Masih Sempurnakan Kelengkapan, Soft Launching KRL di Daop 6 Yogyakarta Diundur

Untuk menunjang kelengkapan Kereta Commuter Indonesia di Yogyakarta, satuan kerja masih melakukan penyelesaian pekerjaan. Direktur Utama PTK KCI Wiwik Widayanti mengatakan, sedangkan untuk sarananya sudah siap beroperasi.

Baca juga: Jelang Elektrifikasi Jalur Kereta Yogyakarta-Solo, PT KCI Kelola Pengoperasian KA Prameks

Wiwik menyebutkan dua train set sudah siap untuk saat ini tengah dalam uji coba di Jakarta dan untuk uji coba di Yogyakarta sendiri, akan terlaksana pada bulan November. Hal ini karena masih ada beberapa pekerjaan yang masih dilakukan seperti tempat untuk perawatan kerta.

“Pembangunan kan terus bertahap ini sehingga di Oktober akhir itu nanti akan ada uji sistem semuanya, harapannya seperti itu. Tapi kami menunggu kepastian dari satuan kerja,” kata Wiwik yang dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com (12 /11/2020).

Namun sayangnya soft launcing kereta rel listrik atau KRL di Yogyakarta yang harusnya berlangsung awal November ini terpaksa mundur. Mundurnya soft launching tersebut karena KCI masih menyempurnakan uji coba terhadap train set serta kelengkapan penunjang lainnya.

Manajer Humas PT KAI Daop 6 Yogyakarta Eko Budiyanto menjelaskan, bahwa KRL adalah proyek milik Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan RI. Di mana operatornya adalah PT KCI. Namun karena lokasinya KRL berada di Yogyakarta, Eko menjelaskan alasan mundurnya soft launching KRL.

“Uji coba ini terus berlangsung, tapi melihat kondisi saat ini perlu penyempurnaan. Sehingga soft launching yang sedianya berlangsung awal bulan November terpaksa mundur,” katanya.

Eko menyebutkan, uji coba sudah berlangsung sejak 4 November yang berjalan dari Prambanan menuju Klaten. Nantinya akan dilanjutkan dari Lempuyangan menuju ke Klaten secara bertahap.

“Intinya uji coba terus berlangsung baik sarana dan prasarananya. Seperti kekurangan apa, buka pintu bagaimana caranya, daya listrik bagaimana, tracknya. Mengingat dalam pengoperasiannya KRL selalu mengutamakan keselamatan dan kenyamanan penumpang. Nanti kalau sudah fix, baru (soft launching),” ujarnya.

Baca juga: Electric Multiple Unit, Inilah Basis Teknologi KRL di Indonesia

Untuk Diketahui, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menugaskan anak usahanya, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengoperasikan kereta api lokal di Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta. Yogyakarta menjadi kota kedua setelah Jakarta dan untuk ujicoba akan berlangsung bulan November.

Mencekam! Begini Detik-detik Penumpang Histeris Saat Pesawat Terbakar Akibat Bird Strike

Belum lama ini, sebuah pesawat Boeing 737 dilaporkan tiba-tiba berguncang hebat saat melakoni penerbangan malam hari. Sejurus kemudian, mesin sebelah kiri pesawat diliputi asap disusul api. Pesawat diduga menabrak kawanan angsa yang tengah bermigrasi atau bird strike. Akibatnya penumpang pun menjadi histeris.

Baca juga: Ngeri! Inilah Video Detik-detik Boeing 767 Atlas Air Terbakar Saat di Udara

Dilansir thesun.co.uk, pesawat dari maskapai SCAT Airlines, dengan nomor penerbangan DV766 ini mula-mula terbang dengan mulus. Namun, saat diperjalanan, pesawat tiba-tiba berguncang dengan amat keras. Awalnya, penumpang masih mencari-cari penyebab guncangan tersebut tanpa diliputi rasa cemas berlebih.

Akan tetapi, dalam sebuah video viral, setelah seorang penumpang melihat ada api di mesin sebelah kiri dan diamini oleh penumpang lainnya, seorang penumpang pun histeris dan menyebut, “Apakah (pesawat) kita terbakar? Apakah (pesawat) kita terbakar? (pesawat) kita terbakar,” katanya. Penumpang lainnya juga tak kalah histeris dengan melantunkan doa-doa seolah pesawat akan berakhir nahas dan merenggut nyawa mereka semua.

Pesawat yang berangkat dari Atyrau, dekat Laut Kaspia, menuju ibu kota Nur-Sultan, Kazakhtan itu pun akhirnya dilaporkan berhasil mendarat darurat dengan selamat beberapa waktu setelah diketahui salah satu mesinnya terbakar.

Setelah mendarat, sebuah video menunjukkan bulu-bulu dari kawanan angsa tersebut masih menempel di mesin pesawat. Dalam video tersebut pula, bilah-bilah mesin pesawat tampak rusak akibat insiden bird strike itu.

Insiden mesin terbakar belum lama ini, tepatnya pada akhir September lalu, juga pernah terjadi. Sebelumnya, sebuah penerbangan charter Atlas Air belum lama ini dikabarkan terbakar saat di udara. Dalam video yang beredar, sumber api diketahui berasal dari mesin sebelah kanan dan membuat kabin yang gelap gulita menjadi berwarna merah menyala akibat kobaran api.

