Meski Diidamkan, Hadirnya Kereta Cepat di Australia Belum Dipandang Ideal

Perkembangan jaman yang bisa dibilang terus melaju setiap harinya ini seolah memaksa setiap bagian untuk turut hanyut di dalamnya. Khusus di sektor transportasi, salah satu imbas dari perkembangan teknologi ini adalah lahirnya moda kereta cepat. Mengambil contoh dari Jepang dengan Shinkansennya, setiap negara seolah ingin mengaplikasikan moda serupa di tanah airnya masing-masing. Namun, apakah dengan hadirnya moda semacam ini bisa menguntungkan dan membawa pembaruan bagi negara yang ingin menghadirkannya?

Baca Juga: Berbagi Pasar dengan Dunia Penerbangan, Eurostar Rilis Layanan Kereta Cepat London-Amsterdam

Sebut saja Australia yang sempat menggagas kehadiran dari kereta cepat yang menghubungkan Sydney, Canberra, dan Melbourne di masa lampau. Gagasan tersebut hadir dari kepala Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), Paul Wild yang pada awal tahun 1980-an, dirinya mengaku mendapatkan ilham sepulangnya ia dari Jepang dan menjajal teknologi kereta super cepat Shinkansen. Namun karena satu dan lain hal, visi dari Paul Wild tersebut gagal diimplementasikan dan hanya menyisakan angan. Namun ketika ditimbang kembali, perlukah setiap negara memiliki moda kereta cepat?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman abc.net.au (11/3/2019), profesor transportasi kereta api dari University of Southampton, John Preston mengatakan bahwa sedikit kota di dunia yang dapat memenuhi kondisi yang diperlukan untuk jaringan kereta api berkecepatan tinggi yang layak secara komersial, dalam hal ini termasuk di Australia yang populasi penduduknya rendah, maka disinyalir tingkat kebutuhan pada kereta cepat tidak memadai dalam skala bisnis dan investasi.

“Tokyo-Osaka sudah jelas, dan Paris-Lyon pun sama. Shanghai-Nanjing di Cina masih memiliki harapan (untuk dibangun kereta api berkecepatan tinggi), tetapi mereka menghadapi tingkat permintaan yang relatif berat,” ujar John Preston.

“Kita berbicara total 20 juta penumpang per tahun di tahun pertama operasi, dan kemudian biasanya akan diikuti oleh pertumbuhan yang cukup besar,” lanjutnya.

Di sisi lain, konsultan transportasi Peter Thornton mengatakan bahwa ada fenomena unik yang muncul ketika wacana tentang pembangunan kereta cepat mulai mencuat ke permukaan.

“Yang menarik, orang-orang mau merancang dan membangunnya, tetapi tidak ada yang mengatakan mereka akan mau menjalankannya,” tutur Peter.

Lagi, jika kereta cepat ini hadir di setiap negara, dikhawatirkan akan berimbas pada menururnnya value dari sektor aviasi di negara terkait. Seperti yang sudah pernah diberitakan sebelumnya, bukan tidak mungkin jika penumpang akan beralih menggunakan kereta cepat dan meninggalkan si burung besi.

Baca Juga: Perkembangan Kereta Cepat Bakal ‘Interupsi’ Layanan Penerbangan di Masa Depan, Mungkinkah?

Pernyataan di atas didukung oleh direktur Program Transportasi dan Kota di Institut Grattan, Marion Terrill yang juga menyatakan pandangan yang sama.

“Bahwa kereta cepat akan menggantikan rute penerbangan yang ada yang selama ini berdiri di atas kaki sendiri secara komersial,” ujarnya.

 

Batik Air Buka Penerbangan Charter Non-Stop Jakarta-Kunming

Batik Air, anggota dari Lion Air Group bekerja sama dengan Grand China Travel meresmikan rute baru charter non stop dari Jakarta menuju Kunming di Yunan, Cina. Rute pergi pulang (PP) ini sendiri memulai terbang dengan jadwal 1 Maret hingga 30 April 2019.

