Cepat Temukan dan Cegah Pencurian Bagasi, Universitas di India Hadirkan Solusi di Ban Berjalan

Barang bawaan seperti koper dari bagasi kargo sering telat bahkan dalam beberapa kasus ada yang hilang, padahal penumpang sudah menunggu di ban berjalan pada terminal kedatangan. Hal ini membuat tim dari Lovely Professional University (LPU) di Punjab menghadirkan sistem dengan solusi baru untuk memudahkan penumpang menemukan barang mereka di ban berjalan (conveyor belt).

Baca juga: Bayi Macan Tutul Lemas Setelah Disembunyikan di Dalam Tas Bagasi Kargo

Dilansir KabarPenumpang.com dari airport-technology.com (25/6/2019), sistem ini juga membantu penumpang mengingat untuk mengambil barang berdasarkan merek. LPU mencatat meski sistem keamanan yang ketat ada di sebagian besar bandara, tetapi masalah kehilangan dan pencurian bagasi masih sering terjadi.

Tak hanya itu, bandara juga belum memiliki sistem untuk menemukan atau melacak bagasi, sehingga penumpang kerap menunggu lama untuk bisa mengambil barang mereka dari ban berjalan.

Mahasiswa Teknik Elektronika dan Komunikasi di LPU Pawan Kumar Raghav mengatakan, pihaknya menggunakan teknologi pembuatan basis data penumpang yang ada di bandara bersama dengan teknologi yang paling banyak digunakan untuk logistik dengan barcode yang menggerakkan sistem. Bagasi pada ban berjalan akan dapat dilacak oleh penumpang dan diberitahukan terkait jadwal kedatangan bagasi mereka di LCD yang ditempatkan tidak jauh dari ruang tunggu.

“Selama proses, sistem pintar kami yang ditempatkan di gerbang keluar memverifikasi keaslian pemilik bagasi,” kata Raghav.

Para peneliti mengatakan sistem akan ditempatkan di ban berjalan di mana papan pajangan yang terkait akan menunjukkan perkiraan waktu kedatangan bagasi dengan rincian penumpang. Penumpang dapat maju sesuai perkiraan waktu kedatangan untuk mengambil barang bawaan dan keluar dari pintu bandara.

Kemudian saat keluar, sistem akan memindai dan mengautentikasi detail bagasi yang terkait dengan penumpang dan mencocokkannya dengan database terpusat. Gerbang hanya akan terbuka jika detailnya ternyata benar, sehingga hanya pemilik sah yang dapat mengambil bagasi mereka. Jika penumpang meninggalkan barangnya di ban berjalan, sistem akan mengingatkan penumpang tersebut untuk mengambil bagasi mereka.

“Kami telah membuat hubungan antara bagasi dan penumpang. Jika penumpang membawa bagasi melalui gerbang keluar yang tidak terkait dengannya, sistem pintar kami akan mengingatkan dan tidak membiarkan penumpang keluar dari bandara. Dengan demikian sistem kami membantu penumpang selama pengambilan bagasi dari ban berjalan serta melindungi bagasi dari pencurian,” katanya.

“Selama penelitian, kami tidak dapat menemukan sistem yang menyediakan layanan serupa dengan. Solusi kami sangat membantu untuk menyelesaikan masalah-masalah ini yang belum diatasi sejauh ini. Penumpang yang membayar sejumlah besar karena tiket pesawat akan mendapat manfaat dari teknologi ini. Kehilangan bagasi mereka akan dicegah dan mereka juga akan dengan mudah mengambil barang-barang mereka di bandara,” kata Gurjot Singh Gaba, Asisten Profesor di LPU.

Baca juga: Tiga Jam Menanti, Bagasi Penumpang Ryanair Baru Keluar dari Baggage Carousel

Para peneliti telah mengajukan permohonan paten untuk sistem tersebut, yang menurut mereka telah dipilih untuk komersialisasi oleh National Research Development Corporation (NRDC). Biaya teknologi akan tergantung pada jumlah conveyor belt. “Karena sebagian besar infrastruktur sudah ada, maka biaya implementasi tidak akan menjadi tantangan,” kata Gaba.

Gunakan Satu Jenis Pesawat, Jadi Jurus AirAsia Tetap Efisien dengan Harga Tiket Terjangkau

Siapa sih yang tidak ingin mendapatkan tiket pesawat dengan harga murah? Namun pertanyaan ini agaknya sedikit retoris dan kenyataan di lapangan menunjukkan fakta yang sebaliknya. Ya, masifnya pemberitaan media tentang tingginya harga tiket pesawat memang sudah membumbung sejak sebelum Hari Raya Idul Fitri kemarin, dan hal ini sedikit banyaknya berpengaruh terhadap minat mudik para pendatang untuk kembali ke kampung halaman – terutama yang berasal dari luar Pulau Jawa.

