Diminati Penumpang Tua, Deutsche Bahn Hadirkan Mesin Tiket Kereta Otomatis Berpemandu Video

Operator kereta api Deutsche Bahn di Jerman sudah mulai melengkapi stasiun kereta api kecil dan menengahnya dengan mesin tiket berpemandu video. Mesin-mesin ini berjumlah sekitar seratus yang berada di sepuluh negara bagian.

Baca juga: Tengah Dikaji Pemerintah, Apakah O-Bahn Bakal Mengular di Indonesia?

Bahkan mesin tiket video terbaru diluncurkan pada bulan Juni 2020 di Stasiun Munich Moosach, tepatnya di jaringan Munich S-Bhan. KabarPenumpang.com melansir dari laman railtech.com (23/6/2020), kehadiran mesin tiket video ini dikatakan pemerintah Jerman menjadi salah satu hal baik untuk mengurangi kontak langsung di masa pandemi Covid-19.

Mesin tiket video tersebut berbeda dengan mesin tiket konvensional. Sebab mesin otomatis yang satu ini dilengkapi dengan mikrofon, pengeras suara dan dua layar di mana satu untuk mencari koneksi kereta yang akan dinaiki penumpang, dan satu lagi untuk komunikasi video langsung dengan penasihat kereta (petugas).

Kehadiran video percakapan dengan penasihat kereta ini untuk memudahkan penumpang perlu mengklarifikasi beberapa informasi atau ketika membutuhkan bantuan membeli tiket kereta melalu mesin. Secara fisik, penasihat tersebut berbasis di pusat layanan Deutsche Bahn dan berbicara dengan pelanggan melalui panggilan video call.

Saat ini Deutsche Bahn memiliki tujuh pusat layanan bantuan video. Mereka berlokasi Braunschweig, Kempten, Ludwigsburg, Saarbrücken, Schweinfurt, Schwerin dan Villingen. Nantinya pada akhir tahun perusahaan kereta tersebut akan menambah pemasangan 20 mesin jenis seperti ini.

Ternyata sejak April 2013 lalu saat mesin tiket berpemandu video ini pertama kali diluncurkan sudah lebih dari 646 ribu pelanggan menggunakan layanan tersebut. Popularitasnya bahkan meningkat setelah adanya pemasangan peralatan baru di seluruh Jerman.

Menurut data dari Deutsche Bahn layanan ini paling populer digunakan oleh penumpang di antara usia 30 hingga 59 tahun dengan presentase 48 persen. Sedangkan pengguna usia lebih dari 60 tahun sebanyak 32 persen. Namun pelanggan yang lebih muda atau di bawah 30 tahun hanya sekitar 20 persen.

Baca juga: S-Bahn, Jaringan Kereta Komuter Tulang Punggung Transportasi di Negeri Bavaria

Hal ini dikarenakan penumpang muda lebih suka menggunakan saluran distribusi lain seperti aplikasi seluler. Sementara tingkat kepuasan pengguna atas layanan ini mencapai 90 persen.

Gawat, 1 dari 3 Pilot di Pakistan Pakai Lisensi Palsu!

Kecelakaan pesawat Airbus A320 Pakistan International Airlines (PIA) PK8303 memberi jalan terbukanya tabir lain. Menteri Penerbangan Pakistan, Ghulam Sarwar Khan, menyebut satu dari tiga pilot di negaranya memiliki lisensi palsu.

Baca juga: Terungkap, Kecelakaan Airbus A320 PIA Diduga Akibat Kesalahan Pilot, Begini Kronologinya!

Dihadapan DPR Pakistan, ia menbeberkan, dari 860 pilot aktif yang bekerja di maskapai domestik dan maskapai asing, 262 di antaranya memiliki lisensi palsu. Dalam prosesnya, mereka menggunakan jasa joki untuk melewati ujian. “Mereka tak memiliki pengalaman terbang,” katanya, seperti dilansir CNN International.

Dalam insiden jatuhnya pesawat Airbus A320 Pakistan International Airlines (PIA) PK8303, Khan memang tak mengungkap dengan jelas apakah pilot tersebut termasuk di dalamnya (menggunakan lisensi palsu). Namun, yang pasti, saat ini, PIA dikabarkan telah menonaktifkan 150 pilot.

Juru bicara PIA, Abdullah Hafeez Khan mengatakan bahwa penyelidikan pemerintah tahun lalu telah menemukan sekitar 150 dari 434 pilotnya mengantongi baik itu lisensi palsu atau mencurigakan. “Kami telah memutuskan untuk melarang terbang 150 pilot itu yang memegang lisensi palsu dengan efek langsung,” jelasnya.

Fakta dari penyelidikan tersebut memang telah menimbulkan misteri baru di balik kecelakaan pesawat PIA belum lama ini. Menteri Penerbangan Federal Pakistan, Ghulam Sarwar Khan mengungkap, kapten pilot dan kopilot sibuk ngobrol membahas Covid-19 sambil melakukan upaya pendaratan awal yang gagal. Padahal, pilot dan kopilot tidak seharusnya berdiskusi soal apapun di kokpit di bawah aturan sterile cockpit rule.

Dari segi kronologi, semua yang pilot lakukan sebelum kecelakaan pesawat terjadi juga terkesan mencurigakan. Diketahui, pesawat PIA K8303 jatuh akibat mengalami kerusakan mesin. Kerusakan tersebut diakibatkan oleh percobaan pendaratan pertama.

