Misteri Hilangnya Monolit di Utah, Dicuri Alien?

Otoritas Keamanan Utah pada 18 November lalu sempat dipusingkan dengan kehadiran monolit, sebuah logam berkilau (reflektif), di sebuah kawasan ‘Planet Mars’ di Bumi. Bagaimana tidak pusing, monolit itu tidak diketahui secara persis siapa pemiliknya dan apa tujuannya.

Baca juga: Sisa Tsunami Jepang 2011, Muncul Misteri Penumpang Hantu di Taksi

Misteri kehadiran monolit secara mendadak pun jadi perbincangan hangat di masyarakat. Dalam sekejap, para ‘ahli’ temporer pun buka suara. Di antara mereka, teori yang paling masyhur, apalagi kalau tidak berkenaan dengan alien. Namun, tentu saja itu tidak empiris dan perlu diteliti secara mendalam.

Sebagian lainnya menduga monolit, yang secara teknis merupakan ciri geografis yang terbuat dari batu, sedangkan benda yang ditemukan ini tampaknya terbuat dari logam, dibuat oleh manusia dan strukturnya seperti sengaja ditanam, bukan jatuh dari langit dan tertancap di wilayah yang masuk ke dalam teritorial kota Moab, Utah, Amerika Serikat (AS).

Akan tetapi, belum juga terungkap misteri kehadiran monolit, belum lama ini, monolit dilaporkan hilang secara tiba-tiba. Lagi-lagi, alien diduga menjadi dalang dibalik ini. Namun, kuat diduga, logam berdiri tegak di tanah merah yang ditemukan saat helikopter tengah memantau domba “bertanduk besar” di bagian tenggara Utah itu dicuri oleh manusia, bukan alien.

Dilansir MSN, Biro Pengelolaan Lahan (BLM) di Utah mengatakan bahwa monolit tersebut diambil oleh orang atau kelompok yang tidak dikenal pada Jumat malam.

BLM tidak mengambil monolit yang diduga milik pribadi itu. Para pejabat mengatakan mereka tidak tahu siapa yang meletakkan monolit tersebut dan masih bingung siapa yang memasangnya di sana. Tempat yang sebelumnya terdapat monolit, saat ini diisi oleh tumpukan bebatuan.

Ketika ditemukan beberapa waktu lalu, benda aneh itu dijuluki ‘monolit’, meskipun berbentuk logam dan berlubang, sebagai penghormatan kepada ‘2001: A Space Odyssey’ Stanley Kubrick. Sementara teori yang lebih populer mengklaim bahwa benda tersebut adalah tipuan pemasaran, aksi publisitas, instalasi seni, atau lelucon.

Tetapi para backpacker dan pemburu sensasi yang berbondong-bondong ke daerah itu percaya bahwa benda tersebut dicuri dan bukan diambil oleh pemiliknya yang sah.

Baca juga: Misteri Kecelakaan Air India Tahun 1966 yang Tewaskan Tokoh Penting Mulai Terkuak, Ada Campur Tangan CIA

Bahkan, Riccardo Marino dan Sierra Van Meter, sepasang pejalan kaki yang mengaku sebagai orang pertama yang tiba di tempat kejadian, mengatakan bahwa yang tersisa di lokasi penemuan benda itu hanyalah pesan yang berbunyi “bye b*tch”.

Terlepas dari perdebatan monolit misterius di Utah itu buatan manusia atau alien, pun demikian, hilang dicuri manusia atau alien, kota Moab, yang dipenuhi dengan formasi batuan merah yang unik, mirip sebuah wilayah kuno, seperti Namanya (Moab) yang memang diambil dari sebuah kerjaan kuno yang saat ini terletak di Yordania, jadi makin ramai dikunjungi para traveler lokal maupun internasional.

Apa yang Terjadi Bila Pesawat Melesat di Kecepatan Supersonik?

Sejak pesawat supersonik Concorde pensiun pada 2003 silam, saat ini, belum ada satupun pesawat komersial yang didesain untuk beroperasi dalam kecepatan supersonik. Sekalipun menawarkan jarak tempuh yang lebih cepat, produsen pesawat pada umumnya belum menemukan titik terang bahwa pesawat supersonik nyaman untuk melayani penumpang.

Meski demikian, gong perlombaan pabrikan di dunia untuk menghidupkan kembali pesawat supersonik telah dipukul. Tercatat, perusahaan-perusahaan seperti NASA, Tesla, Virgin Galactic, serta Aerion sudah mulai memamerkan desain pesawat supersonik mereka yang diproyeksi bakal beraksi beberapa tahun mendatang.