Baca Juga: Ekspansi Bisnis Besar-Besaran, AirAsia Berencana untuk Ganti Slogan!

Beberapa waktu yang lalu, Pemerintah sempat terjun langsung untuk mengatasi polemik ini – yaitu dengan ‘mengancam’ akan mengijinkan maskapai asing untuk membuka rute domestik di Indonesia. Di tengah kondisi seperti ini, ada satu maskapai yang seolah tidak terinterupsi oleh isu mahalnya harga tiket penerbangan. Ya, AirAsia!

Para pemain di sektor aviasi ini mengeluhkan tingginya harga tiket yang ditawarkan kepada penumpang lantaran harga avtur yang tinggi, pajak, hingga menguatnya kurs dollar terhadap rupiah. Namun hal-hal ini seolah tidak berlaku bagi AirAsia dan tentu Anda pasti bertanya-tanya, apa rahasianya AirAsia tetap bisa mengontrol harga jual tiketnya kepada penumpang?

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Direktur Utama AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan mengatakan, pihaknya berupaya melakukan efisiensi di semua unsur pengoperasiannya.

“Kenapa kami bisa murah atau efisien? Satu, kami hanya operasikan Airbus A320. Satu tipe. Ini memudahkan managing human resources kami. Pilotnya, krunya, engineer-nya ya cuma satu sertifikatnya untuk A320,” ujar Dendy, dikutip dari laman Kompas.com (25/6/2019).

“Jadi ini nilai plus kami dibandingkan maskapai lain yang mengoperasikan tipe pesawat lain. Kalau kami ada yang sakit, pilot cadangan bisa langsung menggantikan. Itu dari sisi kru,” imbuhnya.

Ternyata strategi yang dilakukan oleh AirAsia Indonesia ini berdampak pada tetap stabilnya harga tiket dari maskapai berbiaya rendah asal Malaysia – bahkan, AirAsia Indonesia masih getol memberikan berbagai macam promo kepada penumpang.

“Saya bisa sampaikan bahwa harga kami, tarif kami AirAsia Indonesia masih yang paling terjangkau saya rasa,” terangnya.

Terkait dengan adanya himbauan dari Pemerintah untuk menurunkan harga tiket pesawat, Dendy dengan lantang menyebutkan bahwa himbauan tersebut ditujukan bagi para rivalnya.

Baca Juga: Siap Saingi AirAsia, Scoot Minat Buka Rute Domestik di Indonesia

“Kami tidak usah turunkan pun, harga kami selama ini selalu yang paling terjangkau. Kami rasa mungkin imbauannya itu bukan ke kami. Kami sudah murah kok,” ujar Dendy, dikutip dari laman sumber lain.

“Kalau mungkin bisa lebih murah lagi kenapa tidak, pasti akan kami lakukan (penurunan tarif). Kami selalu akan patuh, kalau dari pemerintah ada surat secara resmi menyampaikan spesifik rute yang diharapkan AirAsia memberikan diskon,” jelasnya.

 

Mulai 25 Juni, Citilink Layani Penerbangan Rute Palembang–Muara Bungo

Maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink Indonesia resmi meluncurkan rute penerbangan Palembang – Muara Bungo yang mulai beroperasi pada 25 Juni 2019 lalu. Diperkenalkannya rute Palembang – Muara Bungo tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Citilink Indonesia dalam memperluas jaringan konektivitas intra Sumatera khususnya pada sektor penerbangan Palembang.

Baca juga: Mulai 21 Juni, Citilink Resmi Buka Penerbangan Jakarta-Phnom Pehn

Selain memperkenalkan destinasi baru Muara Bungo, Citilink Indonesia juga turut meresmikan rute penerbangan Palembang – Tanjung Karang pp dan Palembang – Padang pp yang juga telah resmi beroperasi sejak tanggal 25 Juni 2019 lalu.

Adapun ketiga rute penerbangan baru rute intra Sumatera tersebut dioperasikan dengan menggunakan pesawat ATR 72-600 berkapasitas 72 penumpang.

