Hadapi ‘Badai’ Low Season di Januari – Maret, Bisnis Penerbangan Harus Tetap Optimis

Pasca libur Imlek yang jatuh pada awal Februari kemarin, sektor penerbangan penumpang mulai memasuki masa low season, dimana permintaan untuk mengudara mengalami penyusutan. Secara otomatis, ketika permintaan mengalami penurunan, maka load factor (tingkat keterisian penumpang) dari masing-masing maskapai juga akan mengalami penurunan. Kendati begitu, Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Polana B Pramesti mengatakan, para pelaku usaha harus tetap optimis dengan kondisi yang ada sekarang.

Baca Juga: Sambut Low Season, Scoot Gelar Promo Tarif Awal Tahun

“Jadi saya mengajak semua stakeholder untuk optimistis memandang bisnis penerbangan tahun ini akan terus tumbuh dan berkembang. Dan yang paling penting, harus tetap mengutamakan keselamatan, keamanan, pelayanan dan patuh terhadap aturan-aturan penerbangan yang berlaku,” ujar Polana, seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman republika.co.id (11/2/2019).

“Memang kondisi low season yang merupakan siklus tahunan, yaitu di Januari dan Februari. Lalu Maret baru mulai mengalami peningkatan,” imbuhnya.

Mengutip dari laman sumber yang sama, Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub mencatat pada 2016 saat Januari jumlah penumpang 6,7 juta orang, Februari 6,4 juta orang, Juli 8,7 juta orang, dan Desember 8,4 juta orang. Sementara itu pada 2017, saat Januari jumlah penumpang 7,7 juta orang, Februari 6,5 juta orang, Juli 9,5 juta orang, dan Desember 9,0 juta orang. Selanjutnya pada 2018, saat Januari jumlah penumpang 8,3 juta orang, Februari 7,5 juta orang, Juli 9,7 juta orang, dan Desember 8,1 juta orang.

Senada dengan Polana, Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan menetaskan pernyataan yang sama. “Periode Januari – Maret itu memang masuknya low season. Memang secara seasonal-nya begitu. Di awal tahun turun, tapi nanti di periode April – Juni meningkat,” tutur Iksan dikutip dari laman sumber terpisah.

Di tubuh flag carrier Indonesia sendiri, tingkat keterisian penumpang mengalami penurunan sekira 10 hingga 15 persen. Berbanding terbalik jika tengah masuk periode peak season, dimana angka keterisian Garuda Indonesia bisa mencapai 75 hingga 90 persen.

Low season itu biasanya (tingkat keterisian penumpang) hanya 60%-70%,” jelasnya. Mengantisipasi hal tersebut, Iksan menuturkan bahwa Garuda Indonesia memberlakukan regulasi khusus selama low season.

“Ketika low season kapasitas harus disesuaikan. Pesawat kita misalnya, frekuensi salah satu kota dari tujuh, jadi enam. Sebagian pesawat yang kita kurangi frekuensinya itu, nanti akan masuk ke hanggar,” jelas Iksan.

Kondisi low season ini sendiri semakin diperparah dengan melonjaknya harga tiket beberapa waktu ke belakang – hampir berbarengan dengan pemberlakuan regulasi penghapusan bagasi gratis oleh sejumlah maskapai nasional, seperti Lion Air.

Baca Juga: Dielukan dan Selalu Dicari, Inilah Serba Serbi Low Cost Carrier

Corporate Communication Strategic Lion Air, Danang Mandala Prihantoro menambahkan bahwa para pelaku bisnis kedirgantaraan nasional seolah hanya bisa pasrah menghadapi low season jika memang minat terbang dari penumpang saja tidak ada – ditambah dengan pemberlakuan regulasi bagasi berbayar.

“Cuma sekarang ini lagi ramai heboh tiket pesawat mahal dan ada bagasi berbayar. Jadi, semua dihubung-hubungkan seolah-olah kena efek,” tuturnya. “Ya kalau low demand enggak bisa diapa-apain, masyarakat ogah pergi juga.”

