Hotel di Osaka Tawarkan Kamar Spesial dengan Pemandangan Jalur Kereta Shinkansen

Ketika virus corona muncul dan tersebar ke seluruh dunia, banyak industri yang harus menderita karena hal ini. Seperti industri di sektor pariwisata yang kehilangan pelancong karena pembatasan perjalanan selama pandemi.

Baca juga: Ubah Smoking Room Jadi Zoom Meeting Room, JR Central Tawarkan Meeting di Kereta Peluru Shinkansen

Seperti di Jepang, banyak hal yang dilakukan untuk tetap menjaga pelancong lokal agar bisa menikmati sektor pariwisata. Salah satunya adalah Osaka Corona Hotel yang menemukan cara baru untuk menutupi sebagian kerugian dengan mempromosikan kedekatannya dengan jalur Tokaido shinkansen.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman asahi.com (24/9/2021), Osaka Corona Hotel memiliki satu kamar yakni bernomor 523 yang disebut-sebut sebagai “Ruang Pemandangan Shinkansen”. Hal ini karena jarak kamar tersebut hanya enam meter dari jalur layang tempat kereta berkecepatan tinggi tersebut beroperasi dari pagi hingga larut malam.

Kehadiran cara baru menikmati pemandangan kereta shinkansen ini, memudahkan para penggemar kereta api untuk mendapatkan momen bagus ketika menginap di kamar tersebut. Namun pertanyaan kemudian hadir, apakah kebisingan kereta yang melintas mengganggu tamu hotel di kamar itu?

Hotel beranggaran rendah di kota Higashi-Yodogawa Ward itu mengatakan kebisingan dari derak kereta api yang lewat dikurangi dengan memasang jendela berlapis ganda. Meski begitu, beberapa tamu meminta untuk ditempatkan di ruangan yang berbeda, mengeluh bahwa getaran yang disebabkan oleh kereta api berkecepatan tinggi yang lewat dapat mengganggu.

Untuk diketahui, hotel tersebut mengalami kesulitan setelah pandemi virus corona baru yang melanda. Karena itu, kemudian mereka menggunakan kata “corona” dalam namanya. Tetapi ketika mulai menawarkan Kamar Pemandangan Shinkansen pada bulan Agustus dalam upaya untuk bertahan hidup, ia menemukan dirinya dibanjiri dengan pertanyaan dan pemesanan.

Baca juga: JR East Hadirkan Kompartemen ‘Kantor’ pada Kereta Cepat Shinkansen Tohoku

Ruangan tersebut dilengkapi dengan topi masinis kereta, sandal yang terbuat dari bahan yang sama yang digunakan untuk kursi kereta peluru dan buku-buku tentang layanan Shinkansen. Gambar kereta peluru ditampilkan di wallpaper.

“Anda dapat menikmati Shinkansen sendirian tanpa menjadi bagian dari keramaian,” kata perwakilan hotel.

Butuh? Ternyata Ini Nama Stasiun Lho!

Setiap dengar dan menyebutkan kata butuh, Anda seakan menginginkan sesuatu. Tapi pernahkah Anda tersadar bahwa Butuh juga menjadi nama desa dan sebuah stasiun di pulau Jawa?

Memang terkesan seperti diinginkan dan terdengar unik, ya itulah nama salah satu stasiun di Purworejo, Jawa Tengah. Berjarak 50 meter dari Jalan Raya Prembun-Kutoarjo dan tepat berada dibelakang Pasar Butuh, terletak sebuah stasiun kereta api kelas III atau stasiun kecil bernama stasiun Butuh.

Baca juga: Stasiun Blitar, Sejarah Panjang dari Fokker Hingga Soekarno

Staiun ini terletak pada ketinggian +10 meter dan masuk dalam Daerah Operasional (Daop) V Purwokerto. Butuh, merupakan stasiun kereta api yang letaknya paling barat di Kabupaten Purworejo.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, stasiun ini hanya memiliki dua jalur dimana jalur 2 adalah sepur lurus. Memang stasiun ini kecil tetapi suasananya asri dan cukup bersih, sebab di sekitaran stasiun kecil ini di tanami tanaman hijau dan bunga serta diseberang rel terlihat jajaran pohon yang berdiri kokoh seperti tembok.