“Pembukaan tiga rute baru ini merupakan bentuk komitmen Citilink Indonesia untuk memperluas jaringan penerbangan di Indonesia dan sekaligus sebagai upaya untuk turut serta mendukung program pemerintah untuk membuka akses konektivitas antar daerah di Indonesia khususnya di Sumatera,” ujar VP Corporate Secretary & CSR Citilink Indonesia Resty Kusandarina yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Kamis (27/6/2019).

Resty menambahkan Citilink Indonesia berharap bahwa penerbangan ini dapat memberikan nilai tambah kepada pengguna jasa dengan memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin bepergian dari Palembang menuju Muara Bungo, Padang, Tanjung Karang maupun sebaliknya.

“Melalui peluncuran rute ini, kami berharap dapat memberikan ragam pilihan koneksi penerbangan yang lebih memudahkan bagi pengguna jasa untuk terbang dari Palembang menuju Muara Bungo, Tanjung Karang dan Padang dengan pilihan waktu penerbangan yang lebih singkat dan nyaman,” jelas Resty.

Adapun pada penerbangan tiga rute baru ini harga tiket yang ditetapkan sudah termasuk bagasi 10 kg dan penumpang mendapatkan snack serta air mineral secara gratis.

Penerbangan rute Palembang – Muara Bungo selanjutnya akan dilayani tiga kali seminggu, yakni pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu dan dijadwalkan berangkat dari Palembang pukul 08.25 dengan QG 1960 dan tiba di Muara Bungo pukul 09.30. Sedangkan penerbangan sebaliknya dijadwalkan berangkat dari Muara Bungo pukul 10.20 dengan QG 1961 dan tiba di Palembang pukul 11.20.

Untuk penerbangan rute Palembang – Tanjung Karang selanjutnya akan dilayani setiap hari dan dijadwalkan berangkat dari Palembang pukul 11.50 dengan QG 1952 dan tiba di Tanjung Karang pukul 12.50. Sedangkan penerbangan sebaliknya dijadwalkan berangkat dari Tanjung Karang pukul 20.20 dengan QG 1955 dan tiba di Palembang pukul 21.25.

Baca juga: Di Tengah Lesunya Pasar, Mulai Juni Citilink Buka Penerbangan Langsung ke Phnom Penh

Sedangkan penerbangan rute Palembang – Padang selanjutnya akan dilayani tiga kali seminggu, yakni pada hari Rabu, Jumat dan Minggu dan dijadwalkan berangkat dari Palembang pukul 06.40 dengan QG 1940 dan tiba di Padang pukul 08.20. Untuk penerbangan sebaliknya dijadwalkan berangkat dari Padang pukul 09.10 dengan QG 1941 dan tiba di Palembang pukul 11.00.

Roger Béteille – Mantan Pilot Uji yang Dikenal Sebagai “Bapak” Pendiri Airbus

Kabar duka datang dari produsen instrumen kedirgantaraan asal Eropa, Airbus yang baru saja ditinggal pergi untuk selamanya oleh salah satu pendirinya, Roger Béteille. Ya, Roger dikabarkan menghembuskan nafas terakhirnya pada tangga 14 Juni 2019 kemarin. Kendati Roger bukanlah orang yang secara pribadi mendirikan Airbus, namun jasa dan pengabdiannya kepada Airbus membuatnya dijuluki “Bapak” dari perusahaan yang bermarkas di Leiden, Belanda.

Baca Juga: Jóhanna Sigurðardóttir – Mantan Pramugari yang Sukses Menjadi Perdana Menteri Islandia

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (25/6/2019), Roger meninggal di usianya yang ke 97 tahun – lahir di Averyon, Perancis pada 21 Agustus 1921.

Pada masa remajanya, Roger sempat mengenyam di salah satu lembaga pendidikan publik di Perancis, École Polytechnique dan mendalami soal Corps de l’armement (Korps Persenjataan). Setelah dirasa cukup, Roger lalu kembali mengambil jenjang pendidikan di Supaéro, semacam sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi yang terletak di Toulouse, Perancis. Terakhir, Roger mengenyam bangku pendidikan di Centre des hautes études de l’armement – semacam pusat studi tingkat lanjut di sektor persenjataan).

Di tahun 1943, Roger mengabdi kepada Sud Aviation – eks pabrikan kedirgantaraan milik pemerintah Perancis, dan dua tahun berselang, Roger diangkat untuk menjadi pilot. Lalu pada tahun 1952, ia ditunjuk oleh perusahaan untuk menguji coba pesawat baru, dimana ini menjadi batu loncatan bagi Roger untuk terus mendalami sektor aviasi. Ya, di tahun-tahun berikutnya, Roger dipercaya menjadi salah satu pilot uji pesawat baru pada perusahaan hasil merger dari Sud-Est dan Sud-Ouest tersebut.

