Kantung Laundry Mudahkan Pengendara Mobil Meletakkan Masker Kotor

Bukan lagi hanya pakaian kotor yang masuk dalam tas laundry, kini masker pun menjadi salah satu yang wajib diganti setiap hari bahkan empat jam sekali untuk masker kain. Sehingga orang-orang biasanya membawa masker ganti dan menempatkan masker sebelumnya di tempat yang sudah di sediakan.

Baca juga: Berselisih Karena Tak Kenakan Masker, Penumpang Kereta Terkena Semprotan Merica

Bagi pengguna mobil pribadi, sepertinya meletakkan satu kantung laundry untuk tempat masker bekas pakai cukup berguna. Apalagi jika mobil tersebut digunakan oleh satu keluarga ketika bepergian dan bisa saja masker bekas pakai diletakkan sembarangan.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman vitals.lifehacker.com (10/11/2020), Beth Skwarecki seorang senior editor kesehatan di Lifehacker mengatakan, meletakkan tas laundry di dalam mobil karena dirinya menemukan masker berserakan di dalam mobil. Bahkan menemukan setumpuk masker yang tak jelas bersih atau kotor.

“Apakah ini bersih atau kotor ???” kata Beth dalam chatnya kepada suami.

“Argh. Kebanyakan dari mereka kotor,” tulisnya kembali.

Dia mengatakan selama delapan bulan merasakan kehidupan di masa pandemi, pikiran untuk memisahkan masker bersih dan kotor di dalam mobil baru terpikir.

“Kami menyimpan yang bersih di salah satu kompartemen dasbor yang tidak memiliki tujuan khusus di dunia pra-pandemi kami, tetapi berfungsi dengan sempurna untuk menampung lusinan berbagai ukuran topeng. Jadi yang kami butuhkan hanyalah tempat untuk yang kotor. Inilah yang saya lakukan,” ujarnya.

Beth mengatakan, dia mengambil tas pakaian dalam dari meja rias dengan salah satu tali jala yang menggunakan ritsleting di atasnya kemudian dijahit dengan karet elastis ke sudut atasnya agar bisa digantung di sandaran kursi kepala penumpang. Bila kurang nyaman di sandaran kepala, bisa menjepitnya di mana pun Anda suka.

Baca juga: Penumpang Tunanrungu Gunakan Masker Bertuliskan “Just Deaf, Not Rude”, Terluka Karena Dibilang Tuli

Adanya kantung laundry ini, memudahkan pengendara mobil pribadi yang akan meletakkan masker kotor mereka sebelum diletakkan di tempat cuci di rumah. Selain itu juga memudahkan penumpang lain yang serumah meletakkan masker bekas mereka agar tak lagi bercecer.

Ngeri! Begini Detik-detik Pengisian Bahan Bakar Udara-ke-Udara Pertama Kali

Pada hari ini, 99 Tahun lalu, bertepatan dengan Sabtu, 12 November 1921, pengisian bahan bakar udara-ke-udara antar pesawat pertama kali dilakukan. Jangan membayangkan pengisian bahan bakar dilakukan secara otomatis, sebab, itu jauh dari kenyataan.

Baca juga: Mengapa Pesawat Buang Bahan Bakar Saat di Udara? Simak Penjelasannya

Di atas ketinggian sekitar 1 ribu kaki atau 300 meter lebih, Wesley May, tanpa pikir panjang berpindah ke pesawat lain bersama lima galon bahan bakar yang diikat di punggungnya dan menuangkan bahan bakar. Atas aksinya tersebut, ia pun dikenal luas saat itu dan sampai saat ini dinobatkan sebagai aksi pengisian bahan bakar udara-ke-udara atau disebut air-to-air refueling (AAR), in-flight refueling, dan tanking untuk pertama kalinya di dunia.

Dilansir popsci.com, meskipun hanya uji coba, pengisian bahan bakar udara-ke-udara dengan cara manual seperti ini tetaplah menjadi bagian dari sejarah. Wesley May mula-mula menumpangi pesawat bersayap ganda atau biplane yang diterbangkan oleh Frank Hawks. Setelah sampai di ketinggian 300 meter lebih, ia beranjak dari kursi kokpit dan mulai berjalan perlahan menuju ujung sayap pesawat.

Di sana, ia menunggu pesawat biplane lain yang diterbangkan pilot Earl Daugherty dan mulai melakukan manuver sederhana untuk memperkecil jarak antar pesawat, seperti gambar di atas. Setelah dirasa cukup, May mulai memanjat dan berpindah pesawat untuk menuang lima galon bahan bakar yang diikat dipunggungnya.

Dianggap tak efektif dan efisien, cara pengisian bahan bakar yang dilakukan Wesley May kemudian digantikan dengan pengisian bahan bakar udara-ke-udara melalui selang. Foto: National Museum of the USAF

Tak disebutkan dengan jelas berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh rangkaian tersebut. Yang pasti, inilah pengisian bahan bakar udara-ke-udara pertama di dunia.

