Uni Emirat Arab Tangguhkan Penerbangan dari Pakistan, Buntut 262 Pilot Berlisensi Palsu?

Otoritas Penerbangan Sipil Uni Emirat Arab (GCCA) kemarin mengumumkan bahwa mereka akan menangguhkan untuk sementara waktu penerbangan dari Pakistan. Penangguhan penerbangan tersebut sudah mulai efektif pada Senin hari ini dan akan terus berlaku sampai batas waktu yang tak ditentukan.

Baca juga: Gawat, 1 dari 3 Pilot di Pakistan Pakai Lisensi Palsu!

Atas keputusan tersebut, GCCA menghimbau kepada seluruh calon penumpang agar sesegera mungkin menghubungi pihak maskapai atau agen travel untuk mencari alternatif terbaik. Termasuk juga bagi calon para penumpang yang transit di Uni Emirat Arab (UEA).

Hanya saja, hasil penelusuran Simple Flying melalui Flight Radar, hingga hari ini dan besok, penerbangan dari berbagai kota besar di Pakistan, Lahore, Karachi, dan Islamabad, masih aktif dan belum dibatalkan. Lahore, misalnya, masih akan menerbangkan beberapa maskapai dalam dan luar negeri, mulai dari flyDubai, Emirates, AirBlue, hingga Air Arabia.

Anehnya, satu-satunya maskapai yang telah membatalkan seluruh penerbangan dari dan ke Pakistan justru datang dari Qatar Airways, yang jelas-jelas sama sekali tak memiliki penerbangan langsung maupun transit ke UEA.

Menanggapi keputusan tersebut, berbagai pihak berspekulasi bahwa UEA mengambil langkah preventif untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang melibatkannya, mengingat belum lama ini, sebanyak 262 dari 860 pilot aktif di Pakistan kedapatan memakai lisensi palsu. Dari jumlah tersebut (262), 150 pilot di antaranya tercatat sebagai pilot maskapai Pakistan International Airlines (PIA), yang belum lama ini mengalami crash di permukiman Model Colony, 3,2 kilometer dari Bandara Internasional Jinnah, Pakistan.

Namun, dari laporan Gulf News, GCCA menangguhkan penerbangan langsung dan transit dari Pakistan bukan karena skandal pilot Pakistan berlisensi palsu, melainkan karena wabah Covid-19. Saat ini, perkembangan terakhir pandemi corona di negara tersebut memang dianggap semakin mengkhawatirkan dengan lebih dari 200.000 kasus positif dan merenggut 4.100 jiwa.

Tetapi, tetap saja, bila wabah Covid-19 menjadi dasar penangguhan penerbangan dari Pakistan, seharusnya negara lain seperti Amerika Serikat (AS), Rusia, dan berbagai negara lainnya di Asia harusnya juga dilakukan tindakan serupa. Faktanya, jelang pembukaan kembali penerbangan internasional pada 7 Juli mendatang, UEA belum mengeluarkan keputusan penangguhan lain kecuali penerbangan dari Pakistan.

Baca juga: Sterile Cockpit Rule, Inilah Aturan yang Melarang Pilot dan Kopilot ‘Ngobrol’ Selama Penerbangan

Alih-alih menangguhkan penerbangan dari berbagai negara dengan perkembangan kasus Covid-19 terbaru, seperti Pakistan, UEA cenderung melakukan tindakan preventif lainnya dengan berbagai cara.

Mulai dari mengunduh aplikasi COVID-19 DXB (yang memungkinkan penumpang berkomunikasi langsung dengan Tim Gugus Tugas Covid-19 UEA bila mengalami gejala-gejala mirip Covid-19), mengisi surat keterangan sehat, memiliki asuransi kesehatan yang masih berlaku, hingga mewajibkan ke seluruh penumpang menunjukkan hasil test PCR dengan validitas maksimum empat hari sebelum tanggal keberangkatan.

Inilah Alasan Kenapa Boeing Tak Buat Seri 777-100

Bagi pecinta aviasi, sebagian besar mungkin sudah mengetahui bahwa Boeing 777 atau triple seven pertama ialah 777-200. Padahal, model lainnya, Boeing selalu memulai dengan seri 100, seperti Boeing 737-100, 747-100, hingga 707-100.

Baca juga: Ternyata Boeing 777 Sempat Dirancang dengan Konsep “Trijet”

Dirunut dari sejarah, Boeing sebetulnya tidak benar-benar melewatkan angka -100 pada 777. Sebelum Boeing 777-200 melakukan first flight pada 1994, seri 777-100 sudah terlebih dahulu dirilis Boeing pada tahun 1978. Kala itu, mereka merilis bersamaan dengan dua pesawat lainnya; 757 dan 767.

Boeing 777-100 merupakan pesawat trijet yang sangat mirip dengan model trijet lainnya keluaran McDonnell Douglas, DC-10. Hanya saja, Boeing bisa dibilang telat untuk memproduksi trijet yang mulai populer sejak pertama kali diperkenalkan raksasa dirgantara asal Inggris, Hawker Siddeley pada 1960-an.

