KLM Cityhopper Jadi Maskapai Pertama Integrasikan Virtual Flight Deck dalam Pelatihan Pilot

Maskapai regional Eropa KLM Cityhopper, anak perusahaan dari maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi, KLM, mengumumkan minggu lalu bahwa pihaknya saat ini meluncurkan sistem virtual reality (VR) yang dikembangkan oleh tim pakar perusahaan untuk melatih pilot di pesawat Embraer 175 dan 190.

Baca juga: Tak Hanya Diserbu Pilot, Microsoft Flight Simulator 2020 Juga Diserbu Traveller yang Kangen Liburan

Dalam sebuah rilis, KLM mengatakan bahwa Cityhopper, “Adalah maskapai penerbangan pertama yang mengintegrasikan VR kedalam pelatihan pilotnya untuk pesawat Embraer. Tujuannya, perusahaan ingin mengukur kemampuan VR dalam upaya merespon kebutuhan pelatihan pilot yang di masa pandemi Corona seperti sekarang ini cenderung berbeda dan dengan cara yang lebih fleksibel.

“VR membuat pelatihan lebih mudah diakses. Ini sesuai permintaan dan tidak tergantung pada tempat. Pilot tidak harus berada di ruang kelas atau simulator pada waktu tertentu. Terlebih lagi, hal itu memungkinkan mereka untuk mengeksplore, sesuatu yang dapat mereka lakukan dengan aman di dunia virtual,” kata Sebastian Gerkens, Instruktur Senior Embraer di KLM Cityhopper, seperti dikutip dari flyingmag.com.

Lebih lanjut ia berujar bahwa “VR memungkinkan pilot untuk membiasakan diri dengan kokpit lebih awal, sehingga mereka dapat menggunakan waktu saat tes di simulator dengan lebih efektif.” Perusahaan yakin penggunaan VR juga akan menghemat biaya karena membuat jadwal pelatihan pilot lebih fleksibel dan mengurangi jumlah supplier eksternal.

Pelatihan VR untuk Embraer 175 dan 190 ini dikembangkan oleh pakar VR KLM bekerja sama dengan KLM Cityhopper. Modul pelatihan virtual flight deck maskapai terdiri dari tiga aplikasi yang semuanya adalah bagian dari Type Rating Course.

Modul kokpit virtual menempatkan pilot ke dalam kokpit melalui gambar panel kontrol interaktif yang dihasilkan komputer. Pilot juga menonton video 360 derajat POV dari sebuah penerbangan seolah-olah mereka sedang duduk di jump seat kokpit. Terakhir, ada panduan virtual melalui dan di sekitar pesawat, yang terdiri dari foto statis 360 derajat.

Werner Soeteman, manajer VR Centre Of Excellence di KLM IT mengatakan, “Untuk menghasilkan video dan foto 360 derajat, salah satu teknisi VR kami duduk di kokpit mengoperasikan kamera 360 derajat yang canggih selama penerbangan (VR). Perancang VR ini tidak tahu sama sekali tentang cara kerja Embraer, meskipun mereka telah belajar banyak.”

Baca juga: Dear Pilot, Usai Bangkrut Thai Airways Jajaki Bisnis Flight Simulator! Segini Harganya

Di masa pandemi, dimana pesawat banyak digrounded, pilot memang harus tetap ‘terbang’ untuk mempertahankan kemampuan mereka. “Pilot harus sering latihan dan meng-upgrade skill untuk dapat terus terbang,” kata Brian Strutton, salah seorang anggota British Airline Pilots Association (BALPA) yang menaungi seluruh pilot di Inggris, seperti dikutip dari CNN Internasional.

Celakanya, mengikuti kebijakan pembatasan atau karantina wilayah, banyak fasilitas simulator tutup. Oleh karenanya, Karlene Petitt, seorang pilot Boeing 777 mengatakan bahwa di masa pandemi ini, pilot tak punya pilihan lain kecuali terus mengupgrade skill mereka. Bila tidak, pilot bisa saja lupa atau kehilangan ‘sentuhan’ mereka ketika mulai kembali mengudara. Ia pun berbagi opsi bahwa pilot bisa mempertahankan skill dengan platform online.

Lima Inovasi ini Bikin Kereta Masa Depan Lebih Cepat dan Aman

Proyek pengembangan transportasi umum dengan teknologi terbaru terus berlanjut hingga saat ini. Di hampir semua belahan dunia bahkan mulai membuat pembaruan pada jaringan kereta api cepat mereka seperti kereta maglev di Cina dan Jepang serta Hyperloop yang belum terbukti buatan dari Elon Musk dan Richard Branson.

Baca juga: Tahun 2026, Rusia Akan Punya Kereta dengan Kecepatan 400 Km Per Jam

Meski terlihat lambat dalam pembangunannya untu merencanakan membangun jalur dan kendaraan baru, tetapi ada beberapa inovasi teknis yang jika diterapkan dapat membuat kereta masa depan lebih cepat dan aman. KabarPenumpang.com merangkum dari theconversation.com (19/10/2020), berikut lima inovasi teknis terbaru itu.

1. Sakelar mekatronika
Kegagalan sakelar hampir 20 persen dari total penundaan yang dialami oleh penumpang di perkeretaapian Inggris. Hal ini terjadi jika ada masalah dengan mekanisme yang memungkinkan kereta api berpindah dari satu lintasan ke lintasan lain di persimpangan. Terlepas dari frekuensi masalah, teknologi yang digunakan dalam mekanisme ini hampir tidak berubah sejak desain pertama hampir 200 tahun yang lalu.