Walaupun kecil, stasiun Butuh sendiri dilengkapi dengan parkiran yang luas dan nyaman untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun saat ini stasiun Butuh tidak lagi melayani untuk pengangkutan penumpang melainkan hanya melayani persilangan dan persusulan antar kereta api apa saja.

Ini persilangan dan persusulan yang dilayani secara resmi berdasarkan Gapeka yang direvisi pada 28 September 2017 kemarin sebagai berikut:

1. KA Malabar tujuan Bandung (KA 91) bersilang dengan KA Gajayana tujuan Malang (KA 42) yang melintas langsung.
2. KA Kahuripan tujuan Blitar (KA 182) bersilang dengan KA Mutiara Selatan tujuan Bandung (KA 114/111) yang melintas langsung.
3. KA Progo tujuan Yogyakarta (KA 186) bersilang dengan KA Semen Holcim tujuan Cilacap (KA 2732/2729) yang melintas langsung.
4. KA Singasari tujuan Jakarta (KA 155) bersilang dengan KA Lodaya tujuan Solo (KA 80) yang melintas langsung.

Tampak Depan stasiun Butuh

5. KA Gaya Baru Malam Selatan tujuan Jakarta (KA 173) bersilang dengan KA Bengawan tujuan Solo (KA 184) yang melintas langsung.
6. KA Wijayakusuma tujuan Solo (KA 10592) bersilang luar biasa dengan KA Kutojaya Utara tujuan Jakarta (KA 191) yang melintas langsung.
7. KA Gajah Wong tujuan Jakarta (KA 153) bersilang dengan KA Jaka Tingkir tujuan Solo (KA 148) yang melintas langsung.
8. KA Singasari tujuan Blitar (KA 156) bersilang dengan KA Jaka Tingkir tujuan Jakarta (KA 147) yang melintas langsung.
9. KA Malabar tujuan Malang (KA 92) bersilang dengan KA Bima tujuan Jakarta (KA 46/43) yang melintas langsung.

Baca juga: Jejak Sejarah Yang Terlupakan, Stasiun Gambir Dulunya Adalah Tanah Rawa

Memang, hanya sebagai stasiun untuk persilangann dan persusulan, tetapi di stasiun ini sempat terjadi indisden pada Maret 2004 lalu pukul 19.06 dimana kereta api Sawunggalih Utama anjlok di sebelah timur stasiun Butuh. Tak ada korban jiwa akibat peristiwa tersebut, namun imbasnya adalah jalur Kroya menuju Kutoarjo harus lumpuh beberapa jam.






















Kereta Berkecepatan Tinggi Jadi Sejarah Baru Tibet

Hadirnya kereta berkecepatan tinggi yang melintasi Tibet, membuat sejarah pertama kalinya bagi orang-orang. Ini karena mereka bisa menikmati pegunungan dan pemandangan di daerah tersebut dengan kereta berkecepatan tinggi pertama yang hadir di sana.

Baca juga: Mudahkan Akses ke Dataran Tinggi Tibet, Beijing Bangun Jalur Kereta Cepat Tertinggi di Dunia

Jalur kereta berkecepatan tinggi itu sepanjang 435 km dengan menghubungkan Lasha yang adalah ibu kota Tibet dengan Nyingchi di Cina. Di mana kehadiran kereta cepat ini memungkinkan 31 provinsi di daratan Cina mengakses jalur baru ini.

Dilansir KabarPenumpang.com dari railway-technology.com (16/9/2021), jalur ini memiliki 47 terowongan, 121 jembatan dan jembatan sepanjang 525 meter sehingga menjadikannya jembatan lengkung terbesar dan tertinggi di dunia. Bisa dikatakan membangun jalur kereta api ini bukanlah tugas yang mudah.

Sebab, untuk menghadirkan jalur ini, pihak pengembang bahkan harus mengeksplorasi perkembangan proyek dan menyoroti beberapa fitur desainnya agar terlihat mengesankan. Sehingga kehadiran kereta berkecepatan tinggi pertama di Tibet ini tidak hanya menyoroti teknik luar biasa Cina tetapi juga membantu wilayah Tibet.

