Pastikan Aman, Boeing 737 MAX American Airlines Sukses Lahap Penerbangan Penumpang Perdana

Boeing 737 MAX American Airlines sukses melewati penerbangan penumpang perdana pasca grounded berkepanjangan sejak Maret 2019 silam, menyusul dua kecelakaan beruntun yang menewaskan total 346 orang. Hal ini ditempuh guna memastikan bahwa pesawat itu aman. Penerbangan tersebut sejatinya merupakan sebuah penerbangan uji coba yang melibatkan sejumlah wartawan dari Dallas menuju Tulsa, Oklahoma, baru-baru ini.

Baca juga: FAA Izinkan Boeing 737 MAX Terbang Lagi, EASA Pilih Sertifikasi Ulang Mandiri

Dilansir abcnews.go.com, sejak diizinkan terbang (mendapat sertifikasi) kembali oleh Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) pada 18 November 2020 lalu, berbagai maskapai dunia mulai mengatur jadawal penerbangan perdana mereka dengan Boeing 737 MAX.

American Airlines merupakan maskapai perdana yang akan melakoni penerbangan penumpang perdana 737 Max secara komersial pada 29 Desember mendatang, dari Miami ke New York City, Amerika Serikat (AS). Southwest Airlines, sang operator Boeing 737 MAX terbesar di dunia, menyatakan tidak berencana menggunakan pesawat itu hingga pertengahan 2021.

Alaska Airlines, yang baru akan kedatangan MAX pada awal tahun depan, berencana baru akan menerbangkan 737 MAX di bulan Maret. United Airlines, berencana baru akan menerbangkan pesawat dengan penjualan tercepat dalam sejarah Boeing itu pada kuartal II 2021.

Sambil menunggu momen tersebut datang (penerbangan perdana penumpang), seluruh maskapai diminta untuk memberikan pelatihan ulang ke para pilot sebelum menerbangankan MAX. Di samping itu, maskapai juga akan mensosialisasikan secara massif terlebih dahulu bahwa Boeng 737 MAX aman.

Meski demikian, pasti ada saja penumpang yang belum sepenuhnya yakin atau bahkan sama sekali tak akan pernah yakin dan menghindari penerbangan bersama Boeing 737 MAX sumur hidup. Karenanya, maskapai diyakini bakal mencantumkan informasi pesawat apa yang bakal digunakan dalam penerbangan mereka; tak terkecuali American Airlines.

Sebelumnya, kepala FAA, Stephen Dickson, percaya bahwa Boeing sudah mengakomodir seluruh masukan dari regulator. Ia pun dengan sangat percaya diri menyebut, “Saya 100 persen nyaman dengan keluarga saya terbang di atasnya.” Di samping itu, pihaknya juga sudah bekerja dengan teliti untuk memastikan Boeing 737 MAX aman sebelum akhirnya diputuskan mencabut larangan terbang.

Baca juga: Ironis, Boeing 737 MAX Sudah Boleh Terbang tapi Maskapai, Pramugari, hingga Penumpang Ragu

Demikian juga dengan The Air Line Pilots Association International atau Asosiasi Pilot Internasional (ALPA). Asosiasi yang mewakili hampir 60 ribu pilot di Amerika Utara itu mengaku yakin dan percaya kepada teknisi yang bekerja. Secara tidak langsung, ALPA siap untuk menerbangkan MAX.

Akan tetapi, sekalipun sudah dipastikan aman dan lolos sertifikasi FAA, maskapai-maskapai dari Eropa, Brasil, Kanada, dan Cina, dipastikan belum akan terbang dalam waktu dekat sampai regulator penerbangan sipil mereka menyatakan aman. Regulator negara-negara itu diketahui tidak lagi mengekor ke FAA terkait 737 MAX dan memilih melakukan sertifikasi ulang mandiri untuk mengecek tingkat kelaikan pesawat.

Demi Menjamin Keselamatan, Volvo Rela Jatuhkan Sepuluh Tipe Mobil dari Ketinggian 30 Meter

Volvo belum lama ini memantapkan perusahaannya sebagai pelopor dalam keselamatan otomotif dan memainkan peran penting dalam mengurangi kecelakaan yang menyebabkan kematian di jalan raya dengan melakukan beberapa proyek penelitian. Produsen mobil asal Swedia tersebut dalam penelitian ini bahkan tidak segan mengorbankan beberapa kendaraan yang sepenuhnya dibangun dalam proses mempelajari masalah terkait keselamatan.