Meski begitu, proyek penelitian kolaboratif telah mengeksplorasi teknologi alternatif yang radikal seperti, satu desain inovatif yang disebut Repoint memiliki tiga motor independen yang dapat mengangkat dan menggeser rel, mengandalkan gravitasi untuk menguncinya kembali dan menyediakan redundansi jika satu atau dua motor rusak.

Ini kontras dengan sakelar ada yang menggeser rel ke samping dan dapat macet di tengah jalan, sehingga memiliki lapisan sensor dan protokol tambahan yang mahal untuk mengurangi risiko. Sakelar “mekatronika” generasi berikutnya bertujuan untuk bekerja lebih cepat, meningkatkan kemudahan perawatan, dan mengurangi risiko kegagalan melalui motor cadangannya.

2. Suspensi aktif
Sistem suspensi konvensional membatasi kecepatan kereta saat melaju di jalur melengkung, membatasi jumlah kereta yang dapat Anda jalankan di suatu rute. Sistem ini pada dasarnya bekerja seperti pegas besar, secara otomatis mengubah jarak antara roda dan gerbong saat kereta berjalan di atas tanah yang tidak rata untuk membuat perjalanan terasa lebih mulus.

Sistem suspensi aktif sekarang sedang dikembangkan dengan memperkenalkan sensor, aktuator dan pengontrol baru untuk mengubah jarak antara roda dan kereta secara lebih tepat. Sehingga menawarkan kenyamanan berkendara yang lebih baik dan memungkinkan kereta melewati tikungan melingkar dengan kecepatan dan stabilitas yang lebih baik dan dapat dikombinasikan dengan sistem untuk secara aktif memiringkan kereta saat membelok di tikungan, menawarkan peningkatan manfaat.

3. Mengemudi secara aktif
Pada rangkaian konvensional, kedua roda saling bertautan dan dihubungkan dengan poros tetap, mencegah rotasi relatif di antara keduanya. Saat kereta memasuki tikungan atau rute divergen di persimpangan, kereta harus melambat untuk memastikan roda diarahkan ke trek untuk mencegah getaran roda yang tidak diinginkan. Peneliti perkeretaapian sekarang mengembangkan roda yang berputar secara independen untuk memasukkan mekanisme penggerak terpisah yang dapat membantu mengarahkan rangkaian roda pada rute yang melengkung.

4. Pantograf aktif
Kereta listrik berkecepatan tinggi perlu menjaga kontak yang baik dengan kabel listrik melalui pantograf yang ada di atas kendaraan. Di jalur utama Inggris, ketinggian pantograf biasanya bervariasi sekitar dua meter untuk mengamankan sambungan di berbagai area seperti di terowongan, penyeberangan datar dan jembatan.

Para peneliti mulai mengembangkan pantograf aktif yang tingginya dan getaran yang diinduksi terlibat dalam transfer daya yang dikendalikan oleh aktuator. Pantograf aktif ini dapat meningkatkan gaya kontak dan menghilangkan masalah kehilangan kontak karena perubahan cepat pada ketinggian saluran udara dan gangguan lingkungan lainnya (seperti angin).

5. Kopling virtual
Jumlah kereta yang dapat berjalan pada suatu rute sebagian bergantung pada sistem persinyalan. Kebanyakan perkeretaapian menggunakan sistem blok tetap, yang membagi rel menjadi beberapa bagian, yang mana hanya satu kereta dalam satu waktu yang dapat berada di setiap bagian sehingga harus ada jarak yang signifikan antar kereta.

Tetapi beberapa perkeretaapian sekarang mulai menggunakan sistem persinyalan blok bergerak, dengan menentukan jarak yang diperlukan antar kereta berdasarkan jarak yang dibutuhkan untuk berhenti dalam keadaan darurat. Namun celah ini dapat dikurangi lebih jauh jika didasarkan pada informasi waktu nyata tentang apa yang dilakukan kereta di depan dan di mana kereta akan berhenti jika menginjak rem.

Baca juga: Inilah Sepuluh Kereta Cepat di Dunia

Ini dikenal sebagai “penggandengan virtual” dan melibatkan dua kereta api yang mengkomunikasikan informasi tentang perubahan kecepatan dan aktivitas pengereman sehingga mereka dapat mengurangi atau meningkatkan jarak di antara mereka seminimal mungkin. Dengan jarak yang lebih pendek di antara mereka, lebih banyak kereta dapat berjalan dengan aman pada suatu rute, meningkatkan kapasitas jaringan secara keseluruhan.

Pandemi Covid-19 Bikin Pelajaran Berharga Bagi Bandara dalam Ketahanan Operasional dan Finansial

Tahun 2020 menjadi sangat sulit untuk dunia penerbangan dan pariwisata, pasalnya Covid-19 memiliki efek yang menghancurkan bisnis perjalanan udara. Yang kemudian membuat bandara dan maskapai penerbangan mendapat beberapa pelajaran berharga untuk mempersiapkan diri kedepannya jika ada hal tak terduga seperti ini kembali terjadi.

