Teknologi Geolokasi Real Time Mudahkan Perbaikan Masalah di Kereta Api

Hingga saat ini kereta api masih menjadi moda transportasi favorit yang digunakan oleh masyarakat. Bahkan kereta menjadi bagian penting dari ekonomi global di mana selain mengangkut penumpang juga kargo yang melintasi kota ataupun perbatasan nasional serta internasional.

Baca juga: Refund Tiket Kereta di India, Bisa Dilacak Real Time dan Hanya Butuh Proses 5 Hari

Dilansir KabarPenumpang.com dari cnbc.com (16/11/2020), karena hal ini, maka ketika kereta api mengalami penundaan dapat melumpuhkan perjalanan sehingga membuat penumpang frustasi dan bisnis yang dijalankan terhambat. Seiring dengan berkembangnya teknologi, mereka yang bertanggung jawab dalam pengoperasian kereta api mencoba untuk mengintegrasikan teknologi baru ke dalam sistem untuk menemukan dan memperbaiki masalah dengan cepat.

Untuk hal ini kemudian SNCF Reseau yang mengelola infrastruktur perkeretaapian Prancis dan Capgemini mengumumkan kemitraan mereka. Di mana keduanya menerapkan teknologi baru untuk meningkatkan cara penyelesaian masalah di jaringan agar dipantau dan diselesaikan.

Ide ini akan menggunakan teknologi geolokasi yang menunjukkan masalah di jalur kereta api secara real time. Dengan sistem ini memungkinkan tim di SNCF Reseau untuk melokalkan insiden pada peta yang menampilkan infrastruktur dan memandu pekerja ke tempat yang tepat untuk memperbaiki masalah.

Kemudian staf lapangan dapat bekerja sama dengan kolega mereka dan memberikan pembaruan tentang masalah tersebut serta penjelasan kapan akan diselesaikan. Menurut Capgemini, SNCF Réseau telah menggunakan teknologi tersebut di wilayah Auvergne Rhône-Alpes sejak musim panas.

Idenya adalah untuk sistem, yang dijuluki “Pengawasan Generasi Baru”, yang akan diluncurkan ke bagian lain negara itu pada tahun 2021 dan 2022. Olivier Bancel, wakil direktur produksi umum di SNCF Réseau, menjelaskan bahwa penerapan sistem akan “memungkinkan untuk meningkatkan tidak hanya penanganan insiden, dan oleh karena itu keteraturan lalu lintas, tetapi juga informasi penumpang”.

“Secara keseluruhan, kami akan beralih dari pemeliharaan yang sangat sistematis ke pemeliharaan yang lebih mendekati kebutuhan, lebih tepat dan dalam waktu nyata: pemeliharaan jaringan pada waktu dan tempat yang tepat,” kata Oliver.

Prancis ternyata bukan satu-satunya negara yang melakukan upaya peningkatan kinerja transportasi kereta api yang menggunakan teknologi. Pemerintah Inggris mengumumkan £350 juta, pendanaan untuk sistem persinyalan kereta api digital dalam upaya untuk mengurangi penundaan dan meningkatkan infrastruktur yang sudah tua.

Di bawah rencana tersebut, sinyal tradisional di bentangan Jalur Utama Pantai Timur akan digantikan oleh sistem digital, memungkinkan staf untuk melihat lokasi kereta secara tepat selama perjalanannya. Dalam sebuah pernyataan, Departemen Perhubungan mengatakan bahwa pensinyalan “pintar” yang baru akan mengenali berbagai jenis kereta, “memungkinkan kereta api dan jalur untuk berbicara satu sama lain terus menerus dalam waktu nyata.”

“Sistem ‘dalam kabin’ ini berarti mengakhiri persinyalan konvensional di sisi rel pertama kali digunakan di era Victoria,” ujar depertemen perhubungan.

Baca juga: Gandeng Huawei, Saudi Railway Company Siap Hadirkan Jaringan Kereta Api Pintar

Selain itu, perusahaan kereta api yang digunakan juga mulai berubah dengan teknologi sel bahan bakar hidrogen menawarkan sekilas gambaran menarik tentang bagaimana perjalanan kereta api tahun-tahun mendatang dapat diberdayakan.

Bagaimana Nasib Awak Kabin di Masa Pandemi?

Kehidupan awak kabin, pilot dan staf maskapai penerbangan di masa pandemi ini sangat kompleks. Pasalnya dunia penerbangan mengalami pembatasan yang cukup besar dan membuat maskapai menarik ikat pinggang mereka cukup kuat demi mempertahankan pendapatan mereka.