Baca juga: Sabuk Keselamatan Tiga Titik Jadi Standar dan Lebih Aman untuk Penumpang Bus

Untuk itu, Volvo melakukan drop tes sebagai bagian dari penelitian baru yakni dengan menjatuhkan sekitar sepuluh tipe mobil seperti XC40, V90, XC90, dan banyak lagi lainnya. Mobil-mobil ini diderek hingga ketinggian 30 meter beberapa kali untuk mencoba dan memahami tantangan yang dihadapi oleh personel penyelamat.

Dilansir KabarPenumpang.com dari rushlane.com (13/11/2020), eksperimen penurunan derek adalah upaya untuk mensimulasikan skenario kecelakaan paling ekstrem di mana kendaraan mengalami berbagai dampak energi tinggi. Eksperimen ini memungkinkan para insinyur dan profesional penyelamat untuk memahami sifat kekuatan dan tingkat kerusakan yang tidak dapat disimulasikan selama uji tabrak biasa.

Seperti misalnya, kecepatan yang sangat tinggi yang menyatukan mobil dan truk dengan melakukan banyak pukulan samping. Dalam tabrakan seperti ini, penumpang di dalam mobil kemungkinan besar berada dalam kondisi yang sangat kritis dan seringkali, mengeluarkan mereka dari sisa-sisa reruntuhan merupakan tugas yang menantang.

Spesialis penyelamatan kecelakaan jalan raya menggunakan alat hidrolik yang dikenal dalam industri sebagai ‘rahang kehidupan’ yang memainkan peran penting dalam mengangkut korban kecelakaan ke rumah sakit dalam waktu emas. Eksperimen penelitian crane drop Volvo dilakukan terkait dengan layanan penyelamatan Swedia untuk mengidentifikasi metode yang efisien untuk membantu menyelamatkan nyawa jika terjadi kecelakaan parah.

Studi ini akan menghasilkan laporan terperinci dengan semua temuan, dan akan tersedia untuk petugas penyelamat di tempat lain secara gratis. Para petugas penyelamat biasanya dilatih menggunakan mobil bekas yang sudah berumur beberapa tahun. Selama bertahun-tahun, bahan yang digunakan pada bodi otomotif semakin kuat dan oleh karena itu, penting bagi para personel untuk membiasakan diri dengan mobil modern agar bisa efektif.

Bisa dikatakan di sinilah eksperimen terbaru Volvo muncul. Produsen mobil menjatuhkan total sepuluh kendaraan dari model yang berbeda beberapa kali untuk menjamin keselamatan. Para insinyur menghitung berapa banyak tekanan dan kekuatan yang dibutuhkan setiap mobil untuk mencapai tingkat kerusakan yang diinginkan.

Baca juga: Sudah Saatnya Produsen Mobil Perhatikan Keselamatan Penumpang di Bangku Belakang

“Kami berharap uji jatuh mengarah pada temuan penting yang akan membantu layanan darurat menangani ekstraksi penumpang lebih cepat dan mudah. Kia pernah melakukan uji tabrak vertikal di Karnaval. Tapi itu untuk alasan yang berbeda,” ujar pihak Volvo.

TajSat, Katering Penerbangan Terbesar India Layani Pemesanan Makanan Antar ke Rumah

Bukan hanya maskapai penerbangan yang merasakan kesulitan di masa pandemi Covid-19, tetapi katering makanan pun menjadi salah satu yang terdampak. Seperti katering penerbangan terbesar di India Tata Group TajSats yang kini mulai mejelajah diluar maskapai penerbangan.

Baca juga: Rindu Santapan ala Kabin, Maskapai ini Tawarkan Sensasi In-Flight Meals untuk Korban Lockdown

Di mana TajSats mengirimkan makanan katering mereka ke rumah-rumah sementara penerbangan internasional terjadwal dalam penangguhan. Apalagi lalu lintas udara global diperkirakan akan kembali seperti semula pada tahun 2024 hingga 2025.

CEO TajSats Manish Gupta mengatakan, pada masa pandemi ini, mereka memiliki rencana pertumbuhan yang agresif untuk memperluas portofolio dan melakukan diversifikasi ke katering non penerbangan. Tak hanya itu, mereka pun meluncurkan merek baru yakni Anuka, yang mana restoran virtual dengan beragam masakan yang tersedia di aplikasi Qmin (pesan-antar makanan Taj Hotels) dan sudah hadir di Mumbai serta Delhi.

