Mulai 15 Mei, Lion Air Buka Penerbangan Langsung Surabaya-Ambon

Maskapai berbiaya murah, Lion Air kembali membuka rute baru, kali ini yang disasar adalah rute di Indonesia Timur. Persisnya mulai 15 Mei 2019 akan meluncurkan rute baru Surabaya menuju Ambon. Rute Surabaya ke Ambon pergi pulang (PP) dioperasikan berdasarkan tingginya permintaan travelers yang mengharapkan tersedia penerbangan langsung dalam akses kemudahan perjalanan ke tujuan wisata dan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Baca juga: Heboh Boarding Pass 2015 di Batik Air, Ternyata Hanya Penunjuk Waktu Keberangkatan

Untuk melayani rute baru tersebut, Lion Air terbang dengan frekuensi satu kali setiap hari. Untuk penerbangan perdana pada 15 Mei, Lion Air memiliki jadwal keberangkatan (schedule time departure/ STD) pada 07.35 WIB dari Bandar Udara Internasional Juanda, Surabaya (SUB) bernomor JT-890. Pesawat diperkirakan mendarat (schedule time arrival/ STA) pukul 12.05 WIT di Bandar Udara Internasional Pattimura, Ambon (AMQ). Penerbangan kembali, Lion Air nomor JT-889 lepas landas dari Ambon pukul 18.20 WIT, kemudian mendarat di Surabaya pada 18.50 WIB.

Untuk durasi penerbangan langsung dari Surabaya ke Ambon berkisar 1 jam 30 menit. Jenis pesawat yang disiapkan Lion Air adalah Boeing 737-800NG (189 kursi kelas ekonomi) dan Boeing 737-900ER (215 kursi kelas ekonomi).

Bersamaan pembukaan rute baru, Lion Air juga meningkatkan satu frekuensi penerbangan langsung Soekarno-Hatta ke Surabaya dan Ambon menuju Makassar. Penambahan frekuensi bernomor JT-890, berangkat dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang (CGK) pukul 04.30 WIB dan waktu mendarat di Surabaya pada 06.00 WIB. Untuk frekuensi sebaliknya, Lion Air JT-889 mengudara dari Surabaya pukul 20.10 WIB dan akan tiba pada 21.40 WIB.

Untuk sektor dari Ambon, Lion Air terbang pada 13.05 WIT menggunakan nomor JT-887. Pesawat diperkirakan tiba pada 13.50 WITA di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan (UPG). Sedangkan dari Makassar, Lion Air JT-886 lepas landas pukul 14.50 WITA dan memiliki jadwal kedatangan di Ambon pada 17.35 WIT.

Baca juga: Terbang Perdana 15 Mei, Lion Air Gantikan Batik Air Layani Penerbangan ke Bandara YIA

Layanan penerbangan non-stop tambahan tersebut menjadikan rute Soekarno-Hatta ke Surabaya 13 kali setiap hari dan Ambon ke Makassar tiga kali sehari.

Jatuh dari Tangga Pesawat, Eks Pramugari Qantas Tuntut Rp4,5 Miliar untuk Cidera Permanen

Keteledoran ketika bekerja memang kerap terjadi, apapun bidang pekerjaannya – tidak terkecuali bagi seorang awak kabin (pramugari). Namun kali ini yang dianggap teledor bukan sang pramugari, melainkan pihak maskapai. Seperti yang menimpa seorang pramugari dari maskapai asal Negeri Kangguru, Qantas, Margaret Chapman menuntut pihak maskapai karena telah menyebabkan dirinya terpeleset hingga menyebabkan cidera yang lumayan parah.

Baca Juga: Pesawat Diterjang Turbulensi, Awak Kabin American Airlines Alami Cedera

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (13/5/2019), wanita yang kini berusia 47 tahun tersebut sempat terjatuh ketika menggunakan mobile stairway (tangga pesawat portable) pepada sebuah penerbangan yang terjadi pada April 2015 silam. Kejadian ini sendiri terjadi di Brisbane Airport dan apa yang ada diingatan Margaret adalah kala itu cuaca tengah hujan.