Baca juga: Heboh Boarding Pass 2015 di Batik Air, Ternyata Hanya Penunjuk Waktu Keberangkatan

Maskapai dengan kode penerbangan ID ini akan terbang dua kali seminggu dari Jakarta yakni setiap Rabu dan Minggu pukul 19.00 WIB dan dua kali seminggu dari Kunming setiap Senin dan Kamis pukul 02.10 waktu setempat. Sedangkan untuk periode penerbangan 1 Mei hingga 29 Februari 2020 mendatang akan ada tiga kali penerbangan dari Jakarta yakni Rabu, Jumat, Minggu dan Setiap senin, Kamis, Sabtu dari Kunming dengan waktu keberangkatan yang sama.

Jarak tempuh penerbangan ini sendiri dari Jakarta menuju Kunming sekitar 3.484 km. CEO Batik Air, Capt. Ahmad Luthfie mengatakan, penerbangan dengan rute charter baru ini sebagai bagian dari pembukaan destinasi baru dan ini merupakan bagian komitmen Batik Air dalam menghubungkan antardestinasi internasional.

“Ini sejalan untuk memperkuat layanan dan jaringan Batik Air saa ini. Kami bangga mampu memberikan pilihan baru dalam melakukan perjalanan udara kepada setiap pelanggan bisnis dan pelancong melalui penerbangan langsung,” ujar Ahmad yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers.

Dia mengatakan bersama Grand China Travel, pihaknya optimis bahwa perkembangan dan pertumbuhan pariwisata nasional semakin pesawat seiring mendukung program pemerintah untuk mencapai target kunjungan 20 juta wisatawan asing. Hal tersebut ditandai dengan akses mudah bagi wisatawan mancanegara khususnya dari Kunming yang berkunjung ke Indonesia melalui Jakarta.

“Penerbangan dioperasikan dengan armada terbaru Airbus A320-200 berkapasitas 12 kursi kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi yang dilengkapi inflight entertainment (audio video on demand) di setiap kursi. Kesungguhan Batik Air ialah menyediakan pelayanan terbaik dan menambahkan kenyamanan tamu saat berada di pesawat (in-flight services) dengan upaya semakin meningkatkan pengalaman terbang sekitar lima (5) jam di kelas premium services airlines berkonsep pre-flight, in-flight serta post-flight,” ujar Ahmad.

Untuk kedepannya, Batik Air akan terus berencana menambahkan beberapa rute ke kota wisata unggulan menuju Tiongkok dengan menggandeng Grand China Travel sebagai mitra perjalanan. Upaya ini dalam rangka menunjang sektor pariwisata Indonesia. Batik Air juga sangat berharap, penerbangan tersebut bisa berdampak positif dalam membantu peningkatan potensi bisnis, perdagangan, industri kreatif, jasa dan sektor lainnya di kedua kota.

Baca juga:  Mulai Hari Ini, Batik Air Buka Penerbangan Jakarta – Banyuwangi

“Travelers asal Kunming yang mempunyai rencana menjelajahi lebih luas lagi kota-kota favorit yang dilayanai oleh Batik Air semakin mudah. Batik Air menawarkan koneksi perjalanan terbaik melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta,” ujarnya.

Depok Canangkan Bangun MRT atau LRT di Tahun 2022

Setelah Jakarta, apakah daerah di dekatnya seperti Depok akan memiliki transportasi massal seperti Mass Rapid Transit (MRT) atau Light Rail Transit (LRT)? Kemungkinan untuk memiliki transportasi massal ini bisa terealisasi. Pasalnya, studi kelayakan atau feasibilty study (FS) sudah mulai dilakukan Badan Pegelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ).

Baca juga: Jelang Beroperasi Penuh, Sebenarnya Berapa Tarif Tiket MRT Jakarta?

“Baru rencana. Ini baru FS-nya. FS MRT atau LRT dari Harja Mukti (Cibubur) sampai Pondok Cina (Beji, Depok). Baru FS-nya yang dibuat,” Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok, Dadang Wihana, Kamis (14/3/2019) yang dikutip KabarPenumpang.com dari wartakotalive.com.

Studi kelayakan itu sendiri sudah masuk ke dalam Rencana Induk Transportasi Jakarta (RITJ). Rencananya bila tak ada hambatan MRT ataupun LRT ini akan melintas dan dinikmati warga Depok tahun 2022 mendatang.

