Menangkan Kontes Delsbo Electric, Eximus IV Klaim Jadi Kendaraan Paling Hemat Energi di Dunia

Sebuah kendaraan hemat energi yang mampu mengangkut enam orang penumpang dengan berat rata-rata per orangnya 50 kg baru saja memenangkan kontes Delsbo Electric di Swedia. Kontes yang diadakan setahun sekali tersebut menantang mahasiswa untuk membuat dan meningkatkan kendaraan paling hemat energi di dunia.

Baca juga: Kerumunan Pods Modular Siap Gantikan Peran Kendaraan Pribadi di 2020

Kendaraan hemat energi yang menang ialah Eximus IV yang mana membuat kompetisi tersebut mengakui dan mengalahkan rekor sebelumnya, dimana Eximus IV menghabiskan listrik 687 MPGe (0,34 l per 100 km). Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (20/6/2019), team pembuat Eximus adalah Universitas Dalarna menjadi legenda dalam kontes Delsbo karena mencetak rekor efisiensi dunia baru setiap tahun dari debut mereka pertama di tahun 2016 lalu.

Kontes tersebut diadakan di sebuah rel untuk meminimalkan rolling resistance dan para peserta mengemudikan kendaraan tersebut di lintasan sepanjang 3,36 km dengan membawa enam orang penumpang. Eximus IV sendiri bisa memenangkan Delsbo Electric karena sangat ringan dan aerodinamis dimana tim pembuat menggunakan bahan ultra ringan dengan motor penggerak dan roda baru.

Selain itu juga melakukan pengujian di jalur terbuka meskipun kecepatan yang dimiliki cukup lambat. Tetapi hal ini tidak sulit untuk dilakukan apalagi efisiensi energi yang mereka gunakan cukup mengejutkan.

Dimana Eximus IV hanya menggunakan 0,603 watt per jam per kilometer. Apalagi energi tersebut untuk mengangkut enam orang penumpang dengan efisiensi 687 MPGe. Tak hanya Eximus IV, peserta lainnya yang terlihat mencengangkan adalah Levitas dari Chalmer Technical University dengan memenangkan HHK Innovation Award dengan sistem kecil dan murah menggunakan sistem maglev yang bekerja pad jalur kereta api biasa.

Tim Levitas sendiri mampu mendemonstrasikan sebuah kendaraan yang dapat membawa berat 160 kg sambil menjaga jarak 2 mm dari jalur. Meski tim Eximus memenangkan hadiah utama, tetapi yang dibuat tim Levitas bisa mengarah pada peningkatan revolusioner dalam keterjangkauan sistem maglev.

Baca juga: Gandeng PLN, Universitas HKBP Nommensen Luncurkan Becak Motor Listrik

“Apa yang telah dilakukan orang-orang ini adalah game-changer potensial untuk perjalanan kereta api. Chalmers telah menciptakan kereta melayang yang murah dan berfungsi dengan baik dengan sistem kontrol yang mengesankan. Para siswa bahkan melilitkan beberapa gulungan magnet untuk menekan biaya. Dunia harus berdiri dan memperhatikan ini besar,” kata Paul Bogatir, Manajer Cluster HHK dan ketua juri Innovation Award.

Grab Uji Coba Kenakan Denda Pembatalan Order di Lampung dan Palembang

Biasa pesan transportasi online? Ini sepertinya lumrah dilakukan banyak masyarakat saat ini. Namun, terkadang karena pengemudi jauh dan lama sampai, penumpang kerap kali membatalkan pesanan mereka.

Baca juga: Juni Mendatang, Grab Akan Hadirkan GrabCar Premium

Padahal bisa dikatakan bila membatalkan pesanan berarti menghilangkan rejeki seseorang. Nah, baru-baru ini, Grab Indonesia melakukan uji coba denda bila penumpang membatalkan pesanan mereka. Uji coba tersebut dilakukan pihak Grab di dua kota yakni Lampung dan Palembang setelah sebelumnya berhasil di Singapura dan Filipina.

Dirangkum dari berbagai laman sumber oleh KabarPenumpang.com, uji coba ini berlangsung sejak 17 Juni 2019 kemarin untuk GrabCar dan GrabBike di dua kota tersebut. Denda yang dikenakan untuk pembatalan Rp3.000 untuk GrabCar dan Rp1.000 untuk GrabBike.

