Bandara Seletar, Bandara Kedua Singapura yang ‘Sering’ Terlupakan

Meski memiliki luas wilayah yang tergolong kecil, namun, Singapura menjadi salah satu hub penerbangan terbesar di Asia melalui Bandara Changi. Letak geografisnya yang berada sedikit di atas garis khatulistiwa dan berada di tengah antara Benuar Eropa dan Amerika, membuat Bandara Changi sangat sibuk.

Baca juga: Seletar Bus Depot, Pool Bus Berkapasitas Besar dengan Fasilitas Lengkap dan Mewah

Akan tetapi, selain Bandara Changi, Singapura mempunyai bandara lainnya atau bandara kedua. Itu adalah Bandara Seletar.

Dilansir Simple Flying, jauh sebelum Bandara Changi resmi beroperasi pada 29 Desember 1981, Bandara Seletar sudah lebih dahulu ada.

Bandara ini pertama kali dibuka pada 28 Februari 1928, dengan nama RAF atau Royal Air Force Seletar. Royal Air Force adalah air and space division angkatan bersenjata Inggris, dan hadir di Singapura sebagai koloni Kerajaan Inggris pada saat itu.

Rencana membuka pangkalan RAF di Singapura dimulai pada tahun 1921. Selain Seletar, ada lagi satu lokasi lainnya. Meski begitu, Seletar akhirnya aterpilih sebagai lokasi didirikannya RAF Seletar pada tahun 1923.

Pesawat pertama yang mendarat di RAF Seletar atau Bandara Seletar adalah Supermarine Southampton. Setelahnya, RAF Seletar menjadi salah satu bagian dalam sejarah penerbangan dunia setelah didarati oleh legenda aviasi, seperti penerbang perintis Amy Johnson pada 1930 dan Amelia Earhart, pilot wanita pertama di dunia pada tahun 1937 setelah melakoni penerbangan jarak jauh.

Meski didesain sebagai pangkalan militer, mulai tahun 1930 hingga 1947, RAF Seletar melayani penerbangan sipil.

Setelah sekian lama, RAF akhirnya minggat dari Singapura dan menyerahkan RAF Seletar kepada Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF). Sejak saat itu, Seletar sudah bertransformasi menjadi bandara sipil, terutama menangani penerbangan umum dan jet pribadi, dengan beberapa layanan komersial.

Dalam mendukung transisi ini, Bandara Seletar telah mengalami beberapa perubahan selama bertahun-tahun.

Setelah Bandara Changi didirikan dan menggeser keberadaan Bandara Seletar, praktis bandara tersebut bak anak tiri. Dinomorduakan. Namun, seiring meningkatnya traffic Bandara Changi, Bandara Seletar mulai dilirik kembali untuk mengurai beban yang begitu berat ke Bandara Changi.

Pada tahun 2011, runway Bandara Seletar diperpanjang, diikuti oleh perbaikan menyeluruh pda tahun 2015. Pada November 2018, terminal baru Bandara Seletar resmi dibuka. Kemudian, daerah sekitar Bandara Seletar juga ditata dan dijadikan Seletar Aerospace Park agar semakin memperkuat posisi Singapura sebagai pusat penerbangan.

Setelah tahun 2018, Bandara Seletar sempat ingin digunakan oleh konsorsium Bandara Changi untuk melayani pesawat-pesawat kecil.

Baca juga: Terminal Baru Bandara Seletar Mulai Beroperasi Akhir 2018

Sayangnya, rencana itu terhalang dengan adanya pandemi virus Corona. Pada Juni 2021, satu-satunya penerbangan terjadwal yang dilayani Bandara Seletar adalah maskapai Malaysia Firefly rute Bandara Subang (SZB) Kuala Lumpur – Bandara Seletar.

Akan tetapi, data RadarBox.com menunjukkan, baru-baru ini Airbus A320 Virgin Australia dan Airbus A321 Eurowings dilaporkan mendarat dan lepas landas di Bandara Seletar. Penerbangan kargo Lufthansa juga nantinya akan aktif beroperasi di bandara ini.

Keselamatan Perjalanan Kereta Api Terjamin, Asalkan Pakai Teknologi Ini

Perjalanan kereta api yang makin hari makin padat di jalur Jawa – Sumatera kini kian dirasakan. Banyaknya masyarakat pengguna kereta api untuk mobilitas kegiatan sehari – hari memang tak luput dari pandangan mata. Harganya yang ekonomis, praktis, hemat waktu, dan terjangkau menjadikan kereta api salah satu transportasi berbasis rel yang efisien. Tak hanya penumpang sebagai pengguna setianya, petugas yang melayaninya pun memberikan loyalitas dan prioritas terhadap penggunanya. Menghindari gangguan yang terjadi seketika merupakan langkah penting yang harus selalu waspada.