Dalam memuluskan proyek tersebut Pemkot Depok telah mengusulkan besaran biaya Rp600 miliar untuk membangun infrastruktur pendukung di wilayah Depok. Dana ini diharapkan dari pihak swasta dalam bentuk kerja sama investasi.

“Yang kami kelola itu APBD Depok, APBD Provinsi, dan dana kementerian. Jadi ada lintas pembiayaaan. Tapi yang paling besar itu dari dana swasta, investasi ya. Sumber pembiayaan itu kan banyak,” kata Dadang.

Dia menambahkan, bila berjalan sesuai rencana, MRT atau LRT yang melintas di Depok akan dikelola oleh swasta.

“Selama ini kalau kayak MRT atau LRT itu kaya investasi kan, misal Harja Mukti ke Pocin investasi oleh investor,” tutur Dadang.

Kehadiran moda transportasi modern itu diharapkan menjadi pilihan lain untuk mendukung mobilitas warga, sekaligus mengurangi penggunaan kendaraan umum demi mengurai kemacetan. Bahkan kehadiran MRT sendiri bukan hanya keuntungan bagi warga ibukota Jakarta melainkan untuk masyarakat yang tinggal di kota penyangga seperti Depok.

Dadang mengatakan, pihaknya tengah membahas rencana pengaktifan rute angkutan umum Depok-Lebak Bulus untuk memudahkan warga Depok menuju Stasiun MRT Lebak Bulus di Jakarta Selatan.

“Kami sudah bicara dengan Transjakarta, kalau Stasiun MRT di Lebak Bulus kami akan mengaktifkan satu jaringan yang dulu (PO) Deborah ya. Kemarin baru satu kali pertemuan, ingin mengaktifkan kembali trayek-trayek yang lama tidak digunakan,” ujar Dadang.

Baca juga: “Debby,” Sebutan Kesayangan untuk Bus PO Deborah Rute Depok – Lebak Bulus

Dalam pembahasan itu, Dadang berkeinginan agar pengaktifan rute itu nantinya ada kerjasama antara pengusaha lokal pemilik perusahaan otobus (PO) dengan Transjakarta.
Namun, dia ingin kendali operasi berada dalam satu manajemen.

Kemenhub: Masa Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8 Bisa Diperpanjang

Kecelakaan Ethiopia Airlines berbuntut panjang! Setelah beberapa hari yang lalu ramai diberitakan pembekuan armada Boeing 737 MAX 8 di sejumlah maskapai dari seluruh penjuru dunia, kini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengeluarkan pernyataan bahwa masa pembekuan armada Boeing 737 MAX 8 di Indonesia bisa diperpanjang. Pelarangan operasi dari armada asal Amerika ini diperpanjang hingga waktu yang belum ditentukan.

Baca Juga: Garuda Indonesia Akhirnya Pikirkan Pembatalan Pesanan Boeing 737 MAX 8

“Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menetapkan larangan beroperasi bagi seluruh pesawat terbang B737-8 MAX yang dioperasikan oleh operator penerbangan Indonesia di wilayah ruang udara Republik Indonesia, berlaku sejak tanggal 14 Maret 2019,” kata Kepala Bagian Kerja Sama Internasional Humas dan Umum Ditjen Perhubungan Udara Hari Budianto, dikutip KabarPenumpang.com dari laman detik.com (14/3/2019).

Tidak lain dan tidak bukan, pembekuan operasi dari Boeing 737 MAX 8 ini dilatarbelakangi oleh jatuhnya pesawat Ethiopia Airlines di Addis Ababa pada Minggu (10/3/2019) kemarin – dimana kejadian ini merupakan kecelakaan kedua kalinya armada Boeing 737 MAX 8 dalam kurun waktu lima bulan terakhir.

Sebelumnya, pada 19 Oktober 2018 yang lalu, pesawat dengan jenis yang sama yang dioperasikan oleh Lion Air dengan nomor penerbangan JT610 mengalami kecelakaan di Tanjung Karawang dan menewaskan keseluruhan penumpang dan awak penerbangan yang berada di dalamnya.

