Cedera dan Tak Bekerja Tujuh Bulan, Pramugari ini Gugat Mendiang Dolores O’Riordan

Seorang pramugari Aer Lingus menggugat penyanyi Dolores O’Riordan dengan tuduhan menyebabkan cedera dan tak bisa bekerja selama tujuh bulan. Carmel Coyne pramugari yang melaporkan mendiang Dolores tersebut saat itu terperangkap dalam insiden yang menyebabkan vokalis The Cranberries itu dikeluarkan dari pesawar Aer Lingus lima tahun yang lalu. Baca juga: Dipukuli Awak Kabin, Penumpang Pria Gugat American Airlines dan Tuntut US$160 Ribu Coyne juga menuntut maskapai Aer Lingus tempatnya bekerja itu atas insiden pada 11 November 2014 lalu. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thesun.co.uk (14/10/2019), proses pengadilannya sendiri dimulai awal 2017. Pada Senin (14/10/2019), Pengadilan Tinggi diberi tahu hari ini bahwa dia telah mengajukan permohonan untuk mengubah judul kasus tersebut untuk membawanya ke ahli waris milik penyanyi itu. Kemudian pengacara keluarga Dolores, Tadhg Dorgan, memberi tahu Hakim Charles Meenan bahwa perwakilan keluarga telah mengetahui akan gugatan tersebut. Hakim kemudian mengganti nama Dolores O’Riordan dengan nama perwakilan pribadinya yakni saudara laki-laiknya dan mantan akuntan The Cranberries Peter J O’Riordan dan mantan anggotan bandmate Nollaig Hogan, Riverwie Heights, Cahara, dan Glin Co Limerick. Insiden ini diceritakan pengacara Coyne, Emma Colleran bahwa, kasus ini terjadi pada 10 November 2014 lalu ketika kliennya adalah awak kabin senior Aer Lingus. Dolores yang menjadi penumpang dalam penerbangan itu diduga sengaja menyebabkan cedera pada Coyne dengan menginjak kakinya dan secara fisik menyerang dia serta membatasi Coyne untuk bergerak. Coyne mengklaim atas hal tersebut dirinya harus terkena pelanggaran hak privasi dan mencari nafkah. Di mana dalam insiden tersebut Coyne tidak bisa bekerja selama tujuh bulan. Dalam pembelaannya pada Juli 2017, Dolores membatah klaim tersebut padahal tahun 2016 lalu dia mengaku bersalah dan melarikan diri setelah hakim menuduhkan perkaranya. Di pengadilan distrik Ennis, hakim mengatakan Dolores telah melakukan headbutt dan meludahi seorang petugas yang datang untuk mengeluarkannya dari pesawat ketika mendarat di Shannon. “Aku ikon, aku Ratu Limerick,” teriak Dolores kala itu. Hakim mengatakan, memiliki kekurangan pada kesehatan mentalnya dan pernah dirawat dengan sukses karena gangguan afektif bipolar. Dia tidak akan diperlakukan berbeda dari yang lainnya. Baca juga: Jatuh dari Tangga Pesawat, Eks Pramugari Qantas Tuntut Rp4,5 Miliar untuk Cidera Permanen Sayangnya, pada 15 Januari 2018, Dolores ditemukan tewas di kamar mandi di kamar hotel di London. Mrs O’Riordan dirawat dengan sukses karena gangguan afektif bipolar dan tidak ada bukti dia merasa ingin bunuh diri, kata petugas koroner.