Baca juga: Lolos Tes Terowongan Angin, Pesawat Supersonik Ramah Lingkungan Aerion Kian Nyata

Terlepas dari perlombaan itu, sebetulnya, apa yang akan terjadi bila sebuah pesawat melesat dalam kecepatan supersonik?

Dilansir Simple Flying, sebuah pesawat dikatakan sebagai supersonik saat melesat kencang melebihi kecepatan suara (Mach 1) atau sekitar 1.236 km per jam. Pesawat supersonik Concorde rata-rata melesat sampai Mach 2,04 atau sekitar 2.180 km per jam; jauh lebih cepat dari kecepatan suara. Oleh karenanya, tak heran bila saat beroperasi Concorde dan pesawat supersonik lainnya menciptakan efek sonic boom.

Di antara berbagai masalah yang timbul saat pesawat supersonik mengudara, sonic boom menjadi yang terbesar. Sonic boom atau ledakan sonik di beberapa negara bahkan diatur ketat, sehingga sulit melihat (bila tak ingin disebut mustahil) sebuah pesawat -sekalipun mampu melesat melebihi suara- terbang di kecepatan supersonik.

Aturan terkait sonic boom diperkenalkan oleh Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) untuk pertama kali pada tahun 1970-an, tak lama setelah Concorde mengudara. Sebagai bagian dari The Aircraft Noise Abatement Act, Concorde dilarang terbang dengan kecepatan melebihi Mach 1 di atas daratan AS atau dalam jarak tertentu di lepas pantai.

Akan tetapi, pada Maret tahun ini, FAA mulai mengendurkan kebijakan itu dengan meninjau kembali proposal pesawat supersonik. Langkah tersebut disinyalir sebagai sebuah sinyal kuat FAA akan mengizinkan pesawat supersonik melesat di langit AS ataupun paling tidak kembali mengudara beberapa tahun mendatang.

Kendatipun ditentang banyak pihak, seperti aktivis lingkungan dan The International Council on Clean Transportation, dimana pesawat supersonik diklaim menggunakan bahan bakar enam kali lebih banyak dari pesawat komersial konvensional, FAA sepertinya tetap akan terus maju. Gencarnya proses pengembangan pesawat supersonik dari berbagai pihak, termasuk lembaga yang berafiliasi dengan pemerintah (NASA), menjadi dasar kuat akan hal itu.

Baca juga: Keren, Tesla Akan Buat Pesawat Supersonik Pengganti Concorde Bertenaga Listrik

Dewasa ini, berbagai pihak memang tengah berlomba memproduksi pesawat supersonik. Belum lama ini, pesawat dari pabrikan asal Amerika Serikat (AS) itu dikabarkan berhasil melewati uji terowongan angin atau wind tunnel testing. Dengan begitu, desain pesawat futuristik dengan bahan bakar ramah lingkungan ini dinyatakan aman dan bisa melanjutkan ke tahap pembuatan komponen pada 2022 dan proses perakitan pada 2023 untuk membuatnya jadi nyata.

Sebelumnya, Virgin Galactic dikabarkan bakal memproduksi pesawat supersonic. Perusahaan milik Sir Richard Branson, konglomerat asal Inggris yang juga pemililk maskapai Virgin Atlantic dan Virgin Australia itu, telah mendapat dukungan teknologi dari Rolls Royce (berkenaan dengan mesin) dan NASA (berkaitan dengan desain pesawat supersonik).

107 Tahun Lalu, Ford Mulai Rakit Mobil Model T Secara Massal dengan Moving Assembly Line

Pabrikan otomotif Amerika Serikat, Ford memperkenalkan perakitan mobil pertama mereka untuk di produksi massal seluruh mobilnya pada 1 Desember 1913 yang bernama “moving assembly line”. Adanya inovasi perakitan ini memberikan efisiensi waktu untuk membuat sebuah mobil.

Baca juga: Tenda Kubus Carsule Berikan Sensasi Berkemah di Mobil

Henry Ford yang merupakan pemilik Ford mengatakan, pada awalnya sebelum ada inovasi baru, merakit sebuah mobil membutuhkan waktu 12 jam. Sehingga kehadiran sistem perakitan baru ini akan mampu memangkas waktu menjadi dua jam 30 menit untuk merakit sebuah mobil.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, sebelum abad ke-20, pembuatan mobil dan kendaraan lain merupakan proses yang rumit karena tiap unit dibuat secara manual. Sebab mobil di masa itu tetap menjadi sesuatu yang eksklusif karena tak semua orang bisa memilikinya.

