(Video) Boeing 747 British Airways Tiba-tiba Terbakar Saat di Bandara

Bandara Teruel, yang berada sekitar 161 km di utara kota Valencia, Spanyol, memang termasuk jenis bandara yang disebut aircraft graveyard atau kuburan pesawat dan menjadi salah satu kuburan pesawat ternama di Eropa, bersama kuburan pesawat di Tarbes dan Francazal, Perancis, serta kuburan pesawat di Bandara Cotswold, Gloucestershire, sebelah Barat London, Inggris.

Baca juga: Boeing 747 British Airways Disulap Jadi Museum dan Bioskop

Khusus untuk Spanyol, selain Teruel, sebetulnya ada lagi kuburan pesawat lain yang tak terlalu masyhur, tepatnya di Castellón, sebelah timur Negeri Matador. Meski masih kalah pamor dibanding kuburan pesawat di Teruel, namun, belakang kuburan pesawat Castellón menjadi sorotan di jagat penerbangan akibat kebakaran yang melibatkan Boeing 747 British Airways.

Dilansir newshub.co.nz, dalam sebuah tayangan video, terlihat Queen of the Skies British Airways dengan livery One World mengeluarkan asap hitam. Sumber kebakaran atau asap hitam itu diduga berasal dari area di belakang kokpit. Otoritas Pemadam Kebakaran (SIAB) setempat sejauh ini belum mengetahui penyebab kebakaran. Penyelidikan masih dilakukan guna mencari kronologi dan penyebab utama kebakaran.

Sejatinya, pesawat Boeing 747 British Airways dengan nomor registrasi G-CIVD atau dikenal juga dengan ‘City Of Coventry’ itu akan dibongkar atau didaur ulang. Pesawat diketahui sudah dipensiunkan oleh maskapai setelah 26 tahun beroperasi.

Bisnis daur ulang atau membongkar pesawat purna tugas lama-kelamaan memang semakin diminati. Sebab, 6.000 pesawat dalam 20 tahun mendatang akan mencapai akhir jam terbangnya. Lantas pesawat tua dibuang ke mana? Sebagian mungkin bakal dibuang ke kuburan pesawat di Gurun Mojave, sebagian lagi didaur ulang dan dibuat jadi barang berharga.

Kondisi pesawat usai kebakaran. Foto: newshub.co.nz

Melihat hal itu, riset di Eropa coba mencari teknik pembuangan yang paling ekonomis dan ramah lingkungan. Hal itu dikarenakan pesawat dibuat dari 60 persen alumunium, 15 persen baja, 10 persen logam berharga mahal seperti titanium. Jadi, terlalu sayang untuk dibuang begitu saja, selain untuk menyelamatkan lingkungan.

Baca juga: Boeing 747 Cathay Pacific Legendaris Dijual Rp525 Ribu! Tidak Percaya?

Valliere Aviation, salah satu raksasa daur ulang pesawat tua di Eropa, mengerti betul betapa menggiurkannya pesawat tua. Biasanya pesawat tua dihancurkan, dibersihkan dari komponen radioaktif sesuai panduan hijau Eropa, diklasifikasikan, dan diteliti bagian mana saja yang masih bisa dipertahankan, seperti suku cadang berharga, roda pendaratan, mesin, dan peralatan avionik.

Semua itu untuk dijual kembali di pasar suku cadang internasional. Namun, itu bukan bisnis satu-satunya. Di Eropa, tepatnya di Jerman, pesawat purna tugas dibongkar dan dijadikan souvenir atau gantungan kunci oleh Aviationtag.

IATA: Sepanjang 2020/2021, Maskapai Penerbangan Global Rugi Rp2.219 Triliun

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memprediksi maskapai penerbangan global bakal merugi hingga US$157 miliar atau sekitar Rp2.219 triliun lebih (kurs Rp14.135) sepanjang 2020 dan 2021. Parahnya lagi, perkiraan itu ialah hitungan kasar dan bisa jadi jauh lebih buruk.

Baca juga: IATA Serukan Pemerintah Kucurkan Dana Rp1.133 Triliun, Jika Tak Ingin Maskapai Bangkrut

“Krisis ini menghancurkan dan tak henti-hentinya,” kata Direktur Jenderal IATA, Alexandre de Juniac dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari CNN International.

