Aptera Tawarkan Desain Mobil Listrik Bertenaga Surya dengan Jarak Tempuh 1600 Km

Kendaraan dengan tenaga listrik atau electric vehicle (EV) semakin berkembang dan kini bahkan sudah mulai beroperasi di berbagai negara. Namun banyak yang bertanya mengapa tidak memiliki atap panel surya? Ternyata jawabannya selalu sama di mana panel surya tidak menghasilkan banyak daya.

Baca juga: BYD dan Didi Luncurkan D1, Mobil Listrik Pertama yang Dirancang Khusus untuk Ride Hailing

Tapi kemudian Aptera hadir dengan klaim bahwa 180 panel surya kecilnya yang memiliki luas tiga meter persegi, dimana panel surya ini bisa memanen energi yang cukup sehingga banyak pengemudi tidak perlu mengisi daya dalam waktu lama.

bagian dalam mobil Aptera (newatlas.com)

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (4/12/2020), mobil milik Aptera ini memiliki spesifikasi terbaik dan dapat menempuh jarak sejauh 45 mil atau 72 km per hari dalam kondisi ideal. Jarak tempuh ini bila ditotal lebih dari dua kali jarak tempuh harian rata-rata pemilik mobil Amerika.

Bahkan ini tidak menjadi jumlah energi yang terlalu besar karena adanya penghematan yang ekstrim. Mobil dengan panel surya milik Aptera memiliki dua kursi yang tampak seperti aeronautika dimana koefisiensi drag yang belum pernah terdengar hanya 0,13.

Ini bila dibandingkan dengan konsep Volkswagen ID Space Vixxion dengan koefisien drag 0,24 yang “sangat rendah”, Aptera jauh di depan. Mobil ini dibuat dengan bahan komposit karbon/ kevlar/ rami dalam konstruksi inti sehingga membuatnya sangat ringan dan sangat kuat.

Sedangkan powertrainnya, tersedia beberapa opsi, dengan motor listrik berpendingin cairan baik di dua roda depan, atau di ketiganya. Output daya sekitar 50 kW (67 hp) per motor direncanakan terakhir kali check in. Namun setelah pengecekan, perusahaan tetap diam pada spesifikasi akhir untuk saat ini.

Dalam hal kinerja, mereka akan keluar jalur dengan cepat, melaju dengan kecepatan 0-60 mph (0-96 km per jam) dalam 3,5 detik seperti supercar dalam konfigurasi tertentu. Kecepatan tertinggi dibatasi pada 110 mph (177 km per jam) yang cukup sporty. Sehingga Anda tidak perlu bergantung pada Matahari untuk berkeliling, di mana ukuran baterai juga akan bervariasi, dan Aptera mengatakan Anda akan dapat membelinya dengan jarak 250-, 400-, atau 600-mil (400-, 644- , atau 965-km).

Tak hanya itu, Anda bisa menggunakan big daddy dengan baterai yang mampu menempuh 1.000 mil (1.600 km), kemungkinan besar dikirim dengan paket 100 kWh. Untuk memberi Anda gambaran tentang seberapa efisien kendaraan roda tiga ini, model Tesla S P100D mengalami peningkatan efisiensi yang radikal tahun ini dan sekarang dapat menempuh jarak 402 mil dari ukuran baterai yang sama.

Agar adil, Tesla benar-benar membawa mobilnya ke jalan, dan Aptera baru berhasil mencapai tahap prototipe produksi sejauh ini, dari penampilannya. Tapi sekarang sudah siap menerima reservasi untuk mobil edisi khusus “Paradigm” dan “Paradigm +” yang akan diproduksi pada tahun 2021.

Baca juga: Dalam Waktu Enam Menit, Baterai Mobil Listrik Terisi 90 Persen

Harga mobil tenaga surya Apter ini diperkirakan antara US$25.900 dan US$46.900, tergantung pada pilihan konsumen.

Dassault Aviation Luncurkan Falcon 6X, Pesawat dengan Kabin Terluas dan Tertinggi di Dunia

Meski sempat terhalang pandemi virus Corona, Dassault Aviation akhirnya resmi meluncurkan seri Falcon terbaru, Falcon 6X ultra widebody. Selain menjadi pesawat terbaru dan tercanggih dari pabrikan asal Perancis tersebut, Dassault Falcon 6X juga menjadi pesawat atau jet bisnis dengan kabin tertinggi dan terluas di dunia.