Denda ini akan dikenakan kepada penumpang yang sudah mendapatkan pengemudi setelah lima menit dan tiba-tiba membatalkannya. Selain itu pembatalan juga dikenakan jika pengguna tidak ada saat pengemudi tiba.

Namun, denda tidak akan dikenakan bila pembatalan dilakukan sebelum lima menit dan pengemudi terlalu lama sampai atau tidak bergerak menuju lokasi penjemputan. President Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata menjelaskan mitra tak perlu khawatir apabila mitra pengemudi memang tidak berjalan menuju titik penjemputan.

Jika estimasi kedatangan mitra pengemudi terlihat sepuluh menit, namun ternyata konsumen menunggu lebih dari itu, maka tak dikenakan biaya. Khusus mitra, jika membatalkan pemesanan sebelum mencapai waktu tunggu minimum yaitu lima menit untuk GrabBike dan sepuluh menit untuk GrabCar, maka konsumen tak dikenakan biaya pembatalan. Begitu pula jika mitra pengemudi Grab yang melakukan pembatalan perjalanan, penumpang tidak akan dikenai biaya.

“Kalau alasan pembatalan itu karena pengemudinya meminta dibatalkan itu penumpang juga tidak dikenakan biaya untuk itu. Kami perhitungkan juga,” kata Ridzki.

Jika di aplikasi menunjukkan pengemudi sudah sampai dan ternyata belum muncul di titik jemput, maka penumpang tidak akan dikenakan denda. Ridzki mengatakan, 100 persen pihaknya tidak mengambil biaya pembatalan tersebut, melainkan akan diberikan kepada pengemudi. Hal ini diberikan atas waktu dan upaya pengemudi menuju ke lokasi penjemputan penumpang.

Baca juga: 60 Armada GrabBajay Kini Siap Melayani dari Lima Titik di Jakarta Pusat

“Denda ini diberlakukan untuk melindungi mitra pengemudi. Kami sudah tekankan berkali-kali ini fairness. Fairness adalah untuk pengemudi untuk bisa diperlukan secara adil,” ujar Ridzki.

Scania Rancang Bus Otonom Multiguna, Dipercaya Mampu Reduksi Tingkat Pencemaran Udara

Nampaknya semua produsen kendaraan hingga regulator transportasi tengah mempersiapkan perihal hadirnya moda transportasi masa depan – seperti halnya yang sudah mulai diterapkan oleh sejumlah perusahaan di berbagai moda, mulai dari darat, laut, hingga udara. Pada pemberitaan sebelumnya, ada produsen otomotif asal Swedia, Volvo yang rencananya akan merilis Volvo 7900 Electric Articulated Bus pada bulan Oktober 2019 mendatang, kini salah satu saingan Volvo, Scania juga dikabarkan akan segera mengimplementasikan konsep bus otonom all-new-electric yang sudah mereka rancang sebelumnya.

Baca Juga: Volvo Akan Luncurkan Electric Articulated Bus di Busworld Brussels Oktober 2019

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman insideevs.com (12/6/2019), pihak Scania yang hadir pada Global Public Transport Summit yang diadakan di Stockholm pada 10 hingga 12 Juni 2019 kemarin mengatakan bahwa konsep bus yang tengah mereka kembangkan ini diperkirakan akan mampu diimplementasikan dengan menggunakan teknologi otonom skala penuh pada tahun 2030 mendatang. Ya, moda tersebut bernama Scania NXT.

Adapun topik utama dari konsep Scania NXT ini adalah arsitektur modular, dimana konsep ini memungkinkan penggunaan platform selama 24 jam dalam tujuh hari berturut-turut (24/7) dalam berbagai modul yang berbeda – bisa menjadi bus untuk mengangkut penumpang di siang hari dan bisa juga menjadi truk di malam hari.

Sumber: insideevs.com

“Kendaraan konsep perkotaan mandiri bertenaga listrik baterai dari Scania ini dirancang dengan fleksibilitas untuk beralih dari moda pengangkut komuter dari dan ke kantor pada pagi hari, dan di sisi lain juga dapat mengangkut barang di siang hari dan mengumpulkan sampah di malam hari,” ujar salah satu pihak Scania ketika menjelaskan tentang peranan yang dapat dilakukan oleh Scania NXT ini.

