Lindungi Diri dari Virus Corona, Penumpang di London Punya Cara Unik

Banyak foto yang terpampang di media sosial, bagaimana orang-orang menghalau virus corona baru. Bahkan masker atau pakaian yang dipakai pun beragam demi melindungi diri mereka dari Covid-19. Seperti beberapa yang terlihat di mana penumpang transportasi umum di London, Inggris menggunakan kantong plastik, kotak dan masker gas.

Baca juga: Tak Perlu Beli, Yuk Bikin Face Shield Sendiri

Foto ini terlihat saat awal masyarakat London yang panik dengan virus baru tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thesun.co.uk (4/3/2020), terlihat seorang penumpang yang menggunakan masker gas di Stasiun Milton Keynes.

Selain itu seorang penumpang menggunakan wadah penyimpanan yang terbuat dari plastik di atas kepalanya saat dirinya naik bus yang melintas di ibukota. Sedangkan yang lainnya memiliki hal kreatif lain untuk melindungi dirinya dengan menggunakan tas Tesco di atas kepala mereka hingga menutupi wajah.

Para penumpang lainnya digambarkan membolak-balik koran pagi sambil mengenakan sarung tangan karet. Bahkan, karena terburu-buru untuk melindungi diri mereka sendiri ketika virus pertama kali menyerang, pembeli membuka masker wajah di supermarket dan apotek.

Tetapi para ahli sebelumnya mengatakan bahwa masker wajah tidak banyak membantu perlindungan, terutama jika tidak dipakai dengan benar. Kepala kesehatan Profesor Chris Whitty juga memperingatkan komuter dan pembeli yang memakai masker wajah akan ‘sedikit berpengaruh’ dalam menghentikan penyebaran virus.

Organisasi Kesehatan Dunia telah menyarankan orang sehat hanya boleh memakai masker jika mereka merawat seseorang yang dicurigai mengidap virus. Sedangkan orang yang telah didiagnosis dengan virus corona atau yang sakit setelah kembali dari daerah yang terkena dampak disarankan untuk tidak berada di tempat umum dengan atau tanpa masker.

Itu terjadi ketika kepanikan virus corona terus mencengkeram Inggris dengan kasus meledak menjadi 85 dalam peningkatan 24 jam terbesar dalam virus hingga saat itu. Tiga dari kasus baru melibatkan pasien yang tertular penyakit di Inggris karena para ahli kesehatan memperingatkan ‘pandemi yang signifikan’ bisa jadi hanya beberapa minggu lagi.

“29 pasien didiagnosis yang baru-baru ini melakukan perjalanan dari negara-negara yang diakui atau dari kelompok-kelompok yang dikenal yang sedang diselidiki. Tiga pasien tambahan tertular virus di Inggris dan belum jelas apakah mereka tertular secara langsung atau tidak langsung dari seseorang yang baru saja kembali dari luar negeri. Ini sedang diselidiki dan pelacakan kontak telah dimulai,” kata Chris Whitty.

Baca juga: Pakai Kostum Hazmat di Bandara, Naomi Campbell Lagi-lagi Viral di Instagram

Sebelumnya, Chris Whitty memperingatkan Inggris akan mengalami sejumlah kematian saat wabah mulai menyebar. Coronavirus menyebar dengan cepat secara global setelah wabah di ground zero Wuhan di Provinsi Hubei, Cina.

Sambutlah LAPERU, Maskapai LCC pertama Sekaligus Maskapai Satu-satunya Milik Peru

Peru dikabarkan tengah menempuh berbagai langkah untuk mendirikan maskapai berbiaya hemat (LCC) bernama Línea Aérea de Bandera del Perú atau LAPERU. Bila impian itu terwujud, maskapai tersebut akan menjadi maskapai LCC pertama yang dikelola negara sekaligus maskapai satu-satunya milik negara di pesisir Amerika Selatan bagian barat itu.

Baca juga: Mengenal Flynas, Maskapai LCC Pertama dan Satu-satunya di Negeri Raja Salman

Guna merealisasikan LAPERU, pemerintah mengaku membutuhkan investasi sekitar US$75 juta atau sekitar Rp1 triliun lebih (kurs Rp14.100). Pemerintah akan menguasai 35 persen saham dan sisanya dimiliki oleh swasta yang mau mengucurkan dana sebesar itu.

Dahulu, tepatnya pada dua dan satu tahun lalu, Peru sebetulnya pernah punya maskapai sendiri; LC Peru dan Peruvian Airlines. Namun, karena kesulitan keuangan, dua maskapai itu akhirnya harus tumbang dan negara itu tak mempunyai satupun maskapai.

