Bukan Hanya Jual Mobil Mewah, Rolls-Royce Tawarkan Kursi Monopod Portable Seharga Rp1,2 Miliar

Bukan hanya terkenal sebagai produsen mobil, Rolls-Royce baru saja meluncurkan Pursuit Seat yang baru. Di mana ini sebuah bangku sederhana dan portabel yang dibuat oleh divisi Rolls-Royce Bespoke dan Rolls-Royce Boutique.

Baca juga: Inilah Journey, Bus Mewah dengan Interior ala Kondominium

“Kami berupaya menciptakan aksesori yang meningkatkan gaya hidup klien kami. Seperti setiap komisi dipesan lebih dahulu, setiap detail Pursuit Seat telah dipertimbangkan dengan cermat dan dirancang dengan cermat, lalu dibuat dengan tangan menggunakan bahan-bahan terbaik,” kata Desainer Rolls-Royce Bespoke Matthew Danton.

Kursi ini terlihat sedikit berlebih untuk sebuah kursi yang direntangkan di bingkai aluminium yang dapat dilipat dan memiliki satu kaki kursi dengan bahan yang digunakan sebagian besar dari serat karbon. Kursi ini pun mampu diduduki oleh semua orang dengan berapa pun berat badan mereka.

Pursuit Seat ini diduduki seperti layaknya duduk diatas pelana untuk menunggangi seekor kuda. Meski tak dilengkapi dengan tiga atau empat kaki, Pursuit Seat mengandalkan ferrule aluminium yang menyala di dasar kakinya yang berfungsi sebagai fondasi agar lebih stabil pada permukaan yang keras.

Sedangkan di tanah yang lebih lembut, kursi ini bisa menahan lebih baik karena ujung bawahnya berbentuk seperti paku. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber newatlas.com (2/12/2020), Pursuit Seat merupakan multitool dengan senter tersembunyi yang tetap dapat diakses di lipatan engsel. Ini gunanya untuk menerangi jalan seseorang kembali ke mobil tipe Cullinan atau Phantom saat melintasi lanskap atau mengemudikan drone berjalan melewati matahari terbenam. Pursuit Seat dikemas sangat pas seperti sarung tangan di dalam Modul Rekreasi geser yang tersedia untuk pintu belakang mobil tipe Cullinan.

Baca juga: Orient Express, ‘Berjuta Cerita’ dari kereta Mewah Legendaris Eropa

Bila mereka yang tidak memiliki seri mobil ini, mau tak mau harus meletakkannya di bagasi mobil dengan begitu saja. Atau, mereka bisa membeli seri Cullinan untuk menambahkan koleksi mobil Rolls-Royce. Untuk diketahui, kursi ini dipasarkan dengan harga US$8.800 atau sekitar Rp1,2 miliar.

 

 

Mengenal Pesawat Luar Angkasa Terbesar dalam Sejarah Buatan Boeing, Begini Keunggulannya

SpaceX, melalui kapsul SpaceX Dragon, memang tengah naik daun usai mengirimkan empat astronot ke antariksa dan mencetak berbagai sejarah antariksa dunia. Namun, jangan lupa, akan ada sejarah antariksa lainnya yang tercatat tinta emas sejarah pada 2024 mendatang. Bila sejarah sebelumnya melibatkan SpaceX, kali ini sejarah akan melibatkan Boeing.

Baca juga: Eks Instruktur Pilot Asal Jepang Jadi Penumpang Internasional Pertama SpaceX

Diketahui, Badan Antariksa dan Penerbangan Amerika Serikat (NASA) September lalu menyampaikan telah menyusun rencana lebih lanjut untuk program Artemis, termasuk rencana Fase 1 mendaratkan wanita pertama dan pria berikutnya di permukaan bulan pada 2024, melalui Sistem Peluncuran Luar Angkasa (SLS) terbesar dalam sejarah; dan SLS itu adalah buatan Boeing.

Dengan tinggi lebih dari 95 meter, daya dorong hingga 9 juta pon, serta muatan hingga 38 ton ke bulan, SLS terbesar dalam sejarah ini disebut menjadi bagian penting perkembangan teknologi untuk membuat perjalanan luar angkasa lebih jauh dan lebih lama dari yang pernah dicapai.

“Alasan kami membutuhkan roket yang lebih besar dan lebih besar, saat kami melangkah lebih jauh dan lebih jauh ke luar angkasa, adalah karena kami ingin membawa lebih banyak barang saat kami pergi. Anda akan berkemas secara berbeda jika Anda melakukan perjalanan selama sebulan, dibandingkan jika Anda melakukan perjalanan semalam,” kata Matt Duggan, mission management and operation manager Boeing.

