Adopsi Kecerdasan Buatan dan Robotika, Hitachi Rail Siap Hadirkan Stasiun Masa Depan

Pabrikan kereta api Hitachi Rail dikabarkan telah menerbitkan konsep untuk ‘stasiun masa depan’, yang bakal memberdayakan beragam kemajuan teknlogi seperti robot dan teknologi digital. Tidak lain dan tidak bukan, hadirnya konsep ini akan meningkatkan pengalaman penumpang. Hadirnya konsep ini menyusul penggunaan robot lain yang ada di beberapa infrastruktur lain, seperti Troika di Bandara Incheon, Korea Selatan hingga robotika lain di bandara Jepang. Namun, tidak banyak operator di luar sana yang mengoperasikan robot di stasiun kereta. Baca Juga: Robot AI Mudahkan Pelancong Asing dan Lokal di Stasiun Osaka Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (16/10), pihak Hitachi membayangkan apa jadinya jika teknologi kecerdasan buatan atau yang dikenal sebagai Artificial Intelligent (AI) dioperasikan berbarengan dengan teknologi robotika di dalam sebuah stasiun. Adapun teknologi robotika yang digunakan di sini akan berperan sebagai robot pemandu penumpang di sekitar stasiun. Gunanya? Ya untuk membimbing penumpang apabila mereka kebingungan atau tersesat di dalam stasiun. Selain itu pihak Hitachi juga kabarnya akan menguji teknologi prototipe yang mampu memangkas antrean di jalur pembelian tiket. Sejatinya, pemberdayaan teknologi semacam ini sudah terlebih dahulu diuji coba di Bandara Haneda, Tokyo pada tahun 2017 silam, dimana robot yang memiliki nama EMIEW3 ini mampu membimbing penumpang dan berbicara dalam beberapa bahasa. Jika para penumpang ini puas dengan pelayanan yang diberikan oleh EMIEW3 ini, maka sejatinya pengalaman penumpang akan bertambah dan menaikkan reputasi dari bandara tersebut – sejatinya inilah yang diharapkan Hitachi ketika mengenalkan konsep serupa di stasiun kereta di Jepang. Atau mungkin tidak hanya Jepang, melainkan beberapa negara di luar Negeri Matahari Terbit ini. Baca Juga: Robot Vortex – Robot Kecil yang Lakukan Maintenance Pada Badan Pesawat Besar “Stasiun kereta api Inggris dapat mengalami revolusi di tahun-tahun mendatang karena kami memanfaatkan terobosan terbaru dalam teknologi kecerdasan buatan dan sistem robotika,”ujar Direktur Penjualan dari Hitachi Rail, Nick Hughes. “Konsep kami tentang stasiun cerdas sudah menjadi kenyataan, dengan banyak teknologi ini sudah diuji coba di Jepang dan Eropa,” sambungnya.