Dari laporan 6abc.com, pihak maskapai sendiri mengakui adanya kejadian tersebut. Melalui sebuah penyataan, salah satu raksasa kargo dan charter di dunia ini menyebut api berkobar akibat kerusakan di salah satu mesin pesawat.

Baca juga: Efek Bird Strike: Pesawat Setara Tabrak Objek Seberat 32 Ton! Kok Bisa?

“Penerbangan penumpang Atlas Air mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Daniel K. Inouye di Honolulu menyusul masalah mekanis dengan satu mesin. Di Atlas, keselamatan selalu menjadi prioritas utama kami dan kami akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan penyebabnya,” bunyi penyataan maskapai.

Insiden mesin terbakar bermula saat pesawat Boeing 767 milik maskapai penerbangan Atlas Air lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Hickman, Honolulu, Hawaii, menuju ke Guam, Barat Samudera Pasifik, Amerika Serikat(AS). Beberapa menit berselang, mesin pesawat widebody dengan lebar terkecil di dunia yang memuat anggota militer ini terbakar dan pesawat terpaksa melakukan pendaratan darurat di Honolulu. Beruntung, tak ada korban tewas atas insiden tersebut.

(Video) Boeing 747 Ex Cathay Pacific Ditabrakkan dengan Sengaja ke Hanggar

Belum lama ini, sebuah video yang menunjukkan pesawat Boeing 747-200F Norskfreight dengan sengaja ditabrakkan ke hanggar beredar luas. Usut punya usut, pesawat di video yang menjadi bagian dari trailer film Tenet itu rupanya ex pesawat Cathay Pacific yang sudah purna tugas sejak 2009 silam. Adapun livery Norskfreight merupakan maskapai khayalan; termasuk nomor registrasi pesawat LN-WTJK yang juga palsu.

Baca juga: Ledakkan Boeing 747 Asli untuk Film Tenet, Sutradara Christopher Nolan: Lebih Efisien

Dilansir Simple Flying, pesawat dengan nomor registrasi asli B-HMD itu awalnya mangkrak, sebagaimana pesawat lain pada umumnya yang sudah purna tugas, di kuburan pesawat di Davis-Monthan Air Force Boneyard atau The Boneyard, Tucson, Arizona, Amerika Serikat.

Saat hendak mencari lokasi syuting di dekat Victorville, California, sang sutradara film Tenet, Christopher Nolan, melihat banyak pesawat yang dinilai masih bagus namun mangkrak di kuburan pesawat itu.

Seketika, ia pun terpikir untuk membeli dan menggunakannya sebagai properti syuting film terbarunya itu, ketimbang menggunakan CGI (computer-generated imagery). Terlebih, ia pernah merencanakan hal serupa di film sebelumnya sekalipun gagal. Lagi pula, harga pesawat pesawat bisa dibilang cukup terjangkau.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, harga pesawat Boeing 747 bekas di pasaran memang tergolong murah sekalipun semuanya tergantung tahun produksi. Jadi, sangat relatif. Misalnya, di situs telstarlogistics.typepad.com Boeing 747-200 keluaran tahun 1970-an dibanderol sekitar $100,000 atau Rp1,4 miliar lebih (kurs 14,6210).

Di situs lainnya, Boeing 747-400F keluaran tahun 2013 masih dibanderol dengan harga tinggi, mencapai $29,700,000 atau lebih dari Rp419 miliar (kurs 14,6210). Adapun pesawat yang digunakan Christopher Nolan untuk diledakkan dalam salah satu adegan di film Tenet tidak disebutkan dengan rinci jenis dan tahun pembuatannya.

Hanya saja, dari kode registrasi pesawat yang terlihat dalam trailer Tenet tercantum kode registrasi sebagai LN-WTJK. Menurut planespotters.net, pesawat Boeing 747 dengan kode registrasi tersebut adalah Boeing 747-200F berumur 40 tahun 3 bulan atau produksi tahun 1980-an. Dengan harga pasaran yang sudah disebutkan di atas, terbayang bukan nilai investasi untuk meledakkan sebuah pesawat Boeing 747-200F?

Aksi Christopher Nolan menggunakan pesawat asli untuk dihancurkan dalam proses produksi sebuah film bukan pertama kalinya. Pada 2016 lalu, sutradara, penulis, dan produser berkebangsaan Inggris ini juga pernah memperjuangkan agar film besutannya dan Emma Thomas menggunakan pesawat asli Spitfires dan HA-1112 Buchón buatan Spanyol (versi lisensi dari Messerschmitt Bf 109).

Baca juga: Awas, Asteroid Sebesar Boeing 747 Tabrak Orbit Bumi 7 Oktober!

Namun, entah bagaimana proses pergolakan di dalam tubuh tim, pada akhirnya, adegan yang sudah dirancang Nolan dengan pesawat asli harus berakhir pupus. Disebutkan, adegan di film Dunkirk yang dimaksud hanya menggunakan replika pesawat.

Sebagai informasi, Christopher Nolan belum lama ini meluncurkan trailer kedua film terbarunya Tenet. Film yang digadang-gadang dibumbui degan adegan-adegan menarik itu menurut salah satu aktornya, John David Washington, justru memiliki jalan cerita atau plot yang absurd. Pendapat itu pun juga diamini oleh aktor-aktor lainnya dalam film tersebut. Walau penuh dengan ketidakpastian akibat wabah corona, Tenet akhirnya tetap dirilis pada 3 September di AS dan sudah meraup Rp 297 miliar tak lama setelah tayang perdana.