Bahkan, bisa dibilang, jikapun Boeing tetap memaksakan model trijet 777-100, hampir dapat dipastikan bahwa mereka akan mengalami kerugian. Sebab, dipenghujung tahun 70-an adalah fase menurunnya trijet setelah memperoleh hasil gemilang selama satu dekade antara tahun 60an sampai 70an. Kala itu, trijet mengalami mimpi buruk akibat relaksasi aturan Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS).

ETOPS yang direkomendasikan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), saat itu mengatur bahwa pesawat twin-jet hanya diizinkan terbang separuh dari kemampuannya. Itu berarti, sekalipun memiliki dua mesin, ketika beroperasi pesawat hanya dihitung sebagai satu mesin.

Hal ini dilakukan agar ketika pesawat mengalami kegagalan mesin di salah satunya, pesawat tetap bisa terbang untuk melakukan pendaratan darurat dengan mesin lainnya. Rekomendasi itu kemudian disadur oleh regulator dunia, tak terkecuali regulator penerbangan sipil AS (FAA) dengan sebutan “60-minute rule”.

Dengan aturan tersebut, praktis, pergerakan pesawat-pesawat twin-jet sangat terbatas. Tak lebih dari rute domestik dengan jangkauan berkisar 60 menit perjalanan. Di saat itulah era tri-jet atau pesawat dengan tiga mesin dimulai. Saat itu, pesawat McDonnell Douglas DC-10 dan Lockheed L-1011 Tristar yang notabene memiliki tiga mesin menjadi primadona maskapai untuk mengantarkan penumpang ke belahan bumi lain atau jarak jauh.

Perlahan tapi pasti, seiring perkembangan teknologi, ICAO mulai meningkatkan ambang batas ETOPS pada pesawat bermesin ganda menjadi 120 menit mulai tahun 1980-an hingga 180 menit di akhir dekade tersebut.

Hal itupun mendorong pengembangan pesawat twin-jet jarak jauh untuk mendapatkan efisiensi lebih dari yang ditawarkan tri-jet, baik efisiensi dalam segi operasional maupun perawatan dan produksi yang pada akhirnya dapat mempengaruhi harga. Pada akhirnya, Boeing 777-100 pun batal meluncur.

Meski demikian, dikutip dari Simple Flying, Boeing menilai tetap harus menutup celah antara 767 dan 747. Bila tidak, mereka hanya akan menjadi penonton di kelas tersebut, dimana mayoritas maskapai lebih tertarik pada A330 dan A340 yang dinilai lebih lebar. Atas dasar itu, mereka pun akhirnya merilis 777-200, bukan 777-100, mengingat model tersebut sudah pernah dirilis pada 1970-an sehingga tidak membingungkan pelanggan di kemudian hari.

Belum puas, Boeing ingin mengembangkan 777-200 agar tetap bisa terus bersaing. Setidaknya mereka punya dua pilihan, mempendek dimensi 777-200 atau meningkatkan berat lepas landas maksimum (MTOW).

Pada September 1996, Boeing memulai gebrakan dengan memperkenalkan dua model baru hasil pengembangan 777-200, yakni Boeing 777-100X dan Boeing 777-200X. Keduanya masing-masing akan membendung Airbus A340-800 dan A330-200.

Baca juga: Mengapa Pesawat Tri-Jet Tidak Se-Populer Twin-Jet dan Quad-Jet? Berikut Ulasannya

Boeing 777-100X sendiri adalah pesawat Boeing 777-200 berkapasitas 250 tempat duduk yang dapat terbang sejauh 15.725 km. Dari segi dimensi, pesawat berukuran 6,4 meter lebih pendek dari 777-200 dan memiliki MTOW sebesar 300 ton. Adapun dapur pacu masih sama dengan 777-200.

Dalam perkembangannya, model 777-200X lah yang lebih diminati maskapai di Amerika dan Asia. Selain menawarkan kursi 8-9 persen cost per kilometer lebih rendah dibanding 777-100X, 777-200X juga diminati maskapai karena kemampuan MTOW yang lebih tinggi dari -100X.

Trem Hybrid Melintas di Jalur Krakow Polandia

Teknologi kereta api di Polandia sepertinya mulai berkembang pesat, karena setelah menguji trem otonomnya, di jalur Kraków juga diperkenalkan inovasi baru lainnya di jaringan transportasi publik. Trem Stadler Tango adalah inovasi baru yang dapat dijalankan dengan menyalakan kabel overhead dan baterai onboard.

Baca juga: Unik! Di Polandia Ada Kapal Laut ‘Berjalan’ Di Atas Daratan

Bahkan trem yang disebut trem hybrid ini sudah melayani salah satu rute kota secara teratur. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railtech.com (19/6/2020), pada kamis (18/6/2020) kemarin, MPK Kraków yang merupakan salah satu operator transportasi di Polandia secara resmi memperkenalkan jenis trem baru di jaringannya.

