Bandara Kempegowda Aplikasikan Panel Surya Guna Operasional Harian

Operator Bandara Internasional Kempegowda di Bengaluru, India telah memutuskan untuk memasang pembangkit listrik tenaga surya pada bagian atap bandara tersebut. Pemasangan pembangkit listrik tenaga surya berdaya 3,35MW ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan energi bandara yang kian meningkat setiap harinya. Adapun operator bandara bekerja sama dengan Sunshot Technologies dalam urusan instalasi pembangkit listrik ini.

Baca Juga: Etihad ESCO Retrofit Bandara Dubai dengan Energi Tenaga Surya

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (8/2/2019), alat pembangkut listrik tenaga surya ini dipasang di delapan titik atap bandara, termasuk Menzies Bobba, SATS Air India, Coolport dan sejumlah gedung kantor bandara berkode IATA BLR ini. Diperkirakan bahwa pembangkit listrik tenaga surya ini akan menghasilkan sekitar 4,7 juta unit listrik setiap tahunnya.

Selain itu, pembangkit listrik tenaga surya ini juga diharapkan dapat mengurangi kadar emisi CO2 sebanyak 3.800 ton setiap tahunnya. Panel surya yang dipasang di Bandara Internasional Kempegowda ini menggunakan material yang ringan, anti bocor, anti korosi, dan tahan terhadap terpaan angin kencang. Panel surya ini juga dirancang khusus guna menghindari pantulan sinar matahari – dimana ini akan berdampak pada pengoperasian penerbangan sehari-hari di sana.

“Sebagai role model untuk kemajuan yang berkelanjutan, Bandara Internasional Kempegowda berada pada jalur yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut, kami berharap dapat mengaplikasikan bandara dengan energi terbarukan 100 persen pada tahun 2020 mendatang,” ungkap wakil presiden pemeliharaan Bandara Internasional Kempegowda, Lakshminarayanan Sankaran.

“Untuk itu, proyek pengadaan panel surya ini akan membantu Bandara Internasional Kempegowda untuk mengurangi emisi karbon dan mencapat netralitas energi,” tandasnya.

Proyek instalasi pembangkit listrik tenaga surya di Bandara Internasional Kempegowda Bengaluru ini rencananya akan dilaksanakan dalam dua tahap. Selama fasepertama yang dimulai pada tahun 2017 kemarin, pihak bandara telah menyelesaikan pemasangan panel surya dengan kapasitas 503kW, panel surya berkapasitas 2,5MW yang dipasang di tanah, dan 425kW sisanya di parkiran mobil.

Baca Juga: Bandara Pakyong di Timur Laut India, Tawarkan Eksotisme Himalaya

Selain itu, Bandara Internasional Kempegowda juga rencananya akan membeli 20MU melalui akses terbuka dari pabrik Bosch, dan 20 MU lagi dari Cleanmax selama tahap instalasi kedua.

Pada bulan Januari 2019 kemarin, Bandara Internasional Kempegowda mengajukan rencana untuk melakukan program ekspansi besar-besaran senilai Rs130bn (US$1,8 miliar) yang mencakup pembangunan terminal baru, landasan pacu kedua, jalan akses, dan infrastruktur jalan internal.

Setelah Qantas, Emirates Berpotensi Batalkan Pesanan Airbus A380

Setelah belum lama Qantas Airways memutuskan untuk membatalkan pesanan 8 unit Airbus A380, kini ada kabar bahwa maskapai terbesar pengguna A380, yaitu Emirates, berpotensi untuk tidak melanjutkan pemesanan A380. Emirates seperti diketahui, tengah dalam proses pemesanan 59 unit A380, saat ini Emirates telah mengoperasikan 109 unit Airbus A380, dengan unit perdana diterima pada tahun 2008.

Baca juga: Semakin Terpuruk, Airbus Terima Pembatalan Pesanan A380 dari Qantas Airways

Dikutip dari engineering.com (8/2/2019), pihak Emirates disebut-sebut telah membicarakan untuk keluar dari kesepakatan dengan Airbus. Beberapa indikasi seperti setahun sejak kontrak, Emirates telah berdebat dengan pemasok mesin, Rolls Royce akan kinerja mesin. Indikasi kedua yaitu rencana Emirates untuk pindah hub, ke bandara New Dubai World Central yang punya kapasitas penumpang lebih besar dari bandara saat ini. Perpindahan hub bandara ini rencananya akan tuntas pada tahun 2024.