Bersihkan Rel dari Dedaunan, Inggris Mulai Gunakan ‘Dry Ice’ di Musim Gugur

Jalur kereta api Inggris sepanjang 32 ribu kilometer setiap musim gugur dipenuhi sekitar 50 juta daun yang jatuh dari pepohonan. Faktanya, daun-daun ini setiap terlindas roda kereta akan tergerus dan membentuk lapisan licin yang menyebakan kereta kehilangan tekanan saat melintas di rel. Baca juga: Musim Gugur Tiba, Southeastern Railway Kurangi Jadwal Perjalanan Kereta Petistiwa alam ini nyatanya membuat kereta berjalan lebih lambat di atas rel untuk meminimalkan kemungkinan tergelincir. Selain itu juga layanan kereta dikurangi untuk mencegah kecelakaan yang terjadi saat sistem persinyalan terganggun oleh daun gugur. Karena langkah keamanan tersebut menyebabkan keterlambatan, pembatalan dan pengurangan layanan setiap musim gugur dengan biaya penumpang £345 juta per tahun. Dilansir dri bbc.com (8/10/2019) oleh KabarPenumpang.com, para peneliti dari Universitas Sheffield telah mengembangkan dry ice (es kering) untuk menghilangkan daun di jalur kereta. Para peneliti di Universitas Sheffield telah mempelajari gangguan kereta musiman tersebut dan berinisiatif bekerja sama dengan Icetech Technologies. Solusi yang ditawarkan mencakup teknologi yang efisien dan berkelanjutan. Ini melibatkan sistem on-board untuk membantu kereta dalam pengereman, dan sistem pembersihan rel mandiri. Solusi baru ini menggunakan es kering (bentuk padat karbon dioksida), yang banyak digunakan dalam industri sebagai zat pendingin karena tidak meninggalkan residu yang berarti. Sistem tersebut menerapkan pelet es kering ke lintasan melalui pancaran udara yang kuat. Pelet ini dengan cepat membekukan dedaunan, dan kemudian meniupnya keluar dari rel saat sublimasi dan meluas menjadi gas, tanpa menyebabkan kerusakan pada trek atau meninggalkan residu. Mengalihkan jet air untuk es kering juga dapat meningkatkan efisiensi dengan meniadakan kebutuhan untuk membawa tangki air yang kikuk melintasi jalur yang panjang. “Solusi yang kami kembangkan adalah teknologi yang sepenuhnya berkelanjutan, menggunakan produk samping CO2 dari proses industri lainnya. Ini akan memberikan pengereman dan traksi yang lebih dapat diprediksi daripada teknologi saat ini, dan akan membantu meningkatkan kinerja kereta, mengurangi penundaan, meningkatkan kepuasan penumpang, dan mendukung penggunaan teknologi baru untuk memungkinkan pemanfaatan jaringan kereta api Inggris yang lebih besar,” kata Profesor Roger Lewis dari Departemen Teknik Mesin Universitas Sheffield. Baca juga: Hitachi Siap Digitalkan Perkeretaapian di Inggris, Seperti ini Caranya! Sistem ini akan diuji di lima rute pada musim gugur ini. Lima rute tersebut yakni Stocksbridge, Yorkshire Selatan, dan Sutton Park, West Midlands, untuk pengiriman; dan layanan penumpang Blackpool, West Highlands, dan Swansea. Penelitian ini didanai melalui panggilan Small Business Research Initiative (SBRI), Rail Safety and Standards Board (RSSB), Arriva Rail North, Network Rail dan University of Sheffield.

Topan Hagibis Landa Jepang, Kereta Cepat Shinkansen Sempat Tak Beroperasi Seharian

Baru-baru ini Topan Hagibis melanda Jepang dan lebih dari 50 orang meninggal dunia serta beberapa moda transportasi terpaksa tak beroperasi. Salah satunya adalah kereta cepat Shinkansen yang tidak bisa beroperasi dikarenakan jalurnya dipenuhi air banjir akibat hujan lebat saat badai melanda. Baca juga: Kenapa Kereta Tidak Bisa Menembus Rel Yang Tergenang Banjir? Ini Dia Jawabannya! East Japan Railway Company (JR East) mengatakan, sepertiga dari kereta peluru yang digunakan pada satu jalur telah rusak oleh banjir. Hal ini karena air dari sungai yang meluap dan memasuki fasilitas di Prefektur Nagano. Tak hanya itu listrik pun mati selama beberapa hari terakhir karena Topan Hagibis ini. Dilansir KabarPenumpang.com dari mashable.com (15/10/2019), rute kereta cepat dari Nagano ke Stasiun Joetsumyoko bahkan masih ditutup hingga Senin malam kemarin. Hal ini dikarenakan Depo Kereta Shinkansen di Nagano terendam banjir karena jebolnya tanggul sepanjang 70 meter dari Sungai Chikuma akibat derasnya arus air yang disebabkan Topan Hagibis. Akibatnya tujuh rangkaian kereta Shinkansen seri E7 dan W7 yang tersimpan di depo terendam banjir. Karena hal ini JR East dalam situs webnya mencantumkan operasional kereta Shinkansen yang ditangguhkan akibat Topan Hagibis. Seorang pelancong asal Indonesia, Indra Budiari mengaku dua hari yang lalu atau Minggu (13/10/2019) kereta Shinkansen seharian tidak beroperasi. “Dua hari lalu, seharian kereta Shinkansen tidak beroperasi, jadi pelancong yang mau pindah dari satu kota ke kota lain nggak bisa. Tapi kemarin (14/10/2019) sudah mulai banyak yang beroperasi cuma jalur-jalurnya tertentu saja yang masih terganggu,” ujar Indra ketika dihubungi KabarPenumpang.com (15/10/2019). Dia mengaku, akibat tak beroperasinya kereta Shinkansen, banyak pelancong yang menginap satu hari lagi di satu kota demi keamanan. Untuk diketahui, Topan Hagibis dikategorikan oleh Badan Perkiraan Cuaca milik Militer Amerika Serikat sebagai badai topan kategori 5. Baca juga: KA Porong, Mencoba Bertahan di Tengah ‘Kepungan’ Lumpur Lapindo Badai dengan kategori 5 pada Skala Saffir-Simpson merupakan badai topan dengan kekuatan tertinggi dengan kecepatan angin yang bisa mencapai 252 km per jam. Nama Hagibis sendiri berasal dari bahasa Tagalog, Filipina yang berarti kecepatan dan kekuatan.

