Tingkatkan Kualitas Hidangan, Singapore Airlines Gandeng Como Shambhala Hadirkan ‘Makanan Sehat’

Berita ditemukannya gigi manusia pada hidangan makanan di penerbangan Singapore Airlines  26 Februari lalu, secara langsung telah mencoreng citra salah satu maskapai terbaik di dunia ini. Betapa tidak, selama ini kualitas layanan dan penyajian menu di Singapore Airlines terkenal ketat dan sangat terjaga tingkat kebersihannya.

Baca juga: Kali Ini Gigi Manusia Ditemukan di Dalam Makanan Singapore Airlines

Tak tinggal diam, Singapore Airlines pun melakukan penyelidikan dan analisa terhadap gigi yang ditemukan dalam makanan tersebut. Selain itu pihak maskapai juga meminta maaf pada penumpang bernama Bradley Button atas pengalamaan yang tidak enak tersebut.

Entah ada kaitannya langsung atau tidak, belum lama ini Singapore Airlines menghadirkan makanan sehat yang kerja sama dengan Como Shambhala ke dalam menu makanannya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman businessinsider.sg (14/3/2019), Singapore Airlines mengatakan, penumpang tidak lagi perlu khawatir dilayani makanan tidak sehat dalam penerbangan.

Sebab maskapai akan menyediakan makanan sehat dan menyediakan berbagai macam layanan holistik dari makanan ke pusat kesehatan. Christina Ong pengusaha yang juga pemilik Grup Como mengatakan, tanda tangan nota kesepahaman kerja sama tersebut terjadi pada Kamis, 14 Maret 2019.

Menurutnya kerja sama ini memiliki tujuan meningkatkan pengalaman pelanggan bagi para pelancong. Pada fase pertama dari kerja sama ini akan masuk pada kuartal kedua tahun 2019 dengan menghadirkan masakan kesehatan yang memenangkan penghargaan Como Shambhala di penerbangan tertentu.

“Menggunakan bahan musiman dan berkelanjutan, masing-masing dengan profil gizi mereka sendiri, gaya memasak ini bertujuan untuk menginspirasi selera Anda dengan rasa yang berkesan dan lezat, mengawinkan makan sehat dengan keahlian memasak yang menyenangkan,” kata SIA dan Como Shambhala dalam pernyataan bersama.

Baca juga: Yakin Sehat? Ini Rahasia Makanan di Pesawat Kata Mantan Pramugari

Menurut pernyataan itu, menu kesehatan baru akan diperkenalkan di semua kelas. Hidangan kesehatan yang dikembangkan bersama oleh perusahaan tersebut juga akan semakin tersedia dalam layanan SIA’s Book the Cook, yang ditawarkan kepada para penumpang Suites, Kelas Satu dan Kelas Bisnis maskapai. Selain makanan, kolaborasi di masa depan juga dapat meluas ke fasilitas di atas kapal dan hiburan dalam penerbangan.

Sehari Pasca Penembakan Brutal, Bandara Christchurch Telah Dibuka Kembali

Insiden penembakan yang terjadi di kota Christchurch, Selandia Baru pada Jumat, 15 Maret 2019 kemarin ternyata berdapak juga pada sektor transportasi udara. Sebagaimana yang sudah ramai diperbincangkan sejak akhir minggu kemarin, Brenton Tarrant, ‘sang eksekutor’ secara membabi-buta memuntahkan puluhan selongsong peluru dan menewaskan puluhan warga Muslim tak lama berselang setelah Ibadah Sholat Jumat di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood.

Baca Juga: Alami Turbulensi Parah, Air New Zealand Berikan Full Refund Kepada Penumpang

Demi menjaga keamanan dan keselamatan para penumpang, sejumlah maskapai yang melayani penerbangan domestik dari Christchurch dilarang untuk beroperasi sementara waktu – terhitung sejak insiden penembakan tersebut berlangsung. Untuk setidaknya 48 jam kedepan, otoritas penerbangan setempat melarang setiap maskapai untuk mengudara, dan terhitung sejak Sabtu (16/3/2019) pagi, layanan regional dari Christchurch sudah mulai beroperasi kembali.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newsie.co.nz (16/3/2019), pengoperasian kembali layanan udara dari kota Christchurch ternyata lebih cepat satu hari ketimbang informasi yang sebelumnya disampaikan. Tentu saja, ada penyaringan keamanan tambahan yang diberlakukan terhadap semua maskapai yang hendak bertolak dari Christchurch – semua maskapai harus tunduk terhadap kebijakan temporer ini.