Gupta menyebutkan, melalui pemesanan makanan dari aplikasi, Anda akan merasakan kelezatan gourmet untuk para tamu dalam kenyamanan rumah mereka. Dilansir KabarPenumpang.com dari timesofindia.indiatimes.com (27/11/2020), TajSats juga telah meluncurkan “merek cokelat baru (Asa) dan manisan India (Ishri), yang akan tersedia sepanjang tahun untuk penjualan ritel di platform e-commerce serta untuk penjualan institusional.

Gupta menambahkan bahwa perusahaan berfokus pada keamanan dan kebersihan pangan telah meningkat berlipat ganda seiring dengan pergeseran perilaku konsumen dan keinginan mereka untuk hanya mengonsumsi makanan dari merek tepercaya selama pandemi. Dimulainya kembali penjualan di dalam pesawat (oleh maskapai berbiaya hemat) dan penyajian (oleh maskapai penerbangan berbiaya penuh) diizinkan pada akhir Agustus untuk penerbangan domestik.

Saat itu, maskapai penerbangan India diizinkan menyajikan makanan hangat di penerbangan internasional bersama alkohol. Namun, pada penjualan makanan penerbangan domestik belum ada layanan makanan.

“Orang-orang sudah mulai terbang lagi tapi dalam penerbangan singkat, mereka suka memakai masker dan melepasnya untuk dimakan. Pada penerbangan internasional menengah hingga panjang, seseorang harus makan. Bisnis makanan secara keseluruhan sangat rendah,” kata seorang pejabat senior maskapai.

Pada masa pra-pandemi, TajSat yang berusia empat dekade melayani lebih dari 3,7 lakh penerbangan setiap tahun, menyajikan lebih dari 2,3 crore makanan dalam setahun atau lebih dari 65 ribu makanan yang disajikan di dalam pesawat setiap hari.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

“Jumlahnya telah menurun karena makanan tidak disajikan di maskapai penerbangan selama enam bulan pertama penutupan. Makanan di dalam pesawat telah dimulai kembali dari September namun dengan banyak pembatasan seperti menyajikan makanan dingin (pada penerbangan domestik), makanan yang telah disiapkan sebelumnya untuk penumpang kelas bisnis dan penerbangan internasional terbatas yang beroperasi. Kami berharap jumlahnya berlanjut setelah perjalanan dan perbatasan dibuka,” jelas Gupta.

Bila Ada Headrest Boom, Penumpang Pesawat Tak Lagi Perlu Bawa Bantal Leher

Sandaran kepala ternyata sama pentingnya dengan sandaran tangan untuk kenyamanan penumpang selama perjalanan. Sayangnya sandaran kepala di pesawat saat ini tidaklah bisa membuat nyaman penumpang, sehingga banyak dari mereka yang membawa bantal untuk menyangga leher dan kepala mereka.

Baca juga: Bersihkan ‘Ruang’ Pribadi, Hindari Virus dan Kuman di Kabin Pesawat

Karena hal ini, perusahaan desain Italia, ABC International meluncurkan produk yang tidak biasa untuk mengatasi masalah kuno. Produk ini adalah sebuah sandaran kepala yang disebut Boom yang dirancang untuk memberikan penyangga leher dan kepala secara penuh. Selain itu menargetkan kesehatan tulang dan kenyamanan penumpang dalam penerbangan.

KabarPenumpang.com melansir simpleflying.com (1/12/2020), sandaran kepala ini bisa dipasang atau dilepas sesuai kebutuhan penumpang. Desainer headrest Boom bernama Aysegul Durak yang merupakan mantan kepala insinyur interior kabin di Turkish Airlines dan memiliki lebih dari 24 tahun pengalaman dalam konfigurasi kabin serta pengalaman penumpang.

Durak menyebutkan, sandaran kepala yang saat ini sama sekali tidak menyangga tengkuk atau bagian leher manapun. Kebanyakan sandaran kepala memungkinkan penumpang untuk bersandar di punggung, atau sesekali ke samping jika sandaran kepala dengan “sayap”. Hal ini menyebabkan banyak penumpang beralih ke bantal perjalanan agar tetap nyaman dalam penerbangan panjang mereka.

Dengan kehadiran Boom, akan mengisi celah dalam kenyamanan dan kebutuhan dukungan ini yang mana berfungsi dengan merangkul leher dengan kuat di tengkuk, dan melingkari leher untuk memberikan dukungan. Mekanisme pembengkokan berarti penumpang dapat memilih penyangga mereka dan mengubahnya sepanjang perjalanan untuk memberikan kenyamanan yang optimal. Durak menambahkan, Boom bisa diatur secara vertikal ke atas dan ke bawah untuk memberikan dukungan kepada penumpang dari brbagai ketinggian sandaran yang diinginkan penumpang.