Baca juga: Gegara Pandemi, 1600 Pilot dan 8000 Awak Kabin Diberhentikan American Airlines Pada Oktober 2020

Dirangkum KabarPenumpang.com dari nytimes.com (21/10/2020), banyak awak kabin dilarang terbang selama berbulan-bulan. Tetapi sejak cuti diumumkan, jumlahnya melonjak. Sekarang mereka terpaksa menunggu karena pemerintah sedang mempertimbangkan paket stimulus.

Karena masih belum jelas tentang perjalanan udara, diantara mereka mempertimbangkan untuk melepaskan karier dan mencari pekerjaan baru untuk bertahan hidup. Seperti yang terjadi pada beberapa awak kabin salah satunya adalah Robert Garcia Remmert. Wanita 45 tahun tersebut merupakan awak kabin United Airlines yang terbang dari Chicago dan tinggal di Houston bersama suami yang memiliki profesi sama dengan dirinya.

“Saya tidak tahu itu akan menjadi penerbangan terakhir saya,” ujarnya.

Bahkan pada Maret lalu, suami Garcia memutuskan mengambil cuti sukarela karena mengidap penyakit autoimun. Selain itu Allie Malis memutuskan untuk mengambil peran di serikat American Airlines, Association of Professional Flight Attendants. Sebagai perwakilan urusan pemerintah, dia telah berjuang untuk memperpanjang Program Dukungan Penggajian.

“Saya sudah melakukan ini selama empat tahun. Kami memiliki masalah yang kami aktifkan, seperti waktu istirahat minimum, tetapi ini sangat besar dibandingkan dengan masalah lain yang kami tangani. Para pramugari menjadi lebih terlibat daripada sebelumnya,” kata Malis.

Tetapi setelah berbulan-bulan menyaksikan Kongres merundingkan RUU tersebut, Malis mengatakan dia merasa bahwa dia dan rekan kerjanya adalah pion politik. Di mana dia mengatakan hal tersebut sulit karena awak kabin adalah hidup dan mata pencaharian mereka. Bahkan keluarga bergantung pada mereka.

Tak hanya itu, Phillip Delahunty telah bergabung dengan rekan-rekannya di industri penerbangan untuk menggalang perpanjangan Program Dukungan Penggajian di Florida, tempat tinggalnya, dan di Texas. Pada awal September, dia dan 30 orang lainnya melakukan penjagaan di luar kantor Ted Cruz, senator Texas.

Bapak Delahunty, 27 tahun, telah terbang dengan American Airlines selama enam tahun dan tergabung dalam Asosiasi Pramugari Profesional. Melihat rekan-rekannya bergabung bersama untuk memperjuangkan pekerjaan mereka membuatnya berharap.

“Ada yang mau berorganisasi pada 2020. Kami menganggap generasi ini sebagai Netflix dan Facebook, tapi saya jelas telah melihat kebangkitan tenaga kerja yang terorganisir,” ujarnya.

Delahunty mengikuti jejak orang tuanya, seorang kapten dan awak kabin, ketika dia bergabung dengan American Airlines. Karena dia berbicara bahasa Prancis dan Italia, Delahunty secara teratur terbang ke Montreal, Milan dan Paris.

“Gaya hidup terasa alami. Begitulah cara saya tumbuh, bepergian terus-menerus,” katanya.

Tapi terbang dalam pandemi menghadirkan tantangan baru pada pekerjaan yang sudah menuntut seperti kepatuhan masker adalah masalah besar di pesawat

“Kami diajari cara meredakan situasi. Itulah penekanan dari pelatihan naik turun kami, dan diplomasi. Ambillah situasi tegang dan buat itu bertahan selama beberapa jam ke depan. Jika ada satu orang yang tidak memakai topeng, ada tiga orang yang gelisah di sekitar mereka,” ujarnya.

Delahunty mengharapkan untuk mengajukan tunjangan pengangguran dalam beberapa bulan dan kembali tinggal bersama orang tuanya, yang mengatakan ini lebih buruk daripada krisis apa pun yang mereka lihat selama mereka bekerja di industri.

Baca juga: United Airlines Larang Awak Kabin Berbagi Kasur dalam Penerbangan Jarak Jauh

“Itu cerita yang akan sering kamu dengar. Saya berusia 27 tahun. Generasi saya tidak memiliki stabilitas finansial yang sama seperti yang dialami orang tua kami pada usia ini. Rasanya kita selalu tertinggal. Itu adalah bagian dari masalah di sini. Saya memiliki pekerjaan serikat yang solid yang dibayar dengan baik dan memiliki keuntungan besar. Sekarang itu akan pergi,” ujarnya.

Y999 Love-Pursuit Train, Kereta Khusus Jomblo Pencari Cinta Sejati!