Dua dari trem baru Tango ini memulai operasionalnya secara reguler di jaringan kota. Sedangkan dua lainnya tengah dipersiapkan untuk masuk ke layanan. Sedangkan kendaraan ketiga akan mulai mengangkut penumpang pada akhir pekan ini sementara yang keempat akan diperkenalkan di rute Kraków dalam beberapa minggu mendatang.

Satu diantara trem Tango dengan nomor seri RY825 dilengkapi dengan baterai sehingga ketika beroperasi bisa melaju tanpa kabel dalam jarak tiga kilometer. Selama peresmian, trem ini melakukan perjalanan bebas catenary di lingkaran Stasiun Czerwone Maki di bagian barat daya kota.

Trem tersebut berjalan di Jalur 52 yang menghubungkan Piastów dengan Stasiun Czerwone Maki. Trem kedua dengan nomor seri RY826 tidak memiliki baterai tetapi memiliki temapt khusus untuk memasangnya di masa depan. Trem ini melayani Jalur 3 antara Nowy Bieżanów dan Krowodrza Górka.

Jenis trem terbaru ini dijuluki Lajkonik yang merupakan simbol tidak resmi dari Kraków. Semua trem ini memiliki panjang 33,4 meter dan lebar 2,4 meter. Setiap trem bisa mengangkut sebanyak 225 penumpang dengan 82 penumpangnya duduk serta sisanya berdiri. Trem ini dilengkapi dengan pendingin udara, kamera video, pencahayaan LED interior dan sistem informasi penumpang modern.

Bahkan trem ini dilengkapi sistem pemulihan untuk menggunakan energi pengereman. Untuk diketahui, perusahaan transportasi kedua terbesar di Polandia ini menyelesaikan dua pesanan dengan Stadler untuk trem Tango dan menurut kesepakatan pertama, 50 kendaraan harus dikirimkan pada akhir tahun. Dua trem dari pesanan pertama akan dilengkapi dengan baterai dan yang lainnya hanya memiliki tempat khusus untuk meletakkan baterai itu.

Baca juga: Perkeretaapian Polandia Gandeng Nokia Dalam Luncurkan Jaringan GSM-R

Kesepakatan kedua termasuk 60 trem di mana dari jumlah tersebut, perusahaan angkutan umum awalnya memesan sepuluh unit. Setelah itu, pesanan perusahaan ditingkatkan hingga 35 unit. Sedangkan 25 kendaraan lainnya masih merupakan opsi yang dapat dilakukan di tahun-tahun mendatang dan 35 trem dari pesanan kedua dijadwalkan untuk pengiriman pada 2022-2023. Semua kendaraan akan diproduksi di fasilitas Stadler di Polandia, di Środa Wielkopolska dan Siedlce.

Sky Bus Tokyo Alami Lonjakan Penumpang Setelah Pembatasan Dicabut

Sejak 28 Maret 2020 operator tur Sky Bus Tokyo harus memberhentikan sementara operasional mereka karena wabah Covid-19. Tetapi pada Jumat (19/6/2020), perusahan ini melanjutkan tur mereka dengan menerapkan langkah-langkah keamanan dan kesehatan untuk penyebaran virus corona.

Baca juga: Angkut Penumpang Kereta Secara Acak, Bus Ultra Mewah Yuga Akan Beroperasi 5 Hari di Tokyo

Bahkan satu hari setelah dibuka yakni Sabtu (20/6/2020), operator tur Sky Bus Tokyo mengalami lonjakan penumpang pada bus tingkat terbuka mereka. Lonjakan ini pun tepat sejak pertama pembatasan perjalanan di cabut secara nasional.

KabarPenumpang.com melansir laman the-japan-news.com (21/6/2020), pada perjalanan perdana setelah pembatasan dicabut, penumpang yang naik bus tampak menikmati cuaca sejuk di dek atas untuk melihat pemandangan di pusat kota Tokyo termasuk jalan-jalan Ginza dan Tsukiji dimana orang mulai banyak beraktivitas kembali.

“Kursi di antara penumpang dibiarkan kosong sebagai bagian dari langkah-langkah keamanan virus,” kata petugas yang mengenakan masker kepada penumpang di lantai dua bus.

Petugas berusia 22 tahun itu mengumumkan nama-nama semua situs yang dilalui oleh bus wisata seperti di Menara Tokyo, Rainbow Bridge, Istana Kekaisaran dan distrik Ginza dan Marunouchi.

“Bus terbuka memungkinkan kami menghindari ‘Tiga C’ (closed spaces, crowded places, and close-contact settings atau ruang tertutup, tempat ramai, dan pengaturan kontak dekat) dan kami harus menikmati pemandangan populer Tokyo yang biasanya tidak kita lihat,” kata seorang penumpang berusia 35 tahun.

Penumpang tersebut bepergian dengan anaknya yang berusia empat tahun dan enam tahun. Dia mengaku anak-anaknya senang berfoto dan mencari mobil sport di sepanjang jalan raya.