Bahkan harga menjadi sesuatu yang dipertimbangkan dalam membeli mobil. Mobil T menjadi mobil pertama Ford Motor Company yang diperkenalkan ke publik tahun 1908 yang juga disebut dengan Tin Lizzie. Mobil model ini hanya tersedia untuk orang kaya Amerika Serikat mengingat biaya produksi yang tinggi.

Di masa itu harga mobil sekitar $850 ada sebuah keinginan untuk memperbanyak produksi mobil dari Henry Ford. Salah satunya adalah menurunkan harga mobil dengan cara membuatnya lebih cepat dan efisien. Model-T segera menjadi mobil dengan permintaan yang luar biasa dari berbagai segmen masyarakat.

Dalam tiga tahun, harga biaya model T turun drastis menjadi sekitar $300 pada 1926 dan permintaan menjadi sangat banyak. Antara 1913 dan 1927, lebih dari 15 juta mobil model T diproduksi. Jalur perakitan bergerak menandai titik balik dalam pertumbuhan era industri, baik di AS dan tempat lain di dunia.

“Satu-satunya sejarah yang sangat berharga adalah sejarah yang kita buat hari ini,” kata Henry.

Hampir setengah dari semua mobil di Amerika pada tahun 1918 adalah Model T karena mudah dikendarai dan perawatannya murah. Sukese dengan Model T, Ford dan putranya, Edsel, memperkenalkan Model A, yang membuat Ford Motor Company tumbuh menjadi raksasa industri.

Baca juga: “Nose Team,” Hadir Sebagai Spesialis Pengendus ‘Bau’ di Mobil Baru

Ford juga terkenal karena visinya yang revolusioner terhadap pekerjanya, pembuatan mobil murah yang dibuat oleh pekerja terampil yang bekerja selama lima hari seminggu dan mendapat upah tetap, dengan 40 jam kerja seminggu.

Robot Katering Mudahakan Pelayanan Udara KLM

Makanan atau in flight meals, menjadi salah satu layanan yang ada dalam sebuah penerbangan jarak jauh. Namun, bagaimana pembuatan makanan tersebut selama masa pandemi Covid-19? Ternyata salah satu maskapai Belanda yakni KLM kini menggunakan teknologi robot untuk membuat makanan yang disajikan di pesawat.

Baca juga: Gandeng Hyundai Robotics, Restoran KFC Gunakan Robot untuk Goreng Ayam

Bahkan belum lama ini robot produksi makanan ICA M-class (Economy Class) di KLM Catering Service (KCS) tersebut baru saja dibuka dan diresmikan oleh CEO KLM Pieter Elbers. Di mana teknologi robot ini akan memproduksi makanan untuk penumpang di kelas ekonomi.

KabarPenumpang.com melansir dari laman futuretravelexperience.com (29/9/2020), kehadiran teknologi robot baru tersebut dengan latar belakang pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini. Elber menyebutkan, KCS akan menyediakan layanan katering untuk KLM ROyal Dutch Airlines.

Tak hanya itu, dirinya mengaku bahwa pihak KLM tidak pernah bisa membayangkan kesulitan tersebut pada saat keputusan diambil beberapa tahun lalu. Elber menjelaskan, dengan robot ini, maka produksinya juga dua kali lipat dibanding sistem sebelumnya, yakni 30 ribu unit.

“Ini mewujudkan inovasi dan investasi hebat di masa depan. Kami sekarang hanya menggunakan sebagian kecil dari kapasitas 30 ribu makan sehari. Meskipun demikian, saya senang kami telah mengambil langkah ini. Bagaimanapun, kita harus terus berinovasi dan melihat ke masa depan terutama sekarang!” ujar Elbers.

Sistem robotik baru mengurangi biaya penanganan dan mempermudah proses penyesuaian pada baki makanan. Hal ini tidak hanya membuat produksi lebih murah, tetapi juga lebih fleksibel dan berorientasi pelanggan karena lebih banyak jenis produk dapat ditutup pada berbagai jenis baki.

Bahkan robot juga memungkinkan untuk memenuhi berbagai permintaan khusus secara efisien. Maarten Stienen, Managing Director, KCS mengatakan, hal tersebut penting untuk berinovasi dan berintegrasi pada masa-masa sulit ini.