Pada percobaan pendaratan pertama, petugas Air Traffic Controller (ATC) sempat mengingatkan bahwa pesawat berada pada posisi yang keliru ketika melakukan pendekatan pendaratan (approach landing) melalui pendekatan Instrument Landing System (ILS).

Saat itu, pesawat tercatat masih melaju dengan kecepatan tinggi, mencapai lebih dari 200 mil per jam (322 kilometer per jam). Padahal, jarak pesawat sebelum touchdown di runway 25 Bandara Internasional Jinnah, di Kota Karachi, sudah begitu dekat dan dinilai tidak sesuai prosedur pendaratan.

Setelah diperingatkan dua kali untuk tidak meneruskan proses pendekatan pendaratan, alih-alih mengikuti saran dari ATC, pilot yang diketahui telah memiliki jam terbang tinggi tersebut justru melanjutkan pendaratan.

Alhasil, ketika touchdown, pesawat mengalami gesekan kuat di lambung dan kedua mesin pesawat akibat roda pendaratan atau landing gear tidak keluar. Menurut laporan, sempat terjadi beberapa benturan sehingga ATC menyarankan untuk pilot agar membawa pesawat kembali ke langit dan melakukan percobaan kedua. Anehnya, pilot tak memberitahu kondisi tersebut (tidak keluarnya landing gear).

Di percobaan pendaratan kedua pada pukul 14.30, sebetulnya ATC yang bertugas kala itu memandu pilot agar berada di ketinggian 3500 kaki. Namun, pilot hanya membawa pesawat pada ketinggian 1300 kaki.

Baca juga: Berlisensi Palsu dan Terbangkan Pesawat Berbadan Lebar, Pilot ini Dipidanakan

Di sinilah pilot memberitahu bahwa pesawat kesulitan untuk mempertahankan ketinggian dan kedua mesin mengalami kerusakan teknis, mengingat, bagian bawah mesin di antaranya terdapat aksesoris gearbox dan pompa hidrolik yang keduanya mungkin saja disfungsi akibat gesekan saat percobaan pendaratan pertama.

Pada proses percobaan pendaratan kedua, tak lama setelah pilot memberitahu keadaan pesawat dan memberi sinyal darurat (mayday) ATC kehilangan kontak, tepatnya pada pukul 14.40 waktu setempat. Pesawat akhirnya diketahui jatuh dan terbakar serta menabrak empat rumah di permukiman Model Colony, 3,2 kilometer dari Bandara Internasional Jinnah.

Bandara Hong Kong Dapat Suntikan Rp64 Triliun, Bagaimana dengan Bandara di Indonesia?

Otoritas Bandara Hong Kong (AAHK) belum lama ini mengaku telah mendapat suntikan dana sebesar HK$35 miliar atau Rp64 triliun (kurs 1 dollar HK – Rp1.825). Pengelola Bandara Internasional Hong Kong (HKIA) mendapat dana tersebut dari 21 bank lokal dan internasional. Padahal, sebelumnya, AAHK hanya merencanakan dana sebesar 75 persen saja atau HK$20 miliar. Namun, karena tingginya minat dari bank, mereka pun menambah jumlah pembiayaan.

Baca juga: Bandara Hong Kong Kucurkan Rp2,8 Triliun Guna Hadapi ‘Serangan’ Virus Corona

AAHK menyebut, pinjaman tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan pasar –baik lokal maupun internasional- terhadap sektor penerbangan Hong Kong masih tinggi. Padahal, sektor penerbangan di negara tersebut tengah anjlok sejak beberapa tahun terakhir akibat krisis politik berkepanjangan serta wabah Covid-19.

“Dukungan ini menunjukkan kepercayaan mereka pada AAHK dan prospek pengembangan jangka panjang Bandara Internasional Hong Kong. Jauh lebih dari sekadar instrumen keuangan, fasilitas ini mewakili kepercayaan komunitas perbankan global terhadap masa depan Hong Kong,” kata Jack So, CEO AAHK dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari bangkokpost.com.

Nantinya, lanjut Jack So, dana tersebut akan digunakan untuk operasional dan pengembangan Bandara Internasional Hong Kong (HKIA), salah satunya ialah konsep Three-runway System yang telah dicanangkan sejak 26 April 2016. Hal ini diharapkan bisa menjadi sebab pertumbuhan HKIA di masa mendatang. Sejauh ini, HKIA diketahui telah terhubung ke sekitar 180 tujuan, melalui lebih dari 1.000 penerbangan setiap hari oleh lebih dari 100 maskapai.

Profesor di Institut Manajemen Penerbangan Sipil Cina, Diao Weimin, menyebut konsep Three-runway System akan berdampak besar pada pengembangan HKIA di masa mendatang. Sebab, maskapai global besar kemungkinan akan meningkatkan frekuensi penerbangan mereka, seiring minat bepergian masyarakat dunia yang juga meningkat.

Meskipun demikian, hal itu tak lantas membuatnya menjadi yang terdepan dalam memanfaatkan pertumbuhan pesat industri penerbangan global (di luar wabah corona). Sebab, berbagai bandara lainnya juga telah bersiap menyambut era itu, seperti kota-kota Greater Bay Area (Guangdong dan Macau), Singapura, serta Korea Selatan.