Singkat cerita, ide pertama Roger untuk memindahkan pabrik perakitan terakhir Airbus di Toulouse yang dicetuskan oleh Roger ternyata menjadi cikal bakal majunya perusahaan tersebut. Pemindahan pabrik ini ditujukan agar masyarakat bisa mengawasi langsung proses perakitan pesawat di Airbus.

Satu momen prestisius di tubuh Airbus yang mencakup nama Roger di dalamnya adalah ketika Airbus meraup keuntungan luar biasa dari penjualan varian A300 kepada Eastern Airlines pada tahun 1977. Karir Roger di Airbus semakin gemerlap manakala ia turut berkecimpung dalam pengembangan sejumlah jalur pesawat di Airbus hingga di tahun 1984, Roger menjadi salah satu aktor utama di balik kesuksesan Airbus dalam peluncuran varian A320.

Baca Juga: Suthida Tidjai – Mantan Pramugari Thai Airways yang Kini Jadi Ratu Thailand

Satu quote dari Roger Béteille yang akan selalu dikenang oleh pihak Airbus adalah:

“Saya yakin Airbus tidak akan pernah bisa lepas landas hanya dengan satu pesawat, dan pelanggan potensial pasti akan terus bertanya-tanya: Apakah Airbus masih akan tetap eksis 10 atau bahkan 20 tahun mendatang?”

Hal lain yang tidak boleh dilupakan dari seorang Roger Béteille adalah, ia juga salah seroang yang turut memperjuangkan teknologi kontrol fly-by-wire yang kini sudah diadopsi oleh hampir semua pesawat penumpang komersial yang ada di dunia.

Selamat jalan, Roger Béteille!

 

Target Penumpang Tercapai, PT MRT Jakarta Optimis Pendapatan di 2019 Capai Rp350 Miliar

Bagaimana penumpang Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta setelah tiga bulan beroperasi? Ternyata penumpangnya meningkat dan target 65 ribu penumpang per hari pun sudah tercapai.

Baca juga: Garap TOD di Stasiun Layang, MRT Jakarta Siap Bangun Transit Plaza di Lebak Bulus

Bahkan pada hari libur Lebaran penumpang MRT melonjak hingga 90 ribu orang per harinya. Direktur Operasi dan Pengembangan PT MRT Jakarta Muhammad Effendi mengatakan saat ini pattern kenaikan penumpang terlihat jelas. Dimana setiap hari Senin jumlah penumpang menurun dan Jumat hingga akhir pekan meningkat.

“Kalau hari Senin 80 ribu penumpang, hari Jumat sore bisa mencapai 90 ribu penumpang per harinya,” kata Effendi, Rabu (26/6/2019).

Dia mengatakan saat ini stasistik lonjakan penumpang terjadi pada Hari Perayaan Ulang Tahun DKI Jakarta dimana ada 106.601 orang yang naik MRT Jakarta. Namun bila di total selama bulan Juni 2019 penumpang rata-ratanya 80 ribu orang per hari yang naik MRT Jakarta.

Effendi menyebutkan lonjakan penumpang terjadi di jam sibuk pagi hari dan malam hari karena penumpang berangkat dan pulang kerja. Dia mengatakan, dari data yang didapat pihaknya, jumlah penumpang tertinggi berangkat dari Lebak Bulus ke arah Bundaran HI, tertinggi kedua dari Bundaran HI menuju Lebak Bulus dan Blok M menjadi stasiun teramai ketiga.

Tak hanya itu saat ini PT MRT Jakarta juga yakin bisa menghasilkan pendapatan sebesar Rp350 miliar di 2019. Hal ini dikatakan Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar yang menyebutkan pendapatan tersebut melalui tiket dan pendapatan non fare box atau diluar dari tiket.

Pendapatan non tiket tersebut bersumber dari empat sektor yakni kerja sama penamaan stasiun, iklan, telekomunikasi dan retail.

“Kerja sama penamaan stasiun dan periklanan masing-masing berkontribusi sebesar 40 persen dari pendapatan non tiket, sedangkan telekomunikasi dan retail masing-masing berkontribusi sebesar 10 persen. Untuk kerja sama penamaan stasiun, PT MRT Jakarta telah bekerja sama dengan BCA untuk penamaan Stasiun Blok M sehingga kedepannya bakal berubah nama menjadi Stasiun Blok M BCA,” kata William.