“Di situlah SLS berperan. Ia dapat membawa muatan yang sangat besar ini dan mencakup semua persediaan yang dibutuhkan manusia untuk hidup dan bekerja di luar angkasa,” tambahnya, seperti dikutip dari cnet.com.

Kemampuan mengangkut muatan yang lebih besar tidak hanya penting untuk mengirim manusia dan kargo ke bulan, melainkan juga untuk misi masa depan ke Mars. Tidak seperti roket sebelumnya yang dikembangkan untuk misi NASA, SLS diklaim memungkinkan dua misi sekaligus, dalam hal ini pengiriman manusia ke bulan dan Mars dalam satu misi.

Saat ini, NASA mengklaim Artemis telah mengalami kemajuan signifikan. Misalnya, roket pendorong yang dibangun Space Launch System (SLS) dan pesawat ruang angkasa Orion akan menjalani pengujian tahap akhir.

Setelah pengujian selesai, roket dan pesawat ruang angkasa itu bakal dikirim ke Pusat Antariksa Kennedy di Florida untuk diintegrasikan.

NASA akan meluncurkan SLS dan Orion bersama-sama pada dua uji penerbangan di sekitar Bulan. Tujuan uji penerbangan itu untuk memeriksa kinerja, dukungan kehidupan, dan kemampuan komunikasi.

Misi pertama yang dikenal sebagai Artemis I akan berlangsung tanpa astronaut pada 2021. Kemudian, misi Artemis II akan terbang dengan awak pada 2023.

Pada misi kedua itu astronaut akan secara manual mengemudikan Orion untuk mendekat atau menjauh dari Bulan setelah lepas dari roket pendorong.

Baca juga: Sebuah Perusahaan Teknologi Tengah Kembangkan Hotel di Luar Angkasa!

Sambil mempersiapkan dan melaksanakan misi uji terbang ini, NASA juga akan kembali ke Bulan secara robotik menggunakan layanan pengiriman komersial untuk mengirim lusinan investigasi sains baru dan demonstrasi teknologi ke Bulan dua kali per tahun mulai 2021.

Pada 2024, Artemis III akan menjadi penanda kembalinya umat manusia ke permukaan Bulan. NASA akan mendaratkan astronaut wanita pertama di Kutub Selatan bulan. Kemudian astronaut akan melakukan perjalanan sekitar 240.000 mil ke orbit bulan di atas kapal Orion.

Cara Jitu Cegah Bird Strike di Sekitar Bandara, Kerahkan Robot Pemotong Rumput

Tabrakan dengan kawanan burung atau bird strike pada umumnya kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas. Singkatnya, bird strike mayoritas terjadi di sekitar bandara. Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter.

Baca juga: Lima Kecelakaan Penerbangan Akibat ‘Bird Strike’ Terburuk di Dunia

Di Amerika Serikat, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Oleh karenanya, manajemen pengelolaan bandara dalam kaitannya dengan upaya pencegahan bird strike harus dilakukan secara maksimal. Bila perlu, harus melibatkan teknologi terkini seperti robot.

Terkait penggunaan robot dalam mencegah bird strike, Bandara Sola atau Stavanger Airport mungkin jadi salah satu contoh menarik.

Dilansir airport-business.com, sejak 2017 lalu, bandara yang terletak di Rogaland county, Norwegia, itu menjadi instalasi uji coba penggunaan robot pemotong rumput di sekitar landasan pacu (runway) buatan ECHO Airport Services, anak perusahaan dari Yamabiko Europe, perusahaan yang kondang dikenal aktif berinovasi membantu agar bandara menjadi aman, ramah lingkungan, dan efisien lewat kehadiran robot.

Selama proses uji coba, robot pemotong rumput bertenaga listrik ini dioperasikan selama 24 jam non-stop dalam sepekan, dengan area operasi mencapai 56 hektar atau sekitar 50 luas lapangan sepak bola di sekeliling runway. Robot yang sudah diproduksi sebanyak 5.000 unit dan digunakan di banyak tempat di Eropa tersebut juga dilengkapi dengan GPS, sehingga memudahkan proses pemantauan.

Dalam uji coba itu, beberapa robot pemotong rumput di sekitar runway yang dikerahkan, masing-masing beroperasi di area seluas 2.5 hektar tanpa pernah sekalipun meninggalkan lokasi. Setiap area dipotong atau dipangkas setiap 72 jam sekali untuk menjaganya tetap pendek, indah, dan lebih dari itu semua, mencegah datangnya burung atau mencegah terjadinya bird strike.

