Mengenal Flynas, Maskapai LCC Pertama dan Satu-satunya di Negeri Raja Salman

Dengan cadangan minyak terbesar kedua di dunia, Arab Saudi bercokol sebagai salah satu negara terkaya di dunia Islam. Tercatat, salah satu negara tujuan favorit para tenaga kerja Indonesia (TKI) ini memiliki PDB per kapita mencapai US$24.434 atau Rp364 juta pada 2011, tertinggi ke-6 di Timur Tengah.

Baca juga: Kembali ke Tanah Air, Flynas Siap Terbangkan (Lagi) Jemaah Haji asal Indonesia

Akan tetapi, tak banyak yang menyangka bahwa dalam urusan transportasi, Negeri Raja Salman ini rupanya mempunyai maskapai penerbangan nasional berbiaya rendah (LCC), sesuatu yang agaknya berbeda dengan label sebagai negara kaya raya. Maskapai tersebut adalah Flynas Airlines.

Dilansir tradearabia.com, Flynas, yang dahulu bernama Nas Air, bukan hanya melayani penerbangan murah domestik, tetapi juuga internasional. Bisa dibilang, Flynas ialah maskapai LCC jarak jauh. Itulah mengapa, maskapai LCC pertama dan satu-satunya di negara ini juga melayani penerbangan umrah dan haji di berbagai negara, salah satunya Indonesia.

Maskapai yang didirikan pada tahun 2007 itu saat ini memiliki sekitar armada 29 pesawat, yang mengoperasikan sekitar 1.000 penerbangan per minggu ke-33 tujuan dalam dan luar Arab Saudi.

Meskipun bukan maskapai LCC pertama di Timur Tengah, Flynas bukanlah kaleng-kaleng. Terbukti, maskapai yang telah mengoperasikan lebih dari 170.000 penerbangan dan mengangkut lebih dari 18 juta penumpang ini berhasil menyabet gelar sebagai Leading Low-Cost Airline in the Middle East the World Travel Awards atau maskapai LCC terbaik di Timur Tengah enam tahun berturut-turut sejak 2015 silam, sejalan dengan slogan perusahaan, yakni The Kingdom’s First Low-Cost Airline.

Prestasi tersebut tentu tidak digapai dengan mudah. Sebab, maskapai yang Oktober lalu baru saja kedatangan sembilan dari total rencana 120 armada baru A320neo ini harus bersaing dengan pemain lama LCC di Timur Tengah, seperti Air Arabia (berbasis di Sharjah, Uni Emirat Arab), flydubai (berbasis di Munisipalitas, Dubai, UEA), Air1Air (maskapai LCC pertama di Iran yang berbasis di Teheran), hingga Gulf Traveller (berbasis di Manamah, Bahrain).

“Kami bangga atas penghargaan yang diraih flynas selama enam tahun berturut-turut,” ujar CEO Bander Almohanna.

Baca juga: Etihad dan Air Arabia Kerjasama Hadirkan Low Cost Carrier Baru!

“Memperoleh pengakuan ini pada waktu khusus ini (saat pandemi virus Corona) memiliki makna tambahan dan dengan jelas menekankan bahwa semua rencana yang telah kami terapkan selama periode sebelumnya, di bawah bimbingan dan dukungan dari kepemimpinan kami yang lihai, telah efektif di tingkat operasional dan pengembangan bisnis,” tambahnya.

“Penghargaan ini mencerminkan strategi flynas yang bertujuan untuk mempertahankan posisi terdepan sebagai maskapai paling terpercaya bagi penumpang, dan mengakui timnya yang luar biasa dan berdedikasi yang selalu berusaha memberikan layanan terbaik kepada para pelanggan,” pungkasnya.

Java Nacht Express, Layani Jakarta – Surabaya, Inilah Kereta Mewah Pertama di Indonesia

Dalam benak kebanyakan orang, identitas kereta cepat atau kereta express akan merujuk ke nama-nama seperti KA Bima, KA Argo Bromo, dan KA Gajayana. Tapi tahukah, bahwa pada era kolonial Belanda, di Indonesia sudah melaju kereta express, malah bukan sekedar express semata, kereta yang disebut sebagai “Java Nacht Express” juga di dapuk sebagai kereta mewah, lengkapi dengan fasilitas kamar tidur, menjadikan wahana di era kereta uap ini layak disebut sebagai sleeper train.