Kereta berkecepatan tinggi ini mulai beroperasi sejak 25 Juni kemarin dan sekarang memungkinkan penumpang untuk melakukan perjalanan dari ibu kota Lhasa ke kota Nyingchi dalam waktu selama tiga setengah jam. Sebelumnya, dengan perjalanan kereta api biasa akan memakan waktu lebih dari lima jam di dalam gerbong.

Baca juga: Dekat Perbatasan Cina-India, Kereta Peluru Pertama Mengular di Tibet

Kereta juga mengurangi waktu tempuh dari Shannan ke Nyingchi dari enam menjadi sekitar dua jam. Kereta ini akan melakju dengan kecepatan 160 km per jam, yang ditenagai oleh pembakaran internal dan mesin listrik, dapat berjalan di jalur kereta api listrik dan non-listrik.






















Inilah Lima Runway Terjauh dari Terminal, Paling Jauh 5 Km!

Bandara kecil dan bandara besar tentu saja memiliki keunggulan masing-masing. Di bandara besar dengan banyak runway, kecil kemungkinan pesawat antre saat hendak ingin mendarat. Bandara kecil justru sebaliknya.

Baca juga: Jangan Kaget, Ini Bandara dengan Jumlah Runway Terbanyak di Dunia

Tetapi, di bandara kecil, sekalipun fasilitasnya, seperti garbarata, shuttle bus, dan lainnya, tak tersedia, namun, runway dan terminalnya hampir pasti berdekatan. Sebaliknya, di bandara-bandara besar, itu justru saling berjauhan.

Efeknya, sudah pasti penumpang harus meluangkan waktu dan tenaga menuju ujung terminal (garbarata) sesudah ataupun sebelum take off dan landing. Lantas, runway di bandara mana saja di dunia yang paling jauh dari terminal? Dilansir Simple Flying, berikut selengkapnya.

1. Runway Bandara Schiphol

Runway Polderbaan 18R-36L Bandara Schiphol adalah runway terpanjang, terbaru, dan paling terisolir di bandara yang terletak di Amsterdam tersebut. Tak hanya itu, runway yang selesai dibangun pada tahun 2003 ini juga memiliki panjang 3.800 meter.

Yang paling spesial tentu jarak runway ke terminal, yaitu sejauh lima kilometer. Ini bukan hanya membuat taxiing lebih lama, sekitar 15 menit lebih, tetapi juga didapuk menjadi runway dengan jarak paling jauh di dunia.

2. Runway 8 Bandara Denver

Bandara Internasional Denver diketahui memiliki enam landasan pacu, yaitu 7/25, 8/26, 16L/34R, 16R/34L, 17L/35R, dan 17R/35L. Lima di antaranya memiliki panjang 12.000 kaki (3.658 meter), dan satu sisanya, runway 16R/34L, membentang sepanjang 16.000 kaki (4.877 meter).

Adapun yang terjauh jaraknya dari terminal adalah runway 8, berjarak 3,53 kilometer. Runway lainnya, yaitu runway 7/25 juga tergolong jauh, mencapai tiga kilometer dari terminal Denver.

Akibatnya, tentu saja waktu taxiing agak lebih lama dibanding di bandara lain, mencapai rata-rata 15,4 menit untuk keberangkatan, dan 8,2 menit untuk landing dan mencapai apron.

3. Runway 07L/25R Bandara Frankfurt

Bergeser ke Eropa, runway 07L/25R Bandara Frankfurt masuk dalam daftar runway dengan jarak terjauh dari terminal. Disebutkan, jarak antar keduanya mencapai 3,1 kilometer.

Baca juga: Bandara Hong Kong Rampungkan Runway Ketiga di Tanah Reklamasi

4. Reef Runway Bandara Honolulu, Hawaii

Di posisi ketiga bandara dengan terminal terjauh dari runway adalah Bandara Honolulu, Hawaii. Landasan pacu lepas pantai 8W/26W atau biasa juga disebut reef runway dengan panjang 3.658 meter ini diketahui berjarak 2,93 kilometer dari terminal terdekat.

