(Video) Pertama Kalinya, Pesawat Ulang-Alik Buran Meluncur dari ‘Punggung’ Replika Antonov An-225 Mriya

Hobi memang tidak ada duanya. Terkadang, seseorang rela merogoh kocek cukup dalam hanya untuk memuaskan hasrat atas hobinya tersebut; tak terkecuali dengan Hans Bühr. Pria asal Swiss ini diketahui menghabiskan cukup banyak uang untuk membuat model pesawat terbesar di dunia, Antonov An-225 Mriya, dengan skala sekitar 1:25. Hanya saja, tak disebutkan dengan jelas berapa banyak uang yang dikeluarkan.

Baca juga: Rusia Bakal ‘Hidupkan Kembali’ Buran, Pesawat Ulang-Alik yang Jadi Kebanggaan di Era Perang Dingin

Dilansir dari thedrive.com, model skala dari pesawat berjuluk ‘Mriya’ (‘Mimpi’ dalam bahasa Indonesia) milik Bühr ini bukanlah varian sembarangan. Sebab, alih-alih membuatnya dalam versi tunggal, ia menyematkan pesawat ulang-alik pertama Soviet yang mampu digunakan berulang kali, Buran, di bagian atas An-225.

Sejarah Antonov An-225 Mriya dengan pesawat ulang-alik Buran memang tak bisa dipisahkan. Disebutkan, An-225 Mriya sukses terbang perdana pada 21 Desember ‎1988. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pengangkut pesawat ulang-alik Buran milik Uni Soviet, menggantikan Myasishchev VM-T.

Antonov An-225 awalnya didesain untuk mengangkut Buran, sebagaimana di foto ini. Sputnik / Igor Kostin

Tak heran, dengan tugas tersebut, ia pun dibuat cukup besar hingga menyandang gelar sebagai pesawat terbesar di dunia. Setelah Uni Soviet bubar, An-225 terpaksa mencari misi lainnya sebagai pesawat kargo dengan kapasitas sebesar 250 ton, kata Alexander Galunenko, orang pertama yang menerbangkan An-225.

An-225 membawa Buran untuk pertama kalinya pada tahun 1989. Dengan sistem kontrol fly-by-wire dan hidraulik triple-redundan, serta memiliki roda pendarat utama yang berjumlah 32 roda, pesawat buatan biro desain Antonov di Kiev, Ukraina, ini memang menjadi partner terbaik Buran satu-satunya sebelum benar-benar memulai misi berat di luar angkasa bersama roket Energia.

Antonov An-225 Mriya mungkin saat ini dikenal luas sebagai angkut paling ideal dengan jumlah muatan besar. Namun, tidak demikian dengan Bühr. Ia ingin mengembalikan hakikat An-225 Mriya, meskipun dalam sebuah model skala.

Pesawat RC (remote control) Antonov An-225 setinggi 11,5 kaki dan berat 26 pon yang dibangun Bühr sukses menampilkan aksi peluncuran Buran di udara, dari atas An-225, sesuatu yang tidak pernah bisa dilihat secara langsung dan belum pernah terjadi dalam versi aslinya. Terdapat banyak alasan atas itu. Lagi pula, sekalipun ingin dipaksakan meluncur di atas An-225, dua unit Buran yang tersisa sudah lama pensiun dan disimpan apik di Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan.

Disebutkan, Bühr melakukan pertunjukkan RC aeromodelling Antonov An-225 pada tahun 2018. Dalam sebuah video, tampak, pesawat dengan wingspan sepanjang 3,5 meter serta berat 12kg itu meluncur mulus di sebuah landasan pacu. Setelah empat menit lebih keliling landasan, Buran akhirnya meluncur dari ‘punggung’ An-225 untuk pertama kalinya di dunia dan mengundang decak kagum dari para penonton. Sekali lagi, itu merupakan pertunjukan yang langka sekali dan tak pernah diterjadi dalam versi aslinya.

Pesawat RC model An-225 Hans Bühr memang bukanlah replika terbesar yang pernah ada. Namun, model buatannya itu diklaim sebagai satu-satunya replika An-225 yang bisa meluncurkan Buran, sesuatu yang mungkin bisa dibilang mendahului takdir.

Baca juga: Setelah 18 Bulan ‘Tidur’, Pesawat Terbesar di Dunia Antonov An-225 Kembali Mengudara

Disebut demikian, sebab, proyek pesawat air launch atau An-225 Mriya sebagai pesawat peluncur Buran masih dalam proses realisasi. Disebutkan, Presiden Airspace Industry Corporation of China (AICC), Zhang You-Sheng, mengatakan kepada BBC bahwa AICC pertama kali mempertimbangkan kerja sama dengan Antonov pada 2009 dan menghubungi mereka pada 2011.

AICC bermaksud untuk memodernisasi An-225 kedua yang masih dalam proses produksi dan mengembangkannya menjadi peluncuran udara (air launch) ke platform orbit untuk satelit komersial di ketinggian hingga 12.000m. Meskipun sempat terkatung-katung, sampai saat ini, belum ada kejelasan apakah proyek tersebut dihentikan.