Sebut saja maskapai Air New Zealand yang meminta kepada setiap penumpang yang hendak bertolak dari Christchurch untuk melakukan pengecekkan ulang terhadap status penerbangan mereka melalui situs resmi Air New Zealand. Selain itu, pihak maskapai juga meminta kepada para penumpangnya untuk datang ke bandara lebih awal guna melewati serangkaian proses pengecekan keamanan. Bisa jadi, serangkaian proses pengecekan di bandara ini ditujukan agar para pelaku tindak teror yang terkait dengan insiden Jumat lalu ini tidak melarikan diri via jalur udara.

Selain memberikan himbauan, Air New Zealand juga memberikan fleksibilitas kepada setiap penumpangnya untuk melakukan reschedule atau memesan ulang tiket terkait pelarangan operasi maskapai di Christchurch.

Baca Juga: Seorang Wanita Bawa Pisau dan Lolos dari Alat Pemindai, 3 Ribu Penumpang Tertahan di Bandara Auckland

“Disarankan penumpang untuk melakukan konsultasi dengan pihak travel agent guna menindaklanjuti fleksibilitas yang kami tawarkan,” ujar salah seorang juru bicara Air New Zealand.

Sebenarnya, Pemerintah telah memberi tahu bahwa tidak ada ancaman khusus terhadap penerbangan dan tingkat ancaman penerbangan untuk New Zealand tetap rendah. Langkah-langkah penambahan keamanan ekstra di Christchurch ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian dan ketenangan terhadap maskapai dan pelanggan serta semua orang yang terlibat di dalamnya sampai investigasi terkait penembakan tersebut menemukan titik terang.

Penasaran dengan Biaya Pembangunan LRT dan MRT Per Kilometernya? Simak Berikut Ini

Memiliki moda transportasi massal terbaru sudah ditunggu-tunggu kehadirannya oleh masyarakat. Bahkan moda sarana transportasi massal berbasis rel mulai mengular baik di ibukota Jakarta, daerah penyanggah seperti Depok dan Bekasi hingga luar kota di Sumatera Selatan tepatnya Palembang.

Baca juga: Jelang Beroperasi Penuh, Sebenarnya Berapa Tarif Tiket MRT Jakarta?

Moda tersebut yakni MRT Jakarta, LRT Palembang, LRT Jakarta dan LRT Jabodebek. Hampir keseluruhannya sudah berjalan seperti LRT palembang dan MRT Jakarta serta LRT Jakarta diperkirakan mulai beroperasi di tahun 2019 ini. Kereta-kereta ini sendiri sudah ditunggu oleh masyarakat, bahkan pada tahap uji coba pun terlihat antusias untuk menikmati moda baru itu.

(@ADHIKarya)

Karena tergolong megastruktur yang dibangun secara masif, urusan biaya untuk mewujudkan proyek LRT dan MRT pun pastinya tak murah. Nah, bakal menjadi moda transportasi bagi kaum urban, tentu ada baiknya bagi kita mengenal besaran biaya implementasi dari kedua wahana yang berjalan di rel tersebut.

Dilansir KabarPenumpang.com dari lalam akun Instagram PT Adhi Karya, biaya pembangunan tiap moda berbasis rel tersebut berbeda antara satu dengan lainnya. Hal ini dikarenkan LRT dan MRT yang ada di Jakarta memiliki tujuan yang berbeda dan panjang rutenya pun tak sama.

Sehingga ini menjadi dasar pembiayaan setiap proyek berbeda, meski beberapa strukturnya memiliki persamaan. Seperti pada pembangunan LRT Jabodebek tahap 1, dengan struktur yang melayang dan memiliki panjang 44,43 km,  maka total biaya yang diperlukan untuk pembangunannya mencapai Rp22,8 triliun atau sebesar Rp513,8 miliar per km-nya.