Baca juga: Pandemi Tak Kunjung Berakhir, Bandara Changi Mulai Hadapi Masa Sulit

Selain itu juga mengajarkan untuk beradaptasi dengan cepat dan fleksibel terhadap perubahan yang tiba-tiba dan tidak dapat diubah. Keduanya ini dapat diringkas dalam satu konsep yakni ketahanan. Dirangkum KabarPenumpang.com dari passengerterminaltoday.com (4/11/2020), sejak awal, perjalanan udara telah menjadi industri yang tidak stabil.

Di mana pada awal dekade penerbangan sipil ketika teknologi dan model bisnis maskapai masih bermula di mana kedelakaan pesawat dan kebangkrutan menjadi hal biasa. Kemudian pada abad ke-20, industri ini semakin matang yang mana menghadapi banyak tantangan atas ulah manusia seperti terorisme dan deregulasi, yang keduanya secara mendasar mengubah cara kami merancang dan mengoperasikan bandara.

Sebaliknya, sejak 11 September 2001, sebagian besar gangguan berasal dari alam, kemudian letusan gunung berapi pada tahun 2010 menutup wilayah udara Eropa selama berminggu-minggu. Peristiwa cuaca ekstrem yang terkait dengan perubahan iklim yang semakin sering terjadi dan semakin merusak berpotensi melumpuhkan bandara dengan sedikit peringatan dini.

Krisis kesehatan masyarakat, seperti wabah SARS tahun 2003, dapat sangat merugikan seluruh jaringan transportasi global. Melihat ke belakang, SARS ternyata merupakan pratinjau diam-diam dari epidemi, ekonomi dan tantangan operasional yang saling terkait yang dihadapi bandara saat ini.

Tetapi pada pandemi Covid-19 telah menunjukkan pentingnya ketahanan. Ini juga menyoroti kesenjangan yang dalam antara pemain industri yang dapat beradaptasi dan mereka yang tidak. Bandara yang kurang berhasil menanggapi krisis dengan menyangkal hal itu terjadi, melanjutkan bisnis seperti biasa meski menjadi sangat jelas bahwa itu bukanlah pilihan.

Sebaliknya, bandara yang sukses menyadari bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi, dan mereka perlu beradaptasi dengan cepat untuk bertahan hidup. Sementara virus menyerang seluruh industri saat ini, beberapa bandara bekerja jauh lebih baik daripada yang lain. Itu karena mereka membuat rencana darurat dan mentalitas tempat kerja yang menempatkan ketahanan di depan dan di tengah.

Dalam ketahanan operasional ini mengacu pada kemampuan bandara untuk mempertahankan operasi setelah kejadian tak terduga. Hal tersebut bergantung pada dua jenis fleksibilitas yakni perangkat keras fleksibel. Di mana fleksibilitas yang dibangun ke dalam infrastruktur fisik bandara dan perangkat lunak fleksibel, yaitu kemampuan untuk dengan cepat menyesuaikan prosedur operasional saat terjadi gangguan.

Sebelum virus Corona, banyak bandara tidak memperhitungkan pandemi kesehatan sebagai risiko potensial, atau mereka menganggapnya sangat mustahil. Akibatnya, sebagian besar bandara tidak memiliki rencana permainan operasional ketika Covid melanda. Mereka berjuang dengan persyaratan jarak sosial, yang membatasi kapasitas antrian dan membatasi penjualan dari konsesi pada waktu yang paling buruk.

Beberapa dipersiapkan untuk logistik yang terlibat dalam pemasangan fasilitas pengujian Covid di tempat dan bandara lain beralih ke mode panik, memasang teknologi tanpa sentuh yang sangat mahal tanpa menganalisis bagaimana hal itu akan memengaruhi operasi atau keuntungan finansial mereka.

Itu menjadi ide yang bagus, tapi itu tidak bagus. Sebaliknya, bandara yang berhasil akan menyiapkan rencana darurat yang menekankan fleksibilitas operasional berfokus pada kemungkinan hasil, daripada kemungkinan penyebab, gangguan di masa depan.

Pada ketahanan finansial Covid-19 adalah krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Di mana dengan memakai masker dan mempraktikkan jarak sosial, dapat melindungi diri dari virus. Jauh lebih sulit untuk melindungi diri dari kejatuhan finansial Covid. Pengangguran dan setengah pengangguran meroket tahun ini, serta lebih banyak orang akan kehilangan pekerjaan di bulan-bulan mendatang.

Bandara dan maskapai penerbangan menghadapi pertanyaan sulit dari pemegang saham, regulator, dan pemberi pinjaman. Beberapa secara terbuka skeptis tentang kemampuan jangka panjang industri untuk bertahan hidup. Ketahanan finansial bandara mengacu pada kemampuannya untuk terus menghasilkan pendapatan dalam menghadapi gangguan ekonomi, dan untuk mengumpulkan cadangan uang tunai yang dibutuhkan untuk melihat organisasi melalui siklus yang tidak menguntungkan. T

Sayangnya, pandemi mengungkapkan bahwa banyak bandara tidak memiliki pijakan finansial yang kuat untuk mempertahankan arus kas selama periode ketidakpastian yang berkepanjangan. Bandara yang sangat bergantung pada satu sumber pendapatan misalnya, biaya penumpang dan maskapai yang berasal dari satu maskapai penerbangan bernasib jauh lebih buruk tahun ini dibandingkan dengan bandara yang memiliki portofolio sumber pendapatan yang luas.