Baca juga: Mengenal Eksotisme Layanan Kereta Tidur di Indonesia

Ada label Nacht, maka Java Nacht Express memang melayani perjalanan malam hari dengan relasi Jakarta – Cirebon – Surabaya. Kereta ini pertama diresmikan pada 1 November 1936, menyusul dibukanya jalur kereta Jakarta – Surabaya pada tahun 1894 oleh Staatsspoorwegen. Perjalanan dari Jakarta ke Surabaya dan sebaliknya dapat ditempuh 13,5 jam, sebelum itu perjalanan kereta dari Jakarta – Surabaya bisa memakan waktu 32,5 jam, lantaran kereta tidak berjalan pada malam hari, serta adanya perbedaan lebar lintasan (gauge break) antara Yogyakarta sampai Solo.

Yang menjadi ciri khas Java Nacht Express adalah gerbong kereta mewah dengan nomer seri SS9000 merupakan kereta yang dibeli oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwegen pada tahun 1938 dari pabrik Beynes (Belanda). Dikutip KabarPenumpang.com dari heritage.kereta-api.co.id, Kereta seri SS9000 merupakan kereta dengan fasilitas tempat tidur yang dilengkapi sistem penyejuk udara. Bogie kereta seri SS9000 dilengkapi dengan roller bearing yang mulus dan handal serta dirancang untuk dapat melaju pada kecepatan tinggi. Kereta ini memiliki panjang 20 meter. Kereta ini dibeli dengan tujuan untuk melengkapi kereta mewah Java Nacht Express.

Baca juga: Oriental Desert Express, Sensasi Kereta Mewah Pelintas Padang Pasir

Lokomotif C28

Bagaimana pun SS9000 adalah sebuah gerbong, meski dirancang dapat melaju pada kecepatan tinggi, kinerjanya akan bergantung pada tipe lokomotif yang digunakan. Merujuk informasi dari Wikipedia.org, lokomotif penarik dari Java Nacht Express adalah C28 produksi Henschel Kassel, Jerman. Lokomotif uap ini dinobatkan sebagai lokomotif tercepat dunia untuk tipe Narrow gauge (1.067 mm) yakni 110 km per jam. Pada saat itu rutenya meliputi Jakarta – Bandung, Jakarta – Surabaya, dan Surabaya – Jakarta. Selain itu kehandalannya terbukti karena lokomotif ini dapat melaju dengan kecepatan yang sama pada dua arah. Lokomotif lain yang juga pernah menarik Java Nacht Express adalah C53 buatan Werkspoor, N.V, Belanda. Lokomotif uap ini dapat melesat hingga kecepatan maksimum 90 km per jam.

Tentang kereta (gerbong) SS9000 hingga kini masih lekat di kalangan pecinta dunia kereta api di Tanah Air. Sebutan lain SS9000 adalah Kereta Djoko Kendil. Djoko Kendil terdiri dari 2 gerbong, dan Di usia yang semakin tua, kereta-kereta seri SS9000 mulai terpinggirkan dan turun kelas menjadi kereta penumpang kelas ekonomi dan kereta penolong. Sebagai kereta penumpang kelas ekonomi dan kereta penolong, SS9000 mendapat nomer baru yaitu IW 3821 dan IW 38221. Kereta IW 38212 merupakan bekas kereta penumpang K3 38201 sedangkan kereta IW 38221 merupakan bekas kereta penolong NRU 38201. Kereta Djoko Kendil saat ini telah berhasil direstorasi oleh Balai Yasa Surabaya Gubeng, dan dioperasikan sebagai kereta wisata.

Kereta Djoko Kendil saat ini. Foto: heritage.kereta-api.co.id

Baca juga: Tengok Kemewahan “Venice Simplon – Orient Express, Kereta dengan Tarif Mulai Rp44 Juta

Pada 28 April 2009, Kereta Djoko Kendil mendapat kehormatan untuk membawa Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa menteri, dari Stasiun Tanjung Priok ke Stasiun Pasar Senen.

Rongsokan Mesin Jet Rolls-Royce Disulap Jadi Karavan Unik, Butuh Waktu 1.000 Jam

Mesin rongsokan hampir tidak ada manfaatnya. Namun, jika ada kemauan, mesin rongsok mungkin bisa jadi suatu hal bernilai dan unik, seperti apa yang dilakukan Steve Jones. Mantan teknisi Angkatan Udara Britania Raya (RAF) dikabarkan berhasil mengubah rongsokan mesin Rolls-Royce Conway menjadi sebuah pod karavan unik bernama VC10 Caravan Pod.

Baca juga: Pensiun dari Kedinasan, Helikoper Ini Berubah Fungsi Jadi Cottage Mewah

Dilansir Insider, ide untuk menyulap mesin yang biasa digunakan di pesawat Vickers VC10 itu muncul pada 2013 lalu. Saat itu, ia mendapat kabar bahwa rekan lamanya di RAF telah mempensiunkan pesawat buatan Vickers-Armstrongs tersebut.