Kemudian LRT Jakarta dengan struktur layang sepanjang 5,8 km menghabiskan biaya Rp5,9 triliun atau RP1,02 triliun per km. Sementara, LRT di Palembang sepanjang 23,4 km dengan struktur melayang total biaya pembangunan mencapai Rp10,9 triliun atau sebesar Rp466,6 miliar per km.

Berbeda dengan pembangunan LRT, MRT pada sebagian struktur jalur layangnya sepanjang sepuluh kilometer total biaya pembangunan mencapai Rp10,9 triliun atau sebesar Rp1,09 triliun per km.

Baca juga: LRT Jakarta Fase I Diperkirakan Beroperasi Pada Januari 2019

Hal ini dikarenakan, MRT memiliki jalur bawah tanah sepanjang enam kilometer. Perbedaan ini sendiri ternyata tak hanya berdasarkan panjang rute, tetapi juga teknologi yang digunakan berdampak pada biaya pembangunan moda transportasi massal berbasis rel tersebut.

Serupa Kasus Lion Air JT-610, Kuat Dugaan Sensor Angle-of-Attack Ethiopian Airlines ET-302 Juga Bermasalah

Para peneliti di sektor aviasi hingga saat ini masih berjibaku untuk menemukan satu benang merah dari dua kecelakaan yang terjadi dalam kurun waktu lima bulan terakhir – Lion Air JT-610 pada 29 Oktober 2018 dan Ethiopian Airlines ET-302 pada 10 Maret 2019. Berbagai spekulasi dan asumsi terkait dua kecelakaan yang menyebabkan pembekuan sementara armada Boeing 737 MAX 8 di seluruh penjuru dunia ini pun mulai bermunculan ke permukaan, dan para peneliti memusatkan perhatian mereka terhadap sistem sensor angle-of-attack yang diduga sebagai ‘biang kerok’ dari dua kecelakaan mematikan ini.

Baca juga: Laporan Investigasi Awal Lion Air JT-610: KNKT Indikasikan Sensor Angle of Attack Tidak Berlaku Normal

KabarPenumpang.com mengutip dari berbagai laman sumber, para peneliti menemukan ada sejumlah kesamaan dari dua kecelakaan ini dan CEO Boeing, Dennis Muilenburg tidak bisa menampikkan dua fakta yang ditemukan oleh para peneliti ini.

“Ada input sensor yang salah,” ujar Dennis.

Pernyataan Dennis tersebut sebagai tanggapan dari Sekretaris Transportasi Ethiopia yang menyebutkan bahwa ada, “kesamaan yang sangat jelas (antara kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines),”

Patut diketahui bersama, angle-of-attack merupakan sudut antara garis referensi pada body pesawat dan vektor yang mewakili gerakan relatif antara pesawat dan fluida yang bergerak di antaranya. Sebanyak enam ahli mengatakan bahwa risiko yang ditimbulkan oleh sensor angle-of-attack yang salah diperkuat oleh meningkatnya peran otomatisasi kokpit. Hingga saat ini, pernyataan tersebut masih dijadikan satu acuan yang patut diperhatikan oleh Boeing untuk merevisi sistem terkait.

Posisi sensor Angle of Attack.

Jika melihat lagi ke rentetan kecelakaan yang telah terjadi sebelumnya, ternyata ada sejumlah kecelakaan yang disebabkan oleh ketidak-akuratan data yang dikirimkan oleh sensor angle-of-attack dan data yang diperoleh oleh pilot dan kopilot di dalam kokpit.

Baca Juga: Terlambat 2 Menit, Penumpang Ini Selamat dari Kecelakaan Maut Ethiopian Airlines ET302

Mengutip dari laman washingtonpost.com (17/3/2019), dalam kurun waktu lima tahun terakhir, orotitas penerbangan Amerika Serikat (FAA) mencatat ada lebih dari 50 masalah pada sensor angle-of-attack. Data tersebut tercatat oleh Federal Aviation Administration’s Service Difficulty Reporting, dan beruntung, tidak ada kecelakaan yang diakibatkan oleh kesalahan pada sensor ini.