Lufthansa Kehilangan Kucing Milik Penumpang di Bagasi Kargo

Seorang penumpang yang terbang dari Munich ke Washington DC harus kehilangan salah satu kucingnya pada 3 Oktober 2019 dalam pesawat Lufthansa. Molly McFadden pemilik kucing itu mengatakan, Milo (nama kucingnya) hilang setelah hewan itu masuk dalam kargo pesawat. Baca juga: Dianggap Lumrah, Burung Elang Masuk di Kabin Pesawat Maskapai Timur Tengah “Milo hilang saat diangkut dari landasan ke klaim bagasi kedatangan internasional di Bandara Internasional Dulles. Terlepas dari upaya terbaik, termasuk pencarian ekstensif di daerah itu, selebaran, anjing pelacak dan perangkap manusiawi, Milo belum ditemukan,” tulisnya di akun Facebooknya. Molly mengatakan, sebelum kehilangan salah satu dari dua kucingnya, dia memasukkan kedua kandang mereka ke kargo. Ini karena kandang dua kucing itu terlalu besar jika masuk dalam kabin. KabarPenumpang.com melansir travelandleisure.com (11/10/2019), saat tiba di klaim bagasi setelah melewati bea cukai pukul 20.30 dia melihat adanya seorang petugas dengan dua kandang. Dia melihat kucingnya yang bernama Beau masih berada di dalam tetapi Milo tidak ada. “Ada kait di keempat sudut kandang dan tidak satupun dari mereka masih melekat disitu. Awalnya pihak maskapai mengatakan bahwa mereka mencari di pesawat karena mereka percaya Milo melarikan diri pada penerbangan,” kata dia. Namun mereka juga mengatakan pintu itu sudah terbuka ketika melihat kandang itu ternyata sudah kosong. Ini membuat Molly tidak percaya kucingnya kabur dengan menarik pintu ke dalam. “Pada hari Senin, diketahui bahwa di suatu tempat danatara ketika dimuat atau masuk ke kargo pesawat kandang itu sudah rusak dan Milo melarikan diri,” tulis Molly lagi. Juru bicara Lufthansa Christina Semmel mengatakan, bahwa staf darat maskapai di Bandara Dulles memberikan situasi ini dengan perhatian yang tinggi. “Mereka telah mencari Milo dan telah mengirim email ke komunitas maskapai penerbangan di Bandara Dulles, anggota dari berbagai otoritas di sana, termasuk ground handler serta maskapai lain, meminta bantuan dalam pencarian. Tim kami juga memposting selebaran yang dibuat oleh pelanggan di lokasi berbeda di area ramp. Pencarian untuk Milo berlanjut dan staf darat kami berhubungan erat dengan penumpang, yang sedang diperbarui secara teratur,” kata Semmel. Molly menulis lagi, “Saya sangat ingin terbang kembali dengan (Milo dan Beau), dan Lufthansa kehilangan Milo adalah mimpi buruk yang bahkan tidak pernah saya pertimbangkan.” Baca juga: Gara-Gara Ikan, Mahasiswi Ini Dikawal Bak Kriminal Saat Masuk Pesawat Milo kucing kecil, dan itu dunia besar di luar sana. Molly mengambil kesempatan untuk berbicara tentang masalah kesejahteraan hewan dan perjalanan. “Pada tahap ini, kami bekerja berdampingan dengan pemilik dalam hal mencari Milo. Keselamatan hewan yang kami bawa selalu menjadi perhatian utama kami dan kami pasti mematuhi setiap langkah keamanan,” kata Semmel.