Di New Dubai World Central Airport, kemungkinan besar Emirates akan meminimalkan kebutuhan pesawat sekelas A380. Salah satu alasan Emirates mengorder A380 adalah kapasitas penumpang yang besar, dengan lebih dari 600 penumpang sekali angkut. Saat itu, dipandang sebagai solusi trafik penerbangan yang tinggi di Bandara Internasional Dubai.

Meski berpotensi membatalkan pesanan A380, namun pilihan pemesanan sebagai penggantinya tetap dari Airbus, yang digadang adalah Airbus A350 atau A330Neo. Kedua pesawat twin engine tersebut punya kapasitas lebih kecil, namun punya jangkauan terbang lebih jauh dari A380, dan yang lebih penting lagi lebih efisien dalam bahan bakar, karena hanya menggunakan dua mesin.

Desas desus rencana Emirates untuk membatalkan pesanan A380 sudah terbaca pihak Airbus sejak tahun lalu. Pejabat eksekutif Airbus, John Leahy menyebutkan bahwa pihaknya kemungkinan besar akan menghentikan sepenuhnya produksi A380. Beberapa analis penerbangan juga berpendapat bila masa depan A380 sangat tergantung pada keputusan Emirates.

Baca juga: Intip Mewahnya Airbus A380 Emirates yang Digunakan Klub Bola Real Madrid

Lesunya pesanan A380 sudah direspon Airbus, salah satunya dengan memperlambat kapasitas produksi menjadi 8 unit setahun, dan hanya akan menyerahkan 6 unit pesawat per tahun mulai 2020. Berita tentang masa suram A380 uniknya justru direspon positif oleh pasar saham, investor umumnya melihat tidak ada masa depan untuk proyek A380.

Ternyata di Ride Hailing Banyak Kecurangan yang Dilakukan Pengemudi Online

Kecurangan atau fraud merupakan fenomena yang terjadi di industri berbagi tumpangan atau ride hailing di Indonesia. Salah satunya adalah order fiktif yang dilakukan demi mendapatkan bonus dari perusahaan transportasi.

Baca juga: GoJek Kalah Saing, Grab Maju Selangkah Hadirkan Fitur Asuransi

KabarPenumpang.com melansir dari laman scmp.com, selain fraud dengan order fiktif adapula dengan Fake GPS atau GPS palsu yang digunakaan untuk mencurangi lokasi di Global Positioning System (GPS). Kedua hal inilah yang mendasari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dan firma riset Spire Research and Consulting melakukan riset terkait fraud tersebut.

Sebanyak 61 persen pengemudi yang mengendarai kendaraan roda dua dan roda empat mengetahui pengemudi lainnya melakukan penipuan. Tak hanya itu lebih dari 80 persen pengemudi mendapatkan pesanan palsu setiap minggu dan satu dari tiga pengemudi melihatnya setiap hari.

Menurut Grab, di Asia Tenggara sendiri sebanyak 20 persennya adalah order fiktif. Berly Martawardaya, Direktur Program INDEF mengatakan, pengemudi melakukan penipuan karena tidak takut ketahuan dan bisa mendapatkan bonus tanpa harus bekerja.

“Sistem deteksi perusahaan masih lemah sehingga banyak pengemudi yang berpikir itu aman bagi mereka bila melakukan fraud karena hanya beberapa dari mereka yang ketahuan,” ujar Berly.

Apalagi di Indonesia menjadi medan persaingan antar dua ride hailing yakni Grab dan GoJek setelah Uber menarik diri dari Indonesia. Kompetisi keduanya bahkan termasuk ke ranah promosi dan pembayaran bonus.

Sumber: istimewa

Untuk melawan tren ini, Grab dan GoJek memperbarui alat anti penipuan mereka dalam beberapa bulan terakhir. Kampanye ini juga dipantau secara ketat oleh investor sebagai cara untuk mengukur, antara lain, nilai perusahaan, sumber dalam industri mengatakan. GoJek, khususnya, harus menunjukkan bahwa ia dapat mengatasi penipuan di pasar dalam negeri Indonesia sebelum berekspansi ke negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Perusahaan dengan senilai US$5 miliar ini, telah menyisihkan US$500 juta untuk ekspansi ke Singapura, Vietnam, Thailand dan Filipina. Survei INDEF menunjukkan bahwa 42 persen pengemudi mengatakan GoJek memiliki penipuan terbanyak, dibandingkan dengan Grab yang 28 persen.