Singkat cerita, Margaret jatuh dan ia mengalami cidera pada bagian leher, bahu, dan ibu jari. Tidak hanya sekedar cidera yang mampu pulih, namun cidera yang dialami oleh Margaret ini tergolong sebagai cidera permanen yang dimana secara tidak langsung akan mempengaruhi pola kehidupan Margaret ke depannya.

Berlandaskan cidera permanen yang diidap dirinya, Margaret lalu melayangkan gugatan terhadap pihak Qantas karena ia beranggapan bahwa pihak maskapai telah lalai dan menyebabkan Margaret cidera.

“Insiden itu sebenarnya bisa dihindari oleh Qantas jika telah menyediakan peralatan dan pelatihan yang tepat,” ujar Margaret.

Margaret mengatakan bahwa sebenarnya Qantas harus sudah paham betul bahwa apabila cuaca tengah hujan, maka penggunaan mobile stairway bisa dihindari guna meminimalisir risiko tergelincir.

Di sini, Margaret menggugat pihak Qantas senilai US$315.000 atau yang setara dengan Rp4,5 miliar.

Baca Juga: Adakah Yang Berbeda Antara Pramugari dan Awak Kabin?

“Tetapi karena kelalaian terdakwa (Qantas), penggugat (Margaret) jadi terpaksa menderita uka-luka tersebut,” ujar salah satu laporan yang diduga akan dibawa ke pihak pengadilan.

Sebagai bentuk pembelaan pihak maskapai, mereka mengatakan bahwa penggunaan mobile stairway dikarenakan bangunan terminal tempat pesawat terkait parkir sedang tidak memiliki garbarata (sky bridge) yang bisa digunakan, sehingga mereka lebih memilih untuk menggunakan mobile stairway.

Menurut Anda, siapa yang salah di sini?

 

Per 15 Mei, Tarif Batas Atas Turun 15 Persen untuk Penerbangan Full Service Rute Domestik

Lesunya demand pada penerbangan rupanya telah mengetuk ‘hati’ pemerintah, dimana imbas penurunan penerbangan mulai dirsakan ke banyak sektor. Pemerintah akhirnya telah memangkas tarif batas atas (TBA) tiket pesawat atau angkutan udara sebesar 12-16 persen untuk penerbangan dengan layanan penuh (full service) dan akan mulai resmi berlalu pada 15 Mei 2019. Hal itu diputuskan seusai rapat koordinasi (rakor) di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Baca juga: Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya!

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemangkasan rata-rata TBA sebesar 15 persen. “Penurunan tidak sama antara rute satu dengan yang lain, cuma rata-rata kita belum hitung 100 persen. Range-nya 12-16 persen. Kita harapkan dia akan dekat ke 15 persen turunnya” kata Darmin di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (13/5/2019).

Menurut Darmin, penurunan TBA ini merupakan tindak lanjut dari hasil Rakortas Tarif Tiket Pesawat yang sudah dilakukan pada 6 Mei 2019. Saat itu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berjanji akan melakukan evaluasi.

“Sehingga sejak minggu lalu sudah ada kesepakatan pemerintah melalui Menhub akan melakukan penurunan pada TBA, tarif batas bawah (TBB) nggak usah,” ujar dia. Keputusan tersebut, lanjut Darmin, dikarenakan tarif tiket pesawat, khususnya penerbangan domestik, mengalami kenaikan cukup tinggi.

Darmin menyebut selama kuartal I-2019 telah terjadi kenaikan 11,4 persen di tingkat produsen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan tarif angkutan darat yang sebesar 1,69 persen (bus), kereta api sebesar 2,44 persen, angkutan laut sebesar 2,01 persen, dan angkutan penyeberangan sebesar 1,69 persen.

“Jadi angka itu kemudian menunjukkan bahwa beban bagi konsumen yang mempengaruhi tentu saja pengeluaran rumah tangga itu cukup tinggi dan itu berarti konsumen dari angkutan udara bukan sekadar rumah tangga, ada sektor lain, seperti pariwisata,” ungkap dia.

Baca juga: Klarifikasi INACA, “Harga Avtur Tidak Berpengaruh Langsung Pada Tingginya Harga Tiket Pesawat”

Dikutip dari cnbcindonesia.com (14/5), penyesuaian TBA ini hanya berlaku bagi maskapai full service, seperti Garuda dan Batik Air. Sedangkan untuk maskapai berbiaya murah atau low-cost carrier (LCC), seperti Lion Air dan Citilink, sifatnya hanya berupa imbauan agar menyesuaikan harga sekitar 50 persen dari TBA baru.