Lebih lanjut, De Juniac, menyebut wabah Covid-19 menjadikan tahun 2020 sebagai tahun keuangan terburuk dalam sejarah. Industri penerbangan diprediksi akan merugi sebesar US$118,5 miliar atau setara Rp1.667 triliun (kurs 14.135) pada 2020, lebih buruk dari diperkirakan semula sebesar US$84,3 miliar atau sekitar Rp1.187 triliun (kurs 14.135) pada bulan Juni lalu.

Hal itu kemudian dilengkapi dengan kerugian di tahun 2021 sebesar US$38,7 miliar, setara Rp537 triliun (kurs 14.135), jauh lebih besar dari perkiraan semula pada bulan Juni lalu, sebesar US$15,8 miliar atau setara Rp212 triliun (kurs Rp14.135)

“Kami perlu membuka kembali perbatasan (penerbangan internasional) dengan aman tanpa karantina sehingga orang akan terbang lagi. Dengan maskapai penerbangan yang diperkirakan akan mengeluarkan uang tunai setidaknya hingga kuartal keempat tahun 2021 tidak ada waktu untuk merugi,” jelas De Juniac.

Di kesempatan lain, IATA menyebut, pandemi virus Corona telah membuat industri penerbangan rugi hingga US$510 miliar atau setara Rp7.028 akibat lost sales atau kehilangan penjualan. Traffic penumpang saat ini juga diperkirakan turun sekitar 60 persen menjadi hanya sekitar 1,8 miliar, jumlah yang kira-kira sama dengan traffic penumpang di tahun 2003.

Akibat dari itu, tentu saja banyak maskapai yang mem-PHK karyawan. Bahkan, tak sedikit maskapai yang bangkrut akibat pandemi virus Corona. Terbaru, belum lama ini, maskapai Norwegian Air dilaporkan tengah menempuh prosedur anti bangkrut (bankruptcy protection) kepada pemerintah agar mereka tetap bisa bertahan setidaknya hingga kuartal pertama 2021.

Sejauh ini, pemerintah global telah mengucurkan setidaknya US$173 miliar atau setara Rp2.445 triliun (kurs 14.135), semata mencegah agar tak lebih banyak maskapai jatuh bangkrut. Stimulus dari pemerintah termasuk di dalamnya bantuan hukum atau lobi-lobi ke kreditur agar mau memberikan keringanan atau restrukturisasi utang.

Meski virus Corona masih mewabah di seluruh dunia, namun, perkembangan vaksin Covid-19 yang amat menjanjikan telah membawa angin segar untuk mengembalikan kepercayaan penumpang terhadap transportasi udara.

Baca juga: Qantas Wajibkan Penumpang Divaksin Covid-19 Sebelum Terbang

Pasalnya, IATA menganggap, sekalipun mengalami peningkatan sekitar 15 persen dibanding tahun lalu menjadi US$117,7 miliar atau setara Rp1.653 triliun (kurs 14.135), penerbangan kargo dianggap tak dapat menggantikan revenue maskapai atas penumpang.

Jumlah penumpang diperkirakan akan tumbuh menjadi 2,8 miliar pada 2021, jauh dari angka tahun lalu mencapai 4,5 miliar. Paling cepat, jumlah penumpang akan kembali ke titik itu pada 2024 mendatang, dimana penerbangan domestik diperkirakan akan lebih dahulu kembali normal dibanding penerbangan internasional.

IATA Kembangkan Aplikasi Seluler untuk Bantu Perjalanan di Masa Pandemi

International Air Transport Association atau IATA belum lama ini mengembangkan aplikasi seluler untuk perjalanan di masa pandemi Covid-19. Aplikasi ini hadir untuk membantu penumpang menavigasi pembatasan perjalanan Covid-19 dan secara aman membagikan sertifikat uji dan vaksin maskapai serta pemerintah.

Baca juga: Berkah Vaksin, IATA Sebut Butuh 8 Ribu Pesawat Jumbo untuk Antarkan Vaksin ke Seluruh Dunia

Sebagai badan penerbangan yang mewakili banyak maskapai besar dunia, IATA berencana untuk menguji coba platform Travel Pass pada akhir tahun dan menerapkannya untuk ponsel Android dan iOS pada paruh pertama tahun depan. KabarPenumpang.com melansir dari laman thejakartapost.com (24/11/2020), maskapai penerbangan mendesak pemerintah untuk mengganti persyaratan karantina.

Hal ini agar lalu lintas dengan pengujian Covid-19 yang sistematis dengan beberapa keberhasilan.

