Inilah Journey, Bus Mewah dengan Interior ala Kondominium

Winnebago yang dikenal sebagai manufaktur kendaraan karavan asal Amerika Serikat, menghadirkan perjalanan bus yang melengkapi penumpang dengan interior seperti kondominium dengan beberapa slide-out, kontrol rumah pintar, home theater, perapian dan berbagai kenyamanan serta kemudahan lainnya. Bus baru bernama Journey ini dibangun dengan sasis dari Freightliner Maxum II XCM yang didukung oleh mesin turbo diesel 380-hp 8,9-L Cummins.

Baca juga: Bus Antar Jemput Ford E-Series ‘Disulap’ Jadi Rumah Mewah

Bila dari luar ini adalah bus RV kelas A khas dengan grafik menukik yang tersedia dalam berbagai warna. Bagian paling menarik dari eksterior adalah sistem hiburan luar ruangan yang meluncur keluar dari salah satu kompartemen penyimpanan yang berbaris di antara as roda.

Interior bus Journey (newatlas.com)

Ini mengemas TV 40-in, sound bar home theater dan subwoofer Bluetooth portabel untuk hari-hari permainan, malam film berbintang dan kebutuhan menonton TV umum. KabarPenumpang.com merangkum newatlas.com (20/11/2020), Journey bukanlah tentang penampilan eksterior yang kisahnya selalu terkuak di dalam pintu dalam hal ini pintu sisi penumpang dengan tangga tarik turun dan tenda khusus.

Kendaraan berukuran 35 kaki atau 10,8 meter ini mengandalkan tiga perosotan untuk membuka interior, dengan dua di antaranya terletak berseberangan tepat di belakang kabin pengemudi. Konfigurasi geser vis-a-vis ini membuka ruang tamu secara dramatis, dan Winnebago menjelaskan bahwa ruang tersebut dirancang untuk mengadakan pesta koktail dan jenis hiburan lainnya.

Di dalamnya menampung bangku penumpang tiga kursi di depan, satu set ruang makan yang dapat diupgrade di tengah dan kulkas 510-L bergaya perumahan di belakang, sebelum masuk ke kamar tidur serta lemari pakaian. Slide-out sisi pengemudi yang lebih pendek ditempati oleh unit kabinet penuh dengan meja panjang yang menampung TV pintar 50-in yang dapat ditarik di depan dan kompor induksi pembakar ganda portabel di sudut belakang.

Sofa terletak tepat di seberang sistem hiburan, yang juga mencakup pengaturan bilah suara. Mereka yang tidak membutuhkan tempat tidur konversi 48 x 74-in yang menjadi bagian tak terpisahkan dengan bangku sofa tiga dudukan dapat memilih sepasang kursi home theater dengan cupholder built-in dan lapang pijakan kaki, menjadikan ruangan ini home theater seluler yang lengkap.

Jika penghuni tidak ingin menonton TV, mereka dapat menurunkannya dan fokus pada pemandangan ke luar jendela dan cahaya dari perapian listrik di bawah meja. Sepasang “chottomans” standar berfungsi sebagai sandaran kaki dan termasuk mengangkat sandaran kursi untuk berfungsi ganda sebagai kursi.

Kamar mandi berada di antara dapur dan kamar tidur belakang adalah desain kering yang terlihat hampir seperti dicabut dari rumah. Kamar mandi mencakup shower pintu kaca dengan tempat duduk, toilet porselen sentral dan wastafel rias yang dikelilingi oleh lemari.

Membuat interior Journey yang besar sedikit lebih kecil dan lebih terhubung, sistem Winnebago Connect menyediakan pemantauan dan kontrol sistem onboard utama dari layar sentuh dan smartphone terpusat. Dengan menggunakan sistem tersebut, penghuni dapat mengatur suhu di sekitar motorhome, menyalakan dan mematikan lampu serta mengoperasikan tenda samping.

Mereka juga dapat dengan cepat mengakses informasi tentang daya baterai, level tangki, status generator, dan lainnya. Modul hidup Journey dilengkapi dengan enam baterai rekreasi siklus dalam, inverter atau pengisi daya 3.000 W dan generator Cummins Onan 8000 W dengan start otomatis.

Ini termasuk AC ganda 15.000 W dengan pompa panas dan pemanas air tanpa tangki Aqua Hot yang dialiri oleh tangki air tawar 397-L. Fasilitas seluruh bus lainnya termasuk antena Winegard Air 360+ RV dengan router WiFi dan kartu SIM AT&T dan pemanas lantai hidronik yang tersedia.

Baca juga: Angkut Penumpang Kereta Secara Acak, Bus Ultra Mewah Yuga Akan Beroperasi 5 Hari di Tokyo

Kabin pengemudi Freightliner memiliki kursi putar dengan penyesuaian daya enam arah dan sistem infotainment 12,3 inci dengan navigasi, kamera warna belakang, dan radio Sirius-XM. Sasis 33.400-lb (15.150-kg) mengendarai suspensi udara. Winnebago memulai debutnya pada 2022 Journey pada acara Road Ahead minggu ini, yang juga memperkenalkan motorhome off-grid Ekko yang baru. Harga akan mulai dari $377.181.

Pesawat Taxiing dengan Dua Mesin, Pilot Qatar Airways Terancam di PHK

Pilot-pilot Qatar Airways terancam mendapat sanksi tegas berujung PHK lantaran kerap taxiing dengan dua mesin. Padahal, standar operasional prosedur (SOP) maskapai mengharuskan (taxiing) hanya dengan satu mesin pasca mendarat. Hal ini dimaksudkan agar penerbangan lebih hemat bahan bakar dan tentu guna menekan biaya operasional.