“Robot pemangkas rumput lebih aman daripada petugas pemotongan manusia,” jelas Didier Bennert, CEO ECHO Airport Services.

“Ini (penggunaan robot) menyebabkan penurunan yang signifikan soal keberadaan burung dan mamalia yang mengantar pada bird strike, seperti yang dialami oleh Bandara Sola selama empat tahun terakhir. Robot tersebut tidak memiliki emisi gas rumah kaca karena didukung dengan panel surya atau fotovoltaik. Dan mereka lebih murah untuk dioperasikan daripada teknik pemotongan tradisional,” tambahnya.

Baca juga: Efek Bird Strike: Pesawat Setara Tabrak Objek Seberat 32 Ton! Kok Bisa?

Pasca uji coba, Bandara Sola hanya mengoperasikan dua robot pemangkas rumput itu. Seiring efektivitas dan efisiensi yang dicapai, pengelola bandara pun menambahnya hingga memiliki total 26 robot.

Selain Bandara Sola, robot pemangkas rumput serta pencegah bird strike ini juga digunakan di banyak bandara di Amerika Serikat, Jepang, Eropa, dan Selandia Baru. Dengan jangkauan pemotongan rumput yang ditingkatkan, mencapai 7,5 hektar untuk satu robot, bukan tak mungkin bandara lain akan segera menggunakan robot tersebut.

Kecepatan Kereta Ternyata Faktor Utama Pembunuh Satwa Liar di Taman Nasional Banff dan Yoho

Selama setahun belakangan, sebanyak 30 satwa liar di Taman Nasional Yoho dan Banff di Alberta serta British Colombia, Kanada, mati tertabrak kereta api. Hal ini kemudian membuat adanya sebuah penelitian yang mengamati 646 kematian satwa liar di rel kereta api di Taman Nasional Banff dan Yoho.

Baca juga: Di India, Ratusan Gajah Mati Ditabrak Kereta Api

Di mana ternyata faktornya adalah kecepatan kereta api yang melintasi taman nasional tersebut. KabarPenumpang.com melansir cbc.ca (30/11/2020), penelitian yang belum lama di terbitkan mendapatkan hasil dari antara 1995 hingga 2018 ada 59 beruang; 27 serigala, coyote, cougars dan lynx; dan 560 rusa, rusa besar dan domba yang terbunuh oleh kereta api.

“Prediktor teratas adalah kecepatan kereta. Lebih banyak hewan mati di tempat kereta melaju lebih cepat. Berikutnya adalah jarak ke air, lalu (jumlah) air di dekat lokasi dan kemudian kelengkungan di rel,” kata penulis utama Colleen Cassady St. Clair.

Profesor ilmu biologi di University of Alberta ini menambahkan, bahwa kecepatan kereta dan kelengkungan lintasan, menyulitkan satwa liar untuk mendeteksi kereta api, sementara berada di dekat tempat yang banyak air menghalangi kemampuan mereka untuk keluar dari rel sebelum tertabrak. Studi ini didasarkan pada proyek penelitian lima tahun dan didanai oleh Parks Canada serta Canadian Pacific Railway dari tahun 2010 hingga 2015.

Penelitian tersebut berfokus pada beruang grizzly yang disambar kereta di dua taman yang sama. Disimpulkan bahwa memberikan jalur perjalanan dan jarak pandang yang lebih baik di sepanjang rel kereta api adalah cara terbaik untuk menjaga mereka tetap aman. Cassady mengatakan dia berharap studi terbaru akan memungkinkan untuk mengidentifikasi jenis dan lokasi mitigasi yang akan mengurangi masalah bagi semua satwa liar, tidak hanya beruang grizzly.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa mitigasi yang efektif dapat mengatasi kecepatan kereta dan kemampuan satwa liar untuk melihat kereta api, terutama di belokan di rel dekat air. Canadian Pacific mencatat dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat bahwa perusahaan telah bekerja dengan Parks Canada selama dekade terakhir untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana satwa liar berinteraksi dengan rel kereta api.

“CP telah terlibat dengan Parks Canada dan University of Alberta sepanjang program ini untuk memastikan langkah-langkah mitigasi yang diterapkan CP didasarkan pada sains,” katanya.

Jesse Whittington, ahli ekologi margasatwa untuk Taman Nasional Banff, mengatakan kereta api adalah salah satu penyebab utama kematian hewan di dua taman tersebut.

“Kereta api (yang) berjalan melalui taman nasional Banff dan Yoho membunuh hampir 30 hewan setahun,” kata Whittington.