Menurut Hari, langkah ini ditempuh dengan memperhatikan Continuous Airworthiness Notification to the International Community (CANIC), yang diterbitkan oleh FAA pada 13 Maret 2019 perihal Updated Information Regarding FAA Continued Operations Safety Activity Related to the Boeing Model 737-8 and 737-9 (737 MAX) Fleet dari Federal Aviation Administration.

“Direktur Jenderal Perhubungan Udara Polana B. Pramesti menegaskan bahwa larangan beroperasi ini berlaku sampai dengan adanya pemberitahuan lebih lanjut, dengan mempertimbangkan terpenuhinya keselamatan penerbangan,” sambungnya.

Baca Juga: Pasca Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8, Lion Air dan Garuda Indonesia Nyatakan Jadwal Penerbangan Tidak Terganggu

“Demi terpenuhinya keselamatan penerbangan di Indonesia, kami memutuskan untuk melarang terbang seluruh pesawat Boeing 737-8 MAX yang dioperasikan oleh operator penerbangan Indonesia di wilayah ruang udara Republik Indonesia, berlaku sejak tanggal 14 Maret 2019,” tegas Hari.

Namun bukan berarti himbauan pembekuan pengoperasian dari Kemenhub ini bisa ‘dipukul rata’. Kemenhub memberikan pengecualian terhadap penerbangan Boeing 737 MAX 8 yang bersifat non komersial (tidak membawa penumpang) dan ferry flight (penerbangan ke lokasi perawatan atau penyimpanan pesawat).

 

Lufthansa Berencana Jual Enam Unit A380, Airbus Siap Beli!

Masa kejayaan super-jumbo jet Airbus A380 semakin meredup. Setelah beberapa waktu yang lalu pihak Airbus menerima sejumlah pembatalan pemesanan dari berbagai maskapai di seluruh penjuru dunia, kini manufaktur pesawat asal Eropa ini harus kembali mendapatkan berita kurang sedap. Pasalnya, Lufthansa akan menjual enam armada Airbus A380nya di rentang tahun 2022 hingga 2023. pihak flag carrier Jerman sendiri mengaku, penjualan armada tersebut dilatarbelakangi oleh masalah finansial perusahaan.

Baca Juga: Stop Produksi di Awal 2019, Kapan Airbus A380 Pensiun Sepenuhnya?

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (13/3/2019), rencana penjualan armada ini sejalan dengan visi Lufthansa untuk memesan armada baru dari Boeing dan Airbus senilai US$12 miliar. Menurut catatan, kini Lufthansa mengoperasikan 14 armada Airbus A380 untuk melakoni rute penerbangan jarak jauhnya. Uniknya, pihak Airbus sendiri yang dikabarkan akan membeli enam unit A380 yang dijual oleh Lufthansa.

“Lufthansa terus memantau keuntungan dari jaringan rute di seluruh dunia. Sebagai salah satu dampaknya, kami akan mengurangi jumlah armada Airbus A380 dari 14 pesawat menjadi delapan karena alasan ekonomi,” ujar Lufthansa dalam sebuah keterangan tertulis.

“Struktur jaringan dan armada jarak jauh, yang dioptimalkan secara fundamental sesuai dengan aspek strategis, akan memberikan perusahaan lebih banyak fleksibilitas dan pada saat yang sama, akan meningkatkan efisiensi dan daya saingnya,” sambungnya.

Sebenarnya, Lufthansa merupakan salah satu fans berat dari Airbus A380 – tidak hanya dicintai oleh kru Lufthansa saja, pun dengan para penumpang setianya.

Kendati begitu, Lufthansa menambahkan bahwa penjualan ini merupakan salah satu bagian dari rencana bisnis mereka yang berkelanjutan, penting untuk mengevaluasi profitabilitas dalam jaringan mereka. Ini termasuk ukuran pesawat yang efisien sesuai dengan kondisi pasar. Dengan A380, Lufthansa mengatakan, “profitabilitas hanya mungkin terjadi pada rute paling banyak permintaan,”.

Baca Juga: Kendati Produksi Dihentikan, Airbus A380 Tetaplah Fenomenal

Sebagaimana yang diketahui bersama, Airbus A380 merupakan armada dengan daya angkut yang sangat besar, dan pihak maskapai kerap mengalamai kesulitan untuk mengisi bangku yang tidak terisi dalam sebuah penerbangan. Lain cerita jika A380 terisi penuh, maka pesawat ini akan bertransformasi menjadi armada paling irit. Tersiar kabar, Lufthansa telah melirik Airbus A350 dan Boeing 787 sebagai armada potensial untuk menjabani sejumlah rute penerbangannya.