Adaptasi Rem Regeneratif, Otoritas Kereta di India Janjikan Penghematan Rp500 Juta Per Lokomotif

Perusahaan yang dikelola negara Bharat Heavy Electricals Limited (BHEL) telah menghadirkan teknologi awal di bawah inisiatif ‘Make in India’. Public Sector Undertaking (PSU) telah mengembangkan lokomotif listrik pertama di India dengan sistem pengereman regeneratif melalui pusat R&D di dalam perusahaan. Lokomotif baru-baru ini ditandai lepas dari pabrik di Jhansi.

Baca Juga: Indian Railways Gelontorkan Rs650 Juta Untuk Jaringan Kereta Mumbai

Adapun ide ini pertama kali diusulkan oleh Kementerian Perkeretaapian, dimana konsep ini melibatkan sistem regenerasi hemat energi yang diberlakukan oleh BHEL dalam lokomotif listrik 5.000 HP WAG-7. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman indiatimes.com (11/2/2019), teknologi ini dimaksudkan untuk meningkatkan sistem pengereman dinamis yang saat ini digunakan di lokomotif. Sementara sistem pengereman dinamis menyebabkan hilangnya energi dalam bentuk panas saat pengereman, sistem pengereman regeneratif menghindarinya dengan ‘mengumpan’ energi kembali ke saluran listrik overhead.

Konsep ini sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru, karena sistem pengereman regeneratif adalah teknologi yang telah lama digunakan pada electric vehicle (EV). Hanya saja ini digunakan dalam lokomotif DC konvensional untuk pertama kalinya. Sebuah laporan baru-baru ini, menyatakan bahwa teknologi pengereman regeneratif akan menambah jumlah armada jaringan kereta api lokomotif listrik konvensional.

Sebuah cuitan di media sosial Twitter dari Kementerian Perkeretaapian juga menekankan bahwa sistem pengereman satu-satunya di lokomotif DC (arus searah) konvensional telah diproduksi untuk pertama kalinya di dunia. Cuitan ini lebih lanjut menyebutkan bahwa teknologi akan mengarah pada penghematan biaya hingga Rs25lakh (Rp495,5 juta) per lokomotif per tahun.

Baca Juga: Indian Railways Siap Bangun Jalur Kereta di Atas Ketinggian 10.000 Kaki!

Sebelumnya, Indian Railways telah mengumumkan rencana untuk upgrade armadanya dengan lokomotif listrik yang mampu mencapai kecepatan hingga 200 km per jam. Dengan menggunakan mesin bertenaga 5400HP, lokomotif listrik ini dielu-elukan menjadi lokomotif berdesain aerodinamis pertama di India, menurut Chittaranjan Locomotive Works (CLW). Kemudian pada bulan Desember 2018 kemarin, pihak kereta api mengumumkan bahwa mereka telah berhasil mengubah lokomotif diesel menjadi lokomotif listrik, yang pertama di dunia, melalui unit produksi Indian Locomotive Works (DLW) Indian Railways di Varanasi. ‘Prestasi’ tersebut diraih hanya dalam catatan waktu 69 hari saja.

 

 

Kenakan Busana Super Minim, Model Asal Filipina Bikin Geger Stasiun MRT Singapura

Antre ATM (Anjungan Tunai Mandiri) di sebuah stasiun, jelas sesuatu yang lumrah. Namun bagaimana bila yang mengantre adalah seorang wanita yang hanya mengenakan tanktop dan tanpa bra, sehingga menjadi tontonan setiap penumpang kereta yang melihatnya?

Baca juga: Telanjang Bulat, Wanita Ini Bikin Heboh Stasiun MRT Singapura

Belum lama ini beredar sebuah foto di media sosial, dimana seorang perempuan tengah mengantre di mesin ATM, tepatnya di Stasiun MRT Somerset, Singapura. Perempuan tersebut diketahui bernama Ashley Garcia yang mengaku dirinya model freelance dari Filipina. KabarPenumpang.com melansir dari laman asiaone.com (11/2/2019), foto dirinya tersebar di media sosial pada 9 Februari 2019 kemarin.

Warganet yang melihat foto tersebut beberapa diantaranya merasa tidak ada yang salah dengan pakaian Gracia. Menurut surat kabar Lianhe Wanbao, ada tiga foto Gracia yang tersebar. Dalam foto tersebut terlihat Gracia mengenakan tanktop tipis berwarna merah muda dan sepasang sandal. Tidak diketahui apakah dia mengenakan celana pendek.