Lufthansa Luncurkan “Sleeper Row” Penumpang Bisa Tidur Selonjoran di Kelas Ekonomi

Lufthansa belum lama ini meluncurkan “sleeper’s row” yang memungkinkan penumpang tidur selonjoran di kelas ekonomi. Maskapai nasional Jerman itu juga menawarkan bantal dan selimut kelas bisnis seharga US$260 untuk memungkinkan penumpang tidur dengan nyaman setara kelas bisnis. Layanan ini akan ditawarkan hingga bulan Desember mendatang, dalam penerbangan antara Frankfurt, Jerman dan São Paulo, Brasil.

Baca juga: Tidur Selonjoran di Kelas Ekonomi Jarak Jauh, Garuda Indonesia Tawarkan Economy Sleeping Comfort

Hanya saja, menjual atau memblok kursi kosong untuk memungkinkan penumpang selonjoran di kursi ekonomi ini hanya bisa dipastikan saat masih di bandara saja, tidak untuk penawaran ekstra saat on board. Sedangkan, ketika di bandara, penumpang tidak mengetahui secara persis kursi atau row mana saja yang kosong dan bisa dibuat selonjoran (sleeper’s row).

Dilansir paxex.aero, program sleeper’s row ini menggunakan pesawat Boeing 747. Dengan begitu, ada sedikit ketimpangan bila penumpang ingin mengeluarkan biaya ekstra untuk bisa selonjoran di kursi kelas ekonomi, dimana kursi di sisi kiri dan kanan pesawat hanya berupa tiga kursi. Sedangkan di row tengah, penumpang yang ikut sleeper’s row mendapat total empat kursi kosong.

Secara benefit, tentu penumpang sleeper’s row di kursi tengah lebih diuntungkan. Tetapi, tak ada informasi mendetail apakah harga sleeper’s row di kursi tengah sedikit mahal dibanding kursi di sisi kiri dan kanan pesawat atau tidak.

Di masa pandemi virus Corona, dimana banyak sekali kursi kosong akibat ditinggal penumpang yang masih khawatir bepergian, konsep sleeper’s row Lufthansa mungkin bisa jadi salah satu cara untuk memaksimalkan load factor. Pada akhirnya, inovasi ini tentu akan bermuara ke pendapatan perusahaan secara keseluruhan.

Di dunia, Lufthansa tentu bukan yang pertama. Sebelumnya, maskapai Air New Zealand sudah lebih dahulu melakoninya. Bahkan, maskapai nasional Selandia Baru itu mendapat hak paten atas konsep SkyCouch, yang memungkinkan penumpang mendapat kursi jauh lebih luas untuk bisa dibuat tidur dengan memutar kursi.

Baca juga: Dalam Penerbangan, Pilih Kelas Ekonomi Premium Atau Ekonomi Biasa?

Selain itu, Garuda Indonesia juga pernah menawarkan program serupa pada Februari tahun lalu. Inovasi layanan bernama ESCort (Economy Sleeping Comfort) itu juga memungkinkan penumpang selonjoran di kursi kelas ekonomi, layaknya kelas ekonomi premium.

Berbeda dengan Lufthansa, layanan ESCort dari maskapai nasional Indonesia itu juga mencakup gratis bagasi hingga 40 kg, pelayanan setara kelas bisnis berupa makanan, perlengkapan, penanganan bagasi, hingga voucher WiFi senilai US$5 atau Rp696 ribu. Di samping itu, penumpang juga akan mendapat miles khusus sebanyak 200 persen dari yang biasanya didapat di kelas-kelas lainnya.

Qantas Wajibkan Penumpang Divaksin Covid-19 Sebelum Terbang

CEO Qantas, Alan Joyce, memastikan pihaknya bakal mewajibkan seluruh penumpang internasional divaksin Covid-19 terlebih dahulu sebelum terbang. Sebelumnya, Joyce mengungkapkan bahwa Qantas tidak berniat kembali melayani penerbangan internasional dalam waktu dekat.

Baca juga: Berkah Vaksin, IATA Sebut Butuh 8 Ribu Pesawat Jumbo untuk Antarkan Vaksin ke Seluruh Dunia

“Kami sedang mengubah syarat dan ketentuan kami untuk mengatakan, bagi penumpang internasional, bahwa kami akan memintanya untuk melakukan vaksinasi (Covid-19) sebelum mereka bisa naik pesawat,” tegasnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

“Pada (penerbangan) internasional, kami sangat optimis tentang vaksin. Kami pikir dengan peluncuran vaksin tahun depan, kami optimis bahwa kami dapat melihat perbatasan (penerbangan internasional) terbuka cukup signifikan hingga tahun 2021,” tambahnya.

Sebagian besar maskapai penerbangan, lanjut Joyce, diprediksi juga akan menerapkan peraturan serupa (divaksin Covid-19) terlebih dahulu sebelum memulai layanan internasional.

“Saya pikir itu akan menjadi hal yang biasa. Berbicara dengan kolega saya (pimpinan maskapai) di seluruh dunia, saya pikir itu akan menjadi hal yang umum di seluruh dunia,” ujarnya.

