, kini kabar mengejutkan datang dari dalam negeri, dimana salah satu pesawat milik BUMN yang tengah terseok-seok, Garuda Indonesia dikabarkan juga mengalami retakan. Adapun unit yang terdampak masalah keretakan ini adalah 737-800 NG. Baca Juga: Merespon Masalah ‘Crack’ di 737 NG, Boeing Dirikan Fasilitas Khusus di California Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman bisnis.com, VP Corporate Secretary Garuda Indonesia M. Ikhsan Rosan menyatakan telah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa pesawat yang memiliki 30.000 siklus terbang (flight cycle). Adapun, mayoritas pesawat Boeing Seri NG yang dioperasikan Garuda masih tergolong baru, sehingga banyak yang belum mencapai angka flight cycle tersebut. “Ada tiga unit Boeing NG kami yang sudah mencapai flight cycle 30.000. Dari tiga itu, satu yang sudah kami temukan (adanya dugaan retakan pada pickle fork), posisinya saat ini sudah di-grounded,” ujar Ikhsan. Ia menambahkan, pihak Garuda Indonesia sudah melakukan koordinasi dengan pihak Boeing selaku penyedia pesawat terkait ditemukannya retakan ini. “Koordinasinya berkaitan dengan penanganan dan perbaikan retakan itu. Kami belum bisa bilang (meminta kompensasi) itu, tetapi ada pembicaraan mengenai itu juga,” sambungnya. Berdasarkan data yang ada di Garuda Indonesia pada Kuartal I/2019, jumlah pesawat Boeing 737-800 NG yang dioperasikan mencapai 73 unit, dimana tiga di antaranya sudah mencapai 30.000 flight cycle. Menanggapi hal ini, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana akan melakukan inspeksi terhadap seluruh varian Boeing 737 NG yang beroperasi di Indonesia. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti, juga memerintahkan kepada Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) untuk menindaklanjuti pada surat pemberitahuan yang dikeluarkan oleh FAA terkait crack ini. Baca Juga: Ada Keretakan di Boeing 737 NG, Kembali Ingatkan “Teori Habibie” “Kemenhub sangat mengutamakan keselamatan, oleh karena itu, Ditjen Hubud akan dan terus berupaya penuh untuk memastikan keselamatan dari setiap pesawat yang beroperasi di Indonesia. Kami akan melakukan inspeksi lebih lanjut untuk memastikan tingkat kerusakan dari pesawat produksi Boeing, khususnya B737 NG,” jelas Polana, dikutip dari laman sumber lain. Ternyata tidak hanya pesawat milik Garuda Indonesia saja yang dikabarkan mengalami crack, melainkan juga lima unit lain milik Sriwijaya juga divonis mengidap penyakit yang sama.

21 Penerbangan dalam 5 Hari, Dilakoni Penumpang ini Demi Status “VIP”

Pernah merasa perlu memiliki status VIP dalam sebuah penerbangan? Mungkin beberapa diantar Anda perlu apalagi bisa menikmati lounge maskapai di bandara secara cuma-cuma. Belum lama ini, seorang penumpang asal Denmark mempertahankan posisi VIP nya untuk maskapai airBaltic. Baca juga: Dongkrak Pengalaman Penumpang, Singapore Airlines Siap “Rombak” Lounge di Changi Penumpang bernama Morten Nielsen ini melakukan 21 penerbangan dalam lima hari demi mempertahankan status VIP-nya. Nielsen mengatakan, untuk mendapatkan stastus VIP dia harus melakukan 60 penerbangan dalam setahun. “Saya sudah 39 kali penerbangan dan hampir VIP saya hanya perlu 21 penerbangan lainnya,” kata dia sebelum melakukan penerbangan sisanya. Untuk menghabiskan sisa 21 perjalanan lain, Nielsen yang menggunakan airBaltic tersebut menyusun rencana perjalanannya untuk terbang bolak-balik dengan rute Riga dan Tallin. Kemudian sesekali mengambil perjalanan ke Liepaja atau Vilnius dan mengakhiri perjalanannya di Berlin, Jerman. Setelah dia menyelesaikan perjalanannya, airBaltic merayakan pencapaian tersebut dan mengundang Nielsen untuk mencoba simulator Boeing 737 di Riga. Walaupun masuk akal bagi mereka yang hanya beberapa penerbangan untuk mendapatkan status tier untuk terbang demi poin, 22 penerbangan tampaknya sedikit ekstrem. Mr Nielsen mengklaim bahwa ia hampir berstatus VIP meskipun hanya 2/3 dari total, dan 1/3 dari tingkat sebelumnya. CEO airBaltic, Martin Gauss mengatakan, ini tampak ekstrem dan maskapai harus mempertanyakan tanggung jawab penerbangan apakah benar-benar layak sebelum stastus VIP diberikan, apalagi dia membayar sendiri. “Kami memiliki manajemen cahaya, kami memiliki manajemen pendingin udara, kami ingin pergi untuk operasi tanah listrik. Jadi kami akan melakukan banyak hal pada keberlanjutan untuk mengurangi jejak kami lebih jauh dan saya pikir maskapai lain melakukan hal yang sama,” kata dia. Namun, dengan mempromosikan perjalanan udara Nielsen, airBaltic mengambil langkah kecil ke belakang. “Meskipun ini tentu saja merupakan prestasi bagi Mr Nielsen, saya tidak percaya bahwa itu adalah ide terbaik bagi maskapai untuk secara terbuka menghargai upaya tersebut. Saya tidak setuju dengan Mr Nielsen yang dihargai oleh maskapai, namun, dengan menghasilkan publisitas, Baltic berpotensi memberikan insentif kepada orang lain untuk pencapaian yang lebih baik,” tambah Gauss. Adanya perjalanan ini membuat maskapai berkomentar, karena sering terbang dan menyukai penerbangan, penumpang yang difilmkan di video VIP Run ingin mencapai status VIP untuk menikmati manfaatnya, yang membuat perjalanan lebih nyaman. Upaya yang ditingkatkan untuk mencapai status VIP ini adalah inisiatifnya, dan ia menanggung semua biaya untuk tiket penerbangan sendiri. Baca juga: Cathay Pacific Hadirkan Lounge Untuk Yoga dan Meditasi di Bandara Hong Kong Sebagai salah satu maskapai penerbangan paling inovatif secara global, airBaltic berkomitmen kuat untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan. Maskapai telah melakukan berbagai proyek dengan tujuan meningkatkan efisiensi bahan bakar dan mengurangi CO2 dan emisi lainnya.