Baca juga: Tanpa Sadar, Tingginya Frekuensi Penerbangan Giring Pesawat Sipil Lakukan “Elephant Walk”

Sejak akhir September lalu, Chief Flight Operations Officer Qatar Airways, Captain Jassim Al-Haroon, rutin melayangkan teguran keras kepada pilot atas ketidakpatuhan terhadap SOP. Betapa tidak, dari target kepatuhan 95 persen (terkait penggunaan satu mesin saat taxiing), hanya 55 persen pilot yang mematuhi kebijakan tersebut dalam tiga bulan terakhir.

Di masa kritis akibat pandemi virus Corona seperti sekarang ini, upaya penghematan sekecil apapun akan berdampak besar bila dilakukan secara konsisten dan massif. Karenanya, maskapai tak segan-segan menindak tegas pilot yang masih membandel dengan mem-PHK atau sanksi tegas lainnya.

“Karena maskapai ini sedang melewati masa-masa yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat krisis saat ini, saya berharap Anda semua sebagai profesional membuat semua tindakan yang diperlukan untuk menghindari biaya operasional yang tidak perlu,” kata Captain Jassim Al-Haroon, seperti dikutip dari onemileatatime.com.

Selain menghemat bahan bakar dan uang, Qatar Airways menegaskan, taxiing dengan satu mesin juga baik untuk lingkungan (mengurangi emisi karbon dioksida). Upaya mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas penerbangan memang sudah menggeliat di dunia; baik oleh maskapai, bandara, pabrikan mesin, dan pihak-pihak terkait lainnya.

Untuk maskapai, Wizz Air, misalnya, belum lama ini resmi meluncurkan carbon offsetting program atau penggantian kerugian karbon. Program tersebut memungkinkan penumpang untuk memasukkan detail penerbangan, mendapatkan jejak karbon, dan membayar ganti rugi atas karbon yang dihasilkan dari perjalanan mereka. Dana tersebut kemudian disalurkan ke dua proyek carbon-reducing masyhur di dunia.

Program carbon offsetting belakangan memang cukup populer di industri penerbangan global efek dari tingginya keinginan maskapai untuk memerangi emisi CO2. Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia.

Lewat program tersebut, penumpang nantinya akan difasilitasi untuk mengeluarkan sejumlah uang pengganti atas emisi CO2 dihasilkan dari perjalanan mereka. Uang tersebut akan disalurkan Wizz Air ke dua lembaga kenamaan dunia dalam memerangi emisi gas buang, yakni CHOOOSE dan Norwegian Climate Action.

Di kategori bandara, skema Akreditasi Karbon Bandara (ACA) jelas jadi indikasi kuat atas upaya tersebut. Pada 2009 lalu, Airports Council International (ACI) Eropa mengusulkan dibentuknya skema Akreditasi Karbon Bandara (ACA). Tahun 2011, ACA diadopsi oleh bandara-bandara di Asia-Pasifik. Tiga tahun berselang, Amerika Utara dan Afrika menyusul dan mengukuhkan ACA sebagai gerakan global. Saat ini, sekitar 312 bandara terlibat dalam Akreditasi Karbon Bandara.

Baca juga: 5 Kesalahan Populer Pilot Pemula Saat Taxi, Nomor Tiga Butuh Insting Tajam

Di tahun pertama ACA diimplementasikan, penurunan emisi CO2 bisa dibilang sukses. Data menunjukkan, antara Juli 2009 dan Juni 2010, ACA berhasil membebaskan atmosfer dari CO2 sebanyak 56.633 ton, setara dengan jumlah CO2 yang diserap dari sekitar 399 hektar hutan.

Di periode antara Juli 2018 dan Juni 2019 hasilnya lebih menakjubkan lagi. Gerakan ACA berhasil membebaskan sebanyak 322.297 ton CO2 atau setara dengan emisi yang dibutuhkan untuk memberi daya 767 juta jam streaming video HD.

AirAsia Bantu Penumpang di Masa Pandemi Melalui Chatbot WhatsApp

Bagaimana kabar AirAsia di masa pandemi ini? Sepertinya maskapai asal Malaysia tersebut mulai mengembangkan berbagai hal untuk memudahkan pelanggan mereka menikmati perjalanan menuju ke destinasi meski masih dalam masa pandemi Covid-19. Maskapai yang memiliki dominasi warna merah tersebut baru-baru ini meluncurkan chatbot virtualnya yakni AirAsia Virtual Allstar atau AVA.

Baca juga: Singapore Airlines Hadirkan Chatbot di Laman Facebook

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber futuretravelexperience.com (30/11/2020), chatbot ini ada pada aplikasi perpesanan populer WhatsApp. Chief Customer Happiness Officer Adam Geneave mengatakan kepindahan tersebut sangat tepat waktu dengan rekor jumlah tamu yang mencari dukungan akibat Covid-19.

“Di AirAsia, kami terobsesi dengan tamu. Kami juga merupakan perusahaan yang progresif dan dipimpin secara digital dan Virtual Allstar AVA kami menawarkan layanan pelanggan berstandar tinggi melalui kecerdasan buatan,” kata Geneave.