Tak cukup sampai di situ, maskapai-maskapai yang beroperasi di Peru, seperti Viva Air Peru, Sky Airline, LATAM Peru, dan Avianca Peru, satupun tak ada yang membuka kantor cabang di negara yang dilaporkan sebagai penghasil daun koka -bahan pembuat kokain- terbesar di dunia itu. Bisa dibilang, Peru sama sekali tak mempunyai kedaulatan udara karena masih sangat bergantung pada maskapai penerbangan dari negara lain.

JetSMART sebetulnya sempat berencana untuk membuka kantor cabang di Peru. Namun, sampai saat ini, rencana itu bak angin lalu. Viva Air diketahui berbasis di Kolombia, Avianca di Panama (meskipun asal Kolombia), LATAM di Chili dan Brasil, serta JetSMART di Chili.

“Dalam dua dekade terakhir, maskapai penerbangan yang menggunakan rute udara internasional Peru, dengan pendapatan dan penjualan miliaran dolar, tidak berinvestasi di Peru (membuka kantor cabang). Mereka bekerja sebagai cabang maskapai penerbangan yang berasal dari negara lain tempat mereka mengirimkan semua pendapatan finansial mereka,” bunyi laporan dalam sebuah dokumen, sebagaimana dilansir Simple Flying.

Lebih parah lagi, beberapa maskapai yang beroperasi di sini, seperti Avianca Peru, juga tak mendaftarkan pesawat di negara yang berbatasan dengan Ekuador dan Kolombia di utara, Brasil di timur, Bolivia di timur, tenggara, dan selatan, Chili di selatan, dan Samudra Pasifik di barat ini.

Kehadiran maskapai LCC milik negara dipandang penting untuk menyediakan jasa transportasi udara yang murah dan berkualitas. Selain itu, maskapai juga bisa menjadi wadah untuk mendongkrak pariwisata Peru dengan penerbangan codeshare dengan maskapai lain.

Baca juga: Tidak Dibantu Jin, Ini Dia LCC Asal Korea Selatan, Jin Air!

Meski demikian, nampaknya impian pemerintah Peru untuk memiliki maskapai LCC yang dikelola negara tak akan mudah dilakoni. Sebab, Asosiasi Perusahaan Transportasi Udara Internasional (AETAI) tegas menolak rencana itu.

“Apakah tujuan menciptakan lebih banyak kompetensi? Pasar Peru memiliki lima maskapai penerbangan yang berpartisipasi secara aktif dan sudah memiliki dua maskapai penerbangan bertarif rendah (LCC) yang baru-baru ini berkembang. Saya tidak melihat ada gunanya meluncurkan maskapai penerbangan.”

Kereta Mewah “36+3” Meluncur, Lintasi Lima Rute di Kyushu

Japan Railways baru saja meluncurkan kereta mewah terbaru mereka untuk menelusuri lintasan di pulau utama paling selatan Jepang. Kereta mewah ini bernama “36+3” dan belum lama ini bergabung dengan kereta tidur Seven Star di Kyushu dan memiliki lima rute. Kereta mewah tersebut diluncurkan JR Kyushu pada Oktober kemarin dan merupakan kereta listrik seri 787 yang memiliki warna hitam legam.

Baca juga: Java Nacht Express, Layani Jakarta – Surabaya, Inilah Kereta Mewah Pertama di Indonesia

Interiornya pun telah direnovasi sepenuhnya dan dikerjakan oleh desainer yang sama dengan kereta tidur Seven Star di Kyushu. Sebagai kereta mewah, Seven Star hanya memiliki 14 suite dan secara teratur terjual habus beberapa bulan sebelumnya. Kereta mewah 36 + 3 sendiri menawarkan perjalanan sehari semalam dengan lima rute pemandangan berbeda di seluruh Kyushu di mana terkenal dengan mata air panas, bunga azalea di musim semi dan gunung berapi aktif terbesar di Jepang yaitu Gunung Aso.

interior dan destinasi yang dilintasi kereta mewah 36 + 3 di Kyushu (afar.com)

KabarPenumpang.com melansir afar.com (6/11/2020), arti nama kereta ini sendiri yaitu angka “36” berasal dari Kyushu yang merupakan pulau terbesar ke-36 di dunia. Sedangkan “+3” mewakili kereta api, penduduk Kyushu dan pelanggan. JR Kyushu mengatakan, interior kereta 36+3 mirip dengan Seven Star yang mana memiliki enam gerbong dan memadukan gaya klasik Jepang serta Barat modern.

Interior kereta dilengkapi pintu kasa shoji dan jenis kisi khusus yang disebut okawa kumiko berasal dari Prefektur Fukuoka di pulau tersebut. Kereta mewah 36+3 memiliki kapasitas total untuk 105 penumpang. Pada gerbong pertama dan kedua, pelancong akan mendapatkan 13 kompartemen pribadi yang dilengkapi dengan sofa serta meja bergaya barat dan masing-masing bisa memuat hingga enam orang.