Itu karena bandara yang berhasil mencapai keseimbangan antara pendapatan terkait penumpang dan pendapatan non-penumpang. Seperti namanya, sumber pendapatan terkait penumpang seperti biaya fasilitas orang, parkir, sewa mobil, dan ritel perjalanan bergantung pada pertumbuhan pelancong udara. Ketika penumpang menghilang, pendapatan itu juga hilang. Sebaliknya, sumber pendapatan non-penumpang seperti kargo dan real estat kebal terhadap perubahan mendadak dalam jumlah penumpang. Ketika para pelancong menguap, mereka terus menghasilkan pendapatan untuk bandara.

Baca juga: Hindari Tatap Muka, Bandara Incheon Korsel Kerahkan Robot Canggih Pengukur Suhu dengan Sederet Kemampuan

Sehingga bisa dikatakan, ketahanan operasional dan finansial sama-sama penting untuk menjamin kemampuan bandara dalam menghadapi periode penuh tekanan yang tak terduga. Tetapi ketahanan bandara juga bergantung pada pelatihan tenaga kerja yang baik, dan pada kemampuan memelihara hubungan yang harmonis dengan mitra utama di sektor publik dan swasta.

Sebelas Cagar Budaya Akan Dilintasi MRT Jakarta Fase 2

Ketika Jakarta mulai pembangunan fase 2 Mass Rapid Transit atau MRT dari Bundaran Hotel Indonesia menuju ke Kota, banyak sekali melintasi kawasan cagar budaya. Nah ada berapa banyak sebenarnya cagar budaya yang dilintasi dan di mana saja letaknya?

Baca juga: Daerah Cagar Budaya di Sepanjang Jalur Fase 2, Jadi Tantangan Tersendiri Bagi MRT Jakarta

Saat ini yang baru di publikasi adalah Tugu Jam Thamrin dan Kawasan Monumen Nasional atau Monas. Ternyata selain dua itu ada lagi yang mulai dipublikasi oleh PT MRT Jakarta. Hal ini dikatakan Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim.

Silvia mengatakan bahwa MRT fase 2 akan melewati sebelas bangunan cagar budaya sehingga dalam pembangunan ini sangat hati-hati agar tetap menjaga kelestarian cagar budaya.

“Kesebelas cagar budaya tersebut adalah Tugu Jam Thamrin, Air Mancur Thamrin, Bank Indonesia, kawasan Monumen Nasional dan Monas, Museum Nasional, Istana Presiden RI, Menara BTN, Gedung Arsip Nasional, Museum Bank Mandiri, Gedung Candra Naya, serta Stasiun Jakarta Kota,” sebut Silvia yang dikutip KabarPenumpang.com dari beritasatu.com (5/11/2020).

Dia menjelaskan, saat ini pihaknya sudah melakukan investigasi terhadap cagar budaya yang dilewati konstruksi MRT Jakarta fase 2. Mereka juga melakukan konsultasi dengan Tim Ahli Cagar Budaya dan Dinas Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI.

Selain itu MRT Jakarta juga membentuk tim terpadu untuk investigasi cagar budaya tersebut yang terdiri dari kontraktor, PT MRT Jakarta, Pemprov DKI Jakarta, pakar serta ahli cagar budaya. Silvia mengatakan, tim tersebut akan memberikan saran, masukan, analisis, investigasi, rekomendasi dan langkah selanjutnya jika pembangunan konstruksi MRT fase 2 ditemukan adanya cagar budaya sehingga tetap menjaga kelestarian cagar budaya.

“Proses pelestarian cagar budaya dalam pembangunan MRT fase 2 melalui beberapa tahapan yakni ekskavasi oleh kontraktor pelaksana MRT, ditemukan obyek yang diduga cagar budaya, dilakukan analisis oleh Tim Pengawas Arkeolog dengan melakukan identifikasi, klasifikasi, dan penilaian, rekomendasi penentu oleh Tim Ahli Cagar Budaya Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, melakukan modifikasi atau pelestarian dan penyimpanan cagar budaya serta melanjutkan konstruksi,” ungkapnya.

Dia memberikan contoh seperti temuan arkeologi Monas, antara lain struktur batu bata di Monas, fragmen keramik, dan fragmen piring. Itu akan dianalisis Tim Pengawas Arkeolog, lalu ada rekomendasi dari Tim Ahli Cagar Budaya untuk dilestarikan sehingga konstruksi MRT dilanjutkan.

Baca juga: Gagal Beberapa Kali Tender, Proyek MRT Jakarta Fase 2 Digarap Siapa?

Pembangunan MRT Jakarta Fase 2 ini terdiri dari fase 2A dan fase 2B. Fase 2A memiliki panjang lintasan kurang lebih 5,8 km sepanjang koridor Bundaran HI hingga Kota dan melewati tujuh stasiun, yakni Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Tipe konstruksi fase 2A adalah bawah tanah.

Sementara fase 2B memiliki panjang lintasan enam kilometer sepanjang koridor Kota hingga Ancol dan melewati dua stasiun, yakni Mangga Dua dan Ancol serta satu depo yang mana tipe konstruksinya adalah layang.

Etihad Kirim A380 ke ‘Kuburan’ Pesawat di Perancis

Setelah sejak Mei lalu menimbang-nimbang, Etihad Airways akhirnya mengirim Airbus A380 pertama ke ‘kuburan’ pesawat di Tarbes, Perancis. Pesawat itu disebut bakal digrounded dalam waktu lama, sebagai akibat dari pandemi Covid-19.

