Hari Ini, 88 tahun Lalu, Wolfgang von Gronau Keliling Dunia Selama 111 Hari Pakai Pesawat Amfibi

Pada hari ini, 88 tahun lalu, bertepatan dengan Rabu, 10 November 1932, Wolfgang von Gronau berhasil mendarat dengan selamat di Danau Constance atau Danau Konstanz, setelah 111 hari keliling dunia menggunakan pesawat amfibi Dornier Do J Wal “flying boat”. Pria kelahiran Berlin, Jerman ini menempuh jarak lebih dari 44.000 km, melewati sekitar 17 negara di dunia, termasuk Indonesia.

Baca juga: Hari Ini, 73 Tahun Lalu, Rhulin A. Thomas Jadi Pilot Tuna Rungu Pertama Terbang Solo Jarak Jauh

Sebelum membahas lebih jauh, sebetulnya masih terdapat perdebatan terkait waktu. Ada yang menyebut Wolfgang von Gronau mendarat setelah 111 hari keliling dunia pada 9 November 1932, satu hari lebih cepat dari info yang kebanyakan beredar saat ini. Terlepas dari itu, tentu semua sepakat bahwa Wolfgang von Gronau berhasil keliling dunia menggunakan pesawat amfibi.

Dilansir airandspace.si.edu, von Gronau memulai penerbangan keliling dunia pada 21 Juli 1932 dari List auf Sylt, kota paling utara di Jerman, berbatasan dengan Denmark, terbang ke arah barat melintasi Islandia, Greenland, Kanada, Kepulauan Aleut, Alaska, Kepulauan Kuril, Jepang, Cina, Filipina, Indonesia, Malaka, Myanmar, Ceylon (Sri Lanka), India, Iran, Irak, Siprus, Yunani, Italia, hingga akhirnya mendarat di Danau Constance.

Dalam penerbangan bersejarah itu, pesawat “Grönland Wal” atau Paus Greenland berangkat dengan memuat empat awak, termasuk Wolfgang von Gronau. Sayangnya, sedikit sekali informasi mendetail tentang bagaimana penerbangan tersebut berlangsung.

Di antara informasi yang ada, pesawat amfibi Dornier Do J Wal “flying boat” yang digunakan disebut pernah mengalami kebocoran cairan pendingin saat melintasi Samudera Hindia dan dipaksa mendarat darurat di atas air (ditching) karenanya. Beruntung, pesawat yang dilengkapi tiang radio tinggi dengan generator yang digerakkan angin untuk transmisi setelah mendarat ini berhasil diselamatkan oleh kapal uap Inggris sebelum diterjang oleh ganasnya ombak samudera.

Pesawat Dornier Do J Wal saat tengah diselamatkan usai mendarat darurat di Samudera Hindia. Foto: The U.S. Army Air Corps

Sebagai seorang putra jenderal kenamaan Jerman, Hans von Gronau, jiwa bertualang Wolfgang von Gronau memang sangat tinggi. Penerbangan keliling dunia bersama Paus Greenland merupakan puncak dari semangat tersebut.

Sebelumnya, pada tanggal 18 Agustus 1930, von Gronau coba melahap penerbangan trans-Atlantik dengan Dornier Wal, pesawat tua dengan nomor registrasi D-1422 yang pernah dipakai penjelajah kutub berkebangsaan Norwegia yang merupakan orang pertama yang mencapai kedua Kutub Utara dan Selatan, Roald Engelbregt Gravning Amundsen.

Sama dengan penerbangan keliling dunia, von Gronau juga melahap penerbangan tersebut dari Sylt, menuju Kepulauan Faroe, Islandia , Greenland dan Labrador, sebelum akhirnya mencapai New York City setelah menempuh 7.520 km dalam waktu 47 jam.

Meskipun berhasil melakukan aksi heroik dalam penerbangan tersebut, nyatanya, von Gronau tidak mendapat dukungan penuh dari pemerintah Jerman untuk melakukan hal lebih dari yang sudah dicapainya.

Kala itu, Jerman lebih memilih fokus terhadap DELAG, maskapai penerbangan pertama di dunia, untuk melakukan penerbagan reguler trans-atlantik. Sebab, proyek bersama DELAG dan Zeppelin dinilai lebih berpengaruh dan mampu membawa perubahan besar dibanding sekedar penerbangan trans-atlantik menggunakan pesawat amfibi bermuatan empat orang.

Baca juga: Hari Ini, 111 Tahun Lalu, DELAG Maskapai Pertama di Dunia Asal Jerman Resmi Berdiri

Meski demikian, von Gronau tetap mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Presiden Amerika Serikat yang ke-31, Herbert Clark Hoover, yang mengundangnya ke Gedung Putih untuk jamuan makan malam.

Sadar AS ingin mengambil talenta terbaiknya, pemerintah Jerman pun turun tangan. Von Gronau pun ditugaskan di Kedutaan Besar Jerman di Tokyo sebagai atase udara sesaat sebelum pecahnya Perang Dunia II. Ia hidup sebagai diplomat di Jepang sampai akhir perang, setelah mencapai pangkat Mayor jenderal ketika Third Reich atau Nazi Jerman dibubarkan.