Baca juga: Hindari Tatap Muka, Bandara Incheon Korsel Kerahkan Robot Canggih Pengukur Suhu dengan Sederet Kemampuan

Stienen menambahkan, bahwa hal tersebut berfungsi untuk meningkatkan kualitas produk mereka.

“Saya sangat bangga bahwa KCS adalah satu-satunya perusahaan katering di dunia yang menerapkan mekanisasi seperti itu,” ujar Stienen.

TransJakarta Lengkapi Seluruh Halte di 13 Koridornya dengan WiFi Tanpa Bayar dan Batas Kuota

PT Transportasi Jakarta atau TransJakarta sebelumnya sudah menyediakan WiFi tanpa bayar disepanjang Koridor 1. Kemudian TransJakarta memperluasnya dan hari ini, pada Selasa (1/12/2020) TransJakarta menghadirkan WiFi bekercepatan tinggi tanpa bayarnya di seluruh halte pada 13 koridor TransJakarta. Selain tanpa bayar, WiFi ini juga bisa digunakan oleh penumpang tanpa batas kuota.

Baca juga: Ini Dia Empat Fitur Baru di Aplikasi “Tijeku” TransJakarta

Direktur Utama TransJakarta Sardjono Jhony Tjitrokusumo mengatakan, WiFi ini didukung dengan kapasitas sebesar lima GigaByte Bandwith secara total di tahun 2020. Dia menyebutkan, dengan kapasitas sebesar ini, fasilitas WiFi tersebut memiliki kecepatan atau speed yang sangat tinggi mencapai 20 Mbps

Menurutnya, fasilitas WiFi berkecepatan tinggi tanpa bayar dan tanpa batas kuota dapat digunakan secara instan tanpa harus melakukan registrasi karena aksesnya terbuka. Untuk menggunakan ini, pelanggan TransJakarta hanya perlu mengaktifkan WiFi di ponsel pintar masing-masing yang kemudian menghubungkan pada TIJE High Speed WiFi.

Lalu, pelanggan langsung dapat menikmati internet kecepatan tinggi tanpa bayar dan tanpa batas kuota di seluruh halte TransJakarta. Jhony menyebutkan, adanya fasilitas WiFi tanpa bayar dan tanpa batas kuota tersebut akan aktif selama masa jam layanan halte.

Sehingga memastikan seluruh pelanggan selama jam-jam layanan operasional Transjakarta dapat menikmati akses konektifitas internet bekecepatan tinggi tanpa bayar dan tanpa batas kuota. Ia menambahkan TransJakarta berencana meningkatkan kapasitas bandwidth akan dinaikan menjadi 10 GBps di 2021 untuk mendukung performa layanan WiFi di seluruh halte Transjakarta.

“Peningkatan akan terus dilakukan seiring bertumbuhnya jumlah pelanggan sehingga kualitas layanan kecepatan internet bagi pelanggan Transjakarta tetap stabil dan terjaga. Selain itu, fasilitas WIFI berkecepatan tinggi tanpa bayar dan tanpa batas kuota akan memudahkan pelanggan Transjakarta untuk mengunduh aplikasi Tije. Serta membeli Tiket QR pun menjadi lebih mudah di semua lokasi halte Transjakarta,” ujar Jhony.

Kadishub DKI Jakarta Syafrin Liputo mengharapkan agar hanya penumpang yang bisa menggunakan WiFi tersebut. Dia menyebutkan, inovasi ini luar biasa dan peningkatan akan dilakukan TransJakarta dilakukan seiring bertumbuhnya jumlah pelanggan.

Baca juga: LinkAja Resmi Jadi Pembayaran Non Tunai Pertama di TransJakarta

Direktur Eksekutif Transformasi Digital Tekonologi Informasi Transjakarta Gidionton Saritua menambahkan, WiFi hanya bisa digunakan di dalam halte saja. Bahkan jaringan akan lebih kuat bila di dalam halte dan kalaupun hingga keluar beberapa meter dari halte, jaringannya akan menurun dan berselancar menggunakan internet tidak akan efektif.

“Dalam penggunaan WiFi tanpa bayar dan tanpa batas kuota, tidak ada batasan banyaknya gadget yang digunakan dalam mengakses jaringan tersebut,” ujar Gidi melalui zoom meeting persemian WiFi di Halte Harmoni, Selasa, (1/12/2020).

Ada Patung Ekor Paus, Kereta Metro Belanda Tersangkut dan Masinis Selamat dari Maut

Sebuah kereta metro Belanda selamat dari kecelakaan setelah menabrak penghalang. Untungnya kereta ini tidak jatuh ke air yang jaraknya sepuluh meter dari lokasi kejadian, tetapi berhenti dan tertahan di patung ekor ikan paus.