Baca juga: Melongok Peralatan Tempur di Kabin KRL, Penasaran?

Sibuknya perjalanan kereta api diharuskan petugas yang mengatur maupun yang mengendalikan sudah sewajarnya melakukan pekerjaan yang terbaik agar terlihat profesional. Maka dari itu istilah zero accident selalu diterapkan oleh PT KAI (Kereta Api Persero) setiap melakukan pekerjaan. Meskipun begitu kereta api selalu dilengkapi dengan alat – alat yang kini canggih untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan. Salah satunya teknologi yang sudah diterapkan oleh kereta api di Indonesia adalah Automatic Train Protection (ATP).

Teknologi ATP merupakan sistem pengamanan dan operasi perjalanan kereta api yang mencakup pengendalian sarana kereta api pada sistem pengeremannya maupun pengendalian kecepatan. Nah, dengan menggunakan Sistem Teknologi ATP atau dengan kata lain train control maka kelalaian masinis yang dapat menyebabkan kecelakaan kereta api dapat dihindari dan lebih lanjut dapat melakukan pengaturan-pengaturan terkait efisiensi operasi.
Sebenarnya teknologi train control ini sudah dilakukan pada jalur kereta api di lintas Jawa dan Sumatera per tahun 2016. Namun paling banyak dipasangi teknologi tersebut adalah jalur utara yang lalu lintas kesibukan kereta apinya lebih banyak mulai dari KA penumpang hingga KA angkutan barang.

Sebelumnya teknologi ATP ini telah diuji coba oleh kereta inspeksi 1 dan 2 pada tahun 2013. Uji coba tersebut dilakukan di jalan antara Solo – Yogyakarta, dengan kereta Inspeksi 1 dan 2 yang dirangkai menjadi satu. Direktur Keselamatan Perkeretaapian, Hermanto Dwiatmoko turut menyaksikan pelaksanaan uji coba tersebut.

Bagaimana Cara Kerja ATP?
Seperti diketahui bahwa ATP adalah perangkat keselamatan yang fungsi dasarnya melakukan pengereman dan pengaturan kecepatan kereta berdasarkan informasi compatible dari sinyal atau batas kecepatan yang diizinkan. Informasi tersebut dikirim dari jalur kereta ke sarana/lokomotif dengan cara kopling medan magnet resonansi saat loco balise melewati track balise.

Baca juga: Yuk, Kenalan dengan Djoko Tingkir – Sang Kereta Penolong

Informasi dari jalur tersebut mengaktifkan proses kendali prosedur masinis saat mengendarai kereta/lokomotif. Saat dibutuhkan sistem ATP akan melakukan pengereman demi meningkatkan nilai keselamatan perjalanan kereta bila masinis kurang memperhatikan sinyal atau tidak menurunkan kecepatan pada lintasan yang ada pembatasan kecepatan atau pada jalur lengkung. Pada saat pelanggaran kecepatan dan pelanggaran sinyal itu dilakukan di tiga tempat tersebut, fungsi ATP untuk melakukan service brake dan emergency brake itu bekerja dengan baik. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Facebit, Deteksi Tanda Vital Pada Pengguna Masker

Sebuah perangkat baru dipasang di masker yang dirancang untuk membantu dan memantau vital serta mendeteksi kebocoran pada segel masker. Perangkat itu dibuat karena petugas kesehatan hingga hari ini masih terus menggunakan masker wajah dengan waktu cukup lama, yakni 12 jam.

Baca juga: Masker Cerdas ini Bisa Otomatis Sesuaikan Kemampuan Bernapas Penggunanya

Perangkat ini tengah dalam pengembangan di Universitas Northwestern Illinois yang mana prototipenya dikenal sebagai FaceBit, seperti yang digambarkan sebagai Fitbit untuk wajah. prototipe tersebut memiliki seukuran koin seperempat dolar AS, dan menempel di bagian dalam semua jenis masker N95, kain atau bedah melalui magnet kecil.

The FaceBit, di luar topeng. Foto: Universitas Northwestern

Meski menggunakan baterai, ada tambahan pada sistem onboard yang mendapatkan energi dari gerakan, cahaya serta panas dan kekuatan napas pemakainya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (13/1/2022), dengan tambahan sistem tersebut, satu baterai akan mampu bertahan lebih dari sebelas hari selain pengisian daya.