Menikmati perjalanan kereta api bersama pasangan terkasih memang akan meninggalkan kenangan manis yang sulit untuk dilupakan. Namun apa jadinya jika Anda ‘mengular’ bersama lawan jenis yang kemungkinan mereka adalah pasangan Anda di masa yang akan datang? Wah, tentu saja ini akan menjadi pengalaman ‘kopi darat’ tak terlupakan, ya! Inilah yang terjadi di Cina sana, dimana ada lebih dari 1000 muda-mudi yang melancong, dan diharapkan dapat pulang membawa gandengan.

Baca Juga: 10 Fakta Seputar Kereta Cepat di Cina

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (28/8), adalah Y999 ‘Love-Pursuit Train’, kereta 10 gerbong yang membawa ribuan muda-mudi tersebut ternyata sudah diluncurkan sejak tiga tahun lalu, sebagai salah satu platform kreatif muda-mudi untuk menghabiskan waktu bersama selama dua hari semalam. Bukan hanya sekedar ‘kereta pencari jodoh’ biasa, tapi Y999 Love-Pursuit Train ini terbukti sudah mempertemukan banyak pasangan dan 10 diantaranya sampai melenggang ke jenjang pernikahan. Kabarnya, sudah ada lebih dari 3.000 muda-mudi yang mencoba peruntungannya di sini, lho!

Salah satu permainan yang diselenggarakan di dalam love-pursuit train. Sumber: dailymail.co.uk

Pada perjalanan terakhirnya ini, Y999 Love-Pursuit Train berangkat dari Chongqing North Station pada Rabu (21/), membawa ratusan jomblo dan jomblowati , termasuk 70 diantaranya merupakan pegawai dari Biro Kereta Api Chengdu. Agar perjalanan tersebut tidak membosankan, pihak penyelenggara menyediakan sejumlah permainan dan acara makan bersama untuk menghilangkan rasa canggung.

Tidak hanya itu, penumpang juga diajak berkunjung ke Zhuo Shui, sebuah kota kuno guna menikmati suguhan pagelaran tradisional dan jamuan makan bersama.

Suasana di Zhuo Shui. Sumber: dailymail.co.uk

“Kami mengenal satu sama lain di perjalanan pulang dan menyadari bahwa masing-masing dari kami memiliki sejumlah pandangan dan pola pikir yang sama,” ujar salah satu peserta, Yang Huan.

“Kami sangat menikmati perjalanan unik ini,” lanjutnya.

Baca Juga: Kereta Peluru Fuxing Akhirnya Kembali Merajai Dunia Kereta Api Cina

Dengan latar belakangan kesejangan gender yang begitu timpang, tingkat perkawinan Cina mencapai level terendah dalam satu dekade pada tahun 2018 lalu – dimana hanya 7,2 orang dari setiap 1.000 yang menikah.

Wah, bagi Anda yang masih melajang hingga saat ini, boleh dicoba nih layanan Y999 Love-Pursuit Train yang ada di Cina!

Eh, tapi sepertinya akan menjadi hal unik apabila kereta semacam ini juga diadakan di Indonesia ya!

 

Australia Bangun Kapal Ferry Berbahan Bakar Hidrogen Untuk Kurangi Emisi

Di Queensland, Australia, sebuah kapal ferry berbahan bakar hidrogen tengah dalam pembuatan. Kapal ferry ini rencananya akan mulai diluncurkan di perairan pada kuartal pertama tahun 2021. Kapal ferry tersebut dikembangkan oleh H2X Marine.

Baca juga: Toyota Meluncur di Air dengan Kapal Balap Bertenaga Hidrogen

Ini merupakan perusahaan pembuat kapal baru dari produsen ototmotif H2X Australia yang bekerja sama dengan spesialis pembuatan kapal Wildcat Marine. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman h2-view.com (17/11/2020), kedua perusahaan akan bersama-sama mengembangkan berbagai kapal ferry penumpang tanpa emisi untuk penggunaan di bidang industri dan komersial yakni dengan bahan bakar hidrogen.

Lambung kapal ferry ini akan menggunakan aluminium dan mampu menampung penumpang sebanyak 50 orang. Kapal ferry dilengkapi dengan dua mesin tenaga listrik 120kW yang digerakkan oleh hidrogen hijau. CEO H2X Marine, Sam Blackadder mengatakan, perusahaan ini bertujuan akan memproduksi hingga 30 kapal ferry di pabriknya yang berbasis di Brisbane, Australia.

“Kami telah memulai konstruksi dan kami akan mempekerjakan hingga 40 pembuat kapal dan spesialis drivetrain hidrogen ketika kami mencapai kapasitas produksi,” kata Blackadder.