Akan tetapi, dirasa tak efektif, cara manual seperti itu pun coba digantikan dengan cara lain yang dinilai lebih efektif. Pada 27 Juni 1923, US Army Air Service menggunakan dua biplane Airco DH-4B untuk mencoba manuver sederhana guna menuntaskan misi pengisian bahan bakar udara-ke-udara. Usai dirasa pas, biplane bomber Inggris bekas Perang Dunia I itu pun mulai mengeluarkan selang dan memulai pengisian bahan bakar.

Seiring perkembangan teknologi, ide pengisian bahan bakar udara-ke-udara melalui selang kemudian berkembang menjadi apa yang disebut “probe-and-drogue”. Probe and droge dikembangkan oleh Sir Alan Cobham di Inggris pada tahun 1950. Probe dikeluarkan oleh pesawat yang hendak diisi bahan bakar sedangkan drogue, berbentuk semacam mangkuk yang terdapat di ujung selang, dikeluarkan oleh pesawat tanker. Usai bertemu, keduanya saling mengunci untuk mengurangi risiko saat pengisian bahan bakar dimulai.

Saat ini, probe and drogue sangat memudahkan pesawat tanker mentransfer bahan bakar hingga 420 galon per menit. Berbeda ketika Wesley May melakukan pengisian bahan bakar untuk pertama kalinya secara manual, pengisian bahan bakar pesawat modern, khususnya jet atau helikopter tempur, seperti sekarang ini dilakukan di ketinggian sekitar 25 ribu kaki atau sekitar 7 ribu meter lebih pada kecepatan sekitar 555 km per jam.

Akan tetapi, ketinggian tersebut cukup relatif, mengikuti visibilitas dan turbulensi yang mungkin terjadi ketika pengisian dimulai.

Baca juga: Airbus Dorong Penerbangan “Fello’Fly” Guna Capai Efisiensi Bahan Bakar Hingga 15 Persen

Seiring berjalannya waktu, pengisian bahan bakar udara-ke-udara bahkan sudah mulai mengarah ke otomatisasi. April lalu, Airbus, mengumumkan bahwa pihaknya berhasil menyelesaikan operasi pengisian bahan bakar udara-ke-udara otomatis pertama di dunia (automatic air-to-air refueling operation) terhadap jet tempur F-16.

Menariknya, jet tempur Amerika Serikat itu diisi bahan bakar secara otomatis oleh pesawat tanker Airbus tanpa penyesuaian sistem. Artinya, seluruh jet yang ada saat ini bisa menikmati layanan itu tanpa modifikasi tambahan.

Gelontorkan Miliaran Rupiah, Target Taksi Udara Listrik Lilium Mengular di 2025 di Semakin Dekat

Dewan Kota Orlando, negara bagian Florida, Amerika Serikat (AS), belum lama ini disebut menyetujui potongan pajak hingga $831.250 untuk Lilium Aviation. Hal itu merupakan salah satu dari paket perjanjian pembangunan fasilitas pendaratan dan lepas landas taksi udara lilstrik Lilium, atau biasa juga disebut vertiport, seluas 56.000 kaki persegi di Danau Nona, Orlando. Tak hanya itu, proyek ini juga akan menawarkan lapangan pekerjaan baru bagi warga kota dengan tawaran gaji tinggi.

Baca juga: Peneliti University of Michigan: Kendaraan VTOL Listrik Lebih Ramah Lingkungan Ketimbang Mobil Listrik

Vertiport Orlando tersebut berada tepat di selatan Bandara Internasional Orlando di Danau Nona, menjadikannya sebagai pusat transportasi taksi udara listrik Lilium terbesar di AS, layaknya airport untuk lepas landas dan pendaratan pesawat-pesawat komersial.

Kedatangan vertiport taksi udara Lilium belakangan juga dilaporkan menarik datangnya perusahaan-perusahaan lain untuk membangun kantor pusat di dekat Danau Nona. Dengan begitu, proyeksi vertiport di tahun 2025 mendatang, saat taksi udara listrik tersebut direncanakan mendarat untuk pertama kalinya, akan sangat cerah.

Dilansir bizjournals.com, proyek pembangunan pusat transportasi taksi udara Lilium disebut menelan biaya sekitar $25 juta yang ditetapkan untuk membuat 143 pekerjaan baru pada tahun 2025.

https://www.youtube.com/watch?v=lojpe3lUdFk&feature=emb_title

Didukung oleh 36 mesin serba listrik, taksi udara berkapasitas lima kursi ini adalah eVTOL (electric vertical takeoff and landing) yang diklaim enam hingga tujuh kali lebih tenang daripada helikopter saat lepas landas.

Sebelum menjadikan Orlando sebagai pusat transportasi taksi udara, Lilium Aviation sudah lebih dahulu membangun fasilitas serupa di Eropa, tepatnya di Jerman, pada September lalu. Kala itu, mereka mengumumkan kemitraan dengan dua bandara Jerman yang akan berfungsi sebagai hub untuk jaringan transportasi Lilium di regional Eropa.

Lilium Aviation secara resmi meluncurkan taksi udaranya pada tahun 2019, enam tahun setelah mereka awalnya menyusun ide taksi udara. Taksi itu memiliki dua sayap tetap, satu sayap utama dengan empat sayap di bagian belakang. Sementara sayap ‘canard’ di depan memiliki dua sayap. Semua flap bisa bergerak secara independen.

