Awak Kabin Jual Foto dan Video Cabul, British Airways Tengah Lakukan Penyelidikan Ketat

Sepertinya perilaku awak kabin maskapai luar negeri membuat manajemen melakukan penyelidikan lebih dalam. Hal ini dikarenakan, awak kabin menjual foto dan video cabul mereka untuk menghasilkan uang tambahan selama pandemi Covid-19. Para awak kabin ini pun bekerja di maskapai yang cukup terkenal seperti British Airways, Ryanair dan EasyJet.

Baca juga: Pramugari Jajakan Diri dan Berikan Layanan Seksual, British Airways Lakukan Investigasi

Para awak kabin ini memiliki akun media sosial terlarang untuk memposting foto atau video cabul ketika di pesawat. Tak hanya menjual foto dan video, beberapa diantaranya bahkan menjual sepatu serta celana ketat di eBay dengan harga £3 (AU$5) hingga £180 (AU$325).

KabarPenumpang.com melansir 7news.com.au (8/12/2020), sebuah akun instagram bernama Cabin Crew Used memposting foto dan video cabul sejak Juli lalu. Caption pada bio dari akun Instagram tersebut “Saya adalah awak kabin. Saya telah menggunakan stoking untuk dijual. DM untuk gambar dan video.”

Pramugari Ryanair yang tidak dikenal juga menjalankan halaman OnlyFans, di mana dia mengenakan biaya £10 (AU$18) sebulan untuk berlangganan. OnlyFans memungkinkan pembuat untuk mengupload konten di balik paywall dan menagih pelanggan untuk melihatnya. Tetapi sebagian besar memposting video dan gambar dengan X-rated.

Sebuah video menunjukkan pramugari menggoyangkan kakinya di atas pesawat dengan caption, “Halo semuanya! Jangan ragu untuk DM untuk apa pun yang Anda pikirkan, dan ‘selamat datang di pesawat’.”

Selain itu, seorang pramugari EasyJet memulai akun cabul pada bulan Maret tepat ketika pandemi Covid-19 pecah. Dia menggambarkan dirinya sebagai “pramugari Milf dari London, di sini untuk mengurus semua kebutuhan nakal fetish kaki Anda”.

Dia secara teratur memposting foto cakep saat berpose di sebelah logo EasyJet. Wanita itu juga memiliki akun OnlyFans di mana dia mengenakan biaya £6,50 per bulan (AU$12) untuk gambar dan video. Sedangkan dua awak kabin British Airways menjalankan akun media sosial yang cakap dan meraup uang tunai di OnlyFans.

Salah satunya, bernama Cabin Crew Goddess, secara teratur memposting foto kakinya dengan seragam BA-nya. Dia mengenakan biaya £15 sebulan (AU$27) bagi orang-orang untuk berlangganan ke situs OnlyFans eksplisit miliknya. Seorang lainnya, bernama Stacey Anne, menggambarkan dirinya sebagai awak kabin asal Inggris.

Dia mengenakan biaya £12 sebulan (AU$22) untuk situs OnlyFans-nya, dan juga mengunggah foto-foto yang dibalut perlengkapan BA-nya. Adanya masalah ini, membuat Bristish Airways kemudian angkat bicara.

“Kami mengharapkan standar perilaku tertinggi dari semua kolega kami setiap saat dan kami sedang menyelidiki klaim tersebut,” ujar juru bicara British Airways.

Baca juga: Gegara Video Ciuman dengan Rekan Kerja Tersebar Luas, Awak Kabin Gay Menggugat China Southern Airlines

Sedangkan juru bicara EasyJet mengatakan, hal tersebut tidak mencerminkan standar tinggi yang mereka harapkan atau perwakilan dari kru yang profesional. Ryanair mengaku akan menyelidiki masalah tersebut.

Jika Merger Terjadi, GoJek dan Grab Bakal Untung, Tapi Pengemudi Merugi

Kabar GoJek dan Grab akan melakukan merger kini mencuat dengan cepat. Dua decacorn ini bahkan dikabarkan sudah hampir mencapai kesepakatan untuk menggabungkan bisnis. Namun ketika merger ini terjadi akan membawa keuntungan atau kerugian?

Baca juga: Hasilkan Banyak Keuntungan, Namun GoJek dan Grab Justru PHK Karyawan

Dikutip dari kontan.com, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, merger antara dua decacorn ini dapat menguntungkan. Hal ini karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Sehingga bila merger terjadi, GoJek dan Grab dapat melakukan ekspansi dalam berbagai hal salah satunya dompet digital mereka.