Baca juga: Dassault Falcon 20 – Sosok Jet Pribadi Unik di Halaman Depan Kantor GMF AeroAsia

“Peluncuran hari ini merupakan pencapaian yang signifikan. Saya sangat senang mempersembahkan tambahan desain pesawat baru dalam keluarga Falcon, Falcon 6X ultra widebody. Tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 membutuhkan ketekunan dan kerja sama yang luar biasa dari kami maupun mitra pendukung,” kata Eric Trappier, CEO Dassault Aviation, seperti dikutip dari Sam Chui.

“Falcon 6X merupakan keuntungan besar bagi operator jet bisnis berbadan lebar. Pesawat pemegang penghargaan kabin tertinggi dan terluas dalam penerbangan bisnis ini, memberikan tingkat keluasan, kenyamanan, produktivitas, dan keselamatan yang akan menjadi tolok ukur baru dalam segmen jarak jauh,” lanjutnya.

Falcon 6X menawarkan kenyamanan kabin, jangkauan lebih jauh, dan efisiensi terbang. Pesawat mampu terbang menjangkau jarak 5.500 mil (8.851 km) dengan kecepatan tinggi, mencapai Mach 1 atau 1.234 km per jam, untuk menghubungkan rute-rute jauh seperti Paris ke Tokyo atau Los Angeles ke Moskow non stop serta dalam waktu singkat.

Pesawat jet pribadi bermesin ganda ini dilengkapi dengan teknologi inovatif terbaru, termasuk Sistem Kontrol Penerbangan Digital (DFCS) yang dapat memberikan kemampuan manuver tak tertandingi. DFCS baru juga mengontrol semua permukaan-permukaan bergerak, termasuk area kontrol multifungsi baru yang disebut flaperon. Komponen ini diadaptasi dari pesawat tempur Dassault.

Falcon 6X menggunakan mesin Pratt & Whitney Canada PW812D. Mesin ini telah menyelesaikan pengujian udara pada awal tahun dan uji darat beberapa bulan bekalangan ini menggunakan pesawat penguji Boeing 747. Hingga saat ini PW812D telah mengakumulasi lebih dari 200 jam terbang dan lebih 1.600 jam pengujian di darat, termasuk uji serangan burung, konsumsi es, dan uji blade-off.

Mesin seri PW800 melebihi standar ICAO untuk emisi NOx dengan margin dua digit. Mesin ini menghasilkan tingkat hidrokarbon dan asap yang sangat rendah. PW812D disebut telah memenuhi peraturan CO2 di masa depan dan mencapai persyaratan kebisingan Tahap 4 dengan margin yang signifikan.

Baca juga: Dassault Mercure, Sang Penantang Boeing 737 dan Airbus A320 yang Terjegal Krisis Minyak

Falcon 6X dirancang Dassault sebagai pesawat jet pribadi untuk penerbangan jarak jauh dengan kabin tertinggi dan terluas di dunia. Pesawat memiliki panjang 25,2 m, rentang sayap 25,9 m, dan tinggi 7,5 m, memungkinkannya mengangkut penumpang sebanyak 16 penumpang.

Menariknya, Dassault Falcon 6X juga dibekali kemampuan perform safe approaches, memungkinkan pesawat mendarat di bandara-bandara kecil, terpencil, dan landasan pacu pendek. Kemampuan yang tentu saja tak dimilliki seri Falcon lainnya. Setelah dirilis, Falcon 6X dijadwalkan baru akan masuk ke layanan komersial jet pribadi pada 2022.

Nostalgia Boeing 747 Lion Air, Andalan Penerbangan Haji-Umroh yang Beralih Fungsi Jadi Restoran

Boeing 747 pernah menempati posisi penting di Indonesia, dalam hal ini terkait penerbangan haji umroh. Sang ratu langit selama beberapa tahun selalu jadi andalan maskapai pada penerbangan tersebut. Salah satunya oleh Lion Air.

Baca juga: Ikuti Jejak Garuda Indonesia, Lion Air Pensiunkan Boeing 747-400

Barisan armada Lion Air mulai dilengkapi Queen of the Skies pada 23 April 2009 silam. Selain mengoperasikan penerbangan haji umroh Jeddah dan Madinah, dua Boeing 747-400 bekas dengan nomor registrasi PK-LHF dan PK-LHG itu juga melayani penerbangan reguler ke rute-rute gemuk, seperti Soekarno-Hatta Tangerang, Medan Kualanamu, Batam, Surabaya, Denpasar dan Makassar.