Dia menyebutkan, AVA sudah menangani jutaan kasus setiap tahun di platform lain seperti Facebook, aplikasi milik AirAsia dan airasia.com, jadi sangat masuk akal untuk membuatnya tersedia di WhatsApp di mana terdapat lebih dari dua miliar pengguna di seluruh dunia.

“Tahun ini penuh tantangan bagi seluruh industri penerbangan dan lebih penting dari sebelumnya bahwa tamu kami merasa didukung dan didengar serta dapat menghubungi kami melalui mode komunikasi pilihan mereka. Seperti halnya teknologi baru, kami terus belajar dan beradaptasi dan AVA menjadi semakin baik dari waktu ke waktu. Saat ini, lebih dari 80 persen kasus pelanggan berhasil dikelola oleh AVA, dan sisanya ditransfer ke Agen Langsung yang membantu secara langsung,” jelas Geneave.

Dalam menggunakan chatbot ini, penumpang bisa langsung ngobrol dengan AVA di WhatsApp atau mengunjungi situs AirAsia. Layanan chatbot tersebut tersedia 24/7 dan para tamu harus mengetik ‘hai’ untuk memulai percakapan.

Baca juga: AirAsia X Vs Scoot Vs Jetstar, Siapa yang Terbaik?

AVA adalah Virtual Allstar AirAsia, sebuah bot yang mampu menjawab pertanyaan dari pelanggan secara instan dalam sebelas bahasa yakni Inggris, Malaysia, Thailand, Indonesia, Vietnam, Korea, Tagalog, Hindi, Jepang, Cina Sederhana dan Cina Tradisional.

Tahun lalu, AirAsia dianugerahi FTE Asia 2019 Silver Award untuk Best Passenger Experience Initiative untuk aplikasi AVA-nya.

Stasiun Kedundang di Yogyakarta, Punya Arsitektur Bersejarah Tinggi

Berada di Daerah Operasional (Daop) 6 Yogyakarta, Stasiun Kedundang merupakan stasiun kelas III atau kecil. Stasiun ini berada di ketinggian +11 meter di atas permukaan laut. Letaknya berada di paling barat Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di Kulon Progo.

Baca juga: Pasang Tarif Rp30 Ribu, KA Bandara YIA Resmi Beroperasi Hingga Stasiun Wojo

Meski bernama Stasiun Kedundang, lokasinya tidak terletak di desa Kedundang tetapi di sebelah utara desa tersebut yang berbatasan langsung dengan stasiun. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Stasiun Kedundang, berada di lintas antara Stasiun Wates dan Stasiun Wojo.

Pada masa beroperasinya, stasiun ini berfungsi sebagai stasiun perilangan antara kereta api di masa menggunakan jalur rel tunggal. Dari kabar yang beredar, Stasiun Kedungdang dibangun antara tahun 1876 – 1887 oleh perusahaan kereta api negara pemerintah Hindia Belanda atau Staatsspoorwegen.

Karena peninggalan Belanda, stasiun ini memiliki ciri khas desain atap dan lubang ventilasi berbentuk bulat. Bahkan bentuknya mirip dengan Stasiun Sukoharjo, Stasiun Winongo, Stasiun Palbapang dan Stasiun Bantul.

Stasiun Kedundang lama bercorak khas era Perumka yang memiliki beberapa ruangan seperti tuang tunggu penumpang, penjualan tiket, ruang kepala stasiun dan PPKA yang tampaknya dibangun belakangan karena bentuk bangunannya berbeda dengan bentuk asli.

Sayangnya pada 21 Juli 2007 lalu, stasiun ini dinonaktifkan untuk efisiensi setelah dibukanya jalur ganda lintas Yogyakarta menuju ke Kulon Progo. Namun jelang dibukanya Bandara Kulon Progo atau Bandara Internasional Yogyakarta, Stasiun Kedundang mulai direnovasi.

Renovasi dilakukan pada bangunan lama stasiun beserta fasilitas dan rumah dinas kecuali gardu persinyalan blok intermediet yang sudah dirobohkan karena terkena dampak pembangunan jalur baru stasiun menuju ke YIA. Renovasi tersebut mencakup ruang tunggu dan keberangkatan kereta di lantai dua, tempat transit, wajah depannya, dan tempat jual-beli tiket.

Untuk artsitekturnya tidak akan diubah lantaran sarat nilai historis tinggi. Proses pengaktifan kembali stasiun Kedundang saat ini masih dalam tahap administrasi, tapi diyakini tidak akan butuh waktu lama penyelesaiannya. Targetnya rampung tahun 2020. Jadi untuk sementara, akses kereta ke bandara NYIA akan memakai stasiun Wojo.

Baca juga: Sempat Jadi Tempat Persusulan Kereta, Stasiun Wojo Direaktivasi Untuk Transit Kereta Bandara

Jika telah selesai direnovasi, langkah selanjutnya adalah membangun sub stasiun di Solo dan di sisi utara stasiun Tugu, juga pemasangan jaringan listrik di atas perlintasan rel. Penggunaan listrik ini dinilai akan lebih efektif operasionalnya ketimbang kereta Prameks yang menjadi kereta komuter Solo-Yogya.

Jalur Metro Panama 3 Sepanjang 34 km dan Menjadi Proyek Terbesar Sejak Perluasan Terusan Panama

Proyek Metro Panama mengembangkan jalur monorel sepanjang 34 km untuk Metro Panama 3 dan ini akan menjadi proyek terbesar di negara tersebut sejak perluasan Terusan Panama. Nantinya jalur tersebut akan menghubungkan provinsi Panama Oeste dan provinsi Panama.