“Kami dengan bangga mengklaim bahwa Boom Headrest adalah sandaran kepala paling nyaman yang pernah dirancang, bahkan melebihi kenyamanan bantal leher portabel,” kata Durak.

Dia menyebutkan, rintangan utama lainnya adalah sertifikasi dan rintangan yang perlu dinavigasi untuk mulai menggunakan produk. Namun, ABC memiliki banyak pengalaman di bidang ini, menjadikannya mitra teknis yang sangat baik untuk retrofit sandaran kepala. Boom Headrest dapat dipasang ke semua jenis sandaran kursi, teknisi ABC akan memberikan dokumentasi lengkap dan kit hingga pemasangan, jika diminta.

“Kami tidak berharap bahwa sertifikasi ulang akan diperlukan karena sandaran kepala Boom lebih ringan daripada sandaran kepala lainnya di pasar. Bahkan kursi saat ini tanpa sandaran kepala mungkin masih dalam batas berat untuk memasang Sandaran Kepala Boom,” jelasnya.

Baca juga: BYD dan Didi Luncurkan D1, Mobil Listrik Pertama yang Dirancang Khusus untuk Ride Hailing

ABC belum menemukan partner maskapai yang serius untuk produk barunya, namun karena baru diluncurkan baru-baru ini, masih ada banyak waktu. Alberto D’Ambrosio, CEO ABC International, mencatat bahwa, mereka akan memulai kampanye pemasaran yang ekstensif untuk mempromosikan dan menyebarkan kesadaran akan produk baru yang menjanjikan ini di antara pembuat kursi dan maskapai penerbangan di seluruh dunia. Perusahaan menargetkan pengiriman headrest Boom terintegrasi penuh pertama dalam waktu enam hingga delapan bulan sejak pesanan pertama diterima.

Dinilai Krusial untuk Hibur Penumpang, Begini Cara Kerja In-Flight Entertainment

In-flight entertainment (IFE) dinilai memegang peranan penting, dalam hal ini terhadap hiburan penumpang, di setiap penerbangan. Di masa pandemi, IFE bahkan bukan hanya menyuguhkan hiburan audio visual, melainkan juga jadi sarana informasi kru pesawat saat on board.

Baca juga: Tak Semudah Menontonnya, Begini Rahasia Dibalik Proses Pemilihan Film di Pesawat, Rumit!

Sekilas, IFE tampak tak dilengkapi kabel. Padahal, di balik semua itu, terdapat kabel dalam sebuah jaringan besar di seluruh badan pesawat dan terhubung dengan unit daya untuk membuatnya berfungsi.

Menurut Cranky Flier, IFE modern tidak menggunakan terlalu banyak kabel. Perannya digantikan dengan kabel serat optik untuk membawa sebagian besar data dan daya. Dengan begitu, sistem IFE jauh lebih ringan dan efisien dari sebelumnya, dimana kaki penumpang seringkali terbentur box IFE dan membatasi ruang kaki. Tentu menjadikannya tak nyaman.

Sekalipun box IFE di bagian bawah kursi sudah tidak ada lagi, bukan berarti tugas maskapai selesai. Masing-masing maskapai bakal dipusingkan dengan proses penyediaan konten, berupa film, games, musik, dan berbagai liburan lainnya. Tak jarang, pada proses ini, maskapai sampai merogoh kocek cukup dalam demi menghadirkan konten berkualitas.

Terkait konten film di penerbangan, di masa lalu, maskapai MGM Grand Air bahkan pernah menghadirkan enam film tayang perdana di setiap penerbangan. Alhasil, tak sedikit penumpang yang jatuh hati pada maskapai langganan para selebriti papan atas dunia itu.

Saat ini, maskapai penerbangan global, termasuk maskapai papan atas sekalipun, seperti British Airways, Emirates, Qatar, Qantas, dan Singapore Airlines, memang tak bisa mengikuti jejak MGM Grand Air. Namun, maskapai-maskapai tersebut menempuh proses panjang dan mahal, dengan melibatkan banyak pihak, untuk mendapatkan hasil akhir berupa film-film berkualitas.

Menurut laporan dari Valor Consultancy, sebagaimana dikutip Simple Flying, film in flight atau IFE terbagi menjadi tiga, early window content (EWC), late window content (LWC), dan film internasional. EWC adalah film termahal karena baru saja keluar dari bioskop. LWC justru sebaliknya, meliputi film-film klasik dan jauh lebih murah. Adapun film internasional derajatnya lebih rendah dari LWC, dengan lebih sedikit pilihan.