Sebelum bergabung dengan Lion Air, Boeing 747-400 itu diketahui mulai beroperasi sejak tahun 1989 dengan Singapore Airlines masing-masing sebagai 9V-SMC dan 9V-SME. Keduanya terus berada di pangkuan maskapai nasional Singapura itu sampai tahun 2004. Namun, salah satunya, sempat dipinjamkan ke maskapai Air China pada 1994 selama tiga tahun, sebelum balik ke Singapore Airlines (SIA).

Dari data Planespotters.net, seperti dikutip dari Simple Flying, usai dilepas SIA, dua sejoli Boeing 747 itu sempat berpindah tangan ke berbagai maskapai, seperti Air Atlanta Icelandic, Iberia, maskapai Hong Kong Oasis, dan berakhir di Boeing Aircraft Holding Company pada tahun 2008.

Boeing 747-400 Lion Air dibongkar untuk dijadikan pesawat. Foto: Kumparan

Pada April 2009, Lion Air kedatangan pesawat tersebut dan diplot sebagai pesawat haji dan umroh, di samping rute-rute domestik. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memang jadi pasar potensial penerbangan haji umroh. Dengan kapasitas besar, mencapai 504 penumpang, terdiri dari 12 kursi kelas bisnis dan 492 kelas ekonomi, pesawat terbesar yang pernah dioperasikan Lion Air ini tentu jadi angin segar maskapai dalam mengeruk keuntungan.

Seiring berjalannya waktu Boeing 747-400 Lion Air dinilai terlalu usang untuk terus membersamai maskapai, baik untuk rute-rute regional maupun internasional. Selain itu, pesawat juga kurang efektif dalam kacamata strategi bisnis perusahaan.

Setelah sempat dipinjamkan ke Flynas Arab Saudi dan Nas Air, Lion Air akhirnya memutuskan pesawat itu pensiun pada akhir Maret 2019. Pesawat dipensiunkan usai kurang lebih 10 tahun dioperasikan maskapai.

Baca juga: Pensiun dari Dunia Aviasi, Boeing 747 Disulap Jadi Restoran Mewah

“Momentum terbaik ini sekaligus menegaskan bahwa Lion Air mengedepankan program revitalisasi atau peremajaan armada,” ujar Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro dalam rilis resmi.

Sebagai penggantinya, Lion Air akan mengoperasikan pesawat widebody Airbus 330-900NEO yang dikenal lebih hemat bahan bakar dan memiliki jangkauan terbang lebih panjang. Nasib PK-LHF dan PK-LHG awalnya sempat tidak jelas pasca dipensiunkan. Namun, disebutkan, salah satu di antaranya, PK-LHF, bakal disulap menjadi sebuah restoran bertema penerbangan di daerah Bekasi, Jawa Barat.

Antisipasi Penumpang Tertular Covid-19, Perancis Hadirkan Holostop di Lima Bus

Kemunculan teknologi tanpa sentuh semakin berkembang di masa pandemi Covid-19. Seperti tombol nirsentuh atau tanpa sentuh yang sedang diuji cobakan di lima bus Prancis. Di mana ini akan berlangsung selama dua bulan di wilayah Ile-de-France.

Baca juga: Berkat Check-in Tanpa Sentuhan, Changi Dinobatkan Jadi Bandara Teraman di Dunia

Dilasnir KabarPenumpang.com dari laman connexionfrance.com (9/12/2020), uji coba tombol nirsentuh dilakukan oleh jaringan transportasi RATP dalam rangka meningkatkan langkah-langkah keselamatan sehubungan dengan krisis kesehatan Covid-19. Tombol ini merupakan tombol holograf yang disebut sebagai Holostop.

Dengan ini, penumpang tak perlu menekan tombol dengan jari untuk menghentikan bus saat tiba di halte. Dengan Holostop, penumpang hanya perlu mengulurkan jari mereka ke dekat representasi holografik dari sebuah tombol.

Nantinya saat penumpang mengulurkan jari dekat tombol, maka tombol berubah warna dan mengeluarkan suara permintaan yang telah didaftarkan. Untuk diketahui ada lima bus di jaringan Squbus di Saine-Quentin-en-Yvelines, dijalankan oleh perusahaan transportasi umum RATP, telah menggunakan tombol virtual sejak Senin, (7/12/2020), termasuk di jalur 401 dan 415.

Seorang juru bicara RATP mengatakan ini adalah “jalur tersibuk di jaringan”. Teknologi HoloStop dikembangkan oleh perusahaan Prancis MZ Technologie sebelum pandemi dimulai.

“Kami sudah merencanakan proyek ini sebelum krisis kesehatan, tetapi pandemi mempercepat segalanya,” ujar juru bicara tersebut.