Perusahaan yang beroperasi di Sky Bus Tokyo Hinomaru Jidousya Kougyo Co. telah mengurangi separuh kapasitas standar bus dari 46 penumpang untuk menjaga jarak antar penumpang. Sebelum naik, operator meminta penumpang untuk memeriksakan suhu mereka dan mendisinfeksi tangan mereka dengan alkohol. Anggota kru juga mendesinfeksi tangan dan tempat duduk selama pergantian penumpang.

Baca juga: Werkudara, Bus Tingkat di Solo Besutan Karoseri Indonesia

Perusahaan telah memasang penghalang akrilik di konter tiket untuk meminimalkan risiko infeksi dari tetesan pernapasan dan juga secara ketat memeriksa suhu karyawannya. Selain itu tanggal 26 Juni mereka juga akan membuka kembali sebagian dari program layanan wisata bus amfibi Sky Duck.

Tahun 2026, Rusia Akan Punya Kereta dengan Kecepatan 400 Km Per Jam

Rusia mulai kembali mengembangkan kereta api berkecepatan tinggi yang nantinya akan menghubungkan kota-kota besar di negara tersebut. Kereta ini digadang-gadang akan mampu melaju dengan kecepatan hingga 400 km per jam.

Baca juga: Beijing-Guangzhou High-Speed Line, Jaringan Kereta Cepat yang Dioperasikan Dua Operator

Untuk mengembangkan kereta berkecepatan tinggi ini, pihak Russian Railways, Pusat Teknik untuk Transportasi Kereta Api dan Knorr-Bremse membentuk kemitraan. Kemitraan ketiganya ini diumumkan pada 25 Juni 2020 yang akan mencakup penyediaan jasa teknik, konsultasi, desain, pengembangan dokumentasi operasional dan perbaikan untuk rolling stok berkecepatan tinggi.

Diketahui, pembuatan kereta api berkecepatan tinggi ini akan di produksi di Rusia. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railwaygazette.com (25/6/2020), pusat inovasi rekayasa rolling stock ECRT sendiri baru didirikan pada tahun lalu oleh RZD, Sinara transport dan Siemens Mobility. Tujuannya adalah untuk mengembangkan trainset yang akan mampu melaju dengan kecepatan tinggi hingga 400 km per jam.

Dengan adanya kemitraan ini diperkirakan kereta berkecepatan sangat tinggi pertama akan mulai beroperasi pada tahun 2026 mendatang. Dalam pembuatan kereta berkecepatan tinggi tersebut, Knorr-Bremse akan menghadirkan pengalaman mereka tentang subsistem rolling stock untuk membantu menentukan spesifikasi teknis untuk trainset masa depan.

Diketahui Knorr-Bremse memasok subsistem untuk 16 traps Sapsan dari Siemens Mobility Velaro yang saat ini mengoperasikan layanan dari Moskow ke St Pertsburg dan Nizhny Novgorod dengan kecepatan hingga 250 km per jam dan 13 trainset lainnya tengah dalam pemesanan.

“Kami berharap dapat membantu membuat konsep kereta Rusia berkecepatan sangat tinggi di masa depan, sehingga membantu menyediakan koneksi kereta yang lebih baik kepada orang-orang,” kata Harald Schneider, anggota dewan manajemen Sistem Kendaraan Knorr-Bremse Rail yang bertanggung jawab untuk kegiatan di CIS.

Dalam jangka panjang, Schneider mengatakan, pihaknya juga akan bekerja dengan mitra kami untuk mengkomersilkan generasi berikutnya ini dengan menempatkannya untuk area ukuran rel 1520 mm.

Baca juga: Hilangkan Kursi Tengah di Kereta Berkecepatan Tinggi, Texas Train Berharap Beroperasi di 2026

Sergey Kobzev, Wakil Direktur Umum & Kepala Insinyur Kereta Api Rusia, mengatakan RZD dan Knorr-Bremse telah berhasil bekerja sama selama bertahun-tahun, dan penandatanganan perjanjian ini tidak diragukan lagi akan berkontribusi pada pengembangan layanan kereta cepat di Federasi Rusia.

10 Meninggal dan 500 Karyawan Delta Airlines Terinfeksi Covid-19

Sepuluh orang karyawan Delta Airlines dilaporkan meninggal dunia setelah terinfeksi virus Corona (Covid-19) dan ratusan lainnya positif. Ini dikatakan oleh Kepala Eksekutif Delta Ed Bastian. Dia mengatakan 500 karyawan Delta terinfeksi dan sebagian besarnya sudah kembali pulih.

Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara

“Sebagian besar pulih tetapi kami kehilangan sepuluh karyawan karena penyakit ini. Kami baru-baru ini mengumumkan bahwa akan menguji karyawan kami lagi. Bahkan mulai minggu ini di Minneapolis untuk kedua serologi darah apakah mereka sudah terkena penyakit dan memililki antibodi, serta tes aktif untuk melihat apakah mereka memang membawa virus. Dan tes itu dipimpin oleh Mayo Clinic,” kata Bastian.