Setelah beberapa tahun berlalu, ia pun mendatanginya dan membeli mesin pesawat itu. Proses perakitan mesin rongsok menjadi sebuah trailer atau pod karavan tidaklah mudah. Setidaknya butuh waktu sekitar 1.000 jam atau kurang lebih dua bulan, mulai Januari-Maret 2020 lalu. Kocek yang dikeluarkan juga tergolong mahal, mencapai $5.025 atau sekitar Rp70 juta lebih (kurs 14.084). Itu pun belum termasuk membeli rongsokan atau mesin bekas itu.

Interior pod karavan buatan Steve Jones. Foto: Insider

Disebutkan, mula-mula Jones memotong semua kabel dan pipa, diikuti dengan meratakan bagian bawah mesin agar sesuai dengan sasis. Kemudian, ia menyiapkan dua pintu, jendela, melapisi bagian dalam pesawat dengan kayu, karpet, membuat pajangan di dinding, meletakkan furnitur minimalis, dan membuat lounge-dining area di ruang yang cukup sempit, lengkap dengan dua kursi panjang yang bisa difungsikan sebagai tempat tidur double bed.

“Tugas besar pertama saya adalah membagi mesin menjadi dua, jadi saya bisa menggunakan rangka luar menjadi pod saya,” katanya. “Setelah semua komponen dikeluarkan dan hanya menyisakan dua roda saja, saya memasukkan kayu lapis dan kemudian menambahkan furniture dan peralatan penunjuang lainnya,” tambahnya.

Ketika difungsikan, VC10 Caravan Pod buatan Jones akan tampak lebih lega dengan adanya dua pintu yang membuat separuh karavan tersebut terbuka lebar. Hal itu juga bisa membuat cahaya dan udara segar masuk ke dalam kabin pod itu.

Baca juga: Furrion Rilis Dua Konsep Caravan Futuristik, Salah Satunya Dilengkapi Helipad!

Meskipun sudah selesai dikerjakan dan siap digunakan kapan pun, Jones belum berencana membawa pod karavan unik itu keliling Inggris sampai setidaknya 2021, akibat pandemi virus Corona. Namun, sebelum hal itu terwujud, nampaknya ia akan disibukkan dengan banyaknya pesanan pod karavan serupa dan khusus. Dalam waktu dekat, Jones berencana untuk menyelesaikan pesanan pod karavan senilai $31.477 atau Rp 436 juta lebih (kurs Rp 14.084).

Jones memang mendadak terkenal usai kegiatannya yang berpusat di kediamannya di Leicester, diliput oleh sebuah stasiun TV dan ditayangkan dalam sebuah acara bedah rumah, George Clarke’s Amazing Spaces.

Kekurangan Tenaga Kerja, Jepang Canangkan Operasional Shinkansen Tanpa Masinis

Berbading terbalik dengan di Indonesia, di Jepang kabarnya tengah terjadi penyusutuan jumlah angkatan kerja, alhasil beberapa sektor di Negeri Sakura mengalami kesulitan untuk mencari tenaga kerja. Berangkat dari hal tersebut, East Japan Railway Co (JR East) telah mencanangkan program pengoperasian kereta peluru Shinkansen dengan mekanisme tanpa awak di tahun 2021.

Baca juga: Beruang Serang Pekerja Konstruksi Kereta Peluru Shinkansen Gegara Kehabisan Biji Pohon Ek

Mengutip dari kyodonews.net (10/11/2020), disebutkan JR East akan melakukan uji coba otonom kereta peluru shinkansen seri E7 pada musim gugur mendatang, dengan tujuan mengoperasikan kereta secara otomatis di masa depan di tengah kekurangan tenaga kerja.

Yuji Fukasawa, presiden operator kereta api utama di JR East mengatakan pada konferensi pers, bahwa kereta Shinkansen dengan 12 gerbongnya akan melakukan beberapa uji coba sejauh 5 kilometer di Prefektur Niigata, barat laut Tokyo, antara Oktober dan November untuk pemeriksaan teknis.

Shinkansen seri E7, yang memiliki kecepatan tertinggi 260 km per jam dan melintasi Jepang bagian tengah dan timur. Untuk tahap uji coba, kereta peluru itu akan dikemudikan dari jarak jauh. Meskipun masinis ada di dalam kereta, mereka tidak akan mengoperasikan kereta dan hanya menangani keadaan darurat, sepintas mirip dengan operasional di MRT Jakarta.