Scania NXT ini sendiri kelak akan memiliki panjang sekira 8m, yang dilengkapi dengan baterai berkapasitas 162 kWh yang tersimpan di bawah lantai kabin. Moda yang mampu mengarungi jarak hingga 245km ini memang hanya menyediakan 20 bangku, namun secara keseluruhan, ruang kabin dapat mengangkut hingga 55 penumpang.

Baca Juga: Lebih Dulu dari BYD, Scania Kirim Bi-Articulated Bus ke Brasil

Jika ditelaah lebih mendalam lagi, hadirnya moda seperti Scania NXT ini memang memiliki fungsi yang lebih dari hanya sekedar bus pengangkut penumpang saja – dimana ini akan berimbas pada penggunaan lebih sedikit moda (bisa merangkap menjadi bus penumpang di siang hari dan pengangkut sampah di malam hari). Dengan begitu, jumlah kendaraan yang ada di jalanan dapat diminimalisir dan secara otomatis tingkat polusi udara juga dapat direduksi secara perlahan.

Berkaca dari Kecelakaan di Tol Cipali KM150, Perlukah Ada Sekat Pembatas di Ruang Kemudi Bus?

Kecelakaan maut yang terjadi di ruas jalan tol Cipali pada Senin (17/6/2019) kemarin tentunya membuat geger berbagai kalangan, pasalnya kejadian ini disebabkan oleh pertikaian yang terjadi antara pengemudi bus dan penumpang. Kecelakaan yang menimpa bus dari PO Safari dengan nomor polisi H 1469 CB ini terjadi ketika bus tengah mengarah ke arah Cirebon, tepatnya di KM150. Kecelakaan maut ini sendiri menewaskan 12 orang serta belasan lainnya mengalami luka-luka, serta sedikitnya menghancurkan tiga mobil.

Baca Juga: Rentetan Kecelakaan Maut Bus di Indonesia

Kepala Bidang (Humas) Polda Jawa Barat Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan bahwa penumpang yang bernama Amsor ini meninggalkan tempat duduknya dan berjalan mengarah ke arah pengemudi seraya memintanya secara paksa untuk berhenti.

“Dari keterangan, pelaku (Amsor) memaksa pengemudi untuk berhenti dengan cara mengambil alih secara paksa kemudi tersebut dan tejadi perdebatan dengan pengemudi. Bus hilang kendali ke kanan selanjutnya menyeberang dan terjadi kecelakaan,” ujar Trunoyudo, seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman kompas.com (17/6/2019).

Mitsubishi Expander yang mernjadi salah satu korban kecelakaan bus PO Safari di Tol Cipali KM150. Sumber: tribunnews.com

Sementara itu, fakta baru pun terkuak terkait kecelakaan nahas ini, dimana Kapolres Majalengka, AKBP Mariyono mengatakan bahwa Amsor diindikasikan mengalami gangguan jiwa.

“Yang bersangkutan mengalami indikasi memiliki gangguan kejiwaan mengarah kepada gangguan kejiwaan neorotik, psikotik, dan paranoid sehingga perlu dilakukan tindak lanjut oleh saksi ahli,” ujar Mariyono, dikutip dari laman sumber berbeda.

Sekat Pembatas: Antara Solusi atau Akar Masalah Baru?
Berkaca pada kecelakaan ini, muncul pertanyaan yang memiliki dua sisi bak sebuah koin. Perlukah sekat pemisah antara ruang kemudi dan kabin penumpang di bus?

Jika mengambil contoh pada kasus kecelakaan di tol Cipali KM150 ini, hadirnya sekat pembatas memang dapat mencegah kejadian seperti ini terulang kembali di masa yang akan datang. Selain itu, fungsi lain dari sekat ini adalah bisa menjadi penghalang asap rokok masuk ke dalam kabin penumpang. Ya, tidak sedikit pengemudi bus di Indonesia yang masih saja merokok ketika bertugas dengan dalih, “agar tidak mengantuk,” dan lain sebagainya.