Gerbong ketiga merupakan bar tempat minuman dan makanan ringan seperti sake serta masakan lokal Kyushu seperti makanan laut dan wagyu. Pada gerbong keempat merupakan ruang tunggu yang memiliki langit-langit dengan beberapa tempat makan kecil. Di gerbong kelima dan enam menawarkan tempat duduk biasa yang memiliki lantai tikar tatami.

Ini merupakan lantai tikar pertama untuk JR Kyushu yang dibuat dengan rumput ilalang dari Prefektur Kumamoto. Nantinya dengan etiket Jepang, tamu yang duduk di gerbong dengan beralaskan tikar tatami harus melepaskan alas kaki mereka sebelum masuk. Penasaran dengan lima rute yang dilalui kereta mewah ini? kereta beroperasi dari Hakata di utara ke pantai barat pulau di Prefektur Kumamoto yang menawarkan pemandangan spektakuler Laut Cina Timur di sepanjang jalan.

Kemudian kereta melintas selatan pulau dari Kagoshima-Chuo ke Bandara Miyazaki dan berhenti makan siang di Stasiun Osumi Okawara, di mana Anda dapat menikmati pemandangan Teluk Kinko dan gunung berapi Sakurajima. Jalur ini membentang di sepanjang pantai timur Kyushu hingga Beppu, dengan pemberhentian di Kota Saiki sehingga para tamu dapat membeli makanan khas setempat seperti teh hitam yang ditanam di pegunungan dan selai kastanye Jepang.

Setelah meninggalkan Beppu, kereta berangkat melintasi garis pantai utara menantikan pemandangan Teluk Beppu di satu sisi kereta dan pegunungan Prefektur Oita di sisi lain. Terakhir, rute hari Senin membawa wisatawan dari Stasiun Hakata ke kota Nagasaki dengan berhenti di kota bersejarah yang terkenal dengan pabrik sake-nya.

Baca juga: Jepang Tawarkan Paket Wisata dengan Kereta Mewah Yang Ramah Dompet

Untuk menikmati kereta mewah 36+3, tarifnya pun bergantung rute, dan ini sudah temasuk dengan paket makan orang dewasa berkisar 12 ribu yen atau Rp1,6 juta hingga 30 ribu yen atau Rp4 juta.

Belajar dari Ebola, Maskapai Afrika Ini Lebih Siap Hadapi Covid-19

Industri penerbangan kalang kabut menghadapi serangan virus Corona. Bukan hanya pendapatan, dari segi penanganan atau menyikapi wabah tersebut, maskapai penerbangan juga dibuat kalap. Alhasil, tak sedikit maskapai di seluruh dunia yang cenderung telat dalam melakukan pencegahan.

Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Test Corona ke Seluruh Penumpang

Sederhananya, kalau maskapai penerbangan -termasuk bandara- berhasil melakukan langkah-langkah terkait protokol kesehatan dengan cepat dan tepat, bukan tak mungkin sebaran virus Corona di dunia tak sampai separah seperti sekarang ini.

Meski demikian, terdapat beberapa maskapai yang bisa dibilang tanggap dalam menghadapi virus Corona; salah satunya Africa World Airlines (AWA).

Dilansir Simple Flying, AWA memang tak salah bila disebut sebagai salah satu maskapai yang siap dalam menangani Covid-19. Disebutkan, jauh sebelum virus yang diduga berasal dari Wuhan, Cina, itu menjangkiti dunia, maskapai itu sudah melakukan simulasi menghadapi wabah.

Terlebih, simulasi itu bukan dilakukan dengan mata tertutup, melainkan atas dasar pengalaman maskapai asal Ghana itu dalam menghadapi wabah Ebola yang pernah menyebar luas di Afrika Barat sekitar enam tahun lalu.

“Persiapan AWA untuk pandemi sudah ada sejak jauh sebelum Covid-19. Pelajaran dipetik dari wabah Ebola Afrika Barat pada 2014-15 dan memang, Ghana Airports Company Limited melakukan latihan simulasi respons pandemi skala penuh pada Desember 2018 sebagai bagian dari kesiapsiagaan rutin, dimana AWA mengerahkan pesawat dan awak,” kata mantan COO AWA, Sean Mendis.

“Risiko pandemi, apakah Covid atau yang lainnya, adalah kenyataan yang konstan tidak hanya untuk AWA tetapi untuk semua operator di wilayah tersebut. Saya telah mengatakan berkali-kali bahwa maskapai penerbangan Afrika mana pun yang tidak memiliki semacam rencana kesiapsiagaan pandemi sebelum Covid mungkin berhak keluar dari bisnis (bangkrut) karena kelalaian semata,” tambahnya.