Setelah sistem pemanen energi dikembangkan lebih lanjut dan nantinya perangkat tidak memerlukan baterai sama sekali. Karena FaceBit dapat mendeteksi kekuatan napas individu, maka FaceBit dapat menghitung laju pernapasan pemakainya. Selain itu, dengan mendeteksi gerakan kepala kecil yang menyertai setiap detak jantung.

Facebit ini juga nantinya akan mampu membedakan antara gerakan tersebut dan gerakan tubuh lainnya sehingga dapat memastikan detak jantung pengguna. Jika Facebit mendeteksi penurunan tiba-tiba pada seberapa tahan masker untuk melepaskan udara yang dihembuskan, ia tahu bahwa segel antara topeng dan kulit pemakainya dapat dikompromikan.

Semua data ini ditransmisikan melalui Bluetooth ke aplikasi ponsel cerdas yang menyertainya dan memperingatkan pengguna jika mereka menjadi terlalu stres, terlalu lelah serta jika masker mereka perlu disesuaikan atau diganti. Data tersebut juga dapat digunakan oleh administrator layanan kesehatan, untuk memantau kesejahteraan karyawan mereka.

Meskipun FaceBit telah diuji di lingkungan perawatan kesehatan dunia nyata, teknologinya masih perlu divalidasi melalui uji klinis. Ini telah dirilis sebagai sistem sumber terbuka, sehingga kelompok lain dapat membantu dalam pengembangannya.

Baca juga: Lebih Jelas Tentang KN95, Masker Standar Cina yang Laris Manis

“FaceBit memberikan langkah pertama menuju penginderaan dan inferensi di wajah yang praktis, dan memberikan pilihan yang berkelanjutan, nyaman, dan nyaman untuk pemantauan kesehatan umum bagi pekerja garis depan Covid-19 dan seterusnya. Saya sangat bersemangat untuk menyerahkan ini kepada komunitas riset untuk melihat apa yang dapat mereka lakukan dengannya,” kata Prof Josiah Hester.

Tiga Sebab AS Larang Warganya ke Indonesia: Covid-19, Terorisme, dan Bencana Alam!

Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan travel advisory level 4 untuk Indonesia. Itu berarti, seluruh warga negara AS dilarang bepergian ke Indonesia karena dianggap berbahaya dan bisa menghilangkan nyawa mereka.

Baca juga: Travel Advice, Jangan Samakan dengan Travel Warning

Dilihat dari laman travel.state.gov Departemen Luar Negeri AS, setidaknya ada tiga alasan mengapa Indonesia dimasukkan ke dalam kelompok level 4 travel advisory AS; Covid-19, terorisme, dan bencana alam.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) pada Selasa (25/1) diketahui memberi level I status perjalanan karena kasus Covid-19 di dalam negeri dianggap rendah.

Meski statusnya level 4 alias dilarang atau lebih tepatnya bukan larangan melainkan jangan bepergian ke Indonesia, namun, dalam laman tersebut ada narasi yang memperbolehkan warga AS bepergian ke Indonesia.

Disebutkan, bagi mereka yang tetap ingin bepergian ke Indonesia, disarankan agar tidak datang ke Sulawesi dan Papua karena ancaman keamanan. Maka dari itu, AS memperketat warganya yang ingin berkunjung ke Sulawesi dan Papua dengan mengajukan izin terlebih dahulu.

Penembakan antara kelompok radikal dengan TNI juga terus terjadi di wilayah antara Timika dan Grasberg di Papua. Di Sulawesi Tengah dan Papua, demonstrasi dan konflik dengan kekerasan dapat mengakibatkan cedera atau kematian bagi para wisatawan.

Kelompok yang dilabeli sebagai teroris dinilai dapat menyerang tanpa peringatan dengan menargetkan kantor polisi, tempat ibadah, hotel, bar, klub malam, pasar atau pusat perbelanjaan, dan restoran.

Selain itu, adanya bencana alam seperti gempa bumi, tsunami atau letusan gunung berapi yang belakangan sering terjadi secara bergantian dapat mengakibatkan terganggunya transportasi, infrastruktur, sanitasi, dan ketersediaan layanan kesehatan.

Departemen Luar Negeri AS sendiri memiliki empat level Travel Advisory sebagai bahan pertimbangan warganya sebelum berkunjung ke suatu negara.

Level 1 adalah exercise normal precautions. Di level ini, warga negara AS bisa berkunjung ke sebuah negara dengan aman dan tanpa rasa cemas. Demikian juga dengan level 2 atau exercise increased caution.