Selain dari aplikasi GPS, pengemudi Indonesia sering membuat akun pengemudi dan pengendara palsu, atau membeli satu di banyak kios komputer di mal Jakarta, dijual dengan harga hingga satu juta rupiah. Hal ini memungkinkan mereka untuk membuat pemesanan perjalanan sendiri dan berpura-pura menyelesaikan perjalanan untuk mencapai tanda insentif.

Metode lain disebut “default tunai”, di mana pengemudi menggunakan akun palsu dan hanya menerima wahana dari penumpang yang membayar tunai. Untuk penipu yang mengerti teknologi, mereka akan menggunakan versi tidak resmi dari aplikasi dan telepon yang dimodifikasi yang memungkinkan mereka untuk memotong deteksi lokasi root dan me-reject, serta untuk membatalkan perjalanan tanpa konsekuensi. Di web yang gelap, ada setidaknya 1300 versi aplikasi GoJek tidak resmi untuk Android, dibandingkan dengan tiga dari Grab.

Grab dan GoJek baru-baru ini memperkuat kampanye anti-penipuan dan alat deteksi mereka untuk melawan wahana phantom, khususnya di Indonesia dimana kecurangan lebih menonjol. Grab memperkenalkan program whistle-blower yang disebut “Fairplay” yang telah menghasilkan 9000 tips dan menghasilkan sepuluh buah sindikat ilegal di seluruh Indonesia.

Program itu, telah menyebabkan pengurangan penipuan sebesar 80 persen dalam 12 bulan terakhir. Adapun GoJek, pada bulan April 2018 meluncurkan alat deteksi yang akan memperingatkan pengemudi melalui notifikasi pop-up jika mereka menggunakan aplikasi GPS palsu.

Baca juga: Meski Difabel, Bukan Halangan Bagi Wanita ini Menjadi Pengantar GrabFood

“Hingga Juni kami telah memberi sanksi kepada ratusan ribu pengemudi dan pelanggan yang terlibat dalam menempatkan pesanan palsu. Sistem kami mendeteksi bahwa lebih dari 80 persen wahana phantom terkonsentrasi di area dan jam tertentu, membuat kami percaya bahwa ini dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab yang misinya adalah membawa wahana palsu ke platform GoJek,” kata Michael Say, wakil presiden komunikasi perusahaan di Go-Jek.

Sempat Jadi Tempat Persusulan Kereta, Stasiun Wojo Direaktivasi Untuk Transit Kereta Bandara

New Yogyakarta International Airport (NYIA) atau Bandara Internasional Kulon Progo akan segera beroperasi, membuat beberapa stasiun yang tak lagi menaik turunkan penumpang akan kembali dioperasikan. Salah satunya adalah Stasiun Wojo yang terletak di Jalan Raya Wates, Purworejo, Jawa Tengah.

Baca juga: NYIA Kulon Progo Beroperasi Pertengahan 2019, Inilah Kesiapan Kereta Bandaranya

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Stasiun Wojo merupakan stasiun yang berada di bawah manajemen PT KAI Daop VI Yogyakarta dan berada di ketinggian +14 mdpl yang menjadi stasiun kereta api kelas III. Bangunannya merupakan peninggalan masa Hindia Belanda dan didirikan bersamaaan jalur kereta api dari Yogyakarta menuju Maos.

Pengerjaan jalur tersebut dilakukan oleh Staatsspoorwegen Tramwegen in Nederlandsch–Indië (SS) tahun 1877 silam dan menjadi lanjutan proyek jalur Solo Balapan-Yogyakarta. Memiliki tiga jalur dengan jalur 1 dan 2 sebagai sepur lurus, Stasiun Wojo sendiri kini hanya digunakan sebagai persusulan kereta dan tidak diketahui kapan berhenti menaik turunkan penumpang.