Saat ini, PT MRT Jakarta sedang berproses untuk kerja sama penamaan empat stasiun yaitu Stasiun Bendungan Hilir, Senayan, Cipete Raya dan Blok A. Selain itu, seluruh provider telekomunikasi seluler pun telah bekerja sama dengan PT MRT Jakarta.

Baca juga: Depo di Ancol Barat, MRT Jakarta Fase II Punya Tujuh Stasiun

“Terbaru adalah Indosat, jadi sekarang sudah lengkap providernya,” ungkap William.

William mengatakan pihaknya saat ini menargetkan besaran pendapatan tiket pada 2019 mencapai Rp175 miliar. Pendapatan non tiket awalnya sempat ditargetkan mencapai Rp100 miliar. Namun, dengan melihat animo dari mitra swasta William yakin pendapatan non tiket bisa digenjot menjadi Rp175 milliar.

Selain itu, saat ini sudah ada beberapa penumpang yang mendapatkan peringatan terkait tidak boleh makan danminum, duduk di sekitaran peron (ngemper) hingga memencet tombol darurat di kereta. Effendi mengatakan, pelanggar ini harusnya dikenakan denda Rp500 ribu, namun kali ini pihaknya masih menegur dengan baik.

“Kita tegur secara halus, kalau di ulang lagi denda akan kami terapkan. Yang paling parah adalah ibu yang anaknya memencet tombol darurat di kereta sebanyak tiga kali. Itu kita tindak tegas, kalau di bilang tidak mampu kita minta agar mereka meminta keterangan dari RT bila tidak sanggup membayar (seperti surat keterangan tidak mampu),” tambah Effendi.

Garap TOD di Stasiun Layang, MRT Jakarta Siap Bangun Transit Plaza di Lebak Bulus

Setelah tiga bulan mengular di jalanan ibu kota, PT MRT Jakarta mulai menata kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD). Dalam rancangan yang dibuat PT MRT Jakarta, konsep pengembangannya akan dilakukan di sekitar kawasan stasiun layang MRT, mulai dari Stasiun ASEAN hingga Lebak Bulus.

Baca juga: Bangun TOD di Lebak Bulus, MRT Jakarta Lalukan Studi Pengembangan dengan Wijaya Karya

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, tengah melakukan pengembangan Transit plaza dekat Stasiun Lebak Bulus. Ini untuk memudahkan pengendara online maupun transportasi umum lainnya bisa dengan mudah menaik turunkan penumpang.

Stasiun Haji Nawi dengan Ornamen Betawi

Selain itu, nantinya Stasiun Lebak Bulus sendiri akan terhubung dengan Poins Square yakni dengan jembatan penghubung, seperti yang terbangun di Stasiun Blok M ke Blok M Plaza.

“Transit plaza yang akan kita bangun itu bekas kantor MRT di Lebak Bulus. Sehingga untuk menaik turunkan penumpang menuju ke stasiun tidak terlalu jauh. Kita buat jembatan penyeberangan orang dari Stasiun Lebak Bulus ke Poins Square ini semua dikerjakan oleh pihak pengelola,” kata William, Rabu (26/6/2019).

Dia menjelaskan pembangunan jembatan penyeberangan orang atau skybridge yang menghubungkan Stasiun Lebak Bulus dan Poins Square akan memakan waktu 5-6 bulan. Bahkan dia mengatakan, nantinya akan ada bagian di Stasiun Lebak Bulus yang bisa digunakan sebagai ruang pameran.

Tak hanya TOD Lebak Bulus, sekitaran Stasiun ASEAN dan Blok M akan dikembangkan menjadi satu bagian yang berkonsep Garden City. Menurut William, konsep ini dambil karena sekitaran Stasiun ASEAN dan Blok M banyak taman dan membuat jalur tersebut hijau.

Nantinya setelah selesai mengembangkan tiga lokasi tersebut, PT MRT Jakarta juga akan melanjutkannya ke stasiun Haji Nawi dan Fatmawati sekitar bulan Juli, Agustus hingga September. William menambahkan, untuk Stasiun Haji Nawi, konsep dari TOD nya adalah komunitas dimana dibuat untuk pusat kegiatan kearifan lokal yang inklusif dan aktif.

Baca juga: Depo di Ancol Barat, MRT Jakarta Fase II Punya Tujuh Stasiun

“Kita buat TOD dengan tema komunitas, karena daerah sini banyak orang Betawi jadi bisa dikembangkan dengan tradisionalnya,” tambah William.