“Apa yang kami lihat adalah bagaimana Anda dapat memiliki paspor vaksinasi (sejenis sertifikat kesehatan yang menunjukkan seseorang sehat dan sudah disuntik vaksin Corona atau Covid-19), versi elektroniknya, yang mengesahkan apa vaksin itu, apakah dapat diterima di negara tujuan Anda?” ungkapnya.

“Ada banyak logistik, banyak teknologi, yang perlu diterapkan untuk mewujudkannya, tetapi maskapai penerbangan dan pemerintah sedang mengerjakannya saat ini,” jelasnya.

Meski demikian, Joyce dan Qantas tak berpangku tangan dengan vaksin Covid-19. Sambil menunggu vaksin tersedia secara luas di pasaran, Qantas tetap melayani penerbangan internasional tak berjadwal; salah satunya penerbangan repatriasi. Diharapkan, penerbangan tersebut bisa terus berlangsung hingga perayaan Tahun Baru mendatang untuk mengurangi beban keuangan perusahaan.

Pada penerbangan repatriasi, seluruh penumpang diwajibkan mendapatkan hasil negatif Covid-19 dari tes PCR. Tak hanya itu, Qantas juga melakukan apa yang disebut testing the waste water atau menguji air limbah di setiap penerbangan. Hal itu terbukti ampuh untuk mengecek apakah seseorang terinfeksi virus Corona saat di pesawat atau tidak.

Sayangnya, betapapun ketatnya Qantas melakukan langkah-langkah preventif dalam menekan penularan virus Corona di setiap penerbangan, Australia faktanya tetap menerapkan kebijakan karantina mandiri 14 hari dengan biaya sendiri bagi setiap penumpang. Kebijakan karantina 14 hari sejauh ini belum ada tanda-tanda akan dilonggarkan. Hal inilah yang pada akhirnya menghalangi Qantas untuk memulai layanan internasional.

Padahal, menurut Joyce, selagi vaksin belum tersedia, pemerintah tetap bisa menekan penyebaran virus Corona di Australia dengan memasifkan tes PCR ketimbang karantina mandiri 14 hari. Bila langkah itu diambil, tentu perekonomian akan terus berputar tanpa menimbulkan klaster baru penularan virus Corona.

Baca juga: Etihad dan Emirates: Sampai Vaksin Corona Efektif, Penerbangan Tidak Akan Normal

“Tapi mudah-mudahan, dan saya pikir hipotesis yang dimiliki para ilmuwan, adalah bahwa jika kita bisa mendapatkan data yang menunjukkan bahwa jika Anda memiliki alasan pengujian yang tepat, kita bisa menurunkan (karantina mandiri) 14 hari itu menjadi waktu yang jauh lebih singkat,” katanya.

“Jika itu terjadi, itu membuatnya (penerbangan internasional) lebih memungkinkan,” pungkasnya.

Libur Akhir Tahun Sudah Dekat, PT KAI Sudah Buka Pemesanan Tiket Kereta Jarak Jauh

Libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 tak terasa sudah berada di depan mata. PT Kereta Api Indonesia (KAI) sudah mulai membuka untuk pemesanan tiket kereta api (KA) jarak jauh untuk periode tersebut. Sehingga masyarakat yang akan memesan tiket untuk liburan akhir tahun bisa langsung membelinya melalui KAI Access, kai.id atau agen penjualan resmi lainnya.

Baca juga: Peringati Hari Pahlawan, PT KAI Bagikan 10.000 Voucher Kereta untuk Guru dan Tenaga Kesehatan

VP Public Relation KAI Joni Martinus mengatakan, tiket-tiket yang dijual adalah KA Taksaka dengan relasi Gambir menuju Yogyakarta, KA Gajayana relasi Malang ke Gambir pp, KA Senja Utama Solo relasi Solo Balapan menuju Pasar Senen, KA Argo Parahyangan dari Bandung ke Gambir.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang)


“KA Mutiara Selatan relasi Surabaya Gubeng menuju Bandung pp, dan lain sebagainya,“ kata Joni melalui keterangan tertulis, Senin (23/11/2020).

Joni mengatakan, dalam perjalanan menggunakan kereta, masyarakat tak perlu ragu. Karena KAI tetap mengoperasikan kereta dengan tetap menerapkan berbagai protokol kesehatan secara ketat, disiplin pada setiap waktu sejak di stasiun, di dalam kereta api dan selama perjalanan penumpang.

Dia menambahkan, untuk para penumpang yang memiliki tiket kereta api tetap harus dalam kondisi sehat tidak flu, batuk ataupun demam. Suhu tubuh pun tak melebihi 37,3 derajat Celcius serta selalu dihimbau menggunakan pakaian lengan panjang. Tak hanya itu, penumpang juga tetap harus menunjukkan surat bebas Covid-19 (Tes PCR/Rapid Test) yang masih berlaku selama 14 hari sejak diterbitkan.

penumpang menunggu masuk ke peron (PT KAI)

“Konsistensi KAI dalam menerapkan kesehatan di lingkungan kereta api telah diakui. Hal ini dibuktikan dengan didapatkannya Safe Guard Label SIBV yang sudah mengacu pada parameter yang disusun oleh ahli dan auditor kantor pusat BV, international best practices, World Health Organization (WHO), regulasi Kementerian Kesehatan, Kementerian Perhubungan danGugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19,” ujar Joni.