Ilustrasi sekat pembatas ruang kemudi bus. Sumber: istimewa

Namun di sisi lain, sekat pembatas ini juga tidak melulu memiliki fungsi yang positif, salah satunya adalah Anda harus terlebih dahulu mengetuk pintu ketika Anda hendak turun di titik tertentu (bukan di akhir perjalanan). Selain itu, dalam kondisi darurat, sekat pembatas ini dikhawatirkan juga bisa menjadi batu hambatan ketika proses evakuasi korban.

Kemenhub Akan Kaji Lebih Dalam
Menanggapi kecelakaan di tol Cipali ini dan beredarnya rumor tentang pemasangan sekat pembatas, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setyadi mengatakan bahwa pihaknya akan mengkaji lebih dalam terlebih dahulu soal ide pemasangan sekat pembatas antara kabin penumpang dan ruang kemudi di dalam bus ini.

“Bisa (kami gunakan diskresi soal kewajiban penggunaan skat lewat selebaran), atau himbauan (kepada pengusaha lewat selebaran dari Kemenhub),” ujar Budi, dikutip dari laman cnnindonesia.com (18/6/2019).

Baca Juga: Pelatihan Terhadap Pengemudi Bus Akan Meminimalisir Tingkat Kecelakaan

Menurut Budi hal tersebut harus melalui pembahasan lebih dahulu. Ia mengaku baru akan membicarakannya dengan pemangku kepentingan lain antaranya Korps Lalu Lintas Polri dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Sebagai informasi tambahan, tidak hanya penumpang saja yang akan merasakan efek dari pemasangan sekat pembatas ini, pun dengan pengemudi yang akan merasa lebih aman ketika menjalani tugasnya. Tentu saja, pemberitaan tentang kecelakaan di tol Cipali KM150 ini akan dengan cepat menyebar di kalangan pengemudi bus – dan bukan tidak mungkin apabila mereka akan menjadi sedikit ‘parno’ dalam bertugas.

 

 

Lengser dari Penghargaan World’s Best Airlines versi Skytrax, Inilah Penjelasan Garuda Indonesia!

Selain terkenal akan on time performance-nya yang berada di atas rata-rata, maskapai plat merah Garuda Indonesia juga dikenal memiliki segudang prestasi. Hal tersebut tidak lepas dari kinerja keseluruhan anggota maskapai dalam mengoperasikan tugasnya setiap hari. Sederetan penghargaan bergengsi berhasil disabet oleh flag carrier Indonesia – bahkan tidak sedikit dari penghargaan tersebut yang berhasil diraih secara berturut-turut.

Baca Juga: Geser Singapore Airlines, Qatar Airways Kini Jadi Maskapai Terbaik Dunia

Di tahun 2018 saja, Garuda Indonesia berhasil memboyong beberapa penghargaan prestisius, mulai dari “Top 10 Maskapai Penerbangan Asia Tenggara berdasarkan On-Time Performance bulan Mei 2018 versi OAG”, “Maskapai Penerbangan Terbaik di Indonesia 2018 versi Trip Advisor”, “Maskapai Bintang 5 versi Skytrax” (khusus untuk penghargaan ini, Garuda Indonesia berhasil mempertahankannya sejak tahun 2014 lalu – lima tahun berturut-turut), “Perusahaan Paling Dibanggakan Untuk Bekerja versi YouGov Brand Index”, “Branding of the Year pada acara World Branding Awards”, dan sejumlah penghargaan lainnya.

Namun, sebuah fakta yang cukup menohok muncul dari rilisan World’s Best Airlines 2019 versi lembaga independen pemeringkat penerbangan yang berbasis di Inggris, Skytrax. Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, tidak tampak nama Garuda Indonesia dalam top 10 World’s Best Airlines 2019 veri Skytrax tersebut. Padahal, di tahun 2018 kemarin, maskapai berkode saham “GIAA” ini bercokol di posisi sembilan, lho!

Berikut adalah Top 10 World’s Best Airlines 2019 versi Skytrax:

1. Qatar Airways
2. Singapore Airlines
3. ANA (All Nippon Airways)
4. Cathay Pacific
5. Emirates
6. EVA Air
7. Hainan Airlines
8. Qantas Airways
9. Lufthansa
10. Thai Airways

Untuk tahun ini, Garuda Indonesia terpaksa harus merelakan tahtanya turun ke peringkat ke-12. Hilangnya nama Garuda Indonesia dari Top 10 World’s Best Airlines 2019 versi Skytrax tentu saja menimbulkan pertanyaan, “Apakah pamor Garuda Indonesia sudah mulai luntur?”