Latihan kesiapsiagaan AWA terhadap wabah pun diuji tatkala virus Corona menyebar dengan cepat di penghujung 2019. Tanpa menunggu lebih jauh arahan WHO dan IATA, Africa World Airlines mengaku sudah mulai melakukan pra-screening atau program penyaringan, dengan mengidentifikasi jejak perjalanan penumpang apakah pernah berada di hotspot virus Corona (seperti di Italia dan Cina) atau tidak, pada Januari 2020. Itu AWA lakukan saat maskapai lain tengah pusing mencari cara terbaik menangani virus Corona.

Selain itu, maskapai tersebut juga sudah mulai mendatangkan APD lengkap, seperti hazmat, sarung tangan, disinfektan, masker, dan hand sanitizer. Upaya AWA juga didukung penuh oleh otoritas kesehatan setempat, dengan melakukan kontak tracing dan serta memasang thermal screening di bandara pada gate kedatangan internasional.

Baca juga: Meski Didera Badai Covid-19, Inilah Empat Maskapai Anti Bangkrut! Semuanya dari Asia

Di bulan Februari, AWA sudah mulai mewajibkan seluruh penumpang menggunakan hand sanitizer saat boarding. Memasuki bulan Maret, AWA mewajibkan penumpang menggunakan masker.

Meskipun sempat stop operasi sementara di bulan April, menginjak bulan Mei, maskapai kembali terbang tanpa melayani penerbangan internasional. Sambil menunggu momen itu datang (memulai kembali penerbangan internasional) pada bulan September lalu, AWA terus mengkampanyekan penerbangan aman dari virus, dengan tagline “Fly Safe, Fly Confident!” yang menampilkan contoh-contoh penerapan protokol kesehatan oleh garda terdepan perusahaan, sambil terus melayani penerbangan domestik dan kargo.

JR East Beri ‘Poin Rewards’ Bagi Penumpang yang Naik Sebelum dan Sesudah Jam Sibuk

Membagi alias memecah kepadatan penumpang, selalu menjadi tantangan bagi operator kereta komuter di kota-kota besar. Ditambah pada musim pandemi, keharusan menjaga jarak harus dikedepankan, meski dalam prakteknya sulit dilakukan pada jam sibuk. Dengan mulai masuknya karyawan ke kantor, tantangan membangi kepadatan penumpang bukan soal yang mudah.

Baca juga: Jumlah Penumpang Turun, JR East Kirim Produk Hasil Laut dari Miyagi ke Tokyo dengan Kereta Shinkansen

Karena hal di atas, operator kereta api East Japan Railway Company atau JR East, akan menjalankan poin hadiah (point rewards) selama satu tahun. Poin ini akan mulai diberlakukan sejak musim semi mendatang untuk mempromosikan perjalanan yang saat ini tengah menurun.

JR East akan memberikan poin kepada penumpang yang menggunakan tiket komuter yang tersimpan di kartu uang elektronik Suica. Nantinya poin itu bisa didapatkan penumpang yang menggunakan kereta komuter di luar jam sibuk pada pagi hari kerja.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (12/11/2020), poin bisa didapatkan penumpang dari semua jalur kereta JR East di wilayah metropolitan Tokyo kecuali Shinkansen. Sebelum bisa mendapatkan poin ini, para penumpang harus mendaftarkan kartu uang elektronik Suica mereka dengan layanan JRE Point.

Nantinya poin-poin yang didapat akan dikreditkan saat pengguna melewati gerbang tiket untuk naik kereta sebelum dan setelah jam sibuk pagi hari. Poin ini bisa digunakan untuk membayar perjalanan kereta serta pembelian di toko ritel dalam gedung stasiun serta toko online JR East. Waktu spesifik hari ketika program akan diterapkan akan berbeda dari baris ke baris.

“Kami ingin mencegah jumlah penumpang selama jam sibuk meningkat tajam setelah orang kembali,” kata Presiden JR East Yuji Fukasawa.

Mengenai rencana perusahaan setelah program satu tahun berakhir, Fukasawa mengatakan bahwa JR East ingin mengambil keputusan berdasarkan seberapa banyak program tersebut digunakan. Perusahaan juga akan meluncurkan program yang bermanfaat bagi masyarakat yang tidak menggunakan tiket komuter.

Baca juga: Tingkatkan Keamanan Penumpang Kereta, JR East Akselerasi Instalasi Kamera Pengawas

Mulai Maret mendatang, pemegang kartu Suica tanpa tiket komuter yang melakukan perjalanan dengan tarif yang sama sebanyak sepuluh kali dalam sebulan akan menerima poin yang setara dengan tarif perjalanan tunggal untuk bagian yang sama. Program noncommuter pass akan tersedia untuk semua jalur JR East yang menerima kartu Suica tidak termasuk shinkansen.