Ikuti Jejak Air France-KLM, Muncul Gagasan Merger Singapore dan Malaysia Airlines

Tingkat kompetisi dalam bisnis penerbangan kian tajam, tekanan biaya operasional tak hanya bisa dijawab dengan adopsi armada pesawat modern semata. Lebih dari itu merger dijalankan agar beban biaya dapat ditekan, sementara pangsa pasar tetap dapat dijaga. Setelah dimulai di segmen maskapai swasta, maskapai plat merah kini mulai melakukan merger. Sebut saja apa yang dilakukan Air France – KLM Royal Dutch dan British Airways – Iberia (IAG). Dan bergeser ke Asia Tenggara, muncul gagasan untuk melakukan merger antara Singapore Airlines dan Malaysia Airlines.

Baca juga: Salip IAG dan Air France-KLM, Lufthansa Kini Jadi Maskapai Terbesar di Eropa

Dilansir dari theedgemarkets.com (13/5), gagasan tersebut diutarakan Mohshin Aziz, analis penerbangan regional Maybank Kim Eng Holdings Ltd. Menurut Mohshin, langkah merger diantara kedua maskapai dapat menghapuskan banyak biaya dan menjadikan keduanya lebih efisien. Dengan mengambil contoh yang dilakukan Air France-KLM, setelah merger kedua maskapai tetap beroperasi dengan brand masing-masing, hanya pengelolaan keduanya saat ini di tangan satu perusahaan.

Moshin punya argumen, maskapai Malaysia dan Singapura dahulu pernah bersatu dalam label Malaysia-Singapore Airlines (MSA). Persisnya MSA adalah maskapai kebanggaan kedua negara sebelum akhirnya bubar pada tahun 1972. “Jika Singapore Airlines dan Malaysia Airlines bergabung maka akan ada perbaikan dalam penjadwalkan terbang. Selain itu relokasi aset kedua maskapai dapat dioptimalkan,” ujar Moshin yang juga menjabat associate director di Maybank Kim Eng Securities.

Untuk bisa mewujudkan gagasan di atas, krisis identitas nasional harus dilupakan, ini menjadi isu krusial dalam merger antara dua flag carrier. Operator penerbangan harus mampu melepaskan dari ego dan mentalitas bahwa ‘saya terbang mewakili negara saya.”

Contoh dalam hal ini adalah merger antara KLM Royal Dutch Airlines dan Air France. Kedua maskapai nasional memperoleh ‘penghematan luar biasa’ dalam waktu tiga tahun setelah merger. “Mereka menggabungkan sistem, mereka memberhentikan orang, mereka menghapus tumpang tindih, dan mereka menghemat banyak uang. Semua hal ini dicapai hanya dalam waktu tiga tahun, ”jelas Mohshin.

Air France mengambil alih KLM yang bermasalah pada tahun 2004, tetapi kedua maskapai terus beroperasi sebagai entitas terpisah dan memastikan Bandara Paris Charles de Gaulle dan Bandara Amsterdam Schipol tetap sebagai hub penting bagi grup. Namun belum lama ini, Pemerintah Belanda merasa khawatir terhadap masa depan Bandara Schipol dan KLM. Kemudian ini mendorong Pemerintah Belanda meningkatkan kepemilikannya di perusahaan induk Air France-KLM menjadi 14 persen pada awal tahun ini. Bagi pihak Perancis, hal tersebut adalah langkah yang digambarkan sebagai “tidak ramah.”

Baca juga: Demi Efisiensi Grup, SilkAir Besar Kemungkinan Dilebur Ke Singapore Airlines

Kembali ke gagasan merger Singapore Airlines dan Malaysia Airlines, memang lebih mudah untuk dikatakan daripada dijalankan. “Ketika dia (PM Mahathir Mohamad) menjadi perdana menteri untuk pertama kalinya, Malaysia Airlines memiliki masalah. Saat ini, mereka masih memiliki masalah. Setelah bertahun-tahun, tidak ada perbedaan, ”kata Mohshin.