Nantinya setelah dua bulan uji coba, RATP akan memutuskan apakah akan memperluas penggunaan tombol tanpa sentuh di seluruh jaringan mereka.

“Tombol holografik adalah sebuah pencapaian; mereka mudah digunakan, biayanya terkendali dan tujuannya adalah nilai tambah nyata untuk keselamatan penumpang,” kata Sophie Hassan, direktur pemasaran cabang Pengembangan RATP.

Sejauh ini pada tahun 2020, RATP telah kehilangan €2 juta sebagai akibat dari pengurangan jumlah penumpang yang disebabkan oleh krisis kesehatan Covid-19. Diharapkan dengan meningkatkan langkah-langkah keselamatan akan mendorong penumpang untuk kembali ke jaringan, katanya.

Baca juga: Arrival Hadirkan Konsep Bus Listrik Publik dengan Beragam Fitur Khas Pandemi Covid-19

“Kami melihat pengembalian hanya 65 persen penumpang pada bulan September di jaringan bawah tanah; kami perlu meyakinkan orang untuk membuat mereka kembali,” kata juru bicara.

Catatkan 27 Ribu Penumpang Per Hari, MRT Jakarta di Masa Pandemi Masih Untung di Bisnis Non Farebox

Bagaimana kabar Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta di akhir Desember ini? Sebelum masa pandemi Covid-19, MRT Jakarta awalnya menargetkan penumpang seratus ribu per hari hingga akhir tahun 2020. Namun, nyatanya hingga saat ini rata-rata penumpang per harinya 27.901.

Baca juga: Jepang Hadirkan Coworking Space di Stasiun, MRT Jakarta Pernah Wacanakan

“Jumlah penumpang kami sepanjang tahun 2020 tercatat 9.570.059 penumpang atau rata-ratanya itu 27.901 penumpang per hari. Angka ini masih terus berkembang sampai 31 Desember,” kata Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar melalui forum jurnalis virtual, Kamis (10/12/2020).

Dia menyebutkan, jumlah ini jauh dibawah pencapaian tahun lalu yang sempat 91 ribu penumpang. Sedangkan pada Januari dan Februari 2020, MRT Jakarta secara rata-rata mendapatkan penumpang di atas 80 ribu per harinya.

“Jadi kalau kita lihat sepanjang tahun perjalanan di Januari dan Februari cukup menggembirakan karena target awal seratus ribu penumpang per hari. Namun karena pandemi di awal Maret sehingga penumpang menurun drastis,” kat William.

Meski pendapatan dari tiket atau farebox menurun, William mengaku, sisi bisnis non farebox atau yang bukan tiket tengah dikembangkan. Dia mengatakan, saat ini MRT Jakarta berjalan inisiatif advertising yang memanfaatkan pilar di koridor MRT Jakarta.

“Kita pasang LED di sepanjang jalur elevated. Tahun ini ada 438 pilar neon box dan 50 pilar LED dari Lebak Bulus Grab sampai ke Asean,” ungkap William.

Dia menambahkan, nantinya kawasan depo juga akan dipasang dengan pilar neon box dan LED. Dari bisnis non farebox yang tidak terpengaruh pandemi, MRT Jakarta masih menghasilkan keuntungan bagi perusahaan sekitar Rp370 juta untuk tahun ini.

Selain itu MRT Jakarta juga punya bisnis digital bersama perusahaan startup maupun dengan anak muda di bidang ekonomi digital. William menyebutkan, nama program ini adalah MRTJ Star Track Incubation Program.

Baca juga: Sebelas Cagar Budaya Akan Dilintasi MRT Jakarta Fase 2

“Dari 100 sudah ada 25 startup yang diseleksi. Kehadiran program ini merupakan upaya MRT untuk mendorong kemajuan ekonomi digital saat sekarang dan pasca pandemi,” jelas William.

Dia mengatakan, kehadiran ekonomi digital juga akan berdampak pada lapangan pekerjaan baru, sehingga bisa membantu masyarakat saat ini.

Penumpang Masak Steak di Toilet Pesawat dan Unggah Video ke TikTok

Ketika makanan panas tak lagi ada di pesawat banyak penumpang yang merasa kehilangan layanan tersebut. Karena hal ini, seorang aktor asal New York yang dikenal karena lelucon onlinenya baru-baru ini mengunggah video dirinya melakukan sebuah aksi ke TikTok. Aktor itu ialah Marcus Monroe di mana dia membagikan videonya ketika memasak steak di toilet pesawat milik Southwest Airlines.