Bhima menyebutkan, jika GoJek dan Grab terus bersaing, maka akan terlalu banyak uang yang dihabiskan untuk mempertahankan pangsa pasar dalam menggaet konsumen. Maka jika rencana ini terjadi akan mendapat dukungan dari investor jika keduanya ingin meraih keuntungan lebih cepat.

Meski keuntungan bisa didapatkan keduanya, ternyata Pengamat dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai, masalah merger ini bisa membuat driver mengalami kerugian. Di mana rata-rata pengemudi memiliki akun pada dua aplikasi decacorn ini dalam mencari nafkah mereka.

Para driver biasanya melakukan ini karena bisa mendapatkan benefit yang lebih banyak dan mudah mencari penumpang. Dikutip dari detik.com, Djoko menyebutkan, jika merger dilakukan, hal ini kemungkinan besar tidak lagi bisa dilakukan oleh para pengemudi.

Djoko menilai meskipun dua perusahaan bergabung, nasib driver angkutan online akan tetap sama saja. Apalagi selama ini driver angkutan online statusnya masih mitra, dan kebanyakan membuat kedudukan driver lemah.

Maka dari itu apabila tidak ada perubahan pada sistem kerja itu driver justru akan semakin dirugikan apabila merger Gojek dan Grab dilakukan. Namun meski begitu, Djoko mengatakan, tidak ada masalah bagi GoJek maupun Grab bila akan melakukan merger.

Dia juga mengatakan rencana merger ini dilakukan karena kedua belah pihak saat ini sedang terdesak. Menurutnya, baik GoJek dan Grab saat ini mengalami penurunan pengguna karena pandemi Corona.

Baca juga: Meski Jauh dari Kesepakatan, GoJek dan Grab Diskusikan Potensi Merger

Hal itu pun membuat perusahaan mengalami penurunan masukan, untuk tetap menjaga eksistensi maka kedua pihak bisa saja melakukan merger untuk saling menguatkan.

Inilah Dornier D328eco, Pesawat Hybrid-Listrik Deutsche Aircraft Berteknologi Pilot Tunggal

Deutsche Aircraft dikabarkan sedang mengembangkan pesawat bertenaga hybrid-listrik, D328eco. Tak hanya itu, pabrikan asal Jerman ini juga mengembangkan teknologi pilot tunggal atau satu pilot untuk mengoperasikan pesawat yang rencananya akan mulai dipasarkan pada 2025 mendatang tersebut.

Baca juga: Prototipe Kedua Pesawat Listrik-Hybrid Terbesar di Dunia Ampaire Electric EEL Sukses Mengudara

Dilansir flightglobal.com, proyek yang didukung oleh pemerintah Jerman untuk mempromosikan pesawat ramah lingkungan (tanpa emisi karbon) itu merupakan pengembangan dari pesawat Dornier D328. Dimensi besar -panjang mencapai 23,3 m atau dua meter lebih panjang dari D328- memungkinkan D328eco mengangkut 43 penumpang sekaligus atau 10 penumpang lebih banyak dari Dornier D328.

Disebutkan, Deutsche Aircraft D328eco akan ditenagai oleh powerplant Pratt & Whitney Canada PW127S serta dua turboprop seri PW100, dengan range terbang cukup untuk tataran regional atau komuter.

Meskipun dapur pacu belum bisa dipastikan, namun pabrikan menyebut kemungkinan besar pesawat D328eco akan ditenagai sistem hybrid-listrik. Dengan begitu, pesawat yang akan diproduksi di Leipzig, Jerman, ini diharapkan bakal menjadi pioneer untuk memulai penerbangan ramah lingkungan atau tanpa emisi gas buang di masa mendatang.

“D328eco akan menawarkan alternatif, solusi eco-efisien dalam pasar komuter regional sub-50 kursi dan multi-peran. Ini akan membuka jalan menuju nol emisi dalam 15 tahun ke depan,” kata juru bicara Deutsche Aircraft.

Di samping menggunakan teknologi ramah lingkungan, D328eco juga akan menerapkan teknologi mutakhir mencakup avionics suite terbaru serta single-pilot operations atau pilot tunggal tanpa bantuan co-pilot di kokpit. Saat ini, belum ada teknologi single-pilot atau satu pilot cukup jarang ditemui. Tetapi, teknologinya sudah ada, baik untuk pesawat komuter ataupun pesawat jet. Hanya saja, memang butuh pengembangan lebih jauh agar teknologi tersebut aman ketika massif digunakan.

