Sydney-London, Rute Bus Terpanjang di Dunia! Perjalanan Butuh 132 Hari

Qantas melalui Project Sunrise akan menghubungkan Sydney dengan London non-stop dalam waktu dekat. Program ambisius maskapai nasional Negeri Kanguru ini nantinya akan menyediakan layanan penerbangan ultra jarak jauh non-stop 21 jam dari Pantai Timur Australia ke kota-kota besar dunia bukan hanya London, namun juga New York, dan Sao Paulo.

Baca juga: TransJakarta Mulai Uji Coba Komersial Bus Listrik Rute Balai Kota-Blok M

Atas program tersebut, sekalipun belum diluncurkan (seharusnya diirilis pada Maret lalu), Qantas boleh saja berbangga diri. Namun, di masa lalu, rute sejauh itu rupanya juga pernah digarap. Bukan oleh maskapai pesaing, melainkan dijajaki oleh bus Double Decker yang dikenal sebagai Albert.

Dilansir curlytales.com, laporan Central Western Daily, cerita perjalanan rute bus terpanjang di dunia ini dimulai oleh seorang traveler asal Inggris, Andy Stewart. Pada tahun 1968, ia memutuskan membeli bus tersebut untuk melakukan perjalanan dari Sydney ke London melalui India.

Pada 8 Oktober 1968, bus Albert pun memulai perjalanan dari Martin Place, Sydney dengan 13 penumpang untuk menempuh perjalanan hampir 16.000 kilometer. Setelah 132 hari, perjalanan panjang melewati 14 negara, Belgia, Jerman Barat, Austria, Yugoslavia, Bulgaria, Turki, Iran, Afghanistan, Pakistan Barat, India (termasuk kota Delhi, Agra, Allahabad, Benaras dan akhirnya Kolkata), Burma (Myanmar), Thailand, Malaysia, dan Singapura, bus Albert akhirnya tiba di London, Inggris pada 17 Februari 1969.

Bus Albert rute Kolkata-London. Foto: curlytales.com

Seiring berjalannya waktu, Albert bus pun melayani Kolkata-London secara terpisah, dari yang seharusnya menjadi bagian dari perjalanan Sydney-London. Menurut sebuah laporan, rute London-Kolkata-London diberi nomor 12, 13, 14, dan 15. Sedangkan Rute London-Sydney non-stop diberi nomor 4, 5, 6, 7, 8 dan 9.

Dari sini, bus Albert seolah mempunyai lebih dari satu armada. Hanya saja, tak diketahui secara persis, berapa banyak armada yang beroperasi untuk menjajaki rute-rute tersebut.

Yang pasti, selama beroperasi, Albert telah menyelesaikan sekitar 15 perjalanan antara Kolkata (India)-London (Inggris) dengan tarif sebesar 145 Poundsterling (cukup besar untuk ukuran saat itu) dan empat perjalanan antara London (Inggris)- Sydney (Australia) hingga tahun 1976, dengan tarif yang tak diketahui secara pasti.

Selama beroperasi, bus tersebut telah melintasi hampir 150 perbatasan tanpa pengawasan ketat dan dijuluki sebagai ‘duta besar yang ramah’ di semua negara yang dilewatinya.

Baca juga: Terbang Lintas Benua! Inilah 10 Rute Terpanjang Penerbangan Non Stop Komersial

Sebagai bus yang melahap rute terpanjang di dunia, bus Albert dilengkapi dengan berbagai fitur mewah seperti ruang baca dan makan di dek bawah serta ruang observasi (untuk menikmati pemandangan), dapur, sleeping bed, hingga karoeke di dek atas. Selain itu, bus juga dilengkapi dengan penghangat dan pendingin, sesuai dengan kondisi lingkungan dimana bus berada. Dengan begitu, para penumpang dijamin tidak akan bosan selama perjalanan.

Lagi pula, berbeda dengan perjalanan Sydney-London via udara yang pada umumnya hanya melihat awan, perjalanan rute tersebut via darat oleh bus Albert dijamin tak akan membosankan, dengan suguhan pemandangan menarik dan cantik dari destinasi favorit di berbagai negara di dunia, seperti Golden Horn di Istanbul, the Peacock Throne di Delhi, the Taj Mahal di Agra, Benaras di Sungai Gangga, pantai Laut Kaspia, Blue Danube, Draconian Pass, Lebah Rhine, Kyber Pass and Kabul Gorge; termasuk beberapa hari untuk berbelanja di beberapa destinasi wisata, seperti New Delhi, Kabul, Istanbul, Tehran, Vienna, dan Salzburg.