Giliran Robot YAPE yang Uji Kemampuan di Bandara Frankfurt

Era robotika yang berkecimpung di bandara agaknya sudah merambah ke Benua Biru, setelah pada tahun 2017 kemarin, sejumlah bandara seperti Incheon di Korea Selatan hingga Changi di Singapura, kini giliran Bandara Frankfurt yang menggunakan jasa robotika untuk melayani penumpang. Kendati statusnya masih uji coba, namun itu menandakan bahwa sebentar lagi Bandara Frankfurt juga akan mengikut-sertakan robot dalam pengoperasian sehari-hari. Baca Juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan Sebagaiamana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman internationalairportreview.com (4/10), adalah robot pemandu mandiri bernama YAPE, dikabarkan telah memulai uji coba dengan menemani penumpang ke gerbang keberangkatan dan membantu mereka untuk mengangkut barang-barang berukuran kecil. “Sebagai pemimpin dalam inovasi, kami terus berupaya untuk mendorong maju teknologi digital baru yang bertujuan untuk meningkatkan pengalaman perjalanan bagi penumpang kami,” kata Alexander Laukenmann, yang mengepalai unit Manajemen Terminal dan Airside di Fraport AG, Perusahaan transportasi Jerman yang mengoperasikan Bandara Frankfurt. “Tujuan kami mengoperasikan YAPE adalah untuk menguji aspek kecerdasan buatan (ariticifial intelligent) dan sistem robotik yang dapat membantu meningkatkan kualitas layanan di Bandara Frankfurt,” sambungnya. Dalam fase uji coba ini, penumpang dapat berbicara dengan YAPE melalui aplikasi yang ada di smartphone. Seperti yang sudah disebutkan di atas, YAPE juga dapat membantu membawa barang bawaan penumpang dengan cara dimasukkan ke dalam kompartemen kecil yang ada di tubuh mereka. Setelah selesai dengan urusan barang, maka YAPE siap untuk mendampingi Anda menuju gerbang keberangkatan. Adapun robot ini dapat bergerak bebas di seluruh terminal berkat disematkannya sistem navigasi yang terintegrasi. Di masa yang akan datang, pihak pengembang akan mengembangkan interaksi mandiri antara robot dengan penumpang – jadi tidak perlu lagi menggunakan smartphone. YAPE, yang merupakan singkatan dari ‘Your Autonomous Pony Express’ ini merupakan sistem robotika kembangan Yape Srl, dimana pihak pengembang mengungkapkan bahwa robot ini bisa mengangkut beban hingga 30kg dengan kecepatan sekitar 6km/jam. Baca Juga: Geser Yang “Manual,” Selamat Datang Era Robotika di Bandara Dilalah YAPE sudah terlatih untuk menghindari rintangan yang ada di depannya, namun kepadatan Bandara Frankfurt yang tercatat hingga menyentuh angka 69 juta pengunjung setiap tahunnya ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi robot tersebut. Kalau sudah seperti ini, mampukah YAPE bersanding dengan tenaga manusia dalam melayani penumpang kelak?