Baca juga: Berselisih Karena Tak Kenakan Masker, Penumpang Kereta Terkena Semprotan Merica

Dilansir KabarPenumpang.com dari france24.com (2/11/2020), untungnya pada waktu kejadian hanya ada masinis tanpa penumpang di dalamnya. Masinis tersebut tidak terluka dan insiden terjadi tepat setelah tengah malam di Spijkenisse dekat kota Pelabuhan Rotterdam.

“Ini adalah skenario yang aneh. Metro keluar dari rel dan mendarat di sebuah monumen bernama Diselamatkan oleh Ekor Paus. Jadi itu benar-benar terjadi. Karena ekor ikan paus, pengemudi benar-benar diselamatkan, sungguh luar biasa,” kata Carly Gorter dari otoritas keamanan regional Rijnmond.

Karena hal ini, masinis dibawa pihak kepolisian untuk diinterogasi dan ini adalah prosedur yang normal. Sedangkan penyebab kecelakaan tersebut masih terus diselidik oleh pihak kepolisian. Patung ini dibangun sekitar 20 tahun yang lalu di sebuah taman di bawah metro yang ditinggikan, namanya permainan yang disengaja karena merupakan “jalur ekor” di ujung jalur.

Ini menampilkan dua ekor paus besar yang menyembul dari air, salah satunya menyelamatkan kereta. Bahkan insiden ini membuat arsitek yang merancangnya yakni Maarten Struijs, terkesan karena bisa menahan beban kereta dan bahwa pengemudi beruntung dia tidak bertabrakan dengan paus lain yang lebih tinggi.

“Jika ekor ini tidak terlalu kuat, tidak terlalu rendah, maka pengemudi kereta metro akan melompat sepuluh meter ke bawah dan kemudian menurut saya dia tidak akan selamat,” kata Struijs.

Struijs mengatakan patung itu tidak dirancang sebagai fitur keselamatan.

“Itu tidak dibuat untuk menyelamatkan metro, karena ini lebih untuk lingkungan dan orang-orang ingin memiliki sesuatu untuk diri mereka sendiri. Jadi kami membuat dua ekor ikan paus ini untuk mereka, sebagai monumen,” jelasnya.

Penduduk setempat yang terpana ternyata memaksa untuk melihat pemandangan aneh itu sedemikian rupa sehingga pihak berwenang setempat mendesak mereka untuk menjauh dan mengamati langkah-langkah jarak sosial virus corona. Sebuah tim layanan darurat dan ahli, termasuk arsitek, sekarang berada di lokasi untuk mencari cara bagaimana cara melepas kereta dengan aman.

“Masalahnya ada air di sekitarnya, jadi crane tidak bisa ke sana. Berapa lama waktu yang dibutuhkan, kami sebenarnya belum begitu tahu saat ini. Saya tidak menebak-nebak hari ini jadi mungkin masih ada besok. Kami memiliki banyak angin saat ini dan itu salah satu masalah yang kami hadapi, itu risiko dan kekhawatiran,” kata Gorter.

Baca juga: Hari ini, 52 Tahun Lalu, Kecelakaan Kereta di Ratu Jaya Depok Tewaskan 116 Penumpang

Sementara itu, Struijs mengatakan kereta metro yang ditangguhkan di udara adalah semacam karya seni itu sendiri.

“Saya tidak pernah membayangkannya seperti itu,” katanya.

Stasiun Jepang Tanpa Petugas, Penyandang Disabilitas Terancam Kesulitan Bepergian dengan Kereta

Buntut dari Jepang yang kekurangan tenaga kerja, memang mendorong teknologi otomatisasi dalam beragam industri. Namun, tak semuanya membawa berkah, sebagai buktinya para penyandang disabilitas serta lansia, termasuk yang kerepotan saat akan naik kereta api, pasalnya hampir setengah dari stasiun kereta di Jepang sudah tak lagi menempatkan petugasnya sejak tahun 2019.

Baca juga: Kekurangan Tenaga Kerja, Jepang Canangkan Operasional Shinkansen Tanpa Masinis

Ini termasuk sepuluh persen stasiun di prefektur Tokyo dan Osaka menurut data dari Kementerian Tanah, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang. Dilansir KabarPenumpang.com dari mainichi.jp (30/11/2020), bahkan jumlah stasiun tanpa petugas cenderung lebih tinggi di daerah pedesaan, namun yang lebih parahnya lagi stasiun tanpa petugas justru semakin banyak di daerah perkotaan di mana pengguna kereta lebih banyak.