Dia tampaknya tidak sadar bahwa dia sedang menarik perhatian orang yang lewat. Menurut Wanbao, tanktop wanita itu memiliki garis leher rendah yang membuatnya menjadi perhatian, terlebih lagi karena ia tidak mengenakan bra.

Namun beberapa lainnya mengatakan, Gracia menggunakan pakaian tidak senonoh dan bisa mendatangkan pikiran tak sehat bagi penumpang lainnya. Untungnya, Gracia sadar bahwa dirinya menjadi bahan perbincangan di media sosial dan pada hari ini Selasa (12/2/2019), dia mengaku perempuan itu adalah dirinya.

Dia menuliskan sebuah postingan di akun Facebooknya, “Saya tidak tahu ada yang mengambil foto saya (saya pribadi tidak tahu tujuannya). Saya minta maaf jika saya telah menyinggung budaya apa pun dengan pakaian ini, tetapi, harap dipahami bahwa saya [tidak] memiliki niat cabul atau niat jahat dengan memakainya. Saya minta maaf jika Anda berpikir bahwa ini ‘pemaparan tidak senonoh’ tapi itu bukan niat saya.”

“Kepada orang-orang yang sudah menjatuhkan saya dan mengkritik saya, saya menghormati Anda. Anda sudah mengatakan hal-hal yang terlalu pribadi dan sudah di luar dari apa yang Anda lihat dalam gambar.”

Garcia juga mengklarifikasi bahwa dia telah mengenakan celana pendek dan pita puting pada saat kejadian.

Baca juga: Didera Masalah Pernikahan, Wanita ini Gigit Penumpang Kereta di Cina

“Saya mengalami pelecehan di dunia maya dan dilecehkan karena insiden ini. Saya berharap orang yang menggunggah fotonya tersebut bisa meminta maaf di depan umum,” kata Garcia.

Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya!

Anomali kenaikan harga tiket pesawat yang momennya hampir berbarengan dengan pemberlakuan aturan penghapusan bagasi gratis ternyata masih menjadi perdebatan di sebagian kalangan hingga saat ini. Banyak pengguna jasa angkutan udara yang ‘menjerit’ akibat kenaikan harga tiket yang tidak lagi menyuguhkan harga miring.

Baca juga: Klarifikasi INACA, “Harga Avtur Tidak Berpengaruh Langsung Pada Tingginya Harga Tiket Pesawat”

Bagi mereka yang menjerit karena harga tiket pesawat yang sudah melambung, mungkin mereka masih belum paham betul mengenai rumitnya proses penetapan tarif dan faktor pendukung yang menyebabkan harga tiket menjadi mahal.

Tidak sedikit penumpang yang mengeluhkan harga tiket penerbangan domestik rute tertentu itu lebih tinggi ketimbang rute penerbangan internasional dengan waktu terbang yang hampir sama. Namun ini bukanlah melulu tentang jarak dan waktu tempuh, penetapan harga tiket pesawat jauh lebih rumit ketimbang pertimbangan dua faktor di atas.

Indonesian National Air Carriers Association (INACA) dalam siaran pers pernah menyebutkan bahwa avtur menyumbang 40 hingga 50 persen dari besaran tarif yang dikenakan kepada penumpang, 20 persen untuk biaya sewa pesawat, lalu dua hingga 10 persen untuk fasilitas terminal dan bandara (ground handling), sedangkan 30 persen sisanya untuk pajak dan biaya tenaga kerja.

Itu hanyalah sebagian besar faktor yang menentukan besaran tarif tiket pesawat, masih banyak variabel lain yang juga turut memberikan andil – seperti persaingan harga dengan sesama maskapai dan juga nilai tukar rupiah, karena selama ini avtur dibayar dengan satuan mata uang dollar Amerika Serikat.

Sekedar informasi tambahan, pengaturan harga tiket pesawat ini diatur oleh peraturan keselamatan, dengan tarif maksimum dan minimum yang ditetapkan oleh pemerintah guna memastikan kelangsungan komersial. Kalau ketahuan membelot, maka tidak menutup kemungkinan pihak maskapai akan keluar dari jalur persaingan.