Namun, William mengaku untuk pengembangan stasiun MRT bawah tanah labih sulit pembangunan TOD dibandingkan dengan stasiun layang. Pasalnya kawasan sekitaran stasiun MR bawah tanah adalah kawasan yang lebih berkembang dimana perkantoran dan pusat perbelanjaan ada di sekitarnya.

Abaikan Aturan, Wartawan AsaI Inggris Biarkan Anjing Piaraannya Tidur di Kursi Kereta

Seekor anjing duduk di kursi kereta dalam perjalanan dari London ke West Country. Anjing tersebut milik seorang wartawati senior asal Inggris kelahiran Kanada, Emily Maitlis. Foto anjing bernama Moody yang tidur di kursi tersebut menjadi viral dan mengecewakan para pengguna kereta.

Baca juga: Asik Berlenggak-lenggok di Rel, Satu Keluarga Angsa Buat Kereta Api Tertahan 30 Menit

KabarPenumpang.com melansir laman dailymail.co.uk (24/6/2019), Great Western Railway mengatakan, pihaknya mengizinkan hewan peliharaan naik kereta tetapi tidak di kursi. Karena hal ini para kritikus mengatakan, harusnya penjaga kereta atau pemeriksa tiket menegurnya.

Emily kemudian mengklaim Moody tidur bukan untuk mencegah penumpang lain duduk. Dia menjelaskan bahwa anjingnya ada di bawah meja selama tiga jam pertama dan ada yang duduk disekitarnya.

“Dia naik ke kursi 17 menit terakhir perjalanan ketika kursi sebelah saya kosong,”ujar Emily.

Seorang sumber mengatakan, ada banyak ruang dikereta dan foto yang diambil penumpang tidak puas itu menunjukan ada penumpang lain yang tidur dengan mengangkat kakinya ke kursi sebelah. Viralnya foto anjing milik Emily kemudian jadi perbincangan lain dan membuat penumpang yang saat itu berada satu kereta dengannya mengomentari hal tersebut.

“Ketika saya naik kereta, itu benar-benar sibuk. Seorang wanita sedang mencari tempat duduk dan akhirnya duduk di belakang Emily dan tidak di kursi dengan meja, di mana ada lebih banyak ruang,” kata seorang saksi mata yang juga penumpang kereta.

“Beberapa orang memilih untuk berdiri, karena ada beberapa kursi cadangan. Ini menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap penumpang lain untuk merasa pantas bagi anjing untuk duduk di kursi yang dimaksudkan untuk penumpang. Ini masalah kesopanan dan pertimbangan orang lain. Anjing itu seharusnya berada di lantai. Itu bisa kotor atau kutu,” kata seorang penumpang lainnya.

“Aturan tidak memberi hewan hak untuk mengambil kursi. Anjing harus tetap di lantai. Bahkan anjing pemandu tidak diperbolehkan duduk di kursi. Seorang penjaga kereta seharusnya berbicara dengannya,” kata Fraser Pithie, dari Campaign for Rail.

Baca juga: Sepasang Kepiting Hebohkan Penumpang di Kereta Bawah Tanah Toronto

National Rail conditions mengatakan, hewan tidak diperbolehkan duduk di kursi dalam keadaan apapun dan memperingatkan akan dikenakan biaya jika hewan menempati kursi.

Gunakan Kotoran Kelinci, ANA Siap Gunakan Bahan Bakar Ramah Lingkungan Pada 2021

Di akhir tahun 2018 kemarin, maskapai penerbangan yang juga merupakan anak perusahaan dari Virgin Group, Virgin Atlantic dikabarkan telah sukses menerbangkan varian Boeing 747 dari Florida menuju London dengan menggunakan campuran bahan bakar ramah lingkungan. Pencampuran bahan bakar ramah lingkungan dengan avtur ini juga tidak main-main, hingga mencapai rasio perbandingan 50 persen.

Baca Juga: Virgin Atlantic Sukses Terbangkan Boeing 747 dengan Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Kini dalam upayanya untuk menciptakan pengoperasian pesawat yang lebih ramah lingkungan, sejumlah maskapai penerbangan lain juga mulai menciptakan terobosan untuk dapat mewujudkan hal tersebut – salah satunya datang dari maskapai asal Jepang, All Nippon Airways (ANA). Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman foxnews.com (25/6/2019), maskapai ini berharap dapat menerbangkan armadanya dengan menggunakan bahan bakar yang terbuat dari kotoran kelinci.