Peringati Hari Pahlawan, PT KAI Bagikan 10.000 Voucher Kereta untuk Guru dan Tenaga Kesehatan

Memperingati Hari Pahlawan 10 November, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta memberikan apresiasi pada para guru dan tenaga kesehatan. PT KAI mengatakan dua profesi ini yakni pahlawan tanpa tanda jasa dan garda terdepan di masa pandemi.

Baca juga: Sambut HUT RI Ke-75, Inilah Parade Promo Diskon dan Tiket Gratis dari PT KAI

Kedua profesi ini diberi apresiasi oleh PT KAI dengan memberikan sepuluh ribu lembar voucher tiket kereta api gratis untuk kelas eksekutif dan ekonomi. Pembagian voucher tiket kereta api gratis tersebut dibagikan disejumlah area termasuk Daop 1 Jakarta. VP Humas Daop 1 Jakarta, Eva Chairunisa mengatakan, voucher ini untuk periode keberangkatan 8 sampai 30 November 2020.

“Program Gratis Naik KA ini dihadirkan untuk menghormati dan menghargai guru dan tenaga kesehatan yang merupakan para pahlawan tanpa tanda jasa,” ujar Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (7/11/2020).

Didiek mengatakan, guru adalah sosok utama di garda terdepan pendidikan nasional, mengingat pendidikan adalah wadah pondasi yang sangat penting pencetak generasi bangsa. Sedangkan para tenaga kesehatan merupakan para pahlawan kemanusiaan pada masa pandemi Covid-19 saat ini. Mereka yang berada di garis terdepan tidak hanya mengorbankan waktu, pikiran, dan tenaga, tetapi juga rela mengorbankan risiko kesehatannya demi keselamatan orang lain.

Eva menambahkan, untuk guru dan tenaga kesehatan di area Daop 1 Jakarta pengambilan voucher dapat dilakukan di Customer service Stasiun Gambir mulai tanggal 7 sampai dengan 30 November 2020. Adapun syarat dan ketentuannya adalah, profesi tenaga kesehatan bidan atau perawat sedangkan guru dari TK sampai SMA.

Jam operasional layanan Pengambilan Voucher mulai pukul 09.00 sampai 16.00 WIB. Voucher Eksekutif dilayani mulai tgl 7 sampai 29 November 2020 untuk keberangkatan tgl 8 hingga 30 November 2020. Sedangkan voucher Ekonomi dilayani mulai tgl 11 sampai 29 November 2020 untuk keberangkatan tgl 12 sampai 30 November 2020.

Voucher yang diambil di Stasiun Gambir hanya berlaku untuk KA keberangkatan dari Area Daop 1 Jakarta yakni Stasiun Gambir dan Pasar Senen.

Voucher hanya berlaku 1 kali perjalanan dan pengambilan voucher dilayani selama ketersedian masih ada dan engambilan voucher tidak dapat diwakilkan dan dipindah tangankan.

Sudah dapat voucher, para guru dan tenaga kesehatan bisa memilih kereta yang akan mereka tumpangi ke tujuan. Berikut ini adalah daftar KA yang bisa dinaiki para guru dan tenaga kesehatan dengan menggunakan voucher tersebut.

1. KA 4 Argo Bromo Anggrek (Gambir-Surabaya Pasar Turi) jadwal keberangkatan pukul 08.15 WIB

2. KA 10 Argo Dwipangga (Gambir-Solo Balapan) jadwal keberangkatan pukul 08.00 WIB

3. KA 7030 Argo Parahyangan (Gambir-Kiaracondong) jadwal keberangkatan pukul 07.50 WIB

4. KA 46 Argo Parahyangan (Gambir-Bandung) jadwal keberangkatan pukul 18.10 WIB

5. KA 44 Argo Parahyangan Excellence (Gambir-Bandung) jadwal keberangkatan pukul 15.40

6. KA 76C Gajayana (Gambir-Malang) jadwal keberangkatan pukul 18.00 WIB

7. KA 6 Argo Bromo Anggrek (Gambir-Surabaya Pasar Turi) jadwal keberangkatan pukul 20.30 WIB

8. KA 118 Brantas (Pasarsenen-Blitar) jadwal keberangkatan pukul 13.30 WIB

9. KA 136 Dharmawangsa (Pasarsenen-Surabaya Pasar Turi) jadwal keberangkatan pukul 08.25 WIB

10. KA 114 Jayabaya (Pasarsenen-Malang) jadwal keberangkatan pukul 16.55 WIB

11. KA 292 Mataramaja (Pasarsenen-Malang) jadwal keberangkatan pukul 10.30 WIB

12. KA 308B Progo  (Pasarsenen-Lempuyangan) jadwal keberangkatan pukul 22.30 WIB

Didiek juga kembali mengingatkan seluruh masyarakat terkait protokol kesehatan yang harus diikuti saat menggunakan KA Jarak Jauh.