Baca Juga: Selasa Sore! Waktu Paling Tepat untuk Berburu Tiket Pesawat Murah

Faktor hari libur nasional juga memegang peranan penting di balik melonjaknya harga tiket pesawat, karena di tanggal-tanggal libur tersebut, tidak sedikit orang yang ingin melancong dengan menggunakan pesawat – dan ini juga sedikit banyaknya mempengaruhi harga jual tiket untuk rute tertentu. Sebut saja perayaan Imlek kemarin, dimana harga yang ditawarkan pihak maskapai untuk rute, misalnya Jakarta – Pangkal Pinang akan meroket drastis. Ini dipengaruhi oleh permintaan penerbangan yang tinggi di rute tersebut. Sedangkan untuk rute lain pun mengalami peningkatan, namun tidaklah terlalu drastis.

Jadi, sekarang sudah paham kan apa-apa saja yang mempengaruhi tingginya harga jual tiket pesawat?

Tarif Tiket Pesawat Naik, Bus AKAP Diburu Masyarakat Pulau Sumatera

Bus antar kota antar provinsi, belakangan seperti tak terdengar gaungnya. Namun, era kejayaan bus AKAP ini sepertinya mulai kembali bergelora, selain karena hadirnya tol Trans Jawa, pamor bus AKAP belakangan juga terdongkrak karena tingginya harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik.

Baca juga: PO ANS – Pernah Layani Trayek AKAP Terjauh, Banda Aceh – Denpasar

Kenaikan tarif tiket pesawat berawal dari melonjaknya harga bahan bakar pesawat, yakni avtur. Kenaikan tarif tiket pesawat tersebut membuat calon penumpang pesawat mulai beralih ke bus. Baru-baru ini penumpang pesawat menuju berbagai kota di Pulau Sumatera terlihat memenuhi beberapa terminal, seperti Pulogebang, Kampung Rambutan dan Terminal Kalideres.

Bahkan perusahaan otobus (PO) di Terminal Kalideres yang melayani tujuan ke Padang mengalami peningkatan penumpang setelah tiket pesawat harganya melonjak. Salah seorang petugas PO NPM trayek Jakarta – Padang, Yusuf mengatakan kalau trayek PO mereka mengalami kenaikan penumpang hampir tiga kali lipat setelah kenaikan tarif tiket pesawat.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman tribunjakarta.com (12/2/2019), Yusuf mengaku kenaikannya drastis dibandingkan saat tiket pesawat masih murah alias masih bisa dijangkau masyarakat menengah. Dia menambahkan, dengan kenaikan tarif tiket pesawat sendiri seakan memberi angin segar bagi bus apalagi bus AKAP.

“Dulu kan sudah banyak PO yang bangkrut karena kalah saing dengan pesawat, tapi sekarang kalau begini terus bisa hidup lagi bisnis bus ini. Saya sih mendukung ya kebijakan ini karena membuat bisnis bus bangkit lagi,” kata Yusuf.

Karena peningkatan ini, PO NPM merespon dengan menambah jumlah bus untuk trayek ke Padang. Yusuf mengatakan, biasanya bila saat tiket pesawat masih murah, PO NPM sendiri hanya menggunakan dua armada, tetapi kini minimal empat bahkan hingga lima bus per harinya saat libur.

Baca juga: Sejarah ALS, Perusahaan Otobus dengan Trayek Terjauh Lintas Jawa-Sumatera

Meski mengalami peningkatan jumlah penumpang, tarif tiket bus ini tetap normal, yakni Rp400 ribu dengan perjalanan yang memakan waktu dua hari dua malam. Sebagai informasi, kenaikan tarif tiket pesawat umumnya di rentang Rp600 ribu hingga Rp800 ribu, dan kini melonjak hingga Rp1,2 juta untuk sekali perjalanan.

Sayangnya Terminal Bekasi sendiri tidak mengalami kenaikan atau tak berpengaruh kenaikan penumpang dengan adanya kenaikan tarif tiket pesawat. Bahkan beberapa PO tujuan Sumatera kecuali Medan sepi tak seperti beberapa terminal besar lainnya di Jakarta.