Namun yang jadi tantangan adalah bahwa setiap negara ingin memiliki maskapai nasional sendiri. Pemerintah adalah pemilik Malaysia Airlines, Singapore Airlines, Thai Airways, Vietnam Airlines, dan Garuda Indonesia, ”kata Mohshin.

Sambut Era New Midsize Airplane, Akankah Boeing 797 Jadi Suksesor 737?

Mari tinggalkan sejenak pemberitaan negatif tentang Boeing yang sejak beberapa bulan ke belakang terseok-seok akibat dua kecelakaan maut yang melibatkan dua pesawat berjenis 737 MAX 8 yang masing-masing milik Lion Air dan Ethiopian Airines. Kini perusahaan asli Negeri Paman Sam ini tengah berupaya untuk tidak kehilangan momen dalam mengembangkan pesawat yang berjenis New Midsize Airplane (NMA), dan rencananya Boeing akan menggunakan susunan angka 797 untuk penamaan pesawat ini kelak.

Baca Juga: Gunakan Sayap Lipat nan Unik, Akankah Boeing 777X Jadi Pesawat Paling Efisien?

Era NMA yang diperkirakan akan dimulai pada beberapa tahun mendatang ini tentu saja disambut antusias oleh berbagai kalangan – tidak terkecuali Boeing selaku salah satu penyedia armada sejenis. Kendati terseok akibat kasus 737 MAX 8, namun internal Boeing mengatakan bahwa hal tersebut sama sekali tidak menunda pengembangan dari 797. Satu faktor yang tidak boleh dilupakan dalam pengembangan pesawat adalah tingkat kehematan bahan bakar – dan sudah tidak perlu ditanyakan lagi apakah Boeing 797 mengadopsi fitur tersebut atau tidak, karena jawabannya sudah pasti iya.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (12/5/2019), dikabarkan pesawat ini nantinya tidak akan memiliki jendela, dan eksistensinya akan digantikan oleh sebuah layar dengan gambar yang diproyeksikan.

“Bayangkan sekarang ada sebuah pesawat yang ketika Anda lihat dari luar seperti tanpa jendela, tetapi ketika Anda masuk ke dalam, ternyata ada jendela … Sekarang Anda memiliki satu pesawat yang tidak memiliki kelemahan struktural karena jendela. Pesawat akan lebih ringan, pesawat bisa terbang lebih cepat, mereka akan membakar bahan bakar jauh lebih sedikit dan terbang lebih tinggi,” ujar Presiden maskapai Emirates, sir Tim Clark, dikutip dari artikel yang diterbitkan BBC pada tahun 2018 lalu.

Lebih ringan? Lebih cepat? Lebih struktural secara suara? Kedengarannya ini akan menjadi nilai jual yang bagus bagi Boeing 797. Namun aoa jadinya jika Boeing dihadapkan oleh para pengidap klaustrofobia (ketakutan terhadap ruang-ruang sempit)?

Baca Juga: Beberapa Hal Yang Terlupakan dari Nama Besar Boeing

Tidak menutup kemungkinan juga armada NMA ini kelak akan menjadi suksesor dari keluarga 737 yang seperti sudah disebutkan di atas, tengah tersandung masalah. Anda boleh berkhayal tentang bagaimana wujud dan kemampuan dari armada ini di masa yang akan datang, namun kembali lagi, hanya Boeing sajalah yang memiliki kendali penuh terhadap pesawat jenis ini.

Penumpang Sesak Nafas, Boeing 737-800 Garuda Indonesia Divet Flight ke Bandara Soekarno-Hatta

Boeing 737-800 dengan nomer penerbangan GA854 rute Surabaya – Singapura pada Minggu pagi, 15 Mei 2019, sontak harus melakukan pendaratan di Bandara Soekarno-Hatta. Aksi pengalihan pendaratan (divert flight) ini terpaksa dilakukan pilot lantaran ada penumpang yang mengalami sesak nafas sesaat pesawat tinggal landas dari Bandara Juanda, Surabaya.

Baca juga: Penumpang Lion Air JT-996 Rute Makassar-Kendari Melahirkan di Kabin Pesawat

Dikutip dari beberapa sumber, penumpang yang diketahui duduk di kursi kelas ekonomi nomer 22H mengalami sesak nafas. Direktur Operasi Garuda Indonesia, Capt Bambang Adisurya Angkasa mengungkapkan, pesawat rute Surabaya-Singapura itu terpaksa harus mengalihkan pendaratan di Jakarta karena alasan kemanusiaan.