Pelantun Lagu “Forever and Ever” Ternyata Pernah Menjadi Sandera Pembajakan TWA Flight 847

Pembajakan Boeing 727 TWA Flight 847 menjadi salah satu catatan kelam dari dunia penerbangan global. Pesawat yang bertolak dari Athena (Yunani) menuju Roma (Italia) dibajak dua teroris berkebangsaan Libanon yang bersenjatakan granat dan pistol 9 mm. Pembajakan yang terjadi pada 14 Juni 1985 itu berakhir dengan satu penumpang tewas dan sisanya dapat dibebaskan. Meski peristiwa TWA 847 selalu diingat, namun tak banyak yang tahu bahwa salah satu sandera di penerbangan itu ada seorang penyanyi kondang.

Baca juga: Hari Ini, 46 Tahun Lalu, TWA Flight 841 Dibom Pemuda Palestina Gegara Intel Israel

Bagi Anda yang besar di era 70/80-an, mungkin mengenal Demis Roussos, musisi bertumbuh tambun berdarah Yunani-Mesir ini adalah pelantun lagu melow legendaris “Forever and Ever.” Mengutip sumber dari wikipedia.org, disebut Roussos adalah salah satu pemumpang di TWA Flight 847. Entah karena alasan apa, Roussos termasuk sandera yang bernasib mujur, pasalnya ia dibebaskan bersama empat orang asal Yunani setelah lima hari disandera, sementara sebagian besar penumpang masih harus menjadi sandera hingga 17 hari.

Yang unik, Demis Roussos menghabiskan ulang tahun ke-39 saat dalam pembajakan. Karena dibebaskan tanpa cidera, Roussos justru mengucapkan terima kasih kepada para pembajak, yang pada konferensi pers menyebut telah memberinya kue ulang tahun. Pria yang bernama lengkap Artemios “Demis” Ventouris-Roussos menjadi penyanyi kondang yang telah merilis puluhan album, Demis Roussos wafat akibat sakit kanker pada 25 Januri 2015 dalam usia 68 tahun.

Tentang tragedi TWA Flight 847, Pada 30 Juni, setelah negosiasi dilakukan dengan berhati-hati, para sandera dapat dibebaskan. Mohammed Ali Hamadi, yang dicari karena perannya dalam penyerangan TWA Flight 847 itu, ditangkap dua tahun kemudian di sebuah bandara di Frankfurt, Jerman, bersama dengan bahan peledak.

Belum Lama Terbang Perdana, Proyek Mistubishi SpaceJet Terpaksa Di-grounded, Bukan Semana-mata Karena Pandemi

Ironis, itulah kata yang mungkin tepat untuk menggambarkan proyek jet regional Mistubishi SpaceJet. Betapa tidak, baru Maret 2020 diwartakan pesawat ini sukses terbang perdana, bahkan sempat dibanggakan lantaran bisa merampungkan first flight di masa pendemi Covid-19. Namun, rupanya karena pandemi pula proyek SpaceJet kini terpaksa di-grounded sejak akhir Oktober lalu.

Baca juga: Di Tengah Wabah Virus Corona, Mitsubishi SpaceJet Sukses Terbang Perdana

Dikutip dari Japantimes.co.jp (13/11/2020), disebutkan Mitsubishi Heavy Industries (MHI), induk dari manufaktur pesawat Mitsubishi Aircraft Cor telah mengumumkan untuk membekukan proyek SpaceJet. Pangkal musbab yang mengemuka adalah penuruan perjalanan udara yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Dengan pembeluan proyek tersebut, anggaran untuk SpaceJet akan dipotong menjadi 20 miliar yen untuk tiga tahun mulai April 2021 – sekitar satu per dua puluh dari 370 miliar yen yang dialokasikan untuk proyek dari tahun fiskal 2018 hingga tahun fiskal 2020, yang berakhir pada Maret tahun depan. “Kami menyampaikan permintaan maaf yang mendalam (kepada klien) bahwa pengembangan SpaceJet telah tertunda,” ujar Presiden MHI Seiji Izumisawa dalam konferensi pers online.