Kesalahan fatal semacam ini memang harus digarisbawahi dan mendapatkan perhatian serius oleh Boeing. Jangan sampai ini menjadi ‘masalah turunan’ yang pada akhirnya bisa membahayakan setiap penerbangan yang dilakoni oleh Boeing dan merugikan perusahaan.

PT KAI Luncurkan Kereta Penolong Tebaru, Sudah Dilengkapi Instalasi Gawat Darurat

Kereta Penolong yang baru saja diluncurkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) memiliki dua gerbong yang berfungsi sebagai evakuasi sarana dan pertolongan korban. Kereta yang baru di luncurkan di Stasiun Bandung tersebut berwarna kuning, putih dan merah muda serta difungsikan saat terjadi gangguan atau peristiwa luar biasa hebat (PLH) di perjalanan atau perlintasan.

Baca juga: Rail Clinic, Klinik Berjalan Diatas Rel Milik PT KAI Gratis

Pada versi lama, kereta penolong hanya berfungsi untuk melakukan evakuasi sarana kereta api seperti kereta, gerbong dan lokomotif ketika mengalami gangguan. Namun versi barunya kini dilengkapi dengan fasilitas Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk penanganan penumpang dan petugas yang mengalami luka-luka.

“Dengan adanya Rangkaian Kereta Penolong terbaru ini memungkinkan proses evakuasi tidak hanya fokus pada penanganan gangguan perjalanan kereta api, akan tetapi perhatian juga diutamakan kepada korban kecelakaan KA atau PLH tersebut, meskipun itu tidak kita harapkan terjadi,” ujar Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro yang dikutip KabarPenumpang.com dari kai.id.

Keunggulan kereta penolong ini adalah memiliki tenaga penggerak sendiri dimana pembuatannya menggunakan metode alih fungsi dari kereta rel diesel (KRD). Sebagai KRD yabg tak perlu ditarik lokomotif, maka kereta penolong dapat tiba lebih cepat di lokasi kejadian.

“Hal ini dimungkinkan karena persiapan armada untuk diberangkatkan menjadi lebih singkat. KAI memproduksi rangkaian Kereta Penolong ini di Balai Yasa Yogyakarta sejak bulan Juli 2018 dan telah menjalani uji statis dan dinamis hingga dinyatakan laik untuk dioperasikan pada November 2018,” jelas Edi.

Edi mengatakan, saat ini KAI sudah memiliki dua kereta penolong dan yang terbaru ini memiliki peralatan untuk mengevakuasi korban. Dia sendiri belum bisa memastikan adanya penambahan tetapi kereta penolong harus tersedia, minimal ada di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kereta penolong ini memiliki nilai investasi Rp6 miliar dengan rincian di kereta penolong 1 berisi alat untuk evakuasi sarana kereta api jika terjadi PLH yakni tabung pemadam (APAR), tangga barang dan orang, alat pengelasan untuk memotong besi, fasilitas alat ungkit dan alat berat untuk kasus KA anjlok.

Sedangkan fasilitas di ruang Kereta Penolong 2 yang berfungsi untuk mengevakuasi korban di antaranya ruang obat, ruang kru medis, ruang tindakan yang berfungsi sebagai tempat melakukan tindakan medis seperti operasi ringan dan sebagainya, ruang resusitasi (berfungsi sebagai tempat untuk memberikan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti nafas), ruang pasien, gudang alat kesehatan, dan toilet. Kereta Penolong ini dalam operasionalnya tidak dipisahkan, namun saat proses evakuasi antara Kereta Penolong 1 dan 2 bisa dipisahkan.

Baca juga: PT KAI Siap Kenakan Tarif Kelebihan Bagasi Pada Penumpang, Tapi Apakah Efektif?

“KAI mencoba untuk terus berinovasi terlebih di sisi keselamatan penumpang maupun kru KA. Hadirnya Kereta Penolong terbaru yang bisa difungsikan sebagai IGD ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi waktu selama proses evakuasi,” pungkas Edi.