Sementara untuk jadwal otomatisasi secara penuh pada Shinkansen, pihak operator belum memberikan keputusan.

Di balik itu semua, JR East berharap sistem otomatis akan mengurangi kesalahan manusia dan meningkatkan keselamatan sembari membantu mengatasi kekurangan masisnis di masa depan di tengah populasi usia kerja yang menyusut. Program otomatisasi kereta peluru di Jepang diperkirakan akan menyedot dana sekitar 200 juta yen (US$ 1,9 juta).

Baca juga: Jumlah Penumpang Turun, JR East Kirim Produk Hasil Laut dari Miyagi ke Tokyo dengan Kereta Shinkansen

Pada saat pengujian di musim gugur, kereta juga akan diintegrasikan dengan komunikasi berbasis teknologi 5G lokal, yang memungkinkan transmisi informasi cepat di area tertentu. JR East memperkirakan test koneksi mobile broadband bakal menelan biaya 80 juta yen. JR East kabarnya telah melakukan tes serupa pada kereta api untuk jalur lingkar Yamanote Tokyo.

Enam Alasan Mengapa Pesawat Tidak Terbang di Atas Pegunungan Himalaya, Nomor Enam Ngeri!

Pesawat, sekalipun sudah dilengkapi dengan teknologi super canggih, tetap saja memiliki batasan-batasan tertentu. Hal itulah yang pada akhirnya membuat pesawat tidak terbang atau bisa juga dibilang menghindari wilayah tertentu.

Baca juga: Unik! Qamdo Bangda Airport Punya Runway Terpanjang di Dunia dengan Cuaca Ekstrem Hampir Sepanjang Tahun

Di tulisan sebelumnya, redaksi KabarPenumpang.com sudah membahas tuntas alasan mengapa pesawat dilarang terbang di atas kakbah serta alasan mengapa pesawat tidak terbang di atas Antartika. Selain dua hal itu, ternyata, pesawat pada umumnya juga menghindari terbang di atas Pegunungan Himalaya. Setidaknya, ada enam alasan terkait hal itu.

Oleh karenanya, agar lebih jelas, berikut kami sarikan dari laman Simple Flying, enam asalan mengapa pesawat tidak terbang di atas Pegunungan Himalaya.

1. Terlalu tinggi
Secara teknis, banyak pesawat modern dapat terbang melintasi Himalaya. Hanya saja, Himalaya merupakan wilayah yang sangat luas. Panjangnya lebih dari 2.300 kilometer dengan ketinggian rata-rata lebih dari 6.000 meter. Puncak tertingginya adalah Gunung Everest yang mencapai 8.848 meter. Itu berarti, pesawat komersial jarak jauh beberapa di antaranya sudah dipastikan tak bisa melewati wilayah ini, seperti Boeing 777-300.

2. Kurangnya medan datar
Wilayah yang luas dan tinggi rupanya masih belum cukup menghalangi pesawat untuk terbang di atas langit Himalaya. Ada hal lain yang juga turut menghalangi, yakni kurangnya medan datar. Saat ini, hanya ada dua bandara dengan landasan pacu yang mumpuni di sana, yakni Bandara Gonggar Lhasa dengan landasan pacu sepanjang 4.000 meter dan Bandara Internasional Tribhuvan Kathmandu yang memiliki landasan pacu 3.350 meter.

3. Area konflik
Sudah bukan satu ada dua pesawat yang mengalami kecelakaan saat melintasi area konflik. Teranyar, pesawat Boeing 737-800 Ukraina International Airlines 752 mungkin bisa jadi salah satu bukti betapa bahayanya bila pesawat komersial melintasi wilayah konflik.

Himalaya sebetulnya masuk ke dalam lima negara, Pakistan, India, Cina, Bhutan, dan Nepal. Dari kelima itu, Cina dan India menjadi dua negara yang kerap berseteru memperebutkan satu-dua wilayah di pegunungan tersebut. Muara dari itu, latihan militer pun kerap dilakukan.

Selain itu, selaku negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, Cina sangat superior untuk mengatur lalu lintas di Himalaya. Sayangnya, Negeri Tirai Bambu itu kerap melarang maskapai komersial melintas. Hanya maskapai Cina yang diizinkan melintasi wilayah tersebut.

4. Kondisi darurat
Saat terbang dengan aman di FL34 di atas puncak tertinggi Himalaya, udara sangat tipis. Bila penerbangan normal, mungkin tak ada masalah. Namun, bila terjadi dekompresi dan pesawat dipaksa turun ke ketinggian sekitar 10 ribu kaki untuk mengamankan pasokan oksigen, tentu hal itu akan sangat membahayakan, mengingat ketinggian tersebut masih dalam range pegunungan.