Baca juga: Uber Elevate Gandeng GE Aviation Guna Wujudkan Taksi Udara eVTOL Ridesharing 2023

Perusahaan asal Jerman itu mengatakan bahwa mereka menggunakan mesin jet listrik perintis di setiap flap untuk memungkinkan pesawat berputar dan mengubah arah dorong yang mereka buat. Selain itu, Lilium menggunakan vektor dorong yang biasa digunakan oleh roket luar angkasa dan jet tempur untuk memungkinkan gerakan vertikal dan horizontal pada jet.

Lilium mengungkap, karena pesawat ruang angkasa tidak dapat mengandalkan penutup saat berada di luar angkasa untuk mengarahkan kendaraan ke arah tertentu, solusinya adalah menyesuaikan sudut dorong yang dihasilkan pesawat ruang angkasa.

Didukung Uni Eropa, Pemerintah Jerman Kembali Ciptakan Trans Europe Express

Pemerintah Jerman akan kembali menciptakan sistem kereta api internasional “Trans Europe Express” (TEE), yang pada tahun 1950-an hingga 1970-an merupakan kereta internasional terbaik dan termewah di Eropa Barat. Rencana ini pun mendapat dukungan dari negara-negara Uni Eropa.

Baca juga: Gegara Covid-19, Kereta Jadi Pilihan Favorit Berlibur Ketimbang Pesawat! Ini Alasannya

TEE ini terinspirasi dari gerakan Swedia yang mencari alternatif untuk perjalanan jarak pendek tetapi juga oleh target yang mengikat secara hukum dalam mengurangi emisi karbon yang sekarang diterapkan di seluruh Eropa. Namun TEE2.0 ini agak berbeda dari pendahulunya di tahun 1960-an.

KabarPenumpang.com merangkum dari trn.trains.com (9/11/2020), perbedaannya adalah pertama pada jarak yang akan ditempuh dan jumlah negara yang akan ikut terlibat lebih jauh dari jaringan TEE asli di mana fokus pada Eropa Barat. Kedua daripada menawarkan perjalanan mewah, TEE2.0 baru akan menawarkan layanan kecepatan tinggi untuk sejumlah besar penumpang daripada beberapa orang terpilih di kelas satu.

Sehingga jaringan kereta malam direncanakan bersamaan dengan layanan kecepatan tinggi siang hari. Jaringan baru yang diusulkan dimungkinkan oleh jaringan kereta api modern di Eropa. Miliaran dolar telah diinvestasikan dalam jaringan kereta api Eropa sejak tahun 1980-an dengan jaringan kecepatan tinggi di beberapa negara dan terkadang didanai oleh Uni Eropa dengan jalur berkecepatan tinggi yang menghubungkan negara-negara dan jaringan domestik mereka.

Di wilayah Alpine antara Eropa utara dan selatan, beberapa Terowongan Dasar baru telah dibuka, terutama di Swiss, memotong waktu perjalanan secara signifikan dan lebih banyak lagi yang sedang dibangun di Austria, Prancis, dan Italia. Ini selanjutnya akan mengurangi waktu perjalanan ketika dibuka pada dekade berikutnya antara Jerman dan Denmark, sebuah terowongan bawah laut baru sedang dibangun yang, ketika dibuka pada tahun 2028, akan mengurangi waktu perjalanan antara kota-kota Denmark dan Jerman.

Ini, dikombinasikan dengan jembatan Øresund yang menghubungkan Swedia dan Denmark, digunakan sejak tahun 2000, juga akan memungkinkan layanan langsung ke kota-kota Swedia. Proposal menyarankan rute yang dapat ditetapkan dalam jangka pendek, ditambah rute yang akan membutuhkan infrastruktur baru.

Sebuah perusahaan operasi internasional baru, yang dimiliki bersama oleh perusahaan kereta api milik pemerintah yang berpartisipasi, telah diusulkan untuk mengoperasikan layanan tersebut. Awalnya, setidaknya, mereka akan menggunakan peralatan yang sudah ada seperti TGV Prancis, ICE Jerman, atau kereta berkecepatan tinggi Frecciarossa Italia.

Tidak jelas peran apa, jika ada, bagi operator kereta penumpang milik pribadi yang sekarang aktif di banyak negara Eropa. Rute pertama akan menyatukan layanan yang ada misalnya, menggabungkan layanan Amsterdam-Paris dan Paris-Barcelona untuk menawarkan layanan melalui dari Amsterdam ke Barcelona melalui Prancis. Rute “jangka pendek” lainnya, yang dapat beroperasi dalam dua hingga tiga tahun, sebagian besar dibuat dengan menggabungkan layanan yang ada, adalah Brussels-Berlin- Warsawa; Roma-Zürich-Frankfurt-Amsterdam dan Barcelona-Lyon-Frankfurt-Berlin.