Walau begitu, di level 2 ini, warga negara AS yang akan berkunjung ke sebuah negara tetap harus berhati-hati dan waspada terhadap segala kemungkinan, tergantung isu yang berkembang di sana, entah itu karena gesekan politik, demonstrasi besar-besaran, kerusuhan, terorisme, bencana alam, dan lain sebagainya.

Baca juga: Public Figure Ini Pernah Terobos Label Travel Warning di Indonesia

Di level 3 atau reconsider travel, warga negara AS diimbau untuk mempertimbangkan kembali perjalanan. Negara-negara yang dilabeli level 3 travel advisory biasanya terdapat beberapa ancaman yang membahayakan wisatawan.

Adapun level 4, sebagaimana Indonesia, yang sejak tanggal 25 Januari lalu masuk dalam travel advisory level 4, disarankan agar warga negara AS tidak mendatangi negara tersebut.

Berkat SmaRT-LAMP Deteksi Corona Bisa Lewat Smartphone, Lebih Murah, Hasil Akurat dalam 25 Menit

Smartphone dimanfaatkan sebagai perangkat atau kit pengujian Covid-19. Pertanyaannya kemudian, apakah bisa? Kalau bisa, cara smartphone bekerja seperti apa? Peneliti di Amerika Serkat belum lama ini telah mengembangkan kit berbasis smartphone inovatif yang dapat menguji sampel air liur untuk mendeteksi keberadaan virus corona dan influenza.

Baca juga: Pertama di Dunia! Bandara Bengaluru Perkenalkan Alat Tes Covid-19 Berbasis CRISPR, Bisa Uji 90 Penumpang Sekaligus

Studi awal menemukan sistem ini jauh lebih murah dan seakurat pengujian berbasis laboratarium, tidak itu saja, sistem ini secara signifikan lebih cepat dirposes. Saat ini orang akrab dengan berbagai cara pengujian Covid-19 yakni, lewat tes PCR dan Antigen.

Peralatan yang diperlukan untuk teknologi pengujian smaRT-LAMP akan berharga kurang dari $100. Foto: Michael Mahan

Tes antigen cepat cepat dan mudah tetapi sering kali dapat melewatkan kasus positif. Tes ini membutuhkan sejumlah bahan virus untuk ditangkap oleh sampel usap hidung atau air liur. Teknologi PCR, atau reaksi berantai polimerase, adalah cara paling akurat untuk menguji Covid-19. Ini melibatkan pengambilan sampel usap dari subjek dan memperkuat materi genetik virus di laboratorium.

Untuk memperkuat fragmen virus, sampel dikenai sejumlah siklus yang memaksa materi genetik untuk bereplikasi. Siklus ini melibatkan perubahan suhu yang cepat mulai dari 50 hingga 95 °C (122 hingga 203 °F), berulang hingga 30 kali. Dan peralatan yang sangat khusus diperlukan untuk menyelesaikan proses ini, artinya pengujian PCR memerlukan akses ke laboratorium khusus.

Sementara cara baru dengan smartphone didasarkan pada teknologi berbeda yang dikenal sebagai Loop Mediated Isothermal Amplification (LAMP), yang mirip dengan PCR dalam mengidentifikasi materi virus melalui proses amplifikasi DNA yang ada. Namun, teknologi LAMP dapat mengamplifikasi materi virus tanpa siklus suhu kompleks yang diperlukan oleh pengujian PCR. Namun, masalah utama dengan diagnostik LAMP adalah sensitivitas yang berlebihan.

Ini sangat efektif dalam meningkatkan replikasi virus sehingga sering kali menghasilkan positif palsu dalam jumlah besar. Di samping memecahkan masalah positif palsu ini, para peneliti merancang sistem berbasis smartphone baru yang dapat diproduksi dengan harga kurang dari US$100. Sistem ini kemudian dijuluki sebagai smaRT-LAMP (smartphone-based real-time Loop Mediated Isothermal Amplification).

Dengan hanya menggunakan smartphone, lampu LED dan kompor listrik, para peneliti mengklaim sampel air liur dapat memberikan hasil yang akurat dalam waktu 25 menit. Biaya setiap tes individu dengan teknologi ini diperkirakan sekitar $7, jauh lebih murah daripada tes PCR berbasis laboratorium.