Kombinasi Lintasan Kereta Underground – Elevated, Bikin Biaya Operasional Lebih Besar

Jika kondisi memungkinan, sejatinya pembangunan jaringan kereta komuter, baik di segmen MRT (Mass Rapid Transit) atau LRT (Light Rapid Transit) ditekankan untuk memilih salah satu diantara tiga opsi, yaitu elevated (jalur layang), underground (jalur bawah tanah), atau grounded yang menapak di atas tanah. Namun umumnya karena kondisi kontur geografi dan struktur bangunan di sekitarnya, menjadikan operator kereta harus memilh opsi hybrid, contohnya seperti MRT Jakarta yang mengkombinasikan lintasan elevated dan underground.

Baca juga: Ketika LRT Mogok, Penumpang Harus ‘Siap’ Berjalan Kaki di Elevated Track

Sebaliknya, jaringan LRT seperti proyek Jabodebek dan LRT di Palembang, memilih opsi full elevated. Selain kontur geografis dan kondisi bangunan di sekitarnya, yang tak kalah penting adalah biaya pembangunan, disini implementasi jaringan underground jelas yang paling tinggi. Namun lepas dari itu semua, pemilihan jaringan pada MRT/LRT rupanya juga terkait dengan konsumsi energi yang harus dikeluarkan oleh operator.

Dikutip KabarPenumpang.com dari tempo.co (14/1/2019), General Manager LRT Departemen PT Adhi Karya (Persero) Tbk, Isman Widodo, menyatakan bahwa tidak naik turunnya kereta memungkinkan biaya operasional LRT nantinya bisa lebih hemat. Sebab, perlintasan menanjak atau menurun di rel besi tidak bisa disamakan dengan di jalanan yang hanya dilalui ban mobil dan aspal. Semakin banyak lintasan yang naik dan turun, maka tenaga yang dibutuhkan di kereta juga bakal semakin besar dan biayanya pun semakin mahal.

PT Adhi Karya yang mantab membangun LRT pada lintasan elevated tentu memiliki pertimbangan matang, di antaranya yaitu perimbangan antara capital expenditure (capex) dan operational expenditure (opex) model elevated yang dianggap paling efisien, kapasitas kereta, hingga teknologi yang digunakan. “Konsep elevated ini lebih murah ketimbang bentuk underground atau bawah tanah, serta lebih efisien dan cepat dibandingkan menapak di atas tanah atau grounded yang memerlukan biaya yang besar,” ujar Iswan Widodo.

Baca juga: Eksklusif! Inilah Penampakan Bagian Dalam Stasiun MRT Dukuh Atas

Sementara dari sisi lain, pembangunan jaringan underground, meski menelana biaya besar dan waktu lebih lama, tapi punya nilai prestis tersendiri bagi suatu negara. Kehadiran jaringan kereta bawah tanah, tak dikesampingkan sebagai tolok ukur kemajuan transportasi di suatu negara.

“Buddy” Layanan Ride Sharing Multi Penumpang Pertama di Dhaka

Mirip dengan Uber Pool, ada layanan ride sharing bersama dengan orang lain baru-baru ini diluncurkan di Dhaka, Bangladesh. Layanan multi penumpang ini dijalankan oleh perusahaan aplikasi ride sharing Buddy. Buddy diluncurkan di Dhaka pada Kamis (30/1/2019) yang bertujuan memudahkan penumpang untuk berbagi tarif pembayaran dengan penumpang lainnya.

Baca juga: Tutupi Kerugian, Uber Bakal Maksimalkan Moda Transportasi Individual

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dhakatribune.com (1/2/2019), Buddy saat ini menjadi satu-satunya perusahaan ride sharing di Bangladesh yang menawarkan layanan multi penumpang. Buddy Ltd sendiri adalah saudara dari Microtrade Group Bangladesh yang bermitra dengan Microsoft Bangladesh untuk meluncurkan aplikasi dengan sepuluh minibus yang dimiliki perusahaan tersebut. Moto dari Buddy adalah ‘Ayo bergerak dengan aman’ dan perusahaan meluncurkan aplikasi tersebut setelah hampir satu tahun pengujian.