Volume penumpang di Bandara Internasional Hong Kong sejauh ini dilaporkan turun 99,4 persen YoY (year on year) di bulan Mei. Sementara itu, jumlah penerbangan turun 68,7 persen. Namun, penerbangan kargo justru selama wabah corona meningkat di angka 29,3 persen YoY.

Bandara Hong Kong memang sudah lama mendapat suntikan dana dari berbagai pihak. Di akhir Februari lalu saja, total kucuran dana yang telah disalurkan ke bandara tersebut angkanya mencapai HK$1,6 miliar atau sekitar Rp2,8 triliun sejak pertama kali dikucurkan pada tahun lalu.

Kucuran dana tersebut digunakan untuk mempertahankan ekosistem bisnis yang ada di bandara tersebut, mencakup pemberian konsesi sewa (lahan atau space di bandara) keringanan atau pengurangan biaya dan berbagai bantuan lainnya untuk mengurangi tekanan pada mitra bisnis di HKIA. Lebih spesifik lagi, sasaran penerima bantuan tersebut meliputi gerai ritel, katering bandara, maskapai penerbangan, dan travel agent, baik online maupun offline.

Kucuran dana segar ke sektor industri penerbangan di masa pandemi corona memang massif dilakukan sejumlah negara, tak terkecuali Indonesia. Namun, nominalnya berbeda-beda. Perbedaan itu pulalah yang pada akhirnya membuat iri berbagai pelaku industri.

Baca juga: Walau Miliki Utang Segunung, Dua Kombinasi Finansial Bikin Garuda Indonesia ‘Bernapas’ Lega Sementara Waktu

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Irfan Setiaputra, misalnya, mengaku iri terhadap dana talangan yang didapat Singapore Airlines (SIA) dari pemerintah, sebesar US$ 11,5 miliar. Sementara itu, Garuda Indonesia hanya mendapat US$500 juta. Namun mereka masih patut bersyukur mendapat dana talangan.

Dari suntikan modal kerja percepatan pembayaran kompensasi dan penugasan untuk BUMN sebesar Rp94,23 triliun, modal negara (PMN) sebanyak Rp 25,27 triliun untuk lima BUMN, serta dana talangan modal kerja BUMN sebanyak Rp32,65 triliun, tak satupun tersebut nama pengelola bandara di Tanah Air, PT Angkasa Pura 1 dan PT Angkasa Pura 2. Padahal, sebagaimana bandara HKIA dan berbagai bandara lainnya, mereka juga patut didukung, layaknya airlines (dalam hal ini Garuda Indonesia) untuk menghadapi dampak Covid-19.

Maskapai Kembali Terbangkan Pesawat Penumpang, Bagaimana Tarif Batas Atas dan Bawah Tiketnya?

Maskapai penerbangan di Indonesia kini mulai kembali menerbangkan pesawat mereka setelah hampir lebih dua bulan tak mengangkut penumpang karena adanya pembatasan sosial berskala besar atau PSBB. Namun ketika para operator mulai menerbangkan kembali armada mereka, muncul pertanyaan bagaimana dengan tarifnya?

Baca juga: Cegah Covid-19, Inilah Solusi Agar Penumpang Tak Berhimpitan Saat Masuk ke Dalam Kabin Pesawat

Pertanyaan ini muncul karena di dalam pesawat pun penumpang tak akan lagi penuh akibat Covid-19 dan kursi tengah harus dikosongkan. Sebagai salah satu operator yang sudah mulai kembali menerbangkan pesawatnya, Lion Air Group mengaku masih tetap menjual harga tiket pesawat mereka sesuai dengan aturan regulator yang berlaku yakni Keputusan Menteri Perhubungan No.106/2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri, dalam hal ini tidak melebihi ketentuan Tarif Batas Atas (TBA) dan tidak melebihi Tarif Batas bawah (TBB).

“Formulasi perhitungan yang digunakan adalah wajar dan sesuai keterjangkauan kemampuan calon penumpang membayar berdasarkan kategori layanan maskapai. Lion Air Group telah menghitung dan memberlakukan harga jual tiket secara bijak, penerapan berdasarkan kategori layanan yang diberikan sebagaimana Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No.20/2019 tentang Tata Cara dan Formulasi Perhitungan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri,” kata Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro yang dikutip dari siaran pers, Rabu (24/6/2020).

Danang menyebutkan untuk harga jual tiket pesawat udara saat ini merupakan implementasi penggabungan beberapa komponen menjadi kesatuan. Komponen harga jual tiket sekali jalan atau one way untuk penerbangan langsung atau non-stop yakni tarif angkutan udara, pajak sepuluh persen dari tarif angkutan udara, Iuran Wajib Jasa Raharja (IWJR), Passanger Service Charge (PSC) atau airport tax dan biasa tambahan jika ada.

Dia mengatakan, Lion Air Group berupaya memberikan layanan terbaik mereka dengan tetap mengutamakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan serta tetap patuh pada kebijakan regulator serta standar prosedur operasi perusahaan dan internasional.

Masalah tarif juga kemudian membuat pihak Kementerian Perhubungan mengevaluasi kebijakan TBA dan TBB penumpang pesawat ekonomi niaga berjadwal. Sebab Kemenhub memiliki amanah untuk menentukan TBA dan TBB sebagai pertimbangan pemenuhan aspek keselamatan, perlindungan konsumen dan menghindari persaingan tidak sehat antar badan usaha angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri untuk kelas ekonomi.