Tandai 2 Tahun Menuju Piala Dunia 2022, Pesawat Qatar Airways Gunakan Livery Spesial

Qatar Airways resmi meluncurkan livery khusus gelaran FIFA World Cup 2022 atau Piala Dunia 2022 pada 21 November silam. Livery yang melekat di pesawat Boeing 777-300ER itu menjadi pertanda genap 2 tahun mendatang pesta olahraga sepak bola terbesar sejagat itu akan dimulai, dimana Qatar menjadi tuan rumah dan Qatar Airways sebagai offcial partner sekaligus official airline FIFA.

Baca juga: Sejak Februari 2020, 99,9 Persen Penumpang Qatar Airways Bebas Covid-19

Dari rilis resmi Qatar Airways yang diterima KabarPenumpang.com, saat ini baru ada satu pesawat saja, dengan nomor registrasi A7-BEB, yang menggunakan livery FIFA World Cup 2022. Ke depan, seluruh armada Qatar Airways akan menggunakan livery serupa.

Sebagai satu-satunya pesawat yang menggenakan livery Piala Dunia 2022 di barisan armada Qatar Aiways, pesawat yang berusia enam tahun lebih itu nantinya akan beroperasi secara khusus dengan nomor penerbangan QR095 dan QR096, antara Doha (Qatar) dan Zurich (Swiss), yang notabene menjadi markas besar FIFA.

CEO Qatar Airways Group, Akbar Al Baker, mengatakan, “Kami sangat senang merayakan kemitraan kami dengan FIFA dan status Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA Qatar 2022 dengan memperkenalkan pesawat unik ini ke armada kami sebagai Official Partner dan Official Airline FIFA, kita bisa merasakan kegembiraan yang terbangun dalam dua tahun lagi hingga kita akan menyambut dunia di negara kita yang indah.”

“Kesiapan Qatar untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA Qatar 2022 sangat jelas terlihat. Di Qatar Airways, jaringan kami baru-baru ini diperluas ke 100 tujuan, dan selanjutnya akan berkembang menjadi lebih dari 125 tujuan pada Maret 2021, dengan peningkatan frekuensi yang memungkinkan penumpang untuk bepergian kapan pun mereka mau keliling dunia, dengan aman dan nyaman,” jelasnya.

Baca juga: Qatar Airways Luncurkan Pesawat Ke-100 dengan Super WiFi, Tawarkan Satu Jam Gratis Akses

“Di Bandara Internasional Hamad, Official Airport Partner Piala Dunia FIFA Qatar 2022, persiapan akan peningkatan traffic luar biasa masih dilakukan. Proyek perluasan bandara akan meningkatkan kapasitas menjadi lebih dari 58 juta penumpang setiap tahun pada tahun 2022,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Piala Dunia FIFA Qatar 2022, Hassan Al Thawadi, berharap, “Livery ini (FIFA World Cup 2022) membantu membuat penggemar bersemangat akan prospek terbang ke sini dengan salah satu pesawat ini hanya dalam waktu dua tahun untuk Piala Dunia FIFA pertama di Timur Tengah dan Dunia Arab dan kami menantikan untuk menyambut semua orang yang tiba di Qatar,” ujarnya.

Australia Ciptakan Ambulans Udara eVTOL Paling Efisien di Dunia Bertenaga Hidrogen

Start-up asal Australia, AMSL Aero, akhirnya mulai unjuk gigi terkait proyek ambulans udara all-electric vertical takeoff and landing (eVTOL) bertenaga hidrogen. Perusahaan tersebut, belum lama ini, merilis prototipe ambulans udara mereka, Vertiia, dengan jangkauan terbang hingga 800 km; tergolong jauh dibanding wahana serupa. Tak hanya itu, eVTOL ini juga diklaim sebagai yang paling efisien di dunia.

Baca juga: Uber Elevate Gandeng GE Aviation Guna Wujudkan Taksi Udara eVTOL Ridesharing 2023

Dilansir New Atlas, wahana udara atau ambulans udara yang dilengkapi dengan delapan rotor yang menempel pada dua tiang serat karbon lebar dan membentang dari ekor atas serta depan ini, dikembangkan bersama dengan tim dari University of Sydney, mencakup sistem, spesialis otomatisasi dan sensor.

Kedelapan rotor tersebut bisa berfungsi dalam mode vertikal maupun horizontal, sehingga bisa memudahkan Vertiia lepas landas dan mendarat secara vertikal ataupun sebaliknya, lepas landas dan mendarat secara horizontal, layaknya pesawat komersial pada umumnya.

Selain itu, ambulans udara ini juga dibekali dengan vertical stabilizer -yang juga berfungsi sebagai pengait badan Vertiia dengan tiang karbon- serta flap untuk memasksimalkan aerodinamika pesawat untuk membuat penerbangan jadi lebih efisien.

Di luar fungsinya sebagai ambulans udara, Vertiia juga bisa difungsikan sebagai taksi udara, memuat sekitar dua-empat penumpang dengan jarak jelajah di kecepatan rata-rata 300 km per jam. Lagi-lagi, kemampuan tersebut tergolong cepat dibandingkan dengan kompetitor. Sudahlah cepat, jarak jangkau tergolong jauh, mencapai 800 km, tentu Vertiia patut ditunggu kehadirannya.