Indian Railway Hadirkan Kereta Promosi, Berpenumpang Bintang Bollywood

Ide unik baru-baru ini dihadirkan oleh Indian Railway untuk meningkatkan pendapatan, yaitu dengan menghadirkan kereta khusus yang ditumpangi bintang film di dalam gerbongnya. Kehadiran kereta khusus ini diizinkan dipesan secara komersial untuk kegiatan promosi baik seni, budaya, bioskop, televisi, olahraga dan lainnya. Baca juga: Tejas Express, Kereta Api India Pertama yang Akan Dioperasikan Swasta KabarPenumpang.com melansir dari laman livemint.com (16/10/2019), The Indian Railway Catering dan Tourism Corporation (IRCTC) telah ditunjuk menjadi operator kereta tersebut, bahkan baru-baru ini IRCTC bekerja sama dengan Western Railway untuk berkoordinasi untuk membawa Akshay Kumar yang menjadi bintang utama Housefull 4 beserta artis lain, meninggalkan Stasiun Mumbai Central pada Rabu ini dan tiba di New Delhi Kamis (17/10/2019). Kereta ini akan menarik delapan gerbong. Menurut keterangan tertulis yang dikeluarkan oleh Kepala Humas Western Railway, Ravinder Bhakar, kereta tersebut akan melewati beberapa negara bagian dan distrik-distrik penting seperti Surat, Vadodara dan Kota. “Di bawah prakarsa ini, perkeretaapian telah mendekati banyak rumah produksi besar dengan film-film yang akan hadir untuk menggunakan kereta Full Tariff Rates (FTR) dan memfasilitasi dalam publisitas artis dan promosi film,” ujarnya dalam keterangan tertulis. Nantinya pada kereta khusus ini, IRCTC akan menghadirkan hal-hal menarik dan tematik untuk kegiatan promosi, ditambah kereta tersebut akan merambah berbagai negara bagian dan distrik. Pada Selasa (15/10/2019), Menteri Kereta Api Piyush Goyal menandai sembilan kereta ‘Sewa Layanan’ yang menghubungkan kota-kota kecil ke kota-kota besar. Goyal mengatakan sembilan kereta “Sewa Layanan” diluncurkan tanpa investasi tambahan dan itu merupakan contoh bagaimana menggunakan sumber daya secara maksimal. Baca juga: India Operasikan DEMU untuk Layani Jalur Kereta Terpendek Dari sembilan kereta ‘Sewa Layanan’, yang akan mengular dari Delhi dan Shamli, Bhubaneswar dan kota Nayagarh, Murkongselek dan Dibrugarh dan Coimbatore dan Palani akan berjalan setiap hari. Sedangkan kereta lainnya dari Vadnagar ke Mehsana, Asarya ke Himmatnagar, Karur ke Salem, Yesvantpur ke Tumkur dan Coimbatore ke Pollachi akan beroperasi enam hari seminggu.

Kasus Boeing 737 MAX: Joint Authorities Technical Review Lakukan Kritik Sertifikasi Pada FAA

Joint Authorities Technical Review (JATR) merilis laporan mengenai nasib Boeing 737 MAX dimata para investor. Laporan ini menghasilkan 71 halaman dengan 12 rekomendasi perbaikan yang berkaitan dengan Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) atau kelayakan sistem anti stall pada pesawat. Baca juga: Benarkah Boeing Gadaikan Faktor Keselamatan 737 MAX Demi Kas Perusahaan? JATR dalam laporannya jug mengkritik Federal Aviation Administration (FAA) dan Boeing dalam pemberian sertifikasi laik terbang pada pesawat jenis itu. Sehingga laporan ini menyarankan FAA untuk meninjau kepatuhan Boeing MAX dengan pedoman yang ada. KabarPenumpang.com merangkum dari barrons.com (14/10/2019), JATR mengungkapkan FAA dan Boeing gagal menjamin kelayakan sistem anti stall atau MCAS saat proses sertifikasi pesawat Boeing 737 MAX. Sistem ini mengontrol posisi pesawat jika kehilangan daya angkat (stall). Padahal seharusnya pihak Boeing maupun FAA memiliki antisipasi saat uji sertifikasi tentang apa yang harus dilakukan pilot jika sewaktu-waktu terjadi stall dan posisi pesawat terbalik. Masalah ini yang menjadi penyebab utama kecelakaan fatal pada Lion Air JT-610 pada Oktober 2018 dan Ethiopian Airlines ET-302 yang menewaskan 346 penumpang dan awak. Sistem baru ini selain harus diuji secara menyeluruh juga awalnya didesain untuk memudahkan penerbangan. Sayangnya MCAS justru membingungkan pilot karena perubahan prosedur dan mekanisme yang berbeda dengan pesawat Boeing lainnya. Adanya hal ini, Boeing berdalih dengan mengatakan sistem MCAS bukanlah sistem baru. Panelis juga menemukan tim penguji dari FAA tidak mempunyai kemampuan dan pengetahuan terkait sistem MCAS dan bisa dikatakan proses sertifikasi mengalami cacat. “Seharusnya sebelum diajukan sertifikasi kepada FAA, Boeing merekrut pengawas eksternal untuk mengecek dan menguji sistem kontrol tersebut,” tulis JATR dalam laporan tersebut. Panelis juga meminta FAA untuk lebih kritis dengan mendesak Boeing mengirimkan lebih dari satu skenario gagalnya sistem anti-stall sebagai pencegahan. Sebab analisis pencegahan terhadap satu kasus saja tidak cukup. Menanggapi laporan tersebut, Pejabat FAA Steve Dickson menerima hasil kajian dan rekomendasi yang diberikan tim panelis demi keamanan penerbangan. “Peristiwa yang terjadi di Indonesia dan Ethiopia menjadi pengingat bahwa FAA dan pihak regulator lainnya untuk bekerja lebih giat demi meningkatkan keamanan penerbangan,” ujar Steve. Pada hari yang sama dengan dirilisnya laporan tim panel itu, Dewan Direksi Boeing juga mencopot jabatan chairman dari Dennis Muilenburg dan mengangkat pemimpin direksi independen, David Calhoun, sebagai non-executive chairman. Namun Muilenberg tetap menjabat sebagai CEO dan presiden perusahaan Boeing. Penggantian itu, menurut Boeing, dilakukan untuk memperkuat “manajemen keamanan” perusahaan. Seorang chairman di sebuah perusahaan bisa mengawasi kebijakan yang diambil oleh CEO. Oleh karena itu rangkap jabatan chairman dan CEO biasanya berpeluang mengurangi transparansi dan akuntabilitas perusahaan. Baca juga: Serupa Kasus Lion Air JT-610, Kuat Dugaan Sensor Angle-of-Attack Ethiopian Airlines ET-302 Juga Bermasalah Diketahui saat proses sertifikasi Boeing hanya menyerahkan skenario terburuk jika sistem anti-stall gagal. Dalam skenario anti stall, sudut Angle of Attack (AOA) di satu sisi pesawat membesar, dan di sisi sayap lainnya salah. Karena dianggap skenario tersebut menjadi paling parah, Boeing tak mengirimkan skenario lain berikut pencegahannya.