Bentuk bangunannya sendiri memiliki kemiripan dengan Stasiun Solo Kota dan Stasiun Sukoharjo dengan kekhasan berupa desain atap dan ventilasi bulat serta teralis besi kotak-kotak. Meski bangunan dari masa Hindia Belanda, Stasiun Wojo belum termasuk dalam cagar budaya. Tetapi nantinya akan masuk dalam data cagar budaya dan dikoordinasikan dengan Balai Cagar Budaya.

“Stasiun Wojo memang merupakan peninggalan kolonial, tapi belum tercatat sebagai cagar budaya tanpa menjelaskan alasannya. Kendati demikian dia memastikan stasiun itu bakal didata sebagai cagar budaya dan dikoordinasikan dengan Balai Cagar Budaya. Nanti kami data,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo, Agung Wibowo yang dikutip dari harianjogja.com, Rabu (6/2/2019).

Karena tidak lagi ada aktivitas menaik turunkan penumpang di stasiun ini, membuat sejumlah warung rumahan di sekitarnya tutup. Namun, karena dalam waktu dekat NYIA akan segera beroperasi, Stasiun Wojo juga terkena imbasnya dan ada kemungkinan kembali beroperasi serta warung rumahan yang dulu tutup juga bisa kembali berjualan.

Dirjen Perkeretaapian, Zulfikri, memastikan bakal melakukan merevitalisasi Stasiun Wojo, dimana revitalisasi ini guna menunjang pengoperasian bandara. Stasiun kecil ini pun akan kembali berbenah. Tak hanya itu, beberapa bangunan pun juga ikut dipugar.

Fasilitas penunjang kenyamanan untuk para pengguna kereta api yang nantinya berhenti di stasiun tersebut rencananya bakal ditambah. Akses dari stasiun kelas III itu menuju jalan nasional Purworejo-Jogja yang berjarak sekitar 135 meter pun tak luput dibenahi.

Baca juga: Bolak Balik di Tutup, Stasiun Purworejo Kini Jadi Cagar Budaya

Pemilihan Stasiun Wojo sebagai stasiun transit dari dan ke NYIA bukan tanpa alasan. Berdasarkan citra satelit, jarak dari stasiun itu ke bandara hanya berkisar 3,9 km. Sehingga bila ditempuh dengan kendaraan bermotor hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit. Sedangkan bila dibandingkan jaraknya dengan Stasiun Wates, Kulonprogo yang berjarak sekitar 18 km dengan sehingga membutuhkan waktu tempuh 20 menit.

Seoul Hadirkan Taksi Khusus Wanita, Tarifnya Lebih Rendah dari Biasanya

Taksi aman untuk wanita baru saja diluncurkan pada awal Februari 2019 oleh Pemerintah Metropolitan Seoul di Korea Selatan. Taksi ini merupakan perusahaan waralaba Tago Solution yang terdiri atas 50 perusahaan dengan 4500 taksi. Rencananya, Tago Solution akan menguji dua macam layanan selama tiga bulan yakni Wagyo Lady dan Wagyo Blue.

Baca juga: Tangkal Pelecehan Seksual, Taksi dan Ojek Perempuan Bisa Jadi Solusi

Taksi Wago Lady sendiri akan dikemudikan oleh seorang wanita dan hanya akan menjemput penumpang perempuan dan laki-laki di bawah usia sekolah menengah. KabarPenumpang.com melansir laman koreaherald.com (7/2/2019), taksi ini pun dilengkapi dengan kursi mobil untuk bayi dan anak-anak.

Sebanyak 20 taksi Wagyo Lady yang akan beroperasi pada masa percobaan ini dan akan meningkat jumlahnya menjadi 500 mobil di tahun depan. Bagi penumpang yang memanggil taksi Wagyo Blue, mobil tersebut akan dikemudikan oleh pengemudi tanpa mengetahui tujuan sampai penumpang masuk ke dalam taksi.

Tarif taksi Tago beriksar 2000 Won hingga 3000 Won dan lebih murah dari taksi biasa dengan tarif dasar yang diperkirakan berkisar 5800 Won sampai 6800 Won. Pengemudi pun pembayaran upah atau gajinya secara bulanan dan tak perlu membayar sebagian dari pendapatan mereka kepada perusahaan.