Dia menambahkan bahwa hewan menggunakan jalur rel untuk perjalanan dan akses ke makanan. Dia menyebutkan, studi terbaru membantu Parks Canada memahami di mana satwa liar dibunuh, mengapa mereka tertabrak di lokasi itu dan waktu kapan mereka paling mungkin tertabrak.

“Risiko kematian tertinggi di daerah di mana hewan mengalami kesulitan mendeteksi kereta api dan di mana mereka mengalami kesulitan untuk melarikan diri dari kereta api. Hewan memiliki tantangan untuk mendeteksi kereta di mana kereta melaju dengan cepat dan di area dengan kelengkungan tinggi. Hanya ada sedikit tempat baginya untuk keluar dari rel. Studi terbaru juga menemukan bahwa beruang grizzly lebih mungkin dibunuh pada akhir musim semi ketika air di Sungai Bow seringkali lebih tinggi” katanya.

“Ketika kami mengalami salju tebal, kami akan sering menemukan rusa dan rusa di sepanjang rel,” tambah Jesse.

Dia mengatakan beberapa rekannya di Taman Nasional Kanada telah bekerja untuk meningkatkan rute perjalanan bagi hewan yang menjauh dari jalur rel dengan membuat lebih banyak jalur melalui hutan. Petugas pemadam kebakaran juga telah bekerja untuk menciptakan habitat satwa liar yang lebih baik di seluruh taman dengan kebakaran yang ditentukan.

Baca juga: Halau Rusa di Jalur Kereta, Peneliti Jepang Pasang Klakson Suara Anjing Melolong di Lokomotif

“Kami memiliki banyak semak lebat dan pohon mati yang menumpuk selama bertahun-tahun sehingga menyulitkan hewan untuk melintasi lanskap. Sampai saat ini, kami telah membersihkan lebih dari 50 kilometer jejak satwa liar di seluruh Banff baik di daerah sekitar titik panas ini dan di daerah lain yang merupakan titik jepit. Kami berharap itu akan membantu,” tambahnya.

Intip First Cabin, Hotel Kapsul di Jepang dengan Desain Kabin Mewah Pesawat

Merasakan sensasi tidur di pesawat first class mungkin akan sangat menguras kocek. Namun, bagi Anda yang tak punya cukup uang, mungkin First Cabin Hotel jadi alternatif paling masuk akal untuk tetap bisa mencicipi sensasi tersebut.

Baca juga: Ada di Jepang, Kamar Hotel dengan Simulator Kokpit Boeing 737-800!

Sebagaimana namanya, First Cabin Hotel merupakan hotel kapsul yang terinspirasi dengan kabin kelas satu (first class) dalam sebuah pesawat. Selain itu, hotel yang memiliki cabang di 23 kota di seluruh Jepang ini juga menawarkan berbagai kelas, layaknya di dalam sebuah penerbangan, seperti kelas Ekonomi Premium, Premium, Bisnis, dan Kelas Utama.

Premium Economy Class hotel kapsul bergaya penerbangan di Jepang. Foto: uniqhotels.com

Dilansir japantoday.com, masing-masing kelas tersebut tentu memiliki berbagai kelebihan tersendiri. Perbedaan paling mencolok tentu terletak dari dimensi kamar, dimana kelas ekonomi cenderung kecil dan sebaliknya kabin kelas utama menjadi yang terbesar serta memiliki sentuhan lebih prestise.

Meski demikian, semua kamar di hotel kapsul sudah dilengkapi dengan TV flat screen, Wi-Fi, soket listrik, AC, sandal rumah, dan perlengkapan mandi. Adapun amenities lainnya, hotel kapsul menawarkan lounge, pemandian umum 24 jam yang besar, area shower bersama, jasa pijat, pakaian tidur, pengering rambut dan mesin catokan, fasilitas penyimpanan bagasi, dan bar dengan koleksi sampanye kelas tinggi.

First Class hotel kapsul bergaya penerbangan di Jepang. Foto: uniqhotels.com

Tak seperti hotel kapsul lain bertema penerbagan di Jepang, seperti The Haneda Excel Hotel Tokyu yang hanya menawarkan simulator Boeing 737-800 di dalam kamar Superior Cockpit Room, hotel kapsul memiliki komitmen tinggi untuk menciptakan suasana kabin pesawat.