Selanjutnya, awak kabin kemudian melaporkan peristiwa tersebut kepada pilot in command yang kemudian memutuskan melakukan divert flight ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kota Tangerang. Pesawat pun berhasil mendarat tepat pada pukul 09.15 WIB.

Namun sayang, sesampainya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tersebut, penumpang yang mengalami sesak nafas langsung mendapatkan pertolongan pertama dan dibawa ke KKP Pusat Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Penumpang tersebut meninggal dunia setelah mendapatkan pertolongan pertama di KKP Pusat Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Baca juga: Seorang Pria Oleskan Tinja di Dua Toilet, United Airlines Terpaksa Mendarat Darurat

Divert flight diputuskan dilakukan karena mempertimbangkan kondisi penumpang yang perlu mendapatkan pertolongan medis segera. Capt Bambang mengapresiasi putusan cepat sang pilot dan menjelaskan bahwa peristiwa divert flight tersebut merupakan wujud komitmen maskapai dalam mengedepankan keselamatan penumpang dalam ranah operasional penerbangan.

OAG Flightview: Garuda Indonesia Jadi Maskapai Paling On Time di Asia

Di tengah hangatnya berita tentang laporan laba perusahaan yang menuai kontroversi serta ancaman pemogokan dari pilot, maskapai nasional Garuda Indonesia kembali mempertahankan capaian tingkat ketepatan waktu terbaik dunia dengan catatan On Time Performance (OTP) sebesar 95.5 persen untuk kategori penerbangan global yang memiliki jumlah penerbangan di atas 10 ribu penerbangan versi OAG Flightview pada periode April 2019.

Baca juga: On Time Performace Terbaik, Garuda Indonesia Masuk 10 Besar Maskapai Global

Adapun predikat sebagai maskapai global dengan OTP terbaik tersebut berhasil dipertahankan perusahaan sejak Desember 2018 lalu serta menjadikan Garuda Indonesia sebagai satu-satunya maskapai asal Asia yang berhasil mempertahankan predikat tersebut selama lima bulan berturut-turut.

Direktur Operasi Garuda Indonesia Capt Bambang Adisurya Angkasa dalam catatan tertulis (11/5) mengungkapkan, “Keberhasilan pencapaian ini akan menjadi tantangan besar bagi Perusahaan terlebih jelang memasuki peak season Hari Raya Idulfitri, kami saat ini mempersiapkan secara matang dengan melakukan optimalisasi On-Time Performance melalui lini layanan operasional serta koordinasi intensif kepada para pemangku kepentingan kebandarudaraan untuk menjaga komitmen kami dalam memberikan layanan standar internasional bintang 5.”

Capt. Bambang menambahkan, “Kami terus menjaga performa ketepatan waktu penerbangan maskapai melalui pengecekan terhadap seluruh operasional penerbangan khususnya dari segi penerapan keamanan dan keselamatan sebagai komitmen kami dalam mengedepankan aspek “Operational Safety”, dengan demikian kami optimistis peak season Lebaran ini akan berjalan aman, tepat waktu, dan nyaman”.

Capt. Bambang menjelaskan keberhasilan Garuda Indonesia dalam mempertahankan capaian terbaik OTPnya tersebut adalah hasil kerja sama yang solid seluruh lini operasional Garuda Indonesia dalam memberikan pelayanan terbaik bagi para pelanggan.

Pencapaian ini tentunya akan menjadi dorongan bagi Perusahan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas kinerja operasional maskapai khususnya dalam hal ketepatan waktu penerbangan maskapai.

Baca juga: ‘On Time Performance’ Tak Cuma Milik Dunia Penerbangan

“Kami juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengguna jasa yang turut mendukung kelancaran dan ketepatan waktu penerbangan Garuda Indonesia selama ini melalui proses check-in tepat waktu.”, tutup Capt. Bambang

Sisa 1 Tahun, Mengapa Kontrak Airbus dan Siemens Berkahir Begitu Saja?