Formulasi teknologi single-pilot, ramah lingkungan, serta dimensi pesawat menengah dinilai akan lebih dilirik maskapai di masa mendatang. Menurut Deutsche Aircraft, hal itu dipicu oleh perubahan pola penumpang atau traveler dalam bepergian akibat pandemi Covid-19, dimana mereka akan cenderung terbang jarak pendek point-to-point dan menghindari penerbangan jarak jauh.

Baca juga: Pertama di Dunia, Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas, Landing, dan Taxi Otomatis! Pilot Terancam?

“Kebiasaan bepergian dan tuntutan pada maskapai penerbangan akan berubah. Operasi hub-and-spoke tradisional skala besar akan direstrukturisasi karena permintaan untuk transportasi jarak pendek, titik-ke-titik, dan rendah emisi meningkat,” jelas juru bicara Deutsche Aircraft.

Senada dengan Deutsche Aircraft, produsen pesawat asal Brasil, Embraer, juga telah melihat kecenderungan hal itu dalam beberapa bulan terakhir. Karenanya, Embraer dikabarkan tengah mempertimbangkan pengembangan pesawat turboprop baru yang dibangun dari badan pesawat Embraer E-jet, dengan kapasitas sekitar 100 kursi.

Aeroflot Registrasi Pesawat Airbus A350 Baru di Bermuda, Gegara Lari dari Pajak?

Sebelum dioperasikan, sebuah pesawat harus diregistrasi terlebih dahulu. Registrasi pesawat tidak harus di dalam negeri, tetapi boleh di luar negeri dengan sejumlah alasan dan ketentuan. Seperti yang dilakukan oleh Aeroflot.

Baca juga: Bukan Amerika, Inggris, atau Cina, Inilah Negara yang Jadi Tempat Registrasi Pesawat Terbanyak

Belum lama ini, maskapai nasional Rusia itu kedatangan pesawat baru Airbus A350. Sebagai flag carrier, bukan berarti maskapai meregistrasi pesawat di negara yang dipimpin oleh Vladimir Putin tersebut. Faktanya, Aeroflot lebih memilih meregistrasi pesawat di Bermuda, sebuah wilayah di bawah kekuasaan Britania Raya, dengan awalan VQ (ada juga yang berawalan VP, termasuk El untuk registrasi pesawat di Irlandia).

Dari kacamata hukum, meregistrasi pesawat -termasuk meregistrasinya di luar negeri- sudah diatur oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Menurut ICAO, registrasi pesawat secara teknis disebut sebagai Aircraft Nationality and Registration Marks dan tertuang di Pasal 17 hingga 21 Konvensi Chicago 1944.

Dengan dasar itu, maskapai menimbang-nimbang untung rugi meregistrasi pesawat di sebuah negara. Di Rusia, sekalipun dikenal memiliki teknologi kedirgantaraan yang maju, faktanya, secara manajemen tak begitu dianggap baik. Buktinya, menurut Russian Aviation Insider, pada 2017, dari 743 pesawat impor yang beroperasi di Negeri Beruang Merah itu, hanya 133 (termasuk 123 pesawat kecil) yang terdaftar di sana.

Dari sebuah artikel AIN Online yang dikutip Simple Flying, setidaknya ada empat alasan mengapa maskapai nasional Rusia sekalipun meregistrasi pesawat di luar negeri. Pertama, maskapai Rusia berusaha menghindari pajak impor tinggi. Kedua, registrasi pesawat di Rusia cenderung dihindari aircraft financiers (pemodal) dan lessor karena prosedur standar kelaikan udara yang berbeda. Ketiga, tensi politik Rusia yang membuat tidak nyaman. Keempat, kemampuan bahasa asing (bahasa Inggris) otoritas Rusia yang terbatas dan menyulitkan komunikasi dengan lessor dan financiers.

Berbagai alasan di atas, sudah barang tentu didukung oleh hukum di Rusia. Sejauh ini, Rusia memang tak melarang pesawat-pesawat yang dioperasikan maskapai yang terdaftar di negara itu untuk meregistrasi pesawat mereka di luar negeri. Namun, beberapa tahun mendatang, agaknya hal itu akan berubah.

Disebutkan, Badan Transportasi Udara Federal Rusia sudah sejak beberapa tahun belakangan berusaha membujuk maskapai agar mau meregistrasi pesawat di dalam negeri. Puncaknya, tahun lalu, pemerintah Rusia mengesahkan undang-undang baru yang mengatur bahwa pesawat impor tidak dikenai pajak.