Dia menambahkan, pihaknya juga akan membangun berbagai kapal yang lebih besar, kapal rekreasi yang lebih kecil serta termasuk menyediakan fasilitas retrofit untuk kapal laut yang ada. Blackadder menyebutkan, Australia berdiri di garis depan ekonomi hidrogen masa depan.

Di mana potensi ini dapat mewakili miliaran dolar melalui penjualan domestik dan ekspor dari waktu ke waktu secara lokal. Ini juga memberikan peluang kerja stabil jangka panjang yang bernilai tinggi.

“Saya sangat yakin kita harus memimpin dengan memberi contoh dan tidak menunggu negara lain memberikan jalannya, H2X Marine dapat melakukannya,” ungkap Blackadder.

Baca juga: Bill Gates Ramai Disebut Telah Beli Kapal Pesiar Mewah Seharga Rp8,8 Triliun, Ini Faktanya!

“Kami melakukan investasi modal yang signifikan dalam industri baru ini karena kami sangat yakin bahwa penggunaan green hydrogen adalah bahan bakarnya. untuk mendorong industri Australia saat kami menghentikan penggunaan bahan bakar fosil,” tambah Chairman H2X Marine Craig Elvin.

Eva Air Tawarkan Kencan Antar Penumpang ‘Jomblo’ Secara Acak di Udara, Tiket Ludes dalam Sekejap

Masih dalam program flight to nowhere atau terbang tanpa tujuan, Eva Air belum lama ini resmi meluncurkan “Fly! Love is in the Air”, sebuah program kencan antar penumpang secara acak di udara. Sekalipun nampak tak masuk akal, ditambah sederet kualifikasi rumit, nyatanya tiket program tersebut ludes terjual dalam sekejap.

Baca juga: Y999 Love-Pursuit Train, Kereta Khusus Jomblo Pencari Cinta Sejati!

CNN International melaporkan, program kencan di ketinggian sekitar 32 ribu kaki ini meruakan hasil kerjasama dengan biro perjalanan lokal, Mobius. Program itu akan dihelat hanya tiga hari; hari Natal (didahului dengan sajian teh sore), malam tahun baru (didahului dengan dinner), dan tahun baru (didahului dengan sarapan).

Layaknya flight to nowhere, penerbangan kencan di udara akan berlangsung selama tiga jam, dengan berkeliling ke sekitaran Taiwan hingga ke perbatasan Taiwan-Jepang dan lepas landas serta mendarat di bandara yang sama . Sekitar 20 penumpang pria dan 20 penumpang wanita, dengan kualifikasi rumit, seperti harus bergelar sarjana, lajang (jomblo), berdomisili di Taiwan, hingga rentang usia tertentu, akan dipasang-pasangkan secara acak.

Bila proses kencan atau mungkin lebih tepatnya ‘perjodohan’ itu gagal, mengingat penumpang satu sama lain baru pertama kali dipertemukan di pesawat, penumpang bisa mengisi waktu dengan menikmati pemandangan pegunungan pantai timur dan ujung barat Kepulauan Ryukyu, Jepang, yang indah.

Pada penerbangan malam hari di malam tahun baru, pemandangan lampu-lampu kota dan bulan akan lebih memanjakan mata -layaknya lagu Fly Me to the Moon karya Frank Sinatra- dibanding penerbangan siang di hari natal dan penerbangan pagi di hari tahun baru.

Selain itu, penumpang juga bebas bergerak di sekitar area kabin serta menikmati es krim Häagen-Dazs gratis. Bila perlu, penumpang bisa mendatangi dewa-dewi asmara yang diperankan oleh pramugari dan pramugara, untuk tetap bisa merasakan kencan di udara.

“Ketika pria dan wanita jomblo bepergian, selain menikmati kesenangan dalam perjalanan, mereka mungkin ingin bertemu seseorang, seperti adegan dalam film romantis,” kata juru bicara, Mobius.

“Keuntungan terbesar dari kencan kilat dalam penerbangan berasal dari keseriusan peserta kami,” tambahnya.

Bila program kencan itu berhasil, penumpang akan diberi tambahan “romantic date time” atau dua jam ekstra di darat. Setelah seluruh rangkaian program usai, akan ada sejenis sesi pengakuan untuk para pasangan yang berhasil menemukan jodoh mereka.

Baca juga: EVA Air – Anak Perusahaan Evergreen Group, Pernah Memasang Livery Terlucu dalam Sejarah

Di masa pandemi virus Corona, Eva Air memang sangat inovatif semata agar tetap mendapat pemasukan. Maskapai ini menjadi pelopor flight to noweher selama pandemi.