Di balik invasi Airbus untuk merebut ceruk pasar dari Boeing yang kini sedang terseok-seok akibat dua kecelakaan beruntun yang melibatkan pesawat 737 MAX 8, ternyata kabar kurang mengenakkan juga datang dari produsen pesawat asal Benua Biru ini. Dikabarkan Airbus telah pecah kongsi dengan rekan kerjanya, Siemens yang terjalin sejak tahun 2016 lalu. Sebelumnya, Airbus dan Siemens tergabung dalam sebuah kerja sama dalam pengembangan pesawat listrik hybrid.

Baca Juga: Dinilai Bakal Rugikan Persaingan, Uni Eropa Blokir Merger Antara Siemens dan Alstom

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman electrive.com (9/5/2019), siaran pers yang diumumkan oleh pihak Airbus menyatakan bahwa adanya perubahan dalam hubungan kerja sama tersebut dama skema yang sedikit tidak langsung. Ternyata tidakhanya dari pihak Airbus saja yang menyatakan bahwa hubungan kerjasamanya sudah berhenti – pun dengan pihak Siemens.

Menurut salah satu juru bicara Siemens, ia mengatakan bahwa, “target yang disepakati ternyata telah rampung satu tahun lebih cepat dari target waktu yang sebelumnya ditentukan,”

“Jadi ketika targetnya sudah tercapai padahal waktu kontraknya masih ada, kenapa kita mesti menunggu hingga waktu kontraknya jatuh tempo?” tandasnya.

Sebelumnya, antara Airbus dan Siemens memang menjalin sebuah kerja sama pada tahun 2016 silam dengan durasi kontrak lima tahun. Itu berarti, seharusnya kontrak ini berakhir pada tahun 2020 mendatang. Rencananya, baik pihak Airbus maupun pihak Siemens akan menginvestasikan ratusan juta selama rentang waktu kerja sama tersebut.

Diketahui, kerja sama yang kini sudah rampung tersebut melibatkan kurang lebihnya 200 tenaga kerja yang terbagi ke dalam tiga kelas thrust (100 kilowatt, lebih dari dua megawatt, hingga 10 megawatt). Mungkin secara signifikan, kerja sama antara kedua perusahaan itu eksklusif untuk model pesawat dengan kapasitas lebih dari 20 orang.

Pada bulan November 2017, Siemens, Airbus dan Rolls Royce mengumumkan bahwa mereka akan mengembangkan jet regional berkapasitas 100 kursi dengan penggerak listrik hibrida untuk turbin pada tahun 2020 mendatang – setidaknya untuk versi uji coba.

Baca Juga: ‘Curi’ Pasar Boeing, Airbus Genjot Produksi A321XLR

Terlihat, hubungan antara Siemens dan Airbus sekarang berubah dari kerja sama yang ambisius menjadi hubungan pemasok belaka. Pernyataan tersebut merupakan hipotesa yang disimpulkan dari Kepala Program Sistem e-Aircraft di Airbus, Martin Nuesseler.

“Hasil yang kami capai sejauh ini membuka jalan menuju masa depan penerbangan listrik hibrida. Kami yakin bahwa Siemens eAircraft akan terus menjadi mitra terdekat Airbus di masa depan,” ujar Martin.

Pemberhentian kerja sama yang diungkapkan kedua belah pihak terjadi secara baik-baik ini belum bisa sepenuhnya diamini begitu saja. Pasalnya ada perubahan di manajemen Airbus, dimana Guillaume Faury baru-baru ini mengambil alih manajemen grup dari Tom Enders. Tentu saja, hal ini harus ditelaah lebih dalam lagi, apakah benar rencana kerja sama antara Airbus dan Siemens sudah rampung? Atau malah ada perubahan strategi yang dilakukan oleh Guillaume?

 

Manjakan Penumpang, Garuda Indonesia Group Pasang WiFi Onboard di 30 Armada

Maskapai plat merah Garuda Indonesia menargetkan tahun 2019 ini akan ada 30 armada yang sudah terpasang fitur WiFi onboard. Tidak lain dan tidak bukan, hadirnya fitur ini pada armada maskapai Garuda Indonesia Group (Garuda Indonesia dan Citilink) ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan penumpang yang mengudara dengan menggunakan flag carrier Indonesia ini.