Jangka panjang, jaringan koneksi siang hari TEE2.0 yang diperluas akan dimungkinkan oleh infrastruktur baru untuk dibuka dalam dekade berikutnya, termasuk Stockholm dan Kopenhagen ke Paris serta Munich, ditambah Roma-Berlin dan Paris-Budapest. Waktu perjalanan ujung ke ujung 12-15 jam akan dimungkinkan dengan kereta api.

Namun, karena sebagian besar perjalanan ini dapat dilakukan dalam 2-3 jam penerbangan langsung, nampaknya sebagian besar penumpang hanya melakukan perjalanan sebagian dari setiap rute, karena beberapa kota besar dihubungkan oleh setiap layanan yang diusulkan. Rencana TEE2.0 juga mencakup proposal untuk jaringan kereta malam baru yang akan menawarkan kereta tidur atau sofa ‘berkualitas tinggi’ di beberapa rute panjang seperti Paris-Warsawa, Berlin-Roma, atau Frankfurt-Barcelona dalam jangka pendek (kemungkinan akan tidak sebelum 2025).

Dalam jangka panjang, setelah penyelesaian terowongan Fehmarnbelt antara Denmark dan Jerman pada tahun 2028, layanan Stockholm-Paris atau Amsterdam dan Stockholm-Vienna dapat ditambahkan. Tidak jelas bagaimana layanan tersebut akan didanai, karena banyak rute semalam Eropa jarak jauh telah ditutup karena kurangnya profitabilitas.

Perusahaan swasta telah menawarkan beberapa layanan semalam dengan basis profit. Perusahaan Prancis Transdev, yang beroperasi di Swedia sebagai “Snälltåget,” berencana menawarkan kereta malam Stockholm-ke-Berlin mulai 2021. RDC Deutschland, yang dimiliki oleh Rail Development Corp yang berbasis di AS, beroperasi dari Jerman ke Austria.

Baca juga: Bingung Pilih Kereta atau Pesawat Ketika Berlibur ke Eropa? Simak Ini!

Usulan tersebut disambut positif oleh pejabat transportasi dari negara anggota UE dan beberapa perusahaan kereta api negara. Apakah perjalanan kereta berkecepatan tinggi lebih dari 12 jam benar-benar akan menggantikan penerbangan 2-3 jam masih harus dilihat.

Hari ini, 85 Tahun Lalu, Perwira Angkatan Darat AS Berhasil Pecahkan Rekor Balon Udara Tertinggi

Pada hari ini, 85 tahun lalu, bertepatan dengan 11 November 1935, dua perwira Korps Udara Angkatan Darat Amerika Serikat (AS), A. W. Stevens dan O. A. Anderson berhasil memecahkan rekor ketinggian balon udara. Bersama balon udara Gondola Explorer II, keduanya berhasil mencapai 22.066 km, sedikit lebih tinggi dari rekor sebelumnya pada tahun 30 Januari 1934 yang mencapai ketinggian 21.946 km.

Baca juga: Hari ini, 223 Tahun Lalu, Perancis Jadi Saksi Penggunaan Parasut Pertama di Dunia

Selain memecahkan rekor penerbangan balon udara tertinggi di dunia, pencapaian keduanya juga terasa amat spesial lantaran rekor tersebut mampu bertahan selama 21 tahun, sebelum akhirnya Malcolm D. Ross dan M. L. Lewis, perwira Angkatan Laut AS, melampaui rekor tersebut dengan penerbangan balon udara mencapai ketinggian 23.165 km pada 8 November 1956.

Hal itu merupakan rekor kedua terlama yang bertahan di abad ke-20 setelah rekor penerbangan balon udara tertinggi oleh Nicholas Piantanida pada tahun 2 Februari 1966 yang mencapai ketinggian 37,700 m. Rekor tersebut setidaknya bertahan selama 46 tahun sebelum akhirnya kembali dipatahkan oleh rekor yang dicetak Felix Baumgartner pada tahun 14 Oktober 2012 di ketinggian 38,969 m.

Dilansir Britannica, perjalanan memecahkan rekor balon udara tertinggi oleh kedua perwira tentara AS itu, khususnya Albert William Stevens, telah dimulai sejak 29 Juli 1934. Saat itu, Stevens dan dua perwira Korps Udara Angkatan Darat lainnya, Mayor William Kepner dan Kapten Orvil Arson Anderson, terbang dengan balon udara yang dirancangan khusus bernama Explorer I, di langit Nebraska, AS, untuk memecahkan rekor penerbangan balon udara berawak tertinggi saat itu (21.946 km yang dicetak pada 30 Januari 1934).

Sayangnya, saat mendekati rekor ketinggian itu, selubung balon pecah dan seketika gondola jatuh menghantam daratan. Beruntung, Stevens dan kedua awak balon berhasil melarikan diri dan terjun payung dengan selamat.

https://www.youtube.com/watch?v=XkZWfyoLoFA&feature=emb_title

Penasaran, Stevens memulai misi memecahkan rekor penerbangan balon udara tertinggi pada 11 November 1935. Kala itu Stevens, yang merupakan seorang fotografer udara, bersama dengan Kapten Anderson, berhasil mematahkan rekor sebelumnya setelah berhasil mencapai ketinggian 72.395 kaki (22.066 m) dengan menggunakan balon udara khusus hasil pengembangan dari Gondola Explorer I.