“Saat menggunakan layanan KA Jarak Jauh, pelanggan harus dalam kondisi sehat (tidak menderita flu, pilek, batuk, demam), suhu badan tidak lebih dari 37,3 derajat celsius dan menunjukkan Surat Bebas Covid-19 (Tes PCR/Rapid Test) yang masih berlaku (14 hari sejak diterbitkan) atau surat keterangan bebas gejala seperti influenza (influenza-like illness) yang dikeluarkan oleh dokter Rumah Sakit/Puskesmas bagi daerah yang tidak memiliki fasilitas Tes PCR dan/atau Rapid Test. Pelanggan juga diharuskan menggunakan Face Shield yang disediakan oleh KAI secara cuma-cuma selama dalam perjalanan dan diimbau menggunakan pakaian lengan panjang,” tuturnya.

Sementara sebagai antisipasi, pada setiap kereta juga telah dilengkapi ruang isolasi sementara jika sewaktu2 diperjalanan kedapat penumpang dengan suhu tubuh 37,3 atau lebih. Selanjutnya penumpang dengan kondisi tersebut akan diturunkan di Stasiun terdekat yg memiliki pos kesehatan untuk penanganan lanjutan.

Baca juga: Rayakan Hari Jadi Ke-35, Super Mario Menghiasi Stasiun Shinjuku dan Tokyo

Upaya pencegahan penyebaran Covid-19 juga dilakukan dari sisi prasarana stasiun dan sarana kereta. Seluruh area dan perangkat yang rentan disentuh banyak orang dibersihkan menggunakan cairan disinfektan secara rutin setiap 30 menit sekali, kesiapan penyediaan perangkat pembersih tangan seperti cairan antiseptik dan perangkat cuci tangan yang dilengkapi sabun dipastikan selalu tersedia dan berfungsi baik.

Tiga Tahun Setelah Bernama “Nurtanio,” Inilah Progres Sertifikasi Pesawat N219

Tepat 3 tahun lalu, yaitu 10 November 2017, prototipe pesawat N219 resmi diberi nama Nurtanio oleh Presiden Joko Widodo, dan setelah tiga tahun berlalu, apa saja progres yang telah diraih pada program pesawat hasil kerjasama antara PT Dirgantara Indonesia dan LAPAN tersebut. Sebagaimana umumnya prototipe pesawat yang telah berhasil terbang perdana, maka tahapan yang ditunggu adalah meraih sertifikasi.

Baca juga: N-219 Nurtanio, Digadang Sebagai Jawara Penerbangan Perintis di Papua

Mengutip dari siaran pers dari Humas PT Dirgantara Indonesia yang diterima KabarPenumpang.com (10/11/2020), Kepala Program N219 PT DI, Palmana Banandhi menyatakan bahwa PT DI menggunakan dua prototipe pesawat untuk mempercepat proses sertifikasi uji terbang, dimana dua pesawat ini memiliki misinya masing-masing. Proses sertifikasi merupakan proses penting untuk menjamin keamanan dan keselamatan karena akan digunakan oleh pengguna dan masyarakat umum.

Prototipe pesawat pertama N219 Nurtanio menjalani serangkaian pengujian yakni menyelesaikan pengujian aircraft performance, karakteristik kestabilan dan pengendalian dan uji terbang struktur pesawat, sedangkan prototype pesawat kedua N219 Nurtanio digunakan untuk pengujian sub sistem pesawat, seperti avionic system, electrical system, flight control dan propulsion.

“Dengan penggunaan dua prototipe sebagai wahana sertifikasi uji terbang, maka kegiatan flight test bisa dioptimalkan karena tidak hanya bertumpu pada satu pesawat. Ini memungkinkan bisa tercapai Type Certificate di akhir tahun 2020”, jelas Palmana Banandhi.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Tahukah Anda, tepat pada #haripahlawan 10 November 2017, prototipe pesawat N219 resmi diberi nama “Nurtanio” oleh Presiden @jokowi #n219 @officialptdi

Sebuah kiriman dibagikan oleh KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang) pada

Type certificate adalah sertifikasi kelaikan udara dari desain manufaktur pesawat. Sertifikat ini dikeluarkan oleh otoritas kelaikudaraan sipil, dalam hal ini yang berwenang di wilayah Indonesia adalah Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

Palmana Banandhi menambahkan bahwa Prototipe pesawat pertama (Prototype Design 1) N219 Nurtanio telah menjalani Flight Cycle sebanyak 231 cycle dan Flight Hours sebanyak 256 jam, sedangkan Prototype pesawat kedua (Prototype Design 2) N219 Nurtanio telah menjalani Flight Cycle sebanyak 139 cycle dan Flight Hours sebanyak 170 jam.

Direktur DKPPU Kementerian Perhubungan RI, Dadun Kohar mengatakan, proses sertifikasi pesawat terbang N219 diantaranya meliputi pemeriksaan technical documents, ground test, flight test, dan conformity process. Proses conformity diperlukan untuk memastikan as design sama dengan as built dari pesawat terbang tersebut.