“Selain efektivitas biaya Airbus A350 dan Boeing 787, emisi CO2 yang jauh lebih rendah dari pesawat angkut jarak jauh generasi baru ini juga merupakan faktor penentu dalam keputusan investasi kami,” ungkap Carsten Spohr, CEO dari Lufthansa.

 

Garuda Indonesia Akhirnya Pikirkan Pembatalan Pesanan Boeing 737 MAX 8

Kilas balik ke akhir tahun 2017 lalu, dimana maskapai plat merah Garuda Indonesia mendatangkan satu unit Boeing 737 MAX 8 ke Tanah Air. Pembelian yang sempat dibanggakan oleh pihak flag carrier Indonesia tersebut merupakan bagian dari 50 unit yang sudah dipesan oleh Garuda Indonesia ke Boeing pada tahun 2014 yang lalu.

Baca Juga: Tidak Ada Masalah dengan Pesawat, Garuda Indonesia Tetap Lanjutkan Pengadaan Boeing 737 Max 8

Laku mau ke 29 Oktober 2018, dimana maskapai berbiaya murah Lion air mengalami kecelakaan di Tanjung Karawang dengan menggunakan unit yang sama dengan yang dibeli oleh Garuda Indonesia – Boeing 737 MAX 8. Kala itu, Garuda Indonesia masih optimis untuk melanjutkan pengadaan armada berjenis narrow-body twin-engine jet airliner tersebut. Padahal di saat yang hampir bersamaan, Lion Air berencana membatalkan pesanan ratusan armada terkait dengan jumlah transaksi mencapai angka US$22 miliar atau setara Rp314 triliun.

Bahkan Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara mengatakan rencananya akan tiba tiga unit Boeing 737 Max 8 pada tahun 2020 mendatang. “Kami akan menunggu laporan kecelakaan terakhir dan akan melihat apa masalahnya. Bila nanti ada perbaikan atau penarikan yang diperlukan kami akan mengikutinya,” ujar Ari Askhara terkait eksistensi Boeing 737 Max 8 di tubuh flag carrier.

Nah, ternyata dengan jatuhnya Ethiopia Airlines pada tanggal 10 Maret 2019 kemarin menggetarkan tekad Garuda Indonesia untuk tetap melanjutkan sisa 49 pesanan unit Boeing 737 MAX 8. Pernyataan ini dilontarkan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara.

“Kami belum melihat ke sana, tetapi kemungkinan membatalkan (pemesanan) itu ada,” ujar Ari, dikutip KabarPenumpang.com dari laman tribunnews.com (14/3/2019).

Gontainya keyakinan pihak Garuda Indonesia ini bisa dibilang semata-mata karena mereka mempertimbangkan keselamatan penumpang. Mereka enggan berspekulasi untuk tetap melanjutkan pembelian, namun pada akhirnya mengancam keselamatan para penumpangnya.

Baca Juga: Intip Kecanggihan dan Ruang Kabin Boeing 737 MAX 8 Garuda Indonesia

Pada kesempatan yang sama, Ari mencontoh maskapai Lion Air yang sudah terlebih dahulu secara buka-bukaan berencana membatalkan pesanan terhadap Boeing dan menyiarkannya melalui awak media. “Seperti contoh Lion (Air) sudah ada suratnya di media untuk membatalkan pesanan,” sambungnya Ari.

Jika tetap pada rencana awalnya, Garuda Indonesia akan memiliki 50 unit Boeing 737 MAX 8 di tahun 2030 mendatang – yang tentu saja didatangkan secara bertahap.

 

 

Tertunda Lebih dari 2 Jam, Pilot Belikan 70 Burger Untuk Penumpang

Siapa yang tak suka mendapat makanan gratis dan yang membelikannya seorang pilot sebuah maskapai penerbangan? Pastinya semua penumpang akan suka apalagi jika pesawat yang hendak mereka tumpangi mengalami keterlambatan yang lebih dari biasanya.