150 Tahun Trem “Cog” Masih Beroperasi ke Puncak Gunung Washington

Jika di Hong Kong terkenal dengan Peak Tram, di Washington, Amerika Serikat ternyata juga ada kereta semacam ini. Dikenal dengan nama Cog, kereta rack-and-pinion ini ternyata sudah mengangkut pelancong ke lereng barat puncak tertinggi di Timur Laut itu sejak 1869 silam. Cog sendiri bahkan menjadi kereta api pemanjat gunung pertama dan tertua di dunia. Baca juga: Eksistensi Peak Tram Hong Kong, Dulu dan Sekarang! Sebelum tiba di puncak Gunung Washington, dengan menaiki Cog ini, pelancong bisa menikmati pemandangan yang mengagumkan dan mengabadikannya baik foto maupun video. Puncak Gunung Washington tempat perhentian terakhir Cog termasuk observatorium cuaca dan museumnya. Selain itu tempat istirahat pengunjung yang lelah ketika berjalan kaki. Tak hanya menikmati ketinggian, pelancong yang suka menulis surat atau kartu pos, bisa mengirimnya dari kantor pos dengan cap pos Mount Washington. Di puncak Gunung Washington ketika tiba dengan Cog hanya ada satu bangunan bersejarah yang tersisa yakni Tip Top House yang dibangun tahun 1853 dari bongkahan batu gunung ketika meletus. “Tip Top adalah asrama pejalan kaki. Ada dua hotel di sana. Yang pertama dibakar, itu disebut Gedung KTT. Itu adalah 90 kamar hotel dan cukup elegan untuk saat itu, terutama (untuk hotel) di puncak gunung. Kemudian mereka membangun yang kedua dan dirobohkan, akhirnya, untuk membangun gedung pertemuan puncak negara saat ini,” kata Rebecca Metcalf, direktur pemasaran Cog yang dikutip KabarPenumpang.com dari metrowestdailynews.com (2/10/2019). Di musim panas, sebelumnya di kaki Gunung Washington, pelancong menunggu di Stasiun Marshfield yang menjadi markas Cog, di sana ada kafe, toko suvenir dan museum Cog. Sedangkan lokomotif menunggu di lintasan menunggu perjalanan berikutnya. Meski ketika musim panas suhu di bawah cukup terik, tetapi ketika tiba diatas gunung ini, pelancong akan mengalami penurunan suhu 20 derajat. Bisa dikatakan di puncak Gunung Washington suhu tidak menentu. Pada saat itu bahkan ada pertanyaan siapa yang akan membangun hotel dan kereta api di situ? Ternyata gagasan liar seperti itu berjalan beriringan, karena sistem perkeretaapian nasional berkembang pesawat membawa elite kota ke New Hampsire saat musim panas. Tahun 1857 silam, Marsh mendaki Gunung Washington dengan seorang teman. Karena tidak siap menghadapi cuaca, mereka hampir mati karena hipotermia. Marsh berpikir akan lebih baik membawa orang naik gunung dengan aman menggunakan kereta api. “Dia melihat berapa banyak uang yang dihasilkan oleh Auto Road, atau Carriage Road. Carriage Road adalah rute pertama ke Mount Washington dan masih populer. Dia melihat bisnis hotel yang booming dan tidak diragukan lagi melihat bagaimana hal itu menyalurkan pengunjung ke objek wisata,” kata Craig Clemmer, direktur penjualan dan pemasaran di Omni Mount Washington Hotel. Set kereta masih ada dan dikelola oleh para insinyur di toko mesin di dekat Stasiun Marshfield. Cog adalah industri yang serba lengkap dan hyperlocal yang dimulai dengan desain Marsh untuk rack-and-pinion, jalur kereta roda gigi yang disesuaikan, yang memungkinkan kereta api, juga desainnya, untuk menangani tanjakan yang curam. Mesin model skala kecil aslinya dapat dilihat di New Hampshire Historical Society di Concord. “Dia bukan insinyur terlatih, tetapi dia jelas memiliki kecerdasan untuk berhasil mengembangkan apa yang dikenal sebagai Sistem Marsh, dan merancang kereta api yang masih digunakan 150 tahun kemudian,” kata Clemmer. Dengan desain yang disempurnakan, Marsh mengajukan piagam negara bagian untuk membangun rel gunungnya tetapi diejek oleh Badan Legislatif New Hampshire. Baca juga: Alishan Forest Railway, Kereta Gunung Tertinggi di Asia “Mereka menertawakannya dan mengira dia orang gila. Marsh Gila, mereka memanggilnya,” kata Clemmer. Pada 3 Juli 1869, akhirnya kesempatan tersebut datang, musim panas itu, ketika Presiden Ulysses S. Grant sedang berlibur di Whites, dia mengendarai Cog mendaki gunung setinggi 6288 kaki.

Geser Dominasi 737 Series, Airbus Catatkan Pengiriman Unit ke-1000 Keluarga A320neo