Baca juga: WHO Setujui Rencana Peluncuran 120 Juta Tes Diagnostik Cepat Covid-19

Sistem ini juga dapat dengan mudah disesuaikan untuk mendeteksi virus lain. Dalam iterasi saat ini, para peneliti telah menunjukkan bahwa hanya dengan mengubah primer yang digunakan untuk berinteraksi dengan sampel air liur dapat mengubah kit dari mendeteksi Covid-19 menjadi virus influenza.

 

 

 

“Kembali Lagi” Armada Bus Sekolah Angkut Pasien Covid-19 ke RSDC Wisma Atlet

Dibukanya lagi sekolah untuk pelajaran tatap muka, bus sekolah juga akhirnya kembali beroperasi mengangkut para siswa. Namun, sepertinya tidak semua kembali beroperasi untuk mengangkut siswa sekolah, tetapi banyak yang kembali digunakan membawa pasien Covid-19.

Baca juga: Bus Kota di Australia Barat ‘Disulap’ Menjadi Laboratorium Uji Covid-19

Bahkan setiap harinya di masa pandemi dengan varian baru ini ada 70 pasien yang diangkut dari puskesmas ke Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma atlet dengan menggunakan bus sekolah. Sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com, Kepala Unit Pengelola Angkutan Sekolah Dinas Perhubungan DKI Jakarta Ali Murthadho mengatakan, ada dua belas bus sekolah yang dialihfungsikan untuk mengangkut pasien Covid-19 dengan gejala ringan atau orang tanpa gejala alias OTG.

Kedua belas armada bus sekolah tersebut mulai dialihfungsikan sejak 6 Januari 2022.

“Untuk sementara kita siapkan 12 unit (bus sekolah),” kata Ali.

Dia mengatakan, jumlah bus sekolah yang digunakan untuk mengantar para pasien Covid-19 masih dalam tahap wajar dan aman. Sebab jumlah pasien yang dievakuasi per hari sekitar 60 hingga 70 pasien dengan gejala ringan atau pun OTG.

Ali menjelaskan, jika kedepannya pasien yang akan diangkut lebih banyak, maka bus yang akan dialihfungsikan akan bertambah. Saat ini pihaknya sudah menyiapkan 42 armada bus sekolah untk mengantar pasien Covid-19.

“Sudah kita siapkan unit tambahan kalau diperlukan. Kita bisa siapkan sampai sudah 42 unit,” kata Ali.

Saat ini jumlah total armada bus sekolah yang dimiliki oleh Pemprov DKI Jakarta adalah 211 bus. Bus yang dialihfungsikan itu, lanjut Ali, sudah dimodifikasi dan nantinya akan beroperasi sesuai permintaan dari puskesmas.

“Modifikasi yaitu memisahkan kabin pengemudi dengan kabin penumpang,” ujar dia.

Baca juga: Mysuru Punya Bus Berisi Tabung Oksigen dan Mudahkan Pasien Covid-19 Menunggu

Adapun tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) terkait Covid-19 di DKI Jakarta mencapai 60 persen. Sementara, BOR di ruangan intensive care unit (ICU) sebesar 28 persen. Persentase ini berdasarkan data dari Pemprov DKI Jakarta.

AirAsia X Terbang Lagi ke Sydney Sepekan Sekali Mulai 14 Februari

AirAsia X mengkonfirmasi bakal melanjutkan lagi penerbangan langsung dari Kuala Lumpur ke Sydney mulai 14 Februari mendatang sepekan sekali. Rute ini sebelumnya cukup menjadi andalan maskapai sebelum terpaksa ditangguhkan untuk sementara sejak tahun 2020 akibat pandemi virus Corona.

Baca juga: AirAsia X Vs Scoot Vs Jetstar, Siapa yang Terbaik?

Selama penerbangan antara kedua kota tersebut ditangguhkan, AirAsia X beberapa kali pernah mendarat di Sydney. Namun, bukan sebagai penerbangan berjadwal melainkan penerbangan carter dan repatriasi.

Penerbangan perdana AirAsia X antara Kuala Lumpur Sydney pada 14 Februari nanti dijadwalkan lepas landas pada pukul 19:25 menggunakan Airbus A330-300. Pesawat akan terbang ke Selatan menempuh jarak 6.580 kilometer atau delapan jam perjalanan dan mendarat pada pukul 06:30 keesokan harinya dengan flight number D7 227.

Dua jam setelah mendarat, pesawat akan melakoni penerbangan balik ke Kuala Lumpur pada pukul 08:30 pagi dan tiba pukul 14:15 dengan nomor penerbangan D7 227.

Di rute ini, AirAsia X akan bersaing ketat dengan flag carrier Malaysia Airlines, yang saat ini terbang beberapa kali sepekan.