SpaceJet telah diluncurkan pada 2008 sebagai proyek Mitsubishi Regional Jet (MRJ). Pengiriman pertamanya, yang semula direncanakan pada 2013, telah tertunda enam kali. Sejauh ini, proyek tersebut telah menerima pendanaan sekitar 1 triliun yen, termasuk uang dari kas negara.

Namun, dari kabar yang berkembang, ternyata keputusan untuk meng-grounded proyek SpaceJet tak meluku karena Covid-19. Masih dari sumber yang sama, dikatakan Mitsubishi Aircraft yang berbasis di Toyoyama, Prefektur Aichi, melakukan sejumlah kesalahan perhitungan yang menyebabkan efek bola salju dalam proses produksi. Isu yang mengemuka adalah bahwa perusahaan tersebut “terlalu yakin” bahwa mereka akan mampu membuat semua komponen pesawat sendiri.

Saat perusahaan mengumumkan penundaan pengiriman pertama pada tahun 2010, seorang eksekutif Boeing telah menyarankan agar Mitsubishi Aircraft menggunakan kokpit dari Boeing 737, yang digunakan untuk jet penumpang yang lebih kecil, untuk jet penumpang regionalnya. Tetapi eksekutif Mitsubishi Aircraft menolak tawaran tersebut, bertahan dengan ide untuk memproduksi seluruh pesawat sendiri. Dengan berbagai instrumen dan perangkat komunikasi yang dipasang di kokpit, membuat SpaceJet tampil eksklusif, yang pada akhirnya menyulitkan pengujian dan intergrasi semua perangkat.

Mengadopsi teknologi kokpit dari pabrikan pesawat besar yang sudah digunakan di seluruh dunia akan menghemat banyak waktu dan uang. Ini akan mengurangi jam pelatihan untuk pilot dan kru pemeliharaan, dan memungkinkan mereka untuk lebih cepat terbiasa dengan fungsi kendali pesawat.

Baca juga: Belum Tuntas Soal Regulasi, Boeing Kembali Temukan Masalah di 737 MAX

Kemudian masih ada masalah pada sistem kabel listrik, dimana semuanya terkonsentrasi di satu bagian pesawat. Setelah otoritas AS menunjukkan masalah tersebut ke Kementerian Tanah, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang, Kementerian tersebut menginstruksikan Mitsubishi Aircraft untuk membagi sistem kabel, dan alhasil pabrikan terpaksa mengerjakan ulang lebih dari 23.000 komponen kabel. Pengkabelan pada seluruh sistem pesawat, seperti merevisi pembuluh darah atau sama saja dengan membuat pesawat dari awal.

Intip Livery Pepsi di Pesawat Concorde Seharga Rp 7 Trliun Lebih

Pesawat supersonik Concorde umumnya beroperasi dengan menggunakan livery putih kombinasi biru (Air France) atau merah (British Airways). Namun, tak banyak yang menyadari, bahwa dari 14 unit pesawat yang produksi, salah satunya pernah menggunakan livery berwana biru kombinasi putih dan merah; warna kebesaran dari minuman ringan berkarbonasi terkenal di dunia, Pepsi.

Baca juga: Lolos Tes Terowongan Angin, Pesawat Supersonik Ramah Lingkungan Aerion Kian Nyata

Dilansir Simple Flying, livery Pepsi di pesawat Concorde ini bertahan selama dua pekan, muali akhir Maret sampai awal April, di tahun 1996. Cukup singkat memang -hal itu pula yang menjadikan tak banyak masyarakat yang menyadari penggunaan livery tersebut- namun mahar atas itu nilainya bisa dibilang cukup fantastis.

The Independent melaporkan, Pepsi menggelontorkan uang hampir US$500 juta atau setara Rp 7 triliun (kurs 14.140). Bila jumlah tersebut saja, di masa kini, masih tergolong besar apalagi di tahun dimana kesepakatan tersebut terjadi. Tak ayal, media-media di dunia menyorot tajam kesepakatan kontrak tersebut dan beberapa di antaranya melabeli Pepsi sebagai perusahaan yang cukup berani sekaligus putus asa hanya untuk sebuah rebranding.

Pesawat supersonik Concorde livery Pepsi. Foto: Getty

Selain itu, dari segi Concorde, harga sebesar itu tentu cukup worth it mengingat pamor pesawat supersonik yang terbang perdana (first flight) pada 2 Maret 1969 itu disebut cukup tinggi. Pesawat yang dioperasikan oleh Air France dan British Airways tersebut, saat itu, memang menjadi satu-satunya pesawat supersonik yang beroperasi secara reguler. Dengan status tersebut, Concorde tak pernah lepas dari pengamatan media ataupun avgeek (pecinta penerbangan) di seluruh dunia.