Sebab sebagain besar perusahaan taksi di Korea Selatan mengharuskan pengemudi membayar jumlah tetap dari tarif taksi yang mereka peroleh sekitar 120 ribu Won hingga 150 ribu Won. Sistem ini telah menuai kritik karena menciptakan kondisi kerja yang buruk dan menyebabkan pengemudi menolak penumpang yang bepergian ke tujuan dan dianggap tidak menguntungkan.

Di tengah meningkatnya keluhan tentang taksi yang menolak penumpang, pemerintah kota memberlakukan sistem “tiga-mogok“, di mana pengemudi yang tertangkap menolak penumpang pada tiga kesempatan dalam dua tahun akan dikenakan denda sebesar 600 ribu Won dan pembatalan lisensi taksi mereka.

Tak hanya itu, pemilik perusahaan taksi pun juga akan dikenakan sanksi. Pemerintah kota mengatakan akan menambah lebih banyak taksi yang memberikan layanan bernilai tambah seperti, taksi yang berspesialisasi dalam menjalankan tugas atau membawa kargo dan taksi yang memungkinkan hewan peliharaan naik.

Sebelumnya di negara Timur Tengah seperti di Karachi, Pakistan, sudah menghadirkan PAXI atau Pink Taxi yang khusus untuk penumpang wanita dengan pengemudi yang juga seorang perempuan. Tak hanya memberikan kenyamanan bagi pengguna, taksi pink ini juga aman bagi wanita karena tidak akan dilecehkan oleh pengemudi.

Baca juga: DriveHER, Ride Sharing dengan Pengemudi Wanita dan Khusus Bagi Penumpang Wanita

Selain itu di Kairo, Mesir juga ada taksi pink yang khusus untuk penumpang wanita. Pengemudi taksi ini menggunakan seragam berwarna pink dan bermake up serba pink. Pelayanan taksi pink di Kairo sendiri pengemudi minimal bergelar sarjana dan mampu berbahasa Ingris serta tarifnya yang cukup malah sebab menggunakan mobil limousine.

PO Maju Lancar, Identik dengan Trayek Wonosari – Jakarta

Usianya belum terlalu tua, yakni didirikan tahun 1986 oleh sepasang suami istri bernama H. Sutrisno dan Hj. Sri Hartati, maka terbentuklah sebuah Perusahaan Otobus (PO) Maju Lancar. Awal mulanya PO yang kini memiliki trayek Wonosari-Jakarta tersebut hanya bermodalkan dua buah bus.

Baca juga: Sejarah PO Santoso, Ternyata Digawangi oleh Seorang Dokter

PO Maju Lancar sendiri sebelum membuka trayek Jakarta dan kota lainnya, pertama kali melayani trayek Antar Kota Dalam Provinsi atau AKDP dari Wonosari menuju Yogyakarta PP. Seperti namanya Maju Lancar, PO bus tersebut berkembang dengan tekad dan usaha pemiliknya hingga membuka rute Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).

Tahun 1991 trayek AKAP PO Maju Lancar menggunakan empat unit bus. Kehadiran trayek Wonosari-Jakarta sendiri akhirnya menuai kesuksesan meski hanya menggunakan armada seadanya.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, karena trayek Wonosari-Jakarta terbilang sukses, PO Maju Lancar berbenah diri dan menambah armada bus miliknya. Tahun 1998 hingga awal 2000-an, PO ini kemudian meningkatkan jumlah armadanya hingga 64 unit bus.

Meski sempat meranjak, PO Maju Lancar juga mengalami pasang surut seperti yang lainnya. Tahun 1998 dimana krisis moneter alias krismon terjadi, bus yang memiliki khas warna hijau tersebut mengalami penurunan penumpang secara drastis termasuk pelanggan dari wilayah Gunungkidul sendiri.

Baca juga: Penguasa Jalur Selatan, PO Budiman Punya Aturan Ketat

Untungnya berkat usaha sang pemiliki yakni Sutrisno dan keluarga, Maju Lancar melalui kemerosotannya dan terus mengembangkan sayapnya hingga kini. Usai krismon, bahkan, PO Maju Lancar sendiri terus menambahkan trayeknya ke berbagai wilayah lainnya.

Hingga kini lebih kurang sekitar 140 armada bus sudah dimiliki PO Maju Lancar dan sekarang bahkan menjadi salah satu PO terbaik di Indonesia. Maju Lancar kini juga melayani kelas VIP dan Eksekutif dengan tarif sekitar Rp170 ribu hingga Rp250 ribu. Untuk kelas Patas seat 2-2 utama dan non AC atrif di banderol Rp135 ribu. Sedangkan kelas Patas AC toilet reguler Rp170 ribu.