Baca juga: Jangan Kaget, Inilah Jumlah Pesawat yang Di-grounded di Seluruh Dunia

Selain itu, pesawat-pesawat yang saat ini masih terdaftar atau diregistrasi di luar negeri juga tak dikenai pajak hingga 2023 mendatang. Hal itu diharapkan dapat mendorong maskapai untuk mau meregistrasi pesawat di Rusia, bukan hanya oleh maskapai dalam negeri namun juga maskapai luar negeri.

“Kami sangat mampu untuk mempertahankan kelaikan udara di negara ini. Saya berharap bahwa pada akhir periode transisi banyak flag carrier non-Rusia yang ingin meregistrasi pesawat mereka di sini,” jelas Wakil Menteri Transportasi Rusia, Aleksander Yurchik.

Tak Menyerah Akibat Pandemi, Kapal Pesiar di Singapura Tawarkan “Sailing to Nowhere”

Setelah maskapai penerbangan menawarkan layanan “flight to nowhere,” lantas bagaimana dengan jasa kapal pesiar di masa pandemi? Nyatanya saat ini pun masih banyak kapal pesiar yang belum kembali berlayar di lautan. Bahkan beberapa diantaranya yang beroperasi tidak memiliki tujuan untuk berlabuh. Seperti kapal pesiar Singapura yang tidak diizinkan berlabuh kemanapun untuk membantu penyebaran lebih luas Covid-19.

Baca juga: Singapura Jadi Negara Pertama Tawarkan Kapal Pesiar Berlayar Tanpa Tujuan

Genting Cruise Lines, operator World Dream mengaku telah menerima enam ribu pesanan dalam lima hari. Pesanan ini untuk Royal Caribbean yang bersiap berlayar di Singapura pada Desember ini. Angka tersebut dikatakan Genting Cruise Lines, enam kali lebih tinggi dari biasanya yang didapat perusahaan pada bulan Oktober.

Penumpang menikmati malam di atas kapal pesiar World Dream (nytimes.com)

KabarPenumpang.com merangkum nytimes.com (3/12/2020), World Dream menawarkan hampir semua yang dilakukannya sebelum virus Corona menyerang, termasuk zip line, dua kolam renang, kasino, 11 restoran dan kafe dan berbagai pertunjukan. Hanya ruang karaoke yang ditutup, sesuai pedoman Pemerintah Singapura.

Singapura mewajibkan penumpang melakukan tes Covid-19 sebelum naik. Alih-alih Hong Kong, Okinawa, atau tujuan cerah lainnya, kapal tidak akan berlabuh di mana pun selain Singapura. Selain itu, kapasitas telah dipangkas menjadi dua, hingga batas 1.700 tamu.

Mengikuti pedoman Singapura, perusahaan pelayaran meningkatkan filter udaranya dan menerapkan jarak sosial. Mereka meminta penumpang untuk membawa perangkat pelacakan kontak, yang terhubung ke sistem pemantauan Singapura. Mereka melakukan latihan tentang apa yang harus dilakukan jika penumpang menunjukkan gejala seperti tes, pelacakan kontak, isolasi orang yang terinfeksi, beri tahu penumpang untuk kembali ke kabin mereka dan berlayar pulang.

“Royal Caribbean berencana untuk membeli asuransi Covid-19 untuk setiap penumpang yang akan menanggung biaya hingga $19 ribu jika tamunya terinfeksi,” kata Angie Stephen, direktur pelaksana jalur Asia-Pasifik.

Michael Goh, kepala penjualan internasional Genting Cruise Lines mengatakan, langkah-langkah tersebut mendorong biaya sekitar 40 persen lebih tinggi. Dia menambahkan, meski begitu mereka menjadikan kapal pesiar “salah satu liburan teraman saat ini. Sedangkan untuk restoran dan penyajian makanan, para tamu berdiri di atas stiker dengan jarak tiga kaki, membuat antrean panjang di area prasmanan.

Baca juga: Wisata “Kapal Hantu,” Lepas Pantai Christchurch di Inggris Jadi Kuburan Kapal Pesiar

Meski begitu, para penumpang tampaknya bersyukur atas kesempatan pergi ke tempat lain untuk pertama kalinya sejak wabah, meski “ke tempat lain” adalah kapal pesiar yang berlayar di tengah air.