Baca juga: Peneliti: Penumpang Wanita Tertular Virus Corona di Toilet Pesawat

Dalam video tersebut, Marcus meletakkan tabung bahan bakar di kloset dan di dudukan diletakkan sebuah loyang aluminium. Lalu, dirinya menaruh sepotong daging diatas loyang dan menuangkan anggur putih serta menghiasi makanan dengan saus dan beberapa bayam segar yang diambil dari kantong ziplock.

KabarPenumpang.com melansir dari laman independent.co.uk (30/11/2020), bahkan setelah memasak steak, Marcus membawa makanan itu kembali ke kursinya. Meski begitu, dirinya mengaku itu hanya sebuah lelucon dan ilusi. Dia juga sudah menghapus video tersebut dari akun TikToknya.

Meski sudah menghapus videonya dari TikTok, hal itu tidak menghentikan para warganet terkait kekhawatiran adanya orang lain yang mengikuti video itu.

“Masalahnya adalah, orang mengira itu benar … Dan karena di media mereka akan mengulanginya. Itulah mengapa video ini, meskipun terbukti palsu, harus dihapus,” komentar seorang warganet pengguna TikTok.

Sedangkan warganet lain mengatakan, orang-orang berpikir hal ini tidak apa-apa untuk mengerjai atau bercanda dan orang normal tidak akan mengikuti. Warganet tersebut menambahkan, bahwa masalahnya adalah media sosial tidak hanya untuk orang waras yang tidak berpikir akan mencoba meniru ini dan melihatnya sebagai semacam tantangan.

Ini bukan pertama kalinya penumpang ditegur karena mencoba merekam video dalam penerbangan. Dua wanita dikeluarkan dari penerbangan American Airlines pada bulan Oktober setelah salah satu dari mereka berusaha bersembunyi di footwell kursi kelas bisnis temannya.

Rencananya, sang teman akan tetap di sana selama perjalanan, karena pasangan tersebut diduga mengira aksi tersebut akan “mengarahkan pemirsa ke saluran YouTube mereka.

“Sebelum berangkat pada 30 Oktober, penerbangan American Airlines 2205 dari Bandara Internasional Dallas-Fort Worth (DFW) ke Bandara Internasional Miami (MIA) kembali ke gerbang di DFW karena masalah yang melibatkan dua penumpang,” kata seorang juru bicara maskapai kepada The Independent.

Baca juga: Siap Lepas Landas, Delta Airlines Kembali ke Gerbang Lantaran Ada Penumpang Tak Mau Pakai Masker

“Kedua penumpang yang bepergian bersama-sama tidak akan memenuhi penetapan kursi saat taksi keluar. Penegak hukum menemui pesawat di pintu gerbang, kedua penumpang keluar dari pesawat dan penerbangan berangkat tak lama kemudian,” tambahnya.

Langkah Pemerintah Hong Kong Beli 500 Ribu Tiket Pesawat Dinilai Lebih Efektif untuk Selamatkan Maskapai

Pemerintah Hong Kong pada April lalu memborong 500 ribu tiket pesawat. Hal itu dilakukan untuk menyelamatkan maskapai penerbangan dari kabangkrutan. Membeli tiket pesawat sebanyak itu diyakini jadi cara ampuh ketimbang memberikan utang baru yang pada akhirnya hanya memberatkan maskapai saat kondisi berangsur normal.

Baca juga: Bandara Hong Kong Dapat Suntikan Rp64 Triliun, Bagaimana dengan Bandara di Indonesia?

Sebelumnya, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyerukan ke pemerintah di seluruh dunia agar memberikan paket stimulus lanjutan ke maskapai penerbangan. Setidaknya, di paruh kedua 2020 ini, maskapai membutuhkan sekitar US$77 miliar atau sekitar Rp1.133 triliun (kurs 14.700) uang tunai untuk membiayai operasional.

Saat ini, kondisi keuangan maskapai berbeda-beda. Di antara mereka, ada yang mempunyai stok uang tunai sampai delapan bulan ke depan. Sebagain besar lainnya kurang dari itu. Padahal, vaksin massal diprediksi baru akan terjadi di penghujung tahun 2021 mendatang. Asosiasi itu pun ragu melihat maskapai bertahan sampai vaksin massal terjadi tanpa bantuan pemerintah.

Sejalan dengan IATA, pemerintah Hong Kong pun mencari cara untuk bisa menyelamatkan maskapai. Alih-alih memberikan utang baru, pemerintah Hong Kong akhirnya memutuskan memborong 500 ribu tiket pesawat.