 

 

Gandeng Aerion, Boeing Siap Luncurkan Pesawat Supersonik di Tahun 2025

Boeing telah secara memasuki arus perlombaan untuk membangun pesawat komersial berkecepatan supersonik generasi berikutnya. Dalam upayanya ini, Boeing tidaklah berdiri sendiri, melainkan menjalin kemitraan baru dengan Aerion. Meskipun belum banyak rincian diberikan oleh pihak perusahaan, namun perjanjian kerja sama anyar tersebut mencakup investasi besar yang dilakukan oleh pihak Boeing – termasuk penyediaan fasilitas rekayasa, manufaktur, dan uji terbang untuk pengembangan jet bisnis supersonik yang diberi nama Aerion AS2 ini.

Baca Juga: Suksesor Concorde ini Tetap Dihantui Bayangan Kelam Pendahulunya

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (6/2/2019), sebenarnya ide pengembangan pesawat berkecepatan supersonik ini terinspirasi dari berakhirnya era keemasan dari Concorde yang mengakhiri layanannya pada tahun 2003 silam. Sejak saat itu, belum ada lagi generasi penerus yang melanjutkan layanan penerbangan supersonik. Namun bukan berarti tidak ada perusahaan yang berusaha untuk menjajaki kembali penerbangan supersonik. Di luar sana, tidak sedikit perusahaan yang tengah mengembangkan pesawat berkecepatan supersonik yang ekonomis dan juga ramah lingkungan.

Kelak, Aerion AS2 ini akan menggunakan mesin GE Affinity yang mampu membuat pesawat ini melesat dengan kecepatan 1.671km/jam (Mach 1,4). Menurut pihak Boeing, pesawat jet bisnis berkapasitas 12 penumpang ini akan mengudara di tahun 2023 dan memasuki layanan komersialnya dua tahun berselang. Dalam pengembangannya, Aerion juga bermitra dengan Lockheed Martin dalam urusan teknis, namun aliansi kedua perusahaan ini terputus dengan alasan yang tidak diungkapkan.

Baca Juga: Tupolev “Concordski” T-114 – Jiplakan Concorde Yang Kalah Digdaya

“Boeing memimpin transformasi mobilitas yang akan menghubungkan dunia dengan aman, efisien, dan lebih cepat daripada sebelumnya,” ujar Steve Nordlund, wakil presiden dan manajer umum Boeing NeXt.

“Ini adalah investasi terdepan yang strategis dan disiplin dalam teknologi supersonik yang semakin matang. Melalui kemitraan bersama Aerion, yang menggabungkan keahlian supersonik Aerion dengan skala industri global Boeing dan pengalaman kami di sektor penerbangan komersial, kami memiliki tim yang tepat untuk membangun masa depan penerbangan supersonik yang berkelanjutan,” tambah Steve.

 

Dinilai Bakal Rugikan Persaingan, Uni Eropa Blokir Merger Antara Siemens dan Alstom

Uni Eropa telah memblokir merger yang dilakukan oleh Siemens dan Alstom, dimana mereka akan menciptakan sebuah kereta yang setara dengan pembangkit tenaga listrik Airbus. Regulator antitrust Uni Eropa mengatakan pada hari Rabu (6/2/2019) bahwa menggabungkan bisnis manufaktur kereta api antara perusahaan Jerman dan Perancis ini akan merugikan persaingan dan menyebabkan harga yang lebih tinggi di Eropa.

Baca Juga: Whoosh! Inilah Lima Kereta Tercepat di Dunia, Proyek di Indonesia Ada di Peringkat Berapa Ya?

“Penggabungan ini akan menghasilkan harga yang lebih tinggi untuk sistem pensinyalan yang menjaga penumpang tetap aman dan untuk generasi berikutnya dari kereta berkecepatan sangat tinggi,” tutur Margrethe Vestager, seorang politikus asal Denmark yang juga memiliki jabatan di European Commissioner for Competition, dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (6/2/2019).