Duh! Penumpang Air Transat Tersengat Kalajengking Ketika Mengudara

Melakukan perjalanan udara bersama hewan mematikan? Mungkin pertanyaan ini terdengar sedikit menggelitik di telinga Anda, namun percayalah, beberapa orang di dunia ini pernah mengalami hal tersebut. Sebut saja maskapai berbiaya rendah Lion Air yang pada beberapa waktu lalu sempat ‘kedatangan’ kalajengking di bagasi kabin penerbangan JT-293, tak lama setelah pesawat ini mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dari Pekanbaru, Kamis (14/2/2019).

Baca Juga: Hiiii! Ada Kalajengking di Penerbangan Lion Air Pekanbaru – Jakarta

Nah, kali ini kasusnya bisa dibilang lebih parah! Pasalnya seorang penumpang Air Transat mengaku telah disengat oleh kalajengking ketika tengah melakoni perjalanan dari Toronto menuju Calgary, Kanada, Selasa (26/2/2019). Adalah Quin Maltais, penumpang yang mengaku merasakan sesuatu yang aneh pada bagian punggung bawahnya ketika pesawat tengah mengudara. Bukan sakit akibat memar atau sejenisnya, melainkan sakit seperti disengat oleh binatang.

“Sesaat, saya agak mengabaikannya,” ujar Quin.

“Namun sesaat sebelum pesawat mendarat, persis ketika lampu kabin mulai diredupkan, saya merasakan sakit yang amat sangat pada bagian punggung bawah, seperti disengat – dan seketika saya sadar, astaga, saya telah digigit oleh binatang,” sambungnya.

Ketika lampu kabin sudah kembali menyala pertanda pesawat sudah mendarat, Quin langsung memeriksa bagian belakang tubuhnya tadi guna mencari apakah yang menyebabkan rasa sakit tersebut. Ketika ia mencoba untuk menyingkapkan sweateryang dikenakannya, ia tidak menemukan apa-apa. Namun sebuah pergerakan terlihat oleh mata Quindan ia menyadari bahwa itu merupakan seekor kalajengking.

Baca Juga: 215 Penumpang Air Transat Tak Temukan Koper Saat Tiba di Birmingham

“Saya melihat ada seekor kalajengking di lipatan kursi dan ia menyelinap ke arah belakang,” terangnya.

Sepenglihatan Quin, kalajengking itu sendiri memiliki panjang tubuh sekira empat inci (10cm). Quin yang dalam kondisi panik langsung dilarikan oleh petugas medis keluar dari pesawat dan mendapatkan penanganan pertama guna mencegah bisa dari kalajengking ini menyebar – terlepas apakah kalajengking tersebut menyengat atau mencapit punggung Quin.

Adapun kalajengking tersebut dilaporkan telah ditemukan dan dibunuh. Tidak dijelaskan bagaimana hewan itu bisa berada di dalam pesawat. Dalam keterangan tertulisnya, maskapai Air Transat menyatakan kejadian itu sangat langka, dan mereka segera menggelar penyelidikan.

“Tim kami segera mengikuti protokol dengan menghelat inspeksi menyeluruh di pesawat dan melaksanakan proses pemusnahan secepatnya,” ujar juru bicara Air Transat.

 

Ngeri…! Di Makanan Kelas Satu Delta Airlines Ada Belatungnya!

Duduk di kelas satu dalam sebuah penerbangan, penumpang akan mendapatkan pelayanan yang lebih dibandingkan kelas bisnis ataupun ekonomi. Baik itu kursi, kenyamanan hingga pelayanan makanan yang disajikan akan berbeda.

Baca juga: Setelah Insiden Kecoa, Kini Belatung Hidup ‘Tersaji’ di Makanan Pakistan International Airlines

Namun apa jadinya jika sudah membeli kursi penerbangan kelas satu tetapi mendapat makanan yang tidak higienis? Salah seorang penumpang Delta Airlines yang tidak mau disebutkan namanya ini mendapatkan hal yang tak terduga dan mengerikan pada makanannya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman express.co.uk (14/3/2019), penumpang kelas satu tersebut merasa jijik ketika dirinya menemukan belatung hidup tengah menggeliat di sekitar piring makannya. Pria tersebut mendapat makanan itu saat dalam penerbangannya dari Detroit ke Seattle.