Macron dan Angela Merkel Gelar ‘Rapat’ Bahas Masa Depan Airbus di Kabin A350

Presiden Perancis, Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman, Angela Dorothea Merkel dikabarkan melakukan pertemuan baru-baru ini guna membicarakan tentang konflik perdagangan transatlantik yang melibatkan bantuan ‘ilegal’ pemerintah terhadap pabrikan pesawat asal Eropa, Airbus. Pertemuan dua sosok penting ini terlihat intim, dimana keduanya melakukan perjalanan mengelilingi fasilitas pabrik Airbus SE yang ada di Toulouse, Perancis. Adapun tur ini merupakan simbol yang menunjukkan solidaritas kedua negara dalam menghadapi situasi yang tengah menegang. Baca Juga: Konflik Industri Dirgantara AS vs Eropa, Cina Coba Curi Ceruk Pasar Lagi? Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bloomberg.com (16/10), tampak di sela pertemuannya, kedua tokoh negara ini kemudian masuk ke dalam salah satu varian wide body milik Airbus, A350 untuk menyantap penganan yang telah disediakan. Di dalam salah satu tangkapan lensa kamera, tampak Emmanuel Macron dan Angela Dorothea Merkel duduk berhadapan dengan dikawal oleh penjagaan yang cukup ketat di dalam pesawat. Tampak juga pesawat sejatinya masih belum rampung sepenuhnya – terlihat dari dinding di dalam kabin yang masih dipenuhi dengan sejumlah kabel dan instrumen lain yang akan menunjang pengoperasiannya kelak. Tentu saja hal ini menjadi menarik untuk dibahas mengingat jarang sekali pertemuan kepala negara dihelat di dalam sebuah pesawat yang masih dalam proses perakitan. Walaupun terkesan panas karena belum terlihatnya sistem pendingin di dalam kabin, namun sejatinya Emmanuel Macron tampak menikmati momen santap siang unik ini. “Saya ingin bertemu lagi dengan Angela Merkel di Toulouse guna membicarakan masa depan dan mempertahankan industri kedirgantaraan (Airbus) yang tengah diselimuti oleh ketegangan ini,” tulis Emmanuel Macron dalam media sosial Twitter pribadinya (16/10). Baca Juga: Borong 300 Pesawat dari Airbus, Inikah Strategi Cina Menangkan Perang Dagang dengan AS? “Industri ini akan kami pertahankan, mengingat ada banyak orang hebat dibelakang nama besar Airbus yang telah menunjukkan kemampuannya untuk keberhasilan bersama,” sambung Sang Presiden. Sebelumnya, situasi perang dagang yang terjalin antara Amerika Serikat dan Cina agaknya masih kurang greget bagi Negara Adikuasa, sehingga AS kini mencari rival baru, yaitu Uni Eropa. Rencananya, Presiden AS Donald Trump akan mengenakan tarif sebesar 10 persen pada produksian Airbus yang masuk ke Negeri Paman Sam. Bahkan, ide gila Trump ini disetujui oleh World Trade Organization (WTO) atas kasus pemberian subsidi ilegal pemerintah Uni Eropa terhadap Airbus.