“Terkait putusan KPPU untuk memberikan saran dan pertimbangan kepada Kemenhub, kami sangat terbuka terhadap semua masukan dan saran dari berbagai pihak termasuk KPPU sebagai upaya untuk memberikan perlindungan kepada konsumen dan pelaku usaha dalam industri serta efisiensi nasional,” kata Juru Bicara Kemenhub Adita Irawati yang dikutip KabarPenumpang.com dari investor.id (24/6/2020).

Baca juga: Kosongkan Kursi Tengah di Pesawat, Apakah Ini Efektif Selama Pandemi?

Selain itu, Adita juga menyampaikan, di tengah kondisi pandemi Covid -19 saat ini, stakeholders penerbangan, termasuk maskapai, menunjukkan dukungan yang luar biasa untuk melayani kebutuhan transportasi udara. Meskipun penerbangan dilakukan dengan keharusan untuk menerapkan protokol kesehatan dan jaga jarak, yang tentu berdampak kepada okupansi, namun pelayanan penerbangan tetap dilakukan dengan tarif yang sama seperti sebelumnya, sesuai dengan KM 106/2019.

“Langkah ini kami apresiasi, sebab kami tahu stakeholder penerbangan termasuk sektor yang sangat terdampak di masa pandemi ini,” jelasnya Adita.

Awak Kabin United Airlines Wajib Bawa Termometer Setiap Bertugas

Selain masker dan face shield, di masa pandemi Covid-19, termometer menjadi item atau barang yang wajib di bawa oleh masing-masing awak kabin. Hal ini karena mereka akan menggunakannya bukan kepada penumpang atau orang lain, akan tetapi pada diri mereka sendiri.

Baca juga: Serikat Pekerja Awak Kabin di AS Minta Semua Orang Gunakan Masker di Bandara dan Kabin Pesawat

KabarPenumpang.com melansir dari laman paddleyourownkanoo.com (24/6/2020), seperti awak kabin United Airlines yang wajib membawa termometer setiap kali mereka bertugas selain masker. Bahkan pihak maskapai sudah menghadirkan ribuan perangkat termometer pribadi untuk para anggota kru mereka.

Sehingga awak pesawat United Airlines bisa melakukan pengecekan suhu tubuh mereka dua kali sehari dalam upaya mengidentifikasi kemungkinan gejala Covid-19 sedini mungkin. Pada 30 Mei 2020 kemarin, lembaga regulator penerbangan sipil di AS (FAA) memberikan mandat agar operator penerbangan menerapkan persyaratan pemeriksaan kesehatan mandiri untuk awak kabin dan para pilot mereka.

Bahkan sejak awal Juni setiap awak kabin di seluruh Amerika Serikat telah mendapatkan mandat dari FAA yang memerintahkan mereka untuk melakukan pengecekan kesehatan pribadi tersebut. Panduan yang FAA berikan adalah menyarankan para awak kabin untuk mengukur suhu tubuh mereka sendiri, tetapi United Airlines telah menjadi lebih baik dan memastikan awak kabinnya tidak memiliki alasan untuk tidak dapat mengikuti panduan.

Meski para awak kabin ini sudah melakukan pengecekan tubuh secara mandiri sejak awal Juni, namun maskapai United memberikan persyaratan agar awak kabin membawa termometer pribadi dan berlaku pada Rabu (24/6/2020). Sebelum melapor untuk bertugas, awak kabin harus mengecek kesehatan tubuh mereka selama 48 jam terakhir.

Jika awak kabin merasa sakit ringan atau memiliki suhu tubuh lebih dari 37,7 derajat Celcius atau 100 derajat Fahrenheit, maka mereka harus tinggal di rumah dan melaporkan bahwa sedang sakit. Pada hari bertugas mereka juga perlu mengukur suhu tubuh mereka dua kali sehari dan jika merasa demam harus menghubungi manajer tugas dalam penerbangan mereka sesegera mungkin.

Baca juga: Ketimbang Lepas Masker, Pramugari Garuda Kenapa Tak Pakai Masker Transparan Saja?

Meskipun demikian, disarankan agar Petugas Penerbangan menyediakan termometer non-merkuri sendiri dari rumah siapa pun sedangkan bagi yang tidak bawa dan membutuhkan termometer oral pribadi dapat memperolehnya dari pangkalan berikut BOS, CLE, DEN, EWR, GUM, HNL, IAD, IAH, LAS, LAX , ORD, SFO.

Mabuk dan Ngamuk Gegara Diputusin Pacar, Wanita ini Pukul Jendela Pesawat Sampai Retak

Sebuah pesawat Airbus A320 milik Loong Airlines dengan nomor penerbangan 8528 harus mendarat darurat di Bandara Internasional Zhengzhou Xinzheng di ibukota Provinsi Henan, Cina Tengah. Return to base terpaksa dilakukan sang pilot karena seorang penumpang wanita berusia sekitar 29 tahun diduga mabuk dan mengamuk, serta berusaha memecahkan jendela pesawat di ketinggian 30 ribu kaki.

Baca juga: Gara-Gara Vodka, Penumpang Mabuk Hina Awak Kabin dengan Sebutan “Pedofil”

Dilansir KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk (15/6/2020), wanita bermarga Li tersebut diduga telah menghabiskan dua botol beralkohol tinggi sebelum naik pesawat karena tekanan emosional. Dia diduga mabuk untuk menenangkan diri dari masalah percintaannya setelah sang kekasih memutuskan hubungan.