Pemeriksaan technical documents, kata dia, dilakukan dengan mengacu kepada CASR Part 23 terkait pemenuhan persyaratan design yang dilakukan oleh PT DI untuk pesawat 19 penumpang itu. “Begitupun dengan Test Flight yang dilakukan, untuk memperoleh data-data yang diperlukan. Data akan digunakan sebagai salah satu syarat CASR Part 23,” jelas Dadun Kohar.

Direktur Utama PTDI, Elfien Goentoro mengungkapkan pesawat N219 secara khusus dirancang untuk dapat mendukung program Jembatan Udara sesuai dengan Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik Untuk Angkutan Barang Dari Dan Ke Daerah Tertinggal, Terpencil, Terluar dan Perbatasan. Pesawat N219 dapat menjangkau daerah dengan kondisi georafis berbukit-bukit dengan landasan pendek dan tidak dipersiapkan

Produksi awal pesawat N219 akan dibuat 4 unit pesawat N219 dengan menggunakan kapasitas produksi yang saat ini tersedia, untuk selanjutnya PT DI akan melakukan upgrading fasilitas produksi dengan sistem automasi pada manufacturing, sehingga secara bertahap kemampuan delivery akan terus meningkat sesuai dengan kebutuhan pasar.

Baca juga: Pesawat Twin Otter, Si Kecil Bandel yang Lincah Meliuk di Daerah Pegunungan

“Inovasi dari pesawat N219 nantinya akan dikembangkan menjadi varian amphibi, akan mengurangi biaya infrastruktur untuk pembuatan bandara”, tambah Elfien Goentoro.
Pesawat N219 versi amphibi akan dapat lepas landas di bandara yang minim infrastruktur, sehingga diharapkan dengan inovasi transportasi udara tersebut, kedepannya semua tujuan destinasi pariwisata dapat dicapai dengan menggunakan pesawat N219 amphibi.

Mulai Beroperasi 2021, Bang Sue Bakal Menjadi Stasiun Kereta Terbesar di Asia Tenggara

Tahun depan diperkirakan stasiun kereta api terbesar di Asia Tenggara akan selesai di bangun di Thailand. Kehadiran stasiun kereta ini merupakan bagian dari rencana untuk meningkatkan sistem transportasi umum Negeri Gajah Putih tersebut.

Baca juga: Hua Hin, Stasiun Tertua di Thailand dan Punya Bangunan Unik

Stasiun tersebut bernama Stasiun Besar Bang Sue yang kehadirannya dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas yang cukup fatal di Bangkok. Selain itu juga untuk mendukung peran negara sebagai pusat transpotasi regional.

Dilansir KabarPenumpang.com dari globalconstructionreview.com (9/11/2020), Stasiun Besar Bang Sue nantinya akan menggantikan Stasiun Hua Lamphong yang merupakan stasiun utama Bangkok saat ini. Selain melayani kereta antar kota, Stasiun Bang Sue juga akan melayani metro bangkok hingga kereta berkecepatan tinggi.

Kehadiran Stasiun Bang Sue juga merupakan salah satu koneksi cepat ke Bandara Internasional Suvarnabhumi, Don Mueang dan U-Tapao. Menurut Kementerian Luar Negeri Thailand, jalur sepanjang 220 km dari Don Mueang yang berada di pinggiran utara Bangkok dan U-Tapao di provinsi Rayong bisa ditempung dengan waktu kurang dari satu jam.

Stasiun ini konstruksinya dibuat oleh Teknik Sino-Thailand yang mulai mengerjakan struktur stasiun pada tahun 2013 dan sekarang telah selesai. Sedangkan untuk pengerjaan interiornya akan selesai tepat waktu hingga layanan dimulai pada tahun 2021.

Saat selesai, stasiun seluas 520 ha akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dengan memiliki empat lantai, 12 platform sepanjang panjang 600 meter dan 24 trek. Ini akan memungkinkannya menampung hingga 40 kereta pada saat yang sama, dengan kapasitas penumpang harian 600 ribu atau sepuluh kali lipat dari Hua Lamphong.

Setidaknya 30 persen areanya akan dikhususkan untuk ruang hijau dan bebas polusi karena hanya akan melayani kereta listrik. Stasiun Besar Bang Sue akan menjadi perhentian untuk proyek kereta kecepatan tinggi pertama di Thailand, yang akan beroperasi antara Bangkok ke Nong Khai.

Fase pertama, meliputi 251 km dari Bangkok utara ke Nakhon Ratchasima, sedang dibangun. Rute lain yang menghubungkan Nakhon Ratchasima dengan Nong Khai akan menempuh jarak 356 km. Setelah selesai, proyek ini akan memungkinkan para pelancong dari Bangkok mencapai perbatasan Laos dalam tiga jam, bukan 11 jam seperti saat ini.