Lagi pula, sekalipun traffic penumpang sangat anjlok -sebagaimana banyak maskapai di dunia- maskapai yang pernah menggunakan livery imut dan lucu bertemakan Hello Kitty pada pesawat Boeing 777-300ER-nya itu berhasil meraup untung besar hingga pertengahan tahun 2020. Hal itu dikarenakan penerbangan kargo melonjak drastis di angka 136 persen di tahun ini, seiring posisi Taiwan sebagai salah satu pemasok utama masker medis dan APD ke seluruh dunia.

Medan Kini Punya Transmetro Deli, Gratiskan Tiket Penumpang Hingga Akhir 2020

Jakarta punya TransJakarta, Yogyakarta punya Trans Jogja, ternyata Medan pun tak mau kalah dengan menghadirkan Transmetro Deli. Bus ini hadir dan meramaikan transportasi umum di Medan, Sumatera Utara. Transmetro Deli ini mulai beroperasi sejak 16 November kemarin.

Baca juga: Trans Jogja, Bus Rapid Transit Tanpa Separator Asli Kota Gudeg

Armada ini beroperasi sebanyak 39 bus dan ada empat bus lainnya disiapkan untuk cadangan. Kepala Bagian Operasional Bus Trans Metro Deli, Jimmy Petrus Tamba mengatakan, pada pengoperasian awal ini, bus Transmetro Deli melayani tiga rute perjalanan.

KabarPenumpang.com mengutip dari berbagai laman sumber, akan ada lima koridor nantinya yang akan dilayani Transmetro Deli. Namun saat ini baru tiga koridor yang beroperasi yakni koridor 2 Lapangan Merdeka menuju ke Terminal Amplas, koridor 4 Lapangan Merdeka ke Tuntungan dan koridor 5 Tembung ke Lapangan Merdeka.

Koridor 2 yang melayani trayek dari Lapangan Merdeka menuju ke Amplas, penumpang yang naik dari Terminal Amplas bisa naik bus yang berada tidak jauh dari pintu masuk terminal. Bus yang di koridor 2 akan melintasi Jalan SM Raja, dengan berhenti di halte yang sudah di beri tanda selama perjalanan.

Beberapa tempat yang menjadi perhentian bus koridor 2 ini adalah loket bus ALS, depan kantor Dinas Kehutanan Provinsi Sumut, di depan Pasar Simpang Limun, Universitas Budi Darma, Taman Sari Deli dan Rumah Tjong A Fie. Jimmy mengatakan untuk pembayaran hanya menerapkan sistem pembayaran non tunai sehingga tak lagi perlu mengeluarkan uang cash.

“Warga tidak bisa membayar secara tunai. Untuk pembayaran bisa dengan e-money, Brizzi ataupun BRI,” kata Jimmy.

Bus ini memiliki kapasitas kursi sebanyak 40 dan hanya setengahnya yang bisa diduduki karena ada tanda batas selama masa pandemi. Tak hanya itu, Transmetro Deli juga menyiapkan tempat untuk pengguna kursi roda.

Baca juga: LinkAja Resmi Jadi Pembayaran Non Tunai Pertama di TransJakarta

Untuk diketahui, di dalam bus juga sudah dilengkapi dengan handsanitizer, mesin pembayaran elektronik, CCTV, safety belt dan selama proses uji coba hingga akhir Desember 2020, penumpang belum akan dikenakan tarif dan baru dikenakan pada awal Januari 2021. Bus dengan program Buy The Service ini telah hadir di lima kota besar, yakni Palembang, Solo, Denpasar, Medan, dan Yogyakarta.

Naik Kereta Api Sekarang Tak Perlu Rapid Test, Tapi Tidak Berlaku untuk Kereta Jarak Jauh

Tak perlu lagi rapid tes sebelum naik kereta api? Ternyata hal ini memang benar, namun tidak untuk semua relasi kereta api. Meski begitu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengumumkan hal tersebut di akun Intagram resmi mereka @kai121_ pada Rabu kemarin.

Baca juga: Peringati Hari Pahlawan, PT KAI Bagikan 10.000 Voucher Kereta untuk Guru dan Tenaga Kesehatan

VP Humas PT KAI Joni Martinus mengatakan, untuk penumpang kereta api jarak jauh masih tetap menggunakan rapid tes. Dia menyebutkan, hal ini merupakan aturan dari Kementerian Perhubungan terkait masih berlakunya rapid tes Covid-19.

Sehingga ketika akan menumpang di kereta jarak jauh, penumpang tetap harus membawa surat pernyataan rapid tes atau PCR yang menyatakan negatif atau non rekatif Covid-19. Meski begitu Joni menambahkan, postingan di Instagram memberikan rincian rute kereta api yang diklasifikasi sebagai relasi lokal, komuter ataupun aglomerasi.