 

 

 

Bukan Cuma Corona, Krisis Minyak Tahun 1973 Juga Bikin Industri Penerbangan Global Rugi Besar

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyebut pandemi Covid-19 mengancam kelangsungan industri transportasi. Selain itu, IATA juga memperingatkan bahwa 2020 akan menjadi tahun “terburuk” sepanjang masa bagi industri tersebut.

Baca juga: Dassault Mercure, Sang Penantang Boeing 737 dan Airbus A320 yang Terjegal Krisis Minyak

Peringatan tersebut tentu bukan tanpa dasar. Sebelumnya, asosiasi yang membawahi 290 maskapai penerbangan di 120 negara itu memprediksi, maskapai penerbangan global bakal merugi hingga US$157 miliar atau sekitar Rp2.219 triliun lebih (kurs Rp14.135) sepanjang 2020 dan 2021. Parahnya lagi, perkiraan itu ialah hitungan kasar dan bisa jadi jauh lebih buruk.

Namun, bila melihat jauh ke belakang, rupanya industri penerbangan global juga pernah kalang kabut di medio 70an. Bukan akibat pandemi virus layaknya Covid-19, melainkan akibat krisis minyak dunia.

Krisis minyak pertama kali dimulai pada Oktober 1973 setelah anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Arab (OAPEC) memproklamasikan embargo minyak. Sejurus kemudian, harga minyak naik 400 persen. Padahal, sumbangan harga avtur dalam harga tiket pesawat mencapai 30 persen. Tak terbayang bukan lonjakan harga tiket yang disebabkan hal itu.

Selain itu, sebagaimana dikutip dari Simple Flying, bila pun masyarakat masih sanggup membeli tiket, maskapai tak bisa bebas terbang kemanapun. ICAO menyarankan agar maskapai menghemat untuk menjaga pasokan bahwa bakar. Dalam sekali terbang, pesawat memang membutuhkan banyak bahan bakar.

Boeing 747, misalnya, menghabiskan sekitar empat liter per detik, atau 240 liter per menit, dan 14.400 liter per jam. Dengan jangkauan terbang cukup jauh dengan durasi penerbangan rata-rata lima jam, terbayang bukan berapa liter bahan bakar yang harus diisi? Terlebih, harus ada perhitungan lebih oleh pilot ketika merencanakan penerbangan. Itu berarti, bahan bakar yang diisi, dalam kasus di atas, bukan berarti 14.400 x 5, melainkan bisa lebih dari itu.

Laporan The New York Times, ketika krisis minyak global pada medio 70an semakin parah, penerbangan di dunia dispesifikasi. Hanya penerbangan dengan rute gemuk sajalah yang boleh terbang. Di luar itu, maskapai tak boleh terbang.

Selain itu, pesawat-pesawat dengan mesin boros juga digrounded. Sebagai gantinya, hanya pesawat dengan tingkat konsumsi bahan bakar tertentu yang boleh mengudara. Di samping itu, produsen mesin juga didorong untuk menciptakan mesin baru yang lebih efisien sebagai antitesa dari embargo minyak oleh OAPEC.

Baca juga: Hari Ini, 38 Tahun Lalu, Boeing 757 Terbang Perdana Saat Berkecamuk Krisis Minyak Global

Gal Luft dari Institute for the Analysis of Global security menekankan bahwa pesawat yang dibuat pada pergantian abad ke era millenium 70 persen lebih hemat bahan bakar daripada tiga dekade sebelumnya. Pasar mampu meningkatkan efisiensi bahan bakarnya sekitar 1 persen setahun selama tiga dekade sejak tahun 1970-an. Angka ini berarti penghematan sekitar 80.000 galon bahan bakar untuk setiap pesawat setiap tahun.

Meskipun berhasil menyesuaikan diri, krisis minyak global tetap saja memicu kerugian besar di industri penerbangan global, sekalipun memang tak sebesar kerugian akibat virus Corona.

Sering Ada Penyalahgunaan, Maskapai Penerbangan Batasi Jenis Hewan Pendukung Emosional

Belum lama ini, Departemen Transportasi Amerika Serikat tidak lagi mempertimbangkan hewan pendukung emosional sebagai pemandu dalam penerbangan. Ini juga memungkinkan maskapai penerbangan membatasi jenis hewan yang terbang secara gratis. Dalam revisi Undang-Undang Akses Maskapai Udara, Departemen Transportasi mendefinisikan hewan pemandu adalah anjing apa pun rasnya dan dilatih untuk melakukan pekerjaan atau tugas untuk kepentingan individu penyandang disabilitas yang memenuhi syarat.