Etihad dan Air Arabia Kerjasama Hadirkan Low Cost Carrier Baru!

Kabar mengejutkan datang dari Timur Tengah, dimana maskapai Etihad Airways dan maskapai berbiaya rendah Air Arabia menyetujui kerjasama untuk membangun layanan penerbangan berbiaya murah pertama di Uni Emirat Arab. Kerja sama ini dihadirkan guna memenuhi permintaan pelancong yang akan berimplikasi pada peningkatan pendapatan dari sektor pariwisata. Jika tidak ada aral melintang, maka nama yang dipilih untuk maskapai berbiaya rendah ini adalah ‘Air Arabia Abu Dhabi’. Baca Juga: Low Cost Carrier, Ubah Peta Pasar Penerbangan Dunia Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thenational.ae (16/10), adapun maskapai baru ini rencananya akan beroperasi dari Bandara Internasional Abu Dhabi dan akan mendukung rencana perubahan di tubuh Etihad. “Kemitraan yang menarik ini mendukung program transformasi kami dan akan menawarkan sesuatu yang baru kepada para pelancong, yaitu perjalanan murah dari dan ke Abu Dhabi. Nantinya ini akan melengkapi layanan kami sendiri,” ungkap Kepala Eksekutif Etihad Aviation Group, Tony Douglas. “Kami berharap. maskapai baru ini dapat diluncurkan sesegera mungkin,” sambungnya.

Upaya kerja sama dengan Air Arabia ini merupakan kemitraan besar pertama Etihad Airways setelah mundur dari strategi pertumbuhan anorganik melalui investasi saham minoritas dalam maskapai global. Ini telah mengalihkan fokusnya pada lalu lintas point-to-point daripada mengangkut penumpang lintas dunia antar benua.

Hingga saat ini, belum ada keterangan lebih lanjut terkait kapan maskapai baru ini akan beroperasi, berapa besaran saham yang dipegang oleh Etihad dan Air Arabia, hingga pesawat apa saja yang akan bernaung di bawah nama Air Arabia Abu Dhabi. Jika kelak maskapai baru ini beroperasi, maka Air Arabia Abu Dhabi akan menjadi maskapai kelima yang terdaftar di Uni Emirat Arab dan maskapai berbiaya rendah ketiga di region yang sama.

Baca Juga: Dielukan dan Selalu Dicari, Inilah Serba Serbi Low Cost Carrier

Adapun nanti, dewan direksi dari Air Arabia Abu Dhabi ini akan ditunjuk oleh eksekutif yang ada di Etihad dan Air Arabia. Selain itu, para eksekutif di dua maskapai ini juga akan mengarahkan strategi independen dan mandat bisnis dari Air Arabia Abu Dhabi.

Ke Singapura Naik Singapore Airlines, Bisa Pinjam WiFi Router dan Akses Internet Gratis!