Ya, mungkin sebagian dari Anda akan mengernyitkan dahi ketika mendengar bahan baku yang digunakan, namun para peneliti percaya bahwa kandungan yang ada di dalam kotoran binatang yang menggemaskan ini. Lalu, bagaimana proses yang akan terjadi sampai-sampai kotoran kelinci ini bisa dijadikan campuran bahan bakar pesawat?

Para peneliti dari LanzaTech – rekanan ANA dalam mengembangkan inovasi ini, mengatakan bahwa mereka menggunakan emisi daur ulang seperti dari pabrik baja yang kemudian dikonversi menjadi ethanol dengan menggunakan enzim yang terkandung di dalam kotoran kelinci. Hasil konversi inilah yang nantinya akan menjadi campuran bahan bakar pesawat pada penerbangan komersial.

Sama halnya seperti Virgin Atlantic, rasio perbandingan yang akan digunakan oleh ANA dan LanzaTech dalam menggunakan bahan bakar ramah lingkungan ini adalah 50:50. Rencananya, uji coba penerbangan pesawat ANA yang menggunakan bahan bakar campuran ini akan mulai diberlakukan pada musim gugur tahun 2019 ini dan jika tidak ada ral melintang, maka ANA akan mulai bisa menggunakannya pada penerbangan komersial di tahun 2021.

Baca Juga: BEHA_M1H, Pesawat Paling Ramah Lingkungan yang Gunakan Model Sayap Unik!

“Dengan mengadopsi bahan bakar canggih ini, akan memungkinkan kami untuk mengurangi emisi CO2 dan memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan yang ambisius yang telah kami tetapkan untuk maskapai,” ujar vice president dari ANA, Akihiko Miura.

Kendati International Air Transport Association (IATA) mengklaim bahwa perjalanan udara hanya menyumbang 2 persen dari emisi karbon dioksida buatan manusia pada tahun 2017, banyak yang percaya bahwa nilai tersebut harusnya lebih tinggi. Hal ini dikhawatirkan akan semakin parah dengan perkiraan peningkatan jumlah permintaan penerbangan dari penumpang yang akan terjadi pada tahun 2036 mendatang.

 

Lontarkan Lelucon Soal Bom, Penumpang British Airways Dikeluarkan dari Pesawat

Bagaimana bisa sejumlah penumpang terpaksa dikeluarkan dari sebuah penerbangan hanya karena melontarkan lelucon? Dalam penerbangan komersial yang mengedepankan unsur keselamatan, tentu hal semacam ini sangat mungkin terjadi. Tidak percaya? Silakan Anda lontarkan lelucon yang berbau terorisme, dan dijamin, Anda akan dikeluarkan dari penerbangan tersebut. Sama seperti yang menimpa penumpang British Airways dalam perjalanannya dari Israel menuju London Heathrow pada Minggu, 23 Juni 2019 kemarin.

Baca Juga: Jijik! Penumpang British Airways Dapati Bangku Putrinya ‘Digenangi’ oleh Cairan Urin

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, kejadian ini bermula ketika sekelompok pemuda yang berjumlah 18 orang hendak bertolak menuju London. Proses boarding di Bandara Internasional Ben Gurion semula berjalan lancar, hingga ke-18 turis asal Inggris ini sudah masuk ke dalam pesawat. Ketika sedang asik berkelakar satu sama lain, salah satu dari mereka lalu melontarkan lelucon yang menyebutkan bahwa ia akan meledakkan pesawat tersebut.

Sontak, kru yang mendengar lelucon tersebut langsung berkoordinasi dengan petugas keamanan. Seketika petugas keamanan naik ke dalam kabin penumpang, pria yang melontarkan lelucon tersebut langsung digiring turun dari pesawat untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut mengenai apa yang ia lontarkan kepada teman-temannya tersebut.

Tidak hanya penumpang ini saja yang melontarkan lelucon yang tidak sepantasnya, melainkan anggota lain dari kelompok tersebut juga ada yang melontarkan lelucon anti Yahudi kepada penumpang lain pada penerbangan yang sama.

Menanggapi kejadian ini, pihak Israel Airport Authority (IAA) pun membenarkan kejadian tersebut.

“Setelah mereka melakukan proses boarding dan duduk di bangkunya masing-masing, salah satu dari mereka berkata bahwa ia akan meledakkan pesawat tersebut,” ujar pihak IAA.

“Kapten penerbangan langsung berkoordinasi dengan pihak maskapai dan memerintahkan untuk menurunkan kelompok tersebut dari dalam pesawat,” tandasnya.