Adanya hal ini kemudian berdampak pada kehidupan sehari-hari para penyandang disabilitas yang menggunakan kereta api dan membutuhkan bantuan saat naik dan turun dari kereta. Karena hal ini, pemerintah Jepang berencana untuk merumuskan pedoman yang menentukan bagaimana operator kereta api dalam menangani masalah tersebut.

Angka-angka tersebut menandai pertama kalinya kementerian mengungkapkan data tentang stasiun tanpa pekerja menurut prefektur. Ada 9.465 stasiun kereta api di seluruh negeri pada akhir tahun fiskal 2019 dan 48,2 persen di antaranya atau 4.564, beroperasi tanpa satu pun staf stasiun. Sementara jumlah stasiun kereta api secara keseluruhan di Jepang menurun sebanyak 49 dari akhir tahun fiskal 2001, jumlah stasiun tak berawak tumbuh sebesar 444 dan meningkatkan persentase stasiun semacam itu di negara tersebut sebesar lima poin selama 18 tahun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa rasio stasiun tanpa petugas meningkat secara nasional. Prefektur Kochi memiliki rasio stasiun tak berawak tertinggi, yaitu 93,5 persen, dengan 159 dari 170 stasiunnya tidak memiliki petugas. Itu adalah satu-satunya prefektur di Jepang yang melampaui 90 persen.

Persentase stasiun tanpa petugas cukup rendah di wilayah Kanto dan Kansai di Jepang bagian timur dan barat. Namun, 9,9 persen stasiun di Tokyo, yang merupakan prefektur terpadat di Jepang, dan 16 persen di prefektur Kanagawa dan Osaka, yang masing-masing merupakan prefektur terpadat kedua dan ketiga, tidak ada petugas.

Meski begitu ada 19 stasiun di prefektur paling selatan Okinawa, di mana hanya monorel yang beroperasi, memiliki petugas. Penurunan stasiun berawak berasal dari memburuknya kinerja bisnis di antara perusahaan kereta api karena jumlah pengguna kereta turun seiring dengan penurunan populasi Jepang.

Stasiun di daerah pedesaan mengalami penurunan populasi yang signifikan berada di bawah tekanan untuk merampingkan operasi mereka. Perampingan telah menyerukan pembentukan pedoman bagi perusahaan kereta api tentang masalah ini.

Baca juga: Mules Saat Kereta Terakhir, Siswa di Jepang Terkunci di Toilet Stasiun

House of Councilors memberikan contoh ketentuan yang akan dimasukkan dalam pedoman dalam resolusi tambahan ketika undang-undang aksesibilitas transportasi yang direvisi diberlakukan pada bulan Mei. Ini termasuk penempatan pengasuh permanen bagi penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan dan persiapan platform yang memungkinkan penyandang disabilitas yang tidak membutuhkan bantuan untuk naik dan turun kereta sendiri.

Atur Jarak Sosial, Pengemudi Taksi Dudukkan Manekin di Kursi Depan Penumpang

Banyak cara untuk menjaga jarak sosial antara penumpang dengan pengemudi taksi konvensional maupun online. Selain menggunakan masker, mereka juga memasang pembatas atau partisi yang dibuat dari plastik antara bilik pengemudi dengan penumpang di belakangnya.

Baca juga: Taksi di Selandia Baru Gunakan Kode QR Guna Lacak Penumpang yang Terinfeksi Covid-19

Bahkan beberapa pengemudi juga benar-benar memproteksi diri mereka dengan menutup kursi pengemudi dengan pembatas sehingga penumpang masih bisa duduk di kursi depan. Namun, demi menjaga jarak sosial di masa pandemi Covid-19, ada hal unik lain yang buat oleh pengemudi taksi.

Ya, salah satunya yang dilakukan oleh pengemudi taksi online asal Turki. Di mana pengemudi tersebut menempatkan sebuah boneka manusia atau yang biasa disebut manekin di kursi depan penumpang sebelah kursi pengemudi.

Dilansir KabarPenumpang.com dari hurriyetdailynews.com (20/11/2020), pengemudi ini bernama Hakan Atilgan yang tinggal dan mengoperasikan taksinya di provinsi barat laut Düzce, Turki. Dia sengaja mendudukkan manekin tersebut di kursi depan penumpang dan melengkapinya dengan masker untuk menutupi hidung serta mulut untuk menunjukkan protkol kesehatan.