Jaringan 5G Dipercaya Mampu Mengubah Wajah Pariwisata

Industri pariwisata di dunia terhenti sementara akibat pandemi Covid-19. Namun meski begitu analis masih berharap pertumbuhan pariwisata terus berlanjut setelah vaksin tersedia. Apalagi jika koneksi jaringan seluler sudah 5G yang mana bisa lebih cepat, lebih andal dan menjangkau jauh sehingga bisa dimanfaatkan pada industri pariwisata.

Baca juga: Airbus dan M1 Singapura Uji Coba Jaringan 5G untuk Drone

Bahkan dengan jaringan seluler 5G, interaksi terbatas karena pandemi ini dapat mengaktifkan semua jenis kasus penggunaan jarak jauh seperti pembayaran tanpa kontak, pemantauan robot, kendaraan antar jemput tanpa pengemudi dan banyak hal lainnya. Nah KabarPenumpang.com merangkum dari 5gradar.com (12/11/2020), cara utama 5G dapat mengubah pariwisata.

1. Pemantauan robot di bandara dan sekitarnya
Salah satu penggunaan teknologi 5G yang menarik perhatian adalah robot patroli. Robot ini digunakan di area sibuk seperti bandara yang tugasnya untuk memantau warga serta memastikan bahwa orang menggunakan masker mereka saat berada di ruang publik. Robot ini dikembangkan oleh Guangzhou Gosuncn Robot Company, dengan dukungan tambahan dari spesialis perangkat keras dan perangkat lunak IoT, Advantech. Robot patroli tersebut sudah disebarluaskan selain bandara yakni di pusat perbelanjaan di Guangzhou, Shanghai, Xi’an dan Guiyang.

2. Daya tarik kota yang terhubung
Kehadiran jaringan 5G, membantu pelancong menjelajahi tujuan dengan lebih mudah bahkan memungkinkan membuat reservasi restoran dan tiket atraksi secara online lebih cepat. Dalam uji coba pedesaan 5G baru-baru ini, telah menunjukkan potensi untuk mencapai hal ini bahkan di tempat wisata yang paling terpencil, membantu dewan wisata pedesaan yang lebih kecil dan kekurangan uang menawarkan tingkat pengalaman yang sama dengan yang ditemukan di kota-kota besar.

3. Pemberdayaan bisnis lokal
5G akan menjadi kunci bagi bisnis lokal yang mengandalkan pariwisata. Layanan seluler yang biasanya mengandalkan pembayaran tunai, seperti taksi dan van es krim, akan dapat terhubung ke jaringan 5G untuk menawarkan pembayaran kartu untuk pertama kalinya, terutama di daerah pedesaan. Demikian pula, toko-toko dan atraksi desa yang saat ini membayar biaya untuk menggunakan pembaca kartu tradisional akan dapat memanfaatkan pembaca seluler yang lebih murah dari orang-orang seperti iZettle dan Square.

4. Pentingnya berbagi sosial
Bagi para pelancong, segala hal yang difoto kerap kali menjadi lebih penting dibagikan di media sosial mereka baik itu ke WhatsApp, Instagram dan Facebook. Dengan membagikan ke media sosial, ini menjadi salah satu cara signifikan bagi destinasi mendapat publisitas gratis. Jaringan 5G tidak hanya berarti tempat-tempat wisata paling terpencil dan tersembunyi pun akan dapat memperoleh manfaat dari paparan semacam itu, bisnis ini berpotensi menghemat uang dengan tidak harus menyediakan jaringan WiFi yang mahal dengan bandwidth tinggi.

5. Perjalanan yang lebih mudah
Kehadiran jaringan 5G membuka jalan bagi miliaran lebih banyak sensor IoT untuk online, dan salah satu dampak paling signifikan yang akan ditimbulkan oleh sensor ini adalah pada transportasi. Di mana menyesuaikannya dengan gerbong kereta dan rel, teknisi akan dapat mendeteksi kesalahan sebelum terjadi, mengurangi penundaan liburan orang dan menghemat uang operator untuk perbaikan yang lama. Sensor semacam itu, ketika terhubung ke jaringan 5G berkecepatan tinggi, juga berarti penumpang bisa mendapatkan pembaruan waktu nyata di perangkat seluler mereka, membantu mereka merencanakan perjalanan dengan lebih efektif dan mengelola penundaan yang tidak dapat dihindari.

6. Bandara pintar
Sama seperti sensor IoT di kereta akan membantu pelancong melakukan perjalanan ke bandara dengan gangguan minimal, begitu mereka tiba di terminal, sensor dan jaringan berkemampuan 5G akan memainkan peran utama dalam memotong waktu tunggu dan memberikan pengalaman tanpa gesekan. Gatwick, misalnya, melalui kemitraannya dengan Pointr, adalah bandara pertama di dunia yang memasang 2000 suar yang membantu penumpang menavigasi terminalnya dan mendapatkan pembaruan akurat untuk informasi penerbangan dan gerbang. Toko-toko juga menggunakan suar ini untuk menyampaikan pesan pemasaran kepada wisatawan saat mereka menuju gerbang.