Berwisata ke Singapura nampak kian menyenangkan, bagi Anda wisatawan pemegang tiket pergi pulang dari Singapore Airlines dan SilkAir, kini mendapat tawaran untuk peminjaman WiFi router berikut akses internet secara gratis. Ini memudahkan setiap pelancong untuk kebutuhan akses data tanpa dipusingkan masalah beban biaya roaming data. Baca juga: Sewa Modem WiFi Portable Kini Jadi Favorit Pelancong Ketika di Luar Negeri KabarPenumpang.com melansir dari laman airlineratings.com (15/10/2019), untuk menghadirkan WiFi router portable ini, Singapore Airlines bekerja sama dengan DataPro Technologies. Syarat untuk bisa mendapatkan WiFi router portable gratis, penumpang harus berusia 16 tahun keatas dan bisa digunakan selama tiga hari dua malam dengan kuota data sebesar 2GB. WiFi router ini memiliki daya tahan baterai yang cukup panjang yakni 12 jam dan bisa mendukung lima perangkat seluler. Bila kuota yang diberikan habis dan penumpang masih menetap di Singapura, mereka bisa memperpanjangnya hingga sepuluh hari dan mendapatkan data sebesar 50GB. Namun masa perpanjangan tersebut tidaklah gratis, karena penumpang akan dikenakan biaya $12 atau Rp124 ribu. DataPro mengatakan, jaringan mereka cukup cepat untuk melakukan panggilan video, menonton streaming, berselancar di media sosial, menggunakan peta digital dan memeriksa email. Pihak Singapore Airlines merekomendasikan peminjaman router WiFi portable dengan cara memesan secara online sebelum tanggal perjalanan mereka melalui www.singaporeair.com/free3d2nwifi. Setelah itu, ketika penumpang tiba di Bandara Internasional Changi, mereka dapat menuju hotspot pengambilan di hotel Crown Plaza Bandara Changi dengan membawa nomor referensi pemesanan pelanggan penerbangan Singapore Airlines maupun SilkAir untuk menebus WiFi portable tersebut. Baca juga: Perluas Ekspansi, JavaMifi Gandeng Singapore Airlines Pelanggan tanpa pemesanan juga dapat melakukan hal yang sama, tetapi ini akan tergantung pada ketersediaan berdasarkan stok yang ada. Perangkat WiFi router harus dikembalikan ke stasiun hotspot di Changi pada saat kepulangan mereka dari Singapura dan maskapai akan mengungkapkan data pribadi kepada DataPro Technologies sesuai dengan kebijakan privasi.