Tak cukup sampai di situ, AMSL Aero juga mengklaim Vertiia sebagai eVTOL paling efisien di dunia, berkat dimensi kabin yang kecil dan efektif serta penggunaan serat karbon di hampir seluruh komponennya.

Selain membuat ambulans udara dan taksi udara bertenaga powertrain hidrogen dengan jangkauan terbang sejauh 800 km, AMSL Aero juga membuat Vertiia bertenaga baterai, dengan jarak tempuh mencapai 250 km. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri. Dari segi efektivitas saat men-charge, powertrain hidrogen disebut tak membutuhkan waktu lama, berbanding terbalik dengan versi baterai.

AMSL Aero menargetkan, ambulans udara, yang nantinya akan dioperasikan oleh CareFlight -sebuah perusahaan aeromedis yang ingin menggunakan eVTOL yang bersih dan nyaman ini sebagai ambulans udara- bisa memulai layanan pada 2023 mendatang; tentu setelah eVTOL Vertiia berhasil mendapatkan sertifikasi dari regulator penerbangan sipil Eropa, Australia, dan Amerika.

Baca juga: Terlalu Sesumbar, Peluncuran Taksi Udara eVTOL Skai Bertenaga Hidrogen Akhirnya Molor

Sertifikasi selama ini memang kerap menjadi tantangan terberat start-up produsen taksi udara eVTOL di seluruh dunia. Bukan masalah teknologi atau keamanan penerbangan semata, sertifikasi menjadi sulit untuk dilalui karena biayanya yang cukup mahal.

Akan tetapi, sepertinya itu tak akan menjadi masalah serius bagi AMSL Aero. Belum lama ini, perusahaan tersebut berhasil mendapat kucuran dana sebesar US$2,2 dari Cooperative Research Centres Project serta tambahan dengan nominal serupa dari IP Group.

Satu Tahun Proyek Bandara Jewel Changi, Safdie Architects Rilis Film Pendek

Bandara Jewel Changi Singapura yang sangat futuristik terlihat hampir tidak terasa nyata. Sebab bandara ini setengahnya sebagai pusat perbelanjaan bahkan pusat bandara pun setengahnya taman yang menyediakan sisi hiburan darat 24 jam untuk semua pengunjung.

Baca juga: Megah dan Bertabur Hiburan Mewah, Jewel Bandara Changi Siap Dibuka 17 April 2019

Nyatanya, Bandara Jewel Changi Tak terasa sudah satu tahun hadir untuk menemani pelancong dan penumpang yang transit atau tiba di Negeri Singa ini. Karena hal tersebut Safdie Architects, perang Jewel Changi merilis film untuk merayakan satu tahun proyek tersebut.

Safdie menghadirkan film pendek yang berisi bagian penting dari bandara Singapura yakni air terjun dalam ruangan tertinggi di dunia sebagai bintang utamanya. Selain itu lembah hutan yang mengelilinginya, taman empat lantai yang dipenuhi dengan ribuan jenis tanaman serta pohon.

KabarPenumpang.com melansir dari laman mymodernmet.com (22/11/2020), film pendek empat menit tersebut dibuat oleh Helen Han dengan judul Garden of Wonder. Film ini bisa membuat yang melihatnya seolah berada di sana dan menangkap keanggunan struktural desain dari Safdie.

Bahkan menawarkan sekilas program yang berpusat pada komunitas yang memupuk konektivitas dalam penggunaan normal bandara sehari-hari. Dalam karyanya ini, Helen berfokus pada dimensi eksperiensial arsitektur dan artikulasi serta terungkapnya berbagai narasi melalui berbagai mode representasi.

Helen menjelaskan bagaimana dia berharap dapat menjangkau mereka yang menonton film pendek tersebut.

“Saya menyadari hak istimewa untuk dapat belajar dan terpapar pada profesi arsitektur. Saya menawarkan pekerjaan saya sebagai lensa bersama, untuk mengekspos dan memperluas pemahaman kritis orang-orang terhadap peran arsitektur dalam membentuk lingkungan global,” kata Helen.

Sehingga bagi pelancong mancanegara yang belum menjadikan Bandara Changi Singapura dalam daftar tujuan perjalanan, bisa memasukkannya. Selain menikmati hiburan dari air terjun, pelancong juga bisa berinteraksi di taman, jaring langit dan labirin pagar.