“Layanan ini diharapkan dimulai dari Dhanmondi, Mirpur 1 dan Uttara. Kami awalnya ingin meluncurkan 100 minibus di kota, menargetkan pejabat perusahaan, wanita dan mahasiswa yang siap untuk menghabiskan lebih dari tarif bus reguler tetapi jauh lebih rendah daripada aplikasi berbagi perjalanan lainnya,” ujar Direktur Pelaksana Microtrade S MD Jashimuddin Chisty.

Chisty menambahkan, layanan ini akan sangat hemat biaya, sebab banyak orang yang akan memanfaatkannya pada waktu yang bersamaan. Dia menjelaskan, layanan multi penumpang sendiri terinspirasi dari aplikasi Uber dan Pathao dimana layanan transportasi lebih murah tetapi hemat biaya bagi pelanggan. Menurut informasi yang tersedia di situs web perusahaan, satu perjalanan bisa mengangkut sekitar enam hingga sepuluh penumpang sekaligus.

“Fitur utama dari aplikasi ini adalah perjalanan yang aman dan aman bagi penumpang, sementara pada saat yang sama, memastikan harga yang lebih rendah,” kata Chisty.

Dia melanjutkan bahwa kamera CCTV telah dipasang di semua kendaraan untuk mengamati situasi di dalamnya secara real time. Sehingga, jika terjadi keadaan darurat, pihaknya bisa mematikan kendaraan dari jarak jauh. Selain itu, tim keamanan seluler yang mengendarai sepeda motor juga siaga untuk memastikan keamanan bagi penumpang.

Layanan dapat dimulai dari mana saja tetapi tujuan rute akan ditentukan oleh penumpang pertama. Nantinya, penumpang lain akan dijemput saat pergi ke tujuan. Direktur pelaksana mengatakan idenya telah menarik beberapa investor dan banyak perusahaan telah berusaha untuk berinvestasi dalam platform tersebut.

Baca juga: Sering Tertukar, Ini Dia Perbedaan Antara Ride-Sharing dan Ride-Hailing

Diketahui, sebelum kehadiran Buddy, Uber telah menghadirkan layanan Uber Pool dimana layanan ini mengangkut beberapa penumpang dengan tujuan yang sama. Kelebihannya adalah pembayaran yang dilakukan oleh penumpang lebih murah dan tidak menghabiskan banyak biaya dibandingkan memesan untuk diri sendiri.

Alami Turbulensi Parah, Air New Zealand Berikan Full Refund Kepada Penumpang

Berharap bisa mengudara secara cuma-cuma? Nampaknya pernyataan tersebut terlalu muluk-muluk, ya! Tapi jangan salah, penumpang maskapai Air New Zealand pada akhir Januari 2019 kemarin bisa mengudara secara gratis lho! Syarat dan ketentuannya juga terbilang mudah, namun cukup menyeramkan – menahan diri selama pesawat terkena turbulensi.

Baca Juga: Turbulensi, Guncangan Saat Mengudara Yang Tak Perlu Ditakuti

Ya, KabarPenumpang.com mengutip dari laman nypost.com (25/1/2019), Air New Zealand dengan nomor penerbangan NZ5715 yang mengudara pada Rabu (23/1/2019), diterpa turbulensi yang sangat kuat. Saking kuatnya, sekira 20 persen penumpang yang ada di dalam penerbangan dari Christchurch menuju Invercargill ini mengalami muntah-muntah. Tidak hanya sekali, namun penumpang yang ada di dalam penerbangan tersebut mengatakan, “turbulensi hampir tiada henti,”

Ketika baru mengudara, kapten penerbangan kala itu sudah memperingatkan penumpang bahwa perjalanan tidak akan berjalan mulus dikarenakan faktor cuaca. Namun ternyata, turbulensi yang mengguncangkan penerbangan tersebut sangatlah parah, yang lalu berimbas pada kenyamanan penumpang.

“Benar-benar tanpa henti. Mungkin kami hanya memiliki waktu 10 menit untuk bisa menikmati perjalanan yang nyaman, namun setelah itu turbulensi kembali melanda,” ujar salah satu penumpang yang bernama Owen Scott.