Siemens (SIEGY) dan Alstom (ALSMY) berpendapat bahwa penggabungan kekuatan semacam ini diperlukan untuk mencapai skala yang diperlukan untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan dari Cina. Struktur serupa juga dipercaya dapat membantu Airbus (EADSF) untuk bersaing dengan kompetitornya asal Negeri Paman Sam, Boeing (BA).

“Eropa sangat membutuhkan reformasi struktural dalam cara membentuk masa depan industrinya,” ujar CEO Siemens, Joe Kaeser.

“Melindungi kepentingan pelanggan secara lokal tidak berarti bahwa Eropa tidak dapat berada pada tingkat yang sama dengan negara-negara terkemuka seperti Cina, Amerika Serikat dan lainnya,” tandasnya.

Di sisi lain, Alstom mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka menyesali keputusan tersebut. Perusahaan-perusahaan mengindikasikan bahwa mereka tidak akan mengajukan banding atas keputusan di tingkat pengadilan.

Sebelumnya, kesepakatan yang diusulkan untuk menggabungkan Alstom Perancis dan unit transportasi Siemens Jerman diumumkan pada September 2017. Rencana itu kemudian dengan cepat mendapat dukungan dari pemerintah Perancis dan Jerman, yang ingin sekali menciptakan “juara” Eropa baru dengan kekuatan finansial yang dibutuhkan untuk bersaing di seluruh dunia.

Salah satu pesaing utama dalam kompetisi ini adalah China Railway Rolling Stock Corporation (CRRC), salah satu pemasok peralatan kereta api terbesar di dunia, yang telah memenangkan kontrak besar untuk memasok armada metro untuk di Boston, Chicago dan Melbourne.

Baca Juga: Tuai Kontroversi Hadirkan Kereta Cepat, Akankah California Rasakan Nasib Seperti Indonesia?

Skala pendapatannya juga sangat besar: Siemens dan Alstom telah menggabungkan penjualan tahunan dengan pendapatan sekira €15miliar (US$18miliar), sedikit lebih banyak dari setengah pendapatan CRRC yang menyentuh angka 207 miliar yuan (US$31miliar) pada 2017.

Senada dengan suara kekecewaan lainnya, Menteri Perekonomian Perancis, Bruno Le Maire pun menelurkan statemen serupa.

“Ini merupakan pilihan buruk bagi Eropa,” ujar Bruno.

 

Pasca Pelecehan Pada Awak Kabin, EVA Air Siap ‘Banned’ Penumpang yang Berperilaku Tak Pantas

Tentu masih lekang dalam ingatan Anda dimana seorang awak kabin dari maskapai EVA Air yang terpaksa membantu seorang penumpang untuk melepaskan pakaian dan mencebokinya. Ya, aksi pelecehan semacam ini ternyata ditanggapi serius oleh pihak maskapai, dimana maskapai yang berbasis di Taiwan ini mengumumkan akan menolak setiap penumpang untuk mengudara bersama EVA Air semisal ia pernah kedapatan menunjukkan perilaku yang tidak pantas terhadap awak EVA Air.

Baca Juga: Pelecehan Seksual, Pramugari Dipaksa ‘Nyebokin’ Penumpang

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman airlinegeeks.com (7/2/2019), awak kabin yang dilecehkan tersebut telah mengajukan tuntutan hukum kepada Biro Penerbangan Taiwan guna mengusut tuntas kasus ini. Namun upaya pihak maskapai untuk memberlakukan regulasi ini terbentur oleh peraturan Departemen Transportasi AS bagian 382 yang menyebutkan bahwa maskapai penerbangan tidak boleh menolak mobilitas penumpang atas dasar disabilitas, kecuali jika keselamatan penerbangan terancam oleh adanya penumpang yang bersangkutan.

Sebuah media lokal Taiwan mengatakan, EVA Air akan kembali mempertimbangkan regulasi ini mengingat masih ada opsi lain guna mencegah tindakan pelecehan semacam ini terulang kembali. Pihak maskapai bisa saja memberlakukan aturan dimana setiap penumpang yang membutuhkan treatment khusus selama penerbangan untuk membawa serta pengurus pribadinya sendiri – kendati serikat awak kabin telah meminta pihak maskapai untuk tidak menyertakan penumpang semacam ini di dalam sebuah penerbangan.