Untuk diketahui, sejak dibukanya kembali layanan perjalanan KA pada 27 Juli 2020 hingga 22 November kemarin, jumlah pelanggan sudah mencapai 337.851. Meski begitu KAI hingga saat ini masih mengikuti Surat Edaran Kementerian Perhubungan Nomor SE 14/2020 tanggal 8 Juni 2020 di mana KAI menjual tiket KA Jarak Jauh dan Lokal hanya 70 persen dari kapasitas tempat duduk yang tersedia untuk menerapkan jarak sosial.

Baca juga: Rayakan HUT Ke-75, PT KAI Berganti Logo yang Terinspirasi dari Rel Kereta

“Tidak perlu ragu untuk naik kereta api, karena KAI telahm enerapkan berbagai protokol kesehatan secara ketat dan disiplin setiap waktu,” kata Joni.

Bandara Shanghai Kacau Lantaran Staf Dinyatakan Positif Covid-19

Bandara Internasional Shanghai Pudong mengalami kekacauan setelah seorang pekerja dinyatakan positif Covid-19. Ini membuat para pejabat melakukan pengujian di seluruh bandara. Dalam foto yang beredar, terlihat petugas dengan menggunakan kostum hazmat terekam menahan kerumuman penumpang di area basement bandara itu.

Baca juga: Alat Tes Corona Supercepat Buatan Israel Jadi Senjata Baru Bandara Eropa Cegah Covid-19

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (22/11/2020), hal ini membuat kelompok tersebut melakukan upaya massal untuk kebebasan karena kekhawatiran karantina wajib selama 14 hari. Dalam video yang beredar, para penumpang tersebut terlihat mendorong para petugas yang menggunakan kostum hazmat.

Pada video lainnya menunjukkan kumpulan massa penumpang yang mencoba melarikan diri melalui tanjakan ketika pekerja yang kalah jumlah berusaha menahan mereka. Sedangkan ratusan lainnya membentuk antrian panjang untuk pengujian.

Penerbangan dilaporkan dibatalkan setelah staf di dua zona utama bandara mengeluarkan pemberitahuan untuk pengujian wajib. Dalam beberapa laporan menunjukkan bandara hanya menguji anggota staf sedangkan penumpang mengikuti aturan baru 14 hari wajib karantina.

Untuk diketahui, pada Jumat lalu, Shanghai mengonfirmasi sepasang suami istri terinfeksi Covid-19 di distrik Pudong kota. Keduanya dicurigai karena dilaporkan dari hasil positif setelah tes swab .

Hal ini kemudian membuat tim ahli melacak orang-orang yang mungkin telah terpapar dan mengambil tindakan pencegahan yang tepat. Sebuah pernyataan menyebutkan Cina daratan melaporkan 17 kasus Covid-19 baru dan pada hari Sabtu naik dari 16 hari sebelumnya dengan tiga kasus penularan lokal dan sembilan kasus berasal dari luar negeri, Komisi Kesehatan Nasional mengatakan pada hari Minggu.

Bahkan dua dari transmisi lokal terjadi di Mongolia Dalam dan satu di Shanghai. Otoritas kesehatan Mongolia Dalam mengatakan pada hari Sabtu bahwa mereka telah mengonfirmasi dua kasus virus korona baru di kota Hulunbuir di perbatasan Cina dengan Rusia.

Baca juga: Keren, Bandara di Amerika Punya Alat Scan Covid-19! Seperti Apa?

Selain itu, kasus positif di kota itu ditemukan setelah pengujian massal menyusul infeksi seorang inspektur keamanan di Bandara Internasional Pudong dan istrinya.
Cina Daratan melaporkan 11 kasus asimtomatik lainnya pada 21 November, turun dari 18 pada hari sebelumnya. Sejauh ini telah melaporkan total 86.431 kasus COVID-19, dengan jumlah kematian resmi 4.634.

Rusia Bakal ‘Hidupkan Kembali’ Buran, Pesawat Ulang-Alik yang Jadi Kebanggaan di Era Perang Dingin

Pesawat antariksa ialah teknologi yang mahal. Pesawat seperti itu membutuhkan berpuluh-puluh tahun untuk dirancang, diuji, dan dibangun. Lalu, setelah terpisah dari modul yang membawa para awak kembali ke bumi, mereka ‘dibuang’ ke antariksa pada misi pertama sekaligus terakhir mereka.

Baca juga: Mengulang 45 Tahun Lalu, Dua Astronaut NASA Mendarat di Laut dengan Kapsul SpaceX

Di masa lalu, tepatnya pada 14 April 1981, pesawat ulang-alik Columbia milik NASA, wahana antariksa pertama yang dirancang agar dapat dipakai kembali, sempat menjadi jawaban atas itu. Kala itu, pesawat ulang-alik yang juga dikenal sebagai NASA’s Space Shuttle atau Space Shuttle itu mampu mengangkut sekitar 24 ton muatan, membawa tujuh astronot, dan mengorbit selama 15-17 hari. Hal itu dirasa tak cukup.