“Sebelumnya, pilot memang sudah mengumumkan bahwa perjalanan ini tidak akan nyaman. Semoga itu menjadi perjalanan sekali seumur hidup saya,” imbuhnya sembari mengingat detail kejadian tersebut.

Owen yang merupakan seroang penumpang yang berdomisili di Invercargill ini tengah mengudara bersama istrinya, Cara dari Christchurch setelah menjalani pengobatan kanker.

“Saya sadar bahwa saya harus berkonsentrasi padanya (Cara) … tapi apa yang terjadi di dalam penerbangan tersebut sama sekali tidak ada drama yang dibuat-buat,” papar Owen.

Menanggapi hal ini, seorang juru bicara dari Air New Zealand mengatakan bahwa kendati perjalanan tersebut berjalan tidaklah mulus, namun pendaratan berlangsung lancar dan sesampainya di darat, para penumpang yang terdampak guncangan turbulensi langsung mendapatkan perawatan dari pihak medis.

Baca Juga: Peneliti Buktikan Bahwa Guncangan Akibat Turbulensi Bisa Diredam!

“Air New Zealand menawarkan kepada pelanggan yang terdampak turbulensi dalam penerbangan tersebut berupa pengembalian dana penuh sebagai pengakuan atas pengalaman penerbangan mereka yang kurang menyenangkan. Selain itu, penumpang juga memiliki pilihan untuk menghadiri debriefing dengan awak pesawat,” ujar pihak Air New Zealand.

Ya, turbulensi hingga saat ini masih menjadi momok menakutkan yang membuat penumpang seolah kapok untuk mengudara.

 

Tidak Terima Ditegur Petugas MRT, Wanita ini Malah Lemparkan Taho!

Jaringan kereta Metro di Manila, Filipina sempat menjadi topik hangat perbincangan baru-baru ini. Bukan karena masalah keterlambatan pemberangkatan armada atau gangguan lain yang menyebabkan penumpukan di stasiun, melainkan karena ulah salah satu penumpangnya yang mendapat peringaran dari petugas keamanan. Alih-alih berterima kasih karena telah diingatkan tentang aturan yang berlaku, tapi si penumpang ini malah membuat kondisi semakin runyam! Duh, kira-kira penumpang ini ngapain ya?

Baca Juga: Inilah Alasan Perlunya Dua Kali Skrining Keamanan di Bandara

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kejadian ini berawal ketika seorang penumpang wanita berkewarganegaraan Cina hendak menggunakan moda Metro Transit Line 3 (MRT-3) pada Sabtu (9/2/2019) kemarin sekira pukul 08.30 waktu setempat. Namun karena ia tidak mengetahui peraturan yang berlaku, maka penumpang yang disinyalir bernama Jiale Zhang ini diberhentikan petugas karena ia membawa makanan/minuman ke dalam rangkaian kereta.

Jiale diperingatkan petugas karena tidak boleh membawa makanan/minuman ke dalam rangkaian kereta. Namun alih-alih berterima kasih karena sudah diingatkan, Jiale lalu malah melempar taho yang ia bawa ke arah petugas yang bernama William Cristobal. Taho sendiri merupakan makanan ringan asal Filipina yang terbuat dari tahu sutra, arnibal, dan mutiara sagu.

Taho. Sumber: istimewa

Karena dianggap sudah melakukan tindakan tidak terpuji kepada petugas, akhirnya Jiale diamankan menuju Mandaluyong Police Community Precinct 5 yang berada tidak terlalu jauh dengan stasiun MRT Boni – tempat Jiale melempar taho kepada William.

“Perlu juga dicatat bahwa bahkan sebelum larangan air minum kemasan, minuman dan cairan baru-baru ini, konsumsi makanan dan minuman tanpa segel juga dilarang di dalam kereta dan stasiun karena hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan, kecelakaan, dan keterlambatan operasi kami,” ujar seorang juru bicara dari operator kereta.

Manajemen MRT3 baru-baru ini juga melarang penumpang untuk membawa serta barang-barang berbentuk cair di dalam stasiun karena pertimbangan keamanan. Yang dikecualikan dari larangan tersebut adalah: susu formula, air minum untuk bayi atau anak kecil, obat-obatan, dan cairan lain yang dibutuhkan oleh seorang penumpang penyandang disabilitas.