Baca juga: Lari Telanjang di Hotel Singapura, Tiga Awak Kabin British Airways Terancam Dipecat

Premium Class Rooms hotel kapsul bergaya penerbangan di Jepang. Foto: uniqhotels.com

Hal itu terlihat bagaimana desain, kelas kamar hotel, serta konsep sharing amenities, seperti toilet, spa, pemandian umum, dan bar, sebagaimana di pesawat, dimana penumpang menggunakan seluruh fasilitas itu secara bersama-sama kecuali tempat duduk (kamar). Bahkan, untuk bagian terkecil sekalipun, seperti penanda kamar juga dibuat semirip mungkin dengan penanda tempat duduk di dalam pesawat.

Bagi traveler yang ingin tinggal sementara di First Cabin Hotel, pihak pengelola sudah menyiapkan mesin cuci dan pengering yang dioperasikan dengan koin. Dengan segala keunikan tersebut, bagaimana, tertarik untuk mencoba?

Thales InFlyt Experience, Solusi Maskapai Penerbangan Dapatkan Kembali Kepercayaan Penumpang

Raksasa hiburan dan konektivitas dalam penerbangan asal Perancis, Thales, melalui Thales InFlyt Experience, resmi meluncurkan rangkaian solusi maskapai global dalam upaya mendapatkan kembali kepercayaan dari penumpang.

Baca juga: Singapore AirShow 2018: Garuda Indonesia Gandeng Thales Hadirkan In Flight Entertainment

Dengan tagline “Ready to Fly” Thales mengaku optimis bahwa berbagai produk-produk tanpa sentuh (touchless) inovasi perusahaan, mampu mengurangi risiko penularan virus Corona di berbagai area touchpoint atau yang banyak disentuh penumpang, baik saat di bandara maupun di pesawat.

Di antara solusi yang ditawarkan, mulai dari AVANT, monitor, handset, overhead video, serta software, apllication and tools, Thales menyediakan kemudahan bagi penumpang melalui maskapai lewat sistem baru In-flight entertainment (IFE).

IFE buatan Thales ini bisa mencegah penumpang menyentuh touchpoint karena bisa dikendalikan dari ponsel atau tablet masing-masing. “Kemampuan ini sudah tersedia di beberapa maskapai besar di Amerika Utara dan Asia Tenggara,” kata juru bicara Thales, seperti dikutip dari Runway Girl Network.

Selain itu, bagi maskapai yang sudah menyediakan WiFi di kabin, Thales bisa mengintegrasikan layanan itu dengan software development kit (SDK). Dengan begitu, penumpang bisa mengakses seluruh layanan yang ditawarkan maskapai dalam sebuah aplikasi. Solusi lain, Thales mengaku siap untuk mengembangkan laman khusus sebagai pengganti software agar penumpang tetap bisa mengakses layanan IFE tanpa mendownload aplikasi tambahan serta tentu saja tanpa sentuhan.

Alternatif lainnya, Thales menawarkan, penumpang bisa mengakses IFE tanpa menyentuhnya langsung, dengan menghubungkan ponsel atau tablet mereka menggunakan USB dan kontrol penuh atas IFE pun seketika didapat.

“Ini adalah platform berbasis perangkat lunak yang bekerja dengan sistem IFE Thales dalam layanan. Untuk ekstensi baru ini, kami memfokuskan upaya kami pada pengembangan solusi yang terjangkau untuk penerapan cepat dengan menyederhanakan pemasangan untuk maskapai penerbangan tanpa perlu mengganti hardware. Satu-satunya prasyarat adalah update software dari IFE system software (digabungkan dengan aplikasi pendamping atau halaman web khusus berdasarkan konfigurasi),” jelas juru bicara Thales.

Dalam mengurangi interaksi antara kru dan penumpang, perusahaan yang juga pernah bekersama dengan Garuda Indonesia untuk menghadirkan teknologi AVANT IFE System tersebut, menawarkan apa yang disebut Thales Travel Assistant (TAA). TAA memungkinkan penumpang mendapatkan berbagai informasi secara otomatis dari layar IFE di belakang kursi, sebagai bagian dari solusi “Ready to Fly” Thales.

Demikian pula sebaliknya, pramugari atau awak kabin juga dapat menerima informasi dari penumpang dan maskapai serta mengontrol kabin dari ponsel atau tablet mereka masing-masing.

Baca juga: Air Canada Luncurkan Fitur baru IFE, Bisa Bagikan Film Terbaik ke Sosmed Saat di Udara

Di beberapa waktu mendatang, Thales juga akan menghadirkan software khusus untuk mengurangi antrean saat masuk ke pesawat dan menemukan kursi yang tertera di tiket, mengatur penggunaan toilet dengan cara mem-bookingnya terlebih dahulu, mengurai penumpukan saat hendak keluar kabin, serta berbagai solusi lainnya untuk meningkatkan efisiensi di dalam kabin.