7. Asisten 5G dan robot
Pada Desember 2018 Helsinki menjadi bandara 5G pertama di dunia dan operatornya Finavia bermitra dengan Telco Finlandia untuk memperkenalkan agen layanan pelanggan robot bernama Tellu. Tellu tidak hanya membantu penumpang menemukan jalannya dan mendapatkan informasi tentang penerbangan mereka, kamera di dalam pesawat mengirimkan rekaman waktu nyata ke tim keamanan untuk mengawasi lapangan.

8. Hotel pintar
Penelitian telah menemukan bahwa WiFi adalah faktor terpenting saat memilih akomodasi untuk liburan dan pelancong bisnis dengan lebih dari setengah responden mengklaim kurangnya WiFi akan membuat mereka kehilangan lokasi. Namun para pelaku bisnis perhotelan mengatakan permintaan yang meningkat ini membebani bandwidth dan keamanan jaringan mereka. 5G akan menyelesaikan kedua masalah tersebut, menawarkan kecepatan tinggi untuk banyak perangkat sekaligus mengurangi beban pada jaringan Wi-Fi.

Baca juga: Gunakan Teknologi 5G, Kereta Otonom di Korea Selatan dalam Fase Uji Coba

Bandwidth gratis ini, dilengkapi dengan koneksi 5G yang andal, juga akan memungkinkan hotel menawarkan fitur pintar yang lebih canggih seperti lampu yang terhubung dan termostat pintar, seperti yang terlihat di Premier Inn Hub London, yang memungkinkan penumpang mengatur suhu kamar ideal dari jarak jauh sebelum kedatangan, atau matikan lampu dari panel kontrol layar sentuh di samping tempat tidur.

Kenapa Pilot Tak Banyak Memberikan Informasi Saat Terjadi Insiden? Inilah Alasannya

Sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.

Baca juga: Kenapa Mikrofon Pilot Tidak Terdengar Jelas Dibanding Awak Kabin? Ini Dia Jawabannya

Dari jutaan penerbangan tersebut, pasti ada saja beberapa insiden kecil yang sempat membuat penumpang bertanya-tanya. Sebab, tidak ada informasi apapun selama insiden berlangsung. Paling-paling, pilot hanya memohon maaf atas ketidaknyamanan penumpang. That’s it, tidak lebih.

Di beberapa kasus, sikap pilot membatasi informasi ke penumpang justru membuat keadaan kian tak jelas. Awal Januari lalu, misalnya, penumpang Air India mengamuk lantaran pesawat tak kunjung lepas landas. Saat itu, penumpang sudah menunggu di dalam pesawat selama sekitar 1 jam.

Alih-alih berangkat, pesawat justru tetap berdiam diri di apron tanpa informasi apapun. Selama menunggu, penumpang hanya dibiarkan bertanya-tanya dan kebingungan sambil sesekali menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Setelah empat jam tertahan di kabin, seluruh penumpang akhirnya diizinkan turun dan kembali diberangkatkan empat jam kemudian. Itupun setelah seluruh penumpang kompak mengamuk. Bila tidak, mungkin penumpang hanya bisa gigit jarinya dibuatnya.

Berbagai spekulasi pun muncul. Ada yang menyebut bahwa pilot tak berwenang menjelaskan insiden apapun. Demikian juga dengan pramugari. Namun, ada pula yang menyebut bahwa dengan membatasi informasi, penumpang diharapkan menjadi tak khawatir. Padahal, fakta berkata sebaliknya.

Dilansir express.co.uk, terkait hal itu, Patrick Smith, pilot senior yang juga menulis buku Cockpit Confidential pun buka suara. Menurutnya, bukan masalah berwenang atau tidak, pilot pada umumnya memang diperintahkan tak berkata apapun saat terjadi insiden, baik insiden kecil maupun besar, baik saat pesawat masih di darat atau di udara.

“Dari semua staf di garda terdepan, pilot jadi yang paling berpotensi untuk menghilangkan kecemasan dan menjelaskan situasi yang terjadi,” tulis Smith dalam bukunya keluaran tahun 2013.

“Sayangnya, customer service training untuk pilot sangat minim dan salah satunya adalah kecenderungan untuk mengatakan sesedikit mungkin, semacam aturan untuk bisa mengelak. Ini jelas kontraproduktif, dan tidak pernah terdengar dari yang lebih dari itu (tidak pernah berkata banyak),” lanjutnya.

Sebagai pilot, Smith mengaku pernah melakukan itu. Pun demikian, sebagai penumpang pesawat, ia pernah diperlakukan seperti itu. Ia pun mengulang kejadian yang dialaminya di masa lalu. Kala itu, tepat sebelum mendarat, pilot mendadak batal approach dan go around mengelilingi bandara selama beberapa lama. Tidak ada alasan apapun terkait hal ini.

Sebetulnya, ia biasa saja, namun, ketika satu orang mulai merasa takut kemudian orang lain ikut merasa takut dan lambat laun ikut mempengaruhi seisi pesawat, ia pun pada akhirnya juga ikut merasa takut.

Menariknya, ketika penumpang diliputi rasa takut yang semakin mendalam, pilot dengan singkat hanya berkat, “Ah, mohon maaf atas ketidaknyamanannya.” Beberapa menit berselang, pilot kembali menjelaskan, “Pesawat lain memotong jalur kami dan tengah bertengger di runway. Jadi kami harus mengalah. Dalam beberapa menit, pesawat akan mendarat,” Jelasnya.