“Setelah downtime perjalanan kami selama dua tahun terakhir, dan penyelesaian proses restrukturisasi kami baru-baru ini, kami sangat senang dapat meluncurkan kembali dan memulai kembali penerbangan kami secara bertahap,” kata CEO AirAsia X, Benyamin Ismail, seperti dikutip dari Simple Flying.

“Saat kami mengantisipasi pembukaan kembali perbatasan internasional secara bertahap di seluruh dunia pada tahun 2022, kami senang untuk kembali ke Australia terlebih dahulu, sebagai salah satu pasar kami yang paling populer,” lanjutnya.

“Layanan mingguan baru untuk para tamu ini menandai tonggak penting untuk dimulainya kembali layanan komersial kami dan akan berkontribusi pada pertumbuhan kami pasca-restrukturisasi,” tambahnya.

Penerbangan pra pandemi antara Malaysia dan Australia cukup menggiurkan. Pada tahun 2019, lebih dari 2,4 juta penumpang terbang dari Kuala Lumpur ke Sydney dan sebaliknya. Dari jumlah tersebut, AirAsia X diketahui mengangkut lebih dari satu juta penumpang.

Mengingat Qantas Group masih belum berpikir bakal terbang lagi ke Malaysia, sudah pasti ceruk rute ini akan diperebutkan oleh Malaysia Airlines, AirAsia dan Malindo Air by Lion Air Group.

Meski begitu, ketiganya tak akan dengan mudah memaksimalkan rute ini. Sebab, Australia masih membatasi gerbang internasional mereka.

Baca juga: AirAsia X Genap Berusia 10 Tahun, Mantapkan Identitas Sebagai LCC Jarak Jauh

Negeri Kangguru hanya melayani kedatangan internasional untuk warga negara Australia yang telah divaksinasi dua dosis, pelajar/mahasiswa internasional, dan pemegang visa yang memenuhi syarat yang dapat melakukan perjalanan ke dan dari Australia tanpa mengajukan permohonan pengecualian perjalanan.

Sebaliknya, Malaysia juga demikian. Warga negara Malaysia dan wisawatan pemegang visa kunjungan jangka panjang diperbolehkan masuk. Begitu juga wisatawan lainnya di luar itu. Diperbolehkan masuk, dengan syarat karantina mandiri terlebih dahulu.

58 Tahun Beroperasi, Maskapai Mana Saja yang Operasikan Pesawat Boeing 727?

Pesawat regional trijet Boeing 727 sudah lama di-grounded dalam dunia penerbangan komersial. Debut pesawat ini tenggelam semenjak popularitas Boeing 737 mengemuka dengan twinjet-nya.

Baca juga: Nabung Bertahun-tahun, Pria Ini Sulap Boeing 727 Jadi ‘Tesla’ Mewah Seharga Rp3,2 Miliar

Antara tahun 1962 sampai 1984, Boeing memproduksi 1.832 unit Boeing 727. Tetapi, setelah hampir 40 tahun tak diproduksi atau 58 tahun setelah penerbangan perdana, ternyata masih ada 38 unit Boeing 727 beroperasi bersama 23 maskapai di seluruh dunia. Maskapai mana saja?

Menurut ch.aviation, dari jumlah tersebut, 30 di antaranya datang dari maskapai kargo, lima oleh Angkatan Udara Ekuador, Garda Nasional Meksiko, Raytheon Technologies, République du Mali, dan Safe Air, dan tiga lainnya oleh dua maskapai, Líneas Aéreas Suramericanas dan Kalitta Charters II, sebagai maskapai charter.

Terkait layanan penumpang dengan Boeing 727 ini tentu hampir tak disangka-sangka oleh avgeeks. Sebab, Boeing 727 penumpang terakhir sudah dihelat pada awal tahun 2019 silam. Ketika itu, Boeing 727 dengan nomer penerbangan EP851 milik Iran Aseman Airlines santer dikabarkan menjadi Boeing 727 yang terakhir terbang di dunia.

Penerbangan terakhir Boeing 727 EP851 melayani rute Zahedan ke Tehran dengan durasi dua jam perjalanan pada malam hari. Menurut sumber yang sama, Boeing 727 EP851 sudah dioperasikan selama 39 tahun oleh Iran Aseman.