Baca juga: 60 Tahun Beroperasi, Monorail di Kebun Binatang Ueno Tokyo Harus Pensiun

Kehadirannya akan mengurangi setengah waktu perjalanan rata-rata dari 90 menit menjadi 45 menit. Selain itu, sistem monorel ini akan menjadi yang pertama di Amerika yang menggunakan teknologi Jepang. KabarPenumpang.com melansir railway-technology.com, fase pertama proyek tersebut menghubungkan Albrook ke sektor Ciudad del Futuro.

Sedangkan di fase kedua akan diperpanjang hingga La Chorrera. Setelah beroperasi, diharapkan mampu melayani 20 ribu penumpang di setiap arah selama jam sibuk dengan waktu tunggu empat menit antar kereta. Untuk tahap kedua, diharapkan akan melayani 32 ribu penumpang tahun 2050.

Jalur Metro Panama 3 akan dikerjakan lebih dari 5000 pekerja termasuk 800 pekerja lokal selama pengembangan. Harapannya adalah pertengahan tahun 2025, jalur akan menguntungkan lebih dari 500 ribu penduduk di Panama Oeste. Pada fase satu jalur ini akan menjadi jalur monorel setinggi 25 km dan mengurangi kemacetan pusat kota yang juga akan meningkatkan jaringan transportasi melintasi daerah pegunungan curam di kawasan tersebut.

Di jalur Metro 1, kereta akan berangkat dari Stasiun Albrook yang melintas Arraijan kemudian ke Jalan Pan America dengan beberapa perhentian sebelum tiba di Stasiun Ciudad del Futuro. Tahap satu juga akan mencakup pembangunan fasilitas pemeliharaan dan penyimpanan di Ciudad del Futuro.

Jalur tersebut akan melewati terowongan yang dibangun di bawah Terusan Panama dan ditetapkan untuk menjadi yang pertama di bawah kanal, terowongan sepanjang empat kilometer akan memiliki diameter 13 meter dan akan terletak di kedalaman lebih dari 50 meter.

Tahap pertama dari proyek monorel jalur ganda layang baru akan mencakup 14 stasiun. Setiap kereta akan membagi pengoperasian jalur menjadi dua sirkuit, sirkuit timur untuk rute Albrook-Nuevo Chorrillo sepanjang 17,5 km dan sirkuit lengkap untuk rute Albrook-Ciudad del Futuro sepanjang 25,85 km.

Pengembangan lainnya akan mencakup pembangunan fasilitas pejalan kaki dan perbaikan area pertemuan di sekitar stasiun. Rolling stock untuk Panama Metro jalur 3 akan memiliki 28 rangkaian kereta yang terdiri dari enam kereta yang masing-masing menawarkan kapasitas seribu penumpan.

Kereta ini akan menjadi monorel jenis straddle besar yang dibangun menggunakan paduan aluminium. Sistem B-CHOP (Energy Storage for Traction Power Supply) Hitachi akan digabungkan untuk memanfaatkan energi regeneratif kereta. Sehingga secara substansial akan mengurangi konsumsi energi dari seluruh sistem rel dengan menghasilkan energi regeneratif saat kereta dalam mode pengereman.

Ini akan memangkas emisi CO2 serta menyediakan energi untuk digunakan di masa depan dan kereta akan memiliki sistem kontrol otomatis untuk mencegah tabrakan, bersama dengan sistem pengawasan dan keamanan. Untuk pembangunan jalur Metro Panama 3, pemerintah Panama dan Jepang menandatangani perjanjian perdana senilai $2,6 miliar pada April 2016 untuk mendukung pembangunan jalur metro baru.

Perjanjian tersebut juga mencakup kerjasama teknis yang tidak dapat dikembalikan hingga $350 ribu untuk menyewa seorang manajer proyek. Pendanaan diatur oleh Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) atas nama Pemerintah Jepang. Pinjaman ini berjangka waktu 20 tahun dengan 14 tahun amortisasi, enam tahun masa tenggang, dan tiga tahun untuk pencairan.

Konsorsium HPH yang terdiri dari Hyundai Engineering and Construction, POSCO, dan Hyundai Engineering ditunjuk sebagai kontraktor utama untuk proyek tersebut pada Oktober 2020. Hitachi dan Mitsubishi adalah sub-kontraktor, yang bertanggung jawab untuk menyediakan sarana perkeretaapian dan sistem operasi terintegrasi.

Baca juga: Permudah Transportasi Urban, Tiongkok Bangun Rel Kereta di Apartemen

Hitachi, Hitachi Rail, dan Mitsubishi menandatangani kontrak senilai $883 juta dengan konsorsium HPH pada Oktober 2020. Hitachi dan Hitachi Rail akan memasok pusat kendali, sistem tenaga listrik, sistem persinyalan, sistem telekomunikasi, gerbang platform, dan peralatan halaman untuk monorel, sementara Mitsubishi akan mengatur urusan administrasi. Nippon Koei dan anak perusahaannya Tonichi Engineering Consultants akan menyediakan layanan manajemen proyek.

Jepang dan Cina Berlomba Dalam Teknologi Kereta Berkecepatan Tinggi

Jepang dan Cina selalu berlomba dalam teknologi kereta berkecepatan tinggi dan kali ini jenis baru yang melayang serta melaju dengan cepat. Kereta leviasi magnetik atau dikenal dengan maglev, ini adalah kereta yang menggunakan magnet kuat untuk meluncur di jalur bermuatan listrik dengan kecepatan super cepat.