Setelah terbang dari Stratobowl, dekat Rapid City, South Dakota, AS, tempat yang sebetulnya tak terlalu jauh dari lokasi penerbangan Gondala Explorer I, dengan disaksikan oleh 20 ribu pasang mata dan jutaan pasang telinga melalui siaran langsung radio NBC, A. W. Stevens dan O. A. Anderson resmi mematahkan rekor sebelumnya setelah melalui perjalanan panjang selama 8 jam 13 menit dan menempuh jarak 362 km dengan balon udara Gondola Explorer II. Rekor tersebut terus bertahan selama 21 tahun hingga tahun 1956.

Atas dua aksi heroiknya itu, ia pun dianugerahi Distinguished Flying Cross. Setelah melanglangbuana hingga ke Stratosfer, lapisan kedua dari lima lapisan di atmosfer yang menyelimuti bumi, veteran Perang Dunia II ini akhirnya meninggal di usia 63 tahun di Redwood City, California, AS.

Baca juga: Hari Ini, 88 tahun Lalu, Wolfgang von Gronau Keliling Dunia Selama 111 Hari Pakai Pesawat Amfibi

Sejak rekor balon udara tertinggi sekaligus penerbangan balon udara pertama di dunia dicetak oleh Jean-François Pilâtre de Rozier dari Perancis pada 15 Agustus 1783, dengan ketinggian hanya mencapai 24 meter, selama bertahun-tahun, silih berganti, tokoh-tokoh penerbang balon udara lainnya muncul dari berbagai penjuru dunia dan saling mematahkan rekor satu sama lain.

Saat ini, rekor penerbangan balon udara berawak tertinggi di dunia dipegang oleh Alan Eustace, senior vice president Google corporation, pada 24 Oktober 2014, setelah mencapai ketinggian 41,424 meter. Rekor tersebut dicapai dalam misi StratEx yang dijalankan Paragon Space Development Corporation.

Untuk Pertama Kalinya, Virgin Hyperloop One Uji Coba Pod Berpenumpang

Virgin Hyperloop One untuk pertama kalinya melibatkan dua orang penumpang dalam rangka uji coba pod futuristiknya. Sistem transportasi ultra cepat yang ide awalnya berasal dari bos Tesla, Elon Musk, ini disebut telah menempuh jalur uji 500 meter dalam 15 detik dengan kecepatan mencapai 160 km per jam, cukup jauh tertinggal dari target besar perusahaan mencapai 1.000 km per jam.

Baca juga: Virgin Hyperloop One Coba Jajaki Mumbai dan Pune

Dilansir theverge.com, uji coba berlangsung di jalur uji DevLoop, Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat pada Minggu, 8 November 2020, melibatkan dua orang. Dua orang penumpang tersebut tak lain tak bukan adalah Chief Technology Offiecer Virgin Hyperloop, Josh Giegel dan Director of Passenger Experience Virgin Hyperloop, Sara Luchian.

“Perjalanannya mulus dan sama sekali tidak seperti rollercoaster, meskipun akselerasinya lebih cepat daripada dengan trek yang lebih panjang,” kata Luchian.

Kedua orang itu menjadi penumpang kapsul Virgin Hyperloop tanpa mengenakan baju khusus. Hal ini sekaligus membantah kritikan bahwa penumpang Virgin Hyperloop harus mengenakan baju khusus karena kecepatannya yang ekstrem.

Kapsul yang diberi nama Pegasus itu kemudian melaju dengan kecepatan 160 km per jam di sepanjang lintasan, sebelum melambat hingga berhenti. Jalur lintasan uji DevLoop memiliki panjang 500 meter dan diameter 3,3 meter. Lintasan ini terletak sekitar 30 menit dari Las Vegas, di tengah gurun yang suatu hari bisa dilintasi oleh pod hyperloop dalam beberapa menit.

Pod Virgin Hyperloop One. Foto: Virgin Hyperloop One

Perusahaan tersebut mengatakan telah melakukan lebih dari 400 tes di jalur itu, tetapi belum pernah sekalipun pod Virgin Hyperloop One melakukan uji coba penumpang.

“Tidak ada yang melakukan sesuatu yang mendekati apa yang kita bicarakan saat ini,” kata Jay Walder, CEO Virgin Hyperloop.

“Ini adalah skala penuh, hyperloop yang berfungsi tidak hanya akan berjalan di lingkungan vakum, tetapi akan memiliki seseorang di dalamnya. Tidak ada yang mendekati melakukannya,” tambahnya.

Dalam uji cobanya, kapsul Pegasus masih berukuran kecil, namun perusahaan berharap sistem transportasi itu akan mampu membawa 23 penumpang sekaligus dengan ukuran yang besar pula. “Beratnya 2,5 ton dan panjangnya sekitar 15-18 kaki,” kata Giegel.

Virgin Hyperloop bukan satu-satunya perusahaan yang mengembangkan konsep serupa. Namun sejauh ini, belum ada yang perusahaan yang mencoba membawa penumpang sebelumnya.