Sebelumnya, seorang penumpang EVA Air yang mengidap obesitas meminta bantuan kepada awak kabin untuk menggunakan toilet. Penumpang dengan bobot lebih ini mengaku kesulitan untuk mengakses toilet karena ukurannya yang terlalu kecil. Dua awak kabin ini diperintahkan penumpang untuk membantunya melepas celana karena ia tidak bisa melakukannya sendiri. Karena pada saat itu tidak ada awak kabin pria yang bertugas, maka dua wanita ini mau tidak mau menuruti permintaa tolong dari si penumpang.

Baca Juga: Sebelum Seperti Sekarang, Dulu Toilet Pesawat Gunakan Ember untuk Tampung Limbah Penumpang

Dua awak kabin ini lalu mengambil selimut untuk menutupi kemaluan dari si penumpang, namun malah ditepis olehnya seolah ingin memamerkan kemaluannya. Tidak berhenti sampai di situ, setelah selesai menggunakan toilet, si penumpang pria ini enggan keluar dari toilet jika tidak ‘diceboki’ oleh si pramugari. Terdesak oleh penumpang lain yang hendak menggunakan toilet, akhirnya awak kabin ini kembali menuruti perintah si penumpang dan erangan yang semakin memperkuat bahwa aksi tersebut masuk ke dalam ranah pelecehan seksual.

 

Semakin Terpuruk, Airbus Terima Pembatalan Pesanan A380 dari Qantas Airways

Flag carrier Australia, Qantas dikabarkan telah membatalkan delapan pesanan armada Airbus A380 yang telah dipesan pada tahun 2006 silam. Dengan adanya kabar pembatalan pesanan ini, maka hal tersebut semakin menambah ketidakpastian tentang nasib pesawat penumpang terbesar di dunia saat ini. Dalam sebuah pernyataan resmi, pihak Qantas berdalih akan terlebih dahulu mengoptimalkan 12 armada A380 yang sudah ada, sebelum akhirnya mereka siap untuk mengakomodasi lebih banyak armada super jumbo jet ini.

Baca Juga: Dinilai Kurang Efisien, Akankah Airbus A380 Berjaya 20 Tahun Mendatang?

“Setelah melewati beberapa pertimbangan, pesawat ini (Airbus A380) belum masuk ke dalam rencana penambahan armada dan penambahan relasi penerbangan untuk sementara waktu,” ujar pihak Qantas, dikutip KabarPenumpang.com dari laman nytimes.com (7/2/2019).

Sebagaimana yang sudah diketahui sebelumnya, pihak Airbus sendiri seperti sudah menyerah terhadap masa depan dari mahakarya A380-nya. Di sebuah kesempatan, pihak Airbus mengatakan bahwa mereka siap menghentikan produksi dari pesawat penumpang komersial terbesar ini semisal pelanggan utama mereka, Emirates tidak lagi memesan armada tersebut.

Memang, pada mulanya Airbus A380 hadir sebagai solusi bagi pihak maskapai yang mampu menangkut banyak penumpang namun dengan slot pendaratan yang minim – akan meminimalisir aktifitas pendaratan dan lepas landas di landas pacu. Satu unit armada Airbus A380 sendiri mampu mengangkut lebih dari 500 penumpang.

Namun kini era sudah berubah, dimana pandangan tentang okupansi yang banyak tidak sejalan dengan realita di lapangan, belum lagi biaya perawatan dan ongkos bahan bakar yang lebih tinggi, membuat pihak maskapai mulai membatasi penggunaan armada A380 dan mulai beralih menggunakan pesawat narrow-body yang mampu menjabani tugas yang sama seperti A380 – membuat armada ini semakin terpuruk tergerus ‘hukum alam’.

Baca Juga: Kendati Produksi Dihentikan, Airbus A380 Tetaplah Fenomenal

“Kami telah menyetujui amandemen kontrak yang diumumkan oleh pihak Qantas,” ujar Airbus dalam sebuah pernyataan tertulis, Kamis (7/2/2019).

Mundur ke Januari 2018, dimana Kepala Penawaran Operasi Airbus, John Leahy mengatakan bahwa pihak Emirates belum ada menyinggung soal penambahan pesanan dari A380. Ini mengindikasikan bahwa Airbus harus benar-benar mengurungkan niat untuk kembali ‘menyalakan dapur’ dari A380.