Menanggapi hal tersebut, staf Humas Garuda Indonesia, Dicky Irchamsyah menyebutkan bahwa lengsernya Garuda Indonesia dari peringkat maskapai global merupakan hal yang wajar dalam sebuah persaingan.

Baca Juga: Garuda Pertahankan Predikat Bintang Lima Skytrax

“Sebenarnya ini sangat natural, apalagi ini bersadarkan pada voting, jadi sangat related dengan pandangan penumpang,” terang Dicky dalam keterangan tertulis kepada KabarPenumpang.com (25/6/2019).

“Malah dengan turunnya peringkat Garuda tersebut menjadi pemacu bagi kami untuk lebih kompetitif dalam peningkatan layanan,” tandasnya.

 

Menolak Ajakan Wefie, Petugas VietJet Air Ditendang dan Ditampar

Meski berstatus sebagai maskapai berbiaya rendah, nama VietJet Air kadung membahana setelah kabar aksi pramugari berbikini yang dulu sempat membuat heboh. Dan ada cerita sedih yang dialami petugas VietJet yang saat itu berdinas di bandara. Persisnya tamparan dan tendangan dirasakan oleh seorang petugas wanita VietJet. Ini terjadi ketika petugas tersebut tidak mau diajak berfoto untuk kedua kalinya bersama tiga orang penumpang pria.

Baca juga: VietJet Buka Rute Jakarta-Vietnam, Penumpang Pria Siap-Siap Kecewa

Awalnya petugas bernama Le Thi Giang itu sebelum ditampar dan ditendang sudah berfoto dengan ketiga pria tersebut. Pelaku yang bernama Le Va Nhi, Le Trung Dung dan Pham Huu An, semuanya adalah warga lokal dan tengah melakukan perjalanan ke bandara untuk menemui seorang teman.

Setelah orang itu check in, ketiganya melihat Le Thi di ruang keberangkatan dan meminta untuk berfoto dengannya dan disanggupi. Kemudian dirinya menolak dengan sopan untuk berfoto kedua kali karena tengah melaksanakan tugasnya di ruang keberangkatan.

Karena tidak mau, Nhi, Dung dan An, kemudian menyerang Le Thi. Dia ditampar kemudian ditendang hingga jatuh kelantai. Dari rekaman Le Thi di tendang dibagian pinggang saat dirinya tengah balik badan dan teman-temannya hanya melihat.

Kemudian seorang manajer bandara yang melihat perlakuan penumpang pada petugas bandara itu mencoba untuk menghentikannya namun dia juga ditampar oleh salah seorang dari ketiga pelaku. Bahkan saat dua petugas lainnya yang akan membantu Le Thi juga diserang pelaku.

Seorang temannya yang lain tengah merekam kejadian tersebut pun diancam oleh ketiga pelaku. Menurut saksi, ketiga pria tersebut mabuk dan diamankan oleh para keamanan bandara serta dibawa ke kantor polisi setempat atas kekacauan publik yang mereka.

Serangan itu memicu protes publik setelah tertangkap kamera oleh saksi mata. Setelah dilakukan penyelidikan, ketiganya dipenjara setelah didakwa di Pengadilan Provinsi Thanh Hoa.

Akibatnya Le Van diiganjar hukuman selama tiga tahun, Le Tung dua tahun sepuluh bulan dan Pham Huu satu tahun sepuluh bulan. Ketiganya juga dilarang terbang bersama dengan maskapai asal Vietnam tersebut selama satu tahun.

Baca juga: Gara-Gara Bikini Pemilik VietJet Jadi Orang Kaya Nomor 2 di Vietnam

Tak hanya ketiga pelaku, petugas keamanan bandara juga didenda karena gagal melindungi Le Thi, keempat petugas tersebut dikenakan denda masing-masing $247. Diketahui, insiden tersebut terjadi satu tahun lalu di Bandara Tho Xuan di Vietnam.