Dikutip KabarPenumpang.com dari newsweek.com (24/6/2020), Bastian menyebutkan, Delta bekerja sama dengan Quest Diagnostics di mana mereka akan menguji 90 ribu karyawannya. Sehingga jika mendapatkan data yang bagus mereka akan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi semua karyawan Delta.

Namun, 500 karyawan Delta yang terinfeksi ini tidak disebutkan apakah mereka staf biasa, awak pesawat ataupun staf darat mereka serta di penerbangan mana mereka beroperasi. Sebab mayoritas karyawan Delta dilaporkan adalah awak kabin, pilot dan petugas bandara. Sedangkan kurang dari sepuluh ribu orang adalah staf administrasi yang sebagian besar bekerja dari rumah.

“Mengingat bahwa kami adalah bisnis layanan pelanggan garis depan, sebagian besar karyawan kami harus bekerja untuk menjalankan bisnis,” kata Bastian.

Diketahui pada hari Senin, Delta mengumumkan akan mulai melanjutkan penerbangan mereka dari Amerika Serikat dan Cina. Maskapai akan mengoperasikan layanan antara Seattle dan Bandara Internasional Shanghai Pudong China melalui Bandara Internasional Incheon Korea Selatan dua kali seminggu sejak 25 Juni.

Nantinya mulai Juli, Delta akan mengoperasikan penerbangan mingguan dari Seattle dan Detroit ke Shanghai yang juga akan melalui bandara Internasional Incheon di Korea Selatan. Bisa dikatakan, Delta saat ini menjadi penerbangan Amerika Serikat pertama yang mulai kembali dari Amerika Serikat ke Cina sejak penagguhan sementara penerbangan sejak bulan Februari setelah Covid-19.

“Awal bulan ini, Delta mengumumkan akan menangguhkan penerbangan ke 11 bandara Amerika Serikat mulai 8 Juli sementara volume pelanggan berkurang secara signifikan. Bandara-bandara ini merupakan lima persen dari operasi domestik maskapai. Semua bandara ini akan terus menerima layanan dari setidaknya satu maskapai penerbangan lain setelah Delta menghentikan operasinya,” kata operator dalam sebuah pernyataan.

Adapun 11 lokasi bandara termasuk Aspen di Colorado (ASE), Bangor di Maine (BGR), Erie, PA (ERI), Flint di Michigan (FNT), Fort Smith di Arkansas (FSM), Lincoln di Nebraska (LNK), New Bern / Morehead / Beaufort di North Carolina (EWN), Peoria di Illinois (PIA), Santa Barbara, California (SBA), Scranton / Wilkes-Barre, Pennsylvania (AVP) dan Williston di North Dakota (XWA).

“Delta telah mengumumkan pengurangan 85 persen dalam jadwal kuartal kedua kami, yang meliputi pengurangan 80 persen dalam kapasitas domestik Amerika Serikat dan 90 persen internasional. Ini termasuk layanan ke Bandara Internasional Ottawa Kanada di provinsi Ontario yang ditangguhkan tanpa batas waktu dari 21 Juni,” kata pernyataan itu.

Baca juga: Cegah Covid-19, Inilah Solusi Agar Penumpang Tak Berhimpitan Saat Masuk ke Dalam Kabin Pesawat

Bulan lalu, Delta juga mengumumkan penangguhan sementara operasi di bandara di lokasi dengan lebih dari satu bandara yang dilayani Delta untuk memungkinkan lebih banyak karyawan garis depan untuk meminimalkan risiko paparan Covid-19 sementara lalu lintas pelanggan rendah.

“Delta akan terus memberikan layanan penting kepada masyarakat yang terkena dampak melalui bandara tetangga,” kata pernyataan itu.

IATA Usul Dunia Jangan Karantina Wisatawan! Ini Alasannya

Asosiasi Transportasai Udara Internasional (IATA) menyarankan agar pemerintah negara-negara di dunia tidak menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang datang. Sebab, sebelum naik pesawat, mereka telah melewati serangkaian proses panjang untuk memastikan hanya penumpang sehat yang diizinkan bepergian dengan pesawat.

Baca juga: Covid-19 Ubah Enam Hal di Industri Penerbangan, Nomor 4 Bikin Geleng-geleng!

CEO IATA, Alexandre de Juniac menyebut, bila negara-negara di dunia masih menerapkan kebijakan tersebut, sektor perjalanan dan pariwisata mereka akan terus tertekan. Ujungnya, perekonomian nasional pun akan terus macet dan menimbulkan efek domino berupa PHK.

“Menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang tiba membuat sektor perjalanan dan pariwisata negara-negara di dunia anjlok. Untungnya, ada alternatif kebijakan yang dapat mengurangi risiko kasus Covid-19 impor sambil tetap memungkinkan dimulainya kembali perjalanan dan pariwisata yang berkontribusi untuk memulai kembali perekonomian nasional,” jelasnya.