GoJek Hadirkan Tiga Fitur Baru, Permudah Penjemputan Penumpang

Pengguna aplikasi GoJek, kini akan lebih mudah ketika akan memesan layanan GoRide ataupun GoCar. Pasalnya GoJek belum lama meluncurkan fitur baru yakni untuk panduan titk jemput terdekat, titik jemput dengan foto dan layanan GoRide serta GoCar Instan. Baca juga: GoFood dan GoPay Kini Jadi Andalan GoJek Selain “Ride Hailing” Pada fitur baru ini, GoJek ingin mengkampanyekan #GakPakeLama dan peluncurannya dilakukan di Plaza Transit Moda Raya Terpadu (MRT) Lebak Bulus, Jakarta pada Selasa (15/10/2019) kemarin. KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, kehadiran fitur baru merupakan komitmen GoJek dengan memberikan layanan yang nyaman, mudah dan cepat bagi para pelanggan. VP Transport Marketing GoJek, Monita Moerdani mengatakan ketiga fitur terbaru tersebut bisa mempercepat penjemputan para pelanggan oleh pengemudi. Fitur-fitur ini bisa diakses melalui pemesanan pada aplikasi GoJek versi terbaru. Berikut panduan tiga fitur baru yang akan memudahkan pelanggan. 1. Panduan Titik Jemput Terdekat Panduan ini membantu pelanggan memesan layanan GoRide ataupun GoCar saat berada di lokasi yang kurang familiar. Nantinya fitur itu akan merekomendasikan titik penjemputan yang mudah ditemukan oleh para pengemudi. Sehingga pelanggan tak lagi perlu mengetik alamat penjemputan secara manual. 2. Titik Jemput dengan Foto Ini unik dan berbeda dengan yang lain, di mana titik jemput untuk GoRide dan GoCar yang ada di area keramaian seperti perkantoran, hotel serta pusat perbelanjaan sudah dilengkapi dengan foto. Hal tersebut mempermudah pelanggan dalam menemukan titik jemput yang dipilih. 3. GoRide dan GoCar Instan Layanan secara instan atau bisa dikatakan dipesan on the spot akan dilengkapi dengan solusi pengelolaan antrian sehingga mengurangi waktu tunggu pelanggan dan mengurangi kemacetan di area penjemputan yang ramai seperti terminal maupun stasiun. Monita mengatakan, peluncuran GoRide instan sendiri adalah bentuk sinergi GoJek dengan moda transportasi massal dan pemerintah. “Gojek menjadi penyedia layanan feeder transportation”. Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, Syafrin Liputo, mengungkapkan bahwa Pemprov DKI Jakarta berkomitmen untuk mempersembahkan smart mobility bagi masyarakat Ibu kota, melalui keberadaan transportasi umum yang terintegrasi. Baca juga: Saingan GoJek dan Grab, “Anterin” Bisa Pilih Pengemudi Suka-Suka Sebelumnya, fitur GoRide Instan dan GoCar Instan sudah dapat digunakan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Stasiun Depok Baru dan Stasiun MRT Jakarta Dukuh Atas serta Stasiun Commuter Line Sudirman. Di luar ibu kota, kedua fitur juga akan segera tersedia di beberapa kota seperti Bandung, Surabaya, Semarang, Medan dan Makassar.

LRT Jabodebek Siap Uji Coba, Bagaimana Tarif, Headway dan Kapasitas Keretanya?

Light Rail Transit (LRT) Jabodebek meski belum 100 persen selesai atau tepatnya progres penyelesaian baru 78,5 persen, akan mulai uji coba untuk koridor Cibubur-Cawang pada 18 Oktober-18 November 2019. Uji coba ini bisa dimulai setelah kereta buatan PT INKA tersebut diangkat ke depo Stasiun Harjamukti, Cibubur. Baca juga:  Dilengkapi 17 Stasiun, LRT Jabodebek Siap Mengular di 2021 Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, satu rangkaian kereta (trainset) yang diangkat ke atas rel menggunakan Gantry Crane tersebut terdiri dari enam kereta (car). Berbeda dengan kereta milik LRT Jakarta, satu rangkaian kereta LRT Jabodebek ini mampu mengangkut 750 sampai 1200 penumpang sekali jalan dan ditargetkan kapasitas sehari mampu mengangkut 15 ribu penumpang dapat tercukupi. Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri mengatakan, saat ini sudah ada enam trainset yang tersedia untuk di uji coba di depo sementara. Dia menambahkan nantinya secara keseluruhan akan ada 31 rangkaian kereta untuk koridor Cawang-Cibubur, Cawang-Kuningan-Dukuh Atas, Dukuh Atas-Bekasi Timur. Zulfikri mengatakan, kereta yang diproduksi oleh PT INKA ini memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 60 persen. Dalam pengoperasiannya nanti untuk headway atau jarak kedatangan antar kereta direncanakan tiga hingga enam menit sekali lintas dari Stasiun Harjamukti menuju ke Cawang dan sebaliknya. Dalam masa uji coba ini, pihak pemerintah juga mulai membicarakan tarif untuk LRT Jabodebek. Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan, tarif LRT jakarta akan dipatok flat Rp12 ribu, mirip dengan skema LRT Jakarta yang menetapkan tarif flat Rp5 ribu. Dia menjelaskan tarif tersebut merupakan tarif subsidi yang diberikan pemerintah sebesar 50 persen. Sedangkan untuk harga komersial sendiri sebelum adanya subsidi, LRT Jabodebek meperkirakan sekitar Rp25 ribu. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Divisi LRT Jabodebek PT KAI (Persero) John Roberto. “Penetapan tarif Rp12 ribu itu dilihat dari tarif keekonomian kita. Kalau kita hitung (tarif LRT Jabodebek) sekitar Rp30 ribu tapi pemerintah memandang masyarakat itu mampu Rp12 ribu flat sekali jalan,” kata dia. Baca juga: Tak Kunjung Rampung, LRT Jabodebek Lintasan Kuningan-Dukuh Atas Terganjal Masalah! Tak hanya tarif, bahkan pihak LRT Jabodebek juga sudh merencanakan bisa terintegrasi dengan moda lainnya yang akan memudahkan penumpang. Salah satunya yakni terintegrasi dengan KRL. LRT Jabodebek sendiri diperkirakan akan beroperasi di koridor Cibubur-Cawang pada 2021 mendatang dan saat ini proyek pengerjaannya terus dilakukan, sedangkan rute hingga Bogor diproyeksi rampung di tahun 2022.