”Penumpang tidak memerlukan keterangan bebas Covid-19 pada KA aglomerasi seperti KA Kaligung, KA Kamandaka, KA Joglosemarkerto dan KA Kuala Stabas,” ujarnya ketika dihubungi KabarPenumpang.com, Jumat (20/11/2020).

Sedangkan untuk kereta lokal yakni KA Lokal Merak, KA Siliwangi, KA Bandung Raya Ekonomi, KA Cibatuan, KA PRameks dan KA Bandara YIA. Ada pula KA Kedung Sepur, KA Komuter Surabaya, KA Ekonomi Lokal Surabaya, KA Dhoho, KA Penataran, KA Tumampel, KA Jenggala, KA Sri Lelawangsa dan KA Sibinuang.

Joni menambahkan, penumpang tetap diwajibkan untuk mematuhi aturan kesehatan saat menaiki kereta yakni penumpang dalam kondisi sehat, tidak menederita flu, batuk dan demam. Wajib menggunakan masker selama di area stasiun dan perjalanan.

Suhu tubuh maksimal 37,3 derajat Celcius dan disarankan menggunakan pakaian lengan panjang atau jaket serta wajib menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan. KAI telah melanjutkan operasi untuk 14 kereta jarak jauh dan 23 kereta penumpang lokal setelah menghentikan layanan selama dua bulan di masa pandemi.

Baca juga: Sambut 25 Mei, PT KAI Siapkan Protokol The New Normal

Akibat penurunan permintaan perjalanan karena Covid-19, KAI dilaporkan mengalami kerugian sebesar Rp2,4 triliun (US$163,6 juta) antara Januari dan September, penurunan drastis dari laba Rp 1,5 triliun yang dibukukan pada periode yang sama tahun lalu.

Tidak Terbangkan Pesawat, Pilot Airbus A380 Qantas Kini Kemudikan Bus Reguler

Sepertinya tak akan habis bila membicarakan pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini. Bahkan beberapa profesi dalam dunia penerbangan pun harus beralih karena pemecatan atau cuti tanpa berbayar. Salah satunya profesi yang terkena dampak adalah pilot, di mana sebagian besar para penerbang pesawat ini beralih profesi demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Baca juga: Kena PHK, Mantan Pilot Malindo Air Rambah Bisnis Kuliner

Seperti yang terjadi pada 13 pilot Qantas pesawat jumbo A380 yang beralih menjadi pengemudi bus reguler. KabarPenumpang.com melansir onemileatatime.com (11/11/2020), The Project yang merupakan program berita Austalia mengadakan wawancara menarik dengan dua pilot Qantas terkait kehidupan mereka selama pandemi.

Dua pilot ini adalah Kapten Peter Cairns dan Kapten Peter Robert yang bila digabungkan keduanya telah menghabiskan 62 tahun menerbangkan pesawat. Salah satunya adalah kapten A380 Qantas yang mengirimkan pesawat jumbo tersebut pertama 12 tahun lalu, yang merupakan puncak karirnya.

Sedangkan satunya merupakan pilot pertama Qantas A380 yang menerbangkan pesawat tersebut terakhir dari London. Dia berbicara bagaimana merasa emosional saat tahu itu mungkin menjadi terakhir kali menerbangkan pesawat.

Kedua pilot menerbangkan Qantas A380 ke Gurun Mojave beberapa bulan lalu untuk penyimpanan jangka panjang. Rasa emosional ketika mendengar kapten A380 berbicara tentang pengalamannya menerbangkan pesawat ke gurun itu.

“Saya pikir pergi ke Mojave mungkin salah satu hal yang paling sulit, Anda tahu, mengambil pesawat pertama dan saya yang kirim ke gurun juga. Dan mungkin akan tetap di sana, tidak akan kembali, kita semua menangis,” kata Kapten Peter Robert.

Dia menambahkan ada sepuluh pesawat A380 yang diparkir di Victoriaville dan ketika menjauh dari pesawat tersebut masih ada 700 atau 800 pesawat lainnya yang terparkir. Karena hal ini, keduanya kini beralih profesi menjadi pengemudi bus.

Di mana mereka berbicara tentang bagaimana menginginkan suatu tujuan dan sebaliknya berada di rumah dan menjadi kesempatan yang diberikan kepada keduanya. Kedua pilot ini mengakui menerbangkan pesawat membutuhkan konsentrasi untuk waktu yang singkat.