“Prioritas utama kami adalah membuat orang bepergian lagi dengan aman,” kata kepala keamanan IATA Nick Careen.

Careen mengatakan, hal ini berarti memberi kelayakan pada pemerintah bahwa pengujian Covid-19 yang sistematis dapat berfungsi sebagai pengganti persyaratan karantina. Dia juga menyebutkan, kesehatan penumpang dan data lainnya tidak tersimpan secara terpusat tetapi diautentikasikan dengan blockchain.

Sehingga para penumpang pun bisa dengan mudah untuk mengontrol apa yang mau mereka bagikan. IATA menambahkan, aplikasi Perjalanan Tanpa Kontak, baru akan menggabungkan informasi paspor dengan sertifikat tes dan vaksinasi yang diterima dari laboratorium yang juga berpartisipasi.

Baca juga: IATA: Maskapai Kehilangan Revenue dari Penumpang Sebesar 55 Persen

IATA mengatakan, bahwa ini juga akan mengacu pada daftar global persyaratan kesehatan dan pusat pengujian serta vaksinasi. Untuk diketahui, platform ini dibuat dengan standar open source dalam membantu interoperabilitas dengan sistem yang ada termasuk aplikasi pelanggan maskapai anggota.

Satelit GPS III Generasi Ke-4 Buatan Lockheed Martin Resmi Meluncur, Ini Deretan Manfaatnya

Satelit GPS III-SV04 milik Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (AS) atau US Space Force sukses meluncur pada Kamis, 5 November lalu. Satelit seberat 2 ton lebih yang mengorbit di ketinggian sekitar 12.500 mil itu meluncur bersama Roket Falcon 9 dari Space Launch Complex 40 di Stasiun Angkatan Udara Cape Canaveral, AS.

Baca juga: Foto Citra Satelit “Before-After” Kawah Bekas Ledakan Besar di Beirut Lebanon

Penerbangan satelit ini menandai pengiriman GPS ketiga untuk SpaceX. Rencananya, militer AS akan meluncurkan 10 satelit GPS untuk menggantikan seluruh satelit lama yang saat ini beredar di konstelasi.

Disadari atau tidak, manfaat dari satelit GPS III sangat terasa di kehidupan sehari-hari, seperti mencatat transaksi keuangan dan perdagangan saham, panggilan telepon, ramalan cuaca, deteksi gempa bumi, hingga menjaga jaringan listrik tetap bekerja. Selain itu, tentu saja GPS atau Global Positioning System sangat berguna sebagai penunjuk arah.

“Ini lebih dari sekadar petunjuk arah mengemudi,” kata Tonya Ladwig, wakil presiden sistem navigasi luar angkasa Lockheed Martin, divisi yang membuat satelit tersebut, sebagaimana dikutip dari cnet.com.

Saking berdampaknya, pundi-pundi uang yang dihasilkan pun juga cukup besar. Menurut sebuah studi tahun lalu yang dipimpin oleh Institut Standar dan Teknologi Nasional, GPS memiliki dampak ekonomi sekitar US$1 miliar per hari di AS. Itu baru di AS, bagaimana dengan dunia? Terkait itu, Greg Milner, seorang penulils asal AS mungkin punya jawabannya.

“Mengukur nilai keseluruhan GPS hampir tidak mungkin,” tulis Greg Milner dalam Pinpoint, sebuah buku keluaran tahun 2016 tentang bagaimana sistem berbasis ruang angkasa muncul dan pengaruhnya terhadap dunia.

Pertanyaannya, bagaimana GPS bekerja hingga menjadi se-vital itu? Saat ini, setidaknya ada sekitar 31 satelit di konstelasi GPS dan 24 di antaranya dianggap tak terlalu canggih. Kesemua satelit memancarkan sinyal dan ditangkap oleh ponsel di darat.

Sampai di sini, GPS sebetulnya belum bisa menemukan lokasi ponsel berada, hanya bisa memancarkan sinyal dan diterima ponsel, layaknya siaran radio. Untuk bisa menemukan sebuah lokasi, dibutuhkan integrasi serta pengaturan waktu dalam bentuk lintang, bujur, dan ketinggian – serta kecepatan dan arah. Di sinilah Google Maps, Apple Maps, dan sistem informasi geografis lainnya berperan.