Atilgan mengatakan, dengan kehadiran manekin dan penggunaan masker selama berkendara tersebut, dirinya bahkan mendapat tanggapan dari para pelanggannya. Meski begitu, penumpang yang naik taksi secara berkelompok tidak menyukai pengaturan tempat duduk yang baru tersebut.

Dia menyebutkan bahwa, kursi depan sangat berisiko untuk diduduki penumpang. Sebab, orang terkadang bersin dan setiap orang yang berada di dalam mobil akan menghirup virus yang keluar dari mulut mereka.

Sehingga Atilgan mengatakan, dengan adanya manekin tersebut menjadi tindakan pencegahan awal sebelum terjadi hal yang tak diinginkan.

“Setiap orang peduli dengan kehidupan mereka sendiri. Itu sebabnya saya ingin warga peka tentang ini. Saya ingin mereka melindungi diri mereka sendiri dan kami sebanyak yang kami bisa, ”katanya.

Baca juga: Sebarkan Senyum Pada Pelanggan, Pengemudi Taksi Gunakan Kostum Badut

Tenzile Koç, pelanggan tetap Atılgan, menyatakan kepuasannya atas tindakan tersebut. Meskipun dia mengatakan dia suka bepergian di kursi penumpang depan sepanjang waktu, dia yakin beberapa kebiasaan harus diubah karena Covid-19.

Telat Bayar Motor Didatangi Debt Collector, Maskapai Telat Bayar Utang Juga Didatangi?

Di dunia otomotif, telat membayar kendaraan -motor maupun mobil- umumnya pengguna atau terhutang sudah hampir pasti bakal didatangi oleh debt collector. Namun, bagaimana dengan maskapai penerbangan? Terlebih, di tengah pandemi virus Corona seperti sekarang ini, sudah pasti banyak maskapai yang terseok-seok untuk membayar utang. Akankah juga mengalami nasib serupa dengan dunia otomotif?

Baca juga: Dinilai Krusial Bantu Kesuksesan Maskapai, Berikut Daftar 5 Leasing Pesawat Terbesar Di Dunia

Terkait hal ini, praktisi hukum leasing dan keuangan pesawat, Hendra Ong, berpendapat bahwa maskapai penerbangan tidak akan didatangi oleh debt collector atau sejenisnya. Meski demikian, lessor tentu akan mencari cara bagaimana lessee atau debitur membayar utang.

Di samping itu, sebelum asset (pesawat) diberikan, lessor biasanya juga sudah mewanti-wanti maskapai bilamana terjadi gagal bayar ataupun default. Dengan begitu, langkah-langkah yang ditempuh lessor sudah sangat jelas tanpa perlu debt collector; sekalipun bila memungkinkan tetap dibutuhkan perpanjangan tangan lessor untuk mengikuti prosedur hukum di negara tempat lessee bernaung.

“Seperti yang saya sampaikan, asset ini sangat mahal sekali, puluhan juta US Dollar. Itulah diperlukan suatu dokumentasi sebelum pesawat diserahkan kepada penyewa itu sudah didokumentasi dimana ketika terjadi default, maka perusahaan lessor ataupun leasing itu dapat menarik kembali asset,” jelas lawyer yang juga partner dari firma hukum Dentons HPRP itu, saat ditemui KabarPenumpang.com, Senin (30/11), di Wisma 46, Jakarta.

Umumnya, bila maskapai sudah tak mampu membayar kewajiban utang, ada tiga skenario yang bisa ditempuh. Pertama, maskapai penerbangan akan mendapatkan bantuan dari lessor untuk mengatasi masalah keuangan mereka, seperti mengubah suku bunga tetap, periode bunga, perpanjangan sewa, atau pengiriman kembali pesawat ke lessor lebih awal, dan skenario lainnya.

Kedua, maskapai penerbangan dianggap lalai terkait pembayaran setelah kegagalan mereka untuk mengamankan bantuan dari lessor. Ketiga, maskapai penerbangan memasuki periode kebangkrutan, suka atau tidak suka.

Khusus untuk skenario kedua dan ketiga, bila hal itu terjadi, maka pesawat otomatis harus kembali ke tangan lessor. Secara umum, lessor dapat mengambil kembali fleet dari tangan maskapai dalam rentang waktu 10 hari. Namun, bila maskapai tidak kooperatif serta menolak untuk menyerahkan pesawat dan atau dokumen pesawat ke lessor maka bila lessor ingin menempuh jalur hukum, prosesnya mungkin bisa memakan waktu tiga tahun.