Kini Giliran Pilot Gugat Boeing dan FAA Atas Masalah 737 MAX

Dua kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX dengan masalah yang sama membuat seorang pilot yang tidak disebutkan namanya atau dikenal dengan pilot x menggugat Boeing sebagai perusahaan pembuat pesawat tersebut. Pilot tersebut menuduh Boeing tidak peduli dan mengabaikan kesadaran terbang pada publik dalam pengembangan 737 MAX-nya.

Baca juga: Upaya Kembalikan Kepercayaan Publik, Boeing Pertimbangkan Rebranding 737 MAX

Gugatan tersebut juga menuduh Federal Aviation Administration (FAA) bekerja sama dengan Boeing dalam menutupi kecacatan pada desain Max yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (24/6/2019), dalam gugatan tersebut FAA tidak disebutkan sebagai pihak yang ikut digugat.

Tetapi pengacara penerbangan Joseph Wheeler, salah satu pengacara yang mewakili pengugat mengatakan sudah memulai prosedur administrasi yang menjadi prasyarat prosedural yang diperlukan untuk mengajukan gugatan terhadap FAA. Adanya gugatan ini, pihak FAA dan juru bicara bOeing Peter Pedraza menolak untuk mengomentarinya.

Diketahui, gugatan diajukan pada hari Jumat (21/6/2019), ke Cook County, Illinois dimana rumah bagi markas Boeing Chicago. Pesawat Max yang merupakan varian terbaru dari seri Boeing 737 mendarat pada Maret setelah dua kecelakaan dalam waktu kurang dari enam bulan yang menewaskan 346 orang.

Investigasi sedang berlangsung, tetapi laporan awal menunjukkan kesamaan antara dua kecelakaan, dan Boeing merombak sistem stabilisasi terkomputerisasi baru yang dikenal sebagai MCAS. Dalam gugatan itu, pilot yang tidak disebutkan namanya itu mengklaim “kehilangan upah yang signifikan, di antara kerusakan ekonomi dan non-ekonomi” sebagai akibat dari landasan pesawat, serta tekanan emosional dan mental yang parah ketika mereka secara efektif dipaksa untuk menerbangkan Max dan diharuskan untuk menempatkan nyawa mereka sendiri dan nyawa awak dan penumpang mereka dalam bahaya.

Gugatan diajukan sebagai tindakan yang mengatakan berpotensi “lebih dari empat ratus pilot” di maskapai yang tidak disebutkan namanya bisa bergabung. Dokumen-dokumen tersebut memberikan sedikit informasi tentang pilot tunggal yang saat ini terlibat dalam kasus tersebut.

Selain itu dia adalah orang Kanada dan bekerja untuk “maskapai penerbangan internasional”. Gugatan itu mengatakan pilot memilih untuk mengajukan gugatan dengan nama samaran “Pilot X” karena “takut akan pembalasan dari Boeing dan diskriminasi dari pelanggan Boeing.

Hal ini karena pengaruh substansial Boeing dalam industri penerbangan komersial. Alih-alih, gugatan itu mengatakan bahwa harus “ditentukan di persidangan” dan harus cukup untuk mencegah Boeing dan produsen pesawat lainnya menempatkan keuntungan perusahaan di atas kehidupan para pilot, kru dan masyarakat umum yang mereka layani.

Baca juga: Pasca Insiden Boeing 737 MAX 8, Akankah Pilot ‘Kembali’ Menyandarkan Kepercayaan Pada Pesawat Tersebut?

Boeing mengatakan pada pertengahan Mei bahwa pihaknya menyelesaikan pengembangan perbaikan perangkat lunak dan belum mengirim perbaikan ke FAA untuk uji penerbangan sertifikasi. Beberapa maskapai Amerika Serikat yang menerbangkan 737 Max telah membatalkan penerbangan yang dijadwalkan menggunakan pesawat itu hingga September.

Tarif ‘Spesial’ di Kelas Bisnis Emirates Hanya Pada Penerbangan Tertentu

Maskapai penerbangan dunia banyak yang membagi kelas ekonomi mereka menjadi premium dan biasa. Namun ini sudah biasa terjadi, tetapi bagaimana bila yang dibagi adalah kelas bisnis? Nantinya juga akan seperti apa dengan pembagian kelas bisnis ini?