“Kami telah mengusulkan sistem perlindungan baru untuk mencegah orang sakit atau dalam keadaan tak sehat bepergian dan mengurangi risiko penularan jika seorang wisatawan terpapar corona sesampainya di bandara (negara) tujuan,” tambahnya, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman resmi IATA.

Sistem perlindungan atau mekanisme baru bagi penumpang yang dimaksud IATA adalah, pertama, saat ini, hampir seluruh maskapai atau negara di dunia telah menerapkan kebijakan rapid test serta test PCR atau uji laboratorium kepada seluruh penumpang. Kebijakan rapid test dan atau PCR juga disarankan IATA agar wajib dilakukan di negara-negara dengan angka kasus corona yang masih tinggi. Dengan begitu, risiko penularan di bandara dan pesawat lebih minim.

Bahkan, di beberapa negara seperti Hong Kong dan Dubai, seluruh penumpang internasional yang baru tiba dilakukan rapid test ulang, sekalipun mereka sudah mendapatkan sertifikat sehat berdasarkan hasil rapid test atau PCR di negara asal. Bila pun ada penumpang yang terinfeksi corona, ikut dalam penerbangan, dan baru terdeteksi di bandara atau negara tujuan, tingkat infeksi dari penumpang tersebut diklaim rendah dengan diterapkannya protokol kesehatan yang ketat.

Kedua, sistem perlindungan atau mekanisme baru maskapai ialah mendorong penumpang untuk menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan dengan air mengalir atau hand sanitizer, sarung tangan, physical distancing di bandara dan pesawat, face shield, hingga kontak tracing; termasuk di dalamnya inovasi teknologi dari berbagai perusahaan dunia yang disadur maskapai, seperti GermFalcon, inovasi interior pesawat, dan lain sebagainya.

Selain itu, maskapai juga mendorong agar penumpang yang merasa kurang sehat agar tak memaksakan diri bepergian kecuali urusan sangat penting.

Belum lagi kebijakan kenormalan baru atau new normal, seperti contactless service, berupa memberikan fleksibilitas kepada penumpang untuk melakukan reservasi, check-in, boarding, baggage handling, sampai layanan seluruh tenan restoran, imigrasi, sampai body check tanpa adanya kontak langsung.

Baca juga: (1) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 8 Paling Canggih

“Memulai kembali perekonomian dengan aman adalah prioritas. Itu termasuk perjalanan dan pariwisata. Kebijakan karantina mungkin memainkan peran dalam menjaga orang tetap aman, tetapi mereka juga akan membuat banyak pengangguran. Alternatifnya adalah mengurangi risiko melalui serangkaian tindakan. Maskapai sudah menawarkan fleksibilitas sehingga mencegah calon penumpang untuk bepergian,” kata Juniac.

“Sertifikat kesehatan, screening, dan pengujian oleh pemerintah akan menambah tingkat keamanan tambahan. Dan jika seseorang bepergian saat terinfeksi, kita dapat mengurangi risiko penularan dengan protokol untuk mencegah penyebaran selama perjalanan atau saat di tempat tujuan. Dan kontak tracing yang efektif dapat mengisolasi mereka yang paling berisiko,” tutupnya.

Awal Juli 2020, Cathay Pacific Buka Kembali Penerbangan Ke Lima Tujuan Utama

Sama seperti maskapai dunia lainnya, Cathay Pacific kini mulai kembali menerbangkan armada mereka untuk mengangkut penumpang. Dengan pesawat yang mereka miliki, Cathay kini membuka lebih banyak rute untuk menghubungkan dengan dunia.

Baca juga: Sambut New Normal, Maskapai Bakal Kurangi Penggunaan Troli dan Sajikan Makanan dalam Kotak ‘Bento’

Cathay pada bulan Juli 2020 akan mulai meningkatkan konektivitas mereka ke Cina, Amerika Utara, Asia, Australia dan Eropa. Dilansir KabarPenumpang.com dari economyclassandbeyond.com (24/6/2020), berikut ini adalah jadwal penerbangan Cathay Pacific dari Hong Kong berbagai rute yang ditingkatkan.

Cina dan Taiwan
Tujuan Beijing, Shanghai dan Taipei (Taiwan) mulai 1-11 Juli akan ada tujuh penerbangan setiap minggunya dan 12-31 akan menjadi 14 penerbangan setiap minggu. Tujuan Chengdu, Fuzhou, Guangzhou dan Hangzhou akan ada tiga penerbangan setiap minggu mulai 12-31 Juli. Tujuan ke Xiamen akan mulai 12-31 Juli dengan empat penerbangan setiap minggunya.

India dan Asia
Tujuan ke Bangkok mulai 1-11 Juli akan ada lima penerbangan dan 12-31 Juli sebanyak tujuh penerbangan setiap minggu. Tujuan Delhi dan Mumbai akan ada tiga penerbangan setiap minggu.