Disebutkan, satu-satunya maskapai yang masih mengoperasikan penerbangan penumpang dengan Boeing 727 adalah Safe Air yang berbasis di Nairobi, Kenya. Maskapai tersebut mempunyai dua pesawat Boeing 727 dengan nomor registrasi 5Y-GMA dan 5Y-IRE. Meski begitu kedua pesawat itu tidak secara penuh mengoperasikan layanan penumpang melainkan mixing dengan layana kargo.

Raytheon Technologies tercatat menjadi satu-satunya entitas yang masih mengoperasikan pesawat Boeing 727 untuk pesawat uji.

Penggunaan Boeing 727 terbesar datang dari maskapai kargo. Dua maskapai Amerika Serikat, termasuk Kalitta Charters dan Gulf and Caribbean Cargo, masih mengandalkan pesawat tersebut untuk angkutan barang domestik maupun internasional.

Ada juga maskapai asal Kolombia, Líneas Aéreas Suramericanas, AeroSucre, dan Angkatan Udara Kolombia (Fuerza Aérea Colombiana), yang masih menggunakan pesawat tersebut.

Di luar itu, ada maskapai kargo yang berbasis di Kenya, Astral Aviation, maskapai asal Republik Kongo, Serve Air Cargo, dan maskapai asal Inggris, T2 Aviation.

Baca juga: Belasan Tahun Hilang Tanpa Jejak, Boeing 727 Milik ASL Ditemukan di Gurun Sahara?

38 unit Boeing 727 yang masih aktif beroperasi pada tahun ini diketahui hanya berkurang sebanyak 11 pesawat hanya dalam tempo kurang lebih 4 bulan.

Pada September tahun lalu, ch-aviation melaporkan, ada 49 unit Boeing 727 beroperasi bersama 29 maskapai di seluruh dunia.

Uji Guling Pada Bus, Pastikan Kabin Aman Saat Terjadi Benturan

Pernah dengar uji guling pada bus? Mungkin bagi orang awam tidak akan mengerti apa itu uji guling pada bus. Tetapi para pemilik bus atau karoseri pasti tahu apa itu uji yang dimaksud. Ini merupakan salah satu aspek keselamatan pada moda transportasi yang wajib menjadi perhatian utama.

Baca juga: E-Logbook, Aplikasi untuk Pantau Kinerja Pengemudi Bus AKAP

Uji guling pada dasarnya adalah pengujian bodi kendaraan untuk memastikan ruang dalam kabin bus tetap aman saat kendaraan mengalami benturan. Sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com, export manajer Karoseri Laksana Werry Yulianto mengatakan, uji guling dilakukan untuk memastikan bahwa ruang aman penumpang terpenuhi.

Sehingga saat terjadi kecelakaan atau benturan, maka ruang aman penumpang tetap utuh. Alasan utama lainnya adalah memastikan safety dari penumpang saat terjadi bus terguling.

“Jadi ruang aman penumpang tetap terpenuhi” ujar Werry.

Saat ini Karoseri Laksana sudah memiliki peralatan pengujian aspek keselamatan tersebut yang sudah berstandar internasional. Werry menjelaskan, pihaknya menggunakan standar keselamatan yang dipakai di Eropa. Untuk uji guling sendiri, standar yang digunakan Laksana adalah UN ECE R66 yang merupakan singkatan dari United Nation Economic Commission of Europe Regulation Number 66.

Dengan kata lain, UN ECE telah menetapkan standar uji guling pada Regulasi Nomor 66 untuk dijadikan pedoman pengujian. Di Laksana, uji guling diawali dari penggunaan simulator terlebih dahulu. Sesudahnya, baru dilakukan pengujian secara langsung.

Untuk menyatakan sebuah bodi bus lolos uji guling atau tidak, indikatornya dengan melihat sejumlah komponen eksterior yang masuk ke area aman penumpang dan pengemudi. Begitu pun sebaliknya, konstruksi area residual harus tetap aman ketika bus terguling.

Bus yang diuji bisa hanya sepertiga bagian atau bus utuh dengan kemiringan penggulingan sampai 40 derajat. Untuk diketahui bukan hanya uji kemiringan, ada sejumlah pengujian lainnya.

“Kami telah mengaplikasikan beberapa pengujian lainnya seperti R80 tentang seat and anchorage strength test. Fungsinya memastikan kursi dan pengait lantainya berfungsi dengan baik, tidak terlontar saat terjadi kecelakaan atau pengereman mendadak,” kata Werry.