Maskapai penerbangan biasanya membeli film-film langsung ke Hollywood studio, dimana harga didasari pada rute yang diterbangi dan rating box office film itu sendiri. Semakin tinggi dan semakin baru tentu semakin mahal. Disebutkan, untuk film yang baru rilis, maskapai penerbangan sampai menghabiskan sekitar US$32.718 atau sekitar Rp462 juta (kurs 14.200) per film.

Seiring berjalannya waktu, biaya penyediaan fasilitas IFE yang menempel di bagian belakang kursi pesawat dinilai terlalu mahal. Belum lagi biaya perawatan dan operasional.

Baca juga: Mengapa Pesawat Punya Dua Soket Audio? Inilah Alasannya

Oleh karena itu, perlahan tapi pasti maskapai mulai bergerak menyediakan layanan streaming film langsung ke ponsel penumpang. Dengan sebagian besar penumpang yang sudah mempunyai akses streaming, seperti smartphone, laptop, ataupun tablet, akan jauh lebih murah untuk meninggalkan unit IFE dan menggantinya dengan fasilitas WiFi di pesawat.

Bila itu terjadi, bukan tak mungkin di masa mendatang unit IFE di tiap-tiap pesawat akan ditinggalkan sepenuhnya dan diganti dengan penyedia layanan streaming, seperti Netflix, Amazon Prime Video, dan perusahaan lainnya.

Jaga kelembaban Udara, Inilah Cara Maskapai Mengontrol Suhu di Pesawat

Salah satu hal yang sulit dihindari maskapai di dalam kabin (termasuk kargo) pesawat adalah udara yang “kering” karena kandungan air yang dihasilkan hanya maksimum 15 persen saja. Padahal, kelembaban adalah faktor terpenting untuk menjaga kualitas barang (pada kargo) dan tentu saja kenyamanan penumpang di kabin penumpang.

Baca juga: Jasa Kargo Jadi Kunci Maskapai Lanjutkan Penerbangan Penumpang

Oleh karena itu beberapa maskapai berusaha menaikan tingkat humidity (kelembaban) dengan alat tambahan yang dikenal sebagai ‘humidying system’ atau sistem kelembaban udara seharga lebih dari US$180.000 atau sekitar Rp2,5 miliar (kurs 14.092) dan hanya mampu menaikkan humidity sampai maksimum 25 persen saja. Itu baru di kabin penumpang, untuk kompartemen kargo, pendekatannya beda lagi.

Dilansir Simple Flying, pada kompartemen kargo, maskapai umumnya menggunakan apa yang disebut Unit Load Devices (ULD), untuk menjaga kelembaban sekaligus suhu pada tingkat yang diinginkan. ULD memungkinkan muatan kargo yang berumur pendek dan mudah rusak (mudah basi untuk makanan) menjadi lebih terjaga sampai ke tempat tujuan.

Di antara pemasok ULD dengan kualitas tinggi serta yang terbesar, Envirotainer adalah salah satunya. Perusahaan ini menawarkan berbagai ukuran kontainer dan mengklaim memiliki lebih dari 6.000 kontainer yang beredar. Wadah standar memiliki kisaran suhu -20 hingga 20 derajat Celcius. Pendinginan sebagian besar dicapai dengan pasokan baterai yang dikombinasikan dengan es kering.

Meski demikian, bukan berarti kehadiran ULD otomatis menyelesaikan masalah maskapai terkait pengiriman kargo. Pada prosesnya, maskapai juga harus mempertimbangkan seluruh rangkaian pengiriman kargo, mulai dari mengumpulkan, memuat ke dalam pesawat, mengeluarkan dari pesawat, sampai memindahkan kargo ke kontainer.

Oleh karenanya, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pun mengeluarkan petunjuk teknis terkait hal itu. Setidaknya, ada dua hal yang diatur IATA, Perishable Cargo Regulations (PCR) dan Temperature Control Regulations (TCR).

PCR mencakup semua kargo yang mudah rusak. Selain itu, PCR juga mengatur izin atau persyaratan pemerintah (menurut negara) dan persyaratan pengemasan, pelabelan, dan pelacakan.

Sedangkan TCR merupakan perluasan peraturan dari PCR, mencakup persyaratan atau izin khusus untuk barang dengan suhu terkontrol, termasuk obat-obatan. TCR, termasuk PCR, harus dilakukan dengan sempurna. Sebab, ini menyangkut hajat hidup orang banyak dan rantai pasokan yang rumit.