Kembali ke GPS III, satelit seri keempat buatan Locheed Martin ini tentu memiliki sejumlah keunggulan dibanding GPS pendahulunya yang pertama kali diluncurkan pada April 1995. GPS III dinilai akan membuat sinyal tiga kali lebih kuat, anti buffering hingga delapan kali lipat, dan mampu bertahan di orbit hingga 15 tahun.

Baca juga: Airbus A320 Qingdao Airlines Dilengkapi Sistem Internet Satelit Berkecepatan Tinggi 100 Mbps

Tak hanya itu, GPS III juga terintegrasi dengan satelit Galileo milik Uni Eropa; dan sebaliknya, tidak terintegrasi dengan sistem satelit navigasi global atau global navigation satellite systems (GNSS) lainnya, seperti Glonass Rusia dan BeiDou China. Dengan begitu, lokasi ponsel akan jadi jauh lebih akurat.

Di medan pertempuran, GPS III generasi keempat ini juga akan membuat pengiriman pesan jauh lebih aman karena terenskripsi tingkat tinggi. Selain itu, tentu saja anti lemot, kemampuan spot beam untuk sinyal yang terfokus di area pertempuran serta penambahan array retro-reflektor laser di masa mendatang yang memungkinkan pemosisian satelit disempurnakan melalui laser berbasis darat.

Naik Emirates dan Transit di Dubai Lebih dari 10 Jam? Penumpang Bisa Menginap Gratis di Hotel

Untuk menikmati penerbangan di masa pandemi saat ini tidaklah mudah dan bisa dikatakan tahun 2020 sangat menegangkan untuk bepergian. Bahkan di awal Covid-19 banyak penerbangan yang di batalkan dan negara-negara lain menutup akses. Nah, saat ini meski masih berada dalam masa pandemi, penerbangan dan negara di dunia pun mulai membuka akses mereka.

Baca juga: Emirates Luncurkan Penerbangan Terpanjang di Dunia Pasca Lockdown

Sehingga membuat pelancong atau pebisnis bisa mulai kembali perjalanan mereka. Emirates memberikan kabar baik bagi pelanggan mereka yang singgah di Dubai selama lebih dari sepuluh jam. Maskapai ini memberikan penginapan gratis di hotel. Maskapai Uni Emirat Arab ini, melanjutkan layanan Dubai Connect pada 1 Desember mendatang.

(cnn.com)

Hal ini membuat perjalanan menjadi lebih mudah bagi orang-orang yang menavigasi jadwal penerbangan yang diubah oleh pandemi virus corona. Untuk pemesanan layanan ini, Anda harus menjadi penumpang transit yang melakukan perjalanan dengan dua penerbangan Emirates.

Selain itu juga menggunakan koneksi terbaik yang tersedia untuk perjalanan pilihan penumpang sehingga tidak ada kecurangan ketika memesan penerbangan dengan waktu singgah yang lebih lama. Dilansir KabarPenumpang.com dari cnn.com (25/11/2020), jika singgah Anda antara sepuluh hingga 24 jam, Anda dapat memenuhi syarat untuk mendapatkan malam gratis di hotel bintang empat atau lima.

Kemudian ditambah transfer darat bandara, makan di hotel dan bantuan dengan visa UEA Anda pada saat kedatangan, jika diperlukan. Bahkan Anda dapat mengharapkan untuk menginap di Copthorne Hotel Dubai bintang empat atau Le Meridien Dubai Hotel & Conference Centre bintang lima, tetapi maskapai penerbangan juga harus menempatkan penumpang di akomodasi alternatif.

Layanan ini terbuka untuk semua penumpang, apa pun kelas perjalanannya kecuali jika mereka bepergian ke tujuan yang membutuhkan tes PCR untuk Covid-19 pada saat kedatangan. Dalam hal ini, penumpang bisnis dan kelas satu dapat menginap di Dubai International Hotel di Bandara Dubai tergantung ketersediaan dan diberi akses ke ruang tunggu bandara Dubai Connect Emirates.

Baca juga: Emirates Kini Suruh Pramugari Juga Bersihkan Toilet Demi Penumpang

Lounge ini memiliki fasilitas untuk makan, minum, dan bersantai, dan penumpang kelas ekonomi dengan persinggahan yang lebih lama juga akan mendapat kesempatan untuk nongkrong di sini. Awal tahun ini Emirates menjadi maskapai penerbangan pertama yang menawarkan untuk menanggung biaya medis pelanggan dan biaya karantina jika mereka tertular Covid-19 selama perjalanan mereka.