Manchester, Bandara dengan Waktu Pemeriksaan Keamanan Paling Lama di Inggris

Terkenal dengan klub sepak bolanya, Manchester United dan Manchester City, siapa sangka Bandara Manchester ternyata dinobatkan sebagai salah satu bandara dengan waktu tunggu untuk pemeriksan keamanan paling lama di dunia. Bukan hanya sekedar isapan jempol semata, pernyataan di atas didapatkan dari survei online yang melibatkan kurang lebih 4.000 penumpang. Walhasil, penumpang berharap agar otoritas bandara bisa mereduksi waktu tunggu penumpang. Baca Juga: Rahasia di Bandara yang Tak Semua Diketahui Penumpang Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman telegraph.co.uk (15/10), adapun waktu tunggu yang ada di Terminal 1 mencapai 17 menit, sedangkan di Terminal 2 dan 3 waktu tunggunya mencapai 15,5 menit. Waktu tunggu tersebut tentu berada jauh di atas Bandara Heathrow Terminal 5 yang rata-rata hanya menghasilkan waktu tunggu 8,6 menit saja. Tentu saja, ini merupakan perbandingan waktu yang sangat lama, mengingat waktu tunggu penumpang di bandara tercepat diraih oleh Bandara Southampton dan Bandara London Southend yang hanya memakan waktu tunggu rata-rata 5,2 menit. Ini menjadi menarik untuk dibahas, terutama perihal, “apa yang membuat waktu tunggu penumpang di bandara bisa melonjak segitu tingginya,” Adalah prosedur keamanan bandara yang katanya membuat waktu tunggu di bandara menjadi lama. Namun tentu saja Anda tidak bisa melewatkan bagian ini begitu saja, mengingat Anda tidak akan pernah bisa masuk ke dalam pesawat tanpa adanya pemeriksaan menyeluruh terhadap Anda dan barang bawaan. Dari sini, mulai tampak visi dari bandara yang ingin berusaha untuk memangkas waktu tunggu tersebut dengan menghadirkan teknologi mutakhir yang dapat secara signifikan memangkas waktu tunggu penumpang. Seorang penulis di Travel Editor, Rory Boland mengatakan bahwa, “Sangat jarang sekali ada maskapai yang menunda keberangkatan karena ada penumpangnya yang masih ‘terperangkap’ di antrian pengecekan keamanan.” “Sejatinya, antrean penumpang di bagian keamanan berada di luar kontrol dari pihak maskapai,” sambung Rory. Namun, pihak Bandara Manchester melalui salah satu juru bicaranya mengatakan, “Bahkan kala peak season, waktu tunggu rata-rata maksimum adalah lima menit enam detik, pada Juli 2019,” Di sini, tampak ada dua perbandingan angka yang cukup signifikan, dimana penumpang mengatakan waktu tunggu di Bandara Manchester mencapai belasan menit, sedangkan pihak bandara mengatakan waktu tunggu kala peak season saja hanya berkisar lima menit – dengan asumsi waktu tunggu di low season lebih rendah. Baca Juga: Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia Terlepas dari semua itu, ada baiknya Anda selalu datang jauh lebih awal ketimbang waktu keberangkatan Anda. Bukan melulu ingin memotong waktu istirahat Anda atau menyiksa karena harus menunggu cukup lama di bandara. Namun seperti yang sudah digambarkan di atas, ada yang namanya estimasi waktu tunggu penumpang yang harus melewati bagian pemeriksaan keamanan. Jadi, jangan sampai waktu liburan Anda terenggut begitu saja hanya karena antrean keamanan di bandara!