Baca juga: JR Central Luncurkan Maglev di Jalur Eksperimental dengan Kecepatan 500 Km Per Jam

Beberapa kereta maglev jarak pendek dan eksperimental sudah beroperasi di dua negara itu. Namun Jepang dan Cina saat ini berlomba mengembangkan kereta maglev jarak jauh pertama di dunia. Central Japan Railway Co., memiliki proyek maglev senilai sembilan triliun yen yang diharapkan menghubungkan Tokyo dan Osaka tahun 2037. Sedangkan Cina memiliki proyek on-again, off-again senilai 100 miliar yuan dan beroperasi antara Shanghai dengan kota pelabuhan timur Ningbo.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari techxplore.com (25/11/2020), nilai kereta maglev lebih mahal karena sebagain besar jumlah penggalian diperlukan untuk membuat terowongan yang melintas pedesaan pegunungan. Nantinya jika Jepang dan Cina berhasil meluncurkan proyek maglev jarak jauh dengan tepat, ini akan memberikan keduanya kesempatan untuk mengekspor teknologi tersebut.

“Teknologi maglev memiliki potensi ekspor yang sangat besar, dan proyek domestik China dan Jepang seperti jendela toko tentang bagaimana teknologi itu dapat berhasil diterapkan di luar negeri,” kata Christopher Hood, seorang profesor di Universitas Cardiff.

Jepang, pencipta kereta peluru pertama di dunia, atau shinkansen, telah lama menjadi pemasok utama untuk proyek kereta cepat global. Mantan Perdana Menteri Shinzo Abe menargetkan ekspor infrastruktur termasuk teknologi kereta api berkecepatan tinggi sebagai papan utama pertumbuhan ekonomi.

Namun selama dekade terakhir, Cina sering kali bersedia memasok suku cadang dan tahu cara yang lebih murah, telah mengejar ketinggalan. Pada 2015, pemasok Jepang kalah dari saingan Cina dalam upaya membangun kereta api berkecepatan tinggi pertama di Indonesia dari ibu kota Jakarta ke Bandung di Jawa Barat.

Jepang akhirnya diminta untuk bergabung kembali dengan proyek tersebut setelah mulai menghadapi penundaan yang signifikan. Jepang diketahui merupakan “saingan kuat” dalam mengembangkan kereta peluru reguler dan maglev berkecepatan tinggi. Jalur maglev yang akan menghubungkan pusat keuangan Shanghai dan Ningbo, melalui Hangzhou, adalah bagian dari rencana pemerintah provinsi Zhejiang Cina untuk menyuntikkan tiga triliun yuan untuk membangun jalur kereta api provinsi.

“Ada perasaan bahwa di dunia teknologi, Jepang semakin tertinggal di belakang Cina, jadi jika bisa mewujudkan teknologi baru ini terlebih dahulu, itu akan menjadi masalah kebanggaan nasional yang sangat besar,” kata Hood.

Dia menunjuk pada pengembangan prototipe kereta berkecepatan tinggi baru-baru ini di Cina yang dapat berjalan di pengukur trek yang berbeda, sesuatu yang telah coba dikuasai Jepang dengan berbagai tingkat keberhasilan selama beberapa tahun. Pada tahun 2016, pemerintah Abe menyetujui pinjaman senilai tiga triliun yen untuk membantu JR Central mendanai jalur maglev Chuo Shinkansen, yang mengakibatkan tanggal akhir proyek dipindahkan ke tahun 2037 dari tahun 2045.

Meski begitu, pembangunan tersebut menghadapi sejumlah tantangan. yang dapat menyebabkan penundaan, termasuk penolakan dari pemerintah prefektur yang prihatin tentang dampak lingkungan jalur tersebut.

“Kami melakukan segala upaya untuk mengaktifkan dan menjalankan Shinkansen Chuo secepat mungkin,” kata Yuri Akahoshi, juru bicara JR Central.

JR Central menjalankan tes di jalur sepanjang 43 km di prefektur Yamanashi barat daya Tokyo, di mana keretanya secara rutin mencatat kecepatan operasi lebih dari 500 km per jam. Salah satu negara tempat JR Central ingin mengekspor teknologi maglevnya adalah AS, tempat mereka bekerja dengan mitra untuk meletakkan dasar bagi jalur maglev yang akan menghubungkan Washington DC dan New York, dengan biaya sekitar $10 miliar untuk DC pertama ke kaki Baltimore saja.

Jika dibangun, kereta akan memotong waktu perjalanan antara hub menjadi satu jam dari tiga saat ini dan membuatnya lebih cepat daripada terbang. Pemerintah Jepang telah menjanjikan dukungan finansial beberapa miliar dolar untuk proyek pantai timur AS dan JR Central mengatakan tidak berencana untuk membebankan biaya lisensi untuk teknologi tersebut.

“Pihak berwenang “mendukung penuh” proyek tersebut karena “pentingnya untuk perluasan luar negeri dari sistem kereta api Jepang,” kata Akahoshi dari JR Central.

Baca juga: Dengan Maglev, Cina Siap Buktikan Perjalanan 2200 Km Hanya Butuh Waktu 2 Jam!