Baca juga: Burung Merak, Ikon Pendukung Emosi Ini Dilarang Masuk dalam Penerbangan

“Maskapai penerbangan tidak diharuskan untuk mengenali hewan pendukung emosional sebagai hewan pemandu dan dapat memperlakukan mereka sebagai hewan peliharaan,” kata departemen transportasi.

KabarPenumpang.com melansir abcnews.go.com (3/12/2020), revisi tersebut ada karena upaya maskapai untuk menindak para pelancong yang menyalahgunakan kebijakan hewan dukungan emosional. Di mana kebanyakan hewan pemandu adalah anjing, meskipun kuda mini, hamster, babi dan bahkan burung merak telah terbang sebagai hewan pendukung emosional.

Sumber: tribunnews.com

Departemen Transportasi mengatakan bahwa praktik penyalahgunaan tersebut telah mengikis kepercayaan publik pada hewan pemandu yang sah. Hal tersebut disebabkan penumpang yang curang dengan membawa hewan peliharaan mereka dan mengatakan itu adalah hewan pemandu demi menghindari biaya pengangkutan hewan peliharaan.

Airlines for America, sebuah asosiasi perdagangan maskapai penerbangan memperkirakan bahwa jumlah penumpang yang terbang dengan hewan pendukung emosional pada 2018 meningkat 14 persen, menyusul peningkatan 60 persen tahun sebelumnya. Kenaikan itu juga disertai dengan “peningkatan tajam” dalam insiden yang disebabkan oleh hewan, dari menggigit hingga buang air besar.

Pembaruan tersebut juga didukung oleh beberapa serikat pramugari. Julie Hedrick, presiden Asosiasi Pramugari Profesional mengatakan, bahwa tidak pantas untuk menempatkan hewan pemandu yang tidak terlatih atau tidak terlatih di ruang publik terbatas seperti kabin pesawat,.

Berdasarkan ketentuan baru, maskapai penerbangan dapat meminta orang yang bepergian dengan hewan pemandu untuk mengisi formulir yang membuktikan kesehatan, perilaku, dan pelatihan hewan tersebut. Mereka juga dapat meminta agar hewan selalu diikat baik di bandara atau di dalam pesawat.

Baca juga: Bergaya “Dasi Kupu-Kupu,” Kelinci Pendamping Emosional Naik Kelas Bisnis

Penumpang masih dapat bepergian dengan hewan peliharaan berdasarkan kebijakan hewan peliharaan pengangkut, yang biasanya akan dikenakan tarif $125 sekali jalan untuk membawa hewan peliharaan kecil.

Setelah Lima Tahun, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Baru Mencapai 56 Persen

Pada awalnya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung sangat dibanggakan dan menjadi kemenangan bagi Beijing yang mendukung impian Belt and Road Initiative (BRI) di Indonesia. Namun setelah, lima tahun berjalan, bagaimana proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung?

Baca juga: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Penuh Masalah, Indonesia Balik Rangkul Jepang! Ahli: Sulit Integrasikan Cina-Jepang

Bisa dikatakan proyeknya kini tak lagi bisa lagi dibanggakan, bahkan berubah menjadi mimpi buruk karena ada unsur penggusuran paksa, jalanan banjir, rumah dan lahan pertanian rusak, protes massal, pembengkakan anggaran secara besar-besaran hingga pelanggaran enam Undang-Undang di Indonesia.

Padahal kereta cepat ini sendiri merupakan proyek senilai US$5,5 miliar yang diberikan Presiden Joko Widodo kepada perusahaan dari Cina. Sejak awal proyek ini merupakan serangkaian keputusan yang buruk dan asusmsi salah arah bahwa setiap infrastruktur pada dasarnya layak untuk dibangun. Dirangkum KabarPenumpang.com dari thediplomat.com (3/12/2020), pengembangan proyek terang-terangan mengabaikan tanda bahaya besar yang terkait dengan desain proyek, keberlanjutan dan kepatuhan hukum.

Menurut masyarakat lokal, jalur rel tersebut akan menghilangkan ratusan rumah tangga dari lahan pertanian mereka, sehingga menghilangkan mata pencaharian ekonomi tradisional mereka. Ketakutan ini telah menyebabkan protes yang meluas dan berulang di sepanjang jalur rel 142 kilometer yang diusulkan sejak 2015.