Kejadian ini di-videokan dan menjadi viral dimana menunjukkan belatung hijau perlahan-lahan bergerak di sisi piring makanan. Awalnya terlihat seperti sayuran dari salad dan lolos sebagai makanan. Tetapi ternyata belatung itu bukan sayur dan tiba-tiba bergerak di sekitar makanan tersebut. Video tersebut dibagikan ke media sosial oleh Matthew Klink di blognya Live and Lets Fly.

Klink menyatakan bahwa penemuan belatung memberi arti yang baru pada istilah organik. Blogger ini mengklaim memiliki detail tanggapan Delta ketika penumpang mengeluh dan mengatakan Delta meminta maaf atas makanan tersebut dan menawarkan pria itu US$50 sebagai kompensasi.

“Kami bekerja keras dengan vendor makanan kami untuk menawarkan porsi makan siang dan makan malam yang konsisten dan berkualitas yang menarik bagi semua penumpang kami. Namun, jelas kami menjatuhkan bola selama perjalanan ini. Perlu diketahui bahwa saya menyampaikan kekhawatiran Anda secara langsung ke tim kepemimpinan Vendor Penerbangan dan Katering kami, dengan harapan mencegah acara seperti ini terjadi lagi di masa mendatang,” ujar Delta.

Baca juga: Menjijikan, Ada Kecoa di Makanan ‘Bersegel’ Pada Penerbangan Full Service Air India

“Meskipun saya tidak bisa kembali dan mengubah pengalaman Anda, saya ingin memberi Anda hadiah Delta Choice $50 sehingga Anda dapat menikmati makanan yang lebih baik dari kami.”

Klink mengklaim, penumpang berkata, setelah mendengar tawaran moneter ini: “Siapa yang benar-benar berpikir tentang makan di luar ketika Anda baru saja makan makanan tercemar?”

Saat Airbus A320-200 Batik Air di “Force Down” Jet Tempur Sukhoi Su-30

Jumat siang, 15 Maret lalu sebuah Airbus 320-200CEO Batik Air dengan registrasi PK-LUW dan nomor penerbangan ID 6262 mendapat kawalan langsung dari dua jet tempur Sukhoi Su-30. Pesawat dengan rute Jakarta menuju Makassar dengan 7 awak dan 115 penumpang ini terpaksa di intercept untuk selanjutnya di force down alias dipaksa mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Baca juga: Terima Pesan Hoax, Eurofighter Typhoon Inggris Paksa Mendarat Ryanair

Pengerahan jet tempur mutahkir dari Skadron Udara 11 tentu bukan karena sembarang tujuan, melainkan jet tempur ini diterbangkan atas perintah Kosek Hanudnas II, pasca diperoleh informasi pesawat dibajak 60 menit mengudara dari Jakarta.

Tapi tunggu dulu, peristiwa di atas adalah bagian dari Join Emergency Response Plan Exercise yang memiliki skenario latihan pembajakan (hijack) dalam penerbangan. Dikutip dari siaran pers (15/3), rangkaian kegiatan latihan melibatkan personil dari berbagai divisi Batik Air, TNI Angkatan Udara Lanud Sultan Hasanuddin, Kosek Hanudnas II, Airnav dan Bandar Udara Sultan Hasanuddin. Latihan penanggulangan tanggap darurat (emergency response plan exercise) dihadiri dan disaksikan secara langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) Batik Air, Capt. Achmad Luthfie dan Komandan Wing Udara 5 Kolonel Pnb Hermawan Widhianto.

Seluruh proses penanganan pesawat, tamu dan bagasi dilaksanakan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Penerbangan ID-6262 berangkat tepat waktu (on time), lepas landas pukul 08.40 WIB dari Soekarno-Hatta dan tiba di Makassar pada pukul 12.05 WITA.