Maglev jarak pendek milik negara yang menghubungkan Bandara Internasional Pudong Shanghai ke kota dan yang dimulai pada tahun 2002 telah berjuang untuk menghasilkan keuntungan, kehilangan lebih dari satu miliar yuan pada tahun-tahun awalnya. Label harga Chuo Shinkansen Jepang yang lumayan juga dipertanyakan di tengah pandemi virus corona, yang menurut survei dapat secara permanen mengubah kebutuhan perjalanan bisnis antara pusat-pusat utama.

“Yang penting adalah proyek mana yang lebih mampu menjustifikasi biayanya. Itu lebih penting daripada siapa yang sampai di sana lebih dulu,” kata analis infrastruktur Bloomberg Intelligence Asia, Denise Wong.

Tenda Kubus Carsule Berikan Sensasi Berkemah di Mobil

Mobil van banyak sekali yang sudah dimodifkasi dengan perlengkapan kemah. Sehingga memudahkan pemiliknya untuk menikmati alam ketika mereka berlibur ke pinggir pantai atau di kaki gunung untuk menikmati kesejukan yang alami untuk melepaskan penat di kota.

Baca juga: Kantung Laundry Mudahkan Pengendara Mobil Meletakkan Masker Kotor

Namun bagaimana dengan mobil biasa yang juga ingin berkemah dan tidak memiliki tenda atau tidak mumpuni? Belum lama ini hadir kabin Pop-Up Carsule untuk mobil yang tidak bisa diubah untuk berkemah. Pop-Up Carsule ini membantu pemilik mobil menikmati rasa petualangan di alam.

Kabin ini bukan hanya sekedar tenda untuk tidur, tetapi bisa untuk bersantai dan menikmati pemandangan alam disekitar. Ini seperti tenda namun berbentuk kubus dan cukup mudah untuk dipasangkan ke mobil.

KabarPenumpang.com melansir laman newatlas.com (24/11/2020), agar bisa berdiri kokoh, tenda ini bisa dipasang pada bagian belakang mobil dan tidak perlu orang banyak karena hanya membutuhkan lima menit serta satu orang yang mendirikannya. Desainnya pun cukup simpel dengan segel adaptif.

Carsule dapat dipasangkan ke berbagai model mobil. Tenda ini dibuat dengan bahan kain yang tahan air, tahan ultra violet, memungkinkan ruang terkena sinar matahari langsung, hujan maupun angin. Tinggi tenda kubus ini sekitar 6,5 ​​kaki atau 1,9 meter dengan area lantai yang nyaman.

Bahkan bagian lantainya pun terlindungi dengan baik dan juga dilapisi karpet tebal. Hal ini akan membuat penggunanya merasa nyaman di mana pun tenda didirikan untuk menikmati alam tersebut.

Meski berbentuk kubus, tenda ini dilengkapi dengan jendela layar multiguna dua lapis, tali penegang langit-langit, kelambu terintegrasi, dan batang perakitan ringan. Dengan menggunakan tenda kubus tersebut, Anda seperti membuat tenda pribadi dengan apa pun aktivitas yang bisa dilakukan selama di ruangan tersebut.

Membutuhkan perubahan pemandangan dari tampilan karantina biasa Anda? Kabin Pop-Up Carsule untuk Mobil Anda dapat membantu Anda mencapai rasa petualangan, meskipun itu hanya di jalan masuk Anda.

Baca juga: Mobil Otonom May Mobility Mengular dengan Proteksi Anti Covid-19

Kabin Pop-Up Carsule untuk Mobil Anda menawarkan perlindungan terbaik yang Anda butuhkan saat bepergian. Harga untuk tenda kubus ini mendekati $400 atau sekitar Rp5,6 juta. Mulailah mengerjakan pekerjaan Anda saat bepergian, atau rencanakan petualangan Anda berikutnya bersama keluarga dekat dengan kabin yang nyaman dan portabel ini.

Sabuk Keselamatan Tiga Titik Jadi Standar dan Lebih Aman untuk Penumpang Bus

Sabuk keselamatan atau seat belt di Indonesia untuk standar keamanan bus adalah dua titik dan ini diatur dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) angkutan penumpang. Tetapi nyatanya dengan sabuk pengaman dengan model tiga titik justru memberikan keamanan yang lebih lagi.

Baca juga: Sabuk Pengaman Model “V,” Lambang Supremasi Teknologi Volvo

Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Ahmad Wildan mengatakan, posisi paling depan atau belakang harus menggunakan sabuk pengaman tiga titik. Dia menjelaskan, bahwa posisi depan dan belakang tersebut memungkinkan penumpang terlempar saat bus berhenti mendadak sehingga di kursi bagian depan harus menggunakan sabuk pengaman tiga titik.

Di Indonesia sendiri ternyata Karoseri Laksana pernah membuat sabuk pengaman tiga titik namun untuk diekspor ke Fiji bukan untuk domestik. Karoseri Laksana membuat sabuk pengaman tiga titik hanya di bagian depan dan kursi lainnya menggunakan dua titik.

Meski begitu, KabarPenumpang.com yang merangkum dari berbagai laman sumber mendapatkan bahwa Volvo menyebutkan sabuk pengaman tiga titik merupakan persyaratan mutlak di semua mobil, truk dan sebagaian lagi di bus. Manajer Keselamatan Peter Danielsson di Volvo Buses mengatakan, dalam uji roll over penuh dengan crash dummies tanpa sabuk, sabuk pengaman dua titik dan tiga titik, hasilnya adalah pengguna sabuk pengaman tiga titik mengalami cedera yang lebih sedikit.