“Yang terpenting bagi Thales adalah kami ada di sini untuk mendukung pelanggan maskapai kami dan bekerja dengan mereka untuk mengatasi tantangan terberat mereka selama masa-masa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini,” kata wakil presiden Thales InFlyt Experience, Neil James.

Maskapai Ramai-ramai Berlakukan Bagasi Tangan Berbayar Saat Penerbangan Sepi, Untung atau Buntung?

Di masa lalu, saat penerbangan sedang menggeliat, perlahan tapi pasti, maskapai global, dalam hal ini maskapai berbiaya hemat (LCC), mulai menerapkan bagasi berbayar; tak terkecuali maskapai LCC Indonesia, seperti Lion Air dan Citilink.

Baca juga: Hanya dari Biaya Bagasi, Maskapai Global Raup Untung Hingga Ratusan Triliun Rupiah

Kebijakan tersebut pun menimbulkan polemik dan citra negatif, seolah transportasi udara tak lagi ramah kantong. Alhasil, sempat terjadi penurunan jumlah penumpang sekalipun tak terlalu signifikan, di samping memang sudah memasuki low season.

Senada dengan itu, belum lama ini, easyJet mengumumkan bakal memberlakukan bagasi tangan (hand luggage) berbayar atau lebih tepatnya pengurangan dimensi bagasi tangan (hand baggage cuts), menyusul dua maskapai Eropa lainnya, Ryanair dan Wizz Air. Bedanya, bila bagasi berbayar menerapkan itu saat traffic penumpang tinggi, easyJet dan dua maskapai di lain justru menerapkan itu di tengah sepinya penerbangan penumpang.

Meski demikian, easyJet tetap kukuh pada pendiriannya. Disebutkan, peraturan bagasi tangan berbayar maskapai LCC asal Inggris itu mulai diterapkan pada 10 Februari 2021 mendatang.

“Untuk semua perjalanan mulai 10 Februari 2021, kursi yang Anda pesan akan menentukan tas apa yang dapat Anda bawa ke pesawat,” tulis easyJet dalam laman resminya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Saat peraturan bagasi tangan berbayar sudah diterapkan, penumpang dibatasi hanya boleh membawa satu tas kecil (ukuran maksimum 45 x 36 x 20 cm, termasuk handle dan roda). Tergolong kecil memang, namun seharusnya cukup untuk perjalanan singkat.

Andai kata penumpang menginginkan lebih, mereka bisa mendaftar keanggotaan maskapai atau membeli tiket dengan harga sedikit lebih mahal, untuk bisa meletakkan barang bawaan di kompartemen bagasi di atas kursi penumpang. Bila tidak atau tetap memilih hand luggage gratis, maka tak ada pilihan lain kecuali meletakkan tas yang sudah sesuai ketentuan di bawah kursi.

“Itu seharusnya cukup untuk membawa semua hal penting untuk perjalanan Anda atau untuk perjalanan singkat. Tidak ada batasan berat, tetapi kami meminta Anda untuk dapat mengangkat dan membawa sendiri tas Anda,” kata maskapai yang berbasis di Bandara London Luton itu.

Terlepas dari faktor ekonomi, dimana maskapai sangat mungkin mendapat uang lebih dari penumpang, pihak easyJet berkilah bahwa kebijakan itu diambil untuk mengatur sporadisitas penumpang dalam membawa bagasi tangan. Terlebih, sebagai maskapai LCC, penumpang kerap membludak (di masa normal dan new normal di momen tertentu) dan membuat stok kompartemen bagasi jadi menipis.

Tak jarang, hal itu sampai membuat kompartemen kabin kehabisan ruang sebelum seluruh tas bawaan penumpang diletakkan. Alhasil, awak kabin harus turun tangan untuk memaksimalkan tata letak bagasi sebelum pesawat lepas landas.

Baca juga: Agar Penerbangan Nyaman, Inilah Tips Bawa Koper ke Dalam Bagasi Kabin

Hal itu pulalah yang membuat maskapai memutuskan penerapan kebijakan itu. Dengan mengurangi bawaan penumpang di dalam kabin, antrean penumpang di dalam kabin jadi berkurang dan persiapan sebelum lepas landas akan semakin cepat selesai.

“Kami membuat beberapa perubahan pada kebijakan tas kabin kami untuk membantu meningkatkan boarding dan ketepatan waktu serta memberikan kepastian kepada pelanggan tentang apa yang boleh mereka bawa ke pesawat,” tulis maskapai yang berbasis di Bandara London Luton itu.