Orang Berpengaruh di Airbus Sebut (Dibohongi Soal) Mesin Jadi Sebab Kegagalan A380

Setelah pensiun sejak 2018 lalu dan hidup damai di sebuah pedesaan di pinggiran Washington, Amerika Serikat (AS), sales terbaik Airbus atau mungkin sales pesawat terbaik di dunia, John Leahy, akhirnya buka suara atas kegagalan Airbus A380 bersaing lebih jauh dengan widebody kompetitor, Boeing 747.

Baca juga: Mengharukan, Warga Iringi ‘Kepergian’ Airbus A380 Terakhir Saat Lewati Pedesaan Perancis

Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama airlineratings.com belum lama ini, sales yang sudah menjual lebih dari 15 ribu unit pesawat sepanjang karirnya itu menyebut biang keladi Airbus A380 lambat laun ditinggalkan oleh maskapai penerbangan ialah mesin atau lebih tepatnya dibohongi produsen mesin terkait mesin buatannya.

“Saya yakin kami mendapat masalah serius ketika kami termakan perkataan dari produsen mesin. Mereka meyakinkan kami bahwa konsumsi bahan bakar mesin generasi baru akan lebih efisien dan perlu setidaknya 10 tahun lagi untuk membuat mesin yang jauh lebih baik dari itu,” jelasnya, saat mengulang cerita sebelum peluncuran A380 yang lekat dengan lobi-lobi kelas dewa, baik oleh maskapai maupun dengan mitra produsen mesin.

Namun, siapa nyana, John Leahy yang sudah menjadi sales pesawat di Airbus sejak tahun 1985, serta ikut merayu dan menyerap aspirasi maskapai agar mau bergabung dalam program A380, dikejutkan dengan kehadiran Boeing 787 Dreamliner di penghujung tahun 2009, atau empat tahun setelah penerbangan perdana A380 pada 27 April 2005.

Betapa tidak, pesawat widebody pesaing A380 itu disebut menggunakan mesin Rolls-Royce Trent 1000 dan mesin General Electric GEnx 1B-12 yang inovatif dan lebih efisien 10-15 persen dari generasi sebelumnya.

Suasana keramaian di Runway Visitor Park, Inggris. Foto: Manchesterairport.co.uk

Tak sampai di situ, derita A380 juga ditambah saat Boeing meluncurkan varian terbaru Queen of the Skies, 747-8, pada Februari 2010 yang notabene menggunakan mesin General Electric GEnx 2B-67. Mesin itu diklaim jauh lebih inovatif dari versi sebelumnya yang dipakai Boeing 787 Dreamliner.

Dengan tingkat kebisiangan rendah dan efisiensi hingga 10-15 persen, Boeing 787 Dreamliner dan Boeing 747-8 yang muncul setelah A380, otomatis lebih diminati maskapai dibanding A380. Bila maskapai ingin widebody twinjet, 787 Dreamliner jadi pilihan tepat. Bila widebody quadjet atau empat mesin yang dibutuhkan, 747-8 Queen of the Skies jadi pilihan menarik.

Seiring pergeseran kebutuhan maskapai, A380 pun semakin tertinggal hingga diputuskan stop produksi, di saat Boeing 747 masih terus diproduksi. Padahal, A380 lahir jauh sesudah Boeing 747, tetapi pada akhirnya harus berakhir sebelum Boeing 747. Itulah sebab mengapa A380 disebut gagal dan semua itu disebabkan oleh mesin. Setidaknya, itulah pendapat John Leahy, sang legenda sales pesawat.

Seperti diketahui, Airbus telah menghentikan produksi super-jumbo jet rakitannya, A380 pada awal tahun 2019 lalu. Sebelumnya, raksasa manufaktur asal Benua Biru ini mendapatkan pembatalan pesanan dari sejumlah maskapai yang telah atau hendak menggunakan armada widebody ini, mulai dari Qantas, Singapore Airlines, Etihad hingga pengguna terbesarnya, Emirates.

Baca juga: Airbus Umumkan Produksi A380Ultra, Pesawat Mewah Tiga Lantai

Airbus A380 terakhir awalnya diprediksi akan meninggalkan jalur perakitan pada tahun 2021 mendatang. Namun, ketika wabah virus Corona mengguncang dunia dan mengacaukan jalur produksi, traffic penumpang, dan industri penerbangan secara keseluruhan, mulai dari hulu hingga hilir, Airbus A380 akhirnya meninggalkan jalur perakitan lebih cepat dari prediksi semula.