Dalam prakteknya, lessor hanya memiliki tiga pilihan, menempuh jalur hukum lewat pengadilan asing, arbitrase internasional, atau pengadilan tempat dimana lessee atau debitur berada, dalam hal ini Indonesia. Di antara ketiga pilihan tersebut, biasanya lessor lebih senang menempuh jalur hukum melalui arbitrase internasional.

Baca juga: Lion Air Digugat 9 Leasing Pesawat Rp189 Miliar, Pengamat: Tak Ada Iktikad Baik Bayar Utang

Beruntung, Undang-Undang Kebangkrutan Indonesia mengatur untuk menengahi perseteruan antara lessor dan lessee. Disebutkan, seorang debitur (dalam bentuk perusahaan yang didirikan atau bertempat tinggal di Indonesia) yang memiliki dua kreditur atau lebih dan gagal membayar setidaknya satu hutang yang telah jatuh tempo dan harus dibayarkan akan dinyatakan bangkrut melalui keputusan pengadilan, baik atas permintaannya sendiri atau atas permintaan satu atau lebih krediturnya.

Dengan begitu, secara hukum, debitur kehilangan haknya untuk mengendalikan dan mengelola asetnya termasuk dalam kebangkrutannya pada tanggal di mana deklarasi kebangkrutan diucapkan asalkan jika perusahaan masih memenuhi fungsi itu. Kemudian, biaya yang dapat menyebabkan pengurangan aset kebangkrutan akan menjadi di bawah wewenang kurator atau penerima (kreditur).

Studi Terbaru: Teknologi 5G Bahayakan Radar Altimeter Pesawat Sipil

Studi terbaru oleh Radio Technical Commission for Aeronautics (RTCA), mitra penerbangan swasta-publik yang memberi masukan kepada Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA), memperingatkan bahwa teknologi 5G dapat menimbulkan risiko besar atau gangguan berbahaya terhadap radar altimeter pesawat sipil.

Baca juga: Pernah Dengar Cara Kerja Radar Cuaca di Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum

Dilansir robbreport.com, makalah tersebut dirilis bulan lalu menyusul persetujuan oleh Komisi Komunikasi Federal (FCC) terhadap provider telekomunikasi untuk menggunakan spektrum frekuensi 3,7-3,98 GHz. Keputusan ini dinilai berbahaya mengingat spektrum tersebut biasa digunakan oleh pesawat sipil.

Jika sistem telekomunikasi 5G diizinkan untuk menggunakan pita frekuensi itu, risikonya akan sangat besar dan berdampak pada operasional penerbangan di AS; termasuk adanya kemungkinan kegagalan katastropik (keretakan atau biasa juga disebut kegagalan struktural) yang berdampak cukup besar, bila tak dibarengi dengan mitigasi dini.

Altimeter radar banyak digunakan oleh pesawat-pesawat sipil di dunia. Altimeter radar merupakan satu-satunya sensor pesawat yang mengukur ketinggian pesawat di atas medan dan objek. Menurut Flight Safety Foundation, altimeter radar memberikan informasi penting terkait terrain awareness and warning systems (TAWS), sistem peringatan lalu lintas dan pencegah tabrakan (TCAS), wind shear detection systems, sistem kontrol penerbangan, dan sistem autoland.

Tak hanya itu, fitur pengukur ketinggian dari altimeter radar juga digunakan oleh sistem electronic centralized aircraft monitoring (ECAM) serta engine-indicating and crew alerting systems (EICAS).

“Kegagalan sensor-sensor ini karenanya dapat menyebabkan insiden besar,” kata laporan itu. Lebih lanjut, dalam laporan tersebut, industri penerbangan juga telah memperingatkan FCC awal tahun ini, bahwa studi tambahan diperlukan untuk mengevaluasi efek gangguan frekuensi potensial dari jaringan 5G pada altimeter radar.

Baca juga: Airbus dan M1 Singapura Uji Coba Jaringan 5G untuk Drone

“Mengingat sejauh mana batas interferensi aman terlampaui dan luasnya dampak terhadap keselamatan penerbangan, risiko interferensi berbahaya pada altimeter radar tidak dapat diselesaikan sendiri oleh industri penerbangan,” bunyi lain dari laporan itu.

Meski demikian, RTCA, mengatakan bahwa mereka bersedia bekerja sama dengan industri nirkabel seluler untuk melakukan penelitian lanjutan, baik secara mandiri ataupun bersama-sama.