Baca juga: Transformasi Bisnis, Etihad Airways Pertimbangkan Pensiunkan A380 dan A350 Secara Permanen

Selain itu, pengiriman A380 Etihad ke kuburan pesawat Eropa itu juga didasari oleh transformasi bisnis maskapai. Transformasi bisnis yang dimaksud, Etihad berencana untuk mempensiunkan pesawat komersial terbesar di dunia itu secara permanen. Saat ini, Etihad diketahui mengoperasikan 10 A380.

Dilansir Simple Flying, pesawat yang dikirim ke Perancis tersebut adalah pesawat A380 pertama yang dikirim ke Etihad. Pesawat dengan nomor registrasi A6-APA itu terpantau di FlightRadar24 lepas landas dari Abu Dhabi, Uni Emirate Arab, pada 10.46 dan tiba pada pukul 14.30 atau sekitar enam jam 44 menit, melahap jarak sekitar 5.362 km.

Bila disandingkan dengan rencana besar perusahaan, ditambah adanya pandemi virus Corona, rasanya, tinggal menunggu waktu untuk melihat Airbus A380 Etihad lainnya yang dikirim ke kuburan pesawat di Perancis.

Terlebih, dalam sebuah podcast lansiran bulan lalu, CEO group Etihad, Tony Douglas, mengatakan bahwa pihaknya tak sabar menanti momen untuk mendepak A380 dari barisan armada mereka.

“Kami sangat sedih melihat 380 kami digrounded. Pertanyaannya, apakah mereka akan terbang lagi, terus terang saja, menurut saya sudah tidak ada peluang lagi. Saya pikir, A380 sangat tidak efisien dengan empat mesinnya, dan pesawat lain dapat melakukan pekerjaan itu jauh lebih efisien, jauh lebih ramah lingkungan dan menguntungkan,” jelasnya.

Keputusan membuang A380 dari barisan armada Etihad sudah pasti menimbulkan pro kontra bagi pelanggan setia. Sebab, Etihad Airways selama ini banyak diburu penumpang untuk merasakan sensasi terbang di First Class Apartment atau The Residence Etihad yang khusus tersedia di pesawat A380.

Bila kelas tertinggi tersebut dihilangkan, kemungkinan kecil mereka akan beralih ke first class di pesawat lain. Sebaliknya, menurut sebagian pengamat, besar kemungkinan mereka akan beralih ke layanan dan pesawat serupa milik maskapai lain.

Baca juga: Mengapa Airbus A380 Justru Tak Diminati Saat Industri Penerbangan Tumbuh Cepat? Ini Jawabannya

Akan tetapi, pendapat yang menyebut bahwa pelanggan setia A380 Etihad akan beralih ke A380 maskapai lain mungkin harus dikaji ulang. Sebab, bukan Etihad saja yang bakal membuang perlahan A380. Emirates, misalnya, saingan terberat Etihad dari Timur Tengah untuk menjadi yang terbaik di dunia, dikabarkan sejak pekan lalu mulai mengirim armada A380 mereka ke kuburan pesawat di Tarbes. Begitu pula dengan maskapai nasional Jerman, Lufthansa.

Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya ketangguhan pesawat-pesawat twinjet untuk menyamai kemampuan A380 dengan efisiensi berlebih, pelan tapi pasti, maskapai lain yang mengoperasikan A380 besar kemungkinan juga akan menyisihkan pesawat itu dari barisan armada mereka.

Jelang Antar Habib Rizieq Shihab Pulang ke Indonesia, Saudia Digugat Rp6,5 Triliun

Saudi Arabian Airlines (Saudia) belum lama ini digugat oleh lessor, Alif Segregated Portfolio Company, sebesar US$460 juta atau sekitar Rp6,5 triliun (kurs 14.261). Gugatan itu didasari oleh tudingan bahwa Saudia telah melanggar perjanjian sewa atas 50 pesawat Airbus miliknya.

Baca juga: Lion Air Digugat 9 Leasing Pesawat Rp189 Miliar, Pengamat: Tak Ada Iktikad Baik Bayar Utang

Selain dituduh telah melanggar perjanjian sewa, gugatan yang diajukan ke Pengadilan Tinggi London juga didasari oleh berbagai tuduhan lainnya, seperti melanggar pembayaran dan perjanjian maintenance, serta berbagai biaya lainnya.

Gugatan atas 50 pesawat Airbus itu bermula saat lessor Alif Segregated Portfolio Company sepakat mengucurkan dana sebesar US$8,2 miliar atau sekitar Rp116 triliun untuk membeli berbagai pesawat, dengan rincian 30 Airbus A320neos dan 20 Airbus A330-300 kepada Airbus. Pesawat-pesawat yang dibeli melalui entitas bisnis lain, Alif International Airfinance Corporation (IAFC) tersebut kemudian disewakan ke Saudia.

Berdasarkan dokumen perjanjian sewa yang dimiliki IAFC, Alif Segregated Portfolio Company, sebagai induk IAFC mengklaim bahwa maskapai yang belakangan banyak disebut-sebut di Indonesia lantaran akan menerbangkan pesawat yang ditumpangi Habib Rizieq Shihab (HRS) ini, telah gagal membayar sewa dasar pesawat setelah beberapa kali berusaha untuk menunda kewajiban pembayaran.

Tak hanya itu, Alif juga mengklaim bahwa maskapai nasional dari Arab Saudi itu juga terlibat dalam pergantian mesin secara ilegal, tanpa sepengetahuan Alif sebagai lessor atau pemilik pesawat.