Baca juga: Jewel Changi, Berawal dari Ide Tempat Parkir Kini Menjadi Taman Spektakuler Dalam Ruangan

Diketahui, Bandara Changi Singapura mendapatkan gelar Bandara Terbaik Dunia selama delapan tahun berturut-turut. Safdie Architects adalah biro desain arsitektur yang dimiliki oleh Moshe Safdie, seorang arsitek Israel-Kanada yang lahir pada 14 Juli 1938.  Safdie terkenal sebagai desainer perkotaan, pendidik, ahli teori, dan penulis. Dia paling dikenal dengan merancang Marina Bay Sands dan Bandara Jewel Changi.

Asrama Bersejarah Pramugari ‘Astronot’ Braniff Airways Disulap Jadi Hotel Mewah

Sebuah bangunan bersejarah di AS, Braniff International Hostess College, yang kondang dikenal sebagai bangunan bekas asrama pramugari Braniff International Airways, belum lama ini dialihfungsikan menjadi hotel mewah di Dallas, Amerika Serikat (AS); Hotel Braniff.

Baca juga: Inilah 11 Perbedaan Maskapai Penerbangan Era 70-an dengan Sekarang

Hotel mewah dengan 75 kamar mewah ini nantinya tak akan menghilangkan nuansa atau esensi sejarah dari bangunan itu sendiri. Hotel itu disebut bakal menampilkan tema desain maskapai yang didirikan sejak 1928 dan stop operasi pada Mei 1982 tersebut.

Dilansir thepointsguy.com, asrama yang terletak tak jauh dari jalan tol Dallas North ini didirikan pada tahun 1968. Braniff International Hostess College dirancang oleh firma desain lokal Pierce, Lacey and Associates. Menurut Texas Historical Commission, gedung lima lantai ini menampilkan desain “Mid-century internationalism style” atau dapat diartikan “abad pertengahan gaya internasionalisme.”

“Kain dan karya seni warna-warni dari Meksiko dan Amerika Selatan memberi ruang itu nuansa mod sangat kental,” tulis kritikus arsitektur Dallas Morning News, Mark Lamster pada tahun 2014 silam.

“Bahkan dindingnya sangat seksi, terbuat dari sprayed concrete dibiarkan dalam keadaan kasar yang disengaja tetapi dengan lapisan slick plastic. Profil mereka yang melengkung dibuat secara dramatis oleh lantai travertine hitam,” tambahnya.

Sayangnya, karena berbagai alasan, asrama ikonik maskapai dengan tagline “You can fly with us seven times and never fly the same color twice” tersebut harus dijual pada tahun 1975 atau sekitar tujuh tahun pasca didirikan. Usai dijual, silih berganti, asrama dimiliki empat bos baru hingga akhirnya jatuh ke tangan Centurion American Development Group, pengembang ternama di Dallas.

Hanya saja, sampai saat ini, belum dijelaskan dengan detail akan seperti apa Hotel Dallas bekas asrama pramugari maskapai Braniff International Airways tersebut. Yang pasti, Hotel Dallas ini tak akan menyuguhkan pemandangan pesawat serta suasana bandara, layaknya TWA Hotel, yang notabene terletak di area Bandara Internasional John F. Kennedy, New York, AS.

Seragam pramugari Braniff Airways yang mengenakan helm. Foto: Perpustakaan Eugene McDermott dari University of Texas

Sedikit tentang Braniff International Airways, mungkin tak banyak avgeeks atau pecinta penerbangan saat ini yang sering mendengar. Namun, maskapai ini bisa dibilang sangat terkenal di zamannya. Banyak hal yang melatarbelakangi hal itu, salah satunya seragam pramugarinya.

Dalam sebuah penelusuran mendalam di berbagai sumber, seperti foto-foto yang dipublish oleh Perpustakaan Eugene McDermott dari University of Texas, wajar saja bila seragam maskapai Braniff jadi pusat perhatian. Betapa tidak, seragam pramugari maskapai itu sangat out of the box hingga terlihat seperti seragam astronot.

Baca juga: Nostalgia dengan 5 Peta Jadul Jangkauan Maskapai, Mana Lebih Kreatif?

Bayangkan saja, pakaian pramugarinya adalah dress dengan helm kaca di kepala. Helmnya berbentuk bulat dan bagian tengahnya bolong. Walau memakai helm, rambut para pramugarinya masih dihiasi scarf.

Selain itu, Braniff International Airways juga menyokong tagline aneh yang mendorong pergantian seragam pramugari saat di udara sekitar tahun 1965. Dalam sekali penerbangan, pramugari bisa bergonta-ganti pakaian hingga empat kali. Semua dilakukan semata-mata untuk menghibur pelanggan, khususnya setiap penerbangan jarak jauh. Perancang seragam tersebut pun juga dirancang oleh desainer kenamaan dunia, Emilio Pucci.