Kaca pesawat yang retak di pukul Li (thesun.co.uk)

Dalam foto yang beredar, Li terlihat menangis dan dalam rekaman video seorang pramugari mencoba menghiburnya serta memindahkan ke kursi yang mulai memukul jendela pesawat sehingga menyebabkan keretakan di lapisan pertama. Karena adanya retakan pada kaca jendela, pilot mau tak mau harus mendarat darurat setelah lima jam terbang.

Setelah mendarat dengan aman, untungnya tidak ada yang terluka pada insiden yang terjadi pada 12 Juni 2020 itu. Namun sebuah foto yang beredar memperlihatkan jendela yang rusak dengan banyak celah.

Li saat mengamuk di pesawat(thesun.co.uk)

Tak lama pesawat mendarat, kemudian Li diamankan pihak kepolisian bandara dan mereka mengatakan, Li telah minum setengah liter alkohol yang terbuat dari biji-bijian di Cina yang dikenal sebagai baiju. Polisi menyebutkan, bahwa minuman keras ini mengandung alkohol hingga 60 persen.

“Li minum 500 ml Baijiu sebelum naik pesawat dari Xining ke kota pantai Yancheng di Provinsi Jiangsu di China Timur,” kata pihak kepolisian.

Baca juga: Diduga Mabuk, Polisi Tembaki Pesawat Air France A330

Atas insiden ini, Li ditahan pihak kepolisian Zhengzhou dengan tuduhan merusak transportasi umum. Tak hanya itu, ketika di periksa, kadar alkohol wanita ini di dalam darahnya 160 ml per 100 ml. Namun tidak jelas hukuman apa yang akan diterima oleh Li.

Bahkan tidak diketahui, apakah dia akan didenda karena kerusakan pada pesawat atau masuk dalam daftar hitam oleh otoritas penerbangan sipil Cina sebagai hukumannya.

Sambut New Normal, Qantas Malah Grounded 100 Pesawat dan PHK 6 Ribu Karyawan! 11 Ribu Lainnya Nyusul

Maskapai terbesar di Australia, Qantas, mengaku akan meng-grounded 100 pesawat hingga setahun ke depan dalam persiapan recovery menyambut era the new normal. Rencana tersebut adalah bagian dari strategi perusahaan setidaknya selama tiga tahun mendatang, dalam balutan konsep 3R; rightsizing, restrukturisasi, dan rekapitalisasi.

Baca juga: Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380

Selain menggrounded pesawat atau dua pertiga dari total armada, maskapai yang memiliki nama panjang Queensland and Northern Territory Aerial Services (Qantas) tersebut juga telah mem-PHK sebanyak 6 ribu karyawan. Bahkan, total 11 ribu karyawan lainnya juga dipastikan menunggu diliran PHK.

Dari berbagai kebijakan tersebut, perusahaan diharapkan dapat menghemat hingga sekitar $10,5 miliar atau sekitar Rp149 triliun (kurs 14.300). Adapun untuk menjalankan konsep 3R itu, Qantas butuh dana sekitar $700 juta atau Rp10 triliun (kurs 14.300).

“Beradaptasi dengan realitas baru ini berarti beberapa keputusan yang sangat menyakitkan. Kehilangan pekerjaan yang kami umumkan hari ini juga sedang kami hadapi. Begitu juga dengan fakta bahwa ribuan lebih dari orang-orang kita yang sedang menghadapi kenyataan pahit kehilangan pekerjaan atau karir mereka sampai waktu yang tak ditentukan,” kata CEO Qantas, Alan Joyce dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.

“Kami harus memposisikan diri selama beberapa tahun di mana pendapatan akan jauh lebih rendah (dibanding masa sebelum pandemi corona). Hal itu berarti menjadikan maskapai lebih kecil (dari segi ekspansi dan jumlah karyawan) dalam jangka pendek,” tambahnya.

Keputusan Qantas mem-PHK 6 ribu karyawan serta 11 ribu lainnya pun menuai protes dari Serikat Pekerja Transportasi Australia (ATWU). Mereka mengecam keputusan tersebut dan meminta pemerintah untuk turun tangan.

“Sebelum Qantas memangkas ribuan karyawan dan membawa lebih banyak pesawatnya ke pihak lessor, mereka harus melobi Pemerintah Federal agar memberikan dukungan finansial guna menghindari karyawan dari jurang PHK dan membantu perusahaan mempertahankan bisnis saat krisis seperti sekarang ini akibat wabah corona,” kata Sekretaris Jenderal ATWU, Michael Kaine.

Namun, tuntutan tersebut langsung dibantah Joyce. “Seperti yang telah kami lakukan sepanjang krisis ini, keputusan kami didasarkan pada fakta yang kami miliki sekarang dan jalan yang kami lihat di depan kami. Rencana tersebut memberi kami fleksibilitas dalam berbagai skenario, termasuk rebound lebih cepat atau pemulihan lebih lambat,” tegasnya.

Meskipun demikian, saat ini, Qantas dilaporkan masih berada pada posisi aman, mengingat stok uang tunai untuk operasional perusahaan masih mumpuni. Namun, perusahaan disebut tetap akan mencari pendaaan jangka pendek untuk memperkuat likuiditas perusahaan dengan berbagai cara.