Baca juga: Qantas Kirim A380 Ke ‘Kuburan’ Pesawat di Gurun Amerika Serikat

Bahkan mereka mengaku terkadang masih bisa beristirahat dan bisa menonton film. Kemudian mereka mengatakan ada banyak perbedaan ketika mengemudikan bus, yang mana membutuhkan konsentrasi untuk jangka waktu yang lama. Salah satu dari mereka mengatakan, dirinya berharap ketika secara resmi pensiun dari Qantas bisa kembali menjadi pengemudi bus.

Eks Instruktur Pilot Asal Jepang Jadi Penumpang Internasional Pertama SpaceX

Astronot kawakan Jepang, Soichi Noguchi, resmi tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai penumpang atau astronot internasional pertama yang terbang dengan pesawat ruang angkasa komersial Amerika Serikat (AS), SpaceX.

Baca juga: Sebelum Terbang dengan Kapsul Boeing CST-100 Starliner, Astronot Berlatih dengan VR

Kepastian itu didapat setelah kapsul SpaceX Dragon bernama “Resilience” yang ia tumpangi bersama tiga astronot NASA Michael Hopkins, Victor Glover dan Shannon Walker berhasil tiba di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada Selasa (17/11).

Selain itu, Noguchi menjadi orang non-Amerika pertama dan satu-satunya orang ketiga dalam sejarah yang diluncurkan dari Bumi untuk misi orbit dengan tiga jenis pesawat ruang angkasa. Hingga Crew-1, hanya dua astronot NASA yang mencapai prestasi tersebut, yaitu Walter “Wally” Schirra, yang terbang dalam misi Mercury, Gemini dan Apollo; dan John Young, yang meluncurkan misi Gemini, Apollo, dan pesawat ulang-alik.

Bukan hanya itu, pria 55 tahun, yang pertama kali ke luar angkasa pada 2005 (misi luar angkasa ke-31 Discovery STS-114), Soyuz TMA-17, dan Ekspedisi 22 ke ISS ini, juga menjadi salah satu dari lima astronot yang terbang dengan tiga sistem peluncuran berbeda.

“Suatu kehormatan memiliki pengalaman yang sama seperti yang dilakukan John Young. Saya masih ingat hari-hari kandidat astronot, ketika saya datang ke sini pada tahun 1996, John Young masih menerbangkan T-38 (pesawat jet latih sayap rendah untuk melatih astronot NASA). Jadi saya mendapat hak istimewa untuk terbang bersamanya. Jadi itu benar-benar suatu kehormatan,” ujarnya.

Dilansir spaceflightnow.com, astronot JAXA (Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang) pemegang sertifikat Flight Instrument-Instructor (CFII) dan Multi Engine Instructor (MEI) ini diproyeksikan bakal tinggal selama enam bulan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

JAXA, Eropa, dan Kanada memang dimungkinkan untuk bergabung dengan NASA dalam untuk eksplorasi luar angkasa. Tentu dengan membayar sejumlah uang. Jadi, sekalipun Jepang belum sanggup untuk membuat pesawat ulang alik, mereka tetap bisa mengirim astronot ke luar angkasa. Terbukti, di Jepang sendiri, Soichi Noguchi merupakan orang kelima yang berhasil mencapai luar angkasa.

“Sangat menarik bahwa di Jepang kami tidak memiliki kendaraan luar angkasa sendiri, tetapi berdasarkan kerja sama internasional saya akan dapat mencapai tonggak sejarah besar ini. Tentu saja, ada lebih banyak orang di belakangku, jadi ini baru permulaan,” jelasnya.

Sebetulnya, Noguchi dan tiga astronot NASA merupakan grup astronot kedua yang terbang dengan SpaceX’s Dragon. Namun karena misi pertama, Demo-2, adalah uji terbang, maka Hopkins, Glover, Walker dan Noguchi telah ditunjuk sebagai “Crew-1”.

Misi Crew-1 akan mencapai tujuan NASA dan mitra komersialnya untuk mengembalikan penerbangan rotasi awak reguler ke Amerika Serikat sejak akhir program pesawat ulang-alik pada 2011. Sebagai upaya komersial -SpaceX, bukan NASA, yang memiliki dan mengoperasikan Dragon dan roketnya, Falcon 9- misi Crew-1 akan menjadi yang pertama untuk badan antariksa AS.

Baca juga: SpaceX Sebut Pemilik Situs Belanja Online Terbesar di Jepang Jadi Orang Pertama Kunjungi Bulan di 2023

“Ini adalah pertama kalinya kami pergi dengan empat awak ke Stasiun Luar Angkasa Internasional dengan kendaraan awak komersial,” kata Administrator NASA Jim Bridenstine pada Jumat (13 November). “Ini adalah pertama kalinya kami pergi dengan salah satu mitra internasional kami, Jepang, dan kami sangat berterima kasih atas kemitraan luar biasa yang kami miliki dengan Jepang.”