5. Runway Bandara Atlanta Hartsfield-Jackson

Runway Bandara Atlanta Hartsfield-Jackson paling sibuk di dunia tersebut hanya menempati posisi kelima dalam daftar ini. Runway kelima atau 10/28 disebut berjarak 2,19 kilometer dari terminal.

Maskapai ANA Lelang Jendela dan Kursi First Class Pesawat Boeing 777, Berminat?

Maskapai All Nippon Airways (ANA) resmi menjual suku cadang atau komponen pesawat Boeing 777-300ER-nya berupa mockup kursi first class dan jendela. Penjualannya sendiri dilakukan secara online melalui Yahoo.

Baca juga: Boeing Jual Furniture dari Suku Cadang Asli Pesawat 747 hingga F-4 Phantom! Segini Harganya

Sebelumnya, ANA sudah dahulu menjual komponen atau suku cadang pesawat yang sudah purna tugas melalui frequent flyer resminya, ANA Shopping A-Style. Sejauh ini, ada dua barang yang ditawarkan ke penggemarnya; gantungan kunci yang terbuat dari jendela pesawat dan troli dalam penerbangan.

Ketika itu, animo masyarakat dalam menyambut barang-barang aneh yang dijual ANA cukup tinggi. Itu sebab, ANA melanjutkan tren positif penjualan komponen atau suku cadang pesawat dan meluncurkan penjualan mockup kursi first class serta jendela pesawat Boeing 777-300ER.

Sebagaimana perusahaan lain dalam menjual komponen dan suku cadang pesawat, ANA juga mengaku menjualnya untuk mengurangi dampak lingkungan.

Selain itu, penjualan ini tentu saja ditujukan untuk pemasukan tambahan, memaksimalkan pendapat terhadap pesawat yang sudah pensiun, sampai berkontribusi pada kegiatan sosial, dimana sebagian penjualan barang-barang tersebut didonasikan ke Save the Children atau Japanese Red Cross Society.

ANA tentu bukan yang pertama menjual komponen atau suku cadang pesawat. Pada Juli lalu, perusahaan Jepang yang berbasis di Prefektur Chiba terang-terangan menjual kursi kelas bisnis A380 Singapore Airlines untuk pertama kalinya di luar Singapura.

Sayangnya, tak disebutkan dengan jelas berapa harga, termasuk ongkos kirimnya untuk bisa sampai ke rumah. Sudah begitu, stok yang tersedia juga tak diketahui berapa banyak. Kendati demikian, Airbus lovers di seluruh dunia dipercaya sudah mengambil ancang-ancang untuk mendapatkan dan membawanya pulang, untuk ditempatkan di rumah.

Pada Agustus tahun lalu, Lufthansa diketahui menjual produk yang terbuat dari suku cadang pesawat Airbus A320 D-AIPA, seperti gantungan kunci meja yang terbuat dari wingtip, freestanding bar yang terbuat dari pintu pesawat, hingga penyimpanan bir di dinding yang terbuat dari jendela pesawat, serta banyak lagi produk-produk lainnya.

Baca juga: Percaya atau Tidak? Airbus A320 Lufthansa Dijual Rp429 Ribu!

Berbagai produk hasil konversi dari A320 D-AIPA itu dilepas bersamaan dengan pameran Upcycling Collection 2.0 Lufthansa. 2.0 menandakan bahwa gelaran tersebut merupakan tahun kedua, setelah sebelumnya pameran yang sama juga dilakukan tahun lalu. Namun, tahun ini, Lufthansa banyak membuat perbedaan, termasuk menjual seluruh bagian suku cadang pesawat.

Hal yang sama juga pernah dilakukan Boeing saat menjual produk furniture yang dimodifikasi dari suku cadang pesawat Boeing 747 dan F-4 Phantom, Etihad saat menjual pintu pesawat, dan perusahaan lainnya.

Bukan Hanya WNI, Kura-kura Juga Mendapatkan Program Repatriasi

Di masa pendemi, bukan hanya warga negara yang mendapatkan program repatriasi (pemulangan dari luar negeri), melainkan kura-kura pun ikut mendapatkan kesempatan repatriasi, kembali ke habitat aslinya di Indonesia. Persisnya 13 kura-kura jenis leher ular Rote (Chelodina mccordi) dipulangkan dari Singapura menuju Kupang melalui Jakarta.