Menurut pengakuan Richard Andrews (49 tahun), salah satu penumpang yang ada di dalam penerbangan terkait, ia mengaku tidak mendengar jeritan atau hiruk pikuk terkait lelucon tersebut.

Baca Juga: Isu Seksis, Eksekutif British Airways Larang Pramugari Gunakan Bra yang ‘Menantang”

“Saya sama sekali tidak mendengar keributan atau apapun sebelum mengetahui bahwa ada satu orang penumpang yang diturunkan dari penerbangan saya,” ujarnya.

“Saya rasa, jika benar ada seorang teroris yang ingin meledakkan pesawat di tengah perjalanannya, mereka akan lebih memilih untuk diam dan tidak akan mengumbar rencananya tersebut kepada penumpang lain. Namun lelucon seperti ini bisa saja dianggap serius oleh maskapai manapun dengan alasan keselamatan,” imbuh Richard.

 

Tidak Ikut Euforia, Lufthansa Masih Pikir-Pikir untuk Pesan Airbus A321XLR

Setelah resmi diluncurkan pada perhelatan Paris AirShow 2019, varian terbaru dari Airbus, A321XLR langsung dihujani pesanan oleh pihak maskapai dari berbagai penjuru dunia. Ya, hadirnya Airbus A321XLR ini seperti menjawab semua keinginan pihak maskapai yang mengharapkan adanya pesawat narrow-body yang mampu merengkuh penerbangan jarak jauh. Saking masifnya pemberitaan soal keunggulan dari Airbus A321XLR ini, pihak Kenya Airways sampai-sampai menyebutkan bahwa produk ini sebagai game changer.

Baca Juga: Tersebar Isu Soal Kenyamanan Penumpang, Terlalu Dinikah Airbus Luncurkan A321XLR?

Sebut saja Aer Lingus, American Airlines, Frontier, Iberia, JetBlue, JetSMART, Jetstar, Qantas, hingga Wizz Air telah mencatatkan nama mereka di buku daftar pesanan pesawat yang memiliki daya jangkau hingga 4.700 nautical miles ini. Menurut pihak Airbus sendiri, pesawat ini akan mulai memasuki masa pengoperasian komersial pada tahun 2023 mendatang.

Tapi di balik euforia yang terjadi pada sebagian maskapai mengenai hadirnya Airbus A321XLR ini, raksasa penerbangan asal Eropa, Lufthansa agaknya sedikit membutuhkan waktu untuk memutar otak sebelum mencatatkan namanya di buku pesanan Airbus.

“Sebenarnya, Airbus A321XLR bisa saja dioperasikan pada jaringan kami, tapi pandangan saya tentang A321XLR itu adalah produk khusus, dan menurut pandangan saya, itu tidak akan berperan sebagai game changer,” ujar CEO dari Lufthansa, Carsten Spohr, sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman onemileatatime.com (25/6/2019).

Mungkin pernyataan dari Carsten ini terdengar sedikit berbeda dengan kebanyakan maskapai, karena CEO dari Lufthansa ini beranggapan bahwa dirinya akan merasa tidak nyaman jika mengudara lebih dari empat jam dengan menggunakan pesawat narrow-body.

Mungkin sebagian dari Anda akan memiliki pendapat yang sama dengan Carsten, namun bisa juga tidak. Ya, setiap pesawat memang memiliki peruntukannya masing-masing. Ada yang memang ditujukan untuk menghadirkan kenyamanan tingkat tinggi dan daya angkut yang juga banyak (seperti Airbus A380, Boeing 787 Dreamliner), ada pula yang memang ditujukan untuk menempuh perjalanan jarak pendek dengan kapasitas angkut penumpang yang tidak terlalu banyak.

Baca Juga: Qantas Pesan 36 Unit Airbus A321XLR, Mulai Diterima Pertengahan 2024

Nah, hadirnya A321XLR seolah menjadi jembatan dari dua jenis pesawat tersebut – mereka bisa menempuh perjalanan jarak jauh, tapi dengan daya angkut yang tidak terlalu banyak. Setidaknya, pihak produsen pesawat sudah berusaha untuk mengembangkan apa yang selama ini diminta oleh sejumlah maskapai – dan A321XLR adalah hasil dari kembangan tersebut.

Memang, kebijakan setiap perusahaan jasa penerbangan akan selalu berbeda dalam menanggapi sebuah inovasi yang hadir, dan mungkin Lufthansa memiliki perhitungannya sendiri terkait hadirnya Airbus A321XLR dalam persaingan moda udara.