Adapun di antara dua maskapai yang mengoperasikan Concorde, livery Pepsi digunakan di pesawat Air France. Dari data The Aviation Geek Club, pesawat supersonik Concorde livery Pepsi dengan nomor registrasi F-BTSD mengoperasikan 16 penerbangan dalam dua pekan, antara Paris-New York. Sekali lagi, sekalipun cukup singkat, hanya 16 penerbangan, namun, logo baru Pepsi, yang digunakan sampai saat ini, dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, seiring sebaran foto dan video serta pemberitaan terkait Concorde.

Baca juga: Begini Detik-detik Pengambilan ‘Satu-satunya’ Foto Concorde Saat Melesat Mach 2

Setelah melalui masa kejayaannya, masing-masing tujuh unit Concorde yang dioperasikan oleh Air France dan British Airways akhirnya harus pensiun di tahun 2003 silam, sebagai respon atas jatuhnya Air France Concorde pada Juli tahun 2000. Air France lebih dahulu mempensiunkan Concorde pada 31 Mei dan British Airways pada 24 Oktober.

Selama berkiprah di dunia penerbangan, Concorde sudah mengangkut 3,7 juta penumpang, dengan jam terbang lebih dari 200 ribu jam terbang. Pesawat ini mampu membawa 144 penumpang dengan kecepatan 2.200 km per jam atau Mach 2.2 pada ketinggian 17.700 meter.

Roadster, Prototipe Archimoto dengan Tiga Roda dan Tanpa Penutup Atas

Pengembangan sepeda motor listrik di dunia modern ini sudah semakin maju dan bukan lagi dengan roda dua. Pasalnya perusahaan mobilitas Ultimate Fun Machine menghadirkan sepeda motor listrik dengan tiga roda.

Baca juga: Aglis – Angkutan Motor Listrik Tiga Roda Khas Wong Solo

Motor listrik tiga roda ini diberi nama Roadster dan menjadi salah satu prototipe Fun Utility Vehicle Archimoto yang tak berpenutup bagian atasnya. Sebab tipe sebelumnya yakni Polaris Slingshot dan Can-Am Spyder digerakkan dengan listrik tetapi memiliki atas meski merupakan sebuah sepeda motor.

KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (11/11/2020), Roadster saat ini sedang dalam tahap pengembangan prototipe dan didasarkan pada platform yang sama dengan wahana listrik lainnya di armada Archimoto. Dengan tiga roda, prototipe Roadster memiliki dua roda di bagian depan dan satu di belakang.

Meski ada dua roda dibagian depannya,sepeda motor listrik yang satu ini mampu melaju dengan kecepatan tertinggi 75 mil per hours atau sekitar 120 km per jam. Bahkan bisa melaju hingga 102 mil per hours atau sekitar 165 km per jam saat berada di kota.

Meski tak lagi berpenutup di bagian atasnya, ternyata mengakibatkan perubahan pada angka kinerja tersebut. Roadster sendiri dilengkapi dengan tempat duduk tendem seperti sepeda motor pada umumnya.

Namun bagian belakangnya lebih luas untuk penyimpanan barang. Bagian depan Roadster terlihat sangat mirip dengan Fun Utility Vechile dengan perbedaan satu-satunya adalah kaca depan.

Meski belum ada rencana produksi yang solid terungkap, Arcimoto dapat mempertimbangkan untuk menambahkan model ini ke jajaran produknya secepatnya di akhir tahun ini. Sementara itu, perusahaan telah mengumumkan rencananya untuk produksi volume kendaraan listriknya dengan laju 50 ribu per tahun dalam waktu 24 bulan dan telah bermitra dengan DHL Global Forwarding untuk memperluas model penjualan langsung ke pelanggan kepada pelanggan.

Baca juga: The Solo, Electric Vehicle Roda Tiga yang Ramah Lingkungan nan Nyentrik

Pengiriman ke rumah untuk Fun Utility Vehicle akan diluncurkan dalam dua tahap, memusatkan upaya di 48 negara bagian AS yang lebih rendah pada awalnya, dan kemudian menambahkan tujuan Alaska, Hawaii, dan internasional di beberapa titik di masa depan.