Klaim pemerintah Indonesia dan Cina bahwa jalur kereta api akan memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat, ibarat mengoleskan garam ke luka bagi masyarakat lokal yang membantah bahwa Pemerintah Indonesia seharusnya memprioritaskan infrastruktur berdasarkan kebutuhan masyarakat yang sebenarnya seperti perumahan. Sebagai kereta berkecepatan tinggi, terutama akan lebih menguntungkan kaum elit Indonesia yang mampu membayar biaya perjalanan yang mahal.

Beberapa laporan berpendapat bahwa menghubungkan Jakarta dan Bandung dengan kereta api akan menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi kenyataannya manfaat tersebut akan menguntungkan elit Indonesia secara tidak proporsional. Penolakan publik begitu kuat sehingga proyek tersebut berulang kali macet karena kegagalan yang sedang berlangsung dalam pembebasan lahan.

Hal ini bahkan mendorong pemodal utama, China Development Bank milik negara, untuk menahan pencairan pinjaman hingga 100 persen tanah telah dibebaskan. Bahkan TNI AU  telah menolak menyerahkan tanah untuk proyek yang tidak direncanakan itu.

Untuk proyek yang dimaksudkan, menunjukkan ambisi BRI Cina, juga aneh bahwa pendukung kereta api Cina tidak pernah mempublikasikan studi kelayakan mereka. Memastikan transparansi proyek dan pengungkapan informasi dengan membagikan dokumen-dokumen ini akan meningkatkan kepercayaan publik.

Meski begitu, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung masih berlangsung meski virus corona terus menyebar luas di dalam negeri. Sejauh ini, pembangunan proyek tersebut baru menyentuh 56 persen.

Baca juga: Pembebasan Lahan Tuntas, LRT Jabodebek dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Mengular 2021

Tiko menargetkan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung bisa selesai akhir 2022. Jika meleset, proyek tersebut diharapkan paling lambat selesai awal 2023 mendatang.

Mengenal Envirotainer, Kontainer Pembawa Vaksin Covid-19 Pertama Indonesia Buatan Sinovac

Pesawat Boeing 777-300ER Garuda Indonesia, yang membawa 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 pertama di Indonesia buatan Sinovac, berhasil mendarat mulus di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada hari Minggu (6/12).

Baca juga: Jaga kelembaban Udara, Inilah Cara Maskapai Mengontrol Suhu di Pesawat

Vaksin Covid-19 Sinovac yang dimuat dalam deretan kontainer Envirotainer tersebut belum bisa langsung divaksin, melainkan harus menunggu proses izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta sertifikasi halal MUI.

Terlepas dari kapan vaksin tersebut digunakan dan siapa yang bakal divaksin terlebih dahulu, proses mengirim vaksin tersebut tentu tak mudah, mengingat suhu vaksin harus terjaga agar tetap efektif bekerja saat disuntik ke manusia. Itulah mengapa vaksin dikirim menggunakan Envirotainer, kontainer yang didesain khusus untuk membawa muatan produk-produk riskan seperti produk farmasi.

Dilansir dari laman resminya, Envirotainer sendiri merupakan brand kontainer (kargo udara) terbesar di dunia. Perusahaan asal Swedia ini kondang dikenal di jagat transportasi udara internasional sebagai penyedia jasa kontainer yang mampu mengirim berbagai produk farmasi atau produk-produk sensitif lainnya dengan aman berkat apa yang disebut sebagai Unit Load Devices (ULD).

ULD berfungsi untuk menjaga kelembaban sekaligus suhu pada tingkat yang diinginkan. ULD memungkinkan muatan kargo yang berumur pendek, mudah rusak (mudah basi untuk makanan), dan sensitif menjadi lebih terjaga sampai ke tempat tujuan.

Kontainer standar Envirotainer memiliki kisaran suhu -20 hingga 20 derajat Celcius. Suhu tersebut akan selalu terjaga dengan teknologi t2 active temperature control system berupa kuantitas biang es yang cukup. Selain itu, suhu di dalam kontainer juga terjaga berkat adanya e1/e2 active temperature control system berupa kompresor pendingin dan pemanas listrik.

Dengan jaringan penyewaan kontainer dan suplai chain berkesinambungan, didukung dengan tenaga andal, Envirotainer juga bisa dilacak posisi serta kondisi suhu di dalam kontainer. Hal itu dimungkinkan berkat aplikasi khusus yang dibuat untuk memantau secara real time before-after pengiriman.