Jika diuangkan, langkah tersebut setara dengan kucuran dana sebesar US$260 juta. Secara nominal, angka segitu memang kecil. Air Canada, misalnya, untuk memperkuat likuiditas, flag carrier Kanada itu mendapatkan suntikan modal sebesar US$1,62 miliar atau sekitar Rp24 triliun lebih. Angka tersebut pun dikabarkan belum final dan masih akan ada suntikan modal lainnya seiring perkembangan industri penerbangan global.

American Airlines Group akhir Maret lalu dikabarkan telah memenuhi persyaratan untuk mendapatkan kucuran dana sebesar US$12 miliar atau Rp196 triliun sebagai bagian dari paket pinjaman dan hibah dari pemerintah AS sebesar US$58 miliar atau Rp949 triliun untuk maskapai penerbangan. Adapun Qantas, disebut hanya akan mendapatkan dana sebesar US$636,1 juta atau sebesar Rp10 triliun (kurs Rp16.009).

Begitu juga dengan Singapore Airlines, yang mendapat suntikan modal dari Temasek International, pemilik saham mayoritas (55 persen) Singapore Airlines (SIA), dan beberapa perusahaan lainnya sebesar S$19 miliar atau Rp218 triliun (kurs Rp11.292).

Baca juga: Tiket Pesawat Naik Sehari Setelah “Travel Bubble” Singapura-Hong Kong Diumumkan

Suntikan tersebut pun digadang-gadang akan menjadi langkah penyelamatan atau paket stimulus terbesar terhadap sebuah maskapai di tengah wabah virus Corona. Terbukti, hingga saat ini, belum ada suntikan modal ke maskapai manapun yang berhasil melebihinya.

Akan tetapi, dari segi efektivitas, sebagaimana dikutip dari Simple Flying, pembelian 500 ribu tiket oleh pemerintah Hong Kong dinilai lebih brilian. Disebutkan, hal itu bisa memantik pulihnya traffic penerbangan. 500 ribu tiket dari empat maskapai lokal itu nantinya akan dibagikan ke masyarakat dan traveler asing dengan cara diundi setelah Covid-19 dianggap sudah terkendali.

Kalau ke Bandara Changi Jangan Lupa Coba Glamour Camping

Terkadang ide-ide kreatif dan unik bermunculan ketika seseorang terdesak serta harus mendapatkan jawab segera. Apalagi ketika di masa pandemi seperti saat ini di mana banyak tempat mulai sepi pengunjung dan pemilik memutar otak agar kembali ramai.

Baca juga: Percantik Kota dan Menyenangkan Anak-anak, Halte Bus di Ontario Tampil dengan Corak Pastel

Salah satunya Bandara Internasional Changi yang belum kembali seperti sedia kala. Karena hal ini, maka pengelola Bandara Changi menggelar acara staycation di dalam area Jewel Changi yang terkenal dengan air terjun Rain Vortexnya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, acara staycation ini cukup unik karena pengunjung yang mengikutinya akan bermalam di tenda mewah alias glamour camping atau glamping. Ada dua lokasi glamping yang bisa dipilih pelancong untuk menikmati staycation tersebut yakni di Cloud9 Piazza yang mengusung tema Glampcation in the Clouds.

Sedangkan lokasi lainnya di Shiseido Forest Valley dengan tema yang diangkat Glampcation at Shiseido Forest Valley. Tenda camping ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas agar pelancong yang menikmati staycation mereka merasa nyaman.

Dengan kemah yang luas, bisa diisi oleh tiga orang dewasa dan dua orang anak. Kemah ini dilengkapi dengan kasur yang empuk serta pendingin ruangan. Untuk Cloud9 Piazza letaknya berada di lantai lima Jewel Changi dan pelancong bisa melihat air terjun Rain Vortex sebagai pemandangan sebelum serta saat bangun tidur.

Untuk menikmati pilihan Cloud9 Piazza, pelancong bisa check in jam 07.00 pagi waktu setempat dan check out pada pukul 10.00 pagi esok harinya. Sedangkan Shiseido Forest Valley letaknya di lantai satu dan pelancong bisa menikmati panorama hutan buatan yang mengelilingi Rain Vortex.

Untuk check in di sini lebih siang yakni pukul 11.30 waktu setempat dan check out pukul 09.00 esok harinya. Seluruh pelancong yang menginap dan mengikuti program ini, bisa menggunakan fasilitas Changi Lounge mulai dari kamar mandi sampai gym.