Baca juga: Bandara Pakyong di Timur Laut India, Tawarkan Eksotisme Himalaya

5. Turbulensi
Ketinggian ekstrem membuat cuaca di sekitaran Pegunungan Himalaya cepat berubah. Sudah begitu, udara yang jernih juga membuat kinerja radar menurun. Akibatnya, potensi turbulensi atau clear air turbulence jadi meningkat dan membuat penerbangan jadi riskan.

6. Bahan bakar membeku
Semakin tinggi terbang, semakin dingin. Bahan bakar pesawat nyatanya bisa saja membeku pada -47 derajat Celcius di sekitaran langit Himalaya. Guna menghindari hal itu, pesawat biasanya terbang lebih rendah untuk mendapatkan udara yang lebih hangat. Namun, hal itu bukan sebuah pilihan terbaik saat terbang di Himalaya.

Buat Para Mahasiswa, Qatar Airways Tawarkan Program Eksklusif untuk Menjelajahi Dunia

Ada kabar baik baik untuk para mahasiswa di seluruh dunia, pasalnya Qatar Airways telah meluncurkan program eksklusif yang diberi label Student Club, yaitu berupa diskon besar dan keuntungan seperti tarif khusus untuk penerbangan, kuota bagasi yang lebih besar, kebebasan mengubah tanggal penerbangan dan Super WiFi gratis di pesawat.

Baca juga: Sejak Februari 2020, 99,9 Persen Penumpang Qatar Airways Bebas Covid-19

“Produk Student Club dirancang khusus dengan mempertimbangkan kebutuhan para mahasiswa. Bepergian adalah bagian penting dari kehidupan mereka karena banyak yang memilih untuk belajar di luar negeri selama masa kuliah atau untuk satu semester saja. Kami juga memahami bahwa masa liburan panjang di universitas adalah kesempatan emas bagi para mahasiswa untuk mengunjungi keluarga, teman, atau sekadar menjelajahi dunia,” ujar Chief Executive Qatar Airways Group, Akbar Al Baker dalam pesan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com (17/11/2020).

Para mahasiswa juga akan terdaftar secara otomatis dalam Qatar Airways Privilege Club — untuk mendapatkan akses ke lebih banyak manfaat — dan akan naik tingkat sebagai hadiah kelulusan, serta berkesempatan mendapatkan 5.000 Qmiles jika mengajak teman bergabung ke Student Club.

Sebagai anggota Privilege Club, para mahasiswa akan mendapatkan Qmiles saat bepergian dengan Qatar Airways, maskapai aliansi Oneworld, atau maskapai mana pun yang menjadi mitra Qatar Airways. Para mahasiswa juga bisa mendapatkan Qmiles dengan menggunakan kartu kredit Qatar Airways dan saat berbelanja di mitra ritel dan gaya hidup Privilege Club. Qmiles dapat ditukar dengan berbagai manfaat menarik, termasuk hadiah penerbangan, peningkatan kabin atau bagasi lebih besar di Qatar Airways, berbelanja di Qatar Duty Free, serta penerbangan dan menginap di hotel mitra Qatar Airways.

Baca juga: Susul Singapore Airlines, Qatar Airways Luncurkan Menu Vegetarian

Anggota Student Club akan mendapatkan kartu digital yang menunjukkan tingkat keanggotaan mereka. Kartu ini dapat disimpan di dompet seluler atau aplikasi seluler Qatar Airways. Semua mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan penuh atau paruh waktu dan berusia antara 18 hingga 30 tahun berhak untuk mengikuti program ini.

Dua Pesawat KLM Tabrakan di Bandara Schiphol, Serikat Pekerja: Akibat Beban Kerja Terlalu Tinggi

Tabrakan antara dua pesawat KLM, Boeing 747 dengan Airbus A330, belum lama ini terjadi di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda. Dalam foto-foto yang beredar di Twitter, tampak hidung Queen of the Skies -yang tengah menanti hari-hari terakhirnya sebelum dipensiunkan secara permanen- penyok akibat hantaman sayap Airbus A330.

Baca juga: Imbas Virus Corona, KLM Pensiunkan Boeing 747-400 Lebih Cepat, Salah Satunya “City of Jakarta”?

Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun korban luka karena pesawat tidak sedang melayani penumpang. Menanggapi kejadian tersebut, serikat pekerja perusahaan menyebut insiden itu merupakan buah dari beban kerja tinggi akibat kekurangan pekerja, bukan semata-mata ketidakprofesionalan petugas di lapangan.