Meski demikian, bukan berarti kehadiran ULD atau Envirotainer otomatis menyelesaikan masalah maskapai terkait pengiriman kargo. Pada prosesnya, maskapai juga harus mempertimbangkan seluruh rangkaian pengiriman kargo, mulai dari mengumpulkan, memuat ke dalam pesawat, mengeluarkan dari pesawat, sampai memindahkan kargo ke kontainer.

Oleh karenanya, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pun mengeluarkan petunjuk teknis terkait hal itu. Setidaknya, ada dua hal yang diatur IATA, Perishable Cargo Regulations (PCR) dan Temperature Control Regulations (TCR).

Baca juga: Berkah Vaksin, IATA Sebut Butuh 8 Ribu Pesawat Jumbo untuk Antarkan Vaksin ke Seluruh Dunia

PCR mencakup semua kargo yang mudah rusak. Selain itu, PCR juga mengatur izin atau persyaratan pemerintah (menurut negara) dan persyaratan pengemasan, pelabelan, dan pelacakan.

Sedangkan TCR merupakan perluasan peraturan dari PCR, mencakup persyaratan atau izin khusus untuk barang dengan suhu terkontrol, termasuk obat-obatan. TCR, termasuk PCR, harus dilakukan dengan sempurna. Sebab, ini menyangkut hajat hidup orang banyak dan rantai pasokan yang rumit.

MyTimor, Aplikasi Ride Hailing Besutan Telkomcel untuk Masyarakat Timor Leste

Timor Leste kini punya aplikasi ojek dan taksi online pertamanya untuk mengantar orang serta mengirim barang atau paket. Aplikasi bernama MyTimor ini diluncurkan oleh Telkomcel yang meruapakan operator seluler di Timor Leste milik Telkom Indonesia Internasional (Telkom Group).

Baca juga: Menyusup di Aplikasi RadickRadio, Aplikasi Ride Hailing Asal Iran Dihapus dari App Store!

Kehadiran aplikasi MyTimor ini sendiri guna untuk memudahkan masyarakat Timor Leste dalam aktivitas di tengah pandemi Covid-19 atau dalam masa State Emergency. Tak sendirian, Telkomcel menjalakankan MyTimor bersama dengan Corrotrans yang merupakan perusahaan lokal Timor Leste yang memiliki bidang usaha transportasi taksi berbayar.

“Aplikasi ini adalah product innovative karya anak bangsa dari Telkomcel agar masyarakat Timor-Leste tetap bisa melakukan aktivitas secara produktif dengan aman dan mudah di masa pandemi COVID-19. Hal ini selaras dengan visi dan misi CEO Telkom Group, bahwa Tekom Group harus menjadi pilihan utama perusahaan digital telco untuk memajukan masyarakat di manapun berada”, ujar CEO Telkomcel, Yogi Rizkian Bahar yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Jika dilihat secara sepintas, alikasi ini memiliki aspek yang sama dengan GoJek maupun Grab dari proses pendaftaran driver hingga beberapa layanannya. Nama aplikasi MyTimor sendiri diambil dari kata “Hau Nia Timor” dalam bahasa tetum, bahasa lokal Timor Leste yang berarti ‘milik’ dengan tagline Buat hotu ida fasil yang berarti ‘Semua jadi lebih mudah’.

Yogi mengatakan, aplikasi MyTimor menjamin kestabilan jaringan yang lebih baik dalam melakukan proses pemesanan dan pelacakan lokasi hingga keamanan karena lokasi server-nya berada di Timor Leste. Selain itu kelebihan dari MyTimor dapat digunakan oleh semua nomor operator telekomunikasi yang beroperasi di Timor Leste. MyTimor akan diresmikan pada tanggal 4 desember 2020 kemarin.

“Telkomcel berharap dengan adanya aplikasi tersebut dapat memudahkan masyarakat dalam melakukan kegiatan ataupun berbelanja melalui aplikasi online, melakukan pengiriman barang atau paket dengan lebih mudah, nyaman dan aman. Di samping itu kehadiran aplikasi MyTimor yang akan mendampingi dan mempermudah aktivitas masyarakat sehari-hari ini selaras dengan tujuan dari keberadaan team Telkomcel yang mampu bekerja dengan meaning and purpose,“ ujar Yogi.

Baca juga: Imbas Pandemi Bisnis Turun 100 Persen, Jeeny Tata Ulang Model Bisnis Ride Hailing di Arab Saudi

Yogi mengatakan, menjadikan Telkomcel menjadi perusahaan yang memberikan dampak positif bagi pembangunan inklusif dan berkelanjutan untuk negara Timor Leste.