Oleh karenanya, Uni Soviet, yang menjadi rival utama AS dalam Perang Dingin, melalui Badan Antariksa Rusia (Rocosmos), tak ingin ketinggalandan meluncurkan Buran. Pesawat ulang-alik pertama Soviet (Rusia) yang bisa digunakan kembali itu memulai debutnya (terbang perdana) 32 tahun lalu atau pada 15 November 1988, sekitar tujuh tahun setelah pesawat ulang-alik AS meluncur. Dengan roket Energia yang mengangkut pesawat itu ke ruang angkasa, Buran berhasil menyelesaikan dua orbit di sekitar Bumi dan kembali ke lokasi peluncurannya.

Buran, sebelum meluncur ke luar angkasa. Foto: roscosmos.ru

Buran diklaim jauh lebih hebat dibanding pesawat ulang-alik NASA, dengan kemampuan mengangkut 30 ton kargo, mampu mengorbit dua kali lebih lama hingga 30 hari, serta mampu membawa 10 kosmonot (astronot). Lebih canggih lagi, Buran dapat terbang dan mendarat dalam mode otomatis, sesuatu yang tak dimiliki pesawat ulang-alik AS.

Meski berhasil kembali ke bumi, namum Buran tak sepenuhnya bisa langsung digunakan kembali untuk penerbangan luar angkasa berikutnya. Badan pesawat dilaporkan penuh dengan retakan. Selain itu, mesinnya juga harus mendapat perbaikan besar. Pada akhirnya, Buran hanya menjadi kenangan; terlebih setelah hubungan AS-Soviet mencair. Usai pensiunnya Buran, misi luar angkasa Rusia digantikan dengan pesawat atau roket Soyuz.

Akan tetapi, belum lama ini, Roscosmos dilaporkan akan menghidupkan kembali Buran. Tentu dengan teknologi dan biaya, baik produksi maupun operasional, yang jauh lebih efisien. Buran versi Soviet, saat itu, secara total, di bawah proyek Energia-Buran menelan biaya lebih dari 16 miliar rubel. Uang sebanyak itu bahkan bisa digunakan untuk membangun sebuah megapolis dari nol. Singkatnya, Buran sangat mahal.

Namun, gagasan Buran, yang notabene menjadi wahana antariksa pertama Soviet yang dirancang agar dapat dipakai kembali, tetap menarik. Roscosmos sebetulnya sudah berhasil mengembangkan pesawat luar angkasa canggih bernama Oryol. Tetapi, Oryol tidak dapat digunakan kembali layaknya Buran dan dianggap belum menjadi solusi atas mahalnya proyek luar angkasa.

Antonov An-225 awalnya didesain untuk mengangkut Buran, sebagaimana di foto ini. Sputnik / Igor Kostin

Baca juga: NASA Luncurkan Toilet Khusus Astronot Wanita, Bekas Urine Bisa Buat Minum dan Masak

“Kita perlu membuat pesawat yang dapat digunakan kembali dengan konfigurasi yang sama sekali berbeda – sesuatu seperti Buran dengan kemampuan mendarat di landasan pacu,” jelas kepala Roscosmos, Dmitry Rogozin, dikutip dari rt.com. Hanya saja, ia mengakui bahwa pembuatan kapal luar angkasa modern bersayap dan dapat digunakan kembali untuk menggantikan Soyuz akan membutuhkan waktu lama.

Sebagai informasi, dahulu, Buran diproduksi sebanyak lima unit. Tiga unit hancur akibat tertiban hanggar runtuh pada tahun 2002. Adapun dua lainnya saat ini masa ada dan disimpan di Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan.

BYD dan Didi Luncurkan D1, Mobil Listrik Pertama yang Dirancang Khusus untuk Ride Hailing

Ride hailing teratas di Cina Didi Chuxing bersama dengan BYD yang merupakan produsen kendaraan listrik menghadirkan hatcback hijau yang menggemaskan. Ini merupakan mobil listrik pertama yang di rancang khusus untuk ride hailing. Hatcback hijau ini diberi nama D1.

Baca juga: Hadirkan Kendaraan Listrik untuk Ride Hailing, Didi Bermitra dengan BYD

D1 akan mampu melaju sejauh 260 mil atau sekitar 418 km seperti yang dinilai oleh New European Driving Cycle (NEDC). Mereka juga menjelaskan beberapa sentuhan desain lebih menarik yang membuat kendaraan ini sangat cocok untuk ride hailing berbasis aplikasi.

Dilansir KabarPenumpang.com dari theverge.com (17/11/2020), kedua perusahaan ini mengatakan ada layar berukuran sedang di dashboard mobil serta dua lagi layar sentuh di bagian belakang kedua sandaran kepala penumpang untuk mengakses navigasi dan informasi lainnya.

Selain itu satu layar kecil di belakang setir berfungsi sebagai cluster instrumen. Mobil ini unik karena dilengkapi dengan pintu geser yang bisa mencegah pengendara menabrak penumpang atau pengendara sepeda secara tidak sengaja. Bahkan kursi pengemudi dibuat agar sangat nyaman untuk pengunaan yang lama dan ruang kaki tambahan di kursi belakang.