Betul saja, akhir Juni lalu, A380 terakhir dikirim dari pabrik Saint-Nazaire ke fasilitas perakitan akhir di pinggiran Toulouse, Perancis. Pesawat dengan kode registrasi MSN 272 tersebut tak disebutkan dengan detail akan dikirim kemana.

Kisruh Deportasi Yahudi dari Tanah Palestina, Kapal SS Patria di Bom dan Tenggelam di Pelabuhan Haifa

Sebuah kapal buatan Perancis tenggelam pada 80 tahun silam atau tepatnya pada 25 November 1940 di Pelabuhan Haifa, Israel. Kapal ini bernama SS Patria yang kala itu mengangkut sekitar 1800 pengungsi Yahudi dari Eropa yang diduduki Nazi.

Baca juga: Kapten Kapal Selamat, Naskah Langka William Shakespeare Hilang di SS Arctic yang Tenggelam

Pengungsi ini dideportasi oleh otoritas Inggris dari Mandat Palestina ke Mauritius karena tidak adanya izin masuk. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, tenggelamnya SS Patria yang mengangkut pengungsi Yahudi ini karena organisasi Zionis menentang adanya deportasi.

Yang kemudian kelompok paramiliter bawah tanah Haganah menanam bom yang dimaksudkan untuk melumpuhkan kapal agar tidak meninggalkan Haifa. Sayangnya bom tersebut membuat ledakan besar dan meledakkan lapis baja dari kapal SS Patria membuatnya tenggelam dalam waktu kurang dari 16 menit.

Ini membuat banyak pengungsi Yahudi di dalam kapal terjebak dan menewaskan 267 orang serta sebanyak 172 orang luka. Karena kasus ini, Inggris kemudian mengizinkan korban selamat untuk menetap di Palestina atas dasar kemanusiaan.

Namun siapa yang bertanggung jawab atas ledakan tersebut masih menjadi kontroversi sampai tahun 1957 silam. Hingga akhirnya Munya Mardor, orang yang menanam bom tersebut menerbitkan sebuah buku tentang pengalamannya.

SS Patria sendiri merupakan kapal buatan Perancis yang memiliki berat 11.885 GRT dan dibuat pada 1913 untuk Compagnie française de Navigation à vapeur Cyprien Fabre & Cie (Fabre Line). Kapal ini sendiri pertama kali menjadi kapal trans atlantik yang kemudian menjadi kapal emigran.

Tahun 1932 Fabre Line menyewanya ke Services Contractuels des Messageries Maritimes , yang menjalankannya antara selatan Prancis dan Levant. Lalu setelah jatuhnya Prancis pada bulan Juni 1940, otoritas Inggris di Mandatory Palestine menangkapnya di Pelabuhan Haifa dan menempatkan SS Patria di bawah manajemen Perusahaan Navigasi Uap Inggris-India.

Setelah tenggelam di Pelabuhan Haifa pada 25 November 1940 bangkai kapal ini tetap berada di sana dan dibongkar tahun 1952. Untuk diketahui, Pelabuhan Haifa merupakan salah satu pelabuhan terbesar di Mediterania timur yang mampu menangani 30 juta ton kargo per tahun.

Baca juga: Tenggelamnya MS Estonia, Kecelakaan Laut Terbesar Kedua di Abad ke-20

Letaknya berada di sebelah utara perempatan pusat kota Haifa di Mediterania. Pelabuhan ini membentang hingga sekitar tiga kilometer di sepanjang pantai tengah kota dengan kegiatan mulai dari militer, industri dan komersial.

Gandeng Hyundai Robotics, Restoran KFC Gunakan Robot untuk Goreng Ayam

Ketika robot mulai menunjukkan eksistensinya, restoran cepat saji ikut menggunakan teknologi baru ini. Salah satunya adalah KFC (Kentucky Fried Chicken), dimana robot digunakan untuk menggoreng ayam di dapur. Robot terlihat setelah restoran cepat saji itu menandatangani perjanjian penting yang menunjukkan keseriusan mereka di masa depan.