Sebarkan Senyum Pada Pelanggan, Pengemudi Taksi Gunakan Kostum Badut

Tawa, senyum dan ekspresi kebahagiaan lainnya sedikit hilang di masa pandemi Covid-19. Hal ini karena virus corona baru tersebut membuat banyak orang kehilangan nyawa mereka sehingga kerabat serta keluarga yang tinggalkan hanya menghadirkan raut wajah yang sedih dan resah.

Baca juga: Belajar Selama Empat Tahun, Pengemudi Taksi Jepang Fasih Berbahasa Inggris

Meski begitu, rasanya tak perlu berlarut dalam kesedihan dan harus bisa membahagiakan diri sendiri dengan berbagi senyum atau tawa kepada orang lain. Mungkin terlihat sederhana tetapi senyuman Anda bisa menghilangkan kesedihan dan keresahan orang lain meski sedikit.

Seperti yang dilakukan seorang pengemudi taksi dengan menjadi badut saat berkendara dan menjemput penumpang. Darren Clark, pengemudi tersebut mengatakan dengan menjadi badut, maka layanan senyuman luar biasa bisa dibagikan kepada pelanggan. Apalagi pengemudi taksi banyak yang suka bersenang-senang sehingga menjadikannya tantangan pribadi untuk menyebarkan kegembiraan.

Selain itu, pria berusia 40 tahun tersebut, mengatakan, dengan menggunakan kostum badut dan riasan wajah senyum yang lebar, bisa membantu banyak orang berjuang untuk tersenyum selama masa sulit seperti pandemi Covid-19 saat ini. Dia bahkan mendekorasi taksinya seperti di penuhi jaring laba-laba dan melakukan bagiannya untuk komunitas.

“Saya ingin berdandan karena sejak wabah Covid, saya melihat banyak orang khawatir dan kesulitan. Saya telah melihat gaya hidup berubah dan banyak hari libur dan acara dibatalkan, dan meskipun kami tidak dapat merayakan acara ini seperti dulu, kami tetap dapat menikmatinya,” katanya yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman newsandstar.co.uk (10/11/2020).

Ternyata penggunaan kostum badut dan mendekorasi taksinya bukanlah hal sia-sia, sebab rencananya berhasil. Di mana pengemudi taksi di radio memberikan tawa yang baik kepada semua orang di Carlisle.

“Semua orang yang saya temui, dari pelanggan, sesama pengemudi dan orang yang lewat, menyukai pakaian itu. Namun, tidak ada yang menganggapnya menakutkan meskipun saya bekerja di siang hari!” ujar Clark.

Baca juga: Taksi dengan Hiasan Lampu Natal di Raleigh Telah Kehilangan Pemiliknya

Ternyata saat-saat menyenangkan itu bahkan belum berakhir. Ini karena Clark sudah membersihkan setelan Santanya dan menyiapkan rusa taksinya yang berbentuk taksi serta semua siap untuk memberi penerangan pada komunitasnya untuk Natal.

Hasil Riset: Pasca Covid-19 Penumpang Inginkan WiFi Onboard dan Leg Room Lebih Luas

Belum lama ini, Inmarsat, operator telepon satelit tertua asal Britania Raya yang beroperasi sejak tahun 1979, meluncurkan hasil riset terbaru terkait keinginan penumpang pesawat saat pandemi Covid-19 berakhir , yang bertajuk Passenger Confidence Tracker.

Baca juga: Sering Bepergian Naik Pesawat, Pasti Tahu Aplikasi Pembobol WiFi Bandara Ini, Kan?

Riset yang dimulai sejak Oktober lalu, dengan dibantu oleh firma riset Yonder, tersebut melibatkan sekitar 10 ribu frequent flyer atau responden yang dalam kurun waktu minimal 18 bulan terakhir bepergian satu kali dengan pesawat terbang.

Dalam riset atau penelitian tersebut, seperti dikutip dari Simple Flying, Inmarsat coba mendalami keinginan penumpang pesawat setelah kondisi kembali normal. Dalam penelitian itu ada banyak sekali hal yang ingin diketahui dari penumpang. Salah satu bidang utamanya adalah persepsi mereka tentang teknologi dan digitalisasi maskapai penerbangan.