Baca juga: Sambut Hari Perempuan Internasional, Pilot dan Awak Kabin Air India Seluruhnya Adalah Perempuan

Baru-baru ini seorang pilot maskapai Mesa Airlines membuat penumpangnya seperti memiliki gairah dan senyuman. Pasalnya setelah penundaan lebih dari dua jam di Bandara Internasional Tusla pada Senin (11/3/2019), pilot tersebut membelikan makan siang untuk semua penumpangnya di kedai burger terdekat di salah satu bandara Amerika Serikat itu.

Seorang penumpang pesawat bernama Sam Walker yang mengalami penundaan dan mendapat burger tersebut memuji sang pilot yang diketahui bernama Kapten Matthew Hoshor. Foto pilot ini kemudian dibagikan oleh Walker di akun Twitternya dan menjadi viral.

Adanya tindakan baik dari pilot tersebut kemudian membuat United Airlines merespons langsung tweet milik Walker tersebut dan mengatakan mereka senang mendengar anggota kru memenuhi kebutuhan penumpang.

“Kami akan menyampaikan pujian Anda kepada tim kami,” ujar United Airlines yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman nypost.com (13/3/2019).

Walker mengatakan hampir lima jam setelah waktu keberangkatan dijadwalkan akhirnya dirinya dan penumpang lain naik ke pesawat dan duduk di kelas satu. Ia kemudian kembali mentweet foto pilot itu lagi.

“Kapten hebat Mesa ada di sini!” kata Walker dalam tweetnya.

Dalam sebuah pernyataan juru bicara Mesa Airlines mengatakan bahwa maskapai penerbangan itu sangat bangga dalam timnya dan menghargai umpan balik positif dari pelanggan United Airlines, yang mengoperasikan United Express sebagai maskapai regional. United Airlines mengkonfirmasi pada hari Rabu bahwa tweet penumpang itu akurat.

Secara keseluruhan, Hoshor membeli 70 hamburger dari restoran untuk memberi makan para penumpang yang lapar, sebuah langkah yang tidak akan luput dari perhatian, menurut ketua dan kepala eksekutif maskapai.

“Dia orang yang sangat baik. Kami sangat bangga padanya. Bahwa dia pergi keluar dari jalannya seperti itu untuk merawat para penumpang … itu benar-benar layanan pelanggan yang luar biasa, jauh di atas dan di luar,” kata Jonathan Ornstein CEO Mesa Airlines.

Baca juga: Salahkan Kopilot, Pilot Senior Tidur Saat Menerbangkan Boeing 747

Ornstein mengatakan, Hoshor juga seorang pilot yang berbakat dan membuat dirinya bangga sebagai CEO karena melihat karyawannya melakukan hal hebat tersebut. Seorang karyawan di Fat Guy Burger Bar di Tulsa, sementara itu, mengatakan kepada KOKI bahwa pesanan besar untuk penumpang yang terlambat tampaknya adalah yang pertama.

Meski Khusus Internal Perusahaan, Boeing Tepati Janji Perlihatkan 777-9

Kendati tengah menjadi sorotan publik lantaran banyaknya maskapai yang menangguhkan pengoperasian dari 737 MAX 8, namun Boeing tetap menunjukkan bahwa mereka merupakan perusahaan yang profesional. Mungkin beberapa dari Anda masih ingat tentang janji Boeing yang akan merilis varian 777X pada tanggal 13 Maret 2019. Namun karena adanya kecelakaan Ethiopia Airlines pada Minggu (10/3/2019) kemarin, Boeing terpaksa tidak menggembar-gemborkan perilisan dari armada teranyarnya ini.

Baca Juga: Goyang Pasar Wide-Body, Boeing Siap Luncurkan 777X 13 Maret 2019

Perilisan varian Boeing 777X tetaplah berjalan sesuai dengan timeline, namun tidak disiarkan ke publik karena dianggap tidak etis jika harus bersuka cita di atas penderitaan para korban Ethiopia Airlines. Jadi, Boeing hanya merilis moda terbarunya ini di hadapan para karyawan perusahaan tersebut. Adapun varian yang diluncurkan Boeing kali ini adalah 777-9, dan ukuran pesawat ini sangatlah besar!

Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman samchui.com (13/3/2019), Boeing 777-9 ini idukung oleh dua mesin General Electric GE9X dengan kemampuan untuk mengeluarkan daya dorong sebesar 105.000 pounds. Boeing sendiri mengakui bahwa ini merupakan mesin terbesar di dunia, namun daya dorongnya tidak sekuat GE90 yang sangat ikonik.

Sumber: samchui.com

Sayap dan mesin baru pada armada 777-9 memungkinkan pihak maskapai pengguna untuk mengangkut sekitar 400-425 penumpang dan menerbangkan mereka hingga jarak 7.600 nautical miles atau yang sekira 14.000 km. Sementara itu, nggota keluarga kedua yang memiliki ukuran lebih kecil, Boeing 777-8, dijadwalkan memulai konstruksi dua tahun setelah Boeing 777-9 memasuki layanan komersialnya.

Dengan rentang jarak 8.690 nautical miles atau yang sekira 16.090 km yang mampu ditempuh dan kemampuannya untuk mengangkut sekitar 365 penumpang, Boeing 777-8 rencananya akan diplot untuk menjadi penerus dari Boeing 777-200LR dan berpotensi menjadi dasar untuk model kapal angkut baru.

Baca Juga: Wow! Mesin Boeing 777X Lebih Besar dari Body 737

Bahkan, satu yang tidak bisa terpisahkan dari Boeing 777X adalah bentuk winglet lipatnya yang ikonik.

Setelah diperkenalkan secara internal kepada karyawan di Boeing, rencananya pesawat ini akan melakukan uji coba penerbangan dalam waktu dekat. Hingga saat ini, Boeing telah mengantongi 358 pesanan dari berbagai maskapai, mulai dari Emirates, Lufthansa, ANA, Cathay Pacific, Etihad, Qatar Airways, Singapore Airlines, hingga British Airways.

 

Margin Keuntungan Tipis, Lufthansa Hibahkan Rute Penerbangan Menuju Bangkok

Di tahun 2018  ada kabar yang cukup menggembirakan dari Munich, dimana flag carrier Jerman, Lufthansa disebutkan akan mentransfer beberapa layanan bergengsi dari Frankfurt ke Munich. Khususnya untuk ibukota Negeri Bavaria, akan mendapatkan lebih banyak link tanpa henti menuju Asia. Bak koin dengan dua sisi, tersiarnya pernyataan di atas tidak menutup kemungkinan jika Lufthansa akan mengalami downgrade terhitung sejak musim gugur ini.

Baca Juga: Salip IAG dan Air France-KLM, Lufthansa Kini Jadi Maskapai Terbesar di Eropa

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman businesstraveller.com (10/3/2019), pada 27 Oktober 2018 lalu, divisi utama dari Lufthansa berencana untuk mengoperasikan rute penerbangan Munich – Bangkok. Menurut perusahaan, mereka akan menggunakan armada Airbus A350 yang terbagi ke dalam tiga kelas penerbangan – A350 merupakan pesawat paling modern di tubuh Lufthansa.

Namun tampaknya, ada sedikit perubahan taktik di sini. Salah satu leisure airlines, Sunexpress (joint venture antara Lufthansa dan Turkish Airlines) mengoperasikan penerbangan harian di rute tersebut mulai tanggal 3 Juni. Dan sekarang, pihak Lufthansa mengatakan bahwa rute penerbangan Munich – Bangkok tidak akan diambil oleh divisi utama perusahaan terhitung sejak 27 Oktober dengan menggunakan Airbus A350.

Tentu saja, hal ini berbanding terbalik dengan apa yang sempat tersiar di media, dimana pihak Lufthansa mengatakan, “Pada jadwal musim dingin 2019/2020, tanggal 27 Oktober merupakan tanggal efektif untuk mengoperasikan penerbangan yang menghubungkan Munich dengan Bangkok.”

Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa Lufthansa mengalami downgrade layanan. Mengapa? Karena selain pengalaman onboard penumpang yang akan jelas berbeda (Lufthansa menggunakan Airbus A350 yang terbagi ke dalam tiga kelas), Eurowings (anak perusahaan Lufthansa Group) menggunakan armada Airbus A330-200 dengan pilihan tempat duduk premium untuk rute penerbangan yang sama.