Bandara Changi Geger, Petugas Kebersihan di Terminal 3 Positif Covid-19

Seorang petugas kebersihan di area transit Terminal 3 Bandara Changi Singapura dinyatakan positif Covid-19. Petugas kebersihan berusia 66 tahun tersebut dinyatakan positif pada Senin 30 November kemarin dan tidak menunjukkan gejala apapun ketika mengikuti tes rutin rostered atau rostered routine testing (RRT) yang dilakukan dua mingguan dari departemen kesehatan pada pekerja lini depan.

Baca juga: Singapura Ubah Changi Exhibition Centre Jadi RS Darurat Corona dengan Segudang Fasilitas Top

Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (1/12/2020), petugas kebersihan di bawa ke rumah sakit dan di tes kembali dengan hasil positf meski hasil tes serologinya negatif. Kementerian kesehatan mengatakan bahwa dia selalu menggunakan alat pelindung diri di tempat kerja termasuk masker wajah, pelindung wajah dan sarung tangan.

Saat ini, investigasi epidemiologi sedang berlangsung dan semua kontak dekatnya yang teridentifikasi, termasuk anggota keluarga dan rekan kerja, telah diisolasi dan ditempatkan di karantina serta sedang diuji pada awal dan akhir periode karantina mereka. Kasus lain yang ditularkan secara lokal berasal dari asrama pekerja asing, kasus pertama setelah 20 hari berturut-turut tanpa satu pun gejala. Pasien terdeteksi melalui pengawasan proaktif dan semua kontak dekatnya di asrama serta tempat kerjanya telah ditempatkan di karantina.

Secara keseluruhan, ada sepuluh kasus virus korona baru yang dilaporkan pada hari Selasa, menjadikan total Singapura menjadi 58.228. Delapan kasus sisanya diimpor di mana mereka terdiri dari lima pemegang izin kerja yang berasal dari Indonesia dan Myanmar, satu pemegang izin kerja berasal dari Jepang, satu pemegang izin kerja khusus dari Indonesia dan seorang anak berusia satu tahun yang berasal dari Rusia dengan izin kunjungan jangka panjang.

Baca juga: Qantas Wajibkan Penumpang Divaksin Covid-19 Sebelum Terbang

Kementerian Kesehatan memberikan daftar lokasi yang dikunjungi pasien infeksi Covid-19 selama setidaknya 30 menit dan waktu mereka mengunjunginya untuk meminta orang-orang yang berada di tempat-tempat itu pada waktu yang sama untuk memantau kesehatan mereka dengan cermat selama dua minggu sejak tanggal mereka dirawat. Kontak dekat dari pasien sudah diberitahu dan tidak perlu menghindari tempat-tempat ini, karena mereka akan dibersihkan jika perlu.

Pramugari Jajakan Diri dan Berikan Layanan Seksual, British Airways Lakukan Investigasi

Seorang pramugari British Airways yang tinggal di Heathrow dilaporkan menjual layanan seksual. Untuk menarik pelanggannya, pramugari ini mengambil foto tak senonoh atau cabul dirinya dengan menggunakan seragam British Airways ketika tengah melakukan pekerjaannya dalam penerbangan.

Baca juga: Beragam Kasus Seksis yang Sempat Warnai Dunia Pramugari

KabarPenumpang.com melansir dari travelweekly.com.au (2/12/2020), foto yang terlihat di mana pramugari ini menarik roknya ketika di dapur dan lainnya menunjukkan dirinya tengah berada di toilet kabin dan hanya menggunakan stoking di bawah seragam British Airways dengan caption “tidak ada celana dalam pada hari Minggu”. Karena hal ini, pejabat British Airways melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas pramugari tersebut.

Pramugari itu mengatakan, bahwa dia menjual pakaian dalamnya seharga US$45 dan juga bisa membayar biaya jaminan US$90 untuk memenuhi dan dapat memberikan layanan seksual selama penerbangan.

“Jika Anda ingin hiburan dewasa di udara, yang harus Anda lakukan adalah memberi saya sejumlah uang dan Anda akan saya suguhi pengalaman yang sangat berbeda sesuai pilihan,” katanya.

The Sun bahkan mengklaim telah melihat foto pramugari itu di tempat tidur hotel di Edinburgh memegang segelas anggur di antara jari-jari kakinya dengan tulisan “Tidak ada yang lebih baik daripada mabuk dengan pilot, sehingga dia dapat melakukan apa pun yang dia inginkan. Bersulang”.

Tindakan pramugari tersebut mendapat kecaman dan diskriminasi anti pekerja seks dari pramugari lainnya.