Baca juga: Kabin Penumpang Penuh Kargo Bikin Pilot ‘Nambah Kerjaan’

IATA menyebut, lebih dari satu triliun dolar kargo farmasi dikirim setiap tahun. Terlebih di masa pandemi virus Corona seperti sekarang ini, permintaan terkait kargo farmasi pasti sangat dibutuhkan dengan puncaknya saat vaksin Covid-19 resmi tersedia. Jauh sebelum masa itu (vaksin Covid-19 tersedia) enam bulan pertama tahun 2020, misalnya, telah terjadi peningkatan permintaan (produk farmasi) sebesar 60 persen.

Pada waktunya tiba, sudah pasti traffic akan tinggi dan transportasi udara sangat berperan untuk mengirim itu ke seluruh dunia, dengan kecepatan serta menjaga kualitas barang jadi andalan.

Hasil Studi: Buka Tutup Pintu Kereta di Stasiun Punya Sirkulasi Sama dengan Jendela Terbuka Saat Kereta Melaju

Perhitungan oleh superkomputer Fugaku Jepang menemukan bahwa membuka dan menutup pintu kereta komuter lokal yang berhenti di stasiun tenyata memiliki tingkat sirkulasi udara yang sama dengan ketika kereta berjalan dengan jendela terbuka. Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti yang berafiliasi dengan pemerintah Riken.

Baca juga: Penularan Covid-19 Lebih Subur Terjadi di Ruangan Ber-AC Tanpa Sirkulasi Udara

Dalam penelitian yang dilakukan, para peneliti melakukan, saat ini Jepang terus melawan virus corona baru. Di mana tim Riken yang dipimpin oleh profesor Makoto Tsubokura dari Universitas Kobe telah menghitung jumlah ventilasi di gerbong depan kereta komuter.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber nippon.com (27/11/2020), Makoto mensimulasikan aliran udara dalam berbagai kondisi seperti berapa banyak jendela yang terbuka dan seberapa sering pintu kereta ditutup. Tim berasumsi bahwa kereta melaju dengan kecepatan 80 kilometer per jam dan memiliki AC yang berfungsi sebagai jalur sirkulasi udara di mana gerbong depan penuh dengan penumpang.

Sementara itu, dengan menunjukkan bahwa semakin terbuka jendela, semakin besar efek sirkulasi udara, perhitungan menemukan bahwa udara di dalam mobil dipertukarkan dengan cepat melalui pintu saat dibuka dan ditutup di stasiun. Perhitungannya yakni, jika pintunya dibuka selama 45 detik saat berada di stasiun, kereta lokal yang berhenti di stasiun setiap dua menit dapat mengamankan jumlah ventilasi yang sama dengan kereta dengan jendela terbuka sebesar lima sentimeter saat berjalan.

“Untuk kereta yang sangat sering berhenti, seperti yang ada di Jalur Yamanote, Anda bisa mendapatkan efek ventilasi sebanyak membuka dan menutup pintu seperti dengan membiarkan jendela tetap terbuka,” kata Makoto.

Dia menyebutkan, saat cuaca semakin dingin, seberapa sering kereta berhenti di stasiun dapat dijadikan patokan untuk memutuskan apakah dan sejauh mana jendela kereta dibuka. Sedangkan di Cina, ventilasi tidak teratur dan memberikan udara serta meningkatkan beban pendinginan stasiun kereta bawah tanah masih menempati pintu masuk stasiun.

Ini di mana metode untuk mensimulasikan ventilasi yang tidak teratur di stasiun kereta bawah tanah dan memverifikasi keakuratan metode simulasi melalui uji lapangan. Koefisien resistansi pintu layar platform, parameter input simulasi kunci, ditentukan dengan uji lapangan berada pada kisaran 0,11-0,35.

Baca juga: Tips Ini Bisa Bantu Hilangkan Udara Panas Dalam Kabin Mobil

Hasil simulasi menunjukkan bahwa ventilasi yang tidak teratur memiliki rentang yang besar dari 4,1 hingga 13,2 meter persegi per second karena kompleksitas faktor yang mempengaruhinya. Kebanyakan stasiun kereta bawah tanah di China tidak lagi membutuhkan udara segar mekanis mengingat tidak tertata.

AutoX Luncurkan Taksi Tanpa Pengemudi di Shenzhen

AutoX baru saja meluncurkan armada taksi tanpa pengemudi atau kendaraan otonom pertamanya di megacity Shenzhen Cina. Mobil ini diluncurkan setelah AutoX bergabung dengan Alibaba untuk beroperasi bersama layanan taksi ride hailing Robo pada April lalu.