Baca juga: Intip Dibelakang Layar Pelatihan Awak Kabin Emirates

Ternyata maskapai Timur Tengah yakni Emirates baru saja melakukan pembagian pada kelas bisnisnya. Pembagian ini dimulai pada awal bulan Juni 2019 dimana akan ada tarif kelas bisnis spesial atau khusus dengan hak istimewa yang sama dengan kelas bisnis biasa. KabarPenumpang.com melansir laman stuff.co.nz (21/6/2019), dengan kehadiran kelas baru ini, melengkapi tiga kategori tarif kelas bisnis lainnya yang memungkinkan akses ke fasilitas udara dengan biaya rendah.

Adapun sejak tahun 2016 Tim Clark, Presiden Emirates menerapkan tiga kelas bisnisnya yakni Saver, Flex dan Flex Plus serta tambahan baru Special. Pelanggan yang memilih kelas bisnis tarif baru ini nantinya tidak akan mendapatkan berbagai fasilitas di darat dan hanya mendapat fasilitas sama seperti di udara.

Fasilitas yang menghilang dengan tarif spesial adalah penumpang tidak mendapat akses lounge, kendaraan penjemputan ke bandara hingga keamanan di jalur khusus serta tidak bisa memilih kursi. Bahkan skywards miles yang diberikan Emirates juga akan lebih sedikit dan penumpang tidak bisa meningkatkan perjalanan mereka ke kelas satu dengan miles.

“Anda akan mendapatkan produk bisnis hanya di udara, dan hanya itu. Tidak ada sopir, tidak ada ruang kelas bisnis, tidak ada keamanan yang dipercepat. Tidak mengangkat tunjangan bagasi Anda dan lainnya. Anda hanya membayar untuk tempat tidur. Saya ‘ Aku akan memberimu harga untuk itu,” ujar Tim.

Meski begitu, maskapai ini mengatakan, tarif khusus hanya akan tersedia pada rute tertentu berdasarkan tren musiman dalam permintaan perjalanan. Namun Emirates berharap tarif dengan rute ini bisa diluncurkan lebih luas lagi nantinya.

Baca juga: Memukau, ‘Sosok’ Airbus A380 Emirates Jadi Ladang Bunga Terbesar di Dubai

Tiket untuk kelas bisnis khusus ini sekitar $157 atau setara dengan Rp1,5 juta. Tarif ini bahkan lebih murah dari kelas Saver yang mencakup fasilitas reguler baik di darat maupun udara. Situs web maskapai untuk penerbangan kelas bisnis dari Auckland ke Dubai tidak menghadirkan tarif “spesial”.

Seekor Siput di Jepang Bikin 12 Ribu Penumpang Kereta Mengalami Penundaan, Kok Bisa?

Jika keterlambatan pemberangkatan kereta api umumnya dilatarbelakangi oleh insiden atau sesuatu yang masif lainnya, mungkin hal tersebut masih bisa dimaklumi adanya. Namun apa jadinya jika penundaan keberangkatan lebih dari 12.000 penumpang ini disebabkan oleh seekor binatang yang terkenal akan jalannya yang lambat, ya seekor siput! Ini menarik perhatian, seekor siput yang notabene tidak memiliki kemampuan khusus seperti mencakar penumpang, atau mengacaukan seisi stasiun, dapat menyebabkan keterlambatan yang cukup signifikan?

Baca Juga: Unik! Berangkat Lebih Awal, Operator Kereta di Jepang Justru Meminta Maaf Kepada Penumpang

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman news18.com (24/6/2019), kejadian ini sendiri terjadi di Jepang, dimana perkeretaapian Jepang terkenal amat sangat menjunjung tinggi kedisiplinan dalam memberangkatkan setiap keretanya, setiap harinya. Kejadian ini bermula pada tanggal 30 Mei 2019 kemarin, dimana sistem kelistrikan yang melayani perkeretaapian bagian Selatan Jepang mengalami kegagalan fungsi.

Perkeretaapian yang dioperasikan oleh JR Kyushu lantas mengalami penundaan hingga 26 rute operasinya, dimana dampak ini semakin meluas ke jaringan perkeretaapian lainnya di Negeri Sakura. Seperti yang sudah disebutkan di atas, kegagalan fungsi listrik ini juga berdampak pada penumpukkan penumpang yang diperkirakan melebihi angka 12.000 penumpang.