D1 akan hadir dengan sistem bantuan pengemudi Level 2 yang mencakup peringatan keberangkatan, pengereman otomatis dan peringatan tabrakan pada pejalan kaki. Ini juga akan ada sistem pemantauan pengemudi untuk memastikan bahwa pengemudi tetap memegang kemudi dan tetap fokus di jalan.

Mobil listrik tersebut dilengkapi dengan lima tempat duduk terbuat dilengkapi motor listrik 136bhp (100kW) dan baterai lithium-ion dari pabrik BYD Fudi di Chongqing. Didi mengatakan pihaknya menggunakan data yang dikumpulkan dari 550 juta penumpang terdaftar dan 31 juta pengemudi untuk merancang D1.

“Untuk memastikan pasokan yang andal dan lebih hemat biaya untuk jaringan pengemudi yang saat ini mengirimkan sebanyak 60 juta perjalanan per hari, DiDi China telah membangun ekosistem otomotif yang lebih dalam untuk layanan mobilitas intinya dengan menjalin aliansi yang luas dengan produsen, penyedia energi dan pemain industri lainnya dalam rantai nilai,” kata perusahaan itu.

Untuk diketahui, produsen mobil telah merancang mobil untuk layanan taksi komersial selama beberapa dekade. “Taxi of Tomorrow” Kota New York adalah Nissan NV200 yang terkenal hanya bertahan tujuh tahun sebelum kehilangan kesepakatan eksklusifnya. Taksi hitam ikonik London dirancang dan dibangun oleh sebuah perusahaan bernama London Taxi Company.

Baca juga: Platform Didi Turunkan Usia Penumpang Taksinya Menjadi 16 Tahun

Perusahaan itu dibeli oleh Geely China pada 2015 dan sekarang membuat mobil listrik. Uber dan Lyft sama-sama membuat langkah untuk meningkatkan jumlah EV yang tersedia di aplikasinya. Didi mengatakan pihaknya memiliki “sekitar satu juta” mobil listrik di platformnya saat ini.

Bandara Komodo Ingin Diserahkan ke Asing, Chappy Hakim Sebut Pemerintah Begini

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, belum lama ini, mengatakan dalam audiensi dengan Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang membidangi transportasi, bahwa pengelolaan Bandara Internasional Komodo, di destinasi wisata ternama Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, akan dikontrakkan ke konsorsium yang dipimpin oleh perusahaan Singapura.

Baca juga: Pengamat Aviasi di Dunia Sebut Penerbangan Jarak Jauh Sulit Pulih Cepat Tanpa Hal Ini

Dalam pengamatannya, Indonesia kerap dirugikan dengan sejumlah kontrak dengan pihak asing. Di samping itu, terkait pengelolaan bandara selama 20 tahun terakhir, juga terdapat banyak sekali kekurangan di sana sini.

Pertumbuhan penumpang yang cukup tinggi dinilai tidak dibarengi dengan pengelolaan bandara dan pembangunan infrastruktur penerbangan. Bandara Internasional Soekarno-Hatta, misalnya, ketika sudah kewalahan menghadapi membludaknya penumpang, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub), malah memindahkan sebagian kelebihan lalu lintas udara ke Bandara Halim Perdanakusuma mulai 2014 lalu dan berbagi peran serta fungsi dengan TNI AU; bukannya melakukan analisis mendalam dan menyusun rencana pembangunan.

Akibat dari keputusan tersebut, dua tahun berikutnya, tabrakan antara dua pesawat di runway Bandara Halim Perdanakusuma pun terjadi. Menurut mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara periode 2002-2005 ini, dalam sebuah tulisan di The Jakarta Post, dari sini, administrator (Kemenhub) bisa dibilang tak mengerti penunjukan bandara untuk kepentingan penerbangan sipil komersial dan fungsi pangkalan Angkatan Udara.

Berbiacara terkait pengelolaan bandara oleh Kemenhub dalam 20 tahun terakhir, tak lengkap rasanya bila tak membicarakan Bandara Internasional Kertajati. Dengan total investasi senilai Rp 2,1 triliun, bandara ini kurang bisa dimaksimalkan dengan baik.

Meskipun sempat dipaksakan ramai dengan memindahkan penerbangan ke bandara yang terletak di Majalengka itu, pada akhirnya, bandara kembali sepi akibat maskapai memutuskan kembali memusatkan penerbangan di Bandara Husein Satranegara, Bandung, yang notabene dekat dengan pusat kota.

Berkaca dari kasus ini, mantan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia itu menilai, Kemenhub terindikasi bias dalam melihat bandara mana yang harus berfungsi sebagai bandara internasional atau bandara domestik karena klasifikasi ini menentukan jenis manajemen yang diperlukan.

Persoalan terkait bandara internasional juga sempat menjadi perhatian Presiden Jokowi. Agustus lalu, Jokowi menyatakan jumlah bandara internasional terlalu banyak dan juga tidak tersebar merata di dalam negeri. Makanya, ia memerintahkan jajarannya agar membuat letak bandara lebih proporsional.