Baca juga: Mengenal “Go-Around,” Saat Pesawat Tak Jadi Mendarat Karena Beragam Faktor

Meski pilot sudah berbicara agak banyak, namun Smith tetap khawatir. Begitu pula penumpang lainnya. Di posisi inilah, ia berpandangan bahwa pilot mungkin bisa berbicara lebih banyak. Setiap ucapan pilot di posisi ini bisa berperan penting untuk menenangkan penumpang, layaknya sabda seorang nabi untuk para pengikutnya.

Namun demikian, karena ia juga seorang pilot dan ia tahu kondisi yang dialami pilot, ia mengungkap bahwa kuncinya ada di maskapai. Bagaimana perintah maskapai kepada pilot saat sebuah insiden terjadi itulah yang akan dijalankan oleh pilot. Tetapi, umumnya, pilot diminta untuk tak berbicara banyak. Sekalipun berbicara, pilot hanya diminta untuk menjelaskan singkat dengan diksi yang bisa membuat penumpang tenang, bukan sebaliknya.

Korea Selatan Berencana Luncurkan Taksi Terbang di 2025

Dalam waktu beberapa tahun mendatang, sepertinya rencana taksi terbang mulai mengudara akan terealisasi. Ini terlihat dari Kementerian Transportasi Korea Selatan yang mulai menguji layanan taksi udara tak berawak di kota Seoul.

Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina

Pihak Kementerian Transportasi mengatakan, taksi ini akan diluncurkan secepatnya pada tahun 2025. KabarPenumpang.com melansir laman metro.co.uk (11/11/2020), pemerintah Korea Selatan saat ini diketahui sudah menguji enam taksi drone di pinggiran Seoul. Dan, kini mereka akan menguji layanan tersebut di daerah yang padat yakni di Seoul untuk pertama kalinya. Drone bergaya Blade Runner tersebut merupakan armada taksi udara tanpa awak yang dibuat oleh Ehang di Cina.

Taksi terbang ini memiliki berat sekitar 650 kg per satu armada. Meski menggunakan taksi terbang buatan Cina, Korea Selatan tak hanya diam saja dan tengah mengembangkan sistem manajemen lalu lintas K-drone milik mereka sendiri dengan pembiayaan dari negara.

Pasalnya dilakukannya pengembangan sistem tersebut karena Korea Selatan berencana membuka sepuluh terminal taksi tebang pada tahun 2030. Bahkan Kementerian Transportasi berharap bahwa pasar mobilitas udara perkotaan akan bernilai miliaran pound di tahun 2040.

Di mana fokusnya akan berjalan sejauh 18-30 mil bersama bus, sistem kereta bawah tanah dan bentuk transportasi umum lainnya. Tes serupa sebelumnya dilakukan di lokasi yang ditunjuk di Incheon, sebelah barat Seoul dan Yeongwol, 200 kilometer timur Seoul.

Hanwha Systems Co., industri pertahanan dan unit layanan TIK dari konglomerat kimia keuangan Hanwha Group, juga meluncurkan Butterfly. Ini adalah sebuah mockup dari kendaraan udara pribadi yang dikembangkannya dengan startup taksi udara yang berbasis di Amerika Serikat, Overair.

Perusahaan mengatakan sedang berusaha untuk membangun “hub-verti,” terminal untuk lepas landas dan pendaratan taksi udara, di Bandara Internasional Gimpo di Seoul barat bekerja sama dengan Korea Airports Corp. Menurut Hanwha Systems, Verti-hub jika dibangun, akan menjadi fasilitas pertama di dunia untuk taksi drone.

Taksi udara yang dilengkapi dengan fungsi lepas landas dan mendarat vertikal listrik (eVTOL) juga diharapkan akan tersedia di beberapa kota di Amerika Serikat dan Eropa untuk layanan komersial pada tahun 2025.

Baca juga: [Video] Taksi Drone 282 Karya Anak Bangsa Berhasil Terbang Sebelum Dipamerkan di Jerman

Pada bulan September, kementerian menguji layanan pengiriman makanan drone otonom di tengah Tren kontak setelah pandemi Covid-19 di Kota Sejong, pusat administrasi 130 km tenggara Seoul. Di Sejong, lima drone mengirimkan makanan dan produk lainnya kepada orang-orang di rumah yang berjarak dua hingga tiga kilometer di seberang danau dan di gedung-gedung bertingkat dalam waktu sepuluh menit.

NVDIA DRIVE dan Platform AI Hadir di Semua Model Terbaru Hyundai Motor Group

Hyundai Motor Group dan NVIDIA mengumumkan peluncuran platform terbaru mereka yakni NVIDIA DRIVE. Di mana platform tersebut hadir di semua model baru dari Hyundai, KIA dan Genensis mulai tahun 2022 dan seterusnya. Kerja sama ini akan memungkinkan Hyundai Motor Group mengembangkan sistem komputasi mobil terhubung berperforma tinggi untuk model generasi berikutnya.

Baca juga: Sistem Input Prediktif Digunakan Tanpa Sentuhan Langsung pada Layar

Ini akan ada dari kendaraan di tingkat pemula hingga premium serta semua model masa depan akan menampilkan sistem infotainment dalam kendaraan IVI yang didukung oleh NVDIA DRIVE sebagai standar. Nantinya, NVIDIA DRIVE mencakup tumpukan perangkat keras dan perangkat lunak, memungkinkan sistem IVI Hyundai Motor Group untuk menggabungkan audio, video, navigasi, konektivitas, dan layanan ‘mobil terhubung’ berbasis kecerdasan buatan (AI).