Dilansir Simple Flying, insiden tabrakan bermula saat pesawat Boeing 747 KLM dengan nomor registrasi PH-BFV ditarik towing car. Entah bagaimana ceritanya, armada KLM yang saat ini hanya tersisa tiga unit tersebut melewati area yang cukup sempit dan cenderung dipaksakan untuk dilewati pesawat. Padahal, jelas-jelas di situ melintang sayap pesawat dari Airbus A330-200 KLM Piazza San Marco – Venezia dengan nomor registrasi PH-AOM.

Akan tetapi, bila diperhatikan secara detail, sebetulnya, petugas towing car tak bisa juga dikambinghitamkan. Sebab, Boeing 747 yang ditarik sudah mengikuti line marking atau marka di apron. Dengan demikian, besar kemungkinan kesalahan ada pada petugas, entah pilot atau staf ground handling, yang memarkir pesawat tidak pada tempatnya.

Namun demikian, sekalipun sudah mengikuti line marking yang ada, sudah seharusnya petugas tetap melihat sekeliling. Lagi pula, ukuran pesawat yang cukup besar harusnya tak membuat insiden tersebut terjadi.

https://twitter.com/FakeMikeOLeary/status/1148538082364469249?s=20

Insiden tabrakan di Bandara Schiphol tentu bukan yang pertama. Pada Juli lalu, mesin kiri Boeing 787 Dreamliner TUI rusak akibat bertabrakan dengan garbarata saat ditarik towing car. Mirisnya, pesawat tersebut baru akan kembali mengudara setelah empat bulan di-grounded. Alhasil, pesawat harus masuk hanggar untuk perbaikan.

Baca juga: Mengenal WheelTug, Roda Pendaratan yang Bikin Maskapai Untung dan Pilot Senang

Pada bulan yang sama di tahun lalu, dua pesawat yang sedang melayani penumpang, easyJet Airbus A220 tujuan London, dan KLM Boeing 737-800 tujuan Madrid, juga pernah bertabrakan di bandara tersibuk kelima di Eropa itu. Kedua pesawat bertabrakan saat sama-sama sedang dipushback oleh pushback tractor atau biasa juga disebut pushback truck. The Guardian melaporkan, penumpang dibuat menunggu 2,5 jam karenanya.

Pada Februari 2019, Boeing 747 KLM PH-BFV yang belum lama ini terlibat tabrakan kecil, juga pernah terlibat dalam insiden pushback. Saat itu, pesawat tengah dipush menjauh dari gate dan di saat yang bersamaan, Boeing 787 Dreamliner KLM tengah taxiing. Akibatnya winglet 747 bertabrakan dengan rear stabilizer 787 dan menyebabkan kerusakan substansial pada keduanya.

MGM Grand Air, Maskapai Favorit Tom Cruise, Madonna, dan Julia Roberts yang Bangkrut Gegara Resesi

Metro-Goldwyn-Mayer atau MGM, yang dikenal sebagai produsen film sejak tahun 1920-an, mungkin sudah lumrah didengar telinga masyarakat. Begitupun juga dengan MGM Grand Casino, hotel terbesar di dunia, dengan lebih dari 2.000 kamar, sekaligus pusat judi kenamaan dunia, pasti sudah dikenal luas masyarakat. Namun, bagaimana dengan “MGM” lainnya, dalam hal ini MGM Grand Air? Rasanya, agak jarang terdengar masyarakat luas.

Baca juga: “Trump Shuttle,” Maskapai Milik Donald Trump yang Hanya Berusia 18 Bulan!

Akan tetapi, tidak demikian bagi para pejudi serta selebriti kenamaan dunia. Selain menjadi maskapai charter yang melayani rute antara Bandara Internasional Los Angeles (LAX) dan Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK) di New York, Amerika Serikat (AS), mengangkut para selebriti kenamaan dunia serta orang kaya seantero bumi yang ingin berjudi di MGM Grand Casino, maskapai tersebut juga dikenal lantaran fasilitas yang ditawarkan.

Dilansir Simple Flying, maskapai yang berdiri pada tahun 1987 ini disebut berlapis emas di banyak sudut. Selain itu, tiga pesawat Boeing 727 dan tiga Douglas DC-8 yang dioperasikan juga dilengkapi dengan lapisan kain mewah Versace asal Italia, kursi putar, ruang pertemuan pribadi, sajian gourmet di atas porselen mewah, hiburan berupa enam film yang tayang perdana dan VCR (video cassette recorder), toilet mewah bak di istana, serta layanan telepon udara-ke-darat yang kala itu amat jarang ditemui.