Dikutip dari volvobuses.com, Peter menambahkan, bahwa pentingnya sabuk pengaman tiga titik harus jelas terutama dalam hal perjalanan antarkota dan jarak jauh di mana kendaraan melaju dengan kecepatan lebih tinggi. Dia menyebutkan, bus Volvo  terus mengadvokasi penumpang hingga menjadi fitur standar.

Dikatakan Peter, saat ini di Eropa, lebih dari 60 persen bus Volvo dijual dengan sabuk pengaman tiga titik dan Skandinavia 100 persen.

“Bus Volvo baru-baru ini melakukan survei ke tujuh negara di Eropa dengan total 6000 penumpang. Satu pertanyaan berkaitan dengan penggunaan sabuk pengaman di dalam bus. Dari penumpang Swedia delapan diantara sepuluh menjawab bahwa mereka menggunakan sabuk pengaman secara teratur. Di Italia angka yang sama di mana tiga dari sepuluh. Ada kebutuhan penting untuk meningkatkan penggunaan sabuk hingga 100 persen. Karena kebanyakan orang selalu menggunakan sabuk pengaman di mobil penumpang, mengapa kami tidak menggunakannya di bus?” kata Peter.

Baca juga: Sabuk Pengaman Ternyata Sudah Ada Sejak 1800-an

Tak hanya itu, bus sekolah di California pun menghadirkan sabuk pengaman tiga titik. Di mana ada pernyataan yang mengesahkan undang-undang yang mengharuskan bus sekolah baru dilengkapi dengan sabuk pengaman tiga titik. Persyaratan California mulai berlaku pada Juli 2004 untuk bus sekolah kecil dan pada Juli 2005 untuk bus sekolah besar.

Avions Mauboussin Luncurkan Pesawat STOL Hibrida-Hidrogen Pertama di Dunia

Produsen pesawat legendaris asal Perancis, Avions Mauboussin, dilaporkan bakal reborn sekaligus rebrand. Belum lama ini, pabrikan yang pernah eksis memproduksi lima jenis pesawat mulai 1935 hingga 1948 tersebut meluncurkan rancangan pesawat STOL (short take-off and landing) hibrida-hidrogen (hybrid-hydrogen) pertama di dunia.

Baca juga: ATR 42-600S – Jawara Terbang di Atas Pegunungan dengan Kemampuan STOL

Dari keterangan resmi perusahaan, dewasa ini, pesawat atau wahana udara dengan kemampuan VTOL (vertical take-off and landing) memang jadi salah satu yang merajai jagat pemberitaan dunia (terkait inovasi teknologi transportasi). VTOL memungkinkan taksi udara untuk melakukan pendaratan ataupun lepas landas di tempat-tempat dengan landasan sempit, seperti di atap gedung dan lain sebagainya, layaknya helikopter.

Setelah mencapai di ketinggian jelajah, sumber tenaga (rotor) taksi udara berpindah mode dari vertikal menjadi horizontal untuk memungkinkan penerbangan jadi lebih cepat dan efisien.

Hanya saja, diakui atau tidak, VTOL menuntut taksi udara untuk menghasilkan daya dorong ke bawah yang kuat agar membuatnya bisa naik atau mempertahankan ketinggian. Di situlah STOL mengambil celah untuk tetap mendapat tempat di pasaran.

Meskipun tak bisa terbang ke atas dan ke bawah secara vertikal, pesawat STOL menjadi menarik karena hanya butuh landasan pacu pendek. Itu berarti, pesawat STOL mampu beroperasi di bandara-bandara terpencil atau bandara perintis di pusat kota sekalipun selama memiliki landasan pacu yang memungkinkan.

Avions Mauboussin saat ini sedang mengerjakan dua pesawat dengan kemampuan STOL. Pertama adalah Alérion M1h, pesawat dua seat yang digarap bersama dengan tim dari Université de Technologie de Belfort-Montbéliard, bersama tim dari perusahaan lainnya.

Alérion M1h dirancang menggunakan motor listrik untuk lepas landas dan mendarat (menjaga agar tak terlalu bising di bandara-bandara kecil di pusat kota), dan beralih ke mesin internal combustion engine berbahan bakar hidrogen saat mulai menjelajah.

Powertrain ini (suatu sistem yang meneruskan tenaga atau power dari engine sampai ke penggerak akhir atau final drive), dengan didukung rangka pesawat dari bahan serat komposit yang ringan, diproyeksi mampu menjangkau beberapa ratus kilometer di kecepatan jelajah pada kisaran 250 km per jam.

Kedua adalah Alcyon M3c, pesawat berkapasitas lima penumpang, memiliki jangkauan 1.500 km dan kecepatan jelajah 370 km per jam. Sebagaimana M1h, M3c akan lepas landas dengan powertrain hibrida dan kemudian beralih ke tenaga hidrogen.

Baca juga: Mobil Terbang KleinVision dengan Desain Sayap Gawang Sukses Terbang Perdana

Baik M3c ataupun M1h, keduanya akan dilengkapi dengan lima baling-baling; baling-baling ganda di kanan dan kiri sayap serta satu di depan. Baling-baling ganda di ujung kedua sayap dimaksudkan untuk memulihkan energi yang hilang di pusaran ujung sayap (wingtip vortex).