KabarPenumpang.com merangkum automotiveworld.com (9/11/2020), dengan menggunakan platform NVIDIA DRIVE berkinerja tinggi dan hemat energi untuk model masa depan. Sehingga memungkinkan merek Grup untuk menawarkan pengalaman pengguna AI dalam kendaraan yang mulus dan terus ditingkatkan kepada pelanggan.

Oleh karena itu, pelanggan Hyundai, KIA dan Genesis akan mendapat manfaat dari pengalaman pengguna AI yang kaya fitur dan ditentukan perangkat lunak yang dapat diperbarui terus-menerus. Hyundai Motor Group telah bekerja dengan NVIDIA sejak 2015, dan platform NVIDIA DRIVE sudah mendukung sistem IVI canggih yang ditemukan di Genesis GV80 dan G80.

Perusahaan juga telah berkolaborasi dalam kokpit digital terintegrasi canggih, yang akan diluncurkan pada akhir 2021. Kehadiran platform baru ini membawa hubungan lebih jauh, karena Hyundai Motor Group meletakkan dasar untuk sistem IVI yang dapat mendukung berbagai aplikasi dan fitur masa depan, di seluruh jajaran modelnya.

“NVIDIA menghadirkan fungsionalitas elektronik konsumen dan antarmuka pengguna yang kaya grafis ke sistem infotainment lebih dari satu dekade yang lalu. Sekarang, kami sekali lagi mengubah sistem ini melalui kekuatan AI, membantu Hyundai Motor Group meningkatkan keselamatan dan nilai, serta meningkatkan kepuasan pelanggan, selama masa pakai kendaraan,” kata Ali Kani, Wakil Presiden Kendaraan Otonomi NVIDIA.

Paul Choo, Wakil Presiden Senior Unit Teknologi Elektronik di Hyundai Motor Group mengatakan, di Hyundai Motor Group, mereka berkomitmen untuk memberikan nilai, keamanan, fungsionalitas dan kesenangan yang lebih besar selama masa pakai mobil. Platform NVIDIA DRIVE telah terbukti dapat diskalakan, hemat energi, dan memiliki kinerja untuk mendukung kendaraan yang ditentukan perangkat lunak generasi berikutnya.

Kemitraan dengan NVIDIA akan memungkinkan Hyundai Motor Group meluncurkan ‘sistem operasi mobil terhubung’ (ccOS) berikutnya di model masa depan. Dikembangkan secara internal oleh Hyundai Motor Group, ccOS baru akan menyatukan sejumlah besar data yang dihasilkan oleh kendaraan dan jaringan sensornya, serta pusat data mobil yang terhubung secara eksternal, memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan dan nyaman bagi pengemudi dan penghuni.

CcOS akan menggunakan kerangka kerja perangkat lunak NVIDIA untuk menerapkan empat kompetensi TI inti, di mana ‘komputasi berperforma tinggi’, menggunakan GPU NVIDIA untuk memproses data dalam jumlah besar di dalam dan di luar kendaraan dan mengoptimalkan kinerja sistem untuk mendukung teknologi TI canggih, seperti pembelajaran mendalam.

‘Komputasi yang mulus’, yang memberikan layanan tanpa gangguan terlepas dari status online atau offline kendaraan. Kendaraan terhubung dengan infrastruktur sekitar dan perangkat pintar untuk menghadirkan pengalaman pengguna dari perangkat eksternal ke lingkungan kendaraan. Komputasi cerdas’, menyediakan layanan cerdas yang disesuaikan dengan mengidentifikasi maksud dan kondisi pengemudi dengan tepat.

‘Komputasi aman’, melindungi sistem dengan memantau jaringan dalam kendaraan dan eksternal dan mengisolasi data yang terkait dengan keselamatan kendaraan. Selain itu, terobosan baru-baru ini dalam AI dan komputasi yang dipercepat telah membuka pintu bagi kendaraan generasi berikutnya untuk memanfaatkan fungsionalitas baru, kemampuan, dan fitur keselamatan yang ditingkatkan yang dapat ditambahkan setelah mobil dibeli.

Baca juga: Keren, Dubai Gunakan Teknologi Kecerdasan Buatan, Pastikan Sopir dan Penumpang Pakai Masker

Dengan arsitektur komputer terpusat dan terdefinisi perangkat lunak, kendaraan masa depan dapat diperbarui sepanjang hidup mereka untuk menampilkan teknologi kokpit digital canggih terkini, serta fitur lainnya. Hyundai Motor Group akan mengumumkan rincian yang lebih spesifik dari kemampuan IVI dan ccOS yang akan datang sejalan dengan pengumuman di masa mendatang terkait dengan kendaraan tertentu.

Lolos Tes Terowongan Angin, Pesawat Supersonik Ramah Lingkungan Aerion Kian Nyata

Perkembangan jet bisnis supersonik Aerion AS2 semakin menggeliat. Belum lama ini, pesawat dari pabrikan asal Amerika Serikat (AS) itu dikabarkan berhasil melewati uji terowongan angin atau wind tunnel testing. Dengan begitu, desain pesawat futuristik dengan bahan bakar ramah lingkungan ini dinyatakan aman dan bisa melanjutkan ke tahap pembuatan komponen pada 2022 dan proses perakitan pada 2023 untuk membuatnya jadi nyata.