Di antara persepsi tentang teknologi dan digitalisasi maskapai penerbangan, mayoritas responden melihat inflight WiFi sebagai hal yang terpenting. Inflight WiFi atau WiFi onboard dinilai akan berperan penting dalam memastikan penerbangan berlansung dengan menyenangkan. Setidaknya ada 39 persen penumpang dari jumlah total keseluruhan responden yang berpendapat seperti itu. Bahkan, penumpang tersebut mengaku akan memilih maskapai yang menyediakan inflight WiFi sebagai pilihan utama.

Anehnya, dari 39 persen penumpang yang memandang inflight WiFi penting untuk dihadirkan dalam penerbangan pasca pandemi Corona berakhir, ternyata datang dari kelompok usia 35-44 tahun. Dari semua kelompok di bawah 54 tahun, rentang usia tersebutlah yang paling tinggi mendorong adanya inflight WiFi, bukan generasi millenial atau rentang usia 25-40 tahun. Padahal, selama ini, millenial dianggap memiliki kebutuhan WiFi onboard yang tinggi saat di pesawat.

Pasca pandemi virus Corona, kehadiran inflight WiFi akan melengkapi faktor kenyamanan penumpang dengan adanya leg room yang lebih luas hingga 43 persen dari luas yang ada saat ini serta service experience dan free bagasi, sebagai tiga yang terpenting.

Kebutuhan WiFi untuk penumpang pesawat agaknya sudah mulai diendus oleh Qatar Airways, jauh sebelum Inmarsat, yang notabene kondang dikenal sebagai penyedia WiFi onboard, merilis penelitian terkait itu.

Pada September lalu, Qatar Airways, salah satu maskapai paling tajir di dunia, merayakan peluncuran pesawat ke-100 miliknya yang memiliki konektivitas ‘Super WiFi’ berkecepatan tinggi (in-flight broadband) yang membuat para penumpang dapat tetap terhubung dengan keluarga, kerabat, dan rekan kerja mereka ketika sedang berada di pesawat.

Pesawat ke-100 dengan koneksi Super WiFi tersebut adalah Airbus A350-900 dengan nomer registrasi A7-ALC. Bertindak sebagai provider akses internet adalah perusahaan komunikasi satelit seluler global, Inmarsat. Mengutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (14/9/2020), disebutkan layanan ini hadir di seluruh armada maskapai sejak peluncurannya pada 2018.

Baca juga: Gara-gara Hotspot WiFi ‘Nyala’ di Kabin, Dua Penumpang Diturunkan dari Pesawat!

Para penumpang Qatar Airways yang berada pada penerbangan dengan GX Aviation dapat menerima hingga satu jam akses gratis ke layanan Super WiFi, dengan pilihan untuk membeli akses penuh selama penerbangan, jika membutuhkan lebih banyak waktu untuk online.

“Karena pada masa yang sulit ini, terhubung dengan orang-orang terkasih dan teman-teman menjadi lebih penting dari sebelumnya, kami sangat bangga untuk bekerja sama dengan Inmarsat dan teknologi GX Aviation untuk menghadirkan broadband Super WiFi berkecepatan tinggi,” ujar Kepala Eksekutif Grup Qatar Airways, Akbar Al Baker.

“Ticc” Mudahkan Pesepeda Memberikan Tanda Belok pada Pengendara Lain

Ketika sepeda kembali berjaya di masa pandemi saat ini, banyak kalangan yang menggunakannya baik sebagai alat transportasi menuju ke tempat kerja maupun hanya untuk berolahraga. Tak hanya itu, karena hal tersebut, maka perangkat untuk kelengkapan sepeda pun semakin banyak, seperti helm, masker, lampu hingga lampu sein untuk memberitahukan pengendara lain ketika sepeda berbelok.

Baca juga: Berkat Teknologi GPS, Lampu Sein di Sepeda Bisa Menyala Otomatis

Salah satunya akan dibahas oleh KabarPenumpang.com yakni sein sepeda yang mana ada kemungkinan indikator sein LED sepeda banyak di pasaran dan mengharuskan pengemudi untuk menekan tombol yang berada di stang. Ini terlihat seperti tombol di sepeda motor, namun untuk mencari kemudahan dan membuatnya lebih sederhana serta aman, perangkat ticc justru mengaktifkan sein melalui head-tilts.

Dilansir dari newatlas.com (12 /11/2020), ticc sendiri dikembangkan oleh sekelompok pengusaha yang berbasis di Bercelona. Bentuknya cakram dengan cincin LED RGB di sekelilingnya dan tahan air. Ini cukup mudah digunakan yakni bisa di pasang di helm menggunakan dudukan magnet neodymium yang memudahkan untuk di copot kembali.