Baca Juga: Jerman Datangkan Saksi Bisu Pembajakan Lufthansa 1977, Indonesia Juga Punya Sejarah Yang Mirip

Lalu, mengapa Lufthansa sampai harus menghibahkan rute penerbangan tersebut? Lufthansa dan sejumlah operator penerbangan asal Benua Biru menganggap bahwa rute Eropa – Bangkok cenderung tidak memberikan keuntungan bagi perusahaan yang menjalankan rute tersebut. Maka dari itu, andaikan ada maskapai penerbangan yang menjalankan rute menuju Bangkok, biasanya mereka tidak akan memberikan fasilitas terbaik mereka, karena tipisnya keuntungan yang akan mereka raih jika rute menuju Bangkok dilakoni dengan fasilitas terbaik. Bahkan, beberapa maskapai Eropa menarik kembali rute penerbangan menuju Bangkok.

 

Bayi Tertinggal di Ruang Boarding, Ibu Panik dan Pesawat Terpaksa “Return to Base”

Umumnya pesawat yang melakukan return to base dikarenakan kendala teknis, dimana pilot tak ingin ambil risiko atas keselamatan penerbangan. Namun belum lama ini diberitakan pesawat yang melakukan return to base (RTB) dikarenakan faktor non teknis, persisnya salah seorang penumpang panik setelah mengetahui anaknya yang masih bayi tertinggal di ruang tunggu keberangkatan.

Baca juga: Bayi 5 Bulan Keliling 50 Negara Bagian Amerika Serikat

Mungkin ini terdengar lucu, tetapi faktanya pesawat Boeing 787-900 Dreamliner Saudi Arabian Airlines harus RTB untuk menjemput sang bayi yang tertinggal di ruang tunggu Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Dilansir KabarPenumpang.com dari simpleflying.com (12/3/2019), insiden unik ini terjadi dalam penerbangan Saudi Airlines SV832 dari Jeddah dengan tujuan Kuala Lumpur, Malaysia.

Ketika seorang penumpang menyadari bahwa mereka telah salah meletakkan sesuatu yang agak penting. Awalnya mereka memeriksa kantong dan ponsel mereka, tetapi meskipun puas masih merasa tidak nyaman. Tapi kemudian mereka tiba-tiba menyadari bahwa bayi mereka telah tertinggal di ruang tunggu.

Sebuah video yang diunggah ke Youtube menampilkan percakapan pilot dan petugas pengawas penerbangan karena insiden unik ini.

“Semoga Tuhan bersama kita, apakah kami boleh kembali?” ujar pilot tersebut ke petugas lalu lintas udara.

Kemudian, petugas tak langsung menjawab dan berdiskusi dengan rekannya setelah mendapat nomor penerbangan untuk melakukan protokol yang harus dijalankan.

“Sebuah pesawat meminta izin kembali ke bandara… Seorang penumpang meninggalkan bayinya di ruang tunggu, kasihan sekali,” ujarnya.

Namun, petugas pengawas tersebut tidak percaya akan hal itu dan meminta pilot mengulangi alasannya meminta izin kembali ke bandara. “Kami sudah bilang, seorang penumpang meninggalkan bayinya di terminal dan menolak melanjutkan penerbangannya,” kata pilot itu.

Akhirnya dengan alasan tersebut, petugas pengawas ATC akhirnya mengizinkan kembali dan mereka mengatakan insiden unik ini adalah kasus pertama yang ditangani mereka.

Saat kembali ke bandara, si ibu bertemu dengan bayinya dan pesawat Boeing 787-9 dengan nomor penerbangan SV832 tersebut melanjutkan penerbangannya setelah 42 ment tertunda. Video yang kemudian menjadi viral tersebut mendapat tanggapan beragam dari warganet yang menyaksikan video itu.

Baca juga: Alami Kelainan Genetika, Ibu dan Balitanya ‘Diusir’ dari Penerbangan American Airlines

Mereka lebih banyak memuji sang pilot karena rasa kemanusiaannya dan membuat insiden itu menjadi masalah darurat sehingga pesawat dengan mudah kembali mendapatkan izin ke bandara untuk mempertemukan ibu dan bayi serta membawanya kembali dalam penerbangan.