Seminggu berselang setelah penundaan keberangkatan yang masif – namun tidak terstruktur dan sistematis ini, pihak JR Kyushu lalu berupaya untuk mencari tahu penyebab dari kegagalan sistem kelistrikan tersebut. Namun apa yang ditemukan oleh pihak JR Kyushu sungguh mencengangkan, dimana mereka menemukan ada seekor siput yang menyebabkan kegagalan sistem kelistrikan.

“Kami melacak perangkat yang bertanggung jawab atas kegagalan sistem kelistrikan itu … Kami awalnya berpikir bahwa apa yang ada di sana adalah bug tetapi ternyata itu adalah seekor siput yang sudah mati,” ungkap seorang juru bicara dari JR Kyushu.

Media lokal Jepang mengatakan bahwa siput malang itu telah mengakibatkan hubungan arus pendek (korsleting) yang pada akhirnya berdampak pada power failure. Tentu saja, kejadian seperti ini tergolong sebagai sesuatu yang amat sangat jarang terjadi.

Baca Juga: Beragam Alasan Mengapa Orang Jepang Fanatik Pada Sosok Kereta

“Kami sering berurusan dengan rusa ketika kereta tengah mengular, namun tidak dengan seekor siput,” tandasnya.

Pihak JR Kyushu juga telah melakukan pengecekkan di sekitaran lokasi penemuan siput, dan mereka berani menjamin bahwa tidak ada interupsi yang dilakukan oleh siput lainnya.

Duh, ada-ada saja, ya!

Tak Mau Ambil Risiko, Garuda Indonesia Pastikan Pesawatnya Tidak Melintasi Kawasan Selat Hormuz

Tensi politik di Timur Tengah kian tinggi dalam beberapa hari ini, khususnya yang terkait masalah antara Amerika Serikat dan Iran. Setelah penggerakan kekuatan militer besar-besaran Negeri Paman Sam di wilayah Persia, ditambah dengan insiden ditembak jatuhnya drone intai Global Hawk AS oleh Iran, maka atmosfir di wilayah yang menjadi jalur penerbangan lalu lintas internasional tersebut kian tidak kondusif, dimana suatu waktu penerbangan sipil bisa menjadi yang terdampak buruk dari aktivitas militer di sana.

Baca juga: Dianggap Lumrah, Burung Elang Masuk di Kabin Pesawat Maskapai Timur Tengah

Menanggapi perkembangan yang terjadi di kawasan Persia, khususnya di Selat Hormuz, pihak Humas Garuda Indonesia dalam catatan tertulis (25/6), telah memastikan bahwa jalur udara untuk rute penerbangan yang dilayani di kawasan Eropa dan Timur Tengah tidak melewati kawasan udara Selat Hormuz, Iran, menyusul adanya larangan terbang yang dikeluarkan Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) pasca ketegangan yang tengah terjadi di kawasan udara di Selat Hormuz, Iran.

Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia M. Ikhsan Rosan mengatakan, “Dapat kami pastikan jalur udara untuk rute penerbangan Eropa dan Timur Tengah yang dilayani Garuda Indonesia tidak melewati kawasan udara tersebut. Dengan demikian seluruh layanan operasional Garuda Indonesia pada rute Eropa dan Timur Tengah tetap berlangsung normal seperti biasa”. “Namun kami akan terus memantau secara internsif perkembangan lebih lanjut kondisi tersebut serta berkoordinasi bersama seluruh pemangku kepentingan terkait dalam memastikan aspek safety & security layanan operasional Garuda Indonesia tetap terjaga”, tutup Ikhsan.

Baca juga: Alami Masalah pada “Ventilasi,” Airbus A340 Air France Terpaksa Mendarat Darurat di Iran

Posisi Iran terbilang strategis dalam penerbangan jarak jauh dari Asia menuju Eropa dan Timur Tengah, tidak sedikit maskapai dari selatan dan sebaliknya yang melintasi ruang udara Iran. Pada awal Mei lalu, Airbus A340 milik Air France dengan nomer penerbangan 218 dari Bandara Charles de Gaulle Paris menuju Mumbai, dilaporkan harus melakukan pendaratan darurat (emergency landing) di Bandara Internasional Shahid Beheshti di Isfahan, Iran. Kasus di atas membuktikan posisi Iran yang strategis dalam lalu lintas udara maskapai global.