“Dan ini pertama kalinya kami pergi sebagai kendaraan komersial dengan manusia ke orbit yang dilisensikan oleh FAA (Federal Aviation Administration),” kata Bridenstine. “Ada banyak hal pertama dalam penerbangan ini dan banyak penemuan menakjubkan yang akan terjadi oleh empat astronot luar biasa ini selama enam bulan ke depan.”

Buggh, Boeing 737 Alaska Airlines Tabrak Beruang! Sebelumnya Malah Pernah Tabrak Ikan Saat di Udara

Malang betul nasib beruang yang satu ini. Entah bagaimana kronologinya, belum lama ini sebuah pesawat Boeing 737-700 Alaska Airlines yang berangkat dari Bandara Cordova, Alaska, dilaporkan menabrak seekor beruang saat mendarat di Bandara Yakutat, Alaska, Amerika Serikat (AS). Sang beruang coklat pun ditemukan tewas mengenaskan tak jauh dari runway.

Baca juga: ‘Serangan’ Beruang Bikin Penerbangan di Rusia Terhenti Puluhan Menit!

“The nose gear (landing gear) nyaris mengenai beruang, tetapi kapten merasakan benturan di sisi kiri setelah beruang melintas di bawah pesawat,” jelas Alaska Airlines dalam sebuah pernyataan. Memastikan hal itu, ketika taxiing ke apron, pilot kemudian menoleh ke arah terjadinya benturan dan melihat seekor beruang tergeletak beberapa kaki tak jauh dari runway.

CNN International melaporkan, ini merupakan pertama kalinya pesawat menarak beruang. Akibat kejadian itu, pesawat Alaska Airlines mengalami kerusakan kecil di bagian luar mesin sebelah kiri bagian kanan bawah. Namun, tetap saja, pesawat terpaksa harus masuk hanggar untuk perbaikan. Beruntung, seluruh penumpang yang berjumlah enam orang dilaporkan selamat tanpa cedera apapun.

Sementara itu, menurut humas Departemen Transportasi dan Fasilitas Umum Alaska, Sam Dapcevich, insiden seperti itu memang kerap terjadi. Tak hanya beruang, terkadang pesawat juga mendapat serangan burung atau bird strike dan hewan lainnya.

“Hal seperti ini jarang terjadi. Saya telah berada di Alaska sepanjang hidup saya dan kami telah mengalami serangan pesawat dari burung dan hewan lainnya. Tapi ini adalah contoh beruang pertama yang pernah saya dengar,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sebagian besar wilayah bandara sebetulnya sudah diberi pagar, sebagai upaya mencegah kawanan hewan liar masuk. Selain itu, petugas juga dilatih oleh Departemen Pertanian untuk menggunakan kembang api dan kendaraan untuk mencegah hewan liar masuk ke area bandara dan mengganggu penerbangan.

Kerusakan di sekitar mesin pesawat Alaska Airlines usai tabrak beruang. Foto: Alaska Airlines

Sebelum kejadian, petugas mengaku telah melihat ada dua beruang, yang diduga beruang betina dan seekor anak beruang. Namun, tepat pada hari kejadian, tak satupun petugas melihat beruang saat sedang dalam proses membersihkan salju di area bandara.

Fotografer sekaligus ahli biologi lokal, Robert Johnson, mengaku terkejut saat mendengar kejadian itu dari tetangganya, yang menjadi salah satu dari enam orang penumpang Alaska Airlines flight 66. Ia pun bergegas ke bandara untuk mengabadikan momen itu.

“Itu adalah kejadian yang tidak biasa, sebenarnya yang pertama di Alaska. Saya telah bekerja dengan beruang selama hampir separuh lebih dari masa hidup saya di sini,” jelasnya.

Baca juga: Beruang Serang Pekerja Konstruksi Kereta Peluru Shinkansen Gegara Kehabisan Biji Pohon Ek

Meskipun insiden pesawat tabrak beruang merupakan yang pertama kalinya di Alaska, namun, hal itu masih tak kalah aneh dengan insiden serupa di tahun 1987. Saat itu, pesawat Boeing 737-200 Alaska Airlines dilaporkan menabrak ikan saat di udara. Kok bisa?

Disebutkan, dalam sebuah penerbangan dari Juneau, Alaska, seekor elang tampak dari kejauhan tengah membawa seekor ikan besar. Entah mengapa, saat berpapasan dengan pesawat, ikan tiba-tiba seperti sengaja dilepas elang dan membentur pesawat, tak jauh di sekitar jendela kokpit (cockpit window). Beruntung, pesawat tak sampai berlubang, kehilangan tekanan, dan mengalami dekompresi eksplosif dibuatnya.