Baca juga: Keren, Tesla Akan Buat Pesawat Supersonik Pengganti Concorde Bertenaga Listrik

“Tes tersebut melibatkan evaluasi keseluruhan operasional AS2, termasuk lepas landas dan mendarat, penerbangan subsonik, penerbangan supersonik tanpa dentuman, dan kecepatan jelajah. Selain itu, desain AS2 telah diuji untuk kondisi operasional, termasuk uji landing gear dan wing icing, bersama dengan kualitas handling,” bunyi laporan Aviation International News, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.

Pesawat supersonik ini memang tidak akan menyamai atau bahkan melampaui legenda pesawat supersonik Concorde. Jet bisnis supersonik Aerion AS2 diproyeksikan hanya mampu melesat dengan kecepatan Mach 1.4 atau 1.729 km per jam. Dengan begitu, rute andalan mereka, London-New York bisa dijangkau dalam empat jam.

Bandingkan dengan Concorde yang mampu melesat 2.179 km per jam atau melahap penerbangan London-New York hanya dalam tiga jam.

Demikian juga dengan kursi penumpang. Aerion AS2 digadang hanya mampu mengangkut 8-12 penumpang, dengan kabin eksklusif dan mewah. Jumlah tersebut tentu tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Concorde yang mampu mengangkut 100 penumpang.

Namun, durasi tersebut masih lebih baik ketimbang pesawat komersial pada umumnya yang bisa memakan waktu enam jam. Oleh karena itu, pesawat supersonik ini lebih mengincar ke perjalanan bisnis ketimbang perjalanan wisata.

Meski terlihat masih jauh dari pesawat supersonik Concorde, bukan berarti pesawat supersonik yang direncanakan bakal hadir pada 2027 itu tidak memiliki keunggulan apapun yang bisa dibangga-banggakan.

Disebutkan, Aerion AS2 memiliki lima keunggulan yang tak dimiliki Concorde sebagai sesama pesawat supersonik ataupun pabrikannya. Pesawat supersonik Aerion AS2 dijanjikan bakal bebas emisi sejak pertama kali mengudara sampai seterusnya. 100 juta pohon juga bakal ditanam pada tahun 2036 sejak kehadiran pesawat ini untuk kali pertama.

Tak cukup sampai di situ, Aerion AS2 akan menggunakan 100 persen bahan bakar berkelanjutan yang dinilai sanggup mengurasi emisi karbon di udara sampai 80 persen. Sebagai pesawat masa depan, pabrikan juga turut andil dengan tren ramah lingkungan, dimana program carbon offsetting bakal dijajaki tanpa memungut biaya sepersen pun ke penumpang.

Baca juga: Kurangi Emisi Suara di Tengah Malam, Bandara Heathrow Patok Biaya Ekstra untuk Maskapai

Keunggulan lain, umumnya, pesawat supersonik amat berisik atau seringkali menciptakan sonic boom atau dentuman sonik. Namun, tidak demikian dengan Aerion AS2. Pesawat ini diklaim bakal boomless atau tanpa dentuman sekalipun melesat dengan kecepatan tinggi sehingga tidak menimbulkan polusi suara.

Sedikit terkait polusi suara, di dunia memang sudah memperhatikan hal itu. Bahkan, polusi suara di malam hari oleh pesawat terbang bisa dikenai biaya tambahan sebagai kompensasi atas ketidaknyamanan yang tercipta, khususnya saat di bandara.

Demi Bertahan Hidup, Etihad Produksi 1,3 Juta Masker untuk Dijual dan Dibagikan ke Pramugari

Etihad Airways Selasa lalu mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah membuka fasilitas produksi masker medis tiga lapis. Fasilitas tersebut diproyeksikan bakal memproduksi sebanyak 1,3 juta masker dalam waktu tiga bulan. Nantinya, masker-masker tersebut akan dijual melalui pemasok serta dibagikan ke seluruh pramugari dan staf garis depan; termasuk ke tenaga kesehatan (Nakes) seantero Uni Emirat Arab.

Baca juga: Etihad Kirim A380 ke ‘Kuburan’ Pesawat di Perancis

Masker tiga lapis Etihad Airways diproduksi oleh divisi teknik. Masker tersebut disertifikasi oleh dua badan sertifikasi, Laboratorio Analisi Tecnal of Italy dan CNTAC dari Cina.

Dengan mesin super canggih serba otomatis, fasilitas produksi itu disebut bisa menghasilkan masker medis, lengkap dengan logo Etihad yang diembos, sebanyak 20 ribu per hari. Jumlah tersebut tentu relevan bila berkaca pada aturan yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO mengimbau agar masker medis setiap hari, bahkan empat jam segali, diganti.

Etihad Airways memutuskan mengambil langkah tersebut untuk memenuhi kebutuhan garda terdepan maskapai, seperti pramugari, pilot, serta staf darat. Sejak awal pandemi Corona pada awal tahun ini, maskapai di seluruh dunia berusaha keras untuk mengamankan pasokan masker untuk kebutuhan mereka.

Saking sulitnya, tak sedikit maskapai di dunia terpaksa menggunakan masker kertas yang notabene di bawah standar. Sadar pihaknya bisa saja termasuk maskapai yang kesulitan mendapatkan pasokan masker medis, Etihad Airways pun akhirnya mengambil jalan itu.