Baca juga: Restoran di Stasiun Higashikoganei Punya Robot yang Bisa Buat Mie Soba

KFC memandatangani nota kesepahaman untuk penelitian dan kerja sama dalam produksi otomatis dengan perusahaan Korea Hyundai Robotics yang berspesialisasi dalam robotika industri. Dilansir KabarPenumpang.com dari foodserviceequipmentjournal.com (18/11/2020), kerja sama ini membuat mereka mengeksplorasi bagaimana robot kolaboratif dapat digunakan untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi dalam proses produksi ayam goreng.

tangan robot mencoba penggorengan (foodserviceequipmentjournal.com)

Selain itu, robot juga untuk diperankan dalam pengaturan proses dan peralatan memasak guna meningkatkan efisiensi kerja di dapur. Hyundai Robotics akan bertugas merancang proses memasak yang efisien dan menstandarkan prosedur operasional, sementara KFC akan menyediakan keahlian manufaktur dan fasilitas penjualan.

Tak hanya itu, Hyundai Robotics berencana untuk menambahkan teknologi penginderaan penglihatan untuk mengotomatiskan proses pemilahan produk ayam dan secara bertahap memperluas penerapan teknologi terkait ke proses pembuatan.

KFC berpendapat bahwa penggunaan robot dalam proses memasak, yang risikonya tinggi dan tugasnya berulang, dapat meningkatkan stabilitas dan efisiensi. Ini juga akan memungkinkan pesanan diproses lebih cepat dan lebih akurat.

Hyundai Robotics memberikan pengalaman yang luas di pabrik pintar, di mana robot membuat robot lain, tetapi kesepakatan dengan KFC merupakan terobosan pertamanya ke pasar ‘teknologi makanan’. COO Seo Yoo Seong mengatakan penelitian menunjukkan bahwa pasar teknologi makanan diharapkan tumbuh pada tingkat tahunan rata-rata enam persen, mencapai nilai $250 miliar pada tahun 2022.

“Covid-19 telah memberi kami peluang baru yang disebut ‘food tech’ karena adanya pergeseran pola konsumsi. Kami akan menggunakan kerja sama ini untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi robotika dan berekspansi ke industri baru,” ujarnya.

Khususnya saat ini konsep koki robotik terus mendapatkan minat di sektor makanan cepat saji. Jaringan White Castle AS baru-baru ini mengonfirmasi bahwa mereka akan memasang asisten dapur pemanggang dan penggorengan otonom di sepuluh lokasi setelah uji coba teknologi yang berhasil selama pandemi.

Baca juga: Sofitel Sydney Darling Harbour Gunakan Robot untuk Bantu Pekerjaan Hotel

Perusahaan berencana untuk mengimplementasikan Flippy Robot-on-a-Rail (ROAR) versi baru Miso Robotics ke beberapa dapur untuk meningkatkan kecepatan produksi, memberdayakan tim di belakang meja, dan mempertahankan kualitas dan rasa yang konsisten.

Tebak Maskapai Lewat Seragam Pramugari, Mana yang Paling Sulit?

Pramugari pernah menjadi salah satu profesi paling glamor di dunia, dengan gaya hidup mewah, gaji besar, dan jalan-jalan ke luar negeri gratis; bahkan dibayar. Meskipun saat ini pamornya mulai menurun, namun, tidak demikian dengan pesonanya.

Baca juga: 10 Seragam Pramugari Paling Ikonik di Dunia

Sebagai garda terdepan maskapai penerbangan dalam melayani penumpang, pramugari dituntut untuk bekerja sesempurna mungkin. Begitu juga dengan busana yang dikenakan. Tak heran, dengan posisi se-strategis itu, maskapai tak ragu menyewa desainer kenamaan dunia dengan harga mahal, semata agar mendapatkan seragam terbaik untuk pramugari.

Tak sekedar dirancang indah, mewah, dan tetap anggun, pada umumnya seragam pramugari didesain juga untuk menonjolkan ciri khas maskapai. Begitu melihat pramugari, lengkap dengan seragam kebesarannya, orang-orang sudah langsung teringat maskapai pemilik seragam tersebut.

Bila Anda seorang calon pramugari, atau pecinta, pemerhati, pengamat, hingga praktisi penerbangan, pertanyaannya, seberapa dalam pengetahuan Anda terhadap maskapai melalui seragam pramugari? Dikutip dari thesun.co.uk, untuk mendapat jawaban atas itu, berikut 10 seragam pramugari yang secara tak resmi bisa jadi wadah mengukur wawasan Anda tentang maskapai-maskapai di dunia.