Maskapai terkemuka asa India, IndiGo beberapa waktu belakang menjadi sorotan media massa, pasalnya maskapai ini menerima pesawat jet narrowbody A321neo special. Mengapa spesial? Karena ini merupakan pesawat ke-1000 dari keluarga A320neo yang dikirimkan Airbus kepada para pelanggannya yang tersebar di seluruh dunia. Tentu saja, pengiriman ini menjadi sangat berarti bagi pihak Airbus karena secara tidak tertulis, pihak produsen pesawat asal Eropa ini sudah berhasil menumbangkan kedigdayaan Boeing yang kini posisinya tengah tersandung sejumlah kasus. Baca Juga: Di Balik Prahara Boeing 737 MAX 8, Mampukah Airbus ‘Curi’ Ceruk Pasar? Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airway1.com (13/10), IndiGo sendiri diketahui sebagai pelanggan keluarga A320neo terbesar di dunia, dengan total 224 pesawat Airbus yang dioperasikan dan 345 lainnya masih dalam tahap pemesanan. Adapun model keluarga A320neo pertama diterima oleh pihak maskapai pada Maret 2016 silam, dan berselang kurang lebih tiga setengah tahun kemudian (Oktober 2019), pihak maskapai telah mengoperasikan 129 unit Airbus A320-200, 89 unit A320neo, dan enam unit A321neo. Bergeser ke pihak produsen, seri A320 neo merupakan salah satu produk yang luar biasa dan kompleks dama industri kedirgantaraan global – dimana ada empat jalur perakitan pesawat ini yang tersebar di seluruh dunia, mulai dari Hamburg, Amerika Serikat, Perancis, dan Cina. A320neo sendiri memulai debutnya di udara pada Januari 2016 bersama Lufthansa sebagai operator perdananya. Seiring berjalannya waktu, pihak Airbus mulai melakukan perubahan pada pesawat ini, terbukti dengan ditawarkannya opsi baru bagi pihak maskapai yang ingin lebih menghemat bahan bakar hingga 15 persen. Adapun opsi mesin untuk pesawat ini adalah CFM International LEAP-1A dan Pratt & Whitney PW1000G – keduanya didaulat dapat melakukan penghematan bahan bakar sekitar 16 persen ketimbang turbofan generasi sebelumnya. Penghematan dari segi bahan bakar ini juga berdampak pada penurunan biaya perawatan hingga 20 persen besarnya. Baca Juga: Hadir dengan Beragam Fitur Terbaru, Kenapa Penjualan A330neo Masih Lesu? Varian narrowbody milik Airbus ini tentu menjadi sorotan utama setelah moda serupa milik saingannya, Boeing dengan keluarga 737 MAX-nya kini tengah dilanda musibah besar-besaran. Setelah varian 737 MAX terpaksa di-grounded-kan secara massal pasca dua kecelakaan maut yang melibatkan Lion Air dan Ethiopian Airlines dalam rentang waktu kurang lebih lima bulan ini, kini isu terbaru yang menyerang tubuh perusahaan asal Amerika Serikat ini adalah ditemukannya retakan pada varian 737 NG. Bisakah ini disebut sebagai momen lengsernya Boeing dari tahta tertinggi penyedia pesawat jet komersial di dunia?

Di Paspor ‘Tertulis’ 123 Tahun, Kakek ini Terlihat Seperti 90 Tahun Karena Rajin Yoga