Tujuan Ho Chi Minh akan mulai penerbangan 1-11 Juli sebanyak dua penerbangan serta 12-31 Juli ada tiga penerbangan setiap minggunya. Tujuan Jakarta, Kuala Lumpur, Singapura dan Tokyo pada 1-11 Juli akan ada tiga penerbangan dan 12-31 Juli sebanyak tujuh penerbangan setiap minggunya. Sedangkan ke Seoul akan mulai pada 12-31 Juli dengan tiga penerbangan setiap minggunya.

Amerika Utara dan Amerika Serikat
Los Angeles dan Vancouver akan ada lima penerbangan setiap minggu. New York, San Francisco dan Toronto akan ada tiga penerbangan setiap minggunya.

Australia
Untuk tujuan Melbourne akan mulai 1-11 Juli dengan dua penerbangan dan 12-31 Juli tiga penerbangan setiap minggunya. Sedangkan ke Sydney mulai 1-11 Juli akan ada empat penerbangan dan 12-31 Juli ada lima penerbangan setiap minggunya.

Eropa
Tujuan ke Amsterdam, Cathay akan mulai 1-11 Juli dengan dua penerbangan dan 12-31 ada tiga penerbangan setiap minggunya. Tujuan ke Franfurt akan mulai 12-31 Juli dengan tiga penerbangan setiap minggu. Tujuan London, Cathay akan terbang sebanyak lima kali setiap minggu.

Meski begitu jadwal ini akan dapat berubah karena negara-negara tersebut tengah beradaptasi dengan pencegahan Covid-19 agar tidak meluas. Selain itu, para calon penumpang yang akan menggunakan penerbangan dari Cathay Pacific juga harus memastikan memiliki syarat yang lengkap sebelum ke negara tujuan karena akan berbeda dari sebelum Covid-19 menjadi pandemi seluruh dunia.

Baca juga: Dampak Krisis Corona, Cathay Pacific Group ‘Parkirkan’ Setengah dari Jumlah Armada

Bandara Hong Kong juga saat ini terbuka untuk melayani transit, tetapi ada pedoman ketat untuk transit di sana dan pelancong tidak akan dapat memasuki Hong Kong kecuali memenuhi persyaratan tempat tinggal.

Intip Restoran Anti Covid-19 di Turki, Pengunjung Tak Perlu Kenakan Masker!

Covid-19 memaksa masyarakat di dunia memulai era kenormalan baru atau New Normal. Pakai masker, hand sanitizer, cuci tangan, sarung tangan, hingga physical distancing mungkin menjadi beberapa hal baru yang mesti dibiasakan.

Baca juga: Dari Amerika, Inggris, Thailand Hingga Lebanon, Ini Cara Unik Masyarakat Terapkan Social Distancing

Demikian juga dengan dunia usaha, berbagai inovasi pun dilakukan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat. Di antara inovasi unik dunia usaha di berbagai dunia, restoran di Turki mungkin menjadi salah satu yang menarik.

Restoran Turkce Meze, yang terletak di Sutluce, distrik Beyoğlu, Istanbul ini, alih-alih menawarkan jasa hanya take away atau tak menerima layanan makan di tempat, sebagaimana banyak restoran lainnya di dunia, justru membebaskan pelanggan datang dan makan minum di tempat. Bahkan, restoran juga membebaskan pelanggan untuk tak mengenakan masker.

Hal itu dimungkinkan (untuk tak mengenakan masker) karena pihak pengelola restoran menghadirkan lapisan atau pembatas khusus yang menyerupai balon yang bisa ditiup. Di dalamnya kemudian dapat dijumpai meja dan kursi. Suasana pun tampak lebih eksklusif dan pastinya menjamin rasa aman dari Covid-19. “Klien kami terlindungi dan aman dari virus Corona,” ujar pemilik restoran Turkce Meze, Cevdet Aysas, sebagaimana dikutip dari Global Times.

Wujud restoran bebas Covid-19. Foto: Global Times

Aysas bercerita, ide untuk menciptakan sejumlah zona berbeda (zona private) di mana pengunjung dapat menikmati makanan tanpa perlu merasa takut virus tersebut datang setelah wabah Covid-19 menyerang Turki pada bulan Maret lalu.

Saat ini, Aysas setidaknya telah membuat delapan zona private yang terbuat dari material polycarbonate menyerupai balon. Lebih lanjut, Aysas juga menegaskan, timnya pun rutin membersihkan area tersebut dengan generator ozone dan sinar ultraviolet.

Agar lebih aman, pihak restoran Turkce Meze juga menyediakan hand sanitizers dan pembersih lainnya di tiap meja. Jadi selain menghadirkan jaminan keamanan dari Covid-19, pengunjung juga diberi cairan pembersih.

Tak sampai situ, pihak pengelola restoran juga membatasi interaksi antara tamu dan pelayan dengan seminimal mungkin. Pengunjung pun bisa memanggil pelayan dengan menekan tombol yang tersedia, di mana nantinya pihak pelayan akan datang menggunakan masker, face shields and sarung tangan.