Baca Juga: Garuda Indonesia Group Hadirkan WiFi Gratis Dalam Penerbangan Domestik

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman tempo.co (9/5/2019), Direktur Teknik dan Layanan Garuda Indonesia Iwan Joeniarto mengatakan secara bertahap seluruh armada maskapai Garuda group akan dilengkapi wifi gratis untuk penumpang.

“Tahun ini 15 Citilink, 5 Airbus A330 Garuda Indonesia dan 10 pesawat 737 Garuda Indonesia terpasang WiFi,” ujar Iwan.

Iwan juga menambahkan bahwa hingga saat ini, sudah ada satu pesawat Citilink yang sudah terpasang fitur WiFi onboard ini. Nantinya, penumpang akan dapat berselancar di dunia maya secara cuma-cuma ketika mereka berada di ketinggian 10.000 kaki.

New experience dan kepuasan pelanggan merupakan dua goals yang ditargetkan pihak Garuda Indonesia melalui pemasangan WiFi onboard ini. Ya, Garuda ingin memanjakan setiap penumpang yang sudah mempercayakan perjalannya bersama anggota dari aliansi penerbangan SkyTeam ini.

“Terutama pada penerbangan jarakjauh, satu sampai dua jam perjalanan akan boring, kita ingin meningkatkan new experience bagi pelanggan kita,” tandas Iwan.

“Bahwa kita digital airlines yang kita ingin tampilkan adalah Garuda punya WiFi on board,” ujar Iwan sembari menjelaskan niatan Garuda Indonesia untuk menjadi pelopor airlines yang diminati masyarakat melalui inovasi baru.

Baca Juga: 50MB Kuota WiFi Gratis di Rute Domestik Citilink dan Garuda Indonesia

Adapun pemasangan fitur WiFi onboard di armada pesawat Garuda group akan dilakukan sepenuhnya oleh PT Mahata Aero Teknologi, startup yang digandeng Garuda Indonesia. Konsep kerja sama yang berbeda dengan yang dilakukan Garuda sebelumnya, menurut Iwan, tanpa investasi, tanpa biaya dan revenue sharing sangat menguntungkan Garuda dan menghemat biaya.

Lebih jauh Iwan mengatakan perjanjian kerja sama antara Garuda Indonesia dan Mahata merupakan pertimbangan perseroan untuk melakukan bisnis ke depan. “Bisnis airlines, tidak bisa mengandalkan core bussines. Harus mencari terobosan karena margin kecil,” kata Iwan.

Mulai 14 Mei, Citilink Resmi Beroperasi dari Terminal 2F LCTT Bandara Soekarno-Hatta

Maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink Indonesia diwartakan akan mengoperasikan seluruh penerbangan rute internasionalnya dari Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta ke Low Cost Carrier Terminal (LCCT) atau yang biasa dikenal terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng mulai hari Selasa, 14 Mei 2019.

Baca juga: Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta Kini Khusus untuk Penerbangan Berbiaya Murah

“Langkah perpindahan ini merupakan upaya Citilink Indonesia mendukung program pemerintah untuk mengintegrasikan penerbangan internasional maskapai berbiaya hemat (LCC) ke dalam satu terminal yang disebut dengan low-cost carrier terminal (LCCT),”ujar Plh. VP Corporate Secretary and CSR Citilink Indonesia, Ageng W Leksono, dalam catatan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com, Jumat (10/5).

Diharapkan, dengan pengoperasian penerbangan internasional Citilink Indonesia di LCCT dapat membantu program peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia dengan beragam kemudahan pilihan penerbangan.

Selain itu, Terminal LCCT 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta memiliki desain yang sesuai dengan kebutuhan penumpang maskapai berbiaya hemat (LCC), mengusung konsep digitalisasi berupa fasilitas self check in dan self bagage drop yang selaras dengan visi Citilink Indonesia sebagai digital airline.

Baca juga: Mesin Self Service di Bandara Ternyata Jadi ‘Sarang’ Kuman dan Bakteri

Mengenai pemindahan terminal, dipastikan tidak ada perubahan Jadwal penerbangan Internasional Citilink. Terhitung hingga saat ini, Citilink Indonesia memiliki dua rute penerbangan internasional dari dan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, yaitu Jakarta – Penang, Malaysia dan Jakarta – Kuala Lumpur, Malaysia.