Baca juga: California Hadirkan AutoX, Mobil Otonom Pengantar Barang Pesanan

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber newatlas.com (3/12/2020), kehadiran AutoX ini seperti proyek ride hailing kendaraan otonom lainnya di seluruh dunia. Di mana AutoX RoboTaxis di Cina hingga saat ini memiliki pengemudi yang siap mengambil alih kendali kendaraan jika terjadi masalah dalam perjalanan.

Peluncuran armada tanpa pengemudi ini sendiri bisa dilakukan setelah melakukan uji stres tanpa pengemudi menggunakan 25 kendaraan selama enam bulan terakhir atau lebih. Sehingga AutoX kini mengerahkan armada yang sepenuhnya otonom di pusat kota Shenzhen.

Kendaraan tersebut dibangun di sekitar sistem penggerak otonom generasi ke-5 yang baru dirilis perusahaan. Taksi otonom ini mendapat manfaat dari teknologi penginderaan yang lebih kuat termasuk serangkaian kamera resolusi ultra-tinggi, dua radar LiDAR dan 4D untuk membantu RoboTaxis menangani skenario lalu lintas yang kompleks.

Tak hanya itu, AutoX juga dilengkapi dengan beberapa sensor ‘titik buta’ yang dilaporkan mampu mendeteksi benda besar dan kecil. Untuk diketahui, perusahaan telah memposting video ke saluran YouTube-nya di mana setiap orang dapat melihat salah satu taksi otonom perusahaan bermanuver di sekitar kendaraan di jalan, memberi jalan kepada pejalan kaki dan skuter dan memutar balik.

Dan semuanya tanpa operasi jarak jauh atau bantuan manusia. Sekarang, AutoX memiliki lebih dari seratus kendaraan otonom yang beroperasi di Shanghai dan Shenzhen. Selain itu saat ini AutoX juga melakukan lima proyek pengujian di kota-kota di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat.

Baca juga: Mobil Otonom May Mobility Mengular dengan Proteksi Anti Covid-19

Jika kembali pada bulan Juli, perusahaan tersebut menjadi perusahaan ketiga yang diberikan izin pengujian tanpa pengemudi oleh Departemen Kendaraan Bermotor California setelah Waymo dan Nuro.

Singapore Airlines Luncurkan Tempat dan Alat Makan Ramah Lingkungan dari Kertas dan Bambu

Singapore Airlines dan SilkAir belum lama ini resmi meluncurkan konsep makanan kelas ekonomi baru pada penerbangan jarak pendek di bawah tiga setengah jam. Selain menghadirkan lebih banyak variasi menu, konsep tersebut juga menghadirkan tempat dan peralatan makan (sendok serta garpu) ramah lingkungan.

Baca juga: Revolusioner! Tempat Makan di Pesawat Terbuat dari Bahan Alami dan Bisa Dimakan

Dikutip dari businesstravelerusa.com, konsep baru tersebut efektif berlaku sejak 1 Desember lalu. Seluruh pelanggan disuguhkan sekitar 40 hidangan baru dengan variasi lokal maupun internasional di setiap penerbangan.

Menu-menu tersebut secara bergilir akan hadir di setiap penerbangan; termasuk hidangan tradisional Singapura, seperti bubur, laksa, dan mee siam.

Berbagai variasi hidangan tersebut dilengkapi oleh semangat maskapai dalam menerapkan standar hijau, dengan menghadirkan konsep pengemasan baru. Konsep ini diklaim 80 persen mengurangi penggunaan plastik.

Di bawah konsep baru tersebut, makanan di dalam box dan cup anti bocor yang terbuat dari kertas bersertifikat Forest Stewardship Council, dengan penutup box dan sendok serta garpu makan terbuat dari bambu yang dibungkus kertas sehingga lebih ramah lingkungan.

Box makan ramah lingkungan ini, secara dimensi lebih kecil dari tempat makan yang terbuat dari casserole plastik, namun lebih dalam, sehingga tetap menampung kuantitas makanan dalam jumlah yang sama. Selain itu, box ini juga anti bocor dan tahan panas. Dengan begitu jadi lebih aman bila dimasukkan ke oven. Box atau wadah makan ramah lingkungan ini juga berkualitas food grade sehingga aman untuk makanan dan tidak merubah rasa setelah dipanaskan.