Alérion M1h versi hibrida ditargetkan bakal melakukan penerbangan perdana (first flight) pada 2022 mendatang, diikuti penerbangan perdana versi hidrogen dua tahun setelahnya. Adapun Alcyon M3c baru akan menyusul dan melakukan penerbangan perdana pada 2026 mendatang.

Inilah Metode Jaga Jalur Kereta Tetap Aman Meski di Masa Pandemi

Sebanyak lebih dari 26 sistem pengukuran geometri track otonom ENSCO Rail di seluruh dunia menjaga kelangsungan operasi inspeksi jalur selama Covid-19, membantu perkeretaapian mengidentifikasi kerusakan lebih awal dan meningkatkan keamanan dan efisiensi jaringan rel. Meski begitu perekeretaapian menghadapi dua tantangan utama dalam hal keberhasilan mengidentifikasi risiko penggelinciran, perkeretaapian menghadapi dua tantangan utama.

Baca juga: Rail Bicycle, Mudahkan Petugas Kereta Api Lakukan Inspeksi Pada Jalur Rel

Di mana yang pertama adalah menjadwalkan aktivitas jalur penting dalam waktu jalur terbatas tanpa memengaruhi layanan pendapatan dan yang kedua yakni menyelesaikannya sesuai anggaran. Perkeretaapian terus menerus ditugaskan untuk menemukan cara-cara kreatif untuk mengidentifikasi risiko tergelincir dan pemeliharaan yang diperlukan tanpa menyita waktu dari gerbong-gerbong pendapatan.

Hal ini bisa dilakukan karena integrasi teknologi canggih seperti inspeksi otonom, kecerdasan buatan dan analitik data besar. Ini menawarkan peluang yang belum pernah ada sebelumnya untuk efisiensi perencanaan dan penghematan biaya pemeliharaan yang signifikan dengan mengintegrasikan teknologi ini di seluruh rangkaian pemantauan aset dan perencanaan pemeliharaan mulai dari inspeksi trek dan pengumpulan data hingga tren kondisi dan pemeliharaan preskriptif berbasis data serta teknisi pemeliharaan kereta api mencapai peningkatan keselamatan dan lebih sedikit gangguan layanan pendapatan.

Saat ini, sistem inspeksi otonom menyediakan inspeksi yang andal dan sepenuhnya otonom yang dipasang pada gerbong penumpang dan barang yang beroperasi dalam layanan pendapatan. Salah satu keuntungan paling signifikan dari teknologi inspeksi otonom adalah bahwa setiap pergerakan kereta induk menawarkan peluang untuk mengevaluasi jalur, memungkinkan inspeksi yang lebih sering tanpa menghabiskan waktu trek oleh kendaraan inspeksi khusus.

Penggunaan teknologi inspeksi otonom dapat menghasilkan deteksi kerusakan jalur lebih awal, memungkinkan praktik pemeliharaan bersifat preventif daripada reaktif. Hal ini pada akhirnya mengurangi risiko keluarnya jalur terkait trek dan menurunkan biaya per inspeksi.

KabarPenumpang.com mengutip railway-news.com (24/11/2020), ENSCO Rail, pelopor dalam penelitian, pengembangan, dan pengiriman teknologi pengukuran dan inspeksi lintasan, telah mengembangkan Autonomous Track Geometry Measurement System (ATGMS). ATGMS menggunakan teknologi pengukuran non-kontak digital penuh terbaru yang digunakan oleh ENSCO Rail di semua sistem geometri track berawak tradisionalnya.

Pengukuran dilakukan setiap 250 mm, hingga kecepatan maksimum kendaraan, dan dapat dilakukan di kedua arah. ATGMS menyediakan transmisi data pengukuran meter demi meter secara real-time, serta pemrosesan pengecualian sesuai dengan kelas trek yang ditentukan secara otomatis.

Satu tantangan inheren yang dihadapi oleh sistem pengukuran lintasan otonom tradisional adalah bahwa kondisi atau fitur lintasan tertentu dapat meniru kerusakan, padahal kondisi lintasan normal. Untuk mengatasinya, ENSCO Rail mengembangkan algoritme kecerdasan buatan canggih.

Dengan mengambil pendekatan proaktif untuk pemeliharaan dan perencanaan aset dapat menghasilkan penghematan yang signifikan dengan mengurangi analisis data kondisi manual dan pengeluaran pemeliharaan yang tidak perlu. Teknologi kondisi aset baru yang mengandalkan kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, dan analisis data menawarkan potensi pengurangan biaya pemeliharaan yang signifikan setiap tahun sambil meningkatkan kapasitas operasional melalui penerapan tugas pemeliharaan yang akurat.

ENSCO Rail Automated Maintenance Advisor (AMA) secara otomatis mengidentifikasi area dengan kinerja track yang buruk, menentukan tren penurunan kondisi track dan menerjemahkan data tersebut ke dalam tugas perawatan preskriptif, menghasilkan perencanaan pemeliharaan track yang proaktif dan berdasarkan data serta keputusan pemeliharaan yang baik dan efisien.

Baca juga: Petugas Keamanan Sita Lokomotif yang Tewaskan Dua Ekor Gajah di India

Seiring dengan berkembangnya kemampuan deteksi kerusakan lintasan dan analisis perangkat lunak generasi berikutnya, teknologi ini akan mengoptimalkan pemeliharaan kereta api dan perencanaan pembaruan, mengurangi risiko melalui identifikasi kerusakan lintasan lebih awal, dan meningkatkan keamanan jaringan rel.