Dalam mode default ticc, semua LED menyala merah seperti lampu belakang standar. Namun, ketika pengguna dengan sengaja memiringkan kepalanya ke satu sisi atau sisi lain, LED di sisi perangkat tersebut mulai berkedip hijau secara berurutan, yang menunjukkan arah belokan yang akan datang.

Untuk memberi tahu pengendara bahwa itu memang telah diaktifkan, ticc juga berbunyi bip saat berkedip dengan nada berbeda untuk setiap sisi. Bunyi bip dan kedipan berlanjut hingga dibatalkan dengan kepala miring ke sisi yang berlawanan.

Selain itu ada juga mode lampu rem, di mana semua LED berkedip merah terang saat diaktifkan dengan menundukkan kepala ke depan. Perangkat mengeluarkan 60 lumens, memiliki sudut pandang 180 derajat dan diisi ulang melalui kabel USB. Saat mengisi daya, level baterainya ditunjukkan oleh jumlah LED yang menyala.

Baca juga: Pengemudi Ojek Sepeda di Kigali Wajib Pakai Helm

Bahkan ticc saat ini menjadi subjek kampanye Kickstarter. Dengan asumsi itu mencapai produksi, janji sebesar €49 (sekitar Rp822 ribu) untuk satu ticc. Kehadiran ticc, diharapkan akan lebih baik daripada Bigo yang merupakan indikator belok LED yang diaktifkan dengan kepala, tetapi itu tidak mencapai tujuan Kickstarter-nya.

Sadar Hidupnya Tak Lama Lagi, Nenek 104 Tahun Maksa Ingin Terbang dengan Helikopter

Entah apa yang ada dibenak Agnes Van Put. Nenek berusia satu abad lebih empat tahun (104) itu memaksa terbang dengan helikopter. Sadar keinginan Agnes harus dituruti, keluarga dibantu pihak terkait pun akhirnya membawanya terbang dengan bantuan pilot lokal di sekitaran rumah tinggalnya, di Sullivan County, New York, Amerika Serikat.

Baca juga: Bertukar Kursi di Penerbangan, Nenek ini Akhirnya Mewujudkan Mimpi Duduk di Kelas Satu

Dilansir recordonline.com, Agnes sebetulnya telah meminta dibawa terbang dengan helikopter sejak awal tahun lalu. Namun, karena pandemi Corona sedang mengganas di dunia, termasuk AS, sampai beberapa waktu belakangan, Anggota Dewan Kota New York, Aileen Gunther, yang mengagumi sosok Agnes sekaligus mengklaim ‘teman’ Agnes, belum bisa mewujudkan keinginannya itu.

Setelah kembali memaksa ingin mewujudkan salah satu keinginannya karena sadar umurnya tak akan lama lagi, Gunther pun mengamininya. Dengan dibantu pilot Michael Croissant, Agnes dan Gunther diajak terbang keliling Sullivan County menggunakan helikopter milik pengusaha terkenal di wilayah tersebut.

Dalam penerbangan di ketinggian sekitar 2.000 kaki itu Agnes berkesempatan melihat keindahan alam Sullivan County sambil melihat kasino Resorts World Catskills di kota Thompson, Bethel Woods, hingga rumah Aileen Gunther di Forestburgh dari ketinggian.

“Sungguh menakjubkan melihat seperti apa (daratan) dari atas,” kata Agnes Van Put saat ditanyai wartawan, tak lama setelah helikopter mendarat.

Menariknya, dari daftar keinginan Agnes di sisa umurnya itu, ia juga ingin untuk terakhir kalinya mengendarai mobil Ford Roadster keluaran 1920. Ia, yang kesehariannya menghabiskan waktu duduk di teras depan rumah sambil menikmati sup dan kue khas desa tempatnya bermukim, mengaku akan sangat senang bila sebelum hidupnya berakhir bisa duduk di kursi kemudi sambil berkeliling kota mengendari mobil tersebut.