Baca juga: Sudah Saatnya Produsen Mobil Perhatikan Keselamatan Penumpang di Bangku Belakang

Werry juga menyebutkan pengujian bernama flammable test untuk mengetes beragam material dalam kabin bus yang harus memenuhi standar tertentu apabila bus mengalami kebakaran. Werry menjelaskan, beragam pengujian tersebut tidak dilakukan pada semua pesanan bodi bus. Namun hanya untuk tiap tipe bodi apabila ada peluncuran bodi baru untuk membuktikan aspek keselamatannya secara menyeluruh.

Persingkat Pekerjaan Cleaning Service, Kru Shinkansen Gunakan Alat Pendeteksi Basah

Sudah menjadi SOP (Standar Operasional Prosedur) bila setiap kereta yang tiba di titik pemberhentian akhir akan menjalani proses pembersihan. Begitu pun pada kereta cepat Tokaido Shinkansen, maka setelah digunakan akan dilakukan pembersihan oleh krunya. Setidaknya ada 44 orang awak yang membutuhkan waktu sepuluh menit untuk membersihkan serta memeriksa setiap 16 gerbong dengan jumlah 1.300 kursi.

Baca juga: Hotel di Osaka Tawarkan Kamar Spesial dengan Pemandangan Jalur Kereta Shinkansen

Namun, belum lama ini sebuah teknologi baru hadir untuk membantu pembersihan serta pemeriksaan kursi lebih cepat. KabarPenumpang.com melansir mainichi.jp (30/1/2022), teknologi itu adalah sebuah perangkat pendeteksi kursi basah yang memanfaatkan kecerdasan buatan.

Alat tersebut membantu awak pembersih untuk memeriksa semua kursi yang ada. Sehingga ketika kereta masuk ke stasiun dan akan kembali beroperasi, maka petugas pembersih turun tangan untuk melakukan tugas mereka.

Dalam waktu sepuluh menit, salah satu dari delapan kru mengumpulkan botol dan kaleng. Ada pula yang mengganti penutup sandaran kepala kursi, mengelap dan menyapu lantai, membuang sampah serta yang lainnya.

Prestasi kecepatan tersebut telah ditampilkan di televisi dan terkadang menginspirasi dan membuat pelancong asing bertepuk tangan. Tetapi memeriksa apakah joknya basah sangat memakan waktu dan tenaga. Rata-rata, sekitar dua dari 1.300 kursi di setiap kereta yang datang basah, karena minuman yang tumpah atau air hujan yang menetes dari payung.

Jika pembersihan sederhana tidak menyelesaikan masalah, sarung di kursi perlu diganti. Untuk memudahkan itu, maka para pekerja telah menggunakan sapu dengan elektroda di ujungnya, yang membunyikan alarm ketika menyentuh kursi dan mendeteksi kelembapan. Meski begitu petugas cleaning service harus membungkuk untuk menggunakan sapu di setiap kursi, yang sangat berat di punggung mereka.

Setelah pengembangan selama dua tahun, “Perangkat pendeteksi kursi basah” mulai digunakan pada 1 Desember 2021. Ini adalah batang yang dapat diperpanjang hingga 90 centimeter, dengan kamera termografi di ujungnya dan smartphone yang terhubung ke pegangannya.

Ketika para pekerja mengambil gambar kursi dengan kamera, yang kursi basah muncul dalam warna merah di smartphone, yang memainkan alarm. Semua ini memungkinkan pembersih tetap tegak dengan nyaman saat mereka memeriksa dua atau tiga kursi sekaligus. Petugas kebersihan secara bertahap mengurangi waktu yang mereka butuhkan untuk memeriksa dan membersihkan kereta.

Ketika setiap kursi harus diperiksa kelembabannya secara manual, dibutuhkan waktu 15 menit untuk mempersiapkan setiap kereta. Itu dipotong menjadi 12 menit ketika sapu dengan fungsi deteksi diperkenalkan pada Maret 2008. Tetapi para pekerja meningkatkan efisiensi mereka lebih jauh, membawa waktu turun menjadi 10 menit saat ini pada Oktober 2019.

Baca juga: Cek Fakta, Kereta Shinkansen Melesat 4.800 Km per Jam, Jakarta-Surabaya Cuma 15 Menit!

Mempersingkat pekerjaan juga memungkinkan JR Central menjalankan lebih banyak kereta api masuk dan keluar dari Stasiun Tokyo. Ketika prosedur pembersihan berubah dari 15 menjadi 12 menit, dan kemudian menjadi 10, perusahaan meningkatkan jumlah maksimum kereta peluru “Nozomi” per jam dari 8 menjadi 10, dan kemudian menjadi 12. JR Central berharap bahwa perangkat baru ini akan mengarah pada penghematan waktu yang lebih besar.