Baca juga: Stasiun Da Lat dengan Desain Antik Perancis, Andalan Wisata Kereta Vietnam

Kementerian menambahkan bahwa jalur ini akan diperpanjang untuk menghubungkan dengan jalur rel yang sedang dibangun melalui Laos sebagai bagian dari Belt and Road Initiative China. Tautan berkecepatan tinggi penting lainnya adalah dengan bandara U-Tapao, yang sedang diperluas untuk melayani Koridor Ekonomi Timur Pemerintah Thailand juga berharap dapat mempromosikan Bang Sue sebagai katalisator untuk mengembangkan kawasan pusat bisnis baru di sekitar stasiun.

Akses Menuju Bandara Soekarno-Hatta Macet Total, Tiga Maskapai Beri Kompensasi Pada Penumpang

Hari ini, Selasa (10/11/2020), Habib Rizieq kembali ke Indonesia dan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng. Hal ini membuat kemacetan panjang di jalan akses tol Soedyatmo akses Bandara Soetta di mana membludaknya simpatisan Habib Rizieq yang datang untuk menjemput sang imam besar menjadi pemicunya.

Baca juga: Bicara Kompensasi Saat Terjadi Delay Ada di Peraturan Menteri Perhubungan

Selain kemacetan menuju ke Bandara Soetta, imbas lainnya adalah pada penerbangan yang delay bisa selama tiga hingga empat jam. Hal tersebut kemudian membuat maskapai nasional mulai memberikan kompensasi bagi penumpang mereka yang terkena dampak.

KabarPenumpang.com menerima siaran pers dari Citilink, Garuda Indonesia dan Lion Air Group, di mana maskapai-maskapai ini menyatakan memberikan kompensasi baik untuk reschedule maupun refund tiket. Citilink, saat ini langsung melakukan penyesuaian pada beberapa jadwal penerbangan milik mereka.

Maskapai hijau ini juga memberlakukan pembebasan biaya reschedule ataupun refund tiket. Direktur Utama Citilink Juliandra mengatakan, Citilink berkomitmen dalam mengutamakan kenyamanan dan keamanan penumpang dengan memberi solusi yang beragam bagi penumpang yang terdampak atas kemacetan menuju bandara.

Dia menyebutkan, penerapan pembebasan biaya reschedule maupun refund tiket tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku. Hal serupa juga dilakukan oleh Garuda Indonesia. Maskapai tersebut juga membebaskan biaya penyesuaian jadwal penerbangan maupun refund tiket bagi penumpang yang terdampak kondisi kemacetan menuju ke Bandara Soetta.

“Kami sepenuhnya mengerti kekhawatiran yang dialami penumpang. Untuk itu, Garuda Indonesia berkomitmen untuk selalu hadir bersama seluruh penumpang dengan menghadirkan sejumlah solusi bagi penumpang yang terdampak imbas kemacetan akses menuju bandara,” kata Direktur utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra.

Baca juga: Agar Anda Tidak Tertipu, Kenali “Downgrade” Kelas dalam Penerbangan

Dia menambahkan bagi penumpang yang harus melanjutkan perjalanan, pihaknya juga mempersiapkan opsi pengalihan jadwal keberangkatan ke penerbangan selanjutnya. Sedangkan untuk Lion Air Group, Corporate Communications Strategic Danang Mandala Prihantoro mengatakan, pihaknya akan memberi kompensasi yakni tidak mengenakan biaya pada penumpang yang akan mereschedule tiket mereka.

Panasonic Ciptakan ‘Vacuum Cleaner’ untuk Sedot AirPods yang Jatuh di Rel

Orang Jepang gemar mendengarkan musik lewat AirPods, dan karena favoritnya penggunaan earphone wireless tersebut, lumayan banyak kasus AirPods yang hilang atau terjatuh saat digunakan di kereta komuter. Hanya dalam tiga bulan antara Juli hingga September 2020, dilaporkan penumpang komuter telah menjatuhkan lebih dari 950 pasang AirPod di 78 jalur stasiun kereta di wilayah Tokyo.

Baca juga: Rentan Hilang, Ada Baiknya Pertimbangkan Kembali Penggunaan AirPods Saat Naik Komuter!

Kabarnya, AirPods merupakan seperempat dari semua barang yang jatuh dari kereta komuter. Masifnya kejadian tersebut nyatanya telah membuat repot East Japan Railway Co (JR East), pasalnya para pekerja JR East harus menggunakan alat penjepit untuk mengambil AirPods, sebuah tugas yang sangat membosankan, lantaran AirPods berupa gadget kecil sering kali terjebak di antara kerikil pada bantalan rel.

Dikutip dari engadget.com (6/11/2020), disebutkan kini sudah ada solusi untuk mengambil AirPods yang terjatuh pada rel. Persisnya JR East telah bermitra dengan Panasonic dalam menghadirkan jenis alat berupa vacuum cleaner untuk menyedot AirPods dan earbuds lain yang terjatuh di rel saat proses keluar masuk penumpang ke kereta.

Pengujian awal di Stasiun Ikebukuro Tokyo menunjukkan bahwa penyedot debu Panasonic dapat mengumpulkan earphone kecil jauh lebih cepat daripada alat pengambil mekanis, alat penyedot ini dapat bekerja lebih baik pada barang yang lebih besar seperti smartphone atau tas tangan.