“Dia mengenakan seragam maskapai dan tidak diragukan lagi dia seorang pramugari. Ini sangat melalaikan tugas dan bukan citra yang diinginkan BA dari awak kabinnya,” kata seorang pramugari.

Beberapa akun media sosialnya dihapus setelah laporan iklannya pertama kali muncul. British Airways sejak itu melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi pramugari yang dimaksud.

Baca juga: Isu Seksis, Eksekutif British Airways Larang Pramugari Gunakan Bra yang ‘Menantang”

“Kami mengharapkan standar perilaku tertinggi dari semua kolega setiap saat, dan kami sedang menyelidiki klaim tersebut,” kata maskapai itu dalam sebuah pernyataan.

2021 Bakal Ada Balapan Mobil Remote Control di Bulan, Aktornya Anak SMP

Sebuah proyek prestisius cenderung aneh belum lama ini ramai diperbincangkan. Betapa tidak, saat negara-negara di dunia fokus mengirim manusia ke bulan, ide untuk mengadakan balapan mobil remote control tiba-tiba menyeruak. Anehnya lagi, salah satu pihak yang terlibat dalam proyek tersebut datang dari bangku sekolah kelas menengah (SMP).

Baca juga: Lihat Banyak Tempat Indah dari Luar Angkasa, Astronot Juga Butuh Liburan

Bila tak ada aral melintang, mobil balap remote control Moon Mark ini nantinya akan diangkut oleh pesawat luar angkasa Nova-C buatan Intuitive Machines, yang disematkan di atas roket SpaceX Falcon 9, pada Oktober 2021 mendatang.

Dilansir New Atlas, proyek balapan mobil remote control di bulan tersebut dimaksudkan untuk memberi hiburan sains dan teknologi kepada anak-anak sekolah; khususnya anak SMP. Pada pelaksanannya, enam siswa-siswi terbaik di setiap sekolah di seantero Amerika Serikat (AS), akan diikut sertakan untuk bersaing dalam kompetisi Moon Mark’s Mission.

Kategori dalam perlombaan itu mencakup mengoperasikan drone, balap kendaraan otomatis, e-gaming, hingga kontes kewirausahaan komersialisasi ruang angkasa. Setelah itu, dua tim teratas didapuk menjadi pemenang kontes tersebut dan berkesempatan untuk turut berkontribusi membuat dan merasakan keseruan balapan mobil remote control di bulan sekali seumur hidup.

Mengendalikan mobil lewat remote control yang berjarak cukup jauh tentu bukan perkara mudah. Secara umum, cara kerja remote pengendali dengan receiver yang tersemat di mobil, keduanya akan terhubung dengan lunar outpost serta lander melalui WiFi, dan lander akan mengirim dan menerima telemetri, perintah, dan kontrol ke dan dari Bumi untuk mendukung kesuksesan balapan mobil di bulan.

Dikarenakan jarak yang terlalu jauh, setidaknya akan terjadi delay, baik di layar yang terhubung dengan mobil remote control maupun pada mobil remote control itu sendiri, masing-masing sekitar 1,3 detik dan 2,6 detik. Pada bagian ini, tentu sang pembalap akan mengalami kesulitan untuk membelokkan atau memacu mobil remote control seberat 10 kg, dengan kecepatan kurang dari 1 km per jam itu saat balapan dua mobil ini dihelat.

Layaknya balapan mobil di darat, balapan mobil remote control di bulan juga akan terjadi di atas lintasan. Mula-mula, calon area yang akan dibangun sirkuit dipindai untuk memudahkan desainer sirkuit balapan mobil di bulan, Hermann Tilke. Setelah itu, desainer yang juga sudah malang-melintang merancang sirkuit Formula 1 di seluruh dunia ini nantinya akan mengembangkan sirkuit yang mulus dan nyaman untuk balapan, sekalipun permukaan di bulan cenderung kasar.

Baca juga: Rusia Bakal ‘Hidupkan Kembali’ Buran, Pesawat Ulang-Alik yang Jadi Kebanggaan di Era Perang Dingin

Setelah semua itu berhasil, games balapan mobil di bulan ini akan dijual di seluruh dunia, dengan tarif yang belum disebutkan secara detail.

“Moon Mark adalah perusahaan hiburan dan pendidikan, yang akan membuat dan mendistribusikan konten secara global. Kami akan menangkap dan berbagi petualangan generasi berikutnya, saat mereka bersaing untuk menjadi siswa pertama yang karyanya mendarat di Bulan. Setelah balapan itu sendiri, kendaraan akan pindah ke misi ilmiah mereka, tetap berada di permukaan bulan tanpa batas waktu,” kata Mary Hagy, CEO Moon Mark.