Seorang manusia dengan usia lebih dari 100 tahun sangat jarang ditemukan dan baru-baru ini petugas Bandara Abu Dhabi dikejutkan oleh hal itu. Pasalnya dalam paspor Swami Sivananda tertulis dirinya dilahirkan di Behala, India pada 8 Agustus 1896 atau 123 tahun yang lalu. Baca juga: Dianggap Lumrah, Burung Elang Masuk di Kabin Pesawat Maskapai Timur Tengah Karena hal ini, foto paspor dan Swami viral di media sosial dan menjadi perbincangan warganet. Banyak yang kagum dengan usia kakek itu dan berkomentar bahwa wajahnya terlihat berusia antara 85-90 tahun. Seorang warganet, Abu Jihad berkomentar usia Swami hampir dua kali lipat usia Liga Arab yang didirikan tahun 1945 silam. Adanya ini pun banyak warganet yang skeptis dengan klaim paspor tersebut dan mengutip kurangnya dokumentasi yang tepat sebagai alasan usia lanjut pria asal India itu. “Usia ini sering tidak benar karena kurangnya dokumen identitas dan data yang tersedia di masa lalu. Sementara tanggal kelahiran mungkin akurat untuk beberapa orang dan ada orang tua yang tidak dapat mengingat semua tanggal ketika anak-anak mereka dilahirkan,” ujar warganet Bint Bilaad Al Harmain. Dilansir KabarPenumpang.com dari gulfnews.com (7/10/2019), penemuan ini meski viral tetapi Direktorat Jenderal Urusan Reidensi dan Asing (GDRFA/ General Directorate of Residency and Foreigners Affairs) di Bandara Internasional Abu Dhabi tidak menanggapinya. Sedangkan Etihad, maskapai yang ditumpangi Swami dari Kolkata menuju London tersebut dan singgah di Dubai itu mengatakan, tidak ada batasan usia untuk perjalanan udara karena mereka selalu menerbangkan orang-orang dari segala usia. “Selama Anda cocok untuk terbang, sebenarnya tidak ada batasan usia untuk perjalanan udara. Etihad menerbangkan orang-orang dari segala usia setiap hari, dari bayi bungsu ke centenarian, dan kami berkomitmen untuk memastikan bahwa semua tamu kami dijaga dengan baik,” kata Etihad melalui sebuah pernyataan. Viralnya foto paspor milik Swami yang terlihat tampak lebih muda dari usia aslinya, dia mengaku rajin melakukan gerakan yoga, disiplin dan hidup selibat. “Saya menjalani kehidupan yang sederhana dan disiplin. Saya makan sangat sederhana hanya makanan rebus tanpa minyak atau rempah-rempah, nasi dan daal rebus (rebusan lentil) dengan beberapa cabai hijau,” kata Swami. Baca juga: Etihad dan Emirates, Jadi Maskapai Paling Ramah Bagi Keluarga Sejauh ini orang tertua yang pernah ada adalah Jeanne Louise Calment dari Perancis, yang mencapai usia 122 tahun dan 164 hari. Orang tertua yang saat ini masih hidup dan diakui oleh Guinness Book of World Records adalah Kane Tanaka dari Jepang, berusia 116 tahun dan 278 hari.

Sepanjang Januari-Agustus 2019, Lion Air Group Telah Melayani 245.547 Flight

Sebagai kelompok maskapai terbesar di Indonesia, Lion Air Group melayani 245.547 penerbangan dalam dua kuartal (semester satu) tahun 2019. Periode ini sejak Januari hingga Agustus kemarin di mana layanan penerbangan tersebut tidak ada perbedaan berarti dengan periode yang sama di tahun 2018. Baca juga: Mulai Rp1 Jutaan, Lion Air Group Tawarkan Harga Promo Jelajah Sumatera Utara Corporate Communications Strategic Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro mengatakan adapun jumlah layanan ini terbagi dengan tiga kode penerbangan berbeda yaitu Lion Air (JT), Wings Air (IW) dan Batik Air (ID). Adapun pembagian layanan frekuensi terbang yakni Lion Air 106.688, Wings Air 79.534 dan Batik Air 59.325. “Jumlah ini tidak ada perbedaan yang signifikan dari tahun lalu. Soalnya kalau ada pembukaan rute baru rute yang lain menyesuaikan,” kata Danang kepada KabarPenumpang.com, Senin (14/10/2019). Dia mengibaratkan bila ada satu rute seperti dari Jakarta ke Surabaya biasanya sepuluh frekuensi penerbangan tetapi ternyata hanya delapan atau sembilan. Lalu dia menambahkan, frekuensi bisa ada penambahan dan pengurangan bila ada market baru dengan rute baru. Danang mengatakan, sebagai bentuk kesungguhan Lion Air Group untuk mendukung pemerintah, pihaknya akan memperkuat jaringan 245.547 tersebut. Selain itu seluruh operasional termasuk pengembangan bisnis yang dilakukan Lion Air Group diharapkan mampu menjawab tren atau dinamika pasar serta melengkapi pengalaman melancong dengan minat perjalanan dengan moda udara baik antarkota maupun antarnegara. Tak hanya jumlah layanan penerbangan, On Time Performance (OTP) atau tingkat ketepatan waktu Lion Air mencapai 83,23 persen, Wings Air 75,93 persen dan Batik Air 91,34 persen. Perhitungan ini sesuai dengan laporan Integrated Operation Control Center (IOCC) Lion Air Group secara tepat waktu dan bersamaan (real time). Diketahui, Lion Air melayani 43 kota tujuan domestik dan 44 tujuan internasional yang meliputi Singapura, Malaysia, Cina dan Saudi Arabia. Wings Air 124 tujuan dalam negeri dan satu regional serta Batik Air 43 rute domestik dan 15 internasional. Baca juga: Didera Kabut Asap, Level OTP Lion Air di September 2019 Mencapai 74,07 Persen Untuk meningkatkan minat bepergian dan menambah pengalaman pelanggan, Lion Air terbang dengan pesawat terbaru, saat ini mengoperasikan 64 Boeing 737-900ER (215 kursi kelas ekonomi), 38 Boeing 737-800NG (189 kursi kelas ekonomi), tiga Airbus 330-300 (440 kursi kelas ekonomi). Di kuartal kedua, Lion Air sudah menerima dua Airbus 330-900NEO sebagai pengguna pertama di Asia Pasifik.