1. Maskapai ketiga di dunia

Foto: AFP – Getty

2. Maskapai nasional Inggris yang juga jadi salah satu maskapai paling ikonik di dunia

Foto: AFP – Getty

3. Maskapai asal Hungaria yang menawarkan tarif atau tiket pesawat sangat murah

Foto: AFP – Getty

4. Maskapai LCC yang berbasis di Irlandia

Foto: Evan Doherty

5. Maskapai asal Irlandia yang juga maskapai penerbangan nasional negara itu

Foto: AFP – Getty

6. Maskapai yang sering mendapatkan penghargaan di industri pesawat yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab

Foto: Getty Images

7. Perusahaan rekreasi, perjalanan, dan pariwisata terbesar di dunia, yang juga memiliki agen perjalanan, hotel, maskapai penerbangan, kapal pesiar, dan toko ritel

Foto: Paddle Your Own Kanoo

8. Maskapai yang sangat khas dengan warna merah

Foto: Archant

9. Seragam pramugari dari maskapai penerbangan berjadwal terbesar ketiga di Inggris

Foto: AFP – Getty

Baca juga: “Garuda Indonesia Vintage Flight Experience” Resmi Diluncurkan, Inilah Paras Ayu Pramugari dengan Seragam Klasik

10. Maskapai dengan livery pesawat yang cerah dan mencolok

Foto: AFP – Getty

Jawaban

  1. Qantas
  2. British Airways
  3. Wizz Air
  4. Ryanair
  5. Aer Lingus
  6. Emirates
  7. TUI
  8. Virgin Atlantic
  9. Jet2
  10. easyJet

Tahun 2022, Walt Disney World Akan Punya Stasiun Kereta Berkecepatan Tinggi

Walt Disney World telah mencapai kesepakatan dengan perusahaan sistem kereta berkecepatan tinggi Brightline untuk membangun stasiun baru di Disney Springs. Stasiun kereta berkecepatan tinggi tersebut letaknya akan berada di antara Walt Disney World Resort dan Bandara Internasional Orlando.

Baca juga: Disney Bicara dengan Brightline Seputar Rencana Kereta Berkecepatan Tinggi di Properti

Jalur kereta ini juga akan terhubung ke Miami, Fort Lauderdale dan West Palm Beach. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman pennlive.com (23/11/2020), proyeksi saat ini, jalur kereta antara Florida Selatan dan Orlando akan selesai tahun 2022 dan Stasiun Disney Spring akan mengikuti di tahun berikutnya.

Bahkan dengan adanya stasiun kereta berkecepatan tinggi tersebut, Disney memperluas komplek perbelanjaan dan hiburan Disney World lebih jauh lagi dengan memasukkan Stasiun Disney Spring sebagai bagian dari kompleks wisata bermain tersebut. Stasiun Disney Springs ini seolah-olah akan memungkinkan wisatawan mengakses Walt Disney World dengan jauh lebih mudah daripada perjalanan mobil atau udara.

Kehadiran jalur kereta ini sendiri memiliki manfaat lain yakni pelancong luar negeri sekarang memiliki lebih banyak variasi pilihan tentang bagaimana merencanakan perjalanan. Seperti perjalanan yang lebih murah ke bandara lain dan tiket Brightline bisa lebih terjangkau daripada penerbangan langsung ke Orlando.

“Brightline akan menawarkan koneksi bebas mobil kepada jutaan pengunjung dari seluruh negara bagian dan dunia yang berencana menjadikan Walt Disney World Resort sebagai bagian dari liburan mereka. Misi kami selalu menghubungkan tamu kami dengan orang-orang dan tempat-tempat yang penting, dan Walt Disney World Resort adalah contoh yang luar biasa dari hal ini,” kata Patrick Goddard, Presiden Brightline.

Orlando Sentinel mencatat bahwa lokasi pasti stasiun di Disney Springs belum dikonfirmasi. Sebaliknya, Brightline telah menyatakan akan “berada di dekat” dengan taman hiburan resor, taman air dan hotel.

Baca juga: Disneyland Resort Line Hong Kong, Kereta Khusus dengan Nuansa Mickey Mouse

“Kami sangat senang bekerja sama dengan Brightline saat mereka mengejar pengembangan potensial stasiun kereta di Walt Disney World Resort, sebuah proyek yang akan mendukung ekonomi lokal kami dan menawarkan solusi transportasi yang berani dan berwawasan ke depan untuk komunitas dan tamu kami,” kata Jeff Vahle, Presiden Walt Disney World Resort.