Tak jarang, dengan sederet layanan serta tampilan mewah itu, para selebritis papan atas dan miliarder dunia, seperti Ivana Trump, Madonna, Tom Cruise, Robert De Niro, Julia Roberts, dan Vokalis Guns N ‘Roses Axl Rose sampai kepincut dan menjadi royal customer maskapai milik Kirk Kerkorian, imigran asal Armenia yang lama menetap di AS, ini.

Tarif yang ditawarkan tentu sebanding dengan fasilitas yang bisa dinikmati penumpang. Layanan terbang dari Los Angeles ke New York dipatok seharga $1.400, $1.000 untuk terbang antara Las Vegas dan New York, dan $180 untuk terbang antara Los Angeles dan Las Vegas .

Sebagai maskapai charter mewah, MGM Grand Air hanya memuat tak lebih dari 33 penumpang di setiap penerbangan dalam satu kelas, dilayani oleh sekitar lima pramugari.

Baca juga: Hari Ini 80 Tahun Lalu, Boeing 314 Pan Am Lakukan Penerbangan Berjadwal Perdana Trans-Atlantik

Setelah menikmati masa kejayaannya sejak pertama kali didirikan, lima tahun berselang, tepatnya pada akhir 1992, MGM Grand Air menangguhkan layanan terjadwal antara LAX-JFK dan LAX-LAS serta menyisakan layanan antara Las Vegas dan JFK. Hal itu dilakukan lantaran perusahaan terus merugi. Terlebih, saat itu ekonomi dunia juga tengah terguncang, dimulai dengan resesi yang melanda Amerika Serikat mulai 1990-1992.

Pada tahun 1994, MGM Grand Air akhirnya diakuisisi oleh Champion Air sebagai maskapai charter yang fokus melayani tim olahraga dan supporternya. Setelah bertahun-tahun beroperasi dan terseok-seok, Champion Air akhirnya bangkrut dan tutup total pada 2008.

Natal di Inggris, Nikmati Tur Bersama Lokomotif Steam Dreams

Natal dan salju menjadi salah satu waktu yang ditunggu ketika liburan musim dingin tiba. Selain berkumpul bersama keluarga, banyak orang di benua yang memiliki empat musim menikmati bermain di salju.

Baca juga: Rayakan Halloween, Inggris Buka Tur Kereta dan Kanada Gelar “Bus Hantu”

Bahkan di Inggris tepatnya di bagian selatan, tur yang diadakan oleh Steam Dreams sudah mulai diumumkan. Di mana Steam Dreams telah merilis tiket mereka untuk tur Natal mendatang meski juga harus mengumumkan beberapa pembatalan pada tur tersebut.

Sebagai bagian dari rencana operator tur, ada dua pilihan yakni Santa Specials dan Christmas Dining Specials. Di mana Santa Specials akan berangkat dari London Victoria tiga kali sehari pada tanggal 14, 16, 21 dan 23 Desember 2020.

KabarPenumpang.com melansir laman railadvent.co.uk (11/11/2020), untuk tur Christmas Dining Specials akan berangkat dan meninggalkan London Victoria pada 14, 16, 18, 21 dan 23 Desember 2020. Selain perjalanan tur, Steam Dreams juga mengumumkan pembatalan perjalanan mereka. Yang mana pihak operator tur mengatakan mereka mengikuti pengumuman terbaru pemerintah pada akhir pekan dan membuat keputusan untuk membatalkan perjalanan.

“Adapun perjalanan yang kami batalkan adalah yang berangkat dari Bath pada 29 November dan 1 Desember serta dari York pada 6 Desember,“ ujar David Buck, pemilik Steam Dreams.

Dia mengatakan, meski disayangkan, kesehatan dan keselamatan penumpang, staf dan para relawan mereka adalah yang terpenting. Bahkan menjadikan pedomanan kesehatan dan keselamatan sebagai yang terdepan bagi Steam Dreams. David menambahkan, para penumpang yang terkena dampak pembatalan telah dihubungi pihaknya dan ditawarkan opsi atau pilihan alternatif lain.

”Ini adalah masa-masa yang menantang dan kami memantau situasi setiap hari. Pada catatan positif, kami merasa ada keinginan untuk melakukan perjalanan menuju tahun 2021, dan dengan senang hati saya umumkan bahwa program Musim Semi 2021 kami akan segera dirilis dan semoga memberikan sesuatu yang dinantikan kepada semua orang,” ungkapnya.