Metode Penyimpanan Beda-Beda di Kereta, Yakin Sepeda Bisa Keangkut?

Mengendarai sepeda menjadi salah satu hal yang menyenangkan apalagi bisa membantu mengurangi polusi udara. Tapi bagaimana jika moda transportasi lain tak mendukung untuk membawa sepeda kemanapun Anda pergi? Baca juga: Berkiblat ke Eropa dan Jepang, Ridwan Kamil Usulkan Pembuatan Gerbong Khusus Sepeda Seperti seorang pekerja yang tinggal di pinggiran Oxford tetapi bekerja di tengah kota dan menggunakan sepeda untuk berangkat kerja. Pekerja tersebut juga ternyata membawa sepedanya ketika berliburan dan acara perkumpulan sepeda tetapi harus menggunakan transportasi lain untuk membantunya pergi. Salah satunya ketika menggunakan kereta api, sepeda bisa saja disimpan di gerbong barang untuk memudahkan pelancong yang hendak bepergian. Tetapi ternyata kini setiap perusahaan kereta memiliki aturan berbeda ketika bepergian dengan kereta api. Tak hanya itu metode penyimpanan sepeda dalam gerbong kereta pun juga berbeda-beda. Dilansir dari oxfordtimes.co.uk (8/10/2019) oleh KabarPenumpang.com, ada beberapa kereta api yang memiliki satu sisi gerbong untuk penyimpanan sepeda atau bagasi atas kursi penumpang. Ini memang lebih mudah diakses tetapi membutuhkan banyak ruang di kereta. Pada kereta berkecepatan tinggi, sepeda yang dibawa penumpang atau pelancong disimpan secara vertikal di bilik sempit. Anda bisa mendapatkan ruang untuk sepeda jika gerbong itu belum penuh koper dan tas. Ada beberapa kereta yang meletakkan tanda gerbong sepeda untuk memudahkan penumpang, tetapi bila tidak ada, mau tak mau Anda harus bertanya kepada petugas agar membantu menemukan gerbong khusus itu. Bahkan ada sebuah kejadian di mana penumpang yang naik kereta untuk kembali ke Oxford dari Gloucester harus terjebak selama sepuluh menit agar satu sepeda bisa dikait untuk mengganjal sepeda kedua disebelah dalamnya. Ini membuat jalur tidak ramah aksesibilitas. Selain itu kehadiran sepeda elektronik membawa berita baik tentang peningkatan mobilitas dan kemandirian terutama bagi orang tua. Tetapi kereta ini bisa masuk ke kereta berkecepatan tinggi jika Anda bisa mengangkatnya di atas kepada. Selain itu jika sepeda gunung dengan setang lebar hal ini tidak ada kesempatan. Tak hanya itu, adapun skenario mimpi buruk yang bisa dirasakan pengguna kereta dengan sepedanya adalah ketika sudah memesan ruang sepeda tetapi sudah penuh. Yang paling menyakitkan lagi jika ada pembatalan perjalanan kereta dan penumpang digantikan perjalanannya dengan sebuah bus. Di mana bus tidak mengizinkan sepeda untuk dibawa masuk. Mereka harus menjadi mitra perjalanan aktif rendah karbon dalam masyarakat yang menghadapi krisis lingkungan dan kesehatan dalam waktu dekat. Ada pasar yang besar dan terus berkembang di kalangan pengendara sepeda santai, penglaju dan pelancong yang suka berpetualang tetapi diabaikan oleh perusahaan kereta api di Inggris. Baca juga: “Right Bike,” Bantu Temukan Sepeda yang Tepat Bagi Pengendara Tanda membaik, dengan papan platform yang menunjukkan di mana ruang sepeda akan berada di kereta berikutnya. Pekerjaan kelompok kampanye seperti Cyclox, suara bersepeda di Oxford, melobi jaringan siklus yang aman dan terhubung akan membuka inklusivitas dan aksesibilitas perjalanan jarak jauh yang ramah lingkungan.