Konsep yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam pengembangan, dibangun di atas proposal oleh pendiri Tesla, Elon Musk. Beberapa kritikus menggambarkannya sebagai fiksi ilmiah.

Konsep ini didasarkan pada kereta levitasi magnetik (maglev) tercepat di dunia, kemudian dibuat lebih cepat dengan mempercepat di dalam tabung hampa udara. Proposal dari Elon Musk tersebut kemudian dilirik oleh Sir Richard Branson, sang konglomerat pemilik maskapai Virgin Australia dan Virgin Atlantic Airways, hingga berdirilah Virgin Hyperloop One.

Baca juga: Virgin Hyperloop One Bangun Pusat Penelitian di Andalusia

Dalam sebuah wawancara dengan BBC pada tahun 2018, mantan bos Virgin Hyperloop One, Rob Lloyd, mengatakan bahwa kecepatan secara teori akan memungkinkan orang untuk melakukan perjalanan antara bandara Gatwick dan Heathrow, yang terpisah sejauh 45 mil di sisi berlawanan dari London, dalam empat menit.

Virgin Hyperloop yang berbasis di Los Angeles juga mengeksplorasi konsep di negara lain. Seperti koneksi hipotesis 12 menit antara Dubai dan Abu Dhabi, yang memakan waktu lebih dari satu jam dengan transportasi umum.

Trem Baterai yang Diuji Coba PT INKA Rencananya Melaju di Bogor dan Bali

PT Industri Kereta Api (INKA) mulai melakukan uji prototipe Trem Baterai di jalur kereta api umu pada 9-10 November 2020 kemarin. Uji coba ini berjalan pergi dan pulang dari Stasiun Madiun ke Stasiun Babadan. Direktur Utama PT INKA, Budi Noviantoro mengatakan, uji coba dilakukan dengan tujuan untuk menguji performansi Trem Baterai sebelum dilakukan produksi massal.

Baca juga: Trem Hybrid Melintas di Jalur Krakow Polandia

“Sesuai dengan namanya, Trem Baterai ini menggunakan baterai sebagai sumber energi satu-satunya di dalam kereta. Energi baterai tersebut digunakan untuk menggerakkan kereta sekaligus untuk menyalakan AC, kompresor dan lampu penerangan. Karena menggunakan baterai, dalam operasionalnya Tram ini tentu sangat ramah lingkungan dan dapat digunakan di daerah yang tidak terdapat jalur catenary atau listrik aliran atas,“ kata Budi dalam siaran pers.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh PT INKA (Persero) (@pt_inka) pada

Dia menambahkan, satu set prototipe Trem ini terdiri dari dua mobil yang mana satu mobil dengan unik penggerak yang dilengkapi baterai. Sedangkan mobil lainnya merupakan kereta penumpang yang dilengkapi dengan tempat duduk bagi para penumpang serta dilengkapi dengan pegangan tangan bagian atas untuk penumpang berdiri.

Pengisian baterai Trem ini membutuhkan waktu tiga hingga empat jam. Sekali pengisian baterai, Trem mampu menempuh perjalanan hingga 25 km. Humas PT INKA Muhammad Advin menambahkan, Trem ini rencananya akan beroperasi di Bogor dan Bali.

“Yang Bogor, dulu pak Bima dan pak Dedi sudah pernah lihat. Cuma karena pandemi ini, belum ada tindak lanjut lagi. Kalau yang di Bali, ini rencananya akan termasuk dalam MoU INKA dan Perusda Bali Oktober kemarin selain sarana bus listrik,“ kata Advin yang dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (11/11/2020).

Prototipe Trem Baterai ini berbobot sembilan tol dan akan melaju di kecepatan 30 km per jam dengan memiliki kapasitas baterai sebesar 30 kWh. Penumpang yang bisa diangkut oleh prototipe Tram Baterai sebanyak 75 orang. Namun, nantinya jika sudah diproduksi masal, INKA akan mengembangkan produk series Trem Baterai dengan meningkatkan spesifikasi sesuai kebutuhan operasionalnya.

Baca juga: Seperti Trem Menghantam Trotoar, Ini Dia Pintu Masuk Stasiun Kereta Bawah Tanah Bockenheimer Warte

Di mana Trem Baterai akan memiliki berat 12 ton dan mampu melaju dengan kecepatan 40 km per jam. Waktu pengisian baterai selama empat jam dan akan bisa menempuh jarak 100 km serta kapasitas penumpang yang bisa diangkut sebanyak 200 orang.

Hari Ini, 37 Tahun Lalu, CN-235 Pesawat Turboprop Kebanggaan Indonesia Terbang Perdana

Pada hari ini, 37 tahun lalu, bertepatan dengan Jumat, 11 November 1983, pesawat penumpang sipil angkut turboprop kelas menengah twin engine hasil kolaborasi Indonesia IPTN (sekarang PTDI) dan CASA (sekarang Airbus Defense & Space), CN-235 terbang perdana (first flight).

Baca juga: N-250, Pesawat Komuter Fly By Wire “Asli” Indonesia yang Kandas Tersapu Krisis Moneter

Pesawat multiguna ini memiliki kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL), ramp door untuk memudahkan keluar-masuk barang, dan diklaim punya karakteristik biaya perawatan rendah.