Baca juga: ‘Misteri’ Batik Air PK-BDF, Misi Penerbangan Repatriasi WNI dari Kabul

Satwa yang tergolong ikonik-endemik dari Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini diangkut dari Singapura menuju Kupang melalui Jakarta menggunakan penerbangan ekstra kargo pada Rabu (22/9), kemudian dilanjutkan dengan penerbangan reguler ke Kupang pada Kamis (23/9). Maskapai penyelenggara kegiatan repatriasi kura-kura ini adalah Garuda Indonesia.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam pesan tertulis menjelaskan, “Merupakan kebanggaan tersendiri bagi Garuda Indonesia sebagai national flag carrier dapat mendukung komitmen berkelanjutan Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI terkait upaya pelestarian satwa yang dilindungi di Indonesia melalui penyediaan layanan transportasi udara untuk mengembalikan satwa endemik tersebut ke habitatnya.”.

Proses repatriasi ini memiliki arti penting tidak hanya dalam kaitan upaya konservasi Kura Kura Leher Ular yang merupakan spesies satwa dilindungi dan terancam punah, namun menjadi representasi dari kolaborasi berkelanjutan ekosistem konservasi lingkungan hidup.

Proses repatriasi kura-kura leher ular yang terdiri atas 6 kura-kura jantan dan 7 kura-kura betina itu diberangkatkan dari Singapura pada Rabu (22/9) pukul 22.45 waktu setempat menggunakan Airbus A330-300 (GA 8374) dan tiba di Jakarta pada pukul 23.40 WIB , untuk selanjutnya diberangkatkan menuju Kupang pada Kamis (23/9) menggunakan Boeing 737-800NG (GA 448) pada pukul 07.30 WIB dan tiba pada pukul 13.05 WITA.

Dalam pelaksanaannya, koordinasi intensif telah dilakukan Garuda Indonesia bersama dengan KLHK terkait dengan kesiapan seluruh dokumen persyaratan maupun prosedur pengangkutan, yang mengacu kepada regulasi internasional yakni International Air Transport Association (IATA) beserta peraturan karantina dan kepabeanan di Indonesia.

Baca juga: Gegara Seekor Merpati di Kabin, Penerbangan Aeroflot Tertunda di Moskow

Garuda Indonesia telah mempersiapkan infrastruktur penunjang seperti live animal room untuk satwa tersebut selama transit di Jakarta beserta prosedur pengecekan dan perawatan kesehatan yang dilaksanakan oleh petugas karantina dan kesehatan satwa sebelum berangkat menuju ke kota tujuan yakni Kupang. Dimana selanjutnya kura-kura Rote akan menjalani proses adaptasi selama beberapa waktu ke depan sebelum dilepasliarkan di habitat aslinya.

MRT Jakarta Uji Coba Bike Trolley Non Lipat di Stasiun Bundaran HI

Kini bukan hanya sepeda lipat yang bisa masuk dalam kereta MRT Jakarta, melainkan sepeda biasa atau non lipat. Karena hal tersebut, PT MRT Jakarta menghadirkan troli sepeda atau bike trolley. Namun, bike trolley tersebut masih dilakukan uji coba untuk sepeda non lipat.

Baca juga: Demand Meningkat, MRT Jakarta Tambah Fasilitas untuk Pesepeda Non Lipat

Bike trolley ini akan di uji coba mulai 27 September hingga 1 Oktober 2021 di Stasiun MRT Bundaran HI. Plt Kepala Divisi Corporate Secretary MRT Jakarta Ahmad Pratomo mengatakan, ada dua buah bike trolley yang tersedia di Stasiun MRT Bundaran HI.

“Kita akan uji coba kepada publik selama periode 27 September-1 Oktober 2021,” ujar Tomo. Ia menambahkan, uji coba bike trolley ini akan dilakukan secara terbatas yakni dari Ground Level depan lift Entrance B Stasiun MRT Bundaran HI hingga ke area platform stasiun.