“Saya melihat airline hub yang dimiliki terlalu banyak dan tidak merata. Jadi dilihat lagi. Saat ini ada 30 bandara internasional. Apakah dibutuhkan sebanyak ini,” ungkap Jokowi dalam video conference, seperti diberitakan CNN Indonesia.

Baca juga: Keberadaan Runway 3 Bandara Soetta Disebut Tak Berfungsi Optimal, Ini Sebabnya!

Kembali ke masalah pengelolaan bandara-bandara di lokasi strategis oleh asing, menurut Chappy, tak masalah hal itu dijajaki. Sebab, infrastuktur penerbangan harus terus dikebut. Bila pemerintah tak cukup mampu untuk membangun infrastruktur, maka, tak ada salahnya menyerahkan hal itu kepada asing. Hanya saja, selama kontrak dengan asing berjalan, persyaratan transfer teknologi, keterampilan, dan keahlian harus tertuang agar kontrak yang dijajaki tak menguntungkan pihak asing saja.

Harus diakui, pendidikan dan pelatihan untuk menghasilkan tenaga terampil di bidang penerbangan memang belum terlalu mendapat perhatian pemerintah. Bekerja sama dengan pihak asing merupakan salah satu langkah yang harus diperhatikan mengingat kurangnya tenaga ahli di bidang penerbangan dan manajemen bandara. Berkaitan dengan hal tersebut, kerjasama harus difokuskan pada bidang pelatihan dan pendidikan di bidang manajemen penerbangan.

“Nose Team,” Hadir Sebagai Spesialis Pengendus ‘Bau’ di Mobil Baru

Bau yang tercium dalam sebuah mobil baru bisa membuat pengemudi atau penumpang merasa tidak nyaman. Adanya hal ini membuat produsen mobil menghadirkan Nose Team agar bisa mencium bau dengan benar, karena bau tak sedap sekecil apapun dapat menghantui pemilik seumur hidup.

Baca juga: Ingin Hilangkan Bau Rokok di Dalam Mobil? Tinggalkan Pengharum Kemasan dan Beralih Menuju Bahan Alami

Salah satu yang memiliki Nose Team yakni adalah produsen mobil Audi. Mereka mempekerjakan seluruh tim ilmuwan untuk mencium setiap permukaan di dalam mobil sembari mengenakan jas lab resmi. Nose Team sendiri sudah ada sejak tahun 1985 dan menjadi yang paling tenang.

Sebab Nose Team telah bekerja keras untuk memastikan bahwa ilmu penciuman pabrikan itu tepat sasaran. KabarPenumpang.com mengutip dari thedrive.com (13/5/2020), tujuan Nose Team sangat sederhana yakni untuk memastikan kendaraan Audi tidak mengeluarkan bau busuk di dalam mobil.

Ini juga berarti memastikan bahwa kendaraan tidak memiliki bau kimiawi yang kuat saat keluar untuk di jual. Bahkan hal tersebut tidak sesederhana menggantungkan pengharum ruangan di kaca spion. Ilmuwan Audi tahu bahwa tidak mungkin memiliki mobil bebas bau, jadi alih-alih berusaha menutupi aromanya, mereka bertujuan agar bahan kimia yang digunakan selama proses pembuatan dibuat senetral mungkin.

Mereka mengatakan, jika kulit berbau terlalu banyak seperti minyak ikan atau alas lantai seperti bawang, tim mengirim produk kembali ke pabrik. Salah satu ahli kimia Audi, Heiko Lüßmann-Geiger, telah memimpin tim pengendus lima orang di Audi’s Bavarian Quality Center sejak awal tahun 2000-an.

Heiko menjelaskan kenyamanan kendaraan sebagai “piramida”, mencatat bahwa bau yang dikeluarkan oleh kendaraan adalah salah satu fitur kenyamanan paling mendasar yang dapat membuat atau menghancurkan kepemilikan kendaraan.

“Di ujung piramida hierarki ini adalah kesejahteraan pelanggan, tepat di dasar adalah baunya. Jika pelanggan sekarang terganggu oleh bau dari bawah ini, dia tidak akan lagi melihat dengan benar semua sifat positif kenyamanan kendaraan lainnya. Dia terlalu jengkel oleh stres yang disebabkan oleh bau itu,” kata Heiko.

Heiko menambahkan, bau ini akan dinilai dalam skala dari satu yang berarti tidak berbau sampai enam yakni tak tertahankan. Kaca, keramik dan logam sering kali dinilai sebagai salah satu komponen utama kendaraan. Bahan lain harus diberi peringkat di bawah empat (“mengiritasi”) agar lulus uji mengendus.

Jika Anda tidak percaya bahwa para ilmuwan ini menganggap serius pekerjaan mereka sebagai pencium profesional, lihat saja wajah tanpa ekspresi mereka bekerja pada gambar-gambar dari pertengahan tahun 2000-an ini. Namun, pekerjaan tersebut tidak selesai setelah kendaraan meninggalkan tempat parkir.