Dikutip dari laman resmi PT Drigantara Indonesia (PT DI), pada 17 Oktober 1979, IPTN dan CASA (sekarang Airbus Defense & Space) mendirikan perusahaan baru, Aircraft Technology (Airtech) untuk mendesain CN-235.

Setelah menunggu lama, prototipe pertama “Elena” yang diproduksi oleh CASA melakukan penerbangan perdananya pada 11 November 1983 dan tak lama kemudian prototipe kedua “Tetuko” yang diproduksi PTDI terbang untuk pertama kalinya pada Desember 1983. Tiga tahun berselang, produksi serial dimulai pada 1986 untuk versi 10 dan 100.

Dalam prosesnya, masing-masing perusahaan membuat versinya sendiri. PT DI mengembangkan versi yang disempurnakan, seperti versi 110 dan 220, sedangkan Airbus Defense & Space dengan versi 200 dan 300-nya. Hingga saat ini, lebih dari 300 CN-235 telah diproduksi dalam banyak versi dengan dua mesin General Electric CT7-9C terbaru (masing-masing memiliki 1.750 SHP).

Khusus untuk versi -200, CN235 diproduksi dalam tiga varian; sipil, militer, dan special mission. CN-235-220 dapat mengangkut beban maksimal hingga 4.700 kg ataupun dengan jumlah penumpang sebanyak 36 orang.

Pesawat Angkut Militer CN-235-220 yang diproduksi PTDI adalah versi sipil yang telah mengalami berbagai peningkatan dalam desain, aplikasi teknologi, dan metode manufaktur untuk memenuhi standar operasional militer dengan berbagai medan menengah hingga berat.

Adapun CN-235-220 special mission merupakan pesawat yang diklaim tangguh untuk melakukan berbagai misi khusus seperti Search and Rescue (SAR), pengawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), pencegahan dan pengontrolan pencemaran laut, pengawasan dan keamanan laut, Anti-Surface Warfare (ASuW), dan Anti-Submarine Warfare (ASW).

Dalam kolaborasi untuk tujuan ekspor, PTDI memproduksi outer wings, horizontal stabilizers, vertical fins and doors untuk Airbus Defense & Space; sementara Airbus Defense & Space menghasilkan disassembled noses, disassembled cockpit, and center wings untuk PTDI.

Baca juga: PK-KKH, Sang Pendahulu N250 yang Lebih Awal Pamer Pesawat Indonesia di Eropa

Secara umum, spesifikasi CN-235 memuat dua orang awak dan 45 penumpang. Pesawat dengan panjang 21.40 m, bentang sayap 25.81 m, tinggi 8.18 m, berat kosong 9,800 kg, dan maksimum takeoff 15,100 ini ditenagai oleh dua mesin General Electric CT79C turboprops 1.850 tenaga kuda.

Pesawat dengan kecepatan maksimum 509 km per jam dengan jangakuan terbang sejauh 796 km ini tercatat sudah digunakan di 24 negara, termasuk Indonesia, di antaranya Korea Selatan, Amerika Serikat, Perancis, Turki, Thailand, Uni Emirat Arab, Irlandia, dan Malaysia.

Bantu Penyandang Disabilitas ‘Tersembunyi,’ Bandara Orlando Kerja Sama dengan Hidden Disabilities Sunflower

Bandara Internasional Orlando di Florida, Amerika Serikat, pada awal November 2020 mulai bermitra dengan Hidden Disabilities Sunflower Shceme Limited. Kerja sama ini untuk membantu pelancong yang memiliki disabilitas tersembunyi.

Baca juga: IATA Tetapkan Standar Layanan Bagi Penyandang Disabilitas di Bandara

Nantinya program Sunflower akan memberi layanan bantuan ekstra bagi mereka yang menghadapi masalah seperti penglihatan kurang, gangguan pendengaran, autisme, gangguan kecemasan, penyakit Crohn, epilepsi, fibromyalgia, lupus, rheumatoid arthritis, Sindrom Asperger, pos Gangguan stres trauma, ketidakmampuan belajar atau masalah mobilitas. KabarPenumpang.com melansir ftnnews.com (1/11/2020), Brian Engle Direktur Pengalaman Pelanggan untuk Greater Orlando Aviation Authority, mengatakan, tidak semua penyandang disabilitas terlihat.

“Kehadiran program ini memungkinkan staf kami untuk secara halus mengidentifikasi mereka yang membutuhkan tingkat layanan pelanggan ekstra dan dan memastikan bahwa setiap orang, apa pun keadaan mereka, memiliki Orlando Experience yang baik,“ kata Brian.

Program ini awalnya dimulai di Bandar Gatwick London, Inggris pada 2016 yang menggunakan lanyard hijau warna-warni untuk identifikasi diri sukarela. Di mana program ini dihiasi bunga matahari yang dengan cepat diadopsi oleh supermarket, museum, stasiun kereta api dan tempat olahraga Inggris Raya.

“Kami sangat senang dapat bermitra dengan Bandara Internasional Orlando dalam inisiatif yang berkembang ini untuk menawarkan produk Bunga Matahari Disabilitas Tersembunyi di Amerika Serikat Tenggara,” kata Billy Caan, CEO The Sourcing Group.