“Karena baru mulai uji coba, maka bike trolley ini baru ada di Stasiun MRT Bundaran HI. Disediakannya fasilitas bike trolley sepeda untuk memudahkan pengguna sepeda non lipat yang akan melakukan mobilisasi menggunakan MRT,” jelas Tomo.

Nantinya setelah uji coba, MRT Jakarta akan melakukan evaluasi kehadiran fasilitas ini sebelum resmi digunakan oleh pelanggan. Para pengguna MRT Jakarta dapat turut serta mengikuti tahap uji coba troli sepeda dengan cara mendaftar pada tautan https://bit.ly/BikeTrolleyMRT.

“Kami megajak kepada masyarakat untuk mengikuti uji coba ini, periode pendaftaran yaitu mulai tanggal 21 September hingga 25 September 2021,” ujar Tomo.

Baca juga: Ridership Meningkat, MRT Jakarta Hadirkan Kereta Khusus Pesepeda Non Lipat

Melalui hasil uji coba terbatas yang dilakukan, MRT Jakarta akan menyediakan fasilitas bike trolley di sejumlah stasiun lainnya yaitu di Stasiun MRT Lebak Bulus Grab dan Stasiun MRT Blok M BCA.

Tujuh BUMN Bakal Dibubarkan Erick Thohir, Salah Satunya Merpati Nusantara Airlines

Menteri BUMN Erick Thohir diwartakan akan membubarkan tujuh perusahaan negara karena sudah tidak beroperasi lagi, namun tercatat masih memiliki pekerja. Pekerja ini tidak mendapatkan kebijakan yang jelas, sehingga pemerintah akan memberikan kepastian melalui pembubaran BUMN. Dan di sektor transportasi, terdapat nama PT Merpati Nusantara Airlines (Persero).

Baca juga: Xian MA60, Pesawat Cina Jiplakan Antonov An-24 yang Bikin Merpati Airlines Bangkrut

Dikutip dari cnnindonesia.com (24/9/2021), selain PT Merpati Nusantara Airlines (MNA), disebutkan perusahaan negara lain yang akan dibubarkan Erick Thohir adalah PT Industri Gelas (Persero), PT Istaka Karya (Persero), PT Industri Sandang Nusantara (Persero), PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero) dan PT Kertas Leces (Persero).

Khusus untuk PT MNA, maskapai ini diketahui sudah tidak terbang sejak 1 Februari 2014, masalah finansial dan beban utang serta hadirnya maskapai-maskapai baru menjadi alasan yang memperberat langkah MNA. Meski tidak lagi mengudara, MNA masih menjalankan bisnis lain, yaitu Maintenance Repair and Overhaul (MRO), Training Center dan kargo. Dengan rencana pembubaran PT MNA, belum diketahui bagaimana nasib unit bisnis PT MNA yang saat ini masih eksis.

Kilas balik sejarah PT MNA, maskapai ini berdiri pada tahun 1962, Merpati memiliki pusat operasi di Jakarta. Selain melayani penerbangan domestik, dahulu Merpati juga pernah melayani penerbangan internasional ke Honolulu, Los Angeles, Jeddah, Manila, Dili dan Darwin.

Sebagai maskapai yang lumayan besar pada masanya, Merpati Nusantara Airlines pernah diperkuat pesawat turboprop Vickers Vanguard, Vickers Viscount, Casa 212, CN 235, Twin Otter, sampai pesawat angkut versi sipil Hercules L 100 L382G. Seiring era jet, Merpati Nusantara Airlines kemudian menggunakan Boeing 707, Boeing 727, Fokker F-28, Fokker 100, Boeing 737 dan Airbus A310.

Kejayaan Merpati Nusantara Airlines mulai meredup setelah Indonesia dilanda krisis moneter 1997 yang berujung tumbangnya Orde Baru di tahun 1998. Dampaknya, Merpati Nusantara Airlines memangkas sejumlah rute dan mengurangi armada mereka. Kemudian nama Merpati Nusantara Airlines ikut redup bersama dengan Sempati Air, Bouraq, Jatayu Airlines, Adam Air, Indonesia Airlines dan Batavia Air.