“Sejak awal pandemi, kami menyaksikan permintaan yang konsisten untuk masker medis di internal maskapai,” kata Nasir, wakil presiden vice president of airframe services Etihad Engineering, seperti dikutip dari paddleyourownkanoo.com.

“Dengan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan pelanggan dan karyawan menjadi perhatian utama dan prioritas utama kami, kami melihat peluang untuk menjadi mandiri,” lanjutnya. Nasir juga mengatakan bahwa Etihad berniat memproduksi masker untuk pelanggan dan supplier agar dijual kembali ke masyarakat ataupun perusahaan.

Seiring anjloknya penerbangan penumpang, layaknya Etihad, berbagai maskapai di dunia ramai-ramai putar otak untuk mencari penghasilan tambahan. Thai Airways dilaporkan banting setir jualan gorengan. Qantas Airways terang-terangan menjual sweater cashmere, hoody, dan tas pantai dengan harga bervariasi untuk bertahan hidup.

Baca juga: Etihad Kerja Sama dengan Bandara Abu Dhabi Hadirkan Kursi Roda Otomatis

Singapore Airlines (SIA) juga demikian. Maskapai nasional Singapura itu dikabarkan belum lama ini membentuk entitas bisnis baru bernama Singapore Airlines Academy atau Akademi Singapore Airlines. Akademi SIA bertujuan untuk membuat program pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi perusahaan jasa dan perhotelan untuk meningkatkan kualitas pelayanan mereka.

Meskipun menyebut bisnis program pelatihan SDM melalui Akademi Singapore Airlines lahir atas permintaan dari berbagai perusahaan dan organisasi, namun, perusahaan tak menampik bahwa pihaknya memutuskan membuka bisnis baru itu untuk mencari keuntungan tambahan, jika tak ingin disebut demi bertahan hidup.

Lika-Liku Karyawan Freeport, Berangkat Kerja Harus Pakai ‘Bus Perang’ Anti Peluru

Di Jakarta, sehari-hari karyawan swasta maupun BUMN bisa dengan mudah dan bebas memilih kendaraan untuk bisa sampai ke tujuan. Namun, tidak demikian dengan karyawan maupun para tamu PT Freeport Indonesia (PTFI). Mereka umumnya hanya mempunyai satu pilihan kendaraan untuk mobilitas dari dan ke lokasi tambang, dalam hal ini dari Timika-Tembagapura. Kendaraan tersebut adalah truk ‘bus’ anti peluru, Iveco Trakker 380 buatan Italia.

Baca juga: Intip Kemampuan Truk Offroad Kelas Dunia Milik TNI AL, Tatrapan 6×6

Pamor bus anti peluru Freeport itu mungkin belum bisa menyalip truk setinggi rumah dan ban besar yang harga satuannya bisa setara sedan kelas atas (Rp500 jutaan) milik PTFI. Namun demikian, bus tersebut sangat diandalkan untuk meredam ancaman dan gangguan dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Disarikan dari Indomiliter.com, bus angkut ala perang berkat kemampuan anti pelurunya ini sejatinya merupakan truk yang dimodifikasi. Bus ini dibangun dari basis truk Iveco Trakker 380 4×4, untuk memenuhi spesifikasi sebagai ‘bus,’ posisi bak bagian belakang diganti dengan manhaul bus bodies. Modifikasi karoseri pada truk buatan Italia ini dilakukan oleh perusahaan swasta nasional PT Sanggar Sarana Baja.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang) on

Bus anti peluru yang biasa digunakan untuk perjalanan dari Timika-Tembagapura sejauh 2,5 – 3 jam, dengan kecepatan rata-rata 40 km per jam ini hampir seluruh bagiannya anti peluru, termasuk jendela bus yang juga ditutup dengan plat logam anti peluru dengan hanya menyisakan seperdelapan bagian di sisi atas jendela agar cahaya bisa masuk.

Sayangnya fitur tersebut tak tersemat di bagian ruang kemudi bus anti peluru ini. Karenanya, sopir mendapat perlindungan tambahan dengan mengenakan rompi anti peluru, kevlar hingga helm anti-peluru.

Akan tetapi, bus berkapasitas 56 penumpang dengan disokong mesin diesel 340 hp ini tak diketahui secara persis apakah bagian bannya sudah mengadopsi run flat tyre (RFT) atau tidak, dengan RFT bila ban diterjang proyektil masih dapat berjalan sampai jarak tertentu.

Baca juga: Singapore Duck Tour, Wisata Amfibi dengan Rantis eks Perang Vietnam

Namun demikian, bila pun terjadi penembakan, bus tersebut akan tetap aman karena dilindungi oleh satu unit kendaraan berisi pasukan pengamanan bersenjata lengkap. Selain itu, bus biasanya tak berjalanan sendirian melainkan selalu beriringan dengan kendaraan serupa.

Meski bus anti peluru ini dianggap aman untuk melindungi dari serangan KKB, hal itu tentu sangat relatif, mengingat bus tersebut bisa saja luluh lantak bila KKB menggunakan peluncur roket anti-tank (bazooka) atau senapan anti anti tank, yakni senapan yang bisa menembus kendaraan lapis baja ataupun anti peluru dengan kecepatan rata-rata lesatan mencapai 900 meter per detik.