Seiring bertambahnya usia, terkadang lansia memiliki keinginan lebih dari sekedar menghabiskan sisa umurnya. Agnes mungkin salah satunya. Selain nenek Agnes, tentu masih banyak di luar sana nenek atau lansia yang berusaha untuk mewujudkan daftar impiannya. Seperti apa yang dilakukan Jo Ann Ussery, nenek 78 tahun asal Benoit, Mississippi, Amerika Serikat (AS). Jo Ann mengaku sangat ingin mempunyai rumah tinggal dari sebuah pesawat Boeing 727 yang dimodifikasi.

Baca juga: Dengan Kocek Kurang dari Rp500 Juta, Nenek 78 Tahun Sulap Boeing 727 Jadi ‘Little Trump’

Dikutip dari mirror.co.uk, ide untuk mengubah Boeing 727 menjadi sebuah huniah idaman sebetulnya diawali dengan musibah yang menimpa Jo Ann. Saat itu, rumahnya hancur diterjang badai es beberapa tahun lalu. Menyikapi hal itu, sang kakak ipar, Bob Farrow, yang bekerja sebagai air traffic control di bandara sekitar, menyarankan agar Jo Ann membeli pesawat tersebut seharga US$2.000 atau Rp29 juta (kurs Rp15.012) untuk diubah menjadi hunian idaman.

Setelah pesawat berpindah tangan, bermodal sekitar US$30.000 atau Rp446 juta (kurs 15.012), ia pun mulai menyulapnya menjadi hunian idaman hari tua dengan berbagai fasilitas layaknya rumah pada umumnya, seperti penghangat ruangan, listrik, tiga kamar tidur, lounge, dapur, tempat cuci baju, tempat cucian piring, pendingin ruangan, oven, mesin cuci, hot-tub, dan sejumlah fasilitas lainnya.

Hyper-Tube Akan Jadi Kereta Berkecepatan Tinggi dengan Tekanan Rendah

Kereta berkecepatan tinggi terus dikembangkan, salah satunya adalah kecepatannya yang ditonjolkan. Seperti dalam uji coba aerodinamis di Korea Selatan, di mana kereta berkecepatan tinggi yang dilengkapi dengan teknologi baru mencapai kecepatan seribu kilometer per jam. Model kereta baru ini dikenal dengan nama hyper-tube yang sudah diuji pada 11 November 2020 kemarin.

Baca juga: Gunakan Teknologi 5G, Kereta Otonom di Korea Selatan dalam Fase Uji Coba

Sebelumnya kereta tercepat diketahui hanya mencapai 600 km per jam dan dengan kesuksesan hyper-tube ini, maka kecepatan yang lebih tinggi bisa untuk dimaklumi. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman somagnews.com (12 /11/2020), kecepatan seribu kilometer per jam tersebut setara dengan penerbangan internasional.

Menurut detail yang diumumkan, model uji 1/17 yang dikembangkan oleh Institut Penelitian Kereta Api Korea (KRRI) merupakan konsep kereta cepat yang mana hambatan udara diminimalkan. Sehingga bisa dikatakan ketika mencapai dimensi aslinya 1/1, maka jumlah udara yang harus ditahan, bobot dan waktu percepatan maksimum pun dapat berubah.

Selama pengujian, hyper-tube rupanya mampu menstabilkan tekanan atmosfer hingga 0,001 ATM. Tekanan atmosfer sendiri bisa dikurangi menjadi 1 ATM di semua kereta lain yang diketahui hingga saat ini.

Bisa dikatakan kehadiran hyper-tube tidak hanya menjadi konsep kereta cepat, tetapi juga menjadikannya konsep kereta dengan tekanan rendah. Nantinya versi ukuran penuh akan di uji pada 2022 mendatang dan hyper-tube bisa saja menjadi pesaing hyperloop.

Meski belum ada gambaran resmi yang diterbitkan oleh KRRI terkait tahapan tes versi ukuran penuh, bahkan menurut informasi, kereta ini akan bersaing dengan milik Elon Musk. Diharapkan, kereta hyper-tube akan diuji pada tingkat 1/1 pada tahun 2022.

Baca juga: Hilangkan Kursi Tengah di Kereta Berkecepatan Tinggi, Texas Train Berharap Beroperasi di 2026

Komponen utama dari sistem yang digunakan di kereta berkecepatan tinggi Elon Musk dan hyperloop lainnya adalah tekanan udara. Namun, komponen dasar Hyper-tube adalah gaya tolak magnet yang diciptakan oleh magnet raksasa. Tahun 2020-an tampaknya menjadi periode persaingan antarbenua di mana kita akan melihat rekor baru dalam teknologi perkeretaapian.