Billy menambahkan, program ini adalah tujuan yang sangat berharga, dan menciptakan pengalaman bandara yang lebih nyaman dan positif bagi penyandang disabilitas yang mungkin tidak terlihat. Dia mengatakan, tali pengikat tersedia di bilik informasi tingkat ketiga di terminal utama sesaat sebelum memasuki keamanan.

Tali pengikat ini gratis dan hanya untuk pelancong. Meskipun mereka memberikan sinyal rahasia kepada karyawan, mengenakan lanyard tidak menjamin pelacakan cepat melalui keamanan atau perlakuan TSA preferensial.

Baca juga: Bepergian Sendiri, Penyandang Disabilitas ini Dilarang Mengudara oleh Hong Kong Airlines!

Penumpang didorong untuk mengatur bantuan khusus yang diperlukan dengan maskapai penerbangan dan TSA Cares mereka. Mengenakan Cacat Tersembunyi Bunga matahari secara diam-diam menunjukkan kepada orang-orang di sekitar pemakainya termasuk staf, kolega, dan profesional kesehatan bahwa mereka memerlukan dukungan tambahan, bantuan, atau waktu lebih lama.

Wizz Air Luncurkan Program Carbon Offsetting, Penumpang Bakal Ganti Rugi Emisi CO2

Wizz Air belum lama ini resmi meluncurkan carbon offsetting program atau penggantian kerugian karbon. Program tersebut memungkinkan penumpang untuk memasukkan detail penerbangan, mendapatkan jejak karbon, dan membayar ganti rugi atas karbon yang dihasilkan dari perjalanan mereka. Dana tersebut kemudian disalurkan ke dua proyek carbon-reducing masyhur di dunia.

Baca juga: Pertama di Dunia, Pramugari Wizz Air Bisa Gantikan Pilot Kemudikan Pesawat

Program carbon offsetting belakangan memang cukup populer di industri penerbangan global efek dari tingginya keinginan maskapai untuk memerangi emisi CO2. Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia.

Lewat program tersebut, penumpang nantinya akan difasilitasi untuk mengeluarkan sejumlah uang pengganti atas emisi CO2 dihasilkan dari perjalanan mereka. Uang tersebut akan disalurkan Wizz Air ke dua lembaga kenamaan dunia dalam memerangi emisi gas buang, yakni CHOOOSE dan Norwegian Climate Action.

Skema ganti rugi yang ditawarkan Wizz Air sendiri berbeda dari yang sudah diterapkan maskapai lain. Para penumpang nantinya akan diarahkan untuk masuk ke web resmi CHOOOSE dan memasukkan detail perjalanan untuk memahami dampak emisi yang dihasilkan. Setelah itu, mereka bebas memilih biaya ganti rugi atas emisi CO2 yang dihasilkan atau carbon offsetting tadi, dengan varian harga yang cukup beragam.

Perjalanan pulang pergi dari London Luton ke Athena, misalnya, dengan estimasi harga tiket sekitar US$59,4, biaya ganti rugi karbonnya adalah US$8,2. Harga tersebut muncul untuk mengimbangi atau mengganti kerugian atas 784kgs emisi CO2 yang dihasilkan dari dua penerbangan berdurasi 3,5 jam. Meskipun terlihat cukup murah, namun, harga itu setara dengan 14 persen dari harga tiket, jauh lebih tinggi dari biaya offset carbon maskapai kompetitor.

Ryanair, misalnya, hanya mengenakan biaya ganti rugi sebesar $2 per penerbangan. Namun, harga segitu tentu bukan fixed rate dan tetap akan berubah-ubah mengikuti rute dan keinginan penumpang untuk membayar biaya ganti rugi dengan harga terendah atau harga tertinggi.

Sejauh ini, program carbon offsetting Wizz Air belum include tiket. Karenanya, diperkirakan belum banyak penumpang yang akan berpartisipasi. Namun, ke depan opsi untuk mengintegrasikan program tersebut dengan tiket bukan tak mungkin akan diambil untuk efektivitas program.

Baca juga: Bandara di Seluruh Dunia Menuju Bebas Emisi CO2! Berikut Empat Tahapannya

“Kami berusaha keras untuk menjadi maskapai pilihan paling ramah lingkungan karena kami bekerja keras untuk terus mengurangi jejak lingkungan kami. Melalui berbagai inisiatif keberlanjutan, kami bangga telah memiliki salah satu tingkat emisi terendah di industri penerbangan Eropa dan senang bekerja sama dengan CHOOOSE untuk memberikan penggantian kerugian karbon kepada penumpang kami,” kata CCO Wizz Air, Marion Geoffroy, dikutip dari Simple Flying.

Selain carbon offsetting program maskapai berbiaya hemat asal Polandia/Hungaria ini juga mulai menerapkan tindakan kecil berkenaan dengan flaps saat lepas landas maupun mendarat. Sekalipun tindakan tersebut tak terlalu terlihat, namun, langkah itu bisa menghemat 2.000 ton bahan bakar setiap tahun.