“Kami saat ini sedang berdiskusi dengan lessor untuk menyelesaikan perbedaan kontrak, dan kami percaya bahwa akal sehat pada akhirnya akan menang,” kata juru bicara Saudia kepada Reuters, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.

Hanya saja, sekalipun gugatan tersebut telah diajukan, pihak lessor mengaku proses hukum belum berjalan. Meski demikian, seharusnya, saat gugatan sudah dilayangkan, lessor sudah berhak untuk melarang maskapai untuk menerbangkan pesawat atau notice of default and grounding. Kasus ini agaknya mirip seperti gugatan Goshawak Aviation Ltd ke Lion Air.

September akhir lalu, maskapai dengan market share terbesar di Indonesia ini juga digugat leasing pesawat, Goshawak Aviation Ltd di Pengadilan London. Gugatan dimaksudkan untuk menagih biaya sewa tujuh unit pesawat Boeing 737 senilai €10 juta atau setara Rp189 miliar (kurs Rp17.270) yang dilanggar oleh Lion Air.

Baca juga: Saudia vs Etihad, Siapa Juara di Kelas Ekonomi?

Perjanjian sewa tujuh pesawat Boeing 737 dilakukan secara terpisah dalam rentang tahun 2015 hingga 2020. Saat perjanjian, Lion Air membayar deposit setara 5,5 juta euro.

Goshwaks dan delapan perusahaan terafiliasi mengaku Lion Air memiliki tunggakan pembayaran berkisar USD1,76 juta – 2,5 juta euro per perusahaan. Para penggugat berharap bisa memenangkan gugatan dan memperoleh kompensasi akibat kontrak yang dilanggar oleh Lion Air sekitar 10 juta euro.

Kereta Api Ekspress Gunung Jati “Jakarta-Cirebon” Hanya Bertahan 20 Tahun

Kota Cirebon pada 1 Februari 1973 mencatatkan hari yang bersejarah, di mana peresmian perjalanan pertama kereta api di kota tersebut dengan keberangkatan dari Jakarta. Pada perjalanan pertama tersebut, Waklikota Cirebon, Letkol Tatang Suwardi menyambut dengan gembira bersama masyarakat.

Baca juga: Stasiun Cirebon, Bernilai Strategis dan Menyandang Bangunan Cagar Budaya

Bahkan kehadiran perjalanan kereta api Cirebon–Jakarta menjadi hadiah tahun baru dan HUT Kota Cirebon ke 602. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, kereta ini bernama Kereta Ekspress Gunung Jati. Di mana untuk perjalan Cirebon–Jakarta menghabiskan waktu dua jam 30 menit dengan kecepatan maksimal hingga seratus kilometer per jam.

Kecepatan maksimal tersebut bisa ditempuh seiring dengan peningkatan kualitas lintas Cirebon–Cikampek. Kereta Ekspress Gunung Jati menggunakan CW atau kereta kelas 3 dengan rem Westinghouse berlivery putih terang dengan lining biru di bagian bawah jendela.

Namun kemudian pada 29 November 1989 Cirebon Ekspres pertama kali beroperasi dan berjalan beriringan dengan KA Ekspress Gunung Jati. Sayangnya karena memiliki relasi yang sama, maka tahun 1993 KA Ekspress Gunung Jati berhenti beroperasi. KA Cirebon Ekspres melayani kelas bisnis dan beroperasi menggunakan aramada KRD seri MCW 302 (KD2) hingga 2019 kemarin.

Setelah beberapa tahun beroperasi, rangkaian kereta tersebut diganti dengan rangkaian kereta kelas bisnis serta ditarik lokomotif karena sering mengalami gangguan. Kemudian, dilakukan penambahan layanan kelas sehingga ia melayani kelas eksekutif.

Pada 2005, PT KAI lalu menambah layanan baru sebagai turunan dari kereta api Cirebon Ekspres, yaitu Cirebon Ekspres Utama yakni kereta api dengan layanan kelas eksekutif satwa yang hanya bertahan dua tahun karena layanan kereta api tersebut digantikan oleh kereta api Argo Jati sejak 12 April 2007.

Sejak 25 Juli 2007, lintas pelayanan pada salah satu perjalanan kereta api Cirebon Ekspres diperpanjang hingga Tegal. Layanan kereta api ini pada kemudian hari diberi nama Tegal Bahari serta jumlah perjalanan ditambah menjadi dua kali dalam sehari mulai tahun 2009.

Baca juga: KA Kaligung – Dulu Gunakan Rangkaian KRD, Kini Gunakan Kelas Ekonomi New Image

Mulai 18 Oktober 2016, kereta api Cirebon Ekspres melayani kelas ekonomi plus dan menggunakan rangkaian kereta buatan PT INKA keluaran 2016—dengan mengubah layanan kelas bisnis.

Jasa Kargo Jadi Kunci Maskapai Lanjutkan Penerbangan Penumpang

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) kemarin merilis statistik lalu lintas udara sepanjang bulan September. Hasilnya, sudah pasti, angkutan kargo jadi primadona sekalipun masih tak lebih besar dibanding bulan yang sama di tahun lalu.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Namun, hal itu masih jauh lebih baik ketimbang statistik penerbangan penumpang. Karenanya, penerbangan kargo dinilai menjadi jembatan penghubung maskapai untuk bisa kembali meraup untung dari penerbangan penumpang pasca pandemi virus Corona berakhir. Selama pandem masih mengintai dan penerbangan penumpang masih anjlok, kargo menjadi satu-satunya andalan untuk bisa terus menyambung asa.