Bahkan akses parkir diberikan juga secara gratis. Tak hanya itu, pelancong juga diajak Plesiran ke sudut-sudut hiburan bandara seperti Canopy Park dan Changi Experience Studios. Tarif untuk menikmati glamping di Bandara Internasional Changi Singapura mulai dari S$320 (sekitar Rp3,2 juta) per malam pada Senin sampai Kamis, dan S$360 (sekitar Rp 3,8 juta) per malam pada Jumat hingga Minggu, hari libur nasional dan menjelang hari libur nasional.

Bagi yang enggan bermalam, bisa mengambil paket ‘Glampicnic in the Clouds’. Ada dua slot waktu yang disediakan, mulai pukul 11.15-14.15 atau 15.00-18.00. Pengunjung dipersilakan membawa makanan dan minuman sendiri atau bisa menjelajah bandara untuk menikmati kuliner khas Singapura.

Tarif paket piknik ini mulai dari S$160 (sekitar Rp1,6 juta) per tiga jam pada Senin-Kamis dan S$180 (sekitar Rp1,9 juta) per tiga jam per malam pada Jumat hingga Minggu, hari libur nasional dan menjelang hari libur nasional.

Baca juga: “Workcation,” Pilihan Para Pekerja di Jepang Selama Pandemi

Acara staycation di Bandara Internasional Changi Singapura diadakan hingga 3 Januari 2021. Pemesanan tempat di awal sangat dianjurkan.

Potret Pesawat Pribadi Donald Trump, Dahulu Paling Mewah Sekarang Paling Butut

Pesawat pribadi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan tengah dalam kondisi tak sehat. Betapa tidak, pesawat pribadi yang dahulu disebut sebagai salah satu yang termewah, saat ini justru sebaliknya, dalam kondisi yang tidak terawat.

Baca juga: “Trump Shuttle,” Maskapai Milik Donald Trump yang Hanya Berusia 18 Bulan!

Bahkan, bisa dibilang pesawat pribadi Trump jadi yang paling butut bila disandingkan dengan pesawat pribadi termewah lainnya milik konglomerat dunia, seperti bos Chelsea Roman Abramovich, Sultan Brunei, konglomerat Hong Kong Joseph Lau, dan miliarder dari Rusia Alisher Usmanov.

Bagaimana tidak butut, pesawat berlapis emas di segala sudut itu dikabarkan harus memesan satu mesin baru terlebih dahulu untuk melakoni satu penerbangan terakhir sebelum menjalani Maintenance, repair and overhaul (MRO) di Lousiana, AS.

Sebelum dilantik menjadi Presiden AS ke-45 pada 20 Januari 2017, pesawat pribadinya, Boeing 757-200 merupakan pesawat andalan ia dan keluarga bepergian kemanapun, baik untuk tujuan bisnis maupun pariwisata.

Usai dilantik menjadi Presiden AS, pesawat yang dibeli pada tahun 2011 itu masih kerap digunakan untuk mendukung operasional binsis perusahaan milik Trump sampai tahun 2019 silam. Setelah itu, barulah, pesawat dengan nomor registrasi N757AF itu digrounded jangka panjang di Bandara Internasional Newburgh-Stewart di Orange County, New York, AS.

Selama digrounded cukup lama, pesawat yang oleh Trump disebut sebagai T-bird ini tak mendapat perawatan dengan baik. Entah mengapa. Sebagian pihak berpendapat bahwa Trump begitu yakin bahwa dirinya bakal kembali menempati Gedung Putih, sehingga tak begitu mempedulikan pesawat yang kerap disebut Trump Force One ini. Sebab, bila ia kembali melenggang ke Gedung Putih, otomatis, operasionalnya akan disokong oleh Boeing 747 Air Force One.

Setelah pemilu AS selesai dan Trump hampir pasti kalah dari Joe Biden, praktis, salah satu pesawat pribadi termewah itu mau tak mau akan kembali jadi andalan. Karenanya, Boeing 757 T-bird belum lama ini dikabarkan oleh pemimpin redaksi The Air Current, Jon Ostrower, sebagaimana dikutip dari Simple Flying, bakal segera meluncur ke fasilitas MRO di Lousiana, AS.

Sebelum itu terjadi, pesawat tersebut harus memesan satu mesin Rolls-Royce RB211 terlebih dahulu. Sebab, saat ini, mesin sebelah kiri pesawat dikabarkan rusak. Disebutkan, mesin baru itu akan tiba pada 20 Januari mendatang.