Baca juga: Intip Cara Qantas Rawat Komponen Landing Gear System Tanpa Harus Terbang

“Grup Qantas memasuki krisis ini dalam posisi yang lebih baik daripada kebanyakan maskapai penerbangan dan kami memiliki beberapa prospek terbaik untuk pemulihan, terutama di pasar domestik, tetapi akan butuh bertahun-tahun sebelum penerbangan internasional kembali seperti semula,” ujar Alan Joyce.

Sebagai informasi, Australia memang dikenal sangat liberal dalam mencermati kondisi industri penerbangan dalam negeri. Alih-alih memberikan suntikan dana –sebagaimana negara lain- Australia justru memberikan kesempatan lebih ke pasar untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Jadi, jangan heran bila terkait kondisi Qantas saat ini, yang notabene maskapai nasional, mereka belum juga sampai turun tangan, sekalipun mendapat kecaman dari berbagai pihak, termasuk ATWU.

(2) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 12 Dinilai Paling Aman

Di artikel sebelumnya, redaksi KabarPenumpang.com telah tuntas mengungkap delapan inovasi interior untuk mencegah transmisi paparan corona di pesawat. Namun, tak berhenti sampai di situ, masih ada tujuh inovasi lainnya yang juga akan kami bahas.

Baca juga: (1) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 8 Paling Canggih

9. A Headrest with Adjustable Benefits

Foto: aircraftinteriorsinternational.com

Reinhold Industries, perusahaan asal AS yang telah berpengalaman memproduksi headrest kursi pesawat selama 20 tahun, juga ikut mengeluarkan inovasi guna mencegah transmisi virus corona di kabin. Cara kerjanya mirip dengan produk lain, menyekat antar penumpang dengan swing headrest yang membatasi samping kanan dan kiri sejajar dengan kepala. Namun, karena tidak transparan, headrest ini berpotensi membuat pengidap claustrophobia atau fobia ruang sempit merasa tak nyaman.

10. PlanBay Panels

Foto: aircraftinteriorsinternational.com

Produk besutan desainer interior pesawat asal Perancis, Florian Barjot, ini bisa dibilang serupa tapi tak sama dengan Isolate Screen, berupa sekat partisi yang memanfaatkan kursi kosong (konfigurasi tiga seat). Bedanya, mungkin terletak pada increased height between rows atau kaca partisi tambahan tepat di belakang kepala penumpang.

11. Glassafe

Screen pelindung bisa dipasang di kursi yang sudah ada. Foto: Aviointeriors via thesun.co.uk

Sebuah perusahaan yang fokus memproduksi produk-produk interior pesawat dan kursi penumpang, Aviointeriors, meluncurkan desain sebuah kursi penumpang ‘anti’ corona. Cara kerjanya (dalam menghindari penumpang dari risiko terpapar corona) yakni dengan menambahkan semacam akrilik ke setiap kursi yang mengapit penumpang.

Desain yang disebut Glassafe tersebut diklaim mampu membatasi kontak langsung dengan penumpang yang disebelahnya (kiri dan kanan untuk kursi di bagian tengah). Selain itu, Aviointeriors juga meluncurkan inovasi kursi berbentuk ‘S’. Kursi tersebut mengubah posisi duduk kursi tengah dari semula menghadap ke depan menjadi menghadap ke belakang. Sejalan dengan Glassafe, poinnya, desain kursi berbentuk ‘S’ juga untuk menekan kemungkinan penumpang terpapar virus Cina dari penumpang di sebelahnya.

Baca juga: Kabar Baik! Inilah Invisibel AirShield, Inovasi Terbaru Cegah Corona di Kabin Pesawat

12. Cocoon Concept

Inovasi interior untuk menekan transmisi penyebaran corona di pesawat. Foto: aircraftinteriorsinternational.com

Seorang siswa di Florida Institute of Technology, Golnoosh Torkashvand, berhasil mengembangkan konsep desain interior Priva. Priva dinilai ampun untuk membatasi transmisi penyebaran virus corona agar tak meluas antar penumpang yang duduk berdampingan. Bentuknya nyaris menyerupai tabung yang menutupi sebagian tubuh bagian atas penumpang.

Menariknya, sekat partisi Priva dapat berubah warna sesuai permintaan. Begitupun juga dengan tingkat pencahayaannya. Tak lupa, inovator juga menyisipkan fitur yang dapat membuat sistem messenger antara pengguna di setiap kursi dengan pramugari.

13. A Barrier Solution

Foto: aircraftinteriorsinternational.com

Vision Systems, sebuah perusahaan spesialis sistem naungan kokpit, telah mengadaptasi desainnya untuk menciptakan sekat penghalang yang ringan, kuat, dan transparan sebagai tameng mencegah transmisi virus corona antar penumpang. Produk dari perusahaan asal Amerika Serikat itu juga efektif memisahkan penumpang tanpa perlu mengosongkan kursi di pesawat.

14. The Travel Safe

Foto: aircraftinteriorsinternational.com

Safran Seats telah mengembangkan serangkaian produk yang dinamai Travel Safe. Produk ini setidaknya memiliki tiga tujuan,mulai dari memaksimalkan physical distancing tanpa mengosongkan kursi tengah, interaksi tanpa sentuhan, dan permukaan sekat partisi bebas virus. Selain itu, Safran Seats juga meluncurkan layanan Create with Safran Seats, sebuah terobosan layanan kreasi bersama. Layanan ini dirancang penumpang untuk merangsan, membayangkan, membuat, menilai, dan mencari solusi baru bersama untuk maskapai dalam waktu singkat.