Menurut data dari Counterpoint Research yang dilaporkan oleh Bloomberg, Apple menjual lebih dari 60 juta AirPods pada 2019 dan diperkirakan menjual 82 juta lebih AirPods pada 2020. Lantaran praktis dan efektif, Kemungkinan vakum besutan Panasonic akan diminati di negara lain, karena pengambilan AirPod tidak hanya terjadi pada perusahaan kereta api di Jepang.

Baca juga: Hilangkan Kepenatan Karena Pandemi, Kereta Komuter Seoul Hadirkan Festival Film Kereta Bawah Tanah Internasional

Selain di Jepang, laporan AirPods yang terjatuh di kereta komuter juga terjadi di Amerika Serikat. Salah satu wilayah yang kerap kehilangan AirPods adalah di San Francisco Bay Area, sebelah utara California. Padahal, papan peringatan untuk tidak memakai AirPods sudah banyak dipasang guna mencegah si empunya kehilangan barang yang cukup berharga ini – terutama di dekat kereta atau di sekitaran area kereta bawah tanah.

Semester Pertama 2020, Trafik Perjalanan Singapore Airlines Anjlok 98,9 Persen

Penurunan trafik perjalanan Singapore Airlines disebut mencapai 98,9 persen pada semester pertama tahun 2020. Hal tersebut akibat pembatasan perjalanan global yang membawa kerugian maskapai asal Negeri Singa ini sebesar S$3,4 miliar. Sedangkan pendapatan grup maskapai penerbangan turun 80,4 persen menjadi hanya S$1,6 miliar pada semester pertama tahun keuangan yang berakhir 30 September lalu.

Baca juga: Demi Bertahan Hidup, Singapore Airlines Bisnis Program Pelatihan SDM

KabarPenumpang.com merangkum airlineratings.com (7/11/2020), Singapore Airlines Group mengalami penurunan yang tajam pada penumpangnya saat pembatasan perjalanan internasional. Meski begitu, sebagian diimbangi oleh pendapatan kargo yang lebih kuat yang naik sebesar S$274 juta, atau 28,3 persen karena banyak negara-negara berusaha memulihkan rantai pasokan global.

Maskapai tersebut mengatakan bahwa pihaknya menanggapi permintaan dengan memaksimalkan pemanfaatan jasa kargo. Sementara pendapatan turun hingga 80,4 persen, belanja kelompok hanya turun 55,8 persen menjadi S$3,4 miliar.

Akibatnya, Grup ini mengalami kerugian operasional sebesar S$1,8 miliar untuk semester pertama, pembalikan S$2,2 miliar dari laba operasi sebesar S$413 juta tahun lalu. Untuk paruh pertama, grup melaporkan kerugian bersih sebesar S$3,4 miliar yang terutama didorong oleh penurunan kinerja operasi, serta beberapa item non tunai seperti penurunan S$1,3 miliar pada nilai tercatat pesawat generasi tua.

Selain itu 26 pesawat dianggap surplus untuk persyaratan armada setelah menyelesaikan tinjauan jaringan jangka panjang, keduanya ditunjukkan dalam Business Update yang dikeluarkan pada Juli 2020. Pesawat tersebut terdiri dari tujuh A380, empat 777-200 atau 200ER, empat 777-300, sembilan A320 dan dua A319.

Singapore Airlines Group telah mengumumkan pengurangan sekitar 4.300 posisi kerja di tiga maskapai penerbangan mereka. Langkah-langkah juga diambil untuk mengurangi jumlah staf yang akan terkena dampak pembebasan paksa, termasuk pemotongan gaji, pembekuan perekrutan, lowongan terbuka yang tidak diisi, skema pensiun dini dan skema pembebasan sukarela untuk staf.

Langkah-langkah ini mengurangi jumlah staf yang terkena dampak latihan rasionalisasi tenaga kerja menjadi sekitar 2000 orang. Singapore Airlines mengatakan telah menyelesaikan negosiasi dengan Airbus tentang jadwal pengiriman pesawat yang direvisi dengan menggabungkan penangguhan untuk sebagian pesawat yang dipesan.

Negosiasi dengan Boeing tentang pesawat yang saat ini dipesan berada pada tahap lanjutan termasuk 26 pesawat yang dianggap surplus.

Antara akhir Juni dan akhir September, Singapore Airlines meningkatkan tujuan penerbangan, dari 24 menjadi 30, SilkAir dari tiga menjadi lima, dan Scoot dari enam menjadi 16. Akibatnya, jaringan penumpang Grup telah meningkat dari 32 tujuan pada bulan Juni menjadi 43 tujuan, termasuk Singapura, pada akhir September.

Jaringan kargo Grup melayani 61 kota pada 30 September, naik dari 26 kota pada 1 April. Dalam beberapa bulan mendatang, Singapore Airlines dan SilkAir akan mengaktifkan kembali layanan penumpang ke Brunei, Dhaka, Fukuoka, Johannesburg, Kathmandu, Male dan Penang. Scoot juga akan melanjutkan layanan ke Melbourne.