Setelah 60 menit mengudara, diketahui bahwa penerbangan ID-6262 mengalami pembajakan oleh teroris. Pilot menjalankan prosedur dengan berkoordinasi dan menyampaikan informasi kepada Air Traffic Controller (ATC) bandar udara tujuan. Atas keterangan tersebut, Komandan Lanud Sultan Hasanuddin mengambil langkah pengamanan kepada pesawat Batik Air ID-6262 dengan menginstruksikan dua pesawat Sukhoi 30 untuk melaksanakan pengawalan dan force down ID-6262 di Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar.

Setelah berkoordinasi dengan Kosek Hanudnas II, dua pesawat Sukhoi 30 tersebut berhasil melaksanakan intercept, identifikasi dan force down sesuai dengan SOP. Setelah pesawat Batik Air ID 6262 mendarat dengan aman di Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar, proses pengamanan di darat dilakukan oleh TNI Angkatan Udara Lanud Sultan Hasanuddin, Petugas keamanan Bandar Udara dan Pihak terkait lainnya. Dengan kerjasama dan koordinasi yang baik, teroris dapat ditangkap dan diamankan untuk penanganan lebih lanjut. Seluruh crew dan tamu Penerbangan Batik Air ID 6262, berada dalam kondisi aman. Proses penurunan tamu dan bagasi berjalan normal.

Baca juga: Saat Terjadi Pembajakan, Inilah Sinyal Rahasia Yang Dapat Dikirimkan Oleh Pilot

Kegiatan ini merupakan latihan terpadu yang dilakukan secara berkala dan berkesinambungan yang bertujuan untuk menguji fungsi komunikasi, komando dan koordinasi antar-stakeholder sesuai dengan Prosedur Penanggulangan Keadaan Darurat (Emergency Response Plan).

Bukan SMRT, Ternyata Taipei Metro Lebih Andal dalam Sistem MRT di Dunia

Sebenarnya dimanakah sistem Metro atau MRT terbaik di dunia? Apakah di Hong Kong, Singapura atau mungkin salah satu negara di Eropa? Ternyata jawabannya ada di Taipei, Taiwan dengan Taipei Metro yang dikenal sebagai sistem kereta bawah tanah paling andal di dunia. Hal ini bisa terlihat dari operator transportasi Singapura, SMRT yang mengundang tim ahli Taipei Metro untuk ikut dalam peninjauan operasi di tengah berbagai masalah.

Baca juga: Kejar Target Operasi di 2019, MRT Kaohsiung Taiwan “Kedatangan” Armada Alstom

Taipei Metro hadir dengan 117 stasiun dan mengangkut dua juta penumpang setiap harinya. Moda transportasi massal ini menghubungkan kota-kota termasuk Taipei, New taipei dan Taoyuan. Bahkan on time performance dari Taipei Metro sendiri mendekati 100 persen. Dilansir KabarPenumpang.com dari mothership.sg, ternyata kurang dari 30 keterlambatan yang melebihi waktu lima menit dalam setahun.

Penumpang Taipei Metro sendiri naik hampir dua kali lipat dalam delapan tahun terakhir dan membuat kepuasan penumpang sebesar 95 persen. Penumpang Taipei Metro sendiri memuji kereta karena bersih dan kursi prioritas tersedia cukup banyak, sehingga lansia dan orang tua yang membawa anak-anak bisa terbantu dengan baik. Keandalan Taipei Metro ternyata tak lepas dari para staf yang bertugas di dalamnya. Pasalnya, karyawan yang bekerja di Taipei Metro berdedikasi dari atas hingga kebawah.

Bahkan Presiden Taipei Rapid Transit Corporation sendiri sudah menduduki jabatannya selama 19 tahun. Adapun penggantian staf sendiri hanya tiga persen dari keseluruhan. Staf yang bertugas di stasiun juga memiliki pengalaman yang cukup lama dan keahliannya sangat berguna.

Lebih dari dua ribu pekerja bertanggung jawab hanya untuk pemeliharaan dimana masalah yang tidak terlalu besar bisa diselesaikan dalam waktu rata-rata dua menit. Prosedur pengoperasian pemeliharaan juga direncanakan dengan baik seperti operasi standar untuk menangani semua insiden, termasuk penumpang yang melompat ke rel.