Baca juga: (1) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 8 Paling Canggih

“Tamu kami diwajibkan memakai masker di lingkungan publik, tapi bebas di area dalam zona tersebut,” ujar Aysas.

Lebih lagi, pengunjung restoran juga diwajibkan melakukan reservasi lebih dulu. Setiap kunjungan pun dibatasi sekitar tiga jam saja. Dengan berbagai peraturan tersebut, tak mengherankan bila restoran merasa yakin untuk mengizinkan pelanggan melepas masker. Hanya saja, aturan boleh melepas masker di restoran Turkce Meze hanya saat berada di dalam zona saja, di luar itu tetap harus pakai masker sekalipun masih di area restoran.

Tak Semua Kabin Pesawat Dilengkapi Filter HEPA, Apakah Aman dari Covid-19?

Belum lama ini Wings Air memberikan penjelasan terkait kinerja sirkulasi dan kualitas udara di dalam pesawat turboprop ATR-72. Pasalnya, menurut salah satu paper yang dikeluarkan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), tak semua pesawat dilengkapi filter High Efficiency Particulate Air (HEPA).

Baca juga: Jadi ‘Kebanggaan’ Maskapai di Masa Pandemi, HEPA Ternyata Tidak Membuat Kabin Pesawat Bebas Corona!

Padahal, di masa pandemi corona seperti sekarang ini, filter HEPA kerap menjadi andalan maskapai untuk meyakinkan penumpang bahwa penerbangan aman. Lantas, pesawat apa saja yang dilengkapi filter HEPA?

IATA mungkin tak menyebutkan secara rinci. Dalam paper keluaran awal Januari 2018, IATA hanya menyebut bahwa hanya pesawat komersial modern dan besar yang memafaatkan filter HEPA sebagai resirkulasi sistem udara kabin. Sebaliknya, pesawat yang lebih tua disebut memiliki filter dengan tingkat efisiensi atau kemampuan menyerap partikel berukuran kecil cenderung rendah.

Namun demikian, dari keterangan IATA, hampir dapat dipastikan bahwa ATR-72 tidak dilengkapi dengan filter HEPA. Hal itu pun juga telah diakui oleh Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro.

Menurutnya, sistem kinerja sirkulasi udara di setiap pesawat berbeda-beda. ATR-72, misalnya, pesawat tersebut memang tak dilengkapi dengan filter HEPA, yang diklaim mampu membunuh 99, 95 persen bakteriologis, menyerap, dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 0,2,5-0,3 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh. Namun, bukan berarti pesawat tersebut tak aman digunakan.

Dari rilis yang diterima KabarPenumpang.com, disebutkan, pada pesawat yang tak ada filter HEPA, seperti ATR-72, volume udara kurang lebih 95 meter kubik di kabin akan selalu diperbaharui dalam waktu lima sampai dengan tujuh menit dengan mengunakan dua buah mekanisme Environment Control System (ECS) packs Operative, dua buah Recirculation dan Extraction System (by ECS) yang menjamin udara dalam kabin tetap segar (fresh).

Udara yang berasal dari luar pesawat akan terkumpul di area bawah lantai, kemudian didistribusikan ke jalur udara utama dan pendingin udara pada kompartemen di atas tempat duduk (personal overhead ventilation) di sepanjang kabin dan ruang kemudi (kokpit).

Aliran udara dari atas (langit-langit kabin) bergerak satu arah ke bawah (lantai), yang meminimalkan pergerakan udara ke depan dan arah belakang pada kabin (blown transversally and vertically). Udara akan tersedot ke area lantai melalui panel (floor panel level) sesuai proses pada katup aliran tekanan udara (pressurization outflow valves operation).

Baca juga: HEPA, Teknologi yang Mampu Bersihkan Radioaktif hingga Virus Corona di Dalam Kabin Pesawat

Selain itu, rangkaian pembersihan rutin dan sterilisasi menyeluruh pada setiap detail bagian pesawat, meliputi ruang kemudi, dapur, bagasi kabin (compartement), dinding kabin, kursi awak pesawat dan penumpang, penggantian penutup sandaran kepala (head cover) di kursi, area kargo (bagian depan dan belakang), pintu dan jendela pesawat, karpet lantai, eksterior pesawat menyeluruh, tangga menuju pesawat dan lainnya, juga dapat mengurangi paparan corona di kabin.

Upaya pencegahan virus corona di kabin juga dapat dimaksimalkan dengan penyemperotan berkala cairan multiguna pembunuh kuman (disinfectant spray) sesuai prosedur yang berlaku, sebelum proses penumpang masuk ke pesawat (boarding) dan ketika pesawat selesai menjalani rotasi (pergerakan). Dengan begitu, meskipun pesawat ATR-72 tak dilengkapi filter HEPA, transmisi penyebaran corona di kabin pesawat tersebut tetap bisa dikendalikan.