Joanna Chiu: Kepala Biro Surat Kabar yang Sukses Hentikan Pelecehan Seksual di kabin

Ketika terbang di malam hari, memang tidur sangatlah nikmat untuk melepaskan kelelahan seharian. Namun bagaimana bila saat akan tidur tetapi penumpang dibelakang Anda seperti akan melakukan tindakan tidak pantas dan membuat terjaga karenanya? Baca juga: Pelecehan Seksual, Pramugari Dipaksa ‘Nyebokin’ Penumpang Hal ini dirasakan seorang kepala biro surat kabar The Star Vancouver an Toronto Star, Joanna Chiu. Dia memulai ceritanya tentang tindakan mengerikan dan menjadi viral karena dibagikan melalui Twitter. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk, Chiu saat itu berbagi cerita tentang seorang gadis dilecehkan seorang penumpang pria yang duduk disebelahnya dalam penerbangan. “Saya naik pesawat dari persinggahan malam hari dan sangat lelah dan harus tidur sendiri tetapi tidak bisa menghindari apa yang terjadi di barisan belakang saya,” tulis Chiu dalam akun Twitter miliknya. Dia menulis lagi, seorang pria dengan umur di akhir 30-an jelas senang duduk di sebelah seorang remaja yang terpisah dari anggota keluarga lainnya. Pria tersebut mulai bertanya-tanya tentang rencana karir remaja tersebut. “Pria itu tertawa dan memberikan nasihat konyolnya saat remaja itu berkata dia ingin menjadi CEO,” tulisnya lagi. Gadis itu ramah kepada orang asing yang banyak bicara, tetapi Chiu merasa ada sesuatu yang menyeramkan ke tingkat baru dengan godaan dan mengajaknya makan malam beberapa kali yang diabaikan remaja perempuan itu. “Pada titik ini aku harus tetap terjaga kalalu-kalau ada yang lebih jauh dari itu,” ujar Chiu. Yang ditakutkan Chiu pun terjadi, dimana pria itu meminta foto sambil mencondongkan tubuh ke arah remaja wanita tersebut. “Aku berbalik dan membisikkan amarah persis apa yang aku pikirkan tentang itu dan dia tidak mengatakan apa-apa dan pergi ke toilet,” ujar Chiu. Ternyata tidak hanya Chiu yang mendengar percakapan pria dengan remaja perempuan tersebut, wanita lain yang duduk tepat dibelakang gadis itu pun mengatakan, bahwa dia harus berpindah duduk. Karena hal tersebut, Chiu kemudian memberitahukan kepada awak kabin terkait situasi yang terjadi dan ketika pria itu kembali ke kursinya, awak kabin memintanya untuk pindah. “Faktanya dia menolak untuk pindah, lalu mulai bersumpah pada saya dan meminta untuk berbicara dengan bos. Kemudian awak kabin berkata, ‘Saya bos, ini sangat serius dan kami bisa mendaratkan pesawat karena hal ini,'” tulisnya di Twitter. Pria itu akhirnya berganti tempat duduk dan sementara Chiu mengatakan situasinya ditangani dengan baik, dia khawatir bahwa hanya penumpang wanita yang tampaknya memperhatikan pertukaran yang tidak pantas. “Mungkin sesama wanita lebih cenderung menangkap tanda-tanda peringatan sejak awal dalam percakapan karena kita dulu adalah gadis remaja juga,” katanya. Baca juga: [18+] Hampir Separuh Pramugari di Jerman Pernah Alami Pelecehan Seksual! “Semua orang dewasa harus waspada dan tahu ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk campur tangan bahkan ketika kejahatan belum secara teknis dilakukan,” katanya.