Audi mengatakan bahwa mereka juga secara acak menarik kendaraan produksi ke laboratorium untuk memastikan bahwa kendaraan tidak mulai mengeluarkan bau tidak sedap setelah mereka meninggalkan lantai ruang pamer. Jika bau mulai muncul dengan sendirinya, tim mengevaluasi apakah ada perubahan dalam proses produksi, atau jika pemasok suku cadang menggunakan bahan baru dan ada banyak hal yang harus dilakukan di dalam kendaraan.

Baca juga: Bertarung Melawan Bau Busuk, Inilah Peran Petugas Pembersih Limbah Toilet Kereta

Audi bukan satu-satunya produsen mobil yang memiliki ukuran untuk mencium mobil. Ini adalah bagian penting dari pabrikan mobil dan sesuatu yang bahkan bervariasi secara budaya.

FAA Izinkan Boeing 737 MAX Terbang Lagi, EASA Pilih Sertifikasi Ulang Mandiri

Regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA), belum lama ini, resmi mencabut larangan terbang Boeing 737 MAX. MAX sudah diizinkan kembali terbang mulai 20 November 2020. Beberapa maskapai di Amerika Serikat (AS) pun telah bersiap untuk menerbangkan MAX dalam waktu dekat.

Baca juga: Ironis, Boeing 737 MAX Sudah Boleh Terbang tapi Maskapai, Pramugari, hingga Penumpang Ragu

American Airlines besar kemungkinan menjadi maskapai pertama di dunia yang menerbangkan kembali Boeing 737 MAX pasca pencabutan larangan terbang. Maskapai itu berencana menerbangankan MAX mulai 29 Desember 2020 hingga 4 Januari 2021, menghubungkan Bandara Internasional Miami dan Bandara La Guardia di New York dengan menggunakan sekitar 36 armada MAX.

Akan tetapi, tidak demikian dengan maskapai-maskapai Eropa. Sebab, Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA), dipastikan bakal melakukan sertifikasi sendiri. Selama ini, EASA secara otomatis selalu memvalidasi arahan FAA.

“Ada cukup alasan untuk meminta tindakan tambahan tertentu, yang dianggap perlu untuk memastikan operasi yang aman dari (pesawat) yang terkena dampak, termasuk pelatihan pilot,” kata EASA, dalam sebuah pernyataan mengenai catatan non-adopsi. Hanya saja, notes EASA belum merinci detail spesifik, tetapi direction otoritas mungkin akan berbeda dari direction atau arahan FAA.

Belum ada kepastian kapan prosedur sertifikasi ulang EASA akan tuntas untuk memungkinkan publik kembali melihat 737 MAX terbang di langi Eropa pasca diizinkan kembali terbang. Yang jelas, secara formal, proposal atau arahan dari EASA akan diserahkan ke konsultan publik terlebih dahulu setelah rampung untuk memungkinkan tercapainya arahan akhir yang paten dan dijadikan dasar sertifikasi ulang di Eropa.

Terlepas dari hal itu, kepala FAA, Stephen Dickson, percaya bahwa Boeing sudah mengakomodir seluruh masukan dari regulator, salah satunya flight-control software. Ia pun dengan sangat percaya diri menyebut, “Saya 100 persen nyaman dengan keluarga saya terbang di atasnya.” Di samping itu, pihaknya juga sudah bekerja dengan teliti untuk memastikan Boeing 737 MAX aman sebelum akhirnya diputuskan mencabut larangan terbang.

Begitu juga dengan The Air Line Pilots Association International atau Asosiasi Pilot Internasional (ALPA). Asosiasi yang mewakili hampir 60 ribu pilot di Amerika Utara itu mengaku yakin dan percaya kepada teknisi yang bekerja. Secara tidak langsung, ALPA siap untuk menerbangkan MAX.

Meski demikian, berbagai maskapai di AS mengaku masih wait and see menyikapi pencabutan larangan terbang Boeing 737 MAX. Maskapai United Airlines, berencana baru akan menerbangkan pesawat dengan penjualan tercepat dalam sejarah Boeing itu pada kuartal II 2021, menunggu lebih dari 1.000 jam penerbangan, pelatihan ulang (pilot), dan hasil uji terbang mandiri oleh internal maskapai.

Baca juga: Gegara 737 MAX, Regulator Penerbangan Sipil Cina Mulai Rusak Hegemoni FAA

Southwest Airlines, sang operator Boeing 737 MAX terbesar di dunia, menyatakan tidak berencana menggunakan pesawat itu hingga pertengahan 2021. Tak hanya itu, seluruh pimpinan maskapai akan lebih dahulu menjajal keamanan pesawat sampai berkali-kali terlebih dahulu, sebelum mulai mengangkut penumpang. Strategi itu ditempuh sebagai salah satu cara meyakinkan penumpang bahwa pesawat sudah aman.

Alaska Airlines, yang baru akan kedatangan MAX pada awal tahun depan, berencana baru akan menerbangkan MAX di bulan Maret. Bahkan, Delta Airlines, salah satu maskapai terbesar AS, sudah bulat memutuskan tidak lagi terbang dengan Boeing 737 MAX. Maskapai dari Brasil, Kanada, dan Cina, juga dipastikan belum akan terbang dalam waktu dekat sampai regulator penerbangan sipil mereka tuntas melakukan sertifikasi ulang secara mandiri dan tidak berkiblat ke FAA.