Baca juga: 1001 Inovasi di Ajang Crystal Cabin Award Berikan Kenyaman dan Keamanan Penumpang

15. The Interspace Seat Design

Foto: aircraftinteriorsinternational.com

Selain mengembangkan secara mandiri, Safran Seats bermitra dengan Interspace Lite untuk mengadaptasi teknologi kursi Interspace dalam mencegah transmisi virus corona antar penumpang pesawat. Cara kerjanya, sandaran kursi tengah pesawat dapat dengan mudah dikonfigurasi ulang dan menjadikannya sebagai sekat antar penumpang. Jadi, tak perlu memasang interior tambahan atau pun mencopotnya saat tak ingin digunakan, seperti produk dari perusahaan lain

Selain tersedia untuk kelas ekonomi, sebagaimana produk-produk sejenis yang telah disebutkan sebelumnya, Interspace Seat Design juga tersedia untuk kelas kursi ekonomi premium. Tentu saja dengan sedikit pengembangan agar membedakan dengan kelas ekonomi.

(1) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 8 Paling Canggih

Berbagai inovasi dilakukan berbagai perusahaan global guna mencegah penyebaran virus corona di pesawat. Umumnya masih dengan cara konservatif –sekalipun tetap inovatif- seperti membuat sekat partisi di kursi dengan beragam bentuk hingga memutar kursi dengan menghadap ke belakang.

Baca juga: (2) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 12 Dinilai Paling Aman

Meskipun demikian, tak sedikit inovasi dari berbagai perusahaan di dunia yang menembus batas-batas normal, seperti membuat sekat udara antar penumpang. Dikutip KabarPenumpang.com dari aircraftinteriorsinternational.com, untuk lebih lengkapnya, berikut daftar 15 inovasi interior guna mencegah paparan virus corona di pesawat.

1. HeadZone

Foto: aircraftinteriorsinternational.com

Produk besutan Factorydesign bisa dibilang inovatif, bukan hanya untuk mencegah paparan corona antar penumpang, melainkan juga ramah lingkungan. Sebab, HeadZone terbuat dari kardus bekas daur ulang. Karena terbuat dari kardus, produk besutan perusahaan asal Inggris ini bisa dengan mudah dilipat dan dibongkar pasang di kursi. Menariknya, produk ini juga bisa dipasangi iklan. Jadi, sangat multifungsi guna menyokong pendapatan maskapai.

2. Isolate Screen

Foto: aircraftinteriorsinternational.com

Tak hanya membuat HeadZone, Factorydesign juga membuat Isolate Screen. Isolate Screen berupa sekat termoplastik transparan. Selain itu, Isolatet Screen juga dilengkapi dengan armrest. Jadi bisa lebih nyaman. Hal itu dimungkinkan dengan memanfaatkan kursi tengah yang dikosongkan maskapai. Dengan begitu, upaya physical distancing bisa lebih maksimal.

3. Soft Cabin Divider

Foto: aircraftinteriorsinternational.com

Soft Cabin Divider berfungsi untuk menyekat udara antara satu row dengan row lainnya, bukan menyekat antar kursi penumpang, sebagaimana produk inovasi interior anti Covid-19. Selain itu, produk ini juga mengganggu pemandangan penumpang lain yang berada di belakang. Jadi, disebut kurang maksimal. Meskipun demikian, produk besutan Jamco America tetap memiliki beberapa kelebihan, seperti fleksibel dan mudah dipasang mengikuti lekukan kursi.

4. Disposable Seat Covers

Foto: aircraftinteriorsinternational.com

Disposable Seat Covers mungkin salah satu produk paling boros. Sebab, produk sejenis sarung jok besutan AviationRFI ini memang didesain hanya untuk sekali pakai. Namun, esensinya tetap sama dengan produk inovatif lainnya, mencegah paparan corona di pesawat, khususnya partikel corona yang tertinggal di kursi pesawat. Produk ini terbuat dari kain PPE berstandar medis, jadi dapat di daur ulang.

5. Glass Shields

Foto: aircraftinteriorsinternational.com

Perusahaan asal Belanda, Aviation Glass, merilis produk AeroGlassShield untuk mencegah paparan virus corona antar penumpang dengan sekat kaca transparan. Produk ini diklaim sudah melewati sertifikasi badan keamanan dan keselamatan penerbangan Eropa atau EASA. AeroGlassShield disebut tahan gores, tahan api, dan mudah dibersihkan, serta bobotnya lebih ringan daripada plexiglass.

6. Removable Divider System

Foto: aircraftinteriorsinternational.com

Removable Divider System (RDS) Shield keluaran Aerofoam Industries secara prinsip nyaris sama dengan produk lainnya, berupa sekat partisi transparan yang mudah dibersihkan. Produk ini juga mudah dibongkar pasang serta disesuaikan dengan kebutuhan. Kelebihannya, mungkin terletak pada cup holders and recessed stowage sebagai fitur tambahan untuk penumpang. Selebihnya, sama saja.