Pengamat: Beijing Mau Terapkan ADIZ di Laut Cina Selatan, tapi Takut ASEAN ‘Ngamuk’

Sejak 2010 lalu, Beijing memang telah merancang Air Defense Identification Zone (ADIZ) di Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan (LCS). Di Laut Cina Timur, tepatnya di atas pulau yang diperebutkan antara Jepang dan Cina yaitu Senkaku atau Diaoyu, Beijing sudah menerapkan ADIZ sejak 23 November 2013.

Baca juga: Insiden Penembakan Korean Air 007 Ingatkan Dunia pada ADIZ, Apa Itu?

Meskipun terlihat gagah dengan kekuatan militernya, banyak pengamat menilai pengumuman ADIZ di Laut Cina Timur tidak dibarengi dengan kesiapan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). PLA dianggap tak memiliki kemampuan untuk mendeteksi, melacak, menjaga, dan mengintersep armada musuh. Bila wilayah yang tak seluas LCS saja PLA belum sanggup, bagaimana bisa Beijing berani menerapkan ADIZ di LCS?

Dilansir South China Morning Post, Lu Li-Shih, mantan instruktur Akademi Angkatan Laut Taiwan di Kaohsiung, berujar, saat ini, Beijing masih sibuk membangun dan mengembangkan pulau-pulau buatan di Fiery Cross, Subi, dan Mischief reefs. Semua itu dilakukan dalam rangka persiapan penerapan ADIZ.

“Citra satelit baru-baru ini menunjukkan bahwa Tentara Pembebasan Rakyat telah mengerahkan pesawat pencegat KJ-500 dan pesawat patroli anti-kapal selam KQ-200 di Fiery Cross Reef,” katanya, mengacu pada gambar yang diambil oleh ImageSat International Israel dan Asian Maritime Transparency Initiative di Pusat Kajian Strategis dan Internasional (CSIS), sebuah think tank yang berbasis di Washington, AS.

Gambaran wilayah kedaulatan Cina jika ADIZ jadi diterapkan di LCS. Foto: Centre for International Governance Innovation

Menurut sebuah sumber di PLA, Cina, walau bagaimanapun, tetap tidak akan berani melangkah sampai sejauh itu (menerapkan ADIZ). Sebab, tentu saja hal itu akan merusak hubungan diplomatik Beijing dengan ASEAN serta pertimbangan lainnya. “Beijing ragu untuk mendeklarasikan ADIZ di Laut China Selatan karena sejumlah pertimbangan teknis, politik, dan diplomatik,” katanya.

Senada dengan pendapat di atas, seorang peneliti senior terkait kebijakan publik, Drew Thompson, melihat selama ini negara-negara di ASEAN seperti Vietnam, Filipina, Taiwan, Malaysia, dan Brunei bisa dibilang diam saja dengan klaim Cina atas LCS. Terbukti, proyek pembangunan pulau Pratas, Paracel, dan Spratly serta pulau-pulau lainnya tak sampai berhenti dibuatnya.

Namun demikian, bila Cina sampai menerapkan ADIZ di LCS, lanjutnya, diyakini negara-negara itu, termasuk Indonesia, tidak akan tinggal diam. Terlebih, ada sekutu kuat (Amerika Serikat) yang siap membantu melawan Beijing. Lebih dari itu, bukan tak mungkin negara-negara itu akan bersatu melawan demi kedaulatan negara tanpa harus bergantung dengan AS.

“Deklarasi seperti itu (ADIZ) akan sangat merusak hubungan Cina dengan negara-negara Asia Tenggara, yang sampai sekarang sebagian besar menyetujui ketegasan dan provokasi Cina, termasuk pulau reklamasi dan militerisasi di LCS,” katanya.

“Tetapi jika Cina mendeklarasikan ADIZ, mereka akan dipaksa untuk memilih, bukan antara AS dan Cina, tetapi antara hubungan ekonomi mereka dengan Cina dan kedaulatan mereka sendiri,” tambahnya.

Sekilas tentang ADIZ, mungkin ada yang bertanya, apa itu ADIZ? Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), ADIZ adalah zona bagi keperluan identifikasi dalam sistem pertahanan udara suatu negara, dimana zona tersebut pada umumnya terbentang mulai dari wilayah teritorial negara yang bersangkutan hingga mencapai ruang udara di atas laut lepas yang berbatasan dengan negara tersebut.

Baca juga: AS Kirim Pesawat Mata-mata Berbendera Sipil, Rudal Intai Penerbangan Komersial di Sekitar LCS

Penerapan ADIZ oleh suatu negara tidak dimaksudkan untuk memperluas kedaulatan negara pemilik ADIZ tersebut, namun lebih pada kepentingan pertahanan udara bagi negara pengadopsi.

Dikutip dari Indomiliter.com, jangkauan zona ADIZ bervariasi, tergantung doktrin pertahanan dan supermasi sipil suatu negara; tepatnya antara puluhan hingga ratusan kilometer terhitung mulai dari batas terluar wilayah kedaulatan – sejauh ini tidak ada standar baku.