Selain dikhawatirkan membuat kondisi tidak nyaman – dengan pertimbangan cairan tersebut tumpah dan membuat lantai menjadi kotor, alasan lain di balik pelarangan ini adalah adanya kabar yang menyebutkan perakitan bom dengan menggunakan bahan baku cairan khusus.

Baca Juga: Seorang Wanita Bawa Pisau dan Lolos dari Alat Pemindai, 3 Ribu Penumpang Tertahan di Bandara Auckland

“DOTr MRT-3 ingin menekankan bahwa penerapan langkah-langkah keamanan yang lebih ketat di dalam kereta dan stasiun kami semata-mata untuk penumpang kami. Kami berhati-hati karena kami mengutamakan keselamatan dan keamanan penumpang dan personel kami setelah serangan di Mindanao tempo hari,” ujar pihak Departemen Transportasi Filipina.

Atas ulahnya tersebut, Jiale didakwa tidak menaati peraturan yang berlaku dan upaya penentangan terhadap petugas. Belum diketahui hukuman apa yang akan dilimpahkan kepada Jiale, namun dirinya kini terpaksa mendekap di balik tahanan markas besar kepolisian Mandaluyong.

 

Rambah Aplikasi E-Commerce dan Distribusi Logistik, Garuda Indonesia Gaet Go-Jek

Flag carrier Garuda Indonesia dikabarkan baru saja menjalin kerja sama dengan perusahaan berbagi tumpangan (ride-hailing), Go-Jek. Dalam kerja sama ini, maskapai plat merah ini menyasar distribusi logistik dan aplikasi e-commerce kepada para pelanggan Garuda yang ada di Indonesia. Menurut Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara, diharapkan kesepatakan kerja sama antara pihak maskapai dan Go-Jek bisa rampung dalam beberapa bulan ke depan.

Baca Juga: Google Gelontorkan Dana Fantastis Ke Gojek, Rp16 Triliun!

Ari juga menambahkan, hingga saat ini, proses komunikasi antar dua belah pihak sudah masuk ke dalam tahap lanjutan. Mantan Direktur Utama PT Pelindo III ini memaparkan bahwa Garuda Indonesia tengah mengembangkan teknologi baru yang berkaitan dengan e-commerce dan logistik.

Dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kemitraan ini akan memungkinkan barang yang dipesan melalui aplikasi Gojek di satu kota di Indonesia untuk dikirimkan menuju kota lain dengan menggunakan armada Garuda Indonesia. Namun Ari enggan merinci lebih lanjut soal kerja sama ini.

Sementara itu menurut Sales & Service Manager Garuda Indonesia Makassar, Ade Nurman, pihaknya mengaku sangat excited dengan keputusan yang tengah dimatangkan oleh kantor pusat tersebut.

“Kerja sama itu saat ini dalam tahap pembicaraan. Bila ini jadi, bisa pengiriman door to door,” ungkap Ade, dikutip dari laman tribunnews.com (10/2/2019).

Sejak beroperasi pada 2011 silam di Jakarta, Go-Jek telah berevolusi dari layanan ride-hailing menjadi aplikasi ‘satu atap’ di mana pelanggan dapat melakukan pembayaran online lewat Go-Pay dan memesan semuanya, mulai dari makanan, bahan makanan hingga barang e-commerce.

Tidak hanya dengan menggunakan digital payment saja, Go-Jek juga menerima pembayaran dengan menggunakan uang konvensional. Menurut cnbcindonesia.com, Go-Jek kini menjadi perusahaan unicorn startup, atau perusahaan rintisan dengan valuasi di atas US$ 1 miliar.

Baca Juga: GoJek Rambah Empat Negara di Asia Tenggara

Masih lekang dalam ingatan, pada 1 Februari 2019 lalu, Go-Jek merampungkan fase pertama dari putaran pendanaan Seri F yang dipimpin oleh Google, JD.com, dan Tencent, serta beberapa investor lainnya termasuk Mitsubishi Corporation dan Provident Capital.