Baca juga: Bersiaplah, Ajang Crystal Cabin Awards Akan Hadirkan Desain Kabin Pesawat Masa Depan

7. Passenger Protection Screens

Foto: aircraftinteriorsinternational.com

Autostop Aviation biasanya hanya memproduksi sarung jok, namun belakangan perusahan asal Serbia itu diminta untuk membuat sekat partisi transparan oleh maskapai penerbangan di negara tersebut. Produk ini dikabarkan telah melewati sertifikasi dari EASA.

8. Invisibel AirShield

Invisible AirShield yang diklaim mampu mencegah penyebaran virus corona di kabin pesawat. Foto: CNN International

Invisible AirShield berfungsi untuk melindungi penumpang yang satu dari penumpang lainnya melalui sekat udara –layaknya sekat partisi pada produk dari perusahaan lainnya- serta meningkatkan aliran udara dan membantu menekan penyebaran kuman di dalam kabin. Produk besutan perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS), Teague, ini ditempel di overhead cabin dan menyemburkan udara yang mengurung penumpang, sehingga transmisi partikel antar penumpang bisa terisolir.

Sterile Cockpit Rule, Inilah Aturan yang Melarang Pilot dan Kopilot ‘Ngobrol’ Selama Penerbangan

Penyebab pesawat Airbus A320 Pakistan International Airlines (PIA) PK8303 yang jatuh dan terbakar serta menabrak empat rumah di permukiman Model Colony, 3,2 kilometer dari Bandara Internasional Jinnah akhirnya terungkap.

Baca juga: Terungkap, Kecelakaan Airbus A320 PIA Diduga Akibat Kesalahan Pilot, Begini Kronologinya!

Menteri Penerbangan Federal Pakistan, Ghulam Sarwar Khan membeberkan, kapten pilot dan kopilot sibuk ngobrol mengenai Covid-19 sambil melakukan upaya pendaratan awal yang gagal. Padahal, pilot dan kopilot tidak seharusnya berdiskusi soal apapun di kokpit di bawah aturan sterile cockpit rule.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari CNN International dan The Telegraph, sterile cockpit rule merupakan aturan yang wajib ditaati pilot –termasuk oleh awak kabin- selama dalam penerbangan, mulai lepas landas sampai mendarat. Di bawah aturan tersebut, pilot memang tak bisa berbuat banyak kecuali fokus pada hal-hal berkenaan dengan operasional penerbangan.

Pilot dan kopilot baru diizinkan melakukan hal-hal di luar operasional penerbangan, seperti menggunakan telepon seluler, memfoto panorama sekitar, main laptop, melihat pemandangan di daratan, ngobrol , dan kegiatan lainnya ketika pesawat berada di atas ketinggian 10 ribu kaki. Di bawah itu, mereka sama sekali tak bisa berbuat banyak.

Namun perlu diingat, sekalipun pesawat sudah berada pada ketinggian di atas 10 ribu kaki, aturan makan dan minum di kokpit pada umumnya tetap tidak diperbolehkan seiring terjadinya masalah. Di akhir tahun lalu dan awal tahun ini, misalnya, insiden tumpahan kopi atau minuman lainnya telah menyebabkan kerusakan panel center pedestal dan pada akhirnya mempengaruhi kinerja pesawat.

Catatan The Telegraph, aturan sterile cockpit rule mulai digaungkan oleh Amerika Serikat (AS) sebagai respon atas jatuhnya pesawat Eastern Airlines 212 pada tahun 1974. Pesawat tersebut jatuh di runway Bandara International Charlotte Douglas di tengah terjangan kabut tebal yang membatasi visibilitas. 72 nyawa dilaporkan tewas karenanya.

Meskipun visibilitas buruk akibat kabut tebal, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) AS menyimpulkan kecelakaan terjadi akibat pilot lack of altitude awareness atau pilot kurang peka terhadap ketinggian pesawat di fase kritis -seperti menjelang pendaratan atau lepas landas- saat melakukan approach karena pilot ngobrol.

Pilot diketahui ngobrol berbagai hal yang sama sekali tak ada hubungannya dengan operasional penerbangan yang sedang mereka jalani dan pada akhirnya membuat fokus mereka terpecah sehingga berujung kecelakaan fatal. Setelah menjalani proses panjang, tujuh tahun kemudian barulah aturan sterile cockpit rule mulai diberlakukan.

Baca juga: Setelah Dua Insiden, EASA Keluarkan Aturan Bebas Cairan di Dalam Kokpit Airbus A350

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, regulator penerbangan sipil AS (FAA) menyebut pemahaman sterile cockpit rule yang kurang menyeluruh pada akhirnya hanya mengakibatkan kebingungan oleh awak kabin. Hal ini justru lebih membahayakan dibanding pelanggaran terkait sterile cockpit rule itu sendiri. Di beberapa kasus, awak kabin dilaporkan tak berani berkomunikasi dengan awak kokpit akibat dibayang-bayangi aturan ini.

Oleh karenanya, berbagai maskapai pun menspesifikasi turunan dari aturan sterile cockpit rule. Japan Airlines, misalnya, mengatur bahwa awak kabin boleh melanggar aturan tersebut (menghubungi pilot dan kopilot) saat terjadi kebakaran, asap di kabin, abnormality atau hal-hal tidak biasa pada pesawat selama lepas landas ataupun mendarat, adanya kebisingan dan getarangan tidak normal, serta terjadinya kebocoran bahan bakar atau kebocoran lainnya.