Dilansir Simple Flying, IATA merilis bahwa lalu lintas kargo September tahun ini masih berkisar 8 persen lebih sedikit dibanding 2019. Sebagaimana prediksi banyak pihak, angka tersebut jauh lebih baik dibanding penerbangan penumpang yang mencatat penurunan 73 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sejak Covid-19 mewabah pada akhir tahun lalu dan mulai berdampak buruk bagi industri penerbangan pada Maret tahun ini, sejumlah maskapai penerbangan sudah mulai menjajaki penerbangan khusus kargo. Bahkan, saking tingginya permintaan, kabin utama yang kosong ditinggal penumpang pun juga dimanfaatkan operator guna memaksimalkan muatan kargo di setiap penerbangan. Tak ayal, penerbangan kargo persentase penurunannya relatif stabil sejak Maret lalu.

“Pesawat kargo sangat sibuk. Kapasitas kargo naik 20 persen, rata-rata jam terbang hampir 11 jam, yang luar biasa. Meskipun volume lalu lintas turun hanya 8 persen, jumlah kapasitas yang tersedia masih turun 25 persen. Jelas load factor sangat tinggi mencapai 57 persen persentase dibanding tahun lalu,” ujar kepala ekonom IATA, Brian Pearce.

Dengan persentase yang lebih besar, tentu ini menjadi modal berharga maskapai untuk tetap terus menerbangkan pesawat sekalipun masih ditinggal penumpang dalam waktu lama. Paling tidak sampai tahun depan. Lagi pula, terlepas dari penerbangan kargo atau penumpang, pergerakan pesawat secara keseluruhan sudah mulai kembali menggeliat.

Bulan Juli lalu, misalnya, FlightrRadar24 mencatat ada sekitar 110.361 penerbangan di tanggal 20 Mei. Capaian tersebut merupakan pertama kalinya sejak 22 Maret lalu dimana penerbangan per hari mencapai lebih dari 100 ribu flight. Meski demikian, tetap saja, persentasenya masih 48 persen di bawah persentase penerbangan di tanggal yang sama tahun lalu.

Baca juga: Kargo di Kabin Penumpang Bikin Pramugari Beralih Fungsi Jadi ‘Petugas’ Pemadam Kebakaran

Tanggal 30 Juli tahun lalu, ada sekitar 18,269 pesawat yang beredar di udara. Masih 33 persen di atas jumlah peredaran pesawat tahun ini, yang hanya mencapai 12,086 pergerakan di tanggal 28 Juli lalu.

“Lalu lintas komersial mulai kembali perlahan. Kita berbicara tentang beberapa poin persentase di sana-sini. Tapi pertumbuhan sebenarnya adalah lalu lintas non-komersial di mana orang mengambil keuntungan dari kesempatan untuk kembali bepergian. Tapi mereka tidak bisa pergi kemana-mana,” kata Ian Petchenik, Direktur Komunikasi FlightRadar24.com.

Flight To Nowhere Ala Thai Airways, Terbang Sambil Ziarah ke 99 Tempat Suci Umat Buddha

Thai Airways tak henti-hentinya berinovasi. Setelah membuka bisnis kuliner, bisnis flight simulator, dan pelatihan bagi para calon pramugari, kini maskapai penerbangan nasional Thailand itu menawarkan penerbangan keliling negeri sambil ziarah bagi umat Buddha. Selain untuk mewadahi warga Thailand berziarah, langkah tersebut diambil juga untuk mendongkrak ekonomi melalui pergerakan wisatawan lokal.

Baca juga: Dear ‘FA Wannabe,’ Thai Airways Bantu Wujudkan Mimpi Jadi Pramugari dengan Mahar Rp1,3 Jutaan

Diketahui, terbang sambil berziarah ala Thai Airways nantinya akan menghampiri ke sekitar 99 tempat suci di 31 dari 76 provinsi di Negeri Gajah Putih Thailand. Di antara provinsi-provinsi yang akan dikunjungi ialah Chon Buri, Rayong, Surat Thani, Prachuap Khiri Khan, Nakhon Pathom, Suphan Buri, Ayutthaya, Phitsanulok, Sukhothai, Chaiyaphum, dan Nakhon Ratchasima.

“Penumpang akan menerima energi positif dari chanting (mantra-mantra atau bacaan khusus saat berziarah) saat berada di dalam pesawat,” kata Wiwat Piyawiroj, wakil presiden eksekutif di Thai Airways, seperti laporan The Bangkok Post yang dikutip Simple Flying.

Penerbangan sambil berziarah ke tempat-tempat suci umat Buddha terobosan Thai Airways akan dimulai perdana pada 30 November 2020 mendatang. Pendaftaran terakhir akan ditutup lima hari sebelum hari H. Sekalipun tempat-tempat suci yang dikunjungi tergolong banyak, namun, diperkirakan penerbangan sakral tersebut hanya akan menghabiskan waktu sekitar tiga jam, berangkat dan mendarat di tempat yang sama, yakni Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand.

Tarif penerbangan mirip-mirip flight to nowhere ala Thai Airways ini dibuka mulai US$193 atau sekitar Rp2,7 juta (kurs 14.368).