Baca juga: Merpati Airlines Bakal Kembali Terbang Pakai Airbus A320/A321Neo, Tak Jadi Pakai MC-21?

Pada April 2020, sempat ada kabar bahwa Merpati Nusantara Airlines akan beroperasi kembali, saat itu disebutkan maskapai plat merah ini akan mendatangkan 10 unit Airbus A320neo dan 8 unit Airbus A321neo secara bertahap mulai Agustus 2020. Namun lagi-lagi, badai pandemi Covid-19 ikut menggulung rencana tersebut.






















Lima Kecanggihan Pesawat Kepresidenan Air India One, Nomor Dua Tak Ada di Indonesia One

Kemarin, PM Narendra Modi bertolak ke Amerika Serikat (AS) menggunakan pesawat kepresidenan India yang berbasis Boeing 777 VVIP, Air India One. Di AS, Modi diagendakan bertemu Presiden Joe Biden, Wakil Presiden Kamala Harris, yang juga keturunan India, Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga, dan sejumlah petinggi negara lainnya.

Baca juga: Intip Kecanggihan Pesawat Dinas Presiden Erdogan, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal

Sebagai negara terluas keempat di dunia, negara dengan penduduk terbanyak kedua di dunia setelah Cina, negara dengan perekonomian terkuat keempat di dunia setelah AS, Cina, dan Jepang, serta negara dengan PDB tertinggi ketiga di dunia setelah Cina dan AS, pemimpin India rawan sabotase dari para musuh. Karena itu, dibutuhkan berbagai fitur canggih di pesawat Boeing 777 VVIP Air India One.

Dilansir zeenews.india.com, setidaknya, ada lima fitur canggih dalam memastikan keamanan dan kenyamanan di pesawat yang melayani Presiden, Wakil Presiden, dan Perdana Menteri India itu. Apa saja?

1. Sistem keamanan anti hacker dan anti rudal

Air India One memiliki sederet fitur canggih dalam menangkal serangan siber. Pesawat ini juga memiliki sistem pertahanan anti rudal Large Aircraft Infrared Countermeasures (LAIRCM).

Ini tentu bukan fitur keamanan langka mengingat pesawat VVIP negara lain seperti Air Force One, Air Force One Rusia, dan lain sebagainya, termasuk pesawat kepresidenan Indonesia -Indonesia One- yaitu CAMS (Civilian Aircraft Missile Protection System)

2. Self-Protection Suits (SPS)

Pesawat VVIP Air India One juga dilengkapi dengan fitur keamanan lain berupa Self-Protection Suits (SPS). Sistem pertahanan ini berfungsi mengganggu sinyal radar musuh dan mengelabui rudal yang mengarah ke pesawat.

3. Sistem komunikasi canggih

Dilengkapi dengan sistem komunikasi canggih yang memungkinkan penggunaan fungsi komunikasi audio dan video di udara terenkripsi tanpa bisa diretas.

4. Dilengkapi ruang konferensi dan pusat kesehatan

Urusan Presiden, Wakil Presiden, dan Perdana Menteri India terkait negara tentu tak bisa ditunda, termasuk jika terjadi keadaan darurat terhadap kesehatannya.

Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Karena itu, pesawat kepresidenan India juga dilengkapi dengan ruang konferensi dan pusat kesehatan. Andai dalam perjalanan lintas benua dengan jarak tempuh belasan jam, pertolongan pertama dan komunikasi terhadap pejabat terkait bisa tetap dilakukan.

5. Jangakaun terbang hingga 17 jam, diawaki oleh pilot militer khusus

Pesawat kepresidenan Air India One mampu terbang dari India ke AS tanpa perlu transit untuk mengisi bahan bakar. Pesawat setidaknya mampu terbang selama 17 jam dalam keadaan bahan bakar penuh. Selain itu, Air India One juga diawaki oleh pilot yang dilatih khusus dari Angkatan Udara India.