Kemasan baru yang dikembangkan bersama SATS, mitra katering maskapai penerbangan yang berbasis di Singapura ini, tidak hanya memperluas dan meningkatkan kualitas pilihan menu kelas ekonomi, tetapi juga menawarkan nilai tambah keberlanjutan (ramah lingkungan) yang signifikan. Penggunaan bahan baku kertas sebagai wadah makanan on board Singapore Airlines juga diklaim menjadikan penerbangan hemat bahan bakar karena pesawat lebih ringan.

Baca juga: Ngeri! Ada Sekrup dalam Hidangan Sup di First Class Singapore Airlines

Di samping itu, bahan-bahan yang masih menggunakan plastik, seperti gelas dan polibag juga diolah oleh SATS jadi bahan bakar yang dapat menggantikan bahan bakar fosil dan batu bara.

“Kami senang dapat menawarkan variasi dan kualitas makanan yang lebih banyak pada penerbangan jarak pendek kami, termasuk pilihan dari favorit lokal Singapura yang populer. Ini adalah bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk meningkatkan pengalaman pelanggan sambil menjaga keberlanjutan di garis depan operasi kami,” kata Yeoh Phee Teik, senior vice president customer experience Singapore Airlines.

Meski Ditentang, Korea Selatan Tetap Perpanjang Masa Sewa Boeing 747 “Code One”

Setelah galau akibat tak kunjung mendapat pengganti Code One atau Air Force One, Korea Selatan akhirnya mengumumkan perpanjangan masa sewa (kontrak) pesawat Kepresidenan hingga Oktober 2021. Keputusan itu tentu akan menambah perdebatan yang terjadi.

Baca juga: Airbus A380 Pernah Ingin Dijadikan Air Force One, Batal Gegara Hal Ini

Sebelumnya, beberapa pejabat dari berbagai fraksi di Negeri Ginseng itu sempat mempertanyakan keberadaan Code One dalam mendukung operasional presiden. Sebab, dengan menyandang status sebagai negara dengan PDB tertinggi ke-10 di dunia, sudah sepatutnya Korea Selatan mempunyai pesawat kepresidenan sendiri, bukan menyewa.

Lagi pula, di luar itu, Departemen Perencanaan Anggaran Majelis Nasional Korea mengklaim membeli pesawat sendiri untuk operasional presiden bisa lebih hemat hingga 470 miliar won. Sebab, masa pemakaiannya bisa sampai 25 tahun.

Atas alasan itu, Boeing sebetulnya sempat menawarkan 747-8VIP dengan kisaran harga US$ 460 juta sebagai pesawat kepresidenan Korea Selatan. Namun, penawaran ini tak kunjung mendapat persetujuan dari parlemen, karena sejumlah fraksi berbeda pendapat. Pada akhirnya, pemerintah mengambil langkah yang sama dengan sebelum-sebelumnya.

Dikutip dari Simple Flying, sejak tahun 2010 lalu, pemerintah Korea Selatan telah menyewa pesawat Boeing 747-400 Korean Air. Usai disewa, pesawat berusia 19 tahun (dibuat tahun 2001) kemudian dimodifikasi ulang sebagai program VC-X oleh pihak ketiga, di bawah pengawasan The Korean Air Force and Presidential Security Service.

Setelah dimodifikasi, Code One dilengkapi dengan berbagai teknologi dan sistem pertahanan, seperti radar-jamming (pengacau radar), missile-deflecting flares (flare untuk membelokkan rudal), dan state-of-the-art communication systems (sistem komunikasi canggih).

Selain itu, pesawat juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah, seperti kamar tidur dan kamar mandi setara hotel berbintang, kantor pribadi, ruang meeting, serta ruang tamu, dengan berbagai interior serta furniture kelas atas.

Fasilitas serupa kemungkinan besar akan tersedia pula di pesawat kepresidenan baru Korea Selatan, Boeing 747-8I, yang baru akan beroperasi pada November 2021 mendatang, usai kontrak Code One Boeing 747-400 Korean Air hangus.

Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Boeing 747-8I dikontrak oleh pemerintah Korea Selatan selama lima tahun, dengan nilai kontrak sebesar US$240 juta. Disebutkan, selain menyediakan satu pesawat lainnya sebagai back-up pesawat utama, Korean Air juga wajib menyediakan pilot, kru kabin, mekanik, dan layanan maintenance.

Sebagai informasi, di luar 747-400, lembaga kepresidenan Korea Selatan sebenarnya juga punya pesawat lain yaitu B737-300 dan CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia yang merupakan bagian dari armada Code One. Dua pesawat itu pada umumnya digunakan untuk tugas kenegaraan di dalam negeri atau tataran regional, berbanding terbalik dengan Queen of the Skies Code One.