Sebagaimana ritual saat berziarah atau mengunjungi tempat-tempat suci di Thailand pada umumnya, para peserta penerbangan ini akan menerima gift berisi buku-buku mantra dan jimat keberuntungan. Untuk menambah kesakralan, penerbangan tersebut juga akan dihadiri oleh tokoh astrologi Thailand, Katha Chinbanchorn, untuk memimpin pembacaan mantra-mantra setiap kali pesawat tiba atau mendekati tempat-tempat suci.

Dari rencana penerbangan yang sudah dibuat, usai lepas landas, pesawat akan meluncur ke Provinsi Chonburi dan Rayong, di pesisir Teluk Thailand. Pesawat kemudian meluncur ke selatan melewati Teluk Thailand ke Surat Thani, tempat dimana kuil Buddha keramat, Wat Chedi, berada. Dari sana, penerbangan akan bergerak ke utara menuju Sukhothai sebelum akhirnya kembali ke Bangkok.

Di sela-sela dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya, para peserta penerbangan ziarah bisa mencicipi sajian spesial dari Thai Airways. Tak disebutkan dengan jelas sajian yang dimaksud.

Baca juga: Dear Pilot, Usai Bangkrut Thai Airways Jajaki Bisnis Flight Simulator! Segini Harganya

Awal Juni lalu, Thai Airways tengah berjuang menghindari kebangkrutan melalui prosedur ‘anti bangkrut’ di Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand. Sampai saat ini, prosesnya masih terus berjalan dan diperkirakan baru akan mendapat kepastian dari pengadilan pada Desember mendatang.

Sebetulnya, prosedur kebangkrutan lewat pengadilan di Thailand memungkinkan perusahaan terus beroperasi, di bawah pengawasan pengadilan atau orang yang ditugaskan pengadilan. Namun, perusahaan memilih untuk menunda operasi sampai seluruh proses selesai, sekalipun pada akhirnya memutuskan untuk terbang lewat program tersebut.

Pria 23 Tahun Jadi Pilot Boeing 777 Kulit Hitam Termuda di Dunia

Malik Sinegal tercatat sebagai pilot kulit hitam Boeing 777 berlisensi termuda di dunia. Pria keturunan Afrika-Amerika berusia 23 tahun itu bahkan tak tahu dirinya telah menyandang gelar tersebut sampai akhirnya perwakilan dari Boeing menghubunginya dan mengucapkan selamat atas capaiannya itu.

Baca juga: Pekerjakan Pilot Berkulit Hitam Pertama, Inilah Fakta Unik Seputar American Airlines

Selama ini, ia berpikiri bahwa kokpit pesawat twin jet terbesar di dunia itu hanya bisa diisi oleh pilot-pilot kawakan, berusia sekitar 40-50 tahun lebih. Sekalipun Boeing 777 memang menjadi pesawat idamannya sejak kecil, ia tak pernah berpikir bakal menjadi pilot kulit hitam berlisensi Boeing 777 termuda.

“The Triple 7 (Boeing 777) adalah salah satu pesawat yang biasanya tidak disentuh orang sampai mereka berusia sekitar empat puluhan atau lima puluhan atau mereka sudah lama berada di maskapai penerbangan,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari Daily Mail.

Sejak kecil, tepatnya tahun 2004 lalu, pria yang bermukim di Biloxi, Mississippi, Amerika Serikat ini sudah bercita-cita ingin masuk ke dalam kokpit. Tentu saja sebagai pilot, bukan sekedar bertamasya masuk ke dalam kokpit.

Setelah menunggu lama, impian tersebut baru bisa terwujud pada tahun 2018 lalu. Saat itu, ia berhasil menerbangkan Boeing 777 lewat program Delta State University aviation sebagai duta Republic Airlines. Sinegal, yang mengambil jurusan junior commercial aviation di kampus tersebut, selama 16 hari keliling dunia, di antaranya Mesir, Dubai, Australia, dan Jepang.

Ia mengaku mendedikasikan kesempatan tersebut untuk mendiang neneknya yang meninggal sebelum cita-citanya keliling dunia terwujud.

“Saya telah cukup diberkati untuk melihat semua peluang luar biasa yang siap ditawarkan dunia ini kepada kita. Apa yang Anda lakukan hari ini akan membuat Anda berada di jalan yang benar selama sisa hidup Anda,” ungkapnya.

Meskipun saat ini Sinegal hanya menjadi instruktur penerbangan, bukan menjadi pilot komersial Boeing 777, namun, secara umur, ia sebetulnya jauh lebih muda dibanding Anny Divya, pilot wanita termuda yang terbangkan Boeing 777. Pilot wanita di maskapai Air India itu tercatat berusia 30 tahun, terpaut tujuh tahun dari Sinegal.

Baca juga: American Airlines Diskriminasi Orang Kulit Hitam, NAACP Turun Tangan

Prestasi Sinegal tentu amat krusial di tengah kondisi dimana pria kulit hitam di AS selaku minoritas mendapat perlakuan rasis. Belum lama ini slogan ‘Black Lives Matter’ juga menggaung di dunia sebagai bentuk perlawanan atas perilaku rasis terhadap George Floyd atau terhadap warga kulit hitam pada umumnya.

Selain itu, sebaran pilot kulit hitam di AS juga minim. Pada tahun 2019, Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan bahwa hanya tiga persen dari semua pilot maskapai penerbangan komersial AS berkulit hitam.