Baca juga: Pentagon Umumkan Desain “Air Force One” Terbaru, Identik dengan Maskapai Trump Shuttle

Sebagai informasi, Trump diketahui sempat menggunakan pesawat Boeing 727 sekaligus -pesawat pribadi termewah pertamanya- seharga Rp 115 miliar. Trump lalu membeli pesawat baru yang lebih mahal dari salah satu pendiri Microsoft, Paul Allen, yang memiliki harga fantastis menyentuh 100 juta dolar AS, sekitar Rp 1,4 triliun dengan kurs Rp 14,930.

Disebut sebagai salah satu pesawat pribadi termewah, sebab, pesawat bukan hanya tampak nyentrik dan menarik, tetapi juga memiliki interior yang mewah, seperti tempat duduk kulit berwarna krem dan meja dan lemari mewah.

Jepang Hadirkan Coworking Space di Stasiun, MRT Jakarta Pernah Wacanakan

Ruang kantor yang berisi banyak orang, di masa pandemi seperti ini mungkin tak lagi bisa digunakan sebebasnya seperti dahulu. Pasalnya, sekarang banyak perusahaan yang menyuruh para pekerja untuk bekerja di rumah agar mengurangi penyebaran virus corona baru ini.

Baca juga: Genjot Pendapatan di Masa Pandemi, MRT Jakarta Ingin Bangun Coworking Space dan Perbanyak Ruang Iklan

Hal ini kemudian membuat operator kereta api Jepang membuat ruang atau bilik telecube yang bisa digunakan oleh satu orang. East Japan Railway Company atau JR East saat ini sudah mendirikan 87 bilik di 52 lokasi baik di dalam maupun luar stasiun pada akhir September.

Dilansir KabarPenumpang.com dari asahi.com (3/12/2020), bilik ini berada di Tokyo, Nagoya, Osaka dan lainnya dan JR East mengharapkan seribu unit bilik tahun 2023 mendatang. Tak hanya itu, di 30 lokasi operator kereta Jepang ini sudah mendirikan kantor pribadi yang letaknya di dalam dan luar Stasiun.

JR East juga berencana untuk meningkatkan jumlah kantor pribadinya menjadi seribu secara nasional pada tahun fiskal 2025. Sekitar 42 ribu orang telah mendaftar ke layanan untuk menggunakan ruang kerja, dengan beberapa stan menjadi sulit dipesan pada siang hari, menurut pejabat humas JR East.

Bahkan JR East bekerja sama dengan CocoDesk, Fuji Xerox Company sudah mengoperasikan 40 bilik kantor swasta di 21 stasiun sepanjang jalur kereta Tokyo Metro dan Keikyu serta di tempat lain di Tokyo dan Kawasaki. Selain itu, Fuji Xerox ingin memperluas bisnisnya ke Osaka dan Nagoya juga.

Stan CocoDesk berharga 250 yen ($2,40) sebelum pajak selama 15 menit dan ada diskon yang ditawarkan untuk pengguna korporat. Untuk diketahui, permintaan bilik telework diantisipasi akan meningkat lebih lanjut untuk menanggapi tantangan tersebut.

“Orang-orang yang telah memulai teleworking tetapi tidak dapat bekerja dari rumah tanpa gangguan mungkin sudah mulai menggunakan layanan kami,” kata seorang pejabat Fuji Xerox.

Selain Fuji Xerox, Aoyama Trading Co. pada 8 Oktober membuka kantor bersama BeSmart di outlet Aoyama Tailor Suidobashi East Exit dekat Stasiun JR Suidobashi Tokyo. Ruangan tersebut memiliki 90 kursi, yang menempati setengah area penjualan toko dan memiliki bilik kedap suara.

Meskipun layanan baru bermunculan untuk melayani pekerja jarak jauh, peralihan dari bekerja di kantor ke rumah telah merugikan beberapa layanan yang sudah ada. Hal ini karena penurunan jumlah orang yang bekerja di kantor antara April dan September yang membuat penjualan di departemen pakaian bisnis Aoyama Trading turun 50 persen tahun ke tahun selama periode tersebut.

Dengan memanfaatkan sepenuhnya gerainya sebagai kantor bersama, Aoyama Trading mencoba menarik pelanggan baru dan berencana untuk meluncurkan kantor BeSmart di toko lain. Bilik kantor ini, kemudian mengingatkan pada MRT Jakarta yang mana akan membuat hal serupa yakni coworking space.

Baca juga: PT KAI Hadirkan Coworking Space Gratis di 9 Stasiun

Nantinya dengan coworking space akan memudahkan para karyawan yang akan mencari tempat bekerja dan kantor yang membutuhkan tempat rapat di masa pandemi. Bahkan Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, coworking space tersebut akan dilengkapi dengan berbagai macam teknologi yang memudahkan pekerja yang menyewa.