Baca juga: Penerbangan Terpanjang di Dunia Singapore Airlines Beroperasi Lagi, Malah Bakal Lebih Panjang

Singapore Airlines juga telah mengumumkan bahwa mereka akan meluncurkan layanan tiga kali seminggu dari Singapura ke Bandara Internasional John F.Kennedy di New York mulai 9 November, menyediakan koneksi non-stop ke Pantai Timur AS dan mendukung lalu lintas kargo dan penumpang di rute tersebut. Namun, sisi positifnya sejak awal tahun finansial, Grup telah berhasil meningkatkan likuiditasnya sekitar S$11,3 miliar, melalui rights issue, memperoleh pembiayaan untuk pesawat A350-900 dan 787-10 serta pembiayaan tanpa jaminan.

Rel Paksa (Gongsol), Menjamin Lintasan Kereta Aman di Tikungan Tajam

Rel kereta dengan kontur berbelok tentu tak bisa dihindari, apalagi dalam kondisi geografis pegunungan seperti di Indonesia. Bukan sekedar berbelok biasa, namun tak jarang dijumpai belokan atau tikungan tajam pada rel kereta. Nah, rupanya untuk menjamin keselamatan operasional kereta pada tikungan tajam, diperlukan tools khusus.

Baca juga: Ternyata Ada Beragam Jenis Bantalan Rel, Indonesia Pakai Yang Mana?

Tools yang dimaksud adalah rel paksa, dan apa sih rel paksa itu? KabarPenumpang.com mengutip dari berbagai laman sumber, rel paksa juga sering dikenal dengan sebagtan rel gongsol. Ini merupakan rel tambahan yang dipasang pada lintasan rel dengan tikungan tajam dan memiliki jari-jari (radius) yang kecil atau kurang dari 250 meter.

Rel gongsol sendiri ternyata memiliki beberapa fungsi yakni untuk menjaga agar roda kereta api tidak terselip ketika melintas di tikungan tajam. Selain itu juga untuk mengurang tingkat keausan rel luar yang disebabkan oleh gaya sentrifugal kertika kereta api melintasi di jalur lengkungan rel.

Uniknya saat kereta api melintasi lengkung rel yang dilengkapi dengan rel gongsol, roda kereta akan bergesekan dengan rel gongsol sehingga mengeluarkan suara yang khas. Di Indonesia rel gongsol ini banyak ditemui di lintasan yang berkontur pegunungan, salah satunya seperti di Daerah Operasional (Daop) 2 Bandung.

Yang mana di Daop 2 ini memiliki banyak tikungan tajam dan tanjakan yang terjal. Selain di tikungan tajam dan tanjakan, rel gongsol juga bisa ditemui di lintasan datar yang memiliki jari-jari lengkung yang sangat kecil seperti di balloon loop di Dipo Lokomotif Sidotopo dan segitiga pembalik di dekat Stasiun Banyuwangi Baru.

Untuk diketahui, pemasangan rel gongsol diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No.24/2015 dengan ketentuan seperti dipasang pada lengkung horizontal kurang dari 250 meter. Kemudian lengkungan horizontal jalan rel berada pada kelandaian yang cukup tinggi atau di atas timbunan tinggi sehinga dianggap cukup berbahaya serta akan menyebabkan kerusakan serius bila terjadi anjlokan pada kereta.

Baca juga: Bunyi Lonceng Kereta di Perlintasan Sebidang, Antara Manfaat dan Penebar Polusi Suara

Terakhir adalah dipasang secara tetap dengan jarak 65 mm terhadap rel utama ditambah besarnya pelebaran jalan rel dan sepanjang 1,5 meter dari kedua ujung melebar secara bertahap sampai dengan 180 mm pada bagian terujung.

Rail Anchor, Komponen Penting untuk Cegah Pemuaian Pada Rel Kereta

Saat naik kereta api, cobalah perhatikan rel secara lebih detail, ya rel adalah batangan berbahan besi baja yang disusun secara paralel dengan jarak konstan antara dua sisi. Kemudian batang beji ini dikaitkan dengan bantalan yang disusun secara melintang untuk menjaga agar rel tidak bergeser atau renggang.

Baca juga: Ternyata Ada Beragam Jenis Bantalan Rel, Indonesia Pakai Yang Mana?

Nah untuk membangun trek (jalur rel) ternyata ada beberapa komponen yang mempengaruhi kualitas rel kereta api itu sendiri. Salah satunya adalah rail anchor. Ini apa ya? KabarPenumpang.com mencoba menelusuri rail anchor ini di berbagai laman sumber. Rail anchor atau anti creep digunakan pada rel yang disambung secara CWR atau Continuous Welded Rails. Fungsinya untuk menahan gerakan pemuaian batang pada rel karena pada sambungan CWR. Biasanya rail anchor dipasang di bawah permukaan batang rel, tepatnya disamping bantalan.