Diketahui, tur akan diangkut oleh lokomotif uap Ex-LNER B1 David Buck No. 61306 Mayflower di selatan Inggris. Lokomotif dibangun pada tahun 1948 oleh Perusahaan Lokomotif Inggris Utara di Glasgow.

Baca juga: Jumlah Penumpang Turun, JR East Kirim Produk Hasil Laut dari Miyagi ke Tokyo dengan Kereta Shinkansen

Ini memiliki dua silinder, enam roda penggerak, perapian kotak api seluas 30 kaki persegi dan dapat beroperasi pada 75mph. Kereta tersebut adalah salah satu mesin B1 terakhir yang masih ada yang direkayasa untuk mengangkut kereta penumpang ekspres dan juga lalu lintas barang.

Mengapa Pilot Tak Pakai Masker Saat di Pesawat? Inilah Enam Alasannya

Di masa pandemi virus Corona, seluruh penumpang pesawat diwajibkan memakai masker dan dibekali hasil tes kesehatan, entah itu rapid test ataupun swab test, tergantung kebijaka masing-masing maskapai. Begitu juga dengan para pramugari. Bukan hanya itu, di dalam pesawat, kursi tengah juga diatur agar dikosongkan sebagai upaya menjaga jarak (sekalipun dinilai memang tak efektif karena kurang dari dua meter).

Baca juga: Kenapa Pilot Tak Banyak Memberikan Informasi Saat Terjadi Insiden? Inilah Alasannya

Akan tetapi, kewajiban memakai masker saat di pesawat rupanya tak berlaku untuk pilot. Tentu ada alasan atas perbedaan tersebut. Oleh karenanya, dilansir dari The Point Guy, berikut enam alasan mengapa pilot tak pakai masker saat di pesawat.

1. Komunikasi
Diakui atau tidak, beban kerja pilot cukup tinggi. Selain harus mengoperasikan pesawat dengan ratusan panel di kokpit, menanggung nyawa penumpang, serta berkomunikasi dengan ATC bandara, pilot juga harus berkomunikasi dengan co-pilot (atau sebaliknya), baik secara verbal maupun non verbal (atau melalui bahasa tubuh).

Khusus untuk komunikasi non verbal, hal itu rasanya sulit untuk dilakukan bila pilot dan co-pilot menggunakan masker. Lagi pula, degan beban kerja yang sangat berat, pilot dimungkinkan mengidap stres dengan perubahan situasi saat dalam mengoperasikan pesawat. Salah satu indikasi stres itu bisa dilihat ketika pilot menggigit bibir dan tanda ini mustahil bisa dilihat bila memakai masker.

2. Oksigen darurat
Di ketinggian 43 ribu kaki, pilot -termasuk penumpang- hanya memiliki waktu sekitar 10 detik untuk menggunakan masker oksigen saat terjadi keadaan darurat. Durasi tersebut tentu sangat sempit bila bercampur dengan panik. Bila penumpang pingsan karena kekurangan oksigen, mungkin dampaknya tak terlalu fatal. Namun, bagaimana bila pilot yang pingsan? Tentu, hal buruk akan terjadi.

3. Penglihatan kabur
Terkadang, ketika seseorang memakai masker, udara yang dihembuskan kadang kala membuat penglihatan menjadi kabur. Orang lain bisa saja seperti itu, namun tidak demikian dengan pilot yang notabene mengoperasikan burung besi seberat 190 ton dengan ratusan penumpang.

4. Efek samping
Bukan satu atau dua cerita masker membuat penggunanya merasakan gatal di area wajah. Padahal, konsentrasi pilot tak boleh terpecah sedikitpun saat di kokpit, terlebih saat hendak lepas landas dan turun landas.

Baca juga: KLM Cityhopper Jadi Maskapai Pertama Integrasikan Virtual Flight Deck dalam Pelatihan Pilot

5. Tetap memakai masker
Sekalipun di kokpit pilot tidak memakai masker, namun, ketika keluar kokpit mereka tetap diwajibkan memakainya. Selain itu, seluruh area kokpit juga disemprot disinfektan secara berkala sehingga besar kemungkinan kokpit tetap steril dari patogen berbahaya.

6. Aliran udara
Layaknya kabin, aliran udara di kokpit juga dilengkapi dengan filter HEPA (High Efficiency Particulate Air). Namun, aliran udara di kokpit berbeda dengan aliran udara di kabin. Singkatnya, kokpit tak berbagi udara dengan kabin. Begitupun sebaliknya. Dengan begitu, udara di kokpit bisa dibilang tak kalah sehat dengan di kabin.