Bandara Tribhuvan Kathmandu, Salah Satu Bandara Terburuk di Dunia

Plesiran ke luar negeri seyogyanya akan menjadi satu pengalaman berharga yang sulit untuk dilupakan. Selain dapat menemukan berbagai kebudayaan baru, pengalaman mengunjungi negara lain pun akan serta merta bertambah. Nampaknya Anda tidak akan menemukan masalah yang berarti ketika Anda menyambangi negara yang memiliki bandara berpredikat baik, seperti Singapura dengan Bandara Internasional Changi-nya, atau negara lain. Namun apa jadinya jika Anda dihadapkan pada sebuah negara dengan predikat salah satu bandara terburuk di dunia?

Baca Juga: Bosan Antri Lama di Bandara, Begini Cara Cepat Ambil Barang di Klaim Bagasi

Nepal, negara yang terkenal dengan Pegunungan Himalaya-nya ini disebut-sebut memiliki bandara yang ‘kurang bersahabat’ – bahkan namanya masuk ke dalam salah satu daftar bandara terburuk di dunia. Nah, semisal Anda berkesempatan untuk mengunjungi Nepal via jalur udara, berikut KabarPenumpang.com himpun beberapa tips dari laman roadsandkingdoms.com yang akan ‘menyelamatkan’ diri Anda dari Tribhuvan International Airport, bandara utama di Nepal.

Pemandangan Pegunungan Himalaya
Beruntung bagi Anda yang dijadwalkan landing saat matahari masih bersinar, itu berarti kesempatan Anda untuk melihat salah satu nilai jual dari Nepal terbuka lebar. Tapi, selain syarat mengudara di pagi, siang, atau sore hari, ada satu syarat lain yang harus Anda penuhi untuk melihat Pegunungan Himalaya ini.

Semisal pesawat Anda bertolak dari arah Timur, upayakan untuk duduk di sebelah kanan kabin, pun sebaliknya. Semisal pesawat Anda datang dari sebelah Barat, duduklah di sebelah kiri. Percayalah, pemandangan tersebut akan menjernihkan otak Anda sebelum menghadapi kekacauan sesungguhnya di bandara.

Antrean Baggage Claim
Setibanya di Tribhuvan International Airport, tentu Anda harus mengambil barang bawaan yang disimpan di kargo, bukan? Nah, ada baiknya Anda mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum berkutat dengan antrean di bagian baggage claim, karena usut punya usut, antrean di sini bisa memakan waktu hingga berjam-jam lho!

Belum lagi fasilitas pendukung bandara yang kurang terawat seperti banyaknya troli koper yang rusak, dan sistem keamanan bandara yang terkenal ribet. Duh!

Mobil Jemputan
Layaknya bandara-bandara lain yang ada di dunia, puluhan pengemudi taksi siap menyambut kedatangan Anda di Nepal. Beruntung bagi Anda yang sudah disediakan layanan antar-jemput dari pihak hotel yang Anda pesan. Namun jika tidak, Anda harus lebih cermat dalam memilih taksi.

Memang, harga yang ditawarkan untuk sampai ke pusat kota Kathmandu tidaklah terlalu mahal, berkisar antara 400 hingga 600 rupee (Rp58.000 hingga Rp87.000). Namun, jika Anda jeli, Anda akan menemukan Sajha Yatayat, layanan bus yang siap mengantarkan Anda menuju pusat kota hanya dengan harga 20 rupee atau yang setara dengan Rp8.500. Lumayan jauh kan selisihnya!

Baca Juga: Tips – Sebelum Masuk ke Kargo Pesawat, Pastikan Koper Anda Cukup Kuat

Bersiap Meninggalkan Kathmandu
Setelah menghabiskan waktu di Nepal, saatnya untuk pulang. Namun Anda akan kembali dihadapkan dengan semerawutnya Tribhuvan International Airport. Keberangkatan yang sering delay, dipadukan dengan fasilitas penunjang bandara yang tidak terawat nampaknya cukup untuk membuat Anda menarik napas dalam-dalam.

Sebut saja fasilitas toilet yang kurang terjaga – ada baiknya Anda membawa tissue dan hand sanitizer sendiri, hingga restoran yang ‘sangat banyak’ di dalam bandara itu sendiri. Untuk masalah perut, ada baiknya Anda membawa cemilan atau makanan sendiri sebelum bertolak dari Tribhuvan International Airport.