Rail anchor ini tidak dipasang pada rel yang ditambat dengan penambat elastis. Sebab fungsinya sudah sama seperti penambat elastis yakni mencegah gerakan pemuaian batang rel. Sehingga rail anchor akan dipasang bersama dengan penambat kaku pada bantalan kayu atau besi. Rail anchor ini dibuat dengan konstruksi satu bagian dari baja pegas.

Tak hanya itu, rail anchor juga dibuat untuk berat rel tertentu dan lebar alas yang bisa diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu rail anchor drive on dan rail anchor tipe pegas. Cara kerja rail anchor adalah harus berada pada sisi pengukur alas rel terhadap permukaan pengikat yang sama pada rel yang berlawanan.

Baca juga: Di Bangladesh, Baut Rel Kereta Diganti dengan Batang Bambu dan Pisang

Rail anchor juga harus menahan alas rel dengan erat dan kuat serta memiliki bantalan penuh pada permukaan pengikat rel. Ini juga tidak boleh digerakkan dengan mendorongnya di sepanjang rel sehingga ikatan rel harus dijaga tetap lurus saat rail anchor dipasang.

“Clear of Bus Check,” Sistem Untuk Memeriksa Keselamatan Anak di Dalam Bus Sekolah

Banyak anak-anak yang sering tertinggal di dalam bus ketika mereka tanpa pendampingan. Hal ini kemudian membuat Transportme menghadirkan sebuah inisiatif baru yakni Clear of Bus Check. Ini merupakan sistem pemeriksaan keselamatan yang diluncurkan di 50 bus sekolah di Jalur Bus Warrnambool Victoria, Queensland, Australia.

Baca juga: Teknologi Low-Floor Mudahkan Penumpang Difabel Naik Bus

KabarPenumpang.com melansir busnews.com.au, tujuan Transportme membuat sistem ini untuk mengatasi anomali abadi yang kerap terjadi, di mana anak-anak sering tertinggal di dalam bus. Bahkan awal tahun ini, di Queensland seorang balita meninggal karena terperangkap dalam minibus yang panas.

Karena takut terulang kembali peristiwa semacam ini, Transportme mempercepat teknologi Clear of Bus Check dan bekerja sama dengan Warrnambool Bus Lines dan Isanet. Mereka mengatakan, teknologi ini sangat mudah digunakan untuk operasional di dalam bus.

“Apa yang harus kami pastikan dan lihat saat mengembangkan Pemeriksaan Bebas Bus ini adalah kesalahan pengemudi dan rasa puas diri. Kami perlu memastikan bahwa jika pengemudi tidak menyelesaikan pemeriksaan ini dengan cara yang seharusnya yakni rantai komando diberitahukan dan dapat memperbaiki situasi,” kata direktur pelaksana Transportme Tooth.

Dia mengatakan, pihaknya tidak bisa menjelaskan secara rinci tentang bagaimana bisa mencapai hal ini karena keduanya cukup intens dan juga terkait dengan masalah IP. Tooth menyebutkan bahwa Isanet telah memberi mereka beberapa perangkat keras khusus penggunaan untuk memastikan pengembangan dapat terpenuhi.

Menurut Transportme, teknologi Clear of Bus Check akan memastikan pengemudi harus berjalan ke belakang untuk menyelesaikan pemeriksaan mereka di dalam bus. Tooth menambahkan, sistem akan memastikan manajemen dan pengemudi diberi tahu jika pemeriksaan harus diselesaikan.

Dia menyebutkan, pada dasarnya, ini menggunakan generator kode pin yang ditautkan di bagian belakang bus untuk memastikan pengemudi berjalan ke belakang, melihatnya dan memasukkan pin ke antarmuka di area pengemudi. Kode tersebut cukup kecil sehingga mereka harus cukup dekat untuk membacanya.

“Kami telah mendengar cerita tentang pengemudi yang menekan tombol di bagian belakang bus dengan sapu dan itulah jenis masalah yang kami tahu harus kami hadapi, oleh karena itu kami menghabiskan berjam-jam bekerja dengan Isanet tentang logika sistem, dan apa yang bisa terjadi jika seorang pengemudi melakukan X atau Y,” jelasnya.

“Pada akhirnya, kami sekarang memiliki sistem komprehensif yang akan memastikan pengemudi menyelesaikan pemeriksaan mereka dan akan secara drastis mengurangi kemungkinan anak atau penumpang tertinggal di dalam bus. Namun yang sama pentingnya, manajemen sepenuhnya menyadari bahwa pemeriksaan tersebut telah atau belum selesai,” tambahnya.

Tooth mengatakan, jika bisa menghindari tragedi seperti tewasnya balita di Queensland, maka ini adalah hal yang baik. Dia menyebutkan, pihaknya mendorong semua operator untuk melihat lbih dekat pada sistem mereka dan juga tahu bahwa pengemudi seratus persen melakukan pemeriksaan itu.

Baca juga: Percantik Kota dan Menyenangkan Anak-anak, Halte Bus di Ontario Tampil dengan Corak Pastel

“Ini adalah sesuatu yang harus mereka yakini, karena tidak ada yang ingin melihat terulangnya apa yang terjadi di Queensland,” kata Tooth.