Bila ada masalah di jalur atau kereta, penumpang akan diberi tahu dalam waktu lima menit masalah penundaannya. Pihak Taipei Metro juga membuka satu jalur yang bisa dioperasikan untuk dua arah saat ada masalah teknis dan bus akan hadir juga untuk membantu mengangkut penumpang.

Meski begitu Taipei Metro pernah terkena masalah cukup besar dimana tahun 2001 lalu, Topan Nar yang menghantam pulau tersebut membuat hujan turun selama tiga hari. Karena itu sebanyak 16 stasiun bawah tanah kebanjiran dan kerusakan mencapai US$76 juta dan pihak Taipei Metro membutuhkan waktu selama tiga bulan untuk membuka layanannya kembali.

Baca juga: Tempatkan Tenaga Ahli di Kereta Nirawak, MRT Singapura Mampu Saingi Kinerja Sistem Metro Taipei

Hal ini kemudian membuat adanya peningkatan pada pengendalian banjir dimana pompa diperlebar untuk mempercepat pengeringan air banjir. Papan kontrol pompa juga dipindahkan ketempat yang lebih tinggi dan hingga saat ini sistem Taipei Metro tak penah mengalami banjir setelahnya.

Mudahkan Pelayanan di Konter Check-in, Japan Airlines Gandeng Accenture Hadirkan Artificial Intelligent

Maskapai plat merah asal Negeri Matahari Terbit, Japan Airlines (JAL) dikabarkan telah menjalin kemitraan dengan salah satu perusahaan teknologi, Accenture dalam upayanya untuk memperkenalkan layanan Artificial Intelligent (AI). Nantinya, layanan kecerdasan buatan ini akan diperuntukan menjawab pertanyaan para pelancong di konter check-in maskapai. Perusahaan akan mulai menguji layanan bertenaga AI di konter check-in internasional di Bandara Narita dan Bandara Haneda, Jepang mulai 12 Maret 2019.

Baca Juga: Hitachi Luncurkan EMIEW3, Robot Pintar di Bandara Dengan Artificial Intelligence

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (12/3/2019), cara kerja dari layanan ini adalah mesin akan mengevaluasi percakapan antara agen konter check-in dan penumpang, lalu layanan ini akan mengirimkan informasi yang relevan ke tablet agen secara real-time. Layanan ini sendiri menggunakan pengenalan suara, dan mampu untuk memahami pertanyaan hingga menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh pelancong.

Layanan ini diharapkan dapat membantu mempercepat proses check-in untuk penumpang, sekaligus membuat waktu yang penumpang habiskan di bandara lebih efisien. Lalu bagi para pegawai di konter check-in, layanan ini jelas akan membantu mereka menangani proses check-in tanpa repot, yang sebelumnya mencakup berbagai sistem operasi dan dokumen cetak untuk menjawab pertanyaan seperti penjemputan bagasi untuk menghubungkan penerbangan internasional, permintaan peningkatan kursi, dan lokasi lounge bandara di tujuan.

Untuk mengembangkan platform ini, Accenture menggunakan kemampuan AI dari Accenture Applied Intelligence, sejalan dengan metode pengembangan proyek dan keahlian maskapai dari Accenture’s Travel Consulting Group.

Baca Juga: RADA! Robot Berteknologi Artificial Intelligence di Bandara Indira Gandhi

Menurut rencana, teknologi kecerdasan buatan ini akan diuji di bandara Narita dan Bandara Haneda hingga akhir Maret mendatang. Setelah melakukan uji coba, kedua perusahaan ini akan mengevaluasi hasil dari uji coba tersebut, dan selanjutnya mitra akan sepenuhnya menggunakan layanan di bandara Haneda dan bandara Narita.

Sebagai informasi tambahan, Japan Airlines didirikan pada tahun 1951, dan saat ini, pihak maskapai telah mengoperasikan penerbangan ke 349